[Freelance] without me, you can live better

Tittle : without me, you can live better

author : leaderyeon

Main Cast :
· Shin Chaeyeong

· Lee Jinki aka Onew

· And other.

Genre : general, bit romance
Rating : T

Disclaimer : cerita ini murni hasil dari pemikiran dan hayalan aku juga enggak plagiat pastinya. Yang udah baca wajib meninggalkan jejak berupa RCL hohoho ^^

***

“eum, baiklah pertanyaan terakhir. Onew-ssi, selama ini anda selalu mengatakan di media masa maupun media elektronik bahwa anda tidak pernah memiliki seorang pacar. Apa itu benar?”

“ne. Tentu saja itu benar, hahaha ini lucu sekali bukan? padahal umurku sudah menginjak 23 tahun tapi aku belum pernah memiliki seorang pacar sampai saat ini.”

“woah~! Apa tidak ada yeoja yang benar-benar menarik perhatianmu? Penyanyi solo yang mempunyai wajah tampan dan suara emas sepertimu banyak sekali dikagumi para fangirls, bukan?”

“hahaha aku rasa belum ada yeoja yang benar-benar menarik perhatianku, Hodong-ssi”

Klik. Dengan penuh emosi aku mematikan acara saluran televisi di depanku. Aku benar-benar sudah muak dengan kebohongan-kebohongan yang selalu aku dengar itu sejak enam bulan yang lalu. Apa dia pikir hatiku tidak sakit mendengar semua pengakuan yang dia bicarakan di media? Tentu saja hatiku sangat amat sakit. Rasanya aku ingin berteriak dan mengatakan pada semua orang bahwa apa yang dikatakan-nya itu hanyalah kebohongan belaka. Nyatanya dia masih punya aku, seorang yeoja yang sudah menjalin hubungan dengannya selama dua setengah tahun. Tapi setelah dia debut sekitar enam bulan yang lalu, aku seperti seorang pacar yang sama sekali tidak dia anggap adanya. Aku tau ini adalah tuntutan dari pihak management-nya karena profesinya sebagai penyanyi solo yang sedang diambang kesuksesan. Sebelumnya, ini memang sudah termasuk dalam kontrak perjanjian dengan label perusahaan terkenal itu, bahwa selama belum ada izin dari pihak management, Onew tidak boleh menjalin hubungan dengan siapapun. Karena ini menyangkut masalah fans yang pasti akan sangat kecewa bila sang idola mereka ーOnew sudah memiliki kekasih. Tapi aku pikir ini sangatlah keterlaluan! Mereka sama sekali tidak mengerti bagaimana perasaan kami yang harus terus berpura-pura dalam kesakitan seperti ini.

***

“dan semalam-pun kau masih berkata hal yang sama di acara itu” aku menggembungkan pipiku menatap Onew kesal. Namja itu sepertinya acuh tak acuh dengan apa yang aku bicarakan. Buktinya, dia masih sibuk membolak-balik majalah fashion yang sedari tadi dipegangnya, tanpa menatapku sedikitpun. “oppa! Kau mendengarkan ku tidak sih?” ucapku sedikit kesal. Jinki mendelikan matanya dan menatapku datar.

“ya, aku dengar itu sayang.”

“apa?”

“kau membahas hal itu lagi-kan? Sudahlah. Kau kan juga sudah tau kalau ini adalah tuntutan dari managementku.” jawabnya enteng sembari memfokuskan diri membaca deretan harga sebuah celana jeans buatan desaigner terkenal di Eropa. Aku mendengus kesal, tanganku rasanya gatal sekali ingin mengambil majalah itu lalu merobeknya agar dia bisa untuk tidak mengabaikanku lagi. Dan semua itu aku lakukan, mengambilnya tapi tidak merobeknya, hanya aku simpan diatas meja didepan kami dengan hentakan keras.

“berhentilah mengabaikanku seperti itu.”

