Love Button [Part 3]

Title:  Love Button

Author: Joo aka indahberliana

Main Cast:

-Park Chanyeol (EXO-K)
-Byun Eunji (OC)

And other cast you can find them in this Fanfict.

Genre: Comedy (maybe), Romance (maybe) pokoknya readers tentuin aja deh hehe.

Rating: PG 13

Disclaimer: semua cast (kecuali OC) punya tuhan semata. Dont Be Plagiator! Please RCL.

A.N: i’m back! Mianhae lama banget. dan sekali lagi maaf maaf maaf banget kalo kependekan. Soalnya ini ff bikin ngebut banget, ngisi waktu buat buka puasa ehehe. Semoga pada suka yah. Maklum author ini abal pasti ffnya juga abal *merendah* tak bosen-bosennya aku mengingatkan, jangan jadi plagiator, jangan jadi siders, dal please Read, Comment, and Like ya kalo mau *sedih lagi* INI HANYA FF, JADI JANGAN TERSINGGUNG DENGAN APA YANG DIKATAKAN PARA TOKOH. Sekian terima kasih.

****

[Part 1]   [Part 2-A]   [Part 2-B]

 

Eunji POV

 

Drrrt…

Aku merasakan ponselku bergetar di saku blazer seragamku. Aku merogohnya lalu melihat ada sms masuk.

New message from Park Chanyeol.

Aku menggerakkan ibu jari kananku di atas ponsel touchscreenku. Membuka sms masuk dari Chanyeol.

“Ya, kau di mana?”

Sudah kuduga isi smsnya pasti seperti ini.

“Jangan tanya apapun padaku!! Aku sedang kesal sekarang!”

Beberapa detik kemudian…

“Yaaa… Bisakah kau lebih santai sedikit? Oke. Kau kesal karna apa?”

Aku menggerutu kesal di dalam hatiku. Sudah kubilang jangan tanya apapun. Dia kira aku tak tahu bahwa di kelas, dia tertawa menggelegar karena aku terlambat lagi?? Tapi entah kenapa jari-jariku malah bergerak untuk membalas smsnya.

“Aku terlambat! Jadi tidak boleh masuk ke dalam gedung sekolah! Aah bagaimana inii??!!”

Drrttt…

“Eh? Kau berarti tak sekolah hari ini??”

Aishhh jinjja! Eh? Tunggu. Kenapa dia menanyakanku tak masuk sekolah? Dia tak tahu? Apa dia buta? Aku kan duduk di sampingnya.

“Chamkkam, kau buta ya? Aku tidak ada di sampingmu. Aku tak duduk di kursiku karena terlambat dua kali yang jaraknya hanya sehari.” Aku mengetik smsku padanya dengan emosi yang tinggi. Bisa-bisa layar ponselku rusak kalau aku mengetik penuh dengan emosi seperti ini setiap hari.

“Yaaa, hari ini aku tidak masuk. Aku masih sakit.”

Eh, dia masih sakit? Padahal sudah meminum obat dua kali. Lalu, apa dia tak minum obat di rumahnya?

“Kau masih sakit? Kau tak minum obat penawar demam yang ada di apartemenmu?”

Drrrt… 

 

New message from Park Chanyeol.

 

Aku malas mengetik sms. Aku telepon dia.

“Ya! Kau membuatku cemas saja! Kenapa kau tak meminum obat di rumahmu hah? Lagian kau kemarin keluar dari UKS lalu berdiri selama kurang lebih 2 jam di atap sekolah.” cecarku panjang lebar padanya. Bahkan Chanyeol belum sempat mengucapkan ‘halo’.

“Yaaa… Tenanglah… Tidak ada obat penawar demam di apartemenku.” Aku mendengar suaranya lemah. Sepertinya dia benar-benar lelah.

“Oke. Tunggu aku di sana. Kau di apartemenmu kan? Katakan dimana apartemenmu?” Tanyaku sambil melangkahkan kaki ke apotik yang kebetulan dekat dengan SMA Shin.

“Green Residence. Lantai 16 nomer 1609”

“Baiklah, tunggu aku.”

Piip. Kuputuskan sambungan telepon kami. Kakiku telah berada di depan apotik.

“Ahjumma. aku ingin membeli obat penawar demam yang paling bagus disini, untuk usia 18 tahun.”

Ahjumma langsung memberikannya padaku setelah beberapa saat mencari obat itu di rak obat.

Aku menyerahkan beberapa lembar won pada ahjumma itu lalu menerima obat yang diserahkan ahjumma pemilik apotik tersebut.

