SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: SIWON THE BOSS (PART 13 A)

SIWON THE BOSS (PART 13 A)

Author: Kim Hye Ah

Cast: Choi Siwon (SUPER JUNIOR)

Stephany Hwang aka Tiffany (SNSD)

Additional Cast: Member Super Junior & SNSD

Rating: PG-17 (NC?). This ff contains ‘ a bit young-adult romantic genre’. Please beware before reading it

Genre: Romance, Friendship

Disclaimer: Humans, things, and ideas here belong to God. Full crediting me, my blog, and this page if you wanna take it out.

Poster: missfishyjazz@myfishyworld.wordpress.com

PS: I apologize for typo.

Resensi Cerita Lalu

“Perkenalkan aku Song Hyo Ri, aku yeoja chingu dari Siwon-ssi.”

“Katakan itu bohong! Kalian hanya berpura-pura saja bukan? Yeoja itu dibayar untuk menjadi kekasih sementara hanya untuk menutup skandal ini bukan? Katakanlah Siwon, ia bukan yeoja chingumu!”

“Maafkan atas kelancanganku. Aku terpaksa menciummu untuk mengalihkan perhatian wartawan itu dan untuk membuat Tiffany pergi. Percayalah ini demi kebaikan kalian berdua.”

Chapter 1   |    Chapter 2   |    Chapter 3   |    Chapter 4   |   

Chapter 5   |    Chapter 6A   |   Chapter 6B |    Chapter 7   |  

Chapter 8   |   Chapter 9   |    Chapter 10 |    Chapter 11   |  Chapter 12 |

 

Tokyo

1,5 Tahun Kemudian

Author POV

Seorang yeoja tampak berjalan cepat menghindari kerumunan orang-orang yang tengah menikmati mekarnya bunga sakura di sekitar Shinjuku goen. Kepalanya menunduk tampak tidak perduli dengan kondisi sekitar, kontras sekali dengan antusiasme orang-orang yang ingin merayakan datangnya musim semi ini. Mereka menggelar karpet, dan seperti layaknya orang-orang yang tengah berpiknik, menyiapkan bento, sake, dan mengobrol ringan sambil berfoto dibawah rindangnya pohon ume dan sakura. Tapi yeoja itu terus berjalan keluar masuk kereta stasiun kereta bawah tanah dengan menjinjing tas berisi tumpukan dokumen yang harus segera diselesaikannya. Tidak seperti saat di Korea yang terbiasa mengendarai mobil pribadi, di Jepang ini, Tiffany lebih memilih untuk hidup sederhana. Pulang pergi menggunakan kereta dan memilih bersepeda untuk jarak dekat. Ia ingin memulai hidup baru dengan jiwanya yang baru. Jiwa yang lebih menerima dan berdamai dengan keadaan. Ia ingin melupakan separuh masa lalunya yang identik dengan kemewahan untuk menjadi Tiffany yang lebih apa adanya. Setahun lebih berlalu, ternyata banyak perubahan yang terjadi dalam dirinya.

“Kau yakin dengan keputusanmu Tiffany?”

Tiffany teringat saat ia memaksa Appa untuk mengijinkannya tinggal di Jepang setahun setengah yang lalu.

Yeoja itu mengangguk dengan mantap. Omma melihatnya dengan tatapan sedih, ia tidak rela kehilangan anaknya lagi untuk kedua kalinya.

“Boleh Appa tahu alasanmu?”

“Aku ingin mencari suasana baru, tantangan baru. Aku sudah cukup berkompeten menjadi Direktur PR di kantor pusat di Seoul ini. Saatnya aku lepas dari zona nyaman dan mencoba belajar hal lain.”

“Kau juga bisa belajar banyak di sini.”

“Jepang lebih menantang, etos kerja mereka jauh lebih tinggi dari kita. Aku ingin belajar banyak dari mereka.”

“Apakah hanya itu alasannya?”

“Perusahaan kita di Jepang masih tergolong baru. Butuh orang yang cukup berpengalaman untuk menjadi Direktur Perencanaan di sana. Aku pikir aku bisa melakukannya. Aku telah berkonsultasi dengan Direktur Utama kita di sana, aku pikir aku bisa bekerjasama dengan Kamio sajangnim. Dia menyenangkan, sangat terbuka terhadap perubahan, dan ide-idenya selalu segar.”

“Maksud Appa, apakah ada sangkut pautnya dengan masalah pribadimu di sini?”

“Hmm aku tidak mengerti maksud Appa,” Tiffany pura-pura tidak tahu.

“Jujurlah, apa kau ingin menghindar dari Siwon?, ” Appa berbisik takut suaranya terdengar oleh Omma,”Setelah apa yang terjadi pada kalian berdua, tampaknya kau ingin kabur darinya.”

Tentu saja itu adalah alasan utama. Tapi haruskah Tiffany jujur pada Appa?

“Aku tidak sedang menghindari siapa-siapa. Kami sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi.”

Sejak kapan Tiffany memiliki hubungan dengan Siwon? Dari sejak awal sampai sekarang mereka tidak memiliki hubungan atau komitmen apa-apa. Tapi setidaknya ia pernah memiliki waktu bersama yang menyenangkan dengan namja itu. Dan ketika mengenang momen itu, dengan senang hati Tiffany menyebutnya mereka memiliki hubungan. Mungkin untuk menyenangkan hatinya saja, setidaknya ia pernah memiliki sebuah cinta platonis walaupun aneh.

“Kau yakin? Appa tidak mau kau pergi hanya karena masalah pribadi atau karena kau ingin kabur dari masalahmu.”

“Percayalah Appa, aku adalah pekerja yang professional. Tidak akan kubiarkan urusan pribadi menggangguku.”

Walaupun sebenarnya ia sangat tidak professional karena seluruh alasan utamanya untuk pergi ke Jepang adalah karena seorang Choi Siwon! Namja yang telah membuatnya jatuh cinta untuk pertama kali dan membuatnya merasa menjadi seorang yeoja seutuhnya. Tapi di saat yang sama menghempaskan dan membuatnya terpuruk seperti ini.

“Posisi itu memang pernah Appa tawarkan padamu dulu. Tidak ada kandidat terbaik selain dirimu. Tapi saat itu kondisi belum serumit ini. Belum ada Choi Siwon, pertengkaran kita, dan penderitaanmu saat kita terpisah. Semua itu membuat Appa kini sulit mengijinkanmu pergi.”

“Kumohon Appa, tolonglah. Berikan kesempatan itu padaku. Aku tidak bisa lagi memberikan alasan yang memuaskan Appa tapi Appa bisa melihat buktinya nanti. Aku akan bekerja dengan keras dan membuat Appa bangga. Appa tidak akan menyesal mengijinkanku pergi.”

“Kau selalu membuatku bangga anakku.”

“Aku ingin membuatmu lebih bangga padaku, tolonglah.”

Appa menghela nafas, rasanya berat melepaskan Tiffany pada saat ia baru  saja menemukan anaknya kembali. Tapi ia mengenal sifat Tiffany yang begitu keras kepala, jika ia memiliki keinginan yeoja itu tidak akan pernah menyerah. Andaikata Tiffany pergi ke Jepang beberapa tahun lalu, mungkin tidak masalah bagi dirinya. Tapi sekarang melihat anaknya pergi rasanya terlalu berat. Tapi ia tahu cepat atau lambat anaknya itu akan meninggalkannya, ia hanya harus bersiap-siap menjaga hatinya juga hati Omma.

“Adakah hal yang bisa Appa lakukan untuk mencegahmu pergi ke Jepang?”

Tiffany menggelang,”Sekarang aku hanya membutuhkan dukungan dan doa dari Appa dan Omma supaya aku bisa bekerja dengan baik di sana.”

Rasanya Tiffany sudah tidak bisa dibujuk lagi. Ia sudah kukuh dengan pendiriannya.

“Jika kau di sana apakah kau akan sering mengunjungi kami?,” Appa menyerah dengan pendirian anak semata wayangnya itu.

“Tentu saja. Appa dan Omma juga bisa mengunjungiku di sana. Jarak Jepang dan Korea tidak jauh.”

“Kau akan sering menghubungi kami bukan?”

“Kita akan saling berbicara tiap hari jika itu yang Appa dan Omma inginkan.”

Begitulah percakapan itu kini membawanya tinggal di sebuah apato kelas menengah di daerah Kayabacho, Tokyo. Bukan mansion mewah atau perumahan real estate seperti yang diinginkan Appa. Ia nyaman tinggal di kamar berukuran studio itu, sendirian, memasak untuk kebutuhan sehari-hari dan tidak jarang menyiapkan bento untuk bekal makan siang. Pengalamannya bersama Siwon membuatnya lebih menyenangi aktivitas memasak dan menata rumah. Apartemen mewah tidak memberikannya kebebasan itu karena semuanya telah full furnished dan makanan lezat selalu tersedia dengan mudahnya.

Yeoja itu kini sudah keluar dari kerumunan orang-orang yang dengan massif keluar dari gerbong kereta. Hari itu hari Minggu pagi dan hari pertama dimana Sakura mekar. Tidak heran orang berbondong-bondong keluar hanya untuk menikmati bunga yang hanya tumbuh di musim semi ini. Ironis, Tiffany justru keluar untuk bekerja. Tidak ada waktu tanpa bekerja, bahkan di hari-hari weekend dan libur seperti hari ini sekalipun.

Ia memasuki suatu gedung mewah dengan langkah cepat, meraih kunci dalam tasnya dan membuka ruangan kerjanya yang tertata rapi. Ia memakai kacamatanya, mengetik sesuatu di layar komputernya dan sesekali membaca tumpukan dokumen dan buku yang ada di samping kanan mejanya. Tampak berkonsentrasi dan serius. Tidak ada garis senyum di wajahnya. Tatapan matanya beku dan tidak berjiwa. Begitulah Tiffany sekarang. Ia telah berubah banyak dari seorang putri mahkota idaman yang hangat dan manis menjadi gadis sederhana yang serius, dingin, dan misterius.

8 jam kemudian.

Tok tok

Seseorang mengetuk pintu ruang kerjanya.

Tiffany menengok, seorang namja memasuki ruang kerjanya dengan santai.

“Kamio-san? Ada yang bisa kubantu?”

Namja berbaju tshirt dan bercelana denim pendek itu menghampiri mejanya dan meletakkan sebungkus kantung plastik. Wajahnya memancarkan keramahan dan keperdulian.

“Konichiwa Fany-san. Aku bertaruh bahwa kali ini kau akan lembur lagi  dan bentomu telah habis untuk makan siang tadi. Jadi kubawakan kau ini, satu set makuni-uchi bento, donburi, dan miso siru, plus takoyaki dan maanju”

“‘Makanan yang menggugah selera. Domo Kamio-san, tapi kau membuatku seolah-olah perempuan rakus. Ini terlalu banyak,” Tiffany kebingungan dengan semua makanan ini.

“Daijobu, kau bisa menyimpannya di kulkas, siapa tahu besok kau masih ingin memakannya.”

“Rasanya aku akan butuh bantuanmu untuk memakannya.”

“Aku beli ini hanya untukmu bukan untukku tapi jika kau memang butuh teman saat kau makan, panggillah, aku akan selalu di sini.”

“Kau ikut-ikutan lembur juga rupanya. Seorang CEO sepertimu seharusnya sekarang sedang ada di lapangan golf atau di klub-klub papan atas atau di pesta-pesta amal para sosialita. Bukan terkurung dalam ruangan penuh buku seperti ini.”

“Hahaha kau melihatku terlalu tinggi,” Kamio menganggap pujian Tiffany sebagai lelucon belaka,”Sampai sekarang aku selalu merasa rikuh jika bersama mereka.”

“Begitukah? Kau terlalu bekerja keras Kamio-san dan kau layak mendapatkannya. Liburan ini harusnya kau sedikit bersantai.”

“Lalu bagaimana denganmu, kau bekerja keras melebihi aku. Tidak pernah ada kata libur, tidak pernah ada batasan jam kerja. Seluruh waktumu hanya untuk bekerja.”

“Karena aku menginginkannya.”

“Aku juga, pekerjaan ini adalah hidupku dan terlebih lagi ada kau di sini. Aku ingin menemanimu.”

Deg, jantung Tiffany berdetak. Ada sesuatu yang aneh ketika Kamio mengatakannya. Perhatiannya, kebaikannya selama ini apakah ada sesuatu? Ketika pertama kali ia menginjakkan kakinya di Jepang, namja itulah yang selalu siap menolongnya, memberikan arah supaya ia bisa memahami kota Tokyo ini lebih baik dan tentu saja mendampinginya setiap ia membutuhkan bantuan. Walaupun di Jepang ini praktis ia hampir tidak memiliki teman karena terlalu sibuk bekerja tapi ia masih memiliki Kamio yang selalu berada di sisinya. Kepada namja itu pulalah ia berani bercerita mengenai kehidupan cintanya yang tragis, walaupun sampai sekarang Kamio belum tahu siapakah namja yang telah membuatnya nyaris menjadi yeoja yang dingin seperti ini.

Namja itu menatap Tiffany dengan lembut. Tiffany balas menatapnya dengan hati-hati.

“Aku masih menunggumu, Tiffany. Selalu menunggumu sejak pertama kali kita bertemu.”

Tiffany tidak mau lagi menjadi yeoja yang bodoh yang tidak mengerti apa itu cinta. Ia mengerti sekali setiap signal yang diberikan Kamio. Secara tersirat namja itu sering mengungkapkan perasaannya. Tapi ia belum bisa, hatinya masih terkunci untuk Siwon.

Ia terdiam mencari jawaban yang tepat.

“Aishiteru Tiffany-san.”

Kamio, namja dengan lesung pipit di kanan kirinya mencoba tersenyum tenang walau sedikit kikuk. Ia telah mengumpulkan segenap keberanian untuk menyatakan perasaannya termasuk keberanian menerima kekalahan jika yeoja itu menolaknya.

“Kamio-san, gomenasai.”

Yeoja itu menunduk, ia menyukai Kamio dengan semua kebaikan dan perhatiannya. Tapi hatinya sudah lama membeku dan ia membutuhkan seseorang yang lain untuk mencairkannya. Sayangnya orang itu bukan Kamio, namja yang selalu mengisi hari-harinya selama setahun ini.

“Wakarimashita, aku mengerti. Cinta memang tidak bisa dipaksakan. Maafkan jika membuatmu tidak nyaman.”

Kamio tampak menerima penolakan ini dengan tabah. Ia tetap tersenyum walaupun mungkin hatinya sakit, tapi ia memang sudah menyiapkan diri jika yeoja itu tidak menerimanya.

“Kau sangat baik, mana mungkin aku merasa tidak nyaman. Hanya aku belum siap saat ini Gomenasai Kamio-san.”

“Kau masih menunggunya?,” Kamio tahu Tiffany belum bisa melupakan sosok namja misterius itu dari hatinya.

“Entahlah, aku tidak tahu. Sudah hampir  dua tahun sejak kejadian itu. Tapi aku masih belum bisa membuka diriku. Aish sudahlah, kenapa aku jadi banyak bercerita seperti ini.”

