Gehört Mir Teil [4/4]

Author                  : YanluSarang_KasihWright

karakter               : Choi Minho, Kim Sarang (OC), Lee Jinki, Choi Niola (OC), Kim Kibum , Eun Hye (OC), Lee Taemin, Lee Minyoung (OC), Kim Jonghyun , Park Leena (OC)

rating                    :T

abstrak                 : Cinta tidak membutuhkan sesuatu yang lain kecuali dirinya sendiri, ia datang tetapi tidak ingin dimiliki, lalu ia pergi, tetapi tidak bisa menghilang, segalanya tidak bisa dimiliki, meski ingin memiliki, karena cinta tidak pernah terikat pada apapun, gehört mir…

Part 1Part 2, Part 3

Nah disini nih, aku bakal jelasin ke kalian arti kata SARMIN dan OMISA, intinya itu adalah singkatan yang nggak penting dan gaje banget, inti dari intinya, aku maksa orang2 buat nyebut  nama itu dan bilang kalau itu bagus banget, inti inti dari intinya, adalah, aku nggak tahu mau ngomong apa lagi, jadi aku kasih tahu entar aja ya:D enjoy reading!:D

NEVER TAKE IT OUT BEFORE YOU GET MY PERMIT!

Semua namja di rumah ‘kita’ berkumpul. Tae duduk di samping Key seperti biasa, sedangkan Minho dan Onew tak terlihat bersahabat, bukannya Minho cemburu atau apa, karena bahkan dia tidak tahu apa yang terjadi, sedangkan Onew, rasanya dia ingin sekali mencabik-cabik wajah namja itu.

Jong duduk dengan perasaan kosong memandangi Key, Tae tidak sedang ingin menghasut Key karena sibuk memikirkan Minyoung. Mihno memandang Key sekilas, melihat semburat emosi di balik bola matanya, karena Key, jelas benci cara Eun hye memeluknya.

Semuanya diam, sampai Jong membuka pembicaraan “Mengenai kekacauan Sookbuk High school, aku benar-benar tidak menyangka—”

Belum sempat Jonghyung meneruskan pembicaraanya, Key dan Onew, secara bersaaan memotong dengan sangat keras dan tanpa ampun “Itu gara-gara Minho!”

Tae dan Minho tersentak kaget, sedangkan Jong tercenung. Minho menghela napas, tidak mengerti. Jam menunjukan pukul tujuh, dan Kim Juni sudah menghubunginya untuk datang ke Swan production. Jadi dia tak sempat berkata-kata dan pergi menemui Kim Juni.

Onew menatap Tae dengan sengit, lalu melangkah dengan gontai dan menutup pintu kamarnya dengan sangat kasar.

Jong duduk tercenung sendirian, sementara Tae dan Key masuk ke dalam kamarnya. Tae menoleh pada Jong “Hyung, aku rasa aku juga tidak bisa hanya suka pada satu yeoja,” lalu, setelah Key menarik telinganya, barulah Tae diam dan meninggalkan Jong.

Setelah itu, tak ada yang berbicara satu sama lain kecuali Jong yang masih peduli pada semua namja itu, dan Key yang selalu melempar buku ke arah Taemin saat namja itu mulai menghasutnya.

Minho tidak mendapati Sara di studio, ia duduk di depan Kim Juni yang frustasi, benar-benar frustasi. Sesekali Kim Juni membanting buku, dan menunggu kabar dari Eun hye, tetapi yeoja itu tak kunjung datang.

“Kau tahu, seharusnya kau cari peran pengganti, yeoja yang bisa membuatmu konsentrasi, bukan memanggil nama Sarang berkali-kali,  dan membuat kepalaku ingin pecah, bodoh!” Kim Juni memang selalu marah, tak ada yang heran.

Minho hampir berdiri untuk meninggalkan Kim Juni, tetapi gerakanya spontan terhenti ketika Sarang dengan pakaian basah karena di luar hujan masuk ke dalam ruangan itu. Minho tak dapat mengalihkan pandangan, menyusuri setiap jengkal yang ada pada Sara, yeoja itu basah kuyup, dan sangat menyedihkan. Mniho bingung, ia harus memerlakukan Sara sebagai sutradaranya, atau menganggap Sara sebagai kekasihnya didepan Kim Juni.

Sara hanya melihat Miho sekilas, ia tahu harus tetap menjaga agar semuanya baik-baik saja, dan sekali lagi, ia akan menunjukan pada semua orang di planet ini bahwa dia memang bisa mengurus dirinya sendiri.

