Love Button [Part 2-A]

Title: Love Button

Author: Joo aka indahberliana

Main Cast:
-Park Chanyeol (EXO-K)
-Byun Eunji (OC)
And other cast you can find them in this Fanfict.

Genre: Comedy (maybe), Romance (maybe) pokoknya readers tentuin aja deh hehe.

Rating: PG-13

Disclaimer: semua cast (kecuali OC) punya tuhan semata. Dont Be Plagiator! Please RCL.

A.N: aku kembali dengan part 2. aku bikin part a soalnya di part 2 inilah konflik dimulai. jadi harap bersabar ya!! #PLAK. akuseneng deh pas ngeliat komen dari kalian udah 50an lebih sekarang. gomawo! tak bosen-bosennya aku mengingatkan, jangan jadi plagiator, jangan jadi siders, dal please Read, Comment, and Like ya kalo mau *sedih lagi* INI HANYA FF, JADI JANGAN TERSINGGUNG DENGAN APA YANG DIKATAKAN PARA TOKOH. Sekian terima kasih.

****

 [Part 1]

Author POV

Namja itu membuka matanya, ia langsung membereskan kamarnya yang cukup mewah di apartemennya. Lalu mandi dan memakai pakaian semi jas berwarna biru langit. Ia meraih kunci mobil audi hitamnya di nakas. Ia sungguh lupa dengan kata kerja ‘sarapan’ karena yang hanya di pikirannya hanya yeoja itu seorang.
Saat menyetir mobil, yang hanya di pikirannya hanya wajah dan nama yeoja di foto yang ia selalu simpan, bahkan di dinding kamarnya pun terpajang jelas wajah yeoja itu.

Kediaman Keluarga Byun

Eunji POV

“Eunji! Ada temanmu!”

“Eh? Siapa eomma?” Aku yang baru saja melahap nasi goreng buatan eomma, menjedanya sebentar, menolehkan kepala ke arah eomma yang baru saja masuk dari ruang tamu yang dekat dengan pintu rumahku.

Aku langsung beranjak dari kursi yang kududuki dan menghampiri pintu rumahku.

“Kau?” Aku kebingungan. Kenapa dia menjemputku? Apa ada urusan denganku lagi?

“Ah, Byun Eunji, ayo kita berangkat bersama!” Tangannya yang memakai sarung tangan rajut merahnya menarik tanganku–menarikku keluar dari rumahku sendiri.

“Ya! Aku belum selesai sarapan!”

“Ah? Biar kutemani! Akan kubantu kau menghabiskannya!”

“NEO!! Mana bisa aku kenyang kalau kau menghabiskan makananku?”
Chanyeol menarik tanganku ke dalam rumah. Kami duduk di meja makan bersampingan. Baekhyun menatap kami berdua yang ada di hadapannya.

“Hyung? Kau kenapa kesini? Aku masih kesal denganmu”

“Yaaa jangan kesal padaku. Apa yang bisa kulakukan agar kau tidak kesal lagi padaku?” Chanyeol tersenyum pada baekhyun. Seketika baekhyun bergidik ketakutan. Aku berusaha menahan tawaku karena melihatnya, karena aku sedang mengunyah nasi goreng yang ada di piringku. Aku takut tersedak.

“eiii jangan menatapku begitu hyung. Kalau bisa, kau traktir aku makan!” Baekhyun memancarkan pancaran kemenangan dari matanya. Aku hanya bisa menatapnya penuh iba. Ia seperti belum pernah makan selama seminggu. Padahal nasi gorengnya ada di hadapannya. Ckckck.

“Baiklah! Kapan?” Tanya chanyeol sambil menoleh kepalanya kearahku sambil… Tersenyum?

Dia berbicara dengan siapa sih? Dari tadi dia menatapku sambil melontarkan kata-kata. Tapi yang menjawab malah Baekhyun.

Aku sengaja menghindarkan tatapannya. Berusaha konsentrasi dengan sarapan nan lezat yang ada di hadapanku. Kumasukkan satu sendok makan penuh berisi nasi goreng ke mulutku. Lalu kumasukkan sekali lagi. Baru aku mengunyah makanan yang ada di mulutku yang sudah sangat penuh. Tapi sialnya aku tersedak.

“Kau ini seorang yeoja tapi kelakuannya… Ckckck…” Namja yang duduk di samping kiriku memberikan segelas air putih padaku. Aku langsung menyeruput air putih itu. Aku sudah bisa bernapas sedikit demi sedikit.

“Gomawo” aku mengucapkannya sampil meneguk air putih di dalam gelas itu lagi.