Namja itu menyunggingkan senyumnya yang membuat kedua lesung pipitnya semakin terlihat jelas. Bahkan setelah ditolakpun ia masih mampu mengangkat kepalanya dengan tegar tanpa merasa terluka.

“Aku tidak mau mengambil kesempatan saat kau sedang merasa sakit. Aku bukan tipe namja seperti itu. Tapi aku takut setelah ini kau akan menjauhiku. Apakah kita masih bisa berteman?”

Yeoja itu mengangguk mantap, “Tentu saja, kau adalah teman kerja juga sahabat terbaikku. Aku belum pernah bercerita banyak pada seorang pria selain dirimu. Justru aku merasa bersalah karena menyakitimu.”

“Memang sakit, rasanya seperti hati diiris-iris, tapi ini hanya masalah waktu, nanti juga akan sembuh sendiri. Aku menghargai kejujuranmu, yah setidaknya aku telah berusaha untuk jujur pada diriku sendiri.”

“Kau hebat karena bisa menjadi orang yang berdamai dengan hatimu sendiri. Sedangkan aku? Aku terlalu banyak berbohong di masa lalu dan kebohongan itu ternyata mengakibatkan penderitaan pada semua orang yang kucintai. Sejak itu aku berusaha menjadi orang yang jujur walau kebenaran kadang terdengar menyakitkan. Maafkan aku Kamio-san.”

Namja itu kemudian berdiri sambil melihat-lihat koleksi buku yang ada di lemari Tiffany, mencoba untuk menyembuhkan perasaannya dengan instan. Ia kemudian kembali menoleh ke arah yeoja itu,”Kau tidak usah minta maaf, tidak ada yang salah dengan mencintai. Ah, aku lega karena akhirnya aku sudah mendapatkan jawabanmu. Setidaknya setelah hari ini aku memiliki motivasi untuk bisa membuka hatiku pada perempuan lain.”

“Gomene Kamio-san. Ya kupikir kau harus melakukannya. Tentu kau bosan bukan datang ke berbagai pesta selalu sendirian? Padahal kau termasuk pria tertampan di Jepang versi majalah Harper Bazaar. Jangan kau rusak imej-mu dengan terus menerus menjadi the most wanted single selama bertahun-tahun ini.”

“Kau sedang mengata-ngataiku atau sedang menyindir dirimu sendiri?”

Tiffany terkejut dengan pernyataan Kamio. ‘Benar juga kami berdua adalah sama-sama single dalam kurun waktu yang cukup lama,’ rutuk yeoja itu dalam hati.

“Menurutmu apakah masih ada yang tertarik denganku. Terus terang penolakanmu membuat aku jadi sedikit tidak percaya diri,” Kamio tampak ragu.

Pembicaraan yang cukup ganjil dari seseorang yang baru saja menyatakan rasa cintanya kemudian ditolak. Seolah-olah rasa sakit ditolak oleh Tiffany telah menguap begitu saja. Tidak ada tanda-tanda sakit hati atau terluka. Itulah kehebatan pribadi seorang Kamio-san yang membuat Tiffany iri. Andaikata saja hatinya bisa seterbuka Kamio. Menerima penolakan dengan tabah dan tidak lantas patah arang begitu lama. Tiffany tersenyum, bersama Kamio, mereka terbiasa berkata apa-adanya  tanpa ada yang ditutup-tutupi.

“Kau tampan, pintar, dan memiliki status sosial yang tinggi. Kau tidak usah mencarinya, mereka akan mendatangimu sendiri.”

“So desuka? Betulkah? Tapi aku merasa tidak seperti itu.”

“Itu karena kau selalu bersamaku. Kemana-mana kita selalu tampak berdua, mereka jadi segan dan takut mendekatimu.”

“Apa maksud tersembunyi dari perkataanmu ini? Kesannya kau akan meninggalkanku supaya aku bisa dengan mudah bertemu dengan calon kekasihku, begitu?”

“Tentu saja tidak. Tapi kau harus memiliki waktu pribadi dimana aku tidak ada di sisimu saat itu. Kebersamaan kita membuat kita sama-sama saling terbiasa dan akhirnya enggan untuk melepas kenyamanan itu. Aku pikir itu yang kau rasakan padaku dan menurutku itu belum cukup disebut cinta. Nah ketika kau sendirian, kau akan mengerti apa itu cinta antara seorang pria dan wanita atau kasih sayang sebagai seorang sahabat. Cobalah memahaminya. Aku bertaruh dalam waktu beberapa hari, selepas kau menarik diri dari kebersamaanmu denganku, kau akan terkejut mengetahui betapa banyak perempuan yang mengantri untuk mendapatkan perhatianmu.”

Tiffany berucap dengan sungguh-sungguh yang dibalas dengan senyuman ejekan Kamio.

“Hey kau tampak ahli dalam urusan cinta. Masalahnya bukan berarti aku tidak mau menerima analisamu tapi aku tidak percaya jika nasihatnya datang dari mulutmu. Padahal kau selalu bersedih dengan mengatakan, ‘tiap malam aku menangis Kamio-san’, ‘aku sulit melupakannya’, aku tidak pernah bisa berhenti memikirkannya. Hahaha dan sekarang aku harus percaya nasihat cinta darimu?”

Yeoja itu spontan mencubit lengan Kamio dengan tatapan pura-pura kesal. “Cih kau memandang rendah aku. Yeoja yang pernah sakit karena cinta biasanya akan jauh lebih bijaksana tahu?”

“Kalau begitu kita selevel, bukankah aku juga korban dari penolakan cinta seseorang. Seharusnya aku juga sebijaksana dirimu sekarang.”

Tapi namja itu bukan pria sentimental yang cepat terpuruk, dalam sekejap ia bisa merubah suasana canggung menjadi akrab kembali walaupun dengan cara mengejek-ejek rasa sakit hatinya. Meski ditolak secara halus, hatinya mendadak plong karena telah mengeluarkan perasaan yang membebaninya selama setahun ini. Sayang, hati yeoja itu benar-benar telah tercuri oleh seorang pria asal Korea yang sampai kini ia tidak tahu identitasnya.

“Baiklah kalau begitu kau tidak membutuhkan nasihat cinta dariku lagi. Karena levelmu kini sudah setara denganku,” Tiffany masih pura-pura kesal.

“Maafkan aku tapi analisamu itu membuatku geli. Tapi baiklah aku percaya. Aku akan tunggu sampai seminggu ini, apakah ucapanmu itu benar atau tidak. Aku ingin tahu benarkah perempuan sampai mengantri untuk mendapatkanku.”

Mereka tertawa seolah-olah dari tadi tidak ada pembicaraan serius di antara mereka. Bisa dimengerti, namja itu mana mungkin percaya Tiffany bisa memberikan nasihat cinta. Sampai sekarang yeoja itu sendiri belum mampu menyelesaikan kegalauan hatinya. Ia selalu melihat kesedihan terpancar di matanya. Tapi bukan Kamio namanya jika ia tidak bisa mengorek apa yang ada di hati yeoja itu. Rasa cinta yang tidak terbalas, sama seperti dirinya. Tapi bedanya jika ia bisa tegar dan berusaha bersikap lebih optimis. Tiffany lebih memilih hidup terkungkung dengan cinta masa lalunya. Sudah hampir dua tahun, perasaan itu tampaknya belum berubah. Tiffany terlihat setia menanti seseorang yang entah apakah akan membalas cintanya atau tidak.

“Tentu saja, aku berani bertaruh dalam seminggu kau akan kebingungan memilih mana calon koibito-mu karena terlalu banyak pilihan.”

“Aku tidak sabar menantikan hal itu. Aku tidak sabar menjadi Casanova atau Don Juan atau Lothario hehehe. Aku selalu suka otobiografinya Casanova, dan novel Don Quixote tentang Lothario. Mereka pintar menarik hati perempuan. Para pria gila yang membuat pria seperti aku ini minder dan menjadi iri setengah mati.”

Namja itu terkekeh sambil menyebutkan tiga tokoh legenda dunia yang ulung dalam merayu wanita. Jika Lothario dan Don Juan hanyalah tokoh fiksi, Casanova adalah nyata. Bahkan dia menuliskan pengalaman petualangan cintanya dalam buku otobiografi sebanyak 12 jilid dan secara tidak langsung menjadi referensi sebagian pria di muka bumi ini dalam menaklukan hati perempuan. Namja itu tidak sadar bahwa mimik muka Tiffany tiba-tiba berubah menjadi keruh.

“Jika kau sekali-kali menjadi playboy kampungan seperti itu, aku tidak mau menjadi sahabatmu. Aku tidak suka laki-laki yang mempermainkan perasaan wanita. Aku akan membencimu selamanya dan aku tidak sudi melihatmu lagi!”

Deg, Kamio terkejut mendengar ancaman yeoja itu. Ada apa dengan yeoja itu? Bukankah ia sudah biasa melontarkan lelucon segar untuk mencairkan suasana. Biasanya Tiffany tidak akan menganggapinya dengan serius malah yeoja itu akan meneruskannya menjadi topik perdebatan yang menarik. Jadi kenapa Tiffany harus marah?

“Aish Tiffany, kau tahu, aku tidak mungkin sungguh-sungguh melakukannya. Untuk berani menyatakan perasaanku padamu saja butuh satu tahun. Itupun kau tolak. Mana mungkin aku berubah menjadi Casanova setelah apa yang terjadi hari ini.”

Yeoja itu terdiam. Ada sedikit rasa bersalah karena membentak namja itu. Tapi entah kenapa ada rasa marah mendengar Kamio dengan bangganya menyebutkan nama-nama ‘lady killer’ tersebut di depannya. Julukan yang kini menjadi stereotip seorang Choi Siwon. Namja yang telah merebut semua hati dan kesadarannya. Bersama dengan member Super Junior yang lain, Siwon sangat populer di Jepang. Sekuat apapun ia berusaha untuk menghindari pemberitaan mengenai namja itu, tapi selalu saja secara tidak sengaja ia mendapatkan kabar terbaru mengenainya, entah dari pembicaraan remaja yang ada di kereta, headline koran, atau internet. Tapi Siwon yang diketahuinya kini tidak seperti Siwon yang satu setengah tahun tahun lalu ia kenal. Ia jadi teringat pembicaraan beberapa remaja tentang namja itu.

“Siwon putus lagi? Jadi selama setahun ia sudah berganti pacar sampai 30 kali?”

Sayangnya ia sering mendengarkan percakapan seperti itu. Hatinya sesak.

“Aku menyukai Siwon, tapi sekarang ia begitu playboy. Tapi ia memang sangat tampan, wajar jika semua wanita berusaha memikat hatinya.”

“Ia tampaknya tahu betul bagaimana memikat wanita. Siwon memang mempesona.”

“Kudengar pacar yang berjumlah 30 itu adalah pacar resminya, yang sebenarnya bisa lebih dari itu.”

Tiffany sampai ingin menutup telinganya mendengar ocehan orang-orang yang membuat hatinya panas karena terbakar api cemburu. Tapi walaupun pendengarannya telah tertutup, matanya masih bisa membaca berita-berita di tabloid atau internet.

‘Choi Siwon, Casanova Korea. Ia bisa jadi role model para pria dalam memikat yeoja.’

‘Berbagai situs entertainment Korea sepakat menyebut Siwon sebagai philanderer abad ini.’

Siwon seorang skirt-chaser sejati, gelar kehormatan karena tidak semua laki-laki bisa semudah itu dalam mendapatkan yeoja.’

Ingin dirinya menjerit, Siwon tidak seperti itu bukan? Katakan bahwa itu hanya gossip semata!  Tapi lama-lama ia percaya setelah melihat berbagai foto Siwon bersama dengan puluhan yeoja terpampang di setiap berita. Setiap melihat itulah ia menangis. Logikanya sebetulnya berfikir harusnya Tiffany merasa beruntung cepat disadarkan bahwa Siwon bukan namja yang baik untuknya. Tapi entah kenapa semakin ia ingin mengenyahkan namja itu semakin perasaan cintanya begitu kuat. Padahal ia sangat membenci Siwon yang sekarang. Ia juga sangat cemburu dengan yeoja-yeoja cantik yang selalu menempel manja kepadanya.

Playboy? Womanizer? Skirt-Chasser? Phillander? Semua julukan itu diberikan pada Siwon sang petualang cinta. Namja yang pandai memikat hati banyak wanita, dan bersikap bak lebah terbang dari kuntum ke kuntum lain untuk mengisap sari madu bunga yang dihinggapinya. Entah kenapa ia merasa jijik mendengarnya, tapi di sisi lain ia begitu mencintainya. Ia malah rela hidup dalam penantian yang tak berkesudahan. Menunggu Siwon yang mungkin sudah tidak mengingatnya lagi. Rasanya sakit, jiwanya seperti terhempas ke dasar lautan.

“Kau tidak apa-apa Tiffany?”

Kamio tampak khawatir dengan perubahan sikap Tiffany,”Maafkan aku, tadi aku hanya bercanda. Aku tidak sungguh-sungguh ingin menjadi playboy.”

Yeoja itu terdiam. Ia masih memikirkan Siwon yang kini berubah menjadi namja penggoda wanita. Hatinya terasa hampa, sudah tidak ada lagi harapan baginya.

“Ayolah, hmm kita impas jadinya. Tadi kau telah membuatku patah hati dan sekarang aku telah membuatmu kesal. Jadi kau tidak boleh berlama-lama marah padaku.”

Tiffany mengumpulkan segenap kesadarannya, “Aku tidak benar-benar marah tapi sebagai perempuan aku tidak suka mendengar pria dengan bangganya menyebut dirinya Casanova, playboy, atau apalah.”

“Aku mengerti. Sudahlah kita tidak usah membahas masalah ini lagi. Apakah kau masih mau lembur sampai tengah malam nanti?”

“Kenapa? Ya, mungkin saja apalagi dengan semua ransum yang kau berikan padaku rasanya aku bisa lembur selama seminggu ini.”

“Sudahlah, ini hari Minggu, kau telah bekerja keras dan saatnya untuk beristirahat sejenak. Aku ingin mengajakmu ke Asakusa, Tokyo Skytree sudah dibuka dan aku ingin kau melihat Tokyo dari puncak towernya. Pasti menakjubkan.”

“Jika ini adalah ajakan kencan aku harus berfikir dua kali.”

“Aish, setelah kau menolakku kau masih saja menyakiti hatiku. Ingat kita adalah sahabat oke? Aku tidak akan menyalahgunakan kepercayaanmu. Sekarang dengan otoritasku sebagai atasanmu, aku memaksa kau untuk membereskan pekerjaanmu dalam waktu kurang dari 5 menit. Segera bersiaplah!”

“Jika aku tidak mau?”

“Kau akan kupecat,” ancam Kamio sambil tersenyum

“Baiklah aku lebih memilih menurut daripada dipecat,” Tiffany mencibir kesal.

