My Wife, My Best Friend (Part 5 – Who’s That Man?)

 PREVIOUS

Title :  My Wife, My Bestfriend – Part 5 (WHO’S THAT MAN?)

Author : Annisa a.k.a @Joonisa or @AuthorJoonisa

Rating : PG 15

Genre:Married Life, Romance, Family, Friendship

Length :Chaptered

Cast : 

  • Kim Jong Hyun (SHINEE)
  • Kim Kyeong Jae / Elison Kim / Eli (U-KISS)
  • Mystery Cast
  • Lee Eun Kyung (OC/You)

Supported Cast:

  • Lee Jonghyun (CNBLUE) as Eun Kyung’s brother
  • Sisanya temukan di dalam cerita ^^

Disclaimer  : The plot is mine.

Note:

Konfliknya semakin berat. Readers-nim, Siap bertemu dengan cast baru? ^^ I will reveal who is him in the end of this FF.

===============

Eli mengusap pipinya yang masih terasa perih. Anehnya, Eli tidak meringis ataupun terlihat kesakitan, tapi ia malah tersenyum. Sebenarnya tamparan itu bukan sesuatu yang ia harapkan, tapi entah kenapa tamparan itu justru menyisakan sesuatu yang terasa menyenangkan untuknya selain rasa perih.

“Bodoh. Kenapa aku malah tersenyum?” gumam Eli pada dirinya sendiri sambil terus melangkah. Di otaknya kejadian di toko perhiasan itu terus terulang, membuat Eli semakin tidak bisa menahan senyumnya.

“Dia benar-benar menarik.”

“Siapa yang menarik?”

Eli terlonjak ketika G.Na tiba-tiba muncul di depannya. Dengan keahliannya memasang poker face, Eli berhasil menyembunyikan ekspresi terkejutnya.

“Siapa lagi kalau bukan kau sayang, hmmm?” Eli merengkuh pinggang G.Na dengan wajah merayu andalannya. G.Na mencibir, tapi detik berikutnya ia tersenyum.

“Kau tadi habis menemui siapa?”

“Hanya menemui kenalan.” Jawab Eli enteng. “Kau sudah selesai belanja?”

“Hmm..” G.Na menggeleng manja. “Aku menunggumu. Masa aku berbelanja sendiri?”

DEG!

Eli menelan ludah. Kalau G.Na menunggu, berarti tadi dia melihatku menemui Eun Kyung? Batin Eli.

“Kau.. menunggu?”

“Iya. Aku menunggumu di toilet, kebetulan tadi aku mau pipis.”

Eli menarik nafas lega. Kalau G.Na ke toilet, berarti ia tidak melihat apapun yang terjadi padanya.

Okay. Kalau begitu kita belanja sekarang. Kau mau membeli apa?”

“Banyak! Baju, tas, sepatu……..”

Tanpa mereka berdua sadari, seorang namja tengah memperhatikan gerak-gerik Eli dan Eun Kyung. Dengan melipat kedua tangannya, namja itu menyeringai lebar di balik tiang tempat persembunyiannya.

“Jadi si pendek itu mengganggu pasangan kembarannya sendiri? Hmm… menarik!”

===============

Eun Kyung mempercepat langkah sambil mengatur nafasnya yang memburu. Pertemuannya dengan Eli di toko perhiasan benar-benar membuat mood-nya memburuk. Eun Kyung  menoleh ke belakang untuk memeriksa kalau-kalau Eli membuntutinya.

BUK!

“Aww..” Eun Kyung memegangi bahunya yang menabrak seseorang. Saking asiknya menoleh ke belakang, ia tidak lagi melihat jalan yang ada di depannya.

“Eun Kyung? Kau tidak apa-apa?” tanya Jong Hyun – orang yang ditabrak Eun Kyung – sambil mengusap bahu Eun Kyung. Ia baru saja keluar dari toilet dan kebetulan Eun Kyung saat itu sedang melintas di depan toilet.

