Love Button [Part 2-B]

Title: Love Button

Author: Joo aka indahberliana

Cast:
-Park Chanyeol (EXO-K)
-Byun Eunji (OC)
-Kris Wu (EXO-M)
-Byun Baekhyun (EXO-K)
And other cast you can find them in this Fanfict.

Genre: Comedy (maybe), Romance (maybe) pokoknya readers tentuin aja deh hehe.

Rating: PG 13

Disclaimer: semua cast (kecuali OC) punya tuhan semata. Dont Be Plagiator! Please RCL.

A.N: siapa yang menunggu part 2-B??*gaada woy* *menghela napas sedih* *hiks*. Semoga pada suka yah. Maklum author ini abal pasti ffnya juga abal *merendah* tak bosen-bosennya aku mengingatkan, jangan jadi plagiator, jangan jadi siders, dan please Read, Comment, and Like ya-kalomau- *sedih* INI HANYA FF, JADI JANGAN TERSINGGUNG DENGAN APA YANG DIKATAKAN PARA TOKOH. Sekian terima kasih.

 

****

Eunji POV

Ternyata, Chanyeol namja yang ramah. Ia tak lagi menyebalkan semenjak ia membentakku di kelas tadi. Aku bercanda ria dengannya, lalu bertengkar lagi. bercanda dan bertengkar sepertinya kegiatan ‘wajib’ bagi kami.

“Di halaman terakhir buku catatanku , apa kau membaca sesuatu?”

Aku menolehkan kepala padanya, berhadapan dengannya. “Sungguh, tulisan itu sangat tak masuk akal.”

“M..mwo? Kau melihatnya? Aku mohon ampuni aku. Jangan marah padaku. Jangan jauhi aku juga.” Chanyeol menundukkan kepalanya rendah lalu memohon-mohon padaku. Apa-apaan ini?

“Eh? Apa yang kau lakukan? Aku tidak mengerti?” Aku menatapnya yang kembali menegapkankan tubuhnya setelah mendengar ucapanku.

Kulihat dia tersenyum sumringah. Ada apa dengannya?

“Jadi, kau tak melihatnya??” Tanyanya dengan mata yang berbinar-binar. Persis seperti kucing tetanggaku yang ingin kuberi ikan dulu, menyodorkannya, lalu menariknya kembali. Matanya seperti kucing itu. (Ditabok Chanyeol shippers)

“Ani, aku melihat sesuatu, tapi tidak jelas sama sekali. Tulisanmu itu bahkan lebih kecil daripada seekor semut.” Gerutuku sambil menggembungkan pipiku.

Teng…tong…teng…

MWO? Bel? Sudah berapa lama kami berada di… ruangan terbuka seperti ini?!

“Ya, jam berapa sekarang?” Tanyaku seperti menuntutnya.

Dia melirik tangan kirinya, menatap jarum jam yang ada di jam tangan adidas hitamnya.

“jam…. AH???! Jam 3!???” Aku melebarkan mataku. Lalu mengerjap-ngerjapkan mataku. Sungguh? Jeongmal? Benarkah? Jam 3??! Aku melewati kurang dari 2 jam pelajaran terakhir kami, Sains! Kami membolos!?

Aku langsung melangkahkan kakiku menarik tangan Chanyeol yang masih hangat. Dasar, padahal ia masih demam, mengaku sudah sembuh. Sok sekali sih namja itu.

Kami turun tangga kecil ini lalu pergi ke kelas. Dan…

“Kau kemana saja, Byun Eunji? Park Chanyeol?”

“Ah, itu….”

“Tadi kami menyelesaikan masalah kami, saem.” Aku menoleh ke arah Chanyeol—yang menjawab guru Kang tadi. Lalu aku mengangguk-angguk kepada guru Kang.

Aku melihat guru Kang tersenyum penuh arti pada kami berdua yang masih di depan pintu kelas. Guru Kang pun menyuruh kami berdua masuk, kami sudah berada di hadapan guru Kang.

“Ada apa saem?” Tanyaku.

“Kalian pacaran ya? Jujur saja pada saya.” guru Kang mendelik pada kami.

“Mwo?? Ah… Guru Kang, kami tidak berpacaran!” Seruku. Ada perasaan aneh yang menjalar di hatiku. Entah apa itu. Hangat rasanya. Wajahku juga memanas sekarang. Tanpa sebab yang pasti.

Aku menunggu bantahan dari chanyeol. Akupun menggoyangkan tangannya yang masih kugenggam erat. Agar ia sadar.

“Ah, iya saem, kami tidak berpacaran.” Akhirnya dia membantah juga.

“Itu…” Guru Kang mendelik yang arahnya ke…

Tangan kami??!!!

Seketika aku langsung melepaskan tangan yang kugenggam dari tadi. Kehangatan yang menjalari tubuhku hilang seketika.

“Bukankah itu artinya kalian memiliki hubungan yang lebih dari sekedar ‘teman’? Menyelesaikan masalah? Kalian meributkan apa sih?” Goda guru Kang. Wajahku mungkin sudah merah sekarang. Tak tahu harus bicara apa lagi.

“Aniyo, saem sungguh hubungan kami hanya sekedar teman, bukan lebih.” Tutur Chanyeol yang ada di sampingku.

