[Chen’s] A Silent Love Song

Title            : 7th part (Chen’s) A Silent Love Song

a-silent-love-song

Author       : Fransiska Nooril Firdhausi / @fhayfransiska /soo ra Park

Credit Poster : Thanks to Suju Chingu

Genre         : Romance, Friendship, Angst, Family

Length       : Chaptered

                   1st part [Chan Yeol’s] Girl inside the Window

                   2nd part [Baek Hyun’s] Egoistic Princess

                   3rd part [Kris’] Wedding Pain

                   4th part [Xiu Min’s] Oblivious Summer

                   5th part [D.O’s] Goodbye Tiramisu

                   6th part [Kai’s] Hum on Rainy Day

Cast            :

  • Kim Jong Dae a.k.a Chen
  • Oh Hyun Young (OC)
  • Zhang Len Fan (OC)
  • Kim Jong In a.k.a Kai
  • Lee Sung Yeon (OC)
  • Park Soo Ra (OC)
  • Do Kyung Soo a.k.a D.O
  • Oh Se Hun
  • Byun Baek Hyun
  • Lee Jin Ri (OC)

Allo readerdeul, author is comeback \(^^)/ !! Sebelumnya author mau ngucapin selamat berpuasa bagi yang sedang menjalankan, ya ^^ *telat. Dan author bener-bener minta maaf karena udah kelamaan ngilang ^^ *bow bareng Kevin. Dan author kembali dengan ff mendayu-dayu seperti biasanya, n untuk part ini mungkin rada garing-garing krik membosankan yah, uhuhuh T.T moga” reader ga bosen bacanya *amin.

Special thanks to @gethagethuk yang udah author pinjem namanya buat main cast cewek, mian kalo gasesuai harapan >,<

This plot dan OC are mine, and EXO is God’s. Don’t do plagiarism ok?  

And be a good reader please, don’t forget to give me oksigen (Read-Comment-Like)^^

________

            “Kalau sudah besar nanti, aku ingin jadi penyanyi. Lalu aku akan membuat lagu untuk kekasihku dan kunyanyikan bersama dengannya.”

Jong Dae, namja berwajah ramah itu tersenyum cerah ketika membaca sederet kalimat di buku harian masa kecilnya, tulisan acak-acakan yang anehnya mampu membuat perasaannya kini berbunga-bunga. Jong Dae menutup pelan buku harian yang warnanya telah memudar itu, ia hendak memasukkan benda ‘bersejarah’ itu ke dalam laci meja kerjanya ketika pintu kamarnya terbuka perlahan.

“Hyung, aku masuk ya?”tanya seseorang yang membuka pintu, namun sebelum Jong Dae sempat menjawabnya, seseorang itu langsung menyeruak masuk dan membanting tubuhnya ke kasur empuk milik Jong Dae, membuat kasur yang semula rapi itu kini berantakan.

“Ya! Jong In ah, aku sudah membereskan tempat tidur itu dengan susah payah, sekarang dengan seenaknya kau membuatnya kembali berantakan.”

Seseorang yang ternyata bernama Jong In itu hanya memamerkan sederet gigi putihnya yang rapi sementara Jong Dae memasang wajah kesal. “Susah payah? Sesusah apa sih, hyung? Sesusah kau merayu nenek untuk membelikan mainan yang kau inginkan seperti masa kecilmu dulu?”

Jong Dae mendelik kesal begitu Jong In mulai mengungkit-ungkit pengalaman masa kecilnya bersama neneknya yang sangat pelit. “Itu sama sekali tidak lucu, Jong In.”

Jong In terkekeh, “Memang tidak, yang lucu adalah buku yang kau pegang itu.”ujar Jong In sembari menunjuk buku yang kini tengah dipegang Jong Dae. Jong Dae langsung terbelalak begitu menyadari apa yang ditunjuk Jong In, dengan segera ia memasukkan buku ‘bersejarah’ itu ke dalam laci mejanya.

“Buku harian? Astaga hyung, aku tidak pernah menyangka kau masih menyimpan buku yang err.. mungkin sudah berusia sepuluh tahun itu.”

“Aku hanya kebetulan menemukannya.”elak Jong Dae.

“Tidak usah berbohong, hyung.”Jong In melirik Jong Dae yang tengah memelototinya, “Matamu menjelaskan semuanya. Haha.”

Jong Dae menghela napas, menyerah, selama ini ia memang tidak pernah berhasil mengalahkan Jong In dalam hal berdebat. Ia terlalu malas untuk meladeni sifat dan ‘penyakit’ tidak ingin kalah dari adik bungsunya itu. Selain itu, yah sebenarnya perkataan Jong In juga tidak sepenuhnya salah.

“Hyung, aku iri padamu.”ucap Jong In tiba-tiba, membuyarkan lamunan Jong Dae.

“Maksudmu?”

Jong In meletakkan kedua tangannya di bawah kepala, ia menatap langit-langit kamar Jong Dae dengan tatapan menerawang. “Sebentar lagi hyung akan segera debut, mengikuti jejak Jong Woon hyung dan Jong Hyun hyung sebagai penyanyi. Dan tak lama lagi, aku yakin hyung akan menjadi penyanyi terkenal di Korea.”

Jong In menghembuskan napasnya berlebihan, “Sementara aku, apa yang bisa aku lakukan. Menari? Oh, itu bahkan hal paling mustahil yang bisa aku lakukan sekarang. Menyanyi? Orang-orang pasti akan langsung sakit kepala begitu mendengar aku bernyanyi, lagipula aku bukan orang yang melodramatis seperti hyung-hyungku.”

Mendengar itu Jong Dae hanya terdiam, ia menatap Jong In prihatin. Sebagai seorang kakak, tidak banyak hal yang bisa ia lakukan. Saat itu yang bisa ia dan kedua kakaknya lakukan hanya merasa bersalah karena tidak bisa melindungi adik bungsu mereka, Jong In. Ya, tujuh tahun yang lalu, ia melihat dengan jelas bagaimana kecelakaan itu terjadi, kecelakaan yang kini merenggut kebahagiaan terbesar Jong In dan mampu membuat namja itu begini terpuruk. Hal itu tentu membuat Jong Dae masih menyimpan rasa bersalahnya hingga kini.

Pengakuan Jong In bahwa ia akan berhenti menari benar-benar membuat hati Jong Dae tercabik. Ia tidak akan pernah melupakan wajah sayu dan suara parau Jong In ketika mengatakannya. Jong Dae tahu betul bahwa menari adalah segalanya untuk adiknya itu, dan kini Jong In harus benar-benar berhenti. Jauh di dalam hati, Jong Dae menyalahkan yeoja kecil yang Jong In tolong itu meskipun ia tahu bahwa yeoja itu tak sepenuhnya bersalah.

“Ya, hyung! Berhenti melamun dan mulailah bercerita padaku tentang yeoja yang rutin kau amati di taman selama setengah tahun terakhir itu!”