Kakiku berjalan kembali ke halte bus. Sebisa mungkin aku menutup seragamku. Untung saja mantel yang kupakai panjangnya selutut. Dan ditambah lagi scarf merah yang melilit di leherku menutup setengah wajahku.

 

****

 

Chanyeol POV

 

Dia ingin ke sini? Yang benar saja??! Aduh bagaimana ini? aku mencoba beranjak dari ranjangku, tapi lututku sakit. Aku belum mengganti seragamku dari kemarin.

Aku berusaha untuk ke lemari pakaianku. Mengambil kaos putih polos dan celana pendek selutut.

Kubuka seragamku dan memakai celana pendek terlebih dahulu (ngebayangin chanyeol topless *tutup mata*). Setelah itu, ku ambil kaos putihku. Aku hendak memakainya, tapi…

Teng…tong…

Apa? Cepat sekali dia sampai disini? Hanya 15 menit??

Teng..tong…teng…tong…

Aduh berisik sekali dia ini. Aku meraih ponselku di atas ranjangku yang berantakkan. Meneleponnya.

“Ya! Buka pintunya!!” Jawabnya di telepon. Kudengar suaranya lelah, seperti sehabis berlari.

“Kau masukkan saja passwordnya. 211212.”

“Ya! Kenapa kau semudah itu memberi password apartemenmu padaku?”

“Karena aku mempercayaimu…”

“Eh?”

“Sudah cepatlah, aku tak sanggup…”

Bruk…

 

****

 

Eunji POV

 

“Karena aku mempercayaimu…”

“Eh…?” Apa yang ia katakan tadi?

“Sudah cepatlah, aku tak sanggup…”

Bruk…

Kudengar suara seperti ada yang jatuh di seberang sana. Aku juga mendengar jelas dari apartemen yang sekarang ada di hadapanku.

Kugerakkan cepat tangan kananku menekan beberapa kombinasi angka yang merupakan password apartemennya. 211212.

Setelah kututup pintunya, mataku mengeksplorasi ke segala arah, mencari sosok namja tinggi itu. “Chanyeol-ah? Kau di mana?” Seruku dari ruang keluarga apartemennya. Apartemennya cukup besar untuk ditempati sendirian.

“Aku…”

Aku segera mencari suara itu. Aku menemukannya di kamarnya. Tapi, kenapa aku harus bertemu pemandangan seperti ini…

Sprei ranjangnya super duper berantakkan, belum lagi…
“ya!! Kenapa kau tidak memakai bajumu?! Namja mesum!!”
Aku melihatnya terbaring diatas karpet bulu berwarna merah marun yang menutupi lantainya. Eh, dagunya terluka. Aku juga melihat lututnya terluka. Ada apa dengannya?

Kakiku bergerak ke arahnya, duduk berlutut di sampingnya. “Kau kenapa? Apa yang terjadi padamu?”

Aku menyentuh dahinya lalu beralih ke lehernya. “Astaga, kau tambah panas! Ah iya. Ini, kubawakan obat untukmu.” Aku mengambil obat yang kubeli tadi dan botol minumku dari tasku.

Dia meminum obat dan meneguk air yang ada di botol minumanku secara bersamaan. “Gomawo, Eunji-ah.”

Aku meniupkan poniku kesal. “Seharusnya kemarin kau tak masuk sekolah. Lihat akibatnya.”

“Justru aku akan menyesal jika kemarin aku tak masuk sekolah.”

“Eh?”

“Kau mau tahu?”

Aku mengangguk-anggukkan kepalDia yang bersender di kaki ranjangnya menjitak kepalaku. Ya! Saat dia sakit saja kelakuannya sudah seperti ini.

“Cari tahu sendiri.”

Aku mendengus kesal mendengar jawabannya. Dia tertawa melihatku. Menyebalkan! Kalau kutahu seperti ini, tak sudi aku membuang uangku membeli obat mahal untuknya.

“Ya, kau apakan ranjangmu ini? Kita bereskan oke? Aku tak tahan melihat kamar yang berantakkan.”

Dia tersenyum. Aduh. Kenapa aku jadi gugup begini ya?

“Kakiku sakit, bagaimana?”

Aku mendengus kesal, melihat lututnya yang terluka, mengeluarkan sedikit darah tetapi terlihat kering.

“Yasudah, kau duduk saja disitu.” Aku menunjukkan sofa kecil yang ada di pojokan kamarnya. Tanpa melihatnya, aku langsung merapikan ranjangnya.

Setelah sprei hitamnya sudah rapi, kulipat selimut tebal berwarna putihnya di dekat ranjang berukuran sedang miliknya.

