Love Button [Part 1]

Title:  Love Button

Author: Joo aka indahberliana

Main Cast:

-Park Chanyeol (EXO-K)
-Byun Eunji (OC)

And other cast you can find them in this Fanfict.

Genre: Comedy (maybe), Romance (maybe) pokoknya readers tentuin aja deh hehe.

Rating: PG 13

Disclaimer: semua cast (kecuali OC) punya tuhan semata. Dont Be Plagiator! Please RCL.

A.N: aku kembali dengan FF baruku. Sebenernya aku rada kecewa dengan FFku yang Just For You kelihatannnya kurang memuaskan ya? sebaiknya aku lanjutin atau nggak? Kelihatannya banyak yang nggak berminat. Komennya aja dikit banget. *sedih* #plak. Oh iya, kali ini aku mau coba bikin School Life. Semoga pada suka yah. Maklum author ini abal pasti ffnya juga abal *merendah* tak bosen-bosennya aku mengingatkan, jangan jadi plagiator, jangan jadi siders, dal please Read, Comment, and Like ya kalo mau *sedih lagi* INI HANYA FF, JADI JANGAN TERSINGGUNG DENGAN APA YANG DIKATAKAN PARA TOKOH. Sekian terima kasih.

****

 

Eunji POV

Kubuka perlahan-lahan mataku, samar-samar kulihat cahaya terang menembus wajahku. Ah, rasanya malas sekali untuk sekolah. SEKOLAH??! Aku raih sebuah benda yang amat kubenci jika sedang mengeluarkan suaranya yang menggelegar itu. astaga! Jam setengah 7! Sementara bel masuk sekolah jam 7 kurang 5 menit. Gawat! Aku bisa telat kalau begini!

Aku mengambil handuk putihku yang tergantung jemuran kecil di balkon kamarku, aku semakin cemas karena matahari semakin tinggi. Kukebut mandiku, berpakaian rapih, dan turun tangga tanpa menyentuh sarapan.

“Ya! Noona! Sarapan!!!” aish, namdongsaengku yang satu ini memang menyebalkan! Baru saja kelas 1 SMA sudah berani berteriak begitu kepada kakaknya sendiri. Ya. kuulang, aku ini seperti kakak yang tak pernah ‘dianggap’ kehadirannya sebagai seorang kakak. Huh menyebalkan. Aigoo, kenapa aku jadi curhat adikku yang tak penting itu pada kalian? Sudahlah abaikan. Sekarang ini aku cemas sekali!

“APPAAA CEPAT ANTAR AKU KESEKOLAAH! Tak peduli mau sarapan kek, enggak kek, aku tidak pedulii! Ppalli appaa!!!” seruku seperti orang gila.

Kulihat appa segera mengambil jaketnya dan mengeluarkan motor matic ku agar lebih cepat sampai. Akupun naik di belakangnya. “kau ini, padahal kau yang salah pakai terlambat bangun segala. kau  menyusahkan orang lain saja.” Aku hanya diam karena memang benar sebenarnya aku sih yang salah. Kemarin tugas-tugasku, kupending semua. Dan akhirnya jadi.. yah, beginilah. Huwaa aku sangat takuuut terlambat! Ayahku mulai ‘mengebut’ dengan motorku.

****

“Kau terlambat kali ini, Byun Eunji” yah, perhitunganku gagal total. Akhirnya aku terlambat juga. Kini, Lee seonsangnim sedang menegurku habis habisan di gerbang sekolah yang sudah tertutup.

“Saya mohon, saem! Kemarin aku begitu lelah mengerjakan tugas-tugas saya. Saya mohon, kali ini saja, bukakan pintu gerbang ini. Saya mohooon!” aku memelas pada guruku yang satu ini. Pria paruh baya ini memang baik, tapi kalau ada murid yang telat, ia akan berubah menjadi harimau yang ingin menerkamnya hidup-hidup.

“baiklah. Karena kau baru kali ini terlambat, kubukakan. Tapi, jika ini terjadi untuk keduakalinya, maka saya tak akan tolerir lagi. Arasseo?” ucapnya tegas yang membuatku bergidik ngeri menatap matanya dibalik lensa silindernya itu.

NE! ALGESEUMNIDA! Kamsahamnida sonsaengnim! Kau begitu baik!!!”

Aku membungkukkan badanku 90 derajat,  lalu berlari kencang dengan kecepatan super seperti banteng yang sedang mengejar bendera merahnya ke kelasku yang berada di lantai 3. Astaga, coba saja sekolah ini menyediakan fasilitas lift. Aku jadi tak perlu ngos-ngosan begini.

Akhirnya aku sampai di lantai 3. aku benar benar beruntung, karena yang mengajar jam pertama ini adalah Wu sonsaengnim. Sambil berjalan menyusuri koridor tiap kelas menuju kelasku, aku akan menceritakannya. Guruku yang mempunyai suara bagus itu, wajahnya yang tampan, dan stylenya membuatku jadi senang setiap pelajaran bahasa mandarin yang merumitkan itu.

