Love Button [Part 4]

Title: Love Button

Author: Joo aka indahberliana

Main Cast:

-Park Chanyeol (EXO-K)

-Byun Eunji (OC)

-Kris Wu (EXO-M)

And other cast you can find them in this Fanfict.

Genre: Comedy (maybe), Romance (maybe) pokoknya readers tentuin aja deh hehe.

Rating: PG 13

Disclaimer: semua cast (kecuali OC) punya tuhan semata. Dont Be Plagiator! Please RCL.

A.N: Annyeong reader-deul! Aku balik bawa part 4 loh. Dengan bertema liburan dan mengulas makanan lezat. 😀 *digampar reader-deul* . tak bosen-bosennya aku mengingatkan, jangan jadi plagiator, jangan jadi siders, dal please Read, Comment, and Like ya kalo mau *sedih lagi* INI HANYA FF, JADI JANGAN TERSINGGUNG DENGAN APA YANG DIKATAKAN PARA TOKOH. Sekian terima kasih.

****

 

[Part 1] [Part 2-A] [Part 2-B] [Part 3]

 

Preview:

Eunji kembali mengunjungi restoran ini untuk keduakalinya. Memakai mantel merah, scarf putih, topi rajut merah, dan rambut coklatnya yang ia gerai dengan poninya. Kedua mata bulat nan indah itu menelusuri seluruh isi dari restoran itu, mencari sosok guru Wu.

Tiba-tiba, matanya menangkap sosok yang sudah lama ingin ia temui. Pria bermantel putih, memakai masker, tapi, bedanya, Masked Guy itu menggendong seorang anak kecil kira-kira berumur 3 tahun. Pria itu menghampiri Eunji. Mata pria itu tidak berubah sama sekali dari 3 tahun yang lalu.

“Ahjussi…..”

****

Eunji POV

“Ahjussi….” Aku tak menyangka, sosok itu menghampiriku lagi. Entah apa yang aku rasakan sekarang. Sedih dan bahagia.

“duduklah.” Suaranya yang tidak jelas—karena memakai masker—menyuruhku untuk duduk di hadapannya. Ia membawa anaknya? Anaknya lucu sekali. Neomu kyeopta! Balita namja itu terlihat aktif, selalu bergerak. Ahjussi yang pernah menolongku dulu saja sampai kewalahan.

“kau, masih mengingatku kan?” tanyanya. Aku melihat matanya. Dia pasti sedang tersenyum. Anak itu sangat beruntung mempunyai ayah seramah ahjussi.

Aku mengangguk mantap. “tentu saja ahjussi! Aku sangat ingin mengucapkan terima kasih padamu saat itu, tapi kau malah pergi.”

Ahjussi tersenyum. Lalu seorang pelayan yeoja menghampiri kami. Kami memesan teh hijau panas dan semangkuk bubur korea.

Aku melihat arloji merah muda di tangan kiriku, menunjukkan pukul 10.40. apa guru Wu lupa dengan ‘jalan-jalan’ yang ia tawarkan padaku? Aku mengedarkan pandanganku ketika makanan yang kami pesan sudah diletakkan di meja kami oleh pelayan. Di mana guru Wu? Ah sudahlah, lebih baik aku makan terlebih dahulu. Tadi aku belum sarapan.

“kau sedang mencari siapa?” tanya ahjussi. Aku yang sedang melahap beberapa sendok bubur, mendongak ke arah ahjussi.

“ah, ani. Aku mencari temanku. Dia mengajakku jalan dan bertemu di sini. Tapi sampai saat ini aku belum melihatnya.” Aku masih sibuk dengan bubur korea yang ada di restoran ini. Sangat lezat! Potongan-potongan sayuran dan daging membuatku ingin sekali lagi memakan bubur ini.

“temanmu? Apakah yang ini?”

Aku mendongak. Melihat seseorang yang ada di depanku, membuat bubur yang kumasukkan ke dalam mulutku menyembur. Aduh aku tersedak. Aku langsung mengambil teh hijau yang ada di dekat tangan kananku. AKH! Panas! Dengan sekuat keyakinan dan kekuatan(?) aku menelan teh hijau dan bubur yang ada di mulutku secara bersamaan. Lidahku rasanya seperti mati rasa.

“Eunji-ah, gwaenchanha?” ‘ahjussi’—yang ternyata adalah guru Wu, menepuk pelan punggungku. Aku masih terbatuk.

“gwaenchanha, saem.” Guru Wu kembali duduk dan memangku balita namja itu.

“jadi, kau, ahjussi…”

“apakah aku terlihat setua itu?” eh? Dia tertawa. Bukan tertawa seperti saat bersama Chanyeol di restoran ini. Ia tertawa lepas. Lalu dia memainkan kedua tangan si balita yang ada di pangkuannya.

“a…ani. hanya saja aku masih shock. Aku betul-betul tidak menyangka jika ahjussi itu adalah kau, saem. Kau tahu tidak, kukira ahjussi yang menyelamatkanku itu sudah menikah. Lihat yang ada di pangkuanmu itu. Eh, saem, kau sudah punya aegi ya?” tanyaku polos. Tetapi guru Wu hanya membalasnya dengan tertawaannya. Balita itu juga ikut tertawa. Aku jadi jengkel.

“ani, ini bukan anakku. Aku ini masih terlalu muda untuk menjadi seorang ayah, hahaha. Baiklah kujelaskan. Asal-usul balita ini ada padaku ialah karena orangtuanya menitipkannya padaku. Orangtuanya ialah noona-ku. Dia sedang ada urusan mendadak sekarang. Sementara suaminya, pergi sementara ke tempat asalnya, Jinan, karena kedua orangtuanya sedang sakit.”

“Ah, jadi, nama anak ini siapa?” tanyaku sambil mencoba mengajak balita itu tersenyum. Ah neomu kyeopta!

“Annyeonghaseyo, Kim Muyeol imnida.” Guru Wu mengecilkan suaranya sambil menggerak-gerakkan kedua tangan balita yang bernama Muyeol itu. Seakan-akan Muyeol lah yang memperkenalkan dirinya. Aku tertawa kecil melihat tingkah guru Wu yang kuyakini belum ia perlihatkan pada siapapun.

****

Saem, sekarang kita akan pergi ke mana?” tanyaku yang sedang memangku Muyeol di mobil.

“karena kita mengajak Muyeol, bagaimana kalau kita pergi ke kebun binatang?”

“Ah ide bagus!”

“baiklah! Oke, Muyeol-i ayo kita pergi ke kebun binatang. Kaja!”

Selama di perjalanan menuju kebun binatang, aku dan Muyeol tertawa dan bermain bersama. Aduh balita berdarah Korea-China ini benar-benar imut dan tampan. Pasti noona-nya guru Wu memiliki kecantikan yang mengesankan dan suaminya pasti tampan.

“yap! Kita sudah sampai. Wah, ramai juga ya hari ini.” Tutur guru Wu setelah keluar dari mobil. Akupun menyusulnya sambil menggendong Muyeol.

Saem! Muyeol ternyata berat juga ya.” aku mengangkat Muyeol dengan sekuat tenagaku(?). lalu menyusul guru Wu yang sudah memasuki kebun binatang.

“ahaha dia memang berat. Ah iya, bisakah kau tidak memanggilku dengan sebutan ‘saem’ saat diluar sekolah?”

Aku menjeda langkahku, lalu berjalan lagi. “eh? Maksudmu, saem?”
Dia menghentikan langkahnya lalu memutar badanku, sehingga kami kini berhadapan. Ia memegang kedua bahuku dan sedikit membungkuk—mengingat tinggi badanku yang mmmm hanya 163 cm.

“panggil aku Oppa, Kris Oppa. arasseo?” titahnya yang disusul sentuhan kilas jari telunjuknya di ujung hidungku. Omo, kenapa mukaku jadi panas begini? Ini kan musim dingin?!
Aku membeku selama beberapa saat, lalu kembali bergegas menyusulnya ketika mendapat seruan darinya. “Eunji, kau mau apa di situ? Cepat kemari.”

****

“Oppa! Kris oppa! Muyeol sangat rewel! Bantu aku!! Dia bergerak terus dari tadi. Jangan asyik memotret binatang-binatang itu. urus anak ini!!! Oppa!!”

