{hyuKari Story} Ige Mwoya?!

>Previous Part<

———–

Hikari menautkan kedua alisnya bingung lalu menatap Eunhyuk. “Mau apa kita kesini?”

“Mau menyembuhkan seseorang.” Jawab Eunhyuk enteng.

“Hah?”

Lelaki itu melepaskan seatbelt-nya kemudian menggerakkan tubuhnya ke samping dengan siku yang diletakkan di atas setir untuk menahan kepalanya. Eunhyuk menatap Hikari dengan senyuman gusinya yang khas. “Bukankah disini ada seorang gadis patah hati yang harus kusembuhkan?” Godanya membuat gadis yang sedang ditatapnya itu membuang muka malas.

“Berhenti bermain-main Lee Hyukjae-ssi.”

“Apa aku terlihat seperti sedang bermain-main?”

Hikari kembali mengarahkan kepalanya menghadap Eunhyuk. “Kau itu menyebalkan. Tau?”

Eunhyuk tertawa. Dia mengacak-ngacak kepala Hikari pelan, lalu mengarahkan dagunya keluar. “Ayo, turun.”

Karena tidak ada pilihan lain, Hikari pun akhirnya mengikuti Eunhyuk turun dari mobil.

Eunhyuk menopangkan kepalanya di atas mobil menunggu Hikari berjalan ke  arahnya. “Cara pertama untuk menyembuhkan patah hati adalah memakan es krim.” Eunhyuk melirik ke arah restoran yang khusus menyediakan berbagai macam es krim dengan kualitas terbaik yang ada di Seoul tersebut, lalu kembali menatap Hikari. “Kau sudah siap untuk sembuh dari patah hati karena menolak Lee Donghae-mu itu kan?”

Hikari mendesis. “Lucu!”

Eunhyuk tertawa renyah. Tangannya segera menggamit tangan Hikari sebelum gadis itu memasuki restoran. Lelaki itu lalu membuka pintu restoran sambil berbisik tepat di depan telinga istrinya. “Bersiaplah untuk terpesona padaku, Hikari Chan.”

Hikari sudah akan membalas godaan menjijikan Eunhyuk, namun semuanya seakan tertelan kembali begitu kakinya melangkah memasuki area restoran yang…. Sepi.

Matanya membulat sempurna memperlihatkan keterkejutan yang sulit sekali disembunyikan tatkala menyadari bahwa area ini seakan memang sudah dipersiapkan sedemikian rupa untuk menyambut kedatangannya. Seluruh sudut restoran dipenuhi oleh berbagai macam bunga yang berwarna-warni. Lagu Mafuyu No Nagareboshi milik NeWs segera mengalun seolah semuanya memang sudah terancang dari awal.

Hikari tertegun, tercengang, dan dia hanya bisa membeku di tempat. Ini semua terlalu mengejutkan. Bagaimana caranya lelaki gila itu mempersiapkan ini semua? Setiap detail yang ada di restoran ini benar-benar mencerminkan dirinya. Dari latar restoran yang berbalut warna merah muda, hiasan-hiasan di dinding dan meja, hingga lagu yang tengah mengalun indah, semuanya adalah hal-hal yang menjadi kegemaran gadis itu.

Melihat ini semua, otak Hikari kembali melayangkan sebuah pertanyaan konyol; Mungkinkah Lee Hyukjae –lelaki yang ada disampingnya ini—memang memiliki radar khusus untuk membaca semua hal yang ada di pikirannya?

Bagaimana mungkin lelaki ini bisa mengetahui segala hal tentang dirinya? Tentang apa-apa yang disukai  dan apa-apa saja yang bisa membuat hatinya luluh.

Hikari membutuhkan usaha yang ekstra keras untuk menormalkan degup jantungnya yang menggila. Gadis itu bahkan tidak yakin masih bisa berdiri tegak seandainya tangan Eunhyuk tidak menggenggam tangannya seperti ini.

Tanpa sadar, Hikari mulai mengeratkan pegangan tangannya di tangan Eunhyuk. Lutut gadis itu gemetar untuk alasan yang tidak masuk akal. Dan hanya genggaman tangan Eunhyuk lah yang ada di pikirannya saat ini yang mampu membuat Hikari menopang tubuhnya agar tetap berdiri tegak.

“Hikari Chan, jangan bilang kalau aku sudah membuatmu terpesona secepat ini?”

Bisikan Eunhyuk yang menembus indera pendengarannya membuat Hikari tersadar. Gadis itu segera menormalkan mimik wajahnya secepat mungkin. Secepat yang ia bisa.

