Seasons of The Lucifer [CHAPTER 21] Part. A

Seasons of The Lucifer

Title: Seasons of The Lucifer

Author: LucifeRain / Ayya

Genre: FAMILY – FRIENDSHIP – ROMACE – HURT

Leght: Chaptered

Ratting: G

Main Cast:

Cho Minhye a.k.a Cho Minhyun

Kim Kibum a.k.a Key

Choi Minho a.k.a Minho

Lee Taemin a.k.a Taemin

Kim Jonghyun a.k.a Jonghyun

Lee Jinki a.k.a Onew

Season of The Lucifer [TRAILER] : Click Here

Previous Chapter: All Links / Library

Lucifer

Seseorang berwajah malaikat namun seperti iblis

Hati yang egois

Cinta yang tulus

Kesucian yang keliru

Mengancam

Berulang kali salah seperti malaikat dan iblis

Mempunyai perasaan yang tidak jelas

Lucifer adalah keberanian

~*~*~*~

Setelah menjelaskan maksud kedatangan pada Security akhirnya pintu gerbang terbuka dan mobil Minho melesat memasuki rumah terbesar di Seoul itu. sehabis mendengar penjelasan singkat Sooyoung, ponsel itu langsung terjatuh dari tangan Minho dan ia berbegas lari ke mobilnya untuk mengunjungi rumah ini.

Minho membuka pintu mobilnya, ia mematung sejenak dengan pernyataan mengejutkan Sooyoung yang seakan berputar dikepalanya. Ia melangkah ke teras rumah yang mempunyai desain artistic berseni tinggi itu.

Degub jantungnya meliar dan perasaanya tak karuan, ia belum pernah segelisah ini. seharusnya ia senang disuguhi kenyataan bahwa orang tuanya adalah orang terkaya di korea selatan tapi sebuah kekhawatiran hebat menggerogoti hatinya.

Minho memenekan bel di samping pintu dan tak lama kemudian dua orang pelayang wanita berseragam lengkap membuka pintu dan menyambutnya dengan bungkukan sopan.

“Ada yang bisa kami bantu” tanya pelayan itu setelah menuntun Minho ke ruang tamu.

“Saya ingin berbicara dengan pemilik rumah ini” ucap Minho. Ia memperhatikan sekeliling rumah itu, tak ada satupun foto keluarga yang terpajang disana. Semua perabotan mewah yang menghiasinya terlihat sangat kaku dan seakan hanya menjadi alat ukur derajat sosial mereka.

Minho tidak menyangka ujung dari rankaian masa lalunya menimbulkan kecemasan sehebat ini. bukan karena orang tuanya sangat kaya maka ia berniat menemui mereka tapi ini demi sebongkah perasaan.

Tiba tiba seorang pria paruh baya berkaca mata menghampirinya “Tuan Cho sedang berada di jepang, jadwalnya sangat padat dan sangat sibuk” ucap Pria itu datar.

Minho menghembuskan nafas panjang lalu menatap serius pria tadi “Katakan padanya kalau anak laki-lakinya ingin bertemu” seakan ada gejolak ketika Minho mengucapkan itu, semua terasa asing dan berjalan sangat mengejutkan.

Minho memejamkan mata sejenak dan menghirup nafas dalam, sepintas muncul bayangan Cho Minhyun saat bersamanya bahkan suara tawa gadis itu seolah menggerogoti pikiranya.

Semua menjadi rancu ketika tawa itu terdengar semakin nyata, Minho membuka matanya dan tawa itu tetap terdengar. Kini ia tahu asalnya suara itu.

Tidak.

Jendela besar ruang tamu langsung menghadap halaman belakang rumah, disana terdapat sebuah danau buatan yang tidak terlalu besar dan di dominasi deretan pohon oak dan pine di sekelilingnya.

Di tepi danau terlihat Cho Minhyun sedang bersenda gurau dengan seseorang yang duduk di kursi roda, Minho tidak bisa melihat orang itu karena membelakanginya.

Ketakutanya adalah benar.

