I HATE YOU [Part 1]

 

Title : I Hate You [Part 1]

Author : ontebiijjang

Main Cast(s)

Lee Jinki / Onew (SHINee)
Park Hyunna (Hyunnah 4 Minute)

Other Cast(s)

Park Yoochun (JYJ) as Hyunna’s appa

Park Kahi (After School) as Hyunna’s eomma

U-Know Yunho (TVXQ)

Xiah Junsu (JYJ)

Lizzy (After School)

Rating : G

Length : Chaptered

Genre : Romance, Family, AU

Disclaimer : i just owned the story. This is just fiction story. Enjoy the story. ^^

♫♫♫♫♫



Author POV

Seorang gadis baru saja turun dari mobil nya yang terparkir di depan halaman rumahnya. Begitu memasuki rumahnya, ia terlonjak mundur, terkejut melihat ada sosok lelaki yang tak dikenalnya sedang menuju dirinya yang berdiri di depan pintu. Karena baru masuk selangkah, gadis itu kembali melangkahkan kakinya keluar rumah memastikan papan nama yang ada di depan pintu rumah. Setelah yakin rumah yang ia masuki adalah kediaman Park Yoochun, ia kembali memasuki rumah, menghadapi lelaki yang kini tengah bingung dengan kelakuan gadis itu.

“Apakah kau salah masuk rumah?” tanya gadis itu dengan nada yang sedikit kesal. Yang ditanya malah melengos menuju dapur, tepat menuju kulkas karena memang sebelum gadis itu datang dia berniat mengambil air minum, karena kulkas yang ada di kamar yang kini ia tempati kosong.

“Aniyo.. Kau ingin minum?” lelaki itu malah balik bertanya dengan santainya. Gadis itupun menghampirinya ke dapur dengan tak sabarnya.

“Tapi aku sangat yakin, ini rumah ku..” tegas gadis itu kesal merasa diacuhkan.

“ ne, nan arrayo..” sambung lelaki itu setelah menenggak minumannya. Setelah minum, lelaki itu langsung berjalan melewati sang gadis yang masih mengira-ngira siapa lelaki yang masuk ke rumahnya sembarangan.

“ Lantas darimana kau bisa memasuki rumahku? Kemana pergi nya ahjumma anni?” tanya gadis  itu  makin kesal, melihat lelaki itu  pergi melewatinya. Ia sangat tau dirumah ini hanya tinggal dia dan ahjumma anni yang mengurusnya sejak kecil, karena appa dan eomma nya beserta pelayan pribadi dan pengawal pribadi sedang tidak ditempatnya.

“ Tentu saja dari pintu yang baru saja kau masuki”jawab lelaki itu singkat, lalu menaiki tangga.

“ Ya!! Aku belum selesai menanyai mu!” teriak gadis itu yang kini benar – benar kesal. Lelaki itupun menghentian langkahnya dan berbalik menghadap gadis itu.

“ Bisa kan kau bertanya ‘ nuguseumnida?’? aku rasa, itu pertanyaan yang lebih bermutu” tegas lelaki itu lalu kembali menaiki tangga.

“ YA!! Siapa kau?” tanya gadis itu frustasi.

“ Kau telat bertanya, lebih baik kau pergi mandi saja sekarang.. kembali bertanya padaku setelah wajah dan baju mu tak sekusut sekarang..” jawab lelaki itu lalu sudah menghilang diatas sana.

Hyunna POV

Ya, namaku Hyunna. Park Hyunna. Sampai sekarang aku masih belum tau siapa lelaki yang sembarangan masuk kerumah ku. Apakah dia orang gila yang tak sengaja berkunjung ke rumah orang? Sepertinya tidak, seperti nya dia orang yang waras. Apalagi wajahnya yang terbilang cukup tampan dan mempunyai postur tubuh yang tinggi. Apa yang telah terjadi disini? Belum saja habis kekesalanku terhadap klien oemma yang banyak nya minta ampun. Sehari aku hanya mengoceh hal-hal yang penuh dengan basa-basi. Berpindah-pindah dari satu restoran ke restoran lain hanya untuk melobby pekerjaan oemma yang mulai harus kumengerti. Hingga pertemuan terakhir tadi baru selesai tengah malam begini, membuatku mual karena terlalu banyak menelan makanan hanya untuk basa-basi. Daripada terlalu lama kesal didapur begini memang lebih baik aku segera mandi saja, terlalu gerah melihat perangai lelaki itu. Aku pun beranjak dari dapur menuju lantai kamar ku di lantai dua, sudah  tidak perduli dengan lelaki itu. Haha, terserah dia mau berbuat apa asal tidak mengganggu ku. Toh, ini juga bukan rumah ku kan? Rumah appa.

#####

Hemm, rasanya segar sekali setelah mandi. Lebih baik aku kembali mencari lelaki asing itu dengan segera agar aku bisa tidur tenang dan aku harus segera tidur mengingat besok harus bangun pagi. Baru saja aku keluar kamar, aku beruntung begitu langsung bertemu dengannya tanpa harus menggeledah kamar-kamar dirumah ini satu persatu. Tapi darimana dia baru saja keluar? Aku pun segera keluar untuk memastikan bahwa penglihatan ku salah. Apa yang kudapat? Ternyata lelaki benar baru saja keluar dari kamar yang persis disebelah kamar ku. Kamar yang selama ini rapi dan tertutup rapat. Kamar yang tak berpenghuni sejak dua tahun lalu.dia pasti benar-benar gila kali ini. Ku tatap dirinya marah yang kini terpaku di hadapanku, lagi-lagi bingung dengan kelakuanku.

 

Jinki POV

Aku Jinki. Aku baru saja menginjak seoul lagi setelah aku dipanggil dan disuruh mengurusi pembukaan Dorm baru untuk para trainee di management kami. Sudah kurang lebih setahun aku bekerja dengan Park Yoochun sajangnim. Appa gadis ini. Gadis yang entah mengapa kini sedang menatapku ganas seperti ingin melahapku. Sudah dua kali aku bingung dengan gerak-geriknya. Pertama, ia mengecek kembali rumah yang jelas-jelas adalah rumahnya. Apakah ia sering salah masuk rumah?atau ia tidak waras? Tapi sepertinya itu tidak mungkin, aku sangat kenal dengan appanya dan tidak mungkin sajangnim punya putri yang gila. Dan kini ia tengah memerhatikan kamar yang ku tempati seperti ingin memastikan sesuatu. Memang apa yang salah dengan kamar itu? Kembali kuperhatikan Hyunna, aku sudah diberitahu oleh appanya yang tengah menatapku ganas, dengan bingung. Nampaknya kali ini dia benar-benar marah padaku. Ya tuhan, apa salah ku kali ini.

“ YA!! Apa yang kau lakukan di kamar itu!?” tanya Hyunna setengah berteriak seraya menunjuk kearah kamar yang ku tempati.

“ Waeyo? Appa mu yang menyuruhku untuk tidur dikamar itu.” Jawabku diiringi dengan helaan nafas yang panjang.

“ Appa yang menyuruh mu tidur disitu? Dan.. berarti kau akan tinggal disini?!” Hyunna menaikkan nadanya satu oktaf pada pertanyaan terakhirnya. Apa lebih baik kuperkenalkan diri saja sekarang. Daripada dia gila karena frustasi.

“Ehmm..soogaehamnida, joneun Lee Jinki imnida.. aku akan tinggal dirumah mu selama waktu yang kubutuhkan untuk menyelesaikan observasi tempat. Aku mohon kerjasama nya.”  Dia, dia hanya terdiam, tidak lagi bertanya dengan tidak sopannya padaku. Kini raut wajahnya mengatakan bahwa sebentar lagi ia akan menangis. Tapi ternyata tidak, didetik berikut nya ia tertawa dengan paksaan.

“Neo, micheosso!?” tanyanya sinis. Apa dia bilang? Aku gila? Apa bukannya dia yang gila?

“ YA!! Bisakah kau sedikit sopan padaku?! Aku ini lebih tua darimu!” tegasku. Dia pikir dia siapa mengataiku seenak jidatnya. Apa yang terjadi dengan anak ini sebenarnya? Apakah dia benar-benar frustasi ingin gila? Karena detik ni juga matanya sudah berkaca-kaca. Aku benar-benar tak mengerti akan tingkah lakunya yang cepat sekali berubahnya.

“ Kau.. Kau tidak boleh tidur di kamar itu.. Kalau oppaku tau, dia akan sangat marah padaku.. itu kamar oppaku.” Ucap Hyunna sedih. Kenapa? Sebegitu takutkah ia akan oppa nya? Tapi kenapa ekspresinya sedih bukan takut? Aissh! Gadis ini benar-benar Cuma satu di dunia ini, hanya dia yang membuatku terus kebingungan.

“ Tapi nyatanya kamar itu kosong , kan?” Ucap ku yang terdengar kesal.

