The Fear of Falling for You: Chapter 1

Prolog

Title: The Fear of Falling for You

Author: SSI

Length: Chaptered (still on-going)

Cast: Wu Yi Fan / Kris Wu (EXO M), Son Hana (OC)

Other Cast: EXO K, EXO M, etc.

Genre: Action, romance, angst, slightly abuse

Rating: PG-16

Disclaimer: We don’t own anything but the storyline

Poster: cr; logo

Author’s POV

Hiruk pikuk club malam itu makin terasa. Di ujung kanan club, Kai duduk ditemani dengan 3 orang gadis sekaligus. Kai tampak seperti biasa, tetap bosan. Tapi karena itulah ketiga gadis tersebut makin menggilainya. Lengannya tak bebas dari belaian kedua wanita yang ada di sampingnya. Dan satunya lagi, dipangku Kai. Tanpa ekspresi, tidak bisa diketahui apakah dia senang diperlakukan seperti itu atau tidak.

Melihat itu, Tao makin merapatkan pelukannya dengan gadis keturunan Belanda yang sering dipakainya. Tak mau kalah, dia juga makin mencium wanita itu dengan dalam. Terhempas dari semua itu, hanya Chen satu-satunya yang sedang frustasi. Mengutak-atik laptopnya hanya ditemani segelas cocktail. Xiumin yang awalnya memang sudah bosan dengan pasangannya malam ini mengakhiri dengan menitipkan pasangannya, yang sedari tadi tertidur di lengannya karena mabuk, kepada bartender. Dia berjalan dan menghempaskan dirinya di sofa yang sedang diduduki oleh Chen.

“Kau tak bosan dengan ini?” tanyanya kepada Chen sambil mengarahkan dagunya dengan bosan ke arah laptop.

“Malam ini harus selesai,” jawab Chen yang tak hentinya mengganti-ganti unsur yang sebenarnya ingin diketiknya.

“Sudahlah, lihat malam ini. Seramai ini tapi aku tak melihat leader kita merapatkan dirinya ke tubuh gadis-gadis di sana,” balas Xiumin.

“Dia di tempat biasa. Tadi aku melihatnya masuk ke sana,” terang Chen sembari mencoret-coret kertas di sampingnya.

Mendengar itu, Xiumin langsung melangkahkan kakinya masuk ke private lounge dan menemukan Kris yang sedang tertidur pulas di sofa. Bukan hanya itu, bau alkohol langsung menusuk indera penciumannya begitu dia membuka pintu. Xiumin hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya itu dan segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi sahabatnya yang lain, Tao.

“Cepat ke sini, tempat biasa, bantu aku,” katanya singkat dan segera mengakhiri sambungan teleponnya. Dia menegakkan tubuh Kris dan diamatinya penampilan leadernya yang biasanya tampak gagah itu. Kemeja putih yang Kris kenakan telah basah oleh keringat, rambutnya sudah tak berbentuk lagi dan wajahnya terlihat lelah. Xiumin yang telah terbiasa melakukan ini, tanpa ragu menampar wajah Kris berulang-ulang kali.

“Bangun kau, setan” kata Xiumin dengan nada mencomooh.

“Over lagi?” tanya Tao yang baru datang menghampiri mereka.

“Yep, kali ini lebih parah,” jawab Xiumin.

Tanpa banyak omong, Tao segera membantu Xiumin memapah Kris yang tak kunjung sadarkan diri. Saat mereka keluar dari private lounge, suasana club yang tadinya sangat ramai menjadi hening ketika mereka melihat leader Dragon Team yang dipapah oleh dua orang anak buahnya. Suasana hening itu tak bertahan lama, karena selanjutnya digantikan oleh bisik-bisik para wanita dan ditemani dengan gelengan para pria yang juga merupakan member Dragon Club.

—–

Tao sibuk dengan benda persegi panjang yang sedari tadi dipegangnya, matanya tetap berkonsentrasi terhadap benda itu, seperti Lamborghini yang sedang dikendarai Xiumin ini tidak bergerak sama sekali.

