I’m Yellow Sanguinis

Author : misstis a.k.a Bella

Main Cast : Kang Jiyoung (Kara)

Genre : Psychology, little bit friendship, and little bit romance

Rating : PG-13

Length : Oneshot (or maybe Universe if I can publish other series)

“Aish! Kali ini jangan terlambat lagi dong!” gumamku sambil berlari-lari dengan tertatih-tatih menyusuri setiap kelas di kampus. Sekeras mungkin aku tahan perihnya luka berdarah di lututku karena terjatuh tadi. Aku tidak mempedulikan tatapan aneh orang-orang dan candaan teman yang tak sengaja aku lewati yang celetuk berkata “Telat lagi, Jiyoung?”. Yang terpenting, aku tidak boleh terlambat lagi.

Sampai di depan pintu kelas. Napasku terengah-engah karena berlari dari rumah ke sini. Apakah situasi ini akan bertambah buruk?

“Baiklah, sekarang kita akan mengulang materi blocking,” gumam ibu dosen dari dalam kelas.

Mampus! Ibu dosen udah dateng. Dan yang lebih parah lagi, dosen yang mengajar pagi ini ibu Yujin. Dosen yang terlalu “peduli” detail kesalahan mahasiswanya. Lengkap sudah penderitaan aku. Haruskah aku masuk ke dalam? Ini rasanya bagai masuk ke dalam kandang anjing galak yang siap menerkam. Ingin rasanya aku bolos saja untuk kali ini. Tapi nilaiku akhir-akhir ini benar-benar patut diwaspadai. Dan ketidak lengkapan absen akan memperparah hal itu.

Dengan ragu-ragu aku ketuk pintu dan buka pintu kelas. Jelas semua tatapan tertuju padaku. Tatapan ibu Yujin padaku bagai tatapan elang yang menemukan mangsanya. Mengerikan!

“Pagi,” sapaku pelan sambil tertunduk.

“KAMU! Telat lagi?!” bentak Ibu Yujin. GLEG! Habislah aku! Aku harus apa sekarang?

“M… ma… maaf bu,” ucapkku lirih.

“Bisanya bilang maaf mulu. Nyaris tak ada perubahan! Apa jadinya dunia kalau semua orang sepertimu?” bentak Ibu Yujin lagi. Aku tetap menunduk diam, karena memang pada dasarnya aku yang salah.

“Coba ibu tanya. Apa itu blocking?” tanya ibu Yujin mengetes. Blocking? Aduh! Apa ya? Itu materi lama. Aku udah lupa banget. Sumpah black banget gara-gara capek plus dimarah-marahin. Apa ya, blocking, blocking, blocking?

“Ayo, cepat jawab! Kenapa diam?” tanya Ibu Yujin.

“A a aku lupa, bu…” ucapku lirih.

“Lupa? Mahasiswa jurusan teater dan film lupa tentang blocking?!” seru Ibu Yujin makin gusar. Mahasiswa yang lain pun tampak berusaha keras menahan tawa.

“Coba ibu tanya yang lain. Apa itu blocking?” tanya ibu Yujin pada mahasiswa yang lain.

“Komposisi panggung!” seru mahasiswa yang lain bersamaan. Oh, iya! Kenapa aku bisa sampai lupa?

“Tuh! Denger?” seru Ibu Yujin.

“Iya bu,” seruku.

“Udah-udah cepetan duduk! Kali ini kamu nggak usah diem di luar. Bosen ibu ngurusin kamu mulu,” kata Ibu Yujin. Aku pun mengangguk kemudian melangkah pelan menuju kursi yang nan jauh di pojok sana. Tepat di samping Hara.

“Eh, Jiyoung. Udah ngerjain makalah belum?” tegur Hara.

“Hah? Makalah?! Tunggu!” seruku panik. Tadi aku memegangnya kan? Kenapa tanganku kosong. Huah! Kalau ketinggalan di bis gimana? Tuhan, semoga ada di tas. Aku mengorek-ngorek tasku dan hasilnya nihil. Tak ada di mana pun.

“Ada nggak?” tanya Hara.

“Duh, jangan-jangan ketinggalan di bis tadi,” seruku lesu.

