Behind a Broken Guitar [Part 2]

Title: Behind a Broken Guitar

Author: Vanana

Main Casts: Lee Sungyeol (Infinite), Park Hahyo (OC)

Genre: Romance, Music

Part 1 | Part 2

2005

Hampir setahun sejak Sungyeol pindah dari Korea dan aku masih menunggunya hingga sekarang. Setiap tanggal 14, aku pergi ke teras atas rumahku dan menghitung bintang. Sejauh ini, tidak pernah aku melihat 33 bintang. Pasti saja lebih, atau kurang. Dan sampai sekarang pun, aku dan Sungyeol tidak pernah bertemu lagi dan tidak berkontak sama sekali. Sama sekali tidak pernah.

Aku melirik gitarku yang tergeletak di samping rak buku. Masih belum kuperbaiki sampai sekarang. Aku tidak pernah bermain gitar lagi sejak saat itu. Entah mengapa, aku sudah tidak terlalu tertarik bermain gitar. Tidak ada lagi yang mengajariku.

Aku keluar dari kamarku dan pergi ke kamar nenekku. Nenekku memiliki banyak koleksi kotak musik. Dan ada satu kotak musik yang paling aku suka. Kotak musik berbentuk piano dan lagu yang dikeluarkannya adalah lagu Utada Hikaru, yaitu First Love.Setiap mendengarkan lagu itu, aku selalu teringat akan Sungyeol. Aku pernah menunjukkan lagu itu pada Sungyeol dan keesokan harinya, dia langsung bisa memainkan lagu itu menggunakan gitar. Dia juga mengajariku cara bermain lagu tersebut, tetapi hingga saat ini, aku masih belum bisa.

Lagu itu adalah lagu yang sangat istimewa bagi Sungyeol dan aku. Kami menghabiskan banyak waktu untuk mempelajari lagu itu, tetapi aku memang bukan seorang gitaris. Aku tidak bisa memainkan gitar semahir Sungyeol.

Kudengar kembali lagu tersebut, dan lagi-lagi aku teringat pada Sungyeol. Aku menangis karena dia belum sempat memaafkanku sebelum dia pergi. Mungkin lama kelamaan Sungyeol akan melupakan aku. Atau mungkin… aku yang akan melupakannya?

Menghabiskan waktuku setiap malam pada tanggal 14 dengan menghitung bintang bukanlah hal yang menyenangkan. Tidak setiap saat bintang ada. Aku merasa sangat bodoh karena membuang-buang waktuku dengan cara seperti itu. Sungyeol tidak mungkin tinggal di Amerika dalam jangka waktu yang pendek. Maka, aku pun berhenti menghitung bintang, dan hanya menunggu kabar dari Sungyeol. Aku sudah tidak lagi menghitung bintang, tetapi aku masih menunggu Sungyeol. Aku ingin meminta maaf kepadanya.

 

2011

“Kau mau mengantarku makan hari ini?” tanyaku pada Jihyo, kakak perempuanku. Kebetulan, aku sedang tidak ada jadwal.

“Boleh. Mau kemana?” Jihyo memang sangat baik. Dia sering mentraktirku makan. Memang, terkadang dia menyebalkan. Tetapi kalau sudah urusan jalan-jalan, Jihyo dan aku pasti selalu akrab. Dia hanya 2 tahun lebih tua dariku.

“Ada satu restoran dakgalbi di Yeouido. Kau mau mengantarku?”

“Tentu saja,” ujar Jihyo, “Ayo pergi!”

Aku dan Jihyo pergi ke Yeouido menaiki mobil Jihyo. Jihyo jarang menaiki subway atau angkutan umum lainnya karena ia memiliki kendaraan pribadi. Sedangkan aku, setiap aku pergi kemana-mana, aku selalu menaiki subway.

Di tengah-tengah perjalanan, tiba-tiba turun hujan. Jalanan juga sedikit macet. Aku menyarankan pada Jihyo untuk kembali pulang, tetapi untunglah, di perjalanan itu, kami menemukan sebuah restoran dakgalbi.

“Bagaimana kalau kita pergi kesana saja?” Aku mengusulkan pada Jihyo, “lagipula, aku belum pernah mencoba makan disini. Mungkin saja rasanya lebih enak.”

“Ya sudah, kalau itu maumu.” Kata Jihyo yang membelokkan mobilnya menuju restoran tersebut.

Jihyo memarkirkan mobilnya dan setelah itu, kami berjalan memasuki restoran itu. Kami duduk di meja dipojok dan memesan satu porsi dakgalbi dan 2 kaleng cider.

Sambil menunggu pesanan tiba, aku mengeluarkan ponselku dan menyibukkan diriku. Aku hanya membuka-buka folder di ponselku tanpa mengetahui tujuanku. Jihyo terlihat sibuk dengan novel yang baru ia beli kemarin.

Saat kami sedang asyik-asyiknya melakukan pekerjaan masing-masing, tiba-tiba pesanan kami datang. Aku berhenti bermain dengan ponselku dan Jihyo berhenti membaca. Tanpa basa-basi, kami segera menyantap makanan kami. Rasanya pedas dan kami sangat menyukainya.

“Aku tidak pernah tahu restoran ini menyajikan makanan seenak ini!” ujarku, “kita harus sering-sering ke sini lain kali.”

Jihyo mengangguk setuju. Selama makan, kami tidak banyak berbicara. Kami benar-benar menikmati dakgalbi tersebut.

Setelah selesai, hujan sudah mereda dan kami pergi ke lahan parkir lalu kembali pulang. Lalu, ketika kami sudah setengah jalan, aku baru menyadari kalau ponselku tertinggal di restoran itu.

