[Freelance] STAND BY ME

AUTHOR: Scholastic
CAST:
Yesung
Shindong
Kang Yukimi
GENRE: romance
RATE: Remaja nanggung ^^
LENGTH: one shot

Buat member Suju yang merasa punya nama, author pinjam ya ^^

TARAAA~! ini fanfic perdanaku yang akan bercerita tentang seorang anak perempuan yang malu-malu mau pada seorang namja karena ia begitu pemalu dan karena si namja sendiri punya perbedaan umur yang cukup jauh dengan si yeoja. Tanpa lama-lama lagi, enjoy reading! ^^

SHINDONG POV
“Ya, gendut! Lihat deh, cowok itu ganteng banget ya?” ujar Yukimi sambil menunjuk-nunjuk seorang namja di deretan kursi paduan suara.
“Ssssttt! Ini di gereja!” aku berusaha konsentrasi pada khotbah. Aku terpaksa menemani Yukimi ini karena katanya dia mau memperlihatkan temuannya, si cowok ganteng itu. Kenapa sih tidak setelah selesai saja? Kan aku serasa kesasar di sini.
“Lihat dulu dong! Dia ganteng banget!” Yukimi masih berusaha meyakinkan aku, sahabat sejak kecilnya tentang apa yang ia lihat dengan menarik lengan bajuku.
“Seganteng apa sih? Berisik sekali kau!”
“itu tuuuuhhh!!” Yukimi berusaha menunjuk cowok di deretan paling depan paduan suara itu.
“yang mana?” aku masih berusaha mengikuti arah telunjuk Yukimi.
“Itu tuh, yang pake kemeja kotak-kotak merah! Yang rambutnya lurus banget kayak jarum!”
“memang kau melihat wajahnya?” aku yang matanya sudah tidak beres mencoba meyakinkan diriku kalau Yukimi pasti juga tidak kelihatan.
“Lihat dong! Memangnya kau yang butuh kaca mata silinder itu!”
“biar saja!” aku menjulurkan lidah.
“Shindong jelek!”
“kau juga!”

########

“Nah, sekarang tunjukkan padaku siapa yang kau sebut ganteng tadi!” ujarku setelah misa usai. Tentu saja anggota paduan suara masih di tempatnya, berbenah. Kami mendekati tempat itu. Perlahan aku melihat orang yang membuat Yukimi heboh dan mengganggu konsentrasiku, mungkin juga sebelah kami jengkel tadi karena bolak-balik melihat ke arah kami dengan kilatan dari matanya.
“Yukimi, yang itu?” aku menunjuk cowok bermata sipit dengan bibir mungil dan pipi yang sedikit chubby (tapi tidak sebesar aku). Yukimi mengangguk-angguk kuat dengan senyuman lebar di bibirnya.

