SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: SIWON THE BOSS (PART 10)

SIWON THE BOSS (PART 10)

Author: Kim Hye Ah

Cast: Choi Siwon (SUPER JUNIOR)

Stephany Hwang aka Tiffany (SNSD)

Additional Cast: Member Super Junior & SNSD

Rating: PG-15

Genre: Romance, Friendship

Poster: MissFisshyJazz

Disclaimer: Humans, things, and ideas here belong to God. Full crediting me, my blog, and this page if you wanna take it out.

PS: Typo, typo, sorry for that. Please feel free to correct me. Thx for readers who are patient waiting my ff published.

Resensi Cerita Lalu

Tiffany’s side

“Siwon-ssi, kau ini bersikap seperti tidak ada apa-apa. Tahukah kau apa yang terjadi beberapa minggu kemarin. Kau sekarat, kau koma! Kau membuatku khawatir sampai rasanya air mataku tidak cukup untuk menangis lagi.”

“Aku sampai sekarang masih menyimpan rapi setiap detik kejadian itu. Member Super Junior tidak pernah tahu bagaimana ceritanya secara persis. Aku tidak sanggup menceritakannya karena itu menjadi beban yang berat bagiku. Tiap malam aku bermimpi buruk, ketakutan bahwa kau tidak akan pernah bangun lagi.”

“Aku terus menahan rahasia ini dan berharap suatu saat kau akan sembuh dan dapat mendengarkan semua beban yang terus menggayut di kepalaku. Kau tahu rasanya aku ingin berteriak tapi aku harus tetap menjaga sikapku, jika tidak aku bisa gila. Tapi kau tiba-tiba bangun dan melecehkanku.”

Chapter 1    |    Chapter 2        |     Chapter 3     |     Chapter 4    |  Chapter 5    |

Chapter 6A |     Chapter 6B    |     Chapter 7      |     Chapter 8    |  Chapter  9   |

 

Suatu Tempat Rahasia

Author POV

Namja bertubuh tinggi besar itu sedang membuka lembaran file yang baru saja diserahkan oleh agennya. Tiba-tiba seorang namja datang dengan terburu-buru.

“Aku langsung datang ketika kau menelfonku. Kau menemukannya?,” Leetuk datang sambil terengah-engah. Ia langsung melarikan mobilnya ketika Kangin menelefonnya.

“Hampir!,” namja itu membolak balik tumpukan file yang ada di tangannya, “Aku yakin pengirim surat kaleng ini adalah satu dari 25 orang yang identitasnya ada di tanganku ini.”

“Kau yakin?”

“Absolutely.”

“Yang kita butuhkan adalah siapa yang paling memungkinkan untuk melakukannya. Ia haruslah orang yang sangat cerdas, licik, dan memiliki sumber keuangan tak terbatas.”

“Aku hampir saja menuduh germo dan bawahannya,” tukas Leetuk sambil membaca beberapa file yang diserahkan Kangin

“Mereka terlalu bodoh dan tidak memiliki banyak uang.”

“Tapi motivasinya cukup besar, ia ingin mengeruk harta Siwon bukan?”

“Mereka sudah dijebloskan ke penjara. Sampai sekarang mereka pun belum tahu identitas asli Siwon dan Tiffany.”

“Lalu siapa kalau begitu?”

“Karena itu bantulah aku mencarinya dari file ini.

“Apa kita-kira motivasinya? Jika ia begitu kaya, ia tidak membutuhkan uang Siwon atau Tiffany bukan?”

“Aku bertaruh, dendam hanya itu alasannya. Tidak lebih,” jawab Kangin yakin.

“Berarti kita harus menemukannya hari ini. Hubungan Siwon dan Tiffany semakin dekat, semakin susah lagi jika kita harus memisahkan mereka.”

Kangin mengangguk tanda mengerti. Orang-orang yang sudah dicurigainya sudah mulai ia petakan. Tapi 25 orang yang memiliki motivasi untuk balas dendam pada Siwon dan Tiffany terlalu banyak. Ia membutuhkan maksimal 5 orang saja yang pantas dicurigasi sehingga agen-agennya bisa bekerja secara efisien dan terfokus. Orang ini mesti sangat pintar dan kuat karena ia bisa memantau detil semua aktivitas Siwon dan Tiffany. Bahkan ketika yeoja itu sedang dalam pelarian dan terkatung-katung kelaparan di jalan, orang itu sudah lebih tahu daripada dirinya dan Siwon. Sayangnya waktu yang diberikan sangat terbatas, hanya seminggu! Pengirim surat kaleng ini begitu pintar menutupi identitasnya. Tidak ada petunjuk signifikan yang dapat mengarahkan sasaran padanya. Begitu misterius dan semua informasinya menunjukan betapa orang itu begitu detil dan terencana. Sebuah motivasi balas dendam yang sudah tersusun dengan rapi tanpa harus bermandikan darah dan keringat. Karena begitu pengirim surat kaleng itu memberikan semua bukti yang ia miliki pada media. Seperti bom, ia akan meledak tepat pada sasaran, membuat Siwon dan Tiffany begitu menderita dan orang itu bisa melenggang bebas berpura-pura tidak tahu apa-apa. Kangin memejamkan matanya, padahal Siwon saat ini sedang sangat menikmati kebersamaannya dengan Tiffany. Tidak ada yang menyangka ada seseorang yang begitu dendam pada mereka sebegitu kuatnya.

Apartemen Siwon

Siwon POV

Ternyata tinggal seatap dengan Tiffany bukan lagi hal yang menjemukkan untukku sekarang. Setelah aku sembuh dari koma, dia bertransfromasi menjadi yeoja yang paling kuidamkan. Sejujurnya, setelah merasakan sendiri bagaimana Tiffany menyelamatkanku dari kejahatan mucikari pemilik tempat karaoke itu. Aku sudah berjanji untuk tidak banyak menuntut padanya. Aku sudah memintanya untuk tidak terlalu mengurusi urusan rumah dan isi perutku. Asal dia betah tinggal bersamaku aku sudah sangat bahagia. Tapi entahlah, dia menolak semua permintaanku.

“Aku ingin tetap memasak dan mengurus rumah. Rasanya aku sudah mulai terbiasa dengan itu semua.”

“Tapi Fany, pekerjaan yang ditawarkan kolegaku ini sangat bagus. Kau akan menjadi direktur bagian perencanaan. Bayangkan? Untuk sekelas Park Brothers dan kau menjadi salah satu direktur utama di dalamnya. Ini kesempatan emas, kau harus mengambilnya.”

“Aku tidak mau!”

“Wae? Bukankah kau setuju aku mencarikan pekerjaan untukmu. Setelah susah payah mencarinya, kau malah menolaknya begitu saja.”

Yeoja itu terdiam memikirkan seribu satu alasan. Dalam hatiku tiba-tiba saja aku merasa senang. Bagaimanapun aku tidak suka melihat kenyataan bahwa setelah Tiffany bekerja nanti ia akan lebih sibuk dengan pekerjaannya dibandingkan denganku.

“Aku masih canggung untuk bekerja kembali. Rasanya aku mulai terbiasa dengan kompor dan penggorengan daripada komputer dan pulpen.”

“Kau hanya perlu beradaptasi dan itu tidak akan membutuhkan waktu lama,” aku menyesal mengatakannya tapi aku tidak boleh egois, Tiffany layak mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuannya.

“Biar kupikirkan dahulu.”

“Berapa lama? CEO Park Brothers ingin keputusanmu hari ini. Pekerjaan itu termasuk most wanted position loh, setiap orang ingin mendudukinya, dan  kau sangat beruntung karena kesempatan pertama jatuh padamu.”

“Itu karena kau bersahabat dengannya, bukan karena kemampuanku kan?”

“Aish, kau selalu berfikir negatif. Perusahaan itu sangat besar, apa dia mau merugi jika merekrut pegawai yang tidak bermutu. Tentu saja mereka akan memilih orang yang memiliki pengalaman dan latar belakang pekerjaan yang bagus sepertimu.”

“Memang aku kadang merindukan bekerja kembali. Baiklah aku sudah memikirkannya masak-masak.”

Yeoja itu terdiam memandangku sambil berfikir. Membuatku sedikit tegang apakah ia akan menerima bekerja di tempat yang kutawarkan itu atau tidak. Dalam hatiku, kumohon Tiffany katakan tidak. Aku memang egois, aku tidak rela namjadeul di luar sana memperhatikanmu dan menyadari kecantikanmu.

Yeoja itu tersenyum.

“Jika kau tidak keberatan, sementara ini aku ingin bekerja di rumahmu saja.”

Aku terbelalak merasa senang tidak terkira. Tapi aku berpura-pura menyesali keputusannya.

“Sayang sekali, Park Brothers adaah tempat yang sesuai untuk yeoja pintar sepertimu. Tapi baiklah aku hargai semua keputusanmu. Aku harap kau bisa bertahan bekerja di rumah ini. Sungguh kukatakan sekali sekali lagi bahwa aku tidak memaksamu untuk mengurusi aku. Kau bebas pergi jika sewaktu-waktu kau menginginkannya. Tapi bolehkah aku tahu alasannya kenapa kau menolak?”

Ia menggelang dan lagi-lagi yeoja itu hanya tersenyum memandangku. Aish,  aku tidak tahan melihat dirinya kini. Rasanya aku ingin memeluk dan menciumnya. Andaikata yeoja itu tidak mengajukan persayaratan supaya aku tidak menyentuhnya, ingin aku cium dirinya setiap hari, setiap menit, bahkan setiap detik! Aku benar-benar berjuang untuk mengendaikan diriku tapi Tiffany tidak membantuku sama sekali. Ia tidak sadar semua perilakunya membuatku berhasrat untuk menciumnya.

