SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: WILD ORCHID FOR KYUHYUN’S HEART (PART 2)

Wild Orchid for Kyuhyun’s Heart

Author: Kim Hye Ah, follow me @KimHyeAh22

Cast: Cho Kyuhyun (SUPER JUNIOR)

Kwon Yuri (SNSD)

Additional Cast: Member Super Junior & Lee Rin Joo (OC), Danielle Kim/ Dainn (OC)

Rating: PG-17

Genre: Romance, Friendship, Family

Disclaimer & Notes:

  1. Humans, things, and ideas here belong to God. Full crediting me, my blog, and this page if you wanna take it out.
  2. This story is just for fun. Please do not be distracted by whoever the casts I have chosen. Please enjoy this story while waiting for breaking fasting  . Happy Ramadhan & Happy reading.

Poster: missfishyjazz@myfishyworld.wordpress.com

PS: I apologize for typo. Please feel free to correct me

Prolog | Part 1  |

Cerita Lalu

Ada setitik air mata yang tiba-tiba jatuh di pipi Yuri. Ia bukan yeoja sentimentil yang mudah menangis. Tapi ia tidak bisa menahan diri mendengar bagaimana keras perjuangan orangtuanya untuk membuat hidupnya bahagia. Motivasinya untuk bekerja menjadi sangat kuat. Ia tidak bisa lagi mengandalkan uang dari mengerjakan tugas kuliah teman-temannya. Ia membutuhkan uang yang lebih banyak untuk membuat mereka bisa tetap tinggal di rumah susun ini. Jika kepala harus di kaki, kaki harus di kepala, Yuri siap.

Wild Orchid for Kyuhyun’s Heart (Part 1)

Kediaman Kyuhyun

Pukul 05.00 pagi

Belasan jam weker dengan berbagai bentuk dan rupa berdering bersamaan, namja yang sedang tertidur itu mengeliat perlahan tapi kemudian menutupi kedua telinganya dengan bantal. Tanpa memperdulikan sang empunya yang masih mengantuk, jam weker itu terus mengeluarkan aneka bunyi seperti sebuah koor musik yang memekakkan telinga. Tentu saja tidak ada yang mampu menandingi suara belasan jam weker yang sengaja dipasangkan tercerai berai mengingat kesulitan namja itu untuk bangun pagi dan imun jika hanya dipasangkan satu jenis alarm saja. Dengan kesal dan sambil menguap, Kyuhyun mencoba mematikan satu persatu, tentu saja masih dalam posisi tidur dan mengantuk. Tapi alat pengatur waktu itu memang sengaja diletakkan tersembunyi sehingga mau tidak mau namja itu terbangun karena kesulitan mematikan suara jamnya sendiri.

“Aish, Noona pasti menyuruh Mr. Chey yang melakukannya,” teriak Kyuhyun yang akhirnya dengan terpaksa membuka matanya dan berjingkat mencari dan mematikan jam itu satu persatu. Sayangnya jam weker itu tersembunyi menyebar, ada yang berada di kolong ranjang, di bawah lemari, kamar mandi, dan tempat-tempat tak terlihat lain dalam kamarnya yang sangat luas dan megah.

Ia melirik salah satu jam wekernya, sudah pukul 5, aish sebetulnya ini terlalu pagi untuk seorang Kyuhyun. Tapi tidak mengapa, karena ia memiliki rasa penasaran yang membuatnya rela bangun sepagi ini. Sambil memakai yukata, sejenis kimono berbahan dasar katun yang lembut, namja itu melangkahkan kakinya mendekati sebuah lemari minimalis berukuran besar. Tidak ada yang ganjil pada pada lemari itu selain pajangan dan hiasan khas berbagai negara yang pernah dikunjungi Kyuhyun. Ia mengambil sebuah remote yang berada di salah satu laci lemari itu, memijit salah satu tombol dan tiba-tiba secara perlahan bagian tengah lemari itu membuka, lemari terbagi menjadi dua dan masing-masing bergeser ke pinggir kanan dan kiri, memberikan ruang sekitar 2 meter bagi Kyuhyun untuk bisa memasuki sebuah ruangan gelap yang ada di baliknya. Ruangan yang tampak rahasia dan seolah tidak ada yang tahu selain Kyuhyun. Ia menyalakan lampu di dalamnya dan kemudian terlihatlah apa yang sebenarnya ada dalam ruangan yang begitu sangat luas itu. Puluhan rak-rak tinggi menjulang berisi ratusan ribu buku yang berjejer dengan sangat rapi. Kumpulan buku? Jadi ini sebuah perpustakaan?

Namja itu berjalan mendekati area rak paling kanan, mengamati judul buku dari punggung buku yang tersembul, mengambil beberapa dan membacanya. Ia duduk di atas satu set meja kerja minimalis. Kyuhyun mengambil kaca matanya dan dengan teliti membaca satu persatu kalimat yang terdapat dalam beberapa buku itu dengan cepat.

‘Carilah Kyuhyun, temukan apa yang sebenarnya terjadi pada dirimu,’ bisik namja itu dalam hati. Ia harus mencari tahu apa arti dari semua visi yang didapatnya selama seminggu ini. Saking penasarannya ia rela bangun pagi untuk menjawab semua pertanyaan yang menghantui benaknya. Mengapa hatinya bisa berkata visi itu adalah refleksinya di masa depan? Mengapa yang sebetulnya hanya terjadi dalam benaknya tampak terlihat nyata? Dan kenapa yeoja itu terus muncul dalam pikirannya? Siapa yeoja itu dan kenapa ia bisa menciumnya?

Kyuhyun membetulkan letak kacamatanya dan membaca jurnal-jurnal psikologi itu dengan sangat tekun. Siapa sangka dibalik seringai jahil dan keisengannya, namja itu bisa begitu serius dan terlihat intelek pada saat ini. Bagaimanapun kita tidak bisa melupakan fakta bahwa Kyuhyun adalah makhluk pintar. Ia memiliki hobi membaca dan mengoleksi buku-buku yang menarik hatinya. Tidak heran ia bisa memiliki perpustakaan pribadi yang begitu lengkap dan menggiurkan bagi siapapun yang mengaku dirinya kutu buku.

