Love is the Greatest Flower (Part ::: 7)

Mi Young

Author : Sasphire

Main cast : Lee Jin Ki, Han Mi Young, Kim Joon Myun

Ratting : Teen, General

Genre : Romance

Length : Chaptered

Preview

Teaser : ( a | b | c )

Part : 1 | 2 | 3 | 4 | 5 | 6 | 7 | __

Contact : FB | Twitter | Wallpaper Gallery | Blog

Many Typo :3
Makasih untuk Daniel…. buat covernya… XD aku bner2 pengen kasih yang terbaik buat nih FF, makanya aku buat nih cover beda.. pake manga 😀
ok.. temanya winter, soalnya Miyoung kan lagi sedih tingkat akut tuh :3
ok… check this out ^^

Note : baca cuap2 author di akhir yah….

~*Normal Pov*~

“uhm…. Minho….” Ucap ibu Miyoung saat makan malam berlangsung.

“ya?”

“bisa kau panggilkan Miyoung? Sudah 3 hari ini…. Dia tidak mau makan bersama kita….”

“iya….”

Saat minho beranjak berdiri, Siwon menggenggam erat lengan Minho.

“Apa hyung??!!”

Siwon berdiri, lalu mendudukkan Minho secara paksa.

“biar aku saja…. Kalau kau yang mengajaknya turun, sepertinya malah memperburuk keadaan….”

Minho hanya diam.

Siwon pun bergegas menaiki tangga rumahnya.

Iapun berhenti tepat di depan pintu kamar Miyoung, lalu mengetuknya.

“Miyoung….” Panggilnya lembut. “Ayo…. Makan malam….”

Tak ada respons. Berkali-kali ia mengulang hal yang sama, tetap tak ada yang menjawab.

Akhirnya, Siwon berani membuka pintu kamar Miyoung.

Tak ada siapapun.

“Apa di atas atap ya?”

Siwon bergegas pergi ke tempat Miyoung melampiaskan kekesalannya. Tempat dimana ia bisa Melihat bintang di angkasa, atau melihat gemerlap lampu dari rumah penduduk.

“Miyoung….”

Sekali lagi, tak ada siapapun disana. Siwon mendengus kesal.

“dia kemana sih?”

Iapun pergi ketempat yang sedikit tersembunyi. Hanya anak muda saja yang mau masuk keruangan itu. Tempat kecil yang sunyi, namun lumayan untuk dijadikan tempat menenangkan diri.

Loteng.

Siwon sedikit membungkukkan badan saat melewati bibir pintu. Ia memasuki ruangan kecil dengan nyala lampu yang begitu redup. Kali ini ia menemukan sosok Miyoung, di pojok ruangan.

“Miyoung….” Panggil Siwon dengan lembut sambil berjalan mendekati adik tirinya itu. Rasa kesal yang tadi ada di hatinya berubah menjadi rasa iba melihat adiknya terlihat begitu tertekan.

“Ayo makan malam….”

Pandangan mata Miyoung yang sedari tadi kosong kini menatap mata Siwon. “oppa….”

Ia menyodorkan sesuatu pada Siwon. Sebuah kertas yang sudah lusuh dan kucal.

“baca….” Ucap Miyoung dengan suara serak. Ia sudah terlalu banyak menangis.

Siwon terdiam sesaat, lalu membacanya.

Beberapa saat kemudian, Siwon terkejut atas isi tulisan yang ada di kertas itu.

“i… ini….” Siwon tak berani meneruskan kata-katanya, takut membuat adiknya kembali merasa sakit hati, walau sebenarnya adiknya masih merasakan kecewa yang luar biasa dalam.

“Surat dari Dewa Jupiter-ku saat ia akan berangkat ke Paris….” Mata Miyoung kembali berkaca-kaca setelah berkata seperti itu.

Siwon  jongkok di depan adiknya yang duduk di lantai sambil menyandarkan punggungnya di dinding. “Miyoung…. Jangan dipikirkan….”

“bagaimana jika dia kira aku tidak mencintainya karena kemarin aku tidak mengantarnya pergi? Bagaimana jika ia tak kembali lagi kesini karena ia pikir aku tidak mencintainya? Bagaimana oppa??”

Miyoung sudah terisak. Kedua tangannya mencengkeram kuat kaos bagian depan Siwon. “Bagaimana?”