Hikari berusaha melepaskan pegangan tangannya, namun segera ditahan Eunhyuk dengan sigap. Lelaki itu seolah sudah hapal dengan apa-apa saja yang akan dilakukan Hikari ketika gadis itu merasa malu dan tegang. Eunhyuk mengulumkan sebuah senyuman tipis. Rasa bahagia itu segera menyelimuti dirinya setiap kali melihat wajah Hikari yang tersipu malu.

“Kau… berapa biaya yang sudah kau keluarkan untuk ini semua, hah?!” Hikari memandang Eunhyuk dengan wajah angkuhnya.

Eunhyuk sempat melongo selama beberapa saat, namun tak lama, ia kembali menyunggingkan senyuman. “Kenapa kau bertanya seperti itu?”

“Karena aku tidak suka.” Hikari berusaha keras mengembalikan keangkuhannya dengan menarik napas panjang dan menghembuskannya keras-keras. “Aku tidak suka dengan lelaki boros, kau tau?”

Setelah berhasil mengumpulkan kesadaran dan melepaskan genggaman tangannya di tangan Eunhyuk, Hikari kembali bersuara, “Ini semua pemborosan. Untuk apa kau melakukan ini semua? Untuk membuatku terharu? Cih, jangan harap.” Hikari berjalan ke arah meja yang terdekat dengan jarak tubuhnya, lalu segera duduk. Kepala gadis itu berputar melihat ke sekeliling ruangan. “Dan semua hiasan ini sia-sia saja. Sama sekali tidak bermanfaat sedikitpun. Kau sudah membuang-buang uang untuk hal yang tidak penting. Dan apa yang kau harapkan? Membuatku terpesona? Lee Hyukjae, aku yakin pasti ada yang tidak beres dengan isi otakmu itu.”

Dan begitulah seterusnya. Hikari mengomel terus-menerus tentang arti hemat dan betapa berharganya sebuah uang. Mulut gadis itu terus-menerus bergerak sementara matanya mati-matian menghindari tatapan Eunhyuk.

Ah, dia tau ini gila dan memalukan. Tapi satu hal yang pasti, gadis itu tidak ingin membiarkan Eunhyuk mengetahui isi hatinya secepat ini. Kumiko Hikari tidak ingin menampakkan kekaguman dan keterpesonaannya kepada Eunhyuk semudah itu.

Setidaknya… bukan sekarang.

Sementara Kumiko Hikari sibuk berceramah tentang ilmu hematnya, Eunhyuk –lelaki bertubuh sedang itu— justru tengah sibuk-sibuknya menahan tawa.

Waktu dua tahun ternyata sudah cukup untuk membuatnya mengerti tentang segala hal yang berkaitan dengan Kumiko Hikari. Dan untuk saat ini, Eunhyuk cukup paham bahwa gadis itu tengah mati-matian menyembunyikan perasaan senangnya dari dirinya.

Hikari Chan, akuilah bahwa kau sudah mulai terpesona padaku. Hahahah.

——-

Lee Donghae segera merebahkan tubuhnya di atas kasur begitu ia tiba di Dorm. Lelaki itu melewatkan makan malamnya begitu saja dan jauh lebih memilih menyendiri dengan setumpuk pikiran yang memenuhi otaknya.

Donghae menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan kosong. Sesekali dia menarik napas panjang atau mengubah posisi tidurnya hanya untuk menenangkan hatinya yang mulai diliputi kegelisahan. Donghae gelisah. Tapi lelaki itu sendiri bahkan tidak tau untuk alasan apa dia merasa gelisah.

Hambatan dalam pencapaian tujuannya ini jelas bukan hal yang baru. Seberat dan sesulit apapun hambatannya, Donghae selalu merasa percaya diri dan mampu menghadapinya dengan tenang. Tapi kenapa sekarang terasa lain?

Lelaki itu merasa kehilangan kepercayaan dirinya setiap kali mengingat wajah tegas gadis itu saat menolak pernyataan cinta darinya. Dan kegelisahan itu muncul dengan sendirinya setiap kali otak Donghae memutar kembali percakapan demi percakapan yang dilaluinya bersama gadis itu.

Han Rae Eun. Hal apa yang dimiliki gadis itu hingga membuat seorang Lee Donghae merasa sekacau ini?

Donghae menggerakkan tubuhnya ke samping hingga menghadap ke arah tembok. Tidak. Dia tidak boleh menjadi lemah. Dia harus berhenti menggelisahkan hal yang tidak penting. Dan dia… tidak boleh gagal untuk membuat gadis itu jatuh ke dalam genggamannya. Demi tujuannya, dia tidak boleh gagal. Demi seorang Park Hyeo Rin.

