[Kai’s] Hum on Rainy Day

kais-hum-on-rainy-day11

Title            : 6th part (Kai’s) Hum on Rainy Day

credit poster : Thanks to Cipzagraph

Author       : @fhayfransiska

Genre         : Romance, Friendship, Angst

Length       : Chaptered

                   1st part [Chan Yeol’s] Girl inside the Window

                   2nd part [Baek Hyun’s] Egoistic Princess

                   3rd part [Kris’] Wedding Pain

                   4th part [Xiu Min’s] Oblivious Summer

                   5th part [D.O’s] Goodbye Tiramisu

Cast            :

  • Kim Jong In a.k.a Kai
  • Lee Sung Yeon (OC)
  • Park Soo Ra (OC)
  • Do Kyung Soo a.k.a D.O
  • Oh Se Hun
  • Park Chan Yeol
  • Cho Yu Ji (OC)
  • Byun Baek Hyun
  • Lee Jin Ri (OC)

Allo readerdeul, author is comeback \(^^)/ !! Gimana, kangen gak sama author? Ahahaha #pede. Kayaknya udah 3 mingguan yah author ngilang ^^v author kembali dengan ff geje dan mendayu-dayu seperti biasanya, dan author kasih bonus halaman banyak deh #plak. Oh iya, kebetulan banget di rumah author seharian ini hujan, cocok sama suasana deh ff-nya deh, hhe #apasih. Special thanks to @gigiiisss yang udah author pinjem namanya (lee sungyeon) :*

This plot dan OC is mine, and EXO is God’s. Don’t do plagiarism ok?  

And be a good readers please, don’t forget to comment and like, hhe^^

________

            Seoul, seven years ago

            Langit kota Seoul saat itu benar-benar cerah, tidak tampak awan mendung sedikitpun, matahari menampakkan kegagahannya dan menyinari bumi tanpa ragu. Tampak di sudut kota dua orang yeoja tengah berjalan-jalan dengan riangnya, menyusuri jalanan kota Seoul yang saat itu cukup ramai, begitu banyak orang berlalu lalang dan lalu lintas pun terlihat begitu padat.

            Jin Ri dan Sung Yeon, itulah nama kedua yeoja itu. Jin Ri, yeoja berumur sekitar tiga belas tahun tengah menggandeng erat tangan adik perempuannya, Sung Yeon, yang berumur kurang lebih sepuluh tahun. Karena ramainya jalan, tidak jarang tubuh kecil keduanya bertubrukan dengan orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka.

            “Kenapa ramai sekali, sih Eonni ?Hah, lampu merahnya juga lama sekali!”

            Sung Yeon menghentak-hentakkan kakinya ke tanah dengan keras, berkali-kali hingga membuat kakaknya, Jin Ri, perlahan menggeleng. Tiba-tiba lampu lalu lintas bagi pejalan kaki berganti menjadi warna hijau, dengan segera Sung Yeon melangkahkan kaki mungilnya, bermaksud menyeberang jalan. Namun baru beberapa langkah, ia menyadari kalau kakaknya kini tak berjalan beriringan di sampingnya seperti sebelumnya, ia lantas berbalik dan mendapati kakaknya tengah melamun.

            “Ya, Eonni! Cepatlah, keburu lampunya merah lagi!”

            Jin Ri tersentak dari lamunannya, ia lantas berujar cepat. “Ah nee, chankaman Sung Yeonnie!”

            Sung Yeon terdiam di tengah jalan menunggu kakaknya. Jin Ri hendak beranjak dari tempatnya berdiri begitu ia menyadari sebuah mobil bercat hitam tengah melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke arah Sung Yeon. Ia sontak terbelalak.

            “Ya! Sung Yeonnie, awas!!”teriak Jin Ri kencang.

            “Ha? Mwo?!”

            Bruuaagghhh!!

            Terlambat.

Jin Ri menutup kedua matanya dengan telapak  tangannya, ia tidak sanggup melihat apa yang barusaja terjadi. Terlalu menakutkan. Air matanya tiba-tiba mengalir, ia mulai terisak.

“E..eonni?”

Jin Ri tertegun, ia lantas membuka matanya dan mendapati Sung Yeon kini jatuh tersungkur di aspal yang kasar. Jin Ri terpana, namun dengan segera ia berlari menuju adiknya yang tampak hampir menangis itu. Ia langsung mengusap pelan wajah adiknya yang tampak pucat.

“Syukurlah, syukurlah kau baik-baik saja, Sung Yeonni. Sykurlah.”ucap Jin Ri disela isak tangis.

Sung Yeon terdiam, ia menatap wajah cemas kakaknya lekat-lekat,  sesaat kemudian ia berujar, “Eonni, bagaimana dengan namja yang menolongku?”

“Eh?”

Jin Ri memutar kepalanya, ia menatap lekat-lekat ke arah kerumunan orang. Terlihat di sudut matanya seorang namja kecil dengan darah mengucur deras dari kepalanya tengah tergolek lemah di aspal. Tubuh mungil namja yang diperkirakan berumur tidak jauh dengan adiknya itu terlihat sangat menyedihkan, nampaknya seluruh tulang di badannya remuk, mobil itu menabraknya begitu keras hingga sanggup membuat tubuh namja kecil itu terpental cukup jauh. Jin Ri  menelan ludah. Jangan-jangan ..

“Namja itu tadi mendorongku, hiks… sehingga dia yang tertabrak. Hiks..”Sung Yeon mulai terisak.

Jin Ri berjalan mendekati kerumunan itu, bermaksud mengenali wajah si namja yang telah menolong adiknya, namun seseorang menarik lengannya, seorang ahjumma. “Pemandangan seperti itu tidak seharusnya dilihat oleh kamu dan adikmu yang masih kecil, lebih baik kalian segera pulang ke rumah saja.”

“Tapi …”

Belum selesai Jin Ri berbicara, si ahjumma telah menarik lengan kedua yeoja kecil itu menjauhi tempat kecelakaan sementara wajah Jin Ri dan Sung Yeon kini tampak benar-benar pucat dan mata keduanya terlihat sembab.

“Tidak usah dipikirkan, kalian sama sekali tidak bersalah.”ujar ahjumma itu dengan senyum dipaksakan, berusaha menenangkan keduanya. Jin Ri dan Sung Yeon hanya mengangguk sembari melirik ke arah jalan yang kini semakin ramai dan kacau.