“ Tentu saja! Oppa akan pulang sebentar lagi. Kau akan mati begitu dia pulang.” Ahh, makin aku berbicara dengan gadis ini makin pusing aku dibuatnya. Joa, biarlah aku mati sekalian daripada menghadapi gadis sinting ini. Aku pun beranjak dari tempat berdiriku dengan kesal dan pusing. Aku baru saja sampai dari New York sana dan mengalami jetlag, tapi dia sudah membicarakan hal yang tak kumengerti. Ku banting  saja pintu kamarku, tak peduli dengan teriakan Hyunna. Kan? Tak lama kudengar, ia pun sudah lelah berteriak dan pergi kekamarnya dengan tenang. Dasar wanita aneh.

 

Author POV

Pagi hari nya, setelah semalam pusing dengan kelakuan Hyunna, Jinki sarapan di meja makan dengan santainya. Walaupun dia baru sampai kemarin, Jinki memutuskan untuk segera mencari lokasi untuk pembangunan cabang baru perusahaan appanya Hyunna agar ia segera bisa keluar dari rumah ini. Sepertinya ia tidak boleh tinggal lama-lama bersama Hyunna disini, karena Park Yoochun sajangnim sendiri nampaknya akan jarang pulang kerumah. Baru saja Jinki selesai sarapan dan kini tengah meminum susu buatan ahjumma Anni, ketika Hyunna tiba-tiba turun dari tangga dengan terburu-buru dan langsung menuju meja makan. Dengan teburu-buru juga Hyunna meminum susunya. Sedangkan Jinki, hampir saja ia kembali memuntahkan susunya karena melihat Hyunna yang pakai seragam sekolah. Seragam sekolah yang sama seperti yang dulu ia pakai ketika menginjak sekolah SMA.

“ Kau.. masih sekolah?” Tanya Jinki sedikit tak percaya mengingat semalam Hyunna pulang dengan Blazer dan rok span nya yang kusut. Memang yang sebatas Jinki tau, Hyunna hanyalah anak dari Yoochun sajangnim, selebihnya ia tidak tau apa-apa tentang Hyunna dan sekarang hal pertama yang Jinki tau Hyunna bersekolah Art Senior High School. Art SHS tempat dimana dulu Jinki mempunyai banyak teman dan kenangan.

“ Cihh! Masih saja bertanya.. apa kau tidak melihat seragam yang ku pakai?” Ejek Hyunna sinis lalu beranjak dari tempatnya berdiri meninggalkan Jinki yang masih bingung.

“ Hey, tunggu..” panggilan Jinki membuat Hyunna kembali menoleh.

“ Waegurae? Aku sudah terlambat” tanya Hyunna tak sabar.

“ Biar kuantar kau ke sekolah.” Jawab Jinki cepat lalu beranjak dari tempat duduk nya dan segera mengambil jasnyayang tersampir di bangku tempatnya duduk. Hyunna pun hanya mengikuti Jinki yang sudah mendahuluinya.

“ Hemm, baguslah kalau begitu. Aku harap cara mengemudikanmu diatas level ku” gumam Hyunna.

“ Jadi, apakah kita sekarang berteman?” tanya Jinki seraya membukakan pintu untuk Hyunna, dan hanya dijawab dengan cibiran.

“ Jangan merasa senang dulu, kau tetap harus pindah dari kamar itu, arra?” lanjut Hyunna seraya masuk ke dalam mobil Jinki dan Jinki pun masuk setelahnya di bangku kemudi.

“ tak kusangka, seseorang yang tak punya rumah seperti mu, masih mempunyai mobil sport” Ejek Hyunna sambil tersenyum sinis.

“ YA! Aku punya rumah tau! Memang itu rumah, rumah appaku. Saat ini tidak memungkinkan aku untuk pulang kerumahku!” Jelas Jinki panjang lebar lalu mengemudikan mobilnya. Jinki melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata tanpa mengingat jalan raya seoul saat ini tengah ramai. Jinki tau betul kemana arah jalannya. Membuat Hyunna heran, karena seingatnya dia belum memberitahu dimana sekolahnya.

“ Hey, kau salah jalan.. sekolahku belok kanan..” kecoh Hyunna mengarahkan jalan yang salah. Sesaat Jinki menoleh nya heran lalu kembali fokus. Namun, didetik berikutnya ia terkekeh geli. Tapi dia tidak berbelok sesuai acuan Hyuan.

“ apa kau segitu nya membenciku? Atau Art SHS sudah pindah tempat?” Jinki berhenti terkekeh dan menatap Hyunna tajam mengingat saat ini sedang lampu merah.

“ O? Darimana.. kau tahu sekolahku?” tanya Hyunna gugup Jinki tau Hyunna mengecohnya.

“ aku ini tidak bodoh.. seragam mu juga mengatakan dimana sekolahmu?” cibir Jinki seraya mendengus remeh. Dasar pabbo! Rutuk Jinki dalam hati. Seketika Hyunna langsung menoleh ke badge sekolah di dada kirinya. Ya, tertulis nama Art SHS disitu. Membuat Hyunna cengengesan merasa bodoh di depan musuhnya yang baru sehari ini.

“ Hyunna, pabboya!” rutuk Hyunna dalam hati.

 

Hyunna sampai disekolahnya dengan waktu yang singkat meskipun jarak antara rumah dan sekolahnya lumayan jauh. Setelah basa-basi mengucapkan salam kepada Jinki, Hyunna keluar dari mobil Jinki dan memasuki arena sekolahnya. Jinki pun setelah melihat Hyunna masuk, langsung melajukan mobilnya meninggalkan sekolah itu.

 

Hyunna POV

Hemm, bagus lah kalau begitu. Setidaknya kini aku mempunyai sopir pribadi lagi, mengingat Appa meerebut sopir pribadiku dan membawa nya keluar kota sementara sopirnya pergi cuti karena anaknya sakit. Huh, alasan yang klise. Baiklah, mungkin Appa mengirimnya memang untuk menjadi sopir pribadiku sementara. Dia harus berguna untukku karena telah membuatku kesal, apalagi semalam dia mengacuhkan ku ketika aku melarangnya tidur dikamar oppa ku. Jika dia tidak berguna, akan kutendang dia keluar dari rumahku. Hahahah. Aku baru saja duduk ditempat duduk ku, ketika teman sebangku ku Lizzy datang dan segera melepaskan tas selempangnya lalu duduk disebelahku.

“ Ya! Apakah sopirmu sudah kembali? Tapi, kenapa mobilmu tidak lexus yang biasa nya? Ck, aku ingat betul tadi yang kulihat lexus dark blue.. apa itu hitam?” tanya Lizzy tak sabaran, berakhir dengan kebingungan atas penglihatannya sendiri. Memang, ternyata mobilku dan Jinki sama, hanya berbeda warna.

“  yah, bisa kau bilang seperti itu..” jawabku singkat. Aku malas mengoceh karena mengantuk, mungkin ini saat yang tepat untuk tertidur. Seperti biasa, pelajaran pertama hari ini selalu mengasikkan mengingat Kim sonsaengnim terlalu sibuk dengan dirinya sendiri. Kadang aku bertanya, apakah dia mengajar untuk dirinya sendiri? Karena dia terlalu sibuk dengan dirinya. Ku tinggalkan Lizzy yang kini mengerucutkan bibirnya karena kesal kuacuhkan. Kutidurkan kepalaku diatas meja, beralaskan tasku dan Lizzy hanya bisa berdecak kesal lalu mengeluarkan notebooknya.

“ Ya! Apakah nanti kau ikut latihan? Atau kau mau absen lagi?” tanya Lizzy membuatku kembali membuka mataku. Huh, benar juga. Aku sudah bolos latihan dua kali gara-gara perintah eomma yang dadakan.

“ Joa. Hari ini aku akan latihan.” Jawabku malas kembali menutup mataku perlahan.

“ Tentu saja kau harus datang, Yunho oppa sudah mencak-mencak padaku karena kau!” lanjut Lizzy. Aku sudah tidak perduli dengan ucapan Lizzy. Lebih baik tidur sekarang.

 

Jinki POV

Sudah beberapa jam aku mengitari seoul, tapi tempat yang cocok untuk pembanguan dorm baru itu belum juga kutemukan. Ku lirik jam tanganku yang tersembunyi dibalik kemeja ku. Huhh, sudah jam 3 sore mungkin lebih baik aku menjemput Hyunna. Yahh, hitung-hitung untuk melihat kembali mantan sekolah ku itu. Oh, iya.. sekalian mengecek markas bolosku dulu. Heheh. Aku sampai di Art SHS hanya butuh waktu 10 menit, karena kebetulan tempat terakhir yang ku kunjungi cukup dekat untuk sampai ke sekolah itu. Ku parkirkan mobil ku di tempat dulu aku dan teman-temanku biasa parkir. Ternyata ada sebuah mobil yang kukenal masih terparkir disini. Yunho Hyung? Apa kah dia ingin menjadi penghuni abadi di sekolah ini? Hahah. Mengingat walaupun dia sudah lulus, senior ku itu masih saja datang kesekolah. Begitu turun dari mobil, aku langsung berjalan cepat menuju markas besarku. Aku ingin segera bertemu dengan hyung ku itu. Hyung yang paling aneh, dengan konsepnya sendiri. Apapun konsepnya memang benar-benar berbeda dengan yang lainnya.