Donghae memejamkan mata sementara paru-parunya sibuk mengatur nafas hingga membuat lelaki itu sedikit me-rileks-kan diri.

Bayangan kejadian masa lalunya bersama Park Hyeo Rin mulai menyusup memasuki ruang memorinya tanpa sempat ia cegah.

Park Hyeo Rin, betapa Donghae merindukan gadis itu.

———

Musim Semi, 2008

Awal musim semi di tahun 2008 akan menjadi kenangan tak terlupakan bagi Lee Donghae. Lelaki itu tak henti-hentinya mengembangkan senyuman, tak peduli sekalipun udara dingin tengah menerobos memasuki pori-pori kulitnya.

Lee Donghae menatap ke arah dua tangannya yang tengah memegang sebuket bunga mawar. Perasaannya membuncah tak tertahan setiap kali bayangan gadis itu melewati pikirannya. Rasa pegal di kakinya menjadi tak penting lagi kala mengingat momen penting yang akan ia lewati beberapa saat lagi.

Park Hyeo Rin. Gadis yang sudah mengisi hari-harinya selama tiga bulan belakangan ini akan segera ia ikat dalam sebuah hubungan serius bernama pertunangan. Ya, lelaki itu akan segera melamar gadisnya. Gadis impiannya. Gadis yang sudah beberapa lama ini mendekam di dalam hati terdalamnya. Gadis… yang sangat ia cintai.

Baiklah, mungkin tindakannya ini akan dianggap gegabah mengingat Donghae sendiri tidak tau bagaimana perasaan Hyeo Rin kepadanya. Selama ini Donghae dan Hyeo Rin hanya melewati kebersamaan mereka dalam sebuah hubungan pertemanan. Hanya teman. Atau kalaupun lebih dari itu, hubungan mereka pastinya hanya akan meningkat di level sahabat.

Memang benar bahwa mereka telah melewati banyak momen kebersamaan selama tiga bulan belakangan ini. Memang benar bahwa gadis itu senantiasa memperhatikannya. Tapi diantara semua fakta itu, Donghae masih merasa belum yakin sebelum ia mengikat gadis itu dalam sebuah lamaran sederhana yang telah ia rencanakan ini. Donghae ingin mempertegas perasaannya agar gadis itu bisa selalu berada di sisinya tanpa ada lelaki lain yang menganggu hubungan mereka.

Selama ini memang tidak ada lelaki lain yang dekat dengan Hyeo Rin selain Donghae. Tapi itu bukan berarti dia bisa diam saja bukan? Donghae ingin memastikan bahwa Park Hyeo Rin-nya memang ditakdirkan hanya untuknya. Maka sebelum lelaki lain merebut Hyeo Rin darinya, Donghae harus segera mengambil langkah cepat. Dan sebuah lamaran adalah satu-satunya langkah paling tepat yang ada di otak Donghae saat ini.

Donghae mengangkat tangan kirinya, lalu melirik ke arah jam tangan yang tersemat di pergelangan tangannya tersebut. Sudah hampir tiga jam berlalu sejak lelaki itu berdiri menunggu Park Hyeo Rin namun gadis itu masih belum juga menampakkan wajahnya. Apa gadis itu baik-baik saja? Atau mungkin dia berhalangan hadir dan tidak sempat menghubunginya? Lee Donghae mulai gelisah.

Beberapa kali kepalanya berputar ke kanan dan kiri —berharap bahwa gadis itu sedang berjalan ke arahnya. Tapi sayang, hasilnya selalu nihil.

Donghae mulai berjalan mondar-mandir dengan raut wajah khawatir setiap kali matanya gagal menemukan sosok Park Hyeo Rin. Apa lebih baik dia menghubungi gadis itu saja?

Donghae baru saja akan merogoh sakunya untuk mengambil ponsel saat suara yang begitu familiar memasuki gendang telinganya. Donghae menoleh, dan beberapa detik kemudian bibirnya tertarik ke atas mengukir sebuah senyuman lega.

“Oppa, mianhe. Apa kau sudah lama menungguku?”

Park Hyeo Rin, dengan mengenakan hoodie berwarna biru laut dan topi yang terbuat dari benang wol hangat menghampiri Donghae dengan napas yang terengah-engah.

Lee Donghae tersenyum hangat, kemudian satu tangannya terangkat ke udara menyentuh puncak kepala Hyeo Rin. Donghae membelai kepala gadis itu lembut. “Gwenchana.”

Cukup satu kata itu yang keluar dari mulut Donghae dan Hyeo Rin pun segera memamerkan senyuman manisnya. Kekhawatiran dan kelelahan Donghae pun hilang seketika.