________

            Present

Seoul High School

Jong In melangkah menyusuri lorong sekolah dengan pandangan kosong, di telinganya terpasang earphone dengan volume musik yang cukup keras. Ia berjalan melewati gerombolan yeoja yang tampak sedang asyik bergosip ria dengan tatapan acuh tak acuh.

“Sudah dengar belum kalau Jong In sunbae baru saja putus dengan Soo Ra sunbae?”

“Sudah, dong. Ini yang aku tunggu-tunggu, setelah ini aku jadi tidak punya halangan untuk mendekati Jong In sunbae!”

“Ya! Bukannya barusaja kemarin kau bilang kalau mau mendekati Se Hun sunbae?”

“Se Hun sunbae terlalu dingin, aku takut untuk mendekatinya. Jong In sunbae terlihat lebih ramah.”

“Dasar!”

“Ssst, jangan keras-keras nanti sunbae mendengarnya.”

Jong In mendengus, tentu saja ia mendengarnya, dasar bodoh!

Semenjak gosip putusnya dia dengan Soo Ra merebak di sekolah, yeoja-yeoja di sekelilingnya terutama hoobaenya, mulai mengejar-ngejar dan sibuk membicarakan dia. Namun Jong In tidak pernah ambil pusing dengan itu, ia lebih memilih untuk menaikkan volume musik di iphone-nya, menghiraukan segala gosip serta ocehan panjang lebar plus tidak berguna dari yeoja-yeoja itu.

Selama seminggu terakhir semenjak ia putus dengan Soo Ra, tidak jarang Jong In mendapati kolong mejanya penuh dengan cokelat, hadiah, serta surat cinta. Yah, meskipun semuanya selalu berakhir di tempat sampah dan tidak sedikitpun ia lirik.

“Tahu tidak, kemarin aku melihat Soo Ra sunbae berjalan-jalan dengan seorang namja, ya, mereka seperti sedang kencan.”

Langkah Jong In terhenti seketika begitu mendengar ucapan salah seorang hoobae-nya barusan.

“Jinjja? Dasar yeoja gampangan, masa baru putus langsung nge-gaet namja lain.”

“Kasihan Jong In sunbae, lebih baik dari awal dia bersamaku saja.”

“Dasar! Daripada denganmu jauh lebih baik juga kalau bersamaku!”

“Tunggu! Jangan-jangan mereka putus gara-gara Soo Ra sunbae seling..”

Brrraaakkkk!!

Segerombolan yeoja itu terpekik kaget begitu mendengar suara pintu dipukul dengan keras, arah pandangan mereka lantas menuju ke arah seseorang yang menimbulkan suara tersebut, Jong In. Yeoja-yeoja itu menelan ludah begitu melihat sunbae mereka, Jong In, berjalan dengan wajah garang ke arah mereka, tangan namja itu masih terkepal erat.

“Bisa tidak kalian berhenti membicarakan dan menuduh orang lain seenak perut kalian?”tanya Jong In dingin. Yeoja-yeoja itu hanya terdiam menunduk.

“Bisa tidaaakkk!!!??” tanya Jong In lagi, kali ini lebih keras dan terdengar seperti sebuah geraman, membuat yeoja-yeoja itu mengangguk-anggukkan kepalanya cepat, takut.

Jong In tersenyum sinis, kemudian dengan sigap kembali berjalan meninggalkan yeoja-yeoja yang masih mematung karena ketakutan itu.

________

Seoul High School, dance practice room

Jong In hanya menatap kosong tujuh kaca besar di hadapannya, tidak biasanya ia seperti itu. Sebelum-sebelumnya, di tempat itu, tempat ia mengekspresikan segala perasaannya lewat berbagai gerakan dance, tempat ia bisa tertawa lepas dan menari sesuka hatinya, tempat ia biasa berlatih dengan teman-teman satu eskulnya, tempat di mana yeoja-nya dengan sabar menungguinya berlatih. Jong In mendengus, ia berjalan mendekati salah satu kaca besar itu, kemudian mengetuk-ngetukkan kepalanya keras.

Lupakan, lupakan Jong In, lupakan semuanya!

Jong In menaikkan volume musik di iphone-nya, ia berjalan mundur menjauhi kaca dan mulai melakukan beberapa gerakan. Ia meliuk-liukkan tubuhnya yang lentur, kakinya menghentak pelan dan tangannya bergerak bebas mengikuti irama lagu yang terdengar di telinganya. Suara decitan sepatu menggema di seluruh ruangan yang cukup luas itu. Hanya dengan ini, hanya dengan ini Jong In merasa sanggup sejenak melupakan masalahnya, ya meskipun hanya sejenak. Sejenak melupakan yeojanya.

Gerakan Jong In tiba-tiba terhenti dan tubuhnya terbanting dengan keras ke lantai, ia tampak tidak bisa menjaga keseimbangan tubuhnya. Jong In mengerang kesakitan dan memegangi pinggangnya yang terasa sakit. Ia berusaha kembali berdiri, namun sakit di pinggangnya semakin menjadi-jadi.

“Arrgghh!!”erangnya lagi. “Sial!”

Napas Jong In terengah-engah, ia mendengus ketika melihat pantulan wajahnya di kaca besar di hadapannya. “Sial! Pinggangku sakit lagi!”katanya kemudian.

_______

“Kamu siapa?”

“Aku? Aku namja yang menolongmu tujuh tahun lalu.”

“Kau masih hidup?”

“Tentu saja. Dan aku menunggumu.”

“Menungguku?”

“Ya.”

Sung Yeon perlahan membuka matanya yang terasa berat, ia mendesah hebat. Mimpi itu lagi. Entah kenapa ia terus menerus memimpikan hal yang sama selama dua minggu terakhir. Mimpi tentang namja yang menolongnya dari kecelakaan maut tujuh tahun lalu, namja yang hingga kini terus ia cari dan ia yakini masih hidup sampai saat ini. Namun tetap saja, di dalam mimpi itu Sung Yeon tidak dapat melihat wajah si namja dengan jelas. Semuanya tampak kabur. Yang jelas hanyalah suara lirih si namja, suara yang begitu dalam dan tampak menahan perih.