“Ne.. aku tidak apa-apa.” Eun Kyung tersenyum tipis. Mood-nya benar-benar rusak sampai-sampai ia tidak kuat untuk tersenyum ramah pada Jong Hyun. Jong Hyun memegangi kedua bahu Eun Kyung disertai dengan tatapan bingung.

“Benarkah? Sepertinya tidak begitu.”

Eun Kyung menarik nafasnya dalam-dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. Ia ingin sekali menceritakan perihal pertemuannya dengan Eli – si konsumen kurang ajar – itu pada Jong Hyun. Tapi kalau ia mengulangi lagi apa yang dialaminya tadi dengan menceritakannya pada Jong Hyun, ia takut suasana hatinya akan menjadi semakin buruk.

“Kau kenapa lama sekali di toilet?” akhirnya Eun Kyung memutuskan untuk balik bertanya.

“Tadi aku sebenarnya Cuma ingin pipis, tapi ternyata perutku tiba-tiba sakit. Jadi ya aku ke toiletnya agak lama.” Jawab Jong Hyun jujur. “Wae?”

“Aku khawatir, makanya aku memutuskan untuk mencarimu.” Jawab Eun Kyung sedikit tergagap. Jong Hyun tertawa dan mengacak pelan rambut Eun Kyung.

“Kenapa tertawa?” tanya Eun Kyung heran.

“Kau ini… aku kan Cuma ke toilet, kenapa begitu khawatir?”

Eun Kyung diam, hanya mengerjapkan mata. Ia memang tidak pintar berbohong. Ia membutuhkan Jong Hyun untuk ada di sisinya, setidaknya agar Eli tidak mengganggunya lagi seperti tadi. Tapi lidahnya mendadak kelu dan jantungnya berdebar dengan kencang, alhasil ia tidak bisa mengatakannya.

“Kau segitu cintanya ya padaku sampai-sampai aku ke toilet saja kau khawatir? Hmmm?” tanya Jong Hyun lagi, kali ini dengan nada yang sedikit menggoda.

“Mwo.. mworago?”

Jong Hyun menahan tawanya. Baginya ekspresi Eun Kyung yang paling lucu adalah saat ia terkejut dengan sesuatu. Ia kemudian merangkul bahu Eun Kyung dan menggiringnya kembali ke toko perhiasan yang tadi mereka singgahi.

“Kau sudah menentukan pilihan yang mana cincinnya?” tanya Jong Hyun. Eun Kyung mengangguk sambil tersenyum meskipun hanya senyum tipis.

“Yang kau pilihkan tadi saja. Aku suka yang itu.”

“Hmm.. pilihanku tidak salah kan? Ya sudah, kita beli yang itu saja.”

Mereka berdua pun masuk lagi ke toko perhiasan yang tadi. Sebelum masuk ke toko itu, Eun Kyung menyapu pandangannya ke sekeliling toko, memastikan kalau Eli tidak ada lagi di sana. Eun Kyung menghela nafas lega setelah ia tidak menemukan Eli di sana. Di toko itu hanya ada seorang namja dan seorang penjaga toko – yang melayaninya tadi – yang terlihat sedang melakukan transaksi.

“Kau kenapa?” tanya Jong Hyun bingung.

”Oh, aniya. Tidak ada apa-apa.” Ucap Eun Kyung. Tentu saja itu bohong, tapi dengan polosnya Jong Hyun mengangguk.

“Selamat siang.” Sapa wanita penjaga toko. “Loh, kalian kembali lagi?”

Eun Kyung tersenyum sekilas pada penjaga toko itu, lalu mengedipkan sebelah matanya sebagai kode agar penjaga toko itu tidak menceritakan hal yang terjadi beberapa menit yang lalu. Penjaga toko itu sepertinya mengerti dengan kode Eun Kyung, terbukti dari tangannya yang mengacungkan jempol secara sembunyi-sembunyi ke arah Eun Kyung.