YUKIMI POV
“Yukimi, yang itu?” Shindong menunjuk ke lelaki tampan yang membuatku terpaku selama satu setengah jam tadi. Aku mengangguk-angguk kuat sambil tersenyum. Aigoo! dia seperti malaikat yang turun dari surga! Ganteng banget!
“Kau yakin orang itu tampan?” Shindong sepertinya tidak percaya. Terang saja dia tidak mengakui ketampanannya karena Shindong kan cowok yang jarang diakui ketampanannya.
“Ne. Mwoya?”
“gwachana. Kau mau kenalan dengannya?”
“aku? Shireo yo! Aku malu!” tanpa persetujuanku Shindong langsungg menarik tanganku mendekatinya. Aigoo! jantungku tak berhenti berdegub kencang! Rasanya mau copot! ‘Shindong, awas kau kalau sampai terjadi apa-apa padaku di depannya nanti!’ gumamku sambil meilhat Shindong yang tampaknya sangat bersemangat dan tanpa ampun menarikku.
“Ya!” akhirnya kami sampai di depan muka cowok ganteng itu. Sial kau gendut! Aku belum siap mental!
“aku?” cowok ganteng itu membalikkan badan sambil menunjuk hidungnya.
“Kuree”
“Wae?” dia bicara pada kami! Eh, Shindong maksudku. Aku yang malu semakin bersembunyi di balik tubuh Shindong yang jumbo. Bisa kurasakan mukaku panas. Aish! Aku benci sekali kalau aku tersipu di depan cowok tampan! Itu sangat memalukan menurutku! Mereka jadi bisa lihat perasaanku.
“Ada yang mau berkenalan denganmu, Yesung!” Shindong menarik tanganku sehingga aku berdiri sejajar dengannya, menghadap wajah si ganteng.
Tunggu! Barusan si gendut ini memanggil nama si ganteng? Oh, jadi namanya Yesung. Baiklah, sekarang saatnya mengambil langkah seribu!
“Ya! Katanya kau mau kenalan dengannya?” ia memegang tanganku lebih kuat lagi sehingga aku tak bisa kabur. Aish! Seharusnya aku tahu ini akan terjadi!
“Anneyong, Yesung imnida” ia tersenyum sambil membungkuk. Aigoo! dia semakin ganteng saat tersenyum yang pastinya membuatku semakin menjadi air. Aku terpaku. Tubuhku mendadak kaku. Aku tak biasa berkenalan dengan cowok. Sekolahku adalah sekolah yayasan berasrama dikelola suster biarawati yang penghuninya cewek semua. Sekarang sedang libur musim panas, jadi aku bisa pulang. Makanya aku sangat amat tidak paham dengan tata cara berkenalan dengan cowok! Terlebih mendasar: aku paling gagap dengan urusan cowok! Makanya aku memilih sekolah seperti itu. Dan sekarang aku ada di depan cowok ganteng berkat Shindong. Aku tak tahu harus marah atau berterima kasih padanya.
“Yukimi!” Shindong menggoyangkan tanganku agar aku segera sadar.
“A, annyeong hasseo, Yukimi imnida” dengan sedikit gugup aku memberkenalkan diriku padanya.
“Ya! Shindong, kenapa kau bisa ada di sini” Yesung mendekati kami, oh, bukan. Mendekati Shindong maksudku.
“Aigoo! gara-gara anak ini aku jadi ada di sini” napasku tercekat, Yesung melihatku dengan senyumnya yang….oh GOD!!
“Wae dengannya?”
“dia memaksaku mengantarkannya kemari hanya karena ingin menunjukkan cowok ganteng temuannya yang ternyata itu kau!” jawab Shindong santai. Aku jadi bingung, kapan mereka pernah bertemu?
“Iya? Hahahahahaha lucu sekali!!” Yesung tampak terpingkal-pingkal dengan pernyataan Shindong yang memang begitu adanya. Beraninya si gendut ini membuka kartuku!
“Hei, Yesung, bagaimana kalau kita lanjutkan di luar saja?” tanya Shindong.
“Ide bagus sebelum kita diusir!” Yesung segera menenteng mapnya dan kami berjalan ke arah pintu karena lampu sudah dimatikan yang tandanya kami harus segera keluar.
“Memang bagaimana bisa ini terjadi?” Yesung membuka pembicaraan sambil duduk-duduk di bangku halaman gereja.
“Entahlah sejak kapan anak ini melihatmu, tiba-tiba semalam ia mengajakku menemuimu, bahkan sambil memaksa. Aku tidak tahu ternyata itu kau hahahahahahahaha” tawa Shindong pecah terdengar meriah. Yesung senyum-senyum tampaknya ia tak kalah gelinya dengan Shindong.
“Ya! Sudah jangan mengejekku! Ayo kita pulang, gendut!” aku berdiri dan menarik tangan Shindong.
“Tunggu dulu! Aku belum mengenalkanmu pada teman lamaku!” si gendut menarik balik tanganku.
“Aku sudah kenal!”
“siapa bilang? Aku belum mengenalmu, Yukimi. Santailah dulu. Kau tak ada acara kan hari ini?” ia mengedipkan sebelah matanya padaku. Aigoo! gantengnya dia! Aku menurutinya.