Dengan satu sentakan Sung Yeon berhasil bangkit dari tempat tidurnya, ia berjalan pelan ke arah meja belajarnya yang berantakan. Yeoja itu meraih gitar yang bertengger angkuh di atas meja belajar, kemudian tanpa sedikitpun melirik cermin untuk sekedar merapikan rambut ia membawa benda berukuran sedang itu ke luar kamarnya.

“Kau mau pergi lagi Sungyeonnie?”

Sung Yeon menghentikan langkahnya, seulas senyum perlahan terlukis di wajah manisnya, “Nee, Eonni.”

Jin Ri, seseorang yang dipanggil ‘eonni’ itu lantas menutup buku tebal yang dibacanya dan berjalan mendekati jendela, ia terpekur menatapa langit yang tampak tidak bersahabat. “Nampaknya akan segera turun hujan, kau yakin mau keluar? Ke tempat biasa?”

Sung Yeon memiringkan kepalanya, “Aku suka hujan. Aku akan merasa senang bila hujan menemaniku bernyanyi.” Sung Yeon tersenyum lagi, “Aku akan baik-baik saja, Eonni tidak usah khawatir.”

“Dan aku akan hati-hati kalau menyeberang.”tambah Sung Yeon begitu melihat Jin Ri terlihat berniat mengucapkan sesuatu lagi. Nampaknya Jin Ri masih trauma dengan kejadian tujuh tahun lalu karena hingga kini ia selalu mengingatkan Sung Yeon untuk berhati-hati di jalan, terutama bila akan menyeberang.

Jin Ri hanya menggeleng dan tersenyum melihat tingkah adiknya. Pandangannya kembali beralih pada buku yang sedang dibacanya.

“Oh, iya, Eonni.”

Jin Ri menghentikan kegiatan membacanya dan kembali menatap Sung Yeon. “Berhati-hatilah dengan namja bernama Baek Hyun itu.”

Jin Ri menaikkan sebelah alisnya, “Maksudmu?”

“Dia menyukaimu, Eonnie.”

Jin Ri tertegun, sedetik kemudian ia menggeleng dan tersenyum masam, “Aniya, jangan asal bicara Sungyeonnie. Lagipula aku sudah bersama Chan Yeol, Baek Hyun juga akan segera bertunangan dengan Sung Hee.”

“Oleh karena itu aku bilang berhati-hatilah.” Sung Yeon mendesah, “Eonnie tahu kan, sejak dulu aku bisa dengan mudah membaca perasaan seseorang, dan aku tidak pernah salah. Namja itu sering datang ke rumah untuk menjemput Eonnie lalu pergi ke rumah sakit bersama. Aku selalu memperhatikannya, dan aku yakin ia menyukaimu, Eonni. Terlihat sekali dari sinar matanya saat diam-diam memandangimu. ”

Jin Ri hanya terdiam sambil menatap kosong buku di hadapannya. Pikirannya mulai kacau, ia tidak bisa memfokuskan pikirannya pada buku yang di bacanya.

Pandangan Sung Yeon beralih ke arah jam dinding yang telah menunjukkan pukul empat sore. “Aissh, hari sudah semakin sore. Eonni, aku pergi dulu ya!”

Jin Ri tersentak dari lamunannya kemudian mengangguk cepat. “Nee. Hati-hati.”gumamnya parau.

________

“Meskipun sudah tujuh tahun berlalu, tulang pinggangmu yang dulu sempat patah itu tidak bisa benar-benar sembuh.”

“Tulang yang telah patah tidak bisa kembali sempurna seperti sediakala sekalipun kau melakukan operasi secanggih apapun.”

“Bukankah aku sudah pernah bilang, rawatlah pinggangmu baik-baik, jangan pernah membuatnya berkerja terlalu over, seperti menari. Pinggangmu bekerja ekstra ketika kau menari.”

“Berhentilah menari, itulah satu-satunya cara kalau kau tidak ingin kesakitan lagi.”

Jong In terpekur mengingat setiap kata yang keluar dari mulut Dokter Yang, dokter spesialis tulang yang telah merawatnya sejak tujuh tahun yang lalu. Ya, sejak kecelakaan itu. Kecelakaan yang hampir merenggut nyawa Jong In kecil.

Saat itu langit kota Seoul benar-benar cerah dan umurnya baru sebelas tahun. Jong In kecil tengah berjalan-jalan bersama ketiga kakaknya, mereka berempat berniat membeli kue untuk ulang tahun ibu mereka di toko roti yang terletak di sudut kota Seoul.

Jong In sedang asyik menjilati es krim vanilla di tangannya ketika ia melihat seorang yeoja yang ia perkirakan berumur hampir sama dengannya tengah berdiri di tengah jalan. Jong In hanya terpaku menatap si yeoja, baginya yeoja itu tampak begitu manis, ia lantas menepuk pipinya pelan menyadari bahwa ia masih anak-anak.

Sedetik kemudian, ia melihat sebuah mobil bercat hitam metalik sedang melaju kencang menuju ke arah yeoja kecil itu. Entah apa yang merasukinya saat itu, tubuhnya seperti bergerak sendiri, Jong In berlari sekuat tenaga dan mendorong tubuh yeoja itu, menyelamatkannya. Namun sial, Jong In belum sempat beranjak dari tempatnya berpijak ketika mobil itu menabrak tubuhnya dengan keras. Membuat tubuh mungil Jong In terpental cukup jauh dan mendarat di aspal yang keras. Saat itu juga ia merasa seluruh tulang di badannya remuk, kepalanya benar-benar ngilu dan badannya seakan mati rasa, dalam hitungan detik dunianya menggelap.

Menurut cerita ayah, ibu dan kakak-kakaknya, Jong In mengalami koma selama tiga bulan. Selama itu juga, ayah dan ibunya tidak hentinya menangisi Jong In karena jantungnya pernah melemah dan hampir berhenti beberapa kali. Sungguh keajaiban bagi si kecil Jong In, ia mampu membuka matanya dan kembali memperlihatkan senyum jahilnya tiga bulan setelah kecelakaan maut itu, membuat ayah, ibu dan ketiga kakaknya menghembuskan napas lega dan tak hentinya bersyukur.

