Love Button [Part 5]

Title: Love Button

Author: Joo aka indahberliana

Main Cast:

-Park Chanyeol (EXO-K)

-Byun Eunji (OC)

-Kris Wu (EXO-M)

And other cast you can find them in this Fanfict.

Genre: Comedy (maybe), Romance (maybe) pokoknya readers tentuin aja deh hehe.

Rating: PG 13

Disclaimer: semua cast (kecuali OC) punya tuhan semata. Dont Be Plagiator! Please RCL.

BIG THANKS TO missfishyjazz@myfishyworld.wordpress.com !! >< Nana eonni!! gomawo posternya yang DAEBAK!

A.N: Annyeong reader-deul! Aku balik dengan membawa part 5. Dengan bertema memasak wkwkwk.   *digampar reader-deul* . mian kalo ceritanya agak ngebosenin. Semoga pada suka ya. tak bosen-bosennya aku mengingatkan, jangan jadi plagiator, jangan jadi siders, dal please Read, Comment, and Like ya. kasih juga kritik dan saran kalian di komentar kalian. Karena aku sangat butuh butuh kritik saran kalian.

INI HANYA FF, JADI JANGAN TERSINGGUNG DENGAN APA YANG DIKATAKAN PARA TOKOH. Sekian terima kasih.

****

 

[Part 1] [Part 2-A] [Part 2-B] [Part 3] [Part 4]

Preview:

Mulai dari ‘kencan’nya dengan Kris beserta Muyeol—keponakan Kris. Berkunjung ke taman hiburan populer di Korea Selatan—bahkan dunia, Lotte World, bersama Chanyeol. Kejadian di stand peramal pada malam itu masih membuat seorang Byun Eunji penasaran. Ia sudah menceritakan semua kejadiannya malam itu ketika bersama Chanyeol pada adiknya, Baekhyun. Eunji pikir Baekhyun sama sekali tak membantunya. Ia malah menyeru nama Chanyeol saat ditanya kira-kira siapa namja yang dikatakan oleh si peramal.

 

 

****

Chanyeol POV

Setelah mengantar Eunji pulang ke rumahnya, aku bergegas pergi ke apartemenku. Mandi, lalu menyiapkan buku-buku pelajaran untuk sekolah besok pagi.

“Sains, tata boga, bahasa korea, matematika. Hmmm.” Gumamku sambil mengambil buku paket sains yang cukup tebal kemudian mengambil buku catatan dan buku tugas pelajaran tersebut.

“Biar nanti aku yang mencatatnya untukmu”

Tiba-tiba aku teringat dengan buku catatan sainsku. Sebelum aku pulang, dia menyerahkan buku catatanku ini. Aku lupa meminta padanya. Ya, Eunji mencatat pelajaran sains di buku catatanku saat aku beristirahat di UKS. Aku membuka buku catatanku. Aku hanya bisa tertawa melihat tulisannya. Bahkan kalau kalian melihat catatanku, kalian pasti menyangka tulisannya ialah tulisanku. Banyak orang mengatakan tulisan seorang yeoja lebih rapi dibanding tulisan seorang namja. Kalian salah jika berpikiran seperti itu pada kami berdua. Buktinya, hal itu berbanding balik untukku dan Eunji.

Aku baru menyadari ada yang jatuh dari bukuku. Notes kecil berwarna biru langit.

“Apa ini?” gumamku. Aku langsung mengambil notes yang terjatuh di atas lantai kamarku.

APA? Sudah kubilang jangan panggil aku virus. Bocah nakal. Aku hanya bisa mendengus kesal. AH! aku teringat tulisanku di halaman terakhir buku ini. Langsung aku buka buku itu  ke halaman terakhirnya.

Aku memang tak bisa membacanya. Tapi karena aku yang menulis, aku tahu apa yang aku tulis. Kata ‘Aku’ di lembar kertas terakhir itu memang terlihat lumayan jelas. Tapi kata-kata berikutnya hampir bisa disebut seperti serentetan titik-titik. Tapi sebenarnya ‘titik-titik’ itu ialah kata-kata yang kalau kuberitahu kalian, umm, aku malu memberitahunya.

Aku suka ‘Flame’. Byun Eunji, pemarah, tangannya suka menjitak kepalaku seenaknya, otaknya hanya diisi dengan sedikit pengetahuan.. tapi aku suka.

 Aku bisa dicekiknya kalau Eunji bisa membaca tulisan yang ada di halaman terakhir bukuku itu. Ya, walaupun kelakuan dan sifatnya seperti itu, aku tetap menyukainya. Hmmm, kalau kupikir lagi. Aku tidak menyukainya. Tapi mencintainya. Aku tidak tahu kapan aku mulai menyukainya dulu. Perasaan ini mengalir begitu saja dalam kehidupanku.

Flame, yang berarti api. Aku menyebutnya seperti sebuah api. Karena setiap hari memungkinkan bahwa ia membara seperti api. Tiada hari tanpa marah-marah, menjitak kepalaku. Aigoo, mengingatnya membuatku tertawa sendiri.

“ne, akan ada 2 pria yang mendatangimu kelak. Tapi jangan senang dulu. Banyak yang harus kau lewati, dan kurasa cukup sulit untuk orang yang memiliki tempramen tinggi sepertimu.”

Kata-kata si peramal tadi tiba-tiba muncul di pikiranku. 2 pria yang membuat yeoja di sekitar Eunji akan iri padanya? Apakah salah satu dari 2 pria itu adalah aku? Ya! Park Chanyeol. Kau percaya diri sekali. Tapi kenyataannya banyak yeoja di sekitarnya yang iri padanya karena hanya dia yeoja yang dekat denganku.

“nona! Kau harus mempersiapkan dirimu. Karena salah satu dari kedua namja itu memiliki kepribadian yang berbalikan padamu.”

Dan, kalau pria yang bersifat sama dengannya ialah aku, apakah pria lain yang disebut peramal itu ialah, guru Wu?

****

Author POV

Bisikan-bisikan di koridor lantai pertama SMA Shin merajalela ketika seorang Byun Eunji dan Park Chanyeol memasuki koridor tersebut. Eunji dan Chanyeol bingung, kenapa mereka diperhatikan seperti ini. Padahal sudah seperti biasa mereka berangkat sekolah bersama.

“kenapa ramai begini?”

“ada apa ini?”

“Eunji babo. Kalau kutahu aku juga tak akan bingung.”

Seketika Eunji menatap Chanyeol tajam. “kau meniru kalimatku, Park Chanyeol.” Desisnya.

Chanyeol tersentak. “apa? Menirumu?”

“waktu itu, saat aku dipanggil guru Lee, aku mengatakan kalimat itu.” (baca Love Button part 1)

“hah? Terserah.”

“YA!” Eunji kesal dan karena ia ringan tangan, seketika kepala Chanyeol didaratkan beberapa jitakan dari Eunji.

Aksi Eunji berhenti ketika mendengar beberapa ‘makian’ untuknya dari beberapa murid ‘penghuni’ kelas yang ada di lantai 1.