“Wah? Terus gimana? Terakhir hari ini. Kamu nggak bakal dapet nilai lho kalau nggak ngumpulin,” ucap Hara. Kepalaku pusing. Habislah aku. Kenapa hari ini aku sial sekali? Jatuh bangun aku berjuang agar sampai tepat waktu. Sejak tadi aku harus menahan pedih di lututku yang berdarah. Hanya aku obati dengan tisu yang aku beri air minum. Itu pun setelah botol air minumku tersenggol seseorang dan membasahi bajuku. Saat sampai pun kena sembur Bu Yujin. Sekarang makalahku hilang? Rasanya udah mau nangis aku karena semua ini.

“Gimana dong?” seruku berkaca-kaca.

“Aduh, jangan nangis. Ehm… duh. Kamu coba bilang aja ke Bu Yujin. Semoga aja dia ngerti,” ucap Hara.

“Hmm… Iya deh,” ucapku berusaha yakin. Aku tarik napas dalam-dalam mencegah air mataku keluar. Kemudian dengan tangan gemetar aku mengacungkan tanganku.

“Ibu,” ucapku dengan suara gemetar.

“Ada apa lagi?” tanya Ibu Yujin agak sumringah. Membuat ledakan adrenalin dalam tubuhku.

“Makalah saya ketinggalan di bis, bu,” ucapku dengan takut-takut.

“APA?” seru Ibu Yujin. DEGDEGDEG!!! Aku mati aku mati aku MATI! Jahat sekali teman-teman malah ingin menertawakanku. Tidak tahu apa, air mata sudah keluar dari mataku. Hiks! Semua jahat!

“JIYOOOOOUUUNNG!!!”

“Auw! Sssshh…” Aku meringgis sendiri saat membersihkan luka di lututku dengan air dari keran di taman kampus. Lukanya parah sekali. Pedihnya kerasa banget. Kira-kira aku butuh dua plester luka ukuran besar untuk menutupinya. Setelah bersih, aku lap lukaku dengan tisu sambil meniup-niupnya untuk menahan pedih. Aku plester lukaku dengan hati-hati. Ups, agak miring dan ada lipatan di plesternya. Hu’ uh! Salah lagi. Ya sudahlah tak apa. Paling tidak lukanya tertutup.

Aku pun berdiri dan berjalan pelan tak tentu arah. Ngomong-ngomong soal makalah tadi, setelah mendengar penjelasanku, Ibu Yujin akhirnya memberikanku keringanan. Dia memperbolehkanku mengumpulkan makalah besok, TAPI! Aku harus bikin dua. Buset dah. Makalahku tebal banget. Makan biaya banget. Itu berarti aku harus memotong uang makanku. Aish! Tidak mau! Masa aku harus ambil tabunganku yang jelas sudah menipis itu. Gara-gara selalu ada saja godaanku untuk belanja.

Salah aku juga sih. Aku baru benar-benar menyelesaikan makalahnya tadi malam. Aku begadang sampai jam 2 pagi. Padahal ada kelas pagi dengan Ibu Yujin. Tugas itu pun sudah ada sejak dua minggu lalu. Tapi tetap saja kan…

“Hu’ uh! Sebal!” gerutuku sambil menendang batu yang ada di hadapanku sekuat tenaga. Setelah ini, apa hari sialku akan makin panjang.

“Aduh! Siapa yang ngelemparin aku batu?!!” jerit Sooyoung dari kejauhan. Tunggu, batu? Jangan-jangan!

Omo!” seruku kaget. Uaaa! Batu yang aku tendang tadi malah kena kepala Sooyoung. Dan LUKA! ANDWAE!!! Aku langsung berlari menghampirinya yang tengah bersama Kyuhyun sahabatnya.

“Yaaaaa!! Jiyoung! Emang aku dosa apa sama kamu, hah?!” seru Sooyoung kesal.

“Aduh, maaf. Sumpah, tadi itu nggak sengaja,” ucapku.

“Huh! Kamu cari masalah sama aku ya! Untung batu kecil. Kalau batu gede, kamu mau tanggung jawab kalau aku gegar otak? Tapi gara-gara kamu, aku nggak bakal bisa ikut pemotretan dengan dahi terluka. Aaarr!” bentak Sooyoung sambil mencekik leherku.