Namun hidup memang tidak semudah itu, meskipun Jong In mampu untuk kembali tertawa, tak dapat dipungkiri bahwa cederanya begitu parah, tulang pinggangnya patah dan membuatnya harus tetap berada di rumah sakit selama beberapa bulan ke depan untuk melakukan operasi dan proses penyembuhan.

Kini tujuh tahun telah berlalu, Jong In telah tumbuh menjadi namja yang kuat, tidak ada yang pernah menyangka bahwa sosok tinggi dan tegap itu pernah hampir mati berkali-kali. Tidak akan ada yang menyangka bahwa sosok berkulit tanned itu tengah menahan sakit yang menjalar di pinggangnya, ah tidak, bahkan sakit di hatinya kini lebih terasa menusuk daripada sakit di pinggangnya.

Jong In menghela napas keras, entah kenapa ingatannya kini beralih topik. Tentang  yeoja itu, yeoja itu yang mampu membuatnya begini terpuruk. Namja itu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kalung, kalung berhiaskan permata berwarna biru, yang ia beli dengan hasil kerja kerasnya sendiri. Jong In tersenyum kecut, sedetik kemudian rahangnya mengeras, ia tampak menahan amarah yang mulai muncul lagi di hatinya.

“Dua tahun, dan semudah itu kau melupakan aku, Soo Ra ya.”

            Jong In menatap jalanan lengang di depannya, ia melirik jam tangannya dan menghembuskan napas keras begitu mendapati ia telah melamun terlalu lama hingga tak menyadari kalau hari sudah hampir malam. Jong In hendak melangkah pergi meninggalkan halte itu ketika ia merasakan tetesan-tetesan air menyentuh kulitnya, gerimis, ia mendengus dan berbalik menuju halte, malas basah-basahan. Lagipula, cepat-cepat pulang ke rumah juga tidak akan membuat perasaannya membaik.

Jong In menyandarkan punggungnya pada salah satu tiang di halte itu, pandangan matanya menerawang. Irama tetes-tetes hujan tak mampu membuat Jong In berpaling dari lamunannya. “Dikhianati oleh yeoja yang paling aku sayangi, lalu sekarang tubuhku juga berniat mengkhianatiku. Kasihan sekali aku.”gumamnya sembari tersenyum miris, mengasihani diri sendiri.

“Berhentilah menari, itulah satu-satunya cara kalau kau tidak ingin kesakitan lagi.”

Namja itu menatap kosong setiap tetes hujan di hadapannya.

Menari, sesuatu yang menjadi hidupnya sejak lima tahun yang lalu. Kebebasan dan kesenangan tak terbatas yang ia rasakan ketika menggerakkan badannya mengikuti irama musik, menghentak bebas kaki dan tangannya kesana kemari, sesuatu yang sanggup membuatnya lupa dunia dan merasakan ketenangan. Haruskah ia melepas itu semua? Haruskah ia melepas satu-satunya kesenangannya hanya karena kendala fisik? Haruskah ia merasa menyesal karena telah menolong seorang yeoja kecil tujuh tahun lalu?

Kenapa aku harus hidup, jika sesuatu yang menjadi alasanku hidup kini direbut dariku. Yeojaku dan tubuhku. Kenapa yeojaku meninggalkanku hanya demi namja lain? Apa dua tahun itu sama sekali tidak berarti untuknya, apa ia tidak merasakan hal yang sama denganku? Lalu, kenapa tubuhku tidak bergerak seperti keinginanku, kenapa tubuhku harus merasakan sakit ketika aku sedang menari, saat di mana aku merasa bahagia? Kenapa aku begini menyedihkan? Kenapa semuanya yang berarti bagiku pergi di saat yang bersamaan?

Jong In menundukkan kepalanya, memeluk tubuhnya sendiri yang menggigil kedinginan. Tidak, ia tidak menyesalinya. Ia tidak menyesali apa yang telah ia lakukan tujuh tahun lalu, sekalipun itu telah merenggut sesuatu yang paling dia sukai, sesuatu yang menjadi hidupnya. Tidak, ia malah merasa bahagia, entah kenapa …

I’m still looking for you though the rain has came

Namja berkulit kecoklatan itu membulatkan matanya ketika telinganya menangkap sesuatu, sesuatu yang terdengar samar-samar dan hampir tertelan suara hujan. Seseorang tengah bersenandung merdu di balik hujan yang deras, senandung yang pilu, yang diiringi petikan gitar yang apik. Jong In kembali mempertajam telinganya.

……

I can only strum my guitar and hide behind the rain

But I hope you hear it

My song, my hum and my beating heart

Because until now, I am still searching for you

….

Jong In terpana, ia beranjak dari tempatnya berdiri dan segera berlari menembus hujan, ia harus mencari, mencari asal suara itu sebelum sebelum suara itu menghilang. Entah kenapa, begitu mendengar senandung itu ia merasa terpanggil, ia merasa seseorang memanggil dan menunggunya di balik hujan. Langkah Jong In terhenti begitu merasakan sakit lagi di pinggangnya, ia meringis. Dan suara itu perlahan menghilang hingga tak berbekas sama sekali, Jong In mendengus, ia terlambat.

Sebenarnya ini sudah kedua kalinya Jong In mendengar senandung itu, senandung di kala hujan. Pertama kalinya adalah saat yang sama, hujan, dingin dan sepi. Ah, dan di tempat yang sama pula, di halte bus itu.

Waktu itu adalah hari di mana ia putus dengan yeojanya, Soo Ra. Ia melangkahkan kakinya lunglai dan tanpa disadari langkahnya terhenti tepat di depan halte. Badannya sudah benar-benar basah kuyub dan akhirnya ia memutuskan untuk berteduh di halte itu. Hatinya sakit, benar-benar sakit karena barusaja melihat yeojanya dipeluk namja lain. Ia melihatnya dengan mata kepala sendiri, di depan sebuah tempat bernama “Baguette Restaurant”, ia melihat yeojanya dipeluk namja lain.   