Aish, ternyata orang yang menyebalkan bertambah satu di kehidupanku. Aku heran. Kenapa guru Wu—eh maksudku Kris oppa bisa berubah sedrastis ini? Apa ia salah makan? Jujur, ini sangat aneh bagiku. Dulu ia pendiam, bahkan jarang tersenyum. Sekarang? Denganku? Dia malah asyik memotret binatang-binatang itu. Sedangkan aku? Sibuk mengurus keponakannya yang rewel ini. Ternyata dibalik wajah imut dan tampannya, Muyeol juga menyebalkan.

Sedaritadi, aku melihat Kris oppa tersenyum sendiri. Selalu. Ada apa dengan dia? Apakah dia tidak waras? (digebok Kris shipper) huh, aku mengangkat Muyeol yang masih tidak bisa berhenti bergerak di boponganku.

“hei, Kim Muyeol. Kenapa pamanmu itu susah sekali untuk dibilang sekali sih? Aku jadi kesal nih. Maka dari itu, kau tidak boleh membuatku jadi tambah jengkel lagi. Arasseo?”

“hahahahaha” sial, bocah namja ini malah mentertawakanku sambil mengulum ibu jarinya.

Aku menyusul Kris oppa yang masih asik dengan kameranya. Sebelumnya, aku melihatnya yang membelakangiku. Tubuhnya sangat tinggi dan punggungnya sangat bidang dibalik mantel putihnya.

Aku meraih pundaknya dengan tangan kananku karena aku berada di sisi kirinya. “oppa…”

Dia menoleh, menoleh ke wajahku. “apa?” tanyanya sambil tersenyum.

Astaga. Senyumannya…

Jangan pikirkan, Byun Eunji. “Oppa! ayo kita ke tempat hewan yang lain. Jangan di tempat hewan ini terus. aku bosan dari tadi kita di sini terus. Ke tempat gajah, kuda, zebra. Masih banyak yang masih belum kita kunjungi.” Gerutuku panjang.

Sementara lawan bicaraku hanya tertawa. Aku menunduk setelah itu menggerutu kesal. Lalu aku merasakan tangan seseorang sedang mengacak-acak rambutku. Aku langsung mendongak ke atas. Ia tertawa lagi. Entah kenapa, aku senang melihatnya tertawa.

“baiklah, sekarang kita menjelajah ke mana lagi?” Aku menelan ludahku, dia merangkul bahuku dengan tangan kirinya.

“ah, kita ke tempat Jerapah saja! Muyeol-ah, kau mau ke tempat Jerapah? Dia itu tinggi sekali lho!” aku menggoncangkan tubuh mungil Muyeol. Dia masih tak bisa diam dan terus tertawa dengan memasang wajah yang imut sekali. Sepertinya aku harus bisa bersabar.
Author POV

Eunji, Kris dan Muyeol masih melangkahkan kaki mereka ke area kebun binatang bagian jerapah.

“wah, mereka cocok sekali ya. Lihatlah, suaminya sangat tampan dan tinggi. Astaga! Aku benar-benar iri dengan wanita bermantel merah yang ada di samping namja itu!”

“astaga! Benarkah mereka sepasang suami istri? Suaminya sangat tampan! Begitu juga dengan balita namja yang berada di gendongan ibunya. Ibunya juga sangat cantik dan terlihat begitu muda!”

Bisikan-bisikan itu sekarang menyelimuti sebuah ‘keluarga kecil’ itu. Bisik-bisik para ahjumma dengan anaknya, sepasang kekasih yang sedang berlalu lalang, remaja-remaja yeoja begitu juga dan sebagainya.

Sementara yang dibicarakan hanya tertawa dan tersenyum kaku. Eunji yang mendengar pekikan-pekikan tersebut menjadi risih, malu dan sedikit senang. Kenapa ia senang? Menurutnya, Kris adalah pria tampan, tinggi, dan sempurna. Jika ia bisa menjadi apa yang orang-orang tadi bicarakan, dengan bangganya ia memamerkannya pada mereka.

“Eunji-ah, aku ingin menggendong Muyeol. Muyeol-ah, ayo kemari.” Kris mengulurkan kedua tangannya pada Eunji dan mengambil Muyeol ke dekapannya. Kris bisa mendengar Eunji mendesah lega karena tangannya sudah tidak perlu menahan beban tubuh Muyeol seberat 18 kilogram.

“oppa, sedari tadi kita diperhatikan oleh mereka.” Tutur Eunji yang masih merelaksasikan kedua tangannya.

Tiba-tiba sebuah tangan merangkul bahu Eunji. Eunji langsung menoleh ke arah Kris yang berada di sisi kanannya. Ia terkejut. Tangan kanan Kris menggendong Muyeol dan tangan kirinya mendarat di bahu Eunji.

“biarkan saja begini.” Ia tersenyum pada Eunji. Eunji yang melihat mata, hidung, bibir dan senyuman Kris, ia sering dibuat salah tingkah dengan perlakuan Kris yang seperti itu padanya.

Eunji POV

“Muyeol-ah! lihat! Jerapah itu tinggi sekali!!!” seruku sambil menggerak-gerakkan tangan kanan Muyeol yang duduk diatas pangkuan tangan Kris oppa.

“Muyeol-ah, jerapah itu lebih tinggi dari samchon-mu itu kan? Ya kan? Aku benar kan?” Tanyaku sambil mencubit gemas pipi kiri Muyeol yang chubby dengan tangan kananku. Sementara tangan kiriku mengarah–menunjuk jerapah yang ada di depan kami bertiga.

“Aish, aku senang bisa lebih pendek dari jerapah. Kalau aku lebih tinggi darinya, akan jadi seperti apa aku ini? Menggelikan.” Kris oppa mengacak-acak rambutku. Aku hanya bisa menggembungkan pipiku lalu mencubit gemas pipi Muyeol kembali.

“eh lihat! Wuaah mereka cocok sekali ya! suaminya sangat tampan! Lihat! Anak mereka juga lucu dan menggemaskan. astaga, ingin sekali aku memiliki kehidupan seperti wanita yang ada di hadapan namja itu.”

Aku menoleh ke arah suara itu—berada di belakangku. Suara remaja yeoja itu membuat telingaku langsung menangkap apa yang ia maksud. Aku tersenyum kaku pada mereka dan mendongakkan kepalaku pada Kris oppa.

“oppa…”

“wae?” tanyanya dengan senyumannya yang tiap kali membuatku jadi kikuk sendiri.

“Apakah kau mendengar apa yang mereka bicarakan?” Tanyaku hati-hati.
Kris oppa mendelik padaku. Tatapan menggoda… Omo!!?

“Lalu, kau maunya aku mendengarnya atau tidak?”

Aku tak mau menjawabnya. Lebih baik kuabaikan saja. Aku memfokuskan perhatianku pada Muyeol. Aku mengajaknya tertawa.

“Ah oppa, kemarikan Muyeol. Aku ingin menggendongnya. Ayo kita istirahat dulu.” Ajakku. Kulingkarkan kedua kaki Muyeol di pinggangku, lalu kurebahkan kepalanya di bahuku. Semoga saja ia bisa tertidur.

Kris oppa mengajakku untuk ke kafe outdoor yang terdapat di dalam area kebun binatang. Kami menghampiri meja lingkaran berdiameter sekitar setengah meter.

“Kau lelah?” Tanyanya yang membuat kepalaku menoleh padanya. Aku kembali menyeruput cappuccino hangatku.

“Lumayan lah, tapi karena aku sedang semangat hari ini, jadi aku tidak terlalu lelah. Bagaimana denganmu, oppa?” Jawabku tanpa melihatnya. Aku mengelus kepala Muyeol yang masih di dekapanku kini—dia benar-benar tertidur.

Aku menoleh kearahnya. Dia diam. “Waeyo, oppa? Kris oppa? Gwaenchanha?” Aku meletakkan gelas cappuccinoku di atas meja.

“Gwaenchanha.” Jawabnya sambil tersenyum.

Dia yang tadi menatapku langsung mengalihkannya pada Muyeol.

“Ah, sepertinya Muyeol tertidur.” Dia bangkit dari kursi yang ia duduki tanpa melangkah sama sekali dari tempat duduknya. Lalu mengeliminasi jarak antara aku—tepatnya Muyeol dan dia.

“Ah benar, seorang namja kecil yang tampan sudah tertidur.” Ia tersenyum melihat keponakannya kini tertidur pulas di dekapanku.

Aku mengelus-elus kepala Muyeol sambil tersenyum dan menutup mataku. Tapi, aku merasa ada sepasang mata yang menatapku. Aku membuka pelan kedua mataku. Dan kalian tahu apa? Kris oppa menatapku! Dan tatapannya itu berbeda dari yang pernah kulihat sebelumnya. Matanya yang tajam menatapku begitu dalam. Rasanya langsung menembus sesuatu yang ada di bagian tubuhku.

