Painful And … Hurt

Tittle                    :=:          Painful And … Hurt

Author                 :=:          Park Hye Ri

Main Cast            :=:

  • Kim Joon Myun (EXO-K)
  • Park Hyun Rin  

Genre                    :=:          Romance Sadness          

Rating                   :=:          PG-15

Length                  :=:          Oneshoot (sebenernya mau dibilang oneshoot juga kepanjangan -_-“ jadi disebut apa?! #plak ya udah ini ff oneshoot yang panjang lol *abaikan* )

Cover by             :=:          Nae chingu ku yang baik hati :*  Camila Zahra Alrazi alias Park Yeon Mi~~

Disclaimer         :=:          Kesamaan nama tokoh atau apapun yang menyakut fanfic ini. Bukanlah suatu kesengajaan. Cast milik Tuhan. Plot/alur/cerita hanya milik ku seorang. Ini semua adalah rangkaian imajinasi yang ku tuangkan melalui kata per kata dalam tulisan.

Note                      :=:          Aishh~~ Annyeong ^^ aku author baru di sini, jadi itung itung ini ff debut *lol* Baru pemula jadi maafkan lah, kalo jelek, acak-acakkan, banyak typo, banyak kata kata yang salah (?) jadi jeongmal mianhae ._. Author adalah seorang manusia biasa wkwkwk~ Big Thanks to Park Yeon Mi! Karena cover nya itu aku bisa lebih dapat inspirasi ._. dan juga nae chingu lainnya :* yang telah nunggu publishnya ff ini~~

[WARNING] Kalo ada kata-kata yang bercetak ‘miring’ itu artinya pov mereka masing masing. Sengaja gak ku tulis pov soalnya kutipannya sedikit sedikit –“ dan juga author gak pakai nama Suho, tapi Joon Myun ^^ ENJOY~ Read Comment Like ya.. /kisseu satu satu/

-PAINFUL AND … HURT-

Sakit rasanya..

Melihat orang yang kita cintai, sayangi, harus hidup diambang kematian..

Seandainya aku bisa mengulang waktu.

Aku tak sanggup! Namun apa daya, takdir tetaplah takdir. Sekalipun takdir bilang ‘iya’ tapi aku tidak bisa bilang ‘iya’, sekalipun aku bilang ‘iya’ namun takdir berkata ‘tidak’.

Pagi cerah membangunkan seorang namja yang tengah berbaring lemas di ranjangnya sendiri.. Lemah tak berdaya tidak layaknya seperti namja namja lainnya.. Semangat hidupnya bagaikan seutas benang tipis..

“ Kim Joon Myun~ Kim Joon Myun…” panggil seorang yeoja manis dari pinggir pintu kamar namja tersebut.. Kim Joon Myun- namanya.

Yeoja manis itu pun mendatangi Joon Myun yang sedang berbaring lemas di ranjangnya sendiri.. Memberikan setangkai bunga yang indah untuk menggantikan bunga yang lama di dalam vas bunga kecil yang ia miliki.. Membersihkan kamar Joon Myun, dengan tersenyum ia lakukan, sesekali ia menatap manis Joon Myun.

“ Joon Myun-ah! Makanlah ini~~” kata yeoja itu dengan  mencoba menyuapi Joon Myun.. namun tidak dengan reaksi Joon Myun yang tidak selera.. Joon Myun pun hanya membalikkan tubuhnya dan tidur membelakangi yeoja itu..

“ Mungkin, penyakit mu ini membutat mu putus asa.. Tapi cobalah untuk makan.. Jebal~ kau ingin cepat mati hah?__” kata yeoja itu dan tak tahan membendung air yang tengah menumpuk di kelopak matanya saat berbicara dengan Joon Myun..

“ Ka~” jawab Joon Myun dengan hanya tatapan kosong ke depan.

“ Joon Myun~~” sahut yeoja itu.

“ Park Hyun Rin, Ka~ pergi lah…” lanjut Joon Myun, tanpa menatap mata Hyun Rin.

Hyun Rin hanya bisa menangis dan merasa tak percaya dengan kata-kata Joon Myun tadi~

“ Aku kangen kamu yang dulu.. saat di mana kita bersama-sama.. Kalau begini caranya, lebih baik kau tidak memeriksakan keadaan mu ke dokter… Perih hati ini melihat seorang sahabat terbaik ku …. – terbaring tak berdaya dan semangat hidup yang.. argh! aku pergi!” jawab Hyun Rin dan dengan cepat pergi keluar dan mengusap air matanya.

Pintu pun tertutup, Joon Myun hanya menangis sendirian di dalam kamar, tangisan yang tidak bisa ia pungkiri…. Sementara Hyun Rin di luar, dibalik pintu- tak tahan menangis sendirian juga. Sesak dadanya meratapi nasib seseorang yang sangat ia cintai.

__Flashback (15 tahun lalu)__

“ Joon Myun~~~” teriak seorang yeoja kecil dan melemparkan segenggam salju putih ke arah anak laki laki yang tengah bermain mobil-mobilan di halaman..

“ Mwoya? Kau menganggu ku saja~” jawab anak laki-laki itu

“ Kali ini sedang banyak salju~~ kau tidak bermain dengan salju, huh? Kau malah bermain dengan mobil-mobilan mu~~” ejek yeoja itu

“ Hyun Rin~~ kemarilah~” ajak anak laki-laki itu

Joon Myun kecil pun mulai melempari Hyun Rin dengan salju yang berserakan di halaman rumah mereka~~ mereka pun saling bermain perang-perangan salju.