 

Author POV

“Ah iya! Aku kan kesini ingin menjemput Hyunna!” seru Jinki langsung berhenti ditempat, lupa akan tujuannya datang ke Art SHS. Jinki kembali bingung, bagaimana ia akan mencari Hyunna di sekolah yang luas ini, sementara dia tidak tau Hyunna kelas berapa dan dimana.

“ Hemm, lebih baik aku telpon saja dia.” Gumamnya lalu mengeluarkan Handphone Galaxy Note nya kemudian teringat bahwa dia tidak punya nomor HP Hyunna. Mengingat Hyunna semalam begitu frustasi memarah-marahi nya sehingga tak sempat bertukar nomor. Jinki mulai menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal itu dengan frustasi. Di detik berikutnya dengan santainya Jinki kembali meneruskan langkahnya.

“ Ishh, untuk apa aku pikirkan bagaimana cara dia pulang.. biar saja cewek sinting itu mencari jalan pulangnya kerumah. Ini saatnya aku bermain-main lagi.” Batin Jinki seraya mendengus remeh lalu kembali berjalan menuju yang ia sebut markas besar itu. Markas besarnya itu sebenarnya tempat klub dancenya. Dance hip-hop karena Art SHS sendiri merupakan sekolah seni klasik, jadi takkan ada yang pernah menemukan musik RnB, Band, ataupun Dance hip-hop. Bisa dibilang, hal-hal seperti itu dilarang oleh pihak sekolah sehingga klub itu dibuat hanya untuk komunitas saja dan tempat berkumpulnya pun hanya di gudang tua belakang sekolah pada awal nya.

Jinki kini sudah sampai di depan pintu markas besarnya dan melihat sosok yang dikenal nya sedang bawel melatih juniornya, membuat Jinki tersenyum dan menunjukkan gigi kelincinya.

“ Hyung!!” Teriak Jinki masih terpaku dengan tatapan takjub di depan pintu masuk yang terbuka lebar karena senangnya bertemu hyungnya itu. Semua yang ada diruangan itumenoleh ke arah datang nya suara dan ternyata tanpa Jinki sadari, ada Hyunna yang sedang melihat nya dengan terkejut.

“ YA!! ONTOKKI!!” balas Yunho begitu melihat ternyata yang berteriak adalah Jinki. Jinki pun berlari ke arah Yunho dengan cepat dan langsung memeluknya. Seperti ibu yang terpisahkan dan bertemu kembali dengan anak nya setelah sekian tahun. Membuat Hyunna mendecak remeh.

“ Cihh! Omonaa..  lihatlah kedua  bocah kecil yang sedang reunian!” seru Hyunna lepas dari sikap sigap nya saat menari dan langsung menunjuk-nunjuk Yunho dan Jinki. Membuat Yunho dan Jinki yang lagi hikmad berpelukan langsung melepas pelukan.

 

Hyunna POV

Huh, kekanak-kanakan sekali sikap mereka berdua itu. Membuat ku muak. Mengapa si lelaki bodoh itu  ada disini? Cihh, tampangnya begitu bodoh ketika ia memanggil Yunho-ssi di depan pintu sana. Jadi dia kemari bukan untuk menjemputku? Apa hubungan nya dengan Yunho-ssi, huh?

“ YA!! Hyunna !! ternyata kau belum pulang? Aku ingin menjemputmu kemari, tapi aku tidak tau kau ada dimana.. aku ingin menelpon  mu tapi aku baru ingat, kita kan belum bertukar nomor.” Seru Jinki yang baru menyadari keberadaanku, masih dengan ekspresi senangnya yang belum lepas. Dia biasanya kan nyolot. Lihatlah, betapa bodohnya kan si Jinki itu? Membuat ku malu saja. Dia bilang apa tadi? Menjemputku? Hah, dasar bodoh! Mau menjemput tapi tadi tidak bilang padaku. Ahh, atau itu hanya alasan? Sepertinya yang kulihat, dia begitu bahagia bertemu Yunho-ssi.

“ YA Jinki! Kau mengganggu latihan kami! Kalau kau tak bisa diam, lebih baik kau pulang sana!” Usir ku. Membuat ekspresinya kembali normal. Kembali nyolot. Apalagi memang?

“ YA Hyunna! Sudah kubilang, aku ini lebih tua darimu sopan lah sedikit padaku!” seru Jinki. Aku hanya mendengus remeh. Lalu kenapa kalau kau lebih tua dariku?

“ Hyung! Tidakkah kau mengajari sopan santun pada muridmu ini?” adu Jinki pada Yunho-ssi. Membuat Yunho-ssi hanya terkekeh geli.

“ Sudahlah, sudah! Mari kita break sebentar karena kita kedatangan tamu.” Yunho-ssi menyuruh kami break, memang kami berlatih agak keras sebelum kedatangan Jinki. Sebagian dari kami langsung duduk dilantai tempat nya berdiri, ada juga yang mengambil minum di depan kaca besar.

“ Tamu? Kau bilang dia tamu, Yunho-ssi?!” Tanya ku tak percaya seraya menunjuk Jinki. Ia menyebut seorang Jinki adalah tamu. Ishh, tamu apanya?

 

Yunho POV

Aku senang melihat junior terbaik ku ada dihadapan ku sekarang. Jinki atau kami biasa memanggilnya Onew. sudah bertahun-tahun aku tidak bertemu dengan leader squadron kebanggaan ku itu, setelah Junsu tentunya. Junior kebanggaan ku juga yang ia adalah oppa nya Hyunna.

“ Ne, dia adalah tamu terhormat kita hari ini..” aku menjawab pertanyaan Hyunna, membuat Hyunna membelalakkan matanya tak percaya aku menyebut Jinki tamu terhormat. aku hanya tersenyum geli melihat ekspresi Hyunna. Seperti nya ada sesuatu yang terjadi antara Jinki dan Hyunna. Akan kutanyakan nanti dengan Jinki.

“ dia adalah mantan leader boys squadron setelah Park Junsu.” Sahutku pada ekspresi Hyunna, membuat semua terdiam ketika ku menyinggung nama itu. Ahh, aku salah sebut rupannya. Harusnya aku tak membahasnya saat ini didepan Hyunna dan juga Jinki.

“ Yunho pabbo! “ rutukku dalam hati.

 

Jinki POV

Ahh, hyung! Aku jadi teringat kembali dengan mantan senior ku yang karenanya lah aku mengikuti jejaknya ke New York. Aku pun sempat tinggal satu asrama dengannya disana. Dia adalah hyung yang humoris, membuat siapapun yang berada didekatnya tak akan pernah bersedih. Termasuk aku, ketika aku di putusi oleh yeoja-chingu ku.  Waktu itu Junsu hyung selalu menghiburku,

#Flashback

“YA!! Sangtae, wanita di dunia ini tak akan pernah habis untukmu. Mengapa kau menangisi gadis yang begitu bodoh, hanya karena kau sangtae?”  lalu ia terbahak-bahak sendiri. Kau lebih sangtae daripada aku, hyung.

“ Jika tuhan telah kehabisan stock wanita di dunia, aku yang akan menggantikannya untukmu.” Serunya lagi.

“ maksudmu kau akan menjadi wanita, hyung?” Tanya ku polos.

“ Tentu saja. “ jawabnya singkat, membuatku melongo tak percaya.

“ tapi begitu aku reinkarnasi. Tidak sekarang, pabbo!” lanjutnya. Membuatku mencibir kesal karenanya.

“ Huh, ku fikir kau akan merubah kodratmu.” Cibir ku kesal.

“ mana mungkin! Aku memang suka pada mu, tapi hanya sebatas hyung dan dongsaeng nya saja! Kau fikir aku gila?! Atau kau yang suka padaku, ya?” sanggah hyung ikutan kesal lalu menggodaku.

“ Hyung! Kalau aku suka padamu? Untuk apa aku menangisi wanita jalang itu?” bantahku dan sengaja menyebut mantan ku jalang. Hahah.

“ nah, kan? Barusan kau menangisinya, kini kau mengatai nya jalang? Cepat sekali kau berubah pikiran” hyung hanya menggeleng-geleng sok tak percaya, kemudian tersenyum senang. Melihat seperti nya aku mampu melupakan nya.

“ Joa.. nanti akan kucarikan lagi untukmu. Jangan bersedih lagi.” Lanjutnya. Huh, ya aku tau stock wanita mu banyak, hyung. Ahh, aku punya hyung yang tenar sekali dikalangan wanita.

“ tidak usah. Kenapa tidak kau berikan saja, yeodongsaeng mu itu padaku. Kau tau, kan? Aku yang terbaik diantara dongsaeng mu yang lain, kan?” pinta ku pede.

“ mworago!? Aku tidak mau begitu kau diputusi adikku itu, kau memanggilnya wanita jalang lagi.. no no no!” tolak hyung tegas plus gestur tangannya.

