A Back To Sleep Tight [Chapter 4]

Title : A Back To Sleep Tight

Nama Author : Kinta-chan (@Sheeranoed)

Main Cast : Lee Jinki (25 yo), Jung Re Na (22 yo), Lee Taemin (23 yo)

Other Cast : Lee Hyuk Jae (27 yo), Han Chae Rim (22 yo),  Jung Yonghwa(25 yo)

Length : Chapter

Genre : Romance, Marriage Life, Angst

Rating : PG +16

Disclaimer : WARNING! Please dibaca kalau habis buka puasa aja yah~ Aku takut kalau FF ini bakal merusak niat suci ibadah puasa kalian. J Your comment is my oxygen. Without your comment I’m still alive but I’m barely breathing. Haha #LOL. Okay, just read it and give your responses. –KintaChan- (`95 liner).

Sebelumnya aku say thanks banget kepada temanku tercinta @rahmassaseol yang udah buatin poster sama nebengin akunnya di FFIndo,  Luv ya full deh #cium pipi kiri kanan. Jasamu tidak akan terlupakan

[Chapter 1] [Chapter 2] [Chapter 3]

 

~A Back To Sleep Tight [Chapter 4]~

Please, Don’t Break The Promise!

 

Taemin menatap nanar ke luar jendela. Pandangannya kosong seakan ruhnya telah pergi meninggalkan raganya sendiri. Rasa itu muncul kembali. Perasaan merasa bersalah, perasaan rindu, dan juga perasaan ingin memiliki. Orang yang paling dihindari untuk ditemuinya hari ini unjuk diri, membuat Taemin harus memutar otak untuk mencari cara agar ia dapat melawan egonya. Bukan kehendaknya menjadi seperti ini. Niat tulus untuk menjadi seorang yang bertanggung jawab dengan alih-alih membuat kejutan untuk seorang yang dicintainya kini berujung pahit yang harus ditelannya sendiri.

Dengan lemas ia mengeluarkan dua buah benda dari kantong celana jeansnya. Sebungkus rokok dan juga sebuah pemantik api. Sudah beberapa bulan ini ia mencandu rokok untuk meringankan pikirannya. Ia tidak punya teman yang ia percayai untuk menumpahkan segala masalahnya. Ia menyimpan semuanya rapat hingga terkadang ia membutuhkan rangsangan dari luar untuk mengurangi sedikit beban pikirannya. Obat tidur dan rokok sudah menjadi temannya sejak ia pulang ke Seoul dan mendengar bahwa Re Na akan menikah dengan Jinki, sahabat yang selalu ada utuk Re Na.

Taemin mulai menyesap rokoknya dalam-dalam kemudian dihembuskan kepulan asap putih kental dari mulutnya. Matanya berkedip pelan menatap rintik-rintik gerimis yang mulai membasahi jalanan serta pepohonan di kota Seoul. Pikiran Taemin mulai menerawang kejadian dua tahun lalu. Andai saja ia tak melakukan hal itu. Andai saja ia dapat berkata jujur kepada Re Na tanpa memberi embel-embel kejutan untuknya.

FLASHBACK

Taemin menatap selembar kertas yang ada di genggaman tangannya. Hatinya membuncah bahagia, ingin rasanya ia memeluk Re Na karena ia berhasil mendapatkan beasiswa di universitas yang sejak dulu didambakannya. Tetapi ada dorongan kecil di hatinya untuk menahan semua keinginan itu, ia tidak boleh cepat-cepat memberitahu Re Na. Ia ingin memberi kejutan yang lebih besar untuk Re Na. Ia tak mampu menahan senyumnya saat membayangkan suatu hari nanti ia kembali ke Seoul dengan gelar designer animasi ternama dan melamar Re Na untuk menjadi pendamping seumur hidupnya. Ia ingin segera mewujudkan hal yang telah lama terparkir di pikirannya.