“Iya, kami kembali lagi.” Jawab Jong Hyun yang sibuk melihat etalase. “Oh iya, cincin yang kami pilih tadi mana? Kami jadi ingin membelinya.”

Penjaga toko itu terkejut mendengar pertanyaan Jong Hyun. Ia lalu menggigit bibirnya sambil melirik-lirik namja di hadapannya yang sedang mengepas cincin. Eun Kyung mengikuti arah pandang penjaga toko itu, dan ia terkejut ketika melihat cincin yang dicoba namja itu.

“Ma.. maaf, cincin yang tadi anda pilih sudah dibeli oleh Tuan itu.” penjaga toko itu menundukkan kepala. Jong Hyun dan namja itu sama-sama menoleh dan akhirnya tatapan mereka bertemu.

“Oh.. kau mau cincin ini?” tanya namja itu. Jong Hyun melirik cincin itu sebentar, lalu ia menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.

“Sebenarnya iya.. tapi kalau sudah kau beli, ya sudah. Tidak apa-apa.”

“Iya. Kami masih bisa memilih model lain.” Tambah Eun Kyung. Jong Hyun menoleh ke arah Eun Kyung dengan ekspresi tidak enak. Eun Kyung tersenyum lalu kemudian menggeleng.

“Gwaenchana. Masih banyak model lain yang bagus.”

Namja yang sedari tadi memperhatikan Jong Hyun dan Eun Kyung ikut tersenyum. Ia kemudian memasukkan cincin yang sudah ia beli itu ke kotaknya dan menyodorkannya pada Jong Hyun.

“Ini.. ambillah.”

Jong Hyun mengerutkan alis. “Apa ini?”

Namja itu tersenyum. Ia lantas meletakkan cincin itu ke atas meja etalase.

“Kurasa cincin itu memang lebih pantas untuk kalian. Kalian berdua benar-benar serasi.”

“Ta.. tapi kau kan sudah membelinya?” sanggah Jong Hyun. Namja itu lagi-lagi tersenyum. Ia melangkah mundur, bersiap untuk pergi meninggalkan toko itu.

“Anggap saja ini hadiah dariku. Asal kalian tahu, aku bahkan belum punya pacar.”

“Ta.. tapi.. Hei tunggu!”

Namja itu melambaikan tangan tanpa membalikkan tubuhnya. Ia keluar dari toko itu, menyisakan Jong Hyun dan Eun Kyung yang kebingungan.

“Terima kasih ya!!!” Teriak Jong Hyun dari dalam toko.

===============

Jong Hyun memarkir mobilnya tepat di depan rumah Eun Kyung. Saat itu hari sudah hampir gelap dan hujan tengah turun dengan derasnya. Jong Hyun mengambil payung yang ada di kursi belakang mobilnya dan turun lebih dulu dari mobil. Ia lalu membukakan pintu dan memayungi Eun Kyung ketika keluar dari mobil.

Lee Jong Hyun – kakaknya Eun Kyung – ternyata sudah lebih dahulu tiba di rumah beberapa menit sebelum Eun Kyung dan Kim Jong Hyun sampai. Ia mengintip dari balik jendela yang setengah ditutup gorden.

“Meskipun aku terlihat seperti orang kurang kerjaan dan tukang intip, tapi ini semua demi adikku. Hwaiting Jong Hyun! Hwaiting!” Lee Jong Hyun mengepalkan tangan untuk menyemangati dirinya sendiri.

Sementara itu di luar sana, Kim Jong Hyun dan Eun Kyung sudah sampai di teras rumah. Jong Hyun menurunkan payungnya karena di teras itu mereka berdua sudah bebas dari hujan.

“Nah sudah sampai.” Ucap Kim Jong Hyun setelah menurunkan payungnya.