Jong In memeluk kedua kakinya yang ditekuk, kemudian membenamkan wajahnya agar tidak ada seorangpun yang melihat wajahnya menangis, yah, meskipun di halte bus itu hanya ada dia seorang. Ia tidak tahu, air matanya tiba-tiba mengalir begitu saja, ia tidak tahu kenapa. Padahal selama ini dia selalu berjanji untuk tidak menangis, baginya menangis hanyalah menunjukkan bahwa diri seseorang lemah, seorang namja tidak boleh menangis. Namun kali ini berbeda. Ia merasa tidak peduli dicap ‘cengeng’ oleh seseorang, ia tidak peduli orang akan bilang ia termakan ucapan sendiri, tidak, biar saja, biar saja orang berkata seperti itu. Setiap orang boleh menangis, sekalipun ia seorang namja. Biarlah kala itu saja, ia ingin bersikap egois.

…….

I’m still looking for you though the rain has come

I can only strum my guitar and hide behind the rain

But I hope you hear it

My song, my hum and my beating heart

Because until now, I am still searching for you

……

Jong In masih terisak ketika telinganya menangkap sesuatu, sebuah suara, ah tidak, sebuah senandung. Senandung yang terdengar begitu merdu sekalipun bercampur dengan suara hujan, senandung yang diiringi petikan gitar yang mengalun syahdu, senandung yang anehnya mampu membuat hatinya menghangat dalam sekejab. Jong In terpekur sambil tetap menajamkan pendengarannya.

Saat itu, tidak sedikitpun terpikir untuk mencari asal suara itu, Jong In hanya terdiam dan menikmatinya. Senandung itu bagai pengobat hatinya, sekalipun hanya terdengar samar-samar dan berulang-ulang, sekalipun senandung itu adalah sebuah senandung pilu, bukan senandung penyemangat yang kala itu ia butuhkan.

Siapa? Siapa yang menyanyi dengan begitu merdu?

________

Seoul Hospital                      

Chan Yeol tersenyum begitu mendapati adiknya, Soo Ra melongokkan kepalanya di pintu kamar rawatnya. Yeoja itu ikut tersenyum kemudian pandangannya beralih ke arah dua orang yang duduk di samping tempat tidur kakaknya, Baek Hyun dan Jin Ri.

Soo Ra melangkah masuk dan membungkukkan badannya, “Anyyeong, Chan Yeol oppa, Baek Hyun oppa, Jin Ri eonni, aku datang lagi.”katanya riang dan dibalas anggukan ramah dari ketiga orang di depannya.

“Oppa, bagaimana perasaanmu? Operasi transplantasinya lusa bukan?”

Chan Yeol mengangguk dan menunjukkan senyum lebarnya, “Adikku memang hebat, aku berhutang banyak padamu.”

Soo Ra tersipu, kemudian ia tersenyum kikuk. “Aniyo, sudah seharusnya sebagai seorang adik.”

“Oh iya, kemana Jong In? Bukannya biasanya kau bersama dia? Sudah seminggu terakhir dia tidak kemari? Sibuk?”tanya Chan Yeol yang sukses membuat Soo Ra tertegun. Yeoja itu terdiam agak lama, membuat Baek Hyun dan Jin Ri ikut menatapnya penuh tanya.

“Ah, nee. Dia sedang sibuk, akan ada kompetisi dance satu minggu lagi. Seperti biasa, ia tipe orang yang tidak mau kalah. Ya…ya dia terus berlatih sampai terkadang lupa waktu. Aku tidak ingin mengganggunya, ah, mungkin ia akan datang nanti, atau mungkin besok. Ah, aku tak tahu.”cerocos Soo Ra dengan senyum dipaksakan.

Chan Yeol menatap adiknya, ia menangkap raut kebohongan di wajah Soo Ra. Namun ia tidak ingin terlalu mencurigai adiknya, bagaimanapun yeoja itulah yang paling ia percaya lebih dari siapapun. “Oh, iya. Tentang Do Kyung Soo, namja yang mendonorkan sumsumnya padaku, bagaimana dia? Ada di mana? Aku belum bertemu dengannya, aku ingin berterima kasih padanya.”

Soo Ra menatap nanar ke arah Chan Yeol, “Ah, biar aku saja yang menyampaikannya, Oppa.” Soo Ra lantas beranjak dari tempatnya duduk dan dengan langkah cepat keluar dari kamar rawat Chan Yeol. Baek Hyun dan Jin Ri hanya menatap Soo Ra dengan pandangan aneh. Baru saja masuk, sudah keluar lagi, begitu pikir mereka.

Ada yang ia sembunyikan, batin Chan Yeol.

________

Soo Ra melangkah cepat meninggalkan kamar rawat kakaknya, wajahnya sayu dan terlihat lelah. Ia benar-benar tidak menyangka hatinya akan begini sakit begitu nama Jong In disebut-sebut. Padahal dalam hati ia sudah bertekad untuk melupakan Jong In, ia sadar kalau ia sudah terlanjur menyakiti hati namja itu, ia tidak bisa seenaknya berkata maaf dan meminta namja itu untuk kembali berpacaran dengannya. Untuk menjelaskan yang sebenarnya saja Soo Ra benar-benar tak mampu, atau lebih tepatnya tak mau? Entah apa mungkin karena ia ingin melindungi Kyung Soo? Ia tidak tahu.

“Soo Ra ssi?”

Langkah Soo Ra terhenti, ia membalikkan badannya kemudian mendapati seorang namja tengah tersenyum lebar padanya, namja itu membawa  dua buah kantong plastik di tangannya. “Mau makan bersama? Aku membuat pasta. Ah, iya dan tentu saja tiramisu juga.”

Soo Ra tersenyum samar, dia terlihat berpikir sebentar, namun sedetik kemudian mengangguk pelan. “Nee, gomawo Kyung Soo ssi.”

________

Seoul High School, 1 day later

Jong In membenamkan wajahnya pada buku matematika yang terbuka lebar di atas meja, ia sedang malas berkutat dengan mata pelajaran itu, yah meskipun sebelum-sebelumnya juga begitu, tidak hanya saat ini saja. Jong In menghela napas keras, kemudian pandangan matanya menyapu seisi kelas yang masih tampak serius mengerjakan soal-soal di buku matematika yang tebalnya menyaingi novel harry potter seri kelima itu. Ia heran, apa yang membuat teman-temannya begitu serius, padahal ini waktu istirahat, mungkinkah karena mereka semua sudah kelas dua belas dan akan lulus tahun ini? Ayolah, Jong In bahkan tidak memikirkan itu sama sekali.

“Tetap malas seperti biasa Jong In ah?”