Beberapa menit kemudian, Tiffany dan Kamio telah keluar beriringan dari gedung Hwang Company Japan. Keduanya sepakat untuk tidak menggunakan mobil Kamio dan lebih memilih naik kereta api. Transportasi ini memang paling utama digunakan di Jepang terutama di pusat kota Tokyo dan sekitarnya, selain lebih cepat juga praktis. Bahkan sudah menjadi pemandangan umum, para pekerja selevel Kamio yang sudah menduduki level tertinggi di perusahaannya lebih memilih menggunakan kereta api daripada mobil pribadi.

Mereka sudah mendekati menara tertinggi di dunia yang sudah penuh sesak dengan orang-orang yang tidak sabar untuk bisa sampai ke puncak tower.

“Aku pikir sudah tidak ada yang lebih tinggi lagi dari Canton Tower tapi ternyata Tokyo Skytree ini jauh lebih tinggi lagi,” ujar Tiffany kagum sambil memakan manjuu sejenis roti yang berisi selai kacang merah. Ia menikmati keramaian di area sekitar menara itu pada saat malam hari. Mereka baru saja turun dari puncak menara itu dan masih terkesima melihat pemandangan malam Tokyo yang begitu meriah dari puncak ketinggian begitu juga dengan pendaran warna iluminasi yang keluar dari sekeliling struktur bangunan menara itu.

“Padahal sebenarnya Tower ini dibuat untuk mengirimkan transmisi sinyal untuk TV dan radio, tapi mereka bisa membuatnya menjadi tempat wisata sekaligus,” jawab Kamio sambil mengunyah takoyaki, gorengan berbentuk bola berisi daging gurita. Mereka duduk di sebuah kursi taman yang tepat menghadap tower itu.

Mendengar kata ‘radio dan tower’ membuat Tiffany kembali teringat Siwon dan perusahaannya. Suju Radio & Entertainment! ‘Ah Siwon sedang apa kau di sana sekarang?,’ desis yeoja itu dalam hati.  Sudah setahun lebih mereka tidak pernah bertemu. Ada gelombang rasa sakit menderanya ketika mengingat nama itu. Tapi di saat yang sama ia juga dilanda rasa rindu yang amat sangat. Seandainya saat itu ia menerima lamaran Siwon, mungkin kehidupan cintanya tidak semenyedihkan seperti ini. Perlahan kepingan memori mengenai kebersamaannya yang begitu indah bersama Siwon muncul mengobrak-abrik batinnya. Sampai yeoja itu tersadar bahwa namja itu mungkin sudah tidak akan mengingatnya lagi. Walaupun ia sudah putus dari Lee Hyo Ri tapi petualangannya dengan yeoja tidak berhenti sampai di situ dan malah semakin menjadi-jadi. Tiffany tidak dapat menguasai hatinya karena tiba-tiba air matanya menetes untuk yang kesekian kalinya. Kenapa memendam cinta terasa begitu sakit? Kenapa ia tidak bisa mengganti Siwon dengan Kamio yang jelas-jelas begitu baik kepadanya?

“Tiffany, kau baik-baik saja?”

Tiffany  menunduk, ia menelungkupkan kedua tangan pada wajahnya. Ia tidak bisa menahan diri untuk menangis. Kerinduan ini begitu berat sehingga membuat dadanya sesak dan lelah.

Kamio merangkul pundak yeoja itu dengan lembut.

“Kau sedang mengingatnya lagi?”

Kamio begitu trenyuh melihat kondisi yeoja itu. Ia tidak menyangka bahwa perasaan Tiffany pada namja misterius itu begitu sangat besar. Waktu satu tahun lebih ternyata tidak merubah keadaannya menjadi lebih baik. Tiffany belum bisa melupakan namja itu. Pasti sangatlah sulit bagi Tiffany untuk hidup dengan perasaan cinta yang begitu besar seperti itu.

“Kau bisa menceritakannya padaku.”

Sambil terus menutup wajahnya, Tiffany masih berusaha berbicara. Ia tidak mau Kamio melihatnya terlalu cengeng, “Kau akan bosan mendengarkannya.”

“Jika itu membuatmu lebih baik, aku tidak keberatan.”

“Dadaku sesak, hatiku sakit. Aku membencinya tapi aku sangat merindukannya. Aku berusaha mengenyahkan dia dari pikiranku tapi tidak bisa. Ia selalu hadir dan lagi-lagi membuatku menangis. Aku sudah bosan menangis.”

“Tidak ada yang salah dengan menangis. Itu akan membuatmu sedikit lega”

Dalam keramaian musim semi, dilatar belakangi ketinggian Tokyo Skytree, Tiffany menumpahkan segala beban perasaannya dengan menangis. Segala kesedihan, kemarahan, putus asa, dan penyesalan menyesaki ruang dadanya. Ia terus menutup wajah dan mulutnya karena tidak mau isakannya terdengar orang-orang yang berada di sekitar mereka. Spontan Kamio memeluk Tiffany erat. Ia memang menyukai yeoja itu tapi ia tidak ingin menggunakan kerapuhan Tiffany untuk keuntungannya. Ia berharap bisa mengurangi beban perasaan yeoja itu, atau setidaknya membantu menguatkan perasaannya supaya lebih tegar.

“Kita pulang ya, aku akan mengantarmu.”

Namja itu masih memeluk Tiffany yang menangis sesegukan dan bersama-sama berjalan ke subway stasiun kereta api terdekat. Mereka tidak menyadari sepasang mata yang begitu dingin menyaksikan pemandangan itu dengan kelam Ia menggeretakkan giginya pertanda marah. Ia mencoba membuang muka menahan perasaannya ketika melihat bagaimana namja itu memeluk Tiffany dengan mesra. Tapi ditahannya karena ia masih ingin melihat yeoja itu lebih lama lagi. Hatinya mendidih kembali melihat namja yang berada di sebelah Tiffany mengelus-elus rambut yeoja itu dengan penuh perasaan. ‘Sudah cukup!,’ orang itu menghidupkan mesin mobilnya dan segera berlalu dengan kecepatan sangat tinggi menandakan ia begitu emosi.

Keesokan harinya Tiffany terbangun dengan mata sembab. Ia mencoba mengoleskan berbagai krim mata dan mengompresnya dengan air es tapi kantung mata itu tidak bisa hilang dengan mudah. Kemarin ia memang menangis cukup lama, bahkan sesampainya di apato pun ia masih meneteskan air mata. Ia sebenarnya cukup malu pada Kamio karena telah merepotkannya. Mungkin namja itu bosan dengan sikap cengeng dan ketidak berdayaannya tapi sayangnya ia tidak bisa mencegah air matanya yang turun dengan sendirinya. Rasa cinta, rindu, dan cemburu mengaduk-aduk hatinya yang rentan dan kadung putus ada. Mungkin itulah sebabnya mengapa yeoja itu memiliki kepribadian yang dingin dan cenderung misterius. Itu karena ia tidak mau orang bisa dengan mudah melihat kelemahan hatinya. Kepergiannya ke Jepang pun sayangnya tidak terlalu banyak merubah perasaannya. Cinta itu ternyata berakar begitu dalam. Untuk melupakannya, maka ia menjadi terobsesi dengan bekerja. Kesibukan membuatnya lupa untuk sesaat. 24 jam waktunya ia berikan untuk membangun Hwang Company di Jepang. Ia tidak mengijinkan sedetik saja jiwanya kosong karena jika itu terjadi, Tiffany akan teringat namja itu dan menangis kembali seperti biasa.

Sekarang pagi ini, ia sudah ada di kantornya, bekerja dengan giat dan seperti biasa bersandiwara bahwa semuanya baik-baik saja. Seseorang tiba-tiba menelefonnya.

“Moshi-moshi, Kamio-san, ada apa? Baiklah aku ke ruanganmu segera?”

Ada apa dengan namja itu, nada bicaranya terdengar khawatir. Pasti ada suatu masalah yang mengganggunya.

Sekretaris Kamio membukakan pintu ruang kerja Kamio untuknya.

“Kamio-san sedang menunggu anda.”

Ia masuk dan dilihatnya namja berperawakan tinggi itu sedang berbalik memunggunginya sambil memandang jendela dan pantulan langit dan awan yang menembus kaca jendela berukuran besar itu. Sebuah kertas tampak tergenggam dengan erat.

“Kamio-san, ada yang bisa aku bantu.”

Namja itu berbalik. Ia tersenyum aneh.

“Kau tahu aku bekerja dengan keras. Kadang-kadang aku berfikir, aku layak mendapatkan promosi atas kerja kerasku ini. Walaupun sebenarnya aku tidak seambisius itu karena aku yakin semua keberhasilan akan datang pada waktunya.”

“Lalu?”

“Tapi entahlah apa sebenarnya yang telah aku kerjakan, semuanya terjadi begitu cepat. Aku tidak bisa mengira karena apa? dan sampai sekarang aku masih memikirkan kenapa?”

“Kata-katamu membuatku bingung. Kau tidak sedang diskors atau diberikan surat peringatan oleh kantor pusat?”

Namja itu menggelang lemah sambil mengangsurkan sebuah surat,”Bacalah ini, Ayahmu yang menandatanganinya.”

Dengan tegang Tiffany menerima surat itu dan membacanya. Seulas senyum tiba-tiba tersungging dari bibir yeoja itu.

“Omodeto Kamio-san, kau mendapatkan promosi itu. Aku senang mengetahui bahwa jabatan CEO di Prancis adalah milikmu sekarang.”

Spontan Tiffany memeluk Kamio karena ikut merasakan kebahagiannya. Kamio melepasnya pelan.

“Coba kau baca tanggalnya.”

Tiffany membaca tanggal yang tertera di situ,”Jadi minggu depan kau harus sudah pergi? Secepat itukah?”

“Itulah yang membuatku tidak habis pikir. Jabatan ini, dan semuanya terlalu cepat untuk seorang junior seperti aku. Masih ada senpai yang lebih baik dan berpengalaman daripadaku tapi kenapa Hwang-sajangnim memberikannya padaku dan tampak terburu-buru seperti ini.”

Tiffany menggelang kemudian tersenyum dengan sangat riang,”Aish sudahlah yang penting, kau berhasil. Aku sangat senang mendengarnya, jika kau kerepotan mengepak barangmu. Kau bisa mengandalkan aku.”

Kamio tersenyum tipis, “Yah setidaknya aku punya waktu seminggu untuk membereskan beberapa pekerjaanku.”

“Aku akan membantumu supaya kau tidak meninggalkan hutang pekerjaan saat kau pergi nanti.”

“Betulkah? Kalau begitu bisakah aku meminta bantuanmu?”

“Ne, katakan saja.”

Kamio menyerahkan satu buah surat undangan mewah.

“Kau kenal Otsuji-san?”

“Ya, aku mengenalnya. Kami pernah bertemu beberapa kali dalam meet and greet di kantornya. Kami cukup dekat. Ia dan istrinya sangat baik padaku. Nyonya Otsuji bahkan sering menelefon untuk menanyakan kabarku. Mereka sangat perhatian dan sering mengundangku untuk datang ke rumahnya. Tapi sayangnya aku selalu tidak sempat. Memangnya kenapa?”

“Ia mengundangku untuk datang ke salah satu proyek peresmian kabuki theatre miliknya di daerah Shibuya, tapi sayangnya mengingat waktuku yang terbatas aku tidak bisa mendatanginya. Padahal Otsuji Corp sangat penting bagi kita. Aku ditugaskan Ayahmu untuk selalu mengawal Otsuji-san dan koleganya.”

“Aku mengerti, karena dia akan menjadi investor utama terkait proyek apartemen kita di prefektur Chiba. Bukankah begitu?”

“Yah seperti itulah dan tidak hanya dia, tapi ada satu perusahaan lagi asal Korea yang masuk ke grup Otsuji Corp yang diharapkan ikut berinvestasi. Keduanya memiliki keuangan yang sangat kuat, karena itu proyek seribu apartemen kita kupastikan akan berjalan dengan lancar jika kita bisa menggandeng mereka. Bagaimana kau bisa datang?”

“Tentu saja. Itu sangat mudah.”

“Arigato, sekarang bersiaplah, supirku akan mengantarmu ke sana.”

Tiffany mengangguk ia berbalik pergi tapi kemudian ia kembali menghadap Kamio sambil mengangsurkan tangan kanannya,”Aku akan sangat merindukanmu Kamio-san. Aku selalu berdoa yang terbaik untukmu.”

Mereka berjabat tangan dengan hangat,“Berdoalah agar aku segera lekas memiliki kekasih. Setidaknya ada yang bisa aku telefon jika aku kesepian di Prancis.”

“Kau bisa menelefonku.”

“Menelefonmu malah membuat aku tambah merasa kesepian, apalagi jika kau sedang teringat dengan kekasihmu itu.”

Tiffany tahu Kamio hanya sedang bercanda. Mereka tertawa lepas, sebuah hubungan persahabatan lawan jenis yang sangat indah. Ia akan sangat kehilangan namja itu, tapi Kamio berhak mendapatkan promosi itu. Walaupun usianya terbilang sangat muda untuk menjadi seorang direktur ekskutif tapi ia telah menunjukan ketekunan dan kerja keras yang tinggi untuk membangun Hwang Company di Jepang. Rasanya sedih kehilangan seseorang yang selalu mengerti dirinya. Tapi sudahlah the life must go on! Beberapa puluh menit kemudian, seperti instruksi Kamio, ia sudah ada di sebuah Kabuki theatre yang tampak megah dan modern di area Shibuya.

Beberapa panitia telah menyambutnya dan walaupun ia sedikit terlambat tapi ia bisa melihat prosesi pengguntingan pita merah oleh Otsuji-san. Semua tamu berdiri dan memberikan tepuk tangan yang meriah ketika pembukaan gedung teater itu secara resmi telah dilakukan. Secara tidak sengaja ia melihat pemilik Kabuki Theatre itu intens menatapnya dan memberikan senyum terima kasih yang berlebihan atas kedatangannya. Dari kejauhan pria itu tampak membungkuk kepadanya. Hati Tiffany tampak bingung, seharusnya Otsuji-san tidak perlu repot-repot memberikan tanda terima kasih seperti itu kepadanya. Maksudnya seorang Kento Otsuji yang merupakan 1 dari 10 orang terkaya di Jepang itu sudah pasti akan membungkuk dan berterima kasih terlebih dahulu pada orang-orang yang selevel dengan dirinya, bukan dengan Tiffany terlebih dahulu.

