[Freelance] {93’s} OMO!! My Little Husband

{93’s} OMO!! My Little Husband

Author : nyit2
Genre : Romance, Friendship.
Rating : PG 16
Lenght : One Shot
Main Cast :
• Lee Taemin
• Park Nara
Support Cast :
• Gong Chan
• Lee Ji Eun (IU)
Pernah publish di wp pribadiku http://nyit2bininyatabi.wordpress.com/

**********
AUTHOR’S POV
FLASHBACK
“Mwoya?! Aku menikah dengan Taemin!”
“Nara~ya, kakek Taemin dan kakekmu sudah berjanji untuk menikahkan kalian. Sayang sekali, mereka sudah berada di Surga sebelum janji itu terlaksana. Apa kau tega untuk tidak memenuhi wasiat kakekmu?” tanya Nara Appa penuh harap.
“Appa, aku bukannya tidak mau memenuhi wasiat kakek. Tapi, kenapa harus dengan Taemin?”
“Karena keluarga kita sudah saling mengenal satu sama lain sejak dulu. Lagipula kami semua sudah memberi restu untuk pernikahan kalian.”
“Kalau yang itu aku sudah tahu. Maksudku usia kami berbeda 4 tahun, bagaimana mungkin kami bisa menjalani pernikahan ini?”
“Aigoo… baru berbeda 4 tahun saja sudah bingung. Eomma yang lebih tua 6 tahun dari Appamu tidak merasa bingung sama sekali ketika kami memutuskan untuk menikah,” ujar Nara Eomma.
“Kalian menikah karena saling mencintai sedangkan keadaanku berbeda. Aku dipaksa menikah karena perjanjian konyol yang dibuat oleh Kakek. Oh ayolah, kalau seperti ini caranya aku bersedia membangunkan kakek dari kuburnya agar dia bersedia merubah surat wasiatnya.”
PLETAK!!
“Ya! Berani sekali kau berbicara seperti itu! Eomma tidak mau tahu, minggu depan pernikahan kalian akan dilaksanakan.”
“Eomma!! Belum tentu Taemin menerima pernikahan ini. Kalian tidak bisa memaksa aku untuk menikah.”
“Siapa bilang Taemin tidak menerima pernikahan ini? Taemin menyukaimu sejak kecil, tidak ada penolakan sama sekali darinya.”
“Argghhh…bocah itu, kenapa dia menerima pernikahan ini?!”.
“Berhentilah memanggilnya bocah! Dia sudah berusia 18 tahun dan sebentar lagi akan menjadi suamimu.”
“Appa!!!”
FLASHBACK END
_____
NARA’S POV
“Nara~ya, cepat bangun! Buatkan aku susu.”
Aku merasakan tepukan ringan di pipiku. Mataku sulit sekali diajak bekerjasama, bukannya bangun aku lebih memilih menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhku.
“Ayo bangun!” teriaknya lagi. Perlahan selimut mulai menjauh dari tubuhku, setelah itu yang kurasakan hanya sentuhan hangat di sekitar leherku. Argghh…oke! untuk yang satu ini aku tidak bisa menghindarinya.
“Mmh…Taemin-ah! Berhentilah menciumi leherku! Aku akan bangun sekarang,” pintaku dengan mata yang masih tertutup.
“Bohong!! Buktinya matamu masih tertutup. Apa aku perlu memberikan morning kiss tambahan?”
Hee?
Detik berikutnya bibir hangatnya melumat lembut bibirku. Mataku terbuka dengan sempurna. Omo! Meski kami sudah menikah 6 bulan tetap saja rutinitas pagi seperti ini selalu membuat jantungku berdebar-debar.
Aku melepaskan ciumannya perlahan, terlihat sekali kekecewaan di wajahnya. Tanganku menyentuh rambut merahnya. Aigoo..aku tidak menyangka namja yang selalu kulindungi sejak kecil sudah dewasa.
“Tatapan matamu seperti hendak menelanku hidup-hidup.” Dia memindahkah posisi tubuhnya yang semula berada di sampingku menjadi di atasku.