Perlahan, air mata Siwon meleleh. Belum pernah ia melihat adiknya terlalu histeris seperti itu. “Miyoung…. Tenanglah….”

“bagaimana aku bisa tenang oppa??” ujung kepala Miyoung kini jatuh ke dada Siwon. “kenapa selalu aku? Kenapa selalu aku yang dapat sial?? Kenapa?”

“Miyoung….” Siwon bingung harus berkata apa. Dia tak pernah merasakan rasa sakit hati seperti yang dialami Miyoung secara bertubi-tubi. Ia memilih diam. Ia memeluk Miyoung, lalu membelai rambut Miyoung, setelahmnya menepuk punggungnya, berusaha menenangkannya.

“bagaimana jka setelah ini aku tak bisa bertemu lagi dengan Jupiter-ku??” Miyoung masih tenggelam dalam kesedihannya.

“aku bisa kehilangan semuanya….” Kali ini Miyoung berbicara dengan suara lirih. Namun setelahnya, isak tangisnya semakin keras.

“Padahal aku sangat mencintainya oppa… bagaimana ini?”

Siwon semakin memeluknya erat.

~***~

“Minho….” Ibu Miyoung kembali memanggilnya.

“Ya?”

“panggil kakak dan adikmu…. Sudah lebih dari satu jam mereka tidak turun….”

Kali ini Minho menghela nafas. “iya bu….”

Saat ia menaiki tangga, ia sibuk merangkai kata untuk mengucapkan kata maaf pada Miyoung.  Hingga tanpa sadar, ia sudah berada di depan pintu kamar Miyoung.

Sama seperti Siwon. Ia tak menemukan Miyoung. Iapun langsung berlari ke loteng. Takut jika Miyoung menemukan surat yang ia sembunyikan di loteng.

Saat di loteng, langkahnya yang terburu-buru tiba-tiba berhenti. Ia melihat Miyoung dan kakaknya, Siwon, tertidur pulas di sudut ruangan. Kepala Miyoung bersandar di pundak Siwon, dan kepala Siwon berada di atas kepala Miyoung. Mata keduanya terlihat sembap.

Minho berjalan menghampiri mereka berdua, yang tertidur sambil duduk karena terlalu lelah memikirkan kesedihan Miyoung.

Minho melepas jaketnya, lalu menyelimuti keduanya dengan jaketnya.

Saat ia membalikkan badan, ia terkejut.

Ia kembali menatap kedua orang itu. Dilihatnya surat dari Joonmyun berada di tangan kiri Siwon. Ia tercekat.

“mereka sudah tahu….”

~***~

Esoknya….

Di meja makan, saat sarapan pagi, akhirnya Miyoung kembali bergabung di antara mereka.

“Miyoung…. Akhirnya kau turun juga….” Ucap ibu Miyoung sambil tersenyum cerah. Miyoung menanggapinya dengan senyum tipis.

Walau begitu, Ibu Miyoung heran pada anaknya. Kenapa hari itu dia memakai seragam sekolah,padahal sekarang sedang libur akhir semester?

Siwon pun berjalan menghampiri meja. Saat ia menarik kursi, Miyoung langsung mendekap lengan Siwon. Siwon menoleh padanya.

“oppa duduk di sampingku ya….”

Siwon tersenyum dan mengangguk. “ya….”

Tempat duduk yang biasa di duduki Minho kini diduduki Miyoung.

Miyoung memilih untuk duduk di sebelah Siwon karena ia membenci semua orang yang ada di rumahnya, kecuali Siwon. Hanya Siwon yang mengerti dia.

“Miyoung….” Ucap ibu Miyoung setelahnya. “kau punya masalah ya? Kau murung terus belakangan ini….”

Benar-benar tidak peka, desis miyoung.

Ia tak mengalihkan pandangan dari makanannya dan mengacuhkan ucapan ibunya. Siwon pun begitu. Ia memilih untuk berada di pihak netral, walau di dalam hatinya ia jauh mendukung Miyoung.

“Kalau kau punya masalah…. Lebih baik diskusikan dengan kami…. Siapa tahu kami bisa bantu….” Tambah Ayah tirinya. Sekali lagi, Miyoung memilih diam.

“iya…. Contoh kakak-kakakmu…. Terutama,” ibu Miyoung berhenti sebentar untuk menghela nafas. “Minho….”