Seseorang dari belakang Otsuji tiba-tiba muncul, sontak Tiffany terperangah. Aliran darah memompa jantungnya dengan cepat. Batinnya bergetar dan sesaat menjadi orang linglung di depan kerumunan tamu undangan. Choi Siwon? Ia terpana melihat namja tampan berkharisma yang berada sekitar 10 meter di depannya sedang tersenyum menghadap semua tamu undangan. Tidak mungkin, itu bukan dia? Kenapa namja itu ada di sini? Apa hubungannya dengan Otsuji-san? Jantungnya serasa ingin jatuh, badannya lemas. Ia ingin menghindar tapi kerumunan tamu-tamu yang begitu padat malah membuat tubuh kecilnya terdorong ke depan sehingga ia bisa melihat namja itu dengan jelas. Siwon? Ia tidak berubah, masih dengan gayanya yang elegan, sikapnya yang begitu santun, dan wajahnya yang mempesona. Akhirnya momen itu tiba, mata Siwon kemudian mendapati seorang yeoja yang berdiri sendirian di depannya. Yeoja dengan setelan baju kerja yang serasi dan rambut yang digelung ke atas, tampak professional dan cekatan. Hanya satu orang yeoja di masa lalunya yang memiliki aura seperti itu. Siwon menatap Tiffany tajam seolah menguliti apa yang ada di bagian tubuh yeoja itu. Tiba-tiba Tiffany merasakan sesuatu yang berat menghantam perutnya karena Siwon tidak berhenti menatapnya. Bagai busur panah, mata yang begitu dingin dan kelam itu langsung menembus dan menancap di ulu hatinya.

‘Ya Tuhan, bagaimana bisa ia ada di sini,’ ratap Tiffany dalam hati. Ia tidak bisa mengontrol perasaannya, kerinduan ini begitu sangat dalam. Tapi tiba-tiba seorang yeoja cantik berbusana mewah muncul di sebelah Siwon dan menggandengnya dengan posesif. Deg, Tiffany merasa pelupuk matanya memanas karena terkejut dan juga cemburu. Tanpa pikir panjang lagi, ia langsung berbalik, berlari dengan cepat menembus kerumunan tamu undangan. Tidak diindahkannya omelan para tamu yang merasa terganggu dengan sikapnya. Ia harus keluar dari tempat ini sekarang juga. Tetes matanya spontan jatuh membasahi bajunya. Secara nyata ia bisa melihat bagaimana kemesraan dua sejoli itu. Dengan jantung berdetak semakin kencang, ia berlari sejadi-jadinya. Ia ingin melarikan diri dari perasaan cinta yang mengungkungnya. Kenapa Tuhan masih mempermainkan hatinya, takdir apa yang membuatnya harus bertemu kembali dengan Siwon yang ternyata kini sudah memiliki kekasih. Tidak cukupkah penderitaannya selama ini, menahan rasa cinta yang tak terbalas? Tidak cukupkah ia memendam perasaan tanpa mampu mengungkapkannya? Ini menjadi tidak adil. Siwon bisa dengan mudah melupakannya dan bermain-main dengan banyak yeoja. Sedangkan dirinya? Ia seperti prajurit yang kalah dari medan perang. Perasaan cintanya membuat hatinya tidak bisa pergi ke mana-mana.

Beberapa jam kemudian, ia terlihat terpekur duduk sendirian di sebuah taman di area Shibuya. Air matanya telah mengering, tapi hatinya telah tertoreh luka baru. Ia tidak bisa kembali ke kantor dengan kondisi seperti ini.

Seseorang tiba-tiba menelefonnya. Kamio!

“Moshi-moshi. Tiffany kau ada di mana? Kau membuatku sangat khawatir. Otsuji-san menelefonku karena tidak melihatmu setelah acara pengguntingan pita tadi.”

“Gomenasai membuatmu khawatir. Aku aku, hmm aku hanya sedang tidak enak badan.”

“Betulkah?”

“Iya, maafkan aku, aku merasa pusing tiba-tiba dan aku keluar dari acara itu tanpa pamit pada Otsuji-san. Maafkan aku, aku takut sikapku membuat proyek apartemen kita menjadi gagal.”

Kamio bernafas lega, “Kau tidak usah khawatir. Otsuji-san tidak senaif itu. Ia hanya khawatir melihatmu. Katanya sikapmu bukan kau yang seperti biasa. Kau seperti melihat hantu.”

“Ia mengatakan seperti itu?”

Tiffany tercekat karena merasa malu. Otsuji-san ternyata memperhatikan sikapnya yang kekanakkan dan tidak professional di acara peresmian teater itu.

“Lalu apa yang harus aku lakukan?”

“Sekarang pulanglah, aku akan menyiapkan surat cuti untukmu, berisirahat dan telefon-lah Otsuji –san untuk meminta maaf.”

“Arigato gozaimashita, Kamio-san. Terimakasih atas pengertianmu.”

Dengan gontai ia berjalan pulang, masuk ke dalam apartemennya untuk menghilangkan berjuta perasaan tak menentu yang melandanya. Ia ingin menenangkan diri dari perasaan perih akibat pertemuannya dengan Siwon tadi. Ia memakan sebuah obat penenang, obat yang kini secara rutin dan rahasia dikonsumsinya. Ia terlalu sangat bergantung dengan obat itu tanpa ada seseorang yang tahu. Orang-orang akan melihatnya sebagai yeoja berkepribadian tenang dan mampu mengendalikan emosinya tapi semuanya hanyalah sandiwara. Dengan obat penenang itulah ia bisa mengendalikan diri. Ia sadar jiwanya sudah rusak tapi ia tidak tahu bagaimana caranya ia bisa kembali seperti dulu, melewati hari-hari yang sulit tanpa membutuhkan obat penenang di sampingnya.

Tepat pukul 8 malam, ia mencoba menghubungi Otsuji-san dengan perasaan luar biasa bersalah. Ia mencari-cari waktu yang tepat untuk bisa meminta maaf pada pria itu.

“Moshi-moshi, Otsuji-san? Ne, aku Tiffany.”

“Bagaimana kabarmu Tiffany, aku dengar dari Kamio-san bahwa kau sakit?,” terdengar suara ramah dari seberang telefon. Tiffany masih merasa tidak enak.

“Hanya sedikit pusing. Aku ingin meminta maaf karena tanpa pamit aku langsung pergi dari acara Otsuji-san tadi siang.”

“Daijobu. Aku sangat mengerti. Jika kondisi sedang sakit, kita tidak bisa memaksakan tubuh kita untuk terus berkerja bukan?”

“Syukurlah kau mengerti. Aku takut kau marah.”

Terdengar suara tawa lepas dari ujung telefon,”Aku sudah tua, mana mungkin hal seperti itu membuatku marah. Semakin tua membuatku semakin pengertian.”

“Tapi aku tetap merasa bersalah.”

“Jadi kau kemari menelfonku selain untuk meminta maaf juga untuk memberikan semacam penawaran untuk menghapus rasa bersalahmu ?”

Otsuji-san memang pintar menebak pikiran lawan bicaranya.

“Jika ada yang bisa kulakukan untuk membuatku tidak merasa bersalah seperti ini. Aku akan melakukannya.”

Otsuji-san terdiam, kemudian berbicara dengan hati-hati, “Baiklah, aku memang sedang berencana untuk mengundangmu. Maukah kau datang ke pesta dansa di rumahku lusa?”

“Dansa? Lusa?”

“Kau tahu aku dan istriku gemar sekali berdansa, dan kami sedang gembira dengan pembangunan Kabuki Theater di Shibuya. Aku ingin merayakannya bersama kolega-kolegaku termasuk kau.”

“Tapi?,”Tiffany lantas memikirkan kemungkinan tamu yang hadir. Apakah Siwon akan datang? Ia begitu ketakutan dengan kemungkinan itu.

“Aku tidak menerima kata ‘tetapi’ untuk kali kali ini. Kau sendiri berjanji untuk memenuhi permintaanku untuk menghapus rasa bersalahmu. Karena itu hadirlah lusa dan berdandanlah secantik mungkin.”

“Tapi Otsuji San…”

“Sekali lagi tidak boleh ada kata tetapi. Ingat kau sudah sering menolak tawaran minum teh dan makan malam dari istriku. Sekarang kau tidak boleh menolaknya untuk alasan apapun!,” Otsuji mengancam dengan nada bercanda.

“Baiklah aku akan datang,” Tiffany menjawab lemah.

Telefon tertutup, Tiffany menyender di dinding tak berdaya. Ia tidak tahu bagaimana dia bisa tidur dengan tenang mengingat kemungkinan untuk bertemu Siwon kembali menjadi sangat besar. Tiba-tiba sebuah ide muncul dalam benaknya. Besok pagi, ia akan mendatangi Kamio di ruang kerjanya dan meminta pertolongannya.

“Gomene Tiffany aku tidak bisa menjadi pendampingmu di pesta itu. Otsuji-san juga mengundangku tapi aku begitu sibuk dengan segala perkerjaan dan urusan kepindahan ini. Visa dan segala urusan administrasi yang harus dengan cepat aku selesaikan membuat akupun tidak bisa berlama-lama di toilet,” dalam konsisi sibukpun Kamio masih bisa bercanda. Tiffany sudah mengatakan harapannya agar Kamio mau menemaninya ke pesta dansa itu. Mereka kini sedang berada di ruang kerja Kamio.

“Aku mengerti,” Tiffany mengangguk sedikit kecewa. Ia mengerti seharusnya ia tidak merepotkan Kamio pada saat-saat seperti ini. Namja itu pastilah sangat sibuk.

“Kenapa kau tiba-tiba butuh pendamping, biasanya kau sangat mandiri apalagi untuk pesta-pesta semacam itu,” tiba-tiba Kamio bertanya sambil memasukkan beberapa buku pada sebuh kardus besar.

Tiffany terdiam, tidak mungkin ia menceritakan pada Kamio bahwa ia takut bertemu dengan Siwon. Ia tidak mau namja itu mengetahui identitas namja misterius yang selama ini dirahasiakannya. Bersama Kamio ia cukup percaya diri untuk bertemu face to face dengan Siwon dan kekasihnya itu. Secara fisik Kamio tidak kalah tampan. Jika Siwon tampak menjaga pesona dan citranya, Kamio tidak perduli jika dirinya terlihat apa adanya. Tapi sayangnya namja itu menolak. Ia tidak punya harapan lagi.

“Aku hanya ingin ada teman saja, ke pesta dansa sendirian lama-lama membosankan.”

“Maafkan aku Tiffany tapi aku begitu sibuk,” Kamio tampak berpikir, “Apakah perlu aku menghubungi Takahashi-san, untuk menemanimu. Ia sangat suka pesta dansa dan kemampuan berdansanya cukup lumayan.”

Takahashi adalah Direktur HRD yang juga merupakan teman dekat Kamio. Tapi Tiffany tidak begitu dekat dengannya, ia tidak bisa pergi dengan seorang namja yang tidak begitu ia kenal.

“Tidak usah, aku bisa sendiri kok.”

“Maafkan aku Tiffany”

“Daijobu Kamio-san.”

Tiba-tiba sebuah pertanyaan penting muncul dalam benaknya.

“Apakah kau tahu nama perusahaan Korea yang bekerja sama dengan Otsuji Corp untuk pembangunan proyek apartemen kita?”

“Tentu saja, jika tidak salah namanya Suju Radio & Entertainment. Perusahaan yang baru berdiri 5 tahun lalu tapi ekspansi bisnisnya sangat besar sehingga bisa menembus Jepang, China, dan Taiwan. Sebagai orang Korea sudah pasti kau mengenal perusahaan itu.”

Tiffany mengangguk, ‘mungkin aku mengenal perusahaan itu melebihi apa yang kau tahu Kamio,’ desisnya dalam hati.

“Jadi Otsuji Corp. dan perusahaan Suju akan menjadi investor utama pada proyek kita?”

Kamio mengangguk.

“Aku adalah Direktu Perencanaan tapi kenapa aku mengetahui ini begitu sangat lambat,” protes yeoja itu.

Kamio menghentikan pekerjaannya, “Proyek ini memang cukup rahasia. Entah kenapa kantor pusat tidak mendistribusikan pekerjaan itu kepada jajaran direktur yang ada di sini tapi langsung kepadaku. Jadi hanya aku yang tahu. Aku berani mengatakannya kepadamu pun setelah aku yakin bahwa mereka benar-benar akan bekerja sama dengan kita.”

“Cukup aneh tapi baiklah, terimakasih atas penjelasanmu.”

Tiffany beranjak pergi, sekarang hubungan antara Otsuji-san dan Siwon sudah cukup jelas baginya.

“Maafkan aku karena tidak bisa menemanimu,” suara Kamio terdengar dari belakang tubuhnya.

Tiffany berbalik sekilas.

“Daijobu, Selamat bekerja Kamio-san. Ingat jika kau butuh bantuanku untuk mengepak barang-barangmu jangan ragu-ragu untuk menghubungiku ya.”

Kamio mengacungkan jempolnya dan kembali berkutat dengan setumpuk pekerjaan yang harus diselesaikannya dalam beberapa hari ini. Ia menyesal tidak bisa menemani Tiffany ke pesta dansa itu, tapi ia percaya Tiffany akan bisa mengendalikan kegugupannya dan berubah dari seorang yeoja yang sederhana menjadi ratu pesta yang paling mempesona di acara itu.

Kediaman Otsuji San

Pukul 19.00

Author POV

Keesokan harinya, dengan ragu, ia melangkahkan kakinya ke sebuah teras rumah yang begitu besar dan megah. Beberapa petugas valet parking tampak sibuk mengatur ratusan mobil yang masuk ke halaman parkir rumah Otsuji–san yang sangat luas dan mewah. Tiffany hanya datang menggunakan taksi, dan berdandan seadanya. Ia tidak mau terlihat menonjol walaupun ia bisa saja melakukannya. Tapi ia tidak mau terlihat dengan mudah oleh para tamu undangan. Tujuannya hanya untuk menyetor mukanya saja kepada Otsuji-san dan istrinya bahwa ia telah hadir memenuhi undangan mereka. Setelah itu ia akan pulang secepat mungkin dan tidur di atas futong kesayangan di apato mungilnya.

Malam itu mungkin Tiffany merasa dandanannya paling biasa, tetapi kecantikan dalam dirinya tidak bisa disembunyikan begitu saja. Rambut panjangnya diikat ke pingir sehingga menjuntai indah di kanan dadanya. Sebuah aesesories bunga berwana putih menempel di ikatan rambutnya berpadu dengan riasan wajah minimalis dan merona dengan sapuan warna jingga yang indah. Gaun longdress berwarna putih bergaya goddess yang sederhana yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang ramping menutupi semua sel tubuh Tiffany dengan sempurna. Belahan pinggir kiri gaunnya memperlihatkan kaki yang begitu putih dan jenjang tampak mencuri-curi meminta perhatian. Tanpa Tiffany sadari ketika ia memasuki ruangan pesta dansa, semua mata namja berpaling kepadanya. Seperti yang diperkirakan Kamio, ia telah menjadi ratu pesta walaupun yeoja itu tidak menyadarinya.

Ia melihat Otsuji yang tampak sedang bercakap-cakap dengan istrinya. Pria tua itu melihatnya dan memanggilnya.

“Omajimashimasu Otsuji-san.” Tiffany menghampiri sambil membungkuk kepada sepasang suami istri itu.

“Irrasahai, kemarilah Tiffany-san. Selamat datang pada acara pesta dansa ini. Oh ya, apakah kau tidak merindukan istriku ini? Kalian sering bertelefon tapi tidak pernah sekalipun kau mengunjungi kami.”