Aku mengerjapkan mataku sekali-duakali. Sepasang matanya masih menatapku. Tak lama setelah itu, ia menutup matanya. Apa maksudnya? Ia ingin menciumku? Apa? Apa aku tidak salah pikir?

Aku tidak berani memejamkan mataku. Aku membuang arah pandanganku ke bawah. Aku melihat kedua tangannya yang menahan beban tubuhnya di atas meja terlihat bergetar. Hey, kenapa bisa begitu?

Mataku kembali melihat wajah tampan Kris oppa. Sungguh. Rasanya aku seperti dilanda sesuatu yang memaksaku untuk harus melakukannya. Tapi aku tidak tahu apa yang sebaiknya aku lakukan.

Aku memilih untuk menutup kedua mataku. Semoga ada yang menghalanginya. Tolong appa!! Eomma! Baekhyun!! Ch…Chanyeol…. AKH APA INI??!!

Aku berdeham pelan lalu Kris oppa kembali duduk dengan ekspresi yang bisa kutaksirkan seperti ‘ditolak’. Mianhae, oppa.

Aku menatap apa yang mengenaiku tadi.

Dingdong~dingdong!

APA!!!??

“Op..oppa! Kris oppa!!”

“W..waegeurae??” Tanyanya cemas.

“Kemari oppa!”

Kris oppa langsung beranjak dari tempat duduknya hingga kini ia berada di sampingku.

“aku harus bagaimana ini?? Apakah sebelum kau pergi, kau tidak mengecek apa yang ia pakai sudah lengkap?” Gerutuku padanya. Aku saja hampir lupa apa yang akan terjadi tadi jika saja Muyeol tidak mengompol di pakaianku.

Aku sih cukup bersyukur karena ciuman pertamaku masih tersimpan dengan aman. Tapi kenapa cara pencegahannya harus kelewatan seperti ini??

“Mianhae, Eunji-ah. Kau pergilah ke toilet dulu. Biar aku yang mengurus Muyeol.”

Aku melangkahkan kakiku menuju toilet kafe ini sambil melapkan mantel di bagian perutku dengan tissue yang kubawa.

****

Kris POV

 

Aku membawa Muyeol ke toilet pria. Mendudukkannya di westafel toilet.

“Muyeol-ah, kenapa kau mengganggu samchon tadi? Jarak samchon dengan gadis itu hampir tereliminasi, kau malah membuat semuanya menjadi kacau.”

Gerutuku panjang sambil melepas celana jeans yang dipakai Muyeol dan memasang popok balita berbentuk celana yang kuambil dari mobil. Lalu kupasang celana jeans baru yang juga kuambil dari mobil. Seharusnya aku menyiapkan semua ini terlebih dahulu. Jadi tidak perlu bolak-balik seperti ini.

Muyeol hanya bisa tertawa dan meracau tidak jelas. Lalu kami kembali ke tempat duduk kami, kudapati Eunji sudah duduk di kursinya. Menopang kepalanya dengan kedua tangannya yang ia lipat di atas meja. Ia merebahkan kepalanya membelakangiku—tetapi  posisi duduknya menyampingiku.

Aku menghampirinya dan menunduk rendah untuk melihat wajahnya.

Yaampun, dia tertidur. Cuaca hari ini kan dingin sekali. Aku mengguncang-guncangkan bahu kanan Eunji sementara tangan kananku menggendong Muyeol.

“Eunji-ah, ireona…”

Dia susah sekali kubangunkan. Apa ia terlalu lelah? Aku mendekatkan wajahku ke arah telinganya. Kuselipkan rambut coklatnya di belakang telinga kanannya.

Kusentuh perlahan kepalanya, lalu mengelusnya. Sungguh, aku ingin secepatnya mengatakannya. Tetapi, ia masih terlalu kecil. Aku harus bersabar menunggu.

****

Eunji POV

Aku merasakan tempat yang kutempati bergetar, aku langsung membuka kedua mataku perlahan-lahan.

“Di mobil?” Tanyaku dalam hati. Aku langsung menolehkan pandanganku ke arah kiri. Terdapat seorang namja tampan bermantel putih sedang menyetir mobil ini.

Ah, andai saja tidak ada acara Muyeol mengompol di mantelku. Eh? Di mana Muyeol?

“Oppa!”

Kris oppa terkejut mendengar seruanku. “Wae?” Dari nada suaranya terdengar panik.

“Di mana Muyeol?” Tanyaku cemas. Tak terasa kantuk yang tadi masih menyerang kedua mataku langsung menghilang. Mataku membulat panik.

“Ah kukira apa. Dia ada di belakang. Ia kurebahkan di sana agar tidurnya nyaman.” Jawabnya sambil mengarahkan tangan kanannya ke jok kursi belakang sedan hitam mewah ini.

Aku menghela napas lega. Sungguh, kedua pipi Muyeol ingin kucubit lagi.

Aku membuang pandanganku ke jendela mobil. Butir-butir salju menghujani jembatan sungai Han. Ya, kami sedang menyebrangi jembatan sungai Han.

“Oppa, sekarang sudah jam berapa?” Aku menoleh pada Kris oppa. Kulihat dia mengangkat sedikit lengan mantelnya di tangan kirinya.

“Jam 4 sore. Wae? Kau sudah ingin pulang?” Tanyanya sambil menatapku penasaran.

“Ah ani. Memangnya oppa akan mengajakku kemana lagi?”

“Sebenarnya aku ingin mengajakmu makan malam sih, tapi kurasa tidak baik untukmu. Lagipula besok hari senin, kau harus masuk sekolah. Lain kali saja kalau begitu.” Jelasnya diselipkan senyuman yang menawan.

Aku mengusap tengkukku yang menjadi hangat. “Ah baiklah. Aku pulang saja kalau begitu, kemarin pula aku sempat tidak masuk sekolah, jadi aku harus mengejar materi pelajaran.”

Dia membalasnya dengan senyuman hangatnya. Akh kalau aku terus-terusan berada di samping seorang Wu Yi Fan, bisa jadi setiap hari hidungku mengeluarkan nosebleed.

****

“Gomawoyo, Kris oppa. Ah iya, apakah kau mau mampir dulu ke dalam rumahku?”

“Ah, tidak perlu.” Jawabnya sambil menyunggingkan kedua sudut bibir penuhnya. Aku melayang-layangkan kedua telapak tanganku pada Kris oppa dengan mobilnya yang kian menjauh dari rumahku.

Setelah mobilnya menghilang dari pandanganku, aku masuk ke rumahku.

“Yaaaa!! Dari mana saja kau? Sudahkah kau makan siang? Aigooo, dengan siapa kau pergi tadi? Pacar barumu ya? Aigooo anakku sudah bisa mencintai rupanya.”

“Eomma!!” Seruku pada eomma sambil menggembungkan kedua pipiku.

Noona, siapa pacarmu? Chanyeol hyung kah?”

“YA! Byun Baekhyun! Appo! Lepaskan!” Baekhyun mencubit kedua pipiku yang sebelumnya kugembungkan tadi. Aish jinjja!

“Berikan aku keponakan yaa!!” Serunya sambil berlari ke arah tangga.

Apa dia bilang?
“Baekhyun! Aigoo kau bilang apa tadi? Dasar anak nakal!” Eomma mengejar Baekhyun yang sudah terbirit-birit menaiki tangga. Karena kehebatan eomma yang dulunya adalah jagoan SMAnya di bidang atletik lari, ia mampu mengejar Baekhyun yang cekatannya mengimitasi eomma.

Kulihat eomma menjitak kepala Baekhyun, lalu mencubit—sepertinya  gemas sekali—kedua  pipi Baekhyun. Baekhyun hanya bisa berteriak, “eomma~!!” “Appoyo!!” “Eomma ampun~” dengan wajah seperti anak kecil. Padahal dia sudah berumur 16 tahun saat 6 mei lalu.

Kalau eomma tidak adil padaku—menghukum Baekhyun, mungkin teriakanku akan terdengar beberapa tetangga sekitar rumahku untuk mencaci adikku itu, menghukumnya dengan cara yang lebih liar 10 kali lipat dibanding eomma.