“Romantisnya!” Aku dan chanyeol seketika menolehkan kepala ke hadapan kami. Lalu menatap tajam ke kedua bola matanya.

Dia langsung bergidik ngeri melihat tatapan kami.

“Baiklah, aku berangkat sekarang. Jaljayo! Eomma aku berangkat dulu!” Dengan tergesa-gesa ia meminum minumannya lalu menghilang dari meja makan.

Akupun sengaja berbatuk agar suasana di ruang makan tidak kaku lagi.

Aku dan Chanyeol berangkat bersama ke sekolah. Di sepanjang perjalanan, suasana yang menguasai kami adalah keheningan, kekakuan. Aduh sungguh aku tak tahan dengan suasana seperti itu. Aku lebih suka tertawa bersama dia, memarahinya, itu lebih baik menurutku.

“Park Chanyeol!!” Aku menepuk bahu chanyeol saat kami berjalan di koridor sekolah menuju kelas kami.

“Ya! Aish!!” Aku tertawa melihat reaksinya. Aku menepuk bahunya karena kulihat di sepanjang jalan ia hanya diam. Aku jadi takut. Hiiy mengerikan.

“Chanyeol-ah, ada apa? Kau kenapa melamun terus daritadi?” Tanyaku langsung pada intinya.

“Eh? Kau memperhatikanku ya? Ya? Ehehehe…” Astaga! Dia menggodaku!? Dia mendekatkan wajahnya padaku. Kami masih berjalan menuju kelas kami. Banyak murid-murid lain yang melihat kami. Aduh aku malu!

“Kau ini pede sekali! Cih, kau ini dibuat dari tiang listrik ya? Kau tinggi sekali!”

“Itu makian yang diselipi pujian. aku ya aku. Aku tak mau menjadi orang lain karena aku memang begini. Sebutkan sifat-sifatku. Apa saja?”

“Cih memangnya aku ini fansmu? Tahu segalanya tentangmu?”

Dia berhenti berjalan otomatis aku juga berhenti. Sekarang kami berhadapan. Tepat di depan kelas kami.

Dia memegang bahuku! Kau akan kubanting sedetik lagi, Park Chanyeol!

Geurae? Kalau begitu, belajarlah untuk mengetahuiku lebih banyak. Ara? Aku masuk kelas duluan.”

Tanpa kusadari banyak teman-teman kelasku yang menatap kami berdua tadi. Aku masih mematung di depan pintu kelas. Memandang ke depan dengan pandangan kosong, seolah-olah tak ada yang kulihat, padahal aku bisa melihat.

“Yaaaa. Sampai kapan kau mau berdiri disitu?? Sebentar lagi, bel masuk akan berbunyi.” Dia menyeru padaku dari dalam kelas. Dia sudah duduk manis di tempat duduknya.

Aku kesal! Aku berjalan ke arahnya—tepatnya ke arah tempat dudukku—sambil mendengus kesal. Lalu aku meletakkan tas biruku di atas meja dengan kasar.

Aku menatapnya tajam, dia menggeleng-gelengkan kepalanya menatapku yang sudah duduk. Aku membuang mukaku dan ‘duduk manis’ di kursi itu.

****

Teng…tong…teng…

Aku mendesah lega. Akhirnya setelah beberapa mata pelajaran kulewati, bel istirahat berbunyi. Aku beranjak dari kursiku, melangkahkan kakiku keluar dari kelas dan berniat membeli makanan kesukaanku, yaitu ramyun!

“Ya! Ya! Tunggu aku!!” Aku langsung menoleh ke arah suara itu.

Tsk, untuk apa aku menunggumu?” Celetukku ketus sambil melipat tangan di perutku.

“Aku juga ingin ke kantin.”

“Apa peduliku?”

“Kau harus peduli padaku dan bertanggung jawab!”

“Mwo? Apa apaan itu?! Kenapa aku harus bertanggung jawab?”

“Karena… Karena kemarin, aku pulang terlalu malam. Saat sampai di rumah, aku demam!”

Mwo? Tapi kelihatannya saat kau datang kerumahku tadi pagi, kau sehat-sehat saja?” Aku mendelik padanya. Jujur saja, dia ini ceroboh, aku tahu dia sedang mencoba berbohong padaku—mungkin. Dia itu mudah ditebak menurutku.

“Tentu saja aku berusaha untuk tidak terlihat sakit. Bodoh”

“Lalu kenapa kau masuk sekolah? Apa yang harus kulakukan?” Tanyaku ketus.

“Kau harus membuatku sembuh! Aku tak tahan! Cuaca hari ini dingin sekali!” Aku mendelik padanya–dia sedang memeluk dirinya sendiri karena menggigil yang menurutku dibuat-buat. Apa? Membuatnya sembuh?