Aku menatap guru Kang, tatapannya padaku penuh arti. Tapi aku tak bisa mengartikan apa maksud pandangannya itu.

“Oh, geurae? Baiklah, saya hanya ingin memberi saran. Kalian jangan bertengkar lagi seperti tadi. Kalian seperti ‘suami-istri’ yang sedang bertengkar. Kalian tahu itu? Baiklah, saya keluar dulu. Sampai ketemu besok.”

Blam…

Pintu kelas tertutup. Suasana yang kubenci muncul lagi.

Aku mengambil tasku dan Chanyeol juga. Aku begitu frustasi. ‘Kalian berpacaran?‘ Kalimat itu membuatku gila. Bahkan appa, eomma dan Baekhyun juga menanyakannya padaku. Apakah semuanya ingin aku berpacaran dengan namja satu ini? Bocah seperti tiang listrik ini, jadi, namjachinguku? Gila.

“Ya, hari ini belajar di rumahmu tidak?”

“Iya..iya..” Jawabku sambil mengangguk-anggukkan kepalaku lemas. Masih memikirkan ‘pacaran’ di pikiranku.

Aku merasakan tangan kanannya merangkul bahuku. “Sudahlah, jangan pikirkan apa yang guru Kang bilang tadi. dia hanya ingin menggoda kita. Ara?”

Aku mengangguk-angguk mengamininya. Benar juga, kalau aku terus salah tingkah di depan guru Kang, aku semakin digodanya.

Lagi-lagi sifat dewasanya membuatku sadar–setelah dia menyadarkanku kalau aku bisa akur dengan Baekhyun.

Kami keluar dari kelas, turun dari tangga dan sampailah di lapangan sekolah yang luas sekali. Menghampiri gerbang sekolah rasanya seperti menyebrangi sungai han—oke aku tahu aku berlebihan sekarang. Di sepanjang jalan, aku merasa kami diperhatikan murid-murid SMA Shin yang sedang berjalan menuju gerbang sekolah untuk pulang. Jujur, aku merasa agak aneh dengan hal ini.

“Kenapa kita diperhatikan seperti ini sih?” Tanyaku sambil mendongakkan kepalaku ke sebelah kiri.

“Karena kau sedang bersama namja populer di sekolah ini”

Setelah mendengar kalimatnya tadi, aku mendelik tajam padanya.

“Dasar kau. Tak kuterima permintaan maafmu tadi.” Aku menjitak kepalanya sambil menjinjitkan kakiku. Dia benar benar seperti tiang listrik.

“Dan satu hal lagi, guru Wu lebih populer dibanding denganmu.” Ucapku menyombongkan diri, walaupun tak yakin apa yang kukatakan padanya tadi benar atau tidak.

Dia mendengus kesal. Aku bangga melihatnya kesal padaku.

Kami berdua tetap melangkahkan kaki menuju gerbang sekolah.

“Byun Eunji!!”

Aku berhenti. Menengok ke belakang karena seruan itu berasal dari belakangku.

“Guru Wu?”

“Kau lupa?” Tanyanya saat ia sudah berhadapan denganku.

“lupa? Aku melupakan apa, saem?” Tanyaku. Aku benar tidak tahu, aku melupakan apa? Aku tidak lupa menjitak rutin kepala Chanyeol agar tidak sok lagi padaku. Lalu, aku melupakan apa?

Kutatap guru Wu yang kelelahan berlari menyusulku dari gedung sekolah.

“Pulang bersamaku?”

Oh iya! Aigoo, aku malu sekali. Mungkin semburat warna kemerahan muncul di wajahku. Lalu aku mendongakkan kepalaku lagi yang tadinya menunduk karena merutuki kebodohanku.

“Mianhaeyo, saem aku lupa! Eh tapi…”

Aku menatap Chanyeol. Dia sudah berjanji pada guru Lee untuk bertanggungjawab menjadi tutorku agar nilaiku semester ini naik.

Aku menolehkan pandanganku lagi pada guru Wu. Menatapnya dengan rasa penyesalan.

“Mianhaeyo, saem. Guru Lee menyuruh kami untuk belajar bersama. Chanyeol yang bertanggung jawab menjadi tutorku. Kali ini aku pulang bersama Chanyeol saja. Sekali lagi mianhaeyo, saem.”

Aku menatapnya, matanya memancarkan kekecewaan. Aigoo aku jadi merasa bersalah pada guru Wu.

“Oh, baiklah. Gwaenchanha. Kau dan Chanyeol belajarlah yang giat, sebentar lagi Ujian Semester Pertama. Semangat!” Guru muda itu tersenyum pada kami lalu meninggalkan kami yang masih berada di kawasan sekolah.

“Kenapa kalian menggunakan bahasa informal?” Pandanganku langsung tertuju pada Chanyeol, kudongakkan kepalaku agar bisa melihatnya. Dia tampak jengkel dengan kejadian tadi.

“Eh? Entahlah. Guru Wu yang memulainya lebih dulu.”

Kami menaiki bis menuju rumahku. Lalu melangkahkan kaki menuju rumahku sambil tertawa, bertengkar, saling memukul, dan saling bertukar pandangan. Itulah yang kami lakukan selama perjalanan menuju rumahku.

Aku mendorongnya masuk ke rumahku dengan kasar, karena dia tadi membuatku kesal.