-oOo-

“Oppa… melamarku?”

Sesuai dengan apa yang ada di bayangan Lee Donghae, gadis itu benar-benar terkejut begitu mendengar pernyataan cinta sekaligus lamaran sederhananya.

Donghae membuka kotak merah kecil yang dari tadi dipegangnya lalu mengangsurkannya ke arah Hyeo Rin. “Park Hyeo Rin, untuk saat ini aku memang belum bisa menikahimu. Tapi lewat cincin ini, aku ingin mengukuhkan ikatanku denganmu. Jadilah gadisku, dan tunggulah hingga aku mampu membawamu ke altar dan mengikrarkan janji setia di hadapan Tuhan.” Donghae bisa merasakan jantungnya yang berdetak berkali-kali lebih cepat dari biasanya. Lelaki itu terdiam sesaat untuk mengontrol detakan jantungnya yang menggila, lalu kembali berucap, “Park Hyeo Rin, saranghae.”

Hyeo Rin tertegun selama beberapa menit. Dan detik-detik diam-nya Hyeo Rin menjadi detik-detik terlama yang menyesakkan bagi Donghae. Lelaki itu sudah cukup tegang tanpa harus ditambah lagi dengan diamnya gadis itu.

Berkali-kali Donghae menarik napas panjang untuk memenuhi paru-parunya dengan oksigen sebanyak mungkin agar keteganganya bisa sedikit berkurang. Namun seolah sedang melakukan persekongkolan terselubung, oksigen di sekitarnya mendadak sulit sekali ia hirup. Pengap dan sesak. Dua rasa itulah yang sedang dialami Donghae saat ini. Dan Donghae yakin keadaan ini akan terus berlanjut hingga Hyeo Rin mau memberikan jawaban untuknya.

Donghae bisa melihat bahwa Park Hyeo Rin, gadis itu pun sedang mengalami ketegangan yang sama dengannya. Hanya saja Donghae tidak tau untuk alasan yang mana gadis itu merasa tegang. Apakah karena lamarannya yang terlalu mendadak? Atau…

Ah, Donghae tidak ingin merusak kepercayaan dirinya dengan membayangkan kemungkinan buruk manapun.

“Oppa…”

Suara Hyeo Rin sukses membuat tubuh Donghae menegak seketika. Lee Donghae menatap Hyeo Rin lekat-lekat seolah ia tidak ingin kehilangan satu huruf pun yang akan keluar dari bibir mungil gadis tersebut.

“Oppa, Mianhe.”

Deg.

Hyeo Rin menatap Lee Donghae dengan pandangan yang lain dari biasanya. Sebuah pandangan penyesalan yang sanggup membuat jantung Donghae serasa diremas-remas.

Tidak, kumohon jangan. Donghae mengeratkan kedua telapak tangannya dan mengepalkannya kuat-kuat.

“Oppa, mianhe aku tidak bisa menerimamu. Aku… hatiku sudah terlanjur ku isi untuk lelaki lain. Untuk Eunhyuk oppa.”

-oOo-

Setengah tahun berlalu sejak kejadian itu. Berarti sudah selama itu pula Lee Donghae menelan rasa kecewa dan sakit hatinya diam-diam.

Saat ini, Lee Donghae sedang berjalan di sekitar taman Rumah Sakit dengan tangan yang mendorong kursi roda. Park Hyeo Rin duduk disana. Lelaki itu memang terluka sejak penolakan Hyeo Rin kepadanya. Tapi dia… akan semakin terluka jika dia menjauhi gadis itu. Karena itulah Donghae memilih untuk mengabaikan rasa sakitnya dan memutuskan untuk selalu berada di samping Hyeo Rin. Setidaknya… sampai ada lelaki lain yang menggantikan posisinya.

Satu hal yang entah harus disyukuri Donghae atau tidak dengan perasaan Hyeo Rin kepada Eunhyuk adalah fakta bahwa orang yang disukai Hyeo Rin kenyataannya sudah memiliki kekasih. Ya, jauh hari sebelum Hyeo Rin mengenal Eunhyuk, lelaki itu sudah memiliki kekasih yang tidak akan mungkin ditinggalkannya. Park Hyora.

Hyeo Rin memutuskan untuk terus menyimpan perasaannya kepada Eunhyuk. Dan begitupula dengannya. Lee Donghae, akan terus dan selalu menyimpan perasaannya kepada Hyeo Rin. Donghae ingin Hyeo Rin tau bahwa apa yang dirasakannya kepada gadis itu bukanlah perasaan yang main-main. Sekalipun perasaannya ini memberikan efek yang menyesakkan, Donghae tidak peduli. Lelaki itu akan bertahan pada perasaannya tidak peduli rasa sakit seperti apa lagi yang akan ia terima.