Minho berlari menuju pintu ke halaman belakang tanpa memperdulikan pria tadi yang terkejut seusai mendengar ucapanya. Ia terus berlari ke tempat Cho Minhyun berada dan ketika mereka berhadapan tampak jelas semburat kekagetan yang tergores di wajah Minhyun.

Nafasnya terasa sesak bukan akibat berlari namun begitu resah menghadapi Minhyun.

“Minho-ya, kenapa kau disini?”

Minho tak membalas pertanyaan Minhyun, ia langsung mendekap Minhyun dengan tanganya yang mulai mendingin karena begitu panik. “Cho Minhye, dengarkan aku baik baik”

Minho memejamkan mata, menenangkan dirinya sejenak “Apapun keadaanya aku tetap mencintaimu” akhirnya kata itu terucap.

Minho semakin mengeratkan pelukanya, tak peduli dengan Minhyun yang bertanya heran dan pada akhirnya Minhyun berhenti kemudian secara perlahan melingkarkan tanganya di pinggang Minho. Disaat itulah dirinya merasa tenang.

Minho membuka matanya dan ketika itu ia baru menyadari seorang wanita di kursi roda menatapnya. Sorot mata yang biasanya kosong dan wajah tanpa ekspresi selama belasan tahun itu kini terlihat hidup.

~*~*~*~

Tiba-tiba Minhyun melepas pelukan Minho, ia menatap bingung namja itu. semestinya ia merasa senang dengan perkataan itu, tapi melihat Minho yang menegang dan seolah bukan dia membuat Minhyun merasa janggal.

“Minho, kau kenapa?”

Minho menggeleng pelan “Semua ini terlalu rumit”

“Permisi, mari ikut saya sebentar”

Minho menoleh kebelakang san mendapati pria berkacamata yang ditemuinya tadi, pria itu memberi isyarat agar Minho mengikutinya.

Minho mengikuti langkah pria itu, mereka naik ke lantai dua dan memasuki sebuah ruangan berukuran sedang dimana terdapat satu set sofa dan TV flat yang menempel di dinding.

“Silahkan duduk, Tuan Cho ingin berbicara dengan anda”

Minho pun duduk di sofa yang berhadapan langsung dengan TV, sedangkan pria tadi mendekati televisi untuk menyalakanya.

Di layar terlihat seorang pria yang duduk di sofa, Minho memperhatikan wajah itu dengan seksama dan merasa familiar. Karena semakin dilihat wajah itu sedikit mirip dengan Minhyun.

“Annyeong haseyo” sapa Minho dan pria itu membalasnya.

“Kau tahu siapa saya?” tanya pria itu dan Minho mengangguk “kalau begitu kau pasti tahu sedang berhadapan dengan siapa dan apa akibatnya jika bermain-main” Minho mengangguk lagi “atas dasar apa kau berkata bahwa kau adalah putraku”

Minho tampak berfikir menyusun kalimat. “Awalnya saya menemukan selembar koran, disana tertulis tentang kecelakaan yang menewaskan seluruh penumpang dan hanya seorang bayi yang selamat. Setelah saya telusuri, ternyata bayi yang selamat itu adalah saya dan yang membawa saya waktu itu adalah wanita bernama Choi Raena yang dulunya bekerja sebagai suster di salah sau rumah sakit Seoul”

“Saya pun memutuskan pergi ke rumah sakit Choi Raena bekerja siang tadi, di sana Choi Sooyoung –orang tua angkat saya, berkata kalau Choi Raena adalah sepupu jauhnya. Dia juga berkata kalau Choi Raena menyelamatkan saya dari penculikan dan membantu ibu saya melahirkan juga…” Minho terdiam sejenak, ia tidak lagi menatap layar itu. melainkan tertunduk tanpa ekspresi.

“… Choi Sooyoung berkata kalau orang tua saya adalah pemilik dari Chohagle Groups, dan rumah terbesar di Seoul adalah rumahnya”

“Siapa namamu?”

Minho menengadah, menatap wajah pria yang tampak terkejut itu.