“Kau mau mampir dulu? Hujannya sangat deras.” Tawar Eun Kyung. Jong Hyun menggeleng.

“Aniyo, tidak usah. Aku langsung pulang saja. Apa kakakmu sudah pulang?”

Eun Kyung melirik ke arah jendela. Kebetulan saat itu Lee Jong Hyun sedang asik-asiknya mengintip dan bayangannya terlihat oleh Eun Kyung.

“Oppa sudah pulang. Mau bertemu?” Eun Kyung balik bertanya seolah tidak melihat apa-apa.

“Boleh. Sekalian pamit pulang.”

“Tunggu sebentar. Sebentar lagi oppa akan membukakan kita pintu.”

Kim Jong Hyun mengangguk patuh. Ia lalu melihat-lihat ke sekelilingnya, sebelum akhirnya ia menatap Eun Kyung. Tanpa sengaja Eun Kyung juga sedang menatapnya. Mereka saling melempar tatapan yang hanya mereka sendiri yang tahu artinya.

“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Eun Kyung pada akhirnya. Tentu saja rasa penasaran yang membuatnya berani untuk bertanya. Jong Hyun tersenyum simpul.

“Kau sendiri kenapa melihatku seperti itu?” Kim Jong Hyun balik bertanya.

“Jawab dulu, baru aku akan jawab.”

“Tidak. Kau dulu yang jawab. Kan dimana-mana ladies first.”

Eun Kyung mendesah pelan. Ucapan Kim Jong Hyun membuatnya mati gaya.

“Aku ingin berterima kasih karena kau sudah membelikanku cincin. Meskipun itu tidak ada apa-apanya untukmu, tapi cincin itu maknanya sangat dalam untukku.”

“Siapa bilang cincin itu tidak ada apa-apanya untukku? Cincin itu juga sangat dalam maknanya untukku, tahu!” Kim Jong Hyun mengacak pelan rambut Eun Kyung. “Oh iya, kau mau tahu kenapa aku menatapmu juga?”

“Kenapa?”

“Hmm.. itu karena.. aku pikir kau terlalu cantik untuk jadi istriku.” Jawab Jong Hyun seraya menggaruk tengkuknya. Wajah Eun Kyung langsung memerah. Ia pun menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya yang ia rasa mulai memanas.

“Ehem!”

Kim Jong Hyun dan Eun Kyung terkesiap, tapi keterkejutan mereka berhenti begitu melihat Lee Jong Hyun berdiri tegak di depan pintu.

“Annyeonghaseyo, hyung.” sapa Kim Jong Hyun ramah. Lee Jong Hyun mengangguk-angguk sok wibawa dan bersahaja. Eun Kyung sedikit mengerucutkan bibirnya melihat ulah kakaknya itu.

“Eun Kyung, kalau begitu aku pulang dulu. Hyung, aku pulang dulu.”

“Hati-hati di jalan.” Eun Kyung melambaikan tangan. Kim Jong Hyun tidak lupa dengan janjinya, ia mencium kening Eun Kyung seperti yang diperintahkan oleh Lee Jong Hyun, namun kali ini ia tidak terlalu canggung seperti pertama kali ia melakukannya.

“Tsk.. kau tidak lupa rupanya?” tanya Lee Jong Hyun dingin.

“Ne. Aku tidak akan lupa.” Jawab Jong Hyun dengan senyum tipisnya. Ia pun mengambil payungnya dan berbalik hendak menuju ke mobilnya.

“Tunggu!”

Panggilan Lee Jong Hyun menahan langkah Kim Jong Hyun dan membuatnya berbalik.

“Ne, Hyung?”

Lee Jong Hyun mendekat ke arahnya, lalu merangkul bahunya. Kim Jong Hyun dengan sigap memayungi calon kakak iparnya itu karena mereka saat ini berada selangkah di luar teras itu yang artinya hujan sanggup membasahi mereka.