“Eomma, Appa! aku pulang!” Eomma langsung menghampiriku.

“Eh, kau membawa teman lagi? Aah Chanyeol-ssi. Kalian masuklah, di luar sangat dingin.” Eomma menyuruh kami untuk masuk ke dalam rumah.

Aku dan Chanyeol duduk di meja makan. Kami sengaja menunggu di meja makan karena dekat kompor yang sedang menyala. Jadi suhu ruangan itu sedikit lebih hangat.

“Susu coklat panas sudah siap! Ini, silahkan diminum.” eomma meletakkan nampan yang berisi dua mug putih berisi susu coklat panas. Minuman kesukaanku dan Baekhyun.

“Wuah! Ahjumma! Susu ini sangat lezat! Bolehkah aku memintanya lagi? Punyaku sudah habis.”

Mataku melebar sekejap mendengar permintaan Chanyeol. Aku menginjak kaki kanannya dengan kaki kiriku–kami duduk bersebelahan.

“AAKH!! Ya! Appo!”

“Eomma, buatkan aku dua cangkir susu coklat panas lagi ya?” Aku menatap tajam namja yang ada di samping kananku ini. Seenaknya saja dia yang memintanya. Tak sopan.

Aigoo, jangan bertengkar begitu. Aduh, eomma melihat kalian seperti sepasang kekasih. Appa, bukankah begitu?”

“Ne, kalian sangat serasi. yah, walaupun sering bertengkar sampai-sampai tak tahu bertengkar di mana.”

Mataku mendelik pada mata appa.

“Appa, eomma. Bisakah kalian berhenti untuk mengatakan aku ini serasi dengan tiang listrik ini??” Aku mendengus kesal pada appa dan eommaku.

Aish, kau ini. Kita kan memang serasi. Bukankah begitu, ahjussi, ahjumma?” Dia merangkulkan lengan kirinya pada bahuku.

Mwo?? Namja ini benar-benar ingin kubanting rasanya. Aku menatapnya tajam.

“Diam kau!!!”

Kulihat raut wajahnya berubah. Rasanya ingin sekali aku tertawa berguling-gulingan melihat wajahnya yang terkejut dan memandangku mengerikan seperti tadi.

“Oh iya, eomma, Baekhyun di mana? Aku tak melihatnya dari tadi.” Tanyaku pada eomma. Berusaha untuk mengalihkan topik pembicaraan.

“Oh, Baekhyun lagi-lagi kencan dengan yeojachingunya”

Kan, nalarku betul sekali. Ada yang aneh saat memasuki rumah ini. Rasanya ada yang kurang. Dan aku tahu pasti motorku dibawa kabur lagi.

“Motorku dipakai lagi? Kenapa dia tak bilang-bilang dulu padaku.” Aku menghela napasku kesal.

“Tentu saja dia tak mau bilang padamu. Saat dia meminta izin padamu untuk memakai motormu waktu itu, kau saja tidak mengizinkannya. Kau pelit Byun Eunji. Nonna pelit. Hahaha”

Aku mendongak pada wajah namja tiang listrik di sampingku. Aku harus bersabar. Tak boleh memperlihatkan kekesalanku padanya.

****

“Eh kau tau tidak, kalau mars itu banyak kemiripannya dengan bumi?” Tanya Chanyeol padaku yang sudah ada di dalam kamarku, duduk beralaskan karpet bulu hijauku, juga ada meja berukuran 1 x 0,5 meter yang menjadi tempat belajar kami.

“Tentu saja tahu.” jawabku sambil menyombongkan diri.

“Sebutkan apa saja..” Titahnya sambil memainkan pensil yang ada di selipan jarinya. Ia juga memakai kacamata berbingkai hitamnya itu.

“Lamanya satu hari di Mars hampir sama dengan di Bumi.”

“Lalu?”

Aku mendelik kesal padanya.

“Ah… Apalagi ya? Nah! Musim-musim yang ada di mars hampir sama dengan di bumi.”

“Penyebabnya?”

Aku meniup poniku kesal. Dasar Park Chanyeol. Andai saja bantal disekitarku. Kuremas kesal bantal itu—kuanggap  bantal itu adalah Chanyeol, lalu membuangnya ke wajah namja itu.

“Ya! Kau jangan memutar-mutar pertanyaanmu. Tentu saja karena lamanya sehari di Mars hampir sama dengan lamanya sehari di Bumi.” Seruku kesal.

Great! Lalu apa kau tahu yang membedakan mereka berdua?”

“Tidak ada.” Jawabku sambil menatapnya kesal.

Dia melebarkan matanya. “Jeongmal? Kau kelihatannya ragu dengan jawabanmu.”

“Aku tak pernah ragu, tentu saja tidak ada! Mereka kan benar-benar mirip!” Jawabku sambil melipatkan tanganku di perutku, lalu meniup poniku.

“Ckck, carilah jawabannya.” dia menjitak kepalaku. Awas kau ya!

“Malas.”

“Ah payah kau, Byun Eunji.”

“Ya!!” Seenaknya saja dia mengataiku payah!

“Kalau kau tak mau kubilang ‘Byun Eunji yang payah’, carilah jawabannya. Itu PR untukmu hari ini. Baiklah, sudah waktunya makan malam. Aku pulang dulu.”