Sehari sebelum keberangkatannya ke Jepang, Taemin mengajak Re Na bertemu di sebuah café tempat mereka biasanya bertemu untuk mengobrol hal-hal ringan yang telah mereka alami. Kali ini suasananya berbeda, tidak ada lagi tawa ringan yang menghiasi percakapan mereka. Taemin terlalu takut untuk meninggalkan Re Na dengan ketidakjelasan keberadaannya nanti. Tetapi Taemin juga ingin Re Na bahagia karena suatu saat ia akan muncul dengan profesi yang layak dan siap untuk menikahi Re Na. Ini memang telah ditakdirkan, Taemin telah mengambil keputusan.

“Kau jangan terlalu ceroboh dalam menghadapi dunia ini, chagi. Jagalah dirimu baik-baik,” rajuk Taemin. Ia memandang Re Na dengan tatapan memohon tetapi Re Na tertawa melihat ekspresi itu di wajah Taemin.

“Wae? Kan sudah ada dirimu yang menjagaku. Itu sudah cukup,” jawab Re Na enteng.

“Aku kan tidak selalu ada disisimu.”

“Masih ada Chae Rim, Jinki dan Yonghwa Oppa. Tidak biasanya, kau jarang sekali mengkhawatirkanku seperti ini.”

“Aku selalu mengkhawatirkanmu tetapi tentu saja aku tidak akan mengungkapkannya terang-terangan di depanmu.” Pipi Re Na merona dengan segera setelah mendengar ucapan Taemin. Dengan malu-malu ia menundukkan wajahnya seraya mengaduk-aduk latte yang berada di hadapannya. Ia malu sekali jika kepergok Taemin dengan wajah seperti itu.

“Taemin~ah, kau sudah lulus universitas dengan nilai memuaskan. Sekarang kau akan kerja dimana?” Re Na mencoba mengalihkan pembicaraan mereka. Ia terlihat tak nyaman jika Taemin mulai membicarakan sesuatu tentang dirinya.

“Eh? Mmm…masalah itu kau tidak perlu khawatir chagiya. Aku akan melakukan yang terbaik untuk masa depan kita.” Taemin tersenyum mantap. Matanya bersinar, tetapi dibalik sinar indah mata Taemin terdapat sinar kesedihan jauh didalamnya.

“Ya! Kau aneh hari ini. Bicaramu terlalu formal. Bukan…bukan… bicaramu seakan-akan kau sedang memikirkan suatu hal yang berat. Apa ada masalah denganmu?” Taemin mendongak mendengar pernyataan Re Na. Gadis ini selalu saja mampu melihat apa yang sedang ditutup-tutupinya. Bola mata Taemin melirik ke kanan-kiri tanda resah. Akhirnya pandangannya tertumpu pada secangkir latte yang ada di hadapan Re Na.

“Ani. Sudah minumlah latte mu itu, jangan dianduk terus sampai berbusa!”

@ Bandara Internasional Incheon

Taemin melambaikan tangan kepada keluarganya, sedangkan tangannya yang lain menenteng sebuah koper hitam besar. Tak lupa juga tas ransel hitam di puggungnya juga ikut menemaninya pergi. Matanya berkeliling mencari sosok yang mustahil untuk mengantar kepergiannya. Tetapi di dalam lubuk hatinya ia percaya bahwa Re Na akan setia menunggunya. Taemin ingin berkosentrasi kepada studinya selama dua tahun di Jepang. Dengan langkah terseret namun pasti Taemin menuju terminal B, tempat dimana pesawat yang membawanya ke Jepang terparkir.

Dua tahun kemudian ia berhasil lulus menjadi seorang animator di bawah label universitas ternama di Jepang. Beberapa perusahaan animasi telah menawari kontrak kerja kepadanya tetapi Taemin masih belum menentukan pilihannya. Sekarang waktunya ia kembali ke Seoul, menemui pujaan hatinya dan menyelesaikan urusan cintanya untuk dibawa ke jenjang pernikahan. Setelah graduasi wisuda kelulusannya ia langsung mengemasi barangnya untuk pulang kampung ke Seoul.

Dua jam perjalanan udara telah membawanya ke bandara Incheon. Dua tahun lalu ia menapakkan kakinya dengan lesu, berbeda dengan hari ini. Dengan tergesa-gesa Taemin segera meninggalkan bandara Incheon dengan senyum yang setia tarpasang di wajah tampannya. Ia langsung menumpang taksi untuk membawanya ke apartemen Re Na. Keningnya berkerut sesaat setelah ia menekan tombol pintu apartemen Re Na. Seorang gadis keluar dari apartemen itu, tetapi bukan sosok yang ia rindukan selama dua tahun terakhir ini.