“Eunji-ah…”

Mendengar suara itu tepat dari belakangku, aku langsung membalikkan badan.

Bruk…

Aku membuka mataku.


Ingin rasanya aku berteriak sekencang mungkin. Di ranjangnya kini, aku berada di bawahnya. Dia berada di atasku. Mengingat badannya yang belum memakai kaos… Pikiran itu memasuki otakku.

“Ah, mianhae. Aku tak bermaksud…”

Bruk…

Kepalanya kini berada di bahu kananku. Ia menindihku. “Ya! Apa yang kau lakukan! Lepaskan!”

Dadaku sepertinya ingin meledak-ledak melihatnya dihadapanku seperti ini.

Aku mendorong bahunya. Astaga. Panas sekali badannya. Aku memegang kedua lengannya. Rasanya seperti memegang panci ramen yang sehabis direbus diatas kompor–kali ini aku berlebihan lagi.

Aku membalikkan tubuhnya, sehingga ia yang terbaring di ranjangnya. Aku mengangkatnya dan merangkulkan tangannya ke bahuku. Lalu meletakkannya di punggung ranjang.

Kedua mataku melihat kaos putih polos yang masih terlipat rapi di atas karpet merahnya. Kuraih kaos itu lalu memakaikannya ke Chanyeol. Begini lebih baik.

Aku memegang kedua lengannya dan mengguncang-guncangkannya.

“Chanyeol-ah. Sadarlah.”

“Mianhae, tadi aku tak bermaksud…” Suaranya parau.

“Gwaenchanha. Aku tahu kau tak bermaksud seperti itu. Kau sudah makan?”

“Belum. Aku lapar sekali. Kemarin saat di rumahmu kan, aku tak jadi makan malam di sana.”

Ah iya! Aku membawa bekal! Aku merogoh tasku, mengeluarkan kotak bekalku lalu membuka tutupnya. Kimbab dan telur gulung. Tatanan eomma benar-benar lucu.

“Ini, makanlah.” Aku menyerahkan kotak bekalku padanya.

Aku melihat lutut dan dagunya. Hhh merepotkan saja.

“Kotak P3K dimana?” Tanyaku.

“Di dekat dapur.”

Aku keluar dari kamar itu, mengambil air hangat lalu mengambil gel penghilaang bekas luka, kapas dan plaster.

Kini aku duduk di sampingnya lagi. Memasukkan kapas di dalam wadah kecil air hangat, dan mengarahkannya pada dagu Chanyeol.

“Aaah!”

“Tenanglah.” Aku berusaha menekan luka di dagunya pelan-pelan.

Aku merasa diperhatikan olehnya. Aduh kenapa aku tiba-tiba jadi gugup begini? Aku tetap fokus dengan lukanya.

“Maaf sudah merepotkanmu.”

Aku mendongak melihatnya. Ia menatapku. tatapannya sendu. Aaaakkkhh kumohon hentikan tatapan itu Park Chanyeol!!

“Ah.. Eh… ya… Cheonma. Aku senang membantumu. Kita ini kan teman.” Jawabku gugup. Aku dibuat salah tingkah dengannya.

“Aku ingin lebih.” Racaunya parau.

Aku menatapnya, melebarkan mataku. Apa maksudnya??

“Ne??”

Dia mendekatkan wajahnya padaku. Omo! Omo! Eomma! Appa!! Tolong aku!!!

Aku sungguh. Gugup. Debaran di jantungku semakin kencang seiring wajahnya yang semakin mendekat ke wajahku.

Entah kenapa, aku memejamkan mataku. Kupejamkan, kutunggu beberapa detik. Sedetik lagi, sedetik lagi.

Aku merasa ada yang jatuh di bahu kananku. Kubuka perlahan kedua mataku.

….

 

“Aku ingin makan lebih dari bekalmu itu. Kemarin malam aku tak makan sama sekali. Traktir aku nanti ya? Ya? Ya?”

Mwo?? Apa? Apa katanya barusan??

Aku terlalu berharap lebih pada namja ini!! Aaah menyesal, menyesal, menyesaaal!! Apa yang kulakukan tadi???! Memejamkan mataku?? Aduh rasanya ingin sekali kabur dari tempat ini dalam sekejap.

Wajahku memanas, perutku mulas—ini adalah efek yang kualami ketika sedang deg-degan atau gugup. Kenapa kamar ini begitu panas!???

****

 

“Sudah baikan?” aku menghampirinya dan duduk di sampingnya. Chanyeol sedang serius menonton tv di ruang keluarga.