“Kau tampan,” pujiku tulus. Aku suka melihat semua yang ada pada dirinya. Entahlah! sepertinya aku terkena hukuman kakeku di surga. Dulu ketika dinikahkan aku menolak keras! Yah..dari awal aku hanya menganggapnya sebagai dongsaengku, tapi takdir berkata lain. Ayolah…siapa gadis yang bisa menahan diri dari pesona seorang Lee Taemin.
“Jinjjayo?” tanyanya tidak percaya.
“Ne~.”
“Gomaweo,” ujarnya sambil mendekatkan wajahnya ke arahku.
“Stop!!” aku menjauhkan wajahnya dari hari hadapanku sebelum terlambat.
“Waeyo?”
“Kau harus berangkat kuliah dan aku harus kerja. Menyingkirlah dari tubuhku! Aku harus mandi dan menyiapkan sarapan.”
“Arraseo. Noona tidak sayang padaku. Padahal aku hanya ingin memberimu hadiah karena telah memujiku,” gerutunya. Masih dengan mengerucutkan bibirnya, dia segera bangkit dan menyingkir dari atas tubuhku.
Aku tersenyum melihat wajah cemberutnya. Sejak kami menikah dia jarang memanggilku Noona dan aku tidak keberatan sama sekali. Lagipula aku merasa aneh dipanggil Noona oleh suamiku. Biasanya panggilan ini akan keluar saat dia marah, kesal atau keinginannya tidak terpenuhi.
Sebelum kakinya turun dari ranjang, aku segera menarik tangannya. Tubuhnya berbalik menghadapku. Aku bergegas mengecup bibirnya sekilas dan mengacak rambutnya.
“Noona….”
Aku buru-buru masuk ke kamar mandi, meninggalkan suamiku yang masih terdiam sambil memegangi bibirnya. Aku malu sekali >/////<. Ini pertama kalinya aku memberanikan diri untuk menciumnya lebih dulu.
_____
“Nara~ya….”
Aish…suara manjanya sedikit menggangu konsentrasiku memasak. Bahkan sekarang aku bisa merasakan pelukannya di tubuhku. Aigoo..dia selalu saja melakukan ini setiap kali aku memasak.
“Taemin-ah..”
“Emm..”
“Bisakah kau berhenti memelukku, aku sedang membuatkan sarapan untukmu,” ujarku sambil berusaha melepaskan pelukannya.
“Shireo!”
“Ya! Apa kau mau bertanggung jawab kalau masakanku gosong,” bentakku kesal.
Suamiku tidak menghiraukan sama sekali ucapanku. Dia semakin mempererat pelukannya, tiba-tiba aku merasakan tengkukku menjadi sasaran bibirnya.
PLETAK!!
“ Apayo!!”
Aku segera mematikan kompor dan berbalik menghadapnya. Pipinya mengembung kesal karena menerima hadiah jitakan dariku. Mau bagaimana lagi, hanya cara ini yang terpikirkan di otakku untuk melepaskan diri dari pelukannya.
“Mianhaeyo, aku tidak sengaja melakukannya,” sesalku.
“Jahat! Tadi pagi kau melarangku memberimu hadiah sekarang kau melarangku memeluk dan mencium lehermu,” sungutnya.
“Aa..bukan begitu. Masalahnya tanda yang kau ciptakan kemarin belum hilang. Apa kau tega melihatku menanggung malu dengan jejak bibirmu di leherku?.” Aku menunjuk ke arah leherku yang masih terdapat hasil karyanya semalam. Masa aku harus menggunakan syal lagi ke kantor.
“Tapi itu bukti cinta kita, Nara~ya.”
“Mwoya?”. Aku menyentil dahinya dengan tanganku. Dia dengan seenaknya meninggalkan jejak di leherku tapi aku yang menanggung akibatnya.
“Huh..kau suka sekali melakukan kekerasan dalam rumah tangga padaku.” Perlahan diusap dahinya yang agak memerah akibat perbuatanku.
Aku menarik wajahnya agar sedikit menunduk dan sejajar dengan wajahku. Aku memberinya kecupan di dahi dan puncak kepalanya.
“Apa masih sakit? aku sudah mengobatinya.”
“Anio. Sudah tidak sakit lagi.”
“Bagus. Lebih baik kita sarapan sekarang.” Aku menarik tangannya agar mengikutiku ke meja makan. Setelah itu aku memaksanya untuk duduk dan menunggu sarapan. Dengan cepat aku menghidangkan sarapan di hadapannya. Matanya berbinar sekali melihat makanan yang kusajikan.