“Mianhae Agashi. Bukankah ini apartemen Jung Re Na dan juga Han Chae Rim?” Taemin bertanya dengan muka yang masih terkejut. Ada guratan kecewa yang tergambar di air mukanya.

“Bukan, saya telah menempati apartemen ini sejak enam bulan lalu. Saya juga tidak mengenal dengan orang yang anda sebut tadi.”

“Oh, mungkin mereka sudah pindah. Maaf menggangu.”

Taemin meninggalkan bekas kediaman Re Na dengan hati yang berkecamuk. Ia menggeleng lemah mendegar ungkapan-ungkapan batinnya yang mengungkit kembali keresahan hatinya selama ini. Segera ia mengeluarkan ponselnya dan menekan nomor yang ia hafal di luar kepala. Tetapi malangnya nomor tersebut sudah tidak digunakan lagi. Segera Taemin membuka kontak teleponnya dan menekan tombol hijau pada kontak Han Chae Rim. Ia menghela nafas lega ketika telepon tersebut tersambung dan terdapat suara yang muncul di seberang sana.

“Yoeboseo…halo…yoeboseo!” Taemin masih tertegun ketika seseorang telah menjawab teleponnya. Pikirannya masih menerawang jauh, memikirkan antara semua kemungkinan yang terjadi. “Ne…yoeboseo, Chae Rim~ah,” jawabnya kemudian.

“Mian, nuguseyo?”

“Ini Taemin. Aku mau bertanya tentang keberadaan Re Na. Baru saja aku mengunjungi apartemen lama kalian, tetapi ternyata kalian sudah pindah.” Taemin menggigit bibir bawahnya. Ia takut jika tiba-tiba Chae Rim memutuskan teleponnya karena tahu bahwa yang menelponnya adalah orang yang membuat sahabatnya menunggu hingga terluka.

“Ne, kami sudah pindah. Aku telah menikah Taemin~ssi.” Chae Rim memberikan jeda diantara kalimatnya yang menggantung. Chae Rim masih butuh mengambil nafas untuk menyadarkannya bahwa seseorang yang ada di telepon adalah orang yang dua tahun ini dicari oleh sahabat karibnya. “Dan Re Na juga akan menikah dengan Jinki minggu depan. Kau sudah membuatnya menunggu terlalu lama. Apakah kau masih mau menemuinya?”

Tenggorokan Taemin tercekat ketika mendengar bahwa Re Na segera menikah dengan Jinki. Ia bisa saja merosot karena tiba-tiba kehilangan keseimbangan tubuhnya tetapi tangannya itu segera berpegangan pada pagar disebelah trotoar yang dilaluinya. Ia bingung akan berkata apa. Semua yang ditakutkannya menjadi kenyataan sekaligus musibah besar untuknya.

“Mmmm…aku tidak tahu jika seperti itu kondisinya Chae Rim~ah. Mungkin lebih baik jika aku tidak menemuinya,” putus Taemin kemudian. Mungkin Re Na telah lelah menunggunya. Mungkin Re Na telah mencintai orang lain. Atau mungkin Re Na hanya mempercayai Jinki sebagai pendamping hidupnya. Berbagai asumsi tiba-tiba berkelebat di otak Taemin.

“Yaaah… memang itu lebih baik. Tetapi setidaknya kau punya waktu satu minggu untuk merebutnya kembali, jika ia telah berstatus istri orang aku sangat menghimbau dirimu untuk tidak mengganggunya lagi.”

“Apakah dia masih mencintaiku?” tanya Taemin ragu. Inilah yang pertanyaan paling besar yang ada di pikirannya.

“Dia lelah menghamburkan air matanya untukmu, Taemin~ssi. Hubungi aku jika kau berubah pikiran dalam waktu seminggu ini. Aku akan memberikan alamatnya.”

