Seasons of The Lucifer [CHAPTER 20]

Seasons of The Lucifer

Title: Seasons of The Lucifer

Author: LucifeRain / Aya

Genre: FAMILY – FRIENDSHIP – ROMACE – HURT

Leght: Chaptered

Ratting: G

Main Cast:

Cho Minhye a.k.a Cho Minhyun

Kim Kibum a.k.a Key

Choi Minho a.k.a Minho

Lee Taemin a.k.a Taemin

Kim Jonghyun a.k.a Jonghyun

Lee Jinki a.k.a Onew

Season of The Lucifer [TRAILER] : Click Here

Previous Chapter: Click Here

Lucifer

Seseorang berwajah malaikat namun seperti iblis

Hati yang egois

Cinta yang tulus

Kesucian yang keliru

Mengancam

Berulang kali salah seperti malaikat dan iblis

Mempunyai perasaan yang tidak jelas

Lucifer adalah keberanian

~*~*~*~

“Key jangan, kumohon…” ucapnya disela nafas yang tersenggal.

Key mengangkat kepalanya dan menatap Minhyun dengan kilat bengis “kenapa? Bukanya kau ingin membantuku? Lagi pula kita sudah cukup dewasa untuk melakukan ini”

Minhyun mengerang histeris karena dirinya tak bisa lepas dari jeratan Key, namja itu terlalu kuat mencengkram pergelangan tanganya. tapi sesaat kemudian jeritan itu tak terdengar karena mulutnya langsung dibungkam oleh bibir Key yang menciumnya liar.

Air bening menetes dari sudut matanya. Minhyun terpejam, ia tak menyangka konsekuensinya akan seberat ini. tapi seluruh jiwa yang terus terbawa oleh namja itu mendorongnya untuk membalas perlakuan Key. dan semua itu hanya berujung dilema.

~

Bibir itu tak lagi melumat, dan tangan yang tadinya mencengkram kini mengendur secara perlahan. Key melepas pagutan bibirnya, nafasnya terasa sesak ketika menatap gadis di hadapanya. Bahu Minhyun bergetar hebat, matanya terpejam dan secerca cahaya lilin membuat pipinya berkilat yang sejurus kemudian langsung disadari Key bahwa gadis itu menangis.

Key beranjak dari hadapan Minhyun, terduduk di ujung tempat tidur dengan wajah tertunduk. Terdengar helaan nafas berat yang disusul erangan frustrasi. Ia mengepalkan tanganya yang semakin mendingin lalu membiarkan paru parunya terisi penuh oksigen demi menenangkan pikiran yang berkecamuk liar.

Dia tidak mengerti kenapa dirinya kehilangan kontrol. Pengendalian diri yang begitu buruk dan perilaku yang tak berakal… seolah bukan dia…

Gejala phobianya menghampiri dalam skala cepat, tapi ketakutan yang menyertai seakan berbeda. Semua karena pendaman emosi yang sangat jauh melewati batas, ia terlalu lelah menyimpan semuanya dan tadi dengan begitu bodohnya ia meluapkan itu semua dengan cara yang salah…

Tetapi, bagian dirinya yang menyimpan trauma terhadap mahluk biadab itu mengasumsikan bahwa perbuatanya tadi adalah pelampiasan yang tepat.

Dua argumen yang menjadi perdebatan liar, disatu sisi ia merasa pelampiasanya salah sasaran namun disisi lain ia berpendapat bukankan ‘mereka’ semua adalah sama?

Key mengempaskan punggungnya ke tempat tidur. Ia menoleh ke samping kanan dan menatap Minhyun yang berbaring di sebelahnya. Pandanganya tertuju pada telapak tangan Minhyun yang terbuka, tanpa disadari tangannya terangkat dan terjulur untuk menyentuh tangan itu.

Namun ia menjatuhkan tanganya…

Key memejamkan matanya dan menampik keras keinginan untuk menatap seseorang di sebelahnya. Keinginan untuk menggenggam tangan itu adalah kekeliruan, semestinya Dia tak peduli….. karena kepedulian itu hanya akan membuat Minhye menjadi wanita ketiga yang paling dibencinya semumur hidup.

Beberapa saat kemudian terdengar ritme nafas yang mulai teratur, menandakan bahwa dirinya telah terlelap. Key tak lagi mau menggenggam tangan itu karena Cho Minhyun pasti akan melepasnya untuk kedua kali, dia pasti membencinya.

~*~*~*~

Ting…

Pintu lift terbuka dengan bunyi disusul kecil yang muncul bersamaan. Choi Minho melangkah keluar dari tempat itu, ia mengedarkan pandanganya ke seluruh dorm dan tak menemukan siapapun disana.

Minho berjalan melewati ruang tamu menuju kamar Taemin – Minhyun. Saat pintu terbuka, keadaan didalam serupa dengan tempat sebelumnya. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana dan mengetikan sesuatu pada layar.

“Key jangan, kumohon…”

Suara itu mengehentikan jarinya yang hendak menghubungi ponsel Minhyun. Sesaat kemudian terdengar kegaduhan kecil yang membuatnya menoleh ke arah pintu kamarnya sendiri.

Minho tampak terkejut dengan kalimat itu dan suara yang mengatakanya. ia menatap sisi bawah pintu dan menyimpulkan bahwa lampu di dalam kamarnya tidak bernyala.

“Kenapa? Bukanya kau ingin membantuku? Lagi pula kita sudah cukup dewasa untuk melakukan ini”

Desisan itu terdengar samar namun seorang Minho dapat mendengarnya dengan sangat jelas, dan itu menciptakan efek negatif pada pemikiranya. Ia berjalan ke ujung lorong kemudian menekan sakelar lampu.