“Daging!” pekiknya.
“Makanlah yang banyak.”
“Ne~.”
Aku senang sekali melihatnya makan dengan lahap. Beberapa butir nasi masih tersisa di sekitar bibirnya. Aku membersihkannya dengan tanganku dan melanjutkan sarapan.
“Susu?”
“Sudah ada di sebelahmu.” Aku menunjuk segelas susu putih di sebelahnya. Apa yang dipikirkannya sampai tidak melihat susu yang kubuatkan?.
Dengan cepat dia menghabiskan susu putih tersebut. Disekanya perlahan bekas susu yang menempel di sekitar bibir menggunakan telapak tangannya. Mataku tidak berkedip sama sekali saat dia melakukannya. Seksi sekali!!.
“Aku sudah kenyang. Apa kau mau berangkat bersamaku?” tawarnya.
“ Aku bisa menyetir sendiri untuk hari ini. Kau berangkatlah duluan.”
Aku terus memperhatikannya yang sedang mengambil tasnya di kamar kami. Begitu dia keluar dari kamar, aku segera menyusulnya ke pintu depan apartement kami.
Sedikit tidak rela membagi ketampanan suamiku dengan yeoja lainnya. Aku sangat menyukainya saat dia mengenakan kemeja hitam seperti saat ini. Bagaimana kalau banyak yeoja yang akan mendekatinya?.
“Nara~ya, sampai kapan kau akan terus menatapku seperti itu?”
“Ah..bisakah kau berhenti mengenakan kemeja hitam jika tidak sedang bersamaku,” pintaku.
“Waeyo? Apa aku terlihat aneh?”
“Anio. Kau justru terlihat tampan sekali. Aku hanya tidak rela yeoja di luar sana menikmati ketampananmu secara gratis,” sahutku kesal.
“Aigoo.. Nara~ya, aku hanyalah milikmu. Apa lagi yang kau takutkan?”
“Tapi…”
“Apa perlu aku menganti kemejaku sekarang?”
“Tidak perlu. Kau bisa terlambat ke kampus nanti. Hati-hati di jalan.” Aku membuka pintu apartement dan membiarkannya melangkah keluar. Dia mulai berjalan meninggalkan apartement kami, aku hanya melambaikan tanganku pelan.
“Nara~ya!!” Aku mengurungkan niatku untuk menutup pintu ketika mendengarnya memanggil namaku.
“Waeyo?” tanyaku bingung. Dia tidak menghampiriku hanya berdiri diam ditempatnya.
“Saranghanda..” ucapnya saat menaikkan kedua tangannya membentuk tanda hati di atas kepala. Detik berikutnya dia sudah berlari sambil melambaikan tangannya ke arahku.
Satu kata darinya sudah cukup menenangkan keresahan hatiku. Aku rasa itu sudah lebih dari cukup untuk membuktikan perasaannya.
_____
TAEMIN’S POV
Aku menyeruput perlahan cappucino pesananku. Suasana kantin kampus saat istirahat selalu ramai seperti ini. Sesekali aku melirik ke arah jamku, menunggu memang pekerjaan yang paling menyebalkan.
“Mianhae, aku terlambat! Aku ada urusan mendadak tadi.” Gong chan duduk di depanku.
“Aku pikir kau akan membiarkanku menunggu sampai besok.”
“Berlebihan sekali kau ini. Bagaimana kabar Nara Noona? Sudah lama aku tidak mampir ke apartement kalian.”
“Baik. Tidak perlu mampir, setiap kali ke apartemenku kau selalu menghabiskan masakan istriku,” ujarku kesal. Walaupun tubuh Gong chan kurus tapi daya tampung perutnya sangat besar. Aish..dia berlindung di balik wajahnya yang polos seperti anak-anak.
“Cih…kau sangat menyebalkan Lee Taemin!”
“Memang!”
“Aigoo…aku baru ingat! Kemarin tersiar gossip kalau Lee Ji Eun menyukaimu. Bahkan ratu kampus berhasil kau buat bertekuk lutut. Aku rasa setiap hari daftar gadis-gadis yang memujamu akan terus bertambah. Sayang sekali mereka tidak mengetahui kenyataannya.”
