A Back To Sleep Tight [Chapter 3]

Title : A Back To Sleep Tight

Nama Author : Kinta-chan (@Sheeranoed)

Main Cast : Lee Jinki (25 yo), Jung Re Na (22 yo), Lee Taemin (23 yo)

Other Cast : Jung Yonghwa(25 yo), Lee Hyuk Jae (27 yo), Han Chae Rim (22 yo)

Length : Chapter

Genre : Romance, Marriage Life, Angst

Rating : PG +15

Disclaimer : Ide dan alur cerita hasil pemikiran saya selama berhari-hari bahkan di sela-sela ngerjain soal UAS #LOL. Semua castnya terserah milik siapa saja. Dan jika anda menemukan kesamaan alur yang benar-benar mirip dengan FF saya mohon complain via twitter (@Sheeranoed), karena saya tidak merasa pernah meng-copypaste ide siapapun.

Sebelumnya aku say thanks banget kepada temanku tercinta @rahmassaseol yang udah buatin poster sama nebengin akunnya di FFIndo,  Luv ya full deh #cium pipi kiri kanan. Jasamu tidak akan terlupakan.

Your comment is my oxygen. Without your comment I’m still alive but I’m barely breathing. Haha #LOL. Okay, just read it and give your responses. –KintaChan- (95liner).

[Chapter 1] [Chapter 2]

~A Back To Sleep Tight [Chapter 3]~

Give Me The Strength to Make It Through

 

“Taemin~ah…” racau Re Na disela-sela ciumannya dengan Jinki. Semua nafsu, kerinduan dan kenikmatan yang tengah dirasakan Jinki seakan terhenti seolah ia membutuhkan alat pacu jantung untuk membuatnya percaya bahwa bukan namanya yang disebut. Tetapi nama seorang yang menyakiti hati gadis pujaannya. Nama yang membuat gadis itu frustasi dan menariknya dalam kehidupan gadis tersebut. Bahkan obat perangsang nomor satu pun tidak mampu memacu nafsunya kembali jika Re Na menyebutkan nama Taemin disaat mereka bercinta. Terlalu menyakitkan.

Jinki yang semula hendak mengangkat kaus tanpa lengan milik Re Na, kini menurunkannya lagi. Lalu ia mengambil selimut dan dibungkusnya tubuh Re Na. Re Na yang semula menutup matanya kini membuka kedua kelopak matanya perlahan, mengerjap-kerjap seakan tidak tahu apa alasan terbesar Jinki menghentikan aktifitasnya. “Kau cukup lelah hari ini. Tidurlah.” Re Na mengangguk tanda mengerti. Ia seakan masih belum seutuhnya sadar akan apa yang terjadi. Bahkan ia pun tidak sadar bahwa ia mengucapkan nama orang lain saat ia akan bercinta dengan suaminya.

Sesaat kemudian terdengar gesekan pintu, sebelum Jinki melangkahkan kakinya keluar ia masih sempat melongokkan kepalanya ke arah Re Na. “Kau bisa tidur tanpa aku –lebih tepatnya punggungku- kan? Aku ingin keluar rumah dulu, di kamar sangat gerah.” Raut muka Jinki tidak dapat tergambarkan, seakan marah, kecewa, frustasi dan menyerah tercampur baur dalam mimik wajahnya. Gesture tubuhnya pun menandakan hal serupa. Tapi matanya yang tak mampu berbohong, terlihat jelas sekali bahwa ia kecewa. Ia patah hati.

Malam terasa begitu lambat bagi Jinki. Bulan dan bintang masih dengan tenangnya bergelantung di langit hitam. Banyak manusia yang menengadah hanya sekedar untuk memuji keindahan angkasa malam yang diciptakan oleh Penciptanya. Salah satu manusia itu adalah Jinki, tapi ia menengadah bukan untuk menikmati keindahan malam yang semakin larut semakin bekerlap-kerlip dengan cahaya bintang. Melainkan ia menengadah seolah mengadu kepada Tuhan akan nasibnya dan jalan hidupnya yang ia sendiri tidak mengerti bagaimana akhir dari kisah hidup dan perjuangannya.