“lalu aku harus bagaimana Shin Chaeyeong? Berhentilah bersikap egois dan kekanak-kanakan seperti itu!”

aku tertunduk dalam diam. Air mataku mulai mengumpul dipelupuk mata. Sebelumnya Jinki tidak pernah berbicara dengan nada tinggi ーmembentak seperti ini kepadaku. Jinki yang aku kenal adalah Jinki yang sangat menghormati yeoja dan selalu berkata dengan penuh kelembutan di setiap kalimatnya. Bukan Jinki yang kasar seperti ini.

“mianhae Chaeyeong-ah, aku tidak bermaksud untuk berkata seperti itu padamu.”

aku bisa merasakan jemari lembut Jinki menelusuri permukaan wajahku, menghapus perlahan airmata yang mulai terjatuh membentuk sungai-sungai kecil yang mengalir dari sudut mata. Apa aku terlalu bersikap egois dan kekanak-kanakan seperti yang dia bilang?

“aku hanya lelah dengan semua ini. Apa kau tidak mengerti juga?” aku mendongkakan wajahku menatap manik mata Jinki. Dia hanya tersenyum tipis membalas tatapanku.

“pulanglah, setengah jam lagi aku harus pergi ke Incheon untuk mengisi acara disana. Kita bisa bahas ini nanti saja, saranghae” Jinki mengecup puncak kepalaku sekilas, lalu beranjak bangkit dari duduknya. Aku menghela nafas panjang, ini sama sekali bukan jawaban yang aku inginkan, Lee Jinki.

***

Aku menerawang ke atas langit-langit kamar sembari menimbang-nimbang ponselku yang tak kunjung berdering menandakan pesan masuk atau telfon dari seseorang yang sudah lama aku tunggu. Sudah dua minggu ini Jinki tidak pernah menghubungiku untuk sekedar menanyakan kabar atau apapun. Bahkan ketika aku menghubunginya dia selalu berkata “aku sedang sibuk Chaeyeong, jangan aku telfon sekarang. Nanti saja, aku benar-benar tidak ada waktu.” Apa pekerjaan seorang selebriti benar-benar sangat sibuk seperti itu? Mungkin Jinki mulai menikmati dunia barunya yang membuatnya lupa akan segalanya. Aku mulai memainkan ponselku, membuka folder musik dan mencari sebuah lagu yang akhir-akhir ini sering aku putar. Sebuah suara mengalun indah membahana seluruh ruangan, membuat mataku terpejam menikmati lagu yang ia nyanyikan.

eo jik no hanaman bogo deutko shipeun geol.
nae anae neoreul salkkae hageo shipeun geol.
nal barabwa naui peum euro wa
you’re my everything
my everything
love for you….

Saat seperti ini, aku selalu membayangkan pemilik suara itu ーJinki ada di hadapanku sekarang, memetik senar-senar yang terpasang di gitar akustiknya menjadi sebuah melodi yang indah. Aku benar-benar merindukan masa-masa itu, masa sebelum debutnya dimana Jinki sering menyanyikan sebuah lagu bernuansa romantis untuk ku saat kami sedang menikmati waktu berdua. Air mataku terjatuh lagi mengingat semua kenangan itu. Jinki yang dulu dan sekarang seperti dua sosok yang berbeda. Apakah ketenaran bisa merubah sikap seseorang menjadi berbeda 180º dan merubah segalanya? Huh, aku harap itu hanya perasaanku saja yang menganggap ketenaran bisa merubah sikap seseorang.

***

Aku menatap kosong papan tulis putih yang ada di depanku sembari jari telunjuku membuat sebuah lingkaran-lingkaran kecil diatas buku sastra Korea yang tergeletak menganggur begitu saja. Aku tidak ada mood untuk melakukan apapun, rasanya ini dan itu membuatku malas dan ingin terus-terusan tenggelam dalam kegalauan karena Jinki. Tidak ada yang aku pikirkan selain dirinya saat ini. Aku benar-benar sangat merindukannya dan ingin memeluk tubuhnya lalu menenggelamkan kepalaku ke dada bidangnya yang hangat. Huh~! Aku mendesah pelan dan menopangkan satu tanganku ke dagu. Rasanya memeluk Jinki hanya bisa aku lakukan di dalam hayalanku saja untuk saat ini. Dalam pikiran seperti ini kadang aku selalu dihantui dengan perasaan takut. Takut jika Jinki sudah punya wanita lain yang jauh lebih baik dari pada aku, maka dari itu dia mengabaikanku seperti sekarang. Tapi segera aku tepis pikiran bodohku itu. Aku yakin, Jinki adalah namja setia dan tidak pernah mempermainkan perasaanku sebagai seorang yeoja.