Saat itu pagi seperti biasa, aku tengah bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Tiffany menyiapkan sarapan dan ngomel-ngomel seperti biasa.

“Kau belum sembuh benar, belum juga seminggu sejak tersadar dari koma, tapi tetap memaksakan diri untuk bekerja. Aku tidak menyangka kau benar-benar workaholic. Setidaknya untuk beberapa minggu ini beristirahatlah sampai kondisimu benar-benar pulih dan perbanmu bisa lepas seutuhnya.”

Aku hanya tersenyum sambil memasang kancing kemeja di kamarku. Yeoja itu tampak sibuk menata piring dan mangkuk di meja makan. Aku menyukai caranya memberikan perhatian padaku. Ia bukan tipikal yeoja yang manja dan penurut atau senang bergaya sok cute seperti layaknya yeoja umumnya di Korea ini. Sebaliknya, ia sangat apa adanya, straight to the point, tanpa basa-basi, tapi lebih banyak memberi daripada menuntut.

Contohnya, kau bisa lihat sekarang, apartemenku tampak berbeda dari sebelumnya. Yeoja itu telah memberikan sentuhan dekorasi yang membuat tampilan ruangan ini menjadi sangat hangat dan indah. Ia pun rajin membersihkan ruangan dan tentunya menyiapkan makanan lezat untukku setiap harinya. Rasanya aku selalu ingin pulang cepat dan tidak sabar jika ada lembur atau di jalan terkena macet. Aku bisa frustasi jika aku pulang lebih lambat dari seharusnya.

“Harusnya Siwon, kita hadiahi jam tangan atau jam dinding dan kita pasang di seluruh ruangan atau di semua bajunya. Lihatlah sekarang kerjanya melirik jam melulu, apalagi jika sudah jam 4 sore,” seloroh Yesung sambil tertawa.

Rupanya kebiasaan baruku ini terendus oleh member Super Junior yang lain.

“Siwon-Hyung membuatku iri. Sekarang ia memiliki seseorang yang memperhatikan. Lihatlah belum juga seminggu sembuh, ia sudah bekerja kembali dan tampak bersemangat,” balas Ryeewok.

Heechul mengangguk setuju, “Jaman sekarang mana ada yeoja yang mau melakukan hal-hal yang seperti dilakukan Tiffany, mengurus rumah, memasak. Yeoja itu benar-benar hebat. Pendidikannya bagus, menjadi istripun sudah siap dan layak.“

Pembicaraan di kantor itu mulai sering kudengar tanpa mereka sadari bahwa aku menguping diam-diam. Dalam hatiku sontak ada perasaan bahagia, aku senang teman-temanku melihat Tiffany begitu positif dan aku bersyukur Tuhan memberikan yeoja itu padaku walau aku tidak tahu dalam kapasitas sebagai apa. Apa sebagai pengisi rumahku saja ataukah bisa lebih dari itu? Entahlah, sampai sekarang aku tidak bisa mengira-ngira bagaimana perasaaannya padaku. Ia memang sangat perhatian tapi seperti menjaga jarak. Walau dalam beberapa hal aku sangat yakin, seperti ketika dia mencoba membebaskanku dari tangan germo itu atau ketika yeoja itu membalas ciumanku dengan rasa hangat yang sama. Aku yakin bahwa ia memiliki perasaan serupa, tapi hanya dua bukti itu tidaklah cukup untuk mengatakan yeoja itu memang benar-benar memiliki perasaaan khusus kepadaku. Apalagi jika melihat bagaimana ia begitu pintar dan mandiri. ia bisa melakukan semuanya sendiri tanpa meminta bantuanku.  Lantas apa gunanya keberadaanku baginya. Apakah ia benar-benar membutuhkanku? Argh, aku jadi frustasi dibuatnya. Bagaimana seorang Choi SIwon yang memiliki kedudukan tinggai, tampan, terkenal, dan diincar banyak yeoja bisa bertekuk lutut dan teroambang-ambing oleh seseorang bernama Stephany Hwang alias Tiffany.

“Tiffany kemarilah!,” saat itu aku tengah bersiap-siap menuju kantor. Setelah sarapan aku kembali ke kamar.

Yeoja itu mendekatiku tampak takut karena aku menyuruhnya masuk ke kamarku. Kenapa sekarang ia jadi seperti itu, dulu-dulu ia bebas keluar masuk begitu saja terlebih karena kami masih berbagi kamar mandi.

“Bisakah kau bantu aku memasangkan dasi?”

“Kau lebih pintar dariku,” ia mencoba berbalik tapi aku menahannya.

“Tolonglah. Badanku masih sakit.”

“Setelah sekian lama berkata kau baik-baik saja sekarang kau mengakui juga bahwa kau masih sakit.”

Akhirnya yeoja itu tepat berada di depanku, berjinjit dan memasangkan dasi di kerahku. Aku menatapnya, hanya dengan cara inilah aku bisa berdekatan dengannya. Aku mencium aroma feminin dari tubuhnya.

“Kau wangi.”

“Oh ya? Hmm tadi aku mencoba memakai parfum yang kau belikan untukku.”

“Wajahmu berbeda, kau tampak hmm cantik,” ada sesuatu yang lain walaupun tidak terlalu menonjol dari wajahnya. Bibirnya yang berpulas warna peach yang hangat.

“Kau membelikanku peralatan make up dan parfum. Jadi tadi aku belajar menggunakannya hanya lipstick saja dan aku tidak sempat menghapusnya karena harus memasak. Apa terlalu berlebihan? Apa aku terlalu menor?,” Tiffany tampak khawatir terkesan jelek.

“Hanya lipstick berwarna pucat tentu kau tidak kelihatan menor. Seperti yang kukatakan kau cantik. Walau bagiku, memakai make up atau tidak kau tetap cantik.”

Wajah yeoja itu tiba-tiba merona. Semburat merah muncul dari pipinya. Aku tidak tahu apa yang sudah aku katakan. Aku tidak terbiasa memuji yeoja seperti itu dan tiba-tiba saja aku berubah menadi seorang Casanova kampungan.

“Gomawo, Siwon-ssi. Nah sekarang dasimu sudah rapi kupasang.”, ia menarik dasiku dan merapihkan posisinya,” Oh ya jangan lupa bekalmu ya, aku sudah siapkan 2 box, satu untukmu , dan box yang lebih besar lagi untuk member Super Junior yang lain.”

Ia berlari terburu-buru sambil mengambilkan kantung kertas berisi lunch box. Aku juga sudah mendekati pintu keluar sambil menenteng tas kerja dan kunci mobil.

“Aku baru saja bereksperimen membuat resep baru. Aku tidak tahu apakah kalian akan menyukainya atau tidak. Sebagai pemula aku siap menerima kritikan darimu dan member Suju yang lain jika rasanya tidak enak.”

“Tidak mungkin. Makananmu paling lezat sedunia. Kau memang koki yang hebat. Aku beruntung bisa dimasakkan olehmu.”

Ups, apalagi yang telah aku katakan. Tidak bisakah aku mengontrol multuku sendiri untuk tidak terlihat seperti merayunya.

“Gomawo Siwon-ssi”

Blushing! Lagi-lagi mukanya merona, ia tersenyum. Aku suka dengan cara dia menarik ujung mulutnya. Setiap kali tesenyum, matanya akan berbinar lebih indah. Aish, tiba muncul lagi hasratku untuk menciumnya. Tapi aku tahan. Tiffany, sampai kapan kau akan membuatku menderita seperti ini. Sosoknya kini selalu hadir di setiap aktivitasku. Gangguan yang membuat addicted. Bayangkan saat aku sedang meeting dan menatap wajah Member Suju, yang kulihat adalah muka dirinya. Saat Kyuhyun menyeringai dengan muka Evil-nya yang kulihat adalah Tiffany yang sedang tersenyum manis padaku. Aku shock ketika sadar, dia bukan yeoja itu tapi Kyuhyun! Pantas dongsaeng-ku itu rikuh dan membalasku dengan tatapan ‘amit-amit’ ketika aku memberikannya senyuman termanis yang kupunya. Mungkin Kyuhyun berfikir aku mulai menyukainya dan dia tampak ketakutan. Aish, bisa-bisanya aku melakukan hal bodoh seperti itu. Masalahnya, aku mulai sering berhalusinasi dengan merasa melihat Tiffany dimana-mana. Dia jadi seperti hantu cantik yang mengganggu dalam setiap detik kesadaranku. Andaikata yeoja itu bisa lebih banyak menunjukan perasaannya yang membuatku yakin bahwa kami memiliki perasaan serupa. Aku pasti akan dengan berani mengatakan suatu hal penting dan sakral kepadanya. Tapi sampai sekarang keyakinan itu tidak pernah muncul dan aku lagi-lagi menjadi seorang pengecut yang hanya bisa menatapnya dari kejauhan dan berpura-pura tidak memiliki perasaan apa-apa kepadanya.

 

Tiffany POV

Aku melepas kepergian Siwon dengan was-was. Aku khawatir dengan luka-lukanya yang belum sembuh. Entah apa yang dipikirkannya ketika memutuskan untuk bekerja kembali padahal aku sudah melarangnya. Tapi namja itu begitu keras kepala.

“Aku bukan tipe yang suka mencampuri urusan orang. Tapi khusus untuk dirimu, aku harus katakan bahwa kau itu namja yang paling susah diingatkan. Kau masih sakit. Dokter sendiri bilang, kau butuh istirahat untuk memilihkan kondisimu. Tapi kau tetap saja bekerja.”

“Aku memiliki tanggungjawab Tiffany, perusahaanku, Super Junior, investor, klien dan pegawaiku. Jika aku tidak bekerja, aku khawatir akan mengganggu ritme perusahaan yang sedang berlari cepat saat ini. Kami begitu sibuk dengan semua proyek dan rencana investasi. Aku tidak bisa mengandalkan pada member Suju saja karena mereka sudah teramat sibuk.”