“ Hyun Rin~ ini untuk mu..” kata Joon Myun kecil, sambil memberikan Hyun Rin kecil sebuah kain putih bertuliskan ‘친구 (chingu)’ yang berwarna merah.

Hyun Rin pun mengambilnya dan menatapnya dengan senyum manisnya..

“ Indah~” kata Hyun Rin sambil menatapi kain tersebut.

“ Kita adalah teman selamanya…” kata Joon Myun dengan imutnya

“ Ne..”

“ Eomma lah, yang membuatnya.. Kyeopta~” balas Joon Myun kecil sambil tersenyum manis.

“ Joon Myun-ah, Hyun Rin-ah~~ Ppali! Masuklah, di luar dingin, di dalam kami sudah menyiapkan hot chocolate! Ppaliwa~” teriak seorang ahjumma dari dalam rumah Joon Myun.

Joon Myun dan Hyun Rin pun masuk ke dalam rumah dengan berpegangan tangan..

__Flshback End__

Sementara itu Hyun Rin tetap menangis di luar dengan memegang erat kain putih ‘Chingu’ nya.. seperti ada ikatan batin -Joon Myun juga menangis di dalam ruangan- juga tengah memegang erat kain ‘Chingu’ miliknya. Ia memegang kuat sapu tangan nya. Tanganya bergetar hebat, ia tidak bisa dipungkiri, dada nya sesak saat melihat yeoja itu menangis.

“ Mianhae, Jeongmal mianhae, Hyun Rin~” kata Joon Myun di selingan tangisannya.

Hari demi hari pun berganti~ Hyun Rin bekerja di sebuah restoran sebagai pelayan.. Ia harus menghidupi dirinya sendiri dan juga orang yang sangat ia sayang -Kim Joo Myun- .. Orang tuanya dan Joon Myun telah meninggal dalam kecelakaan pesawat..

Hyun Rin dan Joon Myun tidak ikut dalam penerbangan lalu, selamatlah nyawa mereka… Joon Myun sangat terpukul dan juga Hyun Rin, sekarang mereka hidup berdua, miris rasanya.. Hampir semua anggota keluarganya meninggal di dalam suatu kejadian.

Keluarga Joon Myun dan Hyun Rin ini sangatlah dekat.. mungkin lebih dikatakan sebagai saudara. Kenapa mereka tidak ikut berlibur bersama dengan anggota keluarga lainnya? Entahlah, seperti ada isyarat..

Eomma dari Hyun Rin mengatakan bahwa lebih baik anaknya dan Joon Myun tidak ikut. Dan dengan kenyataan pahit! Isyarat itu telah membuat pertanda yang sangat, sangat tepat. Pesawat yang mereka tumpangi dengan tujuan ke Tokyo itu jatuh di atas pemukiman warga, penyebabnya hanya lah satu.. yaitu Human Error.

Joon Myun dan Hyun Rin yang tengah asyik bermain di playgroup mereka pun menangis seketika saat seorang guru memberitahukan mereka bersumber dari berita. Mereka masih belum mengerti betul akibat dari kecelakaan maut keluarga besar mereka.

Ya Tuhan, jika memang ini waktunya.. Aku memohon jagalah anakku Hyun Rin dan juga sahabatnya Joon Myun di dunia ini..

Jika waktunya telah tiba dan inilah saat yang tepat, aku akan menerimanya.. Biarkan Hyun Rin mengingat Ibu-nya. Dalam sepi dan hembusan napas terakhirku ini.. Tuhan.. lindungi mereka.. –Hyun Rin Eomma

Joon Myun, jaga dirimu baik baik.. Eomma akan selalu bersama mu walau tidak dapat bersama dengan mu di dunia ini..

Tuhan.. jaga anak ku.. lindungi anak ku-Joon Myun-.. Beri dia kekuatan dalam menjalani kehidupannya tanpa gangguan atau beban dari penyakitnya.. Ku mohon .. Tuhan.. –Joon Myun Eomma

Berawal dari firasat menjadi sebuah pertanda.

Mereka –Joon Myun dan Hyun Rin – hidup bersama di Panti Asuhan. Mengapa tidak dengan keluarganya? Orangtua dari Hyun Rin dan Joon Myun semuanya adalah anak tunggal, dimana mereka tidak mempunyai satupun saudara. Kakek dan Nenek mereka? Telah meninggal dalam kecelakaan pesawat itu juga.

Tragis.

Namun kehidupan mereka di panti asuhan tidak berlangsung lama, pada umur 13 tahun mereka melarikan diri atau lebih tepatnya kabur dari panti asuhan. Mereka merasa telah diintimidasi oleh kawanan mereka dan tak luput juga penjaga asuhan mereka. Mereka pun pergi dan hidup bersama, saling menghidupi namun pada akhirnya hanya Hyun Rin yang menghidupi dirinya sendiri dan Joon Myun. Saat mengetahui penyakit yang diderita Joon Myun.

—————-

“ Kamsahamnida~” kata Hyun Rin dengan santun kepada para pengunjung

Ia pun juga menghidupi seorang namja~ Kim Joon Myun.. sahabat kecilnya.. kenapa? Karena cinta.