“Cepat atau lambat mereka akan tahu,” sahutku santai. Hanya Gong chan yang mengetahui tentang pernikahanku. Sejak awal aku tidak tertarik untuk memberitahu teman-teman di kampusku.
“Lihat siapa yang datang!” Gongchan menunjuk ke arah beberapa yeoja yang sedang berjalan ke arah kami.
“Bukan urusan kita,” sahutku sambil menarik wajah Gong chan agar berhenti memandangi para yeoja tersebut.
“Mereka menuju kesini! Ji Eun akan datang padamu,” bisiknya.
Aku bisa merasakan di sekitarku menjadi sedikit panas. Mereka semua sudah berkumpul di sekitar meja kami. Salah seorang dari mereka mendekat ke arahku.
“Taemin-ah..”
“Ne~.”
“Jadilah namjachinguku!” teriaknya. Seluruh pengunjung kantin langsung melihat ke arah kami.
“Mianhae. Aku tidak bisa!”
“Waeyo? Setahuku kau sedang tidak memiliki yeojachingu.”
Aku merasakan tatapan ingin tahu dari hampir semua mahasiswa yang berada di kantin. Sementara itu, Gongchan hanya mengacungkan kedua jempolnya sambil tersenyum jahil ke arahku.
“Aku sudah menikah.”
Kantin kembali ribut begitu pengakuan keluar dariku. Mahasiswa mulai saling berbisik-bisik sambil menatap tidak percaya padaku.
“Apa benar yang dikatakannya barusan? Dia sudah menikah di usia semuda itu.”
“Aigooo…siapa yeoja beruntung yang menjadi istrinya?”
“Apa dia menikah karena MBA?”
“Sayang sekali. Padahal aku sangat menyukai Taemin.”
Aku hanya tersenyum kecut mendengar pembicaraan di sekitar mejaku. Lebih baik aku segera menyingkir dari sini daripada harus berurusan dengan mereka semua. Aku menarik tangan Gong chan agar mengikutiku meninggalkan kantin kampus. Tapi, Ji Eun sudah menghadangku dengan wajah kesalnya.
“Kau pasti berbohong!”
“Lihat ini!” Aku menunjukkan cicin kawin yang melingkar di jari manisku. Ji Eun membelakkan matanya.
“Aku tetap tidak percaya,” ujar Ji Eun.
“Aku tidak memiliki kepentingan untuk menjelaskan masalah pernikahanku padamu. Terserah kau mau percaya atau tidak. Sekarang menyingkir dari hadapanku.”
Aku tidak mau ambil pusing dengan pembicaraan yang tidak penting seperti ini. Aku bergegas meninggalkan mereka, Gong chan dengan agak terburu-buru mengikuti langkahku.
“Taemin-ah..” panggil Ji Eun sekali lagi.
Aku terus melangkah tanpa memperdulikan panggilannya, rasanya pagi ini suasana hatiku buruk sekali.
“Meskipun kau sudah menikah, aku akan tetap menyukaimu,” teriak Ji Eun keras.
“Ji Eu-ah, berhentilah menyukaiku! Kau pasti akan menemukan namja yang lebih baik dari aku,” sahutku tanpa menoleh lagi ke belakang.
“Aish…kau membuat hati yeoja satu kampus menjadi retak seketika,” goda Gong chan.
“Bagaimana gayaku tadi? Apa sudah keren?”
“Sangat keren. Aku ingin sekali menjadi rebutan para yeoja kampus kita,” keluh Gong chan.
Aku menepuk pelan pundak sahabatku. Apa dia tidak sadar akan kelebihannya?. Wajahnya saja berbanding sedikit dengan ketampananku. Kebaikannya tidak perlu diragukan lagi.
“Gong chan-ah, bersabarlah! Aku yakin sudah ada yeoja terbaik yang disiapkan untukmu.”
_____
AUTHOR’S POV
Taman belakang kampus begitu menenangkan di siang hari. Taman terlihat sepi, hanya terlihat beberapa mahasiswa yang sedang mengobrol di bangku taman. Sementara itu, seorang gadis lebih memilih menghabiskan waktunya dengan duduk di bawah pohon besar yang rindang.