“Ma—maafkan aku Sooyoung. Akh! Sungguh, a—aku nggak sengaja. Ntar aku kasih kamu uang buat ganti rugi deh,” seruku sedang napas terputus-putus.

“Aku nggak butuh uang kamu! Aku cuman butuh dahi aku mulus lagi!”

“Akh! Le—lepas!” seruku saat mengeraskan cekikannya.

“Hentikan Sooyoung. Jiyoung tidak sengaja. Dia tidak akan mengulanginya lagi. Betul kan?” bela Kyuhyun.

“Tapi dahiku tidak akan mulus semudah itu!” seru Sooyoung geram.

“Sudah, begini. Ayahku tahu produk yang paling bagus untuk menghilangkan lukamu itu. Dia pasti akan senang hati membantumu,” ucap Kyuhyun.

“Kamu yakin?” tanya Sooyoung mulai melunak.

“Yakin sekali. Aku ingat ayah pernah menceritakan. Sekarang lepaskan Jiyoung ya,” ucap Kyuhyun. Setelah menatap tajam ke arahku, Sooyoung pun melepas cekikannya. Udara langsung mengalir lancar ke paru-paruku.

“Awas kalau sampai macam-macam sama aku lagi!” ancam Sooyoung. Aku cepat-cepat mengangguk karena sedikit takut. “Kyu, antar aku ke UKS ya. Duh, sakit banget nih,” rintih Sooyoung. Kyuhyun pun mengangguk dan ia sedikit menuntun Sooyoung. Sebelum pergi, Kyuhyun menoleh ke arahku untuk berbisik.

“Maaf untuk yang tadi,” bisik Kyuhyun. Aku langsung bisa tersenyum karenanya. Kyuhyun oppa itu baik sekali ya orangnya. Aku pun menjawabnya dengan membungkuk sedalam mungkin tanda berterima kasih.

Aku kembali tercenung. Ada apa sih dengan hari ini? Bukan! Ada apa sih denganku?? Kenapa apa yang aku lakukan selalu salah? Sekali pun Sooyoung pemarah, tapi aku iri padanya. Dia model yang luar biasa. Cantik, ambisius, tekun, disiplin, pemimpin yang baik, bertanggung jawab, dan bisa fokus pada impiannya. Aku? Antusiasmeku hanya mampu bertahan di awal. Tekun dan disiplin? Kenapa hal itu terasa begitu berat untukku? Fokus? Terlalu banyak hal yang ingin aku lakukan sampai aku tidak mampu memprioritaskannya. Memimpin? Yang ada aku malah berlari jika tekanan muncul. Bertanggung jawab? Itu hanya tampang luar dari diriku.

Aku pun iri pada sahabatnya, Kyuhyun. Pria yang baik, peduli, sabar, dan peka. Berbeda dengan aku yang tidak sabaran, egois, dan tidak peka. Lihatlah betapa baiknya dia. Dan bahkan dia bersahabat baik dengan Sooyoung.

Bicara soal sahabat, sebenarnya—aku tidak punya sahabat yang benar-benar dekat. Semua orang aku anggap teman dan sahabat. Tapi tidak ada dalam hidupku sahabat yang seperti Kyuhyun dan Sooyoung. Yang benar-benar khusus. Beruntung sekali mereka. Aku hanya dikelilingi banyak teman yang egois. Bukan the real friendship. Hingga terkadang aku merasa kesepian.

Sekarang pun aku merasa kesepian. Tidak ada yang mempedulikanku. Jahat, padahal aku selalu berusaha membuat orang lain ceria. Mungkin terdengar sombong. Tapi kenapa mereka sendiri tidak membalasku? Memangnya menjadi tampak ceria setiap saat itu mudah? Tidak juga. Aku sama seperti mahasiswa lain. Sibuk, stress, dan kelelahan.

Capek juga berdebat dengan diri sendiri. Hmmm… aku ada kelas sekitar lima jam lagi. Masih lama, hanya saja aku malas pulang. Aku pun memilih ke perpustakaan. Berharap saja ada buku bagus yang bisa aku baca di sana.

Sampai di perpustakaan, aku malah mencari-cari di bagian psikologi. Yeah, secara teknis aku bukan hanya tertarik pada teater. Aku tertarik pada banyak hal. Salah satunya psikologi. Jadi tidak heran jika aku mencari buku jenis itu. Yaah… siapa tahu ada buku baru yang bagus dan cocok untukku.