“Kau terlalu serius, Zi Tao,” gumam Xiumin dengan mata yang tetap fokus ke jalan raya.

Terlihat sekali kalau pria berpipi bulat itu tengah bosan setengah mati, atau mungkin frustasi dengan kondisi seseorang yang tengah diambang sadar dan tidak sadar di sebelahnya itu. Tapi Tao sama sekali tidak menghiraukan Xiumin yang berniat mengajaknya bercakap-cakap itu.

“Aish, baiklah. Aku lupa kau tidak suka berbasa-basi,” lanjut Xiumin lagi. Tetapi dari cara bicaranya sangat jelas bahwa dia ingin mengajak Tao berdiskusi.

“Oke, apa kabar inspektur muda itu? Apa dia masih mengincarmu?”

Kali ini Tao mengangkat kepalanya lalu menghela napas, “Tentu saja,”

Xiumin sedikit berdecak, menahan tawa. “Mau kuberi tahu sesuatu?”

“Apa?” tanya Tao.

“Kim Joonmyun memang tidak akan pernah berhenti sebelum menangkapmu hidup maupun mati. Orang itu masih belum berubah,” jawab Xiumin sambil tertawa kecil.

“Berbicara seperti kau begitu mengenalnya!” balas Tao gusar.

“Seharusnya kau tahu kalau aku pengamat yang baik,” jawab Xiumin tak mau kalah.

Tao hanya mendengus dan berkata, “Lebih baik sekarang kau berpikir bagaimana caranya mematikan orang itu!”

Xiumin tidak menjawab lagi. Dia memilih untuk diam kali ini.

Kim Joonmyun, menjabat sebagai seorang inspektur di usianya yang masih terbilang muda. Otaknya terlalu jenius. Dia bahkan berkali-kali nyaris mendapatkan semua bukti tentang kebusukan Dragon Team. Dan orang itu tidak akan pernah berhenti, sebelum kebenaran yang diinginkannya terungkap hingga akar dan serabutnya tercabut.

—–

“Dimana kunci rumahmu, Kris?” tanya Xiumin yang sudah tidak kuat memapah tubuh besar temannya itu.

Tetapi sia-sia, sepertinya dia baru saja menanyakan sesuatu kepada patung, tidak ada jawaban. Tao menghela napas lalu menggeledah kantong celana dan baju Kris, namun mereka tetap tidak menemukan yang dicari.

“Sepertinya dia tidak membawa kunci rumah. Atau mungkin terjatuh?” gumam Tao.

“Kalau begitu ketuk saja pintunya, mungkin di dalam ada orang.” kata Xiumin.

Tao mengikuti apa yang disarankan oleh Xiumi. Kepalan tangan besarnya mengetuk beberapa kali pintu bercat putih itu, namun tidak kunjung mendapat jawaban.

“Dobrak saja, ya?” tanya Tao sembari menyeringai.

“Kau gila!” jawab Xiumin sambil terkekeh pelan.

“Atau bawa saja dia ke apartemenmu,” balas Tao yang sudah lelah dan tidak mau repot.

Xiumin merasa tidak ada pilihan lain. Baru saja mereka membalikkan badan ketika pintu rumah itu tiba-tiba terbuka.

“Kau siapa?” tanya Xiumin dan Tao, nyaris serentak.

Mereka menatap gadis berkulit putih dengan mata sembab dan tanpa ekspresi itu dengan tatapan antara bingung dan terkejut. Mereka berdua begitu mengenal Kris, leader mereka itu tidak pernah sudi membawa wanita ke tempat tinggalnya, sekalipun.

Hana tak sanggup menjawabnya, dia sendiri kaget melihat Kris yang dipapah oleh Xiumin dengan kondisi kelewat parah. Cukup lama dia hanya memandang bingung pria-pria di hadapannya itu.

