Hospital Flowers

Title: Hospital Flowers

author: lightless_star

cast:

  • Wu Yi Fan (EXO M Kris)
  • Zhang Yi Xing (EXO M Lay)

rating: PG

genre: sho-ai, fluff, hurt/comfort

length: ficlet

#1: Sleep [KaiSoo] #2: A Thousand Miles [KrisYeol] 

DISCLAIMERS: i only own the story, not the characters

WARNING: Shonen-ai/Boys love(?), Alternate Universe

Hospital Flowers

-lightless_star-

xxx

The bouquet burst and blossoms filled the room
And place got smaller as they grew taller
And taught me to bloom
(Owl City – Hospital Flowers)

xxx


“Zhang Yixing-sshi?” suara wanita muda berseragam perawat membuat sepasang mata yang tengah menjelajah seluruh ruangan putih itu menoleh ke kanan. Sosok yang dipanggil Zhang Yixing itu kemudian mengangguk lemah, posisinya masih berbaring. Wanita muda tersebut kemudian menuliskan sesuatu diatas kertas yang dibawa dan dijepitnya ke papan yang ia gunakan sebagai alas tulis.

“Suster, aku ingin pulang….” ucapnya dengan suara paraunya yang masih tersisa. Bibirnya terasa kering ketika ia berbicara. Wanita itu menyentuh bahunya lembut.

“Belum bisa, Yixing-sshi. Mustahil untuk pulang dan menjalani aktifitas dengan kondisi seperti ini, bukan? Maka dari itu, anda harus menjalani perawatan disini.”

Sinar mata hitam Yixing makin redup. Disertai raut putus asa yang terpeta jelas diwajah tampannya. Dikepalanya terbayang apa yang akan terjadi setelah ini. Karirnya, mimpinya, seluruh usahanya. Sia-sia.

“Jangan banyak bergerak, Yixing-sshi. Beristirahatlah.”

Pemuda 21 tahun itu mengangguk. Kepalanya kemudian ia tundukkan untuk menyembunyikan raut menyedihkan wajahnya. Dan suara langkah kaki perawat itu terdengar meninggalkan kamar, diikuti suara pintu yang ditutup perlahan.

Yixing menggemertakkan giginya kesal. Kesal pada dirinya sendiri. Tangannya mencengkram alas putih tempat tidur rumah sakit. Rasanya ingin ia memukuli kaki kanannya yang patah dan sekarang dibalut perban warna cokelat kalau ia tak ingat perlakuan itu hanya akan membuat keadaannya yang sudah buruk jadi semakin buruk.

“Bodoh!” umpatnya, merutuki dirinya sendiri. Tenggorokannya yang kering terasa sakit saat ia berkata. Tatap sendu matanya berubah marah. Tangannya yang dipasangi selang infus memukul-mukul tempat tidur rumah sakit. Frustasi.

Zhang Yixing sendiri tak tahu bagaimana jelasnya ia bisa berada ditempat ini. Terbaring tak berdaya di ruangan dingin yang baginya seakan ingin membekukan kulit. Kakinya tak bisa digerakkan. Kaku. Mati rasa. Darah yang masih ia rasakan mengalir sesekali dari hidungnya membuat napas yang ia hirup terasa panas. Keadaan ini menyiksanya.

Hal terakhir yang ia ingat adalah saat mobil yang ia kendarai kehilangan kendali dan menabrak kendaraan lain. Setelah itu yang ada hanya gelap dan telinganya sayup-sayup mendengar suara riuh dari orang-orang yang berkerumun disekitarnya. Dan saat ia terbangun, ia sudah ada ditempat ini.

Mata hitam pemuda itu masih menatap langit-langit kamar dengan tatapan menerawang. Ada keputusasaan yang menyergap pikirannya. Bagaimana tidak? Ia mengalami patah kaki yang sangat parah dan tak bisa beraktifitas sedangkan SM Entertainment, agensi tempatnya bernaung akan mengorbitkan grup-nya—EXO—bulan depan. Debut. Sesuatu yang sudah ia tunggu sejak beberapa tahun yang lalu. Ia dan bandmate-nya sudah menjalani berbagai latihan untuk mempersiapkan debut mereka, bahkan konsep juga sudah ditentukan. Tinggal selangkah lagi menikmati hasil usaha mereka, dan dia mengacaukan segalanya. EXO kehilangan salah satu main dancernya dan harus merencanakan debut tanpa dirinya.

Dan ia merasa kalau ia adalah orang paling tidak berguna di dunia.

xxx

Sore yang tenang sabtu itu saat mereka bertemu. Yixing tak pernah melihat pemuda itu sebelumnya, padahal dia sudah tiga minggu berada dirumah sakit ini. Pemuda bertubuh jangkung dengan mata tajam dan rambut yang dicat pirang itu, yang duduk dibangku yang ada disebelahnya saat ia duduk diatas kursi rodanya dihalaman rumah sakit sore itu.