“Ne, gomawo Chae Rim~ah.” Ia memutuskan sambungan teleponnya. Kopernya terjatuh begitu saja ketika telapak tangannya terurai. Taemin mati rasa, seakan sendinya sudah tidak berfungsi kembali. Ia memejamkan matanya berharap ini hanya mimpi. Perlahan ia mengurut pelipisnya yang tiba-tiba terasa sakit. Jika kini ada pertanyaan apa yang akan dilakukannya. Dengan mantap Taemin akan berkata jika ia ingin menemukan mesin waktu dan mengulangi semuanya dari awal. Tetapi sayangnya mesin itu belum pernah ia temukan. Kini Taemin hanya ingin pergi meninggalkan masalah yang sudah membuat hatinya cacat. Cacat seumur hidup.

FLASHBAK END

Taemin menenggelamkan kepalanya ke dalam lipatan lengannya. Ia hanya bisa menyesal sekarang. Ia harus dapat keluar dari dilema ini. Ia harus mengambil keputusan. Entah keputusannya itu akan membuat orang lain terluka atau bahkan dirinya sendiri yang terluka. Ia tak bisa terus-menerus begini. Ia harus tegas menghadapi hatinya sendiri. Dihisapnya kembali rokok tersebut kemudian dengan segera ia tekan ujung rokok yang terbakar ke asbak batu. Dilemparnya rokok yang masih tinggal tiga perempat bagian itu ke dalam tempat sampah di ujung ruangannya.

(‾ʃƪ‾) (‾ʃƪ‾) (‾ʃƪ‾)

Tidak sulit untuk menemukan tempat kerja Re Na. Taemin hanya butuh koneksi internet dan juga computer ataupun laptop saat ini. Sore ini Taemin pergi ke perpustakaan kota, disana ia dapat mencari data-data tentang Jung Re Na. Ia mulai membuka search engine yang biasa digunakannya kemudian dengan cepatnya jemari itu menekan tombol keyboard sehingga mengetikkan huruf-huruf yang ia kehendaki. Ia membuka website resmi Universitas Parang, universitas tempat Re Na melanjutkan studinya setelah SMA.

Taemin membuka data siswa yang telah lulus satu tahun lalu. Dengan teliti matanya mencari nama Jung Re Na dan akhirnya berhasil ia dapatkan. Setelah ia buka profilnya terdapat tempat penempatan kerja Re Na, target utamanya telah ditemukan. Ia catat alamatnya ke dalam ponsel kemudian segera ia tinggalkan perpustakaan dengan nafas lega. Ia harus mendapatkan Re Na kembali.

(‾ʃƪ‾) (‾ʃƪ‾) (‾ʃƪ‾)

Awan hitam mulai menutupi sinar matahari. Hujan akan turun sore ini. Re Na mulai mengemasi barang-barangnya dan bergegas pulang. Ia tekan tombol speed dial yang segera menghubungkannya dengan orang yang telah tiga bulan lalu telah menikahinya.

Oppa, bisakah kau menjemputku?”

Ne, aku akan segera berangkat.” Jinki terdengar tergesa saat Re Na memintanya untuk menjemput dirinya di kantor. Dengan cepat ia menyela tangan Jinki untuk menekan tombol merah di ponselnya. “Chamkaman…

Wae?

“Hari ini kelihatannya akan turun hujan, jika Oppa keberatan menjemputku aku bisa naik taksi untuk pulang ke apartemen.”

“Aku akan menambah kecepatanku. Jadi hujan tidak akan mendahuluiku untuk bertemu denganmu, Re Na~ya.” Re Na tersenyum samar mendengar kata-kata Jinki. Jinki memang seorang yang humoris tapi ia sangat jarang mengeluarkan kata-kata romantis. Jinki jauh dari kata romantis tetapi sekali saja ia berbuat romantis hal itu akan diingat oleh Re Na dalam jangka waktu yang lama.

Ne, hati-hati Oppa, jangan lupa bawa jas hujan.” Re Na mengakhiri pembicaraannya dan segera meninggalkan ruang kerjanya. Ia mengalungkan tas kerjanya ke pundak. Benar saja, ketika ia sampai lobby depan hujan turun menumpahkan air yang telah ditampung oleh awan hitam. Jinki Oppa pasti akan kehujanan, batinnya.