Menghadapi masalahnya, Kyuhyun selalu percaya bahwa apa yang dialaminya bisa dijelaskan secara ilmiah. Walaupun apa yang dilihatnya tampak membuatnya seperti paranormal, dukun, cenayang, dan sebagainya tapi pastilah ada alasan logis di balik kemunculan visi itu. Ia membuka-buka kumpulan buku tebal tersebut, matanya tiba-tiba bercahaya karena akhirnya ia menemukan dan mengerti akan sesuatu hal, bahwa kemampuannya untuk melihat hal yang luar biasa ternyata akan selalu ada penjelasan ilmiahnya.

‘Baiklah, jadi apa yang terjadi padaku ini namanya fenomena psi,’ Kyuhyun berkata pada dirinya sendiri.

Ia membaca keras-keras penemuannya, “Fenomena psi adalah istilah untuk semua jenis fenomena psikis termasuk pengalaman yang terlihat memiliki hubungan antara jiwa dan pikiran dan tidak dapat diterangkan dengan prinsip-prinsip Fisika, contohnya orang yang bisa melihat hantu, menyembuhkan penyakit dari kejauhan, telepati, dan meramal masa depan!”

Aha, contoh terakhir itulah yang ingin diketahuinya lebih lanjut. Ia memiliki keyakinan bahwa apa yang dilihatnya dalam visi itu akan terjadi walau entah kapan. Tapi apakah benar apa yang dilihatnya itu adalah kejadian di masa depan? Ataukah sebetulnya hanya imajinasi belaka? Semua ini membingungkan dan membuat kepalanya pusing. Ia melepaskan kacamatanya.

Tiba-tiba seseorang memasuki ruangan paling pribadinya, hanya satu orang yang ia ijinkan selain bagian dari keluarganya yang bisa memasuki ruang perpustakaan pribadi ini. Mr. Chey, seorang butler handal, lulusan sebuah butler academy ternama di Inggris sekaligus kepala rumah tangga kepercayaan Appa. Ia membungkuk dengan hormat pada Kyuhyun.

“Selamat pagi Kyuhyun-ssi, maaf mengganggu waktumu, Ahra-ssi meneleponmu.”

Pria berjas hitam itu menyerahkan telepon kepada Kyuhyun.

“Apakah kau ingin disiapkan sarapan sekarang Kyuhyun-ssi?”

Kyuhyun mengangguk,”Siapkan kopi dan sandwich. Ingat jangan masukan selada dan tomat karena aku tidak suka. Masukkan banyak daging asap, keju dan alpukat.”

“Seperti yang kau minta Kyuhyun-ssi,” butler hasil didikan Inggris itu kembali membungkuk dan meninggalkan Kyuhyun bersama Cho Ahra yang berada di ujung teleponnya.

“Kyuhyuuuuuuuuun!” tiba-tiba terdengar suara serak melengking dari teleponnya.

“Noona?”

“Sudah kubilang kau harus mulai menyukai sayur, sayur itu penting untuk pencernaan tubuhmu. Hentikan ketergantunganmu pada kopi, kafein tidak cocok untukmu yang sulit tidur. Kau akan semakin sulit sembuh dari insomnia-mu,” Ahra seperti biasa menasihati dongsaengnya yang masih dianggap adik kecil 10 tahun baginya

”Lalu kenapa akhir-akhir ini kau sulit ditelepon Kyuhyuuuuuun, Appa dan Omma sampai harus mengadu padaku. Kau sudah satu bulan tidak bertemu mereka, tapi membalas sms-pun kau seperti tidak punya waktu.”

“Oh ya apa maksudmu meneleponku jam 2 dini hari tadi, kau tahu aku sudah tidur Kyuhyuuuuuun.”

Kyuhyun menjauhkan telepon dari telinganya. Noona-nya yang satu ini tidak pernah berhenti memperlakukannya seperti anak kecil. Memberikan perhatian tapi kadang terlalu berlebihan. Contohnya, jam weker yang sengaja dipasangkan di kamarnya dan mulutnya yang sangat cerewet. Ciri khasnya lagi, ia selalu memanggil namanya dengan intonasi yang sangat panjang dibelakang namanya. Padahal apa susahnya memanggil nama aslinya dengan  intonasi biasa daripada harus menjadi ‘Kyuhyuuuuuuuuun’!

“Aku memang jarang membuka HP ku, nyaris tidak pernah Noona.”

“Wae?”

Namja itu terdiam, sebetulnya karena ia malas terus ditelepon oleh member Suju dan kantornya.

“Pokoknya sekarang kau harus menghubungi Appa dan Omma, mereka sedih karena kau tampak tidak perduli pada mereka. Kau tahu menjadi pejabat negara seperti sekarang sudah tidak sesenang seperti jaman orang dulu, banyak yang memperhatikan, banyak yang mengkritik, semua tindakan diawasi. Appa membutuhkan dukungan dari kita.”

“Apakah Appa sedang ada masalah?”

“Tentu tidak Kyuhyuuuuun tapi pekerjaan Appa itu sangat berat, dan jika kau ingin dianggap sebagai anak berbakti, hubungilah mereka. Apa susahnya mengirimkan sms satu kali dalam sehari. Omma sedih karena kau seperti melupakannya.”

“Aish tidak seperti itu Noona, hanya saja aku sedang ada masalah dengan kantorku. Aku jadi malas membuka HP.”

“Aku tidak mau tahu, jangan banyak alasan, kau harus hubungi mereka. Appa dan Omma sekarang ada di New York, Appa ada kunjungan resmi ke salah satu universitas di sana.”

“Baiklah.”

“Sekarang Kyuhyuuuuuun!”

Kyuhyun mengiyakan dengan lemah. Ia hendak menutup teleponnya sampai kemudian, ia mendengar lagi teriakan melengking yang terpaksa didengarnya selama seumur hidupnya.

“Kyuhyuuuuuuuuun, lalu untuk apa kau meneleponku subuh tadi. Aish kau sangat mengganggu. Aku tentu saja mendengarnya tapi badanku capek sekali setelah keponakanmu itu merontokkan badanku.”

Kyuhyun tersenyum, “Aku jadi kangen Wang Seok Hyun-mu Noona, bagaimana kabarnya dia? Masih senang mengganggumu?”

Terdengar suara desahan panjang,”Aku tidak mengerti kenapa dia bisa sepertimu. Apa karena waktu hamil dulu aku sangat sebal melihatmu?”

“Noona kau terlalu kasar kepadaku. Harusnya kau senang karena Seok Hyun sangat jenius sama seperti Samchon-nya bukan?”

