Dirty Storey Room [Part~4]

Author : mumuturtle

Title     : Dirty Storey Room

Genre  : romance, life

Rating : PG-16 (I upgrade the rating, because this chapter contains enough bad words and action.)

Length : Series

Cast     :

  • Byun Baek Hyun (EXO-K)
  • Oh Seo Yeon (OCs)
  • Oh Sehun (EXO-K)
  • Kim Jongin a.k.a Kai (EXO-K)
  • Ahn Jung Eum (OCs)
  • Kim Myungsoo a.k.a L (Infinite)

Other casts      : temukan sendiri…!

Disclaimer       : cerita ini hanya fiksi dan murni ide dari otak saya. Jadi, jika ada kesamaan apapun itu, entah peran, karakter atau bahkan plotnya saya benar-benar minta maaf, karena saya tidak tahu menahu. Dan semoga FF ini bisa menghibur kalian semua! Enjoy It!!

I feel so bad cause this so late update. Sorry. Actually I don’t want this to be happened. But, there are some troubles that came to me. Especially about my writing. I just couldn’t get the feeling. But I hope, This chapter can present my sorry to all of my readers.

~Dirty Storey Room~

Part 1, Part 2, Part 3

~æ~æ~æ~

Semua tampak tenang beberapa menit lalu. Ya, setidaknya semuanya terlihat seperti biasanya meskipun ada kejanggalan dimana gadis itu harus terbangun lebih awal dari jam yang seharusnya. Oh, ia bahkan terbangun saat alarm jam wekernya belum berdering.

Betapa rajinnya gadis itu?

Tidak!

Jika saja tak ada sebuah tanggung jawab yang diembannya ia tak akan sudi untuk bangun sepagi ini. Ia akan lebih memilih untuk tetap berbaring di ranjangnya. Memejamkan matanya dengan nyama dan bergumul dengan selimut kesayangannya. Merasakan hangatnya di dalam kamar ketimbang menemui dingin udara pagi seperti ini.

Namun tampaknya ketenangan pagi yang dialami  gadis itu tidaklah berlangsung lama. Dengarkan saja, bahkan suara gemeretak dan derak yang benar-benar bising itu sampai menggema di ruangan paling belakang rumahnya. Meski mayoritas sudut ruangan itu tertata rapi namun satu sudut di mana gadis itu berdiri di depannya justru terlihat kacau.

”Eottohkae?” pekik Seo Yeon tertahan. Ia bahkan sudah berulang kali mengucapkannya. Tanpa satupun tindakan yang ia tahu harus ia perbuat, ia justru melompat-lompat kecil di tempatnya saat kakinya menyentuh sedikit busa dingin yang kini sudah membasahi lantai sekitarnya.

Ya, mesin cuci di depannya itu benar-benar sudah terlihat seperti sesosok yang keracunan. Mengeluarkan buih dengan kapasitas berlebih membuat gadis itu bahkan berpikir ia telah merusaknya. Well, Seo Yeon tak terlalu ambil pusing jika mesin itu rusak. Alat itu sudah berumur panjang dan mungkin memang sudah waktunya untuk rusak, toh, keluarganya bisa membeli baru yang lebih baik dari yang satu ini.

Hanya satu yang Seo Yeon khawatirkan. Sebuah barang yang ada di dalamnya. BLAZER HITAM itu! Demi Tuhan, Seo Yeon bahkan harus merelakan tubuhnya kedinginan dan bangun pagi hari demi mencuci pakaian itu. apakah semuanya akan berakhir sia-sia? Apa kata Baekhyun jika ia tahu Seo Yeon bukannya menepati kata-katanya—untuk mencuci blazer itu—justru merusaknya?

”AHJUMMAA!! NEO EODIYA? TOLONG AKU! MESIN ITU BISA MERUSAK BARANG BERHARGA ITU! Aish! Apa kepala pembantu bahkan belum bangun?” gerutu Seo Yeon sembari mengacak-acak rambutnya frustasi.

Sudah lima menit ia berdiri hanya menatapi mesin itu hingga akhirnya kali ini ia memutuskan untuk mendekat. Menekan secara asal tombol yang ada di permukaan mesin itu. berharap saja tombol yang ia tekan—yang bahkan ia tak tahu fungsinya—akan menghentikan kerja mesin itu.

”Ada apa, Agasshi? Kenapa Anda berteriak sepagi i—OMONA! Apa yang terjadi?!”

Seo Yeon menoleh cepat. Dan secepat itu pula senyumannya mengembang begitu wajah wanita paruh baya yang sudah ia kenal bertahun-tahun itu akhirnya hadir di hadapannya. Segera Seo Yeon berlari kecil menuju Ahjumma bermarga Song itu dan menggamit lengannya sementara tangannya yang lain mengacungi mesin itu.

”Apa aku merusaknya? Aku hanya ingin mencuci pakaian saja. Aku sudah berusaha mematikannya tapi tak mau. Eottohkae? Apa pakaian itu akan rusak? Apa pakaian itu akan berubah menjadi pakaian lusuh dengan robek dimana-mana?” Tanya Seo yeon bertubi-tubi. Saking khawatirnya Seo Yeon bahkan mengguncang lengan wanita paruh baya itu dengan cukup keras.

Song Ahjumma hanya menoleh pada gadis muda disampingnya. Gadis yang sudah bertahun-tahun ini ia asuh selagi kedua orang tuanya tak ada di rumah. Ia diam, tak memberi satupun jawaban yang majikannya itu inginkan. Selebihnya ia justru hanya menaikkan kedua alisnya merasa heran dengan sikap gadis muda ini. Hal yang jarang ia lihat gadis ini sudah bangun sepagi ini. terlebih dengan alasan ia hanya ingin mencuci pakaian? Bukankah biasanya seluruh pakaian gadis itu dicucikan oleh pembantu di rumah ini?

”Ah… jadi aku benar-benar merusaknya? Ahjumma?” Seo Yeon menundukkan kepalanya seraya ia mengerucutkan bibirnya. Otaknya kini berusaha memikirkan berbagai cara untuk menutupi semua ini pada Baekhyun. Ia tak mungkin berkata blazernya justru lenyap. Atau haruskan ia membelikan yang baru untuk lelaki itu?

”Aniyo, Agasshi.” Ujar Song Ahjumma dengan senyum lembutnya. Wanita paruh baya itu berjalan dengan perlahan mendekati mesin yang sampai saat ini mengeluarkan suara cukup bising. Menggeret mesin cuci itu dengan sekuat tenaganya hingga terdapat sedikit ruangan yang membatasi mesin dan dinding di belakangnya. ”Agasshi seharusnya bisa mematikannya langsung dengan mencabut kabelnya.” Lanjutnya sembari menggenggam sebuah kabel yang beberapa detik lalu ia cabut.

Seo Yeon hanya menggangguk sembari menggaruk kepalanya. Merasa bodohh dengan dirinya sendiri karena ia tak berpikiran untuk melakukan itu. Hey! Tapi kabel itu tersembunyi, jadi bagaimana Seo yeon bisa mengetahuinya?

”Lagipula kenapa Agasshi sepagi ini sudah ingin mencuci? Agasshi bisa menyuruh kami.” Ujar wanita paruh baya itu sembari membenahi segala kekacauan di sekitar mesin cuci. Mengelap seluruh permukaan lantai yang basah dan tak lupa menghilangkan buih-buih yang seakan membanjiri itu.

”Chogi… hmm… itu… semacam pribadi? Err… geureom, aku minta bantuan Song Ahjumma, ne? Jika sudah selesai kau bisa antar ke kamarku? Aku harus bersiap-siap untuk kesekolah. Gomapta Song Ahjumma!” Seru Seo Yeon sembari memerkan senyum lebarnya sebelum akhirnya berbbalik menuju kamarnya dengan langkah yang cukup riang.

~æ~æ~æ~

Seo Yeon menatap pantulan dirinya di cermin. Sembari membenahi letak dasinya, ia juga mengechek apa setiap aksesori seragam sudah ia kenakan.

”Ah… name tagku!” Ia memekik saat melihat di dada sebelah kanannya masih kosong. Tidak ada benda persegi panjang bertuliskan namanya sebagai identitas untuknya. Well, mungkin setiap siswa tak akan perlu menggunakan name tag itu jika saja semua guru dapat dengan mudah mengingat dan menghafal semua nama yang ada di sekolah itu. Sayangnya, pikiran para guru yang sudah mulai menua itu membuat aksesori seragamnya bertambah.

Ia mengambil sebuah sisir di meja riasnya. Menyisir rambutnya yang ia benahi sembari senyumnya terulas mengembang. Melihat ia megenakan blazer hitam itu mengingatkannya kembali pada lelaki yang mungkin saja sudah sangat jengkel padanya. Oh, Seo Yeon mungkin dikira pencuri karena membawa lari begitu saja blazer milik Baekhyun.

”Apa aku tadi bilang bahwa mencuci pakaian milik Baekhyun adalah sesuatu yang pribaadi? Cih…”Seo Yeon menggelengkan kepalanya. Meletakkan sisirnya kembali dan mengambil sebuah jepit kecil untuk menghiasi rambut sebahunya. ”Bahkan aku bilang blazer itu berharga. Ada apa denganku?”

