Seasons of The Lucifer [CHAPTER 21] Part. B

 Seasons of The Lucifer

Title: Seasons of The Lucifer

Author: LucifeRain / Ayya

Genre: FAMILY – FRIENDSHIP – ROMACE – HURT

Leght: Chaptered

Ratting: G

Main Cast:

Cho Minhye a.k.a Cho Minhyun

Kim Kibum a.k.a Key

Choi Minho a.k.a Minho

Lee Taemin a.k.a Taemin

Kim Jonghyun a.k.a Jonghyun

Lee Jinki a.k.a Onew

Season of The Lucifer [TRAILER] : Click Here

Previous Chapter: all link / library

WARNING:

Aku akan mengutuk  siapa saja yang memplagiat FANFICTION INI, bahkan mencuri idenya sekecil apapun itu. Aku tidak sudi, dan akan meneror siapa saja orangnya dengan cara saya sendiri. Tolong hargai setiap jerihpayah penulis untuk menciptakan ide sebuah FF sejelek apapun itu, insprirasi boleh tapi kalau bedanya hanya sedikit, tentu itu adalah pelaku tindak plagiat. #backsound Bang Napi – Waspadalah Waspadalah! -LUCIFER-

Sepertinya baca Chapter ini sambil dengerin Only Hope-nya Mandy Moore asik deh 😀 atau sambil dengerin Instumental-nya Yiruma ^^

selamat membaca ^^

 

Lucifer

Seseorang berwajah malaikat namun seperti iblis

Hati yang egois

Cinta yang tulus

Kesucian yang keliru

Mengancam

Berulang kali salah seperti malaikat dan iblis

Mempunyai perasaan yang tidak jelas

Lucifer adalah keberanian

~*~*~*~

Onew pun berjongkok didorong rasa penasaran, sejurus kemudian ia mendelik kaget ke arah kotak kaca yang di dalamnya tergeletak topeng putih yang ditaburi kelopak bunga Eidelweis.

“Hyung…”

Onew terkesiap mendengar panggilan itu, refleks ia menoleh ke belakang dan mendapati Key berdiri di puncak tangga seraya menatapnya nanar. Sepertinya Onew telah melanggar batas privacy-nya.

“Aa… Key…” Onew agak tergagap, ia pun berdiri menatap Key “kenapa topeng Juliette pertamanya Jinhya ada padamu?”

Key tersentak sekaligus membeku setelahnya, ia menatap Onew lurus-lurus seolah mencari celah kebohongan disana. Namun paras yang biasanya Innocent ketika bercanda itu malah memasang ekspresi sebaliknya, alisnya bertaut tak kentara.

Key melangkah ragu ke arah Onew, matanya menyorot rendah kebawah menyelip arti bahwa dirinya tengah dihantam berbagai spekulasi yang berujung buntu. Rasa senang menggelitik namun jamahannya hanya sampai ambang hati, tak dinaya ulu hati masih berupa tanda tanya beku.

“Hyung… kau yakin Eidel Mask itu punya ‘orang’ yang kau sebut?” tanya Key menghindari kata gadis, dan sebangsanya. Ia ingat betul bagaimana pertemuanya dengan Jinhya beberapa bulan lalu, dan itu berjalan dengan sangat buruk.

“Tentu saja, aku melihat saat Jinhya dinobatkan menjadi Juliette dan topeng itu sebagai penghargaanya.” terang Onew “tapi beberapa hari setelahnya, ku dengar topeng itu hilang. Key, dari mana kau dapatkan topeng itu?” terselip aksen selidik dari nada bicara Onew, dan Key sangat bisa menangkap tatapan tajamnya meskipun Onew menutupinya dengan senyum hampa.

“Kalau benar itu miliknya, berarti Choi Jinhya mahluk terkutuk –oh hell, maksudku gadis yang ku cari selama ini.” ungkap Key dan Onew sangat bereaksi dengan kalimat itu.

“Kau… Venustraphobia?” Onew mengernyit.

Key tersenyum simpul “Ada seorang gadis yang senyum dan aromanya dapat ku nikmati, awalnya aku menganggap itu fatamorgana belaka. Tapi dia meninggalkan Eidel Mask sebagai jejak, dia harapanku untuk sembuh, Hyung!” suara Key melunak.

Onew terduduk di tempat tidur Key, lalu menengadah menatap namja itu. “Kau mau memastikanya?”

“Hyung punya fotonya?”