“Maafkan aku Otsuji-san, pekerjaan ini benar-benar menyita waktuku.”, ia menoleh memandang Nyonya Otsuji yang walaupun sudah berumur tapi masih terlihat cantik berkelas.”Konbawa, Nyonya Otsuji.”

“Konbanwa, Ogenki desuka Tiffany anakku?,” Nyonya Otsuji menanyakan keadaannya dengan ramah.

“Genki desu Nyonya Otsuji. Maafkan aku baru bisa datang ke tempatmu. Bagaimana keadaanmu? Kau terlihat sangat menawan. Selalu begitu.”

“Ah kau selalu pintar memuji. Aku semakin tua saja, lihatlah keriput –keriput ini, Tapi aku bangga karenanya dan tidak memilih untuk oplas atau suntik botox karena aku senang terlihat seperti wanita berumur yang berpengalaman. Teknologi itu membuat wajah seseorang menjadi tidak alami seperti boneka.”

“Yah aku mengerti, aku mengagumi kecantikan alami anda.”

Nyonya Otsuji tampak sumringah dipuji seperti itu.Tiffany tidak bermaksud berbohong, ia memang menyukai wajah Nyonya Otsuji yang sangat cantik khas perempuan Jepang.

Otsuji tiba-tiba memotong,” Kau tahu Tiffany, istriku ini selalu bertanya tentang dirimu, kabarmu, dan segalanya tentangmu padaku. Jika ia seorang pria, kupastikan ia sedang jatuh cinta padamu. Kadang aku bosan menjawab pertanyaannya karena jawabanku lagi-lagi seperti biasa, Tiffany sibuk, belum punya kekasih, dan tetap bekerja keras seperti biasa. Bukankah begitu?”

Tiffany tersenyum,“Ya kehidupanku memang sangat monoton. Orang akan bosan mendengarnya.”

Nyonya Otsuji menimpali, “Aku tidak bosan, kau itu menyenangkan tapi kau terlalu merendah. Kuharap kau menemukan seseorang yang spesial di pesta ini. Banyak pria-pria lajang yang tampaknya sesuai denganmu. Jika kau tertarik pada salah satunya, katakanlah padaku dan aku akan mengatur pertemuan kalian.”

Wajah Tiffany bersemu merah mendengar tawaran Nyonya Otsuji yang seperti mak comblang.

“Tidak usah Nyonya, rasanya malu menerimanya tawaran ini.”

“Baiklah aku tidak akan memaksa, tapi jika aku menemukan seseorang yang kuanggap tepat untukmu, kau mau kan menerimanya?”

“Menerimanya? Maksudnya menjadikannya serius?”

Tiffany tampak pucat pasi.

“Hahaha kenapa kau begitu ketakutan Tiffany, tentu saja untuk awal kau hanya harus berkenalan dan mengenalnya saja. Setelah itu biarkan hatimu yang bicara apakah orang itu sesuai denganmu atau tidak. Jika klik kau bisa lanjut, jika tidak kau berhak pergi.”

Tiffany bernafas lega, ia terlalu berlebihan menganggap Nyonya Otsuji akan menjodohkannya. Pengalaman pahit masa lalu kadang membuatnya paranoid seperti ini.

“Aku mengerti, terima kasih atas perhatian dan tawaranmu.”

Tiffany merasa nyaman berbicara dengan Nyonya Otsuji, ia seperti bicara dengan Omma-nya sendiri. Ia bercakap-cakap dengan riang tanpa menyadari sepasang mata kelam sedang mengawasinya dari anak tangga. Ia melihat penampilan Tiffany yang begitu sederhana tapi chic dan cantik. Tersenyum manis dengan eye smile-nya yang khas. Gesturenya begitu lembut dan mempesona. Ia tampak seperti bidadari yang begitu lugu dan rapuh. Seseorang bisa merusak sayapnya jika ia salah mengepak. Tiba-tiba pandangan dan imajinasinya buyar ketika seseorang menyentuh tangannya.

“Kau sudah siap Oppa? Ayo kita turun.”

Yeoja itu menarik tangannya. Kontras dengan Tiffany yang berdandan sangat natural, Park Young Ah, sosialita Korea yang selalu membuntutinya kemanapun ia pergi, berdandan begitu glamor dan sensual. Dengan pelan, ia mengikuti arah kaki yeoja itu. Kedua sejoli itu tidak lepas dari mata undangan yang hadir. Pasangan yang benar-benar serasi, yang laki-laki begitu gagah dan tampan, yang perempuan begitu cantik walaupun terkesan terlalu seksi dan mengundang. Sayangnya Tiffany tidak sengaja menengok ke arah tangga dan menangkap kebersamaan mereka. Ia sudah mengira, pertemuan ini akan terjadi. Walaupun sebelum memasuki area pesta ia sudah berusaha  menguatkan hatinya. Tapi tidak urung pemandangan mesra di depannya membuat hatinya kembali perih. Kedekatan Siwon dengan yeoja itu menyayat-nyayat hati dan kesadarannya.

Andaikata ia bisa kabur tentu ia akan melarikan diri saat ini juga. Sayangnya ia tidak bisa, ia tidak mau mengecewakan pasangan Otsuji yang sudah begitu ramah menyambutnya. Disesapnya lagi minuman yang ada di tangannya, matanya kembali memanas. Jika tidak cukup kuat, ia bisa menangis saat itu juga. Dadanya sesak tapi ia tidak mampu mengalihkan perhatiannya. Matanya terus mengawasi kedua sejoli yang tampak berbicara dengan sangat intim sambil sesekali menyapa para tamu yang mengenalnya. Tiffany menunduk untuk meredakan sedihnya tapi ketika ia mendongak kembali tiba-tiba matanya seolah terkunci. Siwon tengah menatapnya tajam. Ia tidak tahu harus melakukan respon seperti apa, apakah ia harus tersenyum pada namja itu atau berpura-pura tidak menyadari kehadiran Siwon di sekitarnya? Entahlah, yang pasti jantungnya tiba-tiba berdetak kencang. Ia tidak sanggup membalas tatapan Siwon yang begitu dingin tapi tajam menembus jantungnya yang panas terbakar. Tiffany mencoba mengalihkan perhatiannya ketika seseorang dengan sopan mengajaknya berdansa.

“Suara musik dansa sudah dimulai, dan kau terlihat sendirian. Jika kau berkenan maukah kau berdansa denganku?”, seorang namja berwajah manis membungkuk sambil melipat tangan kanannya ke arah dada. Etika mengajak dansa yang sangat sopan.

Terdengar iringan musik waltz karyaJohann Strauss yang begitu lembut tapi membahana memenuhi seluruh ruangan dansa yang begitu luas dan hangat. Beberapa pasangan berjalan memasuki arena dan memulai berdansa. Begitu juga dengan Otsuji–san dan istrinya. Sepasang suami istri ini memang terkenal dengan kemapuannya berdansa dari waltz yang lembut sampai salsa yang dinamis. Di ujung matanya tiba-tiba ia melihat Siwon dan yeoja itu juga berdansa, mereka berpelukan dengan sangat erat. Sesuatu mendorong hatinya untuk menerima tawaran dansa itu.

“Baiklah, tapi aku tidak terlalu ahli. Aku takut kau akan merasa tidak nyaman,”

“Daijobu, kau hanya harus mengikuti irama dan bergeraklah sesuai dengan instingmu. Aku akan membantumu.”

Namja itu memeluk punggung kiri Tiffany dengan tangan kanannya, dan yeoja itu menyentuh bahu kanan namja itu dengan tangan kirinya. Di sisi yang lain kedua tangan mereka saling terentang  berpegangan. Secara perlahan mereka bergerak mengikuti irama music Blue Danube yang begitu lembut. Berputar dan mengayun ringan, tampak mudah tapi sangat sulit bagi orang yang tidak pernah berdansa sebelumnya.

“Kau berdansa sangat natural, apakah kau pernah mengambil kursus dansa sebelumnya?,”namja yang bernama Takeshi itu mengajaknya berbicara.

“Tidak, seperti yang kau katakan, aku hanya mengikuti instingku.”

“Jika begitu kau berarti memiliki bakat alami untuk berdansa.”

Tiffany dan namja itu bercakap-cakap ringan. Sebetulnya ia sangat tidak berkonsentrasi dengan gerakannya sendiri. Ia bergerak maju mundur dan berusaha setengah mati untuk tidak menginjak kaki namja itu. Pandangannya tidak benar-benar fokus pada tariannya, ia tidak bisa menutup mata melihat lagi-lagi kemesraan Siwon berdansa dengan yeoja itu. Tidak seperti dirinya dan Takeshi yang berdiri dengan posisi terbuka alias terdapat jarak sekitar 50 cm yang memisahkan kedua badan mereka. Siwon dan yeoja chingunya itu berdansa dengan dada saling menempel. Siapapun akan mudah menduga mereka memiliki hubungan yang khusus. Dadanya bergemuruh, seperti palu yang bertalu-talu memukul hatinya. Ia terbakar oleh rasa marah, cinta, dan putus asa. Oh Tuhan begitu sulitkan ia menerima keadaan bahwa Siwon bukan miliknya lagi?

“Kau sedang memikirkan sesuatu?,” Takeshi membuyarkan lamunannya.

“Tidak, aku hanya sedang mengingat-ingat gerakan, aku sudah lama tidak berdansa waltz seperti ini.”

“Selain bekerja kantoran aku juga seorang pelatih dansa, dan aku bisa melihat jika pasangan dansaku sedang ada masalah atau tidak.”

“Begitukah? Apakah aku terlihat seperti itu?”

Takeshi tersenyum,”Mudah-mudahan bukan karena tidak nyaman berdansa denganku.”

Tiffany tersenyum malu,”Tentu saja bukan karena itu, kau adalah partner dansa yang menyenangkan.”

“Maaf jika aku berbicara terlalu jauh. Kau menari tapi pikiranmu entah di mana. Sehingga kau tidak sadar ada seseorang yang dari tadi memperhatikan kita dengan cemburu.”

“Begitukah?,” sambil menari Tiffany melihat ke kanan kirinya, tampaknya semua tamu sedang berkonsentrasi dengan permainan dansa mereka.

“Kau bersiap-siap saja jika ia mengganggu dansa kita.”

“Maksudmu?”

Tiba-tiba seorang pemuda berbadan tinggi menjulang sudah berada di belakang Takeshi. Namja itu spontan berbalik melihat siapa orang yang menyentuh pundaknya.

“Sumimasen, bisakah aku berdansa dengan pasanganmu ini?”

Tiffany tercekat, namja itu? Choi Siwon?

Takeshi memandang Tiffany sambil tersenyum,”Jika partnerku ini mengijinkan aku tidak masalah.”

Yeoja itu begitu gugup, Siwon berdiri dekat dengannya dan menginterupsi permainan dansanya dengan Takeshi. Ia tidak sanggup berdekatan seperti ini.

“Aku berdansa dengan Takeshi-san saja.”

“Oh begitukah maumu? Aku akan terus berdiri di sini supaya kau mau berdansa denganku.”

Siwon menatap Tiffany dengan senyum tersungging. Ia tampak dominan diantara yeoja itu dan Takeshi. Takeshi mengerti gertakan ini. Dari tadi ia melihat bagaimana pemuda itu melihatnya dengan tatapan marah dan cemburu. Seolah-olah tidak boleh ada namja yang berdansa dengan Tiffany kecuali dengan dirinya. Baiklah, ia mengerti. Ia mengangguk pada Siwon dan melepaskan pelukannya dari Tiffany.

“Takeshi-san?” Tiffany memanggil namja seolah memohon bantuan. ‘Tolonglah jangan tinggalkan aku bersama namja ini,’ rintih Tiffany dalam hati. Tapi namja itu telah berlalu dari pandangannya dengan tersenyum.

Siwon kini ada di depannya, meraih tangan kanannya dan memeluk punggung sebelah kirinya dengan lembut. Yeoja itu mencoba melepaskan diri tapi tenaga Siwon begitu kuat.

“Lepaskan aku.”

“Tidak akan.”

Tiffany mengerang putus asa. Kedekatan ini membuat segenap raganya terjaga. Jantungnya memompa darahnya begitu kencang sampai-sampai ia bisa merasakan sendiri detak jantungnya yang begitu keras. Hatinya tidak merespon logikanya untuk bisa bersikap tenang. Siwon berdiri sangat dekat dengannya. Namja itu mengunci setiap sel tubuh Tiffany dengan pelukannya yang sangat erat. Ia tidak membiarkan Tiffany untuk bisa bergerak ke arah lain selain ke arahnya. Tiffany tergoncang, ia bisa merasakan lembutnya tangan Siwon mengelus punggungnya, harumnya tubuhnya yang begitu maskulin, serta dada bidangnya yang menutup tubuh bagian depan Tiffany sehingga ia tidak bisa menghindarkan diri begitu mudah. Harus diakui, tubuhnya sendiri begitu merindukan sentuhan ini. Tapi kesadarannya segera datang kembali.

“Aku tidak mau berdansa denganmu. Sekarang lepaskanlah aku dan menarilah bersama yeoja chingumu itu”

“Maksudmu Park Young Ah, yeoja itu?”

Siwon menunjuk yeoja yang tengah berdansa dengan namja lain di seberang ruang dansa ini.

Tiffany terdiam, ia tidak mau menunjukan rasa marah dan cemburunya. Namja itu dengan seenaknya mengobrak-abrik perasaannya yang sudah kacau sejak beberapa hari lalu.

“Kau boleh menolakku tapi aku akan mengejar apa yang kuinginkan,” ucap Siwon terus terang.

“Kalau begitu aku akan menolakmu mati-matian.”

Dengan keras Tiffany mendorong tubuh Siwon ke belakang tapi itu malah membuat Siwon tampak semakin posesif. Ia mengambil semua yang ada di depannya dengan rakus. Ia memeluk Tiffany lebih erat, membuat wajah Tiffany kini menempel di bahunya. Ia menyentuh lembut leher bagian belakang Tiffany dengan ujung jarinya. Hati Tiffany berdesir. Ia memejamkan matanya, antara menahan diri dari godaan sentuhan Siwon dan mencoba berfikir logis bahwa namja itu hanya akan menyakitinya lagi.

“Apakah begini responmu padaku setelah sekian lama kita tidak bertemu? Kau sangat dingin dan kaku.”

Tiffany terdiam, ia tidak dapat berfikir, kedekatan ini membuat pikirannya buntu.

“Aku tidak menyangka bisa bertemu dirimu kembali di acara peresmian Kabuki Theatre itu. Kenapa kau terkejut melihatku dan kabur begitu saja? Apakah kau tidak menyukai kehadiranku?”

Lagi-lagi Tiffany terdiam, ia begitu merindukan suara Siwon yang begitu lembut di telinganya. Tapi Siwon masih bisa merasakan penolakan dari tubuh yeoja itu. Dengan kuat ia menarik Tiffany kembali.