Kim Juni mendekati Sara, lalu berbicara dengan cepat tanpa membuang waktu “Kau, jadilah peran pengganti, sebelum Eun hye menyelesaikan urusannya, dan kau,” dia berbalik ke arah Minho “Kembali ke tempatmu, dan aku akan menghubungi Janggeum untuk segera datang.”

Sara tak berbicara apa-apa, tetapi otaknya berputar-putar, bagaimana, bagaimana bisa dia melakukannya, scene perpisahan, dan ciuman terhadap Kwang.

Sepanjang perjalanan menuju ruang gantinya, Minho tak berkata apa-apa, kecuali saat Sara memang memutuskan membawa pulang seluruh pakaiannya di hari sebelumya, dan terpaksa mengenakan kemeja dari lemari Minho.

“Trims,” katanya saat membuka pintu dan mendapati dirinya masih agak basah tanpa kamisol dan hanya ditutup kemeja yang kedodoran tanpa satupun celana yang pas.

Minho menatapnya tak percaya dan tak bisa berkata apa-apa. Mereka berjalan bersama sampai di latar perpisahan, saat memang Kim Ai harus mati dan Kwang menciumnya.

Sara tak mengatakan apapun, ketika Janggeum memelototi penampilannya, kecuali Kim Juni yang benar-benar muak pada Sarang dan memarahinya habis-habisan.

Sara menatap Kwang, bukan Minho kekasihnya, dengan tatapan tidak percaya, saat namja itu menangis, dan darah palsu mengalir di sekujur tubuh Ai, akibat bunuh diri, lalu Ai terpejam, dan Kwang memeluknya, Minho memeluk Sarang, seperti yang ia pikirkan, ia tak ingin kehilangan Sarang. Lalu dengan sedikit permasalahan kecil dengan pakaian Sara, Kim Juni menerima hasil akhir filmnya, ‘love is punish’.

Onew berdiri di depan Shin, dan dengan sangat kecewa, harus mengakui bahwa ia tak mungkin mendapatkan Sara, lalu dengan perasaan hampa, ia kembali pulang.

Niola berada tepat di depannya, bahkan melihat dengan jelas wajah suram Onew, tetapi ia tak ingin menyapa, mengingat namja itu membuat harga dirinya benar-benar terluka.

“Onew ssi,” dia berbalik, saat langkah Onew telah menjauh, sangat jauh, lalu berlari menerobos hujan, menyadari betapa kerasnya ia mempersiapkan kampanye untuk yeoja yang ternyata, justru membuat hidupnya bagaikan mimpi buruk.Fuck you, Kim Sarang! Ia terpelanting, di tengah jalan.

Selepas waktu break, Minho hanya menatap Sara yang duduk, membaca buku, masih mengenakan kemejanya yang tipis, di dalam ruang gantinya. Minho bergerak mendekat, memegang bahu yeoja itu. Sara dengan segera menyadari apa yang hendak terjadi, ia menatap chagi-nya dengan tatapan yang sangat sulit diartikan, dan… ia harus mengakui, kenapa bisa jadi seperti itu, pergilah… pergilah dari hadapanku Onew ssi, Sara mengerjap dengan sangat kasar dan dalam.

Minho menyadari ada yang tidak beres, ia memerhatikan,  Sarang tak melihatnya sebagai dirinya sendiri, lalu perasaan yang entah dari mana asalnya, tiba-tiba memenuhi dadanya.

“Sara, aku sungguh merindukamu,”

Sara hanya menatapnya, lalu berdiri, tepat saat kenop pintu berputar ia membuka mulut “Kau tidak merindukanku, Minho ssi, tidak sama sekali, dan jika kau merindukan sesuatu, itu adalah Kim Ai ataupun Eun hye, karena, aku tahu, maksudku kau tidak menginginkanku,”

Sara tidak memerhatikan yeoja yang baru datang, ia melangkah pergi. Aku, bukan Sarang manis yang penurut lagi, aku berhak menentukan jalanku, ia bertaruh melawan tangisnya. Yang ingin ia lakukan saat ini hanyalah bertemu seseorang, seseorang yang selalu menunggunya di kafe delat taman studio, meski Sarang tak pernah ke sana untuk menyadari.

Tapi tidak untuk kali ini, ia bahkan lupa membawa alas kaki dan berlari ke sana, dengan sejuta rasa muak dan jengkel memenuhi pikirannya. Ia menerobos hujan, berlari secepat yang ia bisa meninggalkan Swan production, menyusuri jalanan yang ramai bukan main.