“Ya, aku tidak meragukan itu. Aku dan Appanya sangat senang karena dalam seusianya ia sangat pintar sama sepertimu waktu kecil dulu tapi kenapa ia harus diwarisi sifat burukmu juga?”

Terdengar Kyuhyun yang tertawa lepas. Dalam hal prilaku, ia dan Seok Hyun memang seperti saudara kembar. Walau fisik mereka berbeda, yang satu namja tampan berambut lurus, yang satu lagi bocah menggemaskan berambut keriting. Tapi sayangnya mereka berbagi sifat jahil yang sama. Tidak heran Kyuhyun sangat menyayangi keponakannya karena melihat Seok Hyun seperti melihat cerminan dirinya di masa lalu.

“Baiklah, kembali ke topik awal, ada apa kau meneleponku malam-malam?” tanya Ahra tegas seolah tidak mau buang-buang waktu untuk berbasa-basi dengan dongsaengnya ini.

“Hmm aku kangen padamu.”

“Cih, kau sedang merayuku? Mian tidak mempan Kyu. Kau pasti sedang menginginkan sesuatu dariku. Makanya cari yeoja chingu supaya ada yang mengurusimu.”

“Kau tidak sedang bercanda? Untuk apa aku mencari yeoja chingu jika beratus-ratus yeoja dengan senang hati mau memperhatikanku tanpa aku harus memberikan mereka status.”

“Kau! Aish playboy kampungan!”

Kyuhyun terkekeh,“Aku tidak playboy Noona, aku tidak memacari dan tidak pernah sekalipun memberikan harapan pada mereka. Aku selalu straight to the point mengenai hal ini. Aku juga tidak pandai merayu, ucapanku selalu terdengar pedas di telinga mereka. Bahkan dibanding Heechul Hyung yang sangat blak-blakan sekalipun, aku dikritik karena tidak bisa terlalu ramah dengan yeoja-yeoja itu Tapi entahlah kenapa mereka mau-mau saja terus bergaul denganku. Jadi bukan salahku jika yeoja-yeoja itu bersikap baik padaku. Apa begitu yang disebut playboy?”

Dari ujung telepon terdengar Ahra yang sedang menganalisa,“Itu karena kau memiliki apa yang semua yeoja inginkan Kyuhyun. Ya walaupun aku berat mengatakannya tapi kau tidak terlalu jelek dan tidak terlalu bodoh. Minimal ada yeoja kurang pintar yang masih mau dengan namja sepertimu.”

“Kyaa, kau selalu saja menghinaku Noona. Jangan bawa-bawa kepintaran di sini karena kau tahu? Aku pasti yang akan menang,” Kyuhyun protes mendengar ejekan kakaknya.

“Aish sudahlah jangan diambil hati. Lalu kenapa kau berkata kangen begitu pasti kau sedang ada maunya ya kan?”

Kyuhyun terdiam,“Mungkin, hmm Noona, aku ingin bertanya sesuatu tapi tolong jangan berpikir yang aneh-aneh.”

“Bertanya apa? Kau membuatku penasaran.”

“Apakah Noona pernah merasa bisa melihat masa depan, yaa seperti ada refleksi kehidupan di masa datang dalam pikiranmu. Seperti melihat bayangan tapi begitu nyata dan kau yakin bahwa itu benar-benar akan terjadi.”

Cho Ahra yang sedang mengurusi sarapan untuk keluarganya tercenung bingung. Ia tidak mampu mencerna semua kata-kata Kyuhyun.

“Entahlah Kyu karena aku belum pernah merasakannya. Memang kau mengalaminya? Jadi apa yang kau lihat? Kau bisa melihat masa depan? Kau bisa meramal begitu?”

“Aish pertanyaanmu seperti polisi yang sedang menginterogasi saja. Aku hanya bertanya dan ingin tahu pendapatmu. Tentu saja aku tidak mengalaminya dan aku bukan peramal,” Kyuhyun mencoba mengelak.

“Menurutku itu hanya ilusi atau bayangan saja, yaa seperti mimpi. Mimpi hanya bunga tidur tapi sebagian mempercayainya sebagai sesuatu pertanda. Ya seperti itulah,” jawab Ahra.

“Hmmm…begitukah? Jika ada yang menganggap itu seperti masa depan, bagaimana menurutmu?”

“Entahlah, tapi kupikir itu terlalu berlebihan, aku tidak percaya ramalan dan paranormal. Kupikir mereka hanya sedang bermain-main dengan logikanya saja. Mereka tidak pernah spesifik dalam menerangkan sesuatu karena mereka memang tidak tahu apa-apa.”

“Tapi jika ada perasaan yang kuat bahwa itu memang akan terjadi bagaimana?”

“Ya Kyuhyuuuuuun, apalagi yang harus kujelaskan karena aku bukan psikolog atau dukun. Aku hanya wanita pekerja yang butuh istirahat banyak karena terlalu capai bekerja dan mengasuh anak yang hiperaktif seperti dirimu. Jadi kau subuh-subuh meneleponku hanya untuk bertanya seperti itu? Aish kau mengganggu sekali. Kau bisa membaca mengenai hal itu di perpustakaanmu bukan?”

“Ya, kenapa Noona berkata seperti itu?” teriak Kyuhyun kesal. Mungkin dia jahil dan bermulut pedas tapi tidak setajam mulut Noonanya ini,”Kenapa kau jadi menjelek-jelekkanku dan membawa masalah pribadimu dalam obrolan kita?”

Terdengar suara Ahra tertawa malu, “Mian Kyu, kenapa aku jadi bicara panjang lebar ya. Tapi minggu-minggu ini aku begitu sibuk dengan proyek desain yang kukerjakan bersama teman-temanku. Mian tadi aku begitu stress, kupikir kau ada keperluan darurat apa yang membuatmu harus meneleponku sepagi tadi. Aku pusing karena Appa-nya Seok Hyun juga sama sibuknya bahkan lebih. Dan kau tahu Seok Hyun semakin bertingkah saja. Ia lagi-lagi membuat guru privatnya mengundurkan diri. Mau aku masukkan ke day care, sudah tidak ada tempat penitipan anak di area tempat tinggalku yang mau menerima dia. Aish, kepada siapa lagi aku meminta bantuan.”