Dan sekarang ia hanya tinggal sendiri setelah ia meminta suster yang menemaninya pergi, wanita itu bilang kalau Yixing tidak boleh banyak bergerak dan ia akan kembali lima belas menit lagi.

ia tak mau memandang orang asing disebelahnya. Ada sunyi yang menggantung diantara keduanya. Yixing tak mengeluarkan suara, begitupula pria itu. Beberapa saat berlalu dan yang ada hanya kecanggungan yang kaku.

“Ehm…” suara berat itu mengacaukan bisu, membuat Yixing yang sedaritadi diam menolehkan kepalanya. Mata hitamnya kemudian memperhatikan pemuda itu, yang diperhatikan hanya tersenyum kecil.

“Apa kau pasien disini juga?” pertanyaan basa-basi yang tidak penting. Nada suaranya terdengar ramah, sedikit tidak cocok dengan suaranya yang berat. Bahasa koreanya bagus sekali, bahkan lebih bagus daripada Yixing. Namun wajahnya tak seperti kebanyakan orang Asia. Mungkin karena rambutnya yang di cat pirang.

Zhang Yixing mengangguk.

“Sudah berapa lama disini?”

“Tiga minggu. Dan sepertinya masih akan lama, hingga aku bisa mandiri dengan kaki seperti ini,”

Matanya memperhatikan kaki kanan Yixing yang dibalut perban khusus warna cokelat.

“Kita belum berkenalan,” katanya santai.

“Yifan. Wu Yi Fan,” katanya sambil tersenyum dan mengulurkan tangan. Zhang Yixing tidak langsung membalas, wajahnya nampak agak heran.

Yixing sempat berpikir kalau orang ini seenaknya. Beberapa saat yang lalu mereka masih sangat canggung dan sekarang ia mengajak berkenalan?

“Yixing. Zhang Yixing,” balas pemuda berambut hitam itu akhirnya. Seulas senyum kecil terlengkung diwajahnya yang teduh. Yifan membalasnya.

“Kau jelas bukan pasien, kan?” tanya Yixing. Yifan tertawa kecil.

“Tidak. Aku hanya menjenguk teman.”

“Kenapa kakimu bisa seperti itu?” tanyanya kemudian. Caranya bertanya tak menunjukkan kalau mereka baru kali ini berbicara, ia terlihat santai, seakan mereka sudah saling mengenal sebelum ini.

“Aku terlibat kecelakaan mobil tiga minggu yang lalu. Aku mengalami patah kaki yang parah, bila nanti sembuh pun aku tak bisa beraktifitas sebaik dulu.”

“Keluargamu?”

“Mereka di China. Aku tinggal disini sendirian.”

“Mahasiswa?”

“Bukan. Hahaha. Aku trainee di salah satu talent agency disini, SM Entertainment.”

“SM Entertainment itu agensi paling besar di Korea! Kau hebat bisa jadi trainee disana,” ucapnya. Lagi-lagi, nada bicaranya tidak sesuai dengan kesan yang ditunjukkan wajahnya. Yixing yakin Yifan orang yang baik, namun wajah tampannya yang terpahat sempurna itu selalu saja menunjukkan kesan ‘garang’.

Yixing tersenyum pahit menanggapi pujiannya. Membuat Yifan melihat wajahnya dengan pandangan heran.

“Kenapa?”

“Grup-ku akan debut bulan depan dan semuanya jadi kacau gara-gara kecelakaan ini,” ucap Yixing, pandangan matanya sendu. Yifan mengangguk, tanda ia mendengarkan.

“Pihak manajemen menjengukku beberapa hari yang lalu dan aku… Aku akan dikeluarkan dari grup. Kalaupun menungguku sembuh, aku tidak akan bisa menari sebaik dulu lagi,” lanjutnya, ada keputusasaan yang jelas tergambar dalam suaranya. Yifan masih mendengarkan.

“Rasanya aku seperti orang paling tidak berguna didunia,” katanya lagi. Entah kenapa, Yifan merasa tak suka mendengar kalimat dengan nada putus asa yang baru saja dikatakan pria disampingnya.

“Menjadi penyanyi dan dancer yang hebat itu keinginanku sejak dulu. Aku sudah melakukan semuanya, berjuang mati-matian hingga aku bisa lolos audisi, meninggalkan keluargaku di China dan tinggal sendiri di Korea, menjalani training bertahun-tahun sebelum ini. Dan ketika mimpiku tinggal satu langkah lagi, aku  menghancurkannya,” lanjutnya. Suaranya bergetar, namun ia mencoba untuk tidak menangis. Ia tak mau terlihat lemah.