Aku pergi ke kamarku. Aku mencari ponselku. Sedari pagi tadi aku tak pernah mengecek iPhone ku. Mungkin tertinggal di kamarku. Tetapi saat ku cari di ranjangku, nakas, lemari, meja belajarku, ponselku tak kunjung kutemukan.

Aku mencoba untuk merogoh tas selempang coklat kecilku yang kupakai saat ‘kencan’ dengan Kris oppa.

Ternyata benar ada di dalamnya. Aku merebahkan tubuhku di atas ranjangku. Membuka lock ponselku dengan beberapa angka.

29 messages from Park Chanyeol

17 missed cals from Park Chanyeol

Apa?

Sebanyak ini?

Ada apa dengannya?

Mau merepotkanku lagi hah? Aish jinjja. Aku menggerakkan ibu jariku, menekan layar ponselku. Menghubungi sebuah nomer ponsel Park Chanyeol.

“Ya! Kau ini dari mana saja hah?? Kutunggu kau dari pagi tadi di apartemenku!!! Ke mana kau?? Mana janjimu??”

Aku membulatkan kedua mataku. “Apa? Aku tak pernah berjanji padamu, park Chanyeol babo.”

“Kau bilang padaku agar kau tak kulaporkan ke polisi karena membuat mulutku terluka, kau akan seharian menemaniku di apartemen.”

Aku mendesah kesal. “Ya~ kau ini kekanak-anakan sekali. Mana mungkin aku masuk penjara karena hanya membuat mulutmu terluka. Lagipula itu tidak kusengaja kok.” Jawabku berusaha untuk tenang.

Piip….

Apa? Kenapa dia mematikan sambungannya? Apa-apaan dia ini?? Aish!!

****

Aku menghampiri kursi+mejaku lalu duduk di sana, meletakkan tas biruku di atas meja. Aku merasakan ada seseorang yang baru datang lalu langsung menduduki tempat duduknya. Tak lama , ia lalu pergi ke luar kelas.

Aneh. Biasanya dia selalu menggangguku saat ia baru melihatku. Eh? Apa tadi ia tak melihatku? Ia pergi begitu saja? Apa aku dianggap hantu dengannya? Kenapa aku jadi kesal begini? Apa peduliku? Biarkan saja. Toh seharusnya aku senang dia tak menggangguku lagi.

Saat pelajaran berlangsung, kami sama sekali tak berbicara. Kalau biasanya hanya kami berdua yang mengisi keributan di kelas kami, sekarang kelas kami benar-benar sepi. Aneh. Ini sungguh aneh. Ada apa dengan Chanyeol?

Saat bel istirahat berdering, biasanya ia selalu menyeretku ke kantin. Tapi sekarang, mengeluarkan suaranya saja mustahil! Kenapa aku mendadak cemas padanya?

Chanyeol beranjak dari tempat duduknya, ia melangkahkan kaki, tapi kutahan tangan kanannya. Dia menoleh padaku. Aku langsung berdiri, mensejajarkan langkahku pada langkahnya.

“Kau aneh. Kenapa? Kau ada masalah?”

Hening. Bahkan ia membuang pandangannya. Seakan-akan aku tak dianggapnya berada di hadapannya sekarang.

Aku menatapnya miris. “Mulutmu masih sakit, jadi kau enggan berbicara. Apa karena itu?”

Ia diam. Kalau jawabannya ia atau tidak, bisakah kau mengangguk atau menggeleng sekali-duakali? Menyebalkan.

Aku menghela napasku berat. “Baiklah, mianhae, kemarin aku tak menepati janjimu. Rasanya jika tidak ada kehebohanmu di kelas seperti tadi membuatku cemas, tidak nyaman.”

Aku menunduk sambil mengepalkan kedua telapak tanganku sekeras-kerasnya di balik kedua saku blazer seragamku.

Aku mencoba melihat reaksinya, menoleh pandanganku, mendongak karena dia itu tinggi seperti tiang listrik. Eh, sudah lama aku tidak menggunakan panggilan itu untuknya.

“Ya! tiang listrik! Kenapa kau hanya diam saja hah? Kau tahu tidak? Mengucapkan serentetan kalimat-kalimat tadi padamu membuatku tegang, takut, cemas. Reaksimu hanya seperti itu!”

Aku kembali menunduk. Tak lama kemudian, sebuah telapak tangan mendarat di puncak kepalaku.

Aku kembali mendongak. “Chanyeol-ah..”

“Baiklah, kuterima!”

“Jinjja?”

“Kau mau menerima permintaan maafku?” Sambungku.

Chanyeol mengangguk-angguk dengan senyuman lebar khas Park Chanyeol. “Ne. Aku menerima permintaan maafmu. Aku sedikit berlebihan padamu. Walaupun rasa sakit di mulutku ini masih belum hilang.”

“Baiklah nanti sepulang sekolah aku akan mengobatinya. Tapi masa kau tak bisa mengobatinya sendiri?”

“Aku tak bisa, malas, merepotkan.”

Aku hanya bisa mendecakkan lidah ‘kagum’ atas kemalasannya padahal ia sendiri yang akan merasakan akibat dari kemalasannya itu.

****

Author POV

 

Sulli, Krystal, Kyungsoo dan Sehun melangkahkan kaki mereka ke kelas 3-2. mereka ingin mengajak Eunji dan Chanyeol ke kantin bersama mereka.

“Ya! tiang listrik! Kenapa kau hanya diam saja hah? Kau tahu tidak? Mengucapkan serentetan kalimat-kalimat tadi padamu membuatku tegang, takut, cemas. Reaksimu hanya seperti itu!”

Krystal yang hendak melangkahkan kakinya menuju dalam kelas 3-2 ditahan oleh Kyungsoo.

“Wae?” Tanya Krystal innocent.

“Sepertinya kita akan mengganggu mereka.” Sahut Sehun.

“Lihat, hanya mereka berdua yang ada di kelas itu. Sepertinya ada yang menyatakan perasaannya. Eunji hebat!” Sulli tertawa pelan, mengintip Chanyeol dan Eunji yang sedang membicarakan sesuatu dari jendela kelas 3-2 yang bisa dilihat dari koridor lantai 3 ini.

“Chanyeol-ah..” Suara lirih milik Eunji terdengar jelas oleh mereka berempat.

“Baiklah, kuterima!” Mereka berempat langsung menutup mulut mereka dengan kedua telapak tangan mereka. Takut suara pekikan diakibatkan melihat kejadian yang ‘unbelievable’ bagi kedua ‘couple’ di SMA Shin itu.

Jinjja?” Setelah mendengar ujaran tak percaya dari Eunji, Krystal langsung memandu Sehun, Kyungsoo dan Sulli menjauh dari kelas 3-2, berniat untuk menyudahi kegiatan yang tidak pernah mereka rencanakan sama sekali.

****

Eunji POV

Yah, walaupun aku harus kerepotan lagi, biarlah, aku senang melakukan ini. Aku merasa entah kenapa menjadi risih jika ia tiba-tiba mendadak diam.

Kau tahu, sebelum dia benar-benar memaafkanku, dia mengajukan berbagai permintaan padaku.

“Kau harus menemaniku sepulang sekolah!”

“Belajar bersama di apartemenku saja!”

“Traktir aku makan setiap hari di kantin!”

“Temani aku ke lotte world sehabis pulang sekolah ini!”

Aku menghela napas, lalu mencoba menjawabnya. “Park Chanyeol. Kau sudah gila? Permintaanmu terlalu tak masuk akal! Aku harus menemanimu kemana? Tidak tahu kan? Belajar bersama di rumahmu? Bagaimana kalau kedua orang tuaku tak menyetujuinya? Traktir? Kau pikir aku punya pohon uang yang setiap hari bisa kupetik semauku? Lotte world…”

“Ja! Sepulang sekolah kita ke lotte world saja! Kau sudah janji!”

“Aku tidak janji!!!”

“Kau harus janji!!!”

“Terserah apa katamu.” Ucapku pasrah. Dia tertawa lebar sekali.

****

Chanyeol langsung menyeretku keluar dari kelas kami setelah bel pulang sekolah berbunyi di pukul 2 siang. Lumayan cepat pulangnya, karena guru-guru akan mengadakan rapat tentang pembahasan pendalaman materi yang akan diikuti kelas 3.

“Yaaa bisakah kau pelan pelan sedikit?”

“Chanyeol!” Dia langsung menoleh. Lalu menarikku lagi sambil berlari.

“Yaa~ kita mau naik apa ke lotte world? Cukup jauh dari sini kan?? Dan aku baru menyadarinya, kalau tiket masuk ke Lotte World itu mahal!! Park Chanyeol!” Seruku yang masih ditariknya sambil berlari.