Sesosok lelaki jakung, tampan dengan sedikit warna hitam yang samar melingkari kedua kantung matanya menghampiri Re Na. Lelaki itu telah banyak berubah, kini ia lebih berantakan daripada dua tahun lalu meskipun pesona tampannya tetap saja terpancar dari wajahnya. Lelaki itu membuat tubuh Re Na yang kala itu tak sengaja menoleh ke arahnya menegang. Ia tak menyangka akan menemui lelaki itu secepat ini sejak kejadian dua hari lalu.

“Re Na~ya…” ucap lelaki itu lemah ketika berada di hadapan Re Na.

“Apakah kau mencariku Taemin~ssi?” tanya Re Na sopan. Ia masih canggung bertemu dengan sosok laki-laki ini. Ia takut ia akan merubah hatinya yang telah ia mantapkan hanya untuk Jinki. Ia takut hatinya goyah lagi dan menghancurkan janji yang telah dibuat Re Na di depan Jinki kala ia mengajak Jinki untuk menikah.

Jeongmal minahae untuk dua tahun terakhir ini. Aku tidak bermaksud untuk mencampakkanmu begitu saja Re Na~ya. Aku…aku masih mencintaimu Re Na. Sama seperti dua tahun lalu. Tidak berubah sedikitpun,” ungkap Taemin dengan wajah sendu. Ia mencoba meraih tangan Re Na tetapi Re Na menolaknya halus.

“Apapun alasanmu tetapi kau telah terlambat Taemin~ssi. Aku telah menjadi milik orang lain, bahkan aku sendiri yang mengajak Jinki Oppa menikah. Aku sudah tidak bisa lagi mencintaimu.”

“Tetapi kau masih mencintaiku,” elak Taemin. Tetapi itulah kenyataannya. Re Na masih mencintai Taemin meskipun rasa itu telah ditimbun sampai berada jauh di dasar hatinya.

“Tidak, itu hanya masa lalu.”

“Mata cerahmu itu tidak pernah berbohong, Re Na~ya. Kau masih mencintaiku dan kau tidak pernah bisa melupakanku.”

Re Na menggelengkan kepalanya lemah, ia tak sanggup mendustai dirinya terlalu jauh. “Itu hanya asumsi sepihakmu.”

“Buktikan kepadaku!” Taemin mengucapkannya dengan penuh penekanan tetapi masih tetap menjaga kemencolokan mereka diantara orang-orang sekitar.

“Apa yang perlu dibuktikan?”

“Keberadaan cintamu. Cintamu masihkah milikku atau telah berganti menjadi milik Jinki.” Re Na tidak menjawab dan memang tidak ada yang harus ia jawab. Ia sendiri bahkan tidak tahu perasaannya. Ia hanya perputar-putar dengan kemalut batinnya sendiri tanpa menemukan jawaban yang ia telah lama cari. “Ciumlah aku kemudian kau cium Jinki. Hatimu akan berkata jujur,” lanjut Taemin.

“Apa kau sudah gila?!” jawab Re Na nyaris menjerit dan membuat orang-orang disekitarnya memperhatikan mereka. Kemudian ia mengambil nafas yang dalam sembari memejamkan mata. “Hhhh…tentu aku tidak akan melakukannya Taemin~ssi. Kau bukan siapa-siapaku lagi sekarang. Lupakanlah kejadian yang pernah kita alami. Kau lebih baik pergi dan mencari gadis baru yang akan kau cintai sama seperti kau mencintaiku. Aku sudah…..”

Tidak butuh waktu lama untuk Taemin menunggu Re Na untuk menciumnya. Ketika tidak ada orang yang melewati mereka ia langsung mencium Re Na paksa. Ia menekan tengkuk Re Na agara dia tak melepaskan ciumannya. Kedua telapak tangan Re Na mengepal memukul-pukul dada bidang Taemin. Pukulan Re Na tidak berarti apa-apa untuk Taemin. Taemin sibuk mencari kejujuran dibalik pendaratan bibirnya ke bibir Re Na.