Jong Dae tersentak dari lamunannya, ia membulatkan matanya sempurna. “Hah? Apa perlu?”

“Tentu saja! Kau calon penyanyi, calon orang terkenal, aku bisa menjual gosip ini ke pers dan mendapatkan keuntungan darinya.”kata Jong In sembari mengerling jenaka.

“Ya!”

Jong In tertawa keras, “Haha, sudahlah hyung. Lekaslah cerita padaku atau aku akan benar-benar menyebarkannya nanti.”

Jong Dae mendengus, ia mengerjapkan matanya beberapa kali, berusaha mengingat jelas kejadian setengah tahun yang lalu, kejadian yang mampu merubah hidup, hati dan imajinasinya.

_______

Setengah tahun lalu. Saat itu musim semi, ketika udara sudah mulai menghangat dan bunga-bunga tengah berlomba untuk bermekaran. Jong Dae duduk di pinggir taman, pandangannya menyapu seluruh isi taman yang cukup ramai saat itu. Sesekali dia menuliskan sebuah kalimat di atas buku yang dibawanya, namun sedetik kemudian namja itu menghapusnya lagi.

“Aishh, kenapa membuat lirik sederhana saja aku tak bisa!”

            Karena kesal, Jong Dae membanting buku yang dibawanya dengan keras ke tanah. Namja itu bermaksud meninggalkan taman dan membiarkan buku itu tergeletak di tanah ketika ia merasakan seseorang menepuk  pelan bahunya. Jong Dae berbalik dan mendapati seorang yeoja cantik tengah tersenyum kepadanya. Yeoja itu memberikan buku yang ingin Jong Dae tinggalkan tadi. Jong Dae menerimanya dengan ragu-ragu dan menatap yeoja itu dalam-dalam. Tiba-tiba dia merasakan jantungnya berdetak cepat.

             “Gam..gamsahamnida.”gumam Jong Dae sambil membungkukkan badannya.

            Yeoja itu balas membungkuk, kemudian berjalan cepat meninggalkan Jong Dae. Sementara yeoja itu berlalu, Jong Dae tidak hentinya memandangi yeoja itu. Seperti mendapat pencerahan, Jong Dae langsung menuliskan sebuah kalimat di bukunya. Sebaris lirik yang menggambarkan perasaannya saat itu.

_______

“Lagu itu sekarang sudah rampung? Dan lagu itu untuk debut hyung nanti?”

Jong Dae mengangguk pasti mendengar kesimpulan yang dikatakan Jong In.

“Dengan kata lain, yeoja itu adalah sumber inspirasimu?”

Jong Dae tersenyum renyah, “Bisa dibilang begitu.”

“Lalu bagaimana caramu mendekatinya? Kau sudah memendam perasaan padanya selama setengah tahun, selama itu juga kau hanya mengamati yeoja yang sering berada di taman itu dari kejauhan. Ayolah, hyung segera temui dia dan utarakan perasaanmu padanya!”cerocos Jong In panjang lebar.

“Tenang saja, aku sudah punya rencana.” Jong Dae melirik laci meja kerjanya, tempat di mana ia meletakkan buku harian masa kecilnya. “Seperti mimpiku, menjadi penyanyi, membuat lagu dan menyanyikannya dengan yeoja yang aku cintai.”

Jong In memicingkan mata ke arah Jong Dae, sedetik kemudian pandangannya kembali pada langit-langit kamar Jong Dae yang polos dan membosankan.

“Bagaimana denganmu? Bagaimana kabar err… Soo Ra?”ujar Jong Dae tiba-tiba.

Jong In menutup wajahnya dengan sebelah tangannya, “Dia baik-baik saja. Mungkin memang ia lebih baik tanpaku, aku dan dia sudah kembali bertegur sapa seperti dulu meskipun kami menjadi jauh lebih kikuk sekarang.”

Jong Dae hendak membuka mulut ketika Jong In menyelanya duluan, “Dua tahun bukanlah waktu yang singkat, hyung. Aku tahu ia punya alasan di balik itu semua, alasan kenapa ia meninggalkanku begitu saja. Dan kini aku bertekad untuk melupakannya, hyung. Aku yakin aku bisa. Yah, meski tidak semudah mengatakannya.”

“Hmm?”

“Hyung, ada seorang yeoja. Yang memenuhi pikiranku beberapa hari ini.”

Jong Dae menaikkan kedua alisnya.

“Aku sangat menyukainya, menyukai suaranya, aku merasa nyaman bila ia menyanyi. Dan entah sejak kapan aku mulai menyukai hujan, sesuatu yang menjadi kesukaannya juga. Ia selalu menyanyi saat hujan. Jujur, aku bahagia bila berada di sampingnya. Mungkin ini merupakan langkah awal untuk keluar dari keterpurukanku akan Soo Ra.” Jong In tersenyum kecut, “Tapi ada satu hal yang membuatku ragu…”

“Apa itu?”

Jong In menghembuskan napasnya keras, “Yeoja itu. Ia adalah yeoja yang aku tolong tujuh tahun lalu.”

Mata Jong Dae membulat sempurna, “Hah?!”

________

Seoul High School

Soo Ra melangkahkan kakinya cepat menuju gerbang sekolah, ia ingin segera pergi ke rumah sakit dan menemui kakaknya. Namun langkahnya terhenti begitu melihat namja yang ia kenal tengah bersandar pada motor besarnya sembari tersenyum memandangnya.

“Do Kyung Soo ssi?”

Kyung Soo tersenyum, ia mengangkat kantung plastik yang berada di tangan kirinya tinggi-tinggi. Kantung plastik tipis itu membuat makanan yang ada di dalamnya terlihat jelas. Tanpa pikir panjang Soo Ra segera mendatanginya, “Ya, memangnya kau pikir aku akan terpancing oleh makanan? Kau selalu menggunakan cara yang sama ketika ingin memanggilku.”

“Dan selalu berhasil bukan?”kata Kyung Soo sembari tersenyum jahil, membuat wajah Soo Ra memerah seketika, yeoja itu lantas memukul pelan lengan Kyung Soo. “Berhentilah menggodaku! Dan kau Kyung Soo ssi, lebih baik kau antarkan saja aku ke rumah sakit.”

Kyung Soo terkekeh, Soo Ra memandanginya lama. “Entah apa cuma perasaanku atau kau memang tampak lebih hidup sekarang dibandingkan dengan saat pertama kali aku bertemu denganmu.”

Kyung Soo tersenyum lagi, “Bukankah itu tandanya kau telah berhasil, agassi?”

Mata Soo Ra membulat, “Benarkah? Kenapa cepat sekali?”

Kyung Soo mengerucutkan bibirnya kemudian memandang remeh ke arah Soo Ra, “Ya! Memangnya kau ingin aku lama-lama terpuruk seperti itu. Harusnya kau senang, dasar pabo!”ujar Kyung Soo sembari menoyor pelan kepala Soo Ra.