“Sudah kau tenang saja. Serahkan saja padaku. Hari ini kau adalah tanggung jawabku.”

Deg~ deg…

Mendengarnya mengatakan itu dengan selipan senyuman hangatnya membuatku tak berhenti menatapnya. Ia kemudian berhenti mendadak sehingga aku menabraknya.

“Kau kenapa melamun? Menatapku? Kau suka padaku? kau baru sadar kalau aku ini tampan dan terkenal di SMA Shin?” Tanyanya innocent sambil merendahkan tubuhnya untuk melihatku membungkuk, memegang kedua lututku sambil ngos-ngosan—alasanku  agar tak terlihat seperti memperhatikannya dari tadi.

“Ani. Eh, lalu kita naik apa?” Tanyaku langsung to the point tanpa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang menuntut darinya.

Dia menghentikan sebuah mobil sedan berwarna kuning yang bisa disebut sebuat taksi.

Kami duduk bersebelahan. Keheningan menyelimuti suasana keberadaan dimana kami berada. Aku benci, kenapa suasana ini begitu melekat di taksi ini??

Aku berusaha meredakan kecanggunganku dengan menggerakkan kakiku, menepuk-nepuk pelan pahaku dengan telapak tanganku mengikuti ritme musik yang sedang diputar di radio di dalam taksi.

****

“Woah!!!”

“kampungan sekali kau.” Tandasnya sambil tersenyum lebar innocent, membuat kepalaku langsung menoleh dan menatapnya tajam.

“mwo?” jawabku dengan nadi tinggi padanya. Seenaknya saja dia bicara.

“aku hanya sudah lama tidak pergi ke sini. Wah banyak yang berubah ya.” kagumku.

Chanyeol hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

Seketika tangan kiriku ditarik Chanyeol. “ja! Wahana apa yang pertama ingin kau naiki? Bagaimana kalau roller coaster? Ah namanya apa itu…. ah! French Revolution!”

“eh? Roroller coaster?”

“kaja!”

“MWO???? ani! Andwae! Shireo! Aku tidak mau!!! Kita naik balon udara yang di luar tadi itu saja!!!”

Dia menjitak kepalaku. “YA!” seruku.

“kau kekanak-kanakkan sekali. Kita naik wahana yang menantang!” dia mengangkat kedua tangannya seperti orang yang bersemangat sekali.

“aish, shireo

“kau harus mematuhi perintahku!”

“aku bilang aku tidak mau!!!”

….

Aku menengok ke sekitar di mana kami berada. Kami sekarang menjadi pusat perhatian perngunjung-pengunjung Lotte World. Aku menundukkan kepalaku sejenak lalu mendongak kembali ke pada Chanyeol.

“baiklah.”

“HORE!!! Ja!! Kaja!! Byun Eunji, Hwaiting!!!”

Aku hanya bisa menghela napas seberat-beratnya dan sebisa mungkin. Melihat tingkah kekanak-kanakkan ini membuatku geli. Ingin sekali aku menindasnya seperti, “siapa kau? Aku kenal kau?” atau juga bisa seperti, “maaf aku tidak mengenalmu.” Melihatnya loncat-loncat kegirangan lalu ‘bersalto ria’ di depan umum seperti ini. Menggelikan. Hiiy.

****

 

3…

Tuhan kumohon selamatkanlah aku…

2…

Lepaskan aku!!!! Jangan bergerak! Kumohon mesinnya mati atau rusak!!! Kumohon!! Jebaaal!!

1…

ANDWAE!!! KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA

Andwae, ani, ani, ini tidak boleh terjadi, jangan bergerak!!!!

Kereta roller coaster yang kududuki sudah bergerak perlahan-lahan. Aku melirik Chanyeol yang duduk di sampingku. Dia tertawa lebar, berkebalikan denganku. Aku hanya bisa menghembuskan napas dengan kesal, kesal dan kesal!!! Aku benci roller coaster.

Aku dan Chanyeol duduk di seat paling depan. Kau tahu betul kan? bahwa menaiki roller coaster, seat paling depan lebih terasa ekstrimnya dibandingkan seat setelahnya.

kereta menaiki tanjakan yang tinggi, aku hanya bisa berdoa dalam hati. Kupegang tangan kanan Chanyeol yang menganggur. Aku sepertinya sedang ‘memplintir’ telapak tangan Chanyeol sehingga dia sedikit menjerit kesakitan.

Aku kira dia akan menatapku tajam lalu menghempaskan tanganku dari tangannya. Tetapi, ia malah membalas genggaman tanganku, lebih kuat. Kurasakan kehangatan tangannya, menjalari kehangatan ke tanganku yang dingin karena cuaca ditambah kegugupanku menaiki wahana sialan ini.

Aku menggenggam erat tangan Chanyeol. Puncak tanjakan itu semakin mendekat. Kau tahu kan, setelah puncak tanjakan itu, pasti kita langsung ‘dihempaskan’ ke bawah begitu saja.

Dekat…

Semakin dekat…

De…..kaaaaat.

Hhhhh, hari ini adalah hari paling menegangkan dalam hidupku. Ternyata kereta ini belum ‘dihempaskan’. Rel pada roller coaster ini malah mendatar. Selang beberapa detik, kereta itu membelok dan berjalan menuju ke arah…

‘JURANG’!!!!!!

Astaga, dekat… semakin dekat…

Kugenggam  tangan Chanyeol lebih kuat dengan kedua tanganku, kututup mataku. Aku takut sekali. Eomma!!! Hiks T_T

“KYAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!!!!!” teriakan mendominasi semua pengunjung wahana gila ini.

Astaga, perutku geli dibuatnya! Aku seperti tidak punya berat badan! Sungguh, punggungku sakit karena terkena benturan kursi roller coaster ini. ‘jurang’ roller coaster ini sangat-sangat-sangat curam!!!

“Chan…” roller coaster ini masih ‘berlari’ dengan kecepatan super. Aku memanggil Chanyeol lirih.

Chanyeol masih saja dengan mata tertutupnya, kedua tangannya bergaya hands up masih ia lakukan, dan senyuman lebar khas Park Chanyeol.

Wajahku rasanya seperti membeku. Wajar saja, diterpa angin yang cukup dingin walaupun wahana ini terletak di dalam gedung. Aigoo. Ya Tuhan, kumohon jangan ambil nyawaku sekarang, terlalu berat untukku meninggalkan eomma, appa dan Baekhyun. *eunji’s puppy eyes* T_T

“ya~ Eunji-ah. gwaenchanha? Kau nikmati saja. Ini sangat mengasyikkan! Yohooooaa!!!” aku menoleh padanya, masih bisa dia tertawa seperti itu? Senyuman lebar khas Park Chanyeol, aish jinjja. Aku tidak membalasnya, aku terus menunduk sampai wahana sialan itu berhenti tetap.

JINJJA! kereta roller coaster ini hampir mengelilingi seluruh gedung indoor Lotte World! Aku bisa gila kalau begini terus!! kumohoooooon hentikaaan. Liuk-liukan roller coaster ini membuat badanku menjadi sakit.

Ketika wahana itu sudah berhenti, Chanyeol keluar dari seatnya. “Ya~ Eunji-ah, kau mau menaiki ini lagi? Ireona, jangan lemas seperti itu.”

Aku mendongak padanya yang sudah berdiri di samping kereta roller coaster ini. Aku bangkit dari seatku tapi aku pusing, hampir saja aku jatuh jika…

Jika Chanyeol tak sigap menangkapku. “ya! Byun Eunji, gwaenchanha? Eo?” aku hanya mengangguk sebisaku. Rasanya perutku ini dihinggapi angin yang berputar-putar di dalam perutku.

Setelah kami keluar dari area roller coaster, perutku terus memberontak. Entah kenapa, sungguh mual, aku mual. Sepertinya aku akan memuntahkan semua isi yang ada di dalam perutku.

“Chanyeol…” panggilku lirih. Dia masih saja menarikku sambil berlari.

Aku kesal jika diacuhkan begitu. Aku menarik tangan kirinya yang menggenggam tangan kananku sehingga dia berhenti. Tapi…

“huek… huek…”

Oops…

“hoaak, huek, huks… ahhhkhh…” gerutuku sambil memuntahkan isi lambungku.

Aku mendongakkan kepalaku melihat Chanyeol yang membulatkan bibirnya.