“Kau belum menjawab, kau siapa?” tanya Tao mengulang pertanyaannya.

“A–ak-aku pembantunya…” jawab Hana berbohong.

Sebenarnya Hana tidak terlalu berbohong karena Kris memang selama ini menganggapnya dan memperlakukannya seperti pembantu.

Xiumin segera menyerahkan Kris kepada Hana, seperti masa bodoh dengan siapa gadis itu sebenarnya. Sedangkan Tao, di dalam benaknya terdapat ratusan pertanyaan tidak penting tentang gadis itu.

“Kalau begitu, kami pamit,” ucap Xiumin singkat dan sedikit membungkukkan badannya lalu pergi diikuti oleh Tao.

Hana menutup pintu lalu memapah tubuh besar Kris ke kamarnya. Tiga bulan mereka bersama tetapi baru sekali dia melihat suaminya sehancur dan separah ini.

Hana’s POV

Tubuh Kris terasa berat sekali. Terang saja, dia dua kali lebih besar daripada aku. Setelah seperti sekian tahun berlalu, akhirnya aku sampai di puncak tangga dan segera membuka pintu kamarnya. Kurebahkan dia di tempat tidurnya dan kuselimuti tubuhnya, aku tahu dia tak tahan udara dingin malam.

Baru saja aku hendak bangkit dan melangkah keluar kamar ketika kurasakan tanganku ditahan olehnya. Dengan mata yang masih tertutup, dia menggumam tak karuan. Kucoba untuk melepaskan tanganku, namun dia tak bergeming. Aku tersenyum kecil dan memutuskan untuk duduk di sampingnya.

Kuamati wajahnya yang sedang lelap tertidur. Jika tidak sedang marah-marah begini, wajahnya seperti dewa Yunani yang tidak bisa kudeskripsikan bagaimana tampannya dia. Tanpa sadar, tanganku bergerak untuk menyingkap poninya yang menutupi mata. Namun belum sempat tanganku menyentuhnya, matanya tiba-tiba terbuka lebar.

Author’s POV

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya Kris dengan suaranya yang terdengar lelah dan serak seraya menatapnya tajam.

Hana terlonjak kaget dan segera menunduk, tidak berani membalas tatapan Kris. “Umm… Maaf, tadi aku hanya membantu mengatarkanmu ke kamar karena temanmu tidak sanggup memapahmu sendirian ke sini. Se–seka-sekarang… Aku akan kembali ke kamarku. Permisi,” tukas Hana cepat sambil beranjak menuju pintu kamar Kris.

Tetapi belum sempat tangannya mencapai pegangan pintu, Kris menangkap lengan Hana dan mendorong tubuhnya ke dinding. Diletakkan kedua tangannya di sebelah kiri dan kanan tubuh Hana, mengurungnya.

“Well, kau pikir kau bisa keluar dari kamar ini dengan semudah itu?” tanya Kris seraya merapatkan tubuh mereka.

Hana menatap Kris dengan gugup, bisa dia rasakan napas Kris yang bau alkohol sangan dekat dengannya. “Kris, kau sedang mabuk. Kembalilah ke tempat tidurmu dan aku akan pergi tidak menganggumu lagi,” kata Hana sambil meletakkan ketua tangannya di dada Kris dengan maksud untuk mendorongnya menjauh.

Namun Kris tidak berpikiran demikian, otaknya yang telah dibekukan oleh alkohol membuat salah satu tangannya menyusup ke balik kaus yang dikenakan oleh Hana dan mengelus punggung Hana dengan lembut. “Buru-buru sekali, hmm? Kau tidak ingin bermain dengan suami tercintamu ini? Sudah lupa apa tugas wajib istri terhadap suaminya?” bisik Kris tepat di telinga Hana.

Hana tercekat, dengan susah payah ditelannya ludahnya dan menjawab, “Apa maksudmu, Kris?” Sekali lagi dia berusaha untuk mendorong tubuh Kris yang mendominasi tubuhnya di tembok, namun Kris dengan sigap menangkap kedua pergelangan tangannya dan mencengkramnya erat-erat di sisi kiri dan kanan kepala Hana.