Mendengar keluhan Ahra yang begitu panjang, Kyuhyun langsung teringat sesuatu, ia menjadi lebih tertarik.

“Jadi guru privatnya mengundurkan diri, bukankah kau baru saja membuat iklan lowongan pekerjaan di koran. Kenapa sudah mengundurkan diri lagi?”

“Aku tidak usah menjelaskan Kyu, kau sudah tahu kan bagaimana Seok Hyun.”

“Boleh aku tahu nama guru privatnya?”

“Wae?”

“Aish, sebut saja siapa namanya? Apakah Kwon Yuri”

Kyuhyun tiba-tiba teringat yeoja yang melemparkan botol kaleng soda ke kepalanya. Ia yakin yeoja itu sedang berniat melamar pekerjaan ke rumah Noona-nya karena alamat yang ditulisnya di secarik kertas itu sama dengan alamat Ahra. Dalam hidupnya, ia baru sekali itu bertemu yeoja yang rela bekerja banting tulang untuk membayar hutang keluarganya. Benar-benar yeoja yang tangguh.

“Bukan Kwon Yuri. Memang kenapa?”

Kyuhyun tampak berpikir,“Aku hanya menebak saja, lalu kenapa kau tidak mencari guru privat lagi untuknya.”

“Rencananya begitu, tapi aku takut kecewa jika guru privat yang datang keluar lagi dan begitu silih berganti. Kau tahu dalam sebulan Seok Hyun sudah berganti guru privat sampai sepuluh kali.”

“Kenapa kau tidak mencobanya siapa tahu kau menemukan guru yang kuat menghadapi Seok Hyun. Apakah kau menyimpan surat lamaran mereka? Kau bisa menghubunginya satu per satu jika kau membutuhkan songsaengnim baru untuknya.”

“Aku menyimpan beberapa surat lamaran mereka tapi entahlah, aku tidak sanggup mendengar mereka mengundurkan diri lagi.”

Kyuhyun langsung bersemangat. Ia segera beranjak dari tempat duduknya dan berlari keluar dari perpustakaan pribadinya, “Aku ke tempatmu ya Noona?”

“Wae? Bukankah kau harus bekerja.”

“Iya setelah ke rumahmu aku ke Suju Tower. Aku akan membantumu mencari guru privat untuk Seok Hyun dan sore nanti aku akan menjaganya saat kau masih bekerja. Bagaimana tawaranku menarik bukan?”

“Tapi…”

“Sudahlah, ini penawaran terbaik bagiku hari ini. Noona harus setuju karena aku tidak mungkin mengecewakanmu. Aku malah akan membantumu.”

Tanpa banyak suara lagi, Kyuhyun segera berjingkat mandi. Hari ini rasanya akan begitu menyenangkan. Ada banyak hal menarik yang harus dilakukannya. Lupakan sejenak mengenai fenomena psi yang baru saja dibacanya, setidaknya hari ini akan begitu sibuk untuk sejenak melupakan bayangan aneh yang mengganggunya.

Universitas Korea

Pukul 8.00

Beberapa jam kemudian, di salah satu ruangan kelas Universitas Korea, tampak beberapa mahasiswa yang sedang serius mendengarkan perkuliahan dari salah seorang dosen berkaca mata dan bertubuh tambun, Park Songsaengnim. Dosen yang tampak menyenangkan tapi serius jika menyangkut masalah disiplin. Ia sedang mengajarkan mata kuliah politik regional yang sangat disukai Yuri. Yeoja itu tampak berkonsentrasi tapi Rin Joo yang duduk di sebelahnya tidak berhenti berbicara dan itu sangat mengganggunya. Terlihat sekali muka Rin Joo yang kesal. Rupanya sahabatnya itu masih tidak puas dengan penjelasan Yuri sebelum masuk kuliah tadi.

“Jadi kau benar melempar Kyunie-ku dengan kaleng soda?” tanya Rin Joo sambil berbisik.

Yuri menoleh ke arah Rin Joo mengangguk. Dengan cepat ia mengalihkan pandangannya ke arah dosen itu lagi.

“Ia terluka?”

Tanpa menoleh, Yuri mengangguk.

“Berdarah?”

Lagi-lagi Yuri mengangguk. Mukanya terus menatap Park Songsaengnim. Ia tidak ingin terlihat seperti mengobrol.

“Kyuhyun pasti marah padamu. Aish apa sih yang kau lakukan Yuri. Kau tega sekali menyakiti suamiku.”

Yeoja itu terbelalak dan menatap Rin Joo tidak percaya, tapi ia tidak bisa membela diri karena Park–saengnim sedang memandang mereka. Yuri membuat tanda supaya Rin Joo diam tapi yeoja itu tampak tidak mengerti.

“Untung Kyunnie-ku begitu baik tidak melaporkanmu ke polisi. Kau sudah melukai namja terkeren di Korea ini, apa sih yang kau pikirkan ketika melemparkan kaleng itu. Apa kau tidak berpikir bahwa Kyunnie-ku bisa meninggal jika ia tidak bisa mengendalikan mobilnya saat kau lempar dia dengan kaleng?”

Yuri sudah mulai kesal,”Syuut, diamlah Rin Joo, seperti yang kubilang ia yang duluan membuat bajuku basah, aku hanya memperingatinya saja supaya tidak mengemudi sembarangan. Aku sudah minta maaf dan dia memaafkanku. Lalu kenapa kau jadi sewot begini.”

“Tapi aku tidak bisa terima kau menyakitinya, ia seorang artis dan MD terkenal, apa jadinya jika ada bekas luka di kepalanya. Karirnya bisa hancur. Itu semua gara-gara Yuri-ah!”

Rin Joo mencubit lengan Yuri antara gemas dan kesal sehingga yeoja itu meringis kesakitan. Yuri melotot menatap Rin Joo yang sudah berani-berani mencubitnya. Dasar fans aneh, tergila-gial dengan bintang idola sampai tidak bisa membedakan mana sandiwara dan realita. Rin Joo menyukai Kyuhyun dalam posisinya sebagai idola tapi dia tidak tahu bagaimana namja itu dalam kehidupan nyata.

“Aish, apa yang kau lakukan, tanganku sakit Rin Joo!”

“Ya apa yang kalian lakukan? Berani-beraninya mengobrol di kelasku!”