“Hehe, mian. Iya benar juga.” Soo Ra terdiam sejenak, “Itu artinya sebentar lagi kau akan bisa kembali hidup normal. Dan aku…. bisa pergi darimu. Tugasku sudah selesai, bukan?”lanjut Soo Ra dengan senyum terukir jelas di wajahnya.

Kyung Soo menatap Soo Ra takjub, ia langsung mengalihkan pandangannya dari yeoja itu ketika melihat kembali sosok Shin Ah dalam diri Soo Ra. Benar apa yang dikatakan Soo Ra, ia bisa tersenyum lagi sekarang, ia bisa kembali tertawa dan itu artinya kontrak mereka akan segera berakhir. Dan entah kenapa, mengingat itu membuat hati Kyung Soo memanas, ia tidak siap, ia tidak siap bila Soo Ra pergi meninggalkannya saat ini.

“Kyung Soo ssi?”

“Apa kau akan kembali pada namjachingumu begitu semuanya selesai?”

Soo Ra menaikkan kedua alisnya, namun sesaat kemudian ia tersenyum masam sembari mengedikkan kedua bahunya. “Sebaiknya kita segera ke rumah sakit sekarang, Kyung Soo ssi. Aku tidak punya banyak waktu hari ini.”

Mendengar itu, Kyung Soo hanya sanggup menghela napas lalu mengangguk pelan.

________

Hati Jong In masih saja panas sekalipun pemandangan itu kini tak lagi ada di depannya. Ya, pemandangan yang tidak jauh berbeda dengan pemandangan menyakitkan yang pernah ia lihat sebelumnya, Soo Ra bersama dengan namja lain. Dan sama seperti sebelum-sebelumnya, Jong In tidak bisa melihat wajah si namja dengan jelas. Soo Ra dan namja itu bertemu di depan gerbang sekolah, di saat yang nyaris bersamaan Jong In tengah melangkah keluar sekolah dan mau tidak mau ia harus dihadapkan dengan pemandangan yang selalu berhasil membuat hatinya sesak itu. Ternyata ia belum sepenuhnya berhasil melupakan Soo Ra.

“Jong In sunbae?”

Jong In membalikkan badannya dan mendapati Sung Yeon di sana. Namja itu langsung menarik ujung bibirnya hingga terbentuk seulas senyum di wajahnya, “Oh, Sung Yeon ah.”

Sung Yeon tersenyum kikuk, ia terlihat benar-benar gugup sekarang. “Ehm, aku sudah menjelaskan semuanya pada Yu Ji tentang kesalah pahaman itu, dan aku rasa dia sudah mengerti. Sunbae tidak perlu khawatir.”

“Gomawo Sung Yeon ah, seharusnya akulah yang menjelaskan langsung pada Yu Ji.”

Sung Yeon menggeleng, “Aniyo, sunbae. Cukup aku saja. Selain itu…” Sung Yeon tampak kesusahan bicara “Mengenai kecelakaan tujuh tahun lalu, mi.. mianhae sunbae. Mianhae untuk semuanya yang telah terjadi. Seandainya aku ..”

“Aku sudah berulang kali mengatakannya, aku baik-baik saja Sung Yeon ah. Lihat, bukankah aku terlihat segar bugar sekarang?”kata Jong In memotong pembicaraan Sung Yeon sembari merentangkan kedua tangannya.

“Tapi aku dengar sunbae sudah berhenti … menari.” Sung Yeon menelan ludah, “Ini semua pasti gara-gara aku, seandainya aku tidak ceroboh tujuh tahun lalu, ini semua pasti tidak akan..”

Sung Yeon terdiam ketika telunjuk kanan Jong In menempel di bibirnya, wajah Sung Yeon sontak memerah. Jong In tersenyum, “Aku tidak pernah menyesal karena melakukannya Sung Yeon ah. Tolong ingat itu.”

Jong In beranjak meninggalkan Sung Yeon yang masih terpaku di tempat. Tak lama kemudian langkahnya terhenti begitu merasakan lengannya seperti ditahan sesuatu, ia membalikkan badannya dan mendapati Sung Yeon tengah menarik ujung lengan kemejanya kuat-kuat.

“Aku… aku akan melakukan apa saja untuk membalas budi sunbae. Tolong, biarkan aku melakukannnya. Kalau tidak, aku akan tetap merasa bersalah. Aku…”

Jong In menatap yeoja itu lamat. Entah apa yang tengah dirasakannya karena tiba-tiba ia menaruh telapak tangannya di kepala Sung Yeon, lalu mengusap pelan puncak kepala yeoja itu. “Tetaplah bernyanyi untukku. Suara dan lagumu, itulah hal yang membuatku kuat. Entah sejak kapan senandungmu menjadi semacam candu bagiku, atau mungkin oksigen?”

Jong In terkikik melihat wajah Sung Yeon yang kini benar-benar merah seperti kepiting rebus, “Itu artinya, kau harus selalu di sisiku, Sung Yeon ah.”

Mendengar semua penuturan Jong In, Sung Yeon hanya bisa terdiam tak percaya.

_______

Yeoja itu duduk membelakangi Jong Dae, meskipun begitu ia dapat menangkap kesan damai dan tenang dalam diri yeoja itu. Yeoja itu tidak terlihat terganggu meskipun banyak sekali orang berlalu lalang di hadapannya serta anak-anak kecil yang berlari kesana-kemari sambil berteriak-teriak. Sudah setengah tahun terakhir, tanpa ada perubahan, yeoja itu tetap seperti itu, selalu duduk sendirian di kursi yang menghadap ke arah air mancur di tengah taman.

Dari belakang Jong Dae melihat yeoja itu menyisir pelan rambut sepunggungnya yang tertiup angin, sesekali yeoja itu juga merenggangkan badannya, atau mendongak untuk menatap langit sore yang sangat cerah. Jong Dae tersenyum kemudian meraih gitar yang bertengger di sampingnya. Hari ini juga, hari di mana ia akan menginjakkan kaki di panggung debut untuk pertama kalinya, hari di mana ia juga akan mengutarakan perasaannya pada yeoja yang menjadi inspirasi dan memenuhi pikirannya setengah tahun terakhir.

Jong Dae melangkahkan kakinya mendekati yeoja yang masih duduk membelakanginya itu hingga kini terbentang jarak sejauh empat meter di antara mereka berdua. Jong Dae mulai memetik gitarnya dan memainkan sebuah lagu. Ya, hal ini sudah lama ia rencanakan. Ia akan membiarkan yeoja itu yang pertama kali mendengar lagunya, lagu pertama yang ia ciptakan.