“Tentu saja” Onew meraih ponselnya kemudian memainkan ibu jarinya di atas layar sentuh itu.

“Hyung…” panggil key, Onew hanya berguman “Tentu saja-mu itu ambigu.”

“Eh?” Onew kembali menatap Key yang membalasnya intens.

“Kau menyimpanya dalam arti general karena banyak yang memilikinya, atau memiliki arti special.

Skak mat. “Ahaha” lagi-lagi Onew menutupi kegelagapanya dengan tawa hambar. “bagaimana kalau kita melakukan video call dengan Jinhya?” sarannya, Key mengangguk.

Onew kembali menyibukan diri dengan ponselnya “Hyung, bagaimana kalau orang itu adalah gadismu” sela Key. Onew tak merespon, namun sekejap kemudian ia berkata sarkastis “mungkin dia adalah takdirmu, dan dia bukan gadisku.”

Takdir? Aku lebih suka menyebutnya kebetulan.

Kebetulan. Bertepatan dengan selesainya perkataan Onew, video call itu terjawab.

“Yoboseyo? Onew? ada apa sampai mem-video call?” kata Jinhya dengan aksen ceria seperti biasanya.

Onew tersenyum, sebenarnya bisa saja ia melakukan panggilan biasa. tapi rencana video call itu langsung tercetus. Tak dipungkiri, ketika melihat Jinhya ia merasa apa yang dilakukanya tepat.

“Ada sesuatu yang ingin ku tanyakan padamu.” intonasi Onew berubah serius “Topeng dari kelopak bunga Eidelweis itu milikmu, kan?”

Mata Jinhya melebar kaget sekaligus heran. “Topeng juliette itu? nde, tapi sudah lama hilang.”

“Ada pada Key.”

“MWO?!” Jinhya tampak terkejut, sedangkan Key menyandarkan tubuhnya ke dinding sambil melipat tangan di depan dada dengan tatapan mengarah pada Onew. Menunggu kelanjutan…

“Apa Key ada disana? Aku ingin bertanya satu hal.”

Onew menyerahkan ponselnya pada Key, tapi namja itu menolaknya kemudian berkata pada Jinhya “ponsel itu di loudspeaker, aku bisa mendengarmu dengan jelas.”

“Ahh mianhaeyo… aku lupa tentang Phobiamu.” sesal Jinhya kemudian “Key… apa kau yang menemukan topeng itu di luar asrama SShall? Kau melihat seorang gadis bergaun putih yang memakainya?”

“Kau benar.”

“Oh! Aku tak percaya ini! gadis yang memakai topeng itu… Cho Minhye, tetapi bukan Minhyun.”

Key terkelu.

“Kau yakin?!” Onew dan Key tampak memasang raut kekagetan yang sama, mereka menatap satu sama lain.

“Sangat yakin! dia pernah bercerita padaku, jadi waktu itu…”

__FLASHBACK__

“err… Jinhya, kau yakin dengan semua ini?”

Seorang gadis mematut diri di depan cermin besar seukuran dirinya. Ia terus memutar tubuh dan melepas senyum yang tak mampu di tahannya. Untuk pertama kali dia bangga menjadi seorang gadis.

Gadis itu bukan memakai gaun elegant dengan pernak-pernik menyilaukan mata, dia hanya memakai gaun sederhana berwarna putih gading sepanjang lutut yang terbuat dari kain Slik bermodel V-neck. Bagian lengan gaun itu sepanjang siku dan terbuat dari kain Lace transparan yang dipenuhi sulaman motif floral, sedangkan di bagian pinggang sampai bawah gaun dilapisi kain Georgette berwarna senada yang bergelombang dan dihiasi motif Korsase kecil di bagian bawahnya.

“Percaya padaku, kau sangat cantik Min-ah.” Jinhya melangkah kesebelah gadis itu, dan melihat pantulan mereka di cermin. Ia sendiri mengenakan gaun berwarna Amaranth Pink dengan potongan Ball Gown klasik. Singkat kata, mereka sama-sama cantik.

Jinhya tersenyum lebar mengamati hasil make over-nya pada Cho Minhye. Rambut palsu panjang berwarna hitam yang disematkanya ke kepala Minhye tampak menyerupai rambut asli, ia hanya mempoles make up natural dan terkesan sangat lembut untuk wajah Minhye.

Gadis yang selalu merasa hidupnya terkutuk karena harus berpenampilan layaknya laki-laki itu, kini benar-benar terlihat seperti Lady.