Aku masih penasaran dengan jawaban itu. Apa perbedaan antara mars dengan bumi ya? Ada atau tidak sih? Aduh aku betul-betul bodoh.

Aku menyusulnya untuk turun ke bawah.

“Eh Chanyeol-ah, kau mau makan bersama di sini?” appa bertanya ke Chanyeol dari meja makan. Appa sudah duduk di kursi tempat biasanya ia duduk di ruang makan itu.

“Eh? Jeongmal? Wah, kamsahaeyo, ahjussi. Kebetulan di apartemenku sedang tidak ada makanan untuk makan malam. Tidak ada yang memasak pula.” Aku menatapnya iba. Kasihan sekali namja tiang listrik ini.

Aku menyusul Chanyeol yang sudah duduk di tempat biasanya Baekhyun duduk di sampingku. Aku duduk di sebelah kanannya. (Mian bahasa aku berantakan kemana-mana._.v)

“Eh? Apartemen? Kau tinggal sendiri?” Tanya appa mendelik pada Chanyeol.

“Ah, iya ahjussi. Kedua orangtuaku sudah bercerai saat aku masih kelas 3 SMP. Appaku bekerja di amerika saat ini. Jadi aku tinggal sendiri.”

“Ah, kalau begitu, setelah belajar, makan malamlah di sini!” Seru appa. Mwo? Berarti, setahun ini makan malam bersama Chanyeol? Aigoo, poor Byun Eunji…

Aku hanya bisa diam. Kutatap wajahnya yang sedang menoleh pada appa. Kasihan juga sih, di apartemennya itu tidak ada yang memasak untuknya. Tinggal sendirian, eommanya meninggal pula, dan appanya sedang pergi jauh. Kalau aku jadi Chanyeol, aku lebih baik bunuh diri saja menyusul eommaku—eh aku juga tidak yakin.

Chanyeol menolehkan wajahnya padaku. Aku langsung membuang pandanganku ke arah mangkuk nasi yang sudah ada di hadapanku, mengambil sumpit, dan memasukkan nasi yang asapnya masih mengepul itu ke dalam mulutku.

“Akh!! Panas!!” Aku langsung meneguk air putih di dalam gelasku yang ada di meja makan. Karena saking terburu-burunya, alhasil air minum di gelas itu tumpah ke kaos biru langitku.

“Kau ini, yeoja apa-apan kau ini… Ckckck.”

Sungguh, aku sangat-sangat-sangat terkejut. Ia mengambil tisu dari meja makan lalu melapkan bajuku yang terkena air. Oke, yang terkena air adalah bagian dadaku.

“Ya! Sudah, sudah biar aku ganti baju saja.” Seruku. Aku masih shock dengan perlakuannya tadi.

Mataku menatap pandangan kedua orangtuaku seakan-akan mereka berkata “astaga”. Mereka menyiratkan pandangan terkejut pada kami berdua.

Aku beranjak dari kursiku lalu menaiki tangga menuju kamarku. Kututup pintuku lalu bersender di pintu.

Aku meletakkan kedua telapak tanganku ke dada kiriku. Jantungku benar-benar berdegup kencang. Rasanya seperti sehabis berlari mengelilingi halaman sekolahku.

****

Chanyeol POV

“Ah, omona, wah kau romantis sekali Chanyeol-ah!” Aku langsung membuang pandanganku ke arah eomma dan appa Eunji. Aduh aku jadi gugup kalau reaksinya begini.

“Ah, itu, jangan dipikirkan ahjumma, ahjussi. Aku hanya membantunya mengeringkan pakaiannya.” Jawabku gugup sambil mengedarkan mataku entah apa yang kulihat.

Ah, kurasa aku harus meminta maaf pada Eunji. Karena tadi aku melapkan bajunya yang basah di dadanya. Aduh aku malu. Padahal aku sama sekali tak berniat menyentuhnya.

“Ahjussi, ahjumma, aku ke kamar Eunji sebentar ya. Kurasa aku harus meminta maaf padanya.” Aku melihat mereka mengangguk-anggukkan kepala.

Aku menaiki tangga menuju kamar Eunji. Kubuka pintu kamarnya.

“KYAA!!!!”

“AAAAAH!”

BLAM…

Kututup kembali pintu kamarnya. Bersandar di pintunya. Apa yang kulihat barusan??!! Astaga!

“Ya! Kau!! Neo jugeosseo Park Chanyeol!! Kau akan mati!!! Kubunuh kau!!! Apa yang kau lihat tadi hah!!???” Aku mendengar teriakan di dalam kamar itu. Teriakannya sangat kencang, memekakkan telingaku.

Mianhae!! Jeongmal mianhae!! Aku tak sengaja!!! Sungguh!!!” Teriakku membalas teriakannya di luar kamarnya.

Kudengar derap langkah kaki mendekat ke arah pintu. Lalu pintu itu terbuka dan membuatku jatuh ke belakang–karena aku sedaritadi menyenderkan tubuhku di pintu kamarnya.

“Sini kau!” Aku masih terbaring di lantai, tiba-tiba tanganku diseret olehnya.

****

Eunji POV
“Sini kau!!” Berani-beraninya dia membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu. Padahal aku sedang membuka kaosku yang tadi basah terkena air. Aigoo, apa saja tadi yang ia lihat?