Tanpa menoleh ia berdeham. Aku hanya mendecak kesal padanya. Apa balasannya untukku? Sudah membeli obat mahal untuknya, merelakan bekalku dimakan olehnya, membersihkan lukanya. Hhh mengingatnya saja sudah seperti mengingat hutang-hutang orang padaku.

tsk, baiklah. Aku pulang dulu. Bel pulang sekolah pasti sudah berbunyi.” Aku bangkit dari sofa hijau itu.

Greb… 

 

Chankam...” dia menggenggam pergelangan tangan kananku. Lalu mendongakkan kepalanya ke arahku yang sudah berdiri.

wae?” tanyaku dengan ekspresi unmood.

“kau belum mentraktirku. Kau sudah janji tadi.”

MWO? traktir? Janji? Sejak kapan aku mengiyakannya?

“shireo! Kurang apalagi bantuanku sejak kemarin hah?” aku benar-benar kesal dengannya. Dia sama sekali tak puas mengerjaiku.

“masih sangat-sangat kurang, Byun Eunji.” Dia bangkit dari sofa. Mematikan LCD TVnya dengan remote.

“igo mwoya(apa-apaan itu)!?” seruku.

“sudah tahu, jawaban PR yang kuberikan kemarin malam?”

Aku menoleh ke wajahnya. Apa? Masih ingat saja dia dengan PR itu.

“sudah kubilang, planet Mars itu tidak ada bedanya dengan Bumi.” Jawabku datar.

“aigoo, Byun Eunji. Kau benar-benar payah.”

“jangan mengata-ngataiku seperti itu!” seruku sambil berkacak pinggang.

“kau salah.”

“…..”

“kau mau tahu jawabannya?”

Aku mendongak padanya. Menatap kedua matanya tajam.

“apa?”

Tsk, sekarang coba kau pikirkan. Aku dan kau itu sama atau tidak?”

“Mwo?” Aku sama sekali tak mengerti apa yang dia katakan. Aku dan dia? Sama? Dia kembali menduduki sofa, aku masih berdiri kebingungan.

Dia mendongak. “Duduklah”

Aku mematuhinya. Sebenarnya apa sih yang ingin dia bicarakan? Tidak bisakah dia bicara langsung ke inti permasalahannya?

“Nalarmu tak pernah kau pakai ya?” Tanyanya dengan alis mata kanannya yang terangkat.

“Kau ini!” Aku memukul bahunya.

Dia hanya meringis kesakitan. Rasakan itu.

“Aaah, sudahlah, jangan bahas ini lagi. Bisa-bisa aku mati kejang-kejang dengan nalarmu yang tak berguna itu.” Dia mengacak-acak rambutnya kesal. Apa yang ia kesalkan? Seharusnya aku yang bilang begitu!

“Karena kau telah membuatku depresi hari ini setelah kesembuhanku dari penyakit sialan itu, traktir aku di restoran!”

“Ya! Ani! Shireo! Kau pikir aku punya banyak uang? Lagipula aku tidak lapar. Kau juga baru saja menyambar habis bekal yang dibuatkan eomma.” Gerutuku panjang. Ingin sekali aku mencekik lehernya itu. Hhhhh.

“Kau tadi sudah janji padaku di kamar tadi. Pokoknya aku harus makan lagi. Kau tak mau aku repotkan lagi kan karena aku sakit? Maka dari itu aku harus makan banyak, agar penyakit itu tidak menghampiriku lagi. Arasseo?”

“Tentu saja aku tak mau direpotkan orang yang tak penting sepertimu. Tsk. Baiklah. Jangan kau salahkan aku jika dompetku tak sanggup membiayai makanan yang akan kau pesan nanti. Ara?”

Dia mengangguk dilengkapi dengan senyuman bak anak kecil. Aku gemas sekali dengan namja satu ini. Rasanya seperti mempunya adik lagi. Eh, aku tak mau punya adik yang sama-sama menyebalkan.

Teng…tong…

“Eh, siapa itu?” Tanyaku yang belum memakai mantel dan scarf merahku.

Dia yang sedang memakai mantel hitamnya menoleh ke arahku. “Mana kutahu. Coba saja kau lihat di intercom itu.”

Aku menuju intercom yang ditunjuk Chanyeol. Intercom itu terletak sekitar 5 meter dari pintu. Melihat siapa tamu apartemen ini.

Aku kembali menghampiri chanyeol dengan terbirit-birit—seperti  dikejar anjing tetanggaku.

“CHANYEOL!!!!!!” Bisikku kencang–tidak bisa dibilang bisikan.

Dia menoleh. Dia sudah lengkap dengan mantel, scarf putih, dan celana jeans hitamnya.

waegeurae?” Tanyanya santai.