“Alasan klasik,” jawabku ketus. Saat itu aku tengah menyetrika bajunya dan namja itu berdiri membelakangiku.

“Tapi itu benar, mengertilah.”

“Tapi kau tidak harus lembur bukan?”

“Oh yang kemarin lusa itu terpaksa. Aku sudah ingin pulang saat itu. Padahal aku sudah begitu kangen dengan makan malam buatanmu. Tapi banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan.”

“Alasan, kemarin lusa kau pulang jam 2 pagi. Alasan lembur tidak bisa diterima karena tidak mungkin kau masih bekerja sampai dini hari. Aku tahu kau pergi dengan seseorang dan bersenang-senang di sebuah club.”

“Kenapa kau begitu yakin?,” aku terperangah dengan tuduhannya.

“Sudahlah Siwon, teknologi semakin canggih dan penguntitmu ada di mana-mana. Dengan mengklik namamu saja di internet semua informasi akan keluar dengan sendirinya.”

“Lalu informasi apa yang kau dapatkan?”

“Kau, beberapa member Super Junior dan beberapa yeoja mungkin artis,  fansmu, atau sosialita-sosialita yang selalu bertingkah agresif kepadamu. Setidaknya itu kulihat sendiri bukan hanya hoax semata.”

“Dan kau percaya saja pada apa yang kau lihat?”

“Aku percaya pada mataku. Kau yang sok charming dan berusaha membuat yeoja-yeoja di sekitarmu terpikat. AKu cek di You Tube, beberapa diantaranya malah mengaku memiliki hubungan khusus denganmu.”

Aku tersenyum geli ternyata sedalam itu ia mempehatikanku, “Kau seperti intel saja. Kau cemburu ya?”

“Mwo? Sembarangan. Mana mungkin aku cemburu dengan mereka. Bagaimanapun kau seorang artis,  masih lajang, kaya, yaa kau berhak mendapatkan semua itu.”
“Berhak apa?”

“Yaa kau Berhak untuk menikmati tawaran atau godaan dari mereka walaupun menjijikan tampaknya”

“Terus kenapa kau marah jika kau merasa aku berhak mendapatkannya?”

“Siapa yang marah. Hmm mungkin aku kesal, aku memasak makanan malam untukmu, menunggumu, sampai akhirnya aku tertidur di sofa. Kau malah enak-enakan berkencan dan berbuat mesum dengan mereka.”

“Mesum? Maksudmu seperti ini.”

Tiba-tiba SIwon langung memegang kedua tanganku.

“Atau begini?”

Kini dia memelukku. Aku menjerit histeris.

“Siwon baboo lepaskan aku!”

Aku meronta tapi dia memelukku lebih erat.

“Atau begini?”

Dengan masih memelukku, tiba-tiba dia mencium bibirku.

Cup

Plak!

Spontan aku menamparnya. Siwon tampak terluka, ia mengusap-usap pipinya yang merah.

“Apakah kau terbiasa menyelesaikan sesuatu masalah dengan tamparan Tiffany?,” ia menatapku dingin.

Aku merasa bersalah, rasanya aku terlalu berlebihan dengan menamparnya tapi Siwon juga salah.

“Mian Siwon-ssi, tapi kau tahu perjanjian kita kan, tidak boleh mencium sembarangan.”

“Aku tidak sembarangan mencium.”

“Yaa kau sembarangan menciumku.”

“Mari kujelaskan dengan lebih detil. Jika yang kau maksud adalah aku tidak boleh mencium sembarangan, itu artinya aku tidak boleh mencium sembarangan orang. Tapi yang kucium barusan bukan orang sembarangan untukku. Jadi aku tidak salah.”

“Kau ahli bermain kata-kata. Aku menyerah. Tapi jika kau melakukannya lagi aku tidak segan-segan menamparmu.”

“Silahkan saja, rasanya kulit mukaku sudah kapalan karena sering kau tampar,” ia tersenyum. Aku lega ia tidak marah ternyata.

Aku jadi teringat, aku telah menamparnya dua kali. Rasanya aku begitu jahat pada namja itu. Tapi aku tidak bisa mentolelir dia tiba-tiba menciumku.

“Sudahlah aku tidak mau berdebat. Kembali ke topik semula. Aku harap kau mempertimbangkan saranku untuk tidak bekerja. Tapi jika kau tetap keras kepala apa boleh buat, aku hanya  pembantumu di sini.”

‘Kau bukan pembantuku. Kubilang kau bukan pembantuku, mengerti? Baiklah akan kupikirkan saranmu, mungkin aku akan membawa pekerjaanku ke sini.”

“Itu ide yang bagus.”

“Tampaknya kau senang sekali dengan ide aku bekerja di rumah. Jujur saja kau senang kan aku ada di rumah terus.”

“Enak saja. Percaya dirimu terlalu tinggi.”

“Atau kau berusaha mengawasiku agar aku tidak disorot kameramen acara gossip TV yang mengambil gambarku dengan artis yeoja yang lain. Iya kan?”

“Aku bilang aku tidak perduli dengan itu. Mau kau berciuman sama salah satu dari mereka atau semuanya. Itu urusanmu. Kau kan sudah dewasa. Pergaulan selebritis memang terbiasa untuk sedikit vulgar seperti itu bukan? Pesta-pesta, kehidupan malam, pergaulan yang bebas.”

“Kau terlalu memandang rendah diriku.”

“Kau juga seorang pengusaha muda. Daya magnetmu memang begitu besar aku akui. Aku mengerti kok. Kau tidak usah takut mengakuinya, aku bisa memahami kebutuhanmu.”

“Fany, kau terlalu menghakimiku. Apakah aku begitu jelek di matamu? Apakah duniaku itu begitu tampak buruk bagimu? Asal kau tahu saja kemarin aku pulang malam karena harus menyelesaikan satu CF yang kontraknya sudah terlanjur aku tanda tangani. Aku tidak bersenang-senang seperti yang kau tuduhkan. Semua yang kau lihat adalah salah satu scene dari CF itu. Demi Tuhan, aku sendiri muak melakukannya dan menyesal kenapa aku tidak begitu detil memperhatikan scriptnya. Tapi jika kau ingin tahu bagaimana kehidupanku sebenarnya. Aku akan ajak kau untuk membuktikan apakah teorimu itu terbukti atau tidak. Kau bersiap-siap saja. Aku nanti akan meminta Sungmin untuk menyiapkannya. “

Aku merasa bersalah untuk yang kesekian kalinya karena telah menuduh namja itu macam-macam, “Maksudmu apa dengan Sungmin akan menyiapkannya?”

“Sudahlah nanti kau akan tahu sendiri. Aku sudah terlambat kerja. Aku akan usahakan pulang lebih cepat dan jangan lupa jika ada kiriman datang kau harus mencobanya. Aku memintamu bersiap-siap pukul 6 sore nanti. Berhati-hatilah di rumah dan jangan masukkan orang yang tak kau kenal. Selalu kunci pintu dan matikan listrik jika tidak perlu.”

“Siwon-ssi, aku tidak mengerti..”

Tapi namja itu sudah melesat pergi , berlari-lari menuju lift apartemenya untuk segera pergi ke kantor.

Aku terduduk dengan lelah. Setelah bangun cukup pagi, mandi, memasak, dan menyiapkan pakaiannya badanku agak sedikit pegal. Sambil menonton TV aku memikirkan maksud perkataannya. Aku harus bersiap-siap jam 6 dan nanti Sungmin yang akan menyiapkannya. Maksudnya apa? Sudahlah tidak usah dipikirkan toh nanti aku akan tahu sendiri. Aku merasa moodku tidak terlalu baik hari ini. Entahlah aku merasa sedikit marah dengan pemberitaan di media bahwa Siwon dekat dengan artis ini, artis itu. Rasanya semua artis yeoja di Korea akan selalu menjadi ‘teman dekat’ seorang Choi Siwon. Baiklah, aku tadi sedikit menyesal karena menamparnya. Aku sedikit marah karena aku merasa dia menyamakan perilakunya pada yeoja-yeoja itu padaku. Di lain pihak entah kenapa ketika dia menciumku, tiba-tiba muncul reaksi spontan untuk melindungi area privasiku. Ia seperti pencuri yang mengambil milikku tanpa ijin. Oleh karena itu aku begitu heran bagaimana aku bisa begitu liar membalas ciuman SIwon tempo lalu. Bagaimana insting itu tiba-tiba muncul dan mengubahku menjadi wanita binal murahan.

Mungkin sejak itu, aku memasang tembok tebal di antara kami. Aku tidak pernah membiarkan dia bisa bebas masuk dalam area kekuasaanku. Aku tidak akan mengijinkan dia berbicara mengenai hubungan kami terlalu prbadi karena aku sangat rapuh jika lagi-lagi Siwon mengambil kesempatan ini. Aku begitu ketakutan dengan reaksiku sendiri ketika menerima sentuhannya. Akhirnya, aku selalu menghindari percakapan mengenai ciuman kami dulu jika pada suatu kesempatan Siwon mencoba memancingku. Mungkin terdengar aneh tapi mohon dipahami, aku adalah yeoja yang tidak pernah tahu bagaimana berhubungan dengan seorang namja. Sekalinya aku mengenal sosok namja, itu adalah Siwon yang tampaknya sudah terlalu banyak pengalaman dalam berhubungan dengan lawan jenis. Kadang aku seperti tertatih dan tersesak saat berusaha belajar mengenal seorang namja dari sosok Siwon. Mungkin aku tampak sudah dewasa, tapi jika dilihat dari pengalamanku bersama namja, aku ini masih seperti anak TK. Sedangkan SIwon seperti seorang guru besar. Kau bayangkan seorang guru besar mengajari anak TK? Tentu saja anak TK itu tidak mampu mengejar pelajaran yang diberikan guru besar itu. Siwon terlalu mengajariku banyak yang kadang membuatku ngos-ngosan menampung semua pengetahuan yang kudapat darinya. Di sisi lain dengan ketakutanku yang besar akan kedekatan ini, aku merasa Siwon seperti sedang membobol benteng pertahananku satu-satu. Ia merusak kemapanan dalam diriku. Aku akhirnya didera rasa letih dan khawatir yang tampak tidak masuk di akal. Tapi anehnya, di sisi lain akupun enggan untuk jauh darinya. Bagaimanapun Siwon sekarang sudah tidak memaksa aku lagi untuk menjadi pelayannya. Tapi aku malah memilih untuk terus tinggal di sini, bahkan  aku menolak menerima tawaran pekerjaan dari Park Borthers dengan alasan yang aku sendiri tidak tahu. Apakah mungkin ada pengaruh cedera di kepalaku saat aku pingsan dulu sehingga ada sedikit korslet pada otak dan cara berfikirku?