Aku meraih tangannya dan menyeretnya. Eh? Tangannya masih panas? Kenapa amarahku tergantikan dengan kecemasanku padanya? Aku harus bagaimana ini? ‘Membunuh’nya atau merawatnya seperti yang ia minta padaku saat di sekolah tadi?

Aku tak tega, aku membaringkannya di karpet hangat—tempat  kami belajar tadi. Lalu turun ke bawah, mencari obat penawar demam. Setelah kutemukan, aku mengambil segelas air putih lalu pergi ke kamarku.

“Ini minum. Aku tahu kau masih demam.”

“Eh? Kau tak marah padaku?” Tanyanya dengan mata melebar.

Aku menjitak kepalanya. “Tentu saja aku marah, babo-ya! Kau membuka pintu kamarku tanpa mengetuknya. Padahal aku sedang membuka bajuku. Dasar namja mesum!” Gerutuku kesal.

Dia yang merebahkan punggungnya di kaki ranjangku tersenyum. Senyumannya..

“Mianhae, aku sungguh aku tak berniat begitu. Lagipula manakutahu kau sedang membuka bajumu. Kau yang bodoh, kau tidak mengunci pintumu. yah, tentu saja ini tidak murni kesalahanku. Kau juga salah. “
Tangan kanannya mengacak-acak rambut coklatnya.

Aku kesal! Sialan! Ia mengataiku bodoh. Tapi benar juga apa yang ia katakan, aku juga salah, bodohnya aku lupa untuk mengunci pintu.

“Baiklah, kuakui aku juga salah. Kita sama-sama salah. Jadi jangan saling menyalahkan.” Titahku sambil meniupkan poniku.

“Oh iya. Minum ini, ppalli. Kau belum sembuh total, Park Chanyeol.” Aku memberinya obat yang kuambil tadi dan segelas air putih.

“Gomawo” ucapnya dengan senyumannya. Astaga, kenapa senyumannya ini membuatku merasa kikuk, aneh, dan entah apalah yang kurasakan—aku  bingung untuk mendeskripsikannya, karena aku sendiri tidak tahu apa yang harus ku deskripsikan—.

Ia menyerahkan kembali gelas itu padaku. Aku meletakkannya di sampingku.

“Kau tidak pulang?” Tanyaku.

“Eh… Baiklah. Aku pulang.” Dia bangkit dari duduknya lalu mengambil blazer seragamnya dan tas punggungnya.

“Kau jangan sampai sakit sepertiku ya…”

Blam…

Kamarku di selimuti keheningan yang mendalam ketika Chanyeol meninggalkan sepenggal kalimatnya padaku sebelum ia meninggalkan kamarku.

Aku memeluk guling yang ada di ranjangku. Sungguh, aku butuh teman curhat sekarang.

Aku turun ke bawah dan eomma bilang Chanyeol sudah pulang. Aku khawatir memikirkannya yang masih demam. Apakah dia akan baik-baik saja?

Noona, gomawo motornya untuk hari ini. Yeojachinguku senang sekali berkencan denganku tiap pulang sekolah.” Baekhyun menyerahkan kunci motorku ke tanganku. Aku masih memandang kosong entah kemana mataku memandang. Mematung di depan pintu.

Noona, kau kenapa?” Baekhyun menghampiriku dan membalikkan tubuhku yang membelakanginya.

“Kau sakit ya?” Dia menyentuh dahiku.

“Hhh kukira kau sakit.” Dia meninggalkanku.

Chamkkam!” Seruku.

Langkahnya terhenti saat aku menyeru padanya.

Wae?” Tanyanya mendelik padaku.

“Aku ingin bertanya padamu.”

“Eh??” Dia mendekat padaku. “Kau ingin bertanya apa, noona?”

“Baiklah, di kamarmu saja.” Aku menarik Baekhyun ke kamarnya yang berada di sebelah kamarku.

Sesampainya di kamarnya, aku tercenga. Tumben sekali kamarnya rapi.

“Kau apakan kamarmu?” Tanyaku menoleh ke wajahnya, dia masih lebih tinggi dibanding denganku, hanya beda 10 sentimeter—kurasa.

“Aku membersihkannya. Tak boleh? Ini kan kamarku. Apa hakmu?”

Sifat menjengkelkannya keluar. Kalau Byun Baekhyun tetaplah Byun Baekhyun yang menjengkelkan.

“Ya! Aku kan hanya bertanya!” Aku menghempaskan tubuhku di ranjang bocah ini. Ya aku cukup beruntung saat ini, kamarnya rapi, jadi aku tak perlu stres sendiri melihat kamarnya yang berantakkan seperti biasanya.

Dia menyusulku membaringkan tubuhnya di sampingku.

“Kau mau menanyakan apa, noona?”

Aku menatapnya dengan sudut mataku ke arah kanan.

“Kau sudah pernah jatuh cinta kan?” Pertanyaanku membuatnya tercekat.

“ya.. Ya, pernah. Wae?”

Aku membalikkan badanku ke arah kanan, menghadapnya. “Saat kau berpikir, kau sedang jatuh cinta, apa yang kau rasakan dengan orang yang kau cintai itu? Seperti apa rasanya, bila sedang berada di dekatnya?”

“Eh, noona, kenapa kau bertanya begitu?”