“Kuharap dia bisa mencintaiku sebagaimana aku mencintainya saat ini,” ucapnya lirih. Jinki memutuskan akan tetap bertahan dengan puluhan jahitan dihatinya sekalipun. Ia sudah memutuskan untuk hadir di kehidupan Re Na. Itu berarti ia juga akan memperkokoh benteng pertahanan dari segala serangan yang siap menggempur kekuatan cintanya. Meskipun ia juga menyadari bahwa di awal pernikahan saja sudah terjadi hal-hal yang tidak diinginkannya seperti ini.

 (︶︹︺) (︶︿︶)

Sebelum ayam-ayam jantan peliharaan halmeoni berkokok, Re Na sudah terbangun dari tidur terjaganya. Semalam ia tak sepenuhnya tertidur lelap, selain karena syndrome aneh miliknya ia juga cemas menunggu kedatangan Jinki yang sampai sekarang pun tidak ada gelagat untuk menapakkan kaki ke dalam kamar. Ia merenung sekian lama sampai akhirnya ia menemukan jawabannya. Satu kata kecil yang bermakna dalam. Bukan kata tepatnya tetapi sebuah nama.

Ia merutuki kebodohan terbesarnya terutama kelambatan otaknya dalam memutar kembali memori yang baru saja dilaluinya. Ia kembali mengenakan piyamanya yang tergeletak di pinggir meja penghangat. Digesernya pintu itu dengan pelan takut jika suara deritannya akan membangunkan seisi rumah. Ia tak mungkin mencari di setiap kamar, karena masing-masing kamar mempunyai penghuni tetapnya. Dengan langkah berjingkat Re Na menghampiri ruang tamu.

Mianhae…” Re Na berujar lirih, sangat lirih seolah berbisik. Dilihatnya Jinki yang meringkuk seperti anak anjing di atas sofa ruang tamu dengan bantal kedua telapak tangannya. Guratan wajah yang lembut itu terlihat lelah. Re Na melangkahkan kembali kedua kakinya menuju kamar dengan membawa perasaan bersalah. Dibawanya selimut warna putih yang seperti selimut hotel kebanyakan ke ruang tamu dan ditutuplah tubuh Jinki. Re Na akan menganggap semuanya tidak akan pernah terjadi. Ia lebih baik pura-pura tidak ingat daripada minta maaf tetapi malah membuka kembali luka yang ditorehkannya ke ulu hati Jinki.

Angkasa telah berwarna jingga, menghapuskan kelam langit malam dan melenyapkan cahaya bintang. Disini Re Na berdiri dibalut piyama panjang bergambar Pororonya. Ia menikmati matahari terbit yang beriringan dengan kicau burung dan ayam yang mulai berkoceh. Ia tetap bertahan diantara barisan padi yang mulai mencokolkan bulir-bulirnya. Jinki melihat dari jauh tingkah gadis itu kemudian tersenyum samar. Entah tersenyum getir atau lega.

“Sedang apa kau disini?” gadis yang diajak bicaranya pun langsung menoleh kaget. Dia terkesiap atas kedatangan Jinki.

“Sedang menunggu suamiku untuk menghampiriku,” ujra Re Na dengan wajah yang berseri-seri. Ia lega akhirnya Jinki tidak apa-apa, meskipun ia tahu Jinki berusaha keras untuk mengumpulkan satu persatu puzzle dihatinya. Jinki tertawa pelan, dirangkulnyanya bahu gadis itu kemudian diacak-acaknya rambut di ubun-ubun Re Na yang memang sudah berantakan. Sekarang bukan waktunya untuk bersedih, semua bisa dirubahnya sebelum takdir berkata lain.

 (︶︹︺) (︶︿︶)

Dua hari berjalan begitu cepat seakan ada seseorang yang sengaja memutar jarum jam melebihi dari temponya. Sekarang waktunya dua sejoli untuk pulang ke Seoul. Meninggalkan halmeoni, ayam-ayam di peternakan, desa Jangho dengan segala keindahan alamnya dan tentu mereka juga berharap meninggalkan luka hati mereka disini dan kembali ke Seoul dengan cinta yang akan bersemi.