“Tolonglah jangan menolakku lagi untuk kali ini. Cobalah untuk berdamai denganku dan tidak menunjukan sikap bermusuhan seperti ini.”

Tiffany menyerah untuk melepaskan diri. Tenaga Siwon begitu kuat. Ia juga tidak bisa menyangkal perasaannya yang begitu haus akan pelukan namja itu seperti ini. Tiffany mendesis pelan, ia menyerah dan pasrah. Tubuhnya tidak sekuat tadi. Siwon bisa merasakannya, ia kini merenggangkan pelukannya, membuat Tiffany merasa nyaman bersamanya. Dalam diam mereka saling berdansa, berputar dan mengayun. Lagu pengiring telah berganti menjadi The Lats Waltz yang begitu lembut. Siwon menikmati kebersamaan ini, sekian lama ia merindukan tubuh yeoja itu dalam pelukannya. Ia tidak pernah berhenti memikirkan ciuman yang pernah dilakukannya bersama Tiffany. Seluruh hidupnya telah terpusat pada yeoja itu.

“Tiffany, kenapa kau melarikan diri dariku beberapa hari yang lalu?”

Haruskan Tiffany mengatakan bahwa ia begitu cemburu melihat kedekatan Siwon dengan Park Young Ah itu.

“Aku hanya terkejut saja, kau tiba-tiba mucul setelah sekian lama tidak bertemu.”

“Kau melihatku dengan wajau pucat pasi seperti melihat hantu. Aku sampai bertanya pada Otsuji-san apakah aku seburuk itu karena ada seorang tamu undangan yang melihatku begitu pucat dan ketakutan.”

Tiffany lagi-lagi terdiam, ia tidak bisa dengan gamblang mengungkapkan perasaan pada orang yang telah membuatnya merana selama satu setengah tahun ini.

Siwon mengerti, ia tidak mau membuat Tiffany merasa tidak nyaman dengan gelombang pertanyaannya yang bertubi-tubi. Walaupun dalam hatinya banyak pertanyaan yang mengganjal dirinya selama kurun waktu perpisahan mereka. Ia mencoba untuk menahan dirinya.

“Tiffany?, ” namja itu berbisik memanggilnya.

“Hmm…,” yeoja itu mengangkat wajahnya menghadap Siwon.

Siwon memandang lekat dirinya, “Kau tidak berubah, kau masih seperti Tiffany yang dulu kukenal. Hanya yang ini lebih lembut dan dewasa. Aku selalu menyukai transformasimu. Kau selalu menjadi kupu-kupu yang cantik bagiku.”

Tiffany terperangah dengan pujian Siwon. Ia tidak bisa menahan rasa bahagia yang mengaliri sekujur tubuhnya. Ia sering mendapat pujian tentang kecantikannya tapi tidak ada satupun yang membuatnya terguncang seperti ini.

“Aku tidak bisa lepas menatapmu saat kau masuk ruangan ini. Apakah kau tidak sadar semua mata namja melihatmu dengan begitu terpesona?”

Tiffany menggelang. Begitukah?

“Tidak usah berdandan seksi dan glamor untuk menarik perhatian. Kau dengan kesederhanaanmu ternyata menarik setiap mata yang memandang. Rasanya aku ingin membuat orang-orang itu buta karena mereka terus menerus melihatmu.”

Blush, muka Tiffany memerah, tapi ia masih hidup dalam diamnya. Ia tidak memungkiri pujian itu membuatnya merasa ada di awan.

“Aku ingin mengajakmu berdansa, tapi pria tadi sudah mendahuluiku. Aku harus menahan kesabaranku untuk tidak meninjunya. Ia memeluk dan menyentuhmu, aku tidak menyukainya.”

“Siwon?, akhirnya Tiffany membuka mulutnya. Ia terkejut dengan kejujuran Siwon, sebegitu cemburukah namja itu melihatnya bersama dengan nama lain?

Melihat Tiffany yang menatapnya dengan mulut terbuka, seolah mengundang hasratnya yang lain untuk masuk. Andaikata ia bisa mencium bibir yang begitu menggoda itu. Tapi ditahannya perasaan itu. Alih-alih ia mengelus-elus rambut Tiffany yang kepalanya kini sudah menggelayut manja di bahunya. Ia mencium wangi segar rambut yeoja itu. Aish, mengapa ia tidak bisa mengendalikan hasratnya? Kini leher jenjang yeoja itu menggodanya. Siwon memejamkan matanya. Godaan ini begitu berat.

Beberapa saat mereka berpelukan seperti ini. Tidak ada lagi kata-kata yang keluar. Mereka sibuk dengan memorinya masing-masing. Keduanya saling mengenang kebersamaan mereka dulu dalam pikirannya dan alam sadarnya. Tiffany pun merasa lelah untuk berpura-pura. Ia memang menginginkan kedekatan ini setelah setahun lebih menunggunya. Ia menyukai Siwon yang memeluknya begitu posesif seperti ini. Hatinya berbunga-bunga ketika namja itu mengatakan hal-hal indah kepadanya. Perlahan luka dalam hati Tiffany yang begitu dalam mengering sedikit demi sedikit. Ia merasa dicintai dan dimiliki. Semuanya tampak sempurna, sampai tiba-tiba sebuah tangan menariknya dengan kasar dari pelukan Siwon. Yeoja berpenampilan seksi itu menghempaskan Tiffany ke lantai, ia hampir saja jatuh, jika Siwon tidak sigap menolongnya.

“Kau baik-baik saja Tiffany?”

Yeoja itu tidak menjawab, otaknya tidak mampu mencerna masalah yang terjadi.

Siwon lantas mendekati yeoja yang menarik Tiffany, “Park Young Ah, apa yang kau lakukan kepadanya? Kau gila?”

Yeoja itu marah dan berkacak pinggang,“Aku yang harusnya bertanya apa yang kau lakukan dengan wanita jalang ini, Oppa.. Kau memeluknya, menciumnya di depan mataku sendiri.”

Tiffany terpana, sesaat ia lupa bahwa Siwon telah memiliki seorang yeoja chingu. Lukanya kembali menyeruak, mengapa ia begitu bodoh menerima kehangatan dari seorang Siwon yang jelas-jelas bukan miliknya.

Siwon mengepalkan tangannya dengan emosi, “Jangan berani-berani kau mengatakan jalang pada perempuan itu. Ia jauh lebih suci dari yang kau pikirkan.”

“Begitukah? Suci atau tidak suci, jelas kau sudah bermain api di depan mataku. Aku tidak bisa menerima kau seenaknya bermesraan dengan yeoja tidak tahu diri itu.”

“Cukup Yong Ah, jangan menghina dirinya lagi.”

Keributan itu mengundang para tamu udangan untuk menghentikan dansanya karena yeoja itu terus berteriak-teriak mencaci Tiffany sampai akhirnya Siwon harus menggeretnya ke luar ruangan dengan paksa. Tingkahnya sudah sangat memalukan.

“Hey apa yang kau lakukan Oppa, lepaskan aku! Badanku sakit. “

“Kau membuatku malu, berteriak seperti orang kesetanan di rumah orang. Kau harus kuberi pelajaran nona muda yang angkuh!”

Tiffany melihat pemandangan itu dengan hati teriris. Seharusnya ia tidak berdansa dengan Siwon? Seharusnya ia tidak datang ke pesta dansa ini. Ia harusnya sadar bahwa Siwon bukan lagi namja yang dikenalnya dulu. Ia adalah Casanova yang senang memikat hati yeoja yang diinginkannya. Cih, berani-beraninya Siwon menggodanya di depan mata kekasihnya sendiri. Tentu saja Park Young Ah itu marah bukan main. Dirinya memang layak disebut wanita jalang karena dengan mudahnya menerima sentuhan dari namja yang nyata-nyata sudah memiliki kekasih. Mukanya tiba-tiba berubah pucat, kepalanya berputar-putar. Rasa sakit hatinya terlalu dalam sehingga menjalar ke bagian otaknya yang biasanya paling kuat membuatnya tetap sadar. Dengan menangis ia meninggalkan ruangan dansa diiringi tatapan kasihan dari beberapa tamu yang menyaksikan keribuan itu. Ia tidak sanggup menahan kesakitan ini. Mengapa jatuh cinta bisa begitu sakit rasanya. Jika ia tahu perasaan itu begitu melukainya, ia lebih memilih tidak pernah memiliki rasa cinta sama sekali. Tapi semuanya terlambat, rasa cinta itu sudah terlanjur berurat dan berakar dalam urat dan nadinya.

Tiffany terus berlari sambil menangis, tidak diperdulikannya orang-orang di sekitar jalanan yang menatapnya aneh. Udara malam begitu dingin tapi ia tidak perduli, ia terus berlari, entah kemana kakinya akan membawanya.

“Tiffany!”

Seseorang tiba-tiba memanggilnya. Ia pura-pura tidak mendengarkan.

“Tiffany!

Yeoja itu terus berlari sampai kemudian seseorang telah menyusulnya menarik tangannya dan memeluknya dengan erat.

Tiffany meronta, ia tahu orang yang memeluknya itu adalah Siwon. Ia tidak sudi berdekatan dengan namja itu. Cukup sudah Siwon mempermainkan hatinya.

“Lepaskan aku.”

“Tidak!”

“Lepaskan, aku jika tidak aku akan berteriak.”

Tiffany terus meronta sambil menangis, ia memukul-mukul dada Siwon tapi namja itu bukan tandingannya. Siwon terus memeluknya.

“Tenanglah Tiffany akan kujelaskan semuanya, kita hanya harus bicara baik-baik.”

“Aku tidak mau.”

“Tiffany tolonglah, kau sedang ada di jalanan yang cukup ramai. Tingkahmu membuat kita diperhatikan banyak orang.”

Tapi Tiffany tidak perduli, dengan seluruh tenaganya ia mencoba melepaskan diri sampai akhirnya tenaganya habis dengan sendirinya. Ia begitu lelah meronta dan berteriak.

Sambil terisak-isak Tiffany berbisik, kepalanya terpaksa bergelung di dada Siwon,”Tolong lepaskan aku, aku sakit. Tolong, kumohon.”

Siwon tidak tega mendengarkan ratapan itu. Ia melepaskan pelukannya dan ia bisa melihat dengan jelas bagaimana sembabnya muka Tiffany karena menangis. Hatinya sakit. Sampai kinipun, ia akan merasa sakit jika Tiffany sakit.

“Tolong jangan ganggu hidupku lagi Siwon. Semuanya sudah berakhir sejak lama. Kita masing-masing adalah masa lalu dan kau telah mempunyai yeoja chingu yang harus kau urusi.”

“Tolonglah Fany dengarkan penjelasanku. Dia bukan kekasihku seperti yang kau bayangkan. Ia hanyalah seorang groupies yang kebetulan berasal dari keluarga berada sehingga ia bisa dengan mudahnya mengakses setiap aktivitasku.”

“Apakah dia kekasihmu, selingkuhanmu atau tidak itu bukan urusanku. Kau tidak berhak bersamaku sekarang.”

”Aku berhak bersamamu!”

“Oh ya, setelah kau menghabiskan waktumu dengan beratus-ratus yeoja cantik dan sekarang kau tiba-tiba merasa berhak bersamaku? Aku bukan yeoja koleksimu. Aku cukup punya harga diri untuk tidak jatuh pada pelukan playboy sepertimu.”

Deg, Siwon merasa tuduhan itu terlalu jahat. Ia masih bisa diam ketika pers menyebutnya seperti itu, tapi ia tidak bisa menerima jika Tiffany menuduhnya hal serupa.

“Dengarkan aku Tiffany, berita-berita yang kau dengar itu bohong. Tidak seperti itu kenyataannya. Aku akan jelaskan kepadamu.”

Tiffany berteriak, ia menutup kupingnya sambil menangis,”Tidak usah menjelaskan padaku karena aku tidak mau mendengarnya. Sekarang pergi dari sini. Aku tidak mau melihatmu lagi. Aku membencimu!”

Namja itu terpana dengan ucapan Tiffany. Sebegitu burukkah ia dimatanya kini?

“Tolong dengarkan aku, Tiffany. Hey! Tiffany kau mau kemana!”

Tiffany berbalik dan berlari menjauhinya. Siwon spontan mengejarnya tapi Otsuji keburu menarik tangannya. Ternyata pria itu menyusul Siwon karena begitu khawatir dengan keributan di pesta dansanya tadi.

“Biarkan ia sendiri Siwon, ia butuh menenangkan diri. Hari ini begitu berat baginya, bertemu dirimu lagi setelah sekian lama dan tiba-tiba diperlakukan kasar olah seorang yang mengaku yeoja chingumu. Cobalah untuk memahami perasaannya.”

“Tapi itu tidak benar. Kau tahu gossip itu tidak benar.”

“Aku mengerti, aku mengenalmu Siwon dan aku percaya padamu. Masih ada hari besok untuk kau dan Tiffany menyelesaikan masalah yang bertahun-tahun tidak pernah terselesaikan. Tapi biarkan dia menjernihkan pikirannya dulu. Sekarang pulanglah dan tidur untuk menyegarkan pikiranmu”

“Aku tidak mau pulang ke rumahmu selama masih ada Park Young Ah di sana.”

Otsuji tersenyum, “Tenang saja, ia sudah kupulangkan langsung ke Korea malam ini juga. Karena dirinya, pesta dansaku menjadi hancur berantakan.”

“Maafkan aku Otsuji-san semuanya karena aku, jika saja aku bisa bersikap lebih tegas untuk menolak Young Ah, mungkin keadaannya tidak seburuk ini. Maafkan aku. Akulah yang salah,” ujar Siwon menyesal.

“Sudahlah, selama kau terkenal dan memiliki kedudukan, akan selalu ada tipe yeoja seperti Young Ah yang akan selalu membuntutimu ke mana-mana. Tenang saja, aku tidak menuduhmu. Aku tidak merasa kau yang bersalah. Malah aku sengaja membuat pesta dansa itu khusus untukmu dan Tiffany. ”

Siwon mengernyitkan dahitnya, bingung.

“Kupikir acara itu untuk menyelamati pembangunan teater kabuki itu.”

“Tentu saja itu benar tapi alasan aku mempercepat acara itu adalah karena aku ingin mempertemukan kalian secepatnya,” pria tua itu tersenyum dengan idenya.

Otsuji mengajak Siwon duduk ketika ditemuinya sebuah bangku di sisi jalan.

“Biasanya naluriku selalu tepat dan aku percaya betul instingku. Ketika aku melihat Tiffany di restoran di Nagano dua tahun lalu, hatiku berkata bahwa kau dan dia berjodoh. Aku memaksamu untuk mendekatinya walaupun ternyata efek dari itu sangatlah berat dan panjang. Aku bukan berarti menyesal karena turut andil dalam mempertemukanmu dengan Tiffany. Tetapi aku tidak sadar bahwa cinta kalian begitu panjang dan berliku. Jika saja pada saat-saat sulit itu aku ada di sana, mungkin aku bisa membantumu sehingga kehidupan cintamu tidak terkatung-katung seperti ini.”