Saat mencari, tanpa sengaja aku menyenggol sebuah kursi yang sedang diduduki seseorang. Ah, aku kenal orang ini. Lee Jinki. Mahasiswa jurusan arsitektur. Pria pendiam. Nampaknya dia tidak menyadari kedatanganku. Iseng-iseng aku melihat buku yang ia baca. Aku bisa melihat kalimat Ungu Melankolis yang Sempurna di bagian judul halaman tersebut. Aku yang sudah keburu penasaran pun bertanya padanya.

“Eh, Jinki. Baca buku apaan sih?” tegurku. Jinki sesaat kaget kemudian menoleh ke arahku dengan kikuk. Namun kemudian dia kendalikan dirinya dan menunjukan judul bukunya. Di mana tertulis Empat Jenis Kepribadian Manusia.

“Wah, aku boleh baca nggak?” seruku antusias. Tanpa ucapan dan ekspresi yang jelas, Jinki pun memberikan buku itu. Aku langsung membuka di bagian pertama. Bab awal berjudul Kuning Sanguinis yang Populer. Aku baca mengenai ulasannya. Diceritakan kepribadian sanguinis adalah pribadi yang antusias, suka bicara, ingin diperhatikan, agresif, optimis, mudah berteman, suka berbagi, tulus dan tidak pendendam seperti anak kecil. Sesaat aku tersenyum kecil membacanya. Benar-benar seperti diriku. Namun tiba-tiba senyumku menghilang melihat rentetan kelemahan sanguinis. Tidak bisa diam, bicara dan tertawa terlalu keras, mudah dikendalikan, boros, punya banya bakat tapi hanya dipermukaan, bosanan, labil, sering meminta persetujuan, senang berdalih, susah untuk teratur atau rapi, kerja setengah-setengah, egois, dan pelupa.

Aku membuka bab berikutnya yang tadi Jinki buka tentang melankolis. Dan ternyata hal yang tertulis jauh terbalik dengan sanguinis. Melankolis itu teratur, rajin, peka, rela berkorban, menyukai perkejaan di belakang panggung, mau bekerja keras bahkan mengabaikan kesenangannya, artistik, tekun, teliti, perfeksionis, mau mendengar keluhan, bekerja sampai tuntas, hemat, dan berhati-hati. Kekurangannya hanya dari segi mudah tersinggung, pendendam, dan pesimis. Pantas melankolis disebut ‘sempurna’. Aku melihat ke arah Jinki.

“Kau… tergolong orang melankolis ya?” tanyaku. Jinki sedikit heran, namun akhirnya dia mengangguk. Aku pun tersenyum kecut. “Kamu beruntung terlahir menjadi orang melankolis, Jinki,” ucapkku ketir. Sifat sanguinisku yang ‘terlalu mudah berteman’ kembali kambuh. Kalau tidak, mana mungkin aku berani tiba-tiba bertanya pada orang yang tidak dekat denganku.

Jinki menatapku seolah bertanya “kenapa?”. Aku lihat dia sejenak untuk berbicara.

“Orang sanguinis terlahir tanpa bakat yang berguna untuk hidupnya,” ucapku lirih. Jinki menatapku, memberi pesan “itu tidak benar!”.

“Semua orang terlahir dengan bakat,” ucap Jinki. Pelan namun berwibawa. Dan merdu. Berbeda sekali dengan aku. Jarang sekali aku bisa mendengar suaranya.

“Ya,hanya berbakat menjadi seperti anak kecil. Tapi dalam keseharian tidak bisa mengurusi diri sendiri. Padahal kan hidup ini bukan berisi bermain dan kesenangan saja bukan?” ucapku. Jinki terdiam. Tidak berani menyetujui atau tidak. “Boleh aku sedikit curhat padamu? Hampir tiap hari orang tuaku marah padaku karena aku ini serba tidak teratur. Jam kerja buruk, sulit menentukan prioritas, dan berantakan. Pokoknya bukan perempuan banget. Aku pun sendiri pengen berubah. Hanya saja, memang itu terlalu sulit. Aku pun sering mengandai-andai dalam hati andai saja aku jadi orang berkepribadian baik,” curhatku. Aku tersenyum sendiri. Hebat, satu lagi orang yang aku jadikan tempat curhat. Satu lagi kebiasaanku aku bisa menjadikan siapa pun tempat curhat. Sampai tidak jarang rahasiaku ketahuan. Menyebalkan sekali bukan? Sudah diberi kepercayaan malah dikhianati.