“Kalian hati-hati ya… jadilah keluarga yang bahagia. Berikan Halmeonimu ini cicit, sampaikan juga ini kepada Hyungmu. Kalian perlu bersiap-siap untuk menghadapi rintangan di tengah-tengah rumah tangga kalian berdua, bersikaplah bijak dalam mengambil keputusan. Sekarang kalian sudah terikat, jangan ada yang disembunyikan. Ungkapkanlah semuanya agara tidak ada kebohongan dan kesakitan. Halmoeni berharap banyak kepada kalian, karena umur kalian masih sangat muda. Terkadang anak muda terlalu labil dan tidak bijak dalam menghadapi masalah yang kecil,” nasehat Halmeoni panjang lebar tetapi Jinki dan Re Na mendengarkan nasehat itu dengan seksama. Memahami kata per kata sebagai bekal untuk kehidupan mereka kelak.

Empat jam perjalanan harus mereka tempuh untuk menapakkan kaki kembali ke Seoul. Kepadatan jalan yang diisi oleh ratusan kendaraan yang melintas tiap menitnya. Gedung-gedung tinggi dengan segala aktivitasnya masih tetap berdiri kokoh. Mereka akan menuju apartemen Jinki yang sebelumnya memang telah dihuni dan dibelinya dari jirih payahnya menjadi serang dokter hewan.

Re Na memang pernah berkunjung ke apartemen Jinki sekali atau dua kali. Tapi ketika ia memasukinya ia masih terbengong-bengong dengan mata yang menelanjangi setiap sudut apartemen. “Aku ragu jika aku pernah kesini sebelumnya. Bolehkah aku berkeliling?” Jinki hanya menjawab dengan senyuman karena ia tahu bahwa Re Na bukan meminta ijin tetapi memberitahunya jika ia akan mengunjungi setiap sudut apartemen.

Sebuah apartemen yang tidak begitu luas tetapi modern dan simple. Dengan du kamar tidur, satu kamar mandi lengkap dengan dapur, ruang tengah, ruang kerja dan ruang tamu. Dindingnya ditempeli wallpaper yang bernuansa elegan dengan warna abu-abu dan cokelat muda dengan aksen garis melengkung yang melintas tidak beraturan tetapi rapi dan indah. Hampir semua perabotannya juga berwarna serupa, antara hitam, abu-abu, cokelat cerah, dan cokelat kehitaman. Yang paling membuat Re Na berkesan adalah tirai besar dihadapannya, menjuntai dari langit-langit hingga jatuh ke lantai. Disibakkannya tirai tersebut dengan cukup tenaga. Wajahnya langsung kaku, rahangnya mengeras, dan mata bulatnya kian melebar. Seperti disihir, Re Na hanya bisa diam dan menyesal.

Mengapa ia bau mengetahuinya sekarang? Mengetahui bahwa rumah Jinki sangatlah indah baginya. Tirai itu ternyata menyembunyikan kaca tembus pandang yang seukuran dengan tirai tersebut. Disanalah Re Na dapat melihat kehidupan dibawahnya, gedung-gedung tinggi pencakar langit yang terlihat kecil di matanya. Bahkan matahari yang kian merendah pun dilihatnya dengan gamblang memancarkan cahaya jingga yang menerpa wajahnya. “Astaga…aku rasa aku akan betah tinggal disini.”

Re Na melangkahkan kakinya ke dalam kamar. Ada dua kamar tidur di apatemen ini, tetapi hanya ada satu tempat tidur king size di salah satu kamar. Dan kamar yang satu lagi masih kosong tanpa ada perabotan. Kening Re Na mengerut saat melihat ruangan kosong dihadapannya. Disebut gudang juga bukan disebut kamar juga bukan. Lalu ia membalikkan badan menuju kamar mandi.