Pria tua itu berbicara panjang lebar mengingatkannya pada saat-saat awal pertemuannya dengan Tiffany.

“Ini bukan salahmu Otsuji-san, kau tidak boleh merasa seperti itu. Justru harusnya aku yang berterimakasih, jika kau tidak dengan gila memaksaku membatalkan proses perjodohan Tiffany dengan Kim Min Ho saat itu, mungkin sampai sekarang aku tidak akan mengenal apa itu cinta dan pengorbanan.”

Otsuji menepuk-nepuk punggung Siwon yang sedang duduk terpekur,”Aku yakin kau bisa melewati semua masalah ini. Kesabaranmu selama satu setengah tahun menunggunya membuktikan bahwa kau akan kuat melewati semua rintangan yang ada pada hubungan kalian.”

Siwon tersenyum, “Yah dan selama itu aku terus merepotkanmu dan Nyonya Otsuji. Hampir setiap hari kalian harus dengan sabar melayani pertanyaanku tentang kondisi terbaru Tiffany.”

“Kami senang membantumu, istriku sudah tidak sabar melihat kalian bersatu, tapi yah rupanya ia memang harus lebih bersabar. Ia selalu rajin menghubungi Tiffany untuk bisa menjawab pertanyaanmu jika kau menghubunginya. Ia sama antusiasnya denganmu, ketika Tiffany bahagia kalian akan terlihat bahagia, sebaliknya jika Tiffany sedang sedih, kalian juga akan ikut sedih. Koneksi batin kalian bertiga cukup kuat, walaupun rasanya aneh hehehe.”, pria tua itu terkekeh.

Siwon mengangguk setuju. Selama satu setengah tahun ini, ia memang secara khusus telah memohon keluarga Otsuji untuk menolongnya, memperhatikan Tiffany selama yeoja itu tinggal di Jepang. Ia begitu khawatir dengan kehidupan Tiffany pasca perpisahan mereka yang sangat tidak mengenakkan. Untunglah Nyonya Otsuji memang sudah jatuh cinta dengan Tiffany saat pertama kali bertemu, yeoja itu sudah dianggap anak kandungnya sendiri sehingga tidak susah baginya untuk mendapatkan informasi tentang keadaan Tiffany. Tanpa yeoja itu sadari, melalui keluarga Otsuji-san, Siwon dapat terus memantau kehidupan, gerak gerik, sikap dan prilakunya walapun dari jarak yang sangat jauh. Kehidupan cinta yang sangat menyakitkan, tapi itulah cinta yang dipahaminya sekarang. Memberi bukan untuk diberi. Memberi adalah untuk bisa lebih memberi yang terbaik bagi orang yang dicintainya.

Pria tua itu berdiri,“Sekarang kita pulang Siwon, dan bersiaplah untuk pertemuanmu selanjutnya besok. Aku mendoakan yang terbaik untukmu.”

Di tempat lain, masih sambil berlari-lari Tiffany masuk ke dalam apartemennya, ia ingin menyembunyikan dirinya sementara di tempat yang sudah menjadi surga dunianya. Air matanya sudah kering dan pikirannya kembali logis tapi ia tetap tidak bisa menyembunyikan rasa perih di hatinya. Tiffany begitu terluka melihat kenyataan bahwa rumor tentang Siwon yang seorang Don Juan ternyata benar adanya. Namja itu telah mempermainkannya dan ia begitu bodoh karena terlena begitu saja dengan rayuannya. Setelah menghilangkan penat dengan mandi dan berendam air panas, ia berjalan menuju futongnya dengan gontai. Ia ingin tidur dan segera melupakan mimpi buruk ini tapi pikirannya tanpa bisa dicegah melayang mengingat Siwon. Sejujurnya setelah apapun yang terjadi ia masih sangat mencintai namja itu. Hatinya pedih, bagaimana ia bisa mencintai seseorang yang telah dengan tega menyakitinya. Dengan sadar ia kembali meminum pil penenang untuk membuatnya lebih tenang. Ia memejamkan matanya berharap ia bisa mengusir bayangan buruk tentang Siwon yang menghantuinya selama ini. Betapa waktu dan keaadaan tidak berpihak padanya. Lagi-lagi ia menangis karena seorang Choi Siwon, sampai akhirnya ia tertidur entah karena terlalu lelah atau mungkin karena pengaruh obat itu..

Keeseokan harinya, ia terbangun dengan susah payah. Badannya panas, kepalanya juga terasa berat. Ia ingin masuk kerja hari ini apalagi mengingat Kamio akan begitu sibuk dengan persiapannya ke Prancis. Sudah pasti namja itu membutuhkan bantuannya. Tapi badannya sendiri begitu lemah dah letih. Ia menyesap secangkir teh hangat dan berharap penyakitnya bisa hilang dengan cepat tapi tidak bisa. Badannya malah menggigil. Tiffany segera mengirimkan sms kepada Kamio dan meminta maaf bahwa ia tidak bisa masuk hari ini karena sakit. Mendapatkan sms itu Kamio dengan cepat menelefonnya.

“Aku memang sakit Kamio-san, tapi kau tidak usah khawatir seperti itu. Byoin? Maksudmu aku harus ke rumah sakit. Rasanya tidak perlu aku memiliki obat-obatan yang cukup lengkap. Ne, dalam sehari aku yakin aku bisa sembuh, aku hanya harus beristirahat dan tidur nyenyak seharian. Mwo? Kau akan menjengukku? Tidak usah kau kan sedang sibuk. Baiklah tapi maaf aku tidak bisa menyiapkan apa-apa untuk menyambutmu.”

Ia menjawab semua pertanyaan Kamio dengan tenang. Tiffany ingin membalas kekhawatiran namja itu dengan mencoba bersikap normal. Sesungguhnya ia memang jarang sakit sehingga jika tiba-tiba ia cuti karena alasan tidak enak badan, Kamio pasti akan sangat khawatir. Ia jadi menyesal telah meng-sms namja itu. Kamio pasti tidak akan bekerja dengan tenang karena harus menengoknya. Tapi namja itu begitu keras kepala, sudah dilarang untuk tidak datang, tapi ia memaksa. Ya sudahlah!

Ia mencoba tertidur setelah meminum obat dan beberapa potong sandwich. Beberapa jam kemudian tiba-tiba terdengar suara bel di apatonya. Dengan sempoyongan ia berjalan mendekati pintu sambil melihat jam di dinding. Ya ampun ternyata ia sudah tidur selama kurang lebih 12 jam. Orang yang sedang membunyikan bel itu pastilah Kamio! Ia bejalan sambil menguap karena mengantuk. Ia hidup antara sadar dan tidak. Tanpa mengecek melalui cctv yang terpasang di luar kamarnya, ia membuka pintu itu. Alangkah terkejutnya Tiffany karena bukan Kamio yang didapatinya melainkan Siwon yang tersenyum manis kepadanya.

“Siwon, mau apa kau di sini” Tiffany menjerit, lagi-lagi reaksinya seperti melihat hantu. Ia membanting pintu karena tidak mau namja itu terlalu masuk jauh dalam ruang pribadinya. Tapi Tiffany kalah cepat, Siwon telah masuk dengan sebelah kakinya yang menahan pintu supaya tidak tertutup. Tiffany tidak bisa menutup pintu itu karena badan namja itu telah begitu kuat mendorong pintu sehingga terbuka lebar. Pintu lantas terbuka dan Siwon dapat dengan mudah masuk ke apartemen Tiffany.

Tiffany mundur beberapa langkah, ia seperti kedatangan perampok dalam rumahnya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Tiffany memekik katakutan. Ia tidak bisa membiarkan Siwon mengotak atik kehidupan pribadinya lagi.

Siwon hanya menatapnya, ia tidak menjawab malah duduk di sofa sambil memandang berkeliling. Sebuah apartemen yang sangat sederhana untuk yeoja sekelas Tiffany. Tapi ia memuji art sense Tiffany yang berhasil menghidupkan suasana hangat dan tenang dalam desain interior apartemennya.

“Apartemen yang cantik.”

Tiffany tidak perduli dengan pujian Siwon, “Apa yang kau lakukan di sini?,”lagi-lagi yeoja itu menanyakan hal yang sama. Ia berdiri menjauhi Siwon. Namja itu menatapnya geli. Tiffany dengan mata sembabnya seperti baru bangun tidur dan berteriak-teriak kepadanya. Tapi tatapan Siwon berubah lain ketika melihat gaun tidur sutranya yang dikenakan Tiffany. Sesaat pemandangan indah itu membuat mata dan jantung Siwon tercekat. Tiffany menyadari itu. Aish ia begitu bodoh, kenapa malam tadi ia nekad memakai baju tidur pendek dan menerawang seperti ini? Kenapa tadi ia lupa memakai yukata saat membuka pintu tadi? Spontan ia menutup tubuhnya dengan kedua tangannya.

“Apakah kau terbiasa membuka pintu untuk tamu dengan pakaian seperti itu?”

“Aku tidak membutuhkan kritikanmu.”

“Apa kau sedang menunggu seseorang dan sengaja berpakaian minim seperti itu?”

Ada rasa cemburu ketika Siwon mengatakannya.

“Kau tidak berhak menghakimiku. Setelah apa yang kau lakukan dengan puluhan bahkan ratusan yeoja dalam hidupmu, kau tidak berhak untuk mengajariku soal moral di sini.”

“Oh begitu? Jadi kau merasa tidak ada masalah menyambutku dengan gaun seperti itu?”

“Simpan komentarmu, Siwon, aku tidak membutuhkan seseorang playboy yang tiba-tiba berubah menjadi sangat perduli dengan apa yang pantas dikenakan olehku dalam menjamu tamu.”

Namja itu dengan tidak perduli mengabaikan tatapan mata kesal Tiffany. Ia lantas berjalan mengelilingi dapur mini dan ruang tidurnya. Hanya dalam beberapa langkah ia sudah mencapai balkon, menggeser pintu kaca itu dan melihat ke luar.

“Pemandangan yang bagus, aku bisa melihat Tokyo Tower begitu mudah dari sini.”

Tiffany mendelik kesal, ia sudah menutupi badan bagian atasnya dengan cardigans. Siwon menyadari itu dan hanya tersenyum kecil. Ia mencium wangi beberapa bunga dalam pot kecil-kecil yang disusun Tifany begitu rapi di balkon tersebut.

“Bunga-bunga yang indah, kau begitu telaten mengurusnya.”

Entah Siwon berbicara kepada siapa karena Tiffany begitu sibuk dengan pikirannya sendiri. Ia keberatan Siwon berada dalam ruang pribadinya. Tidak ada yang pernah masuk ke dalam apato ini selain Kamio. Tapi Kamio adalah sahabatnya dan ia percaya namja itu tidak akan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan karena waktu selama setahun setengah sudah membuktikan itu semua.

“Apa kau tidak mau berbagi secangkir kopi atau teh denganku?” Siwon kembali duduk di atas sofa mungilnya.

Dengan terpaksa Tiffany menuruti permintaan namja itu, ia menyalakan coffee makernya dan setelah selesai ia mengangsurkan secangkir kopi panas dengan setangkup roti bakar pada namja itu. Siwon menerimanya sambil tersenyum, ‘kau selalu terlihat tampan jika tersenyum,’ batin Tiffany mengeluh. Berada satu ruangan dengan orang yang dicintainya membuat tubuhnya panas dingin. Entah karena ia masih sakit ataukah karena reaksi tubuhnya karena kehadiran namja itu.

Namja itu meminum kopi dan memakan roti bakar yang dibuatnya.

“Enak, aku rindu makanan dan minuman hasil buatanmu.”

Tiffany yang berdiri di depan Siwon tersenyum kecil, ia ingat dulu ia sangat rajin menyiapkan bekal untuk namja itu. Rutinitas yang membuatnya terampil memasak.

Namja itu kemudian meletakan piring dan cangkir di meja kecil yang ada di sampingnya. Tiffany ternyata masih berdiri di depannya. Dengan bagian atas tubuh tertutup cardigan dan bagian bawah yang masih memperlihatkan tungkai kaki yang indah menjulang, membuat Siwon seolah melupakan tujuan utamanya untuk datang menemui Tiffany. Gaun tidur itu terlalu pendek untuk menutupi kakinya yang jenjang. Hasratnya membuat ia ingin menarik tubuh Tiffany ke dalam pelukannya. Tapi ia mencoba untuk menahan perasaanya.

“Duduklah, aku ingin bicara denganmu.”

“Tidak perlu, aku tidak butuh penjelasanmu.”

“Kudengar kau banyak berubah tapi sifat keras kepalamu tetap tidak berubah.”

Tiffany mendengus kesal.

“Aku tidak mau mendengar apapun darimu, setelah kejadian kemarin semuanya begitu jelas bagiku.”

“Dengarkan aku.”

Siwon mencoba meraih tangan Tiffany tapi yeoja itu mehempaskannya. Cukup sudah namja itu bermain-main dengan hatinya. Ia sudah membuat keputusan untuk melepas perasaannya pergi. Siwon adalah masa lalu yang tidak perlu diharapkan lagi. Ia tidak lebih seorang Don Juan murahan.

“Tiffany dengarkan aku.”

Siwon berdiri dan mencoba untuk membuat Tiffany menghadapnya. Tapi yeoja itu begitu keras kepala.

“Tidak mau!”