“ Ahh, hyung.. aku tidak mungkin berani berbicara seperti itu.” Bantahku.

“ shireo, shireo!! Dia hanya milik ku, arra?!” omel hyung.

“ huh, dasar brother complex!  Ayolah, hyung.. kau pun sama sekali belum mengenalkannya pada ku.. namanya pun aku tidak tahu.. kenapa kau pelit sekali, huh? Minimal, kenalkan lah padaku.” Rengekku padanya.

“ huh, joa! Karena kau dongsaeng terbaikku, akan ku kenalkan padanya.. tapi kau tidak boleh jatuh cinta padanya, arra?” hyung akhirnya menyerah dengan kegigihanku. Aku pun mengangguk menyetujuinya.

#####

“ Yunho-ssi, bisakah kita latihan kembali?” tanya Hyunna lelah. Menyadarkanku dari lamunan tentang Junsu hyung, seperti semua yang ada diruangan ini pun sama denganku. Yunho hyung pun mengingat kembali memori bersama Junsu hyung. Issh, kenapa Hyunna mengganggu di momen seperti ini. Hyunna berjalan menuju tape recorder yang ada di depan kaca, kembali menghidupkan musik yang tadi sempat terhenti karena kedatangan ku. Musik pun berbunyi , tapi Yunho hyung tak bergeming dari tempatnya.

“ YA!! Yunho-ssi, ppali wa! Aku harus sudah bisa tarian ini sebelum oppaku pulang!” omel nya pada Yunho hyung tapi Yunho hyung masih terdiam dibentaknya. Mungkin hyung kembali merasa sedih, mengingat Junsu hyung. Aku yang tak sabar dengan tingkahnya, maju dan kembali mematikan tapenya. Dasar gadis sinting, cepat sekali dia merubah tingkahnya.

“ YA Hyunna! Mengapa kau membentak nya? Kalau kau ingin cepat bisa, berlatihlah sendiri.. tidak usah memarahinya!tidakkah kau lihat? Dia masih dalam keadaan bersedih.” balasku tak kalah, tapi Yunho hyung memegang pundak ku dan menggeleng, menyuruh ku berhenti memarahi Hyunna. Kenapa hyung malah membelanya,sih?

 

Lizzy POV

Yunho oppa baru saja menyinggung nama Junsu oppa tak sengaja, membuat Hyunna yang tadi bawel kini hanya terdiam terpaku. Tak terasa semua yang berada di ruangan ini pun ikut terdiam aku dan para teman-temanku, hanya bisa saling lirik dan mengangkat bahu. Bingung apa yang akan terjadi selanjutnya.

“ Yunho-ssi, bisakah kita latihan kembali?” Hyunna lalu maju dan kembali menghidupkan tape recorder, tanpa memperdulikan Yunho oppa yang masih merenung karena menyinggung nama Junsu oppa. Aissh, bisa kulihat, kini ia menyesal karena telah menyinggung namanya.

“ YA!! Yunho-ssi, ppali wa! Aku harus sudah bisa tarian ini sebelum oppaku pulang!” omel nya lagi. Yang terburuk, kini tamu kehormatan itu melangkah dan mematikan tape recorder itu.

“ YA Hyunna! Mengapa kau membentak nya? Kalau kau ingin cepat bisa, berlatihlah sendiri.. tidak usah memarahinya!tidakkah kau lihat? Dia masih dalam keadaan bersedih.” Nampaknya dia kesal karena Hyunna baru saja membentak Yunho oppa. Ahh, dia mengerti perasaan Yunho oppa, tapi tidak dengan Hyunna. Omoo, kulirik Hyunna yang kini ingin menangis. Namun aku sangat yakin, ia tak akan pernah menangis lagi jika menyangkut oppanya. Lantas, yang terjadi sekarang adalah, Hyunna sudah berlari keluar . entah kenapa aku jadi kesal dengan si ontokki itu.

“ Hey, kau, ontokki! Dia juga dalam keadaan bersedih, arraseo?” teriakku memarahinya lalu berlari menyusul Hyunna. Sesaat aku mendengar Yunho oppa hanya terkekeh geli karena ucapanku. Mau bagaimana lagi, yang kutahu hanya Yunho oppa menyebutnya seperti itu tadi. Mana ku perduli apa artinya, baik atau buruk. Yang penting aku marah.

 

Hyunna POV

Aku langsung berlari keluar setelah Jinki si bodoh itu memarahiku. Tau apa dia tentang oppaku? Itu oppaku, harus nya aku yang lebih bersedih daripada Yunho-ssi. Apakah dia tak mengerti, kalau aku tidak segera berlatih oppa akan kecewa padaku. Aku sampai di toilet,untuk membasuh mukaku di wastafel, agar aku bisa kembali konsentrasi pada latihanku. Aku menatap diriku yang ada di kaca, mata itu mulai ingin menangis. Mataku mulai berkaca-kaca.

“ YA, Hyunna! Kalau sampai kau mengeluarkan airmatamu itu, akan ku bunuh kau!” maki ku pada diriku sendiri. Ahh, apa memang lebih baik aku mati saja ya? Susah sekali menahan tangis ini. Aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat.

“ Aku bisa melewati ini semua, ini hanya sementara!” yakinku mantap dalam hati, pada diriku sendiri. Tanpa kusadari, Lizzy sudah ada disampingku kemudian memegang bahuku.

“ Gwenchana, Hyunna-ah! Aku akan selalu bersamamu, o? Onjena!” ku dengar Lizzy berusaha menenangkan ku.

“ Gomawo, Lizzy-ah!” balasku.

“ Kajja! Sekarang saat nya kita membalas si Ontokki itu!” ajak Lizzy dengan semangat yang membara.

“ eh, Ontokki? Nuguya?” tanya ku bingung.

“ si tamu kehormatan itu!” jawab Lizzy, mengajakku keluar dari toilet. Ahh iya, aku baru ingat tadi Yunho-ssi memanggilnya Ontokki.

“ Jinki, Lizzy-ah” ralatku tapi Lizzy hanya menggeleng, bersikeras menamainya Ontokki.

 

Yunho POV

Yah, aku memang tak perlu menggubris perkataan Hyunna saat ini, karena itu hanya emosi sesaat ketika Hyunna teringat akan Junsu. Jadi, aku membiarkannya memarahiku agar rasa bersalah ikut hilang juga. Tapi jinki yang sepertinya tidak tau kalau Hyunna adalah adiknya Junsu, langsung memarahinya. Aku hanya bisa menahan amarahnya, aku tau saat ini ia merasa ganjal aku membela Hyunna. Hyunna langsung berlari keluar, aku juga tahu, saat ini ia tak mampu menahan tangisnya karena teringat Junsu lagi. Aku tak sanggup menahan tawaku, ketika Lizzy memanggil Jinki dengan sebutan ontokki. Giginya yang seperti kelincilah yang membuatku memanggilnya begitu. Lizzy pun pergi menyusul Hyunna, seperti nya ia mengerti tempat mana yang akan Hyunna tuju.

“ Hyung, apakah semua murid mu ini tidak ada satupun yang sopan? “ komentar Jinki karena dikatai oleh Lizzy. Membuat semua member yang ada diruangan menatap nya ganas. Aku pun menjitak nya membuat tatapan-tatapan itu kini menyeringai puas. Jinki hanya bisa mengelus kepala nya pelan. Aku mengajaknya ke pojok ruangan agar terpisah dari member. Aku duduk di lantai dan menyuruhnya untuk duduk juga.

“ Jinki, apa hubungan mu dengan Hyunna?” tanya ku langsung to the point. Jinki mengerutkan keningnya karena mungkin aku bertanya tentang Hyunna.

“ Jadi, kita akan membicarakan tentangnya?” tanyanya meyakinkanku, aku hanya mengangguk pelan.

“ Well, sejak setahun yang lalu aku membantu appanya di New York.” Jelas Jinki lalu badannya bergerak mundur, melakukan relaksasi.

“ berarti kau sudah cukup mengenalnya?” tanyaku lagi. Kini ia meletakkan kedua telapak tangannya dilantai menopang tubuhnya, dan kepalanya yang menyender di bahunya.

“ Aniyo. I’ve just met her, yesterday. Waegurae, hyung-ah?” tanyanya balik tak sabar, kembali menegakkan  tubuhnya yang tadi santai. Aku hanya belum berani menjawabnya. Mungkin harus Hyunna sendiri yang menjelaskannya.

“A, Hyung! Apa kau kenal dengan oppanya Hyunna? Nuguseyo? Apakah aku kenal dengannya?” tanyanya polos. Yak, kenapa dia bisa bertanya kesitu.

“ wae?” tanyaku balik, masih ragu menjawab.

“ Anni, kemarin dia memarahiku karena seperti nya aku menempati kamar oppanya. Katanya kalau oppanya pulang, dia akan marah jika tau kamarnya ditempati. Memangnya oppanya itu kemana sih, hyung?” tanyanya masih dengan polosnya. Aissh, anak ini kalau bertanya padaku selalu memasang tampang polosnya itu. Tak berubah. Hyunna, ternyata ia masih menganggap Junsu ada di New York.

