SUPER JUNIOR RADIO LOVE STORIES: SIWON THE BOSS (PART 12)

SIWON THE BOSS (PART 12)

Author: Kim Hye Ah

Cast: Choi Siwon (SUPER JUNIOR)

Stephany Hwang aka Tiffany (SNSD)

Additional Cast: Member Super Junior & SNSD

Rating: PG-17

Genre: Romance, Friendship

Disclaimer: Humans, things, and ideas here belong to God. Full crediting me, my blog, and this page if you wanna take it out.

Poster: missfishyjazz@myfishyworld.wordpress.com

PS: I apologize for typo. Please feel free to correct me.

Resensi Cerita Lalu

Siwon’s  POV

 “Tiffany, dengarkan, aku mencintaimu. Kau boleh tidak percaya. Tapi aku sungguh-sungguh mencintaimu. Mungkin terdengar klise atau mencari-cari alasan supaya kau mau menikah denganku. Tapi itulah kenyataannya. Entah hari ini atau hari lain, aku akan tetap mengajakmu menikah. Hanya sekarang situasi yang kita hadapi berbeda. Kita ada di tengah gempuran gossip yang membutuhkan klarifikasi secepatnya. Tidak ada alasan yang lebih sempurna selain mengatakan bahwa kita adalah sepasang suami istri.”

Tiffany POV

“Jika kau memberikan waktu lebih lama bagiku tidak terburu-buru seperti ini, mungkin keadaannya akan berbeda. Aku tidak bisa menikah di bawah tekanan. Mianhae Siwon-ssi. Mengatakan hal ini membuatku sedih. Tapi aku sangat menikmati kebersamaan kita. Aku akan sangat merindukanmu bila kau jauh dariku. Aku juga merasa nyaman dan terlindungi ketika dekat denganmu. Apakah itu cinta aku tidak tahu? Tapi kau tidak memberikan waktu untuk bernafas. Kau tiba-tiba mengajakku menikah. Aku takut.”

Chapter 1   |    Chapter 2   |    Chapter 3   |    Chapter 4   |    Chapter 5   |    Chapter 6A   |   

Chapter 6B |    Chapter 7   |    Chapter 8   |    Chapter 9   |    Chapter 10 |    Chapter 11   | 

SPECIAL SONG FIC FOR THIS STORY (SUPER JUNIOR: RESET)

Bunker Penyelamatan Siwon

Tiffany POV

“Siwon telah pergi Nak. Ia akan mengadakan konferensi pers malam nanti bersama member Super Junior yang lain”

Pria tua itu akhirnya membuka suara setelah keheningan sesaat dalam helikopter yang membawa mereka kembali ke Seoul.

“Ia terpaksa berbohong tentangmu nanti. Leetuk-ssi telah memberikan semacam skenario dan aku terpaksa menyetujuinya karena yah, itu menjadi yang terbaik untuk kalian berdua setelah kau menolak lamarannya.”

“Aku tahu.”

Aku tidak banyak bicara dan memalingkan pandanganku melihat langit yang semakin temaram. Appa tampak tidak puas dengan reaksiku yang begitu dingin.

“Kupikir kalian berdua saling mencintai.”

Aku terdiam. Apakah aku dan Siwon terlihat seperti saling mencintai?

“Mungkin tepatnya Siwon sangat mencintaimu. Dia namja paling baik yang pernah Appa kenal,” Appa tampak mengerti apa yang sedang aku pikirkan.

“Appa tolonglah, jangan menghakimiku. Keputusan ini sudah aku pertimbangkan dengan baik.”

Appa tampak tidak perduli dengan protesku karena ia terus berbicara.

“Apa kau tidak ingin tahu skenario yang dengan terpaksa telah kami sepakati untuk acara konderensi pers itu?”

Aku pura-pura tidak mendengar, suara baling-baling helikopter cukup memekakkan telinga.

Appa tampak tidak suka dengan reaksiku, “Apakah Appa salah mengatakan bahwa kau tampak tidak perduli. Padahal konferensi pers ini sangat penting bagi kalian berdua.”

Appa memandangku dengan dahi berkerut. Aku balas menatapnya dengan sorot putus asa. Lalu respon apa yang sebaiknya aku berikan pada Appa saat ini. Apakah aku harus tampak antusias dengan rencana konferensi pers itu, atau terlihat menyesal karena telah menolak Siwon sehingga Appa puas? Kepergian Siwon sendiri sesaat lalu telah membuat hatiku goncang. Aku ingin berteriak memanggilnya untuk kembali padaku tapi tidak bisa. Ketika aku dengan nekadnya mencium bibir namja itu tadi, ada setitik harapan bahwa Siwon akan menarikku, membujukku, bahkan memaksaku untuk menerima lamarannya. Jika perlu ia bisa menggeretku ke depan pastur sehingga aku dengan terpaksa berkata “Yes I do” untuk menikahinya. Tapi namja itu tidak melakukannya, ia menyerah begitu mudah dan egoku begitu tinggi untuk menariknya kembali.

Alih-alih aku malah membiarkannya keluar pintu, meninggalkan bunker dengan perasaan terluka. Aku ingin mengejarnya tapi aku hanya bisa diam karena terlalu banyak berfikir. Padahal aku juga tidak mengerti apa yang sedang aku pikirkan karena yang tergambar dalam otakku adalah potongan-potongan kebersamaan kami selama ini. Kemudian aku melihatnya pergi dengan sebuah mobil bersama Kangin dan Leetuk. Aku berharap ia melihatku sedetik saja ketika tiba-tiba sebuah dorongan aneh membawaku untuk mengejarnya. Aku berlari menyusulnya walau dengan kaki telanjang. Kedinginan menapaki jalanan bersalju membuat kakiku mati rasa. Aku tidak perduli, aku terus berlari tapi aku terlambat. Mobil itu telah membawa Siwon menjauh dan namja itu tidak mungkin lagi berbalik melihatku yang sudah terseok-seok mengejarnya.

“Siwon…,”

Aku hanya bisa bergumam pelan. Saat itu pita suaraku seakan membeku sehingga tidak bisa berteriak. Aku tersungkur ke dalam tumpukan salju dan menangis. Ada perasaan kehilangan yang begitu dalam ketika melihat mobil itu bergerak menjauh. Aku masih ragu dengan pernikahan yang ditawarkannya tapi aku tidak memungkiri bahwa aku tidak bisa hidup tanpanya. Siwon telah menjadi hidupku dan kini dia pergi. Konferensi pers itu nanti akan mengakhiri semua kebersamaan yang pernah terjadi antara seorang Tiffany Hwang dengan Choi Siwon. Mungkin namja itu tidak akan mengakui kebersamaan kami selama setengah tahun ini. Ia akan berpura-pura tidak mengenalku dan kedekatan yang terlihat di acara penghargaan musik itu hanyalah suatu kebetulan semata karena Suju Radio & Entertainment memiliki hubungan bisnis yang baik dengan Hwang Company.  Memikirkan bahwa aku tidak memiliki arti apa-apa baginya tiba-tiba membuat setengah jiwaku terasa hilang begitu saja. Aku tidak bisa berhenti menangis.

Seseorang mengelus punggungku. Aku menoleh.

“Appa.”

Aku menghapus air mata dengan punggung tanganku. Seperti anak kecil aku duduk dengan kedua kaki terjulur begitu saja di atas jalanan bersalju.

“Kita pulang Nak. Tanpa mantel dan sepatu, tidak baik kau berada di sini. Kau bisa jatuh sakit.”

Aku menatap wajah Appa yang sangat khawatir.

“Appa.”

Aku tidak bisa menahan diriku karena tiba-tiba aku menangis lagi di depan Appa. Appa berjongkok dan memelukku. Matanya berkaca-kaca.

“Tenanglah sayang, apapun yang terjadi. Masih ada Appa dan Omma yang akan selalu menjaga dan mencintaimu. Sekarang kita pulang. Tahukah kau, Omma tiba-tiba sembuh ketika Appa mengatakan Appa sudah menemukanmu. Omma sudah tidak sabar menunggumu. Jika kau perlu teman yang bisa kau ajak bicara, Appa akan siap mendengarkanmu kapan saja.”

Appa berusaha untuk tidak ikut campur masalahku dengan Siwon. Aku tahu dalam hatinya ia menyesal mendengar bahwa aku telah menolak lamaran namja itu. Tapi ia kini bersikap lebih hati-hati. Appa tidak mau terdengar memaksakan kehendak. Ia tidak mau menyakitiku lagi. Aku masih menangis dalam pelukannya.

“Menangislah tapi jangan di sini. Hari sudah menjelang malam dan udara di sini tidak baik untuk kita.”

Dengan ragu-ragu, aku bangkit berdiri. Seorang assisten Appa berjalan tergopoh-gopoh mendekatiku dan memberikan sepatu boot serta mantel untuk kupakai. Aku memakainya, kemudian dengan pelan aku berjalan menggandeng Appa yang tampak kesulitan berjalan di atas hamparan salju. Baling-baling helikopter dari kejauhan telah berputar dengan sangat kencangnya, menghempaskan butiran salju ke segala arah sehingga menyerupai hujan kapas. Dengan latar belakang bukit dan pohon cemara yang telah tertutup warna putih seperti lapisan awan, langit yang semakin gelap, dan meninggalkan kesan sunyi, aku dan Appa meninggalkan bunker tersebut dengan perasaan yang bercampur aduk antara sedih dan haru. Ada pertemuan, ada juga kehilangan. Kudapatkan kembali keluargaku tapi di sisi lain aku kehilangan seorang yang baru kusadari sangat berarti bagiku.

Suju Tower, Seoul

Author POV  

Kilatan blitz, flash kamera, tidak henti-hentinya berpendar di ruang Meeting Hall di dalam gedung Suju Tower. Para wartawan sudah bersiap-siap dengan tidak sabar menunggu sumber berita keluar dari kandangnya. Sejak dari kemarin, sebuah berita menggemparkan telah masuk ke ruang redaksi masing-masing menunggu dieksekusi. Tiga media saingan mereka At Star Korean, Korean Gossip dan Hit Stars, dengan sangat pongah telah mendeklarasikan diri sebagai yang terdepan mengangkat dan mengupas tuntas skandal ini. Tapi apa mau dikata, ada tangan yang tak terlihat yang telah merusak semua rencana busuk mereka ini. Chip, prototype, foto, soft file tulisan, sampai amplop yang digunakan Ho Min untuk mengirim chip itu raib begitu saja, tidak terlacak. Begitupula dengan majalah dan koran yang akan mereka kirim ke seluruh penjuru Korea tiba-tiba juga menghilang tanpa jejak. Mereka tidak menyadarinya sampai ribuan pelanggan mengeluh karena majalah dan koran mereka tidak kunjung muncul rutin seperti biasa. Tapi ketiga perusahaan itu tidak bisa berbuat apa-apa, selain meminta maaf dan mencetak ulang produksi mereka walau tanpa foto skandal antara Siwon dan Tiffany yang selama ini mereka gembar-gemborkan.

Tapi sayangnya skandal dan rumor seputar foto-foto tersebut telah terlanjur menyebar. Entah kenapa kebocoran walaupun kecil mesti selalu terjadi bahkan di bawah pengawasan yang sangat detil dari Kangin dan pengawal bayangan yang disewa Tuan Hwang. Internet yang paling  cepat mengendus skandal ini telah menggemparkan dunia maya dengan meng-upload foto-foto yang tampak seperti Tiffany dan Siwon sedang berciuman, Tiffany yang memakai baju minim di sebuah tempat hiburan, dan Siwon yang sedang bersama-sama para wanita murahan di sebuah rumah border. Tapi foto-foto tersebut hanya tampak ‘seperti mereka’ karena kualitas foto itu sendiri tidak jelas dan buram. Entah siapa yang pertama kali menyebarkan rumor bahwa objek dalam foto itu adalah Siwon dan Tiffany. Mungkin karena beberapa jam sebelumnya foto kebersamaan mereka yang mesra di ajang penghargaan musik itu telah mengejutkan banyak pihak dan menjadi top trending di berbagai jaringan sosial. Sehingga publik langsung mengaitkan foto-foto itu dengan mereka dan merespon gossip yang dihembuskan pihak-pihak yang tidak menyukai Siwon dan Tiffany. Mereka menerimanya sebagai sebuah fakta, dan membuatnya sebagai salah satu skandal terpanas tahun ini.

