OPPA VS SUNBAE [Part 2]

Title : Oppa VS Sunbae [Part 2]

Author : ontebiijjang

Main Cast(s)

Kim Jonghyun (SHINee)

Park Hyomin (Hyomin T-ara)

Park Junsu (Xiah Junsu JYJ)

Other Cast(s)

Park Yoochun (JYJ) as Hyomin’s appa

Park Kahi (After School) as Hyomin’s eomma

Jung Jessica (SNSD)

Rating : G

Length : Chaptered

Genre : Romance, Family, AU

Disclaimer : i just owned the story. Inspired by musical stories. This is just fiction story. Enjoy the story. ^^

♫♫♫♫♫

[PROLOG] [Part 1]


Hyomin POV

Hari ini, sepertinya tidak kalah membuatku kesal daripada hari kemarin. Tadi, ketika waktu istirahat aku dan Jessica-teman sebangkuku pergi ke kantin. Ketika kami sedang menuju kantin, aku tak sengaja berpapasan dengan Junsu oppa yang sepertinya tidak mengenal ku. Dia mengacuhkanku, padahal aku sudah mengangkat tanganku untuk menyapanya, tapi sikapnya.. issh, membuatku kesal! Memang aku yang sering menyuruh nya agar tidak menyapaku terlalu sering, tapi biasanya kan dia akan tetap menyapaku. Ohh, masih kesal rupanya kau denganku, hah?! Harusnya aku kesal! Huh! Membuatku tak selera untuk makan saja. Akhirnya, ya seperti sekarang ini. Aku hanya menemani Jessica makan. Belum habis kekesalanku pada oppa, seseorang yang muka nya tidak ingin kulihat untuk selama nya itu kini muncul dihadapanku. Sunbae gila itu. Duduk disebrang mejaku. Duduk dengan senyumnya yang mengembang. Kenapa dia? Apa dia kembali tidak waras?! Sementara sunbae gila itu terus menatapku dengan senyumnya itu, Jessica disebelahku sibuk menyikutku pelan.

“ Ya, Hyomin.. kau kenal dengannya?” bisik Jessica setelah sibuk menyikutku. Aku hanya menggeleng seraya mencibir.

“ aduh kau ini payah sekali.. dia itu sunbae kita! Kim Jonghyun, sunbae yang paling ditakuti di kampus ini..” mendengar bisikan Jessica itu, membuatku refleks menatapnya tajam. Menyelidik. Ahh, seperti nya perkataan Jessica itu hanya gosip tidak mungkin sunbae pendek ini menakutkan. Tidak ada yang bisa ditakutkan dari namja ini. Aku menggeleng pelan seraya mencibir lagi. Aku terlalu sibuk dengan penelitianku akan perkataan Jessica, sehingga ketika sunbae itu tertawa aku tak mengerti apa yang tengah ia tertawakan. Membuatku bingung, dan tersenyum sekilas karena tawanya. Tawanya membuat wajahnya terlihat manis sekali, seperti tawa oppa. aissh, dua orang ini kompak sekali membuatku kesal hari ini.

Jonghyun POV

Aku tak dapat menyembunyikan tawaku karena melihat ekspresi yeoja didepanku ini. Yeoja yang kemarin pingsan karenaku. Ya, rencana nya aku ingin meminta maaf padanya hari ini. Saat ini juga. Yeoja ini langsung menatapku tajam, dengan tatapan menyelidiknya. Jelas saja membuatku tertawa, karena ekspresinya jelas mengatakan jika ia tidak percaya dengan bisikan temannya. Yang menurutku dia tidak berbisik, karena jelas-jelas aku mendengarnya. Ia sempat menautkan alisnya karena tawaku, tapi diiringi dengan senyuman manisnya. Aneh sekali, tapi itu membuatku makin tertarik padanya karena senyum manisnya itu.

“ neo..”

“ oppa.. joneun Jessica imnida..” ucapanku langsung terpotong karena teman disebelahnya langsung memperkenalkan dirinya padaku. Aissh, temannya itu mengganggu kesenanganku saja. Aku hanya membalasnya dengan senyuman tidak ikhlasku. Bagaimanapun aku harus berbaik hati didepan yeoja ini.

“ neo ireumi mwoya?” tanyaku melanjutkan perkataanku pada yeoja itu, menghiraukan temannya. Dia tidak juga menjawabku seperti temannya yang agresif itu.

“ Hyominnieyeyo, oppa..” lagi-lagi temannya itu menjawab tanpa ditanya. Cukup sudah. Aku hanya perlu dengannya.

“ Jessica-ssi.. ada yang ingin kubicarakan dengan temanmu, bisakah kau..?”

“ eoh.. algaesseoyeo, oppa..” tanpa perlu melanjutkan perkataanku, Jessica langsung beranjak dari tempat duduk nya meninggalkanku dan yeoja yang disebutnya Hyomin. Yeoja itu hanya menatap kepergian temannya.

“ dia itu berisik sekali..” gerutuku. Yeoja itu langsung melirik ku tajam, kesal hanya lewat tatapannya. Yeoja ini ekspresinya mudah sekali terbaca.

“ dia selalu menyelaku saat ingin berbicara, wajar saja kuusir..” ucapku yang kurasa aku perlu menjelaskan.

“ ppalli malhaebwa!” ucapnya datar, tapi matanya seakan ingin membunuhku.

“ eoje.. mianhae, jeongmal mianhae.. aku tak bermaksud membuatmu pingsan.” Balasku to the point, aku rasa dia bukan lah orang yang tepat untuk diajak berbasa-basi. Selesai ku berbicara, ia langsung melipat kedua tangannya diatas meja yang memisahkan aku dengannya. Ia pun memajukan sedikit kepalanya dan memiringkannya sekilas mencibir didepanku lalu tersenyum remeh.

“ that’s it!? Already forgiven!” balasnya masih dengan senyum remehnya. Begitukah ekspresi orang yang memberi maaf? Ia bangkit dari tempat duduknya perlahan, merapihkan bajunya sekilas. Sungguh gerak-geriknya anggun layaknya princess.

“ karena aku telah memaafkanmu, kuharap kau tak pernah muncul lagi dihadapanku!” tegasnya.

“ kenapa aku tidak boleh muncul dihadapanmu? Kau sudah tidak marah padaku, kan?” tanyaku langsung ketika ia hendak melangkahkan kakinya untuk meninggalkanku. Sejenak Hyomin menghela napasnya dengan berat.

“ tidak marah, bukan berarti aku tidak kesal padamu!” jawab Hyomin agak kesal, seraya menghentakkan kakinya.

“ bagaimana bisa?kau tidak ikhlas memberi maaf, ya?” tanyaku lagi, kembali membuatnya batal melangkahkan kakinya dengan kesal. Hyomin menyibakkan poninya dengan kasar mendengar pertanyaanku. Dia ini lucu sekali kalau marah, membuatku tak bisa berhenti menggodanya

“ issh, pokoknya kau jangan muncul lagi dihadapanku, arra!?”ucapnya lalu menatapku tajam.

“ tidak bisa, aku akan melakukan apapun agar kau tidak kesal lagi padaku..” ucapku memasang wajah puppy eyesku- yang biasanya ampuh membuat yeoja-yeoja menurut padaku.

“ YA! Jangan menatapku seperti itu! Aku tidak akan kesal lagi padamu, kalau kau tidak muncul lagi dihadapanku!” balasnya masih kesal, lalu pergi meninggalkan ku. Susah sekali berhenti membuat nya kesal. Ahh, ternyata puppy eyesku tidak mempan padanya. Hahah. Yeoja unik. Hyomin, ya? Seperti nama yang kukenal. Aku memegang daguku seraya berpikir keras. Mencocokkan nama dan wajah Hyomin, dengan ingatan-ingatan ku. Memang ada banyak nama Hyomin di dunia ini, tapi aku merasakan ada yang spesial dengan nama Hyomin di hatiku. Entahlah, mungkin karena aku terlalu banyak berpindah tempat jadi membuatku tidak terlalu memikirkan orang-orang disekitarku. Yang jelas, saat ini aku menyukai Hyomin.