Perlahan-lahan Taemin mulai memeperlembut tempo ciumannya, ia menekan segala emosinya. Yang ada hanya kerinduan dibalik ciuman mereka. Mereka? Tentu saja. Re Na perlahan-lahan juga ikut terbuai atas perlakuan Taemin. Ia yang semula enggan untuk menikmati bahkan untuk menutup matanya kini berbanding terbalik. Re Na kini menutup matanya dan menikmati ciuman mereka. Ia akhirnya menemukan kembali sensasi itu, sensasi kerinduan serta cinta yang telah lama dicarinya selama dua tahun terakhir.

Plak!             

Re Na segera sadar dengan apa yang dilakukannya dengan gerakan cepat ia mendaratkan telapak tangannya ke pipi Taemin refleks. Tetapi Taemin hanya tersenyum melihat perlakuan Re Na. Ia telah menemukan jawabannya.

“Apakah kau tidak tahu tempat?! Haruskah kau melampiaskan emosimu disini?!” Kini Re Na tidak sanggup menekan nada bicaranya. Ia tak peduli dengan keberadaan orang sekitar meskipun memang lobby kantor Re Na sudah sepi hanya ada ia dan Taemin.

“Itu akan membantu hatimu untu menentukan pilihan. Ayo kuantar pulang!” ajak Taemin semangat. Wajah yang tadinya keruh kini berubah menjadi cerah. Bibirnya yang semula dibiarkan menjuntai ke bawah kini ia tarik membentuk sebuah senyuman.

“Tidak! Jinki Oppa telah berangkat menjemputku,” tolak Re Na kasar.

“Jinki baru saja datang dan melihat kita berciuman kemudian ia langsung pergi meninggalkan kita,” ucap Taemin tanpa merasa berdosa. Sedangakn Re Na malah sebaliknya ia membelalakkan matanya kepada Taemin sedangkan satu tangannya menutup mulutnya untuk menyembunyikan keterkejutannya yang jelas sudah tampak.

“Kau…” Re Na memutar bola matanya. Ia sudah tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Apa yang harus ia lakukan ketika sampai rumah? Minta maaf atau pura-pura tidak tahu? Ia mengacak-acak poninya frustasi. Sedangkan pergelangan tangan kanannya telah ditarik Taemin menuju tempat ia memarkirkan mobil kesayangannya.

(‾ʃƪ‾) (‾ʃƪ‾) (‾ʃƪ‾)

Re Na melangkahkan kakinya menuju pintu apartemen yang ia tinggali bersama Jinki. Ia masih menimbang-nimbang kata yang akan diucapkannya kepada Jinki. Ia tahu Jinki terluka tetapi memang semua hal itu diluar kuasanya. Ia sendiri tidak dapat pula menyalahkan Taemin. Memang mereka bertiga salah. Mereka ada di waktu yang salah dan mereka memang dipertemukan untuk itu.

Dengan lemas ia menekan tombol sekuriti yang ada di pintu apartemennya. Ketika pintu tersebut terbuka jantungnya berdegup kencang. Bahkan ketika ia tekan telapak tangannya di dada, tangan tersebut juga ikut bergetar mengikuti tempo jantung yang memopa darah.

“Aku pulang Oppa…” sapa Re Na pelan. Ia menoleh ke sekitar sampai kedua bola matanya tertumpu pada satu objek. Sofa. Diatas sofa tersebut terdapat Jinki yang meringkuk dengan bibir membiru bergemelatuk. Dilihatnya di atas meja terdapat dua botol soju yang tak bersisa. Seketika Re Na meneguk ludahnya, separah inikah? Selama ia mengenal Jinki yang ia tahu Jinki bukanlah seorang pemabuk. Bahkan ia cenderung menghindari minum-minuman seperti itu ketika berkumpul bersama teman-temannya.

Re Na meletakkan punggung tangannya ke kening Jinki. Jinki demam, pakaiannya pun basah. “Oppa… gwenchana?” Re Na segera pergi mengambilkan selimut dan pakaian hangat untuk Jinki. Kemudian ia mulai melepaskan satu per satu kancing kemeja basah Jinki. Jinki masih belum sadar, entah karena ia mabuk, tertidur atau pingsan.