“A-ah… Boleh aku memanggilmu Minhye?” guman Jinhya.

“Tentu saja, aku sangat senang dengan itu.” Minhye tersenyum “tapi, aku merasa sedikit risih.” timpalnya seraya membenarkan ujung rambut yang melingkar-lingkar itu.

“Aku melakukan ini bukan untuk mendengar keluhan atau gerutuanmu.” Jinhya memberengut dan dibalas ringisan oleh Minhye “coba kutanya, apa kau pernah memakai gaun sebelumnya?” tanyanya tajam dan Minhye menggeleng kaku.

“Inggat ya, OxyGEn itu disiarkan langsung di saluran tivi lokal. Di mobil nanti kau harus menyaksikanya, setelah pengumuman The Lord and Juliette kau baru boleh masuk karena disana setiap gadis akan memakai topeng dan itu adalah pesta topeng atau acara perpisahan dengan murid tahun ketiga. Jadi nikmatilah pesta pertamamu.”

Minhye mengangguk paham “Kau sudah mengatakan itu ribuan kali.” ujarnya hiperbola.

~

Minhye membuka pintu mobil lalu berjalan ke gedung aula di kawasan SShall yang digunakan untuk Oxyferic Grand Event yang tidak terlalu jauh dari tempat mobilnya diparkir.

Sebenarnya dia masuk kesini buka secara ilegal, semua berawal dari ide Jinhya. Mereka memanfaatkan fakta bahwa Chohagle group salah satu sponsor terbesar acara ini dan dari pihak panitia mengirim surat undangan sebagai tamu kehormataan. Surat undangan itulah yang meloloskan Minhye dari pemeriksaan ketat untuk masuk ke area SShall, sedangkan para murid hanya menunjukan identitas pelajarnya.

Minhye memasang topeng berwarna pearl maroon, sebenarnya tidak cocok dengan gaunya tapi hanya topeng ini yang ada di rumah Jinhya. Selain berstatus tamu undangan, dia juga menyamar sebagai pelajar karena para tamu tidak mengenakan topeng dan pulang setelah pertunjukan OxyGEn selesai.

Pengumuman sudah dilakukan dan Minhye merasa bangga karena Choi Jinhya terpilih menjadi Juliette OxyGEn ke-27. Sangat jarang murid tahun pertama bisa mendapatkan gelar itu.

Tapi Jinhya memang pantas digelari Juliette untuk OxyGEn kali ini, sejak awal datang dirinya sudah menjadi pusat perhatian karena sangat cantik meskipun wajahnya di tutupi topeng, terlebih banyak yang memuja senyum manisnya. Apalagi ketika Jinhhya tampil di lantai pertunjukan, semua dibuat terpukau oleh bakatnya.

Pintu aula dibuka oleh dua orang penjaga yang juga memakai topeng sebagai ciri khas acara. Ketika Minhye melangkah masuk, dirinya langsung terkesima melihat Ballroom yang didekorasi sedemikian rupa, terutama pada orang-orang yang mengenakan gaun maupun jas atau pakaian semi formal untuk pemuda.

“Cantiknya…” guman Minhye tanpa sadar. Dia sangat terpesona melihat keindahan dari setiap gaun dan riasan yang dikenakan. Manik-manik, kristal, renda tampak menghiasi setiap gaun.

Segelintir rasa iri menyusup, namun cepat-cepat ia tampik. Menjadi seperti ini saja sudah lebih dari cukup bagi Minhye.

Kepala Minhye bergerak pelan mengikuti lantunan piano yang mengiringi pesta dansa. Pasangan yang berdansa dengan topeng yang masih melekat itu membuat iri saja, guraunya dalam hati.

Minhye berjalan menuju meja panjang yang dipenuhi makanan kecil dan berbagai minuman di atasnya. Dia mengambil Fruit punch kemudian menikmatinya seraya mengedarkan pandang mengamati setiap orang.

Dirinya semakin larut terbawa alunan musik, sebenarnya bukan hanya hal itu yang membuatnya nyaman. Sejak tadi ia mengamati seorang namja yang menjadi incaran para gadis, tetapi namja itu dengan tenangnya berdiri di sudut aula tanpa memperdulikan tatapan para gadis yang memburunya.

Namja itu sangat memikat, tuxedo melekat pas di tubuh tingginya dan topeng berwarna hitam dengan garis putih di setiap lekukan membuat pesonanya semakin terpancar meski tanpa memperlihatkan wajahnya. Kasat mata sekalipun, semua pasti yakin orang itu sangat tampan.