“Kau tega sekali menolakku dihadapan semuanya!.” Gadis itu mulai terisak mengingat kejadian yang dialaminya tadi pagi.
“Apa yang harus kulakukan?.” Gadis itu memeluk kedua lututnya dan menangis semakin keras. Tanpa disadarinya ada orang lain yang merasa terganggu dengan tangisannya.
“Ya!! bisakah kau berhenti menangis! Kau menggangu tidur siangku!”
Gadis itu segera mendongakkan kepalaanya. Dilihatnya ke sekeliling tapi tidak terlihat orang yang membentaknya.
Dari belakan pohon besar munculah seorang namja dengan rambutnya yang berantakan. Namja itu sudah bersiap melanjutkan omelannya tapi terhenti begitu melihat gadis yang menganggu tidur siangnya.
“Lee Ji Eun!”
“Gong chan-ah..Mianhae, aku menggangu tidur siangmu.”
“Gwenchanayo.. Aku hanya terkejut mendengar suara tangisanmu.”
Gong chan mendudukan dirinya di sebelah Ji Eun. Ada sedikit kecangungan di antara mereka. Selama ini mereka jarang mengobrol berdua, jika bertemu mereka hanya saling menyapa sekedarnya.
“Jangan menangis lagi.” Gong chan menyeka lembut air mata yang membasahi pipi Ji Eun.
Gadis itu terdiam menerima perlakuan Gong chan. Matanya tidak lepas sediikitpun dari namja yang sedang sibuk menghapus airmatanya.
“Gomaweo..”
“Aku minta maaf atas ucapan kasar Taemin tadi pagi.”
“Kenapa malah kau yang meminta maaf?” tanya Ji Eun bingung.
“Karena dia sahabatku. Aku merasa harus ikut bertanggung jawab atas segala tindakannya tadi pagi.”
“Arraseo.”
“Ji Eun-ah, aku pulang duluan. Jangan terlalu dipikirkan kejadian tadi pagi, masih banyak yang harus kau lakukan.”
“Gong chan-ah..”
Gong chan menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Ji Eun. Senyum manis namja itu mengembang di bibirnya.
“Apa aku pantas untuk dicintai?”
“Tentu saja. Kau harus menyadari bahwa ada namja yang selalu memperhatikanmu setiap saat.”
“Nugu?”
“Namja itu sudah ada di hadapanmu sekarang.”
_____
NARA’S POV
Aku melirik sekilas jam dinding di kamar kami. Hampir jam 5 sore, kenapa dia belum pulang?.
KLEK!!
Sepertinya dia sudah pulang kuliah. Aku bisa melihat keterkejutan di wajahnya saat melihatku berbaring di ranjang.
“Nara~ya! Tumben sudah ada di aprtement?” tanyanya bingung.
“Aku izin pulang lebih awal,” sahutku pelan. Aku memejamkan mataku kembali, kepalaku pusing sekali.
“Apa kau sakit?”. Tangan hangatnya menyentuh dahiku. Bahkan aku bisa merasakan dia berbaring di sebelahku sekarang.
“Hanya sedikit tidak enak badan.”
“Apa kau sudah minum obat? Kau mau aku melakukan apa untuk meringankan sakitmu?” tanyanya beruntun.
Aku membuka mataku yang mulai terasa berat. Wajahnya terlihat khawatir sekali. Aku mengusap lembut pipinya.
“Aku sudah minum obat. Cukup temani aku di sini, aku tidak membutuhkan apapun selain dirimu.”
“Aku mandi dulu, setelah itu baru aku menemanimu.” Tubuhnya hendak beranjak dari ranjang, aku segera mencegahnya pergi.
“Nanti saja. Aku mohon tetaplah di sini,” pintaku. Aku hanya ingin memeluk suamiku sekarang.
“Arraseo.”
Aku merasakan tubuhku direngkuh ke dalam pelukannya. Kecupan manisnya mendarat di dahiku. Tidak butuh waktu lama aku mulai masuk ke alam mimpi.
_____
TAEMIN’S POV
Aish.. selalu saja seperti ini. Kebiasaan terlambatnya tidak pernah berubah sejak dulu. Aku sudah mulai bosan menunggunya di Cafe O.K.
“Taemin-ah”
Gong chan melambaikan tangannya ke arahku lalu bergegas menghampiri mejaku.