Entah setan apa yang merasuki otaknya. Ia begitu kesal dengan penolakan Tiffany. Yeoja itu begitu sulit dikendalikan. Baiklah ia akan mengendalikan yeoja itu dengan caranya sendiri. Tiba-tiba namja itu telah meraih Tiffany dalam pelukannya, memagut bibirnya dengan kasar dan menekannya kuat.  Mulutnya sepanas bara ketika menghujam bibir Tiffany. Yeoja itu tertegun bagaimana tiba-tiba tubuhnya bereaksi kuat terhadap ciuman yang tidak bisa dibilang lembut itu. Ia menyambut ciuman dan pelukan Siwon dengan otomatis. Tanpa menyadari apa yang diperbuatnya, bibir lembut dan lugunya menyambut dan membalas ciuman itu. Siwon yang menyadari reaksi Tiffany semakin memperdalam ciumannya. Sesekali Tiffany memekik ketika Siwon dengan rakus berusaha menggigit tiap sel yang ada di bibirnya. Ciumannya menjalar tidak terkendali. Siwon mencium semua yang bisa diraihnya tanpa memberikan kesempatan jeda sedetikpun untuk Tiffany melepaskan diri. Siwon  mencium bibir Tiffany, memagut dagu, daun telinga dan leher jenjang yeoja itu. Rambut Tiffany yang wangi panjang tergerai menggelitik indera penciumannya untuk bermain-main dengan pangkal lehernya. Tiffany mendesah ketika Siwon menyesap titik-titik sensitif di belakang lehernya. Tubuhnya sudah begitu limbung karena Siwon menekan tubuhnya dengan kuat. Ia menarik rambut Siwon untuk memantapkan posisi tubuhnya. Tapi ia terlalu lemah, Siwon menjatuhkannya ke sofa yang ada dibelakangnya. Namja itu kini telah menindihnya. Ada kesadaran kecil dalam otaknya yang menyuruhnya berhenti. Tapi ia tidak bisa memungkiri bahwa hatinya begitu merindukan sentuhan seperti ini. Mereka saling memandang, Siwon menatap Tiffany dengan kelam. Sudah terlanjur dan ia tidak dapat berhenti. Kerinduan begitu menggelegak batinnya sehingga ia dengan berani mencium yeoja itu. Beberapa detik mereka saling terdiam dan bertatapan, sampai kemudian Tiffany dengan berani membelai wajah Siwon dengan ujung jari-jarinya, kemudian menyusuri daun telinganya, rahangnya yang begitu keras, lehernya. Siwon mendesis menahan semua hasratnya yang sudah di luar batas. Ia meraih jemari Tiffany, menciumnya dengan lembut. Siwon menyelusupkan tangan mungil Tiffany untuk menyentuh kulit punggungnya. Sebuah reaksi yang spontan karena Tiffany lantas membelai kulit telanjang Siwon dengan lembut. Siwon kembali menciumnya, dan reaksi yeoja itu tidak serikuh tadi. Ia menerima Siwon dengan terbuka. Namja itu kemudian menyelusupkan tangannya ke dalam cardigan dan gaun tidur Tiffany yang tipis. Menyentuh, membelai, semua lekukan yang ditemuinya. Tiffany merintih. Tiffany sadar bahwa sebentar lagi mereka akan melakukan sesuatu yang lebih. Ia harus berhenti tapi ia tidak bisa. Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa ia membutuhkan kedekatan seperti ini. Tiffany mengerang nikmat ketika sesuatu telah meremas lembut bagian dadanya. Beratus-ratus alarm telah berdengung di telinganya. Otaknya masih berfungsi untuk mengingatkannya. Spontan ia melepaskan diri, berdiri dan menjauhi Siwon yang menatapnya tidak percaya. Ia membereskan cardigan dan baju tidurnya yang setengah terbuka.

“Pergilan Siwon!”

“Apa aku menyakitimu?”

Tiffany menjerit dalam hati, “Kau menyakitiku Siwon. Semakin kau menyentuhku semakin aku tidak bisa lepas darimu.’

Tapi ia hanya bisa terdiam, ujung matanya kembali memanas, begitu juga tubuhnya. Ia merasakan demam kedua kalinya.

“Maafkan aku Tiffany, aku begitu menginginkanmu,” Siwon menatap Tiffany nanar. Ia telah menyakiti yeoja yang dicintainya. Andaikata ia bisa lebih mengendalikan diri tapi yeoja itu telah menjadi candu dalam hidupnya. Ia tidak pernah berhenti sedetikpun untuk tidak memikirkan Tiffany.

“Pergilah Siwon, kau tidak membantuku sama sekali.”

“Tapi kau harus mendengarkan penjelasanku.”

“Jangan menjelaskan apapun kepadaku. Aku sudah terlalu lelah dengan perasaan ini. Aku tidak bisa lagi bermain-main dengan hatiku sendiri. Aku akui akulah yang pertama kali membuat hubungan kita menjadi tidak jelas seperti ini. Aku menolak lamaranmu dan membuatmu hidup dalam sandiwara yang sengaja dibuat untuk melindungi nama baik masing-masing. Aku begitu bodoh untuk bisa menyadari bahwa akupun memiliki perasaan serupa denganmu. Tapi semuanya terlambat. Kita sama-sama mencari pelampiasan atas rasa sakit hati ini. Aku pergi ke Jepang dan menjadi yeoja yang tidak perduli dengan apapun selain pekerjaanku dan kau menjadi namja playboy pemikat hati yeoja. Aku tidak menyukai kenyataan bahwa di sini aku selalu mengingatmu karena penyesalanku tapi di sana kau bermain-main dengan yeoja sesukamu.”

Siwon terdiam. Ia ingin membantah tapi melihat Tiffany yang begitu histeris, ia mengurungkan niatnya.

Yeoja itu menangis di depan matanya. Spontan ia meraihnya, tapi yeoja itu menghempaskannya. Setiap sentuhan Siwon akan membuatnya lebih menginginkan namja itu lagi dan itu tidak mungkin. Kepala Tiffany mendadak berat dan pusing, gejala yang terjadi jika ia membutuhkan obat penenang. Ditinggalkannya Siwon, dengan cepat ia masuk ke kamar mandi untuk mengambil tabletnya. Dibukanya laci tempat penyimpanan obat, tapi tidak ditemukannya botol obat itu. Ia membungkuk mencari ke segala arah tapi obat penenang itu raib entah kemana.

“Kau mencari ini?”

Suara berat di belakang mengejutkannya. Tiffany berbalik, ia melihat Siwon sudah di dekatnya sambil menunjukkan botol yang berisi puluhan obat penenang.

“Kembalikan obatku!”

Yeoja itu mencoba merebut botol itu dari tangan Siwon tapi namja itu terlalu tinggi untuk bisa dijangkau.

“Kembalikan obatku tolong.”

“Sejak kapan kau meminum obat seperti ini Tiffany?”

“Itu bukan urusanmu!”

“Ini menjadi urusanku. Apakah kau begitu bodoh dengan mengkonsumsi obat ini setiap kali kau merasa ada masalah? Kau tahu sendiri kan bahayanya bagi tubuhmu.”

“Kau tidak perlu memperdulikanku. Perdulikan saja Young Ah dan yeoja – yeoja itu.”

“Jangan mengalihkan pembicaraan, sejak kapan kau mulai meminum obat ini. Jawab Tiffany?” rahang Siwon mulai mengeras.

Tiffany begitu takut dengan aura marah yang terpancar dari namja itu.Tiba-tiba namja itu menumpahkan semua isi botol itu ke dalam toilet, memencet tombol flush, sehingga tidak ada waktu bagi Tiffany untuk menyelamatkan barangnya yang berharga.

“Apa yang kau lakukan? Kau membuang obatku.”

Tiffany berteriak histeris.

“Dengarkan aku, obat ini begitu berbahaya. Kau bisa meninggal jika overdosis. Sekarang katakan sejak kapan kau mengkonsumsi obat itu”

“Sejak aku tinggal di sini, kau puas?”

Siwon menatap Tiffany tidak percaya,”Apakah kau tidak bisa menyelesaikan masalahmu sendiri sehingga harus bergantung pada obat penenang seperti ini.”

Yeoja itu terdiam, menahan isak tangisnya.

“Jawab Tiffany!”

Tiffany berteriak ia tidak dapat menyembunyikan perasaannya lebih lama lagi, “Masalahku adalah dirimu Siwon. Aku begitu sakit hati karena kau bersama Lee Hyo Ri. Tapi aku tidak bisa melupakanmu. Aku lebih sakit hati mengetahui petualangan cintamu setelah itu. Padahal di sini aku begitu mengharapkanmu sehingga tidak bisa berpaling kepada namja yang lain. Tapi kau begitu mudahnya bermain-main dengan mereka. Kau tidak tahu aku begitu menderita membaca semua pemberitaan tentang dirimu. Setiap kali aku mencoba melupakanmu, setiap kali itu juga aku selalu mengingatmu. Aku membutuhkan obat itu untuk membuat emosiku stabil. Rasanya lelah terus menangis karena memikirkan betapa semua ini membuat batinku tersiksa.”

Siwon tertegun. Ia tidak menyangka Tiffany akan mengucapkan kalimat yang cukup gamblang yang menunjukan bagaimana perasaan yeoja itu kepadanya. Tiffany masih menangis dan histeris, ia tidak bisa mengontrol emosinya. Tiba-tiba nafasnya menjadi sesak, kepalanya terasa melayang-layang, pandangannya kabur. Semua menjadi gelap di matanya. Ia tidak bisa mengendalikan tubuhnya. Bruk, badannya terjatuh lunglai, ia pingsan. Sepasang tangan kokoh dengan cepat menangkap tubuh Tiffany yang ambruk.

“Tiffany,” desis Siwon dalam hati. Ia begitu khawatir.

Dipeluk dan digendongnya yeoja itu dalam pelukannya. Dibawanya yeoja itu ke luar apartemennya. Mobil mewahnya telah menunggu di depan jalan. Dengan hati-hati, dimasukannya tubuh Tiffany yang lemah ke dalam mobil itu. Dipasangnya seat belt ke tubuh yeoja itu dengan cermat. Ia segera masuk ke mobil dan menghidupkan mobil, menyetirnya perlahan dan membawa Tiffany pergi. Beberapa kali mobil itu melewati rumah sakit dan klinik dokter, tapi Siwon tidak menurunkan yeoja yang tidak berdaya itu ke sana. Alih-alih ia menelefon seseorang.

“Moshi-moshi, bisakah kau menyiapkan helikopter untukku. So desu ne, aku ingin menggunakannya sekarang juga. Tolong siapkan juga petugas kesehatan karena aku membawa seseorang yang sedang pingsan di sini. Baiklah, aku akan ke landasan, kau tunggu aku 10 menit lagi.”

Sambil menyetir, Siwon terus menatap yeoja yang ada di sampingnya dengan resah.

“Mianhae Tiffany jika aku begitu lancang. Aku begitu menginginkanmu sehingga terpaksa membawamu pergi. Aku selalu bermimpi untuk membawamu ke sana dan sekarang aku bisa melakukannya. Mianhae karena telah memanfaatkan kondisimu ini karena jika tidak, aku tidak tahu lagi bagaimana aku bisa membawamu pergi.”

Tiba-tiba Siwon tersenyum, ia sudah membayangkan rencananya akan berakhir sempurna. Mungkin Tiffany akan terkejut, marah, bahkan mencaci makinya. Tapi ia tidak perduli. Ia hanya ingin menuruti insting dasarnya sebagai seorang namja. Sudah cukup ia mengikuti aturan dan pendapat orang yang membuatnya harus berjauhan dengan yeoja yang dikasihinya itu bertahun-tahun. Sekarang adalah saatnya ia membuat keputusan atas dirinya dan Tiffany tanpa ada intervensi dari orang lain.

Siwon berbisik dan mencium telinga Tiffany, entah yeoja itu dapat mendengar dan merasakannyanya entah tidak, yeoja itu masih dalam keadaan tidak sadar.

”Tiffany, sebentar lagi kau akan menjadi milikku. Kau tidak bisa pergi lagi dariku. Mulai hari ini tidak ada seorangpun yang dapat memisahkan kita.”

TO BE CONTINUED

Glossary:

Konichiwa: Selamat siang

Konbanwa: Selamat malam

Daijobu: Tidak apa-apa

So desu ka: Begitukah/ Benarkah/ Oh ya

So desu ne: Baiklah.

Aishiteru : I love u

Apato: Apartemen

Gomenasai/Gomene: Maaf

Sumimasen: Maaf/ Permisi

Wakarismashita: Mengerti

Koibito: Pacar

Moshi-moshi: Hallo

Omodeto: Selamat

Arigato Gozaimashita: Terimakasih (past time)

Futong: Tempat tidur busa yang dilipat (inget Doraemon kan?)

Irrashai: Selamat datang

Omajimashimasu: Ucapan saat masuk ke rumah seseorang

 

Author: Baiklah sebelum disemprot readers karena tiba-tiba ada kata-kata TO BE CONTINUED di seri ini, ijinkan author untuk menjelaskan. Ketika author sedang mengetik untuk final part STB ini, tiba-tiba author nyadar bahwa untuk sebuah ending ternyata seri ini sangat panjang. Author sudah mengetik sampai sekitar 50 halaman tapi masih jauh ke ending yang diinginkan dan tangan author entah kenapa gampang pegel akhir-akhir ini. Daripada membuat readers menunggu terlalu lama, akhirnya dengan terpaksa ending ini akan dibagi 2 karena itu author menulisnya part 13 A. Sebetulnya bisa saja author menyudahi STB di seri ini tapi itu berarti author akan mengurangi plot cerita yang rasanya sayang jika dilewatkan. Apalagi readers sudah sangat mengharap adegan romantisnya. Wah butuh berlembar-lembar halaman saking author excited untuk menulisnya hehehe *otak yadong banget. Terus seri extended ini juga untuk memenuhi rasa sedih readers yang ga rela berpisah dari STB *ciee author ge er banget.

Sekali lagi gomawo pake deep bowing bowing untuk readers yang sudah setia dengan SJRLS ini. Buktinya untuk kedua kalinya STB ini menjadi fanfic of this week. Plok plok plok buat readers. Tanpa readers ga mungkin STB bisa menjadi seperti ini. Read, Comment, and Like readers menjadi semangat dan inspirasi yang berharga bagi author untuk menulis. Author senang membaca komentar readers dan setiap komentar memiliki arti sendiri buat author. Jadi jangan ngerasa ga enak kalo komennya panjang, justru author senang banget karena bisa menggali lebih dalam ide-idenya readers. Jadi kalo sama author mah bebas-bebas aja, author selalu welcome dengan masukan, kritikan dan pujian*ehem bahkan curhat-curhat geje jg ga pa-pa (soalnya aku sendirian di sini, jadi baca komen readers kayak nambah temen *author mulai curhat)

Pengumuman selanjutnya (aish author curhat kok panjang banget), Author akan mengumumkan pemenang member Suju yang ceritanya akan nongol setelah STB ini selesai.

Urutan ke 5:Kangin & Sungmin

Urutan ke 4: Leetuk

Urutan ke 3: Yesung

Urutan ke 2: Donghae

And the Winner is: Kyuhyun!!!!!!! Plok Plok Plok

Selamat ya Oppa, akhirnya menggantikan Siwon dalam SJRLS. Mulai minggu depan siap-siap saja kalau tiba-tiba ada SJRLS dengan judul baru.

Segitu aja curcol author ya readers, mianhae kalo ending part jadi dipecah 2, I hope you enjoy this. Saranghae. I love u, muah muah

311 responses to “SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: SIWON THE BOSS (PART 13 A)

  1. Suka bgt sama part ini…
    Feelnya Dapet bgt..
    Aku sampe terhanyut(?) bacanya #tsah hehe…
    Ikut sedih Ngebayangin perasaan Tiffany 😦
    Pasti itu siwon mau langsung bawa Ke pelaminan yah Kekeke…
    Aku langsung aja deh baca endingnya… ^^

  2. Ya ampun fany,,knpa msti ngonsumsi obat tu cba..hadeehh..
    Eh siwon,,mw drmu bwak kmna tu fany..bhya nih..hahaha

  3. Oh My Gosh the story is so romantic hehe^^
    tiffany eonni kok sampai minum obat penenang??
    siwon oppa jangan egois ke fany eonni yaaa
    married married married
    ga sabar next author

  4. disembunyikn dihindari ttp g bisa klo udh ad kata cinta dihatibutk seseorg.fany berush mlkukanny tp ttp aj klh akn hatiny.
    aplg moment yg udh lm dinantikn akhirny trjdi jg.brtmu dgn org yg dicintai Siwon.
    sweet moment yg indah utk ber dua.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s