Sebuah ruangan kecil yang berukuran setengah dari ukuran kamar berdinding keramik warna biru dengan garis putih bergelombang seperti aliran sungai kecil yang sempat ia kunjungi di desa Jangho. Mata Re Na memandang was-was terhadap tirai yang juga cukup besar yang ada di hadapannya. Kali ini ia berharap bukan kaca tembus pandang lagi karena jelas-jelas ini adalah kamar mandi. Ia lebih berharap Jinki menyediakan bath up ataupun kloset cadangan di balik tirai itu. “Aaaaaaaaaaa!!!!” jeritan Re Na menggema di kamar mandi dan membuat Jinki cepat berlari ke arahnya.

“Oppa…Oppa…” ucapnya dengan tangan yang menunjuk-tunjuk sebidang kaca besar dihadapannya. “Wae Re Na?! Ada apa dengan kaca itu?” ucap Jinki tidak mengerti. Nafas Re Na masih terburu-buru, dadanya naik turung saking kagetnya. Ia memejamkan matanya sejenak, merilekskan kembali pikiran-pikiran buruk yang ada di dalam lengkungan-lengkungan otaknya. Jinki memegang bahu Re Na takut kalau gadis itu akan merosot dan tidak kuat lagi menahan tubuh mungilnya.

Beberapa detik kemudian Re Na membuka matanya kembali, diambilnya nafas yang panjang. “Oppa…katakana padaku bahwa kau tidak memiliki kelainan kejiwaan. Maksudku kau tidak memiliki keanehan pada psikologimu kan?” Jinki tertegun mendengar ucapan Re Na. Ia menelan ludah yang menyebabkan jakunnya naik turun. Keringat dingin mulai merembes di pelipisnya. Ia tidak tahu harus berkata apa. Karena memang itu kenyatannya, jiwanya memang dihantui.

Oppa…kau bukan seorang yang suka menujukkan seluruh tubuhmu kepada semua orang kan?” tanyanya dengan nada yang penuh penekanan. Seketika Jinki mengambil nafas lega da meregangkan kembali otot-ototnya yang sempat menegang. “hhhhh…Kau ini!” Jinki memukul pucuk kepala Re Na pelan.”Tentu saja tidak, bodoh! Kau pikir suamimu ini seburuk itu?! Kau terlalu banyak melihat drama yang tayang setiap sore.”

Re Na menajamkan tatapannya kepada Jinki tanda protes. “Lalu, kenapa ada kaca sebesar ini di kamar mandi? Untuk apa? Kalau di ruang tengah tadi memang membuatku kagum oppa… tapi kalau di kamar mandi?” Re Na mendesah pelan. Jinki mengulurkan tangannya ke belakang, ia mulai meremas-remas ujung kausnya gelisah. Apa ia harus mengatakannya sekarang juga? Sebelum semua ini akan berbuntut panjang. Bukankah di dalam pernikahan tidak boleh ada satupun dusta?

“I’m a claustrophobian.”

Re Na langsung membrondong Jinki dengan pertanyaan-petanyaan dengan nada seakan ia  butuh diyakinkan. “Ne?!  Kau seperti Hyun Bin di drama Secret Garden? Itukah alasanmu memakai motor kemana pun selama kau bisa? Kau tidak pernah memberitahuku tentang itu sebelumnya sebagai seorang teman. Dan…itulah alasan mengapa kau menyewa mobil pernikahan dengan kaca tembus pandang dan membuka jendelanya lebar-lebar?”

Jinki mengangguk lemah. Ia yakin Re Na pasti kecewa karena memiliki seorang suami yang tidak bisa melindunginya setiap waktu. Penyakitnya ini memang tidak parah, ia mampu menaiki lift tetapi tidak lebih dari tiga menit. Ia masih mampu menumpang pesawat asalkan ia harus dekat dengan jendela. Tetapi ia takut menyelam, takut akan sesuatu mengepung tubuhnya yang mengaburkan jarak pandangnya. Banyak yang psikiater yang awalnya menyangka Jinki bukan seorang claustrophobian tetapi seorang yang fobia terhadap kegelapan atau kedalaman misalnya. Tetapi hipotesis mereka tidak kuat dan menetapkan Jinki sebagai seorang claustrophobian.

