[FICLET] Please Don’t Say – The Stupid Way To Break Up

Author : Nisa Ayu Thayalisha Hadi (Nam Hyen Hyo)

Cast :

Cho Kyuhyun

Nam Hyen Hyo

Title : Please Don’t Say –  The Stupid Way To Break Up

Length : Ficlet

Genre : Romance, Angst

Rating : PG-13

Disclaimer : The casts are belong to God, and this Fan Fiction is belong to me kekekeke~ i own this plot ok?

Note : This is pure my imagination.

===============================================================

Untuk masalah yang satu ini, mungkin sudah sepantasnya kita berakhir. Sebagaimana gadis normal lainnya, aku tidak bisa sesabar itu menghadapimu. Aku mengayunkan kakiku dari tepi dataran. Membiarkan kakiku melayang di atas kedalaman yang terjal. Merasakan bagaimana hembusan angin membuat kakiku merasa kaku seketika. Menerawang jauh ke langit biru yang damai, tidak sedamai hatiku saat ini. Lagi-lagi aku melirik ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Ini sudah waktunya aku bertemu dengan pria yang menungguku. Namun rasa kesal di hati menghambat kakiku untuk beranjak melangkah.

Aku mencintaimu. Sebagai seorang kekasih, kau sempurna di mataku. Kau bisa menjadi apapun yang aku mau. Menjadi seseorang yang berbeda bagaikan berkepribadian ganda. Dan karena adanya kau sebagai pelengkap hidupku, alasan untukku tetap tersenyum, memaknai hari-hariku dan segalanya tentang hidup.

Aku menyibakkan rambutku ke belakang telinga. Masih sambil menggoyangkan kakiku, aku menatapnya. Sneakers berwarna biru-kuning ini sudah semakin lusuh. Sneakers kesayanganku. Menemaniku kapanpun dan kemanapun aku melangkah. Layaknya kau, yang selalu menemani hari-hariku. Pria kesayanganku.

Hari demi hari, kau selalu membuatku merasakan kebahagiaan yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya. Tersenyum penuh arti. Membanggakan diri karena memilikimu. Tidak pernah sekalipun keluar dari mulutku hal yang negatif tentangmu. Karena di mataku, kau selalu positif. Kau sempurna. Dan aku semakin menyayangimu untuk hal itu.

Melakukan segalanya dengan sungguh-sungguh, menjadi salah satu alasan agar aku masih dapat hidup tenang di sisimu. Apapun yang aku lakukan, aku ingin kau memandangku sebagai seorang gadis yang positif. Aku selalu ingin melakukan yang terbaik untukmu. Demi membuatmu bangga karena kau telah memilikiku, sebagaimana aku bangga karena memilikimu. Tapi seberusaha apapun aku berusaha, kau tetap yang terbaik. Aku akui, aku tidak akan pernah bisa menandingi kemampuanmu. Itu artinya, kau tidak akan pernah bisa merasakan bagaimana bangganya memilikiku.

Aku menjatuhkan setetes air mataku ke paha, berbarengan dengan jatuhnya daun pohon yang sudah kering dan berwarna coklat di rambutku. Aku mengambilnya dan menatap dengan sayu. Mungkin, sekarang hatiku sudah seperti ini. Tidak lagi indah. Tidak lagi ada kau disana yang dulunya selalu hidup di dalamnya. Tidak ada lagi namamu terukir, sudah pudar. Tidak lagi utuh. Dan rapuh.

Lagi-lagi air mata itu mengalir di pipi, semakin lama, semakin deras. Hingga akhirnya aku terisak dan merasakan sesak di hati yang berlebihan. Aku menghampus air mata itu sendiri. Tidak lagi seperti dulu, saat aku menangis, kau menghapus air mataku dan seterusnya memelukku. Membuatku merasa nyaman dan sedikit tenang. Sampai isakanku hilang, kau baru melepaskan pelukan kami. Aku merindukannya. Aku merindukan bagaimana aku menyayangimu seperti dulu. Jujur, aku masih sangat menyayangimu, entah sampai kapan. Tapi aku tidak pernah yakin dengan perasaanmu saat ini. Apakah kau masih menyisakan setitik rasa untukku atau mungkin sudah tidak sama sekali?