“You know what, Hana? Actions speak louder than words.”

Belum sempat otak Hana mencerna apa yang dikatakan Kris, Hana merasakan sesuatu yang panas dan basah menyerang bibirnya. Butuh beberapa detik untuk menyadarkan Hana bahwa Kris sedang menciumnya. Tentu saja ini bukan ciuman pertama mereka, Kris telah mencium Hana di altar sebelumnya, tetapi ciuman Kris saat itu sangat lembut dan manis. Sedangkan ciuman yang diberikan oleh Kris saat ini… Begitu kasar, ganas, dan serasa ingin menguasai.

Hana tersadar dari lamunannya, dia kembali mecoba berontak dan berusaha melepaskan cengkraman tangan Kris pada tangannya. Namun tentu saja sia-sia, tenaga Kris yang lebih besar membuat posisi tangannya tidak bergerak. Bibir Kris terus melumat bibirnya dengan liar sementara Hana dengan mati-matian mengatupkan bibirnya erat-erat.

Kesal dengan sikap Hana, tangan Kris merangsek masuk kembali ke dalam kaus Hana dan menjelajahi bagian depan tubuh Hana. Hana menggeram dan mulai menutup matanya yang membuat Kris tersenyum kecil dan menggigit bibir Hana dengan kasar. Hana mengerang kesakitan dan dirasakannya bibirnya mengeluarkan darah, tetapi bukan hanya itu, lidah Kris berhasil masuk ke dalam mulut Hana dan dengan seenaknya mendominasi seluruh isinya.

“Please… Stop it, Kris…” Hana mencoba mengatakan itu di antara ciuman Kris yang semakin tinggi intensitasnya.

“Hmmm… No,” terdengar jawaban Kris di antara napasnya yang semakin memburu.

Hana membuka kedua matanya, berusaha meyakinkan penglihatannya bahwa orang yang saat ini sedang mengobrak-abrik mulutnya tanpa izin adalah Kris, suami yang dulunya dia sangka akan menjaga dan mencintainya dengan tulus. Tanpa terasa, air mata mengalir deras di pipinya.

Kris’ POV

Saat lidahku sedang menjelajahi mulutnya, kurasakan sesuatu yang basah di pipiku. Huh, menangis rupanya. Kulepaskan sejenak bibirnya saat kupikir kami berdua sama-sama membutuhkan oksigen. Wajahnya terlihat merah dan penuh dengan air mata. Kupegang dagunya dan kudekatkan muka kami sehingga aku bisa merasakan napasnya yang terengah-engah akibat ciuman tadi di bibirku, “Jangan menangis, nanti kau akan menikmatinya. Dan aku berjanji, aku  tidak akan mengizinkanmu untuk mengeluarkan teriakan kesakitan apapun kecuali teriakan namaku, Kris.”

Author’s POV

Setelah berkata seperti itu, Kris mulai menyerang leher Hana dan memberikan bercak-bercak merah di sana, seolah menandakan bahwa Hana adalah propertinya. Air mata Hana turun semakin deras dan itu membuatnya semakin senang. Dia menampar dan menjambak gadis yang sedang menangis histeris itu, seolah-olah bekas hisapan dan gigitannya di leher gadis tersebut belum cukup. Hana berusaha keras untuk mendorong dan menendangnya, namun usaha tersebut tentu saja sia-sia, Kris adalah seorang pria, seorang leader dari Dragon Team yang ditakuti oleh setiap orang. Rupanya tindakan penolakan dari Hana memancing kemarahannya, dia melempar tubuh Hana ke tempat tidur dan dengan sigap dia mengikat kedua tangan Hana dengan tali, hanya dia yang tahu berasal dari mana, ke kepala tempat tidurnya. Dan untuk pertama kalinya, Kris memaksa Hana untuk melakukan kewajibannya sebagai seorang istri.