Kini lorong itu hanya disinari cahaya tipis dari ruang tamu dan ia melangkah ke hadapan pintu kamarnya tanpa menimbulkan suara. Minho memutar pelan kenop pintu lalu membukanya, tak ada cahaya yang masuk ketika pintu terbuka karena lorong dan kamarnya sama sama gelap.

Seketika ia mematung di ambang pintu saat mendapati Key dan Minhyun berada dalam satu tempat tidur dengan posisi bibir yang menempel. Wajah itu tampak gelap karena hanya disinari secerca cahaya lilin dari arah belakangnya, tapi gerakan tubuh mereka dapat diterka dengan mudah.

Minho mencengkram keras gagang pintu yang masih digenggamnya. Emosinya memuncak menatap kedua orang itu, ingin rasanya ia berdiri di hadapan Key dan mencengkram kerah baju namja itu lalu mendaratkan pukulan keras bertubi tubi. Namun luapan kemarahanya teredam ketika Key tiba tiba menjauh dari hadapan Minhyun dan duduk termanggu di tepi tempat tidur.

Helaan nafas berat yang terdengar membuat Minho sadar bahwa Key sangat tertekan dan seolah ditikam emosinya sendiri. Ia memahami jika Key membutuhkan penyaluran terhadap kekecewaanya namun Ia tidak mengerti kenapa harus Minhyun yang dipilih untuk menerima itu, Cho Minhyun telah banyak  menerima pelampiasan dalam hidupnya… dan Minho sangat mengerti.

Berjalanya waktu dihabiskan Minho dengan mematung pada posisi yang sama, dan ia baru mengambil langkah ketika yakin bahwa Key telah terlelap di atas tempat tidurnya.

Minho menaiki anak tangga secara perlahan dan berjalan ke hadapan Minhyun, ia melingkarkan tanganya di leher Minhyun dan menyelipkan tangan yang satunya di belakang lutut Minhyun. Minho menggendong Minhyun dengan hati hati dan berusaha melangkah tanpa suara saat menuruni tangga.

Awalnya ia ingin memindahkan Minhyun ke kamarnya, tapi mendengar nafas Minhyun yang tidak teratur layaknya orang tidur, Minho pun memilih untuk membaringkan Minho di Sofa ruang tamu.

Saat Minho berdiri hendak berjalan ke dapur, tiba tiba saja ia merasa pergelangan tanganya ditarik. Minho berbalik dan mendapati Minhyun dalam keadaan duduk dengan wajah tertunduk, tangan yang mengenggamnya itu teramat dingin.

“Aku… takut…” ucap Minhyun terbata, suaranya terdengar parau dan bahunya sedikit bergetar.

Butiran air jatuh dari sudut matanya disusul dengan isakan pelan. Minhyun tak tahu harus berbuat apa dan lagi lagi ia hanya bisa diam menerima sebuah pelampiasan. Dia tak bisa berbuat apa apa ketika Key memperlakukanya seperti itu, sama seperti dirinya yang selalu diam ketika ibunya menyuruhnya pergi bahkan ayahnya yang selalu dibuk seakan menghindarinya. Bahkan dirinya tetap diam meskipun tahu masa depanya yang terancam, apa yang harus ia lakukan? Semua menjadi camuh dalam pikiranya.

Lalu sejurus kemudian Minhyun merasa Choi Minho memeluknya, kehangatan namja itu seakan menjangkitinya dan melingkupinya. Membuatnya beratnya beban dalam batinya seolah terangkat dan ia dapat bernafas lebih tenang.

“Aku tak akan membiarkanmu merasakan itu lebih lama”

~*~*~*~

Ia berjalan sendiri di sebuah ruang putih yang tak berujung dan seolah tak empunyai sudut. Hanya ada dirinya yang berbalut jubah putih dengan segaris bayangan yang selalu mengikutinya ketika ia melangkah mencari pintu keluar ruangan itu.

Derap langkahnya bergaung bagai dentingan nada minor yang menciptakan atmosfir mencekam. Ia memutar tubuh menatap sekeliling dengan gusar, tak ada siapapun disana bahkan suaranya langsung menghilang ketika ia berteriak. Seolah hanya indra penglihatan yang berfungsi…

Key mengacak rambutnya frustrasi, wajahnya tak kalah pucat dengan ruangan itu dan suhu tubuhnya serupa dengan temperatur disana. Dingin. Ia membalikan badan dan seketika itu raut gelisah terpeta jelas diwajahnya, karena seseorang yang paling dibencinya kini berdiri di hadapanya.

Gadis itu terlihat cantik dengan balutan gaun putih dan rambut yang tergerai indah dan disertai ulasan senyum manis yang menghiasi wajahnya.

“Kry…” ia tak mampu menyempurnakan nama itu, seakan ada yang mengelukan lidahnya.

Sesaat kemudian indra pendengaranya berfungsi, lantunan suara Krystal yang mengucapkan namanya seakan bergaung dalam lorong telinganya. Suara tawa yang menyertai membuat bulu jangatnya meremang. Ia menutup telinganya dengan kedua telapak tangan, dan erangan tertekan terlepas dari bibirnya yang membiru.

“Tidakkk…”

Ketika ia berbalik semua lenyap.

Namun dirinya dihadapkan pada sesosok wanita dengan senyum lembut yang sangat disayanginya… dulu. Kali ini ia tak menutup telinganya karena yang memenuhi indera itu adalah alunan lagu Lullaby. Suara itu menyusup lembut dan menenangkan, sebuah lagu pengiring tidur yang selalu dinyanyikan ketika ia kecil dulu.

Ia merasa ada sesuatu yang menepuk punggungnya dengan lembut dalam tempo teratur. Itu semua tidaklah asing karena ia selalu menerima perlakuan itu sewaktu kecil.

