[Vignette] Love Is A Blood

Author: helmyshin1 (@helmyshin1)

Cast: Im Yoona SNSD and Kwon Ji Yong (G Dragon) Big Bang

Genre: Gore (Thriller and Psychology), Romance

Rating: NC 17+

Lenght: Vignette

WARNING: AU, KILLING ACTION, HARD WORDS and A BIT SEX ACTION !

Yang belum siap mental lahir dan batin (?) mendingan menjauh XD

Special Thanks to: Nadya for all suport, PARASHINOIA (@aajni537 and @vanflaminkey91)

Shin1 Note: Ada yang nunggu Lollisomnia 5? Maaf sebelumnya, FF itu tidak saia teruskan. Kenapa? Salah satu masalah besarnya adalah Ide, dan sepertinya reader juga mulai bosan dengan seri Lollisomnia yang gak jelas itu ==

Oh iya, maaf ya saia baru bisa publish FF, dan baru bisa bales comment2 kalian. Jeongmal mianhae L

Maka dari itu, Fanfic ini saia persembahkan (?) spesial pake telor buat gantiin Lollisomnia sama menebus dosa saia #ABAIKAN

Love is A Blood © helmyshin1 Present

Fajar menyumbul dari ufuk timur, memberi seberkas sinar yang sebenarnya sangat besar. Tetes-tetes embun masih bergelantungan di ujung dedaunan, menunggu hembusan udara datang supaya menerpa dan menjatuhkannya hingga merembes di pori-pori tanah yang basah.

Dingin yang damai. Begitulah kritikan para seniman yang berinsting tajam, yang mampu membuat satu kata menjadi beribu makna, yang mampu membuat segelas teh hangat menjadi nilai yang berharga, menggali lebih jauh apa itu benda, juga menghapuskan kata tak berguna. Itulah ajaibnya pagi. 

Memasuki sebuah apartemen yang mewah, sepasang kekasih atau lebih tepatnya suami istri, tengah menikmati pagi hari yang entah sudah keberapa dalam hidup mereka. Sang wanita menikmati pemandangan yang disuguhkan dunia dari balik jendela transparan, sedang si lelaki tengah memeluknya dari belakang.

Saranghaeyo, Yoona-ya..” kata itu menggelitik telinga Yoona, membuat senyumnya melebar seketika. Dekapan Jiyong membuat suhu tubuhnya meningkat, dingin pagi tak dirasa kembali. Yoona hanya bisa mendesah kala Jiyong menggigit telinga kirinya.

“Aku akan selalu berada di sisimu, yeobo,” bisik Jiyong pelan, senyum kembali mengembang di bibir Yoona, pipinya merah padam.

Jiyong menurunkan kaos oblong yang menutupi bahu Yoona, membuat lelaki itu bisa menikmati indahnya kulit sang istri yang seputih susu. “Ahh..” Yoona mendesah tak karuan kala lidah Jiyong menjamah bahu dan punggungnya, menjilatinya dan sesekali menghisap juga menggigitnya kuat.

“Selamanya..” tambah Jiyong mantap, dan Yoona sangat yakin akan hal itu.

***

Suara yang ditimbulkan sepatu hak Yoona menggema sampai ujung koridor, menyusup ke dalam celah-celah kamar yang ia lewati. Wanita itu memijat tengkuk lehernya, sesekali menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri agar ototnya lemas. Entah mengapa, ia merasakan lidah Jiyong bermain di lehernya sekilas, membuat bulu kuduknya berdiri. Ahh, ia rindu hal itu.

Yoona harus naik satu lantai lagi.

Jiyong kembali meneguk sebotol bir yang entah nomer berapa untuk malam ini. Lelaki itu mencumbui leher wanita bayaran di hadapannya, Hyuna. Desahan demi desahan terus keluar dari mulut Hyuna, membuat si lelaki semakin memperdalam cumbuannya. Ia menggigit dan menghisap kuat-kuat leher yang wangi itu.

Ting.

Pintu lift berbunyi, Yoona keluar dari lift, mendapati koridor apartemen yang lengang, ia melirik jam tangannya sendiri, baru pukul 8 malam, tak biasanya keadaan sudah sepi. Kamar mereka –Yoona dan Jiyong- berada paling ujung, dan Yoona hanya mampu menghela napasnya lagi. Sebenarnya wanita itu merasa terlalu penat untuk berjalan. Ia ingin merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur king size miliknya.

Hyuna menjambak rambut Jiyong, ia kembali mendesah nikmat sementara si lelaki belum puas sama sekali.

Wanita itu akhirnya sampai di depan pintu kamarnya, membuka pintu dengan kunci cadangan, tangannya menggenggam kenop yang terbuat dari besi. Diam di sana. Merasa ada sesuatu yang aneh, Yoona memutuskan untuk mendekatkan telinganya, menangkap suara desahan yang seharusnya tak di sana. Kedua kelereng indah Yoona membesar, sebuah amarah menyeruak di dadanya.