Gomawo Oppa… kau telah jujur padaku meskipun sedikit terlambat. Belikan aku sebuah helm karena pastinya setiap pagi aku akan bertengger di jok belakang motormu itu.” Re Na mengerucutkan bibirnya seolah-olah ia kesal kepada suaminya. Seketika Jinki membelalakkan matanya tak percaya. Ia kira Re Na akan kecewa tapi justru ekspresi itu sama sekali tidak terpancar di matanya. Jinki merentangkan kedua tangannya siap untuk mendekap istrinya. Kemudian dengan senang hati sang istri masuk ke dalam dekapannya. Sebuah kejujuran sudah cukup dan aku akan menerimamu apa adanya Oppa. Hanya tinggal bagaimana hati ini memilih dan dipilih, ucap Re Na tulus dalam hati.

(︶︹︺) (︶︿︶)

Jalanan kota Seoul begitu padat saat jam makan siang. Para manusia yang sekian lama telah bertahan di bawah atap gedung perusahaan mereka, kini telah turun ke jalan untuk memuaskan perut mereka. Mereka melangkahkan kaki dengan cepat seakan-akan tidak ingin terkejar oleh waktu yang berputar tanpa henti.

Re Na beruntung perusahaan yang dinaunginya mengatur jadwal makan siang lebih awal dari perusahaan yang lain. Sehingga para karyawannya tidak perlu mengantri untuk memesan makanan dan berdesakan mencari tempat duduk. Ketika beberapa orang telah memasuki restoran yang ia singgahi, ia malah melangkahkan kakinya keluar dengan kondisi perut yang tak lagi memprihatinkan.

Jam tangan analog miliknya tengah menunjukkan pukul satu lebih tujuh menit, itu berarti ia mempunyai waktu delapan menit lagi untuk sampai ke kantornya. Ia terpaksa harus mempercepat langkahnya meskipun sepatu high heels sepuluh sentinya seakan tidak mampu seimbang menahan tubuhnya. Dan ketika tubuhmu tak seimbang maka satu sentuhan saja membuatmu goyah. “Ugh…” rintih Re Na. Ia tidak sampai terjatuh karena tangannya dengan sigap mencengkram batang pohon yang ada di tengah trotoar jalan.

Gwenchana?” Tanya seorang lelaki yang tidak sengaja menyenggolnya hingga membuatnya hampir terjatuh.

N..ne…” Re Na menggoyang-goyangkan heels sepatunya, takut jika heels tersebut tiba-tiba patah karena insiden kecil ini. “Taemin-ssi…” pekiknya tertahan sesaat setelah ia mendongakkan kepalanya kepada sumber suara yang tengah mengajaknya bicara. Wajah itu muncul tepat dihadapannya. Wajah yang sudah dua tahun dirindukannya.

“Ah…Re Na~ya. Lama tidak bertemu.” Taemin berhenti sesaat memandang jari tangan Re Na yang telah disemati oleh cincin pernikahannya. “Selamat atas pernikahanmu dengan Jinki Hyung,” ucap Taemin sedikit gugup. Gelagatnya menunjukkan bahwa ia juga ikut terkejut dengan siapa yang ditemuinya sekarang. Tangannya menggaruk-garuk tengkuk lehernya yang sama sekali tidak gatal.

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Re Na. Taemin menaikkan salah satu alisnya dan mengatupkan bibirnya. “Pernikahan?” lanjut Re Na yang membuat Taemin mengerti kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Han Chae Rim.”

“Ah…dari dia rupanya. Sayangnya dia tidak memberi tahu apa-apa tentangmu,” terdengar nada yang sinis dari ucapan yang dilontarkannya. Ia merasa dikhianati oleh kedua orang yang sangat dicintainya. Taemin mengerti akan hal itu, ia pernah berpacaran dengan Re Na bahkan ia juga belum putus hubungan dengan Re Na. Ia juga mengerti bagaimana cara Re Na mengekspresikan perasaannya, entah bahagia, sedih, frustasi dan lainnya.