Dan malam ini, the most wanted guy yang telah menghilang beberapa belas jam dari kejaran awak media dan netizen akan siap untuk mengkonfrontir skandal ini. Tentu saja pers tidak akan melewatkan kesempatan ini. Setelah perburuan besar-besaran ke seluruh penjuru Korea hanya untuk mencari seorang Choi Siwon, akhirnya namja itu akan memunculkan dirinya. Setelah At Star Korean, Korean Gossip dan Hit Stars, tidak bisa membuktikan kebenaran skandal ini. Konferensi pers inilah yang akan menjadi satu-satunya informasi yang dapat mereka percayai. Tidak salah jika mereka berlomba-lomba untuk bisa mencari angle dan posisi yang tepat di tempat ini. Mereka harus mendapatkan sebanyak mungkin foto dan informasi dari bintang hallyu itu. Kehebohan yang sama juga terjadi di luar gedung, ribuan penggemar Siwon berteriak-teriak memanggil nama Choi Siwon dan mengacungkan poster bergambar namja itu sebagai bentuk dukungan. Mereka percaya bahwa gossip itu tidak benar. Siwon masih sesuci yang mereka pikirkan.

Semua kesibukan itu bukan tidak terekam dalam pandangan mata Siwon. Tapi pikirannya tidak di tempat ini. Ia hanya terfokus pada sosok Tiffany yang telah dalam mengisi relung hatinya. Yeoja yang tidak akan pernah akan ia miliki. Ada rasa nyeri di hatinya, teriris-iris dan berdarah. Seperti itulah perasaannya kini. Ia tidak menyangka rasa cintanya begitu besar karena kehilangan Tiffany membuatnya seperti kehilangan separuh jiwa. Sebagai manusia ia merasa dirinya tidak utuh lagi.

“Siwon.”

Leetuk menghampiri sambil membereskan jasnya. Siwon yang tengah termenung di ujung koridor ruang tunggu berbalik.

“Ada apa Hyung.”

“Kau sudah siap?”

“Siap atau tidak siap, aku harus menjalani ini bukan?”

Siwon menatap Leetuk pasrah. Member Super Junior yang lain tiba-tiba sudah mengelilinginya. Henry dan Zhoumi yang sedang sibuk rekaman di China pun hadir. Dengan penerbangan yang dicarter khusus mereka segera pulang ke Korea dengan terburu-buru. Mereka ingin ada untuk Siwon pada masa-masa sulit ini.

“Aku akan terus mendukung Hyung. Walaupun mereka menjelak-jelekanmu. Tapi aku akan membelamu. Jika perlu akan kulawan mereka berkelahi satu persatu.”

Ryeewok yang selalu bersikap lembut bahkan mengacungkan tinjunya dengan emosi. Siwon tersenyum kaku.

“Siwon tidak bersalah sama sekali. Tapi dengan seenaknya mereka menghakiminya seperti seorang penjahat. Tapi aku percaya kebenaran akan selalu menang. Tuhan selalu mendampingi kita,” Heechul berseru dan membuat hati Siwon terharu. Setelah sekian lama membujuk Heechul untuk lebih relijius, namja itu akhirnya mengatakan Tuhan sebagai tempat bersandar. Air matanya sedikit menitik.

“Kita akan tetap bersama-sama Siwon, for better or worse we will be together!”

Eunhyuk tiba-tiba memeluknya. Ia bisa merasakan sakit yang diderita Siwon. Ia akan memberikan apapun jika itu bisa membuat Siwon kembali bahagia. Spontan Yesung, Donghae, Ryeewok, dan Sungmin,  ikut memeluknya. Mereka menangis untuk Siwon atas ketidakadilan yang didapatkannya.

Kibum dan Hanggeng berdiri di kejauhan. Mereka adalah tipikal namja yang sulit mengungkapkan perasaaan. Tapi tanpa sadar air mata mereka menetes. Mereka telah mendengar semua kejadian yang terjadi dari Leetuk termasuk kegagalan rencana Siwon untuk menikahi Tiffany. Masalah yang begitu berat harus ditanggung namja itu sendirian. Lantas kemana Tiffany? Kenapa ia pergi begitu saja? Seharusnya pada saat genting seperti ini mereka bersama-sama, saling mendukung dan menguatkan bukan terpisah seperti ini. Tapi Tiffany malah meninggalkan namja itu dan hati Siwon pasti sangat terluka.

“Siwon, konferensi ini sangat berat karena yah kau harus mengikuti skenario itu dan terpaksa berbohong untuk berbagai hal. Walaupun kami tahu bahwa kau tidak bersalah sama sekali tapi berkata jujur di depan pers akan membuka aib yang lebih besar lagi. Keluarga Hwang mau tidak mau akan terlibat jika kau mengatakan apa adanya. Apakah kau sanggup?”

Siwon mengangguk, “Aku harus melindungi Tiffany. Aku akan menerima skenario itu.”

Beberapa member Suju tersenyum masam. Setelah apa yang dilakukan Tiffany pada sahabatnya, Siwon masih dengan terang-terangan membela yeoja itu.

“Kau masih punya kesempatan untuk mundur. Skenario yang sudah disetujui Tuan Hwang itu mungkin cukup berat bagimu.”

“Tidak masalah Hyung, lakukan saja. Toh aku sudah terbiasa hidup dengan settingan dan naskah drama. Aku akan menganggapnya sedang berakting dalam situasi yang sangat nyata.”

Leetuk mengangguk-angguk. Hatinya ikut tegang. Sebagai leader Super Junior ia akan memandu acara konferensi pers nanti. Wartawan yang datang sudah diseleksinya dan ia tidak memperkenankan adanya sesi tanya jawab secara terbuka. Pertanyaan mereka harus sudah dikumpulkan sebelum acara dan telah diseleksinya mana yang nanti akan langsung ditanyakan pada Siwon. Nanti ia akan menunjuk siapa saja wartawan yang diijinkan bertanya. Semua batasan ini ia lakukan untuk melindungi perasaan Siwon yang sedang rapuh.

Kangin tiba-tiba datang dengan berlari-lari dengan handphone di tempelkan di telinganya,”Siwon, yeoja chingumu sudah datang. Waktumu hanya 10 menit lagi. Berinteraksilah dengan baik dan tunjukanlah chemistry kalian. Aku percaya padamu kau pasti bisa.”

Siwon tersenyum pendek. Ia membereskan jas dan dasinya,”Gomawo Hyung, aku akan menemuinya. Aku rasa tidak masalah jika kita memberikan sedikit kejutan untuk para wartawan itu.”

Kediaman Tiffany

Author POV

Di lain tempat, masih di seputaran kota Seoul. Di sebuah rumah megah terlihat gerombolan pers yang sedari kemarin menunggu dengan tidak sabar kemunculan pewaris Hwang Company yang namanya kini menjadi buah bibir di mana-mana. Mereka bergerombol seperti kawanan nyamuk di depan rumah yang terkunci rapat itu. Tidak ada seorangpun yang mau menerima mereka. Hanya beberapa penjaga dan pelayan yang hilir mudik di dekat pagar. Mereka juga tidak bisa ditanyai macam-macam karena jawabannya selalu klise,”Mianhae saya tidak tahu.”

Mereka sudah sangat lelah menunggu. Jika disuruh memilih mereka lebih baik mengikuti konferensi pers Choi Siwon daripada harus berdiri di luar kedinginan diterpa salju dan angin malam yang menusuk tulang. Semoga malam ini mereka sudah bisa pulang dengan membawa berita.

Sebuah lampu mobil tiba-tiba mengejutkan kerumunan wartawan itu. Porsche merah dengan pelan mendekati gerbang rumah kediaman Tuan Hwang. Serentak pers yang tadi berpencar bergerombol kembali mendekati mobil itu. Kilatan blitz kamera menerangi jalan depan rumah besar itu. Dengan tergopoh-gopoh seorang pelayan memencet tombol otomatis untuk membukakan pintu gerbang. Petugas keamanan berjaga-jaga supaya tidak ada orang selain penghuni rumah bisa menerobos masuk. Dengan anarkis wartawan menggedor-gedor mobil yang sudah mulai berjalan menuju garasi. Beberapa petugas keamanan sampai harus beradu mulut dengan orang-orang itu karena mereka memaksa meringsuk masuk pintu gerbang.

Tiffany yang ada di dalam mobil begitu ketakutan. Bahkan di rumahnya sendiri ia merasa tidak aman. Appa memeluknya.

“Tenanglah Fanny, Appa akan membereskan mereka.”

“Tolong jangan dengan kekerasan, Appa bisa masuk penjara.”

Appa terkekeh,”Gomawo telah begitu mengkhawatirkan Appa. Mana bisa Appa dengan tubuh serenta ini melawan mereka. Appa tidak kuat tapi Appa masih punya ini.”

Appa menunjuk kepalanya.

Tiffany tersenyum. Mobil akhirnya masuk ke garasi dengan aman dan pintu pagar telah tertutup dengan sempurna.

“Sekarang keluarlah. Temui Omma di dalam. Biar Appa yang mengurus keributan kecil ini.”

“Tapi Appa, aku khawatir.”

“Kau harus percaya pada Appa, sekarang kau masuk sana. Omma sudah tidak sabar menunggumu.”

Tiffany keluar mobil dengan enggan, diikuti Appa yang berjalan pelan menuju pintu gerbang dan memberikan tanda pada petugas keamanan untuk membukanya. Entah apa yang terjadi karena Appa tampak berbicara serius dengan puluhan pekerja media itu di luar.

“Tiffany!”

Sebuah suara yang teramat dirindukannya tiba-tiba terdengar dari atas tangga. Ia sudah ada di ruang keluarga, tempat yang paling disukainya. Tiffany mendongak, ia melihat Omma yang berjalan dengan tertatih sambil menuruni tangga. Sama seperti Appa, Tiffany begitu terkejut melihat Omma yang tidak sesehat dulu. Omma tampak seperti orang sakit, wajahnya pucat dan rambutnya sudah mulai banyak yang memutih. Dengan spontan Tiffany memeluk Omma.

“Omma.”

“Oh, anakku. Tiffany. Terima kasih Tuhan kau telah membawa anakku kembali.”

Omma tampak terguncang, ia menangis tersedu-sedu begitu juga Tiffany. Yeoja yang terlahir dari rahimnya akhirnya pulang. Setelah selama  setengah tahun memendam rindu yang amat sangat, ia akhirnya bisa memeluk anaknya yang hilang.

“Omma sangat merindukanmu Tiffany. Jangan tinggalkan kami lagi. Omma begitu tersiksa ketika kau tidak ada. Setiap hari Omma dihantui rasa was-was takut terjadi hal-hal yang buruk menimpamu.”

“Aku akhirnya pulang juga kan Omma. Aku sangat merindukanmu. Aku sangat khawatir karena Appa mengatakan Omma sakit.”

Omma mengangguk mengusap air matanya yang jatuh.

“Omma begitu sedih karena kehilanganmu. Omma juga begitu marah pada Appa yang dengan tega mengusir anak kandungnya sendiri. Apalah arti hidup Omma jika anak yang telah Omma lahirkan dan rawat dengan segenap kasih sayang Omma tiba-tiba raib begitu saja.”

“Itu masa lalu Omma, sekarang aku pulang dan aku tidak akan meninggalkan Omma lagi,” Tiffany tersenyum ceria tepatnya berpura-pura ceria karena sudah jelas hatinya sedang tidak bahagia.

“Sungguh?,” Omma menatap Tiffany menuntut kesungguhan.

“Tentu saja Omma. Setiap malam aku menangis mengingat Omma. Aku selalu terkenang ketika aku akan tidur Omma akan selalu menyelimutiku, menciumku dan mengucapkan selamat malam. Di luar sana tidak ada yang melakukannya sehingga aku menjadi sulit tidur,” Tiffany mencoba mencairkan suasana,”Tapi semuanya baik-baik saja Omma, tidak usah khawatir.”

Mereka kini sudah duduk di sebuah sofa. Tangan Tiffany memegang erat Omma yang tampak lemah. Keceriaan Omma sudah tidak tampak. Lagi-lagi waktu telah mengubah semuanya.

“Omma telah mendengar semuanya dari Appa. Wartawan-wartawan itu juga tidak berhenti menggangu ketentraman rumah ini sejak kemarin. Kau tahu apa yang ingin Omma lakukan? Rasanya Omma ingin memukul Appa-mu dengan sepatu Omma yang paling runcing. Jika kau tidak diusirnya, kau pasti tidak akan semenderita itu. Omma juga ingin melempar wartawan-wartawan itu dengan pecahan telor busuk karena tega menjelek-jelekan dirimu. Oh, maafkan Omma karena tidak bisa membelamu.”

“Sudahlah Omma, aku sudah berbaikan dengan Appa. Omma percaya tidak bahkan Appa sudah meminta maaf padaku?”

“Sudah seharusnya Appa-mu melakukannya. Ia harus bertanggungjawab atas semua penderitaan hidupmu.”

Omma tampak emosi. Ia meluapkan rasa marahnya pada Appa.

“Sudahlah Omma, aku sudah pulang apalagi yang harus diributkan. Jangan sampai keluarga kita terpecah lagi hanya karena ini.”

Omma menunduk,”Betapa Omma kecewa dengan kekerasan hati Appa-mu Tiffany. Jika perlu saat itu juga Omma ingin menyusulmu. Biarlah kita menjadi gelandangan bersama, itu tidak masalah asalkan Omma terus bersamamu. Tapi Omma adalah seorang istri yang harus setia mendampingi Appa sebesar apapun Omma membenci keputusannya.”