“Chaeyeong-ah!” panggil Yoona setengah berteriak berjalan tergesa-gesa menghampiriku.

“ada apa Yoona? ” tanyaku heran sambil menatap Yoona yang menarik sebuah bangku di depanku dan kemudian duduk diatasnya.

“kau tidak apa-apa kan Chayeong?”

“maksudmu?” aku mengerutkan alisku seolah tidak mengerti. Ada apa dengan Yoona? Yeoja itu terlihat sangat gelisah sekali. Apa ada sesuatu yang buruk sedang terjadi?

“kau yakin baik-baik saja? Kau tidak melihat berita yang ditulis dalam cover majalah SHINee terbitan hari ini-kan?” aku mengangguk pelan. “huh, coba kau lihat ini. Katakan padaku jika ini hanyalah sebuah gosip murahan saja Chaeyeong-ah!” Yoona menyodorkan sebuah majalah yang baru aku lihat covernya saja sudah membuatku merasa sesak dan sakit.

Onew Lee dan Jessica Jung resmi berpacaran?

Dadaku serasa tertohok, sangat sakit sekali melihat headline dalam majalah tersebut ditambah sebuah foto selca Jinki bersama seorang yeoja bernama Jessica. dalam foto itu terlihat Jessica tersenyum lebar sembari menempelkan hidungnya di pipi kiri Jinki. Jinki-pun turut tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya. Sialan! Ini bukanlah sebuah editan fans atau apapun. Ini terlihat sangat nyata dan benar-benar bukan rekayasa. Aku membuka halaman pertama dan mulai membaca tulisan dalam majalah tersebut. Demiapapun ini adalah berita murahan yang pernah aku baca!

“kau tidak apa-apa kan Chaeyeong?” tanya Yoona memastikan. Aku sama sekali tidak bergeming. Tanganku bergetar kuat ketika meremas majalah itu.

“ini bukan kejutan konyol pada tanggal pertama dibulan april-kan Yoona?”

“Chaeyeong, akuー”

“ani. Ini tidak mungkin, Jinki dan yeoja itu tidak mungkin ash! Katakan padaku jika ini hanya lelucon saja!!”

aku menangis sejadi-jadinya. Air mataku tidak bisa aku tahan lagi. Aku rasa ini bukanlah sebuah berita rekayasa. Dalam tulisan di lembar pertama pada majalah tersebut, Jinki membenarkan berita yang menyangkut dirinya dengan Jessica! Aku yakin mataku yang masih normal dan tidak salah membaca.

***

“oppa!” pekik ku keras sehingga membuat semua orang yang ada di ruangan itu menoleh kearahku. Namja yang aku panggil oppa-pun turut menoleh namun tidak melakukan apapun. Jangankan untuk berlari memeluku, tersenyum padaku-pun rasanya dia enggan untuk melakukannya. Aku terus bertanya-tanya dalam hati sembari menahan tangis, apa dia tidak merindukanku? Jinki hanya menatapku tajam soalah tidak menyukai kedatanganku ke kemari. Keputusanku untuk datang menemui di acara presscon Jinki memang salah. Di tempat ini banyak sekali wartawan media cetak maupun media elektronik yang berkumpul untuk mengetahui lebih jelas kabar yang beredar dan sedang hangat-hangatnya dibahas di penjuru Korea bahkan sampai belahan dunia. Bahkan di tempat ini-pun terlihat seorang yeoja berambut coklat duduk di samping Jinki sembari mengapit lengan namjaku itu. Jessica, yeoja yang saat ini aku benci dan aku cemburui, berada satu meja bersama namja yang aku cinta, berlagak sok mesra dengan tatapan innocentnya yang membuatku semakin muak dan ingin menamparnya sampai tersungkur ke lantai. “katakan pada semuanya bahwa ini semua adalah bohong! Kau dan yeoja itu tidak memiliki hubungan apapun kan oppa? Kau masih memiliki ku kan oppa?” aku menatapnya dengan penuh harap agar Jinki menjawab pertanyaanku dan mengatakan yang sejujurnya kepada media, bahwa aku-lah pacar yang Jinki sebenarnya, bukan Jessica!