Minho menatap Eun hye, yang menatapnya tanpa berkedip.

“Kwang,” Eun hye melangkah masuk.

Minho menghidar dengan cepat dan sedetik saja, dia sudah berada di luar ruangan. Aku hanya kagum padanya, bukan seperti Kwang mencintai Ai,pikir Minho, lalu berlari meninggalkan Eun hye.

Sara behenti sebelum menyebrang jalan, karena ia memanggil seseorang yang langsung menoleh ke arahnya seketika, kedua yeoja itu tak bisa menyalahkan satu sama lain, karena ingin menemui namja yang sama, tapi Niola tidak sebaik itu mengendalikan emosinya. Ia manampar Sarang sebelum pergi bersama taksi.

Sara dengan seluruh yang membuatnya frustasi, membuatnya terisak, isakan yang menghentikan langkah seorang namja ketika topinya terbawa angin, dan jatuh di samping kaki telanjangnya. Namja itu berlari mengejar topinya dan mendapati yeoja yang sangat ia, well… khawatirkan, berdiri menangis dengan pipi merah sebelah, dan mengenakan kemeja yang sangat tipis dan tanpa apapun di balik pakaian dingin milik seseoang yang sangat ia kenal.

Tanpa pikir panjang, namja itu melepas jaket tebalnya dan memakaikannya pada yeoja itu.

“Sara tenanglah,” katanya lirih, menggeser Sara untuk berlindung.

“Aku selalu setenang diriku, Onew ssi,” dibalik air matanya ia tersenyum.

Onew menatapnya, dan dengan hati pecah berkeping-keping, ia memeluk yeoja itu bagaikan merengkuh seekor kelinci yang hampir mati karena kehabisan napas dari dalam topi penyihir.

Onew memelukanya, benar-benar memeluk yeoja itu saat Minho menghentikan larinya tepat beberapa depa dari jarak mereka. Apa yang sudah kuperbuat pada Sara,Minho seakan berhenti bernapas, kepalanya dipenuhi sejuta rasa bersalah.

Ngiung ngiung…

Ia tahu, ia merindukan Sarang lebih dari bagaimana ia harus dimarahi Kim Juni karena menyebut nama anaknya berkali-kali saat casting. Ia baru saja menyadari, bahwa ia memang masih mencintai peran pengganti Ai, yang bahkan Eun hye sebaik itu, berpura-pura tidak datang dan membiarkan Minho mencium Sara, bukan dirinya.

Tetapi sekarang, dihadapannya, Sara berada di dalam pelukan namja yang sejuta kali lebih peduli pada Sara ketimbang dirinya.

Ciumannya, ciuman Kwang pada Ai, itu serasa benar-benar racun yang menyakiti pembuluh darah Minho.

ïGehört mirð

“Apakah kau tahu betapa sangat bodoh tindakanmu itu, hah?”

Plak! Tamparan itu mendarat di pipi Niola, yeoja itu hanya diam, berdiri di depan pintu kamar sahabatnya yang tak ingin berlama-lama menghadapi betapa tolol tindakannya.

“Niola, kau tahu, emh… dengan tindakanmu di sekolahku sudah cukup membuat kami malu pada Sarang, dan,…” Leena memegangi tangan Minyoung yang hampir saja menampar yeoja itu lagi “Jangan berbuat kriminal,” katanya.

Niola masih meneteskan butiran air di pelupuk matanya, menatap kedua temannya, bagaikan sudah tak punya harga diri “Aku tahu, aku tahu dan seharusnya aku tahu, semua orang menyukai yeoja itu, tetapi aku tidak tahu, Onew ssi sama sekali tak sensitif padaku, bahkan dia,”

“Ssh… sudahlah,” Minyoung menuntun yeoja itu masuk ke dalam tube di dalam kamarnya.

Leena memandangi Minyoung dengan kasihan, dibenaknya masih saja mengganjal beratnya perjuangan Minyoung untuk mencalonkan Sarang di dewan, tetapi seharusnya dia tahu, Sarang sama sekali tidak menginginkan semua itu.

Pikiran-pikiran lainnya berkerumun menjadi satu, dan mengerucut, memenuhi kepalanya, lalu pecahan-pecahan bayangan Key menyelusup ke dalam otaknya. Entah bagaimana dia bisa mengatakan dia sama sekali tidak melihat Key sewaktu dia benar-benar memerhatikan namja itu.