Aku sampai di depan kelas. Jantungku berdegup kencang, takut semua murid kelasku tertawa melihatku terlambat. Aku membuka kenop pintu kelasku dengan perlahan tapi pasti. Yap, sudah kusiapkan mental ini.

“Jeongmal mianhamnida, saem. Saya telat hari ini.”

“Makanya kalau tidur tuh ingat waktu! Hahahaha…” aish, namja itu!!!! hhhh!! Membuat emosiku naik saja!! Karena ucapannya, semua murid di kelasku jadi menertawakanku. Kutatap tajam ke kedua bolamata namja yang duduk disampingku itu. dia hanya membalasnya dengan seringaiannya yang membuatku bergidik tiap kali melihatnya. Terserah apa maumu!

“Park Chanyeol! Kau tidak seharusnya berbicara seperti itu!”

Kulihat dia diam tak bisa berbicara apa apa. Kalau Wu Yi Fan sonsaengnim—nama kerennya Kris—berteriak, maka semuanya hening… guru yang hebat! Aku tersenyum puas melihatnya begitu.

“kalau begitu, silahkan duduk di tempat dudukmu”

Akupun duduk dengan penuh gengsi. Duduk di sebelah namja ini membuat emosiku memuncak tiap kali berada disampingnya. Oh tuhan, berilah aku kesabaran penuh menghadapi bocah tengil ini!!

Aku merasa seperti diperhatikan. Aku melihat ke arahnya yang memperhatikanku sambil memakai headset… mwo?? berani sekali dia mendengar musik di pelajaran Wu sonsaengnim?? Apalagi, mengingat kami duduk di barisan ketiga dari depan. Cukup mudah dihukum kan jika terlihat oleh guruku itu? ah sudahlah. Lagian bukan aku ini yang mendapat hukuman. Justru seharusnya kau senang melihatnya akan dihukum seperti itu, Byun Eunji!

“ini, pakai. Kutahu kau pasti bosan sekali dengan pelajaran ini.” kurasakan telinga kiriku yang dekat dengannya sedang dipakaikan headset miliknya. Aku terkejut.

“YA! apakah kau sudah gila? Lepas headsetmu itu sekarang!” bisikku mengancam.

Dia malah mengeratkan salah satu headsetnya ke telinga kiriku. Dan ia memakaikan headset yang tersisa ke telinga kanannya.

“menunduk! Biar kita tak terlalu terlihat sedang mendengar musik!” bisiknya. Aish jinjja. namja ini keras kepala! nekat sekali! Aku tentu saja tak mau menunduk dan berniat untuk melepaskan headsetnya dari telingaku. Tapi dia menahan tanganku. Dan seenaknya saja tangannya menundukkan kepalaku.

“sakit!” bisikku sambil menyeru.

“Hei ada apa itu?” astaga! Aku tak bisa mendongakkan kepalaku dari atas mejaku karena kepalaku ditahan dengan tangan Chanyeol. Sial!

“aniyo, saem. Aku hanya mengambil pensilku yang jatuh.” Kulihat ia menundukkan kepalanya ke bawah, seakan-akan mengambil pensilnya yang terjatuh. Aku menatapnya heran.

“kau keras kepala!” dan dia hanya membalas pernyataanku dengan tawa innocentnya.

 

****

Noona, jebaaal. Pinjam motormu kali ini aku janji tak akan membuat motor kesayanganmu itu tak akan berakhir mengenaskan seperti dulu. Kumohoon! Aku ingin kencan dengan yeojachingu-ku. Noona!!’ huh, kalau lagi ada maunya, memelas seperti ini. Tak akan mempan, Byun Baekhyun. Yeojachingu? Cih, ternyata aku terlangkahi dengan adikku yang super nyebelin itu.

Lalu kujawab dengan suara menyombongkan diri “Makanya, tiap hari nabung buat beli motor! Bukannya digunakan untuk bermain game sepulang sekolah di game center. Shireo, kalau untuk pacaran, aku tak akan mau meminjamkannya!”

Chanyeol yang sedang berjalan keluar gerbang sekolah bersamaku, tertawa mendengar percakapan kami. Aku hanya menatapnya tajam dengan sudut mataku. Ia langsung terhenti sesaat.

Byun Eunji PELIT!! Dasar kakak pelit! Noona paling pelit sedunia! Awas saja kalau aku sudah punya motor! Ani! MOBIL! Tak akan kubiarkan noona menyentuhnya seujung jari noonapun! Lalu ku ‘habisi’ motor noona yang butut itu! kalau aku tahu tadi jawaban noona seperti ini, kubawa kabur motor bututmu itu!”

PIIP~

“MWO!? berani sekali dia bicara seperti itu padaku??? Lihat nanti, bocah tengil!!! Kau akan menderita di rumah nanti!!” gerutuku. Baru kusadari, namja yang disampingku kini tertawa terbahak bahak mendengar rentetan ‘kalimat laknat’ yang diucapkan Baekhyun tadi padaku dan juga gerutuanku.