“Oppa…”

Donghae berhenti mendorong kursi roda Hyeo Rin lalu berjalan hingga berada di depan gadis itu. Donghae berjongkok untuk menyejajarkan tubuhnya dengan tubuh Hyeo Rin lalu tersenyum. Matanya menelusuri tiap lekuk wajah Hyeo Rin yang semakin terlihat pucat. Penyakit Leukimia yang tengah menggerogoti tubuhnya, membuat wajah gadis itu semakin terlihat tirus dan menyedihkan.

Donghae menyentuh pipi Hyeo Rin dengan satu tangannya. Hatinya berdesir setiap kali dia melakukan sentuhan-sentuhan kecil seperti ini. Park Hyeo Rin-nya memang tidak pernah berhenti membuat perasaan Donghae memudar. Dibandingkan memudar, perasaannya ini malah semakin bertambah besar dari hari ke hari.

Ketegaran dan ketangguhan gadis itu telah membuat Donghae semakin mencintainya. Sejak pertemuan pertamanya di Rumah Sakit hingga sekarang, Park Hyeo Rin-nya tidak pernah berhenti membuat Donghae terkagum-kagum. Gadis itu tidak pernah mengeluh ataupun menyerah terhadap penyakitnya. Pun dengan perasaan cintanya yang jelas tidak akan pernah berbalas. Gadis itu selalu tersenyum dan melewati setiap hari yang menghampiri hidupnya dengan penuh optimisme dan keberanian. Hal yang sangat jarang dimiliki gadis lain.

“Oppa, ada apa? Kenapa kau malah melamun?”

Donghae mengerjapkan matanya lantas menggeleng pelan. “Aniyo.” Donghae mengelus rambut Hyeo Rin lembut. “Tadi kau memanggilku kan? Ada apa?”

Hyeo Rin memegang tangan kanan Donghae yang masih memegangi pipinya. “Oppa, apa kau benar-benar mencintaiku?”

Donghae bisa merasakan tubuhnya yang menegang. Seluruh peredaran darahnya seolah membeku hanya karena satu pertanyaan mengejutkan yang dilontarkan Hyeo Rin.

Sejak hari itu, inilah kali pertama Hyeo Rin menanyakan perasaannya. Gadis itu bahkan tidak pernah menanyakan perasaannya saat dia menolak lamaran Donghae. Pun dengan hari-hari setelah itu. Gadis itu tidak pernah bertanya.

Jadi saat gadis ini bertanya mengenai perasaannya, wajar saja jika Lee Donghae merasa terkejut dan berdebar, bukan? Apa maksud dari pertanyaan Hyeo Rin? Donghae sendiri tidak berani menduga.

“Oppa….?”

Donghae menguatkan jantungnya untuk menatap Hyeo Rin. Lelaki itu kembali tersenyum. “Aku mencintaimu sejak pertama kali melihatmu, sejak kau menolak perasaanku, dan sejak aku selalu mendampingimu. Perasaan cintaku tidak pernah pudar sedikitpun. Tidak pernah berkurang apalagi menghilang. Dengan memperhatikan fakta-fakta itu, bagaimana menurutmu? Apakah aku benar-benar mencintaimu?”

Hyeo Rin meringis. “Kau benar-benar mencintaiku, Oppa.” Sahutnya pelan. “Sama seperti perasaan cintaku pada Eunhyuk Oppa.”

Donghae memaksakan diri untuk tetap tersenyum sekalipun jantungnya serasa dihantam sebuah batu besar. Inikah yang dinamakan takdir? Bahwa dia memiliki nasib yang sama dengan gadis yang kini menempati hatinya? Bahwa mereka memiliki perasaan yang sama-sama bertepuk sebelah tangan.

“Hyeo Rin-ah…” Donghae menggenggam tangan Hyeo Rin.

“Oppa, kau tau waktuku tidak lagi banyak.”

“Park Hyeo Rin.” Donghae mendesis memperingatkan. Matanya menyipit menatap Hyeo Rin dengan tajam. Lelaki itu tidak pernah suka setiap kali gadis ini membahas hal-hal yang bisa membuat kepercayaan dirinya memudar.

Seolah tidak mendengar desisan Donghae, Hyeo Rin melanjutkan, “Jika aku mengajukan permintaan bodoh dan gila yang mungkin akan menyakitimu… “ Hyeo Rin meneguk ludahnya gugup, menatap kedua manik mata yang ada di depannya dengan tatapan memohon. “…sebagai permintaan terakhirku, apakah kau… akan mengabulkannya?”