Mata itu tetap tak bisa menatap wajah ibunya karena terlalu banyak pilu yang tersirat disana. Masa lalu ibunya, surat peninggalan itu seolah menjadi gas beracun yang menghancurkan segala asa dan intuisinya.

“Tidakkk…”

Key memutar tubuhnya menghadap sebelah kanan, kali ini ada rasa sesak yang memenuhi batinya ketika melihat bayangan Cho Minhyun yang tertunduk dengan raut sedih. Semua itu karena dirinya…

Ia tertunduk dengan tatapan pilu, mungkin memang ia kalah dengan masa lalu. Tapi saat Key menengadah, ia merasa sebongkah harapan menghampirinya. Tepat di depan Cho Minhyun berdiri seorang gadis dengan balutan gaun putih. Rambutnya terurai panjang dan yang membuatnya terlihat sangat cantik adalah topeng bunga Eidelweis yang dikenakanya.

Gadis itu tersenyum kepadanya dan bibirnya bergerak seperti mengucapkan sesuatu. Tak ada suara yang terdengar namun dirinya dapat menangkap jelas arti dari gerakan bibir itu… sebuah kata kunci.

You are The Almighty Lucifer”

 

Your Undeniable spell is the Lucifer

Your Undeniable magic is the Lucifer

With your angelic face

Say the reason you live for me say it

 

Salah satu sudut bibir Key tertarik, menciptakan seulas senyum iblis ketika untaian kalimat itu menjadi bisikan yang mengitarinya. ia tak perlu orang lain selain gadis itu. dia adalah perantara yang benar.

Tangan gadis itu terjur ke hadapanya dengan telapak tangan terbuka, atmosfir dingin yang sejak tadi mengiringinya seakan lenyap dan terganti dengan hembusan hangat.

Key mengangkat tanganya, saat ia hendak menyambut telapak tangan itu segalanya menghilang…

~

Sepasang mata itu terbuka sempurna, lalu mengerjap seolah mengumpulkan kesadaran. Key menegakkan punggungnya dan terduduk menyandari sandaran tempat tidur.

Udara segar mengalun dari balkon kamarnya, menghembus tirai tirai putih yang menimnulkan suara gesekan pelan. Pikiranya masih dipenuhi tentang mimpi tadi, sosok gadis misterius itu… apakah dia akan datang?

Saat ia menurunkan kakinya ke sisi samping tempat tidur, pandanganya langsung tertuju pada kotak kaca yang terletak diatas lemari kecil sebelah tempat tidurnya. Di dalam sana tergeletak sebuah topeng yang tak kunjung ditemukan siapa pemiliknya.

Subuh tadi ia terbangun dan langsung pergi dari asrama menuju Breath of Heaven. Sesungguhnya dia tak pernah terlelap sempurna, ia sadar ketika Minho menggendong Minhyun dari tempat tidurnya, bahkan ia masih dapat mendengar percakapan Minho dan Minhyun diluar kamarnya.

Mungkin Minho dan Minhye berada dalam satu garis takdir…

 

Key beranjak dari tempat tidurnya dan berlalu keluar kamar. Saat ia menuruni tangga spiral rumahnya, Key menyadari ayahnya sedang duduk di ruang tamu rumahnya dengan sebuah album foto yang tergeletak di atas meja.

“Abeoji…”

Kim Hyun Joong hanya menatap Key sekilas lalu kembali memusatkan pandanganya pada album foto dihadapanya. Ia membalik lembar terakhir pada album itu kemudian mentupnya.

Key terdiam di ujung tangga. Baru kali ini ia melihat ayahnya dengan ekspresi murung, memang mereka tidak tergolong dekat tapi ayahnya selalu memasang wajah penuh senyum ketika mereka bertemu.

“Aku selalu senang saat mengingat bagaimana ibumu sangat menyayangimu” kenang Hyun Joong ketika Key mengambil posisi duduk disebelahnya.

Key mengangkat sebelah alisnya menatap album foto itu, sudah lama ia tak membuka benda itu tapi dia hafal betul bagaimana isinya karena dulu itu adalah buku kesayanganya.

“Tapi aku membencinya dan kau menghianatinya. Sungguh Yeoja yang malang” ucapnya disertai senyum sinis pada akhir kalimat.

“Sepertinya nasibku lebih buruk” Hyung Joong meraih cangkir kopinya lalu menyesap isinya separuh “aku menyayangi kedua gadis itu tapi pada akhirnya mereka meninggalkanku, dan anakku memiliki penyakit kejiwaan”

Hyung Joong tertawa kecil ketika Key melayangkan tatapan sinis padanya. “kau memang mempunyai Phobia aneh, tapi anakku yang satunya lebih parah”

“Maksudmu, anak dari teman lesbian ‘dia’”

“Kim Kibum, kau berkata seolah mereka sangat buruk. Sudah ku bilang ibumu dan dia itu istimewa”

Key hanya mengangguk tak acuh “Lalu apa yang terjadi pada anakmu yang satunya”

“Dia biasa dididik sangat keras dari kecil dan dalam lingkungan yang buruk. Dan ketika ia menyanyangi seorang gadis, latar belakang itu membuatnya memiliki obsesi yang buruk. Nasibmu jauh lebih beruntung”

Key menatap ayahnya penuh tanya, cerita itu sepertinya dia familiar…

“Gadis yang disayanginya sangat menderita dan akhirnya aku memutuskan untuk membawa gadis itu pergi. Aku tidak akan pernah mengembalikan Gadis itu jika Kim Jonghyun tak bisa mengontrol emosinya”

“Kim… Jonghyun??”