“Aku mengizinkanmu menikahi Eun Kyung.”

“Ne? Jeongmal?” Kim Jong Hyun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Begitu pula dengan Eun Kyung yang mendengarnya.

“Hmmm..” Lee Jong Hyun mengangguk. “Ingat ya, jangan sampai kau membuatku menyesal telah menurunkan izinku ini padamu! Arasseo?”

Kim Jong Hyun mengangguk cepat. “Ne, hyung! Aku akan memegang janjiku!”

“Baiklah. Lalu kapan rencananya pernikahan kalian dilaksanakan?”

“Paling lambat minggu depan, hyung. Pasti akan kuberitahu.”

===============

Senyum lebar menghiasi bibir Jong Hyun. Sejak pulang dari rumah Eun Kyung senyumnya semakin lama semakin bertambah lebar. Meskipun cuaca di luar sedang turun hujan dengan deras disertai angin kencang, tapi itu justru berbanding terbalik dengan perasaan Jong Hyun sekarang. Ia benar-benar senang karena satu masalah sudah berhasil diatasi. Kini, tidak ada masalah lagi dengan restu kakaknya Eun Kyung.

Jong Hyun merogoh sakunya ketika mobilnya berhenti di lampu merah. Ia mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna biru dari dalam sana. Perlahan ia membuka kotak itu. Terlihat sepasang cincin perak tersemat di dasarnya.

“Appa.. akhirnya aku berhasil melewati hambatan itu. Semoga tidak ada hambatan lain untuk menolong Appa.” Jong Hyun bicara ke arah cincin itu. Tatapan matanya berubah menjadi sayu.

“Tanpa Eli dan Eomma, kita berdua bisa bahagia seperti selama ini. Tapi kenapa mereka tiba-tiba harus datang dan membuat kita harus menjalankan rencana aneh seperti ini?”

Jong Hyun mendesah pelan. Ia menutup kotak itu dan memasukkan kembali ke dalam sakunya.

“Demi Appa, demi perusahaan, dan demi Eun Kyung.”

Jong Hyun mencengkram erat setirnya. 5 detik lagi lampu merah akan berubah menjadi hijau. Sekilas ia menyapu pandangannya ke arah jalan. Tiba-tiba matanya tertuju pada seorang namja yang ada di pinggir jalan. Namja itu sedang sibuk memperbaiki mobilnya di tengah hujan deras, terlihat dari kap mobilnya yang terbuka. Jong Hyun menyipitkan matanya, ia merasa mengenal namja itu.

Jong Hyun akhirnya memutuskan untuk mendatangi orang itu. Ia menepikan mobilnya tepat di belakang mobil orang itu. Jong Hyun turun dari mobil dengan mengenakan payung dan dugaannya benar, orang itu adalah seseorang yang dikenalnya – atau lebih tepatnya baru saja dikenalnya.

“Hey!” Sapa Jong Hyun seraya menyodorkan payung pada namja itu. “Mobilmu kenapa?”

Namja berambut pirang dan lebih tinggi dari Jong Hyun itu mengusap wajahnya yang basah karena terkena air hujan. “Ini, mobilku tiba-tiba mogok, aku tidak tahu kenapa.”

Jong Hyun melongok ke arah mesin mobil namja itu. Ia melihat-lihat sebentar dan memeriksa beberapa bagian dari mesin itu, kemudian Jong Hyun menggeleng.

“Sepertinya mobilmu harus masuk bengkel.”

Really?” seru namja itu. Jong Hyun mengerutkan alis, ia tiba-tiba teringat kembarannya yang menyebalkan. Kembarannya itu selalu mengajaknya bicara bahasa inggris.

“Ne. Rusaknya agak parah.”

“Kau tahu bengkel terdekat?”

“Ne aku tahu, sekitar 3 blok dari jalan ini.” Tunjuk Jong Hyun ke arah yang ada di belakangnya. Namja itu menggaruk kepalanya, wajahnya terlihat bingung.