“Apa lagi alasanmu?. Mianhae, aku ada urusan mendadak tadi. Mianhae, aku terjebak macet,” ucapku ketus. Aku sudah hapal di luar kepala semua alasan yang selalu digunakan sahabatku jika terlambat.
“ Mianhae, aku harus mengantar pulang Ji Eun tadi,” ujarnya perlahan.
“Mwoya? Lee Ji Eun!!” teriakku kaget.
“Ya! Kecilkan suaramu!” Aku berusaha melepaskan tangan Gong chan yang membekap mulutku.
“Gong chan-ah, apa yang kau sembunyikan dariku?”
“Emm….”
“Cepat jawab! Kau membuatku penasaran saja.”
“Sebenarnya aku berpacaran dengan Ji Eun,” ujarnya dengan kepala menunduk. Aku bisa merasakan kekhawatiran dari raut wajahnya.
“Jinjjayo?”
“Ne~. Aku harap kau tidak marah padaku karena tidak memberitahumu. Kami baru resmi berpacaran hari ini. Aku mohon pengertianmu.”
“Chukhae! Akhirnya kau memiliki yeojachingu,” ucapku penuh antusias.
“Kau tidak marah padaku?.” Wajahnya terlihat bingung dengan reaksiku yang tidak sesuai dengan perkiraannya.
“Anio. Aku pasti mendukung semua keputusanmu. Aku yakin Ji Eun bisa menjadi yeojachingu yang tepat untukmu.”
“Gomaweo, kau memang sahabat terbaiku.”
“Aigoo…cepat hapus air matamu yang hampir jatuh! Namja tidak boleh menangis,” ejekku saat melihat mata Gong chan mulai berkaca-kaca.
“Sialan kau!” Aku merasakan tinjuan ringan di pundakku. Kami berdua sama-sama tertawa mengingat percakapan yang baru saja terjadi.
“Taemin-ah…”
“Waeyo?.”
“Bukankah itu Nara Noona, tapi siapa namja yang sedang bersamanya?.” Gong chan menunjuk ke arah pintu masuk Cafe.
Aku melihat istriku duduk bersama namja lain. Siapa namja itu? apa mungkin teman kerjanya?. Lebih baik aku mencari tahu sendiri.
_____
NARA’S POV
Aku memperhatikan namja yang duduk di hadapanku saat ini. Park Tae Jun! Namja yang pernah mengisi ruang hatiku sekaligus menghancurkannya dalam sekejap.
“Mianhae, aku menggangu jam kerjamu.”
“Gwenchanayo, ada perlu apa kau mengajakku ke Cafe ini? bukankah kita bisa mengobrol di kantorku.”
“Aku merasa tidak leluasa berbicara di kantor.”
“Cepat katakan apa keperluanmu?. Waktuku tidak banyak,” ucapku ketus. Aku tidak mau membuang waktuku secara percuma.
“Aku ingin kita kembali seperti dulu lagi.”
“Mwoya? Apa aku tidak salah mendengar?.”
“Dengarkan dulu penjelasanku! Orangtuaku juga yang menginginkan pertunangan antara aku dan Hyeso.Aku sama sekali tidak mencintainya. Aku bersedia membatalkan pernikahan bulan depan asalkan kau mau menerimaku kembali.”
“Oppa, menikahlah dengan Hyeso. Aku sudah bahagia dengan kehidupanku saat ini.”
“Aku mencintaimu Nara~ya! Meskipun hampir setahun kita tidak bertemu perasaanku padamu masih sama.”
“Aku….”
“Nara~ya…”
Aku pasti bermimpi! Tidak mungkin dia berada di sini. Tapi, aku mengenal betul caranya memanggil namaku. Aku menengok ke sebelah dan ternyata dugaanku benar. Dia sudah berdiri di samping mejaku dengan tatapan menyelidiknya.
“Taemin~ah, kau sedang apa di sini?”
“Aku ada urusan dengan Gong chan. Nuguseyo?” tanyanya sambil menatap ke arah Tae Jun Oppa.
“Dia…”
“Park Tae Jun! Namjachingu Nara.” Aku terkejut sekali mendengar pengakuan Tae Jun Oppa.