—–

Hana’s POV

Aku membelakangi tubuh Kris yang saat ini sudah tertidur lelap dengan wajah yang sangat damai. Aku berusaha untuk menahan isakanku agar tidak membangunkannya. Kutatap pergelangan tanganku yang memerah akibat ikatan tali yang terlalu kencang dan gesekannya pada kulitku saat aku mencoba untuk melepaskannya. Seluruh tubuhku terasa perih akibat cambukan yang dia berikan kepadaku saat aku menolak untuk memuaskan nafsunya tadi. Tetapi di akhir, Kris berhasil mendapatkan apa yang dia mau. Mengingat hal itu aku menangis semakin kencang. Tiba-tiba aku mendengar Kris menggeram, yang menandakan aku telah menggangu tidurnya, aku memaksakan diri untuk berdiri dan menahan rasa sakit saat aku berjalan keluar kamarnya.

Aku membaringkan diri di tempat tidurku dan menatap langit-langit sambil berpikir, sampai kapan aku harus hidup seperti ini? Aku sudah tidak sanggup jika diperlakukan seperti ini terus. Dan kejadian tadi benar-benar merusak harga diriku.

Setelah berpikir cukup lama untuk mengambil sebuah keputusan, akhirnya aku mengepak sedikit bajuku, lalu berjalan keluar kamar dengan hati-hati. Aku hampir tidak bernapas ketika melewati kamar Kris dan membuka pintu rumah. Bodoh, aku tak memikirkan kalau ini masih jam 4 pagi. Mana ada taksi jam segini, rutukku. Dengan kesal aku kembali masuk untuk mengambil kunci mobil.

SUV hitam kunyalakan dengan sangat pelan dan hati-hati. Sangat senang ketika tahu aku tak perlu susah-susah membuka pagar karena rumah ini memang tak berpagar. Jalanan sangat sepi ketika aku melaju dengan kecepatan tinggi. Namun mengingat kejadian tadi membuatku tidak fokus dengan stir yang saat ini kupegang.

Whore. Jalang. Kata itu yang terus berdengung ditelingaku. Bahkan wajah Kris yang tersenyum ketika meneriakkan itu. Bagaimana tidak, dia meneriakiku tepat didepan wajahku. Kuhapus singkat air mataku dan menepikan mobil. Suasana buruk terlalu mendominasi sehingga aku tak bisa berpikir jernih. Kubenamkan wajahku di stir mobil dan kembali menangis.

—–

Aku tak tahu berapa lama aku di sini sampai aku melihat jam di dashboard, sudah jam setengah 6 pagi, aku sampai bingung apakah tadi aku tertidur. Kualihkan wajahku ke spion dan sedikit terlonjak ketika seorang polisi dengan mata besar sedang berdiri di samping mobilku dan berusaha untuk melihat ke dalam.

Aku menurunkan kaca ketika dia sedang membalikkan badan ke temannya yang ada di dalam mobil patroli.

“Terlalu gelap, aku tak bisa lihat sama sekali!” teriaknya.

Tentu saja, semua mobil yang ada di rumah Kris memang begini, selalu dilengkapi dengan pelindung kaca berwarna hitam gelap, sehingga orang dari luar tidak dapat iseng melihat ke dalam.

Temannya yang di mobil menunjuk-nunjuk ke arahku untuk menyadarkannya. Polisi yang sedang berada di hadapanku ini segera berpaling menatapku.

“Maaf, nona. Kami dari kepolisian yang kebetulan lewat hanya ingin memperingatkan kalau kau melanggar. Bisa lihat itu,” terangnya kikuk sambil mengarahkanku untuk melihat rambu dilarang berhenti.

“Oh…” Jawabku singkat karena bingung tak tahu harus berbuat apa.

“Err… Apakah aku ditilang?” lanjutku.

Polisi itu tak menjawab melainkan memberi kode kepada temannya yang di mobil dan diakhiri dengan lambaian acuh tak acuh dari temannya.