Langit mulai menenggelamkan sang matahari. Membuatku sadar sudah berapa lama aku terduduk termenung disini sampai mengeluarkan air mata. Kadang, aku merasa, air mata ini aku tumpahkan, hanya untukmu. Tidak ada lagi pria lain yang bisa membuatku menumpahkan air mata dengan sia-sia seperti ini. Apapun yang kau mau, aku selalu menuruti. Karena aku berpikir, dengan aku selalu mau menjadi apa yang kau mau, kau bisa menambah rasa sayangmu untukku. Padahal aku sendiri tidak tahu apakah itu benar atau tidak.

Mencintaimu, membuatku menjadi bodoh. Entah itu karena aku yang memang bodoh, atau kau yang dengan pintarnya bisa membodohiku. Aku selalu percaya apapun yang kau katakan. Dan aku selalu berusaha untuk membuatmu selalu percaya padaku. Aku selalu memberitahumu apapun yang aku lakukan, dimana posisiku saat itu dan sedang bersama siapa aku saat itu. Apapun, sampai hal yang paling kecil sekalipun. Aku hanya ingin, kau bisa membuka mata dan hatimu lebih lebar lagi. Bahwa aku menyayangimu. Bahwa aku ingin kau terus percaya padaku. Bahwa aku ingin kau tetap di sampingku. Selamanya.

Aku menyukaimu dari sisi yang selalu bisa membuatku nyaman. Aku menyukaimu dari sisi yang selalu bisa sabar dalam menghadapiku yang emosional. Aku menyukaimu dari sisi yang selalu bisa membuatku tertawa. Aku menyukaimu dari sisi yang selalu bisa membuatku menangis dan terharu. Aku menyukaimu dari sisi yang selalu membuatku yakin bahwa kau menyayangiku lebih dari aku menyayangimu. Aku menyukai segalanya darimu. Tidak ada yang terlewatkan sedikitpun. Sekalipun itu hanya sebesar tetesan embun.

Suara dedaunan kering yang bergesekan dengan tanah terdengar sebagai backsound dari seluruh ungakapanku kali ini. Terdengar sunyi tenang namun menyesakkan. Aku menghapus lagi air mataku yang mengalir. Sudah berapa kali aku menghapus air mata ini? Bahkan aku sendiri yakin bahwa ini tidak dapat lagi dihitung oleh jari.

Ini bodoh, saat aku mengingat bagaimana aku mencoba untuk menahan rinduku untukmu. Dan pada detik berikutnya, aku mulai menangis. Susah bagiku untuk mengatakan padamu bahwa aku merindukanmu. Bahwa aku merindukan bagaimana kau memanjakan aku. Memanggilku dengan panggilan sayangmu. Mengatakan kata-kata yang membuatku merasakan terbang dan tersenyum haru. Namun semua itu hanya bisa aku pendam. Aku terdiam membisu. Sambil terus meladenimu lewat ponsel, kami baik-baik saja. Aku tau. Tapi aku tidak baik-baik saja.

“Aku menunggumu,” Telingaku menangkap suara pria yang sudah sangat aku kenal untuk beberapa tahun terakhir ini. Dengan sigap, aku menghapus seluruh bekas air mataku di pipi dan menunduk.

“Tapi kau tak kunjung datang. Ternyata kau disini” Lanjutnya lagi. Aku mengernyitkan dahi. Kenapa dia bisa ada disini saat aku sedang memikirkannya? Apakah memang Tuhan sudah mengirimkannya kesini untuk aku mengatakan hal yang sejujurnya? Apa memang sekarang waktu kita untuk.. berpisah? Apakah ini akan menjadi tempat terakhir untuk kita bertemu? Atau..

“Kau tidak ingin bangkit, berbalik, lalu memelukku? Bukankah kau pernah mengatakan bahwa dengan memelukku seluruh masalahmu akan lenyap?”