Seo Yeon menaikkan kedua alisnya. Setelah ia berhasil memasangkan jepit rambutnya, buru-buru ia menegakkan punggung. Menatap pantulan wajahnya lekat-lekat di cermin datar berukuran besar di depannya. Gadis itu menunjuk dirinya sendiri.

”Mungkinkah kata Jung Eum jika aku menyukainya?” Ia mengerutkan keningnya sebelum akhirnya ia menggeleng cepat membuat tatanan rambutnya kembali berantakan.

”Andwe! Aku bahkan baru beberapa hari ini mengenalnya. Oh, mungkin tidak bisa dibilang mengenal karena dia bahkan mengacuhkanku. Lagipula…dia menyebalkan. Kasar. Dingin. Seperti Oppa. Setidaknya masih lebih baik Kai Sunbae meski ia sering menggangguku.” Seo Yeon menganggukkan kepalanya. ”Jika sukapun, seharusnya jantungku berdetak kencang, kan?”

”Agasshi?”

Seo Yeon menoleh, begitu suara lembut milik kepala pembantu di rumah ini. Sesaat setelah pintu kamarnya itu terbuka secara perlahan kepala Song Ahjumma menyembul. Sembari tersenyum wanita paruh baya itu berjalan mendekat kearahnya. Tentunya dengan blazer hitam yang telah di cuci bersih itu.

Seo Yeon menghela nafas lega. Blazer itu tidak rusak seperti yang ia bayangkan sebelumnya. Bahkan blazer itu sudah bersih dan di setrika.

”Kau sudah mencucinya?”

Song Ahjumma mengangguk. Namun di sela anggukannya yang mantab itu raut kebingungan justru tercetak jelas di wajahnya.

”Waeyo Ahjumma? Apa ada  yang salah?” Tanya Seo Yeon panik sembari mendekati wanita paruh baya itu. pikirannya tiba-tiba terbuyar hanya karena panik jika terjadi sesuatu dengan blazer itu.

Oh! Katakan saja Seo Yeon mungkin memang berlebihan. Tapi begitulah. Lihat saja apa yang akan terjadi pada gadis itu jika memang blazer itu akhirnya rusak. Mungkin Baekhyun bukan hanya membentaknya seperti kemarin-kemarin bisa saja Baekhyun justru melayangkan kepalan tangannya bukan?

”Apa tidak salah? Ini blazer milik siapa Agasshi? Ukurannya terlalu besar untuk Agasshi. Tadinya saya pikir milik Tuan Muda, tapi tidak mungkin.” Ujar Song Ahjuma masih dengan segala kerutan di dahinya. Membuat keriput-keriput yang sudah menghiasi sekitar wajahnya itu terlihat semakin jelas. Song Ahjumma pastilah sangat kebingungan melihat bagaimana caranya melihat Seo Yeon saat ini, seolah benar-benar tercetak jelas di wajahnya yang mempertanyakan kepemilikan dari blazer itu.

”Apa maksudnya dengan tidak mungkin?”

”Banyak sobekan di pakaian ini. jahitannyapun sudah terlepas di sana-sini. Dan… ada noda berwarna merah yang tidak bisa dihilangkan. Seperti darah. Apa mungkin Tuan Muda berkelahi?”

Seo Yeon menaikkan kedua alisnya. Tak tanggung mulutnya bahkan terbuka cukup lebar.

Banyak jahitan yang terlepas? Sobekan? Darah?

Gadis itu mengerutkan keningnya sembari menundukkan kepalanya. Menatap lantai seolah-olah lantai itu bisa memberikan jawaban atas segala pertanyaannya itu. Apa sebenarnya yang dilakukan Baekhyun? Darah? Tak mungkin kan lelaki itu adalah seorang pembunuh? Sesering apa memangnya dia berkelahi? Jika seringpun apa perkelahian yang sering di lakukan Baekhyun membuat lelaki itu bahkan mengeluarkan darah yang banyak sampai-sampai noda di blazernya tidak bisa dihilangkan?

~æ~æ~æ~

Lelaki itu menghela nafasnya dengan panjang. Meski tak terlalu jelas namun raut kekesalah itu ada, tersembunyi dari diamnya lelaki itu. Ia hanya berjalan mengikuti sahabatnya yang beberapa langkah di depannya itu. sesekali ia bahkan merutuki sahabatnya yang bahkan tak sekalipun mengajaknya berbicara semenjak masing-masing kaki mereka mengijak pelataran sekolah ini.

Oh, lelaki itu bahkan hanya diijinkan menatap punggungnya selama ini. ralat, sebenarnya sejak ia menjemput sahabatnya di rumah itulah sudah tak ada pembicaraan antara mereka. Selebihnya ia mungkin hanya berbicara sendiri seolah sahabatnya itu hanyalah patung berjalan yang menemaninya. Sahabatnya benar-benar tak menoleh sekalipun padanya. Mungkin sesuatu yang buruk sudah terjadi.

”Kau tahu Oh Sehun? Sekolah ini benar-benar masih sepi. Dan terima kasih padamu, karena harus menjemputmu, aku kini berada di sekolah sepagi ini!” Ujar Kai sembari berjalan mendahului orang yang diajaknya berbicara itu—yang bahkan tak sehurufpun menyahutinya. Hanya suara seringaian yang terdengar di telinga Kai saat dirinya melewati Sehun.

Dengan mata yang cukup bersinar lebih cerah ia memasuki kelasnya. Berlebihan mungkin namun dengan dirinya berada di kelas, itu berarti ia bisa mendudukan dirinya atau mungkin ia memang ingin kembali melanjutkan tidurnya yang tadi belum selesai.

”Aigoo, setidaknya aku bisa tidur lagi. Jangan menggangguku, ara?” Seru Kai sembari menatap tajam pada Sehun yang hanya berdiri di dengan mejanya. Menatapnya dengan dingin sementara Kai kini justru tengah berusaha memposisikan dirinya dengan nyaman.

”YA! Jangan tidur! Aku memintamu untuk menjemputku karena aku ingin cepat bertemu dengamu!” Seru Sehun setelah lama diam. Ia mengguncang tubuh Kai yang tampaknya sudah menemukan kenyamanan itu dengan kencang. Mungkin jika ia tak melakukan ini Kai juga tak akan bangun.

”ARGGHH!” Kai berteriak. Ia menatap Sehun dengan tatapan kesal dan matanya bahkan sudah memerah. Ia benar-benar… mengantuk. ”Semalam aku tidur cukup larut. Aku mengantuk, Sehun~ah. Kau… ingin bertemu denganku? Kau tidak…”

”YA! KAU TIDAK BERPIKIR AKU GAY KAN?” Sehun mendelikkan matanya membuat Kai memundurkan tubuhnya saking terkejutnya.

Sehun menghela nafasnya. Ia menarik sebuah kursi di sampingnya dan segera mendudukkan dirinya. Ia menatap Kai yang kini tampaknya masih berusaha menahan kantuknya. Sejenak ia menggunakan waktunya untuk mengangkat salah satu ujung bibirnya. Ia tak yakin hari ini Kai akan mengikuti pelajaran dengan penuh. Sehun bahkan berpikir mungkin saja Kai tak akan ada di bangkunya pada jam pelajaran pertama dengan mata yang sudah merah padam seperti itu.

”Kenapa kau menatapku seperti itu? Apa aku terlihat cantik dimatamu?”

”Cih…” Sehun memutar bola matanya sembari menyeringai setelah mendengar pertanyaan bodoh sahabatnya itu. Apa saat ini Kai benar-benar melihatnya seperti seorang Gay?

”Jika iya apa kau akan lari sekarang juga? Aish… lupakan! Aku bukan gay! Aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu, maka dari itu kau tak boleh tertidur sekarang ini. Bagaimana aku bisa bertanya jika kau sendiri tidur, huh?”

”Tapi kau bisa setidaknya menundanya, kan? Beberapa menit saja? Aku benar-benar mengantuk!” Rajuk Kai. Untuk kali pertama selama masa persahabatan mereka terjalin Kai meminta pada Sehun—dengan mata menatap penuh rasa permohonan yang benar-benar terlihat memelas di mata Sehun.

Apakah Sehun begitu kejam jika ia menggeleng saat ini? Membuat Kai mendengus benar-benar kesal. Ia bahkan merasa kali ini Sehun sudah sangat kelewat batas dengan egonya yang besar itu—hanya untuk sebuah pertanyaan?

”Aku ingin bertanya… tentang lelaki yang kau bilang ditanyakan oleh Seo Yeon beberapa waktu lalu.” Ujar Sehun dengan tampang datarnya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada. Punggungnya yang tersandar di kursi kayu dan matanya yang menatap Kai dengan lekat menandakan betapa seriusnya pertanyaan ini akan berujung.

Sekonyong-konyong, meski Kai hanya menduga-duga perihal keseriusan pertanyaan Sehun itu, namun dugaannya itu mampu membuat matanya yang semula terasa berat untuk terbuka lebar itu terasa ringan begitu saja. Ia bahkan merasa seolah baru saja ada air dingin yang mengguyur wajahnya.  ”Apa lelaki itu… bermarga Byun?”