I can hear a cheerful song of wind when I first saw you

            Your innocent and soft eyes, emits warmth that I’ve never felt before

            Spring as a witness, that we have met before

            The warmth of spring, defeated by a sweet smile on your lips

            ……

Jong Dae terdiam sebentar begitu menyadari bahwa yeoja itu masih saja diam di tempat, jangankan memberikan sebuah respon, yeoja itu bahkan terlihat tidak sedikitpun merasa terusik. Jong Dae melangkahkan kakinya semakin mendekati yeoja itu, dia menyanyikan lagunya lagi, kali ini agak keras. Namun hasilnya sama saja, yeoja itu tidak sedikitpun menoleh kepadanya. Perasaan cemas pun mulai memenuhi isi hati Jong Dae.

“Ya, agassi.” Jong Dae memanggil yeoja itu yang masih juga diam.

“Ya agassi yang berbaju biru!”kata Jong Dae lebih keras.

Menyerah karena tak kunjung mendapat respon, Jong Dae pun berjalan cepat ke hadapan yeoja itu. Yeoja itu mendongak ketika mendapati seorang namja di hadapannya tengah menatapnya dalam-dalam. Kemudian yeoja itu mengambil sebuah papan tulis kecil dari dalam tasnya, dituliskannya sederet kalimat. Jong Dae hanya terpana melihatnya.

“Kamu …. siapa??”Jong Dae membaca kalimat yang dituliskan yeoja itu. Sesaat kemudian hatinya mencelos, yeoja ini tak bisa bicara?gumamnya dalam hati.

“Namaku Jong Dae. Namamu?”ujar Jong Dae cepat.

Yeoja itu memiringkan kepalanya, alisnya mengernyit tak mengerti. Kemudian dia menuliskan sebuah kalimat di papan kecilnya lagi.

Maaf, aku tidak mengerti apa yang barusaja kau katakan. Tolong tuliskan saja di papan ini.

Jantung Jong Dae seakan berhenti berdetak ketika membaca tulisan yang baru saja ditulis yeoja itu. Saat itu juga Jong Dae merasa dunianya runtuh, ia tiba-tiba kehilangan keseimbangan karena terlalu shock. Dipandangnya yeoja di hadapannya dengan tatapan sendu.

Jadi, yeoja ini juga tak bisa mendengar?

________

            “Jong Dae, kalau sudah besar nanti ingin jadi apa?”

“Kalau sudah besar nanti, Jong Dae ingin jadi penyanyi, Kim songsaenim.  Jong Dae juga akan membuat lagu untuk kekasih Jong Dae, lalu menyanyikan lagu itu bersama dengannya.”

            Jong Dae menatap langit-langit kamarnya yang pucat dan membosankan, itulah aktivitas yang ia lakukan selama satu jam terakhir. Ia seakan tidak sanggup melakukan hal lain selain merenung. Panggung debutnya tinggal empat jam lagi dan dia sama sekali belum melakukan persiapan. Jong Dae melirik laci mejanya, ia lantas beranjak dari tempat tidur dan mengeluarkan sebuah buku harian dari dalam laci itu. Ia menghela napas keras.

Namja berwajah ramah itu membuka pelan lembar demi lembar buku hariannya, buku harian adalah tempat di mana ia mencurahkan seluruh isi hatinya, tempat di mana ia menuliskan semua mimpi-mimpinya sepuluh tahun lalu. Tidak seperti sebelum-sebelumnya, di mana ia selalu tak mampu menahan senyum ketika membaca kembali buku harian masa kecilnya itu. Dan kali ini berbeda, Jong Dae sendiri menyesal kenapa ia merasakannya, menyesal kenapa ia merasa hatinya tercabik begitu membaca setiap kata yang tertulis di buku itu.

Jong Dae hanya mampu menekan dadanya yang tiba-tiba terasa sakit.

_________

Jong Dae telah menyelesaikan panggung debutnya, banyak orang yang datang dan menyorakinya dengan lantang. Sungguh fantastis mengingat ini pertama kalinya ia tampil di hadapan orang banyak. Kedua hyungnya yang juga penyanyi juga datang mendukungnya, dan tak ketinggalan juga adik bungsunya, Jong In.

Backstage

“Ya, hyung! Kau hebat sekali, suaramu benar-benar indah dan menyayat hati. Kau tahu, yeoja-yeoja yang duduk di sampingku sampai ikut menangis mendengarnya!”

Jong Dae tersenyum mendengar pujian Jong In, “Aku masih belum apa-apa dibandingkan dengan Jong Woon hyung dan Jong Hyun hyung.”

“Aniya, kau terlalu rendah hati. Oh iya, selain itu bukankah kau pernah bilang akan mengajak yeojamu itu untuk menonton debutmu, hyung? Apa ia melihatmu tadi?”

Jong Dae terpekur, ia terdiam lama setelah kemudian menghembuskan napas keras. “Dia tidak bisa datang.”

Mendengar itu, Jong In hanya mengangguk-angguk. “Sayang sekali, kuharap ia menonton tv di rumah dan melihat panggung debutmu. Ia pasti akan senang sekali karena lagu itu memang untuknya.”

Jong Dae menunduk, pandangannya lesu. Tidak bisa, tidak akan pernah bisa.

“Jong Dae, kau hebat sekali!” Jong Dae mengangkat kepalanya begitu sebuah suara yang familiar terdengar di telinganya. Matanya membelalak tak percaya begitu melihat seorang yeoja berwajah oriental yang memakai dress hijau selutut tengah tersenyum cerah padanya.

“Zhang Len Fan?!”

Yeoja bernama Len Fan itu tersenyum, membuat wajahnya semakin terlihat cantik. “Hei, berhenti terkejut. Kita hanya tak bertemu selama, ehmmm. .. empat, lima, ya, lima tahun!”

“Kenapa kau bisa ada di sini? Ah, tidak, kenapa kau bisa ada di Korea?”tanya Jong Dae bingung.

“Kenapa terkejut hyung, bukannya harusnya senang teman lama hyung datang ke acara terpenting hyung?” Jong In menimpali.

Len Fan tersenyum mendengar perkataan Jong In, ia berjalan mendekati Jong Dae lalu memeluk namja itu erat. “Aku senang kau telah menjadi penyanyi seperti yang kau inginkan dulu. Kau benar-benar hebat, Jong Dae. Maafkan aku karena pergi terlalu lama.” Len Fan melepaskan pelukannya, yeoja itu menatap Jong Dae tepat di matanya, “Jong Dae, aku kembali untukmu.”

Mendengar itu, Jong Dae hanya diam, tak tahu harus mengatakan apa.

_______

            Hyun Young, nama yang cantik.

Jong Dae memberikan papan mungil yang telah ia tulisi kepada Hyun Young, sesaat setelah membacanya wajah yeoja itu bersemu merah. Baru kali ini ia dipuji secara langsung oleh seorang namja, hal itu membuatnya tak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.

Hyung Young menghapus tulisan Jong Dae dengan penghapus kainnya, ia menuliskan sesuatu di atas papan yang sama. Aku melihat kau di televisi kemarin, aku tidak tahu kalau kau seorang penyanyi. Kau terlihat begitu memukau, Jong Dae ssi. Sayang sekali aku tidak dapat mendengar lagumu. Maafkan aku.