Tanpa pikir panjang, wanita itu pun membanting pintu.

BRAK !

Kedua bola mata Yoona nyaris meloncat keluar kali ini. Mendapati sang pujaan hati tengah bergumul mesra dengan wanita yang –menurut Yoona- menjijikkan di atas sofa. Terdapat beberapa botol bir di atas meja dekat mereka, juga beberapa majalah dan makanan ringan, nampak berserakan. Mereka berdua –Hyuna dan Jiyong- menghentikan aktifitasnya tiba-tiba, dan mendongakkan kepala mereka ke arah pintu.

“Bangsat kau, binatang jalang!” Yoona berteriak kencang sembari berjalan menghampiri dua manusia itu. Wanita di samping Jiyong yang merasa terganggu hanya mencibir, menampakkan raut wajah kesal. “Brengsek, siapa kau, hah?” umpat wanita tersebut, namun jawaban yang ia dapat hanya sebuah tamparan keras dari Yoona.

PLAK !

“Ouch! Sial!” Si wanita mengumpat kesal, bangkit dan hendak membalas perbuatan Yoona, namun Im Yoona lebih dahulu mengacungkan botol bir di dekatnya. Tak sengaja mata Yoona menangkap banyak kissmark di leher wanita tersebut, membuat amarahnya membuncah. “Pergi!” Yoona berteriak kencang lagi, suaranya hampir habis. Hyuna segera mengemasi barangnya dan pulang, tak ingin terlibat dalam masalah percintaan Ji Yong.

“Brengsek, beraninya kau menggangguku, eh?” Jiyong bangkit, alkohol masih menaungi separuh jiwanya.

“Kau tanya aku siapa? Aku istrimu, Kwon Jiyong!” Bentak Yoona, emosinya meluap.

PLAK!

Hantaman kencang mendarat di pipi Yoona, wanita itu hanya bisa meringis menahan pedih, setetes darah meluncur dari sudut bibirnya. “Salah apa aku, Jiyong? Kurang apa aku? Pernah aku berbuat salah padamu, hah?”

Hening. Air mata terus meluncur dari pelupuk kelereng Yoona.

PLAK !

Lagi. Hantaman itu terasa begitu sakit dan tak akan pernah terobati.

“Kurang ajar kau, Ji Yong!” Umpat Yoona kembali. Tanpa sadar, wanita itu mengacungkan sebotol bir yang kosong, dan menghantamkannya tepat mengenai kepala Ji Yong.

PRANG !

“Arrghh!” Ji Yong meremas kepalanya, rasa nikmat yang beberapa menit lalu dirasakannya musnah, tergantikan dengan rasa sakit dari Im Yoona. Ia berdiri sempoyangan, beberapa tetes darah disadari mengucur dari kepala Ji Yong.

“Kurang ajar!” Jiyong nyaris menampar pipi Yoona kembali, namun wanita itu lebih cekatan, dilemparkannya sebotol bir yang masih utuh ke pelipis Jiyong hingga namja itu terkapar di lantai. Pingsan bersama darah dan bir yang mengelilinginya.

Tubuh Yoona lemas, wanita itu mempertahankan berat badannya dengan kedua lutut yang bergetar. “Aaarggghhh..” Yoona terus berteriak, ia ingin meluapkan semuanya. Amarah menguasai Yoona, semua kebahagiaan yang pernah ia jalani bersama Ji Yong muncul di dalam benaknya, menyakitkan. Dan Yoona tak mau menahan rasa sakit itu, harus dilampiaskan.

Yoona mengangkat kaki beralaskan sepatu haknya, mengarahkan kaki itu tepat ke leher Ji Yong, dan..

JLEB!

Cairan merah kental mengalir deras dari leher Ji Yong, memuncrat sampai wajah Yoona, wanita itu menambah tenaganya, mengobrak-abrik isi leher Ji Yong dengan sepatu haknya. “Aarrgh..” Jiyong yang tadi pingsang tersadar kembali, merasakan sakit luar biasa di lehernya, ia hendak berontak, namun sayang, Yoona terlalu cekatan untuk mengambil nyawanya.

Yoona membungkukkan badannya, membuka kancing kemeja Ji Yong dengan cepat, merobek kain kemeja itu dengan brutal hingga memampangkan tubuh Ji Yong yang sangat indah. Lidah Yoona bermain di sana, di perut Ji Yong yang rata.

Lagi. Pecahan-pecahan memori itu melengkapi dirinya sendiri, seiring dengan air mata yang terus meluncur dari kelopak matanya, deras. Yoona pun mengambil pecahan botol bir yang tajam, menancapkannya ke perut Ji Yong.