“Ya, tapi aku tetap harus berusaha berubah. Aku pasti bisa. Hmm… oh ya! Terima kasih sudah mendengarkan curhatanku ya,” ucapku. Aku membungkuk dan mengembalikan buku tersebut pada Jinki sebentar, kemudian aku melangkah pergi.

“Tunggu!” ucap Jinki. Eh? Dia memanggilku? Aku pun berbalik. Jinki berdiri dari kursi kemudian dia menyodorkan buku tadi.

“Jinki?”

“Kamu lebih membutuhkannya,” ucapnya. Huah! Jinki! Dia keren sekali! Orang-orang melankolis itu memang hebat ya. Aku pun tersenyum dan menerima buku itu.

“Terima kasih,” ucapku ramah. Baru setelah itu aku pergi keluar. Aku berjalan tak tentu arah sambil membaca buku itu. Hatiku masih juga sulit ditenangkan setiap membaca hal-hal tentang sanguinis yang ‘aku banget’.

Tuhan! Kenapa kau membuat aku terlahir sanguinis? Kau ingin aku tersiksa karena sulit mengurusi diri sendiri? Jika harapan bisa kau berikan padaku, aku ingin tiba-tiba aku koma selama beberapa waktu. Biarkan selama waktu itu, aku ingin orang-orang mencemaskanku. Berharap orang-orang merasa kehilangan diriku agar aku merasa diriku berharga. Hingga hidupku perlahan membaik karenanya.

CKKIIIIIIITTTT!!!

“KYAAAA…!!!”

BRUUKK

Halo…halooo… Ada orang di sana? Di sini sangat gelap. Aku tidak bisa melihat apa pun di sini. Aku di mana? Kenapa aku sendirian?

TLING

“Kang Jiyoung…”

“Siapa itu?” Aku melihat sebutir cahaya mendekatiku.

“Jangan takut. Aku adalah hati nuranimu,” ucap suara yang berasal dari cahaya itu.

“Nuraniku?”

“Bisikan dasar dari Tuhan dalam dirimu.”

“Aku tidak mengerti. Apa aku sudah mati?”

“Tidak.Kau hanya sedang tertidur. Tuhan mengutusku kea lam mimpimu. Nah, aku akan tunjukan sesuatu padamu.”

FIIIUUUUHSS

Tempat itu seketika terang. Kemudian aku berada di suatu tempat.Tempat yang begitu gersang dan hancur. Nampak seperti habis berperang.

“Apa yang terjadi di sini?” seruku.

“Kehancuran umat manusia,” ucap cahaya itu datar.

“Apa? Tapi, kenapa?” seruku tak percaya.

“Dendam, kekakuan, keserakahan, kesedihan, dan hilangnya fase anak-anak dalam hidup yang membuat semua ini terjadi.”

“Ta—tapi bagaimana bisa? Tidak semua manusia seperti itu kan?”

“Semua ini pasti terjadi jika…”

“Jika apa?” Aku mulai tak sabar.

“Kau ingin tahu sebabnya?”

“Iya tentu saja!”

“Karena manusia kehilangan orang-orang sepertimu.” Mulutku terkatup. Hah?

“Maksudmu?”

“Ikut aku!” Cahaya itu membimbing ku ke suatu tempat. “Manusia di sini begitu kikir. Tak ingin saling berbagi. Hingga akhirnya semua diperebutkan dan dimonopoli. Semua senang menyimpan dendam, hingga yang terjadi hanya saling membalas. Tak adanya saling percaya, membuat mereka terlalu curiga. Dan anak-anak…” Cahaya itu pergi ke sebuah rumah. Aku masuki rumah itu dan aku terkejut akan apa yang aku lihat. Di mana seorang anak kecil tidur sambil memeluk senapan berukuran besar.