Miyoung langsung menghentikan kegiatan makannya dan menatap tajam ibunya.

“Bodoh….” Pikir Siwon. Ikatan batinnya dimana sih?

Miyoung langsun membanting garpu dan sendok yang ada di kedua tangannya ke meja makan, membuat semuanya kaget, kecuali Siwon yang tangan kanannya memijat pelan keningnya.

“Ibu ingin tahu apa masalahku?” ucap Miyoung dengan nada tinggi sambil tersenyum sinis.

“tanyakan padanya!!!” miyoung menunjuk Minho yang duduk berseberangan dengannya menggunakan garpu di tangan kirinya. “dia yang membuatku gila!!”

Miyoung pun membanting garpunya sekali lagi, lalu bergegas keluar rumah.

“Miyoung…. Kau mau kemana?” ibunya berteriak.

“ibu…. Tenanglah…. Dia akan baik-baik saja….” Ucap Siwon.

“Tapi….”

“ibu sih…. Aneh….” Siwon mendengus kesal.

“Siwon….” Ayahnya menegur, setengah membentak.

“anak manapun pasti tidak suka dibanding-bandingkan dengan orang lain, terlebih dengan orang yang dibencinya…. Masing-masing manusia itu punya kelebihan dan kekurangan masing-masing bu…. Sampai kapanpun, membanding-bandingkan seorang anak dengan orang lain itu bukan cara memotivasi yang baik….”

“Siwon…. Apa maksud perkataanmu? Ibu tidak bermaksud untuk….”

“ya…. Mungkin aku yang terlalu sensitif….” Siwon berdiri dari tempat duduknya. “tapi, sebagai satu-satunya keluarga yang tahu masalah Miyoung, aku tidak suka dengan ucapan Ibu barusan….”

Siwon menatap sekilas Minho dengan penuh tidak suka, lalu menaiki tangga.

“Habisakan makananmu Siwon….” Ucap Mr. Choi.

Siwon menghela nafas. “terserah….”

Iapun kembali menaiki tangga.

Minho diam.

“memangnya….” Ibu Miyoung berdiri di samping Minho. “Masalah Miyoung berhubungan denganmu?”

Kali ini Minho menghentikan sarapannya. Tangan kanannya memijat pelan keningnya, sama seperti kakaknya tadi.

“Kenapa?” ibu Miyoung mengerutkan dahi.

“Entahlah….”

Minho langsung meninggalkan meja makan dan menaiki tangga. Ia tak menghiraukan panggilan-panggilan orang tuanya.

BRAKKK!!!

Minho menatap tajam kakaknya yang reflex menoleh ke arahnya karena membuka pintu kamar kakaknya secara kasar. Sebentar kemudian, Siwon mengambil kaos katunnya yang berwarna marun yang tergeletak di kasurnya dan memakainya.

Minho berjalan menghampiri kakaknya. “Kenapa?”

Siwon menatap adiknya dengan datar setelah selesai mengenakan kaosnya. “kenapa?”

“iya…. Kenapa? Kenapa hyung seolah-olah menjadikanku tersangka?”

“tersangka?” siwon mengernyit, lalu tersenyum kecil. “apa maksudmu? Aku tidak paham….”

“masalah Miyoung….”

“oh….” Siwon berjalan menghampiri meja kecil yang ada di samping kasurnya, lalu meminum air mineral yang ada di atasnya.

“HYUNG!!!”

“memangnya kau tak merasa bersalah?” siwon menutup botol.

“atas apa? Kan sudah kubilang, aku melakukannya demi kebaikan Miyoung….”

Siwon tertawa kecil, lalu menghampiri Minho. “kalau begitu, pertanyaanmu itu hanya kau yang bisa menjawabnya. Kau kuperlakukan seolah-olah menjadi tersangka, atau aku memperlakukanmu karena kau tersangka utama….”

“Kenapa Hyung lebih membela Miyoung daripada aku, adik kandungmu?”

Siwon memasang mimik berpikir. “iya ya…. Buat apa aku membela Miyoung? Dia kan hanya adik tiriku?”

Siwon menatap Minho dengan sinis. “karena, dulu…. Aku senasib dengannya…. Saat ibu kita masih tinggal bersama dengan Ayah…. Dia lebih mencintai kau daripada aku…. Aku dan dia…. Sama-sama korban atas kehadiranmu….”