“Kau sedang jatuh cinta mungkin,” tiba-tiba Jessica menyelaku. Siang itu ia mampir ke apartemen Siwon. Aku tidak bercerita banyak kepadanya tapi yeoja ini tiba-tiba menuduhku tanpa tedeng aling.

“Jatuh cinta? Apa maksudmu? Aku tidak tahu rasanya bagaimana.”

Jessica menghela nafas mencari kata-kata yang tepat. Mendefiniskan kata jatuh cinta pada anak TK membutuhkan lebih dari sekedar kamus atau buku Kahlil Gibran.

“Jatuh cinta itu seperti? Hmm bagaimana ya? Ketika kau bertemu dengannya tiba-tiba hatimu bergetar, jantungmu deg degan tak karuan. Selalu ingin bersamanya, ketika jemari kalian bertautan seperti ada aliran listrik dalam kulitmu.”

“Begitu ya?”

“Yup, ketika dia menatapmu kau akan merasa malu ditatap dia sedemikian rupa. Kau tidak mau jauh darinya. Kau selalu ingin mengawasinya. Kau selalu ingin meneleponnya, hanya untuk menanyakan kabarnya dan memastikan apakah ia sudah makan bekalmu atau belum. Kau selalu ingin terlihat cantik di depannya, selalu ingin bermanja-mana dan diperhatikan. Selalu ingin terlihat manis, malu-malu kucing tapi mau. Dan biasanya ada semacam ketertarikan fisik yang cukup kuat diantara kalian.”

“Maksudnya apa dengan ketertarikan fisik?,” aku mulai tertarik.

“Hmm yaaa seperti tadi kubilang, kau selalu ingin bersamanya, selalu ingin dekatnya, ingin menyentuhnya, memeluknya bahkan mungkin mencium bibirnya.”

Aku terdiam. Sekarang aku agak alergi dengan kata-kata “mencium bibir”.

“Kenapa kau diam, ah jangan-jangan kalian sudah ciuman ya?,” tebak yeoja itu menggoda.

“Tidak, tidak, sembarangan saja kau menuduh,” aku menundukkan mukaku jangan sampai Jessica melihat kebohonganku, “Jadi itu tanda-tanda orang sedang  jatuh cinta?”

“Kurang lebih seperti itu, jika ¾ jawabanmu mengatakan iya. Kau positif jatuh cinta kepada Choi Siwon. Congrats.”

Aku lagi-lagi terdiam mencoba menyamakan apa yang kurasakan dengan apa yang dijelaskan Jessica barusan.

“Sudahlah jatuh cinta itu bukan untuk dipikrkan tapi untuk dirasakan. Jatuh cinta bukan matematika yang bisa kau hitung dengan logika. Jalani saja. Let it flows. “

“Tidak semudah itu bagiku.”

“Kau mempersulit keadaan saja. Kau jatuh cinta. Siwon juga jatuh cinta padamu titik.”

Dengan malu-malu aku bertanya lagi, “Lalu setelah jatuh cinta apa yang harus kita lakukan.”

“Kyaa, kau membuat jatuh cinta seperti pelajaran kimia saja. Umumnya kalo orang jatuh cinta mereka akan menikah, memiliki anak ya seperti itulah. Tolonglah jangan tanya juga soal bagaimana kehdupan setelah menikah. Karena aku sendiri belum menikah dan tidak tahu rasanya. Tapi kau bisa lihat dari keluargamu, Appa dan Omma-mu, interaksi mereka,  seperti itulah menikah.”

“Jika begitu, menikah jadi semacam tanggungjawab dan beban bertambah,” jawabku mengingat Appa yang selalu sibuk di kantor dan Omma yang selalu sibuk mengurusiku,”Lalu apa enaknya menikah?”

“Kyaaaa, kau ini membuatku bingung. Terus terang aku juga tidak bisa menjelaskan enaknya menikah, tapi kau bisa membayangkan sendiri bukan. Ketika kita lelah, ketika kita sedih akan ada seseorang yang akan mendengarkan keluh kesah kita, memeluk kita saat menangis, memberikan kekuatan ketika kita rapuh. Ya begitulah tampaknya.”

“Kupikir itu bisa dilakukan tanpa menikah.”

“Aish kau mengajakku berdebat. Terlalu lama hidup di Amerika membuat otakmu jadi begitu aneh.”

“Enak saja aku bukan penganut hubungan bebas kau tahu. Aku hanya belum menemukan esensi menikah!”

“Iya ya tapi cara berfikirmu itu terlalu logis untuk seorang yeoja. Baiklah begini saja sekarang aku ingin bertanya padamu. Jadi kau jatuh cinta dengan Siwon atau tidak?”

Aku kembali terdiam, aku sudah menghitungnya. Jika perasaanku minimal 50% mendekati apa yang telah dijelaskan Jessica berarti aku jatuh cinta pada Siwon.

“Setelah aku hitung, mungkin aku tidak jatuh cinta padanya,” jawabku ragu.

“Maksudmu?”

“Jika cinta itu seperti yang kau definisikan, aku tidak jatuh cinta kepadanya Jessica.”

“Mwo? Kok bisa. Aku pikir kalian saling menyukai. Kau bohong Tiffany, masa kau tidak merasakan satu saja diantara semua tanda tadi.”

“Mungkin satu- dua tapi tidak sampai 75% bahkan setengahnyapun tidak kurasa”

Jessica melongo dan memandangku tajam. Lagi-lagi ia heran dengan sikapku dalam merumuskan cinta. Walaupun aku tidak mau disebut telah jatuh cinta pada Siwon. Tapi sebenarnya jauh dalam lubuk hatiku aku tidak lega dengan kenyataan bahwa aku ternyata tidak mencintai namja itu. Dari ciri-ciri yang disebutkan Tiffany hanya 1 atau 2 saja yang mendekati kebenaran, lainnya tidak. Tapi jika aku tidak mencintai SIwon. Lalu perasaanku ini disebut apa. Kagum? Respek? Simpati? Atau karena merasa ada hutang budi? Sedetik dalam hidupku tiba-tiba aku menyesal kenapa aku begitu lambat dewasa dalam mengenal sosok’namja’ sehingga aku tidak usah bertanya pada orang lain untuk mengetahui bagaimana rasanya jatuh cinta atau bagaimana rasanya menikah. Jawaban Jessica tidak memuaskanku karena bukan perasaan seperti itu yang kurasakan. Bukan kedekatan fisik dan getar-getar asmara yang malah membuat rasa cinta jadi sama artinya dengan nafsu. Yang kurasakan adalah ketenangan, kenyamanan, dan merasa terlindungi ketika bersama namja itu. Apakah itu disebut jatuh cinta? Tapi Jessica sama sekali tidak menyebutkannya. Aku malah semakin bingung ketika mendengar deskripsinya tentang menikah. Kebersamaan panjang yang malah membuatku takut. Kebebasan yang terampas dan tuntutan hidup yang semakin bertambah.

Suju Tower

Author POV

Sungmin mendekati Siwon yang tengah sibuk menulis di ruang kerjanya.

“Aku sudah membeli apa yang kau inginkan. Apa kau tidak mau melihatnya terlebih dahulu?,” ia menunjukan satu kardus besar di ujung ruangan,

“Aku percaya pada seleramu. Nanti akan kusuruh OB untuk  mengirimkannya pada Tiffany,” jawab SIwon menghentikan aksi menulisnya dan duduk saling berhadapan dengan Sungmin.

“Tentu saja. Yang jadi masalah apakah ia bisa memakainya?”

“Tentu saja. Sebelum ini bukankah ia adalah yeoja papan atas yang selalu datang dari pesta satu ke pesta lainnya.”

Sungmin tertergun, “Kau yakin ingin memperlihatkan sedikit kehidupanmu padanya di acara penghargaan musik itu? Bukankah kau sangat tertutup mengenai hal ini.”

“Aku yakin. Sudah saatnya dia harus mengenalku lebih dalam.”

“Kau mencintainya?”

Pertanyaan yang membuat dada Siwon kembali berdebar, “Apakah perlu kujawab?”

“Tidak usah, aku bisa mengetahuinya sendiri. Bersenang-senanglah di pesta nanti. Dan ingat kendalikan diri jika ia berubah menjadi bidadari di depanmu. Baiklah aku harus kembali bekerja.”

Sungmin terkekeh dan berdiri untuk segera berbalik keluar ruangan. Tapi Siwon mencegahnya.

“Gomawo Hyung. Oh ya, ada yang ingin kutanyakan padamu mudah-mudahan kau tidak keberatan.”

“Tentu saja.”

Namja itu kembali duduk

“Apakah kau melihat Kangin-Hyung dan Leetuk-Hyung? Seminggu ini mereka sering menghilang tanpa pemberitahuan. Kupastikan kerja mereka memang tidak terbengkalai, tapi rasanya aneh, mereka seperti sedang menyimpan rahasia.”

