Another Lucifer World Chap 3

Another Lucifer World

-Meet Two Girls

Story and Written by :

Jilockets91

Main Cast :

Choi Minho as Elias

Alexa Lee

Erline Lee

Other Cast :

Choi Siwon as Andrew

Park Jung Soo as Dennis

Kim Jonghyun as Ty

Lee Donghae as Aiden

Lee Taemin as Nikky

Lee Jinki as Chase

Yang Yoseob as Endorphins

Lee Seunghyun as Victory

Park Bom as Jenny

Choi Seunghyun as T.O.P

Kim Heechul as Casey

Lee Hyukjae as Spencer

Kim Ryeowook as Nathan

Lee Sungmin as Vincent

Lee Gikwang as AJ

Yoon Doojoon as Doojoon

Kwon Jiyong as G-Dragon

Park Sandara as Sandara

Gong Minzy as Minzy

Rated : PG -15

Genre : Fantasy, Horror, Action, Thriller, a bit Romance, Angst

Disclaimer : The story is real my imagination. Plot is mine! And main cast belong to God.

Cover : A-Shawol  ( Posternya bagus eonni^ ^)

===============================================================

Dunia yang berbeda. jauh dari ketenangan. kehidupan yang kelam. bahaya selalu mengintai. bersiap-siaplah, jika kau datang ke tempat ini!

 

“Sekarang giliranmu, Elias,” GD berseringai kepadaku. Seringaian yang sedikit membuat bulu kudukku meremang. GD benar-benar menakutkan saat ini.

Ini final! Dan aku tak sungguh tak tahu, apa yang mesti aku lakukan sekarang?! Beberapa orang dari bangku penonton mulai meneriakkan nama GD agar segera menyerangku. Aku mengeluarkan keringat dingin, membuat sekujur tubuhku terasa basah. Sial! Otakku buntu!

Ayolah Elias, berpikir! Berpikir! Berpi—

BUKK!

Aku tersungkur beberapa meter ke belakang. Rupanya T.O.P sangat tidak sabar untuk meninjuku. Dan ia menggunakan kesempatan di saat aku lengah. Pukulannya benar-benar sangat kuat. Ototku terasa kaku karena T.O.P memukulku hingga punggungku membentur dinding. Sakit? sangat!

GD dan T.O.P berjalan mendekatiku. “Menyerah sajalah, Elias! Kami sungguh tak ingin menyakitimu lebih jauh,” ucap GD—terkesan—angkuh. Sedikit mengusap sudut bibirku yang terasa perih.

“Sampai kapanpun, aku tak akan menyerah semudah itu!” aku tersentak, kata-kata yang keluar dari mulutku tadi benar-benar suatu keajaiban. Biasanya, aku pasti lebih mementingkan diriku sendiri ketimbang orang lain. Tapi kalimat tadi? Mungkin roh Minzy memasuki tubuhku, huh.

“Baiklah, jika itu yang kau inginkan.” GD menendang perutku beberapa kali. Wajahnya  terlihat tanpa ekspresi sama sekali. Ia benar-benar tak merasa kasihan pada sahabatnya sendiri.

Beberapa menit berselang, napasku terasa berat. Sekujur tubuhku penuh dengan lebam. Sakit yang kurasakan semakin menjadi-jadi. Mengapa? Bukan’kah sesuatu yang sudah mati pasti tak akan merasakan apa-apa?

‘Mereka memasukan kembali jiwamu kedalam tubuhmu saat kau bertanding di arena. Ini lebih mudah untuk menentukan siapa yang bertahan.’

Suara ini? Ini suara Mr. Andrew!

BUKK!

Kali ini T.O.P yang menendang kepalaku. Tubuhku roboh. Terbaring terlentang sambil menatap langit. Tapi aku masih belum memejamkan mataku. Aku belum kalah!

Ini final! Dan GD juga T.O.P pasti menginginkan untuk menang, bukan? Bagaimana dengan Minzy? Ia sudah susah payah untuk maju ke babak penentuan ini! Apakah aku akan menyia-nyiakan kesempatan ini?! Apakah aku harus menghapuskan keinginan Minzy untuk menang?