Tiba-tiba terdengar suara berat dari arah belakang mereka. Yuri dan Rin Joo menoleh ke belakang dengan takut-takut. Park Songsaengnim dengan wajah marah telah ada di belakang tempat duduk mereka. Yuri dan Rin Joo meringis canggung, mereka tidak bisa berkata apa-apa karena tahu bahwa mereka bersalah. Mengobrol saat kelas sedang berlangsung adalah hal yang paling tidak disukai dosen itu.

“Kalian tahu bagaimana peraturan saat aku mengajar?”

Yuri dan Rin Joo menunduk. Park Saengnim sudah berada di depan mereka. Mahasiswa lain ikut ketakutan karena jika dosen yang satu ini sudah marah bisa fatal akibatnya. Bahkan yang tidak terlibat bisa kena getahnya.

“Aku bertanya apa peraturan saat aku sedang mengajar? Ayo jawab!”

“Tidak boleh mengobrol di dalam kelas. Jika ketahuan mengobrol lebih baik tidak usah ikut kelas, ” jawab Yuri pelan. Ia begitu ketakutan, selama ini ia selalu dikenal mahasiswa favorit para dosen karena rajin belajar, pintar, dan tidak pernah membuat masalah saat di kelas. Semua ini karena Rin Joo dan Kyuhyun!

“Jadi?”

Rin Joo dan Yuri saling bertatapan karena bingung.

“Jadi untuk apa kalian masih di kelas ini. Obrolan kalian mengganggu konsentrasi mahasiswaku yang lain. Lebih baik kalian keluar!”

“Kami minta maaf Park Saengnim tapi ijinkan kami terus mengikuti kelas,” Yuri memohon dengan sangat memelas. Rin Joo jadi merasa bersalah.

“Peraturan tetap harus ditegakkan. Hukuman kalian adalah keluar dari kelasku sekarang!”

“Tapi Park- Saengnim.”

Tapi rupanya dosen itu sudah tidak bisa dibujuk lagi. Dengan gontai Yuri dan Rin Joo keluar dari kelas. Yuri begitu kesal, jika saja sahabatnya itu tidak mengajaknya berbicara dan membuatnya emosi gara-gara persoalan Kyuhyun kemarin, nasib nya tidak akan begini. Imejnya sebagai siswa teladan dipertaruhkan.

Rin Joo yang berjalan di belakangnya menunduk.

”Mianhae Yuri-ah.”

Yuri tidak menjawab.

“Mianhae. Gara-gara aku kau harus ikut terkena hukuman. Sungguh aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini. Tadi aku terlalu terbawa oleh ceritamu tentang Kyuhyun.”

Yeoja itu menatap Rin Joo dengan kesal. Kini mereka sudah ada di koridor kelas.”Bagimu mungkin tidak masalah tapi buatku ini masalah. Aku takut hal ini akan mejadi rapot buruk bagi pengajuan beasiswaku tahun depan.”

“Aku tahu, entahlah apa yang harus aku lakukan untuk menyelesaikan ini. Semuanya gara-gara Kyuhyun jelek itu. Jika saja dia tidak membuat dirimu tersemprot kubangan air, kau tidak mungkin melemparnya dengan kaleng. Namja itu juga benar menyebalkan karena tega-teganya mengancammu ke polisi serta mengambil kartu mahasiswamu. Memang siapa dia? Iya memang dia itu artis. Tapi artis arogan! Harusnya kau lawan saja dia Yuri, kenapa kau terlalu baik padanya?”

Yuri menatap Rin Joo dengan sebal. Tadi yeoja itu marah-marah karena dirinya dianggap telah menyakiti Kyuhyun sekarang yeoja itu malah berbalik mendukungnya dan menjelek-jelekkan Kyuhyun. Dasar fans labil!

“Harusnya kau tinju saja karena dia telah mengataimu miskin. Memang kenapa jika kau miskin? Maksudku apa haknya mengata-ngataimu miskin. Dia hanya beruntung saja karena Ayahnya adalah seorang menteri. Jika Tuhan mau, Kyuhyun bisa menjadi orang miskin seketika. Lihat saja apa dia mampu bertahan hidup sepertimu. Dasar manusia tidak berperasaan!”

Rin Joo mengacungkan tinjunya tinggi-tinggi. Yuri sebenarnya masih malas berbicara dengan yeoja itu, tapi seseorang harus ada yang menyadarkan Rin Joo.

“Kau ini aneh sekali. Tadi kau marah-marah kepadaku sekarang kau membelaku dan menjelek-jelekkan Kyuhyun-mu itu.”

Rin Joo meringis malu,”Tadi hanya emosi sesaat tapi setelah berpikir jernih, dia memang yang salah dan kau itu terlalu lemah Yuri. Aku heran kenapa kau selalu diam jika seseorang menghinamu.  Rasanya itu bukan Yuri yang kukenal. Yuri yang dulu pasti akan berjuang demi harga dirinya.”

Yuri menghela nafas, ia dan Rin Joo adalah teman sejak SMA dan yeoja itu tahu betul bagaimana kelakuannya dulu. Semua yang dikatakan Rin Joo memang benar adanya.

“Aku sadar siapa aku. Dulu waktu aku masih remaja mungkin aku akan melabrak siapa saja yang berani-berani menyakitiku, tidak perduli setelah itu aku akan mati atau masuk penjara. Tapi sekarang aku sudah dewasa, aku harus bisa mengendalikan diri dan emosiku. Appa dan Omma semakin tua, tidak lama lagi kehidupan mereka akan bergantung padaku. Lantas apa jadinya jika aku terus menerus mengikuti nafsuku. Aku hanya akan membuat mereka menderita.”

“Tapi kau berhak melawan penghinaan yang kau terima Yuri termasuk melawan si Kyuhyun itu.”

“Rin Joo, sudahlah, dihina bukan berarti diam. Aku melawan dengan caraku sendiri. Aku tidak mau kehilangan banyak tenaga berharga hanya untuk meladeni orang-orang seperti mereka. Energiku lebih baik kupakai untuk sesuatu yang jelas manfaatnya, demi diriku dan keluargaku.”

Rin Joo tersenyum, Yuri memang telah berubah banyak, “Aku ingat waktu SMA dulu kau begitu berani. Semua orang takut padamu karena kau seperti preman sekolah, tidak takut-takut menghajar orang-orang yang menyakitimu. Kau juga yang menolongku waktu aku di-bully saat awal masuk sekolah dulu.”