“Jam 5.15 dan anda terti–berada disini?”

Aku hanya menatapnya bingung. Bagaimana dia tahu bahwa aku baru saja tertidur tadi?

“Boleh kulihat wajah anda?” tanyanya sembari memiringkan wajahnya untuk melihatku lebih detail.

Aku melihat wajahku sekilas di spion. Tentu saja dia menyadari ada sesuatu yang tidak beres, wajahku lebam begini. Apalagi ada lingkaran besar di bawah mataku.

“Sorry,” kataku dengan nada memperingatkan. Aku tak mau orang yang baru saja kutemui mencampuri urusanku.

“Maaf, aku tak bermaksud mencampuri urusan anda. Anda boleh pergi,” katanya sopan ditemani dengan senyumannya yang ramah.

Dengan terburu-buru aku menaikkan kaca dan melajukan mobilku.

‘”Senang melihatku seperti ini kan,” kata Kris setelah melepas ciumannya yang membuat bibirku bengkak.

“Kris, henti–” kataku terpotong menjadi jeritan memekakkan ketika Kris menjambak rambutku dan melahap leherku.

Aku bisa merasakan jilatannya tercampur dengan air mataku yang tak hentinya mengalir sedari tadi. Aku menggigit bibir bawahku bukan hanya untuk menahan segukanku tapi juga menahan desahan yang kurasa akan kukeluarkan dengan bodohnya untuk menyenangkannya.

“Aku menyuruhmu meneriakkan namaku, jalang!”

Dia menamparku tentu saja itu makin membuatku menangis.

“Kris… Stop,” rintihku.

“Ya, itu lebih baik,” jawabnya sambil terus berkonsentrasi melumat tengkukku.’

“AAAH SHIT!” teriakku sambil meninju stir mobil.

Mengingat semua itu membuatku depresi dan tiba-tiba saja mobil ini naik ke trotoar. Tak berhenti aku mengutuk mobil ini. Tetapi aku terlonjak kaget saat kudengar suara kaca mobilku diketuk dari luar. Kuturunkan kacanya dan siapa sangka tangan polisi yang tadi baru saja kutemui langsung beralih untuk mengambil kunci mobilku yang masih tertancap di tempatnya.

“Aku sudah mengira akan begini,” katanya sembari membuka pintu.

“Ikut aku. Mobil ini serahkan saja kepada partnerku,” lanjutnya sambil menarik tanganku turun dari mobil.

Kurasakan tangan pria yang mengaku sebagai polisi ini memegang pergelangan tanganku untuk menuntunku turun dari mobil. Aku berusaha keras untuk tidak merintih karena pergelangan tanganku yang lecet terasa sangat perih ketika ditarik olehnya. Kami berjalan menuju mobil patrolinya dan tanpa kusadari, kami berjalan dengan bergandengan tangan. Dia membukakan pintu penumpang untukku. Dengan pikiran yang masih linglung aku masuk dan kurebahkan tubuhku di jok mobil tersebut. Kudengar suara pintu mobil yang ditutup dan aku bisa merasakan kehadiran pria itu di sampingku yang sedang menatapku lekat-lekat.

“Kau tahu, menyetir dengan pikiran kacau seperti itu hanya akan membahayakan nyawamu,” kudengar suara berat milik pria itu.

Aku hanya diam. Sejujurnya hatiku terasa hangat karena baru kali ini ada orang yang memedulikanku lagi. Memikirkan hal ini membuat mataku terasa panas. Kupalingkan wajahku menatap ke arah luar jendela agar dia tidak melihat genangan air di sekitar pelupuk mataku.

Sepertinya dia tahu bahwa aku sedang tidak ingin berbicara karena detik berikutnya kudengar suara mesin yang dinyalakan dan kurasakan mobil mulai berjalan. Aku tidak tahu akan dibawa ke mana, ke kantor polisi, mungkin? Aku tidak peduli, selama aku tidak kembali ke tempat di mana iblis itu berada, aku rasa aku baik-baik saja.