“wah jadi ternyata benar gossip itu? mereka semakin romantis saja ya!”

“Mereka dari dulu tak pernah akur, selalu saja bertengkar. Tapi karakter mereka itulah yang membuat mereka sangat menggemaskan. Aku dukung mereka!”

“iya aku setuju! Hahaha.”

Seperti video yang sedang di pause, Eunji dan Chanyeol membeku sambil tercengang. Apa? Gossip? Couple? Kebenaran?

Tanpa dikomando, mereka berdua langsung lari terbirit-birit ke lantai 3 menuju kelas 3-2, kelas mereka.

Sesampainya mereka di depan pintu kelas, beberapa murid 3-2 berkumpul membentuk lingkaran. Yang sepertinya ada seseorang—atau—beberapa orang di antara mereka yang berkumpul.

Salah satu murid yeoja yang juga ikut menjadi kumpulan tersebut, yang melihat Eunji dan Chanyeol di depan pintu kelas, langsung menyeru. “Ya!! mereka datang!!”

Kumpulan murid berbentuk lingkaran itu memisah dan duduk pada tempat duduknya masing-masing. Eunji dan Chanyeol mengerutkan salah satu alis mata mereka. Mereka terlihat kebingungan.

Dan ternyata, yang berada diantara kumpulan murid itu ialah Krystal, Sulli, Kyungsoo dan Sehun. Eunji bingung, tumben sekali mereka berempat ke sini. Pikirnya.

Mereka berempat langsung keluar dari kelas 3-2 setelah Krystal berbisik pada Eunji.

Hwaiting!”

****

Flashback

Setelah melihat kejadian ‘unbelievable’ itu, Krystal memandu Sulli, Sehun dan Kyungsoo memojok sebentar. Mereka mendiskusikan sesuatu yang sepertinya serius.

“mereka…” pernyataan Kyungsoo terpotong saat Sulli menyarankan ide cemerlang.

“kita harus menjadi Spies! Bagaimana? Spy Sulli akan memandu kalian untuk mengikuti mereka.”

“kalimatmu kurang tepat, Sulli.” Tandas Sehun.

Sulli yang sudah membentuk kedua tangannya seperti pistol, mendelik kebingungan ke arah Sehun yang duduk diantara Krystal dan Kyungsoo.

Sulli yang berdiri sendiri di hadapan mereka langsung bertanya. “mwo? apa yang salah?”

“kata ‘mengikuti’ kurang tepat. Lebih tepatnya kau akan memandu kami untuk menguntit mereka.” Tandas Sehun sambil tertawa yang langsung mendapat ‘sambutan meriah’ dari Krystal dan Kyungsoo.

Yang ditertawakan malah mendengus kesal, kemudian meniup ‘pistol’nya. “pokoknya, nanti kita harus mengikuti mereka. Sepertinya mereka akan melaksanakan kencan pertama mereka nanti.”

Krystal mendelik. “kenapa kau begitu yakin?”

Sulli dengan bangga menjawab, “entahlah, mungkin karena instingku begitu kuat untuk kedua bocah itu.”

“bocah? Siapa mereka?” tanya Kyungsoo yang ternyata tidak menyimak percakapan mereka sedaritadi.

“Eunji dan Chanyeol.” Jawab Sehun menunjukkan muka datar ke Kyungsoo.

Sulli menepukkan kedua tangannya dengan semangat. “Ja!! Spy Krystal, Spy Kyungsoo, Spy Sehun, misi pertama kita adalah membuntuti mereka. Arasseo?”

Semuanya mengangguk setuju, Sulli tersenyum puas.

Setelah pulang sekolah, para Spies mulai menjalankan misinya. Mereka melihat Eunji dan Chanyeol menaiki sebuah taksi.

“wah, insting seorang Choi Jinri tak perlu diragukan lagi.” Gumam Kyungsoo. Krystal dan Sehun yang masih memantau arah taksi itu mengangguk-angguk tandanya setuju.

Mereka langsung membuntuti taksi itu dengan mobil Sehun. Perlu kalian tahu, Sehun adalah seorang anak pewaris Ocean Company. Ia tergolong mampu. Sangat mampu malahan.

Sepanjang perjalanan mengikuti taksi kuning tua itu, Sulli—yang merupakan leader dari misi itu, mendiskusikan sub mission yang akan mereka lakukan nanti ketika mereka sampai di tempat tujuan taksi kuning itu pada Kyungsoo dan Krystal. Sementara Sehun hanya mendengarkan tanpa menoleh karena ia sedang fokus pada haluan taksi itu.

Kyungsoo tercengang ketika mendapati mobil Sehun terparkir di parkiran taman hiburan terheboh di Korea Selatan, yaitu Lotte World.

“di… di sini?” tanya Krystal dan Sulli yang juga tercengang.

Sehun hanya berdeham, lalu keluar dari sedan silvernya, juga menyuruh para Spies yang lain untuk keluar dari mobil secara hati-hati. Mengingat mereka yang sedang melakukan ‘misi rahasia’.

“Sungguh, aku sama sekali tak membawa uang sebanyak harga tiket itu.” tandas Sulli. Yang langsung disusul anggukkan Krystal dan Kyungsoo di loket tiket masuk Lotte World. Mereka bertiga lantas mengarahkan kepalanya dan menoleh pada Sehun yang berdiri paling kanan diantara mereka.

“Ck, kalian ini.” Sehun langsung mengambil dompet eksekutif hitam miliknya dari balik blazer seragamnya lalu mengeluarkan sebuah alat pembayaran praktis berbentuk plastik, yang biasa disebut Debit Card.

Setelah melihat apa yang dilakukan Sehun, senyuman di wajah Spies lainnya mengembang sangat lebar. Sehun yang melihatnya hanya menghela napas berat.

Sesampainya di gedung indoor Lotte World, para spies melihat Chanyeol dan Eunji menaiki wahana French Revolution. Yaitu roller coaster yang panjang monorel dari roller coaster itu hampir mengelilingi gedung indoor tersebut.

“aku ingin naik itu…” Kyungsoo mengarahkan telunjuk kanannya ke arah French Revolution.

Sulli langsung menampik tangan Kyungsoo, “tidak boleh, kita sekarang sedang ber-tu-gas.”

“tapi Sulli, mumpung gratis, masa kita tidak boleh menaiki wahana-wahana itu?” celetuk Kyungsoo yang langsung mendapat persetujuan dari Krystal.

“siapa bilang semua ini gratis? Aku yang membayar semuanya kalian bilang gratis? Berterima kasihlah padaku.” Sehun mendelik pada Kyungsoo dan Krystal. Yang ditatap hanya bisa tertawa renyah.

Para Spies bukannya menguntit kedua targetnya, mereka malah mengunjungi beberapa wahana selain French Revolution. Seperti Bungee Drop. Bisa kalian duga siapa ‘penuntut’ yang menuntut mereka untuk menaiki wahana gila itu? Ya, Do Kyungsoo adalah penuntutnya.