“Itu…” Aku menunjuk-nunjuk pintu apartemen ini.

“Ada apa dengan pintu itu?”

Tsk, kau lihat saja sendiri. Aku harus bagaimana ini? Aaakhh.”

“Kau ini kenapa sih?” Dia langsung melewatiku dan melihat siapa yang ada diluar pintu apartemennya.

“Kau!!!! Kenapa dia bisa ada di sini???”

“Mana ku tahu Chanyeol babo!!!”

“Kau pernah mengundangnya ke sini?” Tanyaku berlanjut tetap dengan kesan seperti dikejar-kejar anjing. Aku tak bisa diam sekarang.

“Ti…eh… Kemarin dia ke sini. Aish sudahlah. Kau saja yang buka pintunya. Aku akan pura-pura masih sakit.”

“Ya!!!”

Blam. Dia masuk ke kamarnya. Kenapa harus aku yang menanggung semua?? Namja ini…

Cklek. aku membuka double lock dari intercom. Lalu pintu terbuka.

Aku sudah siap. Aku tak akan memperlihatkan kesan malu, salah tingkah, tak akan.

“Guru Wu?” Sepertinya dia terkejut sekali dengan keberadaanku di sini. Aduh aku harus bagaimana ini? Bagaimana kalau dia melaporkannya pada guru Lee? Lalu berlanjut pada orang tuaku?

“Ah, kau, Eunji, kau… Kenapa bisa ada di sini?”

“Ah, itu… Aku, ah! Aku merawat Chanyeol di sini. Kebetulan tadi aku terlambat dan tidak boleh masuk. Eh aku dapat sms dari Chanyeol. Demamnya tambah parah. Lebih baik mungkin aku ke sini daripada di rumah. Itu membosankan, saem.” Aku menggaruk tengukku. Tak mau berpikir apa alasanku masuk di logika atau tidak. Hhhh kenapa aku harus bertemu keadaan seperti ini sih??

“Demamnya tambah parah? Hmmm, dia sudah makan?”

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.

“Kalau begitu, dia dimana? Aku membawakan ini untuknya.” Aku melihat sepasang sarung tangan rajut merah yang sedang digenggam guru Wu. Itu sarung tangan saat dia pertama kalinya memegang tanganku, lalu meminjamkannya pada tanganku yang tidak memakai apapun.

“Dia sedang di kamarnya. Ayo masuk, saem.”

 

“Eh? Guru Wu?” aish, gayanya yang pura-pura terkejut karena aku dan guru Wu memasuki kamarnya. Dia terbaring ‘lemas’ di ranjangnya.

“Sudah baikan?” Tanya guru Wu pada Chanyeol. Sementara yang ditanya hanya mengangguk-angguk lemas. Tepatnya hanya pura-pura mengangguk dengan lemas. Padahal dia sudah sembuh.

“Ah, sudah siang, apa kalian sudah makan siang?” Tanya guru Wu setelah melihat arlojinya.

“Ah kami…”

“Belum saem!!!!!” Teriakku yang langsung duduk di samping Chanyeol.

Aku melihat pandangan Chanyeol begitu menusukku. “Apa-apaan kau ini!?” Begitulah kira-kira kalau pandangannya diartikan dengan kata-kataku.

“Baiklah, kalau begitu aku traktir? Bagaimana?”

Jinjjayo??” Tanyaku dengan mata yang berbinar-binar.

“Baiklah, ayo kita pergi.” Ajak guru Wu. Aku dan Chanyeol merasa sedang di traktir dengan senior kami, bukan dengan guru kami.

Aku tidak perlu menghabiskan uangku lagi. Kau datang pada saat yang tepat, guru Wu!

 

****

 

Masih dengan suasana kaku kami menunggu makanan yang kami pesan tadi di restoran korea yang kebetulan dekat dengan apartemen chanyeol.

Keadaan itu berlangsung hingga makanan yang kami pesan menghampiri kami.

Jalmeokgoseumnida!” Seru Chanyeol sambil mengambil sumpitnya dengan lihai menuju bibimbab yang aku pesan untuk dia.

Dia harus makan itu, tidak ramyun, ramyun, dan ramyun. Kalian tahu tidak? isi lemarinya di dapur apartemennya hanya berisikan berbagai macam merek ramyun yang ada di pasaran korea. Wadah untuk bumbu dapur saja tidak ada. Kalau aku tidak memperhatikannya, mungkin tubuhnya akan rusak suatu saat nanti. Eh, aku tidak memperhatikannya. Hanya mem… Ah sudahlah.