Tidak! Aku tidak ingin kalah! Aku ingin menang! Hanya untuk sekali ini saja!

Aku bangkit dari posisiku. Menatap pada GD dan T.O.P dengan mata berkilat.

“Masih bisa bangun juga kau Elias…Apakah kau akan mengangkat tanganmu untuk menyerah? Atau kau ingin melawan kami?! Haha…lihat kondisimu Elias! Kau tidak akan mungkin bisa melawan kami—“

BUKK!

Aku menutup penuturan GD dengan tanganku yang terkepal. Meninjunya dengan tenagaku yang masih tersisa. T.O.P tampak terlihat kaget dengan tindakanku barusan. “Sudah kubilang’kan, aku tak akan menyerah dengan mudah!”

Aku merenggangkan otot-ototku. Sementara GD dan T.O.P terlihat menatap penuh amarah padaku. “K-k-kau!!”

GD dan T.O.P berlari bersamaan ke arahku. Sembari tangannya memegang sebuah tongkat yang entah kapan sudah berada di tangan mereka.

Aku memejamkan mataku. Mengingat-ingat sebuah mantra sihir yang pernah diajarkan kepadaku “Arièlèo dê Mìstárèisü”

Seketika GD dan T.O.P terhantam sebuah dinding batu dari bawah. Mereka tersungkur ke belakang. Hm…dinding itu sangat keras, ckckck. Setidaknya aku sedikit, err…merasa bangga karena berhasil membuat GD dan T.O.P lebam secara bersamaan. Ini sungguh keren.

“Masih berniat menyombongkan diri, eoh?” ucapku sembari menepuk-nepuk pakaianku yang kurasa berdebu. Mereka terlihat semakin geram terhadapku. Sekali-kali tak apalah, ini sungguh menyenangkan!

GD hendak bangkit, namun kakiku dengan sigap menahan dadanya. “Ayolah, kau hanya perlu katakan ‘Aku menyerah’, setelah itu kau bebas—“

BUK!

Ah~ rupanya dewi keberuntungan tidak memihak padaku. Dan aku menyesalkan posisiku yang berdiri sembari menginjak dadanya, karena ini mempermudahnya untuk menendang selangkanganku. Otomatis aku terlonjak ke atas sambil menahan sakit. Sial!

Dan setengah jam berlalu. Coba kau tebak, siapa yang memenangkan arena ini. Kau sudah memastikannya, bukan?

***

Aku memaksakan langkahku, menerobos sebuah hutan lebat yang sama sekali tak kutemui satu pun makhluk yang masih bernyawa. Tangan kiriku yang sedikit membiru—memar—kupakai untuk menarik tangan adikku dengan genggaman yang sangat erat. Entah ini membuatku tersesat, semakin jauh masuk ke dalam hutan tak berpenghuni, yang ada di otakku hanya satu, berlari sejauh mungkin!

“Aung…” suara lolongan itu semakin jelas terdengar di telingaku. Aku mempercepat lariku. Kulirik sedikit muka adikku, yang terlihat pucat dan kewalahan mengimbangi kecepatan lariku.

BRUGH

Perlahan, aku menghentikan langkahku. Menengok ke belakang dan mendapati adikku yang jatuh terduduk dengan goresan kecil di lututnya dan darah yang merembes di pergelangan tangannya. Tak jauh darinya, sesosok monster menyeramkan mendekati kami sambil menyeringai puas.

Aku berjongkok memunggunginya, “Naik ke punggungku, cepat!!” perintahku tergesa.

“Tapi—“

“Ayo cepat!! Naik, atau mati?!” desakku. Ragu, ia melingkarkan lengannya di leherku dan mengaitkan tubuhnya padaku. Aku berdiri lalu berlari. Berlari dan berlari. Tak peduli arah mana yang kupijaki sekarang, yang penting nyawanya bisa selamat dari monster menjijikan itu.