“Iya aku juga merasakannya. Soal Kangin Hyung, yah kita sudah tau sendiri seorang agen rahasia memang akan selalu terlihat misterius, tapi Leetuk-Hyung, rasanya aneh jika ia tiba-tiba menjadi begitu tertutup.”

“Apakah member lain merasakan hal yang sama?”

“Terus terang begitu. Tapi kami pikir mungkin mereka sedang memiliki proyek pribadi dan masih segan untuk menceritakannya pada kita.”

“Baiklah jika begitu. Terus terang aku sangat khawatir karena Kibum memberitahukanku bahwa ia pernah memergoki mereka berada di kantor polisi.”

“Bukankah itu wajar mengingat bagaimana mereka memproses kasusmu dengan germo itu.”

“Bukan itu, salah satu kenalan Kibum yang seorang polisi berkata mereka datang bukan untuk mengurusi germo itu tapi sedang menyelidiki suatu kemungkinan skandal, pencemaran nama baik, surat kaleng, dan ancaman penjatuhan nama baik.”

Sungmin ternganga, “Wow, ternyata masalahnya begitu serius. Apakah itu melibatkan member Suju yang lain?”

“Itulah yang ingin kutanyakan?”

“Aku merasa tidak memiliki musuh.”

“Aku juga”

Siwon menggelang yakin. Keyakinan hidupnya mengajarkan untuk berbuat baik dan berfikiran positif terhadap setiap orang. Seumur hidupnya ia tidak pernah merasa memiliki musuh. Jika ada yang membencinya, akan ia dekati dengan kebaikan. Musuh akan berbalik menjadi teman dan teman akan menjadi sahabat. Begitulah cara ia memperlakukan orang lain. Sayangnya ia tidak tahu bahwa surat kaleng itu sebenarnya ditujukan padanya. Siwon malah sedang menduga-duga mungkin member Suju yang lain yang sedang mengalami masalah tersebut. Sungguh ironis!

Apartemen Siwon

Author POV

Tiffany sedang mematut busana yang dikirimkan Siwon tadi siang. Gaun malam panjang berwarna krem yang begitu cantik dan berdetail couture. Jahitannya apik dengan siluet yang menunjukan lekuk badan dan feminim. Ketika disentuh kainnya yang terbuat dari lace dan taffeta begitu halus memberikan kesan mahal. Gaun one shoulder yang begitu indah. Tidak hanya itu saja, Siwon pun mengiriminya sebuah kalung dan sepasang anting mungil dari merk yang  sama dengan namanya Tiffany & Co, serta sepasang sepatu bertali dan berhak tinggi rancangan Manolo Blahnik. Tiffany sudah lama tidak menyentuh barang mahal seperti ini. Seperti anak kecil ia berteriak kegirangan.

“Siwon-ssi, gaun ini sangat mempesona. Begitu juga sepatunya, jika tidak salah ini kan limited edition hanya Carrie Bradhsaw dalam Sex and the City yang memakainya. Begitu juga perhiasan ini, oooh indahnya. Tiffany  adalah merk perhiasan yang sangat mahal. Seleramu benar-benar mengagumkan.”

Siwon yang sedang ada di luar kamar mandi hanya bisa tersenyum. Yeoja yang aneh, tadi marah-marah karena menganggapnya terlalu boros sekarang malah berteriak kesenangan seperti anak kecil diberi mainan baru. Seperti yang sudah dijanjikannya, namja itu ingin mengajak Tiffany ke salah satu pesta selebriti yang akan digelar malam ini. Ia ingin Tiffany bisa mengenal dekat kehidupannya yang sebenarnya. Tapi seperti biasa yaoja itu menolak karena malu akan tersorot kamera tapi Siwon meyakinkannya bahwa itu adalah pengalaman baru yang menyenangkan. Walaupun namja itu tahu akibatnya jika ia pergi ke acara yang penuh dengan wartawan, dengan menggandeng Tiffany, rumor akan langsung tersebar dan mematahkan sekian gossip yang menyebutkan ia tengah menjalin hubungan dengan A, B,C, atau D. Tapi ia menyukainya. Ia senang jika tiba-tiba headline untuk koran besok adalah Choi Siwon tengah menjalin hubungan dengan Stephany Hwang.

“Tiffany cepatlah, kau sudah berada di kamar mandi setengah jam. Kita harus bersiap-siap, ” namja itu melihat ke arah jam tangannya. Tiffany terlalu lama berada di kamar mandi.

Tidak ada suara.

“Tiffany!”

Masih tidak ada suara. Siwon mulai khawatir. Ia menggedor-gedor pintu sampai akhirnya ia mendengar isakan seseorang.

“Tiffany ada apa, buka pintunya!”

“Siwon-ssi rasanya aku tidak akan jadi pergi ke pestamu.”

“Kenapa? Bukannya tadi kau bersemangat. Demi Tuhan keluarlah. Kau membuatku ketakutan.”

“Aku tidak bisa memakai gaunnya, terlalu rumit karena ada detail tali yang aku tidak tahu harus kubuat apa.”

Aku mendesah lega,ternyata itu masalahnya, “Baiklah, kalau begitu buka pintunya. Aku akan membantumu.”
Tidak ada jawaban.

“Ayolah Tiffany, aku tidak akan melakukan apa-apa terhadapmu, aku hanya ingin membantumu oke?”

Klik pintu terbuka aku melihat Tiffany memandangku sambil menutup dadanya dengan handuk.

“Baiklah mana yang harus kubantu. Sekarang kau menghadap ke kaca supaya kau bisa menunjukan posisinya.”

Tiffany masih menutupi bagian atas badannya dengan handuk.

“Ayolah Tiffany, aku memang ingin membantumu.”

Namja itu menarik handuk yang melilit tubuhnya dengan lembut. Ia terperangah, dari kaca, Siwon bisa melihat pemandangan yang membuat batinnya tersiksa, bahu dan setengah dada bagian atas Tiffany yang terbuka. Masih dalam koridor sopan tapi entahlah Siwon merasa keimanannya goyah. Namja itu mencoba menahan diri dari hasrat lain yang tiba-tiba muncul dalam dirinya.

“Ada beberapa tali kecil di bagian punggung yang tampaknya menyambung ke bagian depan. Aku tidak tahu cara mengikatnya,” keluh Tiffany tidak menyadari sumpah serapah yang luar dari hati Siwon.

Siwon terdiam kaku, tangannya bergetar ketika mencoba meraih tali itu dan ketika secara tidak sengaja menyentuh kulit Tiffany.

“Maksudmu yang ini?”

“Ya betul.”

Dengan hati-hati ia menalikannya sambil menunduk. Ia tidak mau Tiffany melihat pantulan wajahnya di kaca. Sebaga namja yang normal, ia terpesona dengan pemandangan yang ada di depannya. Kulit tubuhnya yang begitu putih dan bersih. Punggung yang melengkung sempurna, Tubuh yang ramping dan indah. Bibir Siwon menggumam tidak jelas  ketika tangannya menyentuh bagian belakang leher Tiffany.

‘Aish, Tiffany berhentilah menggodaku,’ rutuk Siwon dalam hati. Ia kemudian menarik resleting dari belakang gaun tersebut sehingga gaun itu akhirnya menutup tubuh Tiffany dengan baik. Ada keinginan untuk menyentuh kulit yeoja itu. Tapi ditahannya. Ia harus kuat.

“Kau belum memasang kalungnya?,” Tanya Siwon hati-hati

“Ne”

“Sini aku pasangkan.”

Lagi-lagi Siwon menghadapi dilemma. Ia mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa mengendalikan hasratnya. Beberapa kali ia menyentuh kulit Tiffany tanpa sengaja dan langsung membuat jantungnya berdegup keras tak terkontrol. Rupanya Tiffany merasakan hal yang sama walaupun ia masih asing mendefinisikan perasaan yang menderanya. Sentuhan Siwon seperti sihir yang mengunci kesadaran dan inderanya. Hatinya berdegup keras dengan kedekatan ini. Rasanya ia ingin memperlama posisi tersebut sehingga ia mengiyakan begitu saja ketika Siwon menawari bantuan untuk memasang kalung ke lehernya. Ia menggigit bibirnya menahan debaran yang tiba-tiba muncul. Siwon melihatnya dari pantulan kaca. Kepalanya jadi tambah pusing. Ia tidak bisa  memilih apakah akan tetap menjaga dirinya atau menguasai Tiffany sepenuhnya di bawah kendalinya. Posisi yeoja itu sendiri begitu lemah sehingga ia bisa dengan mudah melakukan apa yang diinginkannya.

“Aish Tiffany, kau membuatku lupa diri.”

Tiba-tiba ia memutar balik yeoja itu untuk menghadapnya dan kemudian menciumnya. Ia tahu sebentar lagi yeoja itu akan menamparnya tapi ia tidak perduli. Siwon mencium Tiffany dengan keras dan rakus, menunjukan betapa lama sekali ia mengharapkan kesempatan ini. Ia merengkuh kedua pipi Tiffany dalam genggaman kedua tangannya. Ia mencium dengan keras kemudian pelan, memberikan kesempatan bagi Tiffany untuk bernafas. Terasa sekali yeoja itu mencoba menolak walau akhirnya luluh dengan sendirinya. Namja itu tidak menyia-nyiakan kesempatan ini, satu tangannya merengkuh punggung Tiffany yang terbuka, dibelainya dengan halus. Ia mencium semua yang ada pada wajah Tiffany, bibir, mata, dagu. Kenapa ia begitu haus seperti ini? Ciumannya semakin tidak terkendali, ia kini menyusuri bagian telinga dan kemudian leher, menggigitnya sampai akhirnya Tiffany memekik.