Yoona terus merobek perut Ji Yong, hingga terbuka sebuah celah besar di mana tangan Yoona bisa masuk ke sana, mengabsen satu per satu organ pencernaan seorang yang dicintainya.

Wanita itu duduk di atas leher Ji Yong yang sudah tak berbentuk, membungkukkan punggungnya agar lebih mudah mengoyak isi perut Ji Yong, mengeluarkan ususnya, lambung, dan yang tak kalah penting, hati. Merasakan sebuah sensasi geli dan nikmat kala kuku-kukunya menjamah benda itu, bersama bau darah yang –menurut Yoona- begitu nikmat. Adrenalinnya berpacu.

Yoona menjilati jarinya yang dipenuhi darah, merasakan betapa nikmat darah Ji Yong yang membuatnya dimabuk cinta. Yoona membalikkan badannya, menikmati tampan wajah Ji Yong yang sempurna, tampan wajah Jiyong yang sampai sekarang terus menghipnotisnya.

Wanita itu menjilati kelopak mata Ji Yong yang menutup, menjilati pipinya, hingga daging bibirnya yang menggoda. Ooh.. itu adalah narkoba bagi Yoona, narkoba yang pernah menanggalkan ratusan kissmark di bagian tubuhnya, yang selalu memanjakan bagian kewanitaannya. Wanita itu pun melumat bibir Ji Yong yang kini tak bisa apa-apa lagi, menghisapnya, menggigitnya sekuat tenaga hingga bibir Ji Yong mengeluarkan darah.

Yoona menindih tubuh Ji Yong dengan tubuhnya, menjambak rambut lelaki itu dengan brutal. Yoona membuka paksa mulut Jiyong, menggigit lidah lelaki tersebut, lidah yang pernah menjilati semua bagian tubuhnya, yang membuatnya merasakan sebuah sensasi nikmat yang tak tertandingi rasanya.

Lidah Yoona turun ke dagu Ji Yong, wanita itu merutuk pada dirinya sendiri karena telah merusak leher Ji Yong sebelum menanggalkan kissmark di sana. Yoona bangkit, tak peduli akan bajunya yang turut merah terkena darah.

Pandangan Yoona beralih ke tas kerjanya, memuntahkan semua isi tas tersebut, mengambil gunting dari sana. Wanita itu menancapkan ujung gunting yang tajam hingga menembus kelopak dan bola mata Jiyong, memutar-mutar ujung gunting itu agar bola mata Jiyong hancur, kemudian mencongkel dua kelereng indah yang selalu dikaguminya, dan membiarkannya menggelinding ke segala arah.

Wanita itu menjambak rambut Ji Yong lagi, berharap tenaganya cukup untuk mencabut helaian rambut itu sampai ke akarnya, walau ia sendiri tau hal itu tak akan bisa. Derai air mata kembali melanda Yoona, wanita itu tak bisa memungkiri bahwa dirinya masih dan akan selalu mencintai seorang Kwon Ji Yong.

Yoona berdiri, tak kuasa menahan kesedihannya sendiri. Dengan amarah, cinta, dan cemburu yang memuncak sampai ubun-ubun, wanita itu melompat-lompat di atas tubuh Ji Yong dengan sepatu hak miliknya, berniat menghancurkan tubuh itu sampai sirna dan tak tersisa sedikit pun. Pita suara Yoona tak mampu menahan rasanya, membuatnya terus berteriak dan berteriak.

Im Yoona berlari ke dapur, mengobrak-abrik rak, meja makan maupun laci di sana, dan akhirnya menemukan benda yang ia cari, sebuah pisau pemotong daging yang besar. Wanita itu kembali berlari menuju tubuh Jiyong, tak ingin membuang waktunya sedikit pun. Yoona menggorok leher Jiyong, tak peduli akan darah yang selalu mengenai wajah dan rambutnya yang indah. Tak berapa lama kemudian, kepala Jiyong resmi lepas dari tubuhnya.

Kepala Jiyong dipaksakan berdiri oleh Yoona, seperti posisi saat tubuhnya pun berdiri. Pisau besar tadi terus menghantam kepala Jiyong asal, membuat kulit kepalanya lecet-lecet dan menyembulkan darah. Tangan Yoona terus saja mengobrak-abrik kepala itu hingga tulangnya retak dan menggelinding ke depan pintu.

Yoona kembali ke dapur, mengobrak-abrik semua barang di sana, hingga menemukan sebuah tang di sudut dapur. Tak ingin menyiakan waktu, Yoona kembali menghampiri kepala Jiyong, membuka paksa mulut itu dan mencabut rahangnya. Namun, hal itu cukup susah dilakukan, tenaga Yoona sudah terkuras, terkuras oleh amarah.