SREK

CRASH

Argh sial! Ranting hutan sialan ini menembus lengan kananku dan sedikit merobek kaki kiriku. Kurasakan aliran darahku berdesir. Monster itu kian mendekat.

Aku menurunkan adikku dengan gesit.

“Cepat pergi!” ucapku seraya mengatur napasku yang tersendat-sendat.

“Tap—“

“Cepat pergi! Lari sejauh mungkin! Tinggalkan aku dengan monster ini sendirian!!” bentakku keras padanya. Maaf, aku harus melakukan ini demi keselamatanmu. Aku tak mau kau terluka sedikit pun.

Raut khawatir menghiasi wajahnya sampai akhirnya ia berlalu dari hadapanku, menuruti perintahku.

Aku berbalik. Monster itu sudah tak berjarak lagi denganku. Aku mematung, ia seolah mengunciku agar tak bisa bergerak bebas dan kabur darinya. Kulitnya yang dingin perlahan menyentuh leherku. Kukunya yang runcing bersiap menunggu titah sang komando sampai akhirnya kuku runcing itu masuk perlahan menembus leherku.

Yang kurasakan saat ini…gelap.

Aku membuka mataku yang sedikit kaku. Pandangan samar-samar buram adalah hal yang pertama kali kulihat. Cahaya yang sangat terang seakan menusuk-nusuk mataku dengan sebilah pisau tajam. Argh…aku dimana sekarang?!

Aku mengerang saat rasa pusing menjalar di kepalaku. Berusaha bangkit dari posisiku sambil menggapai-gapai sesuatu yang bisa kugunakan sebagai alat bantu penopang tubuhku, dan itu membuat bagian perutku sakit karena tertekan oleh posisiku sekarang. Masih dengan mata mengerjap-ngerjap, sebuah telapak tangan yang lebih besar dari tanganku, memegang tanganku halus dan membantu mendudukanku dengan cekatan.

“Kau sudah bangun, Miss?” ucapnya lembut. Tapi langsung membuat kesadaranku pulih total.

“Siapa kau? Dan…dan dimana aku?!” ujarku melontarkan pertanyaan bertubi-tubi padanya. Aku merubah posisiku perlahan. Membuat rasa ngilu dan sakit di lengan, juga nyeri di kakiku serta sedikit rasa perih di leherku.

“Jangan banyak bergerak. Kau terluka, Miss.” Jawabnya mengabaikan berpuluh-puluh pertanyaan di otakku. Tanpa pikir panjang, aku menuruti perintahnya dan kembali menenggelamkan kepalaku di sebuah bantal.

“Uhm…sepertinya aku pamit dulu. Silahkan beristirahat yang tenang,—“

“Tunggu dulu! Mm…siapa namamu?”

“Nathan Kim, Miss. Kau?”

“Alexa Lee,”

“Hm…namamu sama dengan—“

“Sama dengan siapa?!”

“Ah tidak…aku permisi,”

Nathan meninggalkanku sendirian dengan lebih dari beribu-ribu pertanyaan di benakku.

Aku menghembuskan napas berat. Melirik sekujur tubuhku yang penuh dengan luka, dan ini terlihat sangat sangat tak mengenakan.

Pikiranku melayang-layang saat monster menyeramkan itu menyergapku. Kukunya yang seperti pisau yang sudah diasah ditusuk-tusuknya pada leherku. Dan…aku tak tahu bagaimana aku bisa sampai berada di sini.

Di surga? Itu terlalu mengada-ngada.

Aku memegang kepalaku yang terasa pening saat satu nama terlintas di pikiranku. ‘Erline? Bagaimana keadaannya sekarang? Apakah ia baik-baik saja?’pikiran itu terus saja bergelayut manja di otakku. Intinya, aku harus pulih secepat mungkin!

***

“Nathan!” panggilnya. Pria yang disebutnya lantas berbalik. Kemudian menatap hormat padanya.

“Bagaimana keadaannya sekarang?” tanyanya kemudian. Nathan mengangguk sambil tersenyum.