“hyung tega….”

“ya ya….” Siwon keluar dari kamarnya sambil melambaikan tangan tanpa menatapnya.

~*Flashback*~

7 years ago….

“Minho…. Dia siapamu?” tanya temannya yang bermain di rumah Minho saat melihat Siwon berusaha membenahi tas milik adiknya yang robek.

“Oh…. Dia….” Minho tersenyum. “Dia pembantuku….”

Siwon yang saat itu adalah siswa kelas 3 SMP merasa kaget atas apa yang diucapkan adiknya. Terlebih, tak ada ekspresi gurauan saat ia berkata seperti itu. Bahkan, ibu kandungnya yang ada di samping Minho saat itu, bukannya menegur, malah tertawa kecil.

Saat itu, Siwon bingung bagaimana mengungkapkan rasa marahnya. Ia memilih diam.

Malamnya….

“ibu….” Ucap Siwon. “Kenapa Ibu seperti ini?”

“Apa maksudmu?”

Siwon menelan ludah melihat ekspresi ibunya yang terlihat tak merasa bersalah. “tadi…. Waktu…. Minho bilang, aku pembantunya…. Kenapa ibu tidak membenarkannya?”

“oh….”

Siwon menunggu jawaban dari ibunya.

“karena kau memang pantas di sebut pembantu….”

Siwon tersentak.

“Kau tak pernah bisa menjadi seperti yang ibu inginkan…. Sebaliknya, Minho selalu bisa membanggakan ibu…. Dia selalu dipuji…. Tidak seperti kau….”

“tunggu!!” siwon menghentikan ucapan ibunya. Ia masih belum mengerti maksudnya. “tunggu dulu….”

Ibunya menyilangkan tangan di depan dadanya, dan mengangkat dagunya.

“aku sudah berusaha untuk sempurna, demi ibu. Aku selalu berusaha menjadi yang terbaik. Aku menjadi juara umum dari kecil sampai sekarang…. Aku juga selalu menjadi nomor satu di olahraga…. Aku…. Aku…. Aku punya banyak kelebihan, semuanya sesuai dengan apa yang ibu inginkan…. Aku kurang apa?”

“kau itu membosankan…. Kau tak pernah berubah….”

Siwon semakin terkejut. “membosankan? Tidak pernah berubah? Bukankah dari kecil aku sudah berusaha jadi yang terbaik…. Apanya yang harus diubah bu? Aku seperti ini kan, juga karena memenuhi keinginan ibu….”

“Jangan berbicara seolah-olah yang membuatmu seperti ini adalah aku….”

“A… aku…. Bukan begitu….” Siwon kalut. “Maksudku….”

“Eh…. Iya…. Tapi…. Kalau dipikir-pikir, kau sangat membosankan itu karena aku salah mendidikmu ya?”

“ibu….”

“itu kan…. Yang ingin kau dengar dariku?”

~*Flashback end*~

Bukan itu bu…. Yang ingin kudengar, batin Siwon.

Saat ini ia merebahkan tubuhnya di atas atap sambil memandangi langit cerah di atasnya. Ia jadi menyukai tempat itu karena sering menemani Miyoung disana.

Apa yang harus kulakukan, untuk memperbaiki semua sikapku yang sudah salah dididik?

Kita senasib Miyoung. Ibu kita tak pernah sekalipun tahu apa yang ada di hati anaknya. Kita juga sering jadi korban perbandingan dengan Minho.

~***~

“lho? Miyoung?” jinki berlari menghampiri Miyoung yang berjalan dengan tatapan mata kosong. “Sekarang kan libur?”

Miyoung menatap Jinki sekilas, lalu melanjutkan langkahnya.

“Miyoung….” Jinki memegang lengan Miyoung. “kau mau kemana?”

Miyoung menatap tajam Jinki. Tatapan mata tidak suka. Jinki sudah menghalangi jalannya. “BUkan urusanmu…..” desis Miyoung. Iapun melepaskan genggaman Jinki secara kasar, lalu terus berjalan.

Poninya menutupi sebelah matanya. Tatapan matanya sendu.

Jinki menelan ludah. “bukan…. Itu bukan Miyoung yang kukenal….”