“Aku senang ternyata kalian sangat dekat. Dia saudaramu…”

~*~*~*~

Kim Jonghyun… Aku mencintaimu

 

Ruangan itu tampak kosong, perabotan yang biasa memperindah setiap sisi kini tak terlihat lagi, menyisakan bercak pada setiap figura yang hilang dan hanya meninggalkan sebuah Sofa berwarna magenta yang terlalu banyak menyimpan kenangan.

 

Kau selalu berjanji untuk tidak mengulangi perbuatan burukmu tapi kau selalu mengingkarinya…

 

Semilir angin berhembus dari jendela tak bertirai. Di atas sofa tampak seorang namja yang berbaring dengan membaca secarik kertas di tanganya.

 

Luka di tubuhku belum sepenuhnya mengering dan kau terus menciptakan luka.

Kim Jonghyun, pernahkah kau merasa sangat lelah sampai tidak bisa bangkit lagi? ku rasa tidak, karena kau orang yang kuat.

 

Jonghyun menggeleng frustrasi, kalimat itu salah besar. Sejak pagi tadi ia hanya berdiam diri di apartment Naomi, sudah berapa lama gadis itu pergi? Apakah Naomi tidak mengkhawatirkanya ketika ia terbaring koma?

Tidak. Naomi terlalu baik untuk itu… Semua ini bahkan belum setimpal…

 

Aku menyayangimu dan aku menyayangi Naoki…

Orang itu…

Tapi aku datang pada Herry Kim karena hanya dia yang bisa menjadi penopangku, dan aku mengikuti rencananya.

 

Jonghyun terduduk di sofa, ia meletakan secarik kertas itu di sebelahnya. Sudah berkali kali ia membaca rentetan kalimat itu, bahkan ia sudah hafal bagaimana isinya.

 

Aku berhenti dari dunia modeling. Kau tidak akan bisa menemukanku sebelum kau berubah dan bisa mengontrol emosimu dengan baik. Bila nanti saat itu tiba, kau pasti akan menjadi orang paling bahagia karena kau memiliki aku dan…

 

Tidak ada lanjutan setelah tulisan itu karena bagian bawah kertas itu di sobek.

Jonghyun meraih ponselnya lalu mengetikan nama Herry Kim di daftar kontak. Ia lalu mendekatkan ponsel ke telinga.

“Yobboseyo?” Suara ramah khas Herry Kim terdengar dari seberang sana.

“Dimana Naomi?” Jonghyun berkata dingin.

Mimik wajahnya berubah sinis kala mendengar tawa renyah Herry Kim.

“Dia baik baik saja, dan kau pasti akan bahagia jika menemukanya suatu saat nanti”

“Dimana Naomi?!!!” suara Jonghyun meninggi.

Lalu sambungan telepon itu terputus, saat Jonghyun ingin memanggil ulang tiba tiba muncul Video Call dari ponselnya.

Dari layar itu terlihat Herry Kim sedang duduk di sebuah sofa yang dilatar belakangi pemandangan pantai. Sekilas tempat itu terlihat mirip Gazebo.

“Aku memang tidak bisa mempertemukanmu dengan Naomi, tapi aku akan memperlihatkanmu seseorang”

Herry Kim menggeser posisi ponselnya sehingga memperlihatkan bagian sofa di sudut kiri. Kedua alis Jonghyun bertaut ketika mendapati sosok orang dikenalnya sedang duduk di sebelah Herry Kim.

“Key! Bagaimana bisa kau bersamanya?”

Herry Kim tertawa pelan lalu merangkul bahu Key. Awalnya Key hanya memasang ekspresi datar, namun ketika Herry Kim menepuk nepuk bahunya sambil tersenyum lebar, ia menatap kearah Jonghyun seraya melayangkan seulas senyum.

Awal pertemuanya dengan Herry Kim, Jonghyun merasa ada sesuatu yang sangat familiar. Dan kini semua itu terjawab.

Key dan herry Kim memiliki lengkung senyum yang sama, dan ketika mereka menampilkan itu wajah mereka terlihat sangat serupa.

“Sudah saatnya kalian tau. Kim Jonghyun, kau dan Kim Kibum, kalian adalah anakku. Dan tidak ada yang lebih membanggakan dari itu”

~*~*~*~

“Buat apa kita belanja sebanyak itu? waktu kita tinggal di Dorm hanya seminggu lagi” gerutu Onew setelah duduk di Jok samping kemudi, baru saja ia selesai memindahkan barang belajaan ke bagasi mobil.

Minho melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang “itu semua pesanan Key, Minhyun, dan Jonghyun Hyung. Tapi yang paling banyak pesanan Taemin” tuturnya.

“Aish… bocah itu. akan ku suruh Jonghyun menyundulnya”

Setelahnya Minho hanya menanggapi gerutuan Onew dengan gumaman kecil, ia memilih berkonsentrasi menyetir. Sepertinya Onew masih belum sadar kalau mobil yang membawanya bukan melintasi jalan pulang ke SShall.

Minho membelokan mobilnya memasuki sebuah komplek perumahan, beberapa menit kemudian ia menghentikan mobilnya di depan rumah berwarna Krem.

“Ini dimana?” Onew menatap Minho bingung.

“Ikutlah”

Minho keluar dari mobilnya kemudian berjalan memasuki teras di rumah itu setelah memastikan bahwa Onew ikut bersamanya, ia mulai mengetuk pintu.

Beberapa kali Minho mengetuk, akhirnya pintu bercat coklat itu terbuka dan munculah seorang pria berumur sekitar pertengahan 40 tahun tengah menyapanya lewat senyuman.

“Annyeong haseyo” sapa Minho dengan membungkuk sopan.

“Annyeong haseyo. Kau Choi Minho kan?” pria itu melangkah mundur “Silahkan masuk” ucapnya sopan.