Oke, menurut sang Leader Mission, sudah cukup sekali mereka menaiki itu, tapi Kyungsoo merengek untuk menaiki wahana lainnya. Mereka ini sedang bertugas atau bermain sih?

****

“aku lapar, ayo makan malam dulu.” Rengek Krystal pada yang lain sambil memegang perutnya dengan kedua telapak tangannya.

“iya, sementara uangku sudah habis untuk kubelikan makanan di kantin tadi di sekolah. Sehun…” Kyungsoo menoleh ke arah Sehun yang berada di sampingnya.

“lihat itu.” tukas Sehun sambil mengarahkan telunjuk kanannya. Sontak yang lainnya langsung menoleh ke arah yang ditunjuk Sehun.

“mw…mwo? ya! mereka nekat sekali!!!” seru Krystal. Diamini oleh Kyungsoo. Sementara Sulli masih tercengang apa yang ia lihat.

aigoo, ini kan di tempat umum. Bagaimana bisa…”

Sulli memotong gerutuan Krystal dengan menyuruhnya diam.

Mereka berempat sedang melihat Eunji dan Chanyeol dari kejauhan. Chanyeol membelakangi mereka sementara Eunji terlihat menjinjitkan kakinya dan Chanyeol juga merendahkan kepalanya. Lantas membuat para Spies menyatakan kalau Chanyeol dan Eunji memang sudah memiliki hubungan khusus. Para Spies baru saja melihat mereka berciuman. Padahal, kenyataannya, Eunji dan Chanyeol tidak melakukannya. Gerak gerik mereka yang sangat kebetulan sehingga meyakinkan para Spies dengan pikiran mereka yang seperti itu.

Karena semakin penasaran, para Spies mendekati kedua target mereka.

“Sulli! Lihat! Eunji menyeringai pada Chanyeol! Sekarang dia menahan Chanyeol dengan memegang pinggang Chanyeol dengan kedua tangannya! Omo. Anak itu bisa nakal juga.” Tunjuk Kyungsoo.

Mereka berempat hanya bisa membalikkan tubuh mereka dan langsung keluar dari area Lotte World. Mereka sudah mendapat informasi akurat. Saatnya mereka pulang karena waktu yang menunjukkan pukul 7 malam.

End of Flashback

****

Eunji POV

Kenapa mereka diam saja? Apa mereka berempat tidak melihatku? Keluar begitu saja? Hwaiting? Kenapa Krystal membisikkan kata itu padaku? Aku mendengus kesal dan langsung duduk di tempat dudukku.

Yap. Bel jam pelajaran pertama sudah berbunyi. Pelajaran pertama hari ini ialah Sains. Hmm, apakah Chanyeol sudah membaca note yang kuselipkan di buku catatannya?

Aku merobek secarik kertas ketika guru Kang—pengajar sains—memasuki kelas kami. Lalu membuat beberapa kalimat di atas secarik kertas dari buku tulisku.

“Ya~ Park Chanyeol. Kau sudah membaca notes yang kuselipkan di bukumu?”

Aku meletakkan kertas itu di atas mejanya dengan tangan kiriku. Dia menoleh kebingungan padaku. Pandangannya mengatakan padaku, “apa ini?”

Kubalas dengan percakapan melalui tatapan mata kami. “sudahlah, jangan banyak bicara. Baca kertas itu baik-baik.”

Tak lama setelah kuberikan pandanganku kepadanya, dia melirik kertas itu lalu membacanya.

Tanpa menoleh ke arahku, dia langsung mengambil pulpennya dan menulis di atas kertas itu.

Dia mengembalikan kertas itu padaku setelah selesai menulis sesuatu.

“Sudah”

Apa? Hanya itu?

“apa arti tulisan di halaman terakhir buku catatanmu itu?” balasku di atas secarik kertas itu. 

“kenapa kau ingin tahu sekali? Kau ingin mengetahui diriku lebih dari ini? Ya? apakah aku benar? :o”

Kepercayaan dirinya bangkit kembali. Cih, Park Chanyeol. Kau gila. Belum sempat aku membalas kalimat barusan darinya di kertas itu, ia menarik kertas itu.

“kau harus banyak mengetahui apa yang ada di diriku ini. Arasseo?” dia membisikkan kalimat itu pelan padaku.

“tidak mau.”

“kau harus mau.”

“AKU BILANG AKU TIDAK MAU!!”

“….”

Omo.. aigoo.. semua murid di kelas ini dan begitu juga Chanyeol dan guru Kang yang sedang menulis di papan tulis, menatapku sambil tercengang.

“Sedang apa kau di situ, Byun Eunji? Kau tidur? mimpi buruk?” kalimat tegas dari Guru Kang bermunculan untukku. Malu, aku sangat malu.

“Aniyo, saem. Saya tidak tertidur, dan saya juga tidak mimpi buruk. Jeongmal mianhada, saem. Saya kurang konsentrasi. Mianhada.” Sesalku sambil menundukkan kepalaku. Tak berani melihat semua pandangan murid-murid di kelas ini. Menyeramkan! Ingin sekali rasanya aku langsung berada di kutub utara dan mati kedinginan di sana.

Terdengar olehku suara tawa milik Chanyeol. Walaupun ia tertawa sangat pelan karena berusaha menahannya, aku bisa mengetahuinya, mendengarkan tawaannya itu untukku. Karena dia persis duduk di samping kiriku.

Jam pelajaran sains sudah selesai dan guru Kang pun keluar dari kelas kamu. Ah, aku bosan sekali dengan pelajaran sains tadi. Entah kenapa aku kurang bersemangat. Aku melipatkan kedua tanganku di atas mejaku, lalu menyandarkan kepalaku di atas kedua lipatan tanganku. Kepalaku membelakangi Chanyeol. Malas sekali menatap namja itu.

“Byun Eunji! Mau mendengar musik?” aku mengacuhkannya.

“Euunjiiiii~” tangannya mengetuk-ngetuk pelan kepalaku. Ya! dia berani sekali! Aku berusaha meredamkan kekesalanku dengan menutup mataku.

“ah, dia tertidur.” Setelah mendengar kalimat itu, tiba-tiba aku merasakan sebuah telapak tangan mengelus-elus lembut kepalaku.

“ckckck, kau kemarin tidur jam berapa, huh? Sampai bisa-bisanya tertidur di dalam kelas.”

Tangan itu kemudian menghentikan gerakan tangannya di atas kepalaku. Aku mendongakkan kepalaku.

“YA! kau tidak tertidur?” serunya terkejut. Aku membalasnya dengan seringaianku walaupun aku tak menjamin Chanyeol akan bergidik ketakutan melihatnya.

Aku lantas menggeleng-gelengkan kepalaku. Aku tercengang ketika mendapati kedua tangan Chanyeol yang sedang memegang PSP. Aku menatapnya yang sedang asyik memainkan PSP itu secara terang-terangan.