“kalian lucu sekali!! Hahaha…” aku menaikkan salah satu alisku, melihatnya memegang perut. Saking ‘lucu’nya kah ‘kalimat laknat’ baekhyun tadi padaku? Aku berjinjit—karena Chanyeol itu tingginya seperti tiang listrik—dan menjitak kepalanya tanpa ampun.

“YA!” mukanya kini memerah. Menahan amarah yang memuncak pastinya. Ia pastinya tak mengizinkan tanganku menjitak keras kepalanya.

“Siapa suruh kau tertawa diatas penderitaanku hah?” aku melangkahkan kakiku meninggalkannya yang masih mengusap-usap kepalanya.

“sakit! YA! kau tak kasihan pada adikmu?” aku mengacuhkannya. Biar saja ia terlihat berbicara sendiri, biar terlihat gila.

pemberitauhan. Kepada Byun Eunji kelas 3-2, harap ke kantor guru sekarang. Terima kasih.

“Eh? Ada apa ini?”

“Ya, kenapa kau dipanggil?”

“kalau kutahu, aku juga tak akan kebingungan, Chanyeol babo.” Seketika telunjuknya mendarat di dahiku. Kepalaku jadi oleng. Dia menatapku heran.

Sabar, Eunji. Sabar. Kali ini tuhan mengujimu dengan namja menyebalkan lagi. Setelah adikmu yang menyebalkan ditambah dengan teman sekelas yang kebih menyebalkan lagi. Komplit! Penderitaanmu komplit! Kenapa aku jadi memojokkan diriku sendiri?

Aku berjalan menuju kantor guru. Tapi Chanyeol mengikutiku. Ah aku jadi risih!

“YA! kenpa kau mengikutiku?” bentakku.

“aku hanya ingin ke kantor guru juga. Tak boleh? Kaki ini punyaku. Dan sekolah ini bukan milikmu. Paham?”

Akhirnya, aku dan Chanyeol mendatangi kantor guru di lantai pertama gedung sekolah ini. Namja menyebalkan!

“waeyo, saem?” aku dan Chanyeol menghadap Lee sonsaengnim yang tadi pagi menceramahiku karena aku telat. Oh iya, dia juga wali kelasku, kelas 3-2.

“saya perhatikan, nilaimu kian menurun. Mengapa itu bisa terjadi?”

Mwo? nilaiku turun? Matilah kau sekarang juga, Byun Eunji!

“dia kerjaannya hanya mengomel-ngomel pada adiknya sendiri, Saem. Saya paham betul apa yang dirasakan adiknya jika dibentak-bentak seperti tadi di telepon dengan adiknya.” Aku melempar pandangan tajam—super tajamku ke arah namja sialan ini. Mengapa dia berbicara seperti itu????

Aku melihat cemas ke arah Lee seonsaengnim. Ia menatap kami berdua heran. “kalian sepertinya kenal dekat ya? ah iya, kebetulan sekali kau ada di sini juga. Karena melihat kalian yang sudah dekat,  saya kira tak ada salahnya jika Chanyeol membantu kau Eunji untuk memperbaiki nilai-nilaimu yang turun itu. Bagaimana? Kalian bisa?”

“Mworagoyo? Saem? Dengannya? Dekat? An.. AAAKH.”  Aku mendongakkan kepalaku ke arah Chanyeol yang secara lebih tinggi dariku —Tubuhnya seperti tiang listrik— Ia menginjak kakiku!!!!

“Sudahlah, jangan mengelak” bisiknya di telingaku membuatku semakin geram saja.

“Kami sangat dekat, Saem!..” ia merangkul bahuku?? Seenaknya saja namja ini! Kalau tak ada Lee sonsaengnim, sudah kubanting dia ke lapangan sekolah.

“sangaaat dekat, jadi sering bertengkar seperti ini. Bukan begitu, chingu-ya?” lanjutnya sambil menatapku. Hiiiiy. Seram! MWO? chingu katanya? YA kita ini bukan teman!!

“wah bagus kalau begitu. Chanyeol, kau sekarang bertanggung jawab sebagai tutor Byun Eunji. Kuserahkan semua padamu. Kau kan murid berprestasi di SMA ini. Semangat! Fighting!” sifat ramah Lee sonsaengnim keluar. Menggelikan ya, melihat namja paruh baya mengangkat tangannya sambil berkata’hwaiting’ pada Chanyeol.

“m…mwo?  aniyo! Saya tidak mau, saem!”

“Byun Eunji, baru memasuki tahun ajaran baru, nilaimu sudah menurun. Nilai semester satu juga berpengaruh terhadap nilai standar kelulusan. Kelihatannya kalian sangat dekat sekali ya? kalian pacaran?” MWO? saem, tega sekali bilang aku dengannya berpacaran. Kulihat Lee sonsaengnim mendelik menggodaku. Kulempar pandangan memohonku pada Chanyeol.

“aniyo, saem. Kami tidak berpacaran kok. Hanya terlalu dekat saja sehingga sering dikira begitu. Bukan begitu, chingu-ya?”

Aku terpaksa mengangguk, pasrah. Aku tak bisa berkelit lagi kalau masalah nilaiku yang memang…yah, hancur.