Suasana hening sesaat, mereka seakan baru saja saling mengenal. Saling memikirkan hal apa yang ingin diucapkan untuk dijadikan sebuah pokok bahasan. “Apakah kau bahagia?” Tanya Taemin kemudian. Ia sangat berhati-hati dengan kata-katanya, terlihat dari sorotan lembut matanya yang menatap wajah gadis dihadapannya.

Re Na sadar akan tatapan itu yang membuatnya seakan tersudut. Seakan ia yang meninggalkan Taemin menikah dengan orang lain. “Bisakah kita membahasnya lain waktu?  Jam makan siangku akan berakhir tiga menit lagi.” Ia menegapkan tubuhnya seraya menepuk-tepuk rok selututnya yang tidak kotor.

“Baiklah…akan kuhubungi kau lain waktu. Kuharap kau bahagia dengannya.” Ini yang dibenci Re Na akan Taemin. Senyumannya. Senyuman Taemin memang tidak semempesona senyuman Choi Minho –salah seorang artis pujaan Re Na- tetapi senyuman Taemin mampu menggetarkan hatinya bahkan ketika hatinya sedang sekeras batu seperti saat ini.

“Setidaknya jika kita bertemu lagi, jangan kau posisikan dirimu seakan kau yang menjadi korban, Taemin-ssi.” Tidak lupa Re Na menekankan kata ‘korban’ pada ucapannya sebelum ia melangkahkan kakinya menuju ke tempatnya bekerja.

Re Na mengetuk-ketukkan jemari lentiknya di atas meja, keningnya berkerut dan pandangan matanya kosong. Ia masih berdebat dengan batinnya sendiri, bahkan sesekali ia menanyakan pada diri sendiri apa yang ditemuinya tadi adalah Taemin? Lee Taemin, orang yang selama ini ada di benaknya. Lee Taemin, orang yang berusaha untuk dibuang jauh-jauh dari pikirannya.

Re Na mengambil handphonenya dari tas dan menekan layar touchscreen tersebut. Kemudian ia menempelkan handphone tersebut ke telinganya. “Chae Rim~ah…” ucapnya kemudian setelah teleponnya terjawab oleh seseorang di seberang sana.

Wae Re Na~ya?’ suara Chae Rim menggema di balik telepon.

“Apa nanti sore kau ada di rumah?”

Ne? tentu saja aku ada di rumah. Ada apa?’

“Aku ingin berbicara sesuatu denganmu, nanti sepulang kerja aku akan berkunjung ke rumahmu,” ucap Re Na tanpa semangat.

‘Haha…aku mencium bau kebahagiaan. Apa perlu aku menyingkirkan Eunhyuk Oppa juga?’ Sebaliknya, sebenarnya dia tidak mendengar nada bahagia sama sekali dari suara Re Na. Tapi satu yang ia tahu, bahwa Re Na membutuhkannya. Tentu saja dalam urusan pribadi seperti ini ia tak membiarkan suaminya untuk lebih memperkeruh suasana hati adik ipar sekaligus sahabat karibnya itu.

“Seperti biasa, kau selalu tahu apa yang ku mau Chae Rim.” Re Na memutuskan sambungan teleponnya. Ia merosot dari kursi kerjanya seakan tulang-tulangnya telah remuk dan tidak bisa menyangga tubuhnya lagi. Ia menghembuskan nafas yang berat ketika melihat tumpukan laporan keuangan yang harus ia koreksi sekaligus ia kerjakan.

(︶︹︺) (︶︿︶)

“Dia datang lagi Chae Rim.” Re Na menyandarkan kepalanya ke sofa tanpa gairah. Bola matanya tidak tertuju kepada si lawan bicara tetapi asyik mengitari setiap dusut pandang rumah Chae Rim dan Eunhyuk.