“Siwon hentikan, ini tidak baik. Tolonglah berhenti.”

Namja itu melepaskan pelukannya dengan terpaksa. Tiba-tiba kesadarannya datang. Yeoja itu pasti akan membencinya setengah mati. Siwon merasa bersalah. Ia siap jika Tiffany menamparnya beribu-ribu kali.

“Mianhae Tiffany. Aku bersalah aku tidak bisa mengendalikan diriku.”

Siwon menutup matanya tapi tamparan itu tak kunjung datang. Dibuka matanya ternyata Tiffany menangis.

“Oh Tiffany mianhamnida, aku bersalah tolong jangan menangis. Kau boleh menghukumku.”

“Tolong jangan buat aku berada dalam kondisi sulit Siwon-ssi. Kau adalah namja pertama dalam hidupku yang pertama kali menciumku. Kau membuatku merasa seperti yeoja murahan dan aku merasa malu karenanya. Tolong jangan memulainya karena kau lihat sendiri aku tidak mampu menolaknya.”

Siwon terdiam, ia merasa sangat bersalah. Melihat yeoja itu menangis, ia ingin memeluknya. Tapi ia takut Tiffany akan menganggapnya lancang. Namja itu hanya bisa berdiri menatap Tiffany.

“Aku bukan yeoja yang selalu muncul untuk memujamu dan memberikan diri mereka begitu mudah. Mengenal namja pun aku baru memulainya ketika mengenalmu.”

Siwon tercekat, begitukah? Jadi ia adalah namja pertama bagi kehidupan Tiffany? Perasaan bersalahnya semakin besar.

“Maafkan aku, aku bersalah padamu. Aku akan berusaha mengendalikan diriku. Aku tidak bermaksud menyakitimu tapi jujur aku memang menginginkanmu Tiffany. Setiap melihatmu aku tidak bisa mengontrol diriku sendiri. Tadi aku kebablasan, tolong jangan membenciku. Aku mohon.”

Yeoja itu terdiam berhenti terisak, ”Kau bersalah tapi aku juga. Aku yang mengundangmu untuk masuk ke kamar ini bukan? Aku juga mengijinkanmu untuk membantuku memakai pakaian dan memasang kalung ini. Aku memaafkanmu. Kumohon maafkan aku juga.”

Siwon tersenyum sumringah,”Benarkah kau memaafkanku? Terima kasih Tiffany kau masih memberiku kesempatan untuk memperbaiki diri. Tapi kau tidak perlu meminta maaf padaku. Kau tidak salah sama sekali. Semuanya karena aku.”

Tiffany tersenyum dan menghapus sisa air matanya.

“Sekarang kau keluarlah Siwon-ssi, aku mau berdandan sedikit. Air mataku membuat penampilanku jadi berantakan.”

“Jadi kau masih mau ikut ke pesta?,” Siwon menatap Tiffany tidak percaya. Tadi ia berfikir yeoja itu akan membatalkannya karena insiden ciuman tadi.

“Tentu saja, aku kan sudah berjanji padamu.”

Namja itu tersenyum bahagia dan keluar dari kamar mandi dengan perasaan plong. Baiklah, mulai saat ini ia akan lebih menjaga dirinya. Ia tidak mau yeoja itu membencinya karena ia memaksa menciumnya. Siwon tahu ini adalah tantangan tersulit dalam hidupnya tapi ia harus melakukannya. Jika tidak mau kehilangan Tiffany, ia harus bisa menghormati harga diri dan privaci yeoja itu walau tampak sulit baginya untuk bertahan.

Satu jam kemudian, akhirnya Siwon dan Tiffany sudah mendekati gedung tempa pesta penghargaan sebuah award musik dilakukan. Siwon menyetir dengan pelan, ia melihat wajah yeoja itu tampak tegang. Walaupun Tiffany berasal dari kalangan berada tapi ia tidak terbiasa dengan publisitas dan sorot kamera. Kehidupan pribadinya sangat terjaga. Berbeda dengan dirinya yang sejak remaja sudah bersahabat dengan blitz, flash kamera dan berita-berita yang hampir kebanyakan hoax semata. Ia sudah biasa menjadi santapan media. Bahkan media dan publik kadang merasa lebih mengetahui Siwon daripada dirinya sendiri.

“Kita sudah sampai, kau siap? Nanti akan ada red carpet sebelum memasuki ruang pesta. Kau hanya harus berjalan pelan dan tersenyum kepada para fans yang datang dan juga pada kamera. Mungkin kau begitu gugup tapi kau terpaksa harus berakting. Kau mampu melakukannya?”

Tiffany mengangguk kaku. Siwon menggenggam tangan yeoja itu ketika mereka melangkah turun dari mobil yang untuk kali ini disetir oleh supir pribadinya. Tentu saja kemesraaan ini menjadi santapan lezat kamera yang terus membidik Siwon dan Tiffany dari berbagai arah. Para penggemar berteriak antara terkejut, senang, dan kecewa. Sedangkan Siwon, ia begitu menguasai keadaan. Ia tersenyum dan melambaikan tangan kepada orang-orang yang ada di sekitarnya. Ia begitu protektif melindungi Tiffany yang begitu tegang dan malu. Sepanjang red carpet, yeoja itu hanya menunduk dan sesekali tersenyum. Ini bukan dunianya, dunia ini begitu ramai, dan tidak menghargai privasi. Ia merasa seperti diserang dari seluruh penjuru.

“Tenanglah, kau aman bersamaku,” bisik Siwon ketika mereka akhirnya lepas dari red carpet dan mulai memasuki ruangan pesta.

“Aku takut dengan para wartawan itu. Entahlah aku  memiliki firasat buruk. Aku ingin pulang.”

Siwon mengencangkan genggamannya,”Mungkin itu hanya perasaanmu, wartawan memang selalu begitu, selalu ingin tahu. Aku tahu ini sulit tapi aku akan melindungimu. Kau tidak boleh jauh dariku mengerti?”

Yeoja itu mengangguk. Ia memang tahu media dan wartawan sangat haus dengan berita apalagi informasi yang hot dan mengundang sensasi. Tapi entahlah kali ini perasaannya berbeda seperti ada hal buruk yang akan terjadi. Tapi ia tidak mengerti, perasaan itu tiba-tiba muncul begitu saja. Baiklah, mungkin benar perasaan Siwon itu hanya perasaannya saja. Selama namja itu masih berada di sisinya, ia akan aman.

Masih waktu yang sama di tempat lain, dalam sebuah ruangan rahasia dimana Google Map pun tidak dapat melacak keberadaannya. Kangin masuk dengan menyeret seseorang yang terborgol tangan dan kakinya serta ditutup muka dan kepalanya oleh sebuah kain. Leetuk menunggunya dengan was-was.

“Kau pakai topeng ini Hyung, jangan sampai orang ini melihat identitas kita.”

Kangin pun melakukan serupa. Orang yang dibawanya itu kemudian ditempatkan di ruang interogasi.  Beberapa intel bertopeng sudah mengepung orang misterius itu. Kangin memberikan tanda pada salah satu bawahannya untuk segera melakukan eksekusi. Bawahannya itu mengangguk tanda mengerti. Ia langsung membuka secarik kain yang menutupi muka orang itu. Wajah orang yang ternyata berjenis kelamin namja itu sudah tidak terlalu jelas karena banyaknya pukulan dan darah yang mengalir di mukanya. Rupanya sebelum Kangin membawanya ke sini, terjadi baku hantam yang seru antara mereka. Tapi Kangin lebih kuat. Leetuk bergidik. Ia belum pernah melihat orang itu sebelumnya tapi ia tahu siapa dia.

“Baiklah Ho Min, kau mengaku saja, kau yang membuat surat kaleng ini?”

Ternyata orang misterius itu adalah Ho Min, namja yang pernah menjadi calon suami Tiffany saat di Jepang dulu. Ia tidak menyangka seseorang bisa mengenali perbuatannya padahal ia melakukannya dengan begitu rapi. Tapi ia kembali tersenyum, ia yakin kemenangan masih di tangannya.

“Baiklah aku mengaku. Aku yang melakukannya. Aku mengintai kedua bedebah itu sejak mereka pulang dari Jepang.”

“Bukankah kau dipenjara karena tindakanmu menyerang Tuan Hwang?”

“Money can buy everything. Aku hanya tinggal menyewa seseorang dan semua kelakuan mereka bisa aku pantau dengan mudah.”

“Lalu apa maksudmu dengan mengintai mereka?” Kangin menginterogasi.

“Tentu saja balas dendam. Apalagi? Aku ingin membuat mereka hancur terutama Siwon keparat itu. Ia merebut gadisku!”

“Tiffany bukan gadismu bodoh, bahkan berkenalan saja kalian belum.”

“Tapi jika tidak ada orang itu, saat ini Tiffany sudah jadi istriku. Kau tahu yang salah adalah mereka. Tuan Hwang sok suci itu meminta aku untuk mau bertemu dengan anaknya. Ia bahkan menjanjikan aku akan menjadi pemilik Hwang Company jika aku bersedia menikahi anaknya. Tapi apa yang terjadi, mereka mempermalukanku bahkan membuatku masuk rumah sakit jiwa.”

“Itu karena kau menyerangnya dan membuat Tuan Hwang hampir mati karena kehabisan nafas.”

“Itu salah dia sendiri karena berani-beraninya mempermalukanku.“

“Bukankah Tuan Hwang dan Tiffany sudah meminta maaf kepadamu secara resmi.”

“Minta maaf, mereka hanya meminta maaf pada keluargaku bukan padaku. Keluargaku pun sampai malu memiliki anak seperti aku. Padahal sebelum ini, hidupku sangat berhasil, karirku mulus, dan masa depanku cerah tapi semuanya tercoreng karena kejadian itu. Jika aku balas dendam bukankah itu wajar, Siwon, Tiffany dan Appa-nya harus merasakan penderitaan yang kualami.”