Wanita tua itu menatap Tiffany, “Tapi untunglah kau bertemu Siwon. Appa telah menceritakan bagaimana Siwon menjagamu dengan baik.”

Yeoja itu tercekat dengan pernyataan Omma. Sesaat ia melupakan Siwon tapi mendengarnya membuat ia kembali mengingat sosok namja itu. Hatinya tiba-tiba perih.

Omma rupanya melihat perubahan reaksi Tiffany. Ia memeluk Tiffany erat.

“Apapun yang menjadi keputusanmu, Omma akan selalu mendukungmu. Tidak masalah kau akan menikah kapan dan dengan siapa, yang pasti Omma selalu ingin melihatmu bahagia. Jika menikah tidak membahagiakanmu, Omma juga tidak memaksamu untuk menikah. Cinta memang tidak bisa dipaksakan Tiffany. Mungkin jaman sekarang sudah berbeda jauh dengan jaman dulu dimana Omma dan Appa dijodohkan dan rasa cinta itu tumbuh dengan sendirinya setelah menikah.”

Mendengar kata menikah membuatnya lagi-lagi teringat Siwon. Apakah benar Siwon akan membahagiakan dan melindunginya seperti janjinya jika mereka menikah? Tiffany menghela nafas, tapi pertanyaan terpenting adalah setelah ia menolak mentah-mentah lamaran Siwon, apakah tawaran itu masih berlaku untuknya? Apakah Siwon masih ingin menikahinya?

Omma menatap Tiffany penuh arti, ia tahu apa yang dipikirkan anaknya. Hanya dia, bahkan Appa saja tidak bisa, yang bisa dengan mudah menebak suasana hati dan perasaan Tiffany.

“Seiring berjalannya waktu, masalahmu akan selesai dengan sendirinya. Kau pun nanti akan mampu membuat keputusan yang tepat jika hatimu sudah sangat jernih. Jangan paksakan berpikir terlalu berat di saat sekarang karena apapun keputusan yang kau buat hanya akan berlandaskan emosi dan pikiran pendek semata.”

Omma berdiri dan menarik tangan Tiffany,”Sekarang makanlah, Omma sudah menyiapkan semua makanan favoritmu di ruang makan . Kau boleh memakan habis semuanya karena itu memang spesial untukmu. Omma tidak akan mengijinkan Oppa-mu memakannya walaupun disitu ada samteyang kesukaannya.”

Tiffany tersenyum mendengar Omma yang masih tampak kesal pada Appa. Omma pandai membuat hatinya senang. Ia memang lapar.

“Baiklah Omma,” Tiffany berdiri mendekati tempat makan,”Omma, tahukah apa yang dilakukan Appa bersama para wartawan itu? Sudah selama ini Appa belum masuk ke rumah. Udara di luar begitu dingin.”

“Apakah Appa tidak mengatakan sesuatu padamu?”

Tiffany menggelang.

“Appa sedang mengurusi liburan mereka ke Hawaii gratis dan semua fasilitas mewah yang akan mereka dapatkan.”

“Maksud Omma?”

“Kau seperti tidak tahu Appa saja. Apapun ia lakukan untuk bisa membersihkan nama baik anaknya termasuk diantaranya memberikan servis luar biasa bagi para wartawan yang ingin meliput tentang dirimu.”

“Dengan mengajak mereka ke Hawai? Bukankah itu terlalu berlebihan?”

“Omma sebetulnya tidak rela, uang kita dihambur-hamburkan hanya untuk melayani orang yang jelas-jelas ingin menjatuhkan dirimu. Tapi mungkin itu cara terbaik untuk membuat publik cepat melupakan skandalmu. Appa tampaknya punya banyak rencana untuk membuatmu bisa melenggang bebas di Seoul dengan aman. Jika memang harus mengeluarkan banyak uang, apa boleh buat, yang penting kau tidak menderita. Cukup sudah pengalaman burukmu selama kau diusir Appa.”

Omma masih belum bisa melupakan rasa kesalnya terhadap Appa. Ia mencintainya tapi juga membencinya di saat bersamaan. Untunglah Tiffany kembali, rasa benci itu akhirnya pudar dengan sendirinya. Kini Tiffany telah berada di ruang makan mewah bergaya renaissance. Ia mencicipi aneka makanan lezat yang terhidang di atas meja. Omma memang koki yang handal. Ia mampu memasak sebanyak ini dengan cita rasa yang teramat lezat. Tapi mendengar semua pengorbanan Appa untuk bisa membersihkan imejnya membuat ia merasa bersalah. Appa telah begitu besar menolongnya bebas dari jeratan skandal ini. Selera makannya sedikit hilang walaupun ia berpura-pura antusias.

“Appa juga telah membuat liputan khusus untukmu,” ujar Omma sumringah melihat Tiffany yang tampak menikmati makanannya.

“Maksud Omma?”

“Kau tidak melihatnya? Liputan itu tayang hampir di semua TV nasional sore tadi.”

Tiffany hampir tersedak, “Tentang apa? Tentangku?”

“Beberapa channel entertainment mewawancari orang-orang yang mengenalmu. Termasuk pemilik sirkus dan anak-anak di Rumah Singgah itu. Mereka mendukungmu Fany, mereka sangat menyayangimu dan berdoa untuk kebaikanmu.”

“Begitukah? Aku merindukan mereka. Sayang sekali aku tidak bisa melihatnya.”

“Kau akan melihatnya sendiri. Tadi pekerja TV telah mengirimkan videonya kepada Omma. Kau bisa melihatnya kapanpun. Sungguh kebetulan yang menyenangkan, orang-orang yang diwawancarai itu selalu memuji dan mengatakan hal-hal yang baik tentangmu.,” Omma menjelaskan.

“Kadang aku tidak mengerti jalan pikiran Appa. Rencana Appa sungguh sulit untuk ditebak. Ia melakukannya untuk menciptakan kesan baik tentang diriku. Idenya sungguh luar biasa walaupun aku jadi malu karena aku tidak sebaik yang mereka katakan, Omma.”

“Sudahlah, kau tidak usah mengerti dengan apa yang Appa lakukan. Kau tahu sendiri kan Appa bagaimana? Ia punya cara sendiri untuk menyelesaikan masalah. Dengan Appa, kau hanya harus menerima semua yang dilakukannya. Tidak usah banyak tanya karena kau sendiri akan bingung dengan cara berpikirnya. Omma juga heran kenapa Omma bisa begitu lama bertahan dengan Appa mu itu. Pria tua yang aneh dan keras kepala.”

Yeoja itu tersenyum menggoda pada Omma,”Sudah jelaslah Omma, karena Omma mencintai Appa. Tidak ada alasan lagi.”

Omma termenung,”Padahal kami berasal dari lingkungan dan latar belakang berbeda. Sifat dan karakter kami juga bertentangan. Rasanya tidak mungkin kami bisa menikah dan bertahan selama ini. Teman-teman Omma sampai bertaruh bahwa beberapa hari setelah menikah pasti kami akan bercerai. Tapi ternyata tidak. Malah kami berhasil memiliki anak cantik dan pintar sepertimu.”

Tiffany bergetar mendengar pernyataan Omma. Lagi-lagi ia teringat Siwon. Ia menolak lamaran Siwon karena perbedaan mereka dan ketidaksiapan Tiffany menerima namja itu apa adanya. Kata-kata Omma seperti menyengat hatinya. Sebegitu egoiskah ia terhadap Siwon, menolak lamarannya hanya karena perbedaan yang sebetulnya bisa diselesaikan seiring waktu. Aish, kenapa hatinya menjadi tidak keruan lagi. Di sepanjang perjalanan, ia sudah memantapkan diri bahwa keputusannya benar, tapi sekarang perasaannya goyah. Ia tidak tahu mana keputusan yang benar dan tidak. Andaikata keputusannya menolak lamaran Siwon itu salah tapi sayangnya semua sudah terlambat. Kepalanya tiba-tiba pusing.

“Omma, aku ingin beristirahat, setelah semua kejadian itu rasanya aku ingin tidur.”

“Kau sakit Nak, kau butuh obat?,” Omma memandang Tiffany dengan khawatir.

“Tidak usah Omma. Aku hanya butuh istirahat.”

“Kau ingin Omma temani?”

Tiffany menggelang,”Tidak apa-apa Omma. Aku bisa sendiri.”

Tiffany berbalik menuju kamarnya yang sudah hampir setengah tahun tidak tersentuh. Ia ingin melepaskan kegalauannya. Mungkin tidur adalah cara terbaik untuk melupakan sejenak masalah karena besok ia harus siap menyambut kehidupan baru bersama keluarganya. Walaupun tanpa Siwon di sampingnya kini, ia harus tegar. Namja itu hanya masa lalu dan ia harus hidup untuk masa kini dan masa depan.

Suju Tower

Siwon POV

Jika kau pernah merasakan berjalan tapi seperti melayang, berbicara tapi tak mengerti secuil katapun yang kau ucapkan, mendengar tapi seperti masuk telinga kiri keluar telinga kanan, dan melihat tapi tidak mampu menangkap satu obyekpun, maka itulah yang sekarang kurasakan. Semuanya terasa hampa tetapi juga berat. Aku seperti orang linglung yang tidak tahu harus berbuat apa. Untunglah member Super Junior selalu berada di sisiku. Mereka tidak melepaskanku semudah Tiffany yang begitu ringan mecerabutku dari kehidupannya. Aku kini duduk berlima belas dengan member Super Junior yang lain dengan posisi menghadap wartawan dan ratusan kamera di mana-mana. Donghae  dan Eunhyuk  yang ada di samping kanan kiriku menepuk-nepuk bahuku mencoba memberi kekuatan. Yesung  dan Sungmin terus menoleh ke arahku dengan tegang. Member Super Junior yang lain tampak bercakap-cakap dengan Leetuk dan Kangin dengan serius. Leetuk tampak memberikan pengarahan bagi mereka. Semua pemandangan itu tampak berjalan lambat seperti gerakan slow motion dalam pikiranku. Jika kamera menyorotku secara konsisten, akan terlihat diriku yang terus menerus menutup mata karena tertekan baik secara psikis dan mental. Aku harus bersiap dengan semua kebohongan ini dan aku akan hidup dalam skenario ini selamanya.

Leetuk telah memberikan aba-aba kepada wartawan, kameramen dan fotografer untuk tenang dan bersiap-siap untuk memulai acara. Aku sudah tidak bisa dikatakan lagi begitu tegang karena hatiku seperti mati rasa.

“Annyeong haseyo, rekan-rekan media yang telah hadir dalam acara jumpa pers kali ini. Kami atas nama Super Junior dan Suju Radio and Entertainment mengucapkan terima kasih atas kedatangan anda di acara ini. Seperti yang telah diinformasikan sebelumnya, sahabat kami Choi Siwon akan menjawab semua pertanyaan anda yang sudah dikirimkan ke kami. Karena waktu terbatas hanya 15 menit maka tidak semua pertanyaan dapat kami ajukan. Tapi sebelumnya ijinkan saya untuk memberikan pernyataan singkat. Tolong catat dalam berita besok bahwa apa yang dituduhkan orang tentang hubungan Siwon dan Tiffany itu sama sekali tidak benar,”

Leetuk menghela nafas dan menatapku.

“Mereka tidak memiliki hubungan apa-apa dan foto-foto yang tersebar di masyarakat sekarang bukanlah foto mereka berdua. Kami prihatin dengan rumor yang menyebutkan seolah-olah sahabat kami Siwon-ssi yang ada di foto tersebut. Hal itu tentu sangat menyakitkan baginya karena Siwon-ah yang kami kenal selalu bersikap dan berpikir positif. Ia sangat prihatin dengan tuduhan media kepadanya, padahal selama ini ia selalu bersikap terbuka dengan media. Ia adalah namja dengan kepribadian paling hangat bahkan kepada orang-orang yang selalu mencari celah keburukannya. Sekali lagi saya nyatakan bahwa orang yang ada di foto itu bukan Siwon kami.”

Suatu kata-kata pembuka yang sangat diplomatis dari Leetuk. Orang bahkan tidak tahu bahwa dirinya sangat tegang. Terdengar suara riuh dari luar gedung. Rupanya Leetuk memasang big screen di halaman Suju Tower supaya penggemar Siwon dan masyarakat dapat melihat langsung momen ini.

“Baiklah sesi tanya jawab akan segera dimulai. Saya sudah mengumpulkan beberapa pertanyaan anda, umumnya pertanyaan yang diajukan sama. Jadi tolong konsisten dengan pertanyaan yang telah anda berikan pada kami karena jika tidak sesuai kami punya hak untuk tidak menjawabnya. Siwon-ah apakah kau ingin menyapa para teman media kita terlebih dahulu?”