“Jangan putus asa, Yixing,” suara Yifan terdengar menenangkan. Ia memanggil nama pemuda berambut hitam disampingnya itu dengan akrab.

Yixing membulatkan matanya menyadari sesuatu. Kenapa dia merasa nyaman menceritakan semuanya pada orang yang baru mengajaknya berbicara beberapa menit yang lalu?

Yifan berdiri dari bangku yang ia duduki. Kemudian berjalan beberapa langkah dan memetik beberapa tangkai bunga kecil warna merah yang merumpun dihalaman rumah sakit lalu memberikannya pada Yixing.

“Untukmu,” ucap pria yang tampak sedikit lebih tua dari Yixing itu sambil memberikan bunga kecil warna merah yang barusan ia petik, Bunga Twinspur.

“Twinspur?” ucap Yixing. Yifan mengangguk sembari kembali duduk dikursinya.

“Twinspur itu bunga yang tetap mekar tiap musim. Kau harus mencontohnya. Tetaplah‘mekar’ seperti mereka. Bagaimanapun kondisimu, kau tidak boleh putus asa.”

Zhang Yixing mengangguk pelan, seulas senyum kecil kembali terukir diwajahnya saat ia menatap Yifan. Namun kali ini bukan senyum kecut seperti yang tadi. Senyumnya terkesan tulus, dan teduh.

“Jangan pernah menyerah pada keadaan, Yixing,” ucap Yifan, tatapan mata hitamnya terkesan menenangkan.

Yixing dapat merasakan semilir angin sore membelai wajahnya, memainkan ujung-ujung poni rambutnya. Menghabiskan waktu dengan Wu Yi Fan terasa menyenangkan untuknya, membuatnya sedikit merasa lebih baik. Membuatnya merasa kalau masih ada orang yang peduli padanya disini. Walaupun mereka baru berbicara sekali ini, Yixing merasa Yifan adalah orang yang baik untuk diajak berbicara. Dan rasanya akan menyenangkan juga kalau setelah ini mereka bisa terus akrab dan menjadi teman baik.

“Semuanya akan baik-baik saja. Jangan khawatir. Asalkan kau tidak menyerah—“ lanjutnya. Yixing menolehkan kepalanya lagi, tersadar dari pemikirannya tentang orang ini.

“—dan masih mau percaya.”

Keduanya kembali melengkungkan senyum. Ada hangat yang menyapa sudut hati Yixing, cara Yifan berbicara dan memperlakukannya dengan akrab membuatnya merasa senang. Selama tiga minggu ini, ia selalu berlarut-larut dalam keterpurukannya. Seakan-akan dunia akan berhenti hanya karena kecelakaan yang menimpanya. Ia tidak banyak berbicara dengan orang lain, selain minta tolong ini-itu pada perawat yang datang ke kamarnya atau menjawab pertanyaan-pertanyaan dokter yang memeriksanya tiap sehari sekali.

Namun sekarang, sepertinya ia bisa sedikit tersenyum.

Ia tidak boleh putus asa dan menyerah pada keadaan, karena semuanya masih akan baik baik saja asalkan ia tidak menyerah dan masih mau percaya.

Dan ia tak pernah menyangka kalau orang yang membuatnya sedikit bangkit dari keterpurukannya adalah orang yang baru saja berkenalan dengannya kurang dari setengah jam yang lalu.

“Aku harus pulang. Hari sudah semakin sore,” katanya. Yixing mengangguk.

“Terima kasih,” ujar pemuda China itu kemudian. Yifan tersenyum sekilas.

“Tak masalah, Yixing,” katanya. Lalu berdiri dari bangku yang ia duduki, hendak beranjak pergi. Tubuhnya lebih tinggi dari kebanyakan orang asia, mungkin jika Yixing berdiri disebelahnya perbedaan tinggi itu akan sangat kentara. Wajahnya tampannya sekarang tak lagi terkesan ‘garang’ bagi Yixing. Apalagi ditambah sepasang mata hitamnya yang akan menyipit saat dia tersenyum.

Yifan mengusap rambut Yixing sebelum ia pergi, merapikan rambut ikal pemuda itu yang tadi sedikit berantakan karena belaian angin sore. Dan Yixing tertawa kecil karena perlakuan itu, ia tak menolaknya. Termasuk saat Yifan mendekatkan wajahnya dengan wajah Yixing dan kemudian meniadakan jarak diantara mereka dengan mencuri satu ciuman kecil dibibir pria itu. Mestinya Yixing marah, ia baru saja dicium oleh orang yang baru saja ia kenal kurang dari setengah jam yang lalu. Tapi kalau boleh jujur, ia menyukai yang barusan itu.

Sebelum kemudian ia benar-benar melangkah pergi meninggalkan Yixing yang masih berusaha menyembunyikan senyum karena perlakuan tadi.