Wanita itu pun menyerah, dan akhirnya beralih ke lidah Jiyong, menjepit ujung lidah itu dengan tang, memutarnya dan menariknya sekuat tenaga hingga robek. Yoona melempar lidah itu ke sembarang arah, asal-asalan.

Dengan tubuh yang dipaksakan, Yoona berbalik ke tubuh Jiyong yang sudah tak utuh lagi, kembali menancapkan ujung pisau tadi ke tubuh Jiyong secara asal. Jika perlu, Yoona akan menggiling semua bagian tubuh Ji Yong, lalu menghanyutkannya bersama air supaya tak ia temukan kembali.

Peluh dan air mata Yoona menyatu, membasahi darah yang menggenang di lantai kamar. Napasnya memburu, jantungnya berdetak sangat kencang. Wanita itu merasakan kepalanya berkedut-kedut, lelah. Ia duduk di dekat tubuh Ji Yong, meremas kepalanya sendiri hingga rambutnya berlumuran darah oleh telapak tangannya.

“Bangsat kau, Ji Yong! Aaarggh!” Yoona kembali berteriak, dengan suara menggema yang menyusuri tiap sudut apartemen, walau tenggorokannya kering hingga nyaris tercekat. Wanita itu memincingkan matanya, menyadari bahwa tubuh Jiyong berantakan, ulah tangannya sendiri.

Yoona meraih sebuah pecahan botol yang cukup besar dan tajam di sekitarnya, merobek dada kiri Ji Yong, meremas jantung lelaki itu dengan tangannya sendiri, seolah menginginkan supaya Ji Yong merasakan apa yang kini ia rasakan.

Hancur.

Yoona mencabut jantung Ji Yong dari syaraf-syarafnya, merangkak dan meraih kepala Jiyong di balik tubuhnya, membuka paksa mulut Ji Yong, dan memasukkan jantung tadi ke dalam mulut pemiliknya. “Makan itu, binatang jalang!”

Wanita tersebut menendang tubuh Ji Yong dengan sisa tenaga yang masih ia miliki. Bangkit, dengan baju penuh darah dan wajah serta rambut berantakan, mengambil botol bir yang masih utuh, menghantamkannya di dalam perut Jiyong hingga cairan itu menggenang di sana.

Yoona meraih korek api di atas meja, menyulutnya dan melemparkan api kecil itu ke tubuh Jiyong hingga bereaksi dengan bir. Membara. Seperti api dihadapannya, itulah cinta Yoona. Yang semula berwarna merah, kini semakin biru.

Yoona keluar dari kamar nista itu, masih dengan tubuh yang ia biarkan berantakan, berjalan sempoyangan ke ujung koridor, tepatnya menuju lift.

Ting.

Lift di ujung koridor berbunyi, beberapa orang keluar dari sana, mendapati seorang wanita yang mengerikan –Yoona- menyeret kaki ke arah mereka, dan kepala yang menggelinding mengikutinya. Bau anyir tercium begitu kuat dan menyengat bersama aroma gosong yang menyeruak. Semua orang dari dalam lift kalut, panik dan takut menghampiri mereka.

“Aaaaaa..!!”

EPILOG

Yoona duduk di pinggir ranjangnya. Semenjak insiden itu, tak seorang kerabat pun mau menampungnya. Malu dan takut, itulah yang mereka rasakan. Dan satu lagi, tak mau ambil pusing dengan wartawan yang setiap hari berdatangan.

Hingga akhirnya, para kerabat memutuskan untuk mengurung Yoona di sebuah kamar, dan mengenakan baju yang sama dengan penghuni kamar lainnya.

Love is A Blood © helmyshin1 Present

Sebenarnya ada niat buat dibikin NC 21+ #DUAAK tapi, jangan dulu deh kayaknya XD

Maap buat Teh Ama sama Teh Vania yang pastinya ngerasa kalo Gore dalam FF ini kurang, alurnya gak jelas dan kecepetan, saia sendiri juga ngerasa gitu sih *itutau #dilindas

DILARANG PERGI TANPA MENINGGALKAN JEJAK SEDIKIT PUN !

Best Regards,

helmyshin1

Advertisements

57 responses to “[Vignette] Love Is A Blood

  1. ini. horror. banget. sumpah.

    MBAK IM YOONA!! cantik-cantik psiko ya, suami saya pula yg jadi korban TT^^TT awalnya saya pikir ini kaya action nc gitu lho… semacam mr. and mrs. smith lol tapi ternyata salah besyyar. Oiya, bagian lidah itu bikin saya merinding beneran lho, mantap. Terakhir, Yoona pokoknya harus tanggung jawab! nikahi seo sekarang! *lho* *oke abaikan*

  2. ya ampun thor gua kaga kuat bacanya.. tega amat thor rusa gua dijadiin monster gtu..haduhhh keren sih cuma serem amat..
    hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s