“Selamat belajar! Belajar yang giat ya! kau tahu, yang akan menjadi tutormu itu sangat tampan! Suamiku saja tak setinggi dia dulu.” aku mendongakkan kepalaku. Ternyata Kang seonsaengnim. Wanita yang kiranya berumur 30 tahun itu memuji namja ini?

“ah, kamsahamnida, saem.” Kulempar pandanganku ke Chanyeol. Cih, bisa malu juga dia. Dia juga manusia ternyata.

 

****

“Ya! kenapa kau mengikutiku terus sih???” astaga! Aku benar-benar risih dengan ‘stalker’ satu ini. Mengikutiku kemana saja aku melangkahkan kaki.

“jalanan ini bukan milikmu, kan? Apa hakmu?”

Aku terus menjauhinya, kulangkahkan kakiku dengan jarak yang lebar agar bisa cepat menghilang dari matanya. Tapi gagal. Tangan itu kini menggenggam lenganku.

“Ya!  kau ini wanita! Jalan pelan-pelan. Kau tak kedinginan? Mana sarung tanganmu?”

Dia mendelik ke telapak tanganku yang polos tanpa apa-apa. Aku juga melihat tanganku yang kini sudah merah karena kedinginan.

Ia melepaskan sarung tangan rajut bagian kanannya. “ini, pakailah.”

Aku menatap sarung tangan rajutan berwarna merah itu. aku meraihnya. “gomawo.” Aduh kenapa suasananya jadi begini??

“sini tangan kirimu.” Ia meraih tanganku?! Ia memasukkan tangan kiriku ke saku kanan mantel hitamnya.

“sudah hangat? Ah, saljunya turun!!” ia mengangkat tangan kirinya untuk menampung salju dengan telapak tangannya. Kekanak-kanakan sekali.

Kami terus berjalan, dan tiba di halte bus terdekat dari SMA Shin. Kami langsung memasuki bis yang masih ramai. Ia duduk tepat disamping jendela. Sementara aku di sebelah kanannya.

Suasana sangat hening. Aku kikuk sendiri. Ia asik memandangi salju yang saat ini turun di Seoul sambil tersenyum sendiri. Benar-benar sama seperti baekhyun. Ah! kenapa aku jadi ingat dengan adik laknat itu!?

“kau, suka salju?” tanyanya yang masih melihat ke jendela.

Ia langsung mengalihkan pandangannya padaku, “apakah kau suka salju?” ulangnya.

“hmm, suka. Adikku apalagi. Jika bertemu salju, kelakuannya jadi seperti anak kecil yang belum pernah memegang salju. seperti kau.”

Kutunggu tatapan tajamnya. Tapi bukan tatapan yang kuharap keluar dari wajahnya, tetapi cengiran… innocent?

“kau ini. Aku suka sekali salju. Dan aku sangat percaya akan datangnya santa ketika malam natal. Semua teman-temanku menggantungkan kaos kaki natal. Dan kau tahu apa yang kugantung saat aku kecil dulu?”

Aku mendelik padanya. “apa?”

Dia tertawa. Sepertinya dia sedang mengkilas-balik memorinya yang sudah bertahun-tahun terjadi.

“celana panjangku.” Dia tertawa begitu keras. Semua orang yang ada di bus menatap kami heran.

Aku juga heran, apa yang lucu? “mwo?” tanyaku.

“ya, aku malah menggantungkan celana panjangku agar mendapat hadiah yang banyak. Aduh itu memalukan sekali.” Aku baru sadar, hal ini adalah hal yang membuatku terpingkal-pingkal, tak bisa memberhentikan tawaku. Biasanya aku hanya tertawa jika baekhyun dihukum dan sebagainya. Mereka benar-benar mirip dimataku.

Dia berhenti tertawa, dan tatapan menyeramkannya itu terpancar dari wajahnya. “bisakah kau hentikan tawaanmu? Membuatku malu saja” ia mengacak rambut coklatnya.

Aku benar-benar tak bisa berhenti. Oh tuhan! Perutku jadi sakit! “ahahah… mungkin karena otakmu yang terlalu berpikir jauh, dan beginilah hasilnya..ahahahaha…”

Ia membekap mulutku dengan tangannya. “Yo! Yo! Lephoskon!! (Ya! Ya! Lepaskan!!)” aku mencoba melepaskan tangannya dari mulutku. Kucakar jari-jarinya yang membekap mulutku dengan kasar.

Alhasil, dia melepaskan bekapannya dari mulutku. “YA! apa yang kau lakukan!!? Appo!”

“siapa suruh kau menyentuh mulutku?”

Kini suasana beralih ke kesunyian. Bus berhenti tepat di halte terdekat dari rumahku. Aku turun tapi… dia mengikutiku? Apa lagi yang bocah itu mau???

“Park Chanyeol! Bisakah kau tidak mengikutiku?”

Ia keluar dari pintu bus. bus itu pergi meninggalkan kami berdua. Hari semakin gelap.

“aku aku ini tutormu, bukan? Seharusnya kau yang meminta duluan. Karena aku baik hati, baiklah, aku yang akan menawari kebih dulu. Bagaimana?”