Hyomin POV

Haissh. Sudah seminggu ini sunbae gila itu merecoki hidupku. Semua BERANTAKAN! Hidupku yang sudah kurencanakan agar berjalan dengan damai hancur sia-sia. Sejak perkataanku dikantin itu, dia terus saja membuntutiku. Selalu saja bertanya ‘bagaimana caranya agar kau tidak kesal lagi padaku?’ atau pertanyaan paling favoritnya ‘ kenapa kau masih saja ketus padaku? Apa aku membuat salah lagi?’ ENYAHLAH kau KIM JONGHYUN! Belum lagi dengan kiriman-kiriman hadiahnya entah itu coklat, boneka, atau apalah. Hey, aku bukan yeoja macam itu! Hingga membuat ku memberikan hadiah yang kudapat pada Jessica atau kusuruh kembalikan lagi padanya lewat kedua kurir pengantarnya-Minhyuk dan Taemin. Bagaimana caranya agar dia berhenti menggangguku, hah!?

♫♫♫♫♫

Hari ini selesai kelas, aku langsung mendatangi ruangan yang kurang terurus. Kupikir karena ruangan ini terlalu jauh dari gedung utama bahkan harus melewati taman dulu, jadi tidak terlalu diperhatikan. Masa bodoh, yang penting tempat ini sudah menjadi tempat menariku sejak ku temukan. Mungkin akan lebih baik kalau aku menari ditempat latihan kelas dance yang luas dan lengkap, tapi aku tak mungkin melakukan itu. Modern dance sangat dilarang dikampus ini. Mungkin bukan hanya tari, segala macam seni dikampus ini harus klasik. Ahh, itulah yang tak pernah kukuasai sejak lima atau hampir enam tahun yang lalu.Aku hanya sekedar tau. Yah, walaupun sejak kecil aku sudah diajarkan seni klasik aku tetap saja tidak mahir, atau mungkin tidak ingin mahir. Sejak perlombaan itu, aku.. tetap masih bermain piano, hanya sekedar nya. Dan karena oppa tidak ada disamping ku selama aku di Junior Art, aku memutuskan untuk tak pernah lagi memegang piano. Di Junior Art pun, aku sudah berkali-kali mengganti bidang studi ku. Dari vokal, tari, bahkan drama sekalipun. Tetap saja, aku merasa tak mampu untuk menyaingi siapa pun. Menurutku seni klasik itu terlalu rumit, karena terlalu cantik. Hahah. Yeoja tomboy sepertiku ini seperti nya sangat sulit beradaptasi dengan seni klasik. Tomboy? Ahh, aku juga kurang yakin. Yang pasti seni klasik amat tidak cocok denganku. Lantas kenapa aku masuk ke kampus ini? Itu karena kedua orang tua ku dan oppa, aku tidak ingin lagi membuat mereka malu. eomma, adalah seorang koreografer terkenal, tentu saja seni klasik. Apalagi ia mantan pebalet internasional di Korea. Ia pernah mejuarai perlombaan di Swiss, waktu ia berumur 17 tahun. Appa, seorang konduktor yang sering mengadakan resital diluar negeri, karya-karya nya sangat terkenal di Korea. Ia pun pemilik yayasan kampusku itu. Oppa? jangan ditanya. Ia mewarisi keahlian keduanya. Walaupun oppa terkenal badung sejak kecil, ia menguasai seni klasik. Yah, walaupun ia melakukan nya sesuka hati. Oppa paling menguasai dibidang musik, vokal dan piano adalah keahlian oppa. oppa juga pintar berdansa. Setiap ada pesta ia pasti diajak berdansa. Yah, intinya hanya aku yang tak berbakat diantara mereka dan karena latar belakang mereka lah yang mengharuskanku bersekolah disini. Oh, soal aku menari modern dance. Itu kupelajari dari film-film luar atau para boyband dan girlband yang terkenal di Korea. Menurutku gerakan modern dance tidak banyak aturan, karena itu aku suka. Aku melakukannya sudah sejak pertama kali aku masuk sma aku langsung diajak temanku untuk menari RnB dan Hiphop, ketika aku diasingkan di US bersama oppa. Awalnya saat aku bertemu oppa di Amerika, oppa sempat shock karena permainan piano ku yang kaku. Saat itu, oppa dengan rela meninggalkan universitas impian nya di Italy. Itu semua karena aku meminta untuk diasingkan di US agar menjauh sementara. Sejak pertandingan yang memalukan itu, disekitarku selalu saja mengolok-olokku. Aku terlalu malu untuk menjadi bagian keluarga Park hanya karena tak menguasai seni klasik, padahal kedua orang tua ku tidak masalah jika aku tidak menguasai klasik. Yah, tetap saja itu membuatku tertekan karena sering dibilang bahwa aku bukanlah anak kandung appa hanya karena aku tak mahir. Walaupun appa sudah berkali-kali meyakinkanku, menyuruhku untuk mengabaikan berita itu. Tetap saja judulnya aku sudah membuat keluargaku malu, tapi kali ini detik ini aku akan berusaha keras untuk menguasainya. Aku tidak akan membuat mereka malu lagi. Aku akan kembali mempelajari seni klasik yang selama di US telah kulupakan. Untung saja waktu itu oppa juga tidak memaksaku berhubungan dengan yang namanya seni klasik. Aku sangat beruntung memiliki keluarga yang sangat mengerti keadaanku. Kali ini akan kupastikan untuk membuat mereka bangga.

Author POV

Hyomin yang sedang asik menari meniru gerakan After School-Bang! langsung menghentikan tariannya begitu mendengar seseorang masuk tanpa ijin. Begitu Hyomin menoleh, Hyomin mendesah lega karena melihat sosok Jonghyun yang masuk. Jonghyun menatap aneh, melihat ekspresi Hyomin dan langsung mendekatinya.

“ apa urusan mu datang kemari?” tanya Hyomin santai berbeda dengan tampangnya ketika mendengar suara pintu dibuka, lalu mengambil handuk kecil nya dan mengelap peluhnya.

“ apa yang kau lakukan disini?” tanya Jonghyun menyipitkan matanya curiga.

“ aku? Bukan urusanmu.” Jawab Hyomin lalu mengambil tas dan Hpnya yang masih berbunyi menyanyikan lagu After School dan segera mematikannya.

“ chankamman.. kau.. habis menari ? Run Devil Run?!” tanya Jonghyun yang makin meninggi nadanya menyebutkan judul lagunya.

“ ohh.. neo, keu norae arra?” tanya Hyomin lalu pura-pura sibuk dengan tasnya sambil berjalan ingin keluar dari ruangan itu sebelum ketahuan Jonghyun. Melihat gerak-gerik Hyomin, Jonghyun langsung mendengus remeh dan menahan Hyomin yang akan melewatinya dengan menghalangi jalannya.

“ ya~.. kau telah melakukan pelanggaran.. no other genre beside CLASSIC in here, miss.” Ucap Jonghyun lalu menatap Hyomin dengan smirk nya. Mendengar perkataan Jonghyun, Hyomin langsung menatap Jonghyun tajam seakan berkata sampai-ada-yang-tahu-mati-kau.

“ nan jinjja arra..” Hyomin tetap membalas perkataan Jonghyun dengan ketus lalu berjalan paksa melewati Jonghyun yang terus menghalanginya. Hyomin memang berhasil melewati Jonghyun, tapi kini Jonghyun memegang pergelangan tangannya sehingga membuat Hyomin kembali tertahan diruangan itu. Hyomin menatap Jonghyun gemas.

“ YA! Chugoshippo?!” hardik Hyomin berharap Jonghyun akan melepas tangannya. Jonghyun malah mengeluarkan senyum evil nya lalu menarik tangan Hyomin. Dengan sedikit hentakan Hyomin sudah berada di pelukan Jonghyun membuat jantung Hyomin berdetak tak karuan karena ini pertama kalinya ia melihat wajah namja dari dekat selain appa dan oppanya. Hyomin menaruh salah satu tangannya yang terbebas didepan dadanya, menahan tubuhnya agar bisa sedikit menjauh dari Jonghyun. Hyomin terus memberontak agar Jonghyun melepas kekangannya.