Donghae mulai merasakan firasat yang buruk, namun dia mengabaikannya. “Apa?”

Hyeo Rin menunduk sambil mengeratkan kedua tangannya. “Satu hari saja….” Hyeo Rin menutup matanya kuat-kuat. “Satu hari saja, buatlah aku menjadi pacar Eunhyuk Oppa. Satu hari saja, berikanlah aku kesempatan untuk menyampaikan perasaanku pada Eunhyuk Oppa dan merasakan bagaimana rasanya membuat rasa ini menjadi nyata. Satu hari saja, ijinkan aku mewujudkan mimpi mustahilku menjadi nyata.”

Hyeo Rin menatap Donghae dalam —dengan penuh pengharapan. “Kumohon oppa, hanya satu hari saja kabulkanlah permintaanku. Bantulah aku menyelesaikan perasaanku dalam satu hari. Bantulah aku menghilangkan perasaan sesak ini, dan aku akan mulai menatapmu. Aku akan mengeluarkan Eunhyuk Oppa dari hatiku, dan akan belajar menerima perasaanmu. Donghae oppa, maukah kau… melakukan itu?”

Donghae merasakan jantungnya diremas-remas. Tubuhnya terasa limbung hingga sulit sekali rasanya mempertahankan diri agar tetap tegak. Entah perasaan macam apa yang tengah mendominasi dirinya saat ini.

Marah? Tidak, Donghae tidak merasa marah sedikitpun. Dia jelas tidak memiliki hak untuk marah.

Kecewa? Senang? Aaah, Donghae pun tidak tau untuk alasan apa dia harus merasa kecewa ataupun senang.

Donghae hanya merasa…. bahwa apa yang dirasakan Hyeo Rin saat ini terasa pula olehnya. Donghae bisa merasakan bagaimana sesaknya mencintai seseorang yang tidak berbalas. Ia juga bisa merasakan seperti apa sakitnya memendam perasaan cinta pada seseorang yang sudah mengisi hatinya dengan nama orang lain. Bukan namanya.

Donghae bisa merasakan semuanya. Ketidakberdayaan Hyeo Rin saat ini pun terasa jelas olehnya.

Donghae mengelus puncak kepala Hyeo Rin lalu mengecup kening gadis itu dengan lembut. “Aku mengerti.”

-oOo-

“Kau jangan gila, Hae!”

Donghae memejamkan matanya menahan luapan emosi yang siap keluar kapan saja. Lelaki itu mengepalkan tangan kuat-kuat, kemudian kembali menatap Eunhyuk. “Aku tidak pernah memohon apapun kepadamu selama ini. Tapi untuk kali ini saja, aku benar-benar memohon kepadamu. Aku memohon dengan menjatuhkan harga diriku. Hyuk-ah, untuk satu hari saja kumohon jadilah kekasih Hyeo Rin. Gadis itu bahkan tidak mengharapkan balasan yang setimpal darimu. Dia sudah lama menyukaimu. Ah, aniya. Dia sudah lama mencintaimu. Selama ini dia memendam perasaannya karena dia tahu kau sudah memiliki Hyora. Selama ini dia menahan perasaan sesaknya karena dia tahu kau tidak akan mungkin berpaling dari Hyora.” Donghae mengeraskan rahangnya, menatap Eunhyuk dengan pandangan memohon. “Tapi untuk kali ini, untuk satu hari saja kumohon… biarkanlah perasaan sesaknya itu terlepas dari hatinya. Ijinkanlah dia mengutarakan semua perasaan yang selama ini dipendamnya. Untuk satu hari dan setelah itu dia berjanji tidak akan mengharapkanmu lagi. Dia akan melepaskanmu.”

“Lee Donghae, mianhe. Aku tidak bisa. Aku sungguh tidak bisa. Aku tidak bisa mengkhianati Hyora bahkan untuk alasan sandiwara seperti ini sekalipun. Perasaan itu bukanlah hal yang bisa dipermainkan, Hae.”

“Dan kau ingin Hyeo Rin pergi dengan membawa perasaan sesaknya? Kau ingin gadis itu pergi dengan membawa rasa sakitnya?”

Eunhyuk meremas kepalanya frustasi. “Mianhe,” Hanya satu kata itu saja yang mampu keluar dari bibir Eunhyuk dan Donghae sudah mengerti apa artinya.

“Aku kecewa kepadamu, Hyuk-ah. Benar-benar kecewa.”

-oOo-

Donghae menyentuh gumpalan tanah yang ada di hadapannya lalu meremasnya pelan. Jejak-jejak air mata itu masih terlihat jelas pada permukaan kedua pipinya. Rasa perih itu masih terlihat kentara dari sudut-sudut matanya.