Ia berjalan menyusulku. Sekarang tepat berada di sampingku.

“jika bukan karena nilai, aku tak akan setuju kau yang menjadi tutorku.”

“YA! kenapa sih, kau keliahatannya benci sekali padaku?”

“aku bukannya benci, tapi kesal saja padamu! Dari tadi pagi kau sudah membuatku kesal! Dan sekarang mengikutiku? Seharusnya kau bilang dulu denganku kalau mau belajarnya sekarang.” Gerutuku kesal dengan panjang lebar.

“aku merasa terhormat bisa membuatmu kesal, Byun Eunji.”

MWO????? “Ya! kau pulang sekarang! Lebih baik kau pulang saja! Daripada membuatku emosi dan tak konsentrasi belajar bersamamu!”

“eiiiii, menyeramkan. Byun Eunji menyeramkan!” ia tertawa tanpa rasa bersalah.

Byun Eunji! Kendalikan emosimu! Jika kau terus-terusan menunjukan kekesalanmu padanya, sama saja kau memberinya kemenangan!

Kurubah intonasi suaraku menjadi lebih tenang. “baiklah, ayo cepat masuk!” aku mendorongnya ke gerbang rumahku. Kulihat raut wajahnya berubah. Menyiratkan kebingungan. Haha, kau menang kali ini Byun Eunji!! Yay!

“Eomma, appa, aku pulang!”

Eomma dan appa langsung menghampiriku. mereka tampak terkejut. Hei? Ada apa?

“Eunji-ya, dia namjachingu-mu? Tinggi sekali ya.” tanya appa. Mwo? lagi-lagi namjachingu??? Astaga kurasa aku bisa gila dengan satu kata tersebut.

“aniyo!! Chanyeol-ah, perkenalkan dirimu!” titahku. Ia langsung membungkuk hormat pada kedua orangtuaku.

“annyeonghaseyo. Park Chanyeol imnida. Aku adalah teman sekelasnya. Dan wali kelas kami menyuruhku menjadi tutor belajarnya karena nilainya turun.” Dengan polosnya ia bicara begitu.

APA? Ia menjelaskan mengapa ia menjadi tutorku? Namja ini benar-benar minta kubanting!

“mwo? Eunji-ya, nilaimu turun? Kenapa? Aigoo, apa yang menyebabkan nilaimu turun? Chanyeol-ssi, nilai Eunji yang turun apa saja?” tanya appa dan eomma. Aduh, mati aku.

Aku menginjak kaki Chanyeol. Dia meringis kesakitan. Ah? padahal aku tak terlalu keras menginjak kakinya. Kau berakting Park Chanyeol?! Emosiku memuncak sekarang.

“Eunji-ya! apa yang kau lakukan? Dia sudah berbaik hati membantumu untuk menaikkan nilaimu, tapi kenapa kau seperti itu padanya?”

“gwaenchanha, ajumma.”

“ah baiklah, eomma, appa. Bisakah kami mulai belajar bersamanya? Baiklah aku ke kamar ya!”

“eh ke kamar? Jangan…”

“sudah cepat, biar konsentrasi, belajarlah di kamar. Hwaiting!” omongan appa diinterupsi oleh eomma. Aku yang tadi berhenti sejenak menaiki tangga, kembali menuju kamarku yang ada di lantai 2.

“Chanyeol! Cepat!” ia langsung menyusulku.

 

“ya! kau ini bagaimana? Membiarkan anakmu dengan laki-laki berduaan di kamar?” Appa Eunji mengomeli istrinya yang ada di sampingnya.

yeobo, mereka itu berniat untuk belajar, lagian mereka juga tidak pacaran kan? kelihatannya Park Chanyeol itu baik. Sudahlah.” Lerai Eomma Eunji. Mereka kembali melanjutkan kegiatan mereka di dapur.

“oh iya, Baekhyun ke mana?” tanya Appa.

Sang eomma menjawab “tadi ia pergi dengan motor Eunji. Sedang kencan dengan yeojachingu-nya.”

“ne?? Anak itu sudah mempunyai yeojachingu? Dasar anak jaman sekarang. Berbeda sekali dengan kita dulunya.”

Sepasang suami istri itu saling mengkilas-balik masa –masa lalu mereka.

 

****

 

Eunji POV

 

Aku membuka pintu kamarku…

MWO!??? apa yang terjadi dengan kamarku??? Kenapa buku bertebaran dimana-mana??? Seprei ranjangku berantakan??? Siapa yang melakukannyaa???? Apakah tadi ada gempa besar yang membuat kamar rapiku menjadi berantakan begini????

Aku mengambil napas dalam-dalam, membuangnya seketika. Kuulangi berkalikali.

“kamarmu kenapa? Lebih pantas disebut gudang.” Chanyeol meletakkan tangan kanannya di bahuku.

“DIAM KAU!” aku membuang (?) tangan Chanyeol. Mendengus kesal.

“eiii, mengerikan. Aku hanya bercanda.” Dia menatapku takut.

“aku tak bisa bercanda saat ini.” Jawabku sambil tarik-buang napas. Membuat hidungku kembang-kempis melihat kamar ini.