“Maaf, tapi aku baru beberapa hari di Korea. Aku tidak begitu tahu jalan.”

“Memangnya kau bukan orang Korea?”

“Bukan. Aku aslinya orang Amerika berdarah China.”

Mulut Jong Hyun membentuk huruf ‘O’. Pantas saja dia mirip Kyeong Jae, bahasa Korea campur aduk dengan bahasa Inggris, pikir Jong Hyun.

“Bahasa Koreamu bagus.” Komentar Jong Hyun sembari terkekeh.

Thanks. Aku tertarik dengan Korea dan budayanya, makanya aku mempelajari bahasa Korea sejak 5 tahun terakhir.”

Jong Hyun mengangguk-angguk paham. “Oh iya, kurasa kau sebaiknya meninggalkan mobilmu di sini. Nanti akan kutelepon orang bengkel kenalanku, biar mobilmu dia yang mengurusnya.”

Namja itu diam. Ia menatap mobilnya dan Jong Hyun bergantian.

“Tenang saja, aku akan memberimu tumpangan. Dan untuk malam ini kau menginap di rumahku saja dulu, besok pagi akan kuantar kau mengambil mobilmu, bagaimana?” Tawar Jong Hyun. Namja itu akhirnya mengangguk dan tersenyum tanda setuju.

Okay!”

Mereka berdua pun akhirnya masuk ke mobil Jong Hyun. Namja itu sedikit gemetar karena bajunya semuanya basah terkena hujan.

“Kasian sekali, kau sampai gemetar begitu.” Ucap Jong Hyun. Namja itu terkekeh menanggapi Jong Hyun yang kelihatan seperti mengasihani dirinya.

“Apakah aku terlihat sangat memprihatinkan sampai kau mengasihaniku seperti itu?”

“Oh, aniyo. Bukan seperti itu maksudku..”

“Tidak apa-apa, aku mengerti. By the way, terima kasih sudah menolongku.”

“Sama-sama. Aku yang harusnya berterima kasih karena kau sudah mau mengalah dan memberikan cincin itu padaku.”

Namja itu kembali terkekeh. “Astaga, aku bahkan sudah melupakan kejadian itu. Kelihatannya cincin itu sangat penting bagimu, makanya aku rela melepaskannya.”

“Ne. Kau benar. Cincin itu sangat penting untukku.” Jawab Jong Hyun tanpa menatap namja itu. tatapannya fokus ke arah jalan yang ada di depannya.

“Memangnya siapa yeoja itu? Pacarmu, atau istrimu?”

Jong Hyun terdiam selama beberapa saat. Detik berikutnya senyum tipis menghiasi bibirnya. “Dia pacarku.”

“Kalian berencana menikah?” tanya namja itu lagi. Jong Hyun lagi-lagi terdiam selama beberapa saat.

“Ne. Tapi aku belum tahu kapan.” Jawab Jong Hyun pada akhirnya. “Oh iya, kita bahkan belum berkenalan! Namaku Kim Jong Hyun. Namamu siapa?”

 

===============

 

[KLEK!]

Eli menutup pintu rumahnya – atau lebih tepat rumah ayahnya. Ia mengucek matanya beberapa kali dan menguap. Rasa kantuk tengah menggelayuti matanya. Entah kenapa rasanya hari ini ia begitu lelah dan cepat-cepat ingin bertemu kasur. Eli mendongakkan kepala untuk melihat jam berapa sekarang, tapi alangkah terkejutnya ia begitu melihat seseorang yang sangat dikenalnya berdiri tegak di depannya lengkap dengan sebuah seringaian lebar.

Yo…you?”

Eli membelalakkan matanya, menatap orang itu lekat-lekat tanpa berkedip sekalipun. Ingin sekali ia tidak mempercayai apa yang dilihatnya sekarang, tapi kenyataan tidak mendukungnya kali ini.