YESUNG POV
“siapa bilang? Aku belum mengenalmu, Yukimi. Santailah dulu. Kau tak ada acara kan hari ini?” aku mengedipkan sebelah mataku bermaksud menggodanya. Tampaknya itu berhasil. Hahahahaha yeoja kecil ini lucu sekali!
“Yukimi, dia ini temanku saat SMA. Lalu dia pindah ke Amerika dan sekarang baru kembali” ucap Shindong. Aku tersenyum. Sebenarnya aku tersenyum bukan berusaha manis, tapi karena aku geli pada kelakuan Yukimi yang seolah-olah tak pernah bertemu dengan cowok. Padahal Shindong juga seorang cowok. Hihihihihi….geli sekali!
“Aku tak pernah melihatnya” kata Yukimi.
“Jelas saja kau kan sekolah di sekolah berasrama sejak SMP!” Shindong terlihat gemas.
“Oh iya, kalian mau minum di kedai teh? Katanya ada kedai baru di dekat sini” aku menawarkan dua orang temanku. Ya, kuharap Yukimi si yeoja kecil ini mau menjadi temanku karena aku tahu dia tergila-gila denganku. Hahahahahaha…..
“ah, sepertinya kalian berdua saja, aku baru ingat ada janji dengan eommaku” kata Shindong yang langsung berdiri dan buru-buru pergi tanpa banyak basa-basi. Praktis tinggalah kami berdua: Yukimi dan aku yang masih duduk di bangkutaman yang panjang ini.
“Bagaimana? Kita pergi sekarang?” tanyaku pada Yukimi yang masih stak di tempatnya.
“I, iya, boleh saja”
“kalau begitu tunggu apa lagi?” Yesung langsung menarik tanganku. Aigoo!!

“Ternyata rumah Shindong dekat ya dengan rumahmu” kataku membuka pembicaraan setelah sampai di kedai teh di sebrang lampu merah tak jauh dari gereja karena sepanjang perjalanan kami terus tergeming.
“Yesung sshi tahu darimana?” dia tampak polos dengan bahasa yang sangat sopan. Aigoo! baru ketemu aku model cewek seperti ini! dia seolah membatasi dirinya dengan orang lain. Dia ini benar-benar ingin kenalan atau gugup sih? Aku jadi ragu. Bagaimana juga Shindong bisa akrab dengan cewek seperti ini?
“Shindong temanmu dari kecil, bukan? Kalian tidak mungkin seakrab itu kalau rumah kalian berjauhan. Cape deh!” aku menepuk jidatku. Aigoo! dia datang dari planet mana sih?
“Aigoo! benar juga ya? Hehehehhehehe” Yukimi tertawa malu-malu sambil menutup mulutnya.
“Berarti rumahmu dekat juga dengan rumahku” aku menyesap teh hijau yang baru saja datang. Pahit. Apa pelayannya tidak menyediakan gula?
“iya ya? Aku baru sadar. Berarti aku melewatkan banyak hal” Yukimi menyesap cappucino yang tadi dipesannya.
“Memang bagaimana kehidupan asrama itu? Kau mau berbagi cerita?” ini dia topik yang pas untuk mencairkan kebekuan suasana, terlebih karena penggunaan bahasanya yang kelewat sopan padaku. Halo! Lawan bicaramu bukan orang istimewa seperti yang kau pikirkan!
“eh, tapi sebelumnya bisa kau turunkan level penggunaan bahasamu itu? Aku sedikit canggung. Kita kan mau kenalan, bukan mencari rekan bisnis”
“ah, iya. Baiklah Yesung sshi” balasnya masih sambil menunduk dan meletakkan cangkir kopinya.
“Panggil saja aku dengan sebutan Oppa”
“Ne, Yesung sshi, eh, Yesung Oppa maksudku” ia tampak masih gugup, padahal aku sudah berusaha meruntuhkan tembok kecanggungan di antara kita dengan menggunakan bahasa dalam bentuk percakapan biasa yang sudah kugunakan dari tadi.
“Jadi bagaimana suasana asrama?”
“iya, seperti yang pernah Oppa bayangkan, sangant disiplin dan teratur”
“wow! Pantas saja cara bicaramu seperti itu. Aish! Pahit sekali!” aku menyesap lagi teh hijauku. Semakin kuminum rasanya semakin pahit saja.