“Jadi kini kau tinggal dirumahnya?” tanyaku kaget. Dia hanya mengangguk polos.

“dan kau menempati kamar oppanya?” tanyaku lagi. Dan dia kembali mengangguk. Omonaa, apakah kau yang menakdirkannya seperti ini, Junsu-ya? Apakah kau ingin Jinki bersama Hyunna?

 

Author POV

Yunho masih saja asik dengan pikirannya, meniggalkan Jinki sendirian dengan kebingungannya.

“ Hyung-ah.. waegurae? Apa yang sedang kau pikirkan?” Jinki menyenggol bahu Yunho pelan, agar Yunho kembali dari lamunannya.

“ Kau sama sekali tidak tahu siapa oppanya? Bagaimana..”

“ YA!! Yunho-ssi.. ayo kembali latihan!” potong Hyunna membuat ucapan Yunho menggantung diudara. Yunho bingung ingin melanjutkan kata-katanya, karena kini Hyunna telah menatapnya dengan tatapan membunuh. Yunho tahu, sepertinya Hyunna sempat mendengar pembicaraannya dengan Jinki.

“ A.. joa.. onew-ya, mian.. nanti kita lanjutkan lagi..” bisik Yunho panik lalu bangkit dari duduknya. Hyunna yang terlebih dulu sampai di depan kaca besar, langsung menghidupkan tape recordernya.

#####

Jinki atau Onew masih ditempatnya, tak bosan melihat para penari yang tidak begitu jauh didepannya hingga malam hari begini. Jinki masih ditempatnya ketika terakhir berbicara tentang Hyunna, kini ia telah bersandar di dinding di belakangnya dan menekuk kaki kanannya, menyelonjorkan kaki kirinya, tak lupa tangan nya yang bertopang pada kaki kanannya. Jinki hanya santai melihat pemandangan yang terjadi didepannya, melihat hanya satu orang yang masih menari semangat sedangkan sisanya sudah mulai ogah-ogahan. Terpaksa hanya karena satu orang itu. Jiwanya memang masih semangat, tapi raganya sudah menolak keinginan semangatnya. Yunho menyatakan break untuk kesekian kalinya. Semua yang ada diruangan kecuali Hyunna, orang yang paling semangat itu, menghela nafas lega bisa merehatkan badannya lagi.

“ apa yang terjadi disini sebenarnya?” Tanya Jinki dalam hati tak mengerti dengan penglihatannya. Jinki tahu ini sudah bukan jam nya latihan lagi. Jam latihan sudah berlalu sejak dua jam yang lalu. Bahkan di saat break ini pun Hyunna kembali menghidupkan tape recorder. Yang lain menatap nya lelah dan khawatir, namun tak bisa berbuat apa-apa. Jinki yang mulai lelah dengan sikap Hyunna, bangun dari tempat nya lalu mematikan tape.

“ Apa status mu di tim ini?” tanya Jinki kemudian berdiri di samping tape lalu bersandar di dinding kaca di belakangnya sambil melipat kedua tangannya.

“ Aku? Aku leader squadron ini.” Jawab Hyunna masih bingung arah pertanyaan Jinki sambil melap keringatnya dengan handuknya yang sudah basah kuyup. Nafasnya pun masih memburu akibat latihan terakhir. Jinki hanya mengangguk mengerti mendengar jawaban Hyunna.

“ Siapa disini yang telah memilih leader tak punya otak seperti dia?” Tanya Jinki bernada datar tapi cukup membuat Hyunna naik darah. Tidak ada yang menjawab pertanyaan Jinki. Takut itu pertanyaan jebakan, karena memang semua yang berada diruangan itu memilih Hyunna.

“ A! Joa.. nan arraseo, jeongmal arraseo!” komentar Jinki begitu tak mendapat jawaban. Jinki beranjak dari tempatnya berdiri.

“ YA!! Museun malhaeye!? Kau meremehkan ku?!” omel Hyunna begitu Jinki maju selangkah dari tempatnya berpose.

“ Anni, hanya sekarang aku mengerti mengapa kalian melakukan latihan ini.” jawab Jinki masih datar.

“Mworago!?” tanya Hyunna marah berpikir sepertinya Jinki sedang mengejeknya.

“Karena kalian semua TIDAK PUNYA OTAK!”  Tegas Jinki dan menekankan kata tidak punya otaknya, membuat semua yang ada di ruangan itu membulatkan matanya tak percaya.

“ Kau JUGA, Hyung!” Lanjut Jinki pada Yunho, lalu melepaskan ekspresi santainya, kini ia sudah tidak sabar. Yunho hanya tersenyum miris mendengar komentar hoobaenya.

“YA!! Siapa kau!? Berani mengomentari kami seperti itu!? Kau tak berhak” amarah Hyunna kini meluap-luap.

“ Kau tidak tahu? Dulu aku juga bagian dari squadron ini! Dulu aku juga leader, tapi tidak se EGOIS mu, arra?” tegas Jinki. Kini semua yang ada diruangan itu hanya berani menonton, tak berani mencegah, membantu apalagi membantah. Wong kabur saja tidak berani.

“ Egois?! Naega? Kau tak berhak menghakimi ku! Kau bahkan baru mengenalku kemarin!” omel Hyunna maju beberapa langkah, lalu berhenti.

“ Lantas, siapa yang berhak menghakimimu? Mereka? Hyung? Menolak mu saja mereka tak berani!” bantah Jinki ikut maju beberapa langkah seraya menunjuk ke team Hyunna lalu ke Yunho. Entah kenapa yeoja ini selalu saja membuatnya kesal tiba-tiba. Perkataan Jinki cukup membuat Hyunna terdiam.

“ Apa kau tak bisa mengerti keadaan teman-teman seperjuanganmu? Guru mu? Lihatlah mereka!”  tandas Jinki mendekati Hyunna cepat menarik lengan Hyunna kasar hingga menghadap teman-temannya yang sedang memandangnya dengan tatapan lelah tapi masih saja berusaha tersenyum. Hyunna pun kehilangan keseimbangan tubuhnya ketika ditarik Jinki, untung Jinki masih menggenggam lengannya jika tidak dia bisa terjatuh. Hyunna makin tak berani menjawab Jinki.

“ Lihat! Bahkan kau egois pada dirimu sendiri!” lanjut Jinki tandas seraya menggoyangkan tubuh Hyunna yang sudah lemah.

“ Kau ini leader, bukan diktator!” Jinki terus saja memberondong Hyunna dengan ceramahnya.

“ Sudahlah, lebih baik kau pulang sekarang.. kajja, kita pulang” Ucap Jinki melunak. Lalu menarik lengan Hyunna yang daritadi ia pegang dengan pelan. Namun yang ditariknya masih terpaku ditempatnya.

“ Ayo kita pulang..” Jinki kembali tegas dan masih berusaha menarik Hyunna, tapi Hyunna menghentakkan tangannya yang dipegang Jinki dengan kasar.

“ Shireo! Kalau kalian ingin pulang, pulanglah duluan. Aku masih ingin berlatih di sini!”  Tolak Hyunna dengan suara yang sedikit bergetar. Hyunna kembali melangkah ke tape recorder dan kembali menghidupkannya. Tak lama setelah musik berbunyi, kini Yunho lah yang melangkah maju. Ia membungkuk untuk mematikan tape yang ada dilantai, lalu menghadap Hyunna yang saat ini tengah menatapnya marah.

“ Aku kan sudah bilang, kalian boleh pulang! Aku masih ingin latihan disini!” tegas Hyunna yang menaikkan sedikit nada bicaranya.

“ teman-teman.. kalian boleh pulang sekarang.. Latihan kita lanjutkan besok.” ucap Yunho pada member yang lain tanpa menghiraukan Hyunna. Para member yang lain pun segera bergegas, membereskan barang-barangnya. Selang beberapa menit para member keluar dari markas satu-persatu dengan langkah yang lelah.

“ Hyunna, aku pulang duluan, ya.. kalau ada apa-apa segera telpon aku, O?” ucap Lizzy yang sebelum keluar paling terakhir.

“ Kau juga boleh pulang, Yunho-ssi.. aku tak ingin dibilang egois lagi.” Tegas Hyunna menyindir Jinki dan meliriknya dengan sinis.

“ Hyunna-ah, geumanhe.” Pinta Yunho lelah, kini Yunho menatap Hyunna dengan tatapan nya yang teduh, membuat Hyunna yang tadi emosi karena Jinki sedikit menghela napas lega.

“ Kita lanjutkan lagi latihan ini besok, o?” pinta Yunho.

“ aku tidak tahu Yunho-ssi, aku takut tidak bisa latihan lagi di hari lainnya. Aku harus berlatih mumpung sempat.” tolak Hyunna namun melunakkan suaranya.

“ Kau kan bisa berlatih dimana saja selain disini.” Usul Jinki dibelakang Yunho.