“Onew-ssi, apa kau mengenal gadis ini?” tanya seorang wartawan berkacamata tebal yang berdiri tepat di depannya. “dia mengaku sebagai pacarmu, apa itu benar?” lanjutnya lagi. Jinki mengepalkan tangannya sembari menghela nafas berat.

“dia hanya fans yang mengaku-ngaku sebagai pacarku. Aku sama sekali tidak mengenalnya. Seperti yang sudah aku katakan, pacarku adalah yeoja ini, Jessica Jung.”

Rasanya bagaikan tersengat listrik beribu-ribu watt, aku terkejut bukan main mendengar apa yang baru saja Jinki katakan. Lututku benar-benar terasa lemas sehingga tidak mampu lagi menopang bobot tubuhku sehingga membuatku jatuh tertunduk di lantai. Aku menatap Jinki dengan penuh amarah, menahan tangisku agar tidak pecah.

“kau bohong oppa! bohong! Apa arti hubungan yang sudah kita jalin selama dua tahun lebih tapi akhirnya kau malah seperti ini? Aku berani bersumpah bahwa aku ini benar-benar yeoja-nya. Sungguh. Katakan yang sejujurnya Lee Jinki!” airmata ku sudah tidak dapat lagi aku bendung. Mereka terjatuh begitu saja bagaikan rintik hujan yang menyapu tanah kering di penghujung kota. Jinki semakin menatapku tajam, aku tau dia sangat tidak suka di panggil dengan nama aslinya di depan orang banyak terutama para selebriti dan para wartawan.

“eum, baiklah aku rasa iniー”

“diam kau brengsek! Aku tidak butuh kau untuk bicara disini!” Aku menatap Jessica tajam. Dia hanya mampu diam menundukan kepalanya tanpa berkata apapun lagi. Lelaki paruh baya yang aku tau sebagai pimpinan menejement tempat Jinki bernaung itu sudah mulai gusar, dia melirik dua namja besar dan berotot kekar yang berdiri tegap di belakang Jinki.

“bagaimana kemanan diluar bisa ceroboh dan membiarkannya masuk kesini!” gerutunya yang terdengar sangat jelas di telingaku. Tanpa ba bi bu, dua pria berbadan kekar itu menyeretku paksa untuk keluar dari gedung ini. “argh! Lepaskan aku bodoh!” Aku terus meronta agar mereka berdua melepaskan genggaman tangannya yang kuat dan membiarkanku untuk tetap disini, meminta penjelasan sejujurnya dari Jinki. Pergelangan tanganku rasanya hampir remuk akibat cengkramannya yang terlalu kuat seperti mencengkram seorang narapidana yang baru saja ingin kabur dari sel tahanan.

“biar aku yang selesaikan, lepaskan dia.” titah Jinki yang beranjak dari tempat duduknya. Jinki mengampiriku dengan langkah tenang seolah tanpa beban apapun. Dua bodyguard bodoh itupun langsung melepaskan cengkramannya di lenganku, mematuhi apa yang di perintahkan Jinki. Aku sedikit bisa bernafas lega. Setidaknya urat nadi-ku tidak jadi putus karena ulah kasar mereka. “ayo.” Jinki membantuku untuk bangkit. Aku tersenyum kecil, mungkin setelah ini Jinki akan menjelaskan kepada mereka tentang sesuatu yang seharusnya tadi ia jelaskan. Tapi dugaanku salah, Jinki menarik tanganku yang masih berbekas merah akibat cengkraman itu secara kasar dan membawaku ke luar ruangan. Meninggalkan mereka yang masih menganga menatap aku dan Jinki.