AUTHOR POV
“Hei, Yukimi, kau tahu tidak kalau teh hijau rasanya pahit?” tanya Yesung setelah meletakkan cangkirnya.
“Aku tahu. Eomma sering meminumnya katanya agar langsing”
“tapi menurutku sekarang tidak”
“karena ada kau disini. Aku meminumnya sambil melihatmu, makanya terasa manis” Yesung mulai menggombal. Sebenarnya inilah cara yang dilakukan agar Yukimi yang sopan itu mau akrab dengannya. Yesung tahu Yukimi hanya malu makanya cowok sipit berpipi tembem ini berusaha melucu yang kata orang bisa mencairkan suasana dan mendekatkan hati. Tipe cowok humoris pulalah yang banyak digandrungi orang. Ia tak tahu persis hal itu, tapi itulah yang ia baca di i-pad-nya baru-baru ini.
Sepertinya tidak berhasil. Yeoja berwajah manis bernama Yukimi itu masih saja menunduk.
“Hei Yukimi, lihat ini!” Yesung menyodorkan selembar foto namja yang sedang memegang mic sambil bernyanyi di atas panggung dengan banyak penonton di bawahnya.
“Boleh kupinjam?”
“kuree. Tentu saja” Yesung menyodorkan foto itu.
“Siapa dia?”
“Aigoo! kau tidak lihat itu aku?” Yesung menunjuk foto yang sekarang ada di tangan Yukimi. Sebenarnya matanya tak ada di foto itu. Matanya tertuju pada wajah Yukimi yang mungil dengan mata besar seperti tokoh anime. Poni yang berjuntai menutupi dahi semakin mengesankan kalau dia masih sangat muda.
“Yesung Oppa” panggilnya. Yesung tersentak kaget, berharap yeoja mungil di depannya mengatakan sesuatu yang ingin dia dengar.
“Wa,wae?”
“sepertinya suaramu sangat bagus ya?”
“Aigoo! tentu saja! Ttatkoman saja tahu!” Yesung mulai besar kepala dan inilah yang sering menjadikannya bahan ejekan Shindong. Ia berpikir inilah kesempatan membuka percakapan. Sekali ini lewaat, habislah sudah.
“Ttatkoman?” Yukimi memiringkan kepalanya ke kanan seolah ingin tahu siapa yang disebut Yesung itu.
“Oh, iya, Ttatkoman adalah kura-kura peliharaanku. Dia lucu sekali! Aku baru saja membelinya dan dia masih kecil! Kau mau melihatnya? Datanglah ke rumahku kapan-kapan. Kau akan kupertemukan dengannya” tanpa Yesung sadari ia mulai menyerocos tanpa tedeng aling-aling. Yukimi tersenyum. Ia memperlihatkan senyum lebar yang sangat manis sehingga pipnya yang memerah itu tampak seperti apel ranum. Tak dapat dipungkiri, Yesung terpana melihatnya. Sungguh, ini cewek tipenya. Tapi ia tak mau terlalu cepat. Ia tahu perbedaan usia mereka sangat jauh.
“Aku baru tahu ada cowok yang sayang binatang. Kau manis sekali Oppa” Yukimi masih tersenyum, bahkan semakin lebar sehingga matanya yang besar itu sekarang hanya tampak segaris.
“Ya, aku tahu. Banyak yang bilang begitu. Hahahahahaha….kau mau melihatnya? Aku sering sekali mengajaknya mengobrol, tapi dia tak pernah meresponku” Yukimi tersenyum sambil sesekali menunduk malu-malu.
“Apa kau sering menyanyi di depan Ttatkoman, Oppa?” Yukimi melontarkan pertanyaan yang sebenarnya cukup aneh. Perlahan tapi pasti gadis itu mulai merasa akrab dengan Yesung yang sebenarnya tak pernah membuat batas di antara mereka. Yukimilah yang membuat pembatas itu ada dengan rasa malunya.
“Oh, iya, tentu saja! Hahahahaha mungkin kalau dia bisa bicara dia akan memuji suaraku sambil bertepuk tangan. Mereka memang sangat pas memberiku nama Yesung!”
“memang apa arti nama Yesung?”
“Yesung itu artinya suara yang seperti seni. Hahahahha…cocok sekali bukan?”
“oh iya, kau punya peliharaan tidak?” lanjut Yesung balik bertanya pada Yukimi yang menyesap minumannya.
“Ada. Aku juga punya sepasang kura-kura”
“oh ya? Bagus sekali! Kapan-kapan kita kawinkan Ttatkomanku dengan milikmu ya! Nanti kalau bertelur, kita bagi dua! Pasti manis sekali memiliki keluarga kura-kura!” Yesung berbicara dengan wajah sumringah dan mata yang berbinar-binar. Tampaknya ia bahagia sekali menemukan orang yang punya hobi sama.
“tapi sebenarnya aku merasa kasihan pada Ttatkoman” raut wajahnya mendadak berubah 180 derajat menjadi sedih.
“Kenapa? Oppa memeliharanya dengan baik, kan?”
“ne. Tentu saja, bahkan ia kuberikan tempat luas dan makanan cukup agar ia bisa leluasa dan tumbuh dengan baik. Tapi…”
“tapi kenapa Oppa? Kalau dia kesepian, kau bisa memberinya teman, bukan?”
“iya, kau benar. Ttatkomanku butuh teman. Tapi bukan itu yang membuatku sedih”
“lalu?”
“kau tahu kura-kura bisa hidup sampai delapan puluh tahun?”
“aku baru tahu” jawab Yukimi polos karena memang benar adanya.
“Ne. Kura-kura bisa hidup sampai delapan puluh tahun umur manusia. Aku sedih kalau saja aku mati nanti, siapa yang akan mengurusnya? Ia sangat kecil dan pasti butuh kasih sayang dariku” Yukimi yang mendengarnya tak bisa menahan geli. Tawa yeoja manis inipun meledak saat itu juga. Kencang sekali sampai semua orang di kedai itu menatapnya dengan tatapan aneh dan mungkin juga ngeri.
“BWAHAHAHAHAHAHA!! Oppa! Kau bisa saja! HAHAHAHAHAHA!!!” ia terbahak-bahak sampai lupa kalau ia pernah bersikap malu-malu pada namja yang kelihatannya serius ini. Yesung juga ikut tertawa. Mereka terkekeh geli dengan bahan masing-masing. Yukimi bukan hanya karena kata-kata Yesung, tapi juga gestur tubuh Yesung yang lucu, sedangkan Yesung senang karena ia berpikir bisa membuat Yukimi membuka diri. Ia berhasil. Sekali lagi ia berhasil. Mereka tertawa sampai perut mereka sakit dan tidak kuat. Ne. Mereka berdua bahagia karena mereka merasa bisa dekat satu sama lain.