Aku berdiri kemudian membungkuk,”Annyeong haseyo. Saya Choi Siwon siap untuk memberikan klarifikasi mengenai isu ini.”

Aku tersenyum kaku.

Semua wartawan mengacungkan tangannya. Untung Leetuk sudah terbiasa memandu acara seperti ini. Ia menunjuk beberapa orang wartawan yang boleh mengajukan pertanyaan langsung padaku. Member Super Junior menatap kawanan awak media itu dengan khawatir. Mereka takut aku tidak siap dengan serangan yang akan kuhadapi.

“Baiklah Siwon-ssi. Apakah benar kau bukan namja yang ada di foto ini?,” tanya seorang wartawan memulai menginterogasiku sambil memperlihatkan sebuah foto kepadaku.

Aku menggelang walaupun dalam hatiku sedikit yakin. Entahlah aku sendiri tidak tahu kebenarannya seperti apa. Siapa yang dapat mengingat momen menakutkan itu jika yang ada dalam pikiranku saat itu adalah antara bertahan hidup atau mati. Foto itu kemungkinan diambil pada saat pertarunganku dengan kawanan germo di dekat hutan pinus dua bulan lalu.

“Itu bukan aku. Aku tidak merasa pernah mengunjungi tempat itu?”

“Apakah kau mengenali yeoja yang ada di foto itu?”

“Aku tidak mengenalnya.”

Rasa sakit dalam hatiku muncul, tentu saja aku mengenalnya.

“Kalau begitu kenapa media bisa menuduh bahwa kedua orang yang ada dalam foto tersebut adalah dirimu dan Tiffany Hwang?”

“Entahlah karena aku pun tidak melihat sedikitpun kemiripan dengan namja yang ada di foto ini. Kenapa harus bertanya padaku, kenapa tidak bertanya pada dirimu sendiri. Kaulah awak media, bukan aku. Kau yang lebih tahu alasannya.”

‘Pertanyaan bodoh,’ rutukku. Wartawan itu terdiam sesaat tidak menyangka aku akan menjawab setelak itu.

Leetuk menengahi, “Memang foto ini terlihat begitu kabur dan tidak jelas, seperti foto hasil repro dari sumber yang tidak professional. Bisa jadi ini hanya hasil editing belaka. Tapi untuk lebih jelasnya, kami telah menanyai pakar fotografi Korea Prof. Lee Wie Oh. Tentunya kami tidak boleh memberikan statemen tanpa dasar dan ternyata menurut beliau foto ini layak tidak dipercaya.”

Lagi-lagi terdengar suara riuh dari dalam dan luar gedung.

“Para rekan media bisa langsung menghubungi Prof. Lee Wie Oh untuk melakukan konfirmasi apakah kami berbohong atau tidak. Baiklah pertanyaan selanjutnya?”

Seorang wartawan yang sudah ditunjuk Leetuk berdiri.

“Siwon-ssi, apakah hubunganmu dengan Tiffany Hwang? Kalian terlihat berpasangan dalam acara penghargaan musik di Pacific Building beberapa hari lalu dan dalam foto itu kalian terlihat begitu mirip yah walaupun foto itu sangat terlihat kabur.”

Aku mencoba patuh terhadap skenario itu,“Itu hanya gossip murahan. Kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Ia adalah salah satu Direktur dari Hwang Company. Perusahaanku dan Hwang Company menjalin hubungan bisnis yang baik.”

“Tetapi kenapa kau bersamanya? Apakah kau mengajaknya?”

“Tentu saja tidak, kami hanya tidak sengaja bertemu.”

Hatiku tercekat dengan semua kebohongan yang terpaksa aku katakan.

“Kau yakin tidak memiliki hubungan serius dengannya. Kebersamaan kalian terlihat begitu alami.”

“Hubungan kami hanya sebagai relasi bisnis tidak lebih.”

“Lalu bagaimana perasaanmu padanya?”

Aku tahu wartawan gossip itu sedang mencoba menodongku dari segala arah sehingga membuatku dengan terpaksa berkata jujur. Tapi aku tetep bertahan. Dengan miris aku menjawab.

“Jika kami tidak dekat bagaimana mungkin kami saling mencintai.”

Leetuk yang berfungsi debagai moderator dalam konferensi pers memotong,”Mianhae memotong karena pertanyaan tersebut sudah di luar konteks yang kita sepakati. Selanjutnya dari Korea Cosmomen, silahkan dengan pertanyaan anda.”

Seorang wartawan berdiri menghadapku, “Lalu benarkah gossip yang mengatakan kalian tinggal serumah?”

Aku tersenyum mencoba menikmati aktingku.

“Tentu saja itu salah. Itu gossip murahan yang sengaja disebarkan untuk menjatuhkanku.”

Aku melanjutkan, “Aku tidak pernah mengajak sembarang yeoja ke apartemenku. Aku juga tidak suka mencampur aduk urusan bisnis dengan urusan pribadi. Tiffany Hwang adalah murni urusan bisnis. Kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Apakah itu cukup jelas?”

Wartawan itu cukup patuh dengan persyaratan yang diajukan. Ia duduk setelah aku selesai menjawab.

Leetuk kemudian memberikan kesempatan kepada wartawan yang lain.

“Ada yang mengatakan Tuan Hwang telah mengusir Tiffany dan anda lah yang menampungnya untuk tinggal bersama anda? Benarkah?”

“Aku tidak berhak mencampuri urusan internal keluarga Tuan Hwang tapi yang pasti aku sedang tidak menampung siapapun di rumahku,” jawabku walaupun hatiku ragu mengatakan itu. Ah Tiffany, sedang apakah kau saat ini. Apakah kau sedang menontonku di depan televisi? Tolong lihatlah aku, aku menderita.

“Beberapa orang melihat Tiffany ada di sekitar apartemen anda dan Suju Tower selama beberapa bulan terakhir ini, apakah dalam rangka menemuimu?”

“Tanyalah langsung pada pihak yang bersangkutan. Saya tidak tahu. Jika ia ada Suju Tower kemungkinan besar mungkin ia ada urusan bisnis dengan member Suju yang lain dan itu sangatlah wajar. Hwang Company adalah perusahaan yang sangat besar.”

“Bahkan ada yang melihat kalian berjalan berduaan di sekitar apartemen anda.”

Aku mendesah pertanyaan ini begitu mendesakku. Aku sudah tidak kuat menahan kebohongan ini lebih lama. Tentu saja akan selalu ada orang yang melihat kebersamaan kami.

“Mungkin itu hanya orang yang menyerupaiku dan Tiffany-ssi. Karena aku merasa tidak pernah melakukannya. Aku tidak pernah merasa berjalan berduaan dengannya kecuali pada saat acara di Pacific Building itu..”

“Cukup cukup, pertanyaan selanjutnya saya berikan kepada wartawan dari Korean Tribune, silahkan.”

Leetuk melihatku yang mulai terdesak. Susah sekali berbohong jika pada kenyataannya apa yang dituduhkan wartawan itu benar adanya.

“Anda nampak sangat akrab dengan Tiffany di malam penghargaan musik itu. Apakah itu suatu kebetulan atau kebersamaan yang telah lama.”

Seseorang kemudian bertanya dengan misi serupa. Ingin mengulitiku hidup-hidup!

“Sudah aku katakan itu hanyalah suatu kebetulan. Aku mohon untuk tidak memperpanjang masalah ini karena aku menghargai hubungan bisnis kami dengan keluarga Hwang. Isu yang tidak sedap ini tentunya akan mengganggu kerja sama dan hubungan baik kami.

“Lalu apakah benar anda adalah penikmat tempat prostitusi?”

Amarahku menggelegak. Tuduhan tanpa tedeng aling seperti menampar kesadaranku. Aku berdiri.

“Tentu saja tidak. Aku bukan seperti yang dituduhkan anda. Aku tahu resiko sebagai seorang public figure. Bagaimana mungkin aku merendahkan diriku dan menjatuhkan nama baikku dengan melakukannya. Saya mohon untuk menghentikan pemberitaan buruk ini karena berita ini sangat menyakitkan bagi keluargaku dan member Suju yang lain. Aku ingin meminta maaf pada keluargaku yang tentunya sangat terkejut dengan pemberitaan mengenaiku yang begitu buruk. Begitu juga kepada member Super Junior yang lain. Secara pribadi, aku juga merasa diperlakukan tidak adil karena dituduh dengan pemberitaan negatif padahal aku tidak melakukannya.”

“Beberapa melihat anda di suatu tempat pelacuran di daerah Cheonggyecheon. Benarkah itu?”

Aku ingin berteriak, tentu saja bodoh! Tapi bukan untuk bersenang-senang seperti yang kau kira. Aku sedang menyelamatkan Tiffany saat itu.

“Jika harus pergi ke tempat pelacuran kenapa harus ke tempat murahan seperti itu? Aku tidak pernah ke sana. Aku bukan penjahat kelamin seperti yang kalian kira!,” aku sedikit berteriak, kesabaranku ini ada batasnya.

Eunhyuk ikut berdiri memegang sedikit lenganku supaya aku duduk. Ia menepuk-nepuk bahuku pelan sambil berbisik.

“Kau jangan terbawa emosi Siwon, mereka memang sedang membawamu ke permainannya. Jangan terpancing ini hanya sebuah permainan dan kau harus menang.”

Aku begitu lelah dengan orang-orang yang terus memojokkanku.

Leetuk menengahi perdebatan yang tidak seimbang ini karena melihatku sudah semakin terdesak.

“Saya klarifikasi kembali. Berulang-ulang Siwon-ah mengatakan ia tidak pernah ke sana. Jadi tolong jangan lagi membawa pertanyaan ke arah sana karena jawabannya tetap sama. Baiklah pertanyaan selanjutnya dari Korean Herald”

Seseorang berdiri,”Aku hanya ingin bertanya bagaimana pendapat member Super Junior tentang kasus ini, apakah kalian ikut terganggu?”

Semua member Super Junior menatapku. Mereka tampak ingin mengatakan sesuatu pada orang-orang itu. Tapi karena waktu yang terbatas, Leetuklah hanya bisa  menunjuk dua orang di antara sekian member yang ada.

“Kuberikan kesempatan kepada para magnae terlebih dahulu. Kyuhyun-ah berdirilah dan jawablah pertanyaan tersebut.”

Kyuhyun berdiri dengan yakin, ia adalah namja yang percaya diri tapi bukan untuk berbicara di depan orang banyak dan menghadapi wartawan ganas seperti ini.

Ia mengambil mic-nya.

“Aku bukan orang yang dengan terbuka mengatakan perasaanku. Aku telah mengalami banyak hal baik suka dan duka bersama Siwon Hyung. Aku mengenalinya seperti aku mengenal keluargaku sendiri. Ia adalah namja paling baik yang pernah kutemui. Selalu bersikap sopan dan ramah terhadap siapapun. Ia bahkan tidak pernah marah walau aku menjahilinya dengan berlebihan. Ia adalah Hyung yang terbaik. Ketika skandal ini muncul, aku tidak percaya karena aku tahu kebenarannya seperti apa. Mereka hanya bisa menuduh dari luar tanpa melihat apa yang terjadi di dalam. Aku telah mengetahui begitu banyak bagaimana Siwon Hyung rela berkorban untuk siapapun. Aku tahu gossip ini begitu menyakitinya. Ini begitu jahat. ” Kyuhyun bicara dengan berapi-api, semua wartawan terdiam, mereka terkejut Kyuhyun bisa bicara sepanjang ini.

“Lalu jika aku ditanya apakah aku terganggu? Aku tidak bisa pura-pura tidak terganggu. Tentu saja terganggu. Kenapa? Karena aku tahu gossip itu hanya sampah yang disebar untuk membuat nama Hyung-ku jatuh. Aku terganggu karena atas semua kebaikan yang dibuatnya masih saja ada orang yang ingin menjatuhkannya dengan cara murahan seperti ini.”

Aku terpana dengan curahan hati Kyuhyun terhadapku. Sebegitu baikkah aku dimatanya? Kyuhyun, aku menyayangimu. Sayang ia duduk cukup jauh sehingga aku tidak bisa mengucapkan terima kasih langsung kepadanya.

Leetuk tampak terkesima dengan ucapan Kyuhyun, air matanya sedikit menetes.

“Baiklah, sekarang mewakili para Hyung, Donghae, apakah kau ingin mengatakan sesuatu.”

Donghae menatapku seolah-olah meminta ijin padaku untuk bicara, aku mengangguk kepadanya. Ia berdiri.