“Minho… Choi Minho”

Pria itu menggeleng tak percaya “Satu jam lagi aku akan kesana, tetap disitu”

~*~*~*~

TV sudah tak menyala lagi dan pria tadi meninggalkan ruangan itu, sedangkan Minho masih terduduk di sofa, termangu dalam belenggu pemikiranya sendiri.

Ia telah memiliki pena untuk merangkai jawaban misteri hidup yang tidak pernah pernah terpecahkan selama 18 tahun, namun terlalu sukar untuk menyambung jawaban itu menjadi rancangan kisah yang harus dilalui.

Cklek…

Bunyi putaran gagang pintu terdengar, tapi Minho tak menoleh. Ia baru menengadah ketika seseorang berdiri di hadapanya, Minhyun menghantamnya dengan sorot pilu.

“Aku mendengar semua ucapanmu” segelitir getaran terselip dalam suara itu.

Minho tertunduk, pita suaranya seolah lumpuh dan mengkelukan lidahnya sehingga tak ada bunyi yang keluar.

Setetes bulir air jatuh di punggung tangannya yang tertumpu di atas lutut. Minho menengadah lagi, nafasnya tercekat melihat Minhyun yang tengah menyeka air matanya. Hal itu mendorong Minho untuk berdiri lalu mendekap Minhyun dalam pelukannya.

Isakan yang dipendam Minhyun akhirnya terlepas juga, tubuhnya bergetar hebat pengaruh dari emosi yang tertahan. Ia membenamkan wajahnya di bahu Minho dan menangis disana.

“Mianhae… aku tak menyangka semua akan seperti ini”

Kekacauan yang melanda perasaan mereka adalah sama.

“Ini terlalu mengejutkan… bahkan seperti mimpi buruk” tutur Minhyun disela isakanya. “aku juga menyayangimu” lirihnya pilu.

Minho mengusap punggung Minhyun pelan “Kalau begitu inggatlah aku seperti hari kemarin”

Minho menhela nafas panjang, mencoba meredam desir kekecewaan yang meliputi batinnya. ia harus kuat meskipun harus berdiri di kepingan terakhir perasaanya yang tandus.

“Di hari kemarin kita bebas memiliki perasaan ini, merasa gembira karenanya dan membiarkanya terus berkembang. Tak ada larangan dan kekeliruan akan hal itu, layaknya hari kemarin dan kemarinya lagi”

“Hidupmu dan hidupku akan berubah” Minhyun melepas pelukan Minho secara perlahan lalu terduduk di sofa. Ia mengusap air matanya kemudian membiarkan paru-parunya terisi penuh udara baru untuk menenangkan gejolak perasaanya.

Minho menoleh ke arah Minhyun dan menatap kecewa “Haruskah aku menyesal karena mengungkap masa laluku?”

“Kau menyesal bertemu dengan keluargamu?”

Minho dan Minhyun sama-sama menoleh ke ambang pintu, disana seorang pria mengenakan jas formal berwarna hitam berdiri dan memberi mereka senyum hangat.

Mr.Cho berbalik lalu menjingguk ke luar pintu “Hye Jin-ah, kau mau ikut masuk?” tanyanya “tapi tidak dengan kursi roda itu, kau bukan orang lumpuh!”

Mr. Cho mengulurkan tangan dan wanita itu menyambutnya, tampak jelas bagaimana Kyuhyun menuntun Hye Jin dengan sangat hati-hati. Meskipun sudah berlatih berjalan, tapi tetap saja otot kakinya terasa kaku karena terlalu lama di kursi roda saat ia depresi dulu.

“Eomma sudah sembuh?!” seru Minhyun tak percaya, binar bahagia menghapus kesedihan di sinar matanya.

“Nanti saja penjelasanya, sayang. Ada hal penting yang musti kita bicarakan…” Mr. Cho menuntun istrinya duduk di sebelah kanan Minhyun. “… sebagai keluarga utuh” Mr. Cho tersenyum lalu duduk di kursi tunggal yang menyamping dari sofa tempat Minhyun duduk. Minho pun mengambil posisi duduk disebelah kiri Minhyun.