YESUNG POV
Kau yeoja yang sangat lucu, Yukimi! Hahahahaha aku tahu kau suka padaku. Iya kan? Sudahlah mengaku saja! Matamu tak bisa bohong. Kau hanya perlu mengurangi sedikit sifat pemalumu itu. Aku tahu kau orang yang tepat, makanya aku mati-matian melucu sehingga kau merasa aku bukan orang serius seperti yang kau bayangkan. Aku ini cukup humoris, bahkan teman-teman mengatakan aku gila dan tidak tahu malu. Hahahahaha kalau yang terakhir ini nanti saja kau tahunya. Hehehehehehe.

****

“Ya! Yesung! Bagaimana perkenalan kemarin? Menarik tidak?” Shindong yang sedang main ke rumahku menanyakan hal yang baru saja ingin kupamerkan padanya.
“Menyenangkan sekali! Ternyata dia yeoja yang menyenangkan!” aku mengambil kripik yang ada di toples ruang tamu dan memakannya.
“Lho? Kalian bicara banyak?”
“ne! Bahkan kami tertawa bersama sampai sakit perut!” ucapku bangga. Ne. Aku bangga sekali bisa dekat dengan yeoja seperti itu hanya dalam satu hari.
“Kau beruntung sekali!”
“ne. Aku tahu. Tadinya aku pesimis bisa mendekatinya karena level bahasa yang ia gunakan seperti orang yang mau mencari rekan bisnis!”
“apa yang kau lontarkan sehingga kalian bisa akrab?”
“entahlah, aku hanya memamerkan fotoku saat menyanyi di acara sekolah dulu, lalu ia bertanya apa suaraku bagus”
“apa jawabmu?”
“jelas saja kujawab dengan tentu saja, dan aku mengungkit Ttatkoman”