“Berita yang beredar sekarang sungguh tidak manusiawi. Aku tidak usah menyebut berita mana yang menyakiti hati kami karena semuanya begitu menyakitkan , tidak hanya bagi Siwon tapi juga bagi kami. Kami telah hidup bersama-sama selama hampir sepuluh tahun. Apa yang menyakitinya juga menyakiti hatiku dan member yang lain. Aku telah mengenalnya sangat dalam. Ia sangat baik dan penuh kasih. Kami tahu apa yang orang lain tidak tahu. Siwon berdiri di sini adalah pengorbanannya. Ia rela mengorbankan dirinya sendiri untuk orang-orang yang dicintainya. Kami adalah saksi dari banyak kebaikan yang diperbuatnya.“

Donghae terdiam. Ia tidak mampu menahan air matanya. Ia menunduk. Aku ingin memeluknya. Rasa sakit ini ternyata dirasakan oleh member Suju yang lain.

Dengan terbata-bata ia meneruskan,” Sama seperti Kyuhyun. Aku dan member Suju yang lain merasa terganggu dengan berita ini. Bukan berarti kami menyalahkan Siwon atas ketidaknyamanan yang kami rasakan. Tapi karena kami tahu apa yang orang lain tidak tahu. Kami ingin berteriak dan menjerit bahwa gossip ini tidak benar dan mengatakan apa yang kami tahu kepada kalian. Tapi suara ini hanya tertahan sampai di sini,” Donghae menunjuk dadanya.”Kami bergumampun tidak bisa karena kami menghormati keputusan Siwon. Apapun akan kami lakukan untuk melindunginya. Skandal ini menyakitkan tidak hanya bagi Siwon tapi juga orang-orang yang mencintainya karena ia tidak seperti yang kalian gambarkan dalam pemberitaan sepihak itu.”

Puluhan wartawan itu terdiam. Ucapan Donghae dan Kyuhyun berhasil menghipnotis perasaan mereka. Semua member Super Junior tertunduk menahan kesedihan mereka. Mereka adalah saksi bagaimana seorang Choi Siwon mengorbankan dirinya untuk Tiffany. Terluka hingga koma berminggu-minggu hanya untuk menyelamatkan yeoja itu dari ancaman menjadi pelacur. Mereka juga saksi atas keputusanku untuk tetap melindungi nama baik yeoja itu sehingga terpaksa melakukan kebohongan seperti ini. Aku meneteskan air mata.  Aku bukan namja cengeng tapi pernyataan itu menyentuh hatiku.

Leetuk sesaat terdiam. Inilah saatnya, puncak dari semua kebohongan yang terpaksa aku lakoni sendirian. Namja itu menatapku memastikan apakah aku siap. Aku mengangguk. Kuambil sebuah mic yang tergeletak di atas meja. Bom itu akan meledak, bukan mengenai mereka tapi mengenai hatiku.

“Pada saat ini rasanya akupun harus jujur terhadap sesuatu. Gosip ini tidak hanya berat diterima olehku, member Super Junior, keluargaku, dan penggemar kami tapi juga seseorang yang telah lama tulus mencintaiku. Hubungan kami benar-benar diuji kali ini. Ia selalu diam dan mengalah dengan semua gossip yang beredar tentangku tapi ini menjadi tidak adil baginya. Aku terpaksa harus mengakui ini karena aku tidak mau media terus mengaitkan namaku dengan Tiffany Hwang. “

Aku menutup mataku. Saat itu akhirnya tiba. Kangin mendekatiku sambil membawa seseorang.

“Perkenalkan Song Hyo Ri, kekasihku.”

Terdengar teriakan bergemuruh dari seluruh wartawan, fotografer, dan kameramen yang ada berada di ruangan itu. Seorang yeoja berambut panjang pelan-pelan mendekatiku, aku memeluknya dan dia balas memelukku. Jepretan cahaya kamera bermain-main di sekitar kami. Kami saling berpegangan tangan. Kami tersenyum dengan bahagia ke arah wartawan. Aku memeluk pinggangnya dari samping. Ia menyender dengan manja ke bahuku. Song Hyo Ri, seorang agen rahasia bayaran yang diminta secara khusus oleh Kangin dan Leetuk untuk mengaku sebagai yoeja chinguku. Aku tidak tahu bagaimana dia bisa membujuk Hyo Ri untuk berpura-pura menjadi yeoja chinguku. Yang pasti aku melihat beberapa lembar cek dikeluarkan Kangin untuknya. Kangin berfikir, Hyo Ri dengan kapasitasnya dapat melindungiku dari kejaran para pengincar gossip setidaknya sampai beberapa bulan ke depan, sampai gossip ini reda dengan sendirinya. Yeoja chingu adalah kamuflase untuk menyumpal mulut para awak media itu karena selebihnya ia adalah bodyguard yang kebetulan saja seorang yeoja cantik. Aku mengecup keningnya. Ia tersenyum malu-malu menatapku. Kebohongan yang sempurna. Dan aku akan hidup dalam kebohongan ini entah sampai kapan. Mungkin sampai skandal ini sudah tidak menjadi bahan pembicaraan publik tapi entah sampai kapan.

“Song Hyo Ri adalah kekasihku. Aku tidak bermaksud menyembunyikannya tapi kami sudah berkomitmen untuk tidak terlalu mengeksposnya di depan publik. Tapi karena skandal ini aku terpaksa mempelihatkan dirinya. Kumohon tolong jaga privasinya karena ia bukan seorang artis sepertiku. Aku mohon untuk menghentikan segala berita yang mengaitkan diriku dengan Tiffany Hwang karena itu akan menyakiti hati Hyo Ri dan keluarganya.”

Teriakan riuh dari luar gedung juga terdengar, ada yang bahagia, ada yang merasa kecewa. Tapi tidak mengapa daripada tokoh idola mereka terkena sangsi sosial dan pencemaran nama baik dari skandal itu. Menerima Siwon memiliki yeoja chingu dengan lapang dada adalah keputusan yang tepat jika ingin melihat tokoh idolanya bebas dari isu miring  karena sepertinya konferensi ini akan berakhir dengan ending yang sempurna. Para wartawan seperti disumpal mulutnya, mereka tidak bisa lagi bertanya lebih jauh tentang hubunganku dengan Tiffany. Kemesraanku dengan Hyo Ri cukup sempurna. Kami tahu bahwa fotografer akan mengabadikan momen ini dengan sangat detil. Oleh karena itu sepanjang sisa waktu konferensi pers ini aku tidak henti-hentinya menunjukan kemesraanku padanya dan ia merespon dengan sama hangatnya. Wartawan mungkin curiga ini adalah kepura-puraan tapi siapa yang bisa menyangkal chemistry yang terlihat begitu nyata. Setelah hari ini media dan publik akan banyak melihat kebersamaan kami yang telah diatur dengan rapi oleh Kangin dan Leetuk. Semoga usaha ini tidak sia-sia.

Kediaman Tiffany

Tiffany POV

Dengan nanar aku menatap layar televisi di kamarku. Walaupun aku tampak tidak perduli dengan konferensi pers yang diadakan untuk mengklarifikasi segala tuduhan dan gossip miring yang menimpa aku dan Siwon. Tapi sesungguhnya aku sangat perduli, aku ingin tahu apa yang akan Siwon katakan tentangku. Walau aku sudah bisa menebaknya tapi aku ingin mendengar dan melihatnyanya langsung. Aku melihat kamera yang terus menerus menyorot wajah Siwon yang tampak termenung dan begitu lelah. Aku ingin sekali menyentuh wajahnya, menyeka keringat dingin yang menetes di dahinya. Siwon tampak begitu frustasi, matanya tampak kosong. Aku merasa bersalah, aku tahu aku telah menyakitinya dengan sangat dalam.

Kulihat dalam layar tabung kaca itu member Super Junior duduk berjejer menghadap kamera. Mereka tampak mendukung dan menguatkan Siwon. Perasaan bersalahku semakin besar, seharusnya aku juga di sana melakukan hal yang sama. Sampai akhirnya sesi tanya jawab itu dimulai. Aku tahu sejak awal, Siwon tidak akan mengakui kebersamaannya denganku tapi entah kenapa hatiku perih mendengarnya.

“Itu hanya gossip murahan. Kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Ia adalah salah satu Direktur dari Hwang Company. Perusahaanku dan Hwang Company menjalin hubungan bisnis yang baik.”

 “Hubungan kami hanya sebagai relasi bisnis tidak lebih.”

“Jika kami tidak dekat bagaimana mungkin kami saling mencintai.”

 “Aku tidak pernah mengajak sembarang yeoja ke apartemenku. Aku juga tidak suka mencampur aduk urusan bisnis dengan urusan pribadi. Tiffany Hwang adalah murni urusan bisnis. Kami tidak memiliki hubungan apa-apa. Apakah itu cukup jelas?”

‘Siwon tolonglah katakan bahwa kau mencintaiku dan kita memiliki hubungan itu bukan?.’

Tentu saja aku bodoh berteriak seperti itu dalam kamarku sendiri. Aku menangis, entah sudah berapa kali aku meneteskan air mata. Aku tidak rela namja itu mengabaikanku dan menganggapku tidak penting. Aku ingin mematikan siaran langsung itu tapi ada harapan bodoh yang tiba-tiba muncul dalam pikiranku. Mungkin saja di akhir konferensi pers ini Siwon akan mengakui perasaannya padaku. Walau itu tidak mungkin, tapi aku bertahan untuk menunggu keajaiban itu.

“Lalu apakah benar anda adalah penikmat tempat prostitusi?”

Seorang wartawan menanyakan hal itu pada Siwon. Amarahku menggelegak begitu saja. Jika orang itu ada di dekatku, aku ingin menampar dan menghajarnya. Hey wartawan bodoh! Siwon datang untuk menolongku bukan untuk menjadi lelaki buaya seperti yang kau kira.

“Tentu saja tidak. Aku bukan seperti yang dituduhkan anda. Aku tahu resiko sebagai seorang public figure. Bagaimana mungkin aku merendahkan diriku dan menjatuhkan nama baikku dengan melakukannya. Saya mohon untuk menghentikan pemberitaan buruk ini karena berita ini sangat menyakitkan keluargaku dan member Suju yang lain. Aku ingin meminta maaf pada keluargaku yang tentunya sangat terkejut dengan pemberitaan saya yang begitu buruk. Begitu juga kepada member Super Junior yang lain. Secara pribadi, aku juga merasa diperlakukan tidak adil karena dituduh dengan pemberitaan negatif padahal aku tidak melakukannya.”

Rasanya aku ingin berteriak pada seluruh dunia. Choi Siwon datang untuk menyelamatkanku. Tahukah kalian? Ia hampir meregang nyawa karena ingin membebaskanku, sampai akhirnya terbujur koma berminggu-minggu hanya untuk membuatku selamat dari ancaman pelacuran. Aku menangis lagi dengan keras. Apa yang telah kulakukan, aku telah menyia-nyiakan seseorang yang begitu baik padaku. Siwon bahkan rela mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkanku. Tapi apa yang kulakukan? Aku malah membuatnya menderita. Rasa bersalah ini semakin lama semakin besar membuatku tampak seperti penjahat. Apalagi ketika aku melihat Kyuhyun dan Donghae saat memberikan testimoninya mengenai  Siwon. Aku tertampar dengan begitu kerasnya.

“…Mereka hanya bisa menuduh dari luar tanpa melihat apa yang terjadi di dalam. Aku telah mengetahui begitu banyak bagaimana Siwon Hyung rela berkorban untuk siapapun…”

“…Aku telah mengenalnya sangat dalam. Ia sangat baik dan penuh kasih. Kami tahu apa yang orang lain tidak tahu. Siwon berdiri di sini adalah bentuk pengorbanannya. Ia rela mengorbankan dirinya sendiri untuk orang-orang yang dicintainya. Kami adalah saksi dari banyak kebaikan yang diperbuatnya.“

“…Kami tahu apa yang orang lain tidak tahu. Kami ingin berteriak dan menjerit bahwa gossip ini tidak benar dan mengatakan apa yang kami tahu kepada kalian…”

”Kami bergumampun tidak bisa karena kami menghormati keputusan Siwon. Apapun akan kami lakukan untuk melindunginya.”

Lalu apa yang telah aku lakukan? Akulah penyebab kenapa skandal ini terjadi, tapi aku tidak melakukan apa-apa untuk melindungi Siwon. Ia telah mengorbankan dirinya untuk melindungi nama baikku. Tapi aku hanya berbaring manis sambil menonton TV sedangkan member Suju yang sama sekali tidak terlibat dengan skandal ini malah membela namja itu mati-matian. Aish Tiffany, kau benar-benar yeoja yang jahat. Aku menjerit dalam hati. Rasa penyesalan semakin besar. Aku menangis lagi walau aku tahu mengeluarkan air mata tidak akan membuat rasa sakit ini menghilang. Aku terluka karena kebodohanku sendiri.

 “Perkenalkan Song Hyo Ri, kekasihku.”