“Sepertinya aku menggangu kalian,” ujarnya lesu. Setelah itu Taemin melangkah keluar dari Cafe tanpa memandangku sama sekali.
“Taemin-ah, tunggu aku!” Aku memutuskan untuk menyusulnya sebelum masalah ini menjadi lebih rumit.
“Kau mau kemana?” tanya Tae Jun Oppa sambil memegangi lenganku.
“Lepaskan! Aku mau menyusul suamiku.”
“Suami?”
“Ne~. Aku sudah menikah sejak 6 bulan lalu.”
“Kau pasti bercanda kan?”
“Anio. Apa kau tidak melihat cincin kawin di jari manisku?. Oppa, kau sudah tidak memiliki tempat di hatiku. Aku harap ini terakhir kalinya kita bertemu.”
Aku melepaskan pegangan tangannya. Aku berlari menyusul suamiku, dia sudah semakin dekat dengan parkiran mobilnya.
“Taemin-ah!!” Aku memegang tangan kanannya dan berusaha mencegahnya masuk ke dalam mobil.
“Ada apa lagi? Bukankah kau sedang bersama namjachingumu? Untuk apa kau menyusulku kemari?” tanyanya ketus.
“Kau salah paham! Aku dan dia..”
“Noona, lebih baik kau temani namjachingumu,” ucapnya memotong pembicaraanku.
“Ya! Lee Taemin! Bisakah kau mendengarkan dulu penjelasanku! Kau ini kekanak-kanakan sekali!” teriakku kesal. Aku tidak bisa menahan diri lagi. Kenapa dia tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan masalah ini?.
“Aku memang kekanak-kanakan! Noona pergi saja dengan namjachingu impian seperti Park Tae Jun! Aku rasa dari awal pernikahan ini tidak ada artinya!”
Taemin menghempaskan tanganku begitu saja. Sakit! Melihatnya semakin menjauh dari hadapanku benar-benar membuatku gila. Mobilnya melaju kencang meninggalkanku seorang diri. Air mataku mulai mendesak keluar saat itu juga. Apa yang harus kulakukan?.
_____
Aku membuka mataku dan mengerjapkannya perlahan berusaha menyesuaikan dengan cahaya matahari yang menerobos masuk ke kamar. Aku meraba tempat di sebelahku berharap menemukan sosoknya di sampingku. Semuanya hanya tinggal harapan!. Ternyata dia tidak pulang sama sekali.
Tidak ada rutinitas pagi seperti biasanya. Tidak ada suara manjanya saat memanggil namaku. Mengingat itu semua semakin membuatku terisak. Kemana lagi aku harus mencarinya? Aku tidak mungkin membiarkan orangtua kami mengetahui masalah ini.
“Gongchan…”
Tiba-tiba nama sahabat dekatnya terlintas di otakku. Aku bergegas mengambil ponselku di sebelah bantal. Dengan terburu-buru aku mencari kontaknya, syukurlah aku masih menyimpannya.
Aku gugup sekali saat menunggu sambungan telponku diangkat. Semoga aku berhasil menemukannya.
“Yeoboseo”
“…..”
“Apa Taemin pergi ke rumahmu kemarin sore?”
“…..”
“Apa kau tidak tahu keberadaannya sama sekali?”
“…..”
“Ah..aku sudah membuatnya marah. Aku mohon beritahu secepatnya jika kau mengetahui keberadaannya,” pintaku.
“…..”
“Gomaweo.”
PIIP!!
Aku meleparkan ponselku sembarangan. Kepalaku sakit sekali memikirkan masalah ini. Entahlah! aku sama sekali tidak menyangka akan seperti ini jadinya.
_____
TAEMIN’S POV
“Pulanglah! Apa kau tidak kasihan dengan Nara Noona?”
“Aku takut!”
“Apa yang kau takutkan?”
“Aku takut dia tidak akan memaafkanku.
“Noona pasti akan memaafkanmu. Kalian hanya butuh waktu untuk menyelesaikan masalah ini bersama-sama.”
“Tapi, dia bilang aku kekanak-kanakan.”
“Memang. Buktinya kau memilih kabur ke rumahku daripada menyelesaikan langsung masalahmu dengan Noona.”
“Ya!! Aku hanya butuh menenangkan diri.”