“Anak-anak kehilangan masa kecil mereka. Hanya tahu tentang peperangan,” ucap cahaya itu.

“Bohong. Ini tidak mungkin terjadi. Tidak, aku tahu aku ini tidak…”

“Jangan munafik akan dirimu sendiri,” ucap cahaya itu lembut. “Aku adalah hati nuranimu. Aku tahu kau setuju akan hal ini. Jiyoung sayang, orang sepertimu sangat berguna di dunia ini.”

“Tapi…”

“Waktunya sudah habis. Aku harus pergi.” Sebutir cahaya itu pergi meninggalkanku.

“Tunggu, hati nurani. Jangan pergi. Aku tidak ingin di sini sendirian. Bawa aku kembali.”

Gelap

Tidak! Bawa aku kembali! Bawa aku kembali. Bawa aku kembali…

Tut tut tut tut tut

Gelap. Gelap yang berbeda. Gelap yang diakibatkan terpejamnya mataku. Aku buka perlahan mataku. Bulir-bulir cahaya mengelitik mataku. Pelan-pelan aku buka mataku. Lebih lebarku buka mata hingga akhirnya aku bisa melihat langit-langit keputihan. Aku melihat ke sambilku. Terdapat tabung infus menjulang. Aku di mana? Tubuhku terasa lemas sekali. Bukan hanya itu, ada rasa perih juga merasuki tubuhku. Apa yang terjadi barusan?

“Ngggg… ibu…” Kuserukan ibuku berharap dia ada di sini.

“Jiyoung? Kau sadar? Huah! Hei semua! Jiyoung sadar!!” teriak seseorang yang aku tahu adalah Donghae. Samar-samar aku melihat dia membangunkan orang-orang di sekitar yang tengah tertidur.

“Apa Jiyoung sadar?”

“Sungguh? Jangan bercanda!”

“JIYOUNG!!!” Seluruh teman-temanku berteriak heboh kemudian mengelilingiku. Sebenarnya apa yang terjadi barusan?

“Jiyoung, syukurlah kau akhirnya siuman,” kata Hara.

“Kami semua mencemaskanmu,” kata Kibum.

“Kalian, jangan ribut dong. Jiyoung baru saja sadar,” kata Dara. Aku masih saja bingung. Kenapa mereka semua ada di sini?

“Ini dimana? Apa yang terjadi?” tanyaku pelan.

“Kau di rumah sakit. Kamu koma sejak tiga hari yang lalu karena tertabrak bis,” ucap Gayoon.

“Tertabrak apa?” seruku tak percaya.

“Bis, kamu berjalan ke jalan dan tak sadar ada bis lewat,” jelas Jonghyun.

“Dasar ceroboh. Lain kali lihat-lihat kalau jalan,” kata Jungshin.

“Heh, kamu. Orang baru sadar sudah di salah-salahin!” kata Naeun. Dan masih panjang lagi percakapan yang terjadi. Di sini juga ada HyunA, Hongki, Daesung, Wooyoung, Hyora, Tiffany, Hyunjae, dan Yoobin. Ruangan ini jadi begitu ramai karena kami semua saling bercanda.

Mereka cerita, teman-teman kampus silih berganti menjengukku. Dan mereka kebetulan yang sedang menungguiku di sini. Mereka bilang kampus jadi begitu sepi tanpa celotehanku. Aku terkejut melihat mereka membawa begitu banyak camilan yang sampai menggunung ke kamar rumah sakit ini. Mereka bilang, setiap yang datang kesini mereka akan membawa camilan. Katanya sebagai ucapan terima kasih atas kebaikanku yang hobi berbagi camilan.

“Ya ampun, tapi tidak sampai sebanyak ini juga kan?” seruku.

“Ah, ini senilai dengan niatmu yang selalu ingin berbagi apa yang kamu punya,” kata Yoobin.

“Kalau tidak mau, buat aku saja,” kata Daesung.

“Daesung!!” teriak mereka semua bersamaan. Membuat Daesung nyengir sendiri.

“Eh, Jiyoung. Ingatkan saat kamu pertama kali coba bikin krim sup, aku orang pertama yang kamu minta untuk mencoba krim supmu. Nah, kemarin aku coba bikin ramen. Aku ingin kamu yang pertama mencoba,” ucap Hyukjae sambil menyodorkan mangkuk plastik berisi ramen padaku.