Eun hye duduk sendirian, rasanya sudah sangat lelah memikirkan bagaimana seharusnya dia bertindak untuk tidak menyakiti perasaan Sara lebih lama lagi. Ia menyukai namja itu, benar-benar meyukainya, tetapi semua orang di muka bumi ini, bahkan yang sangat tidak tahu apapun, tahu bahwa namja itu mencintai Sarang sepenuhnya.

Angin sejuk, basah dan titik-titik air berjatuhan, membasahi jendela dimana ia duduk termenung, menyadari betapa seringnya namja itu menyakitinya, meski tidak disengaja, dan… ketika ia benar-benar senang berfoto di sekolah siang itu, dia tahu, dia melihat Sarang berlari, dan Onew mengejarnya, membuatnya semakin merasa bersalah, mencintai seseorang, dan itu benar-benar terlambat.

Jong berbaring sendirian, memikirkan bagaimana Leena memandangi Kibum, itu cukup membuatnya kehilangan akal sehat untuk menampar dirinya sendiri. Key tidak menyukai, bahwa berpikir untuk menyukai Leena pun tidak, satu-satunya fakta bahwa Key benar-benar tidak bisa berbohong untuk tidak menyukai Eun hye.

Minho berjalan dengan gontai, bahkan Onew ssi bisa memeluknya secara nyata, dia berhenti di depan pintu kamar Kibum dan mendengar pembicaraan mereka, bahwa Key benar-benar menyukai Eun hye, dan Tae ingin memiliki Sarang. Kepalanya serasa sangat berat, berjalan tersaruk-saruk lalu menjatuhkan dirinya di atas ranjang, menatap gambar yeoja itu dengan perasaan hampa.

Jika seseorang bertanya bagaimana perasaan manusia bisa sesulit itu, karena hati tak bisa menentukan dengan siapa cinta harus memiliki, cinta tak pernah salah, di manapun cinta, ia tak pernah membutuhkan siapapun selain dirinya sendiri.

Aku tahu, hanya waktu yang terlambat dan aku belum menemukan tempat yang tepat, Onew menggandeng tangan yeoja di sampingnya. Ia bersedia menerima apapun, karena yeoja itu, tidak akan berpacaran dengan sabahat chaginya, bahkan namja itu turut berpikir, dengan mantan pacar dongsaengnya pun tidak.

Malam itu, daun berguguran, tetes hujan begeming sewaktu rembulan bersinar dengan perak, menerangi hati mereka yang selama ini tersembunyi di dalam rongga yang dalam dan tidak pernah berbohong, bahwa mereka tidak bisa mendapatkan cinta-cinta yang berkejaran, seperti bulan dan matahari…

Tak ada yang memiliki cinta itu, karena cinta sama sekali tidak ingin terjerat apapun, cinta berjalan dan berlari bersama dirinnya sendiri.

Lalu hilang, tetapi tidak pernah mati, Gehört mir.

Ich steh jetzt auf und bin nicht mehr still ♪
Du erwartest viel ¯
♪Ich kann nicht alles für dich sein
Obwohl ich dir verfiel ¯
Ist meine Welt für dich zu klein
♪Meistens ist es ganz egal wohin ich geh
Ich komm aus der gleichen Tür heraus
Diese Spielchen tun mir ziemlich weh¯
(nevada tan-himmel hilf)

ï als ð

Akhirnya selesai,  akhir kata, aku menyesal.

Tertanda,

KIM SARANG

Advertisements

5 responses to “Gehört Mir Teil [4/4]

  1. hmmm, jadi intinya gada satu pun dari mereka bersepuluh yg menggapai cintanya bgitu? saking rumitnya hubungan yg terjadi bahkan bikin bingung dah..

  2. Mian chingu, aku masih ‘sedikit’ kurang ngerti, tapi ff-mu bagus kog. Bikin ff yang lebih baik lagi ya chingu… Annyeong!

    • ne chingu… untuk selanjutnya mungkin sedikit tidak terlalu berantakan, ya… (atau mungkin malah hancur?) *mian…

  3. hwehehehe napa jd aq ikutan bingung am cinta’ny mereka…
    aq dsni suka kayta2 ttng cinta yg author jabarin…
    tp npa mreka smwa ga ad yg psti….mksud’ny ga ad satu pun dri mereka mndapatkn cinta yg mreka inginkn,,,bner ga pemikiran q???,,, brarti ini bs dartikn angst dong ending’ny -.-“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s