Percakapan kami terputus oleh panggilan di ponsel Gong chan. Aku melirik sekilas dan terlihat nama Nara Noona. aku meminta Gong chan untuk mengangkatnya dan melarangnya memberitahukan keberadaanku.
“Yeoboseo..Ada apa Noona? Tumben sekali menelponku?”
“…..”
“Anio. Taemin tidak ke rumahku kemarin.”
“…..”
“Memangnya ada apa dengan Taemin? Apa dia tidak ada di rumah?.Aku terakhir kali bertemu dengannya saat kuliah.”
“…..”
“Ah..ne. Aku pasti akan mengabarimu Noona.”
“…..”
PIIP!!
“Lihat apa yang sudah dilakukannya untukmu! Kau masih meragukannya?” tanya Gong chan.
“Anio.”
“Pulanglah! Perbaiki hubungan kalian sebelum terlambat. Pernikahan itu suci, jangan kau permainkan janjimu di hadapan Tuhan.”
“Aigoo…aku tidak menyangka kau bisa sehebat ini dalam memberi ceramah,” ejekku.
“Aish.. lebih baik kau cepat pulang. Aku pusing ikut campur dalam masalah rumah tanggamu.”
“Ne~. Gong chan-ah, jeongmal gomaweoyo,” ucapku tulus.
“Cheonmaneyo. Astaga…sekarang kau malah menangis. Padahal dulu kau mengejekku ketika menangis,” sungutnya kesal.
“Paboya! Aku tidak menangis. Mataku kemasukan debu barusan,” elakku.
“Bohong!.”
_____
Akhirnya aku memutuskan pulang ke apartement malam ini. Sudah jam 10, dia pasti sudah tidur. Aku membuka perlahan pintu kamar, berusaha tidak menimbulkan keributan.
Aku terkejut melihat tissue yang berserakan di lantai. Aku melihatnya tidur mengenakan kemeja hitamku. Perlahan aku naik ke atas ranjang dan berbaring di sebelahnya.
Wajah cantiknya terlihat sembab dan pucat. Aku merasa bersalah sekali melihat matanya yang bengkak.
“Jeongmal mianhaeyo, aku sudah membuatmu menangis.”
Aku merengkuh tubuhnya ke dalam pelukanku. Dia bergerak pelan dalam pelukanku, matanya terbuka perlahan.
“Taemin-ah, benarkah ini kau?” tanyanya tidak percaya. Disentuhnya wajahku dengan penuh kelembutan.
“Nara~ya, aku pulang!”
“Apa aku sedang bermimpi?”
“Menurutmu?”
Wajahnya semakin mendekat ke arahku, perlahan dia menempelkan bibirnya di bibirku. Aku melumat bibirnya berkali-kali dan memperdalam ciumanku.
“Jeongmal bogoshipeo,” gumannya disela-sela ciuman kami.
“Nado…”
“Bogoshipeo..”
Aku melepas ciuman lalu menyandarkan kepalaku di dadanya. Tangannya membelai lembut puncak kepalaku.
“Mianhae, sudah membuatmu bersedih. Aku memang kekanak-kanakan sekali, tapi itu karena aku cemburu!”
“Anio.. aku yang salah. Aku tidak bisa mengerti perasaan suamiku.”
“Nara~ya. Ini semua kesalahanku.”
“Ssst!” Jari telunjuknya menempel di bibirku.
“Salah kita berdua. Bukankah itu lebih adil?”
“Emm. Aku rasa itu lebih baik. Tapi, siapa sebenarnya namja yang bersamamu kemarin?” tanyaku penasaran.
“Dia mantanku. Kemarin dia memintaku kembali padanya. Dulu…”
“Cukup!”
“Waeyo? Aku belum selesai bercerita,” keluhnya.
“Aku tidak mau membuatmu sedih dengan mengingat masa lalu. Hah… Sepertinya kau harus diberi tanda kepemilikan.”
“Mwoya? Tanda kepemilikan?”
“Eung.” Aku bergerak cepat memulai pekerjaanku.
“Mmm..Taemin-ah…Jangan bilang kau mau mengukir tanda di leherku.”
“Seratus.”
“ANDWE!!”

Advertisements

63 responses to “[Freelance] {93’s} OMO!! My Little Husband

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s