“Yaaa! Kalau itu kau bisa memintanya dengan eommamu! Memangnya aku ini eommamu ha?”

“Eommaku sudah meninggal…”

“Mianhae!” Potongku. Astaga… Aku sebenarnya begitu bersalah menyinggung eommanya.

Aku jadi tak tahu apa yang harus kuucapkan lagi padanya. Kalau terus marah-marah, aku kasihan padanya.

“Sekali lagi, mi…mianhae…” Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal. Aku menunduk, dia–yang tadinya masih duduk di tempat duduknya–menyusulku yang berdiri di depan kelas.

Kini dia berhadapan denganku. Dia memegang kedua lenganku. Aku masih menunduk.

Gwaenchanha…” Dia mengusap kedua lenganku. Aduh, seharusnya aku yang membuatnya tegar, kenapa malah aku yang seolah-olah dialah yang bersalah. Aku jadi merasa bersalah padanya.

Aku akan mengubah suasana kikuk ini, aku benci suasana seperti ini. “Ah baiklah, chingu-yaaa, kita ke kantin bersama?” Aku merangkul bahunnya—yang membuatku menjinjit untu meraih bahunya—dengan tangan kananku. Aku tahu aku ini sangat memalukan. Aduh, yang penting membuat suasana dulu menjadi lebih ‘friendly‘.

Kami jalan berdua ke kantin. Di seluruh penjuru koridor, kami diperhatikan, aku merasa ada sedikit kejanggalan di sekolah ini…

“Ya, chanyeol-ah, kenapa aku merasakan sesuatu yang tidak enak hari ini ya?” Aku mendongak ke arahnya, masih dengan merangkul bahunya dengan tangan kananku.

Dia menunduk untuk melihatku. “Mungkin mereka berpikir kalau kita ‘new couple’ di SMA Shin.” Dia menjawab sambil membuat eyesmile.

MWO? Aku langsung melepaskan tanganku dari bahunya. Memalukan! Kenapa aku tak berpikir sampai situ??? Babo-ya, Byun Eunji!

“Jangan harap, Park Chanyeol” aku langsung berlari sendiri ke kantin. Tapi dia menyusulku! Aduh, ini seperti di drama-drama. “Jangan kabur kau, Byun Eunji!!”

****

“Kamsahamnida, ahjumma.” Aku merogoh uang di saku yang ada di blazer biru donker seragamku. Lalu meraih mangkuk hitam ramyun yang telah dimasak oleh ahjumma—koki kantin sekolah ini.

Aku mencari tempat untuk duduk. Aku menyusul ke arah Jinri dan Soojung—nickname mereka adalah Sulli dan Krystal, teman-teman sekelasku saat kelas 2 SMA. Kami cukup dekat.

“Sulli, Krystal, aku gabung dengan kalian ya!”

Sulli dan Krystal menolehkan pandangannya ke arahku lalu tersenyum.
Kulihat mereka membawa bekal. Ah, aku besok ingin membawa bekal juga.

Aku mulai menyantap ramyunku tidak sabaran, aku meniup-niup ramyunku lalu memasukannya ke dalam mulutku. Mulutku asik mengunyah makanan yang ada di dalamnya.

“Eunji-ah, kau, pacaran dengan Chanyeol ya? Mengaku!!” Tiba-tiba Krystal melontarkan pertanyaan yang sukses membuatku tersedak.

Mwo??” Aku mengambil botol air mineral kecil yang juga kubeli tadi.

“Ayolah, jangan berbohong lagi. Kau pacaran dengannya kan? Kau ini beruntung sekali ya. Chanyeol itu tinggi, pintar, dan… Tampan! Benarkan, Sulli? Aku benar kan???”

“Ne! Kau benar sekali! Aduh Eunji, kau beruntung! Sudah punya adik yang imut seperti Baekhyun, lalu punya pacar seperti Chanyeol!! Kyaa!!” Seru Sulli sampai-sampai sumpit yang ia pegang jatuh.

“Apa kau bilang? Adikku imut? Yaa… Kau tertarik pada adikku?” Aku berusaha untuk mengalihkan pembicaraan.

“Ah? Itu… Ya! Jangan mengalihkan topik pembicaraan, Byun Eunji!”

Aku mendengus kesal. Lalu menyumpit kembali ramyun yang tidak kuhiraukan karena dua yeoja cantik ini.

Annyeong!”