Kai menyeringai. Sekaligus memutar bola matanya seraya bertepuk tangan sekali, sebagai aksi bahwa dirinya kini benar-benar mengakui betapa protectivenya seorang kakak di depannya ini pada adiknya. Ia mencondongkan tubuhnya. Mendekatkan wajahnya pada Sehun yang tampaknya bahkan sudah tak bisa tersenyum saking otaknya terbakar oleh keseriusannya sendiri.

”Maksudmu Baekhyun? Bagaimana kau bisa mengasumsikannya seperti itu? Di sekolah ini ada banyak nama lelaki bahkan AKU. KIM JONG IN, bisa kau tuduh. Jadi kenapa kau memilih Baekhyun?” Ujar Kai sedikit bertele-tele. Sebenarnya ia juga berusaha untuk tidak membuka secara terang-terangan pendapatnya. Maksudnya, ia memang tahu. Kai tahu bahwa lelaki yang di pertanyakan Seo Yeon waktu itu memang tepa adalah Byun Baekhyun. Namun bukankah ia sudah berjanji pada gadis itu bahwa ia tak akan memberitahukannya pada Sehun? Janji tetaplah sebuah janji meski yanng bertanya kali ini adalah sahabatnya sendiri. Yang mungkin saja bisa membunuhnya dengan tatapan dinginnya kali ini.

”Baekhyun. Lelaki yang memiliki blazer dengan bedge sekolah kita tentu adalah siswa sekolah ini.  Dan siapa lagi yang bisa membiarkan blazernya robek dan terdapat beberapa bercak darah disana?” Sehun menegakkan tubuhnya. Merapatkan tubuhnya pada pinggiran meja dan menatap Kai dengan lebit teliti. ”Sekolah ini, sekolah elit dan aku yakin bahkan anak-anak yang terkenal berandalpun tak akan membiarkan bajunya lusuh. Setahuku kecuali dia tak ada seorangpun. Atau kau…”

”Jadi apa hubungannya dengan blazer yang kau sangkut pautkan itu? Kau melihat adikmu membawa blazer seperti itu—sobek dan berlumuran darah—kedalam rumah?”

Sehun mengangguk mantab yang serta merta membuat Kai seakan tercengang. ”Dan ia rela bangun terlalu pagi hanya untuk mencucinya.”

”Kurasa aku tidak melanggar janjiku karena kau tahu dengan sendirinya.” Gumam Kai yang bisa terdengar jelas oleh Sehun.

”Jangan katakan padanya kalau aku sudah tahu.”

Kai memincingkan matanya. Menatap Sehun dengan tatapan selidik sementara Sehun justru mulai memejamkan matanya. Entah mungkin ia mencari-cari cara terampuh untuk kembali memprotect adiknya—yang sejujurnya terlalu berlebihan. Atau yang lebih parahnya lagi jika saja Sehun justru berpikir akan menjauhkan Baekhyun dari Seoyeon.

Oh mungkin akan terdengar berlebihan namun tampaknya untuk seorang Oh Sehun, kakak yang super protective pada adiknya akan bisa melakukan apapun. Terlebih lagi Baekhyun memiliki predikat sebagai lelaki berandal kelas atas yang sudah terdengar di seantero sekolah. Bahkan para guru sekalipun. Mereka tampak sudah pasrah dengan kelakukannya—atau yang lebih sering terlihat, babak belur setiap memasuki sekolah. Hanya satu yang Kai herankan, kenapa Baekhyun sampai saat ini masih bisa duduk di bangku kelasnya dengan aman.

Tanpa peringata-peringatan keras akan drop out yang bisa saja langsung dijatuhkan. Mengingat Baekhyun sudah sangat memenuhi syarat akan itu.

”Giliran aku yang bertanya.” Sehun mendongak. Menatap Kai dengan tatapan penuh tanda tanya. ”Kau tahu seperti apa dirimu dimataku?”

”Gay? Seperti yang kau takutkan beberapa menit lalu?” Terka Sehun seraya menaikkan salah satu alisnya. Ia juga menambahkan kekehan ringan di akhir kalimatnya.

”Aku serius! Kau terlihat sangat protective pada adikmu itu, kau tak sadar?” Kai setengah berteriak. ”Kutanya, kau seperti itu semata kau kakaknya yang takut terjadi apa-apa pada adikmu, atau… kau…”

”Jangan bercanda! Kau berpikir aku menyukainya?!” Potong Sehun cepat. Ia mendelikkan matanya, seolah-oleh mengekspresikan bahwa dirinya sangat terkejut dengan dugaan Kai yang bahkan belum sempat diucapkannya.

”Kenapa kau berpikir seperti itu? Belum tentu aku akan berkata seperti itu.” Kai menyipitkan matanya. Menatap Sehun dengan tatapan yang menandakan kecurigaannya bertambah. Bahkan melihat gerak-gerik tak tenang Sehun kali ini membuat Kai mau tak mau semakin yakin memang ada sesuatu yang disembunyikan Sehun. Sesuatu yang tampaknya terlalu tabu untuk di ucapkan bahkan pada sahabatnya sendiri. ”Meski dia adikmu, aku tahu di posisi mana dia berada di dalam keluargamu. Tapi meski begitu, kuharap kau akan berpikir jutaan kali untuk menembus lubang kesalahan itu.”

Sehun tertunduk. Entah mengapa kalimat terakhir yang diucapkan Kai begitu menohok isi hatinya. Meski Kai sendiri tidak mengucapkan secara langsung jika memang ia dilarang—bahkan haram hukumnya—untuk mencintai Seo Yeon namun Sehun sendiri sudah paham akan maksud kalimat itu. Tanpa perlu memperjelas semua lagi, karena Sehun yakin hal itu hanya akan membuatnya semakin merasa hina atas apa yang sudah ia rasakan ini.

~æ~æ~æ~

Gadis itu melenggang di sekitar koridor utama di sekolah itu dengan cukup riang. Terlihat dari seberapa lebar lengkungan yang tercipta di bibir gadis itu sampai detik ini. Sesekali ia memastikan bahwa paperbag yang dibawanya masih berada di tangannya dengan aman. Atau setidaknya memastikan—meski sudah berulang kali ia lakukan—jika ia tidak membawa tas yang salah.

”Ah!” Seo Yeon memekik keras, begitu bahunya terasa sakit saat seseorang menyenggolkan bahunya dengan keras. Dan bukan dengan tidak sengaja melihat siapa orang yang kini ada di hadapannya itu adalah Sin Ae. Gadis yang benar-benar tak diharapkannya untuk di temuinya di hari yang sepagi ini.

Oh, ia bahkan belum sempat untuk memasuki kelasnya.

”Bisakah kau berhati-hati jika sedang berjalan, anak pungut?” Ujar Sin Ae.

Seo Yeon hanya bisa mendelikkan matanya saat mendengar kata ”anak pungut” itu terucap dengan begitu ringan dari mulut Sin Ae. Meski dengan desibel suara yang amat rendahpun tetap saja Seo Yeon khawatir jika ada orang lain yang mendengarnya. Itulah sebabnya saat ini Seo Yeon tengah kelimpungan menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri untuk memastika tak ada satupun orang di sekitarnya yang akan mendengarnya.

”Kenapa? Kau takut semua orang akan tahu jika kau bukan anak ketua yayasan sekaligus pemilik sekolah ini?” Seo Yeon menoleh cepat mendapati Minji yang tiba-tiba muncul dari belakang. Mengambil paperbag yang ada di tangannya dengan paksa dan segera menjauh untuk melihat isinya.

”Berikan padaku paperbag itu! Itu bukan milikmu!” Teriak Seo Yeon.

Oh bagus! Rutuk Seo Yeon dalam hati. Mengapa gadis-gadis ini selalu mendapatkan waktu yang tepat saat mereka ingin membully-nya? Selalu saja semua tempat—yang mereka gunakan untuk aksi bullying mereka—sepi. Membuat Seo Yeon mau tak mau harus menanggung semua beban ini sendirian tanpa bisa meminta tolong orang-orang yang lewat. Atau setidaknya ia tak bisa membuktikan bahwa ia—Oh Seo Yeon—telah dibully dengan cukup kasar oleh kedua gadis itu.

Mungkin bisa saja ia mengatakannya di depan umum secara terang-terangan. Tapi apakah mereka akan begitu percaya dengan mudahnya? Bisa saja justru semua itu akan diputar balikkan, ibarat senjata makan tuan. Bisa saja justru dirinya yang dianggap kejam karena ia—Oh Seo Yeon, selaku anak pemilik sekolah—memfitnah dua orang gadis tengah menganiayanya.

”Brownies? Kelihatannya enak. Aku yakin ini juga bukan milikmu, kau pasti membelinya dengan uang keluarga Oh.” Ujar Minji sarkastis.

Seo Yeon mengepalkan tangannya. Rahangnya sudah mengeras sejak beberapa menit yang lalu dan ia sudah meluncurkan tatapan tajamnya begitu melihat Minji sudah mulai ingin membuka kotak berisi brownies itu.