Jinki pun memutuskan untuk mengikuti langkah Miyoung dari belakang. Ia benar-benar khawatir akan terjadi sesuatu padanya.

~***~

Jinki tercekat. Ia mengikuti Miyoung yang ternyata berjalan menuju sekolah, dan memasuki ruang music, tempat mereka menjalani penilaian pelajaran seni music, tempat Joonmyun dan Miyoung menjalani latihan untuk Dies Natalis.

Miyoung menatap lurus piano hitam yang ada di tengah ruangan. Ia mengelus pelan bagian atas piano itu. Tak dihiraukannya debu yang menempel. Ia tersenyum kecil. Sekali lagi, ia terinatkan oleh Joonmyun.

“kau ingat sesuatu tidak, tentang piano?” tanya Joonmyun.

“tidak…”

“tidak? Saat kita masih kecil?”

Dengan polos, Miyoung menggeleng.

“baiklah….” Dengan lincah, Joonmyun memainkan sebuah lagu dengan memencet tuts-tuts piano dengan lihai. “ulang tahunku yang ke 7, kau menyanyikan lagu ini untukku….”

Miyoung berpikir. Beberapa saat kemudian, ia tersenyum cerah. “Ah….”

“You’re just too good to be true
I can’t take my eyes off you
You’d be like heaven to touch
I wanna hold you so much
At long last love has arrived
And I thank God I’m alive
You’re just too good to be true
Can’t take my eyes off you….”

Miyoung memenceti tuts-tuts piano itu, lalu menyanyikan lagu itu sambil tersenyum. Namun lama kemudian, ia menangis.

“I love you baby
And if its quite alright
I need you baby
To warm the lonely nights
I love you baby
Trust in me when I say

I Love you baby
Don’t bring me down I pray
I love you baby
Now that I’ve found you stay
And let me love you, baby
Let me love you….”

Miyoung berhenti memainkan piano, ketika ia mendapati Jinki berdiri di sampingnya.

“ini bukan kau….”

Miyoung hanya mengernyit. Pandangannya kembali ke piano itu. Namun, di atas piano itu, ia melihat bayangan Jinki yang tengah menangis.

Miyoung kembali menatap Jinki. Ia berdiri. “ada yang salah?”

Jinki menunduk. Menutup matanya erat.

“Apa aku melukai hatimu?” tanya Miyoung lagi.

Tak dijawab.

“Kalau iya…. Aku minta maaf….”

Jinki menggeleng.

Entah mengapa, Miyoung merasa bersalah. Melihat Jinki menangis, ia merasa bersalah. Padahal ia bingung, apa alasannya Jinki menangi setelah mengucapkan ‘ini bukan kau’ padanya.

Perlahan, Miyoung merangkul pundak Jinki, lalu memeluknya. Ia menepuk-nepuk pelan punggungnya.

~***~

Ayah dan Ibu Jinki menaiki mobil pribadi mereka. Mereka menyanyikan lagu nostalgia saat mereka masih muda.

“Ini sample novel milik Jinki….” Ucap ibunya berali-kali sambil melihat buku tebal yang ada di tangannya. Novel pertama Jinki yang berjudul “Night Princess”. Orang tuanya yang diam-diam mengirimkan novel itu ke penerbit. Dan penerbit sanat menyukai karya Jinki itu. Yang hanya Jinki tulis di blog-nya.

“Iya….”

“Anak kita memang hebat ya….”

“iya….”

“Aku jadi penasaran,… siapa Miyoung itu, hingga membuat Jinki mengarang novel fantasi yang seperti ini….” Ucap ibunya.

TOkoh utama dalam novel itu sebenarnya bernama Jung Shin Bi. Tapi, di blog-nya, Jinki menuliskan,

“Tokoh Shin Bi itu terinspirasi dari seorang gadis yang sangat baik bagiku…. Han Miyoung….”

“ya….” Ayahnya tersenyum cerah. “yang jelas, Jinki sangat serius mencintai gadis itu…..”

“Iya….”

Ibunya kembali mengelus cover novel yang senaja di beri efek timbul pada ilustrasi wanitanya. “hari ini akan jadi hari ulang tahun terindah bagi Jinki….”

Namun keadaan berkata lain.

Saat mereka melaju dengan kecepatan rendah, dari arah berlawanan, mobil sedan warna putih melaju dengan kencang, dan menabrak mobil orang tua Jinki.