Kami bertiga—aku, Sulli dan Krystal—mendongakkan kepala. Melihat dari arah jas biru donker seragam sekolah kami yang dikenakan olehnya, karena searah dengan mataku. Lalu aku berusaha mengedarkan mataku untuk melihat wajah dari ‘pemilik suara’ tadi.

Aku langsung tersedak kembali ketika tahu pemilik suara tadi ialah Park Chanyeol!

Annyeong, Chanyeol-ah!” Seru Sulli dan Krystal. Ah, aku harus pergi dari sini.

“Boleh aku bergabung?” Aku langsung menatapnya heran. Dia tak punya teman ya? Kenapa dia setiap hari denganku terus?? Tidak bosankah dia setiap hari aku marah-marah dengannya terus menerus?

Ne! Silahkan!”

“Oke, aku akan pergi” aku beranjak dari kursi kantin yang aku duduki, membawa ramyunku serta minumanku.

Kajima!” Masa bodo lah dengan seruan namja itu.

Aku tak menyadari kalau ramyun yang aku bawa–mie, sayuran, dan telurnya–sudah habis. Hanya kuahnya yang tersisa. Aku menjauh dari pandangan murid-murid yang ada di kantin. Lalu diam-diam meneguk kuah ramyun yang ada di mangkuk hitam itu.

“YA!!!”

Astaga! Kuah ramyun yang kuakui pedas sekali, masuk ke hidungku. Hidung dan tenggorokanku sakit. Ya Tuhan, sakit sekali!!

“Eh kau kenapa?”

Sungguh aku ingin sekali menjitaknya, menendangnya, membantingnya dengan membabibuta. (Ditabok chanyeol shippers)

Tapi aku tak bisa bicara apa-apa saat ini. bernapas saja aku susah. Tenggorokanku panas. Hidungku sakit.

Mianhae! Aku akan membawamu ke UKS.” Aku langsung ditariknya menuju UKS yang ada di lantai 1, satu lantai dengan kantin.

Aku merasakan sesuatu yang panas mengalir di sekitar tanganku. Hei, ini musim dingin.
Beberapa kalimat terngiang di pikiranku.

“Karena… Karena kemarin, aku pulang terlalu malam. Saat sampai di rumah, aku demam!”
….

“Tentu saja aku berusaha untuk tidak terlihat sakit. Bodoh”
….

“Kau harus membuatku sembuh! Aku tak tahan! Cuaca hari ini dingin sekali!”

Aku mendongakkan kepalaku ke arahnya, dia terlihat khawatir. Perasaan bersalahku semakin bertambah padanya. Ternyata dia benar-benar demam.

Kami berdua sudah memasuki UKS. Di dalam UKS terdapat guru Kang—guruku yang memuji Chanyeol bahwa muridnya itu tampan—bersama guru Wu.

“Eh kalian? Eunji kenapa?” Guru Kang menatapku yang tangan kananku merangkul—atau lebih tepatnya dia yang merangkulkan tangan kananku ke bahunya.

“Aku baik-baik saja, saem. Tolong bantu aku untuk membaringkan Chanyeol” ucapku yang terdengar sedikit tidak jelas.

“Eh? Aku?”

“Kau demam, berbaringlah di sini.” Aku membaringkan tubuh chanyeol di ranjang UKS. Aku tahu dia pasti bingung. Apalagi kedua guruku menatap kami berdua.

Sampai saat ini hidungku dan kepala bagian belakangku masih sakit.

Saem, boleh aku minta segelas air putih?” Aku meminta pada guru Wu.

Guru Wu terlihat gugup, mungkin khawatir denganku dan Chanyeol. Saat kedua tangannya memberikan segelas air putih padaku, kulihat tangannya tampak bergetar. Aku langsung meminumnya hanya dengan beberapa kali tegukan. Aduh tenggorokanku masih panas.

“Kau kenapa, Eunji?” Tanya guru Wu. Suara itu terdengar bergetar.

“Tadi saya tersedak dengan kuah ramyun, saem.” aku menjawabnya sambil menutup hidungku dengan ibu jari dan telunjuk kananku. Hidungku masih sakit.

Kulihat ia mengambil segelas air putih lagi dan menyerahkannya padaku. Lagi-lagi tangannya bergetar. oh iya, untuk informasi saja, ini kali keduanya aku berbicara dengannya. Pertama, saat Chanyeol ditegur olehnya, dia juga berbicara padaku. Dan saat ini. Entahlah, guruku yang satu ini bisa dibilang sangat misterius.

“Gomawoyo, saem….”

“Ah! Chanyeol! Guru Kang, apakah ada obat penawar demam di sini?” Setelah aku bertanya dengan guru Kang, ia terlihat mencari-cari apa yang ku maksud di laci tempat penyimpanan obat.