Tiba-tiba Siwon mempekenalkan seorang yeoja cantik di hadapan para wartawan. Aku tercekat. Apa aku tidak salah dengar? Tidak mungkin Hyo Ri itu adalah yeoja chingunya. Selama enam bulan aku mengenalnya aku tidak melihat ia dekat dengan yeoja manapun. Satu-satunya yeoja yang dekat dengannya hanya aku. Terdengar teriakan bergemuruh dan kilatan cahaya yang menyorot langsung pasangan itu. Dadaku bergetar hebat, aku tidak suka melihat bagaimana Siwon memperlakukan yeoja itu dengan sangat mesra.

‘Katakan itu bohong! Kalian hanya berpura-pura saja bukan? Yeoja itu dibayar untuk menjadi kekasih sementara hanya untuk menutup skandal ini bukan? Katakanlah Siwon, ia bukan yeoja chingumu!,’ aku berteriak seperti orang gila. Inikah rasanya cemburu buta. Aku membenci yeoja itu, aku benci melihat Siwon menatap yeoja itu dengan mesra. Aku benci melihat yeoja itu mencuri-curi kesempatan dengan bersender di bahunya. Hatiku tercekat untuk kesekian kalinya ketika tiba-tiba Siwon mencium kening yeoja itu. Hatiku terluka dengan sangat dalam. Bukankah tadi ia melamarku. Lantas kenapa tiba-tiba yeoja itu hadir dan mengaku-aku sebagai yeoja chingunya. Aku mencoba menutupi rasa sakit hati dengan berfikir, mungkin yeoja itu hanya yeoja chingu bayaran. Tapi semakin lama melihat interaksi dan chemistry di antara mereka, aku menjadi tidak yakin dengan asumsiku semula. Mereka tampak seperti seorang pasangan yang ideal. Rasa cemburu, benci, dan marah tiba-tiba meluap dalam hatiku. Prang, kulemparkan remote ke layar televisi itu sehingga layarnya sedikit retak. TV itu kemudian mati tiba-tiba. Aku benci mengakui bahwa aku cemburu, aku sungguh cemburu!

Author POV

Di luar kamar Tiffany, Omma dan Appa berdiri di dekat pintu. Mereka mendengar teriakan dan tangisan anaknya dan tentu saja mereka sangat khawatir karena mendengar suara bantingan yang cukup keras dari kamar itu.Tangan Omma terjulur untuk mengetuk pintu tapi Appa langsung mencegah.

“Biarkanlah Omma, Tiffany butuh waktu untuk sendirian saat ini. Apa yang dilaluinya begitu berat. Ia butuh menyesuaikan diri dengan semua perubahan yang terjadi dalam hidupnya.”

“Tapi Appa. Sesuatu yang buruk takut terjadi padanya.”

“Sudahlah Omma, jika ia membutuhkan kita pasti ia akan datang. Dan ketika saat itu tiba pastikan kita siap merangkul dan mendukungnya. Tiffany adalah yeoja yang kuat. Bahkan penderitaan yang dilaluinya selama setengah tahun ini tidak membuatnya lemah. Ia menjadi yeoja yang tangguh. Yeoja paling berani dan kuat yang pernah Appa temukan.”

Mereka saling berpelukan. Mata mereka berkaca-kaca. Terlalu banyak kesedihan dan air mata yang terjadi selama setengah tahun terakhir. Appa dan Omma dapat merasakan penderitaan batin anak semata wayangnya. Siwon tentulah sangat berharga bagi anak gadisnya itu. Kehilangan Siwon pastilah suatu pukulan yang sangat berat walaupun mereka tahu anaknyalah yang pertama kali memutuskan hubungan ini.

Tiffany POV

Di dalam kamar, aku terduduk di atas ranjang dengan terisak-isak. Gurat penyesalan semakin dalam. Andaikata aku bisa memutar waktu. Ingin aku mengangguk ketika beberapa jam yang lalu Siwon mengajakku menikah. Tapi semuanya sudah terlambat. Skenario pembersihan nama baik itu sudah terlanjur dilakukan. Aku dan Siwon kini harus hidup terpisah, berpura-pura saling tidak mengenal dan tidak memiliki masa lalu bersama. Aku akan hidup dengan duniaku begitu juga dengan dirinya. Aku memegang dadaku yang terasa nyeri. Apakah aku sanggup? Apalagi dengan pemberitaan mengenai Siwon dengan yeoja chingunya yang mau tidak mau harus aku dengar dan lihat setiap hari. Apakah aku berani melangkah tanpa kehadiran Siwon di sisiku? Sungguh aku tidak sanggup. Siwon, ijinkan aku mengatakan ini walaupun sangat terlambat dan mungkin tidak berguna. Siwon, aku mencintaimu dan aku sangat cemburu melihatmu bersama yeoja itu. Mianhae Siwon. Tentu saja Siwon tidak akan mendengarkanku, hanya televisi yang rusak ini yang menjadi saksiku. Penyesalan selalu datang terlambat dan sejak hari ini aku akan hidup dengan rasa sesal dan cinta yang tak terbalas.

Tiba-tiba aku teringat ucapan Siwon yang selalu terngiang-ngiang di benakku.

“Tiffany, aku sangat mengkhawatirkanmu. Setiap detik aku selalu was was dengan keadaanmu. Tapi lagi-lagi kau menunjukan bahwa kau adalah yeoja yang tangguh. Di sela-sela tangismu justru kaulah yang begitu berani menyelamatkanku dan keluar dari masalah. Kau tahu begitu banyak masalah yang kita hadapi, disadari atau tidak ternyata kita bisa melewati itu semua bukan? Tapi untuk kali ini, apakah kau masih kuat untuk menghadapinya? Bersamaku?”

Ada semacam keberanian yang menyeruak dalam hatiku. Membayangkan Siwon membuat aku merasa kuat. Mungkin ini saat yang tepat bagiku untuk menunjukannya dan menyelamatkan diriku sendiri dari deraan perasaan bersalah. Aku tahu ini terlambat tapi aku tidak bisa hidup tenang dengan penyesalan yang masih mengganjal dalam hatiku. Dengan cepat aku membersihkan mukaku yang sembab. Kuganti piyamaku dengan tshirt dan jeans serta melilitkan syal dan mantel tebal untuk melindungi tubuku. Kuambil ransel dan aku segera berlari keluar kamar dengan terburu-buru. Appa dan Omma melihatku ketika aku sedang memakai sepatu boot.

“Wae Tiffany? Kau mau kemana? Ini sudah malam.”

“Aku pamit sebentar Appa, Omma, ada sesuatu yang harus kau lakukan.”

Aku beranjak meninggalkan ruang tengah menuju ruang tamu. Sebuah kunci mobil tergenggam erat di tanganku.

“Tiffany berfikirlah yang logis. Hari sudah malam dan kau masih diincar oleh para wartawan itu. Kau tidak aman,” Appa mencoba menahanku

“Tapi aku harus pergi Appa. Jika tidak aku tidak akan memaafkan diriku sampai kapanpun.”

“Kau akan pergi kemana?”

Omma masih berusaha menghalangi.

Aku tidak menjawab, bukannya aku tidak bisa menjawab tapi aku tidak mau mereka semakin khawatir jika tahu aku nekad pergi seorang diri untuk menyelesaikan masalahku.

“Jawab Omma, Tiffany.” Omma bahkan terisak. Aku sungguh tidak tega.

“Tolonglah ijinkan aku pergi Omma, aku akan pergi ke tempat yang paling aman. Aku ingin menyelesaikan urusan yang tertunda. Secepatnya aku akan pulang. Omma tidak usah khawatir.”

Aku berbalik memeluk Omma yang tampak ketakutan kehilangaku untuk yang kedua kalinya.

“Tidak bisa Tiffany. Bagaimana mungkin Omma mengijinkanmu pergi ke luar sendirian. Appa tolonglah bujuk anakmu ini. Baru beberapa jam sampai ke rumah, ia sudah ingin pergi lagi. Hal ini membuat Omma sedih.”

Aku bimbang dengan Omma yang sudah mulai menangis.

“Ijinkan dia pergi Omma,” suara Appa yang berat tiba-tiba mencerahkan hatiku.

“Appa! “ Omma menatap Appa tidak percaya.

“Pergilah Tiffany, pesan Appa, jagalah dirimu dan berfikirlah jernih. Appa yakin kau bisa menyelesaikan masalahmu. Appa hanya minta pulanglah ke sini dengan selamat.”

Aku tersenyum memeluk Appa dan Omma. Omma melepas kepergianku dengan tidak rela. Appa hanya tersenyum melepas kepergianku.

Author POV

Omma memandang Appa dengan kesal,”Kenapa Appa mengijinkannnya. Appa tahu sendiri di luar tidak aman.”

Appa tidak menjawab, ia meraih handphone-nya dan menelefon seseorang.

“Tolong kawal Tiffany, jaga dia dari orang-orang yang ingin mengejarnya. Buntuti kemanapun dia pergi. Jika ia menemui namja itu tolong kabari aku segera.”

Appa menutup telefonnya dan berbalik menatap Omma, “Dengar baik-baik Omma, Appa akan melindungi Tiffany sampai kapanpun. Tapi ia bukan anak kecil lagi yang bisa kita atur semaunya. Ia sudah dewasa untuk menentukan jalannya sendiri. Appa tahu kemana ia akan pergi, cepat atau lambat ia memang harus pergi ke sana untuk menyelesaikan masalah pribadinya. Jika Omma takut dengan keamanannya, Appa sudah menghubungi pengawal Appa. Mereka akan melindungi Tiffany. Omma tidak usah khawatir.”

Di  tempat lain, dengan terburu-buru Tiffany mengemudikan mobilnya, melaju dengan kencang dalam temaramnya malam di Seoul. Hujan salju turun dengan pelan. Angin malam menderu dan kabut menghalangi pandangan mata. Musim dingin merupakan musim terburuk bagi pengguna jalan karena jalanan menjadi licin dan penuh dengan salju. Walaupun di sisi kanan dan kiri kota Seoul telah terpasang alat pembuat gelembung air panas melalui lubang di trotoar dan spray berisi cairan kimia untuk mencairkan salju. Tetapi jalanan yang licin sering menyebabkan pengemudi kehilangan kendali. Tiffany menyadari itu, tapi ia harus secepatnya sampai di tempat yang ingin ditujunya. Ia telah mengumpulkan segenap keberaniannya untuk menemui Siwon. Ditepiskannya perasaan gengsi dalam dirinya. Ia akan mengakui segenap perasaannya malam ini.

Mengemudi gila-gilaan di bawah rintik salju adalah salah satu dari kenekadan yeoja ini. Tapi ia tidak perduli. Beberapa menit kemudian, ia sudah ada di apartemen mewah dimana ia dan Siwon pernah tinggal bersama di dalamnya. Dengan tegang, Tiffany memarkirkan mobilnya di pinggir jalan, memakai syal dan mantelnya kemudian berjalan cepat mendekati pintu lantai dasar apartemen itu. Tapi sebelum kakinya sempat melangkah keluar, dari kejauhan ia melihat sosok itu sedang berjalan mendekati apartemen itu. Siwon ya benar itu Siwon! Tapi mata yeoja itu memanas melihat pemandangan yang dilihatnya. Siwon tidak sendirian. Ia sedang memeluk seorang yeoja dengan sangat mesra. Tiffany berlari bersembunyi di balik gedung untuk memastikan apa yang dilihatnya. Apakah ini mimpi? Kedua orang itu berjalan saling berpelukan, saling bertatapan dengan mesra. Sesekali Siwon mengacak-acak rambut yeoja itu dan yeoja itu balas menggerakan badannya untuk lebih dekat dengan Siwon. Mereka terdengar bercanda ringan dan saling tertawa. Sontak hati Tiffany beku. Sudah lama ia tidak melihat Siwon tertawa selepas ini dan ia melakukannya pada yeoja yang mungkin bernama Song Hyo Ri itu. Kedekatan itu tampak alami.

‘Tidak ini hanya pura-pura, mereka tidak mungkin berpacaran,’ seru Tiffany dalam hati. Kedua sejoli itu semakin mendekati posisinya sehingga Tiffany bisa dengan jelas mendengarkan percakapan mereka.

“Oppa, aku tidak menyangka kau sangat humoris. Aku selalu menganggapmu orang yang serius.”

Rasanya ia ingin mencekik leher yeoja yang dengan berani-beraninya bergelayut manja pada bahu Siwon. ‘Oppa?,’ cih ia sendiri tidak berani memanggil Siwon dengan sebutan itu.

“Hanya untuk beberapa orang aku memperlihatkan sifat asliku. Pekerjaanku menuntut aku untuk tampak serius. Tapi jika kau menginginkan aku untuk terlihat lebih hangat lagi, aku dengan senang hati melakukannya.”

Ia juga ingin melempar sesuatu di muka Siwon. Hatinya terbakar cemburu.

“Aku suka Siwon Oppa apa adanya.”

“Betulkah?”

“Ne, walaupun Siwon Oppa adalah seorang artis dan pengusaha terkenal tapi aku akan berusaha memahami Oppa lebih baik lagi.”