“Huah! Sepertinya enak. Aku mau coba,” seruku antusias.

“Sini aku suapin,” kata Hyukjae. Atau bisa kita sebut dia Unyuk. Darimana sejarahnya juga aku tidak tahu bagaimana datangnya panggilan itu.

“Huuuu… sudah punya pacar masih cari-cari kesempatan,” sindir HyunA—yang notabene pacarnya.

“Hehehe… bukan begitu. Hanya saja Jiyoung saja menyuapi aku waktu itu. Lagipula Jiyoung kan masih sakit,” kilah Hyukjae. Kami semua tertawa.

“Tenang HyunA sayang, Unyuk bukan cowok idealku kok,” ucapku. Hyukjae pun menyuapiku. Rasa mie dan kuah ramen yang pedas manis menyergap lidahku.

“Wah, enak banget!” pujiku.

“Benarkah?”

“Unyuk, aku juga mau!” seru HyunA.

“Aku mau juga!” seru Hyora.

“Aku dulu!”

“Aku duluan!” Semua berebut dengan serunya. Membuat tempat ini jadi begitu menyenangkan. Kami semua terus bercanda dan bercerita. Oh aku suka saat seperti ini. Semuanya begitu menyenangkan. Semua memperhatikanku. Semua dilakukan karenaku.

“Oh ya, aku punya kejutan untukmu,” ucap Tiffany.

“Apa?” seruku antusias. Tiffany tersenyum dan dia pun keluarkan sesuatu dari punggungnya.

“TADAAA!!” seru Tiffany. Aku kenal benda itu. Itu…

“Makalahku!!” seruku tak percaya.

“Aku menemukannya di bis. Kamu tahu apa penilaian Ibu Yujin tentang makalahmu?” seru Tiffany.

“Kamu sudah memberikannya pada Ibu Yujin?” tanyaku kaget.

“Aku yang memintanya,” seru Hara.

“Nih, lihat saja sendiri,” kata Tiffany. Ia membuka halaman awal makalahku. Aku melongo tidak percaya dengan apa yang tercoret di sana. Sebuah tulisan A+ beserta tanda tangan Ibu Yujin.

“Ini beneran Ibu Yujin yang kasih? Tapi, ini kan Bu Yujin,” seruku.

“Udah deh, Jiyoung. Yang nilainya bagus diem aja deh. Aku iri nih!” seru Hongki. Aku tidak tahu apa yang terjadi. Semua berlalu begitu cepat. Oh Tuhan, baru beberapa detik aku berdoa kemudian kau langsung mengkabulkannya. Hati nurani, kau benar. Orang-orang menganggap diriku berharga. Aku sungguh bahagia.

Teman-temanku akhirnya pamit.Sebelum pamit, Jungshin memberikan sebuket bunga matahari padaku.

“Aku tidak tahu siapa yang memberikannya. Hanya tadi pagi seorang suster dititipkan ini dari seseorang. Laki-laki lho,” sindir Jungshin.

“Ih, apaan sih?” seruku pura-pura kesal. Dia tertawa sebentar kemudian pergi. Aku pandangi buket bunga matahari itu. Cantik. Bunga besar berwarna kuning dan coklat dengan dihias pita kuning yang cantik sekali. Oh, ada surat. Aku pun baca surat itu. Tidak ada pengirimnya. Namun di sana tertulis.

Untuk Kang Jiyoung. Si gadis kuning. Kuning yang secerah dan secantik bunga ini. Dusta jika sanguinis tak berguna. Tak terbayang apa jadinya tanpa sanguinis. Apa yang kau sebut kekurangan sebenarnya adalah kelebihan. Kau tahu betapa hidup itu tak selamanya harus dewasa dan kaku. Orang dewasa pun butuh kembali menjadi anak-anak yang senang berbagi, optimis, dan mudah lupa akan kemarahan. Dunia harus tahu cara menerima ketidak sempurna. Seperti dirimu, yang menerima setiap orang apa adanya. Aku percaya, kau pasti bisa membuat dunia kelabu ini menjadi berwarna-warni. Sama seperti kau berhasil mewarnai kesuraman hatiku…