Guru Kang menyerahkan satu strip obat penawar demam yang kemasannya belum terbuka padaku.

“Kamsahamnida, saem.”

Aku mengambil gelas berisi air putih yang sempat kuminum dan meminta izin pada guru Kang untuk mengambil airnya lagi.

Aku menghampiri Chanyeol. Wajahnya pucat, dan aku baru menyadarinya sekarang. Saat pagi tadi, aku juga melihat wajah Chanyeol yang sedikit pucat. Tapi aku tak menghiraukannya karena aku kesal padanya. Mian, chanyeol-ah.

“Ini, minumlah…” Aku memberinya segelas air putih dan satu butir tablet sedang yang kemasannya sudah kubuka. Dia menerima air dan obat yang kuberi, kemudian meminumnya secara bersamaan.

Aku menyentuh dahinya dengan punggung tanganku. Lalu beralih ke lehernya. Panas sekali. Ani, ini bukan kesalahanku. Lagipula siapa suruh dia masuk sekolah. Sudah tahu sedang sakit, benar-benar keras kepala namja ini.

Aku mengambil gelas yang airnya sudah diteguk habis oleh Chanyeol lalu menaruhnya di nakas disamping ranjang itu.

“Berbaringlah, istirahatlah disini dulu.”

“Tapi catatanku…”

“Biar nanti aku yang mencatatnya untukmu”

Ya, kuberitahu, dia selalu mencatat semua mata pelajaran dengan rapi. Aku hanya melihatnya dengan tatapan heran padanya. Semangat sekali mencatatnya, gumamku dulu. Aku sangat malas mencatat, mungkin karena itu nilai-nilaiku turun semua, karena setelah belajar dikelas, pelajaran yang kuperoleh pasti akan ‘menguap‘ dari otakku. dan parahnya, kenapa aku menawarkan bantuan padanya? Kenapa aku mau mencatat semua pelajaran untuknya? Kenapa aku berbicara seperti itu tadi!!?

“Eh benarkah?”

“Eh, tidak jadi”

“Ayolah, aku tak bisa tidur tenang kalau aku tak mencatat pelajaran hari ini.” Dia menatapku dengan tatapan memelasnya–puppy eyes, satu hal lagi yang membuatnya mirip dengan Baekhyun. Selalu memohon dengan tatapan seperti itu.

Aku memandanginya miris. Aku harus bicara apa lagi? Masa iya aku harus menolak padahal yang menawarkan aku sendiri?

“Baiklah, tapi jangan salahkan aku kalau catatan di bukumu itu tidak rapi.” Jawabku dengan melihat sambil meniup-niupkan poniku.

“Ah, yasudah kalau begitu, jangan mencatatnya di bukuku. Catat di bukumu saja.”

“Aku tak mau mencatat.”

“Lalu kenapa kau menawarkan bantuan itu tadi?”

“Ah.. Itu…” Neo jugeosseo, Byun Eunji! Kau kena Skak Mat!!

Aku menoleh kearahnya, dia terlihat kecewa.

“Baiklah, aku mengerti. Sudah, kembali ke kelas. sebentar lagi bel masuk akan berbunyi.”

Aigoo, aku jadi bersalah.

Aku mengangguk-angguk dan membungkukkan badanku pada guru Wu dan guru Kang yang masih ada di UKS sebelum keluar menuju kelasku.

Author POV

Kedua Guru yang berbeda 6 tahun itu berjalan berdua di koridor sekolah. Menuju kelas dimana mereka akan mengajar. Di sepanjang langkah kaki, mereka—tepatnya  hanya guru Kang—membicarakan  dua murid mereka yang kemungkinan ‘saling menyukai’ di UKS tadi.

“Guru Wu, mereka itu cocok sekali ya! Aigoo, anak remaja jaman sekarang. Eunji begitu khawatir dengan Chanyeol. Saya bisa merasakan tatapan Chanyeol yang hangat pada Eunji. Aigoo, saya jadi teringat masa-masa pacaran dengan suami saya.”

Sementara orang yang diajak bicara hanya tersenyum miris.

“Eh, kau kenapa guru Wu?”

“Saya baik-baik saja.”

****

Eunji POV

Pelajaran guru Kang sangat membosankan. Entah kenapa, padahal Sains adalah mata pelajaran favoritku. Aku mendelik ke arah kananku, yang biasanya di’hinggapi’ oleh namja menyebalkan yang bernama Park Chanyeol.

Oh iya, aku jadi teringat akan bantuanku padanya untuk mencatan pelajaran hari ini yang masih tersisa.