AUTHOR POV
“Lalu?” Shindong tampak semakin antusias. Ia mendekatkan wajahnya pada Yesung yang membuat Yesung agak ngeri. Tumben.
“Kami membahas soal kura-kura yang bisa hidup sampai delapan puluh tahun dan ia tertawa setelah aku bilang tidak ada orang yang akan peduli pada Ttatkoman kecil yang butuh kasih sayang kalau aku sudah mati”
“beruntunglah kau memiliki sifat gila”
“ne. Aku sangat bersyukur” ucap Yesung sambil memegang pipi Shindong dan mendekatkan wajahnya ke wajah Shindong. Terang saja cowok tambun ini merasa takut kalau “touching syndrome” (sebutan darinya karena Yesung suka memegang wajahnya dan itu seram sekali menurutnya) Yesung kambuh sehingga ia buru-buru pamit pulang sebelum wajahnya dijadikan “lilin mainan” oleh penyandang predikat di kampus sebagai raja narsis dan gila yang tak tahu malu. Lengkap sekali.

****

BEBERAPA BULAN KEMUDIAN

YUKIMI POV
“Annyeong Ttatkoman imnida!” ujar Yesung Oppa sambil menggoyangkan kaki kanan depan kura-kura kesayangan di pangkuannya.
“Annyeong Ttatkoman! Yukimi imnida!” aku melambaikan tangan pada Ttatkoman, piaraan Yesung Oppa yang memang sangat lucu.
“Nah, Ttatkoman, kau jangan menikungku ya. Aku duluan yang kenalan sama dia! Lebih baik kamu kembali saja, nanti kamu naksir dia lagi” Yesung Oppa mengembalikan peliharaannya ke akuarium. Mimik wajahnya lucu sekali saat bicara dengan Ttatkoman.
“A, Oppa, aku hampir lupa. Kau bisa mengisi acara sekolahku?”
“ne? Mengisi acara?”
“kuree. mau kan Oppa?”
“acara apa? Aku harus melakukan apa? Melawak?”
“aniya Oppa! Bukan melawak! Tapi menyanyi! Bagaimana? Aku tahu kau sangat berbeda saat menyanyi”
“memang aku seperti apa kalau menyanyi?”
“ah, nanti kau berubah jadi Yesung yang berkepala besar” aku menjulurkan lidah sambil menyipitkan mata.
“Berhentilah menyebutku kepala besar! Lihat! Kepalaku tidak besar kok!” ia selalu protes bila ada orang yang menyebutnya begitu. Tapi aku suka, ekspresinya lucu seperti badut.
“Bagaimana Oppa? Kau mau? Aku akan menjadi LO-mu. Kalau perlu aku bantu kau menyiapkan semua sebelum hari-H”
“hmm..bagaimana ya?” Yesung Oppa tampak berpikir. Sial. Aku harus merayunya lagi.
“Ayolah Oppa! Tolonglah dongsaemu yang sedang mencari pengisi acara ini” aku menggatupkan tangan di atas kepalaku.
“memang acara apa sih? kapan?” sepertinya berhasil. Tapi masih belum.
“Acara valentine. Kau tentu tak mau melewatkannya sendirian kan? Aku tahu Oppa pasti ingin mendapat teman kencan! Tenang saja, setelah mereka mendengar suaramu, tak akan ada yeoja yang menolak tawaranmu kencan! Banyak yeoja cantik di sekolahku, Oppa! Acaranya dua bulan lagi. Ya, Oppa ya…” aku terus membujuknya dengan menyenggol-nyenggol lengannya sambil menaik-turunkan alisku. Aku tahu sebenarnya Oppa ini sedikit genit.
“Baiklah! Tapi kau harus tepati janjimu ya” ia mencubit pipiku lalu menekan-nekan layaknya sedang membuat kerajinan tanah liat.
“Aish! Hentikan!” aku menurunkan tangannya. Dia malah ganti menggosok-gosok kepalaku sampai rambutku berantakan. Sepertinya dia hobi sekali melakukan itu. Kasihan Shindong. Yesung Oppa tertawa. Diam-diam aku mengagumi wajahnya yang sedang tertawa. Ia terlihat sangat menyenangkan dengan garis tawa yang terlihat sangat jelas di pipinya. Dia manis sekali. Apa Oppa juga merasakan hal yang sama? Ah, sudahlah. Kalau dia datang ke sekolah, dia akan bersenang-senang dan lupa padaku. Lho? Kenapa aku jadi ingin menangis saat kami tertawa bersama? Sebaiknya aku pulang saja sebelum Yesung Oppa menyadarinya.