“Ya!! semuanya!! Kenapa diam saja??? Ayo pindah ke ruang tata boga. Mau memasak di sini hah? Ppalli!” aku tersentak dengan teriakan seorang Kang Heechun, ketua kelas kami.

Aku langsung bergegas ke ruang tata boga bersama murid-murid kelas 3-2 yang lain. Tapi, herannya, aku tidak merasakan Chanyeol keluar kelas mengikutiku—karena ia biasanya selalu mengikutiku.

Aku membalikkan badanku. Dan yah, benar. Ia masih asik dengan dunianya sendiri. Lalu aku mendengus kesal padanya.

“Ya~ Park Chanyeol. Kau mau dihukum lagi dengan guru Jung yang cerewetnya itu minta ampun kalau ada murid yang telat memasuki ‘ruangan’nya?”

Dia hanya melirikku sekilas. Lalu memfokuskan diri lagi ke PSPnya itu. “kau duluan saja. Aku tidak bisa memasak.”

Aku keheranan. Padahal, dulu saat kami masih belum saling kenal, aku melihatnya sangat lihai menggunakan alat-alat dapur di ‘ruangan’ guru Jung. Dan saat guru Jung mencicipi masakannya, guru Jung memuji masakan Chanyeol.

“Ah, begitu? Arasseo. Baiklah. Aku tinggal dulu.”

“Chamkkan..”

Aku yang sudah membalikkan badanku dan melangkah ke arah pintu kelas, menoleh kembali padanya.

“wae?” tanyaku datar.

“ah, itu… eh… AISH jinjja!! kaja!” dia bangkit dari kursinya lalu menarik paksa pergelangan tanganku. Aish kebiasaannya seperti ini membuatku jengkel.

“YA! KAU! PARK CHANYEOL!!!!”

****

Ruangan guru Jung—yang bisa juga di sebut sebagai dapur yang besar, sudah dipenuhi murid-murid kelasku. Terdiri dari 4 barisan meja dapur. Meja dapur bagian kanan, kanan kedua, meja dapur bagian kiri kedua dan kiri. Di tiap baris, terdapat 1 meja dapur yang sudah dilengkapi oven, kompor mini, dengan kapasitas 2 orang. Sementara barisan di ruangan ini jumlahnya kalau digabung dengan meja dapur kanan, pas dengan jumlah murid di kelasku, 30 anak.

“baiklah anak-anak, sekarang kita akan membuat kue yang sedang populer. Rainbow Cake!” Seru guru Jung yang menjadi mentor dari pelajaran kali ini.

Suara bisikan murid-muridnya—termasuk aku, kebingungan. Apa? Rainbow Cake? Kue…pelangi? Ne??

“ah iya, apakah saya sudah membentuk kelompok untuk kalian?”

“belum, saem.” Jawab kami serempak.

“baiklah. Kalau begitu, saya akan membentuk kelompoknya sekarang. Satu kelompok terdiri dari 2 orang. Kalau begitu agar lebih mudah, rekan kalian ialah teman se-meja kalian.”

Aku tercengang. Karena…

Orang yang satu meja denganku adalah PARK CHANYEOL! AISHH Aku bisa gilaaa!!

“kita jadi partner? Baguslah kalau begitu. Kau tidak bisa jauh-jauh dariku lagi, Byun Eunji.” Tandasnya dengan tawa lebarnya. Aku hanya mendengus kesal.

“memangnya kau bisa memasak?” tanyaku ketus dengan raut wajah unmood.

“kau anggap aku apa? Aku bisa memasak!” serunya dengan gaya menantangku. Mwo? aish jinjja.

“kau bilang tadi, kau tak bisa memasak. Dasar pembohong.” Tandasku tanpa menoleh padanya, dia hanya menyengir dengan memperlihatkan gigi putih dan rapinya itu. Lalu aku terfokus dengan resep beserta bahan pembuatannya di atas meja ‘kerja’ kami.

Aduh, bahan-bahan macam apa ini? Kenapa dituntut harus memakai banyak jenis pewarna makanan? Aku jadi takut memakannya. Walaupun pewarna untuk makanan, tetap saja tidak aman kalau dikonsumsi berlebihan.

“wah, kita akan membuat pelangi di kue itu.” aku merasakan bahuku berat sebelah. Dasar. Tangan kanan Chanyeol mendarat di bahuku. Dia merangkulku. Tak lama setelah itu kuinjak kaki kanannya dengan kaki kiriku.

“AAAKHHH!!!”

“ada apa itu?? Park Chanyeol? Gwaenchanhayo?” tanya guru Jung pada Chanyeol yang sekarang tangan kanannya sedang memeluk kaki kanannya. Sementara tangan kirinya mengelus-elus telapak kaki kanannya yang kuinjak tadi.

“gwaen…gwaenchanhayo, saem.” Aku menatapnya yang sedang kesakitan. Cih. Kau berlebihan, Chanyeol-ah.

Guru Jung kembali ke depan dan menghadap ke arah kami. “anak-anak, kalian sekarang boleh memakai apron yang ada di atas meja kelompok kalian. Ada dua apron putih di situ. Setelah itu, kalian perhatikan resep dan langkah-langkah membuat Rainbow Cake. Kalian harus perhatikan juga takaran-takaran di resep itu. ah iya. lebih baiknya lagi, kalian buat 2 Rainbow Cakes. Yang satu untuk di nilai lalu untuk kalian, dan karena saya baik hati, kue yang satunya lagi boleh kalian bawa pulang ke rumah kalian. Agar adil dibagi setengah untuk anggota kelompok kalian yang lain.” Penjelasan guru Jung membuatku senang. Wah, dilihat dari resepnya saja sudah terpikir menggiurkan untukku—walaupun nanti kuenya berwarna-warni.

“Kita buat satu saja. Buat dua kue itu merepotkan. Membuat satu kue saja kita belum tentu berhasil.”

Senyumanku seketika tenggelam. Aku mendelik tajam pada namja di samping kiriku ini.

“apa maksudmu? Aku ingin membuat dua kue. Kan lumayan untuk cemilan kita belajar di rumahku nanti.”

“Byun Eunji tak punya modal untuk membuat cemilan sendiri di rumah. Hahahaha.” APA? YA! PARK CHANYEOL!

Aku berusaha membuat tampangku semenakutkan mungkin. Lalu menatap tajam matanya.

“eiiii, Byun Eunji menyeramkan. Hiiy..” astaga! Dia berlagak sok takut padaku? Dasar namja ini. Sikapnya selalu dibuat-buat. Sok imut!

Masih dengan perasaan kesal membalut hatiku, kami membuat kue itu sesuai dengan langkah-langkah yang ada di resep.

Aku sedang memegang wadah cetak berbentuk lingkaran berdiameter 20 sentimeter. Tepung, telur, dan yang lainnya sudah ku aduk dengan mixer. Lalu aku berniat mengambil pewarna makanan berwarna merah dan menuangkannya ke wadah adonan, tapi malah terdahulu dengan tangan Chanyeol.