Minho melangkah memasuki rumah itu, ia mengambil posisi duduk di sofa panjang berhadapan dengan pria tadi. Begitu pula Onew yang mengikuti jejak Minho dan ikut duduk di sebelahnya, ia terlihat santai dan mungkin mengira Minho melakukan hal yang lumrah semacam mengunjungi saudaranya.

“Ada keperluan apa kemari?” tanya Pria yang bernama Choi Raeseok tadi, bertepatan dengan itu seorang yeoja datang dengan membawa nampan berisikan tiga cangkir teh.

Minho menyunggingkan seulas senyum “Sebelumnya perkenalkan dulu…” Minho menepuk pundak Onew yang saat itu meraih cangkir the “Dia temanku, Lee Jinki. Dia adalah keponakanmu”

Onew yang saat itu hendak meminum teh, meletakan kembali cangkirnya lalu menatap Minho bingung sambil melayangkan tawa aneh “Kau bergurau? Aku saja tidak pernah tau siapa orang tuaku, dan sekarang kau bilang aku keponakan Ahjussi itu?! Haha lucu sekali” tukasnya dengan tawa yang di buat buat di akhir kalimat

Tidak ada kesan main main dalah ekspresi Minho, dia tampak serius terlebih ketika menatap Choi Raeseok. “Choi Raena mengalami kecelakaan sekitar bulan desember dan saat itu dia membawaku di dalam sebuah bis. Aku menyewa detektif untuk mencari tahu tentang yeoja itu dan yang ku dapatkan adalah Choi Raena bekerja di sebuah rumah sakit, dia memiliki seorang suami dan baru melahirkan awal tahun 18 tahun lalu. Bulan januari. Tetapi suami dan anaknya mengalami kecelakaan dan menghilang sampai saat ini”

Minho beralih menatap Onew “Hyung, kau lahir bulan januari dan kau pernah bilang kalau Hwang Ahjumma, pelayan asrama Daemyung yang mengagkatmu sebelum di adopsi, pernah bercerita kalau sewaktu kecil kau mengalami kecelakaan yang menewaskan ayahmu”

“Jika aku menyimpulkan Hyung adalah anaknya Choi Raena dari cerita itu, sudah pasti tidak masuk akal dan terkesan kebetulan. Tapi argumen itu semakin kuat ketika Ahjussi memperlihatkanku sebuah foto dan  mengatakan kalau anaknya Choi Raena sangat mirip dengan suaminya. Foto itu mengambarkan Choi Raena dan suaminya yang sedang mengendong bayi mereka…”

Minho tak lagi melanjutkan ucapanya karena Choi Raeseok berdiri tiba tiba, ia berjalan ke lemari besar yang memenuhi dinding rumahnya lalu membuka laci kecil dan mencari sesuatu disana.

Sedangkan Onew masih menatap Minho dengan ekspresi terkejut bercampur bingung. Tidak biasanya Minho mengatakan sesuatu panjang lebar, dan jika itu terjadi pasti adalah hal yang sangat penting.

Choi Raeseok menutup kembali laci yang dibukanya, ia berjalan menuju kursinya tadi dengan membawa sebuah figura. Tepat di depan Onew dia menatap figura itu dan kemudian kembali menatap Onew.

Setelah beberapa saat ia memperhatikan Onew, akhirnya Choi Raeseok tersenyum. Ia menyerahkan figura itu ke tangan Onew.

Onew menerima figura itu dengan perasaan gamang. Saat ia menatap rupa dua orang yang tergambar di dalam bingkai itu, tangannya sedikit bergetar. Onew bangkit berdiri lalu menatap Choi Raeseok dengan mata berkaca.

“Benarkah itu orang tuaku?” tanyanya sedikit terbata.

Di foto itu tergambar seorang wanita berambut panjang sedang mengendong bayinya dan di sebelahnya berdiri seorang namja yang merangkul wanita itu sambil tersenyum lembut kearah kamera. Onew seolah berkaca pada versi yang berbeda.

Choi Raeseok tidak menjawab pertanyaan Onew, tetapi  ia langsung memeluknya erat. Dia menepuk pundak Onew dengan pelan “Maafkan aku karena tidak pernah berhasil mencarimu”

Onew belum pernah merasa sebahagia ini, ia tidak pernah membayangkan bisa tahu siapa orang tua kandungnya bahkan mimpi pun terlalu mustahil baginya. Sebuah kejutan yang tak pernah terduga datang secara tiba tiba, mungkin jalan hidupnya akan berubah hingga ia tak lagi merasa sendirian.

“Lee Jinki, aku yakin sekali orang tuamu sangat menyayangimu. Kakakku pasti bahagia karena aku telah menemukan anaknya”

~*~*~*~

Minho membuka pintu mobilnya dan melangkah memasuki Lobby sebuah rumah sakit swasta terbesar di Seoul. Sepulang dari kediaman Choi Raeseok, Onew menyuruhnya untuk mendatangi rumah sakit tempat Choi Raena bekerja dulu.

Ia sempat menolak karena kemungkinan untuk tahu masa lalunya sangat kecil karena kejadian itu sudah hampir dua dasawarsa. Namun Onew tetap memaksanya, Apa salahnya dicoba? Kau tidak rugi, dan kalau ada sedikit petunjuk bukanya itu bagus?, begitulah kalimat Onew.

Akhirnya Minho pun menuruti saran itu, ia pergi kerumah sakit setelah diberitahu oleh Choi Raeseok. Sedangkan Onew sendiri memilih tinggal disana karena masih ingin mengobrol panjang lebar dengan pamanya.

Banyak pasien yang berlalu lalang di tempat itu, Minho sendiri merasa ragu ketika berjalan menuju meja resepsionis. Sesampainya disana, seorang suster menyambutnya dengan sopan.