“Tidak terlalu buruk. Ia sudah sadar. Hanya saja, luka akibat monster yang menyerangnya hampir saja membuat urat nadinya terlepas,”

“Hm…baiklah.” pria itu mengisyaratkan sesuatu pada Nathan agar mengikutinya. Nathan mengangguk sekali lagi sambil menyimpan nampan yang berisi alat-alat yang dipakainya untuk mengobati ‘pasiennya’ tadi.

Pria itu membawa Nathan ke sebuah lorong-lorong yang gelap. Ia berhenti, kemudian meraba-raba dinding dan lantas mengayunkan lengannya. Menggumam kalimat-kalimat yang tak dapat dipahami oleh Nathan.

Sedikit demi sedikit, dinding itu terbuka lebar. Menampakkan sebuah ruangan yang hanya dihiasi lilin-lilin yang perlahan-lahan mencair. Dilihatnya sosok gadis yang tengah menekuk wajahnya. Ia gusar…dan bingung.

“Ah….Mr. Dennis!” pekiknya menyadari kehadiran laki-laki yang tiba-tiba sudah ada di sampingnya. Pria itu—Dennis—tersenyum sambil membelai lembut kepala gadis yang sekarang sudah berada dalam rangkulannya.

“Bagaimana keadaanmu, Erline?”

“Kurasa aku baik-baik saja berkat kau, Mr, Tapi kakakku…” gadis itu menghentikan kalimatnya. Gurat kesedihan terlihat menyamai wajahnya sekarang.

“Kakakmu?” selidik Dennis. Mencoba menggali informasi sebanyak mungkin dari seorang gadis yang sudah ia anggap sebagai anaknya. Baru satu hari ini ia mengenalnya. Dan ia sudah merasa nyaman berada di dekatnya.

“Yeah, Alexa Lee, Kakakku,” Nathan sedikit tersentak saat Erline menyebut nama yang baru saja ia berbincang dengan orang yang disebut Alexa olehnya.

Erline menatap Nathan seksama. Dan itu sedikit membuat Nathan risih dengan tatapan tanda tanya darinya.

“Siapa dia, Mr. Dennis?” tanyanya  pada Dennis sambil memasang wajah polos.

“Nathan Kim,” kenal Nathan cepat, berinisiatif untuk mengenalkan dirinya sendiri sebelum Dennis memperkenalkannya.

“Oh,” gumamnya singkat. Kembali ke kegiatan awal. Menghela napas, gelisah, dan menghentak-hentakkan kakinya pada permukaan lantai. Dennis menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Erline yang menurutnya tak tenang.

“Mau jalan-jalan?” tawar Dennis tiba-tiba. Erline hanya mengangguk dalam diam.

“Ayo, mungkin jalan-jalan bisa sedikit menghiburmu.” sorot teduh Dennis perlahan membuat Erline sedikit melupakan kegelisahannya saat ini. Ditariknya tangan Erline halus. Ketenangan menjalar di hati Erline. Ia merasa sangat nyaman berada bersama Dennis.

Erline memelankan langkahnya, membuat Dennis tergerak untuk turut memelankan langkahnya dan menatap Erline bingung.

“Tempat….apa ini?”

***

Gadis itu berjalan tertatih-tatih keluar ruangan. Tangannya mengepal, menahan rasa sakit yang dirasakannya di seluruh tubuhnya. Otot-ototnya terasa ngilu.

Ia menatap bingung ke seluruh ruangan. Dalam hati ia pasti berpikir, ‘tempat macam apa ini?’

Darah mulai merembes keluar menembus bajunya yang sedikit transparan. Di tatapnya cairan merah pekat itu ngeri. Ia membayangkan dirinya dalam keadaan banjir darah.

Setiap ruangan ia telusuri. Hanya bermodalkan cahaya remang-remang yang dihasilkan lilin-lilin di setiap dinding ruangan.

Keadaannya semakin melemah. Tangannya bergetar kuat. Udara dingin berhembus, membuatnya sedikit menggigil saat berhasil keluar dari tempat yang disebutnya ‘aneh’.