“Aku bukan tipikal orang yang bisa mengungkapkan perasaan dengan tepat, tapi sekarang aku benar-benar merasa bahagia sekaligus lega”

Minho tersenyum getir “Apa kau tidak meragukanku? Bisa saja aku menipumu atau semacamnya” ucap Minho skeptis.

“Setelah kau mendengar ceritaku, pasti kau akan tahu kenapa aku sangat yakin kalau dirimu adalah Minho kecilku yang hilang”

Mr. Cho menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kemudian membiarkan pikiranya menyorot balik kisah 18 tahun lalu. (MUST READ: The trap of incestuous Marriage Chapter 1 & Chapter 2)

Ringkasan masa lalu mengalun dari mulut Mr. Cho, mulai dari surat wasiat dimana Hye Jin mendapatkan hampir 40 persen warisan dan mendorongnya untuk membeli hutan dan mengambil perkebunan dimana itu adalah mata pencarian warga. Semua demi menyengsarakan Song Hye Jin, saudara tirinya.

Hye Jin selaku target rencana kejinya, ‘menculiknya’ dan membual soal abad 17. Di villa mereka terjebak badai salju, hari-hari mereka lewati bersama dan perasaan itu pun tumbuh. Mr. Cho Juga menceritakan bagaimana ia melamar Hye Jin di hadapan Kakek Song dan disitulah Hye Jin tahu bahwa mereka adalah saudara tiri.

Tentangan juga ia dapatkan dari ibunya, mereka membuat sebuah perjanjian kalau pernikahannya dan Hye Jin baru bisa di daftarkan ke catatan sipil jika anak yang terlanjur dikandung Hye Jin adalah laki-laki, dan selama itu Kyuhyun tak boleh bersikap baik terhadap Hye Jin. Karena ia mengiming-imingi Jacquelyn Cho tentang penggabungan perusahaan dan membuat Hye Jin menderita. Tentu saja hal terakhir hanya kebohongan.

Anak yang dilahirkan Hye Jin adalah laki-laki, ia sempat memperlihatkan pada ibunya. Namun di luar dugaan, ibunya ternyata tak pernah sudi menjadikan Hye Jin sebagai anggota keluarga. Dia membayar orang untuk menculik atau membuang anak itu sehingga pernikahan merekabatal diresmikan.

Choi Raena mengagalkan usaha penculikan itu tetapi sebulan kemudian saat ia hendak mengembalikan Minho kecil kepada ibunya, kecelakaan besar terjadi.

“… aku sama sekali tak menyangka kalau bayi yang selamat itu Minhoku. Sebenarnya aku ingin memastikan, tapi aku tak pernah berhasil menemukan dimana bayi itu” ucap pria paruh baya itu.

Minho masih bergeming dalam duduknya, ekspresinya sama seperti Minhyun, mereka tampak terkejut. Tetapi minho lebih condong tanpa ekspresi.

“Kalau Jacquelyn tahu anak laki-laki yang dilahirkan Hye Jin hilang atau meninggal, dia pasti membuang bahkan membunuh Hye Jin dan Minhye. Karna itulah Minhye terpaksa menjadi Minhyun bahkan setelah Jacquelyn Cho meninggal, status itu tak bisa berubah semudah membalikkan telapak tangan. Semua butuh proses”

“Tapi kami tidak mirip” hanya Minhyun yang buka suara.

“Kalian tidak identik. Minhye mirip dengan Appa, sedangkan Minho mirip Eomma”

Minhyun menatap ibunya yang tersenyum padanya lalu berpaling ke arah Minho, pantas saja dulu saat melihat senyum Minho yang pertama kalinya Minhyun merasa familiar…

“Minho-ya, bukankah kau lahir bulan juni?” Minhyun ingat, awal masuk Dorm, dia diberitahu tentang bulan lahir SHINee. Bisakah itu menjadi satu satunya harapan?…

Minho menggeleng dan saat itu juga harapan Minhyun pupus. “Sebenarnya aku tak pernah tahu bulan lahirku, di yayasan yang menampungku dulu bilang kalau ada beberapa orang yang merawatku usai kecelakaan. Orang terakhir yang merawatku dan yang menyerahkanku ke Yayasan Theresia bilang kalau aku diadopsinya sekitar bulan juni. Mereka memberiku nama Minho karena menemukan nama itu di baju yang ku pakai, sepertinya sengaja dijahit oleh Choi Raena.”