Yuri tertawa, menertawai tingkah tomboy dan konyolnya di masa lalu. Saat itu kemiskinan membuatnya harus meninggikan harga dirinya setinggi mungkin. Dia tidak punya apa-apa selain harga diri yang harus dijaganya habis-habisan. Jika ada yang menghinanya ia tidak segan berkelahi dengan orang-orang itu. Ia juga tidak suka melihat penindasan. Waktu itu Rin Joo hanyalah seorang anak kecil yang lemah dan sering dikerjai teman-temannya. Yurilah yang saat itu menolong yeoja itu dari perlakuan buruk teman-teman sekelasnya. Sebetulnya sampai sekarangpun harga diri masih merupakan kekayaan satu-satunya yang ia miliki, tapi ia tidak bisa lagi bersikap seperti saat remaja dulu. Harga dirinya adalah membuat dirinya berprestasi dan membanggakan keluarganya. Walau untuk mencapainya ia rela untuk merendahkan sedikit ego pribadinya seperti yang ia lakukan pada kyuhyun, Dainn, atau sunbaedeul yang suka melecehkannya.

“Tapi aku tetap kesal dengan Kyuhyun. Yah aku menyukainya tapi aku tidak menyangka ia menghinamu sedemikian rupa. Aku tidak menyukainya lagi. Dasar orang kaya suka berlaku seenaknya,” tukas Rin Joo, ia masih bertahan untuk membicarakan Kyuhyun padahal Yuri sudah malas mendengar nama itu.

“Sudahlah, jangan lupa Rin Joo, kau juga orang kaya.”

“Kaya? Aku tidak pernah merasa kaya, yang kaya itu orangtuaku tahu! Melihatmu kadang-kadang membuatku malu setengah mati karena setiap hari kerjaku hanya mengemis, meminta uang Appa dan Omma. Aku bosan jika mereka membandingkanku denganmu, jelas aku kalah jauh, tapi aku bisa apa? Kau pintar, kau bisa mendapatkan uang dengan kepintaranmu. Lalu aku?”

“Setiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, kau pintar menggambar baju, jika kau tekun kelak kau akan jadi desainer hebat. Aku yakin itu.”

Yeoja itu tersenyum malu,”Itulah kenapa aku suka berteman denganmu Yuri, kau sangat dewasa dan bisa meluruskan pikiranku yang kadang bengkok. Tapi aku tetap marah dengan Kyuhyun. Bagaimana jika kita mendatangi kelasnya dan kita hajar dia. Ingat, kartu mahasiswamu masih dipegangnya bukan?”

”Jangan bahas Kyuhyun, orang itu sangat tidak penting. Sekarang yang kupikirkan adalah bagaimana supaya Park Saengnim tidak menganggapku buruk. Aku takut hal ini akan mempengaruhi beasiswaku.”

“Aku pikir dia tidak akan melakukan hal buruk di depan dewan dosen. Ia begitu menyukaimu karena hanya kau satu-satunya yang aktif di kelas, sedangkan yang lain lebih memilih diam. Nilaimu pun selalu bagus melebihi nilai teman-teman yang lain. Jikapun ia tadi memberikan hukuman hanya untuk membuktikan bahwa ia konsisten dengan peraturan yang dibuatnya. Percayalah padaku.”

“Pasti kau sedang berusaha membesarkan hatiku ya?.”

“Aku jamin, jika perlu nanti aku akan menghadapnya, akan kuceritakan kronologisnya supaya dia tidak menyalahkanmu. Dalam hal ini akulah yang salah. Jika nanti Park Saengnim ingin menghukum kita lagi, aku akan maju. “

Yuri terbelalak, ia tidak menyangka sahabatnya bisa sedewasa dan seheroik itu.

“Kau membuatku terharu.”

“Karena aku memang bersalah Yuri. Nah, mumpung ada di luar kelas, antar aku ke kantin yuk? Aku lapar. ”

Yuri menolak,“Malas, nanti aku tergiur lagi. Aku ini sedang berhemat jadi tidak boleh makan di luar”

“Aku yang traktir.”

“Aku malu kau traktir terus.”

“Anggap saja sebagai permohonan maafku karena kejadian ini. Ayolah jangan membuatku menyesal seumur hidup. Terimalah, kalau kau mau aku akan mentraktirmu makan siang selama sebulan penuh di kantin.“

Tawaran yang menarik tapi Yuri bukan yeoja miskin yang senang memanfaatkan kebaikan orang lain, “Tidak usah berlebihan Rin Joo. Tenang saja aku tidak mungkin marah pada sahabatku sendiri. Tapi ingat, kejadian seperti ini tidak boleh terjadi lagi. Jangan sekali-kali mengajakku bicara saat di kelas. Kau mengerti?”

“Siap boss!. Tapi kali ini kau tidak boleh menolakku. Kau lihat tubuhmu Yuri, tidak sadarkah tubuhmu itu semakin kurus.”

Yuri tersenyum, ia menunduk menatap kontur tubuhnya. Ia sudah lama tidak menimbang badan. Ia tahu berat badannya turun cukup besar karena bajunya kini sudah sangat longgar. Tapi ia bersyukur karena Omma tidak harus membelikannya baju baru dan baju lama masih bisa terpakai. Mereka berjalan beriringan, baiklah untuk kali ini Yuri akan menerima traktiran Rin Joo, perutnya memang sudah sangat lapar dan hari ini ia tidak punya uang sama sekali.

Di depan sekat taman kampus, terlihat sekelompok yeoja populer sedang bergerombol dan tertawa manja seperti ingin menarik perhatian para namja. Ketika Yuri muncul, tampak Dainn keluar dari kerumunan bunga-bunga kampus itu. Dainn, yeoja paling cantik diantara mereka menarik perhatiannya dengan melambaikan tangannya pada Yuri. Seperti biasa Rin Joo membuang muka, entah kenapa ia tidak menyukai sosok itu.

Yuri balas melambai, Dainn menghampirinya. Tersenyum manis yang tampak dibuat-buat.

“Apa kau sudah menerima pesanku Yuri?”

Yuri tercenung, pesan apa?

“Aish, sudah kuduga tetanggamu yang punya bayi yang tidak tahu menjaga omongan itu pasti tidak menyampaikan pesanku padamu.”