Sore pun menghampiri, ia segera pulang ke apartemen kecilnya.. yap! Mereka – Joon Myun dan Hyun Ri- tinggal di apartement yang sama, alasannya? Kau pun tau.

“ AAAHHHH!! JEONGMAL!! AKU BENCI!! ” Hyun Ri yang baru menapakkan kaki nya ke teras apartement nya pun langsung berlari masuk ke suatu kamar karena terdengar suara seseorang yang ia sangat dan jelas tahu siapa dia. Dan terdengar suara pecahan pecahan dari barang.

“ Joon Myun!! Hentikan!” teriak Hyun Ri dengan sekuat tenaganya sambil menahan tangan Joon Myun yang ingin lagi melemparkan vas bunga cantik yang tergeletak di atas meja.

“ WAE!! PERGI!! AKU BOSAN DENGAN HIDUP INI! AKU …. ingin mati saja .. hiks..” tangisan Joon Myun pun meledak, kaki nya tergulai lemas dan menjadikan dirinya duduk lemas di lantai.

Hyun Rin hanya mendapati dada nya sesak sekarang.. Setetes air mata pun jatuh dengan sendirinya dari pelupuk mata Hyun Rin, ia terduduk lesu ke arah Joon Myun dan memegangi pundak Joon Myun, menangis bersama dengan Joon Myun.

Isakan tangis pun memenuhi ruangan mereka. Seketika Joon Myun memeluk Hyun Rin dan menumpahkan segala tangisannya pada bahu Hyun Rin. Hyun Rin tidak menolaknya sekalipun baju nya basah penuh dengan air mata~ lebih baik dari pada melihat orang yang ia kasihi menangis.

“ Kenapa rasanya kau lebih mempunyai beban yang lebih berat dari pada aku… aku bisa merasakannya dari pelukanmu~~ Hyun Rin-ah..” bisik Joon Myun di tengah isak tangisnya, ia pun memeluk erat Hyun Rin lagi. Hyun Rin bagai kehabisan kata, ia hanya bisa menangis di pelukan namja itu saat mendengar pernyataan Joon Myun tadi.

Mereka hanya saling berpelukan hangat dalam kesepian..

Malam pun datang. Bulan pun menampakkan jati dirinya, mengganti posisi matahari sekarang. Joon Myun malah tertidur di pelukan Hyun Rin sampai malam. Hyun Rin mulai membopong tubuh Joon Myun dengan sekuat tenaganya ke ranjang.

“ Berhasil..” senyum Hyun Rin pun seperti menyimpulkan sesuatu. Ia membelai halus setiap lekuk wajah Joon Myun yang tengah terlelap tidur.

“ Saranghae…” gumam Hyun Rin dengan sendirinya. Ia pun menyelimuti tubuh Joon Myun dan meninggalkan kamar tersebut, tak luput juga ia mematikan lampunya.

—- (skip :p) —-

Hari demi hari pun berganti, Joon Myun masih saja menyendiri di dalam kamarnya dan menatapi ke arah luar jendela di mana Hyun Rin yang sedang pergi untuk bekerja.. Kini dia sendiri di apartement kecil mereka.

Babo.. Joon Myun babo! Kim Joon Myun babo!!

Lebih baik kau mati saja! Kau ini telah menyusahkan orang orang di sekitar mu saja!

Bisikan hati Joon Myun pun membuat Joon Myun menjadi tambah frustasi dan terduduk lemas di ranjangnya.

“ Bagaimana bisa! Eomma! Appa! Kenapa kalian meninggalkan ku? Aku sendiri di sini.. aku kesepian~~ Ah! ani! Aku tidak sendirian.. AKU HIDUP BERSAMA PENYAKIT KU INI! Hiks~” Joon Myun pun hanya menangis sendirian di dalam kamar sendari memegang dadanya yang sesak. Bukan karena sesak kesepian atau sedih. Ini berbeda. Sesak karena .. penyakitnya.

Hyun Rin.. Hyun Rin.. aku membutuhkan pelukan mu.. aku rapuh..

Ia pun bangkit dari duduknya menuju laci kecil yang terletak tak jauh dari nya. Ia mengambil sebuah sapu tangan miliknya. Ia tersenyum simpul melihat sapu tangan ‘chingu’ itu. Ia pun meletakkan sapu tangan tersebut ke sebelah dada bagian kirinya.

Jantung ini serasa tidak memompa darah lagi.

Jantung ini lemah.. Hyun Rin..

Aku tak sanggup…

Ia semakin meremas sapu tangan tersebut ke bagian dada kirinya. Tampilan sapu tangan itu pun menjadi kusam dan tidak teratur.

“ Saat tahu, bahwa aku mengidap penyakit jantung.. Kenapa aku bisa terlalu bodoh huh? Babo! cih~” kata Joon Myun dengan seringai nya ditengah kesakitannya.

“ Aku sakit. Penyakit ini membuat aku tidak bisa beraktivitas normal! Penyakit ini membuat ku stress! Penyakit ini …. membuat orang yang sangat ku cintai … Hyun Rin … bekerja! Bekerja! Mati-matian menghidupi ku dan dirinya sendiri! AKU TAK SANGGUP … melihatnya! Arghhh!!” teriakan Joon Myun pun pecah saat tetesan air matanya keluar, jantung nya perih. Ia bisa merasakan sesak pada napasnya. Ia menahannya. Menahan sakit itu.

Deg.


Aku harus pulang sekarang.

Perasaan ku tidak enak.