Dengan hati-hati Re Na mulai merebahkan tubuh Jinki. Saat Re Na akan menyelimutinya, Jinki menahan tangan Re Na. Mata sipitnya mulai terbuka perlahan.

“Apakah janjimu masih berlaku?” tercium aroma soju yang kuat saat Jinki mengucapkan kata-kata tersebut.

Re Na menggenggam tangan Jinki dengan kedua telapak tangannya. Dengan lembut ia mengelus-elus punggung tangan Jinki. “Ne, Oppa. Janji itu akan berlaku seumur hidup. Tergantung kemampuan kita berdua untuk mempertahankannya.”

“Aku merasa bodoh.” Jinki melepaskan tangannya dari genggaman Re Na. Matanya kembali terkatup, menyaratkan perasaan sedih yang dialaminya.

“Kau mabuk, Oppa. Aku akan mengambilkan air es untukmu, kau juga sedang demam.”

Re Na kembali dengan membawa satu baskom air es dan juga handuk kecil yang telah ia lipat menjadi dua bagian. Setelah memeras handuk yang penuh dengan air es, lalu ia letakkan ke kening Jinki.

Oppa, tidurlah di kamar bersamaku,” ucap Re Na ketika Jinki membuka kedua matanya.

“Tidak, aku ingin sendiri.”

“Baiklah, kau tidur di kamar saja. Biar aku yang tidur di sofa.” Re Na menarik tangan Jinki menyaratkan untuk bangun.

“Apakah kau mau mempermainkanku?” Mata Jinki yang semula terpejam kini memandang Re Na tajam. Baru kali ini Jinki menatapnya setajam itu. “Lantas apa yang kau mau?” Re Na mengumpan balikkan pertanyaan Jinki.

“Memilikimu seutuhnya.” Re Na terhenyak seketika, bibirnya terkatup rapat.

Jinki menegakkan tubuhnya di sofa menyejajari Re Na yang semula duduk di bagian kaki Jinki. Entah karena mabuk, cemburu atau memang dorongan dari hatinya. Jinki mulai mengelus pipi Re Na dengan tatapan seduktif. Re Na tahu ini salahnya karena mengkhianati cinta suaminya. Sekarang dirinya memang patut untuk diperlakukan seperti ini. Suaminya ingin menuntut hak yang memang diperuntukkan untuk dirinya dan Re Na tak berani menghentikannya saat ini.

Setelah puas memandangi wajah cantik Re Na, Jinki mulai mengecup bibir Re Na dalam. Ia tarik kembali bibirnya untuk melihat wajah Re Na yang terlanjur telah menutup matanya. Sadar Jinki tak menciumnya kembali Re Na membuka matanya kembali, memandang balik wajah rupawan yang setia mendampinginya.

Wae?”

Jinki hanya tersenyum samar dan kembali mencium bibir Re Na, membasahi permukaan bibirnya. Sesaat kemudian Jinki menggigit bibir bagian bawah Re Na pelan, hanya sebagai isyarat untuk Re Na untuk membuka mulutnya. Meskipun ia sedang marah dan cemburu tetapi Jinki tetap memperlakukan Re Na lembut. Dan Re Na sangat menghargai itu.

Re Na mengalungkan kedua tangannya ke leher Jinki untuk memperdalam ciuman mereka. Sedangkan tangan Jinki sejak awal telah berlabuh di pinggang Re Na. Mereka saling bermain lidah, Jinki telah membuat Re Na kualahan menghadapi lidah Jinki yang telah membelitnya. Tangan Jinki mulai mengelus punggung Re Na yang seketika membuatnya menggelinjang.

“Oppaaaah…” Re Na sudah tidak tahan lagi menahan desahannya. Ia bahkan lupa mengambil nafasnya sendiri yang kini membuatnya terengah-engah. Serbuan Jinki membuatnya amnesia, perutnya bergejolak geli.

Jinki yang tadi meringkuk lemah di sofa kini dengan gagahnya menggendong Re Na menuju ke kamar. Ia tidak melepaskan ciumannya hanya saja ia menarik ulur bibirnya untuk mempersilahkan Re Na dan dirinya sendiri mengambil nafas. Jinki merebahkan tubuh mungil itu ke ranjang, tangan Re Na masih setia di leher Jinki.