Jong in menolehkan kepalanya pada seorang namja berkulit putih yang duduk di samping kirinya, ia lantas tersenyum kecut. “Yah, seperti biasa Se Hun ah, membuka lembar pertama buku matematika saja sudah membuat napasku seakan berhenti, melihat angka-angka di dalamnya membuatku pusing dan mataku langsung berkunang-kunang, memegang pensil dan mulai mengerjakannya? Itu akan membuatku pingsan.”

Se Hun lantas terkekeh mendengar penuturan konyol Jong In. “Oh iya, kau akan ikut kontes dance di provinsi itu kan? Kalau kau ikut, kita akan berada dalam satu tim.”ujarnya kemudian.

Jong In terpekur mendengar pertanyaan Se Hun, ia lantas terdiam sambil menatap jendela kelasnya yang kini penuh titik-titik air. Oh, ia bahkan tidak menyadari kalau saat ini sedang turun hujan.

Kontes dance ya ..

“Ya! Jong In ah, berhenti melamun!”bentak Sehun, sukses membuat Jong In terperajat.

“Ah, ani. Aku tidak tahu. Aku …”

….

I’m still looking for you though the rain has come

I can only strum my guitar and hide behind the rain

Kata-kata Jong In terhenti seketika. Ia membulatkan matanya, tunggu, senandung itu!

Jong In beranjak cepat dari tempatnya duduk, membuat kursi yang didudukinya terjatuh ke belakang dan menimbulkan bunyi yang mampu membuat seisi kelas mengalihkan pandangan padanya. Lalu tanpa menghiraukan Se Hun yang memanggilnya serta pandangan aneh teman-temannya yang lain, ia berlari keluar kelas.

My song, my hum and my beating heart

Tidak salah lagi. Jong In berlari sekencang-kencangnya menuju ke arah suara yang terdengar sangat lirih itu, kali ini ia tidak ingin terlambat lagi seperti sebelumnya. Dia harus tahu, siapa yang menyenandungkan lagu itu. Jong In terus mempertajam telinganya dan berlari cepat menuruni tangga, melewati koridor sekolah, menghiraukan setiap pandangan aneh dari para siswa di sekitarnya. Jong In yakin, suara itu berasal dari ruang musik yang terletak di lantai satu gedung sekolahnya. Ya, tidak salah lagi.

“Aargghh!” Jong In mengerang kesakitan begitu merasakan pinggangnya tiba-tiba terasa sakit seperti dihantam benda tumpul. Ia lantas menghentikan larinya dan jatuh terduduk, Jong In menyandarkan punggungnya pada dinding koridor sekolah. Napasnya terengah-engah.

Ruang musik terletak tidak jauh dari tempatnya berada sekarang, di ujung koridor ia hanya tinggal berbelok dan sampailah di ruang musik. Jong In menatap tetes-tetes hujan yang membasahi halaman sekolahnya. Senandung itu pun perlahan menghilang, Jong In berupaya berdiri dan kembali melangkah, melawan rasa sakitnya. Ia tidak boleh terlambat lagi.

Jong In membuka pintu ruang musik dan mendapatinya kosong, tidak ada seorang pun di sana. Namja itu menghela napas, “Sudah pergi rupanya, aku terlambat lagi.”runtuk Jong In sambil mengacak kasar rambutnya, ia merasa dirinya benar-benar bodoh hingga dua kali jatuh ke lubang yang sama.

Jong In hendak pergi meninggalkan ruang musik ketika sudut matanya menangkap sesuatu. Namja itu mengernyitkan alisnya dan berjalan mendekati benda yang ternyata adalah sehelai pita berwarna kuning keemasan. Jong In mengambilnya lalu menimang-nimang pita yang panjangnya kurang lebih lima belas senti itu, ia tampak berpikir keras. Pita itu terbuat dari kain satin berkualitas tinggi, Jong In menelisik seluruh permukaan benda itu hingga matanya menangkap sesuatu di sudut pita, sesuatu yang dijahit oleh benang hingga membentuk sebuah kata. Ah tidak, sebuah marga, Cho.

“Hari ini aku dapat dua kesimpulan.”ujarnya kemudian dengan senyum merekah, “Seseorang pemilik suara emas itu adalah murid sekolah ini, dia jelas seseorang bermarga Cho. Dan aku bisa menemukan keberadaannya hanya dengan satu petunjuk, pita ini.”

________

“Ya! Sung Yeon ah, kau menghilangkan pita warna emasku lagi!”

Sung Yeon meraba rambutnya, ia lantas tersenyum kikuk mendapati pita yang tadi menghias rambutnya kini sudah tidak ada. “Ah, mianhae Yu Ji ah. Tampaknya aku meninggalkannya di ruang musik tadi.”

Yeoja yang dipanggil Yu Ji itu pun mengerucutkan bibirnya, “Kau selalu begitu, pinjam pita milikku, tidak pernah memasangnya dengan benar di rambutmu, dan pada akhirnya selalu hilang.”

Sung Yeon terbahak, “Ok, ok. Tenang saja, aku akan mengambilnya, ok, sekarang.” Sung Yeon segera beranjak dari tempatnya duduk begitu melihat tatapan tajam dan menusuk dari Yu Ji.

“Ya, jangan menatapku begitu! Kau tahu? Kau punya wajah bête paling menyebalkan sedunia, Yu Ji ah. Dan ingat, Jong In sunbae mungkin tidak akan menyukaimu kalau kau selalu memasang wajah seperti itu.”

Muka Yu Ji langsung bersemu merah begitu nama Jong In disebut, membuat Sung Yeon tertawa karena merasa sukses menjahili sahabatnya sendiri. Ia lantas segera berlari meninggalkan kelasnya sebelum Yu Ji sempat meneriakinya lagi.

_______

1 day later

“Jadi , kau yang bernama Cho Yu Ji?”

Yu Ji mengangguk, kemudian menundukkan kepalanya agar semburat merah di wajahnya tak terlihat.

“Dan pita ini milikmu?”

Yu Ji memandangi sehelai pita yang dibawa Jong In, matanya membulat seketika. Benar, pita itu miliknya. Yu Ji lantas mengernyitkan alisnya, heran, kenapa pita miliknya bisa berada di tangan sunbaenya Jong In?

“Nee, itu memang pita milik saya, Sunbae.”