Ayah Jinki banting setir ke kanan, membuat mobil mereka menabrak pohon pembatas pinggir jalan.

Pengendara mobil sedan putih yang ugal-ugalan itu berhenti sejenak. Ia ingin menolong kedua orang tua Jinki. Namun saat ia akan turun dari mobil, handphone-nya berbunyi.

Atasannya.

“Meeting hari ini harus berjalan lancar…. Aku tidak boleh terlambat, aku tidak boleh menggagalkan presentasi untuk proyekku yang selama ini kuinginkan….” Batinnya.

Iapun mengurungkan niat baiknya, dan memilih untuk melarikan diri.

Orang itu….

Mr. Choi.

Ayah tiri Miyoung.

~***~

Nothing gonna change my love for you, you oughta know by now how much, I love you….”

Jinki segera melepas pelukannya dari Miyoung dan menghapus airmatanya, begitu mendengar handphone-nya berbunyi. “Halo….”

Masih dengan tatapan mata sendu, Miyoung menatap dalam Mata Jinki.

“Rumah sakit?” jinki mengernyit. “Orang tuaku?”

~***~

Jinki berjalan tergesa-gesa menyusuri koridor rumah sakit. Tangan kanannya menggenggam erat tangan Miyoung yang tak tahu apa-apa.

Jinki benar-benar tak ingin membiarkan Miyoung menangis lagi tanpa pengawasannya.

“Oh….” Jinki kembali berlari lebih cepat ketika ia melihat seorang perawat yang baru keluar dari ruang UGD, membuat Miyoung kesulitan Menyamakan langkah Jinki.

“Suster….” Jinki terengah-engah. “Ada Sepasang suami istri yang baru saja mengalami kecelakaan…. Mr. Lee dan IStrinya….”

Perawat itu memasang wajah simpati pada Jinki. “anda putranya?”

“iya….”

Firasat buruk, batin Miyoung.

Saat Perawat itu menggerakkan bibirnya untuk berkata, seorang dokter keluar dari ruang UGD. “ada apa?”

Perawat itu menghela nafas. “putra Mr. Lee yang kecelakaan….”

“oh….”

Dokter itu menghampiri Jinki dan menepuk pelan bahu kanan Jinki. “Sabarlah….”

“Ada apa? Memangnya apa yang terjadi?”

“Orang tuamu…. Sudah…. Tiada….”

“Tidak mungkin….”

“Benar dugaanku….” Batin Miyoung, lalu menatap cemas Jinki.

~***~

Esoknya….

Jinki hanya bisa menangis ketika ingat, ia melihat mayat kedua orang tuanya di benamkan kedalam bumi.

“Ayah…. Ibu….”

Di rumah kedua orang tuanya, seluruh pelayat menyalami tangannya, menepuk-nepuk bahunya untuk menabahkannya.

“Jinki….” Dokter yang menangani kedua orang tuanya itu berjalan menghampirinya. “tabahlah….”

Jinki tersenyum paksa.

Dokter itu memberi penghormatan di depan foto kedua orang tua Jinki yang ada di altar rumah Jinki.

Setelahnya, Dokter itu menggenggamkan sesuatu di tangan Jinki. “mereka ditemukan saat kecelakaan. Ibumu menggenggam buku ini….”

Jinki melihat buku yang masih terbungkus rapi di dalam plastic bening itu, meski plastiknya sendiri sudah berlumuran darah yang mengering.

“Ini….”

“Sekali lagi, aku turut berduka….” Ucap dokter itu, lalu pergi meninggalkannya.

“Novelku….” Jinki memeluk erat buku itu, seakan tak ingin lepas dari buku itu.

“Jinki….”

Jinki membalikkan badan secara spontan ketika mendengar suara seseorang yang sangat ia kenal terdengar ke gendang telinganya.

Miyoung.

Ia masih mengenakan seragam sekolahnya.

Jinki lupa. Sejak kemarin, sejak ia datang kerumah sakit dan mengurusi administrasi hingga pemakaman orang tuanya, Miyoung terus mengikuti langkahnya.

“Maaf….” Jinki berjalan menghampiri Miyoung. “karena aku…. Kau jadi….”

“jadi apa?” ucap Miyoung sambil tersenyum getir. “Kalau kau ingin menangis, menangislah…. Jangan di tahan…. Nanti sesak….”