“Jawab saja” titahku, terdengar gugup.

“Ah.. Itu, rasanya sangat menyenangkan. Bila aku berada di dekatnya, dadaku berdebar tak menentu. Wajahku panas ketika berhadapan dengannya dengan jarak yang dekat. Sebelum mengetahui aku jatuh cinta padanya, aku merasa perasaan aneh menyelimuti hatiku. Itu yang kurasakan, noona.” Aku memperhatikan gaya bicaranya yang begitu dewasa. Ucapannya benar-benar dari hatinya yang paling dalam. Aku berdecak kagum.

“Kau juga merasakan seperti apa yang kurasakan, noona?” Dia tersenyum jahil menatapku. Cih! Dasar! Aku kubur dalam-dalam lagi kekagumanku padanya.

A..ani!”

Kotjimal.” Dia membalikkan tubuhnya yang terbaring itu ke arah kiri, sehingga berhadapan denganku.

“Ya!”

“Jujur saja. Kau menyukai Chanyeol hyung kan? Iya kan? Aku benar kan??”

Dia menatapku penuh dengan binar-binar kesenangan, kebahagian.

“Dada berdebar, merasakan perasaan aneh, muka memerah?Itukah yang dinamakan jatuh cinta?”

“Iya, kau merasakannya?”

Molla.”

Kudengar decakan kesal dan kecewa dari mulut adikku ini.

“Oh iya, kenapa tadi noona tak marah padaku? Aku kan membawa kabur motormu?” Tanyanya yang mengalihkan pembicaraan.

Aku terduduk, ingin menjelaskan sesuatu pada adikku. Mungkin dia sudah tahu rahasia-rahasiaku. Tapi rahasia yang satu ini, belum ia ketahui. Hanya aku yang mengetahuinya–tentu saja Tuhan juga tahu.

“Kau mau tahu kenapa aku tak mau meminjamkan motorku padamu?” Tanyaku tersenyum padanya.

“Eh? Karena kalau aku meminjamnya, motormu akan berakhir mengenaskan?”

“Bukan itu babo.” Aku menjitak kepalanya.

“Ya! Lalu apa?” Deliknya penasaran.

“Kemarilah. Aku akan memberitahu rahasia terbesarku yang belum pernah diketahui orang lain.”

Ia mendekatkan dirinya padaku. “Marhaebwa

“Jadi, 3 tahun yang lalu, saat aku masih kelas 3 SMP, aku bertemu seseorang. Kau ingatkan? Aku sempat kecelakaan kecil saat pertama kali mengemudikan motor baruku sendirian sore itu.”

Dia mengangguk-angguk, tandanya mengetahui apa yang kumaksud.

“Orang bermantel putih itu, menolongku saat motorku tergelincir karena saat itu salju sangat lebat, tentu saja jalanan menjadi licin.”

Aku mengkilas balik kejadian 3 tahun lalu, saat aku mencoba mengendarai motor baruku di jalanan dekat rumahku.

FLASHBACK

“AAAAAH”

Bruk…

Aduh, sakit sekali kakiku. Motorku tergelincir. Motor ini menindih perut hingga kakiku. Sakit.

“Hei, gwaenchanha?”

Aku mendongak saat mendengar suara berat itu. Aku melihat orang itu memakai masker, mantel putih, dan jeans hitam. Aku tak bisa melihat wajahnya dengan jelas. Aku juga tidak mengenalnya.

Aku masih merintih kesakitan, karena motorku masih menindihku.

Tiba-tiba aku tak merasakan beban yang menindihku. Aku melihat dengan sedikit tidak jelas pada orang itu. Dia mengangkat motor yang menindihku.

Lalu ia mengulurkan tangannya padaku. Aku menatap tangannya. Tangannya memerah, mungkin karena kedinginan. Aku pun meraih tangan kanannya itu dengan tangan kananku. Sementara tangan kiriku memegang perutku yang sakit karena tertindih.

Aku terduduk dengan meluruskan kedua kakiku. Orang itu berjongkok di sampingku.

gwaenchanha?” Ia bertanya lagi padaku, mendekatkan wajahnya padaku. Mungkin jarak antara wajah kami sekitar 20 sentimeter.

Aku mengangguk lemas pada namja itu. Aku mendongak lagi. “Gomawoyo, ahjussi.”

Aku menatap matanya. Sorot matanya menatapku. Aku tahu dia tersenyum tipis karena melihat perubahan garis wajah di sekitar matanya. Sehingga aku tahu dia sedang tersenyum dan aku juga ikut tersenyum padanya.

“Lain kali, hati-hati ya.” Aku masih menatap matanya yang tersenyum padaku. Dia mengelus-elus rambutku.

Aku menatap punggungnya yang tegap, melangkahkan kaki menjauh dari tempat dimana aku mematung sambil terduduk di aspal jalanan sepi itu. Semoga kita bertemu lagi, Masked Guy…

*end of Flashback*

“Itu yang kau maksud rahasia terbesarmu?” Baekhyun mengangkat sebelah alisnya.

Aku mengangguk sambil tersenyum, mencoba mengingat orang itu lagi.

****

 

Chanyeol POV

Hyung!”

“Eh? Baekhyun? Kau baru pulang?” Tanyaku ketika tahu bahwa yang menyerukan namaku barusan ialah Baekhyun, adik Eunji.