“Lalu bukanya margamu Choi? Bukan Cho…”

“Aku memakai nama Choi Sooyoung karena dia bilang kalau aku adalah anak kakaknya, dan ternyata itu tidak benar. Tapi dia sudah berperan banyak dihidupku” Minho menghela nafas berat “meskipun aku anak keluarga Cho atau bukan, namaku akan tetap Choi Minho”

Mr. Cho beranjak dari duduknya “Tidak apa-apa, aku sudah sangat senang karena kau memakai nama pemberianku dulu” ucapnya lalu berjalan ke arah Minho dan memeluk namja itu layaknya seorang ayah dengan anaknya.

“Bahkan aku tak pernah bermimpi kalau saat-saat seperti ini benaran ada” Mr. Cho menepuk-nepuk punggung Minho.

Sekejap kemudian Minho melepas pelukan itu, semestinya ia senang dengan kenyataan ini bukanya sedih dan kecewa yang melingkupi separuh hatinya “Maaf, tapi aku butuh waktu” ucapnya lalu pergi meninggalkan ruangan itu.

“Minho!”

“Eomma…”

Minhyun menatap miris pada ibunya, wanita itu tak pernah sekalipun memanggil namanya. Ketika Minhyun mengunjunginya, dia selalu meracau bahwa anak yang dilahirkanya adalah laki–laki.

Tapi ketika Minho datang, untuk pertama kalinya dia melihat ibunya ‘hidup’. Tak ada lagi sorot mata kosong pupus asa, tatapan matanya memiliki fokus. Selama ini Minhyun mengira ibunya lumpuh karena tak pernah sekalipun beranjak dari kursi roda, tapi sejak Minho datang… perubahan besar itu terjadi.

Minhyun tak tahu harus merasa senang atau apa, nafasnya terasa sesak karena jika ia menghembuskan nafas normal pasti air mata yang ditahanya ikut terjatuh. Pedih tepat di ulu hati.

“Apa Eomma langsung sembuh karena Minho datang? Seharusnya dia saja yang menjadi anak eomma” suara Minhyun berubah parau, refleks ia menatap langit-langit untuk menahan air yang menggenang di pelupuk matanya. Bukankah yang dikatakanya seharusnya benar? Bila seperti itu dia pasti bisa mengingat Minho seperti hari kemarin dengan leluasa.

Wanita itu menarik Minhyun ke dalam pelukanya lalu mengusap lembut rambut putrinya. Minhyun yang mendapat perlakuan itu langsung dipenuhi rasa haru kerena baru pertama kali ia dipeluk ibunya.

“Tentu saja tidak, mana ada hal klise seperti itu. ini semua karena Minhyun yang sejak pindah ke Seoul jadi sering mengunjungi Eomma dan berbicara pada Eomma meskipun tak pernah Eomma tanggapi. Mungkin selama ini Eomma terlalu stres karena selalu sendirian”

Wanita itu menepuk-nepuk pundak Minhyun lalu mengusapnya pelan “sebulan lebih kau tidak mengujungi Eomma karena ulangan, dari situ Eomma mulai sadar pentingnya kehadiranmu. Kau pasti menderita tidak pernah diperhatikan dan selalu ditolak. Dibantu dokter yang sengaja di sewa ayahmu, ibu mulai bisa semuanya termasuk bersosialisasi dengan para pelayan, dan berjalan lagi”

Minhyun menyeka air matanya lalu menatap ibunya, seulas senyum terlepas begitu saja “Lalu kenapa tadi Eomma terus memasang ekspresi kosong dan diam”

Wanita itu terkekeh pelan “Awalnya Eomma ingin memberimu kejutan, tapi kini malah Eomma yang diberi kejutan”

“Eomma… Saranghae” Minhyun memeluk ibunya.