Aku membongkar tas punggung hitamnya dan mencari buku catatan Sains namja itu. Bukunya tersampul dengan sampul plastik bening. Sangat rapi. Ternyata ada lagi yang membedakan antara Baekhyun dengannya—selain pintar dan tidak pintar. Baekhyun jauh dengan kata ‘rapi’. Aku hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalaku.

Lalu aku membuka buku catatannya. Aku jamin kalian pasti akan sangat terkejut. Catatannya rapih sekali. Tapi karena aku sudah tau catatannya rapi, aku tak perlu terkejut lagi walaupun sebenarnya masih ‘shock‘.

Aku yeoja setipe dengan Baekhyun. Malas mencatat, kalaupun dipaksa mencatat, pasti tulisanku seperti menulis dengan terburu-buru. Sangat berantakan.

Tanpa menunggu lama, kubuka lembar kertas yang masih kosong. Kucatat semua catatan yang tertulis di papan tulis. Kami sedang belajar Fisika. Kalian tahu kan sulitnya Fisika bagiku? Kau tentu pasti menjawab tidak tahu karena aku memang belum menceritakan apa apa padamu. Sudahlah. Aku akan berkonsentrasi mencatat dengan rapi di catatan Chanyeol.

****

Chanyeol POV

Aku membaringkan tubuhku kembali setelah guru Wu dan guru Kang keluar dari UKS. Tubuhku sudah sedikit lebih baik setelah meminum obat penawar demam yang diberikan Eunji tadi.

Kalian, apa mau mendengar ceritaku? Saat Eunji menyentuh dahiku, jantungku memompa darahku sangat cepat, sehingga seluruh badanku menjadi panas. Dan belum lagi punggung tangannya menyentuh leherku. Saat itu aku berdoa semoga punggung tangannya tak merasakan detak jantungku di leherku. Semoga.

Aku begitu gugup. Baru kali ini ada yeoja yang menyentuh dahiku dan leherku selain eomma. Ya, aku merindukan eomma.

Aku mungkin salah bicara padanya tadi saat istirahat. Aku sebenarnya ingin mengatakan bahwa eomma sudah meninggalkanku karena kedua orangtuaku itu sudah bercerai semenjak aku kelas 3 SMP. Aku tinggal sendiri di apartemenku—appaku memberikannya karena beliau menetap di amerika, bekerja di suatu perusahaan besar di sana—.Karena  itulah, aku tumbuh menjadi namja yang dingin setelah masuk SMA. hingga saat kelas 2 SMA, aku tak mempunyai teman laki-laki. Sebenarnya aku termasuk namja yang digilai yeoja-yeoja di SMA ini, tapi aku tak menghiraukan mereka.

Semenjak aku sekelas dengan Eunji, semuanya berubah. Aku menjadi namja yang ceria, cerah, dan periang. Dan sekarang aku sudah mempunyai banyak chingu laki-laki. Seperti Kyungsoo, Sehun, dan banyak lagi. Tapi aku tak sekelas dengan mereka. Mereka pernah sekelas denganku saat kelas 1 dan 2 SMA. Ya, seperti yang kalian lihat saat aku hendak ke kantin bersama Eunji, banyak yeoja-yeoja yang mungkin iri dengan Eunji karena bisa dekat denganku.

“Biar nanti aku yang mencatatnya untukmu” 

“Eh, tidak jadi.”

“Baiklah, tapi jangan salahkan aku kalau catatan di bukumu itu tidak rapi.”

“Aku tak mau mencatat.”

Astaga!!! Jam pelajaran keberapa sekarang?? Jika Sains… Mati aku! Bisa terbongkar semua rahasiaku!!!

Tapi dia mencatatnya atau tidak? Karena jawaban yang ia lontarkan sangat membuatku bingung. Kadang bilang menerima kadang menolak. Semoga saja ia tidak melihatnya.

Ah aku tidak tenang! Aku bangkit dari ruang UKS lalu berlari ke kelas dengan tertatih, jujur, aku pusing. Mungkin karena efek obat penawar demam tadi.

****

Eunji POV.

Catatannya sudah selesai. aku merenggangkan tanganku. Tanganku pegal sekali. Aku menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku untuk menghangatkannya.

Aku memperhatikan telapak tanganku lagi. Telapak tangan yang baru saja menyadarkanku kalau Chanyeol benar-benar sakit. Tangannya benar-benar panas. Walaupun di musim dingin, aku masih bisa merasakan panas yang menjalar ke tubuhku. Semua orang pasti juga bisa merasakan itu.