            Seusai membaca kalimat di atas papan kecil itu mata Jong Dae sontak memanas. Ternyata yeoja itu melihatnya, melihat panggung debutnya. Padahal dari awal Jong Dae bermaksud tidak mengatakan bahwa dirinya adalah seorang penyanyi, ia tidak ingin yeoja itu merasa tidak nyaman dengannya, ia tidak ingin yeoja itu malah menjauhinya. Jong Dae memaksakan seulas senyum tipis, kemudian menuliskan sesuatu lagi di atas papan Hyun Young.

Gwenchana, aku senang kau melihatnya.

            Hyun Young membaca tulisan yang ditulis Jong Dae, ia lantas tersenyum dan kembali menulis balasannya. Jong Dae melihat dengan seksama apa yang dilakukan yeoja itu, ia menghela napas begitu merasakan jantungnya berdebar kencang. Sinar polos dari kedua mata Hyun Young, bibir pinknya yang ranum, rambut indahnya yang tergerai bebas, senyumnya yang lebih indah dari matahari musim semi, semua itu tak mampu membuat pandangan Jong Dae berpaling. Ya, ia tahu pasti, ia sudah terlalu jauh mencintai yeoja itu, cintanya terlalu dalam.

Jong Dae tersenyum, ia lantas membatin dalam hati, tidak apa-apa. Aku yakin kau adalah pendengar yang jauh lebih baik dari siapapun, karena kau mendengarkan laguku lewat hatimu.

_______

            “Jadi siapa dia? Siapa yeoja itu?”

Jong Dae menaikkan kedua alisnya, “Apa maksudmu?”

“Sore tadi kau bertemu dengan seorang yeoja di taman kan? Beritahu aku siapa dia!”

Jong Dae menatap malas Len Fan yang tengah menginterogasinya, “Kau membuntutiku? Lalu apa aku perlu memberitahukannya padamu?”

“Tentu saja, aku kan temanmu!”

“Teman? Maksudmu seseorang yang meninggalkanku tanpa mengucap sepatah katapun, seseorang yang tiba-tiba menghilang, raib begitu saja? Apa itu yang kau sebut teman?”kata Jong Dae dengan nada meninggi.

Len Fan membulatkan matanya, ia tidak percaya dengan perkataan Jong Dae barusan. Sebelum ini ia mengenal namja itu sebagai seorang yang lembut dan sabar. “Jong Dae, kau marah padaku karena hal itu?”

Jong Dae mengalihkan pandangannya dari Lan Fen.

“Kau membenciku?”

Jong Dae tetap diam.

“Kau tidak ingin berteman denganku lagi?”

“Jong Dae, jawab aku!”teriak Lan Fen lagi. Namun Jong Dae tetap tidak menggubrisnya.

“Oke, jadi kau lebih memilih yeoja yang bisu dan tuli itu daripada teman lamamu yang telah bersusah payah datang kemari hanya demi menemui …”

Plaaakkk!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Len Fan, membuat yeoja itu terpana dan mengelus pipinya yang sakit. Ia tidak bisa mempercayai apa yang baru saja dilakukan Jong Dae padanya.

“Kau boleh mengatakan apapun tentangku, kau boleh mengejekku, bahkan membenciku. Tapi ingat satu hal, kalau kau sekali lagi mengatakan hal buruk tentang Hyun Young, aku tak akan tinggal diam.”

Len Fan mengerutkan dahinya ketika Jong Dae beranjak meninggalkannya, matanya basah seketika, ia menggigit bibir bawahnya keras. Ia menyentuh dadanya yang tiba-tiba terasa begitu sakit. Sesaat kemudian Len Fan seperti teringat sesuatu, ia mengangkat kepalanya menatap punggung Jong Dae yang menjauh. “Jong Dae!”katanya kemudian.

Langkah Jong Dae terhenti, namun namja itu tidak membalikkan badannya.

“Aku tahu, aku masih ingat dengan jelas. Mimpimu, ya mimpimu yang sering kau ceritakan padaku. Bukankah sejak dulu kau selalu bermimpi untuk menyanyikan lagu buatanmu bersama dengan kekasihmu? Tapi ada apa dengan dirimu sekarang? Apa kau telah membuang mimpimu? Menyukai yeoja yang bahkan bisa dibilang menghancurkan salah satu mimpi terbesarmu? Aku benar-benar tidak mengerti!”

Jong Dae menghembuskan napasnya keras, tertegun dengan setiap kata yang Len Fan lontarkan padanya. Ia mendengar langkah Lan Fen mendekatinya, yeoja itu lalu menaruh dagunya di bahu Jong Dae. “Ada aku. Kenapa kau tidak mau menungguku dan malah menyukai yeoja lain? Aku bisa menawarkan kebahagiaan yang tidak bisa ia berikan, aku bisa menyanyikan lagu itu dengan indah bersama denganmu. Aku bisa mewujudkan mimpi terbesarmu.”

Jong Dae hanya termenung mendengarnya.

_______

A month later …

Jong Dae melangkahkan kakinya keluar rumah, ia tertegun begitu melihat seorang namja yang telah lama ia kenal berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam dan menusuk.

“Oh Se Hun, ada apa kemari? Oh, iya kebetulan Jong In sedang tidak ada di rumah.”kata Jong Dae pada namja itu.

“Aku tidak sedang mencari Jong In, hyung. Aku mencarimu.”

Kedua alis Jong Dae terangkat, “Aku? Ada apa?”

Se Hun menghela napas keras, “Ini semua soal Hyun Young noona.”

Jong Dae membulatkan matanya, “Hyun Young? Kau mengenalnya?”

“Dia kakakku.”

Mulut Jong Dae ternganga, ia tidak pernah menyangka hal ini sebelumnya. Hyun Young memang tidak pernah sekalipun bercerita tentang keluarganya. Jong Dae hanya mengetahui bahwa Hyun Young bermarga ‘Oh’ sama dengan Se Hun, tapi ia tidak pernah berpikir sempit dengan mengira bahwa yeoja itu bersaudara dengan sahabat adiknya. Selain itu, selama ini Se Hun juga tidak pernah mengatakan kalau dia memiliki seorang kakak perempuan sekalipun namja itu sering bermain bersama Jong In di rumah.

“Hyung, aku hanya ingin memperingatkan, jangan sekalipun kau berani mempermainkan noonaku. Aku tak akan segan-segan memukulmu bila kau sampai berani menyakitinya.”

“Tunggu, apa maksudmu?”

Rahang Se Hun tiba-tiba mengeras, ia menatap Jong Dae tajam. “Noonaku, sejak dia bertemu dan mengenalmu, ia menjadi lebih sering tersenyum dan tertawa. Tak jarang ia berbagi cerita denganku tentang dirimu, kami sering menontonmu di televisi. Aku bahagia melihatnya tertawa lebar setiap kali melihatmu di televisi, terkadang ia menangis, yah, meskipun dia tidak bisa mendengar nyanyianmu. Ia hanya merasakan dan berusaha memahami lagumu lewat hatinya.”