Hatiku gemetar. Mataku ingin menangis haru. Rasa panas dan sesak yang aku rindukan menyergap dadaku. Yang aku tahu sebagai perasaan cinta. Tanpa dia tulis namanya pun aku tahu siapa yang mengirimkannya. Si ungu melankolis. Lee Jinki…

“Betapa kita membutuhkan sanguinis”

40 responses to “I’m Yellow Sanguinis

  1. aku suka ceritanyaaaaaa

    aku sih setengah sanguinis setengah melankolis. Dulu disekolah ada yang bahas tentang kepribadianku.

    jinkinya sesuatu banget deh :3

  2. uwaaaah ._. sweet abis …. !!!!
    gilak . beneran deh ..
    suka bangeeet …

    ceritanya ringan tapi pembawaannya pas ..
    jadi enak gitu bacanya ..
    ada nilai moralnya juga kan ..
    wew ._. suka banget deh !!

    ga nyangka juga jinki bisa segitu romantisnya😀
    jiyoung hwaiting !!
    daebak story !

    bikin yg ungu melankolis juga bagus tuh sama yang 2 lain … ^^

    • Aish! Mujinya jangan gitu banget dong. Aku jadi takut kalau aku jadi sombong s(>///<)s

      Orang melankolis kan emang romantis, soalnya mereka itu perasa x3 *tipe aku banget*

      Hehehe… doain ya aku bisa cepet bikin si ungu, si merah, sama si hijau ^^

  3. Pingback: [PersonalCoverFF] I’m Yellow Sanguinis « Hooplalala·

  4. pas baca nih ff, scra gak sngaja ad sdkt sifat sanguinis d dlm diriku. pdhal aku melankolis banget sama kayak ungu Jinki XDDD
    DAEBAKK~! aku suka banget! nilai moral nya juga🙂

    • CURANG!!! Kok enak sih sifatnya melankolis. Aku malah dominan sanguinis. Pengen jadi melankolis -3- *curcol*
      Makasih banyak TAT Doain ya aku bisa secepatnya bikin tentang si ungu ;D

  5. Chingu aku baca oneshot ini berulang kali loh ._.v daebak!xD
    bolee tanya ga chingu cari artikel tentang 4 kepribadian itu gmana ya?ada linknya ga,klo sanguinis kan identik sama kuning,pleghmatis hijau,koleris merah,melankolis biru,nah klo penyuka warna pink&ungu itu lebih identik ke kepribadian mana ya chingu?*justask ^^

    • Berulang kali? Apa?? O___o *syok* Nggak segitunya juga kali ><a
      Search aja google "4 tipe kepribadian manusia". Koreksi dikit, kalau melankolis identiknya ungu =p. Kalau pink, ibaratnya perpaduan warna merah dan putih. Kalau merah itu koleris, kalau putih itu sifat yang bersih dan damai gitu. Jadi bisa termasuk plegmatis juga. Jadi perpaduan gitu deh (sumpah, aku ngomongnya rada-rada sotoy nih XDXD).

      • Aaa chingu tapi kok aku googling ttg 4 kpribadian manusia,melankolis malah identik sama biru,yg bener mana sih?chingu punya linknya ga?aku mau baca u.u

  6. Ceritanya bagusssss!!!!
    Saya suka pesan moral ceritanya! Terkesan ringan, tapi sebenernya filosofinya itu dalem.
    Keren, Thor!
    KEEP WRITING!

  7. aaah~ dari ratusan (?) ff yang udah saya baca, ini salah satu yang terbaik! saya suka banget karena saya punya banyak minat tersendiri buat psikologi…
    pas baca bagian ending, saya berasa ngeliat diri saya, yang dominan sanguinis. dan saya bakal coba buat mencintai diri sendiri setelah baca ff ini…
    makasih unni, udah ngasih ff ini…🙂

    • Sungguh? Masa? Aku malah mikirnya alurnya kecepetan >____<a *baru sadar setelah baca ulang*
      Punya minat sama psikologi? Wah sama dong. Makanya kalau bikin ff kadang ada aja nyelip tentang psikologi =D
      Huaah… nggak usah berlebihan gitu .___.v Tapi selamat mencintai diri sendiri ya. Walau tetap kita nggak boleh lupa untuk menjadi lebih baik ^o^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s