“Jihyo, sepertinya kita harus kembali lagi. Ponselku tertinggal,” aku bilang pada Jihyo. Jihyo menarik nafas panjang dan memutar arah menuju restoran tersebut. Setelah kami sampai, Jihyo menunggu di tempat parkir dan aku masuk ke restoran itu sendiri. Aku langsung berjalan menuju tempat dimana kami duduk tadi, dan ternyata ada seorang laki-laki yang duduk disana.

“Maaf, apakah anda melihat ponsel saya?” aku bertanya pada laki-laki tersebut. Dia memandangku lalu melirik ke arah ponselku yang tergeletak di meja. Aku segera mengambilnya dan berterimakasih pada laki-laki itu. Namun, tiba-tiba saja aku merasa telah mengenal laki-laki itu sejak lama. Sepertinya dia… Sungyeol. Atau mungkin bukan? Kalau itu Sungyeol, mengapa dia telah melupakanku?

“Terimakasih ya. Aku Park Hahyo,” aku memperkenalkan diriku, “senang bertemu denganmu.”

“Lee Sungyeol,” katanya dengan dingin.

Itu benar Sungyeol. Dan dia tidak mengenaliku.

Hari itu adalah tanggal 15. Dan pastilah ada 33 bintang kemarin malam. Aku masih ingat apa yang dikatakan Sungyeol. Dan akupun masih ingat apa yang terjadi pada Sungyeol dan aku terakhir kali.

Aku segera meninggalkan Sungyeol dan kembali pulang bersama Jihyo. Aku terus saja berpikir tentang Sungyeol. Dimanakah tempat tinggalnya sekarang? Semenjak keluarganya pindah ke Amerika, rumahnya yang dulu ditempati oleh sebuah keluarga baru.

Sesampainya di rumah, aku segera mengambil gitarku di gudang. Masih belum diperbaiki sejak dulu. 2 senar paling atas putus. Aku mencoba memainkan sebuah lagu. Aku menguji diriku sendiri, apakah aku masih ingat cara bermain gitar. Dan ternyata, aku bisa bermain beberapa lagu.

Aku mencoba memainkan lagu First Love, tetapi ternyata aku sudah lupa. Dulu saja, aku belum lancar memainkannya. Apalagi sekarang.

Kalau nanti aku bertemu Sungyeol lagi, aku ingin dia mengajariku lagi bagaimana cara memainkan lagu itu. Aku pasti akan bertemu lagi dengannya, karena kami berada di kota yang sama. Dan kalaupun aku tidak tahu keberadaannya, aku bisa bertanya pada teman-teman lamaku. Sungyeol pasti setidaknya memberitahu tentang kedatangannya pada salah satu teman lamanya.

Saat itu, aku sedang sendirian di kamarku, tidak melakukan apa-apa. Aku terlalu banyak berpikir tentang Sungyeol. Aku penasaran, dia membuatku penasaran. Entah apa yang akan aku tanyakan pada Sungyeol saat aku bertemu lagi dengannya nanti. Tapi percuma saja kalau dia tidak mengingatku. Mungkin saja dia mengingatku, tetapi tidak dapat mengenalku.

Keesokan harinya, aku pergi ke sebuah toko kue untuk membeli camilan. Musim gugur saat itu benar-benar dingin. Aku memakai jaket tebal dan melapisi leherku dengan syal rajutan. Aku yang merajutnya sendiri.

Di toko kue itu, aku membeli roti cokelat. Aku tidak membeli terlalu banyak makanan karena Ibuku sudah memasak banyak makanan di rumah. Aku hanya membeli sebuah roti untuk camilan saja. Untuk berjaga-jaga jika keluargaku telah menghabiskan masakan Ibu.

Di jalan pulang dari toko kue, aku melihat seorang anak laki-laki berusia sekitar 5 atau 6 tahun duduk di kursi taman. Dia sedikit menangis dan dia terlihat kedinginan. Aku mendatangi anak itu.

“Kau kenapa?” aku bertanya padanya.

Dia menjawabku, “Kakakku menyuruhku untuk menunggu disini sebentar. Tetapi, sudah lumayan lama, dia belum juga kembali.”

Aku kasihan pada anak tersebut. Wajahnya pucat karena kedinginan. Dan dia terlihat bosan menunggu kakaknya.

Aku melepas syalku dan memberikannya pada anak laki-laki itu. Dia terlihat senang ketika aku memberikan syalku. Dia langsung memakainya dan tersenyum padaku.

“Terimakasih Kak! Aku Sunghyun,” dia memperkenalkan dirinya padaku, “Siapa nama kakak?”

“Aku Hahyo. Senang bertemu denganmu, Sunghyun,” aku tersenyum pada Sunghyun. Sebenarnya, aku tidak bisa menemaninya lama-lama karena aku harus segera pulang. Tetapi aku tidak mungkin meninggalkan Sunghyun karena dia masih kecil dan kakaknya sudah lumayan lama meninggalkannya. Bisa saja kakaknya tidak kembali lagi.

“Sunghyun!” tiba-tiba, aku mendengar seseorang memanggil nama Sunghyun. Ia menoleh ke belakang lalu berlari. Itu pasti kakaknya.

Aku sudah tidak memiliki waktu lagi untuk berkenalan dengan kakaknya dan menerima ucapan terimakasih. Maka, ketika Sunghyun berlari pada kakaknya, aku meninggalkan mereka dan pulang.

5 responses to “Behind a Broken Guitar [Part 2]

  1. thor kyak’a bagian tbc’a kurang pas deh sama kurang panjang cerita’a 😀 tp q masi penasaran~ lanjut thor~ ^^

  2. kakaknya Sunghyun pasti Sungyeol,bener ga*readersoktau
    agak pendek sih tapi ga pa-pa lah kalau update nya tiap hari,
    next part ditunggu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s