“A~ah… namja itu!” Minhye tersentak menyadari Jinhya yang sudah ada di sebelahnya “aku tahu kau mengamatinya sejak tadi.” dibalik topeng itu Minhye dapat melihat mata Jinhya yang menyipit menatap curiga ke arahnya. Saat itu Minhye merasa seperti seorang anak kecil yang tertangkap makan puding sebelum menyantap makanan utama.

“Ku beritahu padamu satu hal. namja itu,” Jinhya menarahkan dagunya pada namja tadi “baru saja ditinggal pergi kekasihnya, karena itulah dia bermuram durja disana. Hahaha… kalau saja pacarnya masih ada pasti sudah jadi sainganku untuk mendapat gelar Juliette.” paparnya seraya tertawa.

“Ah, begitu. Omong-omong, selamat ya kau menjadi Juliette.” sorak Minhye lalu memberi pelukan singkat untuk Jinhya. “kau memang pantas mendapatkan gelar itu!”

Jinhye tersenyum lebar “Gomawo, ku kira kau tidak menyaksikanya.”

“Tentu tidak, maaf aku tidak mengucapkan itu lebih dulu.” kemudian Minhye menatap Jinhya lekat dan merasa janggal karena gadis itu masih memakai topeng berwarna senada dengan gaunnya.“Kemana topeng penghargaan itu?” tanya Minhye, ia ingat betul topeng itu warna putih.

“Topeng itu terbuat dari bunga Eidelweis, kau kan tahu aku alergi bunga. Ish! Tidak elit sekali!” Jinhya menggerutu.

Kali ini giliran Jinhya yang mengamati Minhye lekat “Ah, benar dugaanku! Topeng pearl maroon itu merusak penampilamu.” komentarnya.

Minhye mengernyit heran kala Jinhya menyodorkan sebuah kotak padanya “Pakai saja topeng Juliette-ku.”

“Eh? Tidak usah, Itukan punyamu.” tolak Minhye.

“Sudahlah, lagi pula kau mau aku bersin-bersin karena alergi-yang-sama-sekali-tidak-elit-ini?” timpal Jinhya disertai pelototan. “pakailah, mungkin hanya ini kesempatanmu bisa berpakaian seperti ini. setidaknya kau punya kenangan bagaimana cantiknya dirimu.”

Minhye tersenyum, Jinhya memang sangat baik padanya. “Jinhya-ah, Jeongmal Gomawo.” ucapnya setelah menerima kotak itu.

Tiba tiba Jinhya mendekatkan wajahnya, berbisik pada Minhye. Beberapa kali sepertinya Minhye menolak keinginan Jinhya, tapi gadis itu tetap bersih keras. Dan akhirnya Minhye mengangguk sebelum Jinhya pamit pergi.

Minhye pun memilih meninggalkan ruangan itu untuk berganti topeng, tentu saja tidak etis jika ia mengantinya didepan umum.

~*~*~*~

Tempat yang Minhye datangi sangat sepi, dia melangkah melewati pilar-pilar putih yang terlihat kokoh menopang tepi atap bangunan yang berbentuk castle, dinding bangunan itu yang dihiasi jendela berkaca gelap dan tampak memantulkan pendaran sinar bulan yang berkilau cemerlang.

Minhye menganti topengnya secara perlahan lalu mengamati pantulan dirinya di depan kaca jendela. Tidak terlalu jelas memang, tapi dirinya cukup puas karena topeng yang terbuat dari kelopak bunga Eidelweis itu sangat indah dan sangat pantas di kombinasikan dengan gaunya.

Minhye memutar tubuhnya di depan kaca, bibirnya melengkung membentuk senyum lebar ketika ia kembali menatap pantulan dirinya. Ia belum pernah merasa sesenang ini, rasanya hari ini seperti mimpi.

Ia selalu mengira “Cho Minhye” sudah benar-benar terkubur dalam kekelaman hidupnya. Namun sekarang ia menemukan celah untuk menjadi dirinya sendiri, keluar dari hayalan sederhana yang terus menjauh ketika dijangkau.

Meski samar, Minhye dapat melihat siluet seseorang tepat dibelakangnya. Sontak ia pun berbalik dan seketika itu juga Minhye mendapati seorang namja dengan tangan terjulur ke arahnya.

What are you doing?”