“Miyoung….”

“Kau mau menangis bersamaku?” ucap Miyoung lagi. “kita sama-sama kehilangan dua pertiga hidup kita ‘kan? Rasanya sakit sekali kan?”

Jinki terdiam, namun air matanya semakin deras membasahi pipinya.

“kita ringankan rasa sakit itu dengan menghilangkan sesak di hati kita,….” Miyoung tersenyum. “dengan menangis….”

Jinki langsung merengkuh tubuh Miyoung ke dalam pelukannya. Kali ini, tanpa ragu, Miyoung membalas pelukan Jinki. Mereka saling menepuk-nepuk punggung satu sama lain untuk sekedar menenangkan hati mereka yang terlalu sakit. Mereka juga menangis bersama, tanpa menghiraukan rasa simpati dari para pelayat yang melihat mereka.

Ok…. maaf ya… mellow mellow gituh ._.v
di part ini gak ada joonmyun.. mungkin di part 8 juga gak ada…
maka berbahagialah yang gak suka sama JoonMi couple, dan silahkan bersedih bagi pecinta JoonMi couple T.T
Jujur ya… aku sekarang lebih suka Joonmyun daripada Jinki.. gimana ini??!!
#lebe
dulu… waktu aku ngarang ini, kan aku masih suka sama Jinki, EXO aja baru tahu History doang… dan waktu itu aku pilih Joonmyun hanya asal milih…
dan sekarang kena hukum karma, aku suka banget sama EXO XD
tapi aku gak bakal ngerubah alur. Miyoung tetep sama Jinki… tetep berada di ide awal… walau sebenarnya aku lebih suka JoonMi T.T
oh ya… cover yang nyempik di tengah cerita itu desain-ku loh… hand made 😀 kecuali gambar bunga n tulisan.. kalo karakter orangnya tu aku sendiri yang bikin… gimana? sendunya dapet? 😀
RCL ^^

Chaptered ::
INVEARTIBLE (6)
Baekyoung Story (3)
Time After Time (2)
Fabolous Five (1)

Teaser FF chaptered
Top Girl | War Of Majesty | Unpredictable Kiss 

sementara yang oneshoot :
Not Love Her
I Lost My Mind
Love You to Death
Ring Ding Dong
Open or oven? (Comedy)
Coach Nana & Sequel
Love Letter
Boyfriend In My Dream

You And I


EXO in Love Series

BaekHyun | Sehun | ChanYeol | Suho | Kai | D.O | Luhan | Xiumin | Kris | Chen | Lay | Tao | All Member

32 responses to “Love is the Greatest Flower (Part ::: 7)

  1. part ni banjir air mata.
    keluarga na miyoung mang g da yg bnr. cuma siwon yg normal.
    nanti gmn y klo onew tau yg nabrak itu mr.choi.
    trus apa tanggapan miyoung pas baca novel na jinki.
    aih nunggu lg d.

  2. T.T miyoung harus sama joonmyun T.T
    aku lebih suka miyoung sama joonmyun, soalnya mereka udah kenal deket
    mereka juga udah saling suka juga T.T
    masa harus sama jinki, aaaah mending sama joonmyun T.T
    bikin vote dong min T.T

    • waa… maaf… kapan2 aku buat FF yang main-cast-nya JoonMi deh…

      soalnya… rencananya udah gitu.. alurnya dah gitu.. maaf yah.. T.T

      makasih ^^

  3. .aduh sebagai MVP saya tersungging, pada ga mau pasangan nya na jinki. huhuhu
    T.T

    di tunggu part slanjut nya.

  4. Waduuuuuhhhh,,,,,,sampe nangis aq bacanya thor,,,kok pas gtu yah,pas jinki nangis d’dpn miyoung,ortuny lgsg kecelakaan,,,,?aq pikir itu flashback ato gmna gtu,,tau2 kenyataan,, :'(sedih bgt,pas sma miyoung yg lg sedih,,,kereeen:-) lanjut lg thor 😀
    Semangat! !,

  5. Astaga nangis lagi di part ini. Di bagian meninggalnya ortu jinki sih nangisnya. Agak kesel sama miyoung hehe. Kayak nggak ada cowok lain aja. Jadi penasaran gimana ini nantinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s