“Nado Sarangnhae, Cho Minhye”

Kini penolakan yang diterima Minhyun sudah berakhir, tinggal merubah dirinya menjadi Cho Minhye dan semua menjadi tepat. Tapi Minho…

~*~*~*~

Seorang namja dengan kaus V-neck putih berjalan melewati beberapa rumah sambil membawa kantung plastik yang terayun di tangan kananya. Ia tersenyum kecil saat rumah putih berpagar putih yang sudah dihadapannya.

Dua anak laki-laki dan seorang anak perempuan yang rambutnya diikat dua, terlihat sedang bermain di ayunan yang bertengger di dahan pohon besar di halaman kecil rumah itu.

Ketika Taemin membuka pagar, seorang anak laki-laki berlari ke arahnya “Appa!” seru Taehyun.

Taemin mengangkat Taehyun dalam gendonganya lalu mengusap pelan rambut namja kecil itu.

“Appa tumben kemari” ucap Taehyun.

Taemin memang jarang pergi ke rumah ini saat sore hari, karena biasanya sehabis pulang sekolah ia langsung tidur beberapa jam supaya malamnya dapat bangun dan bekerja. Tapi kini dia sudah mengundurkan diri dari pekerjaan itu dan sedang merencanakan sesuatu untuk kedepanya.

“Appa sudah tidak sesibuk dulu, Taehyunnie”

Taemin menurunkan Taehyun, ia membuka kantung plastik di tanganya lalu memberi Taehyun sekotak Koala no machi dan memberi kedua teman Taehyun juga.

“Appa, itu kan masih ada lagi. kenapa kami hanya dikasih satu?” sungut Taehyun sambil menunjuk dua kotak Koala no machi di dalam plastik.

Taemin terkekeh geli “Ini untuk Eomma” jawabnya. Kemarin malam mereka pernah menonton bersama, awalnya Taemin membelikan Taehyun lima kotak Koala no machi tapi Chaerin yang lebih banyak menghabiskanya. Taemin masih ingin tertawa sewaktu mengingat perebutan satu biskuit koala terakhir antara Chaerin dan taehyun, tapi akhirnya Taemin yang merampas biskuit terakhir itu dan mendapat hadian jitakan maut setelahnya. Childish Family.

“Eomma ada dirumah kan?” Taehyun mengangguk menanggapi pertanyaan Taemin “sana main lagi” sambung Taemin sembari mengusap puncak kepala Taehyun.

Setelah memasuki rumah, Taemin langsung mengedarkan pandanganya ke setiap ruang yang di dominasi warna coklat dan putih itu namun tak mendapati Chaerin disana, dan sama halnya dengan di dapur. Saat mendapati pintu kamar Chaerin yang terbuka, Taemin langsung berjalan ke arah sana dan benar saja ia menemukan gadis itu terlelap di atas tempat tidur dengan posisi kaki berhadapan dengan sandaran tempat tidur.

Taemin melangkah menuju meja belajar Chaerin untuk meletakan kantung plastik yang di bawanya. Melihat tumpukan berkas dan surat di atas kantung plastik yang diletakkanya, Taemin agaknya penasaran.

Dibacanya tulisan yang mendominasi di beberapa kertas, semua tentang Schoolarship dan Birmingham University, Inggris. Taemin pun langsung membuka lembar kertas itu dan disana dikatakan bahwa Chaerin Lee mendapatkan beasiswa untuk lanjut di univesitas di inggris, seketika Taemin merasa bangga.

Sejak dulu Chaerin memang pintar dan selalu menduduki peringkat, itulah sebabnya dia langsung diterima menjadi manager.

Taemin berjalan ke arah tempat tidur, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Chaerin dengan posisi terbalik atau arah berlawanan.Taemin menopang tubuhnya dengan bertumpu pada pada kedua siku.

“Jagiya, ireona…” bisiknya pelan.

“ireona…”

Karena Chaerin tak kunjung bangun, Taemin pun mengecup kening gadis itu dan sukses membuat Cherin mengeliat kecil tapi hanya sebentar karena setelahnya dia kembali tak bergerak.