“ kenapa kau tidak bisa lembut sedikit saja padaku, hah?” tanya Jonghyun melembut dan memelankan suara seperti berbisik membuat Hyomin makin jengah.

“ anjoha?!” tanya Hyomin kasar lalu mendorong dada Jonghyun agar bisa terlepas dari kurungan tangan Jonghyun.

“ nae anhae!” lanjut Hyomin masih berusaha.

“ Ya~.. belum cukupkah permintaan maafku selama seminggu ini? Kau sudah membuatku gila dengan sikapmu yang acuh dan nada bicaramu yang ketus padaku! Bahkan semua tanda permintaan maafku tak pernah kau sentuh.. kau pikir aku tidak tahu kau sering memberi hadiah itu pada Jessica?” tanya Jonghyun yang sudah lelah dengan sikap yeoja didepannya.

“ kau pikir kau tidak membuatku gila dengan sikapmu itu, hah!? Aku tidak suka kau perlakukan seperti itu! Aku tidak suka dengan barang-barang pemberianmu itu! Bukankah aku sudah memaafkanmu sejak seminggu yang lalu? Apalagi maumu, hah!?” Bentak Hyomin mulai pasrah dari aksi pemberontakannya.

“ jangan pernah berbicara ketus didepanku, apalagi mengacuhkanku. yaksok?” jawab Jonghyun seraya kembali mengeluarkan smirknya karena kemenangannya menaklukan Hyomin.

“ bisakah kau lepaskan aku?”pinta Hyomin melunak, mencoba mengikuti permintaan Jonghyun kali ini agar terlepas darinya. Perlahan Jonghyun pun mengendurkan pelukannya membebaskan Hyomin. Begitupun dengan tangan Hyomin. Hyomin langsung bergerak mundur menjauh sejauh mungkin dari Jonghyun.

“ seharusnya aku melakukan hal seperti ini dari awal agar kau merubah sikapmu..” gumam Jonghyun cukup senang. Senyuman lebar pun terukir di wajah Jonghyun hanya karena ucapan Hyomin yang melunak.

“ cih.. Ya,ya,ya.. lihatlah wajahmu kini.. sebegitu senangnya kah!?” cibir Hyomin pelan membuat Jonghyun menatapnya tajam karena cibirannya terdengar.

“ bukankah kau tadi berjanji…”

“ ohh, Jeongmalyo!? Onjeee..?” potong Hyomin pura-pura terkejut lalu sedikit meledek Jonghyun di kata akhirnya.

“ eoh.. chankamman..” pekik Hyomin panik begitu Jonghyun bergegas mendekatinya, membuat langkah Jonghyun terhenti.

“ besok sore..  cafe yang ada di sebrang kampus.. jam lima..” ucap Hyomin terbata dan ragu. Mendengar ucapan Hyomin, dahi Jonghyun mengerut mencerna perkataan Hyomin tapi Jonghyun kembali tersenyum.

“ khalke khanda..” lanjut Hyomin langsung berlari keluar dari ruangan itu. Begitu Hyomin keluar, seulas senyum terukir dari bibir Jonghyun.

Jonghyun POV

“ besok sore..  cafe yang ada di sebrang kampus.. jam lima..” aku tidak salah dengar, kan? Dia mengajakku bertemu di cafe. Itu jelas membuatku bingung.

“ khalke khanda..” dia langsung berlari keluar sebelum aku sempat bertanya lebih lanjut apa maksud pertemuan besok. Aku langsung tersenyum begitu memikirkan bahwa besok aku akan bertemu dengannya diluar kampus. Hahah. Dia benar-benar yeoja yang aneh. Dia yang telah membuatku gila karena sikapnya itu belakangan ini. Dia terus saja mengacuhkanku, tapi kemudian mengajakku bertemu diluar kampus. Mungkin ini efek dari kegiatanku yang terus membuntutinya setiap hari, hingga membuat kampus heboh. Hah, biar saja. Saat ini aku sedang tertarik dengan Hyomin jadi aku tidak perduli, sangat tidak perduli dengan apa yang dikatakan mahasiswa lain. Dan kini aku telah mendapatkannya, mungkin lebih baik aku menyatakan perasaaanku padanya besok.

♫♫♫♫♫

Sudah hampir setengah jam aku menunggu Hyomin di cafe ini, tapi Hyomin tidak juga datang. Aku datang lima belas menit sebelum waktu janjian, berarti itu artinya Hyomin terlambat. tak apalah, baru lima belas menit. Aku sudah siap dengan seikat bunga mawar di bangku sebelahku yang kosong.

Cringg!!

Aku langsung menoleh ke arah pintu masuk begitu mendengar belnya berbunyi, dan disitulah aku melihat Hyomin. Dia.. aku.. aku hanya bisa menatapnya takjub. Aku sudah lupa memperbaiki tampangku yang sangat bodoh saat ini karenanya. Aku terlalu perduli dengan penampilannya yang WAH itu. Dia.. mengenakan gaun merah panjangnya nan tak berlengan itu, yang menurut ku membuat nya terlihat sangat cantik terlebih dengan dandanannya yang tak terlalu kentara serta dengan rambut nya yang digelung. Ohh, sungguh saat ini pakaianku amat sangat tidak cocok dengannya.  Ia berjalan mendekat padaku seperti sedang terburu-buru dan seperti biasa tanpa senyuman, tapi tetap membuatku tersenyum. Tak lama, aku melihat seorang yeoja yang belakangan ini ku kenal karena Hyomin. Dia si Jessica, teman sebangkunya Hyomin. Ya~ kenapa bisa ada Jessica juga? Aku menghiraukan kedatangan Jessica dan bangkit dari tempat dudukku begitu Hyomin sampai ditempatku. Aku langsung menarik kursi untuk Hyomin, ia pun langsung duduk tanpa berbasa-basi lagi. Aku kembali ketempat dudukku diikuti dengan Jessica yang sudah menarik kursinya disebelah Hyomin seraya tersenyum riang padaku. Ya~ ada apa ini sebenarnya?

“ anyeong oppa.. sudah menunggu lama?” sapa Jessica dengan riang. Aissh, bukan suara nya yang pertama kali ingin ku dengar. Aku menatap Hyomin bingung butuh penjelasan. Hyomin yang mengerti dengan tatapan ku langsung melirik jam tangannya yang bertali tipis itu dengan cepat.

“ eoh.. mianhaeyo, Jonghyun-ssi.. aku harus pergi sekarang..” ucapnya sok terkejut setelah melirik jamnya lalu beranjak dari tempat duduknya. Apa-apaan dia? Bahkan ia belum sama sekali mengucapkan salam padaku, dan sekarang ia mengatakan ingin pergi tanpa rasa bersalah? Kau mempermainkanku, Hyomin!? Aku kembali menatapnya, kali ini dengan tatapan sinis ku. Melihat itu, dia langsung gugup dan salah tingkah begitu melangkah keluar dari meja ku tapi tidak dengan wajahnya yang biasa-biasa saja.

“ kau tidak minum dulu?” tanya ku sinis dan menyindir.

“ aniyo.. aku hanya mengantar Jessica kesini.. aku ada urusan! Kalau begitu aku, pergi dulu.. annyeong..” jawabnya panjang lebar, dengan tingkahnya yang sedikit gagap membuktikan bahwa dia merasa bersalah denganku. Walau begitu tetap saja aku tidak terima. Cih, mudah nya dia berkata ‘annyeong’, dia benar-benar tidak memperdulikanku yang datang untuknya. Dia telah mempermainkanku, apa maksudnya mengajakku bertemu lalu tiba-tiba Jessica yang menggantikan. Aku mengeratkan gerahamku menahan amarahku, dia benar-benar keterlaluan. Dia terus saja menatapku dan tidak juga bergeming dari tempat nya berdiri seperti meminta ijin untuk pergi dari ku. Buat apa?! Bukankah itu yang ia inginkan? Untuk apa sungkan?! Cih, entah kenapa aku sangat marah padanya. Ya, aku marah, karena penampilannya itu bukan untukku. Pede sekali kau Jonghyun!