“ Kau tidak mengerti! Bukan itu masalahnya!” Hyunna kembali menaikkan nada bicaranya, kesal  Jinki ikut-ikut pembicaraannya. Jinki yang dimarahi cuma menghembuskan nafasnya dengan kesal.

“ nan jeongmal arraseo!” bantah Jinki.

“ arraseo, mwol?” tantang Hyunna seraya memajukan tubuhnya.

“ kau butuh Yunho hyung untuk mengajari mu sisanya, kan? Tapi mengapa barusan kau menyuruh nya pulang!” balas Jinki. Yunho makin pusing melihat keduanya bertengkar.

“ Jebal, kemanhe!” ucap Yunho pelan namun tegas. Hyunna yang ingin membalas kata-kata Jinki pun mengurungkan niatnya.

“ Keundae, Yunho-ssi..” bantah Hyunna ragu-ragu melihat Yunho yang keliatannya sudah mulai frustasi.

“ jae oppa neun…”

“ Hyunna-ah.. neo oppa obbsoyo..” potong Yunho lirih, membuat tubuh Hyunna menegang.

 

Yunho POV

Yah, aku harus menyadarkan nya. Menyadarkan otaknya, bahwa Junsu sudah meninggalkan dunia ini. Sudah dua tahun Junsu pergi, tapi nampaknya Hyunna masih belum juga terima. Terlebih ketika aku tak sengaja menyebut namanya. Hebat! Hanya mendengar namanya saja cukup membuat yeoja ini kembali sinting. Setelah kalimatku itu, ku lihat tubuh nya menegang, perlahan ia menundukkan kepalanya, kulihat Jinki yang kini ada disampingku sedang menatapku bingung. Yeoja ini memforsir latihan nya, hanya untuk menunjukkan tarian nya pada Junsu. Seperti tahun lalu. Ia masih berharap Junsu akan pulang tepat waktu, di hari ulang tahun nya dan pada saat dance competition antar sekolah se seoul. Sayang nya, Junsu tak dapat menepati janjinya karena pesawat kepulangannya saat itu terjatuh, karena kelalaian pilot yang salah memperkirakan cuaca. Sejak itu, ia berhenti memanggilku oppa. Panggilan terhormat itu, kini hanya untuk Junsu seorang. Hari itu dipemakamannya Junsu saat semua orang sudah pulang, Hyunna masih saja menangis terisak-isak. Entah darimana datangnya airmata yang tak kunjung habis. Saat, kusuruh Hyunna untuk berhenti menangis,

“ Jebal, Yunho-ssi.. ini akan menjadi yang terakhir aku menangisinya.. aku tak akan menangisinya lagi.. aku hanya akan membuatnya tersedih untuk hari ini saja.. jadi, tolong jangan menyuruh ku berhenti..”  tolak Hyunna panjang lebar masih dengan isakannya. Aku tak lagi menyuruh untuk berhenti menangis atau menyuruh nya pulang, aku hanya menantinya hingga ia puas menangis didepan makam Junsu. Setelah hari itu, jika ada yang menyebut nama Junsu atau menyinggung tentang Junsu, Hyunna akan menjadi gila sendiri. Melakukan sesuatu, seperti Junsu sedang mengawasinya. Yah, seperti hari ini contohnya. Sampai kapan ia akan terus seperti ini. Dia memang tidak menangis, tapi ingin menangis.

 

Hyunna POV

“ Hyunna-ah.. neo oppa obbsoyo..”. DEG.

“ Oppa, kau akan pulang kan? o?” yakin ku dalam hati. Ya, sebentar lagi kau pasti akan pulang oppa. Menjahiliku lagi kan?

“ oppa akan pulang,Yunho-ssi.” Bantah ku pelan. Yunho-ssi hanya mendecak lelah. Kulirik Jinki hanya terdiam mendengat pembicaraanku dan Yunho-ssi. Yah, mungkin memang benar aku harus pulang. Aku sudah tidak sanggup jika harus berdebat dengan Yunho-ssi.

“ Hyunna-ah…”

“ Jinki-ah, bukankah kau kemari untuk menjemputku pulang? Kajja, kita pulang.” Kupotong Yunho-ssi yang ingin membantah kata-kataku, aku langsung menuju tas ku yang ada di sisi ruangan dan buru-buru melangkahkan kaki keluar dari markas. Aku keluar dengan Jinki yang mengikutiku dari belakang, membuat jarak diantara kami. Bagus, begitu lebih baik. Jarak masih terbentang hingga kami sampai di parkiran mobil tepat di samping mobil Jinki. Jinki yang sampai dibelakangku, langsung membuka kunci mobilnya dan membukakan pintu untukku.

#####

Didalam mobil kami hanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Perjalan pulang menuju rumah memakan waktu yang lama karena Jinki sengaja melajukan mobilnya pelan dengan satu tangan menopang dagunya, Jinki juga sengaja membuka kacanya membuat angin semilir lembut menyentuhku. Baiklah, toh aku juga tidak ingin cepat-cepat sampai rumah untuk saat ini. Oh iya, aku baru teringat kalau Jinki dulu murid Art SHS dan lagi dia anggota squadron. Ah, apa dia mengenal dengan junior yang oppa ceritakan waktu itu? Lebih baik kutanyakan saja.

“uhm, jogie..” panggilku ragu. Jinki menoleh ke arahku sekilas lalu kembali memperhatikan jalan tanpa melepaskan tangan di dagunya.

“ apa kau.. benar-benar anggota squadron?” tanyaku masih ragu. Jinki tidak menjawab pertanyaanku. Oke, sepertinya pertanyaan ku salah. Dia memang benar-benar anggota squadron.

“ Hyunna pabboya!” umpatku dalam hati seraya menjitak kepalaku pelan karena kesal.

“ uhmm.. apa kau yakin.. kau leader squadron semasa kau di Art?” tanyaku lagi makin ragu. Kini dia menatapku dengan tatapan apa-kau-sedang-bercanda- nya seraya menaikkan alisnya. Agak lama lalu ia kembali fokus menyetir.

“ YA!! Berfikir lah dulu sebelum bertanya!” aku kembali mengumpat dalam hati sambil menjitak kepalaku lagi. Sepertinya dia melihat gerakanku karena kini dia mendecak remeh seraya mengeleng-gelengkan kepalanya.

“ karena, kau tau.. oppa ku juga leader semasa dia di Art!” jelasku akan pertanyaan ku sebelumnya. Jinki melajukan mobil nya jadi makin pinggir dan makin melambatkan mobilnya.

“ Hyunna, bisakah kau bertanya to the point? Kau selalu membuatku bingung dengan pertanyaanmu yang berbelit-belit” ucapnya datar. Itu terdengar seperti ejekan bagiku, tapi dia mengatakan dengan aura tidak ingin mengejek.

“ Jinki-ya…” belum sempat ku melanjutkan kata-kataku, Jinki segera memberhentikan mobilnya.

“ waegurae? “tanyaku penasaran. Kini ia menatapku dengan nyolot seraya menghela napas dalam-dalam.

“ kau ingin bertanya padaku, tapi kau masih saja memanggilku dengan tidak sopan” jawabnya datar membuat mataku membulat tak percaya. Aissh, jinjja hanya karena itu?

“ gurae.. Jinki ajushi.. keuchi?” tanyaku  tentang panggilannya.

“ ajushi!? Hah!, aissh.. jinjja, kau benar-benar tidak sopan!” dengus Jinki kesal kembali melajukan mobilnya pelan.

“ wae? Kau lebih tua lima tahun dariku, jadi kau pantas kusebut ajushi, bukan?” jelasku sambil tersenyum diam-diam. Memang benar, kan? Dia pasti sebaya dengan oppa ku. Yah, aku hanya menjahilinya. Hahah. Aku tidak ingin memanggil nya sopan walau dia sebaya dengan oppaku. Ingat? Dia merebut kamar oppa ku dan mengaku-aku sebagai leader padahal jelas-jelas oppa ku yang menjadi leader waktu itu.

“ Ya! Tua lima tahun masih belum pantas kau sebut ajushi, arra!?” sambar Jinki. Sedetik kemudian ia  memberhentikan lagi mobil nya dengan terkejut. Kenapa dia?

“ MWORAGO!? Lima tahun!? Apa aku terlihat SETUA itu?! Kau benar-benar keterlaluan!” kali ini jinki benar-benar marah karena baru sadar atas perkataanku terdengar dari nadanya yang meninggi. Ada yang salah dengan kata-kataku? Aku mengerutkan keningku, masih merasa tak bersalah. Memang aku tak bersalah, kan? Saat ini dia sudah bekerja di perusahaan appa, minimal dia pasti sebaya atau malah lebih tua dari oppa. Saat ini, oppa memang sebaya dengan nya tapi, itu karena oppa mengambil akselerasi selama dua tahun. Jadi, kalau Jinki yang tidak mengambil akselerasi tapi, sebaya dengan oppa berarti dia lebih tua dari oppa kan?