Taemin mengerucutkan bibirnya kesal “Chaerin Noona, kau harus bangun atau kau berhutang afternoon kiss padaku”

Ancaman Taemin kali ini membuat Chaerin mengerjap pelan, ia menatap Taemin sayu akibat kelopak mata yang masih terasa berat. “Afternoon kiss? istilah macam apa itu” desisnya setengah mencibir.

Taemin tersenyum lebar menanggapi itu “Cukkhae, kau hebat mendapat beasiswa. Aku bangga padamu” ucap Taemin lalu mencium Chaerin.

Chaerin menatap kearah lain, tercenung. “Aku tidak akan mengambil beasiswa itu, aku tidak mungkin membiarkan Taehyun sendirian. Kau pasti sibuk”

Taemin menggeleng “Jangan cemaskan kami. Beberapa minggu yang lalu Choi sooyoung menawariku supaya Taehyun diserahkan padanya karena aku pasti akan sibuk di awal kuliah dan kau juga selalu sibuk. Bahkan Taehyun sering di jemput menjelang malam kan?”

“Mianhae….” Lirih Chaerin.

“Kau tidak perlu minta maaf, mau menjaga Taehyun saja aku sudah berterima kasih. Sepertinya aku akan menerima tawaran Choi Sooyoung, lagipula Taehyun bisa menjadi teman untuk Eunmi, anak perempuanya”

“Tapi…”

“Chaerin-ah, aku tahu kau sangat ingin kuliah di luar negeri. Pergilah atau aku akan sangat marah dan merasa bersalah”

Raut wajah Chaerin masih tampak ragu “Aku akan menunggumu” ucap taemin akhirnya.

Chaerin tersenyum sekaligus merasa sangat lega. Dia tahu dibalik penampilan seorang lee Taemin yang kekanak-kanakan, namja itu akan sangat dewasa bila mengangkut hal serius. Lee Taemin bisa membuktikan tanggung jawab besarnya terhadap Taehyun dan Chaerin percaya bahwa Taemin bisa bertanggung jawab atas semua ucapanya.

Chaerin mengangkat kedua tanganya lalu menelusuri rambut Taemin dengan jemarinya.

 

 

( Imagine that is Taerin Couple –Taemin & Chaerin )

Kepala Taemin sedikit maju dan itu membuat gerakan bola matanya turun diikuti dengan kelopak mata yang hanya menyisakan sedikit ruang pada matanya, sama halnya dengan mata Taemin.

“Kau memotong rambutmu?” tanya Chaerin halus.

“Sudah sedikit panjang, karena itulah aku memotongnya. Lagi pula aku kan sudah dewasa, bahkan kita sudah punya Taehyun dan aku sudah dipanggil Appa sejak umur 15 tahun” gurau Taemin

Charin tertawa kecil mendengar ucapan Taemin “berarti juga kau harus merubah rambut coklat almond-mu seperti aslinya, hitam. Taemin-ah, kau masih muda…”

“… dan tampan, aku tahu itu” sambung Taemin kemudian tersenyum lebar dan memberi dampak serupa pada Chaerin.

Taemin menyentuhkan bibirnya di dagu Chaerin, secara otomatis bibir Chaerin juga menempel di dagunya. Kemudian ia mengecupnya begitu pula dengan Chaerin.

“AAAAAAAAKK! APPA! EOMMA! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!”

“TAEHYUN!!!”

Akhirnya mereka pun gagal melakukan puncak dari kegiatan mereka tadi ._.

 

~*~*~*~

Onew tampak membolak balik kertas di tangannya dengan gusar, ia mengacak-acak rambutnya lalu menghempas tumpukan kertas itu ke atas tempat tidur. Ia berjalan keluar kamar dan menemukan Jonghyun yang sedang minum di mini bar.

“Jonghyun-ah, dimana buku yang kupinjamkan padamu kemarin? Mungkin partiturku ada yang terselip disitu”

Jonghyun meletakkan gelasnya “Tadi dipinjam Key, sepertinya mahluk satu itu masih berada di kamarnya” balasnya.