“ aku pikir kau sudah telat.. bukankah lebih baik kau pergi sekarang?!” tanya ku menyindirnya tak lupa dengan smirk ku.

“ eoh, kau bilang tadi kau ditunggu oppa mu? Sudah sana pergi, selamat bersenang-senang yaa.. gomawoo, Hyomin-ah..” lanjut Jessica menyetujui ucapanku. Seperti nya ucapan Jessica itu baru membuatnya sadar dari keasikannya menatapku. Oppa? Apakah yang dimaksud Jessica adalah namja chingu nya? Aissh!

“ eoh, geurae.. annyeong Jessica..” pamitnya lalu pergi dari hadapanku sambil berlari. Pandanganku tak pernah lepas mengikutinya sampai luar, sampai aku melihat seorang namja yang sedang berdiri sambil bersandar di mobil nya yang bertengger di depan kampus dengan kedua tangannya terlipat di depan dada lengkap dengan tuksedo nya. Sangat serasi dengan gaun Hyomin. Begitu Hyomin datang, tersirat keceriaan dari wajahnya. MWO!? DIA!? BRENGSEK!

Author POV

Begitu Jonghyun tahu siapa yang menjemput Hyomin, Jonghyun langsung bangun dari duduknya lalu menggebrak meja karena marahnya. Ia sudah tidak bisa lagi menyembunyikan amarahnya. Jessica yang melihat itu pun terkejut dan mengalihkan pandangannya kearah yang sama dengan Jonghyun membuatnya mengangguk perlahan tanda mengerti. Jessica hanya berpikir bahwa Jonghyun cemburu dengan Hyomin yang pergi bersama dengan yang tadi disebut Hyomin adalah oppanya. Jessica sendiri pun menyangkanya dia adalah namja chingu Hyomin, bukan oppa kandungnya. Padahal Jonghyun begitu karena mengenal baik siapa namja yang bersama Hyomin, membuat Jonghyun makin panas karenanya.

“ oppa, aku tak menyangka kau mau datang ke cafe ini.. padahal aku hanya bercanda meminta kau datang, lewat Hyomin..” jelas Jessica tak peduli dengan sikap Jonghyun yang masih memandang jendela kafe, membuat Jonghyun tersadar dari lamunannya dan kembali duduk ketempat duduknya, butuh beberapa menit untuk Jonghyun mencerna ucapan Jessica.

“ mworago?”  tanya Jonghyun telat menyadarinya dengan terkejut. Jessica pun ikutan mengerutkan dahinya karena ikut bingung. Lalu tak lama membuat Jessica tersenyum miris.

“ eoh? Sepertinya Hyomin tidak bilang bahwa aku yang memintamu datang ke cafe ini, bukan Hyomin..” jelas Jessica yang sepertinya mengerti akan kekecewaan Jonghyun setelah ditinggal Hyomin. Wajahnya langsung berubah kecewa, mengetahui Jonghyun datang untuk Hyomin.

“ mianhaeyo, oppa.. aku sudah membuatmu kecewa, harusnya aku tidak menyuruh Hyomin..” ucap Jessica penuh rasa bersalah, Membuat Jonghyun menatapnya tak tega.

“ gwenchana.. kau mau memesan apa? Mari kita makan..” ucap Jonghyun sekilas lalu memanggil pelayan yang tak jauh dari mereka. Begitu pelayan menghampiri mereka, Jonghyun langsung memesan minuman kopi saja, sedang Jessica memesan cake. Setelah pelayan itu pergi, Jonghyun mengeluarkan bunga yang tadinya ingin Jonghyun berikan pada Hyomin lalu ia sodorkan pada Jessica. Padahal bunga ini sangat cocok dengan gaun Hyomin, pikir Jonghyun. Sepintas terlihat jelas Jonghyun kembali kecewa karena Hyomin.

“ untukku? Whoa, jeongmalyeo?” pekik Jessica tak percaya. Menerima bunga itu dengan senyum yang pertama kali Jessica perlihatkan saat masuk ke cafe ini, namun tadi sempat menghilang karena ikut kecewa.

“ ahh, bukankah ini untuk Hyomin, oppa? lebih baik kau berikan saja padanya..” lanjut Jessica lagi tapi kali ini dengan wajah murungnya, ia kembali menyodorkan bunga itu pada Jonghyun.

“ hemm, sebenarnya bunga itu tepatnya untuk seseorang yang mengajak ku bertemu.. karena kau yang mengajak ku bertemu.. jadi, ambillah..” ucap Jonghyun seraya tersenyum. Ingin menghibur Jessica karena tak ingin membuat Jessica lebih kecewa lagi. Jonghyun tahu pasti tadi Jessica berharap ia benar-benar datang untuknya. Ucapan Jonghyun membuat Jessica menarik kembali bunga itu.

“ oppa, aku sangat tau kalau kau menyukai Hyomin.. aku sudah tau sejak pertama kali kita bertemu.. maafkan aku, karenaku oppa pasti mengira dan berharap akan mengobrol berdua dengan Hyomin saat ini.. aku janji oppa, aku akan membantumu untuk mendapatkan Hyomin..” ucap Jessica panjang lebar, dari ekspresi murung hingga kembali ceria.

“ it’s ok, Jessica.. mungkin lebih baik aku berhenti mengganggunya..” ucap Jonghyun tanpa sadar.

“ kau menyerah, oppa?” goda Jessica terkekeh.

“ eii, oppa.. kau baru mendekatinya selama seminggu, dan langsung menyerah? Cepat sekali, oppa.. aku akan membantumu, tenang saja..” ucap Jessica kembali meyakinkan Jonghyun. Sekilas, Jonghyun tampak berpikir keras lalu menggeleng cepat, mengingat ia tak mungkin melepaskan Hyomin begitu saja. Apalagi dengan namja yang ia liat barusan

“ geurae? Joa.. kalau begitu, kau harus membantu ku untuk mendapatkannya!” seru Jonghyun serta senyum liciknya diikuti dengan anggukan cepat dari Jessica.

“ kenapa kau mau membantuku, Jessica?” tanya Jonghyun langsung karena penasaran Jessica ingin membantunya, padahal sudah jelas-jelas Jessica menerima perlakuan Jonghyun yang mengatakan bahwa Jonghyun tak ingin diganggu Jessica. Jessica memutar bola matanya, seperti ragu akan mengatakan atau tidak.

“ hemm, aku adalah fans oppa.. sudah lama kau menjadi idola ku..” jawab nya membuat Jonghyun bingung. Jonghyun menggaruk pelipisnya bingung, seingat Jonghyun ia baru mengenalnya.

“ jeongmalyo?” tanya Jonghyun meyakinkan.

“ eum! Pokoknya aku fans oppa, deh..” seru Jessica lalu memakan cakenya. Jonghyun pun ikut meminum kopinya. Baru saja Jonghyun meletakkan cangkirnya, handphone nya berdering. Tertera di layar, eommanya meneleponnya yang menurut Jonghyun sangat tumben sekali.

“ maaf Jessica, aku angkat telpon dulu, ya..” ucap Jonghyun pada Jessica diiringi dengan anggukan Jessica.

Hyomin POV

Aku langsung menggigit kuku ibu jariku dengan gugup begitu masuk ke mobil oppa. hari ini benar-benar hari kematianku. Aku dengan beraninya menipu sunbae gila itu. Ahh, anhi.. aku tidak menipunya, salah dia sendiri yang mengira bahwa yang akan bersamanya adalah aku. Lagipula ini yang terakhir kali nya aku memanfaatkannya karena permintaan Jessica. Aku tidak tega ketika Jessica berkata ingin sekali makan berdua bersama sunbae gila itu, tapi tentunya jika aku bilang bahwa yang ingin bertemu dengannya adalah Jessica, apakah ia akan datang? Aku hanya tidak tega pada Jessica jika ia sampai tidak jadi bertemu dengan sunbae gila itu, mengingat ia begitu memohon-mohon untuk mempertemukannya dengan sunbae gila itu. Ahh, senyumannya pada saat aku memasuki cafe benar-benar membuatku merasa bersalah dengannya. Senyumannya itu selau membuatku tak tega, dan yang lebih mengejutkanku ia terlihat begitu marah, begitu tahu bahwa bukan aku yang akan menemaninya. Ahh, otte!? Aku hampir saja mengacak-acak rambutku yang sudah digelung rapi oleh eomma, jika tangan oppa tidak menahan tanganku. Mengetahui oppa memegang tanganku, aku langsung menatapnya bingung. Darimana ia tahu kalau aku ingin mengacak rambutku?