“Balas dendam tidak akan menyelesaikan masalah!”

“Jangan menceramahiku!”

Kangin mengangguk-angguk sinis, “Semaumu saja. Mengenai hidupmu yang harus menderita karena sakit jiwa, aku beritahu sekali lagi. Sebelum Tuan Hwang, kau juga sering melakukan kekerasan pada orang lain. Mereka hanya takut melapor karena kedudukanmu. Tapi setelah kasus dirimu dengan Tuan Hwang mencuat, mereka berbondong-bondong melaporkan dirimu ke polisi. Untung pengacaramu begitu pintar karena kau hanya dimasukkan ke rumah sakit jiwa bukannya penjara. Nah, sekarang bekerjasamalah, aku hanya minta semua file yang kau punya mengenai Tiffany dan Siwon untuk segera kau berikan padaku.”

“Aku tidak memilikinya.”

“Kau berbohong, aku mengetahuinya. Kau menyimpannya secara rahasia.”

Namja itu tertawa terkekeh, mulutnya menyeringai menakutkan.

“Silahkan saja kau geledah rumahku, kau tidak akan menemukannya.”

Kangin memberikan tanda pada salah satu bawahannya untuk menggertak namja itu.

Buk! Sebuah hantaman keras membuat Ho Min rubuh. Mulutnya berdarah.

“Sekarang mana file-nya?”

“Aku bilang aku tidak menyimpannya,”

Buk!

Lagi-lagi hantaman keras menerjang namja itu. Leetuk bergidik, ia tidak menyangka pekerjaan Kangin sebagai agen rahasia ternyata harus berurusan dengan banyak kekerasan dan darah.

Entah berapa kali siksaan diberikan tapi namja itu tidak mau mengakui. Kangin sudah mulai sedikit frustasi, dalam kode etik seorang intel, ia diperbolehkan melakukan kekerasan fisik untuk membuat seseorang mengaku tapi tidak boleh sampai membuatnya sekarat. Jika ia menghantam namja itu beberapa kali lagi, bukan tidak mungkin Ho Min hanya akan meninggalkan nama. Kangin bukan seorang pembunuh. Kali ini ia mencoba lebih lunak.

“Jika kau tidak ingin mati, katakan di mana kau menyimpan file yang berisi foto-foto Tiffany dan Siwon. Aku tidak punya banyak cukup kesabaran kali ini.”

Namja itu tampak kepayahan dan kesakitan tapi ia masih bisa menyeringai dengan gaya psiko yang menakutkan.

“Chip itu sudah aku telan, mungkin sekarang sudah ada dalam ususku. Jika kau ingin membunuhku dan memburai-burai ususku, silahkan saja karena nanti kau akan langsung berurusan dengan keluarga paling berpengaruh di Korea ini. Keluargaku siap mengincarmu sampai mati.”

Kangin menggebrak meja,”Jangan bertele-tele dimana chip itu hah?”

“Kubilang ia sudah ada dalam perutku. Oh aku lupa chip itu mungkin sudah aku serahkan pada orang lain.”

Kangin dan Leetuk terkejut dengan permainan namja psiko ini.

“Maksudmu?”

“Kau pikir aku bodoh dengan menyimpan file itu  bersamaku. Tentu saja aku sudah menyerahkannya pada beberapa media sebelum kau menangkapku karena aku tahu antek-antek Siwon mungkin akan menemukanku. Bom! Kita hanya tinggal menunggu waktu sampai skandal ini terbuka. Headline koran mungkin akan menulis seperti ini: Tiffany dan Siwon kumpul kebo, Siwon yang alim itu ternyata senang bermain ke tempat pelacuran. Tiffany pewaris tahta Hwang Company ternyata adalah seorang pelacur murahan.. Berita yang sangat panas sekali bukan.”

Namja itu tertawa senang. Kangin sudah mulai menangkap signal bahaya. Ia berdiri menghadap Leetuk dengan panik,”Cepatlah kau telefon Siwon, cari tahu keberadaannya, susul dia. Jangan sampai mereka bertemu dengan media atau wartawan manapun. Mereka harus menyembunyikan diri.”

“Baik”

Leetuk dengan gugup menelefon Siwon tapi tidak ada yang mengangkat, “Sial HP nya mati.”

Kangin mengumpulkan anak buahnya,”Susuri setiap jengkal kota Seoul ini. Minta bantuan dari Agen Lee dan Agen Cho, mereka memiliki anak buah dalam jumlah banyak. Cari Siwon dan Tiffany, selamatkan mereka dan tolong pisahkan mereka. Mereka jangan terlihat bersama. Tiffany bawa ke dorm yang sudah kita tentukan di sektor X2, kau mengerti, cepatlah lakukan!”

Dalam ketidaksadarannya Ho Min hanya terkekeh melihat kepanikan yang melanda orang-orang yang ada di depannya. Misi balas dendamnya berhasil, walaupun ia kesakitan karena pukulan orang-orang itu, tapi ia puas. Dendam sudah terbalaskan. Ia hanya tinggal menunggu waktu melihat karir Siwon hancur, perusahaan Hwang Company bangkrut, dan mungkin melihat Tiffany menjadi gila sepertinya. Ledakan berita di semua media dengan foto-foto Siwon dan Tiffany yang dikirimkannya akan membuat skandal memalukan tidak hanya bagi keluarga masing-masing tapi juga bagi bisnis yang dirintisnya. Saham perusahaan pasti akan anjlok karena kurangnya kepercayaan nasabah untuk membelinya. Nama baik jatuh otomatis nama baik perusahaan mereka juga.

“Kau Ho Min, perbuatanmu tidak termaafkan. Aku tidak perduli kau akan sekarat setelah ini. Tapi aku akan memberikan ini untukmu.”

Buk.

Leetuk yang tadi hanya diam saja tiba-tiba menghajar Ho Min dengan rasa marah tidak terkira.

“Ini demi Siwon dan Tiffany. Atas hal buruk yang telah kau lakukan, kau seharusnya malu menyandang nama keluarga Kim. Karena perbuatanmu sungguh menjijikan dan pengecut. Kau tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Rasa cinta Siwon membuatnya rela untuk masuk ke tempat pelacuran itu dan menyelamatkan Tiffany yang diculik.”

Semua agen Kangin berpencar, begitu juga Kangin dan Leetuk. Mereka belum bisa menemukan keberadaan Siwon dan Tiffany yang ternyata tidak ada di apartemen atau di kantor. Mereka mungkin sedang keluar. Itulah yang sangat dikhawatirkan, jangan sampai wartawan itu bisa mengendus keberadaan Siwon dan Tiffany. Sampai tidak disengaja, Sungmin meng-sms Leetuk untuk mengingatkannya agar segera datang ke acara penghargaan musik. Aish ia begitu bodoh, tentu saja Siwon dan mungkin Tiffany ada di sana.

“Kita harus ke Pacific Building di Seoul Selatan. Siwon ada di sana, aku yakin.”

Kangin mengangguk dan langsung memutar mobilnya. Ia juga berbicara dengan agennya melalui earphone yang menempel di telinganya.

“Masuk ke lokasi. Sektor P7. Selamatkan target.”

“Aish, acara itu sudah pasti penuh dengan wartawan. Kita harus menyelamatkannya. Berapa lama agenmu bisa sampai ke sana,” tanya Leetuk dengan muka pucat pasi.

“Mungkin 5 menit dari sekarang. Beberapa agenku sudah mendekati titik lokasi.”

“Apakah aku perlu memberitahukan ini kepada member yang lain, maksudnya untuk menyelamatkan Siwon dan Tiffany sementara”

“Jangan ! itu terlalu mencurigakan. Wartawan akan semakin penasaran.”

Di tempat lain di sebuah gedung mewah, perasaan tidak enak Tiffany semakin menjadi-jadi. Ia tidak berkonsentrasi mendengarkan acara sambutan dan penyerahan penghargaan karena moodnya sangat kacau. Siwon berulangkali mengingatkannya untuk selalu tersenyum. Ia menyadari hampir semua pasang mata memandangnya. Mereka terpisah jauh dari member Super Junior yang lain yang ternyata hadir pada acara ini.

“Tersenyumlah Fany, semua mata memandangmu.”

“Hmm mian, aku belum terbiasa.”

“Tidak apa-apa, sebagai pemula, kau sudah sangat luwes menghadapi sesama artis dan wartawan kok,” Siwon menguatkan perasaan Tiffany.

“Banyak artis yeoja yang memandangku kecut. Mungkin mereka berfikir aku adalah yeoja chingumu. Lebih baik kau segera mengklarifikasi ini sebelum akhirnya menjadi blunder dan berpengaruh pada karirmu.”

“Tidak masalah, aku lebih senang kau yang disebut yeoja chinguku daripada mereka.”

“Serius, aku tidak mau nanti dikejar-kejar wartawan hanya untuk ditanya-tanya apakah aku memiliki hubungan spesial denganmu.”

“Katakan saja iya, aku tidak keberatan,” jawab Siwon sambil tersenyum.

“Siwon-ssi, kau selalu menggampangkan masalah,” debat Tiffany sambil berbisik.

“Dan kau selalu membuat sesuatu sebagai masalah. Nah, sekarang duduklah yang manis, perhatikan acaranya dengan baik. Kau bisa memegang tanganku jika kau mau.”

Yeoja itu terdiam,”Hmm, rasanya aku ingin ke belakang.”

“Bukannya tadi sudah.”

” Ini akibat aku terlalu grogi. Aku ke belakang dulu ya.”

“Perlu kuantar?”

“Tidak usah.”

“Kau yakin?”

“Tentu saja, aku bukan anak kecil lagi tahu.”