***

“apa maksudmu datang kemari?” Jinki melepaskan tangannya dan bertanya kepadaku dengan nada yang sangat amat dingin. Dia berbalik membelakangiku, seolah malas untuk melihatku walau sedetikpun.

“kenapa kau melakukan ini?”

aku menatap punggunya nanar sembari menggigit bibir bawahku agar isakan ku tidak terdengar olehnya.

“apa salah aku melakukan ini? Aku bosan denganmu Shin Chaeyeong. Kau tidak pernah berpikir dewasa dan terlalu kekanak-kanakan. Kau tidak seperti Jessica yangー”

“CUKUP! Jangan sebut nama itu di depanku lagi!”

“tadinya rencana malam ini berjalan dengan lanjar sebelum kau datang kemari dan mengacaukan segalanya. Kau lihat sendirikan?”

“oppa..”

“jangan panggil aku oppa lagi Chaeyeong. Aku bukan oppa-mu.”

Aku memastikan telingaku bahwa aku tidak salah mendengar apa yang dikatakan Jinki. Terlalu sakit dan menusuk. Aku berjalan mendekatinya dan menggenggam erat lengan Jinki, berusaha membalikan tubuhnya agar dia bisa menatap kedua bolamataku.

“kau ingin mengakhiri semua ini?” kataku kemudian. Jinki tidak bergeming, namja itu membuang tatapanya kearah rerumputan hijau yang ia injak. Aku mengerti apa yang sebenarnya Jinki inginkan, berpisah denganku bukan? “katakan padaku, Onew Lee” lanjutku dengan penuh sindiran pada dua kata terkahir, nama lain dari Lee Jinki setelah debut.

“Ya. Aku ingin mengakhirinya denganmu. Semuanya tidak akan menjadi seperti apa yang aku inginkan jika aku masih terikat dalam hubungan yang sebenarnya sudah tidak aku inginkan lagi adanya.”

aku menatap Jinki lekat. Bahkan disaat seharusnya aku membencinya, aku masih sempat memujinya, bahwa dia memang terlihat sangat tampan sekali malam ini.

“apa kau yakin dengan apa yang kau katakan?”

“Ya.”

“baiklah, kalau begitu aku akan mengalah. Aku akan melepaskanmu bersama yeoja itu, agar kau bisa hidup lebih baik, tanpa aku.” aku berusaha tersenyum dan terlihat tegar. Padahal sebenarnya aku mati-matian menahan airmata ku agar tidak terjatuh lagi. Terlalu banyak airmata yang aku habiskan untuk menangisi seorang Lee Jinki yang sama sekali sudah tidak peduli padaku.

“baiklah, jaga dirimu Shin Chaeyeong. Selamat tinggal.”

“kau tidak usah mengkhawatirkanku, aku pasti akan baik-baik saja” Jinki tersenyum tipis sembari menatapku sekilas. Lalu ia pergi meninggalkanku yang masih terpaku ditempat ini, menatap punggungnya yang sudah semakin menjauh dari pandangan mata.

Baiklah, mulai sekarang aku akan melupakanmu Jinki, seberapa sulit dan sakitnya-pun akan aku usahakan untuk tidak mencintaimu lagi. Kau harus berjanji padaku bahwa hidupmu akan menjadi lebih baik tanpa aku. Kau adalah masa lalu ku, Lee Jinki. Masa lalu yang terlalu manis untuk dikenang dan terlalu pahit untuk di ingat. Selamat tinggal, Lee Jinki.

****

Aku membuka pintu rumahku untuk mencari udara segar. Aku suka udara pagi Amsterdam yang sejuk mengisi paru-paru. Yeah, semenjak hari itu, aku memutuskan untuk tinggal bersama kedua orang tuaku yang sedang dinas di Belanda. Tinggal di Korea membuatku sulit untuk melupakannya, bahkan terus-menerus teringat akan segala kenangan tentangnya. Aku rasa disini jauh lebih baik, setidaknya aku bisa setiap hari bisa bertemu dengan eomma dan appa. Tidak seperti saat aku masih tinggal di Seoul yang hanya satu tahun sekali bertemu dengan mereka.