Jong Dae hanya terdiam sembari terus memasang telinganya mendengar setiap penuturan Se Hun. “Aku yakin dia telah jatuh cinta padamu, hyung.”

“M..mwo?”

Se Hun mendengus, sedetik kemudian ia meninju perut Jong Dae, cukup keras hingga sanggup membuat Jong Dae mengaduh. “Jangan main-main dengan perasaannya! Aku lihat, aku melihatmu dengan yeoja lain, berjalan-jalan dan tertawa bersama. Kau lupa pada noonaku, hah? Kau lebih memilih yeoja lain dan meninggalkan noonaku? Kenapa? Karena noonaku tidak bisa mendengar lagumu? Karena noonaku tidak bisa menyanyikan lagumu?”

Se Hun semakin kalap, ia memukul rahang Jong Dae keras, membuat namja itu tersungkur di tanah. Namun anehnya, Jong Dae sama sekali tidak mengelak seakan menerima segala tuduhan dan perlakuan yang ditujukan padanya.

“Kalau memang benar begitu, lebih baik kau tidak usah mendekatinya lagi, hyung!”

________

Two days later …

Jong Dae berjalan lambat menyusuri jalan sepanjang Myeong-dong yang masih saja ramai. Namja itu menghembuskan napasnya keras sambil sesekali membenarkan letak maskernya. Masker itu ia gunakan untuk menutupi bekas luka di ujung bibirnya karena dipukul Se Hun dua hari lalu. Selain itu, berjalan-jalan di daerah ramai seperti Myeong-dong bukan hal yang mudah bagi seorang artis seperti Jong Dae. Dia harus memakai pakaian tertutup serta kacamata hitam untuk menyamarkan dirinya.

Namja itu masih ingat dengan jelas, kejadian satu bulan yang lalu. Saat di mana Len Fan memintanya untuk terus bersama dengannya dan meninggalkan Hyun Young. Len Fan menawarkan sesuatu yang tidak bisa Hyun Young berikan padanya, sesuatu yang menjadi impiannya sejak kecil.

Selama satu bulan terakhir, Jong Dae tetap rutin mengunjungi taman dan menemani Hyun Young menghabiskan hari. Keduanya semakin dekat satu sama lain meskipun untuk berkomunikasi cukup sulit. Di saat yang sama, Len Fan selalu datang dan mampu menghibur Jong Dae, memberikan masukan untuk setiap masalah yang namja itu hadapi, yeoja itu juga tak pernah absen memenuhi hari-hari Jong Dae. Dengan keadaan yang seperti itu, cukup membuat Jong Dae bingung dengan perasaannya sendiri.

Jong Dae tersentak dari lamunannya dan menghentikan langkahnya ketika hidungnya mencium sesuatu, jajanan kesukaannya, tteokbokki. Kue beras rebus favoritnya itu selalu mampu membuat ia merasa lebih baik. Dilangkahkan kakinya menuju sudut jalanan di kota Seoul untuk membeli jajanan favoritnya itu, namun langkahnya terhenti ketika dia melihat seseorang.

Yeoja itu, Oh Hyun Young. Hyun Young tengah duduk tenang di sebuah café, dia tampak serius membaca sesuatu. Matanya bergerak-gerak cepat, yeoja itu tidak menyadari seorang namja bernama Jong Dae kini tengah memandanginya lewat kaca jendela café. Setelah lama berselang barulah Jong Dae memutuskan untuk menemui yeoja itu.

Hati Jong Dae mendadak mencelos ketika dia mendapati bahwa Hyun Young tengah membaca sebuah partitur. Jari-jarinya tampak mengetuk-ngetuk meja café seakan menghitung tempo, yeoja itu tampak kesulitan memahami deretan huruf balok yang ada di depan matanya. Ia mengerutkan dahinya beberapa kali hingga kemudian tersenyum seakan baru menemukan sesuatu, yeoja itu mempelajari partitur itu dengan giat. Lagu itu adalah lagu debut Jong Dae, lagu yang pertama kali ia buat untuk Hyun Young.

Jong Dae tidak hendak menyapanya, dia memutuskan untuk keluar secepatnya dari café itu sebelum Hyun Young benar-benar menyadari keberadaannya. Perasaannya kini benar-benar campur aduk.

_______

“Sedang apa Jong In ah? Kau terlihat serius sekali.”

Jong In menolehkan kepalanya pada hyungnya, “Aniya, aku hanya membaca lirik yang dibuat oleh… ehm, yeoja yang pernah aku ceritakan itu, hyung. Dan sepertinya aku mulai menyukainya, aku merasa nyaman berada di sampingnya, aku …”

“Maksudmu yeoja yang kau tolong tujuh tahun lalu?”

Jong In menatap heran ke arah Jong Dae, “Nee. Wae hyung? Hyung selalu memasang wajah tidak suka ketika aku membicarakan yeoja itu. Memangnya kenapa sih, hyung?”

Jong Dae berdecak, ia melipat kedua tangannya lalu menatap Jong In sinis, “Ya, ingatlah! Yeoja itu yang membuatmu sakit seperti sekarang, yang membuatmu tidak bisa menari lagi. Kenapa kau malah menyukai yeoja pembawa sial seperti dia?”

Mata Jong In membulat sempurna, ia tidak habis pikir kenapa Jong Dae bisa mengatakan hal yang kejam seperti tadi. Ia lantas mengerutkan dahinya, memandang tidak suka ke arah Jong Dae. “Hyung, aku sama sekali tidak pernah menyalahkan yeoja itu. Yeoja itu tidak bersalah, aku yang menolongnya, aku sendiri yang membuat diriku seperti ini.”

“Ya, Jong In ah, kau ini …”

“Hyung, aku tidak pernah menyesal pernah menolongnya. Ingat itu.”

Jong Dae terpaku mendengarnya, ia lantas menunduk menyadari kebodohannya sendiri. Ia tidak pernah menyangka, bahwa Jong In kini terlihat jauh lebih dewasa dibandingkan dirinya.

“Mianhae hyung, aku sudah tahu semuanya. Hyung sedang punya masalah saat ini, aku tahu. Se Hun sudah bercerita banyak padaku. Sebenarnya inti masalah kita sama, hyung.  Yeoja yang kita sayangi sama-sama melumpuhkan mimpi kita”

Jong Dae menaikkan kedua alisnya, namun Jong In hanya tersenyum padanya, “Namun merekalah yang memperkokoh pertahanan kita untuk terus bangkit dan belajar, merekalah yang membuat kita lebih hidup. Mereka lebih penting daripada mimpi kita hyung, tanpa mereka kita tak akan bisa.”