Onew mengangguk lalu berjalan ke kamar Key, sesampainya di dalam dia tak menemukan seorangpun. Namun bunyi kucuran air dari kamar mandi membuatnya berasumsi bahwa Key ada disana.

Ia pun berinisiatif untuk mengambil buku itu karena ia memerlukanya sekarang. Sesampainya di atas, Onew langsung berjalan menuju meja belajar Key dan mencari di deretan buku yang tersusun rapi disana tapi tak menemukan apa yang diinginkanya.

Melihat lemari yang ternyata satu set dengan meja belajar, Onew langsung membuka lemari itu dan menilik pada tumpukan buku di sisi atas. Benar saja, buku bersampul biru yang dicarinya terselip disana.

Saat Onew hendak menutup pintu lemari itu, secara kasat mata ia menangkap siluet sebuah benda berbeda. Lemari itu terdiri dari empat sekat dan dipenuhi tumpukan buku, tapi sepertinya ada pantulan sinar kecil di sisi bawah.

Onew pun berjongkok didorong rasa penasaran, sejurus kemudian ia mendelik kaget ke arah kotak kaca yang di dalamnya tergeletak topeng putih yang ditaburi kelopak bunga Eidelweis.

“Hyung…”

Onew terkesiap mendengar panggilan itu, refleks ia menoleh ke belakang dan mendapati Key berdiri di puncak tangga seraya menatapnya nanar. Sepertinya Onew telah melanggar batas privacy-nya.

“Aa… Key…” Onew agak tergagap, ia pun berdiri menatap Key “kenapa topeng Juliette pertamanya Jinhya ada padamu?”

 

~*~*~*~

Seorang namja menumpukan kedua sikunya di pagar pembatas sebuah Flyover, dia menyatukan telapak tanganya lalu menyandarkan keningnya disana. Tindakan kedepan menjadi bahan spekulasinya, tak dinaya akan berujung serumit ini.

Kendaraan yang berlalu di dibelakangnya saling bersiut dengan irama berbeda, deru angin malam merubah letak helai rambut dan menggelitik permukaan kulitnya. Tetapi dirinya seolah tak merasakan semua itu, terlalu sibuk dalam angan terselubung.

Tiba-tiba seseorang menyandar pagar pembatas tepat di sebelahnya, Minho menoleh refleks. Sekejap kemudian ia tertegun, wanita yang merupakan ibu biologisnya tampak menengadah menikmati suguhan langit malam.

“kau menyukai adikmu sendiri?”

 

__TBC__

Gomennasai Minna-san *bungkuk-bungkuk*

Gomen karena telat banget ngepostnya, gomen karena ceritanya bener bener norak, gomen karena banyak typo. Gommenasai…

Sumpah aku bingung bgt bikin scene minho ketemu keluarganya itu gimana, bener bener gak pede sama cerita ala skenario sinetron gagal ini.

Kenapa aku bagi 2? Karena disini terselip side story dan pastinya bakal panjang bgt dong bacanya *takutnya pada butek bacanya*… lagi pula part 21 itu juga panjang >.< Gomawo udah ngikutin dari awal. SoL itu Viewers-nya nggak sampe ribuan kayak ff populer di ffi. Tapi komenya hampir menyamai itu dan bikin aku mikir kalo ff ini sidersnya sedikit. Aku bangga banget punya readers SoL yg pastinya ngehargain setiap author yg nulis ff dan udah rela meluangkan waktu ngikutin cerita gadungan yang udah sebanyak 16 part ini

Part B akan ku publis paling cepet besok, paling lama 3 hari lagi.

 

Salam penulis amatiran,

 

LucifeRain (Ayya)

Advertisements

85 responses to “Seasons of The Lucifer [CHAPTER 21] Part. A

  1. Itu topengnya Jinhya ?? Jadi.. jadi…. jadiiiii. …. selama ini ternyata ?? *gak sanggup nerusinpikiran sendiri. Tapi kok waktu jinhya ketemu Key, phobianya kambuh ???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s