Sedari tadi Hyun Rin mengatakan hal itu dalam hatinya.

“ aku harus pulang!” Hyun Rin pun melepas celemek / seragam pelayannya dan meminta ijin pada managernya untuk pulang cepat.

Jantungnya memompa sangat cepat sekaligus sesak. Ia berlari menuju apartement nya secepat mungkin.

BRAK!

Dentuman sangat keras pun terdengar saat Hyun Rin membuka pintu kamar itu. Napasnya sekarang tak karuan saat melihat Joon Myun tergeletak lemas di lantai kamarnya.

“ JOON MYUN!! JOON MYUN!! BANGUNLAH!!” tangis Hyun Rin pun pecah melihat Joon Myun tergeletak lemah sambil memegang sapu tangan ‘chingu’ nya. Ia segera memeluk Joon Myun yang tergulai lemas di lantai.

Sesegera mungkin Hyun Rin mengambil handphone nya dan menelpon pertolongan.

Selang beberapa menit. Ambulance yang sedari tadi ditunggu oleh Hyun Rin pun datang.

— (skip :p) — #plak

“ Ottokhae? Mr. Lee? Bagaimana keadaan … Kim Joon Myun?” tanya Hyun Rin dengan cemas pada seorang dokter yang tengah memeriksan Joon Myun di dalam ruangan pasien nya.

“ Jantungnya semakin lemah dan lemah. Entah kenapa, terkadang jantungnya seperti berhenti memompa namun beberapa detik kemudian memompa lagi. Ia harus mempunyai dorongan semangat, aku takut jika nanti akan membuat Joon Myun semakin frustasi. Hal ini bisa menyebabkan turunnya kinerja pada jantungnya. Ingat Hyun Rin-ssi walaupun penyakit ini adalah penyakit turunan, namun hal ini bisa saja menyebabkan kematian…” sekejap itupun Hyun Rin meneteskan air matanya yang tak tahan ia bendung di kelopak matanya.

“ Kau harus selalu menjaganya dan juga … selalu berikan ia obat yang ku kasih, ini akan meringankan sakit di jantungnya, walapun tidak bisa mencegah.” lanjut Dokter tersebut dan pergi meninggalkan ruangan.

Hanya hening yang menyelimuti setiap detail ruangan rumah sakit ini. Selingan isakan tangis Hyun Rin pun memudarkan keheningan. Ia berjalan menuju Joon Myun yang tergulai lemas di atas ranjang Rumah Sakit nya. Dengan bantuan oksigen dan beberapa alat bantu yang terpasang di dadanya. Hyun Rin pun menangis.

Hyun Rin duduk dengan lemasnya di samping ranjang Joon Myun dan menggenggam erat tangan kiri Joon Myun. Ia menangis sejadi jadi nya, Joon Myun hanya terbaring lemah dengan bantuan oksigennya yang kurang teratur.­­

“ Joon Myun-ah… Haaa.. Joon Myunn-ah.. hiks~” ia mengepalkan kedua tangannya dan berdoa.

“….”

“Saranghae.” Hyun rin menundukkan kepalanya dan menangis.

“….”

Hyun Rin langsung terkesiap saat merasakan sesuatu tengah membelai lembut rambutnya. Ia pun menghapus kasar air matanya dan langsung memeluk Joon Myun erat yang masih setengah sadar.

“ Ya! Air mata mu itu telah membasahi tangan kiri ku..” sindir Joon Myun ditengah pelukan Hyun Rin. Hyun Rin pun mengerucutkan bibirnya menatap kesal wajah Joon Myun yang tengah tersenyum manis menatap Hyun Rin. Mereka saling menatap, dengan sigap Joon Myun menghapus tetesan air mata Hyun Rin dengan jarinya.

“ Nado saranghae..” joon myun membelai lembut pipi Hyun Rin yang seketika memerah.

Jantung ini, kenapa berdetak jauh lebih cepat?

Ottokhae? Apakah pipiku ini terlihat sangat merah?

Darahku mendesir cepat sekarang..

Cukup dengan kata ‘nado saranghae’.. kata kata itu berhasil membuat rongga dadaku seperti telah dipenuhi oleh oksigen dan sulit untuk mengaturnya.

Hyun Rin menutup matanya dan memegang lembut tangan Joon Myun yang tengah berada di pipinya. Ia tersenyum simpul dan mendenguskan napas nya lega.

Chu~

Mata Hyun Rin pun membelak saat merasakan sesuatu tengah menyentuh dan mengcup pelan bibir mungil nya. Ia menerjap nerjap matanya dan menyakinkan apa yang ia lihat dan ia rasakan sekarang.

Joon Myun … Kim Joon Myun …

Ciuman singkat itu pun berakhir dengan tetesan air mata Joon Myun yang keluar. Hyun Rin lah yang kali ini menghapus air mata joon myun dengan lembut.

“ Saranghae, Park Hyun Rin..” bisik joon myun di sela tangisnya. Hyun Rin hanya tersenyum perih dan kembali memeluk hangat Joon Myun.

—-

Hyun Rin memutuskan untuk tidak selalu berkerja. Ia hanya mengambil jadwal 3 kali seminggu untuk bekerja nya. Ia memutuskan untuk lebih sering menemani joon myun di apartement. Ia menghela napas sembari menatap kosong ke luar jendela.