“YAAAA Byun Eunji! Apa yang kau lakukan pada seragamku?????!”

Aku langsung menyeka sisa-sisa muntah yang ada di sekitar mulutku dengan punggung tanganku.

“mianhae, Chanyeol-ah. aku tidak sengaja.” Aku menatapnya dengan puppy eyesku.

“kau lihat apa yang kau perbuat pada blazer seragamku? Kau kenapa bisa muntah sebanyak itu??” tindasnya dengan mata yang melebar padaku. Menuntutku untuk menjawabnya.

“mianhaeeeeee!!” teriakku sambil menggembungkan pipiku.

“haishh, kau tunggu di kursi itu, aku akan ke toilet membersihkan muntahmu ini dari mantelku. Nanti akan kubelikan kau minuman.” Setelah mengatakan itu, dia pergi.

Mengikuti perintah dari tuan tiang listrik, aku menghampiri kursi panjang itu lalu duduk di atasnya. Ku tumpangkan kedua sikutku di atas kedua pahaku. Ya, aku mengkilas balik kejadian tadi. Kenapa aku saat itu betah sekali menggenggam tangannya? Kuulangi, meng-geng-gam tangan seorang Park Chanyeol! Itu gila sekali!

Ya, aku akui, aku memang nyaman menggengam tangannya yang hangat tanpa teralaskan sarung tangan rajutannyapun.

Haduuuh kenapa bisa begini sih? Sepulang dari sini, aku harus berkonsultasi lagi, ya lagi, dengan adikku sendiri, Baekhyun. Ah memalukan. Lupakan itu!

Aku terus  memandangi jalanan yang dilewati beberapa kaki pengunjung gedung indoor Lotte World, seketika konsentrasiku buyar karena ada sebuah botol minuman yang dipegang sebuah tangan. Oke, ku rasa yang melakukan ini adalah si namja tiang listrik, Park Chanyeol.

“ya~ kenapa kau melamun?”

“aku tidak melamun.” Jawabku singkat tanpa menoleh padanya. Arah pandanganku masih sama seperti yang sebelumnya.

Dia kini duduk di sampingku. “ini.”

Aku menoleh ke arah kiri, ke arahnya. Kenapa malah barang ini yang ia kasih padaku? Aku ini butuh air, air. Mana minuman yang kau bawa tadi??

“ya~ kenapa kau memberiku tissue? Mana minumannya? Berikan padaku.” Aku mengarahkan tanganku ke hadapannya. Meminta minuman darinya.

Bukannya memberiku botol minuman yang ia beli tadi, ia malah membuka kemasan dari tissue yang ia pegang sekarang.

Aku menatap tangannya yang sedang membuka tissue itu lalu beralih pada matanya yang sedang fokus pada apa yang dilakukan tangannya.

Dia melihat mataku, kedua mata kami bertemu. Gluk. Aku menelan ludahku. rasa-rasa muntah  masih tersisa di mulutku.

Dia mendekat!

Omo, apa-apaan ini? Kenapa aku tidak bisa bergerak???

EOMMAA!!!

Babo, lap dulu bibirmu ini sampai bersih.” Timpalnya sambil menempelkan selembar tissue ke bibirku. Aku memandangnya tak percaya. Apa? PARK CHANYEOL!!!!!!

Dia asik tertawa melihatku yang sudah jengkel, yang sudah menahan malu, yang sudah, sudah, sudah mengharapkan ciuman dari Chanyeol!!! Eh? APA? Byun Eunji???? Apa yang kau bilang tadi?????!! Sungguh aku tak percaya apa yang kukatakan tadi! Apa yang kubilang tadi? Joha, lupakan, oke? Kalian harus lupakan apa yang kukatakan tadi. Apakah kalian bingung? Tak mengerti? Aku sendiri masih bingung kenapa aku bisa berbicara seperti itu. Untung saja kalimat laknat yang baru saja kubuat, kuucapkan dalam hati. Bagaimana kalau kata-kata laknat itu terdengar Chanyeol? Sempurna sekali hidupku, penuh dengan penindasan dari Baekhyun dan Chanyeol secara bersamaan. Malang sekali nasibmu, Byun Eunji. Ckckck.

“Ya! kau tak mau melap mulutmu? Ckck manja sekali.”

Sementara aku yang masih membeku, terus membeku. Sesuatu yang dari tadi menempel di bibirku lepas begitu saja.

MWO…

“begini saja harus aku yang melapkannya untukmu.” Chanyeol melapkan bibirku dengan tissue yang ia tempelkan tadi pada bibirku.

Aku tidak bisa apa-apa lagi. Aku hanya bisa menggerutu panjang, kesal dan marah di dalam hatiku.

****

“Hei, apa kau lapar? Sudah jam 7.malam. Belum puaskah kau membuat batinku tertekan??? Wahana-wahana yang sangat gila! Aku yakin yang merancang semua wahana di sini merupakan orang yang ada kesalahan pada saraf otaknya. Menaiki wahana yang mengerikan, menakutkan sepertimu, belum puas kau menertawaiku hah? Kenapa kau selalu tertawa melihatku marah-marah seperti ini padam? Neo jinjja…” gerutuku panjang ketika kami berdua—tepatnya hanya ia seorang mencari wahana yang seru. Sementara Chanyeol masih asik mentertawaiku. Aish, jinjja.

“YA!!! PARK CHANYEOL!!!” teriakku membuat langkah kakinya berhenti. Aku mendekatkan kepalan tanganku ke arah kepalanya lalu menjinjit sedikit. Menjitaknya sekeras mungkin.

“YA!! APPO!” dia malah tambah merendahkan tubuhnya sehingga aku tak perlu berjinjit lagi

“YAAAA!!!” teriaknya di dekat telingaku membuat aku menjauhkan diriku  darinya.

“aish kenapa kau teriak hah? Mau kutambah jitakan super dari Byun Eunji, eo?” tanyaku diselingi seringaianku yang menurutku cukup menyeramkan.

Aku menahan tubuhnya dengan memegang pinggangnya dengan kedua tangankun agar tidak bisa lari dariku. Aku menjinjit kembali untuk menjitakinya kembali.

Setelah aku puas, aku menghentikannya. “Ayo kita makan! Aku sudah lapar!” seruku.

“tunggu dulu! Kita belum menaiki Bungee Drop! Kita harus menaiki itu!!!” serunya sambil mengangkat kedua tangannya sambil bersorak-sorai sendiri.

“tidak, ini sudah malam, Chanyeol. Aku takut keluargaku di rumah mencemaskanku. Aku juga sudah lapar. Kau tak lapar? Ayo kita keluar dari sini,” aku berusaha melembutkan intonasi suaraku. Sabar, Byun Eunji, sabar. Hhhh.

tsk, kau ini. Baiklah. Kurasa aku sudah cukup lapar. Ayo kita makan! Ja!” lagi dan lagi, Chanyeol menyeret tanganku. Dan aku cukup merasa lega, ia membawaku ke luar area Lotte World. Jadi sudah dipastikan, kami tidak bisa menaiki wahana-wahana itu lagi. Terkecuali kalau Chanyeol memang maniak sekali sampai-sampai membeli lagi tiket masuk untuk kami berdua. Habislah aku.

****

ppalli mokja!” Seru Chanyeol setelah mengambil sumpit alumunium silvernya. Lalu menjepit galbi yang sedang dibakar dengan sumpitnya, meletakkan daging berbumbu sedap itu ke daun selada yang sedang ia pegang, ia lipat daging beserta daun selada, dan ia langsung memasukkannya ke mulutnya.

Aku juga menyumpit daging itu, melakukan hal yang sama dengan Chanyeol lakukan tadi. Dagingnya sangat lezaat!!

Aku membalik-balikkan daging itu lalu menyumpitnya menuju mangkuk nasiku—aku lelah membungkus daging itu dengan daun selada, merepotkan—. Mungkin  karena terlalu asik membalik-balikan daging itu, sekarang galbi itu hanya tersisa 3 potong.

“YA! jangan kau terus yang memakannya! Dari tadi aku yang membolak-balikkan daging ini, kau bisanya hanya memakannya saja. 3 potong daging itu untukku. Jangan kau ambil lagi!” gerutuku sambil mengambil sendok nasi dan menyuapkan sesendok nasi beserta satu potong galbi dari mangkukku ke dalam mulutku.

“andwae. Itu tidak bisa. Kau tak boleh curang, Byun Eunji.” Cegahnya ketika aku menyumpit ketiga potong daging yang berada di panggangan daging di atas meja makan kami.