“Eunji, ini.” Guru Wu menyumpit sebuah daging yang telah dipotong-potong kecil dari panggangan yang berada di tengah-tengah meja makan kami yang berbentuk lingkaran.

“Eh, gomawoyo.” Aku disuapi guru Wu. Entah kenapa aku membuka mulutku. Aduh aku jadi malu. Bagaimana kalau guru Wu menyumpitnya untuk menaruh daging itu di mangkuk nasiku, bukan untuk menyuapiku? Aigooo sangat memalukan!!

Kulihat guru Wu terlihat tertawa kecil melihatku dengan wajah yang memanas ini. Aku menggerutu kesal dengan tindakanku tadi.

“Kalian tak bilang padaku kalau memesan galbi. Kau, Byun Eunji! Kenapa kau memesan bibimbap untukku? Aku ingin galbi.” Aku menoleh ke arah chanyeol yang duduk disamping kananku.

“Sudahlah, jangan banyak protes. Kau kan masih sakit, lebih baik makan makanan yang mengandung vitamin yang banyak. Agar aku tak kerepotan lagi merawatmu yang seperti anak kecil.” Gerutuku padanya. Dia terlihat jengkel padaku.

“Kalian sepertinya dekat sekali ya. Kalian paca…”

“Anieyo! Kami tidak seperti yang kau pikirkan, saem.” Seruku. Takut kalimat ‘kalian pacaran’ itu terucap dari mulut guru Wu.

Aku melihat guru Wu tersenyum. Chanyeol kenapa tertawa? Ckck.

 

Chanyeol POV
Aku melihat Eunji yang makan dengan lahap. Melihatnya saja membuatku sudah kenyang. Ah, kenapa guru Wu harus datang sih? Yang seharusnya mentraktirku kan Eunji, bukan dia. Dan seharusnya aku hanya berdua di restoran ini. Aish, kenapa Eunji menerima tawaran guru Wu? Apa ia tidak mau menghabiskan uangnya lagi? Kalau begitu, aku tidak perlu memintanya mentraktirku. Aduh Park Chanyeol babo.

Kenapa untuk mengungkapkan semuanya, selalu sulit untukku. Entah sudah berapa banyak kode-kode yang aku berikan padanya. Hhh nalar dia itu ia buang kemana sih? Tidak bisakah dia merasakan apa yang aku rasakan padanya?

Aku kembali menatapnya. Tapi sepertinya ada yang menatapnya selain aku. Aku mengedarkan mataku. Dan… Guru Wu menatap Eunji begitu dalam. Aku sampai kaget melihat tindakannya. Apa benar yang dilihat itu Eunji, bukan makanan yang sedang dimakan Eunji?

Aku menatap Eunji lagi. Cih, katanya dia tidak lapar. Entah karena ditraktir atau memang tadi dia berbohong, dia memakan makanannya dengan lahap.

Aku mengakhiri menatapnya karena aku juga lapar. Baiklah, kumakan bibimbap ini.

 

“Ya! Byun Eunji! Bibimbapku sudah habis. Aku ingin galbimu!”

“Ya! Aku masih belum kenyang! Kau!”

“Ya!! Aku minta galbimu!!! Aku ini pasien jadi kau harus menuruti permintaanku.”

“Park Chanyeol!!!!”

“Byun Eunji!!!!”

Hening…

Semua pengunjung restoran menatap kami dengan ‘deathglare’. Aku merinding melihat seisi restoran ini memberikan pandangan seperti itu pada kami. Tepatnya hanya aku dan Eunji.

Jwiseonghaeyo. Jwiseonghaeyo.” Guru Wu meminta maaf pada semua pengunjung. Aku segera mengikuti guru Wu. Meminta maaf sambil menundukkan kepalaku dan membungkukkan badanku sekali-sekali. Lalu Eunji mengikuti kami.

“yaaa.. Gara-gara kau kan!!! Park Chanyeol!”

“Makanya suapi aku!! Suapi galbi itu padaku!! Ppalli!!” Titahku pada Eunji.

Tsk, ini!” Eunji menyumpitkan sepotong galbi padaku. Aku melahapnya dengan semangat.
Eunji POV
Tsk, ini!” Aku menyumpit sepotong daging padanya dengan kasar.

“AKHH!!”

Eh?!

“Ya! Park Chanyeol, gwaenchanha??” Aduh bagaimana ini?

“Huk…hukk…uhuk…” ah? Da…darah?!

“Ya! Park Chanyeol! Gwaenchanha?”