“mau apa kau?” tanyaku sinis menatapnya, pastinya dengan mendongakkan kepalaku.

“menuangkan pewarna ini ke dalam adonan. Wae?” tanyanya polos. Aish tampangnya kalau lagi polos-polosnya, membuatku ingin mencubit-cubit gemas wajahnya itu.

“kau yakin hasilnya memungkinkan kita mendapat nilai bagus kalau kau yang menuangkan pewarna itu?”

“tentu saja sangat memungkinkan.” Jawabnya dengan percaya diri. Cih.

“yasudah, tuangkan sedikit-sedikit dulu.” Titahku padanya. Orang yang ku perintahkan sikapnya malah seperti orang yang tak pernah membuat kue. Ckckck. Mungkin dia berbohong lagi kalau dia bisa memasak.  Awas saja kalau dia menuangkannya berlebihan.

“sedikit lagi” titahku lagi ketika dia sudah menuangkan pewarna itu ke dalam wadah adonan

Pluk…

APA…..

PARK CHANYEOL!!!!!

Chanyeol POV

“sedikit lagi” titah Eunji lagi ketika aku baru saja menuangkan pewarna itu ke dalam wadah adonan

Pluk…

Astaga… kulihat raut wajah Eunji memerah memendam kemarahan yang amat-sangat.

“mianhae Chanyeol-ah. aku tidak sengaja!” seru Kang Dongjin, temanku yang duduk di samping kiriku—ingat Eunji duduk di sebelah kananku. Dia tak sengaja menyenggol tanganku yang jelas-jelas sedang berkonsentrasi. Matilah kau sekarang, Park Chanyeol.

“Park Chanyeol….”

“mianhae. Lagipula tadi Dongjin yang menyenggolku. Tapi dia tidak salah, dia tidak sengaja.” Aku harus mencegahnya untuk mengeluarkan semua kemarahannya.

“tarik napasmu dalam dalam…” kemudia Eunji menarik napasnya dalam.

“hembuskan perlahan…” ia menghembuskannya perlahan.

“tarik na..”

“KAU PIKIR DI SINI TEMPAT YOGA HAH??” astaga, gendang telingaku lama-lama bisa pecah kalau ada di sampingnya terus. hal yang selalu ia lakukan hanya teriak dan teriak tak jelas.

“Eh ada apa di situ?” seru guru Jung. sontak aku langsung panik melihat Eunji yang sudah seperti dirasuki roh yang dulunya sering marah-marah mungkin. Agar tak diketahui guru Jung, aku mendorong kepala Eunji ke dekapanku. Dia memberontak, tapi kutahan kepalanya dan pinggangnya agak tak bisa bergerak lagi. Dan akhirnya dia diam.

Jantungku berdegup kencang. Aigoo, baru memeluknya saja sudah gugup begini, bagaimana menyatakan perasaanku padanya? Aduh kau benar-benar payah Park Chanyeol.

Rasanya pelukan ini tak mau kuakhiri begitu saja. Tapi, Eunji sudah bergerak dan mungkin dia risih terlalu berlama-lama dipelukanku.

“jangan marah lagi.” Titahku sambil menjitak kepalanya.

Sedetik..

2 detik..

Eh?  Di mana balasan jitakan kepala darinya? Pergi ke mana jitakan itu? aku yang tadinya sudah fokus kembali dengan adonan kue yang kemasukan botol kecil pewarna penuh dengan warna merah, langsung mendelik ke arah kananku, arah di mana Eunji berada.

Posisinya sama sekali tak berubah. Dia membatu ya? aku mengguncang-guncangkan kedua bahunya dengan kedua tanganku yang sudah terlumuri pewarna makanan—dikarenakan aku mencoba mengambil botol kecil pewarna itu dan jari-jari tangan kananku berwarna merah sekarang.

Dia baru terjaga dari posisi batunya. Dia langsung membalikkan badannya dan fokus membuat ulang adonan Rainbow Cake. Sebenarnya agak kasihan juga sih melihat dia yang serius mencoba membuat kue ini. Ckck.

Kami saling membagi tugas. Eunji membuat adonan berwarna merah, kuning, ungu dan nila. Sementara aku membantunya membuat adonan berwarna hijau, biru dan jingga.

Setelah sukses memasukkan kue pertama ke dalam oven yang terdapat di meja ‘kerja’ kami, selanjutnya kami membuat Rainbow Cake kedua. Kata eunj sih, untuk cemilan di rumahnya nanti saat kami berdua belajar di rumahnya.

Ah, tak terasa, nanti malam ialah malam natal. Aku harus mempersiapkan kado untuk kedua orangtuaku. Ya walaupun kami tinggal di tempat yang berbeda-beda, sebenarnya aku rindu pada mereka. Dan juga, kado natal untuk Eunji.

1 setengah jam kemudian…

YAP! Kedua Rainbow Cake kami sudah jadi. Yah walaupun tak sesempurna milik Kang Dongjin dengan partnernya Lee Soojun yang mendapat nilai A+, kami berdua cukup senang karena mendapat B+.

“Chanyeol-ah! ke mari! Bantu aku mengangkat kue yang sudah dinilai ini.” Setelah mendengarnya, aku melangkahkan kakiku ke arah Eunji yang sudah merentangkan kedua tangannya menghadap ke arahku. Diatas kedua telapak tangannya terdapat kue pertama kami.

Tapi…

Aku tersandung kaki seseorang. Dan…

Bruk…

Oops…

Aku menindihnya. Kue yang ia pegang tadi kini hiasan krimnya sudah tidak berbentuk seperti layaknya sebuah kue, dan berada tepat di samping wajahnya. Wajahku kini lengket, karena sempat terkena krim yang menjadi penghias di Rainbow Cake kami yang malang ini.

Aku mengangkat kepalaku dan menatap wajahya. Ia memejamkan kedua matanya erat-erat. Mungkin karena ia merasakan kepalaku sudah pergi dari pundaknya, ia membuka kedua matanya. Kini aku menahan beban tubuhku dengan kedua sikutku agar aku tak menindihnya lagi.

Mata kami bertemu. Cukup lama. Tak lama setelah itu, aku ingin ‘berbagi’ krim yang ada di wajahku ke wajahnya. Kuambil krim yang ada di ujung hidungku lalu menempelkannya ke ujung hidung Eunji. Sesudah itu, aku mencubit hidungnya dengan gemas dengan tangan kananku. Dia tidak bisa berhenti menggerakkan kepalanya. Jadi krim yang hanya kutempelkan di ujung hidungnya menjadi menyebar ke pipinya dan bibirnya. Tapi sedari aku jatuh, ia tak mengucapkan sepatah katapun.

Kedua mata kami bertemu lagi, dan…

Pluk…

Astaga…

Eunji POV

Apa-apaan namja ini?? Sudah menindihku, menempelkan krim kue ke hidungku, lalu sekarang dia mencubit hidungku. Aduh, hidungku pasti sudah memerah.