“Ada yang bisa kami bantu?” tanya suster itu.

“Saya ingin mencari data seorang suster yang bekerja disini kira kira 18 tahun lalu, dimana saya bisa mendapatkanya?” tanya Minho langsung.

“Mari ikut saya” tiba tiba seorang suster berumur sekitar 40 tahun-an datang kesebelah suster yang menyambut Minho tadi “ini sedang ramai ramainya, kau urus dengan baik” ujar suster itu kepada suster yang tadi menyambut Minho.

Setelah mendapat anggukan dari Juniornya, Suster itu keluar dari meja resepsionis. Minho berjalan dibelakang suster itu, tak lama kemudian mereka memasuki sebuah ruang yang dipenuhi berkas dan beberapa orang suster yang bekerja. Entahlah, mungkin Semacam ruang informasi.

Suster itu menyuruh Minho duduk berhadapan denganya, mereka dihalangi sebuah meja kerja yang diatasnya terdapat sebuah komputer flat dan beberapa tumpuk berkas.

“Jadi apa keperluanmu?” Tanya suster itu.

Minho tampak terpekur sejenak “Saya ingin mencari data tentang Choi Raena, ia pernah menjadi suster sekitar 18 tahun disini”

Suster itu menautkan jemarinya di atas meja seraya mengangguk kecil “Boleh saya tahu nama anda siapa dan ada hubungan apa dengan suster Choi Raena”

“Nama saya Choi Minho, tidak ada hubungan apa apa tapi punya keperluan penting”

Air muka suster itu berubah, ia menatap Minho dengan dahi berkerut. “Kau anaknya Choi Sooyoung?”

Kali ini Minho yang merasa heran mendengar nama orangtua angkatnya disebut. Sebenarnya apa hubungan Choi Raena dengan Choi Sooyoung?

Tiba tiba suster beranjak dari duduknya dan melangkah pergi, beberapa menit berlalu akhirnya suster tadi datang. Bukanya membawa file tentang Choi Raena seperti harapan Minho, suster itu malah menyerahkan sebuah ponsel ke arah Minho.

“Yobboseyo”

~

Seorang wanita yang mengenakan blazer indigo serta bandage skirt berwarna senada, berjalan memasuki ruangan yang terletak di tingkat tertinggi sebuah gedung. Sepatu bertumit miliknya menimbulkan bunyi yang memenuhi ruangan cukup luas itu.

Ia melangkah kesamping kursi besar di depan sebuah meja kerja yang diduduki seorang Namja yang sibuk berkutat dengan laptop dan tumpukan berkas di atas meja. Namja itu sepertinya sangat sibuk dan tidak menyadari kehadiranya.

“Ada apa, Sooyoung-ah?” Tanya Hyukjae tanpa menoleh ke arah Sooyoung karena sibuk membolak balik beberapa map.

Ternyata dugaan Sooyoung salah, tentu saja Hyukjae menyadari kehadiranya. Ia menatap namja itu lekat, seakan ada yang berubah dari penampilanya. Hey, sejak kapan Hyukjae merubah warna rambutnya menjadi hitam? Baru tadi pagi ia melihat namja itu dengan rambut coklatnya.

“Kau terlihat lebih dewasa” komentar Sooyoung seraya mengusap pelan rambut Hyukjae.

Terdengar tawa kecil dari bibir Hyukjae “kau mengingatkan kalau aku semakin tua. Tapi aku lebih tampan kan?” di akhir kalimat baru lah Hyukjae menoleh ke arah Sooyoung dan melepas senyum tengil khasnya.

Sooyoung memutar bola mata acuh tak acuh “Ada hal penting yang ingin ku beritahu”

Hyukjae hanya mengangkat sebelah alisnya menanggapi ucapan itu, saat Sooyoung hendak berbicara tiba tiba ponselnya berbunyi. Ia menatap sekilas layar ponselnya lalu mengusap bundaran hijau di sana.

“Yobboseyo” sapanya.

“Yobboseyo Choi Sooyoung-ssi, ini aku suster Kim Jung Ah”

Sooyoung mengangguk kecil “Ada apa Kim Jung Ah-ssi?”

Mendengar nama itu disebut, Hyukjae langsung menyenggol lengan Sooyoung ‘Loudspeaker’ titahnya dengan gerak bibir tanpa suara, Sooyoung pun langsung menurutinya.

“Dulu kau memerintahkan jika ada seorang pemuda bernama Choi Minho datang mencari data Choi Raena maka pihak rumah sakit harus menghubungimu dulu kan?” ujar suster itu. “Maka ini sesuai permintaanmu, Choi Sooyoung-ssi.

Hyukjae dan Sooyoung saling pandang lalu tersenyum penuh arti “Tolong biarkan aku bicara denganya, Jung Ah-ssi” pinta Sooyoung.

“Yobboseyo” suara rendah Minho terdengar di seberang sana.

“Yobboseyo Minho”

“Choi Sooyoung…?” suara Minho terdengar ragu “Kenapa…. Ada hubungan apa dengan semua ini. Sooyoung-ssi, kau kenal Choi Raena?” tanya Minho heran

Soyoung menatap Hyukjae seolah minta persetujuan dan Hyukjae pun langsung mengangguk mantap “Akhirnya kau sampai juga di tahap ini, sepertinya lebih cepat dari perkiraan kami…”

“Maksudmu?” sela Minho

“Bayangkan ini adalah turnamen dan kau telah menjadi pemenang, maka aku akan memberitahumu sebuah rahasia besar sebagai hadiah”

“Sooyoung-ssi, kau berbelit belit. Jadi sebenarnya kau tahu masa laluku? Bagaimana semua itu terjadi?” nada bicara Minho terdengar gusar

“Aku tahu siapa orang tuamu Choi Minho” Sooyoung menghela nafas panjang, menenangkan dirinya demi menyiapkan kalimat yang tepat. “Choi Raena adalah sepupu jauhku tapi aku sangat dekat denganya. Dia menyelamatkanmu dari penculikan, dan membantu ibumu melahirkan. Orang tuamu adalah orang terkenal pemilik dari Chohagle Groups, rumah terbesar di Seoul adalah rumahnya”

Setelah Sooyoung menuturkan hal itu, tiba tiba sambungan terputus. Ia meletakan ponselnya di atas meja dengan raut cemas.