Aku melihat sumpit yang menyumpit daging untuknya. Ujung sumpit itu terdapat bercak darah. Apa aku melukai rahang atasnya? Kurasa aku terlalu keras menyumpitkan daging itu pada mulutnya.

Aigooappo…” Suara Chanyeol lirih.

Akupun panik. Aku tak tahu harus bagaimana lagi.

“Sakitkah?” Tanyaku.

“Byun Eunji babo! Tentu saja sakit! Aku tak mau tahu, kau harus menanggung semuanya. Kau harus membuat lukaku ini kering. Ara?”

Aku tak bisa banyak bicara lagi. Aku akhirnya mengiyakan apa yang Chanyeol katakan tadi.

Aku melirik ke arah guru Wu. Aku tersenyum kikuk ketika dia tersenyum ke arahku.

“Baiklah, makannya sudah selesai? Kalau begitu bagaimana kita antar Chanyeol pulang? Kau masih sakit kan, Chanyeol? Lebih baik kau di apartemenmu saja. Besok kan Minggu, jadi kau istirahat saja di apartemenmu.”

Chanyeol tadinya ingin mengatakan sesuatu, tetapi tidak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya. Akhirnya kami mengantar Chanyeol ke apartemennya.

“Eunji-ssi, apa kau mau, besok kita jalan-jalan?”

Pandanganku yang sedaritadi menatap jalanan yang ada di kaca mobilpun mengalih pada wajah guru Wu.

“Ne? Kita bertiga?”

Guru Wu hanya tersenyum. Aigoo, guru ini benar-benar tampan. Siapapun yang menjadi istrinya kelak pasti sangat beruntung!

“Ani, hanya kita berdua saja. Otte?” Aigoo, kami berdua berbicara informal. Dadaku berdebar.

“Ah, memangnya kita akan pergi kemana, saem?”

“Besok akan kutentukan. Bagaimana? Apakah kau mau?”

Aku mengangguk-angguk kecil lalu tersenyum. Dia menatapku teduh, dalam sekali.

“Ah, besok kita bertemu di restoran tadi saja. Bagaimana?”

“Oh, baiklah.”

****

Author POV

 

Setelah mengantar Eunji, Kris pergi ke suatu taman yang di kelilingi pohon yang sudah meranggas.

Ia menghirup udara sore mendung itu dalam-dalam. Ia tahu, kalau ia menghirup udara yang mencapai -10 , hidungnya akan sakit. Akan tetapi, ia memilih untuk menyakiti hidungnya dan hatinya lega sekarang. Ia sudah melangkah, melangkah, step by step. Ia sudah bisa mengajak Eunji kencan—Kris menganggapnya begitu.

Ia membuang helaan napasnya. Lalu senyuman indah yang terukir di kedua ujung bibirnya. Ia tak menyangka, bahwa dirinya bisa melangkah sudah sejauh ini. Kini hadir sepintas bayangan di pikirannya. Bisakah ia menikahi wanita itu?

 

****

Eunji POV

 

Noona. Kau habis darimana saja?” Baru saja pulang, bahkan belum sempat menyeru ‘aku pulang’, si Baekhyun sudah melontarkan pertanyaan padaku.

“Kenapa kau pulang telat? Lihat? Sudah jam 5 sore sekarang. Ckckck.” Sambungnya. Ingin sekali sepatu yang baru saja kulepaskan, kulempar ke wajah tengilnya itu. Tetapi saat aku ingin melancarkan aksiku, eomma dan appa datang.

“Yaaa Byun Eunji, kenapa kau pulang terlambat?” Tanya appa. Aduh aku harus menjawab apa ini? Tadi kan aku tak sekolah.

“Appa, aku tadi terlambat dan tidak boleh masuk. Jadi…”

“Jadi aku merawat temanku di apartemennya. Daripada aku di rumah tidak melakukan apapun, lebih baik aku menemani temanku yang sedang demam di apartemennya dari kemarin. Kedua orangtuanya… Mmm… Sedang pergi ke luar kota. Karena itu dia sendirian di apartemennya. Aku mohon kalian mengerti ya? Ya? Jebaal..” Mohonku pada appa dan eomma.

Inti dari penjelasan itu ialah benar, tapi tentang kedua orangtuanya, kalau aku bilang sejujurnya, pasti eomma mengira aku menemani Chanyeol seharian. Dan kalau itu dikatakan eomma, appa pasti akan mengamuk jika tahu bahwa anaknya seharian menemani seorang namja di apartemennya seorang diri.

“Wah, anakku baik sekali. Baiklah, cepat mandi.” Seru eomma. Aku segera menaiki tangga menuju kamarku.