ACARA VALENTINE SEKOLAH ST. LAURENCE

YESUNG POV
Ini memang bukan hari spesial untuk sebagian orang. Tapi hari ini sangat berarti buatku. Kenapa? Ne. Hari ini aku akan menyanyi di acara valentine sekolahnya Yukimi. Akan banyak yeoja cantik di sana, tapi bukan itu alasanku berdandan dan mengenakan hakama, pakaian tradisional cowok Jepang, bukan hanbok. Ne, dress code-nya memang pakaian tradisional. Salah sendiri tidak mencantumkan dari negara mana. Yang kupakai inikan juga tradisional. Alasanku mengenakan ini adalah ingin menarik perhatian yeoja keturunan Jepang yang sekolah di situ. Kau tahu siapa? Tentu saja Kang Yukimi! Dan aku yakin tak akan ada orang yang berpikir menggunakan kostum tradisional lain selain hanbok. Percayalah padaku!
Hapeku bergetar tanda panggilan masuk. Dari LO-ku, Yukimi.
“Oppa”
“ne?”
“dimana?”
“di rumah” jawabku santai sambil mengenakan alas kaki.
“Nanti kalau sudah sampai telpon ya. Kau akan kujemput. Gomawooyo” telpon ditutup. Pasti disana sudah ramai sekali karena aku mendengar suara bising dari ujung telpon. Oke, aku siap berangkat!

YUKIMI POV
“Yukimi, aku sudah di parkiran mobil sekolahmu” Yesung Oppa meneleponku sesuai perjanjian kami tadi.
“Oke. Tunggu ya. Aku ke sana sekarang” telpon kuputus. Sambil setengah berlari aku menjemput Yesung Oppa. Aku sudah tak sabar bertemu dengannya karena aku sudah masuk sekolah.
“Anneyong!” Yesung Oppa mengucapkan salam padaku sambil bersender pada mobil sedan merahnya yang mengilat.
“Oppa? Apa-apaan kostummu itu hah?” aku terperanjat, kaget setengah mati, syok, sampai mataku melotot dan mulutku menganga. Aku mematung sambil telunjuk kananku menunjuk dirinya. Omona!
“pakaian tradisional” jawabnya polos sambil berjalan mendahuluiku.
“Tapi….”
“sudahlah. Aku tak mungkin salah kostum!”
“tapi semua orang memakai hanbok!”
“aku tahu. Aku sudah tahu sebelum kau beri tahu. Aku sengaja”
“tapi…”
“ini juga kostum tradisional, bukan?” aku langsung ingat tulisan di surat undangan mengenai dress code. Aigoo!
“iya, tapi kan….”
“kalau kau masih protes, aku pulang nih!” ia membalikkan badan dan tampaknya ancamannya serius kali ini.
“iya. Iya. Aku tidak protes lagi”
“bagus kalau begitu”
Benar-benar diluar dugaan dia bisa berpikir sejauh itu dengan kalimat “kostum tradisional” pandai sekali dia! Lain kali akan kuubah tulisannya menjadi hanbok, bukan kostum tradisional yang cakupannya luas!
Terang saja sepanjang perjalanan menuju ruang ganti ratusan pasang mata pengunjung tertuju pada Yesung Oppa yang beda sendiri. Aish! Tampaknya dia menikmatinya, bahkan ia sempat menegur salah satu pengunjung, “apa lihat-lihat? Belum pernah lihat malaikat jatuh dari langit ya?” lalu mengedipkan sebelah matanya pada cowok itu. Aku malah takut Oppa dikira orang gila dan diusir petugas keamanan. Tuhan, semoga kami selamat sampai tujuan, doaku dalam hati sepanjang jalan.
Kami sampai di ruang ganti (dengan selamat). Aku tak berani protes walau di sini banyak hanbok cowok tergantung. Nanti dia pulang betulan, habislah aku!
“Oppa”
“ne?”
“45 menit lagi tampil. Aku permisi dulu. Nanti kalau sudah waktunya kupanggil”
“oke”

YESUNG POV
Hahahahaha benarkan kataku? Tak ada orang yang berpikir sepertiku! Hahahahaha!! Aku senang sekali melihat ekspresi kaget yukimi dan wajah heran orang yang melihatku! Aku bangga sekali! Tapi tenang saja, pertunjukan belum selesai, saudara-saudara! Akan ada yang lebih seru dan sayang kalau dilewatkan. Lihat saja nanti!