Dan sekarang apa lagi? Dia menatapku? Mau mencoba menggodaku, Park Chanyeol? Eh tapi, tatapannya itu, benar-benar membuatku gugup. Ah tapi…

Sudah kuputuskan…

Pluk…

Aku meraup krim dari lapisan paling atas kue pertama kami—yang untungnya sudah dinilai—yang ada di samping wajahku dengan tangan kananku ke wajahnya. Dan sekarang wajahnya dipenuhi krim berwarna putih itu. Rasakan kau.

“YA!!” serunya. Karena jarak wajah kami yang dekat, aku hanya bisa menutup kedua mataku dan menjauhi wajahnya dari wajahku dengan kedua telapak tanganku. Lalu menjauhi tubuhnya dari tubuhku. Saat kami sudah bangkit dari posisi kami sebelumnya, bel istirahat berbunyi.

“baiklah, silahkan nikmati Rainbow Cake kalian!” seru guru Jung pada kami semua. Semuanya terlihat gembira, sementara aku dan namja ceroboh ini…

“Kuenya berantakan,”

“Hancur,”

“Lebih pantas dijadikan makanan kucing. Ini untukmu, aku tidak mau. Kau lebih pantas memakannya.”

“YA! Bocah tengil! walaupun tampilannya seperti ini, tapi rasanya ku jamin enak! Sudah susah-susah kita membuatnya lalu kita buang begitu saja? Bodoh. ” seru Chanyeol yang membuat kepalaku yang tadinya menunduk atas kepasrahanku, menjadi menoleh ke arah Chanyeol.

Namja ini… ingin sekali aku lempar kue itu ke wajahnya.

Chanyeol mengambil kue itu lalu mengangkatnya. “ayo kita makan. Percuma kalau kita buang. Jangan kau biasakan membuang makanan yang sebenarnya masih layak untuk di makan. Kau tahu tidak? Banyak orang yang ingin memakan hanya sesuap nasi. Kau? Kue selezat ini ingin kau buang hanya karena penampilannya saja yang hancur.”

Eiii? Park Chanyeol? kau kenapa? Kenapa ia bersikap dewasa lagi? Kau ternyata memang punya kepribadian ganda. Hiyy aku jadi takut.

“aish baiklah. Tapi aku tidak jamin rasanya enak atau tidak.” Tandasku sambil mendelik padanya.

Lalu, Chanyeol tersenyum.

Dheg~ dheg…

Astaga… senyumannya… HENTIKAAN PARK CHANYEOL!!

“kujamin rasanya pasti enak. Siapa dulu yang membuatnya?~” tandasnya lagi sambil tersenyum.

Aku malu, kue yang kubuat untuk pertama kalinya dipuji Chanyeol. EH? Kenapa aku malu? Biasa saja kok. Aku memang pandai membuat kue—aku tidak yakin sebenarnya.

“….Park Chanyeol yang dibantu oleh asistennya Byun Eunji. Kalau aku yang membuatnya, dijamin pasti enak.” Sambungnya.

APA? Dia memuji dirinya sendiri?? Dan apa??? Aku adalah asistennya? Kuketuk kepala Chanyeol sekilas. Alhasil dia meringis kesakitan. Rasakan. Ah aku tambah malu, mengira kalau dia memujiku. Cih. Dasar Park Chanyeol. hhhh..

Tanpa menunggu lagi, kami membawa Rainbow Cake yang sudah kami potong-potong ke kelas kami. Kami membaginya sama rata. Ketika aku sudah duduk di kursiku, aku memandang kue buatanku sendiri. Ah iya, Rainbow Cake kedua kami sudah ku bungkus rapi. Aku sebenarnya sedikit kecewa karena tidak seorangpun yang mengucapkannya padaku. Tapi yasudahlah. Eomma, appa dan Baekhyun bahkan tidak mengucapkannya padaku.

“kenapa kau belum memakan kuemu?” aku langsung menoleh ke samping kiriku. Kulihat Chanyeol sudah memakan setengah porsi dari jatah kuenya. Cepat sekali dia memakan kue itu.

“belum. Bentuknya bagus ya. seperti pelangi. Juga ada aroma buah-buahan di kue ini saat aku menghirupnya. Baiklah aku akan memakan kue buatanku!”

“enak saja buatanmu. Buatanku!”

“apa? Aku tidak salah dengar? Ini buatanku tahu!”

“aish baiklah itu buatan kita berdua. Sudah kau makan saja! Mengomel terus dari tadi pagi.”

Aku kesal. Terpikir ide jahilku yang turun pula pada Baekhyun. Aku mengambil satu potong Rainbow Cake milikku, lalu aku oles dengan paksa kue itu ke wajahnya. Ahahaha wajahnya sekarang berwarna merah, hijau dan ahahahaha…

“Eunji!! Tunggu pembalasanku!!”

Eh apa? Pembalas… AAKHH!

Wajahku kini lengket… arghh berani kau membalasku hah?

Dan kami akhirnya berakhir dengan wajah penuh krim, warna-warni, dan mungkin semut-semut akan tertarik dengan kami. Aaakh seragamku jadi kotor terkena krim kue itu. Begitu juga dengan seragamnya.

“Ya! kalian berdua kenapa… aishh cepat bersihkan wajah dan seragam kalian!” aku mendelik. Cih, ketua kelas kami, namja yang cerewet.

Aku dan Chanyeol keluar dari kelas menuju toilet. Chanyeol ke toilet pria dan aku tentu saja ke toilet wanita.

Aku mencuci wajahku yang berminyak karena krim kue itu di westafel toilet. ah rasanya tidak enak! Mukaku jadi over lembab begini. Dasar Chanyeol. arghhh. Setelah itu kukeringkan wajahku dengan tissue yang ada di pojok westafel. Ah begini lebih baik. Kusingirkan juga krim-krim yang menempel di seragamku.

****

Akhirnya bel pulang sekolah berbunyi. Aku akan mengambil kue kedua yang kuletakkan di lemari pendingin yang ada di ruangan tata boga.

“eh kau mau kemana? Tunggu aku.” Aku mendeliknya yang masih memasukkan buku-bukunya ke dalam tas punggung hitamnya.

“aku mau mengambil Rainbow Cake kedua. Aku letakkan di ruangan tata boga.”

“aku ikut.” Tandasnya sambil memakai tas punggungnyanya lalu berjalan mengikutiku. Aku hanya bisa mendengus kesal.

Sesampainya kami di ruangan tata boga—bukan hanya kami, tetapi juga murid-murid yang meletakkan kue mereka di ruangan ini—kami mengambil kue kami yang sudah terbungkus rapi.

“memangnya kue ini untuk apa sih? Sepertinya fungsi kue ini melebihi dari sekedar cemilan yang kau katakan tadi.” tanya Chanyeol saat perjalanan kami menuju gerbang sekolah.

“nanti kau juga tahu sendiri.” Jawabku singkat.

Kudengar dia mendengus kesal. Aku mendelik padanya. “jadi, belajar dirumahku lagi?”

Dia menganggukkan kepalanya.