Yeah.. it’s me. Ah, kurasa akan kurang sopan kalau kita berbicara dengan bahasa Inggris. Bukankah kita sekarang berada di korea?”  ucap Namja itu dengan santainya. Sangat kontras dengan Eli yang wajahnya mulai memerah dan urat-urat di kepalanya menegang.

Get out!” Teriak Eli.

Calm down, bro. Ups,i mean CALM DOWN MY STEPBROTHER.”  Namja itu menunjuk wajah Eli dengan santainya. Eli menepis kasar tangan namja itu.

“Kubilang keluar ya keluar! Apa kau tidak dengar? HAH?”

“Ya! Kim Kyeong Jae! Kenapa kau mengusir tamuku?”

Eli mengerutkan alis begitu mendengar suara judes yang familiar di telinganya. Perlahan ia menoleh kebelakang dan benar seperti dugaannya, suara itu adalah suara kembarannya – yang tidak lain dan tidak bukan adalah Jong Hyun.

“Apa? Ta.. tamu?” ulang Eli, memastikan kalau yang ia dengar tidak salah. “Dia.. tamumu?”

“Ne. Wae?”

Eli menghembuskan nafas keras beberapa kali. Ia menatap Jong Hyun dan namja itu bergantian dengan nafas memburu seperti banteng yang siap menyeruduk. Pada akhirnya ia menatap Jong Hyun, tapi kali ini bukan tatapan marah atau tatapan meremehkan seperti biasanya melainkan dengan tatapan… memelas.

Jong Hyun jelas saja bingung melihat ulah Eli yang dinilainya tidak biasa. Perasaannya juga mendadak khawatir, padahal kita sama-sama tahu kalau Jong Hyun bosan dan muak setiap kali bertemu dengan Eli. Jangankan khawatir, tidak bertemu Eli satu hari saja merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Jong Hyun. Tapi kali ini .. kenapa ia bisa khawatir pada saudaranya itu hanya dengan melihat ekspresinya?

“Jong Hyun-ssi, apa dia saudaramu?” tanya namja itu sambil tersenyum. Jong Hyun balas tersenyum ke arah namja itu, mengacuhkan Eli yang masih menatapnya dengan tatapan memelas.

“Ne. Dia saudaraku. Maafkan dia ya kalau dia tidak sopan padamu tadi.”

“Ah ne, it’s okay.” Ucap namja itu santai. “Kurasa dia memang jauh berbeda denganmu. Aku bisa maklum. Yang namanya saudara belum tentu sama, kan?”

Eli mendecih dan membuang muka. Telinganya panas mendengar setiap huruf yang keluar dari mulut namja itu. Jong Hyun melirik tajam ke arahnya, menyuruhnya untuk diam hanya dengan isyarat mata. Anehnya, Eli menurut saja. Kalau saja tidak ada namja itu, pasti Jong Hyun sudah mengintrogasinya.

“Siapa nama saudaramu?” tanya namja itu pada Jong Hyun.

“Namanya Kim Kyeong Jae, nama luar negerinya Elison Kim, atau Eli.” Jong Hyun menyenggol Eli yang masih membuang mukanya. Eli menoleh ke arah Jong Hyun dengan malas.

“Kyeong Jae, kenalkan ini Kris. Kris Wu.”

To Be Continue…

 

 

Tadaaaaaa… sudah tahu kan siapa mystery cast-nya? Yap! Dia adalah leader EXO-M yang memiliki tatapan dingin dan misterius, KRIS WU ^O^V

Jadi siapakah Kris Wu di FF ini?

Ada yang bisa menebak? 😀

Mulai part selanjutnya, posternya akan ganti dengan poster seperti di bawah ini *tunjuk-tunjuk*. And i’m so sorry for short update m_m

 Keep RCL yah ^o^

95 responses to “My Wife, My Best Friend (Part 5 – Who’s That Man?)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s