“Dia hanya syok” ujar Hyukjae mencoba menenangkan.

“Akhirnya dia tahu apa yang selama ini dicarinya” ucap Sooyoung “tapi aku tidak menyangka dia akan tahu tempat rahasia di kamar kita”

“Semua itu karena Eunmi” imbuh Hyukjae. Mereka memang sudah lama tahu hal itu karena Eunmi mengaku mengambil DVD keroronya bersama Minho. Tapi mereka membiarkanya dan bersikap seolah tidak tahu.

“Ini permainan yang sangat menarik” guman Hyukjae “untung kita tidak mengikuti niat awalmu yang memberitahunya setelah kau menemukan anak itu di yayasan Theresia”

Dulu Sooyoung memang berniat memberitahu Minho tentang yang sebenarnya, tapi Hyukjae melarang karena alasan emosi Minho yang tidak stabil sebab dia baru memasuki remaja. Rencana itu terus ditunda karena Sooyoung dan Hyukjae sibuk menyelidiki siapa “SHINee” dan mereka sangat terkejut karena ternyata kelima orang itu mempunyai masalah yang sangat rumit dan saling berhubungan.

Sampai akhirnya Cho Minhyun datang dan Hyukjae pun mematangkan rencananya, ia telah menyelidiki keseharian dan sifat Cho Minhyun. Semua itu cocok sebagai kriteria yang ditetapkanya demi membantu terungkapnya rahasia di antara SHINee dan membantu mereka mencari jati diri masing masing.

Semua berjalan lancar, mereka selalu memantau aktivitas enam orang itu melalui orang dalam asrama yaitu Park Ahjussi dan beberapa mata mata yang mereka sewa. Hyukjae dan Sooyoung merasa puas karena keenam orang itu akhirnya bebas dari belenggu masalah mereka.

“Sebentar lagi masalah ini akan berakhir” tutur Sooyoung dengan senyum mengembang. “Lee Hyukjae, kau memang hebat”

Hyukjae tersenyum lebar “Tapi itu tandanya kita akan kehilangan satu anak kita” ucapnya lalu menyandarkan punggung di kursinya.

Sooyoung melangkah menuju jendela kaca di belakang kursi Hyukjae yang menampilkan pemandangan hiruk pikuk kendaraan di kota Seoul pada sore hari “Kita tetap mempunyai dua anak”

“Minho memang kita anggap sebagai anak sendiri, tapi kan dia pasti memilih tinggal dengan orang tuanya”

“Hoamm…” Sooyoung menguap kecil lalu merenggangkan kedua tanganya ke atas “Sepertinya aku tidak langsing lagi karena perutku akan membesar”

Mendengar ucapan itu sontak mata Hyukjae membulat, ia melompat dari kusinya lalu melangkah untuk memeluk Sooyoung dari belakang. Diikecupnya pipi kanan Sooyoung lalu tertawa lebar “Ternyata olah raga malam kita berhasil membuat produk baru hahahah”

~*~*~*~

Setelah menjelaskan maksud kedatangan pada Security akhirnya pintu gerbang terbuka dan mobil Minho melesat memasuki rumah terbesar di Seoul itu. sehabis mendengar penjelasan singkat Sooyoung, ponsel itu langsung terjatuh dari tangan Minho dan ia berbegas lari ke mobilnya untuk mengunjungi rumah ini.

Minho membuka pintu mobilnya, ia mematung sejenak dengan pernyataan mengejutkan Sooyoung yang seakan berputar dikepalanya. Ia melangkah ke teras rumah yang mempunyai desain artistic berseni tinggi itu.

Degub jantungnya meliar dan perasaanya tak karuan, ia belum pernah segelisah ini. seharusnya ia senang disuguhi kenyataan bahwa orang tuanya adalah orang terkaya di korea selatan tapi sebuah kekhawatiran hebat menggerogoti hatinya.

Minho memenekan bel di samping pintu dan tak lama kemudian dua orang pelayang wanita berseragam lengkap membuka pintu dan menyambutnya dengan bungkukan sopan.

“Ada yang bisa kami bantu” tanya pelayan itu setelah menuntun Minho ke ruang tamu.

“Saya ingin berbicara dengan pemilik rumah ini” ucap Minho. Ia memperhatikan sekeliling rumah itu, tak ada satupun foto keluarga yang terpajang disana. Semua perabotan mewah yang menghiasinya terlihat sangat kaku dan seakan hanya menjadi alat ukur derajat sosial mereka.

Minho tidak menyangka ujung dari rankaian masa lalunya menimbulkan kecemasan sehebat ini. bukan karena orang tuanya sangat kaya maka ia berniat menemui mereka tapi ini demi sebongkah perasaan.

Tiba tiba seorang pria paruh baya berkaca mata menghampirinya “Tuan Cho sedang berada di jepang, jadwalnya sangat padat dan sangat sibuk” ucap Pria itu datar.

Minho menghembuskan nafas panjang lalu menatap serius pria tadi “Katakan padanya kalau anak laki lakinya ingin bertemu” seakan ada gejolak ketika Minho mengucapkan itu, semua terasa asing dan berjalan sangat mengejutkan.