“ Musim dingin..” gumam Hyun Rin sambil menghangatkan tubuhnya dengan elusan elusan dari tangannya dari luar sweaternya. Ia kembali menatap Joon Myun yang sedang tertidur pulas di ranjangnya. Setiap hari ia selalu menyepatkan diri untuk melihat keadaan joon myun sekedar memberinya obat, membersihkan kamarnya. Karena memang dari awal Joon Myun tidak boleh terlalu banyak gerak atau aktifitas.

“ Euhhh~~” terdengar suara Joon Myun yang ternyata telah bangun dan merenggangkan otot otot nya.

“ Hyun Rin? Sedang apa?” tanya Joon Myun sambil memposisikan tubuhnya hingga duduk dengan benar.

“ Musim dingin.. aku jadi ingat masa masa kita dulu saat … kau memberikan sapu tangan ‘chingu’ ini.” Kata Hyun Rin tanpa menjawab pertanyaan dari Joon Myun. Hyun Rin hanya memegang sapu tangan itu dengan penuh perasaan dan tersenyum.

“ Ne.. Hyun Rin-ah? Dangsin i nal saranghae? (kau mencintai ku?)” tanya Joon Myun dengan serius. Keheningan pun langsung datang dengan tiba tiba. Jantung Hyun Rin berdetak sangat sangat cepat. Ia seperti merasakan jantung nya ingin keluar. Darahnya seakan mengalir deras. Ia tak berani menatap ke arah Joon Myun, ia hanya menatap keluar, namun matanya tidak dibohongi, ia bingung harus menjawab apa.

“ Tentu saja, kita kan sahabat sejak kecil~” jawab Hyun Rin ringan.

“ …. Ani, maksud ku, mencintai sebbagai seorang yeoja kepada seorang namja? Bukan sebagai sahabat? Saat aku merasakan jantung lemah di rumah sakit itu, samar samar aku mendengar kata ‘saranghae’ dari seseorang yang tengah menangis, aku yakin itu kamu.. Itu.. maksud mu apa? Aku pun menjawab ‘nado saranghae’ dan kau langsung memelukku. Apa artinya?” penjelasan panjang lebar dari Joon Myun itu pun berhasil membuat kaki Hyun Rin bergetar hebat, ia bingung harus menjawab apa, karena baru pertama kali nya Joon Myun begitu serius terhadapnya.

“ Hyun Rin-ah?”

“…..”

“ Hyun Rin?”

“…..”

Tak ada jawaban sedikit pun dari Hyun Rin, ia seperti mematung seketika dan tak bisa menggerakkan kakinya untuk melangkah keluar dan pergi.. Mulutnya terasa kelu dan pilu, ia hanya mematung.

“ Aaaa… mmm..”

“ Saranghae..” belum sempat Hyun Rin melanjutkan kata katanya, Joon Myun langsung memotong perkataan Hyun Rin.

DEG DEG DEG DEG

Rasanya Hyun Rin ingin segera mungkin jatuh, ia tidak bisa berdiri dengan sempurna, ia merasa tubuhnya sangat berat sekarang, ia tidak bisa membopong tubuhnya kuat. Tiba tiba bagaikan sengatan listrik yang menjulur ke semua bagian tubuhnya, tak kala saat Joon Myun menyentuh pundak Hyun Rin dengan tatapan ke arah yang sama dengan Hyun Rin, -Joon Myun pun mengehla napasnya.

“ Jantung ku sa… sa.. sakit.. H.. hyunnn Ri.. rin-ahh..” kata Joon Myun yang tertunduk sambil memegangi dada sebelah kirinya.

Seketika Hyun Rin pun berbalik ke arah Joon Myun dengan mimik wajahnya yang panik karena Joon Myun. Namun selang beberapa detik, mimik wajah panik Hyun Rin sirna dan terganti oleh mimik wajah bingung.. Kenapa? Joon Myun memeluknya.

“ Neo~ membohongi ku huh?” keluh Hyun Rin

Joon Myun tak berdeming dan hanya terus mempererat pelukannya. Dingin nya musim salju pun bak angin yang hanya lewat seketika oleh Hyun Rin dan Joon Myun- mereka merasakan kehangatan satu sama lain, tanpa memperdulikan dinginnya suasana musim salju.

Joon Myun pun menyudahi pelukan hangat tadi, sampai sampai keduanya saling memejamkan mata satu sama lain untuk lebih merasakan kehangatan sesaat itu. Tak bisa dipungkiri bahwa sebenarnya Hyun Rin pun sangat menginginkan pelukan tadi lebih lama. Joon Myun sekarang memegang kedua pundak Hyun Rin dan tersenyum manis. Perlahan demi perlahan ia memegang dagu Hyun Rin dan menuntun wajahnya untuk kembali menatapnya.

DEG

Joon Myun tercengang seketika, menatap wajah cantik Hyun Rin

Darah..

Ia mencoba meyakinkan bahwa yang ia lihat sekarang ini adalah khayalan semata, saat ia mulai mengusap darah segar itu dari daerah hidung Hyun Rin, ia tercengang kembali.

Nyata.. Hyun Rin? Kau kenapa?

Ia mengusap usapkan darah segar itu dengan jari telunjuk dan ibu jarinya dengan ragu. Ia kembali menatap Hyun Rin yang sekarang tengah menutupi hidungnya yang mimisan? Atau apa? Hyun Rin yang telah sadar dengan keadaannya itu langsung bergegas pergi ke luar sambil menutupi hidungnya. Ia pergi ke wastafel yang tak jauh dari dapur, ia basuh hidungnya itu sambil menatap dalam wajahnya ke kaca kecil di depannya. Sementara itu, Joon Myun masih saja tidak percaya dengan hal tadi, seharusnya ia tidak mempermasalahkan hal tadi, ia juga bisa menyimpulkan bahwa Hyun Rin kelelahan sampai membuatnya mimisan kan? Bukan apa apa?

Rasanya sakit..

“ Argghhh!! Kenapa dengan telinga ku ini?!! Arghh!!” teriak Hyun Rin saat mendapati telinga sebelah kanannya terasa sangat berat. Ia hanya tertumpu pada pegangan wastafel sebelah nya hampir jatuh.

Kenapa sakit? Aku tak bisa mendengar di bagian telinga sebelah kanan ku! Terasa berdengung!!

Benar saja, Joon Myun yang mendengar suara teriakan Hyun Rin pun segera berlari ke sumber suara tersebut. Ia mendapati Hyun Rin yang tengah memegangi telingan sebelah kanannya.

Joon Myun.. Kau datang juga.. Tapi Joon Myun.. Kau berkata apa?

“ HYUN RIN-AH!!! YAK!! KAU KENAPA?! APA YANG SAKIT?! HYUN RIN!!” teriak Joon Myun, Hyun yang hanya bisa menatap sendu ke arah Joon Myun sambil merangsang lagi apa yang ia dengar. Pendengarannya terasa tak berfungsi. Ia hanya mendelik ke arah Joon Myun dan coba untuk memejamkan matanya dan membukanya kembali, berharap bahwa ini semua adalah mimpi buruk dan ia akan terbangun dari mimpinya, melupakan semua perasaan sakitnya sekarang.

Perlahan demi perlahan penglihatan Hyun Rin mulai kabur dan gelap.


Hari demi hari pun berganti setelah kejadian itu, Hyun Rin yang merasa bahwa dirinya semakin lemah pun tetap memaksakan dirinya untuk tetap bekerja sampai larut malam. Joon Myun yang masih saja memikirkan keadaan Hyun Rin sekitar beberapa hari yang lalu, bagaimana ia melihat Hyun Rin seperti kesakitan. Ia seperti melupakan bahwa dirinya juga tengah merasakan sakit jantungnya itu semakin parah. Bahkan, jantung nya merasa begitu lemah. Namun untuk tetap bertahan, ia langsung meminum obat yang diberikan dokter. Tidak perlu menunggu Hyun Rin pulang untuk menyuruhnya mati matian agar meminum obat itu. Kali ini ia berbeda.

“Kamsahamnida~ lain kali datang lagi ya..” kata Hyun Rin dengan santun ke arah pengunjung yang pergi tadi. Ia pun kembali menunggu di sebelah kasir untuk pengunjung yang telah siap memesan makanannya.

“ Pelayan~” panggil seorang pengunjung ke arah Hyun Rin. – Hyun Rin pun bergegas ke arahnya sambil tersenyum, membawa kertas yang siap untuk ia tulis menu dipesan nanti. Namun, saat, sekitar 1 meter mendekati pengunjung itu, ia merasakan lemah, kepalnya pusing dan kembali! Kembali darah segar pun keluar dari hidung Hyun Rin dan tak luput dengungan telinganya. Ia langsung terjatuh lemah ke lantai, tak memperdulikan tatapan aneh para pengunjung ke arahnya. Sedetik kemudian, sang Manager pun datang ke arah Hyun Rin dan mencoba menenangkannya.

“ Gwenchana?” tanya nya, Hyun Rin yang sedari tadi tidak bisa mendengar perkataan Manager, hanya bisa menjawab dengan asal asalan.

“ Emm.. aku.. aku… aku sudah makan.” Jawabnya dengan ragu ragu, ia hanya menebak nebak apa yang dikatakan Manager, namun ia malah mendapatkan tatapan bingung dari para pengunjung dan Manager. Sang Manager pun bingung menatap Hyun Rin,– Hyun Rin menjawab pertanyaan yang jelas jelas bukan itu yang ditanyakan.

“ Sudahlah, kau sakit. Pulang lah. Kau tidak usah bekerja hari ini, setelah kau memeriksakan keadaan mu itu, baru kau boleh masuk.”


Hyun Rin hanya berjalan bingung menuju ke Rumah Sakit, ia ingin memeriksakan keadaannya. Ia juga telah mendapatkan uang dari Manager untuk berobat. Sungguh baik Managernya ini. Hyun Rin yang telah mengantri untuk dipanggil memasuki ruangan dokter pun hanya menghela napas panjang jika mengingat kejadian kejadian yang terjadi pada dirinya.

“ Park Hyun Rin? Silahkan masuk segera.”  Panggil seorang suster, Hyun Rin yang sadar namanya dipanggil pun dengan secepat kilat bergegas memasuki ruangan.

Ia pun berkonsultasi pada dokter, ia mengatakan telinganya sering sakit, terasa berat, dan berdengung, hidungnya juga sering mimisan tak jelas, ia merasakan lelah seketika, matanya ini pun terasa melihat dengan ganda.

Dokter pun hanya mengangguk jelas ke arah Hyun Rin. Seperti tahu dengan jelas gejala gejala tersebut yang telah dijelaskan secara terperinci oleh Hyun Rin.

— (skip :p #plak) —

Joon Myun pun hanya terus memegang dada sebelah kirinya, jantung nya.. Terasa semakin lemah. Sementara tangan sebelah kirinya memegang erat sebuah kotak kecil berwarna merah, beda lagi dengan matanya, ia hanya menatap lurus ke arah luar jendela yang memang tepat di hadapannya.

GREK

Lamunan Joon Myun pun pudar saat mendengar suara pintu apartement nya terbuka, ia yakin bahwa itu Hyun Rin. Ia berlari cepat ke arah pintu itu dengan tergesa gesa dan ingin sekali ia memeluk langsung tubuh mungil Hyun Rin, karena sekedar memeluknya ia merasa bahwa jantung nya yang lemah itu terasa normal kembali.

“ Hyun Rin-ah!” panggil Joon Myun saat tepat di hadapan Hyun Rin, ia menatap sendu ke arah Hyun Rin. Namun, sepertinya Hyun Rin terlihat tak semangat dan berjalan sempoyongan menuju kamarnya, ia seperti tak menghiraukan panggilan Joon Myun tadi. Joon Myun hanya terus menatap Hyun Rin dari kejauhan yang tengah memegang suatu dokumen?

Aku mulai tak bisa mendengar.. Aku tidak bisa terlalu mendengarkan perkataan mu tadi Joon Myun-ah.. Mianhae~

Aku masih belum bisa menerimanya.. Perkataan dokter tadi berhasil membuat pikiran ku hancur.

“ Kau terkena penyakit Kanker Nasofaring, mungkin ini dadakan karena memang kanker jenis ini cenderung tanpa gejala dan sulit terdeteksi. Karena cenderung tanpa gejala dan sulit terdeteksi, sehingga membuat pasien yang terkena didiagnosa sudah dalam tahap lanjut. Gejala nya persis dengan apa yang Anda rasakan sekarang. Mimisan, dan juga masalah pada pendengaran. Dan juga dari hasil lab kami, itu semua positif Anda mengidap penyakit kanker jenis ini.”

Tetesan demi tetesan pun jatuh dari kelopak mata Hyun Rin, ia meremas kesal kertas yang sedari tadi ia pegang, tanpa hitungan detik pun ia melempar jauh jauh kertas itu dan menangis histeris layaknya Joon Myun dulu.

“ Hiks.. hiks.. “ tangisan Hyun Rin, tidak bisa berhenti dari tadi, ia menundukkan wajahnya dan menutupi semuanya. Ia terjongkok lemas di samping dinding beton ini yang berhawa dingin. Joon Myun yang menyadari pintu kamar Hyun Rin terbuka, ia hanya bisa melihat keadaan Hyun Rin dari celah kecil itu. Dengan mantap, Joon Myun pun melangkah masuk ke dalam kamar Hyun Rin dan membaca kertas yang dibuang Hyun Rin tadi. Matanya terus mencari, membaca dengan seksama.

DEG

Kanker Nasofaring? Park Hyun Rin? Tidak salahkah aku membacanya? Aku pernah mendengarnya.. separah itukah? Jadi selama ini? Mimisan, lemas, pingsan, dan sakit yang menyerang telinganya itu…

Secepat kilat pun Joon Myun memeluk tubuh Hyun Rin yang masih lemas terjongkok, Hyun Rin tidak mengelakkannya ia malah menangis sekeras kerasnya di pelukan Joon Myun. Tanpa sadar Joon Myun pun ikut menangis. Kembali ia mempererat pelukannya. Dadanya terasa teramat sesak, mendapati orang yang ia kasihi, cintai, terluka. Jantungnya yang memang lemah itu pun semakin sakit! Inikan penderitaan yang diberikan oleh Tuhan pada nya? Tidak. Bukan hanya dirinya, namun juga Park Hyun Rin.

“ Saranghae…” bisik Hyun Rin ditengah tangisnya. Ia pun mendonngak untuk berani  menatap mata Joon Myun. Ia dapat melihat air mata Joon Myun yang dari tadi deras mengalir. Ia mengusap pelan air mata tersebut dan tersenyum lembut.

“ Gumawo~ Gumawo karena telah mencintai ku… apa adanya…” kata Hyun Rin pelan, tak dipungkiri lagi, Joon Myun pun tersenyum dan mengecup pelan Hyun Rin.

“ Seharusnya aku yang bilang begitu. Kau dengan setia merawatku, kau dengan setia menghadapi ku disaat aku terpuruk dan frustasi, jantung ku merasa melemah saat kau tidak di sisiku.. because my destiny is you…”

Pendengaran Hyun Rin yang tadi secara mendadak tidak berfungsi, sekarang ia dapat mendengar semuanya. Tangisan bahagia ini, rintiknya hujan, keheningan disini.. semuanya. Dengan jelas ia melihat Joon Myun kini tengah mengambil kotak kecil merahnya dari saku celana panjangnya.

“ Park Hyun Rin.. Neo.. menikahlah denganku..” Hyun Rin segera menerjap matanya berulang kali, karena tidak percaya.

Aku? Joon Myun? Menikah? Orang yang ku cintai..

Hyun Rin pun mengangguk perlahan dengan diselingi oleh senyum manis nya. Ya, walaupun kata kata Joon Myun tadi agak sedikit memaksa, namun Hyun Rin menerimanya dengan ikhlas. Senyum Joon Myun pun ikut merekah saat melihat anggukan itu. Sesegera mungkin, Joon Myun memeluk Hyun Rin. Joon Myun dan Hyun Rin seperti bahagia sekarang. Mereka kembali menangis bahagia, mereka semua bersama sama berdoa dalam pelukan ini.

Tuhan, terima kasih.. Karena Engkau telah memberikan aku kebahagiannya.. Aku berjanji, aku akan selalu menjaga yeoja yang kupeluk ini selamanya, hingga maut yang memisahkan. Jika salah satu dari kami akan kau jemput nanti, aku telah siap.

Tuhan, terima kasih.. Kau memberikan ku seseorang yang paling berharga. Aku menangis dengan bahagia sekarang. Atas tetesan air mata ini, aku berjanji, akan selalu menjaga namja yang kupeluk ini selamanya. Hingga mau yang memisahkan. Jika salah satu dari kami akan kau jemput nanti, aku telah siap.

—-

4 tahun kemudian…

“ Uhukk… Uhukkk…” batuk Hyun Rin pun semakin parah di setiap hari, ia hanya tersenyum simpul dengan darah segar yang keluar dari mulutnya tadi. Sapu tangan ‘chingu’ yang sedari tadi ia pegang pun menjadi tempat pelampiasan darahnya keluar. Decak darah pun memenuhi sapu tangan putih itu.

“ Joon Myun-ah.. sepertinya aku akan segera mengikuti mu. Kita akan hidup bersama lagi.” Gumam Hyun Rin dengan tangisannya.

Ku tuliskan semua apa yang kurasakan selama ini dalam coretan setiap tinta hitam yang kucurahkan pada selembar kertas putih ini. Aku, Park Hyun Rin. Telah bahagia hidup 4 tahun bersama Kim Joon Myun, suamiku. Aku sudah rela melepaskannya. Rencana Tuhan, memang tidak bisa ditebak. Kim Joon Myun, suamiku… Kim Joon Myun… Kim Joon Myun… Selalu ku sebut sebut nama suamiku ini, Joon Myun- di setiap aku berdoa. Berdoa semoga ia hidup bahagia di surga sana. Aku pasti akan menyusul mu, Appa, Eomma, Halmoni, Harabeoji… Joon Myun-ah.. sekarang aku lebih sering mimisan.. batuk darah, kepalaku seperti ada tornado kuat, pendengaran ku pun sudah menghilang.. Aku sakit.. sakit.. dan sakit.. Kau bisa bertahan hingga napas terakhirmu … di sisi ku. Kau begitu kuat. Aku sudah berjanji pada Tuhan ‘Jika salah satu dari kami akan kau jemput nanti, aku telah siap.’ Aku siap Joon Myun-ah.. aku sangat siap. Aku sangat tabah. Aku sangat mengikhlaskan kau pergi. 3 tahun ini, aku sendirian.. Hanya selang 1 tahun pernikahan kita, kau pergi dari dunia ini, Jantung mu berhenti berdetak, napas mu berhenti. Mianhae.. Mianhae… Jeongmal Mianhae.. maafkan aku jika tidak bisa membahagiakan kamu. Terlalu singkat. Tapi itulah takdir kita. Tuhan, maafkan aku, aku tidak bisa membahagiakan orang yang Kau titipkan pada ku. Air mata ku terasa manis. Kelopak mata ini terasa kering. Napas yang ku helakan juga terasa sesak. Saranghae.. Saranghae.. Saranghaeyo… Kim Joon Myun-ah.

Perlahan demi perlahan, mata Hyun Rin pun berat.

Saranghaeyo..

Pendengarannya hilang.

Saranghaeyo..

Mulutnya kaku.

Mianhae.. Jeongmal Mianhae..

Badannya lemas. Napas nya mulai tidak teratur.

Kim Joon Myun..

Gelap.

—–

Sebuah senyum terulas dari seorang yeoja dan namja –Park Hyun Rin dan Kim Joon Myun-

Eomma, Appa, keluarga besar Park Hyun Rin dan Kim Joon Myun berkumpul.. mereka semua dalam dunia putih, serba putih, tak luput juga pakaian mereka. Mereka tersenyum dengan Hyun Rin dan Joon Myun ditengahnya.

Kami bertemu, kami bersama kembali. Terima Kasih, Tuhan.

Because my destiny is you…

When I lose my way inside the dark forest
When my young soul is crying
Guide me like a light, like a miracle
Before this life ends #Life – SHINee#

-THE END-

Aaaahhh~~ Happy Ending Yeppiieee~~ ^O^ *dirajam readers* Gumawo karena udah baca ff ini.. panjang yak .___. *kabur*

Otte? Jelek ya? Sebernanya author mau buat si Hyun Rin ini normal normal aja -_- gak sakit2an eh gak taunya otak author kesitu XD Mianhae juga kalo banyak kata kata/bagian yang gak penting sama sekali (?) author masih pemula.. Jangan lupa RCL ya kritik dan saran, author terima dengan lapangan bola *eh maksudnya lapang dada -_-“ semoga di next fanfic, bisa memuaskan^^ muaahhh~~ :* ❤ Salam kenal ya ^^ /kisseu satu satu/

20 responses to “Painful And … Hurt

  1. thor, akhirnya kejem banget,T.T

    tapi mungkin itu yang terbaik untuk Hyun rin,
    jadi happy ending dech, karana mati semua 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s