”Singkirkan tangan kotormu! Aku ada di dalam daftar keluarga Oh. Apa kau bahkan tak bisa mendengar siswa-siswa disini memanggilku dengan nama OH Seo Yeon? Dan itu berarti kau lebih tidak memiliki hak untuk membuka kotak ini.” Seo Yeon menyambar kotak yang berukuran tak terlalu besar itu.

Mungkin dirinya memang bodoh karena terlalu berani untuk melakukan hal itu. Bahkan hingga kini dirinya mendapat dorongan keras dari kedua gadis itu tetap saja tangannya berusaha ia ulurkan untuk menggapai kotak itu. Bukan apa-apa. Pasalnya ia dengar ayahnya akan pulang siang ini dari urusan bisnisnya di luar kota. Ayahnya akan pulang dan langsung mengunjungi sekolah ini untuk inspeksi bulanan yang rutin ayahnya lakukan.

Dan beruntung—entah itu akan menjadi keberuntungan lagi atau tidak—hari ini adalah tepat hari ulang tahunnya. Apa yang bisa ia lakukan untuk memberi ayahnya kejutan jika brownies itu bahkan sudah lenyap di pagi hari?

”KAU BENAR KERAS KEPALA, YA?”

Seo Yeon terkesiap. Matanya mendelik lebar menatap tembok di samping kanannya. Dengan gelinangan air mata yang mulai membuat mata jernih gadis itu tampak berkaca-kaca. Semakin memerah seiring dengan rasa sakit yang mulai menjalar di setiap urat-urat kecil di pipi kirinya yang memerah meski samar.

Ya, Seo Yeon sukses menoleh cepat begitu dirasa tangan dengan kuku-kuku indah—yang Seo yeon yakin baru beberapa hari lalu di poles—itu membubuhkan tamparan indah pada pipinya yang bahkan sama sekali tak di bubuhi bedak. Seo Yeon menggigit bibir bawahnya. Giginya bergemeretak.

”Kau sudah salah besar jika kau pikir bisa melawan kami. Kau paham itukan?” Desis Sin Ae seraya mencengkram rahang Seo yeon yang sudah mengeras hebat. Memaksakan kepala Seo Yeon untuk menghadapnya sekaligus menatap kedua matanya. ”Aku ingin bertanya padamu dan jawab aku dengan JUJUR! Apa kau memiliki hubungan khusus dengan Byun Baekhyun?”

”M-mwo?” Seo Yeon berujar dengan tergagap. Sulit bagi mulutnya untuk terbuka mengatakan sesuatu saat tangan Sin Ae masih dengan kencang mencengkramnya. Bahkan hanya dengan sedikit gerakan Seo Yeon, kuku Sin Ae yang indah itu terasa seperti akan menusuk lebih dalam lagi. Seo Yeon bahkan tak tahu sampai kapan kulitnya itu akan bertahan untuk tidak mengeluarkan darah.

”Ck… kau ini pura-pura bodoh, ha? Kami melihatmu berdua bersama Baekhyun di depan loker pria tadi malam. Seusai kelas malam! Kau tidak berusaha mengelakkan?”

Seo Yeon memutar bola matanya sembari menyeringai. Dalam hati ia bahkan tertawa keras mendengar pernyataan gadis di depannya ini. Akan tetapi ia hanya diam membungkam mulutnya. Sama sekali tak mengiyakan atau bahkan mengelak. Menurutnya, biarkan saja kedua gadis itu berpegang pada asumsinya—bahkan jika itu bisa membuatnya terlepas dari segala bullying itu, ia tak akan mengelak sama sekali. Meski itu artinya ia harus berhadapan dengan Baekhyun.

”Kau benar-benar butuh pelajaran, ya?”

”Masih ingat tempat penyimpanan di sekolah ini?”

Seo Yeon masih diam. Ia bahkan mengalihkan pandangannya, benar-benar enggan untuk menatap kedua gadis itu seinchi pun. Walaupun itu membuatnya mendapatkan cengkraman yang lebih erat lagi di rahangnya. Rahangnya yang sudah mengeras sejak lalu itu bahkan tampaknya sudah kebal dengan rasa sakit saat kuku Sin Ae terasa akan menusuknya.

Kalimat-kalimat yang diucapkan kedua gadis itu bahkan dianggapnya sebagai angin lalu. Telinganya lebih memilih mendengarnya derap langkah kaki yang berbondong-bondong mendekati mereka. Membuatnya tersenyum tipis saat menyadari bahwa siswa-siswa di sekolahnya ini sudah mulai berdatangan. Dan itu pula berarti aksi bullying mereka akan segera di ketahui jika mereka tidak segera melepaskannya dalam waktu dekat.

Atau mungkin sebaliknya—hal yang sebenarnya tak ingin terjadi—ketika kedua gadis itu membungkam mulutnya dan menggiringnya menjauh dari koridor utama. Seperti saat ini. Dan Seo Yeon hanya bisa membelalakkan matanya saat menyadari jalan yang mereka tempuh yakni jalan menuju tempat penyimpanan.

~æ~æ~æ~

”Ahn Jung Eum!” Lelaki itu memanggil sekeras-kerasnya. Ia bahkan sudah berlari cukup kencang demi membuat gadis itu setidaknya menoleh padanya. Ia memang tak mengharapkan ggadis itu akan berhenti dan tersenyum padanya—meski itulah yang sebenarnya ia harapkan. Namun setidaknya tolehan kepalanya saja—dengan wajah datar sekalipun—akan membuat dirinya merasa lebih lega. Karena itu berarti panggilannya tidak akan terdengar sia-sia.

”Ahn Jung Eum!” Lagi, lelaki itu berteriak keras memanggil ketika gadis itu justru berlari lebih cepat menjauhinya. Bahkan gadis itu hampir hilang dari pandangannya saat beberapa siswa lain bergerombol memasuki gedung sekolah itu. ”Hey! Aku memanggilmu berkali-kali, apa kau tidak dengar?”

Akhirnya gadis itu berhenti. Meski dengan tampang kesal karena lelaki itu menghentikannya secara paksa dengan menarik lengannya begitu saja. Jung Eum menatap lelaki di depannya itu dengan malas. Jangankan untuk berbicara, untuk sekedar menatap lelaki itupun sepertinya ia ogah-ogahan.

”Aku hanya…”

”Dengar, Kim Myungsoo! Aku tak mau mendengar ucapanmu jika itu menyangkut balap motor nanti malam.” Tandas Jung Eum. Pandangan matanya yang menusuk itu benar-benar membuat Myungsoo yakin jika Jung Eum memang serius dengan ucapannya.

”Sayangnya memang itu yang ingin ku bicarakan.” Myungsoo menunduk. Melepaskan genggaman tangannya yang membuatnya merasa seolah ia telah melepaskan nyawanya untuk diterjang truk kontainer besar begitu saja.

”Kalau begitu aku tak ingin dengar!” Jung Eum berbalik. Kembali berjalan dengan cukup cepat memasuki gedung sekolah itu. Ia bahkan berusaha menyelip-nyelip siswa yang menghalangi jalannya demi memperlancar jalan cepatnya itu. atau lebih tepatnya menghindari Myungsoo yang ia yakin tengah mengejarnya.

”Tapi dengarkan dulu penjelasanku!” Jung Eum menghela nafas. Tampaknya ia begitu kecewa dengan usahanya—berjalan cepat—sia-sia karena masih mendapati Myungsoo masih bisa mengejarnya.

Ia tetap menatap lurus, sedetikpun tak ia biarkan matanya untuk menatap bahkan melirik Myungsoo yang berjalan sejajar disampingnya. Ia bahkan akan sangat senang jika ia di buat tuli untuk saat ini, agar ia bisa tidak mendengar ocehan Myungsoo tetang segala hal yang berhubungan dengan balap motor itu.

”Aku tak akan bisa menang jika kau tak ikut denganku.” Ucap Myungsoo memelas.

”Lalu kau pikir kau bisa menang dengan telak jika aku ikut denganmu begitu? Kau pikir aku jimat kemenanganmu? Bodoh! Ajak gadis lain saja! Kau tahu? Kau ingin mendapatkan kemenangan sedangkan disisi lain kau membahayakan nyawa orang yang duduk di belakangmu!”

Myungsoo menghela nafasnya. Ditundukkannya kepalanya sekali lagi, merasakan rasa kecewa saat kali ini hanya hal yangs ama yang di dapatkannya dari gadis itu. kekecewaan karena gadis itu menolaknya. Ia memang tidak sedang menyatakan cintanya, tapi bisa jadi ini sebuah permulaan kan?

”Jika Baekhyun ada disana, apa kau akan datang?” Tanya Myungsoo seketika Jung Eum sudah kembali berbalik dan hendak meninggalkannya

Myungsoo mendengus kesal. Ia memutar bolamatanya saat mendapati gadis yang beberapa menit ini ia kejar-kejar justru dengan mudah berhenti dan membalikkan tubuhnya hanya dengan menyebutkan satu nama di selipan kalimatnya. Baekhyun.

”Kau akan datang?”