****

“eomma! Aku pulang!” seruku setelah membuka pagar rumahku.

“ah Eunji. Ah ada Chanyeol juga. Ayo masuk.” Eomma mempersilahkan kami masuk.

Aku melihat eomma yang kebingungan. Eomma memperhatikan apa yang sedang kutenteng dengan tangan kananku.

“apa yang kau bawa, Eunji-ah?”

“eomma, apakah eomma tidak ingat?” aku menunjukkan wajahku yang sedih pada eomma.

“eh? Ada apa sih sebenarnya?” tanya eomma padaku. Chanyeol yang kuyakini dia pasti juga kebingungan. Aku pun membisikkan sesuatu pada eomma.

“AAAH! Itu… astaga ibu lupa… saeng…”

“EOMMA! Jangan sekarang!” seruku memohon pada eomma, eomma kebingungan, begitu juga dengan Chanyeol.

“eh? Wae?” tanya eomma padaku.

“nanti saja kalau semuanya sudah berkumpul..” pintaku.

“ah baiklah, eomma! Ini kuenya. Eomma saja yang mempersiapkan semuanya. Chanyeol, ayo ikut aku.”

Kami berdua akhirnya menaiki tangga dan memasuki kamarku.

“wah, kamarmu sudah dihiasi juga. Pohon natal kecil yang ada di atas nakasmu sangat lucu.” Aku mendelik ke Chanyeol yang kagum pada pohon natal mini di kamarku.

“oh iya, mana kuenya? Katanya buat cemilan kita?” sambungnya. Aku hanya bisa menyengir kuda.

“ehehe, nanti saja kita memakan kue itu. kita belajar dulu oke.”

“eh iya. sudah tahu jawaban yang kutanyakan padamu waktu itu?”

“Ne? Pertanyaan apa?” tanyaku tanpa menoleh padanya. Karena aku sedang fokus pada buku catatanku. Ya, aku menyalin buku catatan matematika Chanyeol ke buku catatan matematikaku. Kalian kan sudah tahu, aku malas mencatat di kelas.

“adakah perbedaan dari planet mars dan bumi?”

Tanganku yang sedang kugunakan untuk mencatat di atas kertas, membeku seketika. Langsung kuangkat kepalaku dan menatapnya.

“ayolah sudah kubilang mereka tidak ada perbedaannya. Mereka itu sama-sama sebuah planet, letaknyapun bersebelahan. Apa sih perbedaannya?” aku mendelik kesal padanya.

“kali ini aku menyerah. tak tahan dengan ocehanmu itu. baiklah akan kujelaskan. Perbedaan dari planet mars dengan bumi ialah permukaannya. Permukaan mars itu kering seperti gurun dan hampir seluruh permukaan bumi ialah laut yang berarti kaya akan air. Udara di mars mengandung sedikit oksigen sementara bumi sebaliknya.”

“apa? Aku tidak mengerti. Kalau menjelaskan itu tuh tak usah tergesa-gesa seperti itu. aku jadi tambah bingung kau tahu itu.”

“astaga…” kulihat dia menepuk dahinya sendiri. Aku tertawa setan melihatnya stres seperti ini.

“baiklah. Anggap aku ini manusia yang ada di bumi…”

“oh berarti kau ini virus yang ada di bumi ya?”

“Eunji….” aku terkejut, dia mendekatkan wajahnya padaku. Astaga.

“berhenti menyela penjelasanku…” tatapannya… hiiy aku takut.

“Park Chanyeol menyeramkan hiiy…”

Tuk

Dia mengetukkan penggaris yang sedang ia pegang ke kepalaku.

“Appo!!” seruku langsung membalasnya dengan jitakanku. Dan dia hanya bisa diam dan menarik napasnya dalam-dalam.

“anggap aku ini manusia yang tinggal di bumi. Dan aku ingin tinggal di mars. Bisakah itu terjadi?”

“tentu saja tidak.”

“lalu aku akan bagaimana?”

“kau akan mati kalau tinggal di planet mars. Ingin sekali aku menjadi planet mars. Kau akan mati di tanganku ahahaha.”

“Byun Eunji mengerikan. Hiyy…”

“sudahlah, abaikan.” Tandasku datar.

“Eunji-ah!! Baekhyun dan appa-mu sudah pulang. Ayo turun ke bawah. Chanyeol juga turun ke bawah.” Aku mendengar seruan eomma dan langsung turun ke bawah dengan menarik tangan Chanyeol.

“wah, ada apa ini? Kenapa di meja ruang keluarga penuh dengan hidangan lezat seperti ini? Dan… eh? Rainbow Cake?” Chanyeol langsung mendelik padaku. aku hanya bisa membalasnya dengan tersenyum.

Kami semua langsung duduk diatas bantal duduk yang sudah tersedia di ruang keluargaku. Duduk mengelilingi meja persegi panjang yang di atasnya sudah terpampang makanan-makanan lezat buatan eomma dan juga Rainbow Cake buatanku dan Chanyeol.

Saengil chukkhahamnida! Saengil Chukkhahamnida! Saengil Chukkha uri Eunji, saengil Chukkahamnida!!! Wohooaa.” Nanyian dari keluargaku membuatku terharu. Sementara Chanyeol terlihat masih kebingungan.

“selamat ulangtahun yang ke 19 tahun, noona-ku yang galak. Semoga cepat mendapat pacar idamanmu, sehat selalu, dan semoga nanti lulus dengan nilai yang baik.” Tadinya aku kesal dengan kalimat pembuka yang diucapkan Baekhyun. Tapi aku jadi terharu dengan permohonannya. Eh.. apa? Semoga cepat mendapat pacar?? Dasar anak ini memalukanku saja!

Eomma dan appa mengamini permohonan Baekhyun.

“Eunji, jadi kau ulang tahun sekarang?” seketika aku mengangguk-anggukkan kepalaku setelah mendengar pertanyaan Chanyeol.

“aish mian aku tidak tahu. Saengil chukkhaeyo. Aku mengamini permohonan Baekhyun saja. Hahaha.”

Dasar namja ini. Membuatku kesal saja.

“ayo kita rayakan ulang tahun noonaku yang cantik ini! Noona! Hwaiting!!”

****

Author POV

Di balik kemeriahan perayaan sederhana ulang tahun Eunji, seorang namja terbangun dari mimpinya,  ia menikah dengan yeoja yang ia cintai. Di hadapan pastur, calon anae-nya yang memakai gaun berwarna putih gading nan indah dan elegan. Sementara dirinya sendiri memakai  tuxedo dengan warna senada dengan gaun yang dipakai calon anae-nya. Di hadapan Pastur, mereka mengucapkan janji-janji suci yang mengikat di pernikahan mereka. Setelah itu, sepasang suami istri itu kini berhadapan. Kris membuka tudung kepala tembus pandang yang dipakai anae-nya. ya, ia melihat wajah yeoja yang sangat ia cintai itu, Byun Eunji. Bukan Byun Eunji, tetapa Eunji Wu. Ia memegang dagu Eunji dan mencium bibir istrinya hangat. Semua tamu undangan di pernikahan itu bertepuk tangan dengan meriah.