Yuri mengerutkan keningnya,“Dia tetanggaku di lantai 2, dan aku memang memberikan nomor teleponnya kepadamu karena aku tidak punya telepon. Tadi aku bertemu dia tapi dia tidak mengatakan apa-apa. Dan kenapa kau bilang dia tidak tahu menjaga omongan, setahuku tetanggaku itu cukup baik dan tidak banyak bicara.”

Yuri mencoba meluruskan perkataan Dainn yang tidak enak didengar.

“Ya, lain kali kau harus lebih selektif memilih tetangga dan orang yang bisa kau titipi untuk teleponmu. Lihat saja, buktinya pesanku padamu tidak disampaikannya. Aish, kau tinggal di mana sebenarnya? Aku tidak percaya masih ada tempat di Korea ini yang tidak memiliki telepon. Apa kau sebegitu miskinnya? Aku kesulitan sekali menghubungimu.”

Deg, ucapan itu menikamnya tapi Yuri hanya tersenyum pendek, dia juga tidak mau melawan karena memang itu kenyataannya. Dia memang miskin dan tidak punya telepon, lantas apa yang harus diperdebatkan.

“Sayangnya aku memang tidak punya telepon. Baiklah ada yang bisa kubantu Dainn-ssi,” Yuri mencoba menetralkan suasana. Rin Joo yang berada di belakang sudah tidak tahan.

“Aku ingin menagih pekerjaanmu sekarang,” jawab Dainn dingin.

Yuri terkejut,”Bukankah deadline minggu depan kenapa jadi sekarang? Kau tidak mengatakan apa-apa padaku mengenai perubahan tanggal penyerahan.”

“Aku butuh laporan besok dan deadline minggu depan itu dibatalkan.”

“Tapi kau tidak bisa seenaknya mengatur deadline tanpa bicara padaku Dainn-ssi. Itu namanya keputusan sepihak,” protes Yuri. Seenaknya saja yeoja ini mengobrak abrik perjanjian sesukanya.

Tapi Dainn hanya tersenyum angkuh, “Tentu saja bisa, karena aku yang memberimu order, jadi aku bisa membuat keputusan apapun yang aku suka. Begini saja, aku juga tidak mau ribut denganmu. Dalam hal ini kita harus bekerja sama dengan baik. Jika kau masih menginginkan uang itu, laporan yang kuminta harus jadi besok. Jika melebihi jam 9 pagi, aku tidak mau bayar. Perjanjian batal.”

Sebenarnya Dainn hanya menggertak. Ia memang senang mengancam orang karena membuat orang-orang tunduk kepadanya. Biasanya gertakannya berhasil tapi entahlah dengan Yuri.

“Tapi Dainn, kau tidak semudah itu mengubah perjanjian tanpa persetujuanku. Yang aku pegang adalah kata-katamu bahwa laporan itu harus jadi minggu depan. Sekarang aku sudah menyelesaikan setengahnya dan kau tidak boleh membatalkan perjanjian begitu saja. Apalagi dengan berkata bahwa kau seolah-olah pernah menitipkan pesan pada tetanggaku. Aku tidak bisa menerima keputusan ini,” tolak Yuri tegas.

“Aku bisa, apa yang tidak aku bisa. Ya salah sendiri, kenapa kau sulit sekali ditelepon. Aku tidak mau tahu, jika tidak bisa hari ini, laporan paling lambat sudah harus aku terima besok.”

“Dainn, kau ini benar-benar, aish…”

Yuri sangat kesal, andaikata dia belum mengerjakan proyek ini, pembatalan sepihak bisa dilakukan dengan mudah. Tapi ia sudah terlanjur mengerjakannya dan ia sangat membutuhkan uang cash saat ini juga. Tidak hanya Yuri, Rin Joo malah lebih terpancing emosinya.

Yeoja itu mendekati Dainn, “Ya Dainn, hati-hati dengan mulutmu, kau mengatakan tetangga Yuri tidak bisa menjaga bicaranya, lalu apa bedanya dengan kau yang seenaknya menghina Yuri-ah dan mengatur-atur perjanjian kalian. Apa salahnya jika ia tidak punya telepon? Kau yang butuh kenapa kau yang menekan dia? Kalau Yuri menolak melanjutkan kau sendiri yang nanti jungkir balik. Jadi kuperingatkan, jangan suka mengancam-ancam dia sembarangan.”

Yeoja cantik tapi angkuh itu terpancing. Belum pernah ada yang berani menantangnya seperti ini. Apalagi oleh seorang yeoja berpenampilan aneh ini. Seperti Luna Lovegood dalam kisah Harry Potter, seunik itulah penampilan Rin Joo.

“Hey siapa kau? Aku sedang bicara dengan orang ini dan kau seenaknya masuk, menguping dan mancampuri pembicaraanku.” Dainn membalas sambil menunjuk Yuri dengan mengatakan orang ini.

Dasar tidak sopan! Yuri berusaha sekuat tenaga untuk mengontrol emosinya, ia tidak boleh terbawa suasana penuh amarah ini. Ia mencoba menengahi pertengkaran ini.

“Sudah Rin Joo, aku tidak apa-apa kok.” Ia memegang tangan sahabatnya, mencoba menenangkan. Yuri tidak mau Rin Joo terbawa masalah karena dirinya.

Tapi Rin Joo tidak bergeming,“Kau tanya aku siapa? Aku ini Rin Joo, kasihan sekali jika kau tidak tahu namaku. Jika kau penasaran denganku tanya saja petugas kantin, penjaga kampus, atau petugas parkir kampus ini, mereka pasti mengenalku.”

Dainn menatap yeoja itu sinis. Orang yang terkenal diantara petugas kantin, penjaga kampus, dan petugas parkir pastilah orang yang aneh. Kenapa juga harus bangga dengan fakta itu. Dasar yeoja gila!

“Oh ya Rin Joo, kuharap aku tidak punya masalah dengan orang tidak penting seperti dirimu. Tapi tolong jaga kelakuanmu itu, aku sedang berbicara dengan Yuri dan kau tidak berhak menginterupsi pembicaraan kami. Suka-suka aku juga aku mau mengatakan apapun pada temanmu ini.”

“Jika begitu Yuri juga punya hak untuk menolak apapun yang kau mau”, Rin Joo sengaja menyenggol Yuri.