“ kasihan eomma kalau kau sampai mengacaknya..” ucap oppa santai, sambil bersandar ke pintu, kulihat ke depan ternyata lampu merah, pantas saja ia bersantai.

“ aku bukan ingin mengacaknya..” jawabku salah tingkah, melepas tangan oppa yang memegang tanganku.

“ hanya ingin merusaknya?” tanya nya penuh selidik, membuatku menatap sebal padanya.

“ anhi!” tegasku marah.

“ yasudah, kalau tidak kenapa kau harus marah-marah seperti itu..” cibirnya. aku tahu saat ini oppa sedang meledekku. Ia langsung memegang kemudi dan kembali mengendarai mobil nya begitu lampu sudah berubah menjadi hijau.

“aku hanya sedang gugup karena akan berdansa nanti..” jelasku mengalihkan pembicaraannya agar ia tidak banyak tanya, sekaligus aku memang gugup karena tidak begitu mahir berdansa. Sudah kubilang kan, yang berhubungan dengan klasik itu amat rumit! Oppa sudah menyuruh untuk berdansa nanti. Bagaimana jika nanti aku malah menginjak pasangan dansaku. Huhf, pasti akan sangat memalukan. Apalagi jika semua orang yang ada didalam gedung itu mengetahui, aku adalah anak seorang Park Kahi-sang Ratu dansa.

“ aku tahu masih ada alasan lain, yang membuatmu mengacuhkanku sejak kau masuk ke mobil!” seru oppa menyerangku. Benarkah? Aku menoleh tak percaya padanya nya, sedangkan dia hanya melirik kesal padaku.

“ sudah sampai..” ucapnya dengan nada kesal, lalu dengan segera melepas seat belt nya dengan kasar langsung keluar dari mobil. Ia berjalan memutar dengan aura marah di wajahnya, membuka pintunya dan mempersilahkanku untuk keluar lengkap dengan mannernya layaknya seorang bangsawan inggris yang menjemput tuan puterinya. Ia selalu saja begitu, penuh manner dengan wanita. Tak heran banyak wanita yang kecentilan mendekatinya. Aku turun dari mobil sambil menyambut tangannya yang terulur. Kami berjalan menuju ball room gedung tersebut. Sebelum memasuki ball room kami diberikan dua buah topeng mata oleh penerima tamu, aku menyambutnya dengan senyuman, begitu pun oppa.

“ aku yang mengusulkan untuk memakai topeng..” jelas oppa, ya biasanya aku yang selalu mengusulkan agar pestanya menjadi pesta masquerade jika kami adalah tuan rumah. Gara-gara sunbae gila itu, aku lupa mengurusi acara malam ini hingga harus oppa yang mengaturnya. Oh, iya.. acara ini ditujukan untuk penyambutan kepulangan appa dan eomma ke Korea setelah appa melaksanakan konser kelilingnya di Eropa, begitu pun eomma yang mengadakan konser balet tunggal di Eropa selama sebulan. Aku pun sempat menonton konser mereka berdua selama seminggu disana sebelum memasuki acara masa orientasi siswa. Sesampainya di dalam ball room yang megah itu, langsung terdengar musik klasik yang mengalun indah menyambut kami. Beberapa pasang tamu terlihat sudah mulai berdansa.

“ sebentar lagi parade dansa akan segera dimulai..” bisik oppa padaku yang sepertinya lupa kalau ia sedang marah padaku, sejak memasuki ballroom. Parade dansa biasanya masuk dalam run down acara. Memang biasanya selalu diletakkan di awal acara, dan biasanya parade dansa bergenre tango dengan tempo pelan. Aku selalu menghilang pada saat parade dansa, kali ini oppa melarang ku. Gugup kembali menyerangku, biasanya di tengah-tengah dansa kita akan selalu berganti pasangan selama tiga kali. Oppa sudah mengatur tempat berdiri ku agar pada saat pergantian pasangan aku bisa mendapatkan oppa dan appa. Aku sudah tidak perduli siapa pasangan terakhirku. Ahh, jangan sampai saja aku yang menjadi pedansa utama pada saat terakhir, jika iya matilah aku. Ada jeda ketika akan menunjuk pedansa utama, karena pedansa utama ditunjuk random dari lampu panggung diatas ball room. Biasanya lampu utama akan dimatikan terlebih dahulu.

“ tenang saja, kau pasti bisa.. dansa kali ini akan berbeda..” oppa menenangkanku ketika merasakan langkah gugupku disampingku. Mata kami terus saja mencari appa dan eomma. Walaupun tidak begitu banyak tamu, tetap saja sulit mencari nya ditempat seluas ini.

“ mwo!? Berbeda!? Bagaimana aku bisa tenang, oppa!?” pekikku tertahan.

“ kau pasti suka.. parade dansa kali ini spesial untukmu..” ucap nya seraya tersenyum jahil seraya memberikanku wink. Dasar iseng, apa  yang direncanakannya kali ini, hah?! Baru saja aku akan protes, trompet yang menandakan parade dansa akan dimulai sudah berbunyi. Kulihat oppa kini malah terkekeh geli dan melepasku. Ya~ bahkan kita belum menemukan appa dan eomma. Jika trompet sudah berbunyi, maka semua orang yang berada di dalam ball room harus mulai mengambil posisi. Aku langsung berdiri tak jauh didepan oppa, mengikuti para yeoja-yeoja. Kulihat kesamping dan menemukan eomma yang berdiri tak jauh dari ku dan melambaikan tangannya, kuarahkan pandanganku ke depan eomma dan melihat appa berdiri dengan gagah nya disitu seraya tersenyum padaku. Pasti mereka yang akan menjadi dancer utama, mengingat acara ini ditujukan untuk mereka. Aku gugup, dan musik pun mulai bergema. Ehh? Aku memiringkan kepalaku, menerawang lagu yang baru saja di putar. Hey, ini bukan musik yang biasanya. Bukankah ini musik pengiring tarian salsa? Mengetahui bahwa intro musik itu adalah untuk tarian salsa, senyumku melebar. Aku sedikit banyaknya mengerti salsa melebihi dansa bergenre lainnya, karena salsa lumayan energik. Aissh, tapi gaun ku ini terlalu panjang!Aku mulai melangkah mengikuti yeoja-yeoja sekitarku. Pertama-tama aku ragu, apakah parade dansa kali ini benar-benar tari salsa? Aku tidak ragu lagi melihat para tamu menarikannya, membuatku leluasa. Kini aku sudah sampai di pelukan oppa sambil berdansa. Oppa tersenyum penuh kemenangan, aku tahu maksud senyumannya itu karena ia berhasil membuatku terkejut dengan kejutannya.

“ haengbokkhae?” tanya nya seraya tersenyum manis. Aku mengangguk ceria.

“ gomawoo..” balasku. Aku terus berdansa, hingga pergantian pasangan pun dimulai. Masih dengan musik yang sama oppa melepasku, aku berputar mengitari tamu namja dua kali hingga akhirnya appa menyambutku dan kami kembali berdansa.

“ glad to see you in the dance floor, princess..” ucap appa seraya merangkul pinggangku. Ia terus saja tersenyum membuatku mau tak mau ikut tersenyum juga karena pesona nya.