Suasana mencekam yang pertama ia jumpai. Sedikit ia hiraukan mengingat keadaannya yang sangat kritis. Perlahan, aliran darahnya berdesir. Ia merasakan sesuatu di dekatnya.

DEG

Sosok itu. Sosok itu lagi. Ia mengangkat kakinya lebar-lebar. Mencoba menghindari sosok yang membuatnya hampir kehilangan nyawa.

Ia masih ingin hidup!

Perlahan, sosok itu menarik tubuhnya kasar. Tangannya yang kasar dan tajam, lagi-lagi bersiap untuk menjemput nyawa sang gadis. Ia mencekik leher gadis di hadapannya. Membuatnya kehabisan napas.

“S…si…ssi..al..” gadis itu semakin meronta tatkala sosok menyeramkan itu semakin memperkuat cekikannya. Gadis itu masih bertahan. Ia masih mempunyai keinginan untuk hidup!

Gadis itu memejamkan matanya erat. Mulutnya seperti tersihir untuk melafalkan beberapa kalimat yang sedikit demi sedikit menguasai dirinya. Ia ingin bebas dari cengkraman monster itu.

Seolah mendapat tekanan dahsyat yang luar biasa, monster itu melonggarkan cengkramannya. Cairan hitam pekat mulai keluar dari tubuhnya. Sampai akhirnya tubuh itu menghilang, meledak ditelan bumi.

Gadis itu terjatuh. Tak ada yang menopangnya sekarang. Mungkin ia merasa menyesal telah keluar dari tempat ‘aneh’ itu. Dan ini membuatnya semakin mempercepat kematiannya. Sekarang, ia merasa malaikat maut telah berada di sampingnya dan bersiap mengayunkan tongkat sabitnya.

***

“Tempat apa ini?” gadis itu mendelik tajam ke arah Dennis. Meminta penjelasan yang sebenarnya. Dennis membuka mulut hendak bicara, namun perhatiannya tertuju pada hal yang lain.

“Tunggu dulu,” Dennis mempertajam pendengarannya. Sesuatu hal membuat alisnya tertarik ke atas. Tubuhnya menegang.

“Maaf, tapi aku harus pergi,” ucapnya tergesa. Gadis itu semakin menatapnya tajam.

“Aku ikut!” serunya. Dennis menatapnya datar. Berbanding 180 derajat dengan yang tadi.

“Maaf, tapi kau harus tetap di sini.” Dennis mendorong pelan tubuhnya, membuatnya meronta.

“Jelaskan padaku! Apa yang terjadi!” pintanya tagas.

“Ukh…dan sekali lagi aku harus minta maaf, sepertinya aku harus melakukan ini!” Dennis mengunci kedua pergelangan tangannya. Mulutnya bergerak, mengucapkan beberapa untai kalimat-kalimat yang kemudian membuat gadis itu tak lagi meronta. Membeku, menyamakannya menjadi patung diantara lukisan dan ukiran yang menyeramkan.

Dennis menatapnya sayu, “Seharusnya kau tak banyak bicara, Erline.”

Dennis berlari menyusuri gang-gangg sempit yang menjorok ke bawah. Tiba di suatu tempat dengan disuguhi pemandangan yang tak enak dipandang.

“Sudah kuduga, hal ini akan terjadi,” gumam Dennis. Semua orang yang ada disana terkejut mendengar penuturan seorang yang sangat mereka hormati.

“Gadis ini keluar saat aku tidak sedang menjaganya. Entah apa yang ada di pikirannya saat itu sampai ia bisa senekat ini,” bisik Nathan pada Dennis. Sekarang, dalam ruangan gelap ini hanya ada empat orang. Nathan, dirinya, seorang gadis, dan seorang pria yang menjaganya.

“Mr. Dennis, kau sudah memberitahukan hal ini kepada Mr. Andrew?” seorang pria angkat bicara. Merasa jenuh.