“Syukurlah, karena tidak semua yeoja bisa menerima Oppa apa adanya.”

“Hanya orang bodoh yang tidak mau menerima Oppa. Mereka telah menyia-nyiakan namja baik seperti Oppa.”

Hati Tiffany kembali tercekat. Apa maksud percakapan mereka? Siapa yeoja bodoh yang tidak mau menerima Siwon apa adanya? ‘Apakah itu aku?,’ tanya Tiffany dalam hati. Sontak hatinya perih. Begitukah perasaan Siwon kini? Baru beberapa belas jam yang lalu, namja itu melamarnya, menyatakan rasa cinta kepadanya. Tapi sekarang, dengan cepatnya ia beralih haluan. Menggaet seorang yeoja cantik, menjadikannya sebagai yeoja chingunya, dan mengumumkannya ke seluruh dunia seolah-olah Siwon adalah namja yang suci dan setia. Dalam matanya kini namja itu terlihat seperti playboy murahan yang menebar pesona kemana-mana. Pagi tadi ia mengatakan mencintainya tapi sekarang ia sudah mengatakan cinta pada yeoja lain. Tiffany merasa seperti dibohongi. Rasa kecewanya begitu dalam. Padahal malam ini dengan segenap keberanian ia akan menyatakan perasaannya. Mencoba jujur bahwa ia mencintai Siwon. Berharap bahwa mereka akan dapat merajut kebersamaan seperti dulu.

Tiba-tiba Tiffany melihat namja itu menjadi begitu asing. Ia tidak mengenal Siwon yang seperti ini. Hatinya lagi-lagi terluka. Bagaimana mungkin dalam sesaat Siwon bisa melupakannya dengan mudah? Tadinya ia berfikir bahwa yeoja itu hanyalah seseorang yang dibayar untuk berpura-pura menjadi yeoja chingu namja itu. Tapi kebersamaan mereka tampak nyata. Bahkan ketika para wartawan sudah tidak mengincar mereka lagi, kedua orang itu masih bersikap sangat mesra. Siwon malah telah berani mengajak yeoja itu ke apartemennya. Berarti hubungan ini memang serius dan benar adanya.

Tetes air mata untuk kesekian kalinya turun dari pelupuk mata Tiffany. Di bawah sinar lampu taman apartemen itu, ia melihat dengan jelas kedua sejoli itu saling berpelukan. Ia memejamkan matanya ketika kedua wajah orang itu saling berdekatan. Ia tahu bahwa mereka akan saling berciuman. Apakah ia harus senang atau menyesal, ia tidak tahu. Bukankah lebih baik tahu sejak awal bagaimana karakter namja itu. Ternyata Siwon tidak lebih dari sekedar Casanova penjual cinta. Namja seperti itu tidak pantas untuknya. Tapi hati Tiffany tidak dapat dibohongi. Ia tidak rela Siwon mengalihkan rasa cintanya pada yeoja lain begitu mudah. Penyesalannya menjadi teramat besar. Andaikata ia menerima lamaran Siwon saat itu.

Bruk

Tas yang dipegangnya tiba-tiba jatuh, tubuhnya limbung tak bertenaga.

Kedua sejoli itu berbalik mencari arah suara. Di malam yang hening seperti ini bahkan suara desahan nafas akan terdengar dengan jelas.

Siwon terkejut menatap siapa yeoja yang ada di belakangnya. Tiffany tidak punya kesempatan untuk sembunyi atau melarikan diri.

“Tiffany?”

Yeoja yang sedang dipeluk Siwon itu juga tidak kalah terkejutnya. Ia telah mengenal sosok Tiffany dari Kangin. Gawat, Tiffany tidak boleh ada di sekitar Siwon saat ini. Sampai malam inipun kamera wartawan masih mengintai kebersamaan mereka. Yeoja yang ada di hadapannya kini akan merusak semua strategi yang telah disusun untuk membersihkan nama baik Siwon. Tidak ada waktu lagi, ia harus bertindak.

“Oppa, jangan perdulikan dia. Mari kita pulang.”

“Tiffany ada apa kau kemari?,” Siwon mengibaskan pegangan tangan Hyo Ri.

“Apakah dia, dia, yeoja chingumu Siwon-ssi?,” tanya Tiffany dengan penuh sesak

Siwon tidak menjawab. Ia tahu beberapa wartawan sedang membuntutinya.

“Perkenalkan aku Song Hyo Ri, aku yeoja chingu dari Siwon-ssi. Senang bertemu denganmu.”, yeoja itu menatap Siwon dengan manja,” Oppa ayolah kita pulang udara begitu dingin.”

Tiffany sama sekali tidak memperdulikan Song Hyo Ri, ia terus menatap Siwon, “Apakah kau mencintainya?”

Tentu saja tidak, rasanya Siwon ingin berteriak tapi ia ingat dengan skenario yang sudah disetujuinya. Song Hyo Ri adalah yeoja chingunya dan ia harus berpura-pura mencintai yeoja itu. Radar kamera media sudah awas menangkap momen ini.

“Mianhae rasanya kau sudah bertanya terlalu banyak pada namja chinguku. Ia begitu kelelahan akibat konferensi pers ini. Tolong jangan ganggu dia dan jangan bertanya macam-macam. Ia adalah namja chingku sudah jelas ia mencintaiku”

“Aku tidak bertanya padamu, aku bertanya pada namja chingumu itu!,” hardik Tiffany keras. Ia terganggu dengan yeoja yang tampak posesif itu.

Hyo Ri tampak terkejut, ia melihat api cemburu dalam mata Tiffany.

“Siwon-ssi, apakah kau masih mencintaiku?”

Siwon terdiam. Ia ingin berkata sejujurnya.

“Apakah lamaranmu masih berlaku?”

Namja itu tampak resah, ia ingin mengatakan sesuatu tapi ia harus melindungi Tiffany. Berkata sejujurnya akan berbahaya bagi masa depan yeoja itu.

“Tiffany, tolonglah, mengertilah situasiku. Aku tidak bisa mengatakan apapun.”

Tiffany mencoba tegar, ia berusaha memahami penolakan halus yang datang dari mulut Siwon.

“Baiklah aku mengerti.”

Song Hyo Ri menarik tangan Siwon yang hanya bisa berdiri seperti patung menatap Tiffany. Ia tidak bisa berpaling dari yeoja yang telah mencuri hatinya. Tiffany balas menatapnya dengan tatapan hampa. Seperti magnet dari dua kutub yang saling bersebrangan mereka saling berdiri berhadapan dan tampak sulit dipisahkan bahkan oleh tenaga yang cukup kuat dari Hyo Ri sekalipun.

Hyo Ri berbisik.

“Siwon tolonglah untuk bisa bekerjasama. Para media itu masih mengincarmu. Jika Tiffany ada di sini, kau tidak akan menolong dirimu dan dia sama sekali. Semua sandiwara yang telah berhasil kau lakukan akan berakhir sia-sia”

Tetapi namja itu tidak dapat menguasai hatinya. Ia merindukan Tiffany, ia ingin memeluknya. Ia ingin meneriakkan semua perasaannya. Kenapa yeoja itu tiba-tiba ada di sekitar apartemennya dan bertanya seperti itu? Ataukah ia bisa dengan percaya diri menganggap bahwa yeoja itu datang karena mencintainya? Apapun itu ia tidak bisa lepas mengalihkan pandangannya dari sosok Tiffany. Ia ingin meraihnya tapi tangan Hyo Ri begitu kuat menahannya.

Tiffany pun ingin melakukan hal yang sama tapi melihat Hyo Ri yang menatapnya dingin dan sangat posesif dengan Siwon. Ia urung untuk melangkahkan kakinya. Siwon bukan miliknya lagi. Beginikah rasanya cemburu? Namja itu juga tidak mengatakan sesuatu mengenai perasaannya. Padahal pertanyaan Tiffany sudah begitu terbuka, jika Siwon mencintainya ia hanya tinggal menjawab ya. Tapi namja itu hanya diam.

Hyo Ri sudah habis kesabaran, ia sudah melihat cahaya blits dari kejauhan.

“Siwon ayolah kita pulang. Tempat ini sangat berbahaya bagimu dan Tiffany.”

Siwon masih tetap berdiri di tempatnya tidak bergeming. Ia melihat air mata menetes di kedua pipi Tiffany. Ia masih terluka dengan penolakan yeoja itu tapi hatinya sakit jika melihat Tiffany sakit, selalu begitu.

Hyo Ri masih memegang lengan Siwon. Ia sudah tidak punya akal lagi untuk menjauhkan Siwon dari Tiffany. Jarak kedua orang itu begitu dekat sehingga wartawan bisa dengan mudah  mengendus kehadiran seorang yeoja tak dikenal mendekati Siwon dan dirinya. Dari kejauhan, mereka tidak akan bisa mengindentifikasi yeoja itu dengan mudah karena tertutup syal dan mantel tebal. Tapi lama-lama mereka akan tahu bahwa yeoja itu adalah Tiffany Hwang! Pekerjaan dan kredibilitasnya dipertaruhkan. Ia harus memisahkan pasangan ini.

Mianhae Tiffany, desis Hyo Ri. Tiba-tiba ia menghadap Siwon, merengkuh puncak kepalanya dan mencium bibirnya tepat di depan Tiffany.

Tiffany terpana. Siwon dan Hyo Ri berciuman dengan sangat mesranya. Dadanya bergemuruh karena cemburu. Kisah cinta ini benar-benar nyata. Hyo Ri bukan yeoja chingu pura-pura seperti yang dipikirkannya. Spontan, ia berbalik dengan cepat, membawa tas nya dan kemudian berlari meninggalkan kedua orang itu. Ia tidak sanggup melihat adegan kemesraan itu. Cukup sudah, ia harus berhenti. Siwon bukan miliknya lagi. Ia tidak berhak atas Siwon dan cintanya. Secara gamblang Siwon telah menolaknya. Ia memegang dadanya yang berdetak hebat. Tiffany berlari sambil menangis. Rasa cemburu ini begitu menyakitkan, ia tidak rela yeoja itu memiliki Siwon.

Di tempat lain, Siwon melepaskan dirinya dari ciuman dan pelukan Hyo Ri dengan paksa. Ia terkejut dengan ciuman kilat yang diberikan yeoja itu.

“Apa yang kau lakukan?”

“Mianhae Siwon, aku terpaksa melakukannya untuk menghindarkanmu dari incaran media.”

“Tiffany? Mana dia?”

Tiffany telah menghilang di tengah kegelapan malam. Spontan ia menepiskan genggaman tangan Hyo Ri dan berlari menyusul yeoja itu. Ia berlari cepat melewati gundukan salju dan jalanan licin tapi Siwon tidak memperdulikannya, ia harus menemukan Tiffany. Hyo Ri menyusulnya, langkah kaki seorang agen terlatih seperti yeoja itu mampu menyamai kecepatan lari Siwon. Hyo Ri menarik tangan Siwon dengan keras.

Plak

Yeoja itu menamparnya. Siwon berhenti, tamparan itu begitu keras sehingga meninggalkan memar merah di wajahnya.

“Kau menamparku?”

“Mianhae Siwon, masalahmu dengan Tiffany tidak ada urusannya sama sekali denganku. Tapi aku harus menjalankan tugasku untuk berpura-pura menjadi yeoja chingumu dan menjadi bodyguardmu sekaligus. Aku harus memastikan bahwa kalian tidak akan pernah berada dalam jarak yang dekat selama beberapa bulan ini. Walaupun kau menentangku tapi aku akan menjalankan tugasku dengan baik.”

Siwon mengeraskan rahangnya tanda ia sudah mulai marah, “Kau tidak berhak menghalangiku dan menciumku seperti tadi. Ciuman itu tidak ada dalam perjanjian kita.”

“Aku tahu, maafkan atas kelancanganku. Berfikirlah yang jernih Siwon. Kedekatan kalian akan membuat semua rencana yang telah tersusun dengan baik menjadi rusak. Skandal ini akan menguak kembali. Malah lebih parah karena kau telah melakukan kebohongan publik. Kau mengatakan tidak ada hubungan apa-apa dengan Tiffany tapi faktanya kalian tampak terlihat bersama. Kedekatan kalian akan menjadi buah bibir yang buruk. Tidak ada yang diuntungkan dengan sikap seperti ini. Teman-teman dan keluargamu kembali akan merasakan dampak dari sikap egoismu termasuk Tiffany, yeoja yang kau cintai. Kau hanya akan bersenang-senang di atas penderitaan mereka. Ingatlah masa depan perusahaan, karir, citramu yang juga akan hancur apabila kau tidak dapat mengendalikan perasaanmu. Aku terpaksa menciummu untuk mengalihkan perhatian wartawan itu dan untuk membuat Tiffany pergi. Percayalah ini demi kebaikan kalian berdua. Mendekatinya kembali sama dengan membuatnya hancur. Apakah kau rela melakukan itu terhadap yeoja yang kau sayangi?”