“ya! justru siapa yang curang di antara kita berdua, eo? Kau, kau yang curang. Awas tanganmu, menggangguku mengambil daging saja”

Sumpitnya masih saja mencegah sumpitku untuk menaruh daging-daging itu ke mangkuk nasiku.

“Park Chanyeol…” aku menatap matanya tajam.

“ayolah, ah! bagaimana kalau kita menentukan pemilik daging ini dengan memainkan gunting batu kertas?”

“ayolaaaah…” kini seorang Park Chanyeol mengeluarkan puppy eyesnya. Ya! Seorang Park Chanyeol dengan suara beratnya itu tak cocok dengan ‘aegyeo’!

“daging itu milikku. Kau sudah makan banyak dari tadi. Kau tak kasihan padaku, eo? Dari tadi aku menemanimu menaiki wahana-wahana sialan itu. Aku lelah, aku ingin mengisi perutku yang tadi siang keluar karena muntah. Dan penyebabnya adalah roller coaster sialan itu. ayolah, berikan daging itu padaku. Ya? buatku ya?”

Apa? Dia menggembungkan pipinya? Cih, ingin sekali aku merobek pipinya itu. Aegyeotsk.

“Aku sudah banyak mengalah padamu, Park Chanyeol. Dan sekarang aku mengalah lagi. Baiklah, hanya Tuhan yang tau akan dapat balasan apa aku kemudian kelak.” Aku berusaha mendramatisir keadaan.

“yay! Sudah kau siapkan jari-jarimu? Ayo kita mulai.” Titahnya sebelum meletakkan sumpitnya di atas meja.

Akupun mempersiapkan jari-jari telapak tanganku. Semoga aku yang memakan daging lezat itu. aku akan membungkus daging itu dengan daun selada kalau aku menang dari Chanyeol. Ya! aku janji!

“gunting, batu…” seruan Chanyeol tergantung…

Lalu kami menyeru secara bersamaan. Lantas semua pengunjung restoran itu serentak menoleh ke arah kami.

“KERTAS!!!”

♫Dingdong~dingdong♪

Aku hanya bisa menghela napas. Hiks, kau benar-benar malang, Byun Eunji. Hiks.

Aku menatapnya. Aneh, seorang Park Chanyeol yang mengeluarkan ‘gunting’ kenapa diam saja.

“ambillah. Makan, cepat! Puas kau, eo?” aku mendengus kesal melihatnya yang memasang senyuman lebarnya itu. kenapa sih namja ini hobinya tersenyum lebar seperti itu terus? memperlihatkan giginya yang putih, aku tidak iri, babo-ya. Gigiku juga bagus seperti Chanyeol. Eh, oke, aku tidak mau disama-samakan dengannya. Kenapa aku jadi memplagiat kata-kata Baekhyun kemarin pagi? cih lupakanlah.

“YA! kenapa kau tidak mengambil sumpitmu, lalu membungkuskan daging itu ke daun selada, dan kenapa kau tidak memasukkan daging itu ke dalam perutmu?” gerutuku.

“suapi aku.” Masih dengan senyuman khas Chanyeol.

“aish jinjja.” desahku.

“ayolah. Jebaaal. Ya? ya? suapi aku.”

Aku menyerah. aku mengambil sumpitku. Menyumpit dagingnya lalu membungkusnya dengan daun selada. Aku mengarahkan tanganku yang memegang daging yang sudah terbungkus daun selada ke mulutnya.

“buka mulutmu.” Titahku dingin padanya.

Dia belum membuka mulutnya. Apa sih maunya?

“kau harus bilang ‘Chanyeol-ah, buka mulutmu. Aaaaa?’ dengan gaya aegyeo. Aku ingin melihatmu beraegyeo. Jebaaal.” Pintanya dengan puppy eyesnya lagi-lagi. Hei itu menggelikan!

Aku mendesah panjaaang sekali. Lama-lama aku bisa dirawat di rumah sakit jiwa kalau berinteraksi dengannya terus menerus.

“Yeol-ie, ayo buka mulutmu. Aaa? Hihi.” Aku sebenarnya bisa beraegyeo, tapi terlalu menggelikan jika melakukannya di depan umum.

Dia tak bergeming, dia membatu ya?

“jika kau tak membuka mulutmu… ppuing-ppuing.” aku berlagak menangis dengan tangan kiriku yang ku kepalkan di samping mata kiriku—karena tangan kananku memegang galbi untuk Chanyeol.

Aku menghela napas berat. Dia ini ingin sekali aku membantingnya sekarang juga.

“yeol-ie.. buka mulutmuu…”

“eo? Ah iya.” dia membuka mulutnya sambil tersenyum khas Park Chanyeol.

Aku tertawa melihatnya kelakuannya, bisa kutafsirkan seperti ini, “dia bisa juga beraegyo? Kukira tidak bisa.” Atau seperti ini, “hal yang tak mungkin terjadi juga pada Byun Eunji.”

Setelah mata kami bertemu, senyuman lebar yang kubuat-buat, kuakhiri. Aku langsung menunjukkan muka datarku padanya.

“sudah? Puas kau? Oke kita pulang sekarang.” Titahku.

“iya, iya. tapi tunggu sebentar.” Cegahnya.

“apa lagi?” gerutuku.

“ini, aku hanya bercanda. Makanlah. Kalau belum kenyang, aku akan mentraktirmu lagi.” Ucapnya sambil tersenyum lebar—memperlihatkan giginya yang rapi dan putih itu. Omo, Park Chanyeol berubah! YAAA!! Park Chanyeol berubah! Aku akan ditraktir??

“JOHAA!!!”

****

“gomawo!! Kau baik sekali, tuan tiang listrik! Gomawo buat traktiranmu.” Senyumanku tak bisa kuhentikan setelah memakan beberapa makanan di restoran itu. Sekarang kami sudah diluar area Lotte World. Sudah cukup malam untuk pelajar seumuran kami.

Kini kami sedang menunggu taxi yang sudah Chanyeol pesan lewat telepon. Kami menunggunya di pinggiran jalan yang lumayan ramai. Banyak stand yang berdiri di sini.

“Chanyeol-ah, kita ke sana yuk.” Ajakku sambil menunjukkan stand yang lumayan ramai peminatnya. Tanpa menunggu jawaban dari Chanyeol, aku langsung menarik tangan Chanyeol.

Kami mengunjungi stand yang menjual aksesoris ponsel. Aku memperlihatkan aksesoris ponsel bergantung kepala kucing imut itu, Hello Kitty berwarna silver mengkilat.

“jangan yang itu. bagaimana kalau kita beli dengan bergambar yang sama?” tawar Chanyeol pada ku.

“ah, kalian mencari gantungan ponsel couple? Ini.” Ahjussi itu menyerahkan kemasan berisi gantungan yang satunya ada si namja full body mengenakan jeans hitam dan kaos putih dan rambut coklat tua. Sementara untuk si yeoja, full body juga, lalu memakai kaos putih, rok pink, dan rambut tergerai. Kucu sekali,

“ahjussi, kami mau yang ini.”

Akhirnya kami membeli aksesori gantungan ponsel couple itu. eh, kok couple? Astaga, apa yang barusan kulakukan??

Aku menuntun Chanyeol untuk ke stand selanjutnya. Mataku mengarah pada stand yang cukup ramai.

Setelah kira-kira 10 menit mengantri, kini giliran kami berdua yang masuk stand itu. ya, stand itu bukan stand yang lainnya. Stand ini memiliki keunikan sendiri. Aku langsung tertarik apa yang membuat pengunjung mengantri di sini.

Ketika aku memasuki stand bertirai itu, kami cukup tercengang, tempatnya redup seperti tidak ada cahaya. Lalu di kursi juga ada yang sedang duduk dengan melipat kedua tangannya di atas meja. Seorang ahjumma itu menatapku penuh dengan kesan misterius. Ih, apa-apaan ini? Kenapa aku menjadi parno begini?

“silahkan duduk di depanku, anak muda.”

Aku menatap Chanyeol. Ketika mata kami bertemu, aku mencoba berbicara dengannya lewat telepati—kalau bisa.

“Chanyeol, kau yang duduk duluan.”

“mwo? kau yang menarikku ke sini. Seharusnya kau yang yang menuntunku.” Kerutan di dahinya terlihat jelas padaku, bahwasanya artinya ialah dia menolak permintaanku. Lagi-lagi, aku yang kalah.