“ keterlaluan? Aku tak salah, kan? Kau pasti sebaya dengan Junsu oppa.. bahkan kau malah lebih tua darinya” gerutu ku padanya setelah penghitungan matangku seraya memasang tampang bingungku. Mendengar itu, Jinki kembali menghela napas nya panjang-panjang.

“ MWORAGO!? Lebih TUA katamu!? kau memang tak salah, tapi SOK TAHU!” nah, kan? Dia kembali mengataiku seenak jidatnya lagi. Dia selalu saja mencari ribut denganku.

“ MWO!? Kau yang keterlaluan mengatai ku sok tahu!” omelku.

“ kalau tidak sok tahu? Apa kau tuli?” tanya Jinki kembali membuatku kesal karena ia kembali mengataiku.

“ aku ini mantan leader setelah Junsu hyung, kalau tadi kau mendengar kata-kata Yunho hyung.. kalau kau kenal dengan Junsu hyung, tentu kau tahu aku lebih muda darinya” sambarnya mendahuluiku yang ingin marah padanya. Setelah mencerna kata-katanya, membuat ku menatapnya cengengesan. Hahah, benar juga. Dia leader setelah oppa tadi katanya. Aku kurang mencerna rupanya. Tapi, kalaupun begitu…

“ A! Keundae..harusnya kau belum lulus kuliah, kan?” tanyaku penasaran pada hitunganku yang sudah sangat teliti, kalau dia memang hoobae oppa harusnya ia masih kuliah di semester akhir saat ini. Pertanyaan ku membuatnya kembali menghela napas panjang dan menggelengkan kepala. Kini bukan hanya menolehku, ia menggerakkan tubuhnya sehingga menghadapku.

“ lagi-lagi kau sok tau! Aku sudah lulus sejak tahun lalu, aku sudah setahun kerja dengan appamu!” jelas Jinki panjang lebar. Tidak mungkin itu.

“ A! Maldo andwe…” seruku membantah.

“ mungkin saja, aku murid akselerasi!” jawabnya memotong sanggahanku. Ah, iya aku lupa.. dia kan sekolah di Art juga mungkin saja dia seperti oppa juga mengambil akselerasi, aku kembali cengengesan mendengarnya.

“ A! Gurae? Mian!” seru ku seraya mengacungkan kelima jariku layaknya sedang menyapanya.

“ aku hanya lebih tua darimu 1 tahun! Setidaknya panggillah aku oppa” jelasnya datar lagi seraya kembali melajukan mobilnya.

“satu tahun? Ahh, oppaku yang lebih tua tiga tahun dariku, tapi karena akselerasi dia  jadi lebih tua lima tahun dari ku.. dan dia lebih tua satu tahun dariku bisa mensejajari oppaku, berarti…” ucapku dalam hati, terhenti karena aku kembali menghitung-hitung.

“ MWO!?” pekikku tiba-tiba terkejut dengan perhitunganku dalam hati tapi tidak dengan tubuh ku yang mendukung pekikan dalam hatiku. Gerakanku membuat Jinki terkekeh geli. Dia… 3 tahun menjadi murid akselerasi? Seingin itukah? Sepintar itukah? Oppa ku saja menjadi murid akselerasi selama dua tahun. Artinya ia hanya loncat kelas dua tahun, tapi Jinki? Ahh, sudah tak usah membahasnya lagi! Aku jadi keki dibuatnya. Lagipula kalau begitu dia pasti mengenal junior kesayangan oppa itu.

“hemm.. geurom.. apakah kau kenal Onew si sangtae itu? “ tanyaku begitu membiarkan suasana hening sangat lama. Jinki menoleh terkejut kearahku. Tubuhnya menegang sesaat lalu kembali fokus mengendarai. Dia tidak menjawab pertanyaanku.

“ uhmm, jae oppa.. dia kesayangan oppaku.. uhm, aku..”

“ kita bicarakan lagi ini saat sampai rumah.. aku tidak akan konsen kalau begini..” potong Jinki. Apa-apaan dia? Bukankah daritadi dia berbicara, aissh..

 

Author POV

Jinki dan Hyunna sampai dirumah sekitar pukul 10 malam. Jinki tanpa basa-basi langsung duduk di sofa ruang tengahnya di ikuti oleh Hyunna. Jinki melipat kedua tangan nya di depan dadanya seraya bersandar di sofa serta melipat kakinya. Hyunna pun duduk disebrang Jinki.

“ Jadi, apakah kau mengenalnya?” Hyunna kembali memastikan.

“ Kalau aku mengenalnya, apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” Jawab Jinki datar. Membuat Hyunna menyeringai.

“ Aku akan menantang nya untuk menari, kau tau? Aku kesal karena oppa lebih menyayanginya dibanding aku!” Dengus Hyunna kesal. Pernyataan Hyunna membuat Jinki tersenyum remeh. Walaupun Hyunna tidak bilang bahwa oppanya itu adalah Junsu, Jinki sudah tau itu karena yang memanggil nya Onew sangtae hanya senior nya satu itu. Jinki sangat senang mengetahui bahwa kini ia mengenal yeodongsaeng Hyung nya. Tapi di sisi lain ia juga merasa bersedih, karena Hyung nya tidak sempat memperkenalkan dongsaeng nya sendiri. Jinki pun bisa bekerja di perusahaan appa Hyunna atas rekomendasi Junsu, karena Jinki tidak diperbolehkan mengurus perusahaan appanya sendiri ketika baru lulus kuliah.

“ Oh, ya? Apa penting nya kau melakukan itu? Apa akan merubah statusnya yang kesayangan oppamu itu?”Ejek Jinki. Ia juga tak terima Hyunna menantangnya, tapi belum saat nya menceritakan semuanya ke Hyunna. Pertanyaan Jinki membuat Hyunna menatapnya tajam dengan penuh amarah, telihat matanya yang mulai berkaca-kaca.

“ setidaknya aku ini dongsaeng yang lebih baik daripadanya.. apanya yang baik hati? Apanya yang setia? Apanya yang selalu menghibur? Bahkan disaat pemakamannya pun ia tak muncul dihadapan oppa untuk menghiburku! Aku lebih tegar darinya! Aku yang terbaik untuk oppaku! Aku menemaninya hingga saat terakhirnya! Sedangkan dia!? Apa dia pantas dibanggakan? Apakah itu etika orang yang katanya lebih pintar dari oppa ku? Huh!” maki Hyunna marah, membuat Jinki menegang dan terdiam. Jinki menunduk. Ya, dia sangat tau saat ini Hyunna tengah mengejeknya. Jinki sudah tidak sanggup menanggapi umpatan Hyunna untuknya, ini merupakan luka lama. Ini teramat perih baginya. Jinki beranjak dari tempat duduknya, mulai melangkahkan kakinya. Jinki berhenti disamping sofa  yang diduduki Hyunna. Jinki menghela napasnya panjang.

“ Setidaknya dia tetap oppamu, Hyunna.. oppa kandungmu.. tentu oppa mu itu lebih sayang kepadamu dibanding Onew nya itu.. sudahlah, lebih baik kau beristirahat. Kau sudah terlalu lelah untuk hari ini..” pesan Jinki lalu kembali berjalan meninggalkan Hyunna yang masih merenung ditempat duduknya.

 

Jinki POV

“Ahh, jadi oppanya Hyunna adalah Junsu hyung? Huh, maldo andwe..” sesalku dalam hati. Ohh, jadi Hyunna adalah Hyunchan? Hyung, akhirnya aku bertemu dengan dongsaengmu. Aku menutup pintu kamarku. Ah, bukan. Kamar sunbaeku, Junsu hyung. Ahh, jadi ini adalah kamar Junsu hyung? Pantas saja Hyunna melarang ku mati-matian untuk menempati kamar ini. Masih dengan tanganku di handel pintu yang ku belakangi, aku memandangi seluruh ruangan ini.

“Jadi, inilah kamar hyung ku itu.” Ulangku. Memang sejak awal aku memasuki kamar ini, ada perasaan rindu begitu menghirup aroma ruangan ini. Memang benar, kamar ini tak pantas kutempati. Aku harus segera menyelesaikan urusanku di Seoul. Aku terduduk perlahan, seraya bersandar di pintu yang kubelakangi. Ku benamkan wajahku diantara siku yang melingkar di lutut yang ku tekuk. Pantas saja, Junsu hyung merekomendasikan perusahaan Yoochun sajangnim. Ternyata ini adalah perusahaan appanya. Pantas saja, setiap Junsu hyung bermain kerumahku appa selalu menyambut nya senang dan akrab. Bahkan waktu pertama kali, appa langsung mengenalnya. Aku memang tahu, appanya memiliki perusahaan terkenal. Dia pun sering menjadi perhatian publik, tapi aku tidak tahu nama appanya. Membuatku kini sadar akan kebodohanku yang tak tahu apa pun tentangnya. Bahkan keluarganya.

#Flashback

Aku mengantar kepergian Junsu hyung kembali ke Seoul. Setelah kelulusannya kemarin, hyung langsung memutuskan segera kembali untuk menemui yeodongsaengnya yang besok berulang tahun dan akan menghadiri lomba dance. Junsu hyung sudah berjanji dengan dongsaengnya itu. Aku jadi iri dengannya. Hahah.