“ thanks..” ucapku melepas appa untuk memberi hormat ala puteri kerajaan inggris disela kami berdansa. Aku pun tak lama berdansa dengan appa, karena tanda pergantian pasangan sudah datang. Appa melepasku, lagi aku berputar mengitari tamu namja dua kali hingga akhirnya seorang namja yang merupakan pasanganku menyambutku dan lagi kami kembali berdansa. Aku tidak dapat mengenali wajahnya, karena topeng yang ia pakai hampir menutupi seluruh wajah membuatku hanya tersenyum sangat manis. Ahh, biarlah. Toh, musik akan segera berhenti, tapi entah kenapa namja ini membuat firasatku buruk. Lampu utama mulai dimatikan, itu artinya pemilihan pedansa utama akan dimulai perlahan musik pengiring pun berganti dengan musik yang berasal langsung dari kru orchesta milik appa. Kami yang ada di ball room mulai menghentikan dansa kami. Hingga akhirnya, lampu panggung berhenti memilih tepat diatas kepalaku. MWO!? Ck, ini pasti oppa yang punya rencana busuk. Begitu terpilih, para pedansa lain mulai menyingkir dari lantai dansa. Aku dan pasangan ku sudah tepat berada di pusat perhatian mereka. Mati AKU! Benar-benar MATI! Argh, otte? Masih dengan tanganku yang digenggam pasanganku, aku menoleh mencari oppa di sekitarku. Kutemukan ia sedang asik terkekeh bersama eomma dan appa. Ingin rasanya aku berlari menuju mereka. Ck! Decakku pelan. Aku kembali mengalihkan pandanganku pada namja didepanku ini lalu tersenyum dengan tak ikhlas. Kudengar intro musik mulai mengalun pelan sebelum memberikan tanda kami harus berdansa. Bust your window-Jazmine Sulliva.Aku memang tidak begitu mahir menari tango, tapi aku tahu bagaimana cara menarikannya persis seperti film Step Up yang pernah ku tonton bersama oppa dan langsung ku coba sepulangnya.Aku begitu sering menarikannya dengan oppa sehingga aku merasa percaya diri, aku kembali menoleh ke arah oppa seraya mengeluarkan senyum manisku dan memberi sedikit hormat lagi-lagi ala tuan puteri, oppa pun membalasnya masih dengan senyum kemenangannya. Masih di intro, sebelum berdansa kami harus melepas topeng terlebih dahulu. Aku, perlahan melepaskan topengku dan terkejut melihat namja di depanku ini. Dia bisa membuat ku mati berdiri. Lampu utama kembali dinyalakan membuat ku makin yakin dengannya. Dia KIM JONGHYUN- si sunbae gila! siapa yang berani-beraninya mengundangnya, hah!? Melihat keterkejutan ku ia malah mengeluarkan senyum evilnya. Intro berakhir, ia mengulurkan tangannya. Dengan ragu aku menyambutnya, begitu mendapat tanganku ia langsung menarikku kasar kedalam pelukannya. Membuatku terkejut.

“ kumohon jangan membuatku terjatuh disini..” bisikku pelan. Dia malah mendengus remeh. Gerakan ku mulai tidak lancar karena takut dengannya. Aku takut  berbuat salah dan melakukan hal fatal. Ya tuhan, semoga aku tidak melakukan kesalahan fatal hingga akhir.

Jonghyun POV

Aku memasuki ballroom ini setelah menerima sebuah topeng dari orang front door. Astaga, apakah ini adalah pesta masquerade? Dasar eomma, benar-benar berniat menjebakku. Aku ke tempat ini hanya karena perintah eomma yang menyuruhku untuk segera kemari menggunakan tuksedo ku, tanpa tau acara apa yang ku hadiri. Aku pun sampai pas ketika musik intro parade dansa berbunyi jadi aku langsung mengambil posisi tanpa mencari eomma dan appa. Itu juga karena didorong oleh seorang tamu yang tak ku kenal, padahal suasana hati ku masih belum membaik karena tadi sore. Semua karena namja yang menjemput Hyomin. Namja yang ku kenal baik sebagai namja chingu noona ku. Namja yang kukenal baik reputasi nya. Namja yang kukenal takkan menyakiti hati wanita. Namja yang ku kenal baik mannernya pada wanita. Lantas kini? Hah, ia membuatku makin marah padanya. Aku memang menghargai nya sebagai hyung ku sendiri walau aku sering iri padanya karena selain yeoja yang ku suka selalu lebih tertarik padanya, ia pun selalu lebih baik daripadaku. Ia selalu membuatku dibanding-banding kan karena kemampuannya. Aku yang selalu jadi nomor dua karena nya, menjadi replikanya. Yah, dia memang lebih baik daripadaku. Aku mengenal nya sejak kecil, appaku dan appanya berteman baik. Ia hanya tua setahun dariku. Kami sempat satu sekolah saat SMP dan SMA. Waktu SMP kami bersekolah di Jepang, dan waktu SMA kami bersekolah di Itali walau ia mengambil kelas akselerasi dan lulus lebih cepat daripada seharusnya karena harus pindah ke Amerika. Kami memang selalu bersama karena appa kami. Penyebab kepindahan nya ke Amerika pun aku tak tahu pasti, yang jelas ia tidak bersama dengan appanya, karena appa nya masih dengan ku di Itali waktu itu. Waktu itu yang kudengar selintas dari appa, dia pindah karena ingin menemani dongsaengnya yang bersekolah disana. Walaupun ketika kami di Jepang aku satu sekolah dasar dengan dongsaengnya, tetap saja kami tidak pernah bertegur sapa dengannya hanya mengenalnya karena pada saat itu juga aku belum begitu dekat dengan hyung yang sudah masuk SMP. Oh ya, aku sempat menolong dongsaeng nya sekali pada waktu perlombaan seni klasik junior saat aku di Korea tepat saat libur tengah semester. Pada waktu itu, aku datang karena penasaran dengan permainan dongsaengnya. Beberapa bulan sebelum pertandingan itu, appa menjadi juga menjadi juri pada perlombaan yang diikuti oleh dongsaengnya. Waktu itu, aku tidak ikut appa karena masih ada pelajaran tambahan disekolahku usai ujian. Appa pulang hanya membawa kaset rekaman suara dari para pemenang yang diberikan oleh panitia. Saat itu juga aku tertarik mendengar permainan dongsaengnya itu hingga membuatku langsung memutuskan untuk ikut dengan appa ketika tahu bahwa dongsaengnya kembali mengikuti perlombaan. Aku cukup kecewa saat itu, karena ia tidak bermain seperti yang waktu itu kudengar. Walau pun aku hanya mendengarnya dari rekaman, aku bisa merasakan kegembiraan dalam nada-nada permainannya. Sejak saat itu, aku tak pernah dengar kabar lagi tentang dongsaengnya itu. Terakhir kudengar ya itu, ia diasingkan ke Amerika. Sejak Junsu hyung-namja itu pindah ke Amerika, aku sama sekali tidak mendengar kabar apapun tentangnya. Hingga enam bulan yang lalu kudengar ia menjadi namja chingu noonaku. Aku langsung menyetujui nya karena yakin dengan Junsu hyung yang tak akan menyakitinya. Walau aku sering memukulinya karena kesal, tapi aku terbilang cukup dekat dengannya. Kali ini pun ia kembali membuatku kesal. Sudah punya noonaku, ia masih saja mendekati Hyomin. Ah, matta! Aku baru ingat! Bukankah dongsaengnya juga bernama Hyomin? Atau jangan-jangan Hyomin adalah dongsaengnya? Tapi jika Hyomin memang benar adalah dongsaengnya, kenapa bisa tidak ada berita tentang nya? Waktu hyung kembali dari Amerika saja, banyak berita yang beredar. Lagipula, appa juga tidak memberitahu ku jika hyung kembali ke Korea bersama dongsaengnya. Jadi, apakah ia benar-benar namja chingu Hyomin atau oppa kandungnya Hyomin? Sampai ku tahu ia benar-benar namja chingu nya akan ku hajar dia, karena telah membuat noonaku dan Hyomin terluka. Aku tahu Hyomin pasti bukan yeoja yang merebut pacar orang sembarangan. Membuatku makin kesal, karena dandanan Hyomin tadi sore bukan ditujukan untukku, tapi untuknya. Issh!