Ia menurut. “baiklah”

Aku dan Chanyeol memasuki kamar laknat ini. Aigooo siapa yang melakukannya??? Bahkan walaupun kamarku tadi pagi belum sempat ku bereskan, tidak seberantakan ini!! Ini pasti ada yang sengaja melakukannya.

“hah, siapa lagi kalau bukan Byun Baekhyun! SIALAN!” aku berlari keluar dari kamarku dan turun ke bawah.

“EOMMA!!! APPA!! BAEKHYUN DI MANA!!!???”

“ia sedang pergi dengan yeojachingunya. Ada apa? Bisakah kau mengecilkan suaramu itu??”

Astaga! Motorku! Aku langsung keluar rumah dan segera mengecek halaman rumahku dan… aku tak mendapati motor yang kubeli dengan tabunganku sendiri.

“BYUN BAEKHYUN! KUCEKIK KAU SAAT KAU PULANG NANTI!!!” teriakku sambil tarik-buang napas sehingga mengembang-kempiskan hidungku.

“Ya! jangan teriak-teriak! Nanti didengar tetangga!!” eomma menghampiriku yang sedang ‘gila’.

“Byun Eunji! Belajarnya jadi tidak? Kendalikan emosimu! Cepat masuk dan ke kamarmu!” seru Chanyeol. Eii, tunggu. Tadi wajahnya serius. Wah, bisa juga dia serius. Kalimatnya tadi sangat dewasa ya. sekaligus sangat menjengkelkan.

Aku dan Chanyeol memasuki kamarku yang super berantakkan.

“Chanyeol-ah, bagaimana bisa belajar? Kamarku berantakkan begini? Aku tak mau membereskannya. Pasti membutuhkan waktu lama untuk membereskan kamarku ini.”

“kalau kita melakukannya sepenuh hati, pasti kita membereskannya  tak mengenal waktu. Waktu berlalu begitu cepat.” Ia duduk di ranjangku yang spreinya sudah kemana-mana.

“ya! ada apa denganmu, Park Chanyeol? Kenapa kau tiba-tiba menjadi dewasa begini? Hiiy, aku jadi takut.”

“Ya! aku ini serius. Aish. Ayo bereskan kamar ini cepat! Sudah jam lima lewat!”

Kami berdua membereskan satu persatu, mulai dari buku-buku ku yang berceceran dimana-mana. Dan menyusunnya di meja belajarku.

Sekarang membereskan ranjangku. “Park Chanyeol, bantu aku menarik sisi sprei di situ.” Aku menunjukkan arah sprei yang kuminta batuannya. Dia bergegas ke sisi sprei itu. kami merapikan ranjangku dan mulai meletakkan bantal, guling dan selimut tebalku.

“aduh! Aku lelah sekali!” aku menghempaskan tubuhku ke ranjang empukku.
“iya, aku juga lelah.” Chanyeol menghempaskan tubuhnya juga ke ranjangku. Sehingga ia sekarang berbaring di sampingku.

“kenapa kau ikut-ikutan berbaring denganku?” tanyaku sambil menatapnya sinis.

“memangnya tak boleh ya? ranjang ini…”

“ranjang ini milikku, Park Chanyeol. Bukan tempat umum. Berhenti mengatakan bahwa semua tempat yang kau tempati ialah tempat umum.” potongku menatapnya sinis.

Kulihat ia terduduk dari posisi berbaring disampingku. Ia menggaruk-garuk tengkuknya yang kuyakini tidak gatal. Lalu tertawa polos. Huuuh.

“mian. jadi tidak belajarnya? Atau kita istirahat dulu?”

“aigoo, sebenarnya aku ingin sekali berbaring lebih lama di ranjang. Tapi apa boleh buat. Sudah jam 17.40. ja! Kita mulai pelajarannya!”

Aku bangkit dari ranjang, Chanyeol tetap terduduk di ranjangku sambil menyilakan kakinya. Lalu aku mengambil tas punggung biruku dan duduk lagi di ranjang berhadapan. Chanyeol juga duduk di ranjang bersamaku.

“ayo kita mulai!”

 

****

 

“kau belum mengerti ini? Ini namanya adalah…” penjelasan Chanyeol yang serius mengajariku tertutupi dengan suara bocah yang amat kukenal.

“eomma, appa, aku pulang…” aku mendengar suara Baekhyun. Aku segera turun ke bawah dan menjewer telinganya.

Noona!! Appo!! Eomma! Appa! Eunji noona menjewerku!! Aduh sakit!! Noona!!!”

“rassssaaaakaaaan ini!! Byun Baekhyun nakal, sudah terang-terangan kau kubilang jangan pakai motorku! Dan apa yang kau lakukan dengan kamarku hah?”

“YA! eunji-ya! apa yang kau lakukan dengan adikmu?” Chanyeol mencoba meleraiku.

“dia sudah memberantakkan kamarku seenaknya. Panas diperlakukan seperti ini!”

“Eunji! Apa yang kau lakukan!? Lepaskan tanganmu sekarang?” kudengar suara appa yang tegas membentakku.