Yeoja itu berbicara dengan tenang walaupun ada tekanan dalam setiap kata-katanya.

Siwon mengelus-elus pipinya yang terluka. Ia hanya bisa diam, mulutnya terkunci. Pikirannya tercampur aduk antara berbagai kepentingan. Matanya masih mencari-cari keberadaan Tiffany tapi yeoja itu sudah tidak nampak lagi. Ia menghadapi dilemma yang berkepanjangan, hatinya masih mengharapkan Tiffany tapi di sisi lain ia akan mengorbankan banyak hal jika tetap memaksakan diri untuk bersama dengan yeoja itu. Keputusanpun sudah diambil dan ia harus konsisten dengan apa yang telah ia setujui. Ia sudah berjanji untuk tidak mendekati Tiffany lagi karena kebohongan yang telah ia katakan di konferensi pers itu telah terlanjur menghalangi langkahnya untuk bisa menemui yeoja itu. Deg, rasa sakit itu muncul lagi dari dasar hatinya. Ia sudah tidak punya kesempatan untuk bisa mendapatkan cinta Tiffany. Mengapa cinta bisa begitu sangat sulit dan menyakitkan baginya.

Siwon menunduk dan berbalik mendekati apartemennya. Hyo Ri menyusulnya.

“Siwon, kau tidak apa-apa?”

Namja itu menjawab tanpa menoleh.

“Pulanglah Hyo Ri, hari sudah teramat malam.”

“Tapi aku ditugaskan untuk menjagamu.”

“Aku bisa menjaga diriku lebih baik dari yang kau tahu. Pulanglah bukankah besok kita akan bertemu lagi. Leetuk telah memberikan banyak agenda acara untuk kita. Pesta, acara minum teh, malam amal, semuanya. Bersiaplah untuk itu semua.”

“Tapi…”

“Sudahlah, aku ingin beristirahat, pikiranku sangat penat.”

Siwon meningalkan Hyo Ri. Ia tidak bisa berhenti memikirkan Tiffany. Yeoja itu pasti sudah melihat kebersamaannya dengan Hyo Ri. Ia bermain-main dengan HP-nya sedang berfikir untuk menelefon Tiffany dan menjelaskan semuanya bahwa hubungannya dengan Hyo Ri hanya sebuah akting semata. Tapi disingkirkannya pikiran itu. Keputusan bagaimanapun sudah diambil dan ia tidak ingin berjudi lagi. Ia tidak mau mempertaruhan semua yang menyayanginya dengan satu orang Tiffany yang sampai sekarang pun ia masih berfikir bahwa yeoja itu tidak mungkin memiliki perasaan cinta kepadanya. Tapi mengingat bagaimana wajah yeoja itu yang menatapnya dengan pandangan terluka. Hati kecilnya berkata lain. Mungkinkah yeoja itu mencintainya? Lalu untuk apa dia kemari? Aish sudahlah, mungkin benar kata Hyo Ri. Ia harus konsisten dengan keputusan yang telah diambil. Mendekati Tiffany lagi sama dengan membuat skandal baru. Iapun tidak mau member Super Junior dan keluarganya kembali mendapatkan luka. Dengan hati teriris Siwon memantapkan hatinya untuk menjalani hidup ke depan walau tanpa yeoja itu di sisinya.

Di tampat yang tidak jauh dari posisinya, Tiffany ternyata bersembunyi di belakang sebuah pohon taman apartemen Siwon. Ia tidak mau keberadaannya terlacak oleh pasangan itu walaupun hatinya masih ingin melihat Siwon lebih lama. Ia terkejut melihat Hyo Ri menampar namja itu. Mungkin yeoja itu cemburu dan Tiffany sangat mengerti. Seperti ia mencoba memahami rasa cemburunya, iapun ingin melakukan hal yang sama. Ia ingin menampar Siwon dan yeoja itu. Siwon? Karena namja itu telah mempermainkan hatinya. Hyo Ri? Karena yeoja itu telah merebut orang yang dicintainya. Tiffany terduduk pasrah di atas trototar jalan. Ia menunduk dan menutupi kedua tangannya. Kembali ia menangis sampai seseorang menelefonnya.

“Appa?”

“Kau ada di mana Nak?,” terdengar suara Appa yang tampak was was dengan keselamatan anaknya. Pengawalnya telah memberikan laporan dengan detil kemana Tiffany pergi.

“Hmm aku ada di suatu tempat. Appa tidak usah khawatir, aku dalam kondisi baik-baik saja. Semuanya aman.”

“Appa dan Omma mengkhawatirkanmu.”

Appa tahu Tiffany tidak baik-baik saja.

“Gomawo Appa tapi sungguh aku baik-baik saja.”

“Baiklah kalau begitu cepatlah pulang.”

Tiffany terdiam. Sebuah pikiran melintas di benaknya.

“Tiffany? Kau masih ada di sana?”

Yeoja itu menjawab pelan sambil sedikit terisak, “Ne, Appa bolehkah aku bertanya sesuatu?”

“Tentu saja katakanlah!”

“Apakah posisi direktur di perusahaan kita yang di Jepang masih terbuka?”

Appa yang sedang berada di rumah terkejut mendengar pertanyaan yang begitu tiba-tiba seperti itu, “Maksudmu?”

“Aku ingin mengisi posisi tersebut.”

Tiffany menjawab dengan mantap. Daripada hatinya terus terluka melihat kebersamaan Siwon dengan yeoja chingunya lebih baik ia pergi. Ia mengalah untuk tidak akan hadir kembali dalam kehidupan namja itu.

“Aish Tiffany, kau saja baru pulang dan sekarang sudah bicara mengenai pekerjaan di tempat yang sangat jauh. Nantilah kita bicarakan itu, sekarang lebih baik kau pulang.”

“Aku serius Appa”

Ia sudah mantap dengan keputusannya yang tiba-tiba itu. Pergi jauh mungkin akan membuatnya lupa dengan sosok bernama Choi Siwon.

“Tiffany, pikiranmu masih kalut. Nanti akan kita bicarakan kemungkinan itu, setelah Appa yakin kau sudah bisa menyelesaikan masalah pribadimu. Posisi direktur di sana memang dirancang untukmu. Tapi sekarang bukan saatnya membicarakan hal tersebut. Pulanglah. Kasihan Omma yang menunggumu sejak tadi.”

“Baiklah.”

“Apa perlu Appa jemput?”

“Tidak usah.”

“Kau yakin kau baik-baik saja Tiffany. Jalanan begitu licin karena salju. Jika kau tidak yakin bisa mengendalikan mobilmu. Appa akan meminta seseorang untuk menjemputmu.”

“Tidak usah Appa, aku bisa mengemudikan mobilku walau hujan salju turun deras sekalipun. Aku hanya minta Appa memikirkan permintaanku. Rasanya bekerja di Jepang cukup mengasyikan.”

“Kau memang keras kepala, baiklah besok kita akan bicarakan mengenai hal tersebut, tapi sekali lagi Appa mohon pulanglah.”

Tiffany berdiri membersihkan kepingan salju yang menempel di mantelnya. Ia berjalan mendekati mobilnya. Dihapusnya sisa air mata yang sudah mengering di mata dan pipinya. Ia mematut diri di kaca spion, wajahnya jelek sekali. Matanya bengkak karena tidak berhenti menangis. Tapi ia  bukanlah yeoja yang lemah, ia harus kuat melawan rasa sakit dan patah hati yang melandanya. Mudah-mudahan Appa mengijinkannya untuk bekerja di Jepang. Mungkin kabur seperti ini bukanlah solusi yang tepat untuk menyembuhkan luka hatinya. Tapi ia tidak memiliki pilihan lain. Hidup di Korea akan membuatnya terkenang-kenang Siwon dengan mudah. Apalagi namja itu sering terlihat di majalah, iklah TV serta media cetak. Kemanapun mata memandang , ia tidak dapat menghindari eksistensi namja itu. Melihatnya akan membuatnya lebih sakit. Pergi adalah satu-satunya jalan terbaik. Siwon kini sudah memiliki tambatan hati dan ia memang berhak mendapatkannya. Namja itu sangat baik, beruntunglah yeoja yang memilikinya. Sambil mengemudikan mobil Tiffany tersenyum pendek, ia tidak mau menyesali pertemuannya dengan Siwon. Siwon terlalu berharga untuk dilupakan tapi ia sendiri harus menyembuhkan hatinya. Mungkin seiring waktu dan jarak yang jauh, hati ini bisa benar-benar lepas dari perasaan cinta yang sayangnya datang terlambat.

TO BE CONTINUED

Author curcol: Baiklah readers, ff ini datang dengan membawa kagalauan baru.  Song ficnya sengaja dicari yang polos biar ga ganggu konsentrasi readers saat galau 🙂 Tapi author akan sedikit memberi bocoran di ff mendatang yang merupakan final part dari Siwon The Boss. Ujung cerita ini akan membuat readers bernafas lega karena bukan sad ending seperti yang diperkirakan readers sebelumnya. Tapi happy ending dan ada marriage life-nya. Bagaimanapun ini kan love story, ga mungkinlah author tega membuat Sifany ini terpisah. Tapi mianhae jika author kesenengan membuat hati readers kebat kebit sebelum memasuki ending. Okeylah author memang sedikit kejam kepada pairing ini tapi beneran kok ga ada maksud hati ngebikin Sifany jadi hancur lebur. Kedua orang ini memiliki sifat yang cukup keras apalagi Tiffany. Jika tidak dibuat masalah, Tiffany enggak akan pernah menyadari bahwa ia mencintai Siwon. Coba cek deh setiap ada masalah, perasaan Tiffany ke Siwon selalu tumbuh walaupun sayangnya suka telat.

Gomawo sambil bowing2 buat readers yang telah mendukung ff ini sampai masuk jadi fanfiction of the week. Kalau bukan karena readers, ga mungkinlah Siwon the Boss bisa bertahan sampai sekarang. Jadi menjelang detik-detik terakhir ff ini, ditunggu banget Read, Comment, & Like-nya readers. Seperti biasa author selalu welcome dengan komen bahkan uneg-uneg dan curhatan readers. Semua yang readers tulis adalah inspirasi dan juga hiburan bagi author dalam menulis.

Gomawo juga buat readers yang udah nyempetin ikut polling kecil-kecilan author dengan pertanyaan Member Suju manakah yang love story-nya pengen diangkat setelah Siwon The Boss ini selesai? So far, the Top Three adalah Yesung, Kyuhyun, & Donghae. Ajaibnya nilai mereka selisihnya kecil dan selalu bersaing ketat. Author sampai bingung jadinya. Jadi jika ada readers yang belum ikutan polling masih berminat untuk seru-seruan di polling ini, silahkan tulis di sini ya. Apapun hasilnya, jika bias readers ga masuk sebagai pemenang jangan berkecil hati ya. Tenang aja hampir semua members akan author ceritain cuman ini masalah urutan aja. Terus kayaknya author juga harus membuat readers bersiap-siap dengan pairing mereka yang mungkin tidak sesuai dengan keinginan readers. Dalam hati ingin memuaskan semua hati readers tapi ternyata susah ya karena pairing buat Oppadeul kita ini banyak jadi author harus milih salah satu yang author anggap karakternya cukup dekat dengan karakter yang ada dalam cerita. Mianhae banget. You can ignore the casts but do not ignore my story plis plis. Janji yaaa???? *pake mata puppy eyes Sungmin. Author butuh diyakinkan nih hehehehe. Author jamin cerita mereka ga akan kalah seru dari Siwon the Boss ini.

Ok deh happy reading readers n as always I love you, saranghae, muah muah. Readers are my soul.

309 responses to “SUPER JUNIOR RADIO LOVE STORIES: SIWON THE BOSS (PART 12)

  1. wah… sukses skali buat hati reader kobat-kabit tor,… hhehehe
    gila….. kyuhyun ma donghae bkin terharu… emg sperti itulah kebersamaan suju baik di dunia nyata … 😀

  2. author bikin ff daebak lah. mempermainkan hati dan perasaan saya sbg reader.
    ini buat tiff yg jd cast d ff ini
    “sukurin yah tiff! kemakan omongan sendiri!!! nolak mentah2 siwon. emangnya kamu punya hak apa atas siwon? siapa yg mau di PHP tiff. kamu ngerasa kehilangan siwon tp ga mau diajak nikah? hubungan tanpa status? egois tauk!!”

    buat siwon
    oppa, kamu keliatan bego banget di chapter ini. asli deh.

    hahahaha #setelah ini dirajam author#

  3. Aihh,,sok jual mhal fany nya..da kjdian gni ja bru sdar klw dia cnta ma siwon..hadehh..complicated bnget..
    Mlah dia mw prgi ke jepang lgi..
    Jngan kbur fany,,prsoalan klian msih bsa dslesaikan kok..
    Ksian siwonnya klw kmu tnggal dianya..da ckup drmu mnlak lmrannya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s