Jong In menatap Yu Ji dari ujung kaki hingga ujung kepala, membuat yeoja itu salah tingkah. Jong In tersenyum, “Aku menemukannya di ruang musik. Aku bertanya pada semua teman-temanku, seseorang yang bermarga Cho di sekolah ini hanyalah kamu.”

Pantas Sung Yeon bilang kalau kemarin ia tidak menemukan pitaku, ternyata Jong In sunbae yang menemukannya duluan. Tuhan, apa ini keberuntunganku? Ah, aku harus mentraktir Sung Yeon nanti, berkat dia aku bisa bercakap langsung dengan sunbae, batin Yu Ji.

Yu Ji menerima pita yang diberikan Jong In, ia lantas tersenyum malu. “Gamsahamnida, Jong In sunbae.”

“Apa kau suka menyanyi?”

Yu Ji mengangkat kepalanya, “Ah, nee. Aku lumayan suka menyanyi.”

“Lalu, apa kau suka hujan?”tanya Jong In lagi.

Yu Ji terlihat berpikir agak lama, ia agak sangsi dengan pertanyaan Jong In. “Nee, sunbae. Aku suka hujan.”katanya kemudian.

Mendengar itu, Jong In hanya tersenyum puas.

_______

Jong In mematut dirinya di depan cermin, menatap pantulan dirinya yang kini tampak rapi. Ya, hari ini ia akan pergi keluar, dengan hoobaenya yang bernama Yu Ji. Sedari tadi Jong In tak hentinya tersenyum, ia merasa senang karena telah menemukan orang yang selama ini ia cari. Namun lebih dari itu ia heran karena hatinya tidak merasa lega, ia merasakan suatu keganjilan aneh di sudut hatinya. Entah kenapa ia merasa ada yang kurang, tapi apa?

Jong In menepis semua perasaan aneh itu, ia kembali tersenyum. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan sekarang. Namja itu melangkah keluar rumah, ia memandangi langit yang tampak tak bersahabat. Tidak apa-apa, kalau hujan, kencannya dengan Yu Ji akan semakin menyenangkan karena yeoja itu menyukai hujan, bukankah yeoja itu selalu bernyanyi di kala hujan? Jong In berharap Yu Ji akan membawa gitarnya ketika kencan nanti, kalau iya Jong In akan meminta yeoja itu menyanyi untuknya, nyanyian yang mampu menyejukkan perasaannya. Memikirkannya saja sudah membuat Jong in tersenyum sendiri.

_________

Sung Yeon menatap langit yang kelabu, ia merapatkan jaket yang dikenakannya begitu merasa udara mulai mendingin. Sebentar lagi akan turun hujan, namun Sung Yeon tidak berniat beranjak dari tempatnya berada, sebuah pondok mungil yang cukup jauh dari jalan raya dan pemukiman penduduk, sebuah tempat yang menjadi semacam basecamp baginya.

Selama tiga minggu terakhir Sung Yeon selalu mendatangi pondok itu, ia juga membawa serta gitar kesayangannya dan memainkan lagu ciptaannya sendiri di sana. Lagu yang ia ciptakan saat turun hujan, lagu yang ia dedikasikan untuk orang yang dicarinya selama tujuh tahun terakhir. Ia berharap orang yang ia cari akan mendengar lagunya, lagu yang hanya ia nyanyikan di kala hujan.

Sung Yeon sangat menyukai hujan. Hujan adalah sumber inspirasi baginya, dentingan halus tiap tetes-tetes air hujan dapat membantunya dalam menyusun nada, mencium bau hujan seakan membuatnya melayang ke dunia mimpi dan membuatnya berani berangan-angan, merasakan tiap tetes hujan yang menyentuh kulitnya mampu membuatnya merasa hidup, damai dan begitu menenangkan.

Entah kenapa Sung Yeon begitu yakin, bahwa jika menyanyikan lagu itu di kala hujan maka seseorang yang dicarinya akan segera menemuinya. Ia yakin hujan adalah sahabatnya, yang akan membantunya menyampaikan lagunya pada namja yang dulu menolongnya itu. Meskipun jika sudah bertemu, mungkin Sung Yeon tidak tahu apa yang harus ia lakukan, apa yang harus ia katakan. Namun ia sudah bertekad, akan melakukan apa saja demi membalas budinya pada namja itu.

Sung Yeon memejamkan matanya dan mulai memetik pelan senar gitarnya. Tetes-tetes hujan mulai jatuh ke bumi, perlahan-lahan. Sung Yeon membuka mulutnya dan mulai bernyanyi,

I’m still looking for you though the rain has came

I can only strum my guitar and hide behind the rain

But I hope you hear it

My song, my hum and my beating heart

Because until now, I am still searching for you

Where are you know, I hope you’re always be okay

Please, find me, I am still waiting for you here

I always…

Sung Yeon menghentikan lagunya dan membuka mata begitu mendengar langkah-langkah kaki yang menimbulkan suara riak-riak air, seseorang berlari menuju ke arahnya. Yeoja itu terhenyak begitu mendapati seorang namja kini berdiri di hadapannya, namja itu menatapnya penuh tanya, tubuh namja itu basah kuyub dan napasnya terengah-engah karena habis berlari.

“Jong In sunbae?”

________

Jong In masih tidak sanggup mempercayai matanya begitu melihat siapa sesungguhnya pemilik suara emas itu, suara yang mampu membuatnya tenang dan nyaman, suara yang telah lama ia cari, dan itu bukanlah suara milik Cho Yu Ji seperti yang ia perkirakan sebelumnya. Suara itu adalah milik seorang gadis manis, yang duduk sendirian di pondok dengan gitar di pangkuannya. Pantas saja hatinya tidak merasa lega sebelum ini. Tapi, bukankah pita itu milik Cho Yu Ji? Apa dia salah? Ah, Jong In sungguh tak mengerti.

Jong In melirik sekilas ke arah yeoja yang kini duduk di sampingnya, yeoja itu masih memeluk gitarnya, ia tampak kedinginan. Jong In menelan ludah, “Aku .. merasa terpanggil. Lewat lagu yang kau nyanyikan itu aku merasa…”Jong In menghentikan ucapannya ketika yeoja yang duduk di sampingnya tiba-tiba memelototkan mata ke arahnya. “A..ada apa?”