“Sayangnya belum. Andrew mungkin sedang sibuk mengurusi para ‘pendatang baru’ yang jumlahnya semakin bertambah. Dan tak mungkin ada waktu, kurasa.” Jelas Dennis. Dilangkahkan kakinya menuju ranjang tempat sang gadis yang menjadi topik utama itu terbaring.

“Nathan, Aiden…kenapa ia bisa selamat? Ia benar-benar keluar, ‘kah?”

Nathan dan pria di sampingnya mengendikkan bahunya. Yang mereka tahu, setiap manusia yang berkeliaran di sekitar sini, sudah dipastikan, dan ditemukan tidak bernyawa esok harinya “Mungkin Elias tahu akan hal ini. Ia yang membawa gadis itu kemari.”

“Kalau begitu, panggil Elias ke sin—“

“Aku disini, mencariku?” suara berat itu terdengar dari balik pintu. Seseorang membukanya, dan tampaklah sosok tegap jangkung itu menatap mereka dingin. “Apa yang kau ingin katakan, Dennis?”

“Hei! Dari tadi aku tak melihatmu! Kau mendengar percakapan kami, huh? Ahaha..” Nathan, Dennis, dan sosok jangkung itu menatapnya seolah berkata ‘jangan bertindak konyol, Aiden!’ membuat ia tersenyum dipaksakan, “Maaf,” ucapnya pelan.

“Kita sedang tak main-main, Aiden!” peringat Dennis. Jari telunjuknya menghadap ke arah Elias. “Aku ingin bertanya satu hal padamu. Kau yang menyelamatkan gadis ini?”

“Tidak,” jawabnya singkat.

“Apa yang terjadi? Jelaskan lebih detail!”

“Aku hanya menemukannya tergeletak pingsan saat aku tengah berjalan-jalan di hutan sekitar.”

“Itu berbahaya!” sambung Aiden. “Kau bisa saja mati besok pagi!”

“Kau kembali bertingkah bodoh, Aiden! Ia jelas-jelas sudah menguasai ilmu sihir tingkat tinggi, dan itu 9 tingkat di atasmu, bodoh!”

DOENG!! Serasa ada awan mendung di sertai petir yang menyambar-nyambar di atas kepalanya, Aiden merasa sangat bodoh detik ini.

“Baiklah, aku pesankan pada kalian, jangan sampai memberitahukan kedua gadis yang kubawa kemari pada anak-anak penghuni kastil ini.” Semua yang ada di sana mengangguk patuh, tapi tidak dengan Elias.

“Kau telah memasukan dua manusia ke kastil ini. Jelas-jelas ini melanggar aturan!” sanggah Elias.

Dennis tertawa “Kau juga seorang manusia, Elias!”

“Aku bukan manusia, ingat itu! Aku benci manusia!” Elias membanting pintu keras. Nathan dan Aiden menganga lebar.

“Melupakan jati diri sendiri, eh? Hahaha… Kau bahkan menyelamatkan nyawa seorang gadis yang disebut manusia. Apa itu tindakan ‘membenci manusia’?” Dennis terkekeh.

“Oh, Mr. Dennis…aku tak mengerti apa yang terjadi.” sunggut kedua pria yang dari tadi hanya menyimak.

“Belum saatnya untuk tahu, Aiden, Nathan. Akh…percakapan tadi sedikit menyita waktuku.” ucap Dennis sambil memegang keningnya. “Kembali ke topik utama, bagaimana keadaan gadis itu?”

“Sangat-sangat buruk. Kulit lehernya tersobek. Tangan kanannya tergores. Pergelangan tangan kirinya patah, lututnya lecet. Dan selebihnya, ia memar di semua bagian tubuhnya. Dan satu lagi…ia kekurangan darah.” Terang Nathan serinci mungkin.

“Bisa’kah kau melakukan suatu hal yang dapat menyelamatkan gadis itu?”

“Ilmu sihirku tak cukup tinggi untuk hal separah ini. Kurasa…Elias bisa. Kalian tahu’kan, bahwa Elias memenangkan The Death Game waktu itu,”

“Tapi ia pasti tidak akan mau,” balas Aiden.