♫♫♫♫♫

Pada pergantian pasangan yang ketiga, aku mendapatkannya. Aku mendapatkannya di tanganku. Dia sudah berada digenggamanku. Yeoja yang membuatku kesal tadi. Ia memberiku senyum manisnya yang belum pernah ia tunjukkan padaku. Aku tahu, pasanganku adalah Hyomin melihat dari gaun yang tadi ia pakai dan mencium aroma tubuhnya. Ia masih belum mengetahui bahwa pasangannya adalah aku. Saat ia manis seperti ini, membuat ku lupa akan tingkah lakunya di cafe tadi yang membuatku kesal. Parade dansa pun berakhir, saatnya pemilihan pedansa utama. Pilihan jatuh pada kami, sesaat kedua tangannya yang masih kugenggam langsung menegang. Para pedansa lain mulai menyingkir. Masih dengan tangannya digenggamanku, kepalanya berputar mencari dan berhenti di satu titik, aku pun mengikuti pandangannya. Ternyata ia mencari namja yang tadi menjemputnya – Park Junsu yang sibuk terkekeh bersama keluarganya. Melihat itu, aku kembali berharap bahwa Hyomin benar-benar bagian dari keluarga Park. Ia mendecak pelan sebelum kembali menatapku lengkap dengan senyum tak ikhlasnya, yang biasa ia tunjukkan padaku. Ia kembali menjadi Hyomin yang kukenal. Kenapa?! Sikapnya ini kembali membuatku ingat akan kekesalanku. Apakah dia sudah tahu pasangannya adalah aku, makanya ia kembali bersikap menyebalkan? Kurasa tidak, karena begitu mendengar intro yang berbeda dari yang biasanya senyum lebar kembali terukir di bibirnya untukku. Tak lama ia beralih menoleh ke Junsu hyung tersenyum lebih manis padanya, membuatku makin kesal. Membuatku makin yakin mereka pasti mempunyai hubungan yang dekat, entah itu antara adik kakak atau sepasang kekasih. Walaupun seandainya, Junsu hyung memang oppa kandungnya. Tetap saja aku tak rela melihat Hyomin tersenyum manis padanya. Ingat, dia masih rival terberat ku. Saat melepas topeng, Hyomin menatapku terkejut. Senyum yang tadi terpancar langsung menghilang. Aku pun mengeluarkan senyum evilku. Baru kah ia sadar sekarang?  Selesai intro, aku mengulurkan tanganku padanya dan ia menyambutnya ragu. Aku menarik tangannya dengan sedikit tenaga sehingga membuatnya terlempar ke pelukanku. selama beberapa menit kedepan, kau menjadi milikku.

“ kumohon jangan membuatku terjatuh disini..” bisiknya pelan membuat ku mendengus remeh. Gerakan nya tak selincah tadi, membuatnya berkali-kali terlambat memasuki tempo. Itulah yang membuatku terlihat seperti melempar dan menariknya dengan kasar karena harus memburu tempo. Kalau saja aku tidak berbuat seperti itu, tarian kami pasti akan hancur berantakan. Sesekali ia merasa tersiksa. Melihat nya lemah seperti ini membuatku kembali merasa bersalah.

“ apakah kau merasa bersalah padaku, sehingga membuatmu gugup?” godaku pelan, malah memperburuk suasana. Ia hampir saja terjatuh, jika aku tidak melakukan gerakan terakhir dalam posisi merangkulnya seraya sedikit membungkuk. Saat itu, rasanya waktu berhenti berputar. Hanya terdengar suara deru napas kami karena tari itu. Aku menatapnya lama, begitupun dengannya.

“ bisakah kau melepasnya, untukku?!” pinta seseorang dengan sarat marah yang suaranya sudah kukenal, membuyar lamunan indahku tentang Hyomin. Aku beralih pada Junsu yang sedang menatapku berapi-api. Tangannya sudah memegang lengan Hyomin, tinggal minta persetujuanku untuk menariknya dariku. Kami langsung berdiri ke posisi awal, seraya membungkuk kaku pada para penonton yang masih menyaksikan hingga akhir, lengkap dengan sang perusak suasana.

“ YA! Neo..”

“ oppa..” marahnya tertahan karena disela oleh Hyomin yang kini juga menatapnya memohon. Junsu hyung langsung menoleh ke Hyomin diikuti dengan gelengan pelan dari Hyomin. Ck! Aku tak tahan melihatnya bemesraan didepanku. Seseorang, tolong jelaskan padaku apa hubungan Junsu hyung dengan Hyomin!!

“ ikut aku!” perintahnya padaku langsung berjalan tergesa, tak sadar tangannya yang menggenggam lengan Hyomin membuat Hyomin terseret paksa karena susah payah mengimbangi jalannya dengan Hyomin. Ku edarkan pandangan ke sekitar, sebagian besar dari mereka masih saja ‘menonton’ kami. Tak sedikit dari mereka adalah mahasiswa Art, wajarlah karena rata-rata mereka memang biasa menghadiri pesta seperti ini. Begitu aku mengedarkan pandangan pada mereka, mereka langsung mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Pura-pura tidak terjadi sesuatu, padahal aku tahu besok pasti akan heboh di kampus. Akibat ulahnya. Junsu hyung membawaku dan Hyomin sampai di balkon ballroom lalu langsung menutup pintu balkon, sehingga tak akan ada yang tahu apa yang kami perbuat. Setelah pintu ditutup, Junsu hyung langsung menghampiriku siap dengan tinju di tangannya tapi segera ditahan Hyomin.

“ Oppa! keumanhae!” pekik Hyomin marah dan Junsu hyung langsung menurut.

“ beraninya kau berbuat kasar padanya!” ucapnya tajam, menghentak tangan Hyomin yang tadi menyelanya.

“ oppa! ia tidak bermaksud melakukannya, ia hanya membantuku. Neo, arra!?” omel Hyomin.

“ tapi tetap saja caranya..”

“ menurutmu apa yang barusan kau lakukan, hyung? Menariknya tanpa perduli betapa susahnya ia menyusul langkahmu! Itu kah kelakuan seseorang yang mempunyai manner terhadap wanita!?” potongku tak kalah tegas. Dia terlihat keki, perlahan tergerak mundur. Melihat itu, Hyomin malah menatap ku tajam seolah aku salah ucap. Ya~ jadi kau lebih membelanya. Aku tidak suka kau membelanya!

“ kau pikir aku tidak tahu, kau yang membuatnya pingsan di hari pertama nya masuk sehingga membuatku bertengkar dengannya..” seru Junsu hyung kembali mendekat, bisa kurasakan ia lebih marah kali ini. Baru kali ini, aku melihat nya penuh emosi. Biasanya aku yang terlebih dahulu emosi. Sebegitu sayangkah ia pada Hyomin, lalu bagaimana dengan noonaku? Bagaimana kalau ternyata, ia benar-benar namja chingu Hyomin? Cih, dia begitu bajingan.

“ dan kau.. beraninya kau menyentuhnya! Dia milikku, arra!?” makinya lalu mendorongku hingga membentur pagar balkon. Milikku!? Mendengar pernyataan nya seperti itu, kembali membuat diriku berasumsi bahwa dia adalah namja chingu Hyomin. Dan itu membuat ku geram!

“ oppa! jebal.. keumanhae..” bentak Hyomin bersusah payah melepas tangan Junsu hyung dariku.

“ tidak bisa! Dia harus merasakan tinjuku dahulu, karena sudah berani berbuat macam-macam padamu!” bantah Junsu hyung. Aku hanya bisa tenang menanggapinya, entahlah mungkin aku punya kartu mati untuk Junsu hyung sebelum aku menghajarnya karena telah berani menduakan noonaku.

“ dia milikmu? Lalu bagaimana dengan noonaku?! Beraninya kau menduakannya! ” tanya ku santai, membuat Junsu Hyung melepaskan pukulannya. Aku pun tak mau kalah, aku membalasnya dengan dua kali pukulan membuat sudut bibirnya robek.

“ Ck! Bicaramu sungguh sopan, KIM JONGHYUN!” hardiknya, tak lagi memegangiku.

“ noona nya? Nugu, oppa?” tanya Hyomin mulai memandang tak fokus, antara aku dengan hyung. Nah, kan! Kau tidak bisa menghindar lagi.