Sudah tidak berlaku lagi untuk sekarang

Aku menggigit bibirku sebentar dan kemudian bangkit. Menepuk kedua tanganku yang kotor dengan tanah lalu menghampirinya dengan senyum tipis dipaksakan. “Kau tidak ingin memelukku?” Herannya saat melihatku tetap berdiri menjaga jarak darinya. Perlahan aku menggeleng. Menolak tawaran yang dulunya tidak pernah aku berpikir untuk menolaknya.

Pendengar terbaikku, bukannya aku ingin mengecewakanmu dengan menolak tawaranmu. Hanya saja, jika dengan memelukmu, aku takut seluruh pertahanan yang sudah ada di hatiku akan runtuh begitu saja. Pendengar terbaik? Iya, kau selalu menjadi pendengar yang baik untukku. Saat aku bercerita. Saat aku bersedih. Saat aku merasa kesal. Saat aku ingin menumpahkan segalanya agar merasa lega, kau selalu mendengarkanku. Mendengar keluh kesahku yang mungkin sampai sekarang sudah muak kau dengar. Kau selalu ada. Mungkin bodoh untukku melepaskanmu saat ini juga. Karena aku juga masih sangat menyayangimu.

Aku selalu menganggapmu ada. Tapi aku sendiri ragu apakah kau selalu menganggapku ada juga atau tidak.

“Apakah kau masih menyayangiku seperti dulu? Masih sama banyak?” Tanyaku pada Kyuhyun. Aku menatap matanya lekat. Dia tersenyum mencibir.

“Tentu saja iya. Kau ini kenapa sih, huh? Selalu saja bersikap bodoh!” Serunya sambil berkacak pinggang.

“Kau masih tahan memiliki kekasih yang bodoh sepertiku? Kenapa tidak mencari yang lebih pintar saja?” Tanyaku kemudian.

“Kau pikir aku mau? Jika gadis lain memiliki otak yang lebih bagus daripada kau, apakah mereka juga memiliki hal lainnya yang lebih bagus daripada kau?”

“Maksudmu?”

“Kau ini kenapa sih, Hyen?” Bingungnya disertai dengan desahan nafas di akhir pertanyaan. Aku lagi-lagi menggeleng untuk menjawabnya.

“Aku tidak tahu” Jawabku. Lirih dengan suara yang parau.

“Kita pulang saja, sudah sore. Kita bicarakan ini di mobil” Kata Kyuhyun pada akhirnya. Aku melangkah maju, bukan untuk menuruti permintaannya, tapi untuk mencium pipinya yang terakhir kali.

“Aku menyayangimu. Aku menyukai seluruhnya yang kau miliki. Aku mencintai yang ada di dirimu. Dan aku menyayangimu dengan benar. Aku tidak tahu apa yang aku rasakan akhir-akhir ini, tapi saat kau tiba-tiba meninggalkanku tanpa alasan selama beberapa hari waktu itu, aku merasa bahwa kau sudah tidak pantas lagi memberikanku penjelasan yang tepat. Maksudku, sejak saat itulah perasaanku padamu mulai goyah. Aku tidak mengerti apa yang sebenarnya hatiku mau untuk saat ini. Aku ingin kau. Tapi aku juga ingin kita berpisah. Mungkin, sebaiknya kita tidak lagi menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Kau kadang bisa terlihat memukau sempurna di mataku. Tapi aku sendiri tidak tahu apakah kau memandangku sama atau tidak..”

Mengucapkan sesuatu yang sekiranya menunjukkan bahwa aku menyayanginya, tidak pernah cukup untukku. Karena sesungguhnya, aku menyayanginya lebih dari sekedar kata-kata. Bahkan tidak bisa dirangkai olehnya.

“Kau ini bicara apa?” Tanyanya tidak mengerti.

“Aku tidak tau lagi apa yang seharusnya aku harapkan darimu untuk saat ini. Karena setiap harinya aku selalu berharap untukmu terus menyayangiku. Tapi aku tau permintaanku sudah sangat berlebihan. Sekalipun aku menganggap tidak ada lagi pria yang bisa mengisi hatiku lagi setelah kau, tetap saja kau tidak akan berpikir sama denganku, bukankah begitu? Jadi, aku rasa, lebih baik kita berakhir saja” Aku menundukkan kepalaku dalam, membiarkan air mataku terjatuh lagi dan masuk ke dalam mulutku.