“Andrew mungkin…tapi..—“ Dennis menghentikan ucapannya.

“Tapi?”

“Andrew mungkin sedang sibuk. Tapi akan kucoba nanti.”

Sunyi. Mereka kembali ke pikiran mereka masing-masing.

“Tapi bukan’kah menyelundupkan dua orang manusia ke dalam kastil ini termasuk hal yang ilegal di dunia kita?!”

“Yaa Aiden!! Itu bukan penyelundupan! Hentikan sifat bodohmu itu!”

***

Sebuah ruangan besar itu terlihat ramai di bagian tengah. Seperti bergerombol untuk mendapatkan informasi yang sangat penting terlebih dahulu.

“Mr. Andrew tidak ada,”

“Benar’kah?!”

“Katanya ia mengurus para pendatang baru.”

“Mana mungkin,,”

Terdengar beberapa makhluk berkasak-kusuk, berdiskusi perihal Mr. Andrew yang menghilang tanpa jejak. Dan itu membuat Dennis gusar. Kastil ini akan hancur jika tidak ada pemimpin.

“Perhatian semua!” teriak Dennis lantang. Sontak membuat semua makhluk disana diam mengunci mulutnya untuk tak berbicara sepatah kata pun. “Saat ini, Mr. Andrew tidak ada.Tapi kita harus bersiap, jika ‘mereka’ menyerang kastil ini!”

Mereka? Tentu saja. Ini akan sangat menarik!

***

Sosok itu berjalan letih menuju ruangan pribadinya. Tapi sebelum sampai, ia dihadang oleh seseorang yang mencegahnya.

“Dari mana saja kau, Andrew?” tanya pria yang memegang tangannya khawatir.

“Aku sangat lelah hari ini. Aku bisa menceritakannya nanti.” Jawabnya.

“Baiklah, tapi selelah-lelahnya kau, kau harus melihat ini.”

Dennis menarik tangannya, membawanya ke suatu tempat dimana seorang gadis berbaring.

“Ukh…mengapa aku selalu saja harus berurusan dengan manusia,” erangnya.

“Tapi kau tak akan mengatakannya dihadapan Elias, kan?”

“Jangan bertanya jika kau sendiri sudah tahu jawabannya..hm, apa yang harus kulakukan untuknya?”

“Kau harus menyembuhkannya.” Tukas Dennis.

“Aku hanya bisa membuatnya sadar. Tak lebih. Jika kau ingin ia pulih, Elias pasti bisa.” Ia memegang tangan dingin gadis itu. “Lukanya sangat parah. Tapi, bagaimana bisa ia selamat. Kau tahu’kan…jika seorang manusia yang bertemu dengan monster di luar kastil ini, tak akan selamat?”

“Aku juga bingung. Ini teka-teki yang sulit. Mungkin ia punya semacam…yah, kau tahu maksudku,” Dennis berkata sangat hati-hati.

“Maksudmu semacam…kekuatan?” tanyanya balik.

“Mungkin. Tapi, cepat segera tolong gadis lemah ini, sebelum ia..—“

“Aku tahu, jangan menyuruhku, Dennis!” ia menatap Dennis dengan tatapan ‘aku tahu’. Dennis mengendikkan bahunya acuh.

Ia menatap wajah pucat gadis itu. Tangannya tergerak untuk mengusap ujung kepalanya. Sedang tangannya menggumamkan kalimat-kalimat bahasa asing.

“Open your eyes.” Ucapnya setelahnya.

Perlahan, gadis itu mulai membuka kelopak matanya. Jari tangannya sedikit demi sedikit bergerak di dalam tangan Andrew. Membuat mata Andrew membesar dua kali lipat.

“Dia sudah sadar,” ujarnya. Melirik Dennis yang sedikit senang. “Bagaimana kau membawa gadis ini kesini?”