Terlintas ide yang pernah kulakukan saat membongkar rahasia baekhyun di kamarnya. Aku membuka isi catatan sainsnya ini. Aku buka dari halaman pertama, kedua , ketiga dan sampailah di halaman terakhir, paling akhir.

Aku melihat tulisan yang sangaaat kecil. Aku tak bisa melihatnya dari posisi 25 centimeter yang merupakan jarak fokus mata yang normal—mataku normal.

Aku mendekatkan wajahku pada buku catatannya.
Tulisannya benar benar lebih kecil daripada semut! Aku membaca tulisan itu sambil menyipitkan mata.

“Aku…” tulisannya.. aku mencoba membacanya lebih jelas.

Tok..tok..

Aku mendongakkan kepalaku ketika mendengar suara ketukan pintu kelasku lalu seseorang membukanya dengan kasar.

“Park Chanyeol? Kau masih sakit kan? Beristirahatlah di UKS.” tutur guru Kang yang terkejut melihat keberadaan Chanyeol.

Dia tak mengindahkan apa yang guru Kang bilang padanya. Ia menatapku, berjalan ke arah ku. Lalu melihat catatannya yang sedang ku pegang. Dia melebarkan matanya ketika melihat catatannya itu. Apa yang salah?

“Kau kenapa membuka-buka catatan orang?”

Aku melebarkan mataku. “Ya! Bukannya kau yang memintaku untuk mencatatnya? Aku sudah mencatatnya?! Lihat! Sudah susah payah aku mencatatnya untukmu!” Aku beranjak dari tempat dudukku dan meminta izin pada guru Kang untuk ke toilet.

Sesampainya di toilet, aku melihat bayangan wajahku di cermin yang ada di hadapanku. Aku mencuci tanganku di westafel toilet ini.

Aku heran, padahal ia tadi yang memintaku mencatatnya. Tapi kenapa namja itu marah-marah? Aku mencatatnya karena tak tahan meliat tatapan memelasnya itu. Aku kan yeoja yang mash punya hati! Di toilet aku berbicara sendiri dengan bayangan wajahku di cermin. Melepaskan semua kekesalanku di toilet.

Sudah puas menggerutu dan ‘berinteraksi’ dengan bayangan sendiri, aku keluar dari toilet.

“Byun Eunji?”

Aku menolehkan kepalaku.

“Guru Wu?” Guruku ini ternyata lebih tinggi daripada namja tiang listrik itu. Aku melihatnya yang sehabis keluar dari toilet pria. Toilet namja dan yeoja bersebelahan.

“Kau kenapa? Hmm, tadi saya dengar kau seperti.. Marah-marah? Kau sendirian di toilet?” Aku menatapnya, sepertinya guru Wu bergidik takut.

Aku rasanya ingin langsung pergi dari sini. Aku malu, sangat malu. Berarti guru Wu mendengar semua apa yang kubicarakan di toilet?!

“Ah itu, saya… Tadi ada teman saya kok. Ehehe.” Jawabku bohong sambil tersenyum kaku. Aigoo, sungguh aku sangat malu.

“Kalau begitu, saya kembali ke kelas dulu ya, saem.” Aku menunduk singkat lalu mengangkat kakiku dari tempatku semula.

Kajima” eh? Guru Wu… Apakah ia berbicara denganku? Kenapa dengan bahasa informal?

Aku menengok ke arah guru Wu. Dia menggaruk-garukkan kepalanya. Seperti menyesal apa yang ia ucapkan tadi.

“Ada apa, saem?” Tanyaku sopan.

“Ah, nanti, apa kau dijemput pulang ke rumahmu?”

Aku bingung. Arah pembicaraannya ini kemana?

Aku bingung hendak menjawab apa. Kemarin aku pulang dengan Chanyeol. Rencananya aku ingin pulang bersama lagi dengannya. Tapi berhubung aku sedang kesal padanya, aku tak mau pulang dengannya nanti.

“Ah, tidak ada, saem. Waeyo?” Tanyaku hati-hati.

“Mau aku antar pulang?” Eh? Bahasa informal? Aigoo aku jadi gugup.

“Ne?” Tanyaku tak percaya.

Guru Wu menggaruk-garuk kepalanya yang kuyakini tidak gatal. Ia seperti anak remaja saja. Salah tingkah. Aku terkikik dan tersenyum melihat tingkah guruku yang satu ini.

“Ah iya, aku ingin mengantarmu pulang. Kau mau tidak?” Sungguh, aku seperti sedang berbicara dengan senior dekatku, bukan guruku. Melihatnya yang rapi dengan setelan semi jasnya, style rambutnya seperti kebanyakan aktor aktor korea saat ini, aku jadi gugup. Aku harus jawab apa?