Donghae memaksakan kedua sudut bibirnya agar tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman. Rasa perih dan sesak segera merangsek masuk setiap kali bibirnya mencoba tersenyum. Seluruh oksigen yang ada di sekelilingnya mendadak lenyap setiap kali lelaki itu berusaha untuk membuka mulutnya. Ah, sekalipun dia berhasil membuka mulut, Lee Donghae tetap saja merasa kesulitan untuk mengeluarkan suaranya.

Musim semi tahun ini sama dengan musim semi tahun sebelumnya. Sama-sama menorehkan luka dan kenangan pahit. Sama-sama menyesakkan.

Lee Donghae menatap ke arah gundukan tanah yang ada di hadapannya dengan lekat. “Park Hyeo Rin, selamat jalan. Bahagialah. Lupakanlah perasaan sesakmu dan tersenyumlah. Temukanlah senyumanmu disana, Eo?”

Donghae menarik napas panjang. “Park Hyeo Rin, kau tidak akan pernah sendirian. Kau dan aku memiliki takdir yang sama. Dan akan kubuat lelaki itu berada dalam satu takdir yang sama dengan kita. Akan kubuat lelaki itu merasakan bagaimana rasanya mencintai seseorang yang tidak dapat digapai. Lelaki itu… harus merasakan apa yang selalu kita rasakan. Lelaki itu harus tau bagaimana sesaknya sebuah rasa bernama cinta.”

——————

“Jadi… ceritakan padaku bagaimana kau membuat ini semua?”

Eunhyuk menggaruk tengkuknya kaku. “Apa harus?”

“Tidak juga,” jawab Hikari masa bodoh. Gadis itu memasukkan sendok yang berisi ice cream kedalam mulutnya dan membiarkan ice cream tersebut lumer hingga masuk ke dalam tenggorakannya. “Aku hanya penasaran saja, kau ini sebenarnya manusia atau bukan? Karena seingatku selama kita berada di restoran tadi, kau tidak pergi jauh-jauh dariku kan?”

Eunhyuk terkekeh. “Memang tidak.” Lelaki itu mengelap sudut bibir Hikari dengan tisu, kemudian menopangkan dagunya dengan satu tangan. “Apa kau mulai terpesona padaku?”

Hikari mendengus sekalipun jantungnya tengah berdebar kencang. Lelaki ini tidak boleh tau bagaimana ulah organ vitalnya yang satu ini. “Bagaimana kau bisa tau kalau aku menyukai lagu-lagu NeWs?” Hikari mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Tidak perlu mengalihkan pembicaraan, Hikari Chan. Jawab saja kalau kau memang sudah mulai terpesona padaku. Hmm?”

JLEB!

Hikari menyipitkan matanya sambil berdecak sebal. “Dasar sok tau.”

“Kau ini memang senang sekali lari dari kenyataan.” Eunhyuk mendengus dan menyentil dahi Hikari pelan. Gadis itu mendesis namun tidak melawan membuat Eunhyuk mau tidak mau merasa senang. Ini sebuah kemajuan!

“Ah, ya! Apa kau tau arti dari pemilihan bunga-bunga ini?”

Hikari menoleh sambil terus memakan ice cream-nya. “Apa?”

“Ayo tebaaak~”

Gadis bermantel ungu itu memutar bola matanya jengah. Bagaimana bisa lelaki ini merajuk dengan cara yang sangat menyebalkan seperti itu?

“Malas,” sahut gadis itu datar.

“Kau pasti akan terpesona padaku kalau tau apa arti dari bunga-bunga ini. Dan ah! jumlah tangkai yang terikat dalam tiap buket bunga-bunga itu pun memiliki arti yang mendalam, kau tau?”

Hikari menggeleng acuh seolah ucapan lelaki berambut pirang yang ada di depannya ini tidak bermanfaat sama sekali.

“Kau harus mencari tau kalau begitu.”

“Apa?” Lagi-lagi gadis itu membalas ucapan Eunhyuk dengan datar.

“Kau harus mencari tau apa arti dari pemberian bunga anyelir putih, aster, krisan, dan mawar.” Eunhyuk melipat kedua tangannya di atas dada. “Dan kau juga harus mencari tau kenapa aku mengikat bunga-bunga tersebut sebanyak tiga belas. Eo?”

Hikari menggeleng-gelengkan kepalanya sambil memijati pelipisnya pelan. “Aku benar-benar tidak tau apa yang ada di dalam otakmu itu. Dan asal kau tau saja, aku belum segila dirimu sampai harus menuruti permintaan konyol seperti itu.”