“ kau tidak perlu tahu!” jawab Junsu hyung lalu berlanjut memukulku kali ini membuat sudut bibir kiriku robek.

“ kau memang benar-benar perusak suasana untukku!” ucap hyung marah, aku hanya tersenyum mengejek. Rupanya Hyomin benar-benar belum mengetahuinya.

“ yeoja chingu mu, oppa? sejak kapan?” tanya Hyomin marah. Terlihat dari ekspresinya yang sangat jelas terbaca.Yang ditanya malah menghela napas panjang. Jadi, benarkah hyung adalah namjachingumu? Melihat kau begitu marah karenanya. Junsu hyung melepaskan pegangannya padaku beralih pada Hyomin.

“ marhaebwa, oppaa..!” rengek Hyomin manja karena tidak juga dijawab oleh hyung. Ini juga kali pertama aku melihat Hyomin merengek manja, yang malah menurutku adalah aegyonya karena dia terlihat sangat lucu.

“ 6 bulan yang lalu..” komporku sambil bersandar di pagar balkon, ingin tahu reaksi hyung. Hyung hanya menatapku tajam seakan ingin menelanku hidup-hidup.

“ m.. MWO!? MWORAAGO!? Y.. Ya~.. Whoaa.. oppa, jeongmal.. “ Hyomin tak sanggup lagi berkata-kata menanggapinya. Kulihat hyung sudah mulai gugup mengetahui reaksi Hyomin. Apakah aku keterlaluan? Kurasa ia memang pantas ku bongkar rahasianya, jika ia memang benar-benar namja chingu Hyomin. Jika Hyomin memang dongsaengnya, tidak mungkin ia tidak mengetahui bahwa oppa nya sudah memiliki kekasih. Mengingat bahwa Junsu hyung sangat begitu dekat dengan dongsaengnya.

“ Hyomin, jinjja aniya..” jelas Junsu hyung berusaha memberi penjelasan pada Hyomin, menyentuh lengan Hyomin perlahan agar meyakinkan Hyomin untuk percaya padanya.

“ chagiya..” ucap Junsu hyung melas. Mwo, chagi?!

“ mwo? Chagi? Ucapkan saja pada chagimu sana! Sejak kapan kau memanggil ku chagi, hah!? Enam bulan kau membohongiku..” ucap Hyomin kasar, menggunakan bahasa yang kasar juga. Hyomin sudah ingin pergi, tapi ditahan oleh hyung.

“ YA! Park Junsu! GET ME OFF!” Hyomin benar-benar murka. Dia mengerikan sekali hingga membuat hyung hanya menurut saja.

“ Joa.. kalau itu maumu! Tak usah hiraukan aku lagi!” tegas Hyomin seraya menunjuk-nunjuk muka hyung dengan telunjuknya lalu pergi masuk ke dalam ballroom. Orang-orang yang ada di ballroom sekilas mengintip kami yang sedang di luar. Aku yang sedang lengah melihat para tamu lain, membuat hyung meninju ku lagi.

“ kau terlalu banyak bicara, KIM JONGHYUN!” Tegas nya marah. Kulirik kedalam, banyak tamu yang melihat dia memukuliku dan mulai berbisik-bisik. Sungguh dia bukan Park Junsu yang kukenal. Dia memukulku hanya karena wanita. Padahal biasanya jika masalah wanita, ia akan mengalah padaku.

“ kau memukulku hanya karena yeoja itu?! Bagaimana dengan noonaku!? Kau menduakannya!?” tanyaku protes tersulut amarah lalu teringat kembali akan perkataan Hyomin tentang membohonginya enam bulan, itu kan berarti ia sudah mengenal Hyomin selama enam bulan, atau mungkin lebih. Kalau memikirkan itu, membuatku benar-benar marah.

“ neo, jinjja molla?!” tanyanya balik penuh emosi, dia sedikit melonggarkan dasinya. Baru saja ia ingin memukulku lagi, appa dan eomma nya datang menghampiri. Appanya berusaha menenangkannya, sedangkan eommanya menyuruh ku untuk ikut dengan nya keruang ganti mengobati lukaku. Haah, sepertinya ini akan jadi malam yang panjang. Bagaimana caraku memberitahu noona? Apakah aku harus memberi tahunya?

Hyomin POV

Great! Oppa sudah mempunyai yeoja chingu tanpa sepengetahuan ku. Ditambah lagi, sudah enam bulan dia berpacaran dengan noona nya si sunbae itu. Dia benar-benar membuatku muak. Harus kuakui, aku harus berterima kasih kepada sunbae gila itu yang telah membongkar rahasia oppa, tapi kenapa harus disaat seperti ini!? Disaat oppa sedang bersikap romantis dan manis padaku. Aissh! Lagi-lagi kedua orang itu kompak sekali dalam hal membuat ku kesal. Aku masuk keruang ganti, bermaksud ingin berganti pakaian yang tadi kutinggal sebelum pergi ke cafe dan berencana untuk langsung pulang walaupun acara masih diawal. Saat resleting bajuku sudah sepenuhnya terbuka, ada seseorang masuk. Ahh, aku lupa mengunci pintunya. Aku langsung menoleh kebelakang, mendapati oppa ku masuk membuatku tersentak kaget dan marah. Saat ini aku benar-benar tidak ingin melihatnya. Ia tampaknya heran melihat resletingku terbuka. Aku langsung kembali menaikkan resletingku yang susah payah ku gapai. Mengapa bisa kubuka tapi memasangnya kembali susah sekali. Oppa mendekatiku, membalikkan tubuhku gemas melihatku susah payah menggapai resleting. Ohh, bodohnya kau Hyomin. dia membantuku memasang resleting itu kembali. Ck, sangat tidak keren.

“ neo.. mwo haesso?” tanyanya menyelidik, sepertinya menangkap apa yang akan kulakukan selanjutnya.

“ kau sudah ingin pulang!?” tanyanya dengan nada kesal. Aku hanya mencibir lalu duduk di bangku rias. Neottaemunae!

“ hanya karena masalah sepele, kau tega meninggalkan acara untuk orangtuamu, Hyomin!?” titah nya. Apa? Sepele katanya!? Aku langsung melirik nya dengan tajam.

“ kau pikir hanya karena ingin berpacaran dengan dia, kau membohongiku.. apa itu tidak tega!?” omelku. Aku kembali bangkit dari tempat dudukku. Sudah muak dengan tingkahnya, malas berbicara lagi dengannya. Aku membuka pintu ruang ganti dan meninggalkannya sendiri. Enam bulan ia membohongiku!? Itu artinya ia sudah pacaran saat kami di Amerika. Kenapa aku tak pernah tahu? Aku rasa aku mengenal semua chingu oppa. Siapa yeoja itu sebenarnya?

TBC

Annyeong!! gimana dengan Part 2 nya kali ini? bingung? butuh penjelasan? kurang jelas? apa malah gaje? silakan di comment saja.. biar tak jawab semua kebingungannya. kekeke ~.. wong kadang aku aja masiih suka bingung.. hahah.. kidding –v

buat yang udah RCL gomawoo yaa ;);)

9 responses to “OPPA VS SUNBAE [Part 2]

  1. hahahaha.. Jonghyunnya odong, itu apa lagi si tante junsu manggil2 hyomin chagi? -_-

    eh, ceritanya agak muter2 ya? menurutku banyak adegan yang memperlambat tempo cerita, atau emang sengaja dibikin lambat? mian ya..

    overall daebak kok! keren! lanjut ya?

    • kekeke~
      itu chagi2 an biar memperkuat asumsi nya si jjong.. haha..
      muter2 di jjong yg berasumsi ya? kek ny sii yg itu.. soalny aku jg ngerasa gtu.. cuma demi membuat alasan logis gmn si jjong n Hyomin nya ini saling kgk inget.. kekeke~
      adegan yg mna? pas di kafe ato yg di ball room? miaaan yaa, aku mikirnya takut kecepetan, jd tak jelasin ampe panjang lebar bikin lelet.. hahah.. gomawoo ya, atas komennya yg membangun.. pastii dilanjut kok.. 😉

  2. Pingback: OPPA VS SUNBAE [Part 4] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s