Jong In tersenyum lalu menepuk punggung Jong Dae yang tegang. “Entah kenapa aku yakin sekali kalau Hyun Young noona adalah yeoja yang sangat kau cintai, hyung.”

________

Jin Ri’s home

“Baek Hyun ah, terima kasih karena telah mengantarku kemari. Maaf merepotkanmu.”

Baek Hyun menggeleng, “Aniya, tidak usah sungkan.”

“Tapi … apa benar tidak apa-apa? Kita kan sering pulang-pergi rumah sakit bersama, aku agak khawatir dengan Sung Hee. Bagaimanapun juga ia adalah calon tunanganmu, aku tidak ingin dia salah sangka mengira ada apa-apa di antara kita.”

Baek Hyun tertegun, dalam hati ia membenarkan ucapan Jin Ri. “Ah, aniya. Aku sudah menjelaskan semua padanya dan ia mengerti. Jadi tidak usah khawatir.”katanya kemudian.

Jin Ri tersenyum, “Syukurlah kalau begitu. Lagipula ini kan terakhir kalinya kau mengantarku, setelah ini tidak akan lagi.”

Baek Hyun mengangguk pelan, ia memaksakan seulas senyum tipis. Ya, Chan Yeol akan segera keluar dari rumah sakit karena operasi transplantasi sumsum-nya telah berhasil dan namja itu terlihat jauh lebih sehat dibanding sebelumnya. Sifat kekanak-kanakan Chan Yeol membuatnya tidak betah di rumah sakit dan meminta untuk dirawat di rumah saja. Meskipun begitu Chan Yeol harus tetap rutin ke rumah sakit untuk pengobatan tahap lanjut dan check up kesehatannya.

Baek Hyun senang, tentu saja, bagaimanapun juga melihat tawa lepas sahabatnya itu adalah satu hal yang paling ia rindukan. Ia benar-benar berharap akan melihat tawa itu lagi setelah sekian lama tidak melihatnya. Chan Yeol yang berjalan tegap dengan senyum lebar, tingkah jahilnya, Baek Hyun benar-benar merindukan semuanya.

Namun, ada satu hal yang dirisaukan Baek Hyun. Chan Yeol kini tampak benar-benar sehat dan mau tidak mau ia harus segera menepati janjinya pada Sung Hee. Janjinya untuk segera bertunangan dengan yeoja itu setelah operasi Chan Yeol berhasil. Bagaimanapun janji adalah janji. Dan hingga saat ini, ia belum mempersiapkan hatinya. Sama sekali belum mempersiapkan hatinya untuk menyukai orang lain selain yeoja yang kini berdiri di hadapannya, Jin Ri.

“Baek Hyun ah, aku masuk dulu ya.”

Jin Ri memutar pelan kenop pintu rumahnya, namun sebelum ia sempat melangkah masuk Baek Hyun telah menarik tubuh yeoja itu dan tanpa ragu memeluknya erat. Jin Ri terbelalak dengan sikap Baek Hyun yang tiba-tiba, yeoja itu lantas meronta, namun pelukan Baek Hyun malah menjadi lebih erat.

“Biarkan. Biarkan begini saja, untuk terakhir kalinya. Biarkan aku memelukmu, tolong.”

Jin Ri terdiam, yeoja mulai bertanya-tanya dalam hati apa sesuatu yang pernah Sung Yeon katakan kepadanya memang benar, Baek Hyun menyukainya? Jin Ri menggeleng cepat, tidak, tidak boleh. Jin Ri mendorong tubuh Baek Hyun pelan, yeoja itu menunduk, enggan menatap wajah Baek Hyun yang kini sayu.

“Mianhae.”kata Baek Hyun, namun Jin Ri tetap menunduk.

Aku menyukaimu, sungguh, aku sungguh menyukaimu….

Baek Hyun memaksakan untuk tersenyum, ia berusaha mengubur dalam-dalam keinginannya untuk mengatakan bahwa ia menyukai Jin Ri. “Sebentar lagi aku akan segera bertunangan Jin Ri ya.”katanya kemudian.

Jin Ri terpekur, ia masih juga menunduk.

“Seusai bertunangan dengan Sung Hee, mungkin aku akan segera pindah ke New York. Meneruskan usaha ayah Sung Hee di sana.” Baek Hyun menghela napas, “Dan pelukan tadi, anggaplah sebagai pelukan selamat tinggal dariku.”

Baek Hyun tersenyum, ia mengusap pelan puncak kepala Jin Ri. Kemudian ia berjalan meninggalkan Jin Ri yang sedari tadi hanya diam terpaku. Yeoja itu hanya sanggup memandangi punggung Baek Hyun yang menjauh tanpa tahu apa yang kini ia rasakan.

________

Hyun Young memandangi air mancur di hadapannya dengan tatapan menerawang. Sesekali ia mengalihkan pandangannya pada sekeliling taman yang entah kenapa begitu lengang, tidak seperti biasanya. Yeoja itu lantas tersenyum kemudian melanjutkan kegiatan yang ia tekuni belum lama ini, merajut. Jari-jari Hyun Young menari-nari indah, memainkan benang-benang wol ditangannya hingga kini sebuah muffler manis berukuran sedang hampir dirampungkannya.

Hyun Young menghentikan kegiatannya ketika ia menyadari seseorang kini berdiri di hadapannya dengan tatapan tajam, seorang yeoja. Tanpa disangka-sangka yeoja itu langung menarik kerah baju Hyun Young dan membuat Hyun Young menjatuhkan hasil rajutannya ke tanah. Yeoja itu menarik tubuh Hyun Young dan mendekatkan wajah mereka satu sama lain, yeoja itu memasang tatapan menusuk ke arah Hyun Young.

Tanpa banyak bicara, yeoja yang asing bagi Hyun Young itu langsung menampar keras pipi Hyun Young hingga membuatnya jatuh ke tanah. Hyun Young lantas meringis kesakitan, ia melirik muffler rajutannya yang tergeletak di tanah dan hendak mengambilnya. Namun sebelum ia sempat, si yeoja telah mengambilnya duluan. Yeoja itu menatap remeh ke arah muffler rajutan Hyun Young.

“Muffler buatan tangan? Menggelikan sekali.”yeoja itu tampak mengatakan sesuatu, namun Hyun Young tidak dapat menangkap apa yang yeoja itu ucapkan.

Yeoja berwajah oriental itu lansung membanting muffler itu ke tanah lalu menginjaknya. Hyun Young tidak dapat menahan air matanya ketika melihat muffler yang telah susah payah ia buat kini kotor dan sobek. Ia lantas menatap garang ke arah yeoja berwajah oriental itu yang hanya dibalas dengan tatapan sinis.

Plaaakkkk !!

Sebuah tamparan mendarat di pipi yeoja berwajah oriental itu. Ya, Hyun Young telah menamparnya. Yeoja itu mendengus, ia hendak membalas tamparan Hyun Young ketika ia merasa tangannya seperti tertahan.