“kau ini, apa salahnya meminjam motormu saja padanya? Lagian ia juga berkencan dengan yeojachingunya. Kau ini pelit sekali!” aah eomma tak mengerti perasaanku!

“bukan masalah itu! ia mengacau semuanya yang ada di kamarku. Kamarku tadi sangat berantakkan! Untung saja ada temanku yang membantuku membereskan kamarku tadi sehingga waktu belajarku terpakai sebagian untuk membereskannnya. Appa! Hukum dia! Kumohon!!” aku langsung menarik Chanyeol ke kamarku kembali.

“kau ini emosian. Jangan begitu dengan adikmu. Kau tahu, ia hanya ingin mengambil perhatianmu saja. Cobalah untuk mengerti perasaannya. Dia ingin disayang denganmu. Makanya dia berulah seperti itu. contohnya, kau menawarkan bantuan untuk berkonsultasi mengenai wanita. Dia sudah punya yeojachingu kan? pasti dia mau menerima tawaranmu itu.”

Aku memperhatikan matanya yang serius dibalik kacamatanya yang berbingkai hitam. Aku kagum padanya dengan sisi dewasanya seperti ini. Entah apa yang ada dipikiranku, aku terus menatap Chanyeol. Mataku seperti menolak untuk mengedarkan padanganku kearah lain.

“aku tahu aku tampan, jangan perhatikanku terus. perhatikan apa yang kuterangkan dari tadi. Mengerti?”

Aku menghela napas, sifat menjengkelkannya muncul lagi.

Tok tok…

Suara pintu terbuka sebelum aku menjawab menyuruhnya masuk. Tiba-tiba Baekhyun masuk dan duduk disamping Chanyeol.

Hyung, kau namjachingunya noonaku ya?” ia bertanya pada Chanyeol? Lagi lagi namjachingu. Hhhh.

“bukan, memangnya ada apa?” jawabnya.

“ani. Hyung, kau suka bermain game tidak?”

Kulihat mata Chanyeol tanpak berbinar-binar. “IYA! aku sangat suka! Kau juga?”

hyung, baru kali ini ada teman noona yang kesini bisa diajak bicara tentang dunia game. Aah aku senang sekali!!”

“wah, kita mempunyai selera yang sama! Kebetulan sekali!!”

“jangan bicara tentang game di kamarku. Ya~. Byun Baekhyun. Aku masih marah padamu. Keluar.” Titahku padanya. Aku melihat tatapannya yang… eeeeeuuh yang membuatku jadi bersalah padanya.

“huh, noonaku ini setiap hari sikapnya begitu padaku hyung. Kau hati-hati saja padanya ya. baiklah aku keluar dulu.”

Blam.

“tuh kan, dia hanya butuh teman ngobrol.” Au langsung mengangguk-angguk letih karena dari tadi aku marah-marah terus. kusentuh dahiku karena stres.

“Byun Eunji, apakah kita istirahat dulu saja? Ayo kita turun ke bawah dulu. Sepertinya kau sedang dalam stres yang akut. Bisa kulihat dari wajahmu. Ckckck. Kaja.” Aku hanya menurut pada sang tutor. Karena memang benar, aku memang sedang stres.

“Hyung! Ayo kita tanding game!” Baekhyun menghampiri Chanyeol dengan mata yang berbinar-binar. Chanyeol meganggukkan kepalanya. Haish, katanya mau beristirahat, malah main game?

Mereka mulai sibuk dengan PSP mereka. Eh? PSP mereka? Chanyeol membawa PSP? Ke sekolah? Super duper keras kepala. Padahal sudah ada peraturan di sekolah tidak boleh membawa game console.

Aku pasrah. Lalu menghampiri eomma di dapur. Terlihat sibuk. Malam ini eomma masak apa ya?

“eomma, eomma masak apa?” aku memposisikan diriku disamping eomma.

“galbi. Kau suka kan? oh iya. tolong bantu eomma memotong lobak. Ini, sawi putihnya.” Eomma menyerahkan sawi putih ke tanganku. Aku mengambilnya.

“kau bisa membuat kimchi kan? bantu eomma ya. kau tidak bilang-bilang dulu pada eomma kalau kau akan membawa teman hari ini. Jadi eomma buru-buru masak seperti ini.”

“mianhaeyo.”

Aku duduk di  meja makan dan mengambil mangkuk besar untuk menaruh bumbu-bumbu yang sudah eomma letakkan. Aku mencampurnya dengan bumbu cabai merah. Kuberi air sedikit. Lalu memasukkan potongan sawi putih yang sebelumnya sudah kupotong-potong.

“wah, eomma!! Aroma galbinya tercium sampai ruang keluarga tuh. Noona!  Chanyeol hyung itu payah! Aku selalu menang. Adikmu ini hebat kan.”

“itu karena kau terlalu maniak, babo-ya. Chanyeol itu pintar. Tak sepertimu. Tak bisa menyeimbangkan antara bermain game dengan belajar.” Tuturku tanpa melihat ke arah Baekhyun. Jujur saja aku masih marah padanya.