Namja di hadapanya terdiam menatapnya. Wajah namja itu tak terlihat jelas karena ia membelakangi sinar bulan yang menjadi satu-satunya penerang disana, tetapi sorot mata namja itu menaut matanya dalam diam. Membuat sekujur tubuhnya terasa beku untuk bergerak.

You approached me with an unfamiliar face.

Everything was taken from me by that first glance.

I have changed, you have switched everything.

 

I’m going crazy, please tell me that you came to me.

Namja itu berkata pelan dan tanpa ekspresi sama sekali, tetapi dia memiliki sorot mata yang tajam dan menusuk, seolah berinteraksi dengan bahasa tersendiri. Seperti memiliki dua sisi… dan kalimat yang barusan dikatakanya, Minhye merasa namja itu benar-benar gila.

“You’re nuts! You look like…” Minhye mulai berjalan “LUCIFER.” dan kata itu terlepas ketika tepat melewati namja tadi.

Lucifer. Sebutan itu tercetus mungkin karena didasari karena sikap yang bertolak belakang, seperti Lucifer yang memiliki dua sisi.

Minhye tahu betul kisah Lucifer. Sesosok malaikat yang ingin memiliki kedudukan lebih tinggi dari Tuhan, karena itu dia dibuang ke dunia dan menjadi iblis pertama atau raja iblis. Hanya Lucifer yang memiliki keberanian besar menantang Tuhan, meskipun keberanian itu disalah gunakan dan berakibat sangat fatal. Memiliki dua sisi, malaikat dan iblis.

 

Tanpa Minhye ketahui Key membalas kata terakhir itu dengan seringai yang sulit di artikan. Itu adalah sebuah kata kunci.

~

After a thousand times, I still think the same.

See, who’s gonna protect you in the end?

(SHINee – stranger)

__FLASHBACK END__

“… yah, seperti itulah ceritanya. Setelahnya Min-ah berkata kalau topeng yang dikenakanya terlepas dan jatuh. Saat ia mencarinya topeng itu menghilang” cerita Jinhya panjang lebar.

“Sebenarnya aku ragu kalau topeng itu hilang. Tidak mungkin sebuah topeng penghargaan memiliki pengait yang mudah putus.”

Key merampas ponsel Onew lalu menatap Jinhya tajam “Maksudmu?!” persetan dengan phobia. Kali ini Key tak dapat mengontrol pertahananya untuk menghindar dari seorang gadis.

Jinhya tersentak kaget mendapat serangan dari Key “Aku hanya menebak tadi, sebaiknya kau bertanya langsung pada Cho Minhye.”

Key mengembalikan ponsel itu ke tangan Onew, beberapa saat kemudian video call itu berakhir. Onew memandanganya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Key… kau bisa berbicara pada yeoja, bahkan melihatnya. Apa phobia-mu benar-benar sembuh?”

“Kurasa belum. Kau tenang saja Hyung, semua ini bukan karena gadismu tetapi karena seorang gadis yang dibicarakan gadismu.”

~*~*~*~

Tiba-tiba seseorang menyandar pagar pembatas tepat di sebelahnya, Minho menoleh refleks. Sekejap kemudian ia tertegun, wanita yang merupakan ibu biologisnya tampak menengadah menikmati suguhan langit malam.

“Kau menyukai adikmu sendiri?”

Minho tersentak mendengar kata-kata Hye Jin. Ia menelan ludah, berusaha mengatur nafas yang mendadak tercekat di dada. Pertanyaan… atau lebih tepatnya pernyataan itu seperti menusuk-nusuk perasaanya.

Sorot mata Minho berubah hampa. Kenyataan bahwa Minhye adalah saudaranya, menerjang dan menciptakan rasa perih dimata sekaligus membuatnya hampir tidak bisa bernafas. Emosi yang sejak tadi tertahan, kini muncul kembali ke permukaan dan menerjang dengan rasa sakit di dada yang menggelisahkan.

“Aku tahu kau butuh waktu untuk menerima keluargamu, aku juga tahu kau butuh waktu untuk memanggilku ibu. Tapi bolehkah aku mendapat pelukan hangat, karena hari ini pertama kalinya aku melihat putraku”

Minho menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskanya pelan untuk menenangkan diri, ia mengangkat wajah menatap Hye Jin. Kakinya melangkah secara perlahan, kemudian tanganya terjulur memeluk Hye Jin.

Awalnya Minho ingin mengutuk takdir, namun saat ini ia teramat mensyukurinya. Minho memejamkan mata sementara rasa lega yang hebat mengaliri perasaanya, bahunya bergetar pelan dan berefek pada air mata yang tak mampu lagi ditahanya. Emosinya terlepas dan meninggalkan jejak yang menenangkan.

Minho tak pernah memanggil seseorang dengan sebutan Ibu atau Ayah bahkan untuk Hyukjae dan Sooyoung sekalipun. Tapi ia tahu, suatu saat nanti dirinya pasti akan menggunakan sebutan itu. Yang jelas bukan sekarang waktunya.

“Minho, kau harus bersyukur. Mencintai seseorang bukan berarti memilikinya, tetapi kau ditakdirkan untuk menyayangi saudaramu dan itu berarti kau tidak akan kehilanganya. Sepasang kekasih memiliki kemungkinan untuk berpisah, tetapi saudara takkan bisa terpisah karena mereka memiliki ikatan istimewa.”

Minho mengusap pipinya, ia bernafas dengan sangat lega karena rasa sesak di dadanya seakan berkurang. Beberapa detik kemudian pelukan itu terlepas dan Minho langsung tersenyum pada Hye Jin. Ibunya benar, ini tidak seburuk yang ia pikirkan.

“Kau tampan.” Puji Hye Jin, Minho menyunggingkan senyumanya lagi.

“Ahh~” Hye Jin berbalik dan bersandar pada pagar pembatas, ia mengantungkan tanganya di luar pagar dan mengamati setiap mobil yang berlalu-lalang dibawah. “Seoul banyak berubah,” Komentarnya “sudah berapa lama aku tak berkeliling Seoul? Rasanya seperti orang kolot yang datang dari abad 17 dengan mesin waktu.” gerutunya.

Minho tertawa kecil menanggapi perkataan Hye Jin, wanita itu berhasil menghapus suasana hari yang menyelubungi mereka tadi dengan gurauannya. Ekspresi Hye Jin membuat Minho merasa seperti sedang berhadapan dengan Minhye.

“Selama ini kau dan Minhye di asrama kan? Seingatku Minhye sering bercerita tentang teman temanya. Bisa kita kesana?”

“Baiklah, nanti akan ku perkenalkan dnegan teman-temanku.”

“Apa tempatnya jauh?”

Minho berpikir sejenak lalu berkata, “Tidak bisa dibilang dekat, tapi tidak jauh.”

Hye Jin mengangkat bahu. “Kalau begitu kita berjalan saja.”

Sepanjang perjalanan Hye Jin tampak sibuk mengutak-atik ponsel berlayar penuh ditanganya, bahkan ia sesekali mengaruk kepalanya yang sama sekali tak terasa gatal. Minho yang menyadarinya lantas bertanya, “Ada apa?”

“Benda ini menyebalkan, sudah berulang kali aku salah menekan tombol.” gerutu Hye Jin, kontan Minho pun tertawa. Beberapa detik kemudian Hye Jin bersorak heboh, “akhirnya bisa juga!”

“Mengirim pesan?” tanya Minho, Hye Jin mengangguk.

“Untuk sopir yang menunggu tadi” ujarnya lalu memasukkan kembali ponsel ke dalam saku. Wanita itu mengedarkan pandang ke sekeliling, beberapa detik kemudian pandanganya tertuju pasa sebuah kedai yang lumayan ramai.

Hye Jin menarik tangan Minho lalu berseru, “Ayo kesana!”

Mereka mendatangi kedai yang menjual camilan khas korea, berselang beberapa menit akhrinya Minho dan Hye Jin meninggalkan kedai itu dengan kantung plastik berisi camilan.

“Apa harga berubah drastis selama 18 tahun? Dulu harganya hanya lima ribu dan sekarang dua puluh ribu!” Hye Jin memberengut.

Lagi-lagi Minho tak dapat menahan tawanya, dia benar-benar seakan berhadapan dengan Minhye. Cho Minhye, sepertinya aku tahu sewaktu dewasa nanti kau akan seperti apa.

Hye Jin memicingkan matanya menatap Minho. “Apa aku kekanak-kanakan? Baiklah, harus kuakui itu! mungkin karena depresi aku kehilangan masa-masa dewasa, atau sebut saja masa tua.”

Minho menghentikan tawanya lalu berkomentar, “Aku belum pernah mendengar hal seperti itu.”

Hye Jin mendesah. “Kau benar! Mungkin ini karena sifatku, atau aku tertular virus iblis dan virus percaya diri akut ayahmu. Minho-ya, beritahu kau satu rahasia, selama ini aku menduga ayahmu itu titisan iblis. Kuharap dia tidak kecewa karena putranya tidak menuruni sifat laknatnya itu” gurau Hye Jin lalu tertawa lebar. Hey! Tawanya agak menyeramkan, sepertinya perkataan Hye Jin ada benarnya.

~

Sendagurau yang mereka lakukan membuat waktu seolah berjalan dengan cepat, Tak terasa mereka sudah memasuki jalan rahasia di asrama SShall.

“Jadi ini jalan rahasia untuk keluar, hanya kami yang tahu jalan ini” jelas Minho, kemudian ia menunjuk salah satu ruangan disana lalu berkata, “itu tempat parkir rahasia, hanya kami yang membawa kendaraan disini.”

“Sepertinya kalian sangat istimewa.”

“Kami berlima sudah mengenal sejak lama dan kami memberi nama kelompok kami SHINee. Pemilik yayasan Shine world yang mempunyai dua sekolah khusus ini dan kepala sekolah SShall adalah orang tua angkatku.”

Hye Jin mengerti sekarang. “Aku senang kau bersama orang yang tepat.”

Mereka berjalan memasuki lift menuju lantai lima, tempat dimana SHINee tinggal selama 3 tahun dan lusa mereka akan meninggalkan tempat itu. Minho menempelkan sidik jarinya ke layar kecil di samping pintu Lift sebelum pintu itu benar-benar terbuka.

Ketika ia dan Hye Jin melangkah masuk, mereka langsung disambut derai tawa yang berasal dari ruang televisi. Disana terlihat Key, Onew, Jonghyun dan Taemin yang sepertinya sedang asik menikmati acara komedi sampai-sampai tak ada yang sadar bunyi dentingan lift.

“Menikmati sisa-sisa kebersamaan di Dorm ini?”

Suara rendah Minho berhasil menyita perhatian mereka. Mereka tampak terkejut dan langsung menghampiri Minho.

“Hyung! Kau berkencan dengan nuna-nuna?” celetuk Taemin yang langsung dihadiahi jitakan oleh Jonghyun.

“Ah, sepertinya aku bersyukur tidak dipanggil ahjumma” gurau Hye Jin. Dia memang masih muda, atau tepatnya belum tua. Butuh tiga tahun lagi untuk menginjak kepala empat, berbeda dengan Kyuhyun yang empat tahun lagi berusia setengah abad muahahaha.

“Jadi siapa wanita ini?” tanya Onew.

“Dia ibuku. Akhirnya aku menemukan keluargaku.” balas Minho singkat. Untuk pertama kali Hye Jin sangat gembira mendengar Minho yang mengakui dirinya sebagai ibu.

“Kami senang mendengarnya!” imbuh Key. Minho tau, diantara yang lain Key-lah yang paling senang. Mereka sudah bersahabat sejak kecil dan Key sangat mengetahui bagaimana jerihpayah Minho mengungkap identitas aslinya.

Minho menyunggingkan seulas senyum tipis lalu beralih menatap ibunya. “Mereka adalah teman temanku. Yang berbicara barusan adalah Key, disebelahnya bernama Onew, lalu yang memakai baju tanpa lengan itu Jonghyun dan namja berambut coklat almond itu Taemin” setelah perkenalan itu, mereka pun melambai pada ibu Minho.

“Biar ku panggilkan penghuni Dorm yang terakhir, sepertinya mahluk yang satu itu sedang mandi.” Kata Jonghyun.

“Tidak perlu, ibuku sudah mengenalnya.” Tukas Minho dan mereka serentak menatapnya kaget “Cho Minhye anak ibuku juga.”

“Maksudnya kalian saudara?” sahut Key lebih dulu diantara yang lain.

“Kami kembar.” Minho sama sekali mengabaikan keterkejutan Key, Taemin, Jonghyun dan Onew. Nafasnya tiba-tiba tertahan ketika melihat Minhye berdiri di ambang lorong. Memandang dirinya dengan tatapan yang sulit diartikan. Tetapi kali ini Minho yakin, dia pasti bisa mengontrol emosinya.

“Bagaimana bisa?” seru mereka disaat bersamaan.

Minho menghela nafas pelan. “Ceritanya panjang”

Melihat itu ibunya mengambil alih, “Singkat cerita, Minho diculik ketika dilahirkan dan Minhye menyamar sebagai laki-laki untuk mengantikan Minho. Semua karena perjanjian dimana aku harus melahirkan anak laki-laki” terangnya.

Melihat teman-temanya yang terdiam, Minhye mengernyit heran. “Apa kalian sudah tahu kalau aku… perempuan?” mendengar ucapan itu, kontan mereka menoleh ke belakang dan mendapati Minhye dengan ekspresi… marah?

Minhye menatap Onew menunggu jawaban “Aku sudah tahu.” ucap Onew. kemudian ia menatap Jonghyun sekilas karena ia memang sudah tahu kalau Jonghyun mengetahui identitasnya. Pandangan Minhye beralih ke arah Taemin “Mianhae, aku juga sudah tahu sejak awal.” balas Taemin, Minhye mendesah. Saat ia menatap Key, namja itu seolah mengindarinya dengan beralih memandang ke arah lain.  Ada apa?

“Seharusnya aku yang minta maaf karena sudah membohongi kalian semua. Aku benar-benar minta maaf.” ucapnya lalu membungkuk seraya menggigit bibir.

“Tidak apa-apa. Kami senang, berkat kau perlahan-lahan hidup kami mulai berubah,” tutur Onew tulus sembari menyunggingkan senyum khasnya.

“Mungkin kami masih terjebak cara hidup yang lama jika kau tidak ada.” tambah Jonghyun.

“secara tidak langsung, kau ikut merubah hidup kami.” ucap Taemin dan dibalas senyuman yang lain. Minhye benar-benar merasa terharu saat itu. “Sepertinya mulai saat ini kami bisa memanggil nama aslimu.”

“Minho dan Minhye… Hey! menurutku kalian memang ditakdirkan kembar hahaha.” celoteh Onew.

Selesai dengan suasana haru itu akhirnya Hye Jin angkat bicara, “Kami membawa camilan disini. Ayo makan bersama!” ajaknya sambil mengacungkan kantung plastik berisi camilan.

Mereka pun berjalan menuju meja makan, kecuali Key yang masih berdiam ditempatnya. “Sepertinya aku harus pergi, Mianhaeyo.” Key tersenyum pada mereka kemudian pergi begitu saja.

~*~*~*

Memenuhi paru-paru dengan udara segar pagi hari di Breath of Heaven pasti membuat setiap orang kecanduan dan ingin menhirup udara itu lebih dalam lagi. Gesekan dedaunan dan deburan ombak selalu menjadi melodi pembuka di pagi hari.

Key berjalan sambil sesekali menguap lebar. Tidurnya sangat buruk semalam, dia terus terjaga sepanjang waktu. Semua karena ia kehabisan pil tidur atau karena… Cho Minhye. Entahlah, cerita Jinhya masih berputar-putar dalam benaknya.

Dia tidak berminat datang ke SShall pagi atau siang ini. Key yakin semua murid pasti sibuk mempersiapkan diri untuk OxyGEn nanti malam, apalagi murid tahun ketiga yang pastinya harus membereskan barang-barang mereka karena besok seluruhnya akan meninggalkan SShall.

Key melangkah di atas jembatan gantung, kakinya terhenti tepat di tengah-tengah dan memilih duduk di pinggir jembatan dengan kaki yang mengantung di udara. Ia sangat suka segala hal yang natural, terutama menikmati kilauan air laut yang diterpa sinar mentari pagi.

Beberapa menit berlalu, tiba-tiba Key merasa Hanging Bridge sedikit bergoyang dan itu bukan karena angin seperti biasa. Refleks ia pun menoleh ke arah kanan dan terkejut mendapati seseorang berjalan kearahnya.

Key mengerjapkan matanya. Dia tidak bermimpi, gadis yang mengenakan jubah biru muda sambil tersenyum padanya itu adalah… Krystal.

Key langsung berdiri dan berteriak, “Berhenti disana! Jangan dekati aku!.”

__TBC__

Yosh! Akhirnya tinggal part terakhir dan Seasons of The Lucifer akan berakhir. Arigatou Minna-san.

Cheers,

LucifeRain (Ayya)

Advertisements

103 responses to “Seasons of The Lucifer [CHAPTER 21] Part. B

  1. Ya elahhh… Onew udah blingsatan waktu Key tiba-tiba bicara dengan Jinhya bahkan bisa langsung bertatapan. Hahahhaaa… takut amat gadisnya diambil Key. Tapi untungnya ‘gadis itu’ bukan Jinhya, melainkan Minhye. Puasss…

    Sampai sini, masalah yg masih belum kelar cuma masalah Key dgn phobianya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s