“Hentikan Zhang Len Fan!”

________

            “Jj.. Jong Dae?!”

Jong Dae melepaskan genggamannya di lengan Len Fan, si yeoja berwajah oriental. Namja itu lantas menghampiri Hyun Young yang tampak menahan air mata, ia pun tak kuasa menahan dirinya untuk tidak mengusap pelan pipi Hyun Young yang memerah, membuat yeoja itu meringis. Jong Dae melirik ke arah muffler yang tergeletak di tanah, ia menghela napas keras, lalu melirik Len Fan tajam.

“Apa yang kau lakukan Len Fan?”

Len Fan yang masih menyentuh pipinya yang memerah lantas menatap Jong Dae tajam, “Aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya memberinya pelajaran Jong Dae ah!”

Jong Dae melotot marah ke arah Len Fan, “Pelajaran apa maksudmu, huh!?”

“Yeoja itu harus diberi pelajaran karena ia telah menghancurkan mimpimu Jong Dae ah!”

Plaaakkk!

Sebuah tamparan mendarat untuk kedua kalinya di pipi mulus Len Fan, yeoja itu lantas menatap Jong Dae tak percaya. “Hei, apa maksudmu menamparku!?”

“Aku sudah pernah bilang padamu, aku tidak akan membiarkan siapapun melukai Hyun Young, sekalipun itu kau!”

Len Fan memandang Jong Dae remeh, ia memiringkan kepala kemudian melipat kedua tangannya, “Sekarang coba pikirkan! Bagaimana bila para fansmu mengetahui kalau kau berhubungan dengan yeoja cacat itu? Pikirkan pula soal imej dan pekerjaannmu sebagai seorang penyanyi! Jangan bersikap terlalu drama, Jong Dae ah! Jangan hanya gara-gara cinta kau lantas membuat masa depanmu hancur!”

Jong Dae merasakan hatinya bagai ditusuk begitu mendengar kata ‘cacat’ dari mulut Len Fan. Ia mengangkat tangannya hendak kembali menampar Len Fan, namun kali ini tangannya ditahan oleh seseorang. “Hyun Young?”

Hyun Young menggeleng, seakan memberikan isyarat kepada Jong Dae untuk menghentikan tindakannya barusan. Jong Dae menghela napas, ia tampak berpikir sejenak, kemudian tersenyum masam.

Namja itu meletakkan kedua tangannya di bahu Len Fan, ia memandang sedih ke arah yeoja itu. “Mianhae. Tolong maafkan aku.”

Len Fan memandang Jong Dae sinis, “Begitu? Kalau yeoja itu saja kau langsung jinak begini, tapi kenapa kalau aku tidak? Kau pikir semua akan selesai kalau kau minta maaf?”

Jong Dae tersenyum kecut, kemudian ia mengeluarkan selembar kertas dari dalam saku celananya dan memberikannya pada Len Fan. “Lagu itu, sebuah lagu yang membuat aku bisa menjadi penyanyi seperti yang selama ini aku impikan. Lagu pertama yang aku buat, lagu yang mewakili semua mimpi, angan-angan serta cinta pertamaku.”

Len Fan menatap partitur yang kini berada di tangannya dengan tatapan menerawang.

Jong Dae tersenyum ke arah Hyun Young, sementara yeoja itu hanya menatapnya bingung. “Kalau tidak ada Hyun Young, aku tidak akan mampu membuat lagu seperti itu. Setiap saat aku melihatnya, aku seperti mendapatkan kekuatan, dia adalah sumber inspirasiku.”

Pandangan Jong Dae beralih ke arah Len Fan, “Aku sering melihat dia berusaha keras memahami laguku, dia memang tidak bisa mendengar, dia juga tidak bisa berbicara. Namun dia selalu mendengarkan semua laguku, memahami setiap lirik yang aku tulis, semua lewat hatinya. Mungkin tak jarang ia tertekan dengan kenyataan bahwa aku adalah seorang penyanyi, penyanyi selalu ingin lagunya didengar, sementara mendengar adalah hal yang mustahil baginya.”

Jong Dae tersenyum, “Aku memang punya mimpi, membuat lagu kemudian menyanyikannya bersama dengan orang yang aku cintai. Awalnya aku berpikir hal itu mustahil apabila aku bersama Hyun Young, dan mungkin aku bisa menyanyikannya dengan indah bersama denganmu.”

Jong Dae menyentuh dadanya pelan, “Namun hal yang berbeda pasti terasa di sini.”

Len Fan menatap namja di hadapannya tak percaya, namun Jong Dae hanya membalas tatapan itu dengan senyum merekah.

“Len Fan, aku mencintai Hyun Young. Tidak peduli seperti apa pun dia.”

_________

Tidak apa-apa. Aku yakin kau adalah pendengar yang jauh lebih baik dari siapapun, karena kau mendengarkan laguku lewat hatimu.

__TBC__

            Finally, gimana readerdeul? Ceritanya makin gimana? Hahaha. Oh iya, author mau curhat nih soal poster ff, author liat poster ff lain itu kok bagus” banget sih, author jadi miris lihat poster author, hha. Tau ga? Bikinnya gak sampek 5 menit loh, wkwk. Harap maklumi aja yah, author emang kurang suka edit mengedit ^^v

            Oh iya, untuk ceritanya apa makin kayak sinetron yah? Soalnya ada reader yang bilang karena tokohnya bejibun jadinya kayak sinetron? Huwaaaa T.T di part ini juga author coba masukin cast yang non-Korea, soalnya ada reader yang ngasih saran begitu.

As usual, RCL tetap dibutuhkan yah, tahu sendiri kalao satu komentar kalian itu mampu membangkitkan semangat author buat kembali nulis, wikikiki, bahasa lu thor. Ok dah, annyeong readerdeul *bow bareng Suho. Gamsha! ^^

Oh iya yang galau SMTOWNINA mana suaranya?!!! mari bershower ~~ T.T

My Another ff : The Dirty Soul [Part 1] , baca ya😀

 

155 responses to “[Chen’s] A Silent Love Song

  1. Miris banget kisah kaka beradik yang suka sama yeoja yg ngebuat mimpinya hancur.. tapi kerennn .. gua jadi ngerti arti dari kata2 itu..

  2. Ya ampun ! suka ceritanya :’)
    ngomong2 kok bisa pas ya Jong Woon, Jong Hyun, Jong Dae semua suaranya enak😛

  3. chen oppa so sweet🙂

    gue envy…envy..envy..envy…ENVY banget thor😦 #efekrumahkaca??

    keep writing thor🙂

  4. Ternyata Noonanya Odult maygad!!

    Akhirnya si noonanya odult nyanyikan lagu si Chen pake ‘kotekan’ gitu thor?
    Woaa jadi menurut Chen suara ‘kotekan’ si gadis pujaan sangatlah indah? Waaaaw~ So swit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s