“Iya. Ehehe. Belajarnya sudah selesai? Ah sayang sekali. Aduh aku lapar sekali.” Ujarnya sambil mengelus-elus perutnya.

“Makanlah. Oh iya, tadi Eunji mencarimu. Kau hati-hati dengannya.” Aku menepuk bahunya, aku berniat menakutinya. Ehehe.

aish. Baiklah, hyung. Jaljayo!” Aku menatap motor matic yang sedang dikendarai Baekhyun semakin menghilang dari pandanganku.

Aku terus berjalan hingga aku sudah berada di luar kompleks rumah Eunji. Eh, ini aneh. Kepalaku terasa berat. Mataku sangat berat. Aku terkantuk. Tapi aku menahannya, aku harus pulang.

 

Bruk

Aku terjatuh. Lututku sakit sekali. Aku mencoba untuk bangkit. Tapi kepalaku pusing. Mungkin ini efek dari obat penawar demam yang kuminum tadi.

“Park Chanyeol?” Aku mendongakkan kepalaku.

Saem?” Kulihat guru Wu menghampiriku.

“Kau baik-baik saja?” Dia berjongkok dihadapanku. Aku mengangguk-angguk. Kepalaku masih pusing.

“Kau sakit? Saya akan mengantarmu ke rumahmu.”

“Ne?”

“Iya, kau sakit. Saya akan mengantarmu.”

Dia memberi tangannya padaku, aku menerimanya. Dia membantuku untuk beranjak dari aspal itu.

“Masuklah” guru Wu duduk di kursi pengemudi.

Aku langsung memasuki mobil guru Wu—aku tak menyangka ia mempunyai mobil semahal ini—dan duduk di kursi penumpang yang ada di samping kursi pengemudi.

Di dalam mobil, kepalaku sangat pusing dan mataku sangat berat. Aku melepaskan sarung tangan rajut buatan eommaku dari kedua tanganku, karena mobil ini sudah dilengapi pemanas.

“Chanyeol-ssi, rumahmu di mana?” Tanya guru Wu.

Green Residence lantai 16 nomer 1609” jawabku yang mulai kehilangan kesadaranku.

****

Author POV

Kris merangkulkan tangan Chanyeol ke pundaknya. Lalu menuntunnya ke apartemen yang Chanyeol maksud. Lalu menaiki lift. Ketika sampai di lantai 16, matanya mengedarkan ke arah nomer pintu, mencari serentetan nomer 1609.

Setelah menemukannya, ia berusaha membangunkan Chanyeol. Ia menyandarkan Chanyeol di dinding dengan terduduk. Ia berjongkok di samping Chanyeol, membangunkannya.

“Chanyeol-ssi, bangunlah.” Dia mengguncang-guncangkan kedua bahu Chanyeol.

Tak menunggu waktu lama, Chanyeol terjaga dari alam bawah sadarnya

“Ah saem? Sudah sampai ya? Mianhamnida, telah membuatmu repot.” Chanyeol berdiri. Dan Kris menyusulnya berdiri.

Ia menepuk bahu Chanyeol. “Baiklah saya pulang dulu. Jangan pulang terlalu malam lagi. Untung saja saya melihatmu. Kalau tidak bagaimana? Baiklah, sampai bertemu besok.”

Chanyeol menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal.

Saem!” Serunya.

Kris yang sedang berjalan di lorong apartemen itu menolehkan kepalanya pada Chanyeol.

“Kamsahamnida, saem. Kau begitu baik.” Ia membungkukkan kepalanya hormat pada Kris. Kris tersenyum.

“Tidak apa-apa.” Ia membalikkan badannya lagi dan menghilang begitu saja seiring waktu berjalan.

Chanyeol segera menekan beberapa tombol angka di dekat pintu apartemennya. Ketika pintu sudah terbuka, ia memasukinya lalu menutupnya kembali.

****

Namja bermantel coklat itu memandang jalanan yang ada di hadapannya, serius mengendarai mobilnya di kursi kemudinya.

“Sampai semalam inikah ia dirumahnya?”
Ia menggumam heran dalam hatinya setelah melihat arloji hitamnya yang menunjukkan pukul 20.00”

Kris sebenarnya bisa melihat Chanyeol saat itu karena ia berniat mengunjungi rumah Eunji. Ketika ingin memasuki komplek perumahan Eunji, ia melihat Chanyeol yang sedang memegang kepalanya dan terjatuh begitu saja. Karena itu, ia bisa membawa Chanyeol ke apartemennya dengan selamat.

Ia menoleh ke kursi penumpang di samping kanannya. Ia melihat sebuah barang yang bukan miliknya.

Lalu menoleh pada arah jalanan lagi. Dan bergumam “Apakah sarung tangan rajut merah itu milik Chanyeol?”

****

Eunji POV

Noonaaaa!! YA!!! IREONA!!!!!”

Bruk.

Aduh, badanku sakit. Aku membuka mataku pelan-pelan. Lalu tampaklah sosok yang menjengkelkan di hadapanku.

“Byun Baekhyun….”

Ireona! Sudah jam setengah tujuh!”