****

Setelah makan malam, aku menyenderkan punggungku pada kaki ranjangku. Aku mengelus karpet hijau hangatku. Aku bingung, kenapa guru Wu menjadi hangat padaku. Padahal tadinya kami sama sekali tak pernah berbicara. Akupun tak pernah memandangnya dulu—secara  pribadi. Kalau untuk pelajaran, ya sesekai aku berbicara padanya.

Drrrrt…Drrrrt…

 

Ponsel yang kuletakkan disampingku, kuraih ponselku dan melihat notification.
New Message from Park Chanyeol.

Aku buka sms itu.

From: Park Chanyeol.
Eunji-ah, besok aku ingin kau merawatku seharian penuh di apartemenku. Awas kau menolak. Aku akan mengadukan perlakuanmu tadi pada polisi. Awas saja ya! >:p

Mulutku membulat sempurna. Apa? Polisi? Lapor polisi? YA! Apakah kau sedang bercanda denganku Park Chanyeol?? Kau ini kekanak-anakan sekali.

Akupun membalasnya. Saatnya ‘aegyeo‘ muncul dari seorang Byun Eunji. Ih, menjijikkan!

To: Park Chanyeol.
Waeyo? Chanyeol-ah, kau tidak perlu melaporkan polisi. Kalau aku tidak ada urusan besok, aku akan kesana. Oke? Jangan laporkan aku, Chanyeol oppa! Jebaal.. Eo?

Kuyakin sms kali ini pasti tidak ia balas. Aku menunggu beberapa menit, ponselku tak menunjukkan bahwa ada pesan masuk baru.

Drrrrt…Drrrrt..

Sial, kenapa dia membalas smsnya? Aku meraih ponselku lagi.

Hah? Nomer asing? Siapa ini?

From: +092xxxxxxxxxx
Annyeong, Eunji-ah.
Ini aku, Kris Wu. Besok, jam 10 pagi ya? Bagaimana? Di restoran tadi siang? Oke?

Aku tersenyum, mendapat sms dari guru Wu.

****

Noona!!! Ireona!!! YA!! BYUN EUNJI IREONA!!!!!!!!!!!!!!!!”

“YA!!! BYUN BAEKHYUN!!! HENTIKAN!!! YA!!! BISA-BISA BANTALKU RUSAK KALAU KAU MEMUKULKU DENGAN BANTAL ITU!!! YA!!!!”

IREONAA!!! Jam 10 pagi! Oke, kau yeoja pemalas, noonaku.”

Mataku membulat sempurna, nyaris tak terasa kantuk yang masih menyerangku.

Aku terduduk dari tidurku di ranjangku yang super berantakkan dikarenakan oleh Byun Baekhyun. Dia melemparkan selimut tebalku ke lantai dan bantal beserta gulingku digunakannya untuk membuatku bangun. Memukulku tanpa ampun. Hhh..

“Cepat mandi! Dasar! Sudah jam 10!! kau benar-benar yeoja pemalas. Semoga yang menjadi suamimu kelak adalah suami yang penyabar.” Gerutunya yang masih memegang bantalku di kedua tangannya.

“Begitu juga denganmu. Kita kan manusia dengan tipe yang sama.” Jawabku datar tanpa memperdulikannya. Aku langsung masuk ke kamar mandi yang ada di kamarku.

“Aku tak mau disamakan olehmu, noona. Tak akan mau!!” Serunya menjauhi kamarku. Tsk, dasar adik tidak sopan!

 

****

 

Aku kembali mengunjungi restoran ini untuk keduakalinya. Memakai mantel merah, scarf putih, topi rajut merah, dan rambut coklatku yang kugerai dengan poniku. Mataku menelusuri seluruh isi dari restoran itu, mencari guru Wu.

Tiba-tiba, sosok yang sudah lama ingin aku temui. Pria bermantel putih, memakai masker, tapi, bedanya, dia menggendong seorang anak kecil kira-kira berumur 3 tahun. Pria itu menghampiriku. Matanya yang tidak berubah sama sekali dari 3 tahun yang lalu.

“Ahjussi…..”

To Be Continued.

Aaah mianhaeyo reader-deul. Aku postnya lama banget. Dan maaf kependekan ya. Dan mian banget porsi Chanyeol disini agak dikit. Aku kasih bocoran nih, *plak* Soalnya mulai next part, awalnya dipenuhi Kris (?) Lalu Chanyeol menyusul.(?) bagusannya sama siapa nih? Chanyeol atau Kris? Ditunggu ya J

Bowing bowing 900 Jaljayo! ;;)

Advertisements

94 responses to “Love Button [Part 3]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s