“Aku menyayangimu, sungguh” Kyuhyun memegang kepalaku dan membiarkannya mendongak. Membiarkan air mataku yang sedang mengalir ini terlihat dengan jelas di matanya.

“Kau menangis. Itu artinya kau tidak siap untuk melepaskanku. Iya kan? Jangan mengada-ngada Hyen! Aku tidak bercanda” Tegasnya.

“Aku juga tidak bercanda. Aku ingin kita berakhir saja, Kyu. Aku lelah. Aku merasa hanya aku yang mencintaimu, sementara kau tidak”

“Hanya perasaanmu kan?”

Aku terdiam. Ya, itu hanya perasaanku. Tapi..

“Aku tidak butuh alasan lagi darimu untuk mencegahku sekarang. Sudah terlalu banyak hal yang aku ingin lakukan dan dicegah olehmu. Tapi aku mohon untuk sekarang, jangan cegah aku lagi”

Kyuhyun terdiam. Aku memasang telingaku dengan benar, siap menerima kata-kata yang akan masuk ke dalam telingaku kemudian tersimpan di memori otakku yang paling dasar.

“Aku tidak tahu lagi caranya untuk menunjukkan rasa sayangku untukmu setelah ini. Tapi untuk yang terakhir kalinya, karena aku sangat menyayangimu. Aku turuti permintaanmu” Jawab Kyuhyun. Aku masih belum mendongak. Tapi ku dengar derap langkah semakin menjauh. Aku tau dia meninggalkanku disini.

Bodoh? Mungkin iya. Ini memang bodoh, bagaimana aku bisa dengan begitu saja melepaskan Cho Kyuhyun yang hampir mendekati sempurna dan sudah terlihat sempurna di mataku. Tapi.. Aku sendiri tidak tahu alasan apa yang menjadi dasar untuk aku memutuskan hal ini. Namun yang pasti, hidup berdampingan dengannya, membuatku merasakan sejuta kebahagiaan. Seribu kenyamanan. Seratus kesedihan. Dan sepuluh kekecewaan. Aku tidak pernah merasakan jalinan cinta yang seperti ini sebelumnya. Dan dengan adanya dia masuk ke kehidupanku, aku berterima kasih. Aku hanya ingin dia berkeliaran bebas tanpa ada ikatan denganku. Mencari gadis lain yang jauh lebih baik dariku dan pantas untuk dia cintai sepenuhnya.

Kadang, dalam kesedihan ada tangis. Seperti aku yang menangisi kebodohanku.

END

Nb : Aku ga tau aku bikin cerita tentang apa. Gara-gara lagi galau, kali ya? –_– ga tau nih, dari tadi perasaannya ga enak hehehe. Btw, Love Sigh Part 5, aku ga tau harus dibikin gimana wkwk, sabar aja ya nungguinnya :p Apalagi My Nightmare – Madagaskar Day 2. Waaaaduh, aku ga tau apa yang harus aku tulis di word kalau document itu dibuka =.= tapi nanti aku usahain. Bikin NC-21 aja ya? *eh hahahaha ^^v #evil

Yang galau pasti ikutan galau baca Ficlet ini :p

Thanks for reading guys

Advertisements

14 responses to “[FICLET] Please Don’t Say – The Stupid Way To Break Up

  1. hyen ninggalin kyu gara-gara alasan yang jelas, trus kyu juga lepasin gt aja ? *garuk tanah
    galau nih eon… -_-v tapi seru kok ceritanya…. 😀
    serius oen NC-21 ?? ak gak bisa baca dong… ==” *blum cukup umur
    tp gpp dh eon yang penting dilanjutin #eh ?
    d tnggu eon love sight ama madagaskar nya ^^

  2. Ahhh ff sdih. Hyen ngrsa klo kyu nggk cnta dy. Nih ff nmenin aq d saat mlm hri. Saat hti aq yg ngrsa snang n sdih brsmaan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s