“tumben kau memujiku, Byun Eunji.” Aku langsung menolehkan kepalaku. Aduh, memalukan!

“aku memujimu karena kau tentu saja lebih baik dari Baekhyun.”  Tuturku gugup. Ah! kau telah membuat kesalahan dua kali, Byun Eunji! Kau memujinya lagi.

“ya, memang begitulah aku.” Chanyeol bergidik ngeri saat melihat Baekhyun menatapnya tajam. Rasakan kau.

“ya, jangan menatapku seperti itu. aigoo, kau ini pendek sekali.” Chanyeol menatap Baekhyun dari ujung kaki ke ujung kepala.

“ya! hyung kau ini tega sekali padaku. Noona…”

Mwo? dia mengejek baekhyun? Eh kenapa aku marah? Aduh tapi aku kasihan dengan baekhyun.

“ya! jangan menghina adikku. Yang boleh menghinanya hanya aku saja.”

Noona juga tidak boleh menghinaku. Eommaaaa…”  dia memeluk eomma dari belakang.

“aih kau ini. galbinya sudah siap!”

“ne? galbi?? Wah!” seru Baekhyun. Dia memang menyukai galbi. Semua makanan jenis apapun dia suka. Ckck.

Aku membawa mangkuk besar berisi kimchi dan meletakkannya di dapur. “ini eomma.” Aku langsung membawa daging iga sapi yang sudah dipanggang eomma dan meletakkannya di meja makan.

Entah kapan appa muncul di meja makan. Kami langsung duduk di meja makan. Meja makan kini sudah dilengkapi dengan galbi, kimchi, apel yang sudah dipotong-potong, dan gelas bening yang berisi air putih. Masing masing didepannya sudah terdapat mangkuk berisi nasi.

Aku duduk di samping Chanyeol. Sementara baekhyun dan eomma ada di seberangku. Dan appa duduk sendiri diantara aku dan eomma. (? Mian readers bahasaku berantakkan ;3)

“ajumma, galbi buatanmu sangat lezat! Kimchinya juga! Ya~ Byun Eunji, hebat juga kau membuat kimchi.” Dia menyikut lengan kiriku. Aku mengulum sumpit alumuniumku, mencoba menghindari tatapan Chanyeol.

Entah kenapa, pujiannya tadi membuat mukaku panas. Aku langsung memakan makananku hingga habis.

 

****

“ja! Kali ini cukup sampai disini saja. Ingat-ingat semua yang kujelaskan tadi padamu. Aku tak mau mengulanginya lagi. Arasseo?”

Aku mengangguk-angguk bosan. Aku menutupi tubuhku dengan selimut tebalku. Aduh kenapa dingin sekali sih? Pemanas ruangan di kamarku berfungsi atau tidak sih?

“ya! kau tak mau mengantarku sampai keluar?”

“tidak mau. Aku kedinginan. Sana pulang.”

Kulihat kamarku hanya ada aku seorang. Park Chanyeol sudah pulang. Aku membaringkan tubuhku dan mencoba untuk tidur.

 

****

Author POV

 

Di malam yang sama, di balkon apartemennya, lelaki berumur 24 tahun itu memandangi wajah gadis cantik di selembar foto yang ia pegang. Sudah lama ia memendam perasaan ini pada yeoja itu. bisakah dia memilikinya?

Sungguh, perasaannya terhadap yeoja di foto itu tak dapat ia tahan lagi. Belum lagi kedua orang tuanya menekannya untuk segera menikah. Dapatkah yeoja di dalam foto itu menjadi istrinya? Walaupun umur mereka yang terpaut lumayan jauh, yaitu 6 tahun. Tapi ia tetap pada pilihannya. Pilihannya akan yeoja itu. tetapi, ia masih belum bisa menyusun kata-kata yang akan ia ucapkan nanti bila dia menyatakan perasaannya dan mengajak yeoja itu menikah suatu saat nanti. Ia terlalu pesimis sekarang.

Di balkon apartemennya, ia menghela napasnya berat. Berdiri di luar yang mungkin dapat membuatnya mati kedinginan. Turun butir-butir salju yang seakan-akan menyengat tubuhnya yang hanya memakai kaos tipis dan celana jeans. Ia mengangkat tangannya dan menyentuh beberapa salju yang kini ada di genggaman tangannya. Ia meresapi semua kedinginan yang menyengat di telapak tangannya.

Pedihnya sama seperti memegang salju kuat-kuat. Hatinya, perasaannya, memiliki persamaan seperti itu.

 

****

TBC

Mian ya kalo gaje bangeet. X-X please RCLnya yaaa!! Aku sangat butuh ituuu. Pliiiiiss. Yayya? #PLAK

Advertisements

103 responses to “Love Button [Part 1]

  1. nahlo, siapa tuh yang ada di balkon? hoho.

    kayaknya si chanyeol iseng ya. mwahaha. iseng2 gitu ternyata anak yang pinter. horeee! *tepuk tangan* *dikeroyok chanyeol* wkwk. dan entah kenapa aku pingin ngakak ngebayangin baekhyun yg kayaknya manja xD

    kereeen! lanjuuuut!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s