Eunhyuk bersikap tidak peduli dengan ucapan yang dilontarkan Hikari. “Ini bukan sebuah permintaan Hikari Chan. Ini sebuah perintah. Pe-rin-tah.” Eunhyuk menegaskan kata ‘perintah’ dengan teramat sangat jelas.

“Dan jangan harap aku akan melaksanakan perintahmu kalau begitu.” Hikari menyuapkan satu sendok ice cream yang terakhir ke dalam mulutnya. Tinggal satu buah strawberry yang masih tersisa di dalam mangkok. Hikari sengaja meninggalkan buah berwarna merah itu di akhir agar ia bisa menikmatinya dengan lebih leluasa. Salah satu kebiasaan gadis itu sejak kecil; membiarkan makanan favorite-nya untuk dinikmati paling akhir agar memberikan kesan lebih nikmat pada makanan yang sedang dimakannya itu.

Melihat gelagat istrinya yang begitu bersemangat memakan strawberry membuat ide jahil Eunhyuk kembali muncul. Tepat saat gadis itu akan mengambil buah berbentuk segitiga dengan sendok, tangan Eunhyuk segera menyerobot dan dengan satu gerakan cepat, buah mungil itu segera masuk ke dalam mulutnya.

Hikari melongo. Dan butuh beberapa detik hingga ia tersadar dari tingkah Eunhyuk. “LEE HYUKJAE KENAPA KAU MEMAKAN STRAWBERRY MILIKKU??!”

Eunhyuk menyeringai. “Wae? Kau mau? Kupikir kau tidak suka karena dari tadi membiarkan buah itu menganggur di mangkok.”

Hikari menggeram kesal. “Aku sengaja membiarkannya untuk dimakan di akhir! Ish, kau ini benar-benar menyebalkan!”

Mood Hikari yang sudah membaik pun akhirnya ambruk seketika. Dan tentu saja, itu semua karena ulah Eunhyuk.

Malas berdebat dengan lelaki yang sudah membuat moodnya naik-turun dalam sekejap, Hikari memutuskan untuk segera bangkit berdiri. Gadis itu mengambil tasnya lalu berjalan melewati Eunhyuk dengan tampang kesal yang begitu kentara. Eunhyuk hanya tersenyum.

Beberapa langkah saat kakinya akan mencapai pintu, tubuh Hikari tiba-tiba saja tertarik hingga berbalik ke belakang. Dan apa yang terjadi setelahnya membuat otak gadis itu lumpuh mendadak. Ia merasakan bibirnya menyentuh sesuatu yang lembut yang tak perlu ia lihat pun sudah membuatnya tau kalau sesuatu yang lembut itu adalah bibir pria itu. Hikari bahkan bisa merasakan lelaki itu tersenyum saat menyentuhkan bibirnya dengan bibir miliknya.

Lelaki itu terus merekatkan pagutannya hingga Hikari kehilangan napas dan bersamaan dengan terbukanya mulut gadis itu, buah strawberry yang tadinya berada di mulut Eunhyuk kini berpindah tempat. Di mulut Hikari.

Eunhyuk melepaskan sentuhannya, lalu menyeringai kecil, “Selamat menikmati strawberry-mu, Hikari Chan.” Lelaki itu mengerling, menyentuh puncak kepala Hikari lalu segera mengambil langkah seribu sebelum gadis itu menyadari tindakan yang baru saja dilakukannya.

Hikari mengerjap-ngerjapkan matanya bingung. Dan saat lidahnya menyentuh sesuatu, gadis itu baru tersadar. “IGE MWOYA?!”

===TBC===

Ending yang aneh =___= hahaha sorry yah…

Untuk ke depannya, sequel My Husband-My Wife ini bakal dibuat oneshot series alias bakal beda2 judul tiap part-nya. Tolong kasih kritik dan saran kalian untuk perbaikan di part selanjutnya ^^;

Untuk yang ga bosen baca  plus komen, makasih banyaaak! :* tanpa kehadiran kalian, FF ini pasti ga akan pernah bisa jalan. *hug*

Untuk next part akan saia publish klo komen udah nyampe 30 ke atas. Maap ya bukannya apa2 tapi saya pengen tau sejauh mana FF saia ini diminati readers ^^V

28 responses to “{hyuKari Story} Ige Mwoya?!

  1. Nice FF. Aku udah baca My husband-My wife juga dan itu ff sesuatu asdfghjkl banget dah._. Tapi maaf ga meninggalkan jejak kemaren2 ._.v

  2. Thor, cinta aja gaboleh digantung, masa cerita hyukari aja digantung melulu… Ayolah thor bikin terus cerita cinta mereka… Makasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s