Nuguya? Lee Taemin?” Tanpa susah payah Chae Rim dapat menebak dengan benar apa yang memenuhi benak Re Na hari ini sehingga menggiring Re Na untuk datang ke rumahnya.

Seketika Re Na menegakkan tubuhnya kemudian menatap Chae Rim tajam. “Kau…sejak kapan kau mengetahui dia ada di Seoul?” Chae Rim membulatkan matanya sesaat kemudian mendengus dan mengulas senyumannya. “Rupanya dia berbicara tentangku juga.”

“Sudahlah Chae Rim~ah. Kau tahu aku tidak suka basa-basi. Dia sudah mengetahui pernikahanku dengan Jinki Oppa. Kau yang memberitahunya kan? Kapan?” Re Na memberondong Chae Rim dengan segala tuduhan dan pertanyaan yang ditujukan kepada pemilik rumah.

“Sebulan sebelum kau menikah dengan Onew.”

“Dan kau tidak membiarkanku tahu semuanya? Hah…apa yang sebenarnya ada di benakmu Chae Rim~ah?” Re Na memutar bola matanya seakan tak percaya atas hal yang dirasa telah mengkhianati dirinya.

Mianhae Re Na~ya. Tidak seharusnya aku ikut campur dalam masalahmu. Kalau Taemin mau, dia juga pasti akan menghubungimu dan menyuruhmu untuk membatalkan semuanya. Tapi apa? Dia tidak menghubungimu saat itu. Berarti dia melepaskanmu untuk Onew. Kau mengerti?” ujar Chae Rim bijak. Tidak ada emosi dalam perkataannya, beda sekali dengan perkataan-perkataan yang dilontarkan Re Na. Tapi Chae Rim mampu memahami apa yang kini dihadapi oleh Re Na.

“Tapi setidaknya aku mempunyai pilihan saat itu. Setidaknya aku tidak melibatkan Jinki Oppa masuk dalam kehidupanku seperti saat ini,” Re Na kembali merosotkan tubuhnya dan menyenderkan kepalanya lemah.

“Hiduplah seperti kemarin. Hiduplah seakan Taemin tidak ada disini. Hiduplah seperti Taemin meninggalkanmu dua tahun lalu.”

“Hidup menyedihkan? Apa itu yang kau maksud?” Re Na mengangkat sebelah alisnya dan menatap Chae Rim sinis.

“Belumkah kau menyadarinya Re Na? Onew sangat mencintaimu, lebih lagi dia mengasihimu. Dan aku bisa menjamin bahwa itu akan terjadi selamanya. Bisakah kau menjadi Re Na yang dahulu? Ketika kau patah hati, kau menemukan lagi cinta barumu. Cinta bisa berubah Re Na dan Onew tidak sekedar mencintaimu. Dia juga mengasihimu dan rasa kasihan itu hanya diperuntukkan untukmu untuk jangka waktu yang sangat panjang. Kau tahu kan betapa beruntungnya dirimu? Kau hanya perlu menjadi gadis patah hati tanpa harapan yang kemudian menemukan lagi cintanya.”

“Dan gadis patah hati yang kau maksud telah menemukan lagi orang yang membutnya patah hati. Tidak mudah untuk melupakan orang yang menyakitinya bertahun-tahun, Chae Rim!” suara Re Na kembali meninggi tapi ia masih bisa mengontrolnya karena ia tahu bahwa Chae Rim tidak sepenuhnya salah dalam masalah ini. Dia dan Taemin lah yang menjadi tersangka atas kasus yang mereka buat.

“Kau pernah bertemu dengan mantanmu yang dahulu juga menyakitimu kan? Tapi kau membiarkannya berlalu, begitu juga yang harus kau lakukan kepada Taemin.”

“Tapi aku tidak mencintainya seperti aku mencintai Taemin. Bisakah kau mendukungku?”

“Aku selalu mendukung apa yang menjadi keputusanmu. Setidaknya aku sudah mengungkapkan apa yang menurutku benar. Keputusan ada padamu,” ucap Chae Rim menyerah. Ia tidak mau terus-menerus berdebat sedangkan hari sudah malam. Otak mereka sudah sama-sama lelah untuk dibelokkan niatannya.