Kegeramanku hilang begitu saja. Setengah tujuh… lagi? Aku langsung bangkit dari lantai yang tertutupi karpet bulu hijauku. Mengambil handuk yang biasanya kugantung di jemuran kecil balkon kamarku.

Baru saja memegang handuk itu, tanganku sepertinya sudah disengat es.

“Kenapa handuknya dingin?” Gerutuku.

“Kan sudah pernah kukatakan padamu waktu itu, handukmu jangan kau taruh di luar. Ini, pakai handukku.”

Dia melempar handuk yang sedikit basah padaku yang masih heran.

“Ya!

Ppalli! Kau nanti terlambat! Lihat adikmu ini, sudah berseragam. Kau masih memakai piyama. Cepat mandi!”

Perintahnya itu seperti dilontarkan pada budaknya sendiri. Awas saja kau Byun Baekhyun. Tanpa kupedulikan, aku langsung memasuki kamar mandiku.

“Mandinya yang cepat! Jangan lupa gosok gigimu, mandi yang bersih, cuci mukamu agar tak jerawatan lagi seperti dulu!”

“DIAM KAU!!!”

“Hiiiiy dasar noona menakutkan. Baiklah, kutinggal sarapan ya!” Suara derap kaki mendekati pintu kamarku.

BRAK.

“JANGAN KAU BANTING KERAS-KERAS PINTUKU, BAEKHYUN TENGIL!!!!!!!” Seruku memuncahkan kekesalanku padanya.

****

“Mwo? Jeongmal. Kau ini mandi atau hanya sekedar menyiramkan air di tubuhmu? Mandinya cepat sekali.”

Mendengar perkataan Baekhyun, membuatku menyesal menceritakan rahasiaku padanya.

“Diam kau” desisku sambil menatapnya tajam.

“Baiklah, kau sarapan yang benar ya. Jangan sampai terburu-buru lalu tersedak lagi seperti kemarin. Eomma! Appa! Aku berangkat sekolah. Jaljayo!”

Pergi kau jauh-jauh, Byun Baekhyun.

Setelah menelan semua sarapanku—hanya dengan 2 menit—, aku  langsung mengambil mantel coklatku dan scarf merah yang kulilitkan di leherku.

“Appa, kumohon antar aku lagi. Ppalli, kalau aku telat lagi, aku tak bisa masuk sekolah.”

“Eunji-ah! Ini bekalnya! Kau memintanya kemarin kan?” Seru eomma yang menyusulku.

Tanpa basa-basi, aku langsung mengambil kotak makan bekalku itu. “Gomawo eomma. Jaljayo!”

Aku dan appa segera menuju SMA Shin. Semoga tidak telat lagi. Kumohon ya Tuhan.

****

Saem!! Beri saya kesempataaaan!! Saya mohon!! Kasihanilah saya!!! Huweee.” aku merengek pada guru Lee sambil memegang pagar hitam SMA Shin yang tinggi dan besar.

“Sudah saya katakan kemarin, kalau kau terlambat lagi, saya tak akan tolerir lagi.” Aku memandang punggung guruku itu hingga menghilang dari pandanganku.

Aku menghentakkan kakiku kesal di aspal sekolah itu. Kenapa harus terlambat lagi??!!

****

Kris POV

“Park Chanyeol dan Byun Eunji tidak masuk?”

“Ne, guru Wu. Saya tadi tidak melihat mereka berdua. Atau mereka janjian membolos? Wah, hubungan mereka semakin mencurigakan.” Jawab guru Kang.

Aku hanya tersenyum kaku mendengarnya.
Lalu bagaimana caranya aku mengembalikan sarung tangannya? Kuperhatikan lagi sarung tangan Chanyeol di kursi mobil yang berada di samping kananku. Haruskah aku ke apartemennya?

****

 

Teng…tong…

Kutekan tombol bel yang ada di apartemen nomer 1609, yang pemiliknya adalah muridku, Park Chanyeol.

Krek. Pintu apartemennya kini sudah terbuka. Aku membuka pintu.

Aku sangat terkejut melihat yeoja itu di sini…

-To Be Continued-

Mianhae kepanjangan. aku juga lagi stres nih, besok udah masuk sekolah aja x_x. Aku mohon doanya ya *eh* semoga aku, @yunizarainun @annisanava @rztlulfa sekelas lagi!!! Щ(>.<Щ) Щ(º̩̩́Дº̩̩̀Щ)

Oh iya, untuk yang nunggu Just For You sama Oppa, mohon sabar ya *plak* *mending ada yang nunggu* soalnya aku lagi kena penyakit yang biasanya dilanda para author #plak.

Aku mohon RCLnya yaa. Komen ya plis plis yaya?? Biar ceritanya bisa aku perbaikin di next part 😉

Paipaai!!

Salam ^^ ppuing-ppuing^^ 😀

Advertisements

102 responses to “Love Button [Part 2-B]

  1. Pingback: Love Button [Part 9] | FFindo·

  2. wkwkwkwk. ngakak banget waktu chanyeol gak sengaja ngintip eunji ganti baju, terus sifatnya baekhyun. ih, sumpah. lucu banget xD
    dan entah kenapa saya mendadak pingin pingsan wkt ngebayangin chanyeol bersikap dewasa. uwooo! uwooo! xD

    kereeen! kisah cinta yg mengocok perut (?)! LIKE IT! xD

    lanjut~!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s