Saat itu mimpinya berakhir dan Kris terbangun dengan raut wajah terkejut.

Kris terduduk dari tidurnya dan mengacak rambutnya kesal. Bagaimana bisa dia bermimpi seperti itu? kenapa ciuman itu terasa nyata sekali?

Terlintas pikirannya untuk mengajak yeoja itu kencan lagi. Tapi ia bingung. Bagaimana mengajaknya lagi setelah mendengar desas-desus di SMA Shin bahwa yeoja yang ia cintai itu telah memiliki hubungan dengan namja itu?

“ajak, tidak, ajak… arggghhh…” Kris menggerutu kesal pada dirinya sendiri, ia kesal dengan dirinya sendiri. Ia masih saja gugup jika mata mereka bertemu, ya yeoja itu. karena yeoja itu ia gugup.

Mengajaknya kencan waktu itu, merupakan pengalaman pertama Kris berkencan dengan wanita. Apalagi saat mengajak yeoja itu kencan ke kebun binatang bersama Muyeol, para pengunjung kebun binatang mengira bahwa mereka bertiga ialah sebuah keluarga kecil yang bahagia.

Kris tersenyum getir. Seandainya mimpi yang ia mimpikan tadi itu akan menjadi kenyataan. Andai saja setelah pernikahan itu, mereka memiliki seorang aegi yang manis dan menggemaskan.

Kris memegang bibirnya dengan ibu jari kanannya.

“mimpi yang sangat manis, namun akan menjadi sangat pahit jika itu benar-benar tidak terjadi padaku suatu saat nanti…”

****

Chanyeol POV

Ah akhirnya sampai juga di apartemenku ini. Hah, malam natal sendirian lagi. Aku meletakkan mantelku di sofa ruang tamu. Aku memasuki kamarku dan merebahkan tubuhku ini ke ranjangku.

Ah, jadi aku akan mati kalau aku pergi ke Mars?

Ya, aku bagaikan manusia yang mendesak ingin tinggal di satu tempat, yaitu planet mars. Dan dia bagaikan planet mars yang rasanya cukup sulit bahkan tidak memungkinkan untukku  memasuki ruangan di hatinya.

YA! kenapa kau jadi putus asa begini, Park Chanyeol? kau harus semangat. Kau pasti bisa. Semoga, aku bisa menjadi bagian dari hidupnya. Menjadi orang yang istimewa di sisinya.

Kuharap, kisah cintaku ini tak berakhir menyedihkan, ya, semoga.

To Be Continued

Annyeong reader-deul. Akhirnya aku selesai sudah menyelesaikan part 5 ini. *lap ingus + keringet* Sebelumnya aku minta maaf yang sebesar-besarnya untuk reader-deul, karena part ini rasanya kurang menarik ya? bagian Krisnya juga dikit. Aku berusaha semaksimal mungkin untuk menulis part ini. Rasanya bener-bener ketantang buat nunjukin karyaku yang terbaik untuk kalian yang stalk FF ini dari part 1 sampe part 5 ini.

Aku pengen nanya sama kalian, bisa nggak kalian nebak, nanti Eunji jadinya sama siapa? Kelihatannya nih, si Kris merasa ketantang buat dapetin si Eunji. Dan Chanyeol, kalo diperhatikan lagi setelah mendengar pernyataan Eunji bahwa dia gabisa tinggal di Planet Mars. (author: yaiyalah mau mati lo? *plak* ini perumpamaan yang dikasih Chanyeol buat Eunji. Jadi ga langsung nyatain pernyataan yang sebenarnya ke Eunji)

Padahal maksudnya Chanyeol, kalo dia ngomong ke intinya langsung ke Eunji, ya seperti ini lah kiranya : “gue bisa gak tinggal di hatilo?” *bahasa gaul* *plak* si Eunji malah dengan bangganya + senyuman setannya bilang “senangnya kalo lo mati di tangan gue” *digaplok exotic*

Apakah sudah jelas? Ada yang mau tanya lagi?

AH IYA! aku jadi lupa tujuan utama ngomong disini, aku mau adain polling nih.

Kalian Lebih Setuju Eunji sama Chanyeol atau Kris? Sebelum aku lanjut ke part 6, aku pengen tau kalian lebih sukanya ke siapa, jadi aku bisa fokusin ceritanya sama couple pilihan kalian, biar lebih jelas kisah cinta couple yang terpilih yang paling banyak dari kalian.

Soalnya, waktu di part 4 banyak yang milih Eunji sama Chanyeol dan juga banyak yang milih Eunji sama Kris. Aku kan jadi bingung mau ngefokusin ceritanya ke siapa. Masa mau fokusin cerita ke dua-duanya? Kan jadi ga efektif gitu *halah* *abaikan* dan Eunji keenakan banget deket-deket sama dua tiang listrik ganteng-ganteng yang jadi rapper di exo-k ama exo-m itu. *author iri, kalian juga iri, banyak komen di ff ini para reader-deul pada iri*

Jadi, aku tunggu suara dari kalian ya, kalau udah aku hitung-hitung suaranya, aku bakal langsung bikin part 6.

DAN jangan lupa, Comment and Likenya ya.

KRITIK dan SARAN aku BUTTTTUUUUH BANGET!!!!

Aku butuh saran dan kritik dari kalian, bagusnya ntar couple yang kalian pilih romantisnya gimana, yang bikin kalian senyum-senyum sendiri, kalian tulis di komen kalian. Jadi aku bisa masukin ide kalian di next part.

Karena di part 6 tentang natal Eunji, Chanyeol, Kris, jadi bagusnya ama kalian gimana? Terserah imajinasi kalian yang bikin kalian senyum-senyum, tulis aja. Aku seneng loh BAHKAN seneng BANGET kalau ada readers yang ngasih ide ide dan imajinasi mereka untuk ff aku.

I can’t write this Fanfic without your supports, My beloved readers.

LOVE YOU!! :*

-Joo-

Advertisements

168 responses to “Love Button [Part 5]

  1. oh, jd ternyata pertanyaan chanyeol itu semacam kode ya? tp sungguh, deh, chingu. klo aku jd eunji, kayaknya aku jg gak akan paham #plak hueee~
    couple fav : chanji (?) chanyeol eunji! uwoooo! xD

    uh, bingung mau bilang apa lagi ._.v
    aku lanjut aja, deh, chingu xD

  2. pilih kris eunji! Harus mrka!
    Aku sukaaaa, aku pgn bc ff yg chanyeolny skit hati stlh brsush pyah, krn kan emg awalny eunji ktmu ny sm kris dluan kan!

  3. Suka chanyeol-eunji >♡<
    Baguus ceritanya,bikin gregetan jg sii eunji ga ngeh2 sma kode yg dikasih chanyeol.. lanjut baca yahh chingu..
    Mian baru komen di part 5.. hhahahaha XD

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s