Jung Eum memincingkan matanya, menatap lelaki itu dengan serius sementara otaknya mulai berpikir. Oh apakah dirinya akan terlihat begitu murahan hanya karena dengan iming-iming Baekhyun ada disana, ia lantas menyetujui ajakannya? Tapi Jung Eum tahu satu hal. Bahwa ia yakin Baekhyun tak akan berurusan dengan hal-hal yang harus melibatkan seorang gadis di dalamnya. Ia mengerti betul itu. dan itulah salah satu penyebab dirinya tak pernah bisa dengan mudah berhasil untuk mendekati lelaki itu.

”Tidak!” Myungsoo menaikkan salah satu alisnya. Bingung dengan jawaban Jung Eum. Apa mungkin ini berarti gadis itu memang sudah tidak lagi peduli dengan Baekhyun? Yang itu ebrarti Jung Eum sudah melupakan rasa sukanya pada lelaki yang dianggapnya brengsek itu? ”Karena aku yakin Baekhyun tak akan datang. Dia tak akan pernah membawa seorang gadis di atas motornya!”

Sejenak Myungsoo terpekur. Lalu sedetik kemudian ia terkekeh dan mengangguk pelan. ”Kau benar. Tapi… aku masih menunggumu jika kau berubah pikiran. Meski itu berarti kita datang terlambat sekalipun.”

”Tenang saja! Kau tak perlu membuang-buang waktumu karena aku tak berubah pikiran, Kim Myungsoo.”

Lelaki itu menegakkan tubuhnya. Matanya yang cukup sipit namun memiliki tatapan tajam itu terus ia pakukan pada punggung gadis yang beberapa detik lalu berjalan menjauhinya. Salah satu kepalan tangannya mengerat keras, menyembulkan urat-urat kebiruannya di bawah permukaan kulitnya. Ia mendengus kasar.

”Sial! Kau benar-benar sialan, Byun Baekhyun!”

~æ~æ~æ~

”ARRGGHHH!! LEPASKAN AKU!” Seo Yeon berteriak sekencang-kencangnya. Tubuhnya bahkan ia gerakkan secara asal berharap ia bisa dengan cepat terlepas dari cengkraman kedua gadis itu yang semakin lama semakin terasa menyakitkan untuknya. Berulang kali pula ia berteriak kencang—meski akhirnya terdengar tak karuan—untuk setidaknya membuat penjaga sekolah atau tukang kebun yang bekerja di sekolah ini dapat mendengar. Namun entah ini hanya kebetulan atau memang nasib buruknya, koridor ini sepi. Sangat sepi dan hanya suara angin berhembus dan gesek-gesek dedaunan yang bisa di dengar oleh telinganya.

”Diam, anak pungut! Apa perlu kamu membungkam mulutmu itu, ha? Inilah balasan karena kau sudah melangkahi kami!”

”Melangkahi? Melangkahi apa? Apa kalian pernah tertidur di depanku dan aku melangkahkan kakiku diatas tubuhmu?”

”BODOH! BUKAN ITU! Kami memang tak bisa menjauhkanmu dari Sehun dengan mudah mengingat kau bahkan satu rumah dengannya. Oh, jika aku bisa aku bahkan ingin membunuhmu! Dan sekarang kau mendekati Baekhyun! Kau sudah melebihi persyaratanmu untuk kubunuh!”

Seo Yeon memejamkan matanya erat-erat. Bukan berarti ia tak ingin melihat kearah mana selanjutnya kedua gadis itu akan membawanya. Atau bukan karena ia tak ingin melihat wajah gadis itu yang baginya sudah menyerupai iblis—hanya saja tak ada kedua tanduk di kepalanya. Ia meringis hanya untuk menahan betapa perih kepalanya saat ini.

Entah seberapa kekuatan yang digunakan Minji untuk menjambak rambutnya kali ini. Rasanya rambut-rambut yang tertarik tegang itu seperti akan rontok. Apakah Minji akan menggundulinya?

Sakit. Hanya kata itu yang bisa di gumamkannya dalam hati. Toh, sekali ia menggumamkannya dengan bersuara kecil sekalipun kedua gadis itu tak akan menggubrisnya. Karena Seo Yeon sendiri yakin rintihannya justru akan menjadi kesenangan tersendiri bagi kedua gadis itu.

Deg…

Jantung Seo Yeon seakan terasa berhenti berdetak bersamaan saat kedua langkah kakinya terpaksa terhenti ketika kedua gadis di belakangnya—yang menggiringnay sedari tadi—juga berhenti. Entah mengapa, meski matanya tertutup sekalipun ia bisa merasakan bahwa setelah pemberhentian ini itu berarti akan ada kekerasan lain yang menunggunya.

Seo Yeon masih memejamkan matanya, merasakan setiap perih yang dirasakan kepalanya dan merasakan dalam-dalam hembusanannya yang terdengar begitu keras itu. Namun sedetik kemudian ia mengernyit. Merasa aneh.

Kedua gadis di belakangnya ini hanya diam tak membuka mulut sepatah katapun. Tak seperti biasanya yang selalu meluncurkan cercaan untuknya. Begitu pula kepalanya yang semakin lama perih itu semakiin surut. Hingga akhirnya ia tak merasakan satupun cengkraman erat di tubuhnya. Tak ada satupun sentuhan yang kulitnya rasakan.

Dengan ragu-ragu ia membuka matanya. Setengah terkejut saat mendapati sesosok lelaki berjalan di depannya sembari tertunduk. Tampaknya ia terlalu larut dengan alunan lagu yang ia dengar dengan earphonenya itu melihat bagaimana kepalanya sedikit banyak mengangguk penuh irama.

”Dengar!” Seo Yeon tersentak saat sebuah segolan di sikunya terasa. Ia tak meoleh sama sekali dan justru semakin memperhatikan lelaki yang kini sudah mendongakkan kepalanya. Menatapnya dengan tatapan datar setelah itu menaikkan salah satu alisnya ketika melihat kedua gadis bar-bar itu.

”Kau selamat kali ini, karena pacarmu sudah datang.  Tapi lain waktu,  JANGAN-HARAP!”

”Ugh…” Untuk kesekian kalinya pagi ini Seo Yeon mengaduh ketika kakinya di jegal menggunakan heels milik Sin Ae. Beruntung ia bisa mengendalikan keseimbangan tubuhnya sehigga ia tak perlu mengaduh dua kali saat dirinya terjatuh duduk di lantai.

Sembari menghela nafas lega ia menegakkan tubuhnya. Matanya mulai jelalatan mencari sosok Baekhyun. Tanpa sadar ia tersenyum samar saat lelaki itu masih bisa dilihatnya meski kali ini hanya punggungnya saja yang bisa ia lihat. Dan entah mengapa, kata pacar yang disebut Sin Ae—meski Seo Yeon sendiri yakin Sin Ae benar-benar tak memaksudkan kata pacar itu—membuatnya merasa senang.

Well, sepertinya jika Baekhyun terus datang seperti saat ini, Seo Yeon akan bisa dengan lebih mudah menghindari bullying itu.

”Baekhyun, Jakkamanyo!” Seru Seo Yeon sembari menggamit lengan Baekhyun yang terletak bebas di samping tubuhnya.

Lelaki itu menghentikan langkahnya, membuat Seo Yeon tersenyum lebih lebar. Namun baru sedetik rasa senang—karena merasa Baekhyun tak akan membentaknya seperti kemarin-kemarin—langsung hilang begitu mendapati tatapan dingin dari lelaki itu. Ia bahkan tersentak saat Baekhyun menyingkirkan tangannya dnegan cukup kasar. Dan melangkah pergi lagi.

Seo Yeon mengerjapkan matanya cepat kemudian berteriak, ”Tunggu! Aku hanya ingin bilang jika aku belum bisa mengembalikan…”

Seo Yeon membelalakkan matanya cepat. Secepat saat Baekhyun tiba-tiba berbalik dan mendorong tubuh kecilnya itu. Ya, mendorongnya dengan sangat kasar hingga Seo Yeon harus merelakan punggungnya membentur dinding dan itu sungguh menyakitkan. Tak tahan menahan rasa nyeri itu bahkan Seo Yeon harus mengerang dan menggigit bibir bawahnya.

Sementara Baekhyun—yang ada di depannya—hanya menatapnya tajam. Membuat Seo Yeon tercenung untuk sementara waktu.

”Untuk seorang gadis kau benar-benar sudah melewati batasmu!” Ujar Baekhyun dingin. Seo yeon hanya mengernyitkan dahinya sebelum akhirnya meringis menahan sakit saat Baekhyun mencengkram kedua bahunya dengan amat erat.

Gadis itu hanya bisa membelalakkan matanya semakin lebar saat menyadari lelaki dihadapannya mulai melangkahkan kaki untuk semakin mendekatkan jarak—yang sebenarnya sudah cukup dekat bagi Seo Yeon.

”Dan kau sudah memanfaatkan ku tanpa seizinku!”

Seo Yeon menegang. Seluruh ucapan Baekhyun itu tak begitu didengarkannya saking ia berusaha untuk mengendalikan seluruh otot sarafnya yang seperti mati ketika Baekhyun semakin mendekatkan diri. Meski perlahan-lahan namun hal itu mampu membuat degup jantung gadis itu memacu cepat begitu saja.