Jinki mulai menyelundupkan salah satu tangannya ke dalam kemeja kerja yang masih dikenakan Re Na. Perlakuan Jinki sukses membuat Re Na meremas pelan rambut lebat Jinki. Re Na sudah terperangkap dalam genggaman Jinki tetapi Jinki masih belum menemukan apa yang dicarinya. Ia masih harus berhati-hati agar tidak ikut terseret dalam nafsu yang diciptakan sendiri. Cinta. Ia masih mencari cinta itu. Ia hanya menemukan rasa sayang dan juga kebingungan dalam ciumannya.

Haaatchiih!

Seketika kegiatan mereka terhenti. Re Na dan Jinki mendudukkan tubuh mereka bersamaan. “Sudah kubilang kau sedang sakit, Oppa. Lebih baik kita tidur saja sekarang. Kajja!” Re Na mengambil selimut yang ada di bawah kakiknya kemudian menyibakkannya untuk menutupi tubuh mereka berdua.

“Kau pintar sekali mencari alasan,” ucap Jinki sembari tersenyum samar.

“Aku tidak beralasan hanya sekarang bukanlah waktu yang tepat. Tidurlah yang nyenyak.” Re Na menutup percakapan mereka dengan mendaratkan bibirnya ke pipi Jinki. Jinki hanya mampu tertegun. Ia kembali tidak mengerti dalam membaca perasaan Re Na. Re Na memeluk Jinki seperti biasanya tetapi ia tetap saja masih malu ketika memeluk Jinki seperti ini. Ia sudah ketagihan akan kenyamanan yang diberikan Jinki.

Dan mungkin inilah pelajaran yang mampu diambil Re Na hari ini. Keputusannya sangatlah penting bagi mereka bertiga. Ia harus segera memutuskan. Besok ia akan kembali menemui Taemin untuk memperjelas semuanya. Meskipun ia sendiri juga masih bingung apa yang harus ia katakan pada seorang yang dahulu pernah menjadi namjachingunya itu.

Oppa, I’ll take my decision soon. Just don’t give up for me…” bisik Re Na pelan.

– T B C –

Annyeong! Hihihi x) part ini agak aneh ya? Yah~ semoga kalian dapat menikmati tulisanku yang apa adanya ini. Mungkin chapter selanjutnya adalah chapter terakhir. Lagipula aku juga ada tanggungan FF lain. Kalau kalian mau baca silahkan di kintachannostory.wordpress.com karena kemungkinan gak aku publish disini. Masih kemungkinan loh ya! Hehe (:

Terima lasih buat readers yang setia baca, like dan comment FF amatirku. Semoga mendapatkan balasan yang setimpal #apadeh. Jeongmal gomawoyo~ Keep RCL yap ^^ and sorry for miss typo.

Advertisements

26 responses to “A Back To Sleep Tight [Chapter 4]

  1. Pingback: A Back To Sleep Tight [Chapter 5- END] | FFindo·

  2. Cin mian baru komen sekarang…. T_T *plak

    Kasian beud sama Taemin oppa *muah2 *hoeks 😛 maunya ngasih kejutan sama Rena ehh malah jdi patah hati karena udh d tinggal nikah ma Jinki >.< Tpi d sini Taemin cool yahh, aku baru tahu kalau Taemin bisa ngerokok ~kkkkkk *bugh

    Onew juga' kasian lgi galau mergokin isterinya ciuman ma namja lain *haduh poor oppa T_T Rena juga' nih masih plin plan menentukan pilihan antara dua namja yang kece2 *hehehehe 😀

    okeh deh aku langsung baca yang Part 5 yaww :3

    • Hahaha xD aigooo~ Taem itu bukan baby lagi, sekali2 ditampilin yang garang kan gapapa 😛

      Siapa yang gak bingung coba? satunya gini satunya gitu >o<

      monggo 🙂

  3. teaminahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh napa nyosor cewe d’tempat umum ????? ntu ngga sopan tau !!!!!!!!!!!!!!!!! #blush

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s