“ ya, sangtae! Jangan merindukanku yah..” serunya melihat ku tak bersemangat sambil menepuk punggungku dengan kuat.

“ cuihh! Aku masih waras, hyung.. tidak seperti kau yang ingin menjadikanku pacar..” candaku.

“ YA!! Itu ketika aku reinkarnasi, kan..” teriak nya tak terima di pandang yaoi olehku.

“ kapan kau akan kembali lagi ke New York, hyung?”

“ molla.. aku rasa, aku tak kan kembali lagi..” hyung mengangkat kedua bahunya.

“ MWORAGO!?” seruku terkejut mendengar jawabannya. Ia hanya terkekeh melihat ku terkejut.

“ Joa! Asal kau kembali saat aku wisuda!” komenku kesal.

“ aku gak janji, ya..” aku hanya terdiam tak menanggapi jawabannya, tega sekali dia.. hanya karena dongsaengnya itu, sampai tidak ingin kembali. Ya, bukan maksud apa-apa. Aku hanya sayang padanya sebagai hyungku. Mungkin karena aku anak tunggal jadi aku ingin sekali punya hyung atau nuna. Dan bagiku Junsu hyung sudah menjadi hyung ku, seperti hyung kandung.

“ YA Sangtae! Tak usah bersedih begitu..” hyung menyenggol lenganku dengan sikunya, menyadarkanku dari lamunan.

“ memangnya kau tidak ingin kembali ke Seoul apa? Kita kan bisa bertemu lagi disana..” hiburnya. Aku hanya mengerucutkan bibirku. Tetap saja ingin dia kembali melihat wisudaku tahun depan.

“ YA!! Jangan sok imut di depanku! Aku ini lebih imut darimu, arra?!” ledeknya.

“ Huh! Tau deh, yang prince nya Art! Hyung, ini di New York.. kalau disini aku yang lebih imut, arra?” godaku, karena waktu Junsu hyung memperkenalkan ku pada temannya pertama kali. Salah seorang teman yeoja nya bilang aku lebih imut darinya.

“A! Arra, arra..” cibirnya tak senang.

“ ya sangtae.. setelah kau lulus nanti, datang lah ke JH Entertainment..” tiba-tiba Junsu hyung mengalihkan topik pembicaraan. JH Entertainment?! Itu kan perusahaan entertainment terbesar di Korea yang merambah hingga di New York. Perusahaan itu juga sering bekerja sama dengan perusahaan appaku yang bergerak dalam bidang perfilman. Banyak artis-artis dari JH Entertainment bekerja sama dengan perusahaan appaku.

“ JH Entertainment!? Wae?” seruku tertarik.

“ aku akan segera melamar kerja ketempat itu, aku ingin kau bekerja sama dengan ku di perusahaan itu..” renung Junsu hyung beranjak dari tempat duduknya.

“ WHOAA!! Kau hebat hyung..” seruku mengacungkan kedua ibu jariku seraya mengangguk-angguk.

“ apakah perusahaan itu punya appamu, hyung?” tanya ku seketika, mengingat tak mudah masuk dalam perusahaan itu.

“ Ahh! Banyak tanya kau, sangtae! Lakukan saja perintahku!” seru hyung kesal seraya memukul kepala belakangku. Aku pun terkekeh.

“ Jadi kau akan disini hingga malam nanti, sangtae?” tanyanya sambil melirik koperku. Aku pun hari ini akan meninggalkan New York menuju Itali untuk melakukan research perfilman disana, sebagai tugas akhirku. Kuputuskan hari keberangkatan ku sama dengan hyung, karena aku akan bosan di dorm tanpa hyung ku itu. Aku tahu, hyungku itu tidak akan kembali ke New York dalam waktu yang singkat. Jadi, aku putuskan untuk menyetujui permintaan dosen pembimbingku untuk membantunya melakukan riset di Itali, bersama kedua temanku yang lain. Sekaligus aku bisa melakukan riset thesis ku, jadi aku melanjutkan pelajaranku setelah riset ini. Ya, aku berangkat pukul 8. Masih 5 jam lagi menuju keberangkatanku, aku pikir lebih baik aku disini saja, aku sudah malas kembali ke dorm lagi.

“ ne, hyung..” aku menjawab pertanyaannya.

“ kalau aku pasti akan mati bosan!” komennya, aku hanya terkekeh geli. Aku sudah menyiapkan laptopku, untuk menghilangkan kebosananku nanti.

“ oh, iya.. ketika kau bertemu dongsaeng ku nanti.. kau tidak boleh jatuh cinta, ya!? Ingat kau sudah berjanji, lohh!” seru Junsu hyung mengambil topik asal, kehilangan kata-kata untuk dibicarakan.

“ iya, aku janji.. aku juga janji, deh.. akan selalu menjaganya, saat sudah mengenalnya.. dimana pun dia berada.. nan kyeongna, hyung..” sambutku seraya hormat bergaya ala militer.

“ YA, Lee Jinki.. belajar lah yang tekun di Itali sana, o? Jangan mengecewakanku..” ucapnya kembali mengucapkan hal-hal yang random, membuat ku bingung dengan pembicaraannya tang tak fokus. Apa? Baru kali ini dia memanggil ku Jinki. Selama bertahun-tahun setelah ia mendapatkan julukan Onew sangtae untukku. Ini kali pertama ia menyebutkan nama asli ku dan dengan lengkap.

“ eii, hyung.. kau membuatku takut, dengan memanggil nama lengkapku..” seruku pelan seraya menyipitkan mataku curiga. Ini mulai terlihat aneh. Mulai saat kami berpisah di dorm. Ia menyuruhku untuk bertemu di bandara, padahal kemarin ia mengajak ku untuk berangkat ke bandara bersama. Dan, saat ia datang tadi, kulihat matanya yang memerah, seperti orang sehabis menangis, tapi aku tak berani untuk menanyakan. Aku takut terlalu ikut campur.

“ hahah, wae? Aku mulai merasa bersalah, mengatai mu sangtae..” jawabnya cengengesan, aku mulai mencibir.

“ issh, harusnya kau merasa bersalah sejak dulu..” ia mendorong kepalaku pelan karena mencibir, masih terkekeh.

“ mian, aku tak akan memanggilmu sangtae lagi.. aku janji..” janjinya dengan wajah yang serius.

“ aku sudah mulai terbiasa, hyung.. kau membuat ku takut hari ini.. kau terlalu aneh..” ucapku sambil geleng-geleng kepala, namun ia malah tertawa.

#####

O, putaran masa laluku berhenti ketika aku teringat akan janjiku pada hyung.

“ ya, aku akan menjaganya sebisa ku, hyung..” janjiku lagi.

“ Ah, aku seharusnya tidak menerima tawaran Yoochun sajangnim waktu itu..” sesalku dalam hati.Sebenarnya hatiku pun berat untuk menginjakkan kaki ke seoul ini, tapi rasa rinduku akan negara kelahiranku ini sangat lah besar. Terutama, ART SHS. Terlalu banyak kenangan yang tersimpan di sekolah itu.

“ setidaknya aku ini dongsaeng yang lebih baik daripadanya.. apanya yang baik hati? Apanya yang setia? Apanya yang selalu menghibur? Bahkan disaat pemakamannya pun ia tak muncul dihadapan oppa untuk menghiburku! Aku lebih tegar darinya! Aku yang terbaik untuk oppaku! Aku menemaninya hingga saat terakhirnya! Sedangkan dia!? Apa dia pantas dibanggakan? Apakah itu etika orang yang lebih pintar dari oppa ku? Huh!” makian Hyunna bahkan makin teringat jelas ditiap katanya.

Perlahan, aku menangisi kebetulan yang kini terjadi dalam hidupku. Apakah ini takdir? Haruskah ini terjadi? Bagaimana aku bisa menjaga nya, jika dia sangat membenci diriku. Suatu saat pasti dia akan tahu bahwa aku adalah dongsaeng kesayangan oppanya yang tak tahu diri. Aku malu jika harus berhadapan dengannya. Hyunna benar, aku tidak pantas dibanggakan. Bahkan aku tak pantas disebut sebagai dongsaengnya. Hyung, mianhaeyeo. Jeongmal mianhae. Hyung, aku akan menerima apapun hukumannya jika seandainya kau masih bisa menghukumku. Aku tak akan mengelak lagi, hyung. Hyung, apakah kau mengerti alasanku kali ini? Apakah semua itu terjadi karena keegoisanku? Seandainya saja…

TBC

Annyeong.. ontebiijjang dengan FF Chaptered yang kedua.. sejarahnya FF ini adalah FF terdahulu dan yang telah menginspirasi FF OPPA VS SUNBAE,  aku harap kalian suka sama cerita yang aku buat ini.. jangan lupa RCL yooo.. gomawoo ^^

21 responses to “I HATE YOU [Part 1]

  1. Pingback: I HATE YOU [Part 4] | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s