“Oppa, lima belas menit lagi” Yukimi mendekatiku memberitahukan waktu.
“Sekarang saja” aku beranjak dari kursiku menuju panggung. Bisa ditebak, aku dipandang aneh oleh sebagian orang karena kostumku. Sebenarnya aku yang aneh atau mereka yang pikirannya sempit? Hahahahahaha…
Kami menunggu giliran di pinggir panggung.
“Berapa menit lagi?” tanya Yukimi pada time keeper yang duduk di pinggir panggung.
“Sebentar lagi. Eh Yukimi, ini yang namanya Yesung-sshi?” temannya memandangku dengan tatapan aneh.
“Ne. Dia memang eksentrik. Biarkan saja” entah itu kalimat pembelaan, keputus asaan, atau mungkin acuh. Ya sudahlah biarkan saja. Aku membungkuk sedikit dan ia membalasnya.

YUKIMI POV
“Yukimi-a, sini” temanku menjulurkan lehernya ke telingaku. Aku membungkuk agar kami bisa saling dengar.
“Dia ganteng juga” mendadak aku jadi geli.
“Memang” ujarku sambil tersenyum-senyum geli. Yesung Oppa memang tampan, tapi dia muka tembok!

“Yukimi, setelah ini giliran Yesung-sshi” ujar temanku itu. Aku mengangguk dan menghampiri Oppa. Ia pun mengangguk.
Sekaranglah saatnya Yesung Oppa naik ke panggung. Aigoo! entah kenapa aku melihat aura yang berbeda terpancar darinya. Bukan lagi aura lucu maupun konyol, melainkan kharisma sebagai penyanyi profesional. Bahkan saking kuat kharismanya itu, hakama di tubuhnya tak lagi jadi sorotan maupun gunjingan. Rasanya semua mulut tersumpal oleh aura yang dibuatnya. Gunjingan berganti dengan teriakan pujian dari para yeoja di sekolah ini dan tentu saja aku bisa melihat ekspresi cemburu dari wajah pacar mereka.
“Ehm..tes tes..oh sudah nyala” GUBRAK! Dia balik lagi! Tapi herannya tak sekonyol tadi. Yeoja-yeoja itu terus berseru-seru meneriakan namanya, sambil mengangkat papan bertuliskan namanya. Aigoo! sampai segitunya!
“Ehm..sebelumnya mungkin kalian bertanya kenapa aku menggunakan kostum seperti ini. Aku akan menjawab dengan beberapa alasan. Pertama, dress code yang kubaca di surat ungdangan adalah kostum tradisional, bukan hanbok. Jadi aku berpikir kalau hakama ini juga kostum tradisional, tapi dari Jepang. Kedua aku menggunakannya karena aku ingin menarik perhatian seorang yeoja yang sekolah di sini. Dia keturunan Jepang dan aku tahu dia orang yang tepat sejak pertama bertemu. Aku tahu dia juga suka padaku, tapi dia masih malu-malu. Aku ingin ia melihatku, tapi aku malah menarik perhatian semua orang. Ah, aku jadi curhat. Tapi tak apa. Yang jelas hanya aku sekarang yang menarik perhatiannya. Kalian ingin tahu siapa dia?”
“MAU~!!!!” semua kompak berseru seperi paduan suara.
“Oke, kita mulai saja dulu” musik pun diputar, tapi sebelum hentakan pertama, Yesung Oppa berseru dengan lantang sambil menatapku, “KANG YUKIMI! JEONGMAL AISHITERU!!!” yang disambut dengan teriakan penonton dan iringan musik yang up-beat.
Aku yang berdiri di samping panggung tak percaya dia senekat itu! OH GOD!

~OWARI~

Advertisements

One response to “[Freelance] STAND BY ME

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s