“Kalau ada tiga pilihan. Taemin, Jinki dan kematian. Aku memilih kematian.”

“Jangan coba-coba kau buktikan omong kosongmu itu atau sahabatmu ini akan membencimu seumur hidup.” Chae Rim pura-pura memincingkan matanya dan menggembungkan kedua pipinya.

“Haha… kurasa aku tidak punya pilihan.” Re Na terkekeh sembari mengendikkan kedua lengannya.

(︶︹︺) (︶︿︶)

Re Na menekan tombol kode pintu apartemennya. Ketika ia masuk ke dalam ia melihat ada dua sepatu di pojok pintu. Satu milik Jinki dan satu lagi milik Eunhyuk. Eunhyuk memang sengaja mampir ke rumah Re Na karena ia diusir untuk sesaat oleh istrinya. Dan pengusiran itu juga disebabkan oleh Re Na.

Ketika pintu berderit kedua lelaki yang tengah duduk di sofa menoleh ke arahnya. “Hei. Kau sudah kembali, apakah itu berarti aku sudah boleh pulang ke rumahku dan menemui istriku tercinta?” sambut Eunhyuk tepat ketika Re Na melangkahkan kakinya ke dalam apartemen.

“Ya, Oppa. Dan itu juga berarti aku menyuruhmu angkat kaki dari apartemen kami berdua,” ucap Re Na sambil mengamit lengan Jinki. Berpura-pura mesra.

“Baiklah. Pengantin baru butuh waktu untuk mereka sendiri begitu juga aku. Aku pulang!”

“Pulanglah dan kembali saat benar-benar terpaksa.” Jinki yang sedari tadi diam saat Re Na pulang kini ikut bersuara.

“Aku menyesal mempunyai dua adik yang durhaka.” Eunhyuk memasang raut muka pura-pura melas seperti Cinderella yang disiksa oleh kedua kakak tirinya.

Jinki mengantar kepergian Hyungnya sampai di depan pintu apartemen kemudian kembali masuk ke dalam setelah ia mengunci pintu apartemen dan mengaktifkan alarm anti maling yang terpasang di balik pintu. Re Na menatap Jinki dengan tatapan merasa bersalah. Tidak membutuhkan waktu lama untuknya menghambur ke pelukan Jinki. “Oppa…mianhae…

Jinki terkesiap melihat tingkah Re Na yang tiba-tiba menangis di pelukannya. Tapi apa artinya keterkejutan itu ketika ia melihat seorang yang dicintainya sedang membutuhkan dukungannya. Ia mengelus punggung Re Na pelan. Ia merasakan kaus yang dipakainya menyerap air mata Re na yang menetes. “Wae?” tanyanya lembut.

“Bantu aku mencintaimu. Aku rasa hari-hari kita berikutnya akan lebih berat.”

 T  B  C –

Hehehe… Anyeong! Mian yah update nya lama. Soalnya sempet ga ada feel buat nulis sama frustasi dengan tulisanku sendiri yang dari waktu ke waktu tidak ada peningkatan yang berarti. Frustasi juga karena Jerman akhirnya ga bisa masuk Final Euro 2012. Dan juga frustasi sama ideku yang aku akui memang udah pasaran. Kenapa yang ada dipikiranku cuma ide yang biasa-biasa aja? ƪ‎‎(-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩__-̩̩̩-̩̩̩-̩̩̩)ʃ #curhat.

Oh, promosi boleh dong? Silahkan mampir ke WP pribadiku kintachannostory.wordpress.com. Masalah typo. I’m so sorry again, I can’t handle that.

Kinta-chan

 

 

 

Advertisements

39 responses to “A Back To Sleep Tight [Chapter 3]

  1. godaan taeminie emang susah untuk d’hindarkan jangankan manusia setan aja kalo perlu klepek2 n’liat dy senyum polos kaia gitu 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s