Tiba-tiba kurasakan mobil ini direm secara mendadak. Belum sempat aku menyuarakan kekagetanku, aku mendengar suaranya yang setengah berteriak, “Siapa yang melakukan ini padamu?!”

Wajahnya terlihat sangat marah. Kini dia sedang memegang dan meneliti pergelangan tangaku, ekspresinya melembut dan bisa kulihat kekhawatiran yang tergambar di wajahnya. Dia membuka laci dashboard yang berada di depanku dan mengeluarkan kotak P3K dari sana.

Dia mengolesi pergelangan tanganku dengan krim yang terasa dingin saat disentuhkan ke kulitku. Aku menatap wajahnya yang sekarang sedang merawat lukaku dengan telaten. Setelah selesai, dia mengembalikan kotak P3K tersebut ke tempatnya dan menatapku dengan tatapan matanya yang sangat tajam, “Setelah apa yang aku perbuat barusan, kau masih tidak mau menceritakan hal yang sebenarnya terjadi kepadaku?”

Suaranya yang lembut dan terdengar tulus membuat air mataku tidak dapat kubendung lagi. Aku mulai menangis terisak-isak di depannya. Dia terlihat panik. “Hey, hey. Kau kenapa? Jangan tiba-tiba menangis seperti ini… Aish aku benci jadi pria yang tidak tahu apa yang harus dilakukan saat wanita menangis di depannya,” kudengar dia menggerutu sambil menepuk-nepuk puncak kepalaku.

Entah mengapa tangisku semakin kencang. Tiba-tiba kurasakan lengannya yang melingkari tubuhku dan wajahku yang terbenam di dadanya. Wangi parfumnya yang tiba-tiba masuk ke hidungku melumpuhkan saraf otakku. Aku masih menangis namun yang ada di pikiranku adalah pria asing yang kini sedang memelukku dengan erat. Kurasakan telapak tangannya mengelus-elus punggungku dengan lembut yang membuatku tenang. Aku merasa aman di dalam kurungan lengannya seperti ini.

“Ssst, sudah, jangan menangis. Ada aku di sini kan? Kau tak perlu takut, aku akan menjagamu,” bisiknya lembut, suaranya agak terbenam karena dia menenggelamkan wajahnya di rambutku.

Setelah berpuluh-puluh menit tenggelam dalam diam, dia menguraikan pelukannya karena merasa isakanku telah mereda. Rasa hangat yang tadi menyelimutiku hilang. Aku ingin memeluknya lagi namun kutahan, aku harus bisa mengendalikan diri. Kutundukkan kepalaku dan kuhapus sisa-sisa air mataku.

“Nah, karena kau sudah menangis di depanku, kuanggap kita sudah berteman. Siapa namamu?” tanyanya dengan sedikit nada bergurau di sana.

“Hana… Son Hana,” aku menyebutkan nama asliku sebelum menikah dengan pria bermarga Wu itu.

Hening sejenak. Kudongakkan kepalaku untuk benar-benar memperhatikan wajahnya yang sedang menatapku dengan senang.

“Hana, nama yang bagus. Aku Chanyeol, Park Chanyeol,” balasnya sambil memberikanku senyuman yang hangat.

TO BE CONTINUED

 

a/n: Hello readers 😀 Sorry, we had promised that we would post the first chapter very soon but we had (and still have) a lot of homework to do 😦 But we did our best in this chapter. So tell us, what do you think about the first chapter of TFOFFY? Komen ya n_____n

P.S.: Di antara kalian ada yang bisa bikinin poster buat ff ini? Kalo ada, mention ke @krismeback, thank you 🙂

178 responses to “The Fear of Falling for You: Chapter 1

  1. Entah kenapa aku nyesek sendiri bacanya. Tapi, tapi ff nya keren. Dan aku brharap nanti kris bisa suka ama hana.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s