Dentuman gejolak yang berpendar menjadi kekhawatiran tak berujung, seperti membuatnya tak sanggup menunggu kepastian lebih lama. Minho butuh penjelasan atas semuanya.

Ia memejamkan matanya sejenak dan menghirup nafas dalam, sepintas muncul bayangan Cho Minhyun saat bersamanya bahkan suara tawa gadis itu seolah menggerogoti pikiranya.

Semua menjadi rancu ketika tawa itu terdengar semakin nyata, Minho membuka matanya dan tawa itu tetap terdengar. Kini ia tahu asalnya suara itu.

Tidak.

Jendela besar ruang tamu langsung menghadap halaman belakang rumah, disana terdapat sebuah danau buatan yang tidak terlalu besar dan di dominasi deretan pohon oak dan pine di sekelilingnya.

Di tepi danau terlihat Cho Minhyun sedang bersenda gurau dengan seseorang yang duduk di kursi roda, Minho tidak bisa melihat orang itu karena membelakanginya.

Ketakutanya adalah benar.

Minho berlari menuju pintu ke halaman belakang tanpa memperdulikan pria tadi yang terkejut seusai mendengar ucapanya. Ia terus berlari ke tempat Cho Minhyun berada dan ketika mereka berhadapan tampak jelas semburat kekagetan yang tergores di wajah Minhyun.

Nafasnya terasa sesak bukan akibat berlari namun begitu resah menghadapi Minhyun.

“Minho-ya, kenapa kau disini?”

Minho tak membalas pertanyaan Minhyun, ia langsung mendekap Minhyun dengan tanganya yang mulai mendingin karena begitu panik. “Cho Minhye, dengarkan aku baik baik”

Minho memejamkan mata, menenangkan dirinya sejenak “Apapun keadaanya aku tetap mencintaimu” akhirnya kata itu terucap.

Minho semakin mengeratkan pelukanya, tak peduli dengan Minhyun yang bertanya heran dan pada akhirnya Minhyun berhenti kemudian secara perlahan melingkarkan tanganya di pinggang Minho. Disaat itulah dirinya merasa tenang.

Minho membuka matanya dan ketika ia ia baru menyadari seorang wanita di kursi roda menatapnya. Sorot mata yang biasanya kosong dan wajah tanpa ekspresi selama belasan tahun itu kini terlihat hidup.

_TBC_

Aku minta maaf part ini ngepostnya telat. SoL tinggal 2 part lagi nih *letusin kembang api-masuk kamar-meringkuk di pojokan #eh? ._.

Part ini panjang loh sampe 5000 word, kepanjangan nggak sih? Abis kalo nggak gini bisa bisa SoL sampe 3 atau 4 part lagi deh u,u. jadi bisa dipastikan chap depan bakal sepanjang ini atau bahkan lebih panjang.

Dan selesailah misteri anak anakan disini muahahhaa, siapa yang terbakanya bener ngacung!!! Padahal clue JJong-Key udah banyak banget, kan udah dikasih tau kalau babenya key sama jjong kerja di jepang di bidang aerodynamic. Apa Cuma gara gara english name and korean name mangkanya gak bisa nebak ._.

Semua udah aku kasih Clue, emang ‘sedikit’ menjebak sih muahahaha.

Masih ada yang belom kebagian Password SoL special edition? Kalo belum coba cek email siapa tau udah dikirim. Kalo belum komen di wp pribadi ku ya ^^ tapi tobat ya jadi siders haha

Bakalan ada side story yang ngebahas babe en enyaknya minho yang gak akan dibahas disini, di protect gak ya hahaha. Don’t be siders, bisa? Tinggal 2 part terakhir nih hahahaha 😀

Ps: semua komentar akan dibalas. Sankyu *mian kepanjangan*

Choose one, Happy ENDING or Sad ENDING ???

Advertisements

192 responses to “Seasons of The Lucifer [CHAPTER 20]

  1. Hah..!ternyata selama ini ibunya Minhye selalu ngomong anakku laki2 yang dimaksud Minho toohh..
    Emm,,semakin seru aja apalagi satu persatu masalah mulai terungkap.

  2. Apapun keadaanny aku gk rela mreka kakak beradik. Apa itu yg dmaksud ibu minhye jika anakny laki2. tp trz minhye anak siapa? aq hrp minhye bkn anak nya cho kyuhyun dan bkn sodara kndung minho. gk rela aq. aku ingin mreka brsatu. 😦

  3. yakin nih minho sama minhyun saudara?? deg degan sendiri bacanya..
    trus minhyun anam siapa?? kasian bakal lebih ngerasa kebuang minhyunnya..

  4. Ah ! I’m trapped i’m trapped *nyanyi

    AKu kira si minho itu sodaranya si Key,trs aku merasa kesannya kok si Minho itu jdi perantara gitu y ? Oiya min,aku mau ngasih jempol buat kepinterannya si Key.. gila, kereeen (y)

  5. oh my got ya ampun eonni…. ini keren beneran huaa~ kece aslian, aku lanjut baca aja ya, ga tau mau komen apaa

  6. Ahaaa… tebakanku benar… Minho dan Minhye sodara… puasbanget bacanya *gaknyantai!!

    Tapi Author-ssi, dipart ini aku sedikit sensi dgn Minhyun. Baru beberapa detik dalam pelukan Key, tapi dlm sekejab langsung berpindah ke pelukan Minho /tepok jidad (enak banget jdi cewek)
    Key-jjong sodaraan ?? Gak banget. Yg satu sangar banget, yang satu ‘kemayu’ banget. Hahaaaaa…

    Tapi tetap, part ini …. DAEBAKKK !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s