Yuri menengahi, ia sudah ada di antara Dainn yang sedang berkacak pinggang dan Rin Joo yang sudah bersiap-siap menyiapkan bogem mentahnya, “Sudah-sudah, kalian jangan bertengkar. Dainn-ssi, aku tidak bisa menerima kau mengubah waktu perjanjian seenaknya. Walaupun aku menyesal karena terlanjur mengerjakannya tapi jika kau menekanku begini lebih baik perjanjian ini kita batalkan. Toh aku juga tidak yakin bisa menyelesaikannya besok. Jadi sama saja, hari ini dan besok, perjanjian ini akan tetap batal.”

Dainn sudah terlalu berlebihan menekan perasaannya. Ia sangat marah dengan kesombongan yeoja itu tapi waktu telah memberikannya pengalaman berharga untuk lebih bisa mengontrol amarahnya.

Dainn terkerjut, ia tidak menyangka gertakan sambalnya tidak mempan pada Yuri. Ia pikir yeoja itu makhluk lemah yang bisa ia ancam semaunya. Terbalik, ia sekarang yang ketar ketir karena bagaimanapun ia membutuhkan Yuri untuk bisa menyelesaikan laporannya semi usahanya mendekati Kyuhyun.

“Jangan bodoh Yuri, aku tahu kau sedang membutuhkan uang. Kau juga tidak bisa seenaknya membatalkan perjanjian. Hanya aku yang boleh membatalkan karena aku yang mempunyai uangnya.”

Rin Joo tersenyum sinis, benar-benar cari masalah yeoja ini,”Ya Dainn, kau pikir siapa kau bisa mengancam temanku seenaknya. Kau tadi mengancam untuk membatalkan perjanjian. Sekarang, ketika Yuri menyetujui pembatalan ini, kau malah marah-marah. Kau tidak punya otak ya?”

“Hey, yeoja tolol, jaga ya kelakuanmu. Aku bisa membuatmu terkena masalah di kampus ini!”

Dainn menunjuk kening Rin Joo dengan telunjuknya.

“Silahkan kalau berani”

“Dasar lancang!”

Rin Joo sudah maju menantang Dainn untuk berkelahi. Yuri menggelang-gelangkan kepala, kenapa persoalan menjadi tambah rumit begini. Rin Joo juga masih suka meledak-ledak, harusnya yeoja seperti Dainn tidak usah dibalas. Tidak ada untungnya, malah hanya membuat masalah kian memanas.

“Bisakah kalian diam. Jangan bertengkar!” lerai Yuri. Beberapa orang yang berada di tengah taman mulai memperhatikan keributan ini termasuk pengikut setia Dainn. Mereka seperti melihat pertarungan seru antara Miss Universitas Korea versus dua yeoja antah berantah.

“Rin Joo kumohon jangan membuat masalah baru okey?” Yuri menatap Rin Joo memohon pengertiannya,”Dan kau Dainn-ssi, dengan terpaksa aku membatalkan perjanjian ini. Aku memang sedang membutuhkan uang tapi aku tidak bisa bekerja sama dengan cara diancam dan ditekan. Lebih baik kau cari orang lain yang mau melakukannya. Aku mundur.”

“Mwo?” Dainn tidak percaya Yuri bisa melawannya. Ia berharap yeoja itu membatalkan keputusannya. Tapi ia terlalu gengsi untuk mengemis dan memohon-mohon Yuri untuk tetap melanjutkan proyek laporan itu. Tapi bukan Dainn jika tidak punya banyak akal, dengan semua akses dan power yang dimilikinya ia bisa tetap memiliki posisi di atas angin.

“Aku harap kau mengerti, aku tidak bisa melanjutkan laporan ini. Rin Joo ayo kita pulang, rasanya orang-orang semakin banyak yang menonton kita. Aku tidak mau terlihat seperti badut konyol di sini.”

Yuri dan Rin Joo berbalik meninggalkan Dainn yang kalut. Ia tidak mau rencananya mendekati Kyuhyun gagal, laporan itu harus tetap jadi bagaimanapun caranya. Jika ancaman tadi tidak berhasil, mungkin ancaman ini akan membuat Yuri tidak berkutik.

“Yaa Yuri!”

Dainn memanggil yeoja itu. Yuri berbalik. Dengan tersenyum sinis, yeoja itu mendekati Yuri.

“Kau ingin membatalkan perjanjian denganku? Tidak masalah karena aku juga bisa membatalkan beasiswa untukmu. Kau lupa siapa Ayahku, siapa Kakekku? Kamilah yang terus mengeluarkan harta kami untuk membiayai mahasiswa miskin tidak tahu berterima kasih seperti dirimu. Jika kau ingin bermain-main denganku, beasiswamu yang menjadi taruhannya. Sekarang bola ada di tanganmu, pilihlah masa depan yang kau suka. Tetap menulis laporan untuk dikumpulkan besok dan kau tetap berkuliah di sini, atau kau memilih tidak menulis tapi tidak bisa berkuliah lagi di sini. Silahkan pilih!”

Yuri dan Rin Joo terkejut, mereka saling bertatapan, tidak menyangka bahwa Dainn akan mengancamnya dengan cara ini. Yeoja angkuh itu berkacak pinggang dan tersenyum sinis. Tidak ada yang bisa mengalahkan seorang Danielle Kim, apalagi yeoja miskin seperti Yuri! Tidak ada pilihan lain bagi Yuri sekarang selain menuruti semua keinginannya.

Suju Tower

11.00

Namja tampan itu sedang berada di music library. Kali ini moodnya sedang bagus. Sejak pertemuannya dengan Cho Ahra pagi tadi, ia sudah ada dalam ruangan kerjanya sambil menikmati lagu-lagu terbaru yang akan dimasukkannya dalam chart Top 40. Ia juga mengecek cd-cd yang berjejer rapi dalam music library. Walaupun beberapa lagu hits dari setiap album penyanyi sudah tersimpan dalam memori komputer tetapi kadang Kyuhyun membutuhkan lagu-lagu second hits sebagai penyegar suasana serta untuk mengurangi rasa jenuh pendengar dengan lagu-lagu yang terlalu pasaran. Seharian ia tidak keluar dari ruangannya, dan untuk sementara member Super Junior bisa bernafas lega karena tidak ada lagi orang yang tiba-tiba memasukan mainan kecoa dalam sepatu Eunhyuk, menyembunyikan kunci Radio Van, atau mengirimkan pesan-pesan aneh berpura-pura sebagai pendