Behind a Broken Guitar [Part 1]

Title: Behind a Broken Guitar

Author: Vanana

Main Casts: Sungyeol (Infinite), Park Hahyo (OC)

Genre: Romance, Music

Note: FF series pertama disini ^o^ Awalnya main castnya mau Daehyun, tetapi kayanya reader disini sedikit ya yang baca tentang B.A.P .-. Jadilah Sungyeol sebagai pemeran utamanya! Awalnya FF ini mau dikasih judul “33 Stars”, tapi judulnya kurang ngena. Jadinya diganti deh. Part 1 ini ceritanya tentang waktu si Hahyo sama Sungyeol masih 13 tahun, kalau part part selanjutnya sih kayaknya bakalan nyeritain kejadian di 2011-2012 gitu. Semoga banyak yang suka yah, jangan lupa comment 🙂

Part 1 | Part 2

2004

Aku yang saat itu berusia 13 tahun sedang bermain gitar dibawah pohon di halaman belakang sekolah. Gitar yang selalu aku bawa kemana-mana. Aku memang tidak terlalu handal memainkannya, tetapi kecintaanku terhadap gitar tersebut terlalu besar.

Aku tidak pernah mengikuti les gitar sebelumnya. Pada awalnya, aku juga tidak begitu tertarik dengan musik. Tetapi seseorang telah mengubah hidupku, yaitu Lee Sungyeol. Dia adalah seorang pemain gitar yang hebat. Dan dia mengajariku bagaimana cara bermain gitar, sampai sejauh ini.

Pukul 5 sore. Aku sudah menunggu sekitar 2 jam disini, dan jemputanku belum juga datang. Semua orang pasti sudah pulang dan aku hanya sendiri disini, bersama petugas-petugas sekolah.

Ketika aku sedang memetik-metik gitarku, tiba-tiba seseorang datang dan mengagetkanku. Sungyeol. Aku tidak tahu bahwa dia masih berada di sekolah ini. Aku kira dia sudah pulang.

“Kenapa kau belum pulang?” tanya Sungyeol. Tidak biasanya Sungyeol menanyakan hal ini padaku, karena Sungyeol tahu bahwa supirku selalu terlambat menjemputku.

“Aku belum dijemput. Kau? Kenapa kau belum pulang?” aku balik bertanya pada Sungyeol. Dia tidak pernah terlambat dijemput. Dan melihat Sungyeol sore-sore begini di sekolah adalah hal yang tidak biasa bagiku.

“Sebenarnya aku sudah pulang. Saat sampai di rumah, aku mendengar kabar dari ibuku dan sepertinya aku harus segera menceritakannya padamu. Aku sempat pergi ke rumahmu, tetapi tidak ada orang. Dan aku tahu, kau pasti akan diam disini karena ini tempat favoritmu,” kata Sungyeol yang membuatku penasaran.

Kabar apakah yang diberitahukan oleh Ibu Sungyeol? Pasti kabar itu sangat mengejutkan, sampai Sungyeol jauh-jauh pergi kembali ke sekolah untuk menceritakannya padaku.

Aku bertanya pada Sungyeol tentang kabar itu, tetapi dia tidak mau memberitahuku. Dia hanya tersenyum kecil, lalu bersandar ke pohon. Tepat disebelahku.

“Maaf. Pada awalnya aku ingin memberitahumu tentang ini. Tetapi, setelah melihatmu, entah mengapa aku merasa aku tidak harus menceritakannya padamu,” kata Sungyeol. Itu membuatku kecewa dan benar-benar penasaran. Mungkin Sungyeol mencoba mengerjaiku.

“Apakah itu kabar baik? Atau kabar buruk?” aku bertanya lagi pada Sungyeol. Aku tidak bisa menutupi rasa penasaranku.

“Dua-duanya. Ada kabar baik, dan ada kabar buruk. Kau tahu, akhirnya impianku selama ini terwujud,” kata Sungyeol sambil tersenyum. Tetapi, walaupun dia tersenyum, aku bisa melihat air mata menggenang di matanya.

Sudah lama aku dekat dengan Sungyeol, dan aku tidak mengetahui apa impian terbesarnya. Sungyeol tidak pernah bicara tentang impiannya padaku. Meskipun aku tidak tahu apa impiannya, yang penting sekarang aku senang karena keinginannya terwujud. Sungyeol pasti sangat bahagia.

“Apa impianmu?” tanyaku, “jalan-jalan ke luar negeri?”

“bukan,” kata Sungyeol, “aku akan menceritakannya padamu besok.”

“kenapa kau tidak menceritakannya sekarang?”

“aku tidak bisa.”

Aku mengerti Sungyeol. Ketika dia bilang bahwa ia tidak bisa, ia benar-benar tidak bisa. Ia adalah anak yang jujur dan apa adanya. Aku senang berteman dengannya.

“baiklah,” kataku, “tapi kau pasti akan menceritakannya kan?”

Aku harus memastikan bahwa Sungyeol akan menceritakan semuanya padaku. Tentang senyum di wajahnya, dan tentu juga tentang genangan air matanya.

“aku janji,” Sungyeol berjanji padaku dan mengulurkan jari kelingkingnya, “besok di sekolah, kau pasti akan tahu tentang hal ini.”

Keesokan harinya di sekolah, aku datang terlalu pagi. Tidak ada orang sama sekali di kelas. Jadi, seperti biasa, aku bermain gitar. Lagu Memory oleh Elaine Paige. Aku pertama kali mendengar lagu itu di kotak musik milik nenekku.

Sebelum murid-murid lain datang, Sungyeol sudah datang. Dia duduk disebelahku dan aku menghentikan permainan gitarku. Aku benar-benar ingin mendengarkan cerita Sungyeol.

“Jadi, impianku untuk menjadi seorang gitaris terwujud,” kata Sungyeol, “aku akan pergi ke sekolah musik dan tentu saja, aku akan pindah dari sekolah ini.”

Kedengarannya tidak terlalu buruk karena rumah Sungyeol dan rumahku tidak terlalu berjauhan.

“Untunglah kabar buruknya tidak seburuk yang aku pikirkan,” kataku.

“Itu bukan kabar buruknya,” Sungyeol melanjutkan, “kabar buruknya adalah, sekolah musik itu tidak berada di Korea. Melainkan di… Amerika. Dan aku akan pindah kesana bersama orang tuaku.”

Aku sangat terkejut mendengar apa yang Sungyeol katakan. Aku tidak bisa terpisah dari Sungyeol. Aku senang bahwa dia bisa mengikuti pelajaran di sekolah musik, tetapi, mengapa sekolah musik itu harus berada di Amerika?

Sekarang aku tahu mengapa Sungyeol hampir menangis kemarin. Pasti sulit baginya untuk meninggalkan Korea. Sudah 13 tahun dia berada disini dan tiba-tiba saja dia harus meninggalkan kampung halamannya.

“Jangan pergi,” aku bilang pada Sungyeol, “Kumohon jangan pergi.”

Aku sedikit menangis, tetapi tidak sampai tersedu-sedu karena aku sedang berada di sekolah. Sungyeol juga terlihat ingin menangis dan dia menahannya.

“Kau menyuruhku untuk melepaskan kesempatanku satu-satunya?” tanya Sungyeol yang terlihat serius.

Aku menggeleng. Aku tidak menghalanginya untuk pergi ke Amerika, tetapi aku hanya tidak ingin jauh dari Sungyeol.

“Kapan kau akan pergi?” aku bertanya.

“Besok. Besok pagi,” jawab Sungyeol, “dan malam ini, aku ingin kau datang ke rumahku. Aku ingin menunjukkan sesuatu.”

Malam harinya, aku pergi ke rumah Sungyeol. Tentu saja, aku membawa gitarku. Rumahnya sangat besar dan luas. Aku biasa bermain gitar bersama Sungyeol di kebunnya.

Ketika aku membunyikan bel di gerbang rumah Sungyeol, ia keluar dan membukakan gerbang rumahnya. Dia tidak menyuruhku masuk ke rumahnya, melainkan membawaku ke kebun rumahnya. Aku dan Sungyeol duduk di kursi taman. Langit saat itu terlihat sangat indah. Bintang bertaburan dimana-mana. Aku memang sering memandang bintang bersama Sungyeol, tetapi kali ini rasanya berbeda.

Tiba-tiba, Sungyeol berbicara padaku, “setiap tanggal 14 setiap bulannya, lihatlah ke langit. Jika kau melihat 33 bintang, saat itulah aku akan kembali. 33. Tidak kurang, dan tidak lebih.”

Sungyeol meminjam gitarku dan mulai memainkan sebuah lagu. Tapi, di tengah-tengah lagu, Sungyeol tidak sengaja memutuskan 2 buah senar.

Aku sedih karena Sungyeol memutuskan senarnya. Itu adalah gitar kesayanganku. Aku segera merebut gitar tersebut dari Sungyeol dan aku pergi meninggalkan rumahnya. Aku tahu, cepat atau lambat, aku pasti akan memaafkannya. Tetapi saat itu aku sedang benar-benar kecewa pada Sungyeol.

“aku membencimu,” kataku, sebelum aku meninggalkan rumah Sungyeol. Sungyeol mencoba mengejarku, tetapi aku tidak mau mendengarkannya. Ketika aku hampir membuka pintu gerbang rumahnya, dia menarik tanganku dan meminta maaf padaku.

Saat itu, aku tidak tahu harus sedih atau marah. Aku tidak mungkin membentak Sungyeol karena itu adalah hari terakhir aku bersamanya. Tapi, berhubung itu adalah gitar kesayanganku, aku membenci Sungyeol saat itu.

Aku menampar Sungyeol dengan keras. Aku tidak bermaksud menamparnya seperti itu, tetapi aku benar-benar marah. Aku melihat Sungyeol memegang pipinya dan secara pelan, dia bicara padaku.

“aku tidak menyangka kau seperti ini.”

Aku diam disitu, tidak melakukan apa-apa. Aku merasa bersalah. Aku tahu, tidak sepantasnya aku menampar Sungyeol. Tetapi aku melakukannya begitu saja. Aku meminta maaf pada Sungyeol tetapi dia tidak mau mendengarku. Aku tahu bahwa Sungyeol paling benci pada orang yang suka menampar. Dan sekarang, dia membenciku.

Aku keluar dari rumah Sungyeol dengan perasaan bersalah . Di rumah, aku mencoba meneleponnya tetapi dia tidak mau menjawab. Dan aku pikir, mungkin persahabatanku dan Sungyeol sudah berakhir. Tepat 1 hari sebelum ia pindah ke Amerika. Entah ketika ia kembali, apakah ia masih mau berteman denganku atau tidak.

10 responses to “Behind a Broken Guitar [Part 1]

  1. Euuummm… Openingnya bgs thor, cuma endingnyaaa rada gmn gtu pas mutus senar trus maen tampar2an -__-”
    *reader bawel* /plak

  2. LANJUT..LANJUT..LANJUT!!! *demo bareng Sungyeol*
    penasaran Thor…
    part selanjutnya jangan lama yaaa..
    Hahyo keterlaluan banget sih,masa cuma gara-gara senar putus aja sampai harus nampar,,kan masih bisa beli neng..
    pokoknya ditunggu lah..

  3. thor cepet lanjutin!!! klw gk nanti Hahyo’a q bakar lo #readersadis *klw Hahyo lo bakar ff gk lanjut neng* -_-v POKOK’A HARUS CEPET LANJUTT!!! ^^

    • bakar aja tuh kembaran gua, si Hahyo. emang mukanya pantes dibakar -_-
      iya iya ntar aku pasti lanjutin. makasih ya udah baca 😀

  4. Pingback: Behind a Broken Guitar [Part 2] | FFindo·

  5. Hm, kok menurutku sdkit mirip sama “wish in a small box”
    Ah, mungkin karena baru baca part 1.
    Oke, lanjut dulu ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s