Wanita berseragam perawat dengan badge name ‘Choi Sooyoung’ menghampirinya sesaat setelah Yifan pergi.

“Zhang Yixing-sshi, kita kembali ke kamar sekarang?” tanya Sooyoung dengan sopan, Yixing hanya mengangguk.

“Ngomong-ngomong, kenapa tadi berbicara sendiri?” tanya perawat itu lagi, kali ini heran. Yixing menautkan alis, bingung atas pertanyaan yang baru saja diajukan Sooyoung.

“Maksudmu? Aku berbicara dengan seorang teman barusan.”

“Benarkah? Tapi saya melihat anda berbicara dan tersenyum sendiri. Apa anda tidak sadar kalau daritadi orang-orang memperhatikan anda?”

Yixing menatap kedepan, sosok Yifan berbalik dan sekali lagi tersenyum lembut kearahnya. Kali ini disertai lambaian tangan yang mengisyaratkan selamat tinggal.

Omongan Sooyoung barusan tak ditanggapinya. Pandangan mata hitam pemuda China itu kembali pada bunga twinspur yang tergeletak di pangkuannya, twinspur yang akan mengajarkannya untuk ‘mekar’.

Pria yang berada beberapa langkah didepannya itu kembali berbalik, terus berjalan. Dan seiring langkahnya Yixing dapat melihat sosoknya yang perlahan pudar lalu menghilang.

Matanya membulat karena menyadari sesuatu.

Namun detik berikutnya, ada senyum hangat yang kembali terulas di wajahnya.

“Terima kasih, Wu Yi Fan.”

Sekali lagi kalimat itu ia ucapkan.

I was never afraid of the darkness again
My burns were third degree
But I’d been set free
Because grace had finally found its way to me

(Owl City – Hospital Flowers)

-fin-

AN:

/kabur dan bersembunyi di gua/

maaf kalo mengecewakan. saya memang masih perlu banyak belajar ;________; btw, Kris jelas bukan member EXO M disini o.o makanya gak semua nama personil EXO saya sebutin di fic ini. ehehe.

well, Kray/KrisLay/FanXing shipper gak begitu banyakkah diindonesia? :” saya sebenernya nge ship KrisYeol sih. cuma belakangan jadi jatuh cinta sama couple ini. ehehe. saya juga suka TaoRis. haha. buat TaoRis shipper, nanti bakal ada ficletnya TaoRis juga kok XD

sebenernya kepikiran buat bikin prequelnya sih, ngejelasin Kris itu siapa dan dia ada apa sama Lay ._______. perlukah?

next fic will be BaekYeol ^^

buat yang gatau twinspur itu kayak gimana, ini dia

thanks for read, mind to leave comment? kritik dan sarannya ditunggu, supaya saya bisa perbaiki di fic selanjutnya 🙂

i love you~

18 responses to “Hospital Flowers

  1. Waks bagus thor, dibikin squel nya aja thor, ff nya ngegantung. Ditunggu yang BaekYeol nya ya thor ._.

    • prequel maksudnya? waktu krisnya masih hidup gitu ehehe.
      emang sengaja dibikin begitu XD /dar/

      iya. diusahain cepet selesai kok BaekYeol-nya 😀

      thanks for comment! 🙂

    • baguslah kalo suka~
      salam kenal juga, ya ^^
      paling banyak TaoRis, sih. KrisYeol aku juga gak sering nemu o_o

      prequel, maksudnya? ceritanya waktu Kris masih hidup gitu? ehehe. diusahain deh. ^^

      thanks for comment! 🙂

  2. KYAAAA!!! aku juga mau dicium Kris >.< #plakk *digebukin malaikat dalam rangka bulan puasa*
    sebenernya ane bukan KrisLay shipper -.- tapitapitapi…
    Itu ceritanya keren syakalaaaa ^o^
    kalo aku mending gini aja, jadi readers bisa mengarang bebas tentang cerita sebelumnya..
    Keep writing thor!!! 🙂

  3. yaa ampuuuunn ..
    sedikit kaget sih pas sooyoung bilang lay bicara sendiri ,
    serasa mau nangis *lebayyyy
    alur ceritanya ngena banget , beneran dehhh
    kapan2 bikin hunhan ya thor hehehehehehe 🙂

  4. awalnya q ngira lay d rawat d RS cz hemofilia
    untung bukan
    dah mw banjir nie air mata
    ga nyangka lox nie ff yaoi y
    tpi ttep suka kug
    palagi paz part “saat Yifan mendekatkan wajahnya dengan wajah Yixing dan kemudian meniadakan jarak diantara mereka dengan mencuri satu ciuman kecil dibibir pria itu”
    kyyyyyaaaaaaa 🙂
    like it ^^
    ff.a daebak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s