“Ti.. tidak apa-apa.”ucap yeoja itu cepat.

Keduanya lantas terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Jong In tiba-tiba tidak berniat melanjutkan ucapannya, hingga yang terdengar hanyalah suara tetes-tetes hujan.

“Siapa namamu?”kata Jong In tiba-tiba.

“Eh? Ah, uhm, aku Lee Sung Yeon. Aku… aku hoobaemu.”

Jong In tersenyum, “Nee, aku tahu. Aku pernah melihatmu di sekolah. Tapi aku tidak pernah melihatmu bernyanyi.”

Melihat namja di sampingnya tersenyum, muka Sung Yeon sontak bersemu merah, ia langsung memalingkan wajahnya, takut Jong In menyadarinya. “Ah, uhm. Aku hanya bernyanyi saat hujan.”

“Kenapa?”

“Aku menyukai hujan, itu saja.”

Jong In terpana melihat yeoja yang duduk di sampingnya, ia lantas menatap lekat-lekat yeoja itu. Sesaat ia merasa pernah bertemu dengan Sung Yeon, lekuk wajah itu, bentuk matanya, bibir tipisnya, tapi entah kapan dan di mana, ia sama sekali tidak ingat.

“Bagaimana dengan lagu itu?”

“Eh? Lagu yang aku nyanyikan tadi? Sunbae belum pernah mendengarnya, kan?” Sung Yeon tersenyum, “Itu lagu buatanku sendiri, makanya aneh, hehe. Dan aku membuatnya ditemani hujan.”

“Tidak aneh, itu indah sekali.”

Sung Yeon terpekur sesaat, mukanya kembali bersemu merah. “Senandung di hari hujan.”gumamnya kemudian.

“Eh?”

“Senandung di hari hujan, itulah judul lagu itu.”

________

“Pertama kali aku mendengar senandungmu adalah saat di mana hatiku sedang rapuh-rapuhnya, dalam sekejab senandung itu bagai pengobat, membuat hatiku menenang perlahan-lahan. Seusai itu aku selalu menunggu, di tempat yang sama, dan di hari mendung, aku selalu berharap akan kembali mendengar suaramu. Perlahan-lahan aku merasa terpanggil, senandung itu seolah-olah dinyanyikan untuk memanggilku, seseorang menungguku untuk menemukannya, seseorang yang menunggu dan bersembunyi di balik hujan.”

Ucapan Jong In terhenti begitu melihat yeoja di sampingnya hanya terdiam membisu dan tidak menanggapi ceritanya, namun ia kembali melanjutkan, “Apa kau bisa menjelaskan padaku? Kenapa aku bisa merasa terpanggil?”

Sung Yeon menunduk, “Aku membuat lagu itu dengan sebuah tujuan, mencari seseorang.”

“Mencari seseorang?”

“Nee, seseorang yang menyelamatkanku dari kecelakaan maut tujuh tahun lalu.”

Jantung Jong In seakan terhenti saat itu juga, tunggu dulu, tujuh tahun lalu?

“Ia menyelamatkanku yang hampir tertabrak mobil, ia mendorong tubuhku yang saat terpaku di tengah jalan, namun akibatnya fatal, ia yang tertabrak. Saat itu aku hanya bisa menangis, aku tidak dapat mengenali wajahnya yang berlumuran darah, aku terlalu takut.”

Sung Yeon menghela napas keras, entah kenapa cerita masa lalunya meluncur begitu saja dari mulutnya. “Aku yakin ia masih hidup, belakangan ini ia selalu muncul dalam mimpiku, menungguku mencarinya. Oleh karena itu aku membuat lagu itu, hanya itu yang bisa aku lakukan. Aku tidak menyelipkan sihir ataupun mantra dalam lagu itu, aku hanya membubuhinya dengan sebuah keyakinan. Dan entah kenapa aku percaya, ia akan mendengar laguku, lalu berlari menemuiku, sekalipun di hari hujan.”

Sung Yeon melirik ke arah Jong In dan mendapati namja itu tengah menatapnya tajam, yeoja itu terhenyak. “Ah, mianhamnida Jong In sunbae, aku cerita terlalu banyak, aku terlalu terbawa suasa..”

“Jadi… kau yeoja itu?”

“Eh?”

Jong In menatap nanar ke arah Sung Yeon, “Jadi… kau yeoja yang aku tolong tujuh tahun lalu?”

Kedua alis Sung Yeon terangkat, matanya membulat lebar. Tanpa disadari ia menggenggam lengan gitarnya keras. Ia tidak percaya dengan apa yang barusaja sunbaenya katakan.

 Namja yang menolongku tujuh tahun lalu itu… Jong In sunbae?

_______

Aku tidak pernah sekalipun memikirkan apa yang akan aku lakukan bila aku bertemu yeoja itu, yeoja yang telah membuat jantungku berdetak cepat ketika memandangnya pertama kali, sampai kini pun aku masih mengingat debaran itu sekalipun tujuh tahun telah berlalu. Aku tidak tahu apa yang akan aku katakan bila bertemu yeoja itu, yang ternyata adalah seseorang yang mampu membuat hatiku tenang dengan senandung hujannya. Apa aku harus marah, atau bahagia? Marah? Karena dia telah membuatku cacat? Senang? Karena dengan setiap senandungnya mampu membuatku hidup? Aku tidak tahu.

Yang jelas aku hanya ingin dia tahu, bahwa aku tidak menyesal pernah menolongnya.

__TBC__

Finally, readerdeul. Ff ini selesai setelah melalui proses yang benar-benar panjang. Jujur deh, ide ff ini udah ada dari lama banget, tapi author lagi gapunya moodbooster, jadinya gak selesai-selesai #ditabokreaders. Oh, iya gimana ceritanya? Tambah geje yah karena castnya semakin banyak dan ceritanya errr, moga” reader gabosen bacanya, yah anggap aja hiburan #plak.

As usual, RCL tetap dibutuhkan yah, tahu sendiri kalao satu komentar kalian itu mampu membangkitkan semangat author buat kembali nulis, wikikiki, bahasa lu thor. Dan jangan pelit” bagi jempol yah ^^v Ok dah, annyeong readerdeul *hug. Gamsha!

177 responses to “[Kai’s] Hum on Rainy Day

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s