Saat aku sudah duduk di depan ahjumma misterius itu, Chanyeol menyusulku duduk di sampingku.

“kemarikan telapak tanganmu, nona.” Hiiiyy, tatapan ahjumma ini sangat membuatku bergidik ngeri. Saat aku menoleh ke arah Chanyeol, bisa kuartikan dia juga sedikit ngeri apa yang akan dilakukan ahjumma ini padaku.

Ahjumma itu mengelus-elus telapak tangan kananku, lalu seperti menerawang sesuatu yang berasal dari telapak tanganku.

“kau, punya cinta pertama?” tanya ahjumma itu,

“ah? aniyo, ahjumma. Waeyo?” tanyaku penasaran. Sementara namja yang ada di sampingku juga ikut-ikutan penasaran dengan jawaban sang ahjumma.

Kulihat raut wajah ahjumma begitu cerah dan senang—sepertinya.

“oh… beruntung sekali… kau akan membuat semua wanita di sekitarmu iri padamu.” Jawab ahjumma itu tenang.

Apa? Iri? Membuat semua wanita di sekitarku iri? Hei, ahjumma, kau terlalu berlebihan. Mana mungkin seorang yeoja yang tak punya daya tarik apapun sepertiku bisa membuat mereka iri padaku? Aku saja selalu iri dengan Sulli yang mempunyai badan yang tinggi dan daya tarik seperti Krystal juga.

“mwoyo? Jinjjayo?”

“ne, akan ada 2 pria yang mendatangimu kelak. Tapi jangan senang dulu. Banyak yang harus kau lewati, dan kurasa cukup sulit untuk orang yang memiliki tempramen tinggi sepertimu.”

Apa? Aku orang yang bertempramen tinggi? Aish jinjja!

“itu memang benar. Iya kan? aku benar kan? eo?” bisikan setan yang ada di sampingku membuat leherku geli. Apa-apaan sih dia ini. Astaga. Dia menyeringai? Sungguh, dia lebih enak dilihat ketika tersenyum dengan senyuman andalannya itu. menyeringa? Hiiy dia menyeramkan kalau melakukan itu. walaupun tak sebanding kalau ia melakukan aegyo apalagi di hadapanku.

Aku berdeham, mengontrol sedikit emosiku. “hmmm, ahjumma. Kalau aku boleh tahu, siapa namja itu?” tanyaku hati-hati.

“aku juga manusia biasa. Aku hanya melihatnya dari sekilas bayangan yang menghampiriku ketika melihat wajahmu, mendengar suaramu, menatap matamu, menyentuh telapak tanganmu. Yang tahu hanya Tuhan, nona.” Jawabnya datar deselingi senyuman.

“oh kalau begitu baiklah. Ahjumma, gomawoyo.” Aku dan Chanyeol membungkuk pada ahjumma tersebut.

“nona! Kau harus mempersiapkan dirimu. Karena salah satu dari kedua namja itu memiliki kepribadian yang berbalikan padamu.”

“ne, kamsahamnida.”

****

Sampai sekarang di dalam taksi, aku masih penasaran apa yang dikatakan ahjumma itu. aigoo kenapa dia harus tidak tahu, sih? Membuat aku penasaran saja. Apakah ini balasan yang kuterima dari Tuhan? Wah. Kedua namja itu seperti apa ya? ><

“ya~ kau masih memikirkan pernyataan dari ahjumma tadi? Kau ini percaya sekali dengan peramal.”

“YA! aku ini sangat penasaran tahu!! Aigoo, kira-kira namjadeul itu siapa saja ya? apakah aku mengenal mereka?”

“ck, kau menanyakan hal itu dengan orang yang salah.” Chanyeol membuang arah mukanya ke jendela di samping kirinya.

“ya! kenapa kau berubah lagi? Hei tiang listrik, kenapa? Kau sakit? Ingin kurawat lagi? Cih.”

“jangan panggil aku tiang listrik.” Ia menoleh padaku dengan tatapan tajam.

“wae? Tinggimu itu menjulang sampai langit.”

“jangan berlebihan.”

Pletak. Jitakan yang lumayan keras mendarat di kepalaku. “YA! Chanyeol!”

“lalu apa???” gerutuku sambil meniupkan poniku—menggembungkan pipiku juga.

“Happy Virus?” sarannya.

“eh? Happy Virus? Kenapa kau ingin kupanggil seperti itu?” tanyaku penasaran.

“eh? Ya begitulah. Aku merasa aku bisa menghibur orang dengan mudah, bisa membuat semua orang tertawa dan tersenyum melihat tingkahku.”

“aku tidak tuh, malahan kau selalu membuatku naik darah.” Jawabku menatapnya datar.

“baiklah, kau mau memangnggilku apa?” tanyanya.

“hmmm…” aku memanggut daguku seperti orang yang sedang berpikir keras.

“bagaimana kalau Virus saja? Itu cocok untukmu.” Sambungku.

“YA! masa kau mengataiku virus? Tega sekali kau.” Gerutunya sambil melipat tangannya di dadanya.

Aku tertawa melihatnya. “baiklah, Happy Virus Yeol-ie, eotte? Bagus tidak?” Saranku padanya.

Dia mengangguk-angguk kepalanya. Hahaha lucu sekali bocah satu ini.

****

Aku sampai di rumah pada pukul 20.30, cukup lama memang.

“YAAA!! BYUN EUNJI!! KAU HABIS DARI MANA SAJA,EO??” seru eomma. Tuhkan. Apa kubilang, mereka pasti cemas.

“Mianhaeyo, ahjumma. Aku mengajak Eunji untuk menemaniku bermain di Lotte World. Mianhaeyo karena aku tak meminta izin darimu dulu, ahjumma.” Jelas Chanyeol yang kini sudah ada di sampingku.

Tak terasa, sudah jam 21.00 dan Chanyeol sudah pulang 20 menit yang lalu. Oh iya! berkonsultasi dengan Baekhyun.

Akupun yang tadinya sedang merebahkan diriku di atas ranjangku, langsung bangkit lalu berlari ke kamarnya Baekhyun.

“BAEKHYUN-AH! aku membutuhkan pertolonganmu!” seruku yang duduk di ranjangnya di sampingnya.

“apa, noona? Masalah percintaan lagi? Astaga. Kau payah sangat payah.” Desis Baekhyun membuat tanganku langsung melayang mendarat ke dahi Baekhyun.

“aiish, pokoknya aku ingin bercerita padamu.”

marhaebwa…”

Akupun menceritakan liburanku di Lotte World dengan Chanyeol setelah pulang sekolah kepada Baekhyun sampai kejadian di stand peramal tadi.

Dia memberikan respon pertamanya seperti ini, “apa?? Akan ada dua namja….”

Lalu yang kedua, “Kau muntah?? wah, Chanyeol hyung romantis juga. Melapkan sisa muntahmu dari mulutmu dengan tissuenya.”

Dan yang terakhir, ketika aku menanyakan padanya, siapa saja yang dimaksud oleh peramal itu. dengan spontan, Baekhyun menyeru, “CHANYEOL HYUNG!” aku dukung kalian. Hwaiting!!! Sudah ya aku banyak tugas hari ini. Besok saja kau cerita padaku, kalau aku punya waktu ya noona.”

“kau ini sok sibuk.” Desisku lalu langsung keluar dari kamarnya.

Aku masuk ke kamarku dan merebahkan diriku di ranjang empukku. Aku menatap langit-langit yang kutempelkan beberapa bintang glow in the dark. Sangat indah.

Sesekali mengkilas balik kejadian tadi.siapa dua namja itu? kenapa aku penasaran sih? Tapi pikiranku mengarah ke kedua namja itu. benarkah? Sungguh???

 

To Be Continued.

Sumpah ini ff panjang banget. mian ya kalo alurnya ngebosenin, lalu banyak typo itu apalah, dan please RCL jangan jadi silent readers. Gomawoyo. ^^ *bbuing-bbuing* *bow 90 derajat* 😀

Advertisements

87 responses to “Love Button [Part 4]

  1. Pingback: Love Button [Part 9] | FFindo·

  2. yang paling menarik perhatianku itu kisahnya (?) si chanyeol sama eunji. wuhuuu! kadang tengkar, kadang akur, kadang romantis. uwaaa! xD

    oh ya, chanyeol pinter bgt. dia kayak bikin 2 pilihan yg g msk akal sampe si eunji mau g mau memilih pilihan ke-3. pinteeer! *cium chanyeol* *eh?* xD

    lanjuuut~!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s