Aku melangkahkan kakiku keluar berniat untuk lari pagi. Namun aku menyadari kaki-ku menginjak sesuatu seperti kertas dan ternyata benar saja. Sebuah amplop berwarna ungu muda tergeletak begitu saja bersama setangkai bunga tulip berwarna merah. Dengan penasaran, aku mengambil amplop itu dan menemukan selembar kertas berwarna senada di dalamnya.

Aku mulai menyadari, bahwa tanpamu, hidupku tidak menjadi lebih baik seperti yang kau katakan dahulu padaku.

Dari namja bodoh yang
Merindukanmu,
Lee Jinki.

Aku hanya bisa tersenyum pahit membaca isi surat yang di berikan Jinki kepadaku. Ternyata, bersama Jessica Jung kau tidak menjadi lebih baik Onew Lee? Tsk.

– THE END –

Cuap-cuap author : annyeong 😀 ini FF aku yang terinspirasi dari lagu G.na featuring Junhyung ‘I’ll Back Off So You Can Live Better’ hehehe gaje ya? Emang hehehe-_- mianhae kalau FF ini endingnya malah gaje gini, konfliknya kurang greget dan galaunya kurang berasa .-. Dan mianhae kalau ada kata-kata yang typo dan kasar disini.

Keep RCL, segala macam kritikan, saran ataupun pujian (kalau ada) akan saya terima agar saya bisa menulis dengan lebih baik lagi 🙂

Advertisements

16 responses to “[Freelance] without me, you can live better

  1. Ahhh, endingnya menyedihkan sekaleee…
    Bikin sequel dong, yang Jinkinya minta maaf ke Chaeyeong. Kalo gini endingnya berasa Jinki tuh super jahat dan bodoh
    Ayolahh~ yayaya autthor-sshi ya!
    #maksa

  2. first kah???
    😀

    HAHAHAHAHAHHAHAHAHAHA…
    #ketawa bonamana#
    Rasainnnn tuhhh onew !!!!!!!!
    Kan ksian chaeyeong..

    Bagus chingu..
    Aku suka critanya,,ak ngerasa jdi chaeyeong disini.
    Sakitnya berasa..
    Hiksss #mukasinetron -,-#

    Keep writing yaa chingu..
    Anyonggg 😀

    • bagus? wah makasih >< aku aja pas bikin ini jadi gerasa sakit sendiri kalo bayangin jadi chaeyeong wkwwk makasih udah baca dan komen ^^

  3. rasain tuh onew dasar jahat banget jadi orang!!!!
    ceritanya bagus thor,jarang jarang ada ff yang endingnya kayak gini~~
    daebak^^

  4. astaga, jinkinya bener2 nyebelin. ketenaran bikin dy rubah. grrr~
    dan skg terbukti kan bersama sica itu ga bikin hidup lbh baik..hahaha *evillaugh*
    tapi kenapa ya ga tega liat jinki dpt peran jahat kaya gini? jadi pengen ad sekuelnya, setidaknya minta maaf dan berteman setidaknya klo ga bisa balik lagi..hehehe

    • karena suami saya terlalu polos untuk jadi orang jahat(?) buat squelnya etar aku pikirin lagi ceritanya ehehehe makasih udah baca dan komen ^^

  5. Bkin sekuelnya pliss…ayo donk sekuel…
    Meski chaeyoung manja dan pencemburu tp bkn berarti onew hrs sejahat ini…sedih nih…
    Trnyata endingny onew nyesel putus ma chae ya…ahahaha rasakan itu onew…
    Tabah bgt chaeyoungnya…

    • kalo aku sempet sequel bakal di buat ehehe ^^
      chaeyeong terlalu baik sepertinya .___. makasih udah baca dan komen ^^

  6. ONEEEEEEEEEEEW!!! #teriak pake toa masjid

    kenapa nyebelin bgt sih?
    mentang-mentang lagi naik daun *ulet kali -___- #jadi inget iklan teh pucuk yang ulet kecil unyu #OOT abaikan

    ih kesel bgt sama onyu…..

  7. ah., aku kesel…,
    rasanya pengen nge-bejek-bejek(?) seseorang…….
    author.., buatin sequel dong……………

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s