Tiffany tertawa dan bergegas pergi mencari restroom. Siwon tidak tahu bahwa perpisahan kecil itu mungkin akan menjadi akhir pertemuannya dengan Tiffany. Jika saja ia tetap bersikeras untuk mengantar Tiffany mungkin takdir akan berkata sedikit lain karena seseorang tak dikenal kini tiba-tiba menepuk punggungnya.

“Siapa kau?”

“Jangan banyak tanya. Jangan membuat kegaduhan. Ikut kami. Kami harus menyelamatkanmu.”

“Tapi,” Siwon menolak dengan keras. Beberapa orang sudah mulai menatap mereka curiga.

“Kami suruhan Kangin-ssi. Ia akan menjelaskan padamu nanti. Cepat waktumu hanya satu menit.”

“Aku tidak mengerti tapi Tiffany, Tiffany dimana?”

Kedua orang tak dikenal itu tidak menjawab pertanyaan Siwon dan langsung menarik namja itu untuk ikut keluar dari ruangan dengan paksa. Badan mereka begitu kuat dan mereka menotok beberapa aliran darah Siwon sehingga Siwon seperti tidak berdaya untuk melawan mereka. Hal itu terpaksa dilakukan dalam kondisi darurat jika korban penyelamatan tidak mau bekerja sama.

Di lain tempat tidak jauh dari area panggung, sengan santai, Tiffany keluar dari restroom. Ia sedikit tidak percaya diri dengan penampilannya. Melihat artis-artis yang begitu cantik, ia langsung merasa minder. Rasanya ia tidak sepadan jika harus berjalan berdampingan dengan Siwon-ssi. Apa kata media nanti. Siwon dan Tiffany seperti Beauty and the Beast, masalahnya dialah yang menjadi the Beast kali ini. Sungguh memalukan.

Ketika berjalan memasuki ruangan, tiba-tiba seseorang membekap tangannya.

Hppp.

“Jangan bergerak Tiffany. Aku Kangin, aku melindungimu. Kau harus ikut aku. Kumohon percayalah padaku. Waktu kita tidak banyak.”

Dengan terpaksa Tiffany menurut, ia kenal Kangin dari cerita Siwon. Kangin tidak akan mungkin mencelakainya. Tapi kenapa namja itu harus sampai membekap mulutnya dan seolah-olah seperti akan melakukan tidnakan penculikan. Apa yang terjadi. Lalu bagaimana Siwon? Tapi Kangin terus menutup mulut Tiffany sehingga ia tidak bisa protes. Dalam hatinya ia takut, jangan-jangan Kangin tidak sebaik yang Siwon kira. ‘Apa maunya? kenapa ia harus membekap dan menculikku,’ jerit Tiffany dalam hati. Kini Kangin mendorong Tiffany  masuk ke dalam mobil.

“Masuklah, kumohon kau jangan berteriak dan tetap menurut padaku. Ini semua demi kebaikanmu dan Siwon. percayalah padaku.”

Tapi ia tidak percaya pada pernyataan Siwon, jika Kangin memang baik kenapa ia harus bertindak agak kasar seperti ini. Tiffany sudah berfikiran macam-macam. ‘Siwon datanglah, tolonglah aku.’

“Aku tahu kau pasti akan menuduhku macam-macam Tiffany. Akan kujelaskan semuanya. Tapi bukan di sini. Nanti setelah kita keluar dari area gedung ini.”

“Lalu Siwon?”

“Ia ada di tempat aman, aku dan Leetuk sudah menyelamatkannya?”

“Leetuk-ssi?”

“Tolong berikan petunjuk padaku sedikit saja. Ada apa ini?”

“Skandal! Hubunganmu dengan Siwon telah tercium. Ini akan menjadi skandal yang memalukan. Pikirkan keluargamu, keluarga Siwon, perusahaan kalian. Semua akan terkena imbasnya.”

Pikiran Tiffany menjadi semakin bingung, informasi terlalu banyak yang tidak bisa dicernanya satu persatu. Kenapa Leetuk harus terlibat dalam penculikan ini. Apa maksudnya dengan menyelamatkan dirinya dan Siwon. Kenapa mereka harus diselamatkan. Siapakah yang akan membahayakan mereka? Lalu skandal? Skandal apa yang dimaksud?  Apakah germo itu berhasil kabur dari penjara dan berniat balas dendam? Tiffany semakin kalut, di saat dirinya terancam bahaya selalu ada Siwon menemaninya tapi namja itu juga menghilang. Hanya Kangin dan Leetuk yang  tahu di mana Siwon berada. Keluarganyapun kini dibawa-bawa pada masalah ini. Tuhan, ada apa lagi ini. Belum lepas dari traumanya karena peristiwa di tempat karaoke itu, kini masalah baru hadir dengan cepatnya. Ia tidak punya ide apapun selain menurut kemana Kangin membawanya pergi. Mudah-mudahan Kangin dan Leetuk memang baik dan bisa dipercaya, seperti apa yang selalu dikatakan Siwon padanya.

“Saat kau menghilang, hanya Kangin-Hyung yang kuberitahu karena aku yakin dengan kekuatannya dia selalu bisa menolongku.”, dan “Bersama Leetuk, aku merasa nyaman, sebagai leader, dia sangat menjaga dan melindungiku. Kau bisa bergantung padanya.”

Baiklah ia akan mempercayai mereka berdua. Jika Siwon saja percaya pada kedua orang itu maka ia akan melakukan hal yang sama.

Di hari sama, di waktu yang sama di suatu percetakan koran, majalah, dan tabloid, sebuah skandal tentang bintang Hallyu ternama Korea, Choi Siwon tengah sedang naik cetak. Tentu saja dengan foto-foto ekslusif di dalamnya. Termasuk foto seorang yeoja yang diduga adalah pawaris dari Hwang Company. Terdapat 3 foto yang diterima mereka melalui surat kaleng sore tadi. Tidak ada identitas siapa pengirimnya. Tapi bagi jurnalisme kacangan seperti mereka yang lebih mengedepankan sensasi, itu bukan masalah penting. Yang menarik adalah siapa foto yang terdapat di dalamnya. Walaupun harus mengira-ngira, kountur badan namja yang sedang memeluk seorang yeoja yang memakai baju minim dan norak di sebuah tempat karaoke itu tepat seperti Choi Siwon. Begitu juga foto ketika keduanya tampak keluar dari sebuah apartemen atau hotel. Mereka hanya harus extra usaha keras untuk mengidentifikasi siapa yeoja yang selalu bersama Siwon. Foto yang diambil dari kejauhan itu tidak terlalu jelas sebetulnya. Dengan mata mereka yang begitu pintar menyelidik, mereka berakhir pada kesimpulan bahwa yeoja itu adalah Tiffany Hwang, anak dari pemilik Hwang Company, sebuah perusahaan trading terbesar di Korea. Bukan suatu kebetulan, bukankah kedua orang itu tampak berjalan mesra melangkah di red carpet di suatu acara penghargaan musik tadi.  Hanya dengan memasukkan tiga foto tersebut ditambah foto Tiffany dan Siwon yang tengah berjalan mesra di acara itu, serta sebuah deskripsi singkat yang ditulis dengan nada tendensius dan penuh sensasi, orang pasti akan berbondong-bondong membeli majalah dan koran mereka. Oplah akan meningkat drastis, tidak perduli bahwa berita itu mungkin akan menjadi skandal yang mencoreng industry musik Korea.

TO BE CONTINUED

Author: Akhirnya part ini lebih cepat publish dari yang diperkirakan. Jika banyak typo mian ya soalnya mata dah kelilipan pengen bobo. Author begitu bahagia menerima semua respon dari readers. Gomawo atas RCL-nya dan komen2 readers yang unik-unik. Ada yang bikin ngakak, ada yang ngasih masukan buat part ini, ada yang ngasih ide, ngasih semangat. Pokoknya semua RCL readers memiliki kesan tersendiri di hati author *dengan mata berkedip-kedip. Baiklah cerita ini hampir mendekati ending, mungkin sekitar 2-3 part lagi Siwon the Boss akan tergantikan dengan kisah cinta member Suju yang laen. Karena itu jangan heran jika part ini lagi-lagi bikin readers ngamuk ngamuk saking ngegantungnya. Mudah2an Happy Ending. Well, mungkin ini ciri khas ff Siwon the Boss, ujung ceritanya akan membuat readers bertanya-tanya. Tapi sampai sejauh ini clue-nya sampai itu aja dulu ya, bahwa bentar lagi nih ff kesayangan bakal finish dan endingnya bisa memuaskan hati readers. Congrats yang bisa nebak siapa penjahat di belakang surat kaleng ini. Ternyata si Ho Min gila! Readers yang masih penasaran dengan cerita ke depan jangan ragu2 untuk RCL di sini. Komen, pujian, dan kritikan diterima dengan hati yang tabah hehe. Cerita ke depan masih tegang tapi sedikit mengharukan dan pasti sangat romantis. As always I love you readers. Without u Im nothing, muach!

213 responses to “SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: SIWON THE BOSS (PART 10)

  1. ih si Ho min nyusahin banget sih… siwon oppa and tiffany eonni kasian tau..
    Tuan hwangnya belum keluar ya?? i hope next part udah ada tuan hwang
    so.. ga sabar nih thor izin next part ya….

  2. Duh Gusti cobaan aplg nih utk SiFany. pdhl khdpn mrk udh sprti suami istri.siwon yg udh cinta am fany bgt jg fany wlpn msh bingung.
    tp ini semua bks dndam krn sifany. sprtny cr yg hrs ditmpuh adl fany hrs mnt maaf kpd cwok yg ditolak dlm perjdohnny. to itu jg krn ortuny.
    tp g th y kok mslh cinta fany zero bgt.ato mgkin dia trll fokusn n blm mngnl dunia itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s