“Cerita yang sangat panjang, akh..maksudku sedikit panjang…yang jelas, aku membawa dua orang gadis kesini..—“

Andrew tersentak ke depan “Apa?!!” teriaknya sedikit keras. “Kau tahu, semua makhluk disini ini bukanlah manu—“

“Kecuali Elias! Dia seorang manusia yang tak mengakui jati dirinya sendiri!” bantah Dennis tenang. “Baiklah, aku tak tahu bagaimana kedua gadis yang dibawa olehku bisa sampai kedunia ini. Dan…dan sebaiknya kau mengijinkannya untuk tinggal disini,”

“Baiklah,”

***

Aku menatap bayangan diriku di cermin. Aku masih hidup? Ini keajaiban! Kukira, aku akan mati di tangan monster menyeramkan itu.

Mengangkat kepalaku, menariknya ke atas. Memperlihatkan leherku yang terluka. Ini dunia yang berbeda! Ayolah, ini bukanlah mimpi belaka. Ini kenyataan! Kastil ini, monster itu, orang aneh yang mendiami tempat ini, ini semua bukan ilusi semata.

“Hai!” seseorang menepuk bahuku pelan. Membuatku meresponnya dengan segera berbalik, menghadap ke arahnya.

“Oh..h-hai!” balasku kaku. Seorang pria—yang menyapaku, tersenyum sangat manis. Aku baru pertama kali melihatnya. Sangat lucu dan terlihat bersahabat. “Mm..maaf—“

“Nikky Lee…” serunya mencoba menebak apa yang ada di pikiranku. Aku tersenyum canggung. “Ingin makan bersama? Mengenalkanmu pada semua orang yang mendiami kastil ini,” ajaknya.

Aku hanya diam, berpura-pura untuk berpikir. Sedikit melihat bekas lukaku yang masih belum pulih total.

Ia menyikut lenganku, seperti seseorang yang dekat denganku. “Ayo! Sangat menyenangkan bila mempunyai anggota baru di kastil tua ini,” serunya—sedikit mengejek. Aku tertawa pelan. “Cepat! Semua orang tengah menungguku di meja makan. Dan mereka pasti terkejut melihatmu, seperti aku, yang diperintah Mr. Dennis untuk menjemputmu.” Rengeknya padaku, seperti anak kecil. “Cepat!”

“Oh y-yeah…tentu,”

***

Dihadapkan pada berpuluh pasang mata yang menatapku dengan tatapan tanda tanya, sangat risih! Aku harus terus memaksakan diri untuk tersenyum—mengingat kalau aku sama sekali tak mengenal tempat ini—dan tersenyum merupakan hal yang bukan kebiasaanku.

Dan kehidupan yang tidak normal, terjadi padaku mulai hari ini

Wait for the next chap ^ ^

Advertisements

6 responses to “Another Lucifer World Chap 3

  1. finally muncul lanjutannya juga..hehehe ^^
    btw itu yg menang jdnya minho bgitu? ga nyangka banget lhooo~ pdhl dy manusia biasa tapi skg kekuatannya bahkan 9 level diatas..kerennn~
    eh, siapa tuh 2 org yeoja manusia biasa yg dibawa? koq bisa masuk kesana jg ya? hmm, jd makin penasaran apa mreka bakal senasib seperti minho..hehehe 🙂

  2. uwa…. akhirnya nongol juga lanjutannya.. 🙂
    haha
    nunggu ampe jamuran n lumutan niiii #plak
    -halah lebaiii-
    di tunggu lanjutannya lagi thor 😀

  3. yeeeeeeeeeeeeei chap 3 muncul ~(^-^)~
    HWAHAHAHA ternyata abang minho q menang, slma 2 thun level’ny dy udh hebat gt,,,,
    yei yei yei dsni muncul si tetem,,,hahaha sllu sbagai namja imut n manis kkk~
    oya 2 gadis itu sp??? n knpa bs masuk kdunia sna???
    ad msalah kah mreka dengan kehidupan dunia manusia??? kyk minho kn gt,,,dy brmsalah am dunia manusia….jd’ny dy ad dsna krng…
    okeh dlanjuut authoooor chap 4 lebh cepet yaaaah ^^
    Hwaitiiiiiiiiiiiiiing…..!!! 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s