“Ne? Jeongmalyo?”

“Ne. Kau mau tidak?”

aku menggaruk-garukkan kepalaku yang tidak gatal.

“Baiklah…”

Kucoba untuk mengatakan dengan bahasa informal tingkat atas.
“Gomawoyo, saem”

****

Chanyeol POV

“Park Chanyeol? Kau masih sakit kan? Beristirahatlah di UKS.” tutur guru Kang yang terkejut melihat keberadaan Chanyeol.

Aku tak mengindahkan apa yang guru Kang katakan padaku. Aku menatapnya, tak bisa melepas pandangan ini begitu saja. Lalu aku berjalan ke arahnya. Lalu melihat catatan sainsku yang sedang ia pegang. Sungguh rasanya aku ingin berteriak!

Aku gugup, tak tahu harus bicara apa lagi.

“Kau kenapa membuka-buka catatan orang?”

“Ya! Bukannya kau yang memintaku untuk mencatatnya? Aku sudah mencatatnya?! Lihat! Sudah susah payah aku mencatatnya untukmu!” Aku terkejut mendengar penjelasannya.

Iya, dia benar. Akulah yang memohon padanya. Tapi aku tidak bisa menahan emosiku. ia kemungkinan besar membaca semua rahasiaku di selembar kertas itu. Aku seharusnya langsung membuang atau membakar kertas itu.

Dia beranjak dari tempat duduknya dan keluar dari kelas. Akupun minta maaf pada guru Kang. Aku keluar dari kelas. Sepertinya guru Kang sangat paham dengan perasaanku. Dia tak marah pada kami berdua.

Aku menyusulnya ketempat dia melangkahkan kaki. Kulihat dia masuk toilet yeoja.

Aku menunggunya hingga keluar. Aku melihat guru Wu juga.

Mereka mengobrol akrab. Aneh, sepertinya ada yang aneh. Kulihat Eunji seperti terkejut dan malu.

Aku tak begitu jelas mendengar percakapan mereka, karena mengingat jarak aku berdiri dengan jarak toilet.

Mereka akhirnya berjalan menuju tempat masing masing. Kuikuti langkah yeoja itu pergi. Dia tidak kembali ke kelas, ia menaiki tangga dan ternyata langkah kakinya menuju ke atap sekolah.

Aku mengikutinya, lalu berdiri di sampingnya yang kini sedang melipatkan tangan di atas pagar pembatas atap sekolah.

Dia menolehkan kepalanya padaku. “Untuk apa kau kesini?” Desisnya tajam.

“Mianhae, kau tidak salah. Aku yang salah. Maaf jika membuatmu kesal.”

Dia menoleh ke arahku. “mwo?”

“ya, mianhae.”

Sepertinya ia sangat terkejut karena mendengar permintaan maafku. Akupun mengikuti posisi tangannya, melipatnya kemudian meletakkannya diatas pagar pembatas atap sekolah.

“eh, jarimu kenapa?”

Aku menoleh kearah jari tangan kananku.

“kau tidak ingat?” aku mendelik padanya.

“eh?” dia mengubah posisinya menjadi berhadapan denganku

“saat di dalam bis, kau mencakar tanganku. Dan inilah hasilnya” aku terkekek geli melihat wajah Eunji yang merasa bersalah.

“mianhae.”

Kami kemudian bercanda di ruangan terbuka itu. Bahkan kedinginan salju yang menyengatpun tak kurasakan. aku benar-benar bahagia berada di samping yeoja ini. Kami bercanda sampai tak ingat waktu. Kami secara tak sengaja membolos mata pelajaran Sains.

Cinta memang mengubah segalanya…

-To Be Continued-

AAAH maaf ya readersku cintaa. Lama ngepostnya :3 jangan Lupa RCL ya!!! Aku bowing bowing dulu ah. Maaf kalo masih ada kekurangannya, contohnyatypo. Miaaan. *bowing* 😀

Advertisements

99 responses to “Love Button [Part 2-A]

  1. cieee chanyeol… cieee… xD
    ternyata suka sama si eunji, terus gak bilang2 (?). cieee~ xD
    terus, terus, si eunji jadi pulang sama kris? kalau jadi, bisa2 jadi trending topic, dong. uwoooo! xO

    dan entah kenapa saya bingung mau ngetik apa lagi ._.
    pokoknya kereeeen~! ^^b

    lanjut~!

  2. Wah penasaran apa yg ditulis chanyeol di kertas itu … kayaknya chanyeol udh suka sama eunji sejak mereka sekelas yah… namja yg di balkon itu kris ??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s