Hingga akhirnya gadis itu menahan nafasnya kuat-kuat saat tubuh mereka benar-benar sudah menempel. Yang itu berarti usaha Baekhyun untuk memperpendek jarak antara keduanya berhasil. Oh, bahkan jarak itu benar-benar sudah terlampau pendek samapi-sampai tak ada celah satu milimeterpun. Ya, kedua tubuhnya sudah saling menempel. Dada bidang Baekhyun sudah menempel lekat pada dadanya dan bahkan seperti menekannya. Berharap saja tak ada satu orangpun yang lewat atau melihat posisi mereka saat ini, atau tamatlah riwat mereka. Butuh spekulasi apalagi jika  kedua orang terlihat dalam posisi yang begitu tak mengenakkan seperti itu? sekali lihatpun mungkin orang tak akan perlu untuk memastikan dua kali dan langsung berpendapat bahwa apa yang ia dan Baekhyun lakukan saat ini adalah perbuatan yang tidak senonoh.

Oh Tuhan. Seo Yeon hanya bisa menengguk air liurnya meski dengan susah payah. Ia benar-benar tak berani bergerak sedikitpun apalagi bernafas. Sudah cukup lama ia menahan nafasnya dan sesekali bernafaspun hanya tarikan-tarikan kecil yang ia lakukan. Ia terlalu takut untuk membuat bagian atas kewanitaannya itu semakin menekan dada Baekhyun.

”Mereka bilang aku pacarmu?” Baekhyun terkekeh. Hembusan nafasnya bisa terasa jelas menampar wajah Seo Yeon. Dan itu bukanlah satu-satunya alasan mengapa Seo Yeon tak bisa berucap untuk menjawab. Jarak antara bibirnya dan bibir Baekhyun sudah tak bisa dijelaskan lagi. Terlampau dekat, bahkan dengan sekali dorongan saja mungkin mereka akan berciuman.

Dan betapa tegangnya Seo Yeon, Baekhyun justru malah menyunggingkan senyum miringnya.

”Sejak kapan aku menjadi pacarmu? Apa karena kau terlalu berani untuk berbicara denganku maka kau menyebut dirimu sebagai pacarku? Jalang!”

”Aku tidak… hh… kupikir kau tidak men…”

”Kau pikir aku tidak mendengar apa yang kedua gadis itu ucapkan?” Baekhyun melepaskan salah satu earphonenya dengan cepat. Lalu memasangkannya dengan asal ketelinga Seo Yeon. ”Apa yang bisa kau dengar?”

Seo Yeon menggeleng sebagai jawaban. Entah mengapa bibirnya benar-benar terasa kelu saat ini. Di matanya, dengan jarak sedekat ini, wajah Baekhyun benar-benar terlihat tampan. Belum lagi rambutnya yang biasanya terlihat berantakan itu kini tersisir rapi. Dengan poni rambutnya yang disisir keatas dan tidak menutupi dahinya. Seo Yeon bahkan baru menyadari lelaki itu mengenakan eyeliner yang cukup tebal. Well, itu bukan kebiasaan yang umum dilakukan oleh lelaki SMA. Dan… bibir tipisnya itu benar-benar cocok dengan matanya yang jernih.

Hey, ada apa denganku? Ini bukan saat yang tepat untuk menganggumi lelaki ini. Lihatlah betapa mengerikan posisi kami! Teriak Seo Yeon dalam hatinya.

”Mian.”

”Tidak cukup!” Tandas Baekhyun sembari menyentuhkan dahinya pada dahi Seo Yeon. Membuat tubuh Seo Yeon semakin menegang saja. ”Menjauh dariku! Jangan perlihatkan dirimu secara terang-terangan atau sengaja di depan ku. Kecuali di kelas.” Baekhyun menyeringai. ”Kau tau? Aku bisa membuatmu lebih tegang dari ini.”

Dan Baekhyunpun… pergi.

Meninggalkan Seo Yeon yang masih bersandar pada dinding kusam di belakangnya itu dengan wajah yang benar-benar sudah kacau untuk ukuran sepagi ini. Ia menghela nafasnya panjang-panjang. Memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk bernafas setelah sebelumnya ia tak bisa dengan mudah bernafas dengan Baekhyun di dekatnya. Ia menoleh, menatap Baekhyun yang tengah berjalan menjauh dan tengah membenahi earphonenya.

Seo Yeon memegangi dadanya yang masih berdegup kencang itu dan mengernyitkan dahinya.

”Sebenarnya aku yang gila atau dia yang gila?” Ia menggeleng lemah. ”Sepertinya memang aku yang gila karena terlalu berani dengan berandal seperti dia.”

”Tapi dia tampan.” Seo Yeon menggumam.

~æ~æ~æ~

Seo Yeon memegangi perutnya yang kini terasa kenyang itu. Seraya tersenyum cukup lebar ia menegak sekotak jus apel di tangannya. Khusus hari ini ia melewatkan makan siangnya hanya untuk menyelesaikan tugas yang tak sempat ia selesaikan tepat waktu. Membuatnya harus mengurung diri di dalam kelas dan hanya menatap sedih pada teman-temannya yang bisa dengan senang hati meluncur menuju kantin dan mendapatkan makanan pengisi perut mereka. Well, tapi setidaknya ia sudah berhasil mengatasi perut keroncongannya itu segera setelah kelas berakhir. Sedikit banyak ia bahkan bersyukur karena hari ini tak ada kelas malam.

Ia melangkah tak terlalu cepat menembus beberapa orang yang berlalu lalang. Sesekali siswa-siswa menatapnya dan menyebut namanya. Begitulah, selalu seperti itu. Terkadang status sebagai anak pemilik sekolah tak semenyenangkan yang dibayangkan. Bagi Seo Yeon hal itu justru menjadi tekanan tersendiri untuknya. Belum lagi, ia memang bukan anak kandung dari kedua orang tuanya. Apalagi yang bisa menjadi lebih buruk dari ini?

Ia menghentikan langkahnya tiba-tiba sesaat setelah kakinya menginjak persimpangan koridor yang ia temui. Ia mengeratkan pegangannya pada tali tas seraya menajamkan penglihatannya. Berusaha meneliti tanpa salah pemandangan yang tersaji tepat sekitar sepuluh meter di depan matanya.

”Baekhyun…” Seo Yeon berdesis. Matanya semakin menyipit dan kerutan di keningnya semakin terlihat jelas kala wajah lelaki itu semakin terlihat jelas dimatanya. Kala jarak antara dirinya dan Baekhyun—juga segerombolan lelaki yang tak dikenalnya—semakin dekat.

Seo Yeon mengerjapkan matanya berkali-kali. Mulutnya menganga cukup lebar melihat apa yang ada di hadapannya ini. Benarkah semua yang ada di penglihatannya? Tidakkah matanya itu berusaha membohonginya dan memberikan ilusi yang tak nyata?

Seorang Byun Baekhyun yang terkenal akan ke-berandal-annya kini justru tergeletak—terlihat lemas—dengan berbagai pukulan yang bertubi-tubi di layangkan pada tubuhnya. Tenggorokan Seo Yeon terasa tercekat seketika matanya menangkap lebam-lebam juga darah yang keluar dari beberapa bagian tubuh Baekhyun.

”YA! HENTIKAN! APA YANG SEDANG KALIAN LAKUKAN, HA?” Tanpa berpikir panjang Seo Yeon berteriak, membuat segerombolan lelaki—yang tak dikenalnya—itu menghentikan aksi memukulnya dan beralih menoleh padanya.

Bisa Seo Yeon lihat kedua alis mereka bertaut. Mungkin mereka mempertanyakan siapa gadis yang berani-beraninya menganggu aksi mereka itu. Tapi, Hey! Siapa di sekolah ini yang tak mengenalnya? Meski ia juga membenci harus mengakuinya, tapi tak ada di sekolah ini yang tak tahu siapa anak dari pemilik sekolahan ini.

”Kalian tahu siapa aku, bukan?” Seru Seo Yeon sembari melangkahkan kaiknya selangkah demi selangkah mendekat. Semakin memperjelas matanya untuk menangkap segerombolan lelaki yang sudah membuat Baekhyun babak belur itu. Wajah mereka tidak familiar di matanya, mungkin mereka seniornya. Atau karena Seo Yeon tak memeprhatikan sekitarnya?

Diliriknya Baekhyun yang masih terduduk sembari bersandar di dinding itu. Bibirnya sobek dan mengalirkan darah segar. Sudut mata kirinya pun juga sobek dan banyak lebam kembali terlihat jelas di wajahnya. Padahal Seo Yeon masih ingat betul pagi tadi, Baekhyun masih rapi dan wajahnya bersih tanpa luka sedikitpun. Kali ini di depan matanya Baekhyun justru terlihat tak berdaya—meskipun Seo Yeon yakin lelaki itu masih akan sanggup untuk berdiri sendiri— dan menundukkan kepalanya, mungkin menahan sakit.

”Jika kalian melakukan hal seperti ini lagi, aku bisa memastikan kalian tak akan menginjakkan kaki di sekolah ini lagi!” Tandas Seo Yeon dan menatap tajam sejumlah empat lelaki di depannya itu. Walaupun keempat lelaki itu jelas memiliki tinggi tubuh yang lebih daripadanya namun ia tak merasa ciut sekalipun. Dan ia pun tak gencar meskipun kali ini keempat lelaki itu justru menyeringai tampak menyepelekan peringatannya.

”Ya!” Salah satu dari mereka berseru, bukan pada Seo Yeon melainkan pada Baekhyun, sembari menendang pelan tubuh Baekhyun yang terlihat lemas dan kehabisan energi itu.

”Hey! Aku sudah mengatakan padamu berhenti melakukan hal itu! Kenapa kau menendangnya?!” Seru Seo Yeon dengan nada lebih tinggi namun tak di dengarkan. Lelaki itu justru mengangkat salah satu tangannya sebagai isyarat untuk Seo Yeon agar membungkam mulutnya.

”Huh, jadi seperti ini sekarang dirimu Byun Baekhyun? Bersembunyi di balik seorang gadis? Terlebih lagi dia adalah anak pemilik sekolahan ini. Kau hebat, bisa mendapatkan perhatiannya. Tapi… kau tak lebih dari pecundang! Menyedihkah!”

Sedetik setelah lelaki itu menyelesaikan kalimatnya, salah satu kakinya kembali menendak perut Baekhyun. Membuat Baekhyun tersentak cukup keras dan mengerang kesakitan. Seo Yeon bahkan ikut meringis, meski bukan ia yang mendapatkan luka-luka itu tapi dengan melihatnya saja gadis itu sudah paham betapa sakit dan perihnya yang dirasakan Baekhyun.

”Gwenchana?” Tanya Seo Yeon panik. Buru-buru ia berjongkok untuk menyamakan posisi Baekhyun yang kini tengah meringkuk di lantai itu. Dengan tanpa ragu Seo Yeon mencoba mengulurkan tangannya, ingin menyentuh setidaknya bahu lelaki itu.

Namun belum sempat bahu lebar itu tersentuh, Seo Yeon sudah lebih dulu terkesiap seketika Baekhyun menepis tangannya dengan kasar. Tak tanggung bahkan Seo Yeon sampai terjengkang kebelakang.

Lelaki itu, Baekhyun, mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Tanpa perlu sebuah kata-kata untuk menjelaskan, Seo Yeon tampaknya sudah bisa mengerti apa yang ada di pikiran Baekhyun saat ini. Dengan tatapan tajam Baekhyun padanya seperti sudah memperjelas semuanya. Dan Seo Yeon hanya bisa tertunduk sekaligus menggumam.

”Aku hanya berusaha menolong. Tidak ada yang salah, kan?”

Baekhyun bangkit, meski dengan cukup susah payah. Karena ketika tubuhnya berusaha ditegapkan, otot-otot perutnya seperti menegang dan ia harus kembali mengerang kesakitan. Belum lagi luka-luka lainnya yang terasa sangat menyiksanya itu. Baekhyun hanya bisa menggigit bibir bawahnya untuk menahan sakit itu, bahkan erangannya yangs empat keluar itu tak ia biarkan lagi untuk terdengar. Tidak di depan orang lain.

Baekhyun menghela nafasnya panjang-panjang, dan kembali menatap Seo Yeon yang sedetik lalu berdiri dan tengah menggigip bibir nya keras-keras.

”Kau tuli? Kau tidak dengar apa yang aku katakan pagi tadi?” Tanya Baekhyun sperti biasanya, dengan nada datarnya.

”Aku tidak tuli. Dan aku…”

”LALU KENAPA KAU MUNCUL DI HADAPANKU?” Seo Yeon berjenggit. Terkejut dengan bentakan Baekhyun yang bahkan sampai menggema di koridor yang mereka pijaki. Baekhyun menyeringai. ”Atau kau benar-benar penasaran dengan hukuman yang aku siapkan untukmu?”

”M-m-mwo?” seo yeon mengerjapkan matanya cepat, benar-benar tak mengerti dengan ucapan Baekhyun.

”argh..” Seo Yeon mengerang. Untuk kedua kalinya punggungnya harus kembali merasakan dinginnya dinding dengan benturan yang cukup kasar. Ia bahkan memejamkan matanya dan meringis saat ngilu di punggungnya itu kembali terasa—seperti perputaran ulang film, mengingat apa yang ia rasakan tadi pagi juga seperti ini. Bahkan dengan orang yang sama yang ada di hadapannya. Walaupun saat gadis itu kembal membuka matanya, jarak antartubuh mereka tak sedekat pagi sebelumnya.

”Aku bahkan tidak yakin, jika kau mendapatkan hukumanmu, kau masih memiliki muka untuk berhadapan denganku.”

Seo Yeon hanya diam. Namun tak luput dari penglihatan Baekhyun, gadis itu benar-benar gugup. Jantung Seo Yeon sudah berdetak tak karuan di dalamnya. Berkali-kali ia berharap apa yang akan terjadi sedetik setelahnya tak akan buruk. Meski sebenarnya dirinya pun penasaran sebenarnya hukuman apa yang dimaksud oleh Baekhyun.

”Dengan wajah seperti itu, benar-benar membuatku semakin muak! Menjijikkan, kau mengerti? Meskipun kau juga belum memasuki batas ke-jalangan itu!”

Seo Yeon mendelikkan matanya. Ia memang tak merasa terkejut dengan segala ketajaman lidah Baekhyun saat berbicara. Persis dengan kakaknya sehingga Seo Yeon sudah merasa terbiasa. Namun di luar batas pemikirannya, hanya satu yang benar-benar tak disangkanya. Kata”Jalang” yang di keluarkan Baekhyun dari bibir tipis itu benar-benar terasa menyakitkan untuknya. Sesering apapun Seo Yeon bertemu dengan orang-orang bersifat dingin dan ketus seperti ini, bahkan tak pernah terpikir olehnya mereka akan dengan enteng mengatakan kata kotor itu—kecuali Baekhyun saat ini mungkin.

”Apa kau mengataiku barusan?” Tanya Seo Yeon dengan suara pelannya. Baekhyun hanya menyeringai dan memutar bola matanya. Ia mengusap sudut bibirnya yang masih kotor oleh darah itu dengan ibu jarinya sebelum akhirnya kembali menatap gadis itu.

”Aku memiliki nasihat untukmu! Jika kau ingin menolong seseorang, pastikan sebelumnya bahwa kau sudah bisa menolong dirimu sendiri! Bukan justru meminjam nama orang lain.” Baekhyun sedikit menjauh. Sebelum kakinya itu melangkah pergi semakin jauh, tangan lelaki itu dengan terampil merapikan sudut blazer pada bagian lengan dan bahu Seo Yeon. Menepuk-nepuknya sekilas kemudian kembali menyeringai. ”Dan jika kau ingin menolong seseorang, pastikan kau gunakan kemampuanmu sendiri!”

Sekali lagi Seo Yeon di buat tak mengerti. Namun ia menyeringai tepat setelah Baekhyun membalikkan badannya. Serta melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Seo Yeon yang masih mematung bersandar pada dinding putih itu. Ditatapnya punggung lelaki yang semakin menjauh itu. Sejenak ia menggelengkan kepalanya pelan kemudian berteriak lantang.

”APA YANG KAU MAKSUD ADALAH AKU MENGGUNAKAN STATUSKU UNTUK MENOLONGMU, BEGITU? KAU PIKIR MEREKA BERHENTI MEMUKULIMU KARENA MEREKA TAKUT AKU BISA SAJA MEMBERITAHU AYAHKU UNTUK MENGELUARKAN MEREKA? BEGITUKAH MAKSUD UCAPANMU? KAU PIKIR AKU BISA BERBUAT SESUKAKU DENGAN STATUSKU?” Seo Yeon menghela nafas panjang. Menghirup udara sepuasnya setelah sebelumnya ia menghabiskan satu tarikan nafas untuk meneriakkan rentetetan kalimat itu. Entah disadari oleh gadis itu atau tidak, matanya mulai berkaca-kaca. Berlinangan dan tampak semakin banjir seiring kata-kata status yang selalu membuatnya muak itu diucapkan olehnya.

”Apa kau tidak tahu? Mereka yang berkata bahwa status yang kumiliki bisa membawaku kamanapun aku mau, tapi bagiku itu hanya sebuah bualan belaka.” Seo yeon menenggak liurnya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa begitu tercekat. Dan entah mengapa bibirnya terasa tak ingin berhenti untuk berbicara. Membicarakan segalanya pada lelaki itu untuk menjelaskan kesalahpahaman yang diartika oleh Baekhyun. Belum lagi melihat Baekhyun kini justru menghentikan langkahnya membuat apa yang ada di dalam benaknya itu terasa ingin cepat-cepat ia keluarkan begitu saja.

”AKU HANYA ANAK ADOPSI! Atau setidaknya dua gadis itu mengataiku sebagai anak pungut. Yang tak tahu diri dan mengambil kebahagiaan dari Sehun.” Ia menunduk dalam, menatap ujung sepatunya yang tampak sedikit kotor dan membiarkan air matanya itu mengalir membasahi pipinya. ”Kau sudah lebih dari sekali melihatku bersama Sin Ae dan Minji. Apa yang ada dipikiranmu adalah aku tengah bersenang-senang dengan mereka? Kau salah besar jika berpikiran seperti itu! Aku… Oh Seo Yeon atau Kang Seo Yeon—sebelum aku berada di keluarga OH—selalu terlihat oleh satpam pulang dari sekolah larut malam. Bahkan saat tidak ada jam malam sekalipun. Mereka mungkin berpikir aku tengah belajar. Tapi apa kau tahu betapa sakit fisik dan metalku saat itu?”

Seo Yeon kembali mendongak. Melangkahkan kakinya satu langkah demi langkah meskipun hatinya diliputi keraguan. Jantungnya semakin berdetak tak karuan saat punggung Baekhyun terlihat lebih jelas dan dekat. Dan entah ia harus merasa lega atau tidak karena melihat Baekhyun masih diam di tempatnya.

Ditatapnya mata itu. Mata yang memiliki tatapan tajam namun entah ada sarat keteduhan yang Seo Yeon rasakan. Beradu pandang dengan seorang Byun Baekhyun tidak sama sekali membuat Seo Yeon merasa ketakutan bahkan dengan wajah lelaki itu yang mengeras seperti saat ini.

”Kau tidak pernah tahu rasanya di-bully, bukan? Kedua gadis itu tahu siapa aku. Oh Seo Yeon yang hanya diambil dari sebuah panti asuhan dipinggiran Seoul. Dan menggunakan itu untuk menekanku. Itu menyakitkan, perasaanmu juga akan tersakiti. Setidaknya kau harus berterima kasih padaku karena aku menolongmu.” Seo Yeon memutar bola matanya seraya menyeringai. ”Kau benar, aku memang belum bisa menolong diriku sendiri. Tapi apa dengan begitu aku harus menutup mata dari orang-orang yang bisa kutolong? Dan aku… tidak pernah menggunakan statusku. Aku juga sadar diri, status itu bukan sepenuhnya milikku.”

Gadis itu membalikkan tubuhnya. Menghela nafas panjang dan kembali berkata, ”Jika kau tidak ingin melihatku, aku akan berusaha sembunyi.” Dan melangkah pergi meninggalkan Baekhyun yang masih mematung di belakangnya.

Selangkah demi selangkah yang kakinya itu ambil tiap detiknya entah mengapa membuat apa yang ada di dalam benaknya itu seperti tersayat. Sangat menyakitkan. Dan bahkan sayat-sayatan itu seperti mengoyak hatinya dengan serta merta. Membuat Seo Yeon hanya mampu mengeluarkan air matanya, menangis meski dalam diam. Gadis itu bahkan menggigit bibir bawahnya untuk menahan agar tangisnya tak terdengar histeris. Dipukul-pukulnya dadanya untuk setidaknya meredakan rasa sakit hati yang entah kenapa semakin menyiksanya itu. Tapi kenapa tak juga berhasil? Dan kenapa justru terasa semakin menyakitkan baginya?

Harusnya ia senang karena ia bisa menjelaskan semuanya pada Baekhyun. Seharusnya ia merasa lega karena dengan begitu lelaki—yang entah apa masih mematung ditempatnya—tak lagi salah paham dengan segala keadaannya. Tapi kenapa rasanya justru semenyakitkan ini? Mengucapkan berbagai kalimat itu dengan begitu mudahnya namun pada akhirnya Seo Yeon tersadar, semua itu hanya akan membuatnya kembali mengingat bagian hitam dalam kehidupannya. Membuatnya lagi-lagi harus tenggelam dalam kabut yang sebenarnya tak dikehendakinya itu.

”Arrrgghhh!! WAEYO? WAEYO? KENAPA ORANG TUAKU BEGITU KEJAM DAN MEMBUANGKU KEPANTI ASUHAN?” Akhirnay tangis gadis itu pun pecah.

~æ~æ~æ~

Seo Yeon menuruni tangga rumahnya itu satu persatu. Sembari memegangi kepalanya yang entah kenapa terasa pening, ia juga memperhatikan setiap langkah kaki yang ia ambil. Ia tak ingin terjatuh dari tangga yang bahkan belum sampai pada ujungnya ini.

Gadis itu kembali mengerang. Bahkan yang dipikirannya, sakit kepala itu akan sedikit terobati dengan berendam di air hangat beberapa saat tampaknya hanya mustahil. Apa karena semalam ia bergadang untuk menyelesaikan tugas-tugasnya yang menumpuk itu? Mungkin saja ia hanya kurang tidur. Terlebih lagi semalam ia harus menyiapkan segala pernak-pernik untuk pesta kecil-kecilan demi menyambut ulangtahun ayahnya. Ya, karena surprise di sekolah itu gagal.

Kembali berjalan meski dengan perlahan, ia mengeratkan pegangannya pada tali tasnya. Pandangan matanya sedikit di alihkah pada rok seragamnya yang sedikit tersingkap. Sembari mengeluh ia membenahinya. Sepertinya akibat pusing yang mendera ini, untuk mengenakan seragam yang bahkan hampir setiap pagi dikenakannya itu—kecuali hari libur—tidak becus.

”Tidak! Aku tidak akan memberitahunya!”

”Tapi Seo Yeon sudah dewasa. Dia sudah tujuh belas tahun. Sudah sepantasnya dia tahu apa yang terjadi pada keluarga sebenarnya!”

Seketika dihentikannya langkah kakinya. Meski sedikit terhuyung karena berhenti tiba-tiba namun ia  kembali berusaha menstabilkan tubuhnya dengan bertopang pada terali besi di sampingnya.

Mendengar namanya disebut-sebut, belum lagi menyangkut pautkan kedewasaannya membuatnya mau tidak mau penasaran dengan apa yang sebenarnya tengah di bicarakan oleh kedua orang tuanya. Dan yang lebih membuat kening gadis itu berkerut, apa yang harus diketahuinya tentang keluarganya? Setahu Seo Yeon keluarganya baik-baik saja. Ayahnya baik-baik saja dan kini bahkan tengah berbicara serius dengan ibunya di depan matanya sendiri. Mungkin pengecualian untuk kakaknya yang selalu bersikap dingin padanya.

Seo Yeon merapatkan tubuhnya pada dinding di sampingnya. Sembari berusaha menajamkan indra pendengarannya agar ia bisa mendengar segala ucapan kedua orang tuanya bahkan yang berdesibel rendah sekalipun. Dan mau tak mau juga, jantungnya berdebar kencang. Ia seperti tengah menantikan sebuah kejutan yang tak diduga-duga dari ucapan mereka.

”Lalu apa yang akan kita lakukan jika dia sudah mengetahuinya? Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan Seo Yeon jika dia sudah mengetahuinya? Dan bagaimana jika dia justru meninggalkan kita setelah itu?”

Kening Seo Yeon semakin berkerut. Apa sebenarnya yang mereka bicarakan? Kenapa pula Seo Yeon harus meninggalkan rumah ini setelah ia mengetahui apa yang menurut ibunya tak harus diketahuinya? Seo Yeon menegakkan tubuhnya. Jantungnya semakin berdetak tak karuan dan tenggorokannya terasa tercekan seiring dengan usahanya untuk menegak liurnya.

Beberapa spekulasi mulai menyelubungi otaknya. Dan jujur saja, Seo Yeon berharap semua spekulasinya itu salah.

”Tapi setidaknya itu lebih baik dari pada ia mengetahui kenyataan dengan sendirinya. Akan betapa terpukulnya anak itu jika ia tahu bahwa ayahnya masih hidup dari orang lain! Setidaknya jika kita yang memberitahunya, semua akan lebih ringan untuk Seo Yeon. Berpikirkan seolah kau ada di posisinyaa, Yeobo. Kau pasti ingin tahu siapa ayah kandungmu sebenarnya.”

DEG…

Seraya ada berjuta-juta pisau belati yang kini dihujamkan pada jantung gadis itu. Seluruhnya syarafnya seperti mati begitu saja, menyebabkan dirinya jatuh terduduk dilantai. Tak peduli debaman kecil yang ditimbulkan itu akan terdengar oleh kedua orang tuanya.

Benaknya benar-benar terasa seperti dipukul palu. Oh, Seo Yeon bahkan berkali-kali mempertanyakan apakah ini semua nyata? Apa ini bukan mimpi belaka? Apa telinganya benar-benar berfungsi dengan baik kali ini? Bahkan jika ada ia ingin mendengarkan rekaman ulang pembicaraan kedua orang tuanya.

Perlahan, genangan air mata itu muncul. Bahkan tak butuh waktu lama untuk genangan itu membuat sungainya. Semua. Semua yang ada di pikiran seo Yeon kali ini seperti diterpa angin dan beterbangan begitu saja. Semua spekulasi yang ia harap salah besar itu justru menjadi benar. Dan lebih buruknya, hal yang menjadi benar itu justru spekulasi yang benar-benar tak diinginkannya untuk menjadi benar.

”Ayah…Ayahku… masih hidup?”

~æ~æ~æ~

~Dirty Storey Room~

To Be Continue…

140 responses to “Dirty Storey Room [Part~4]

  1. Argh……so hard to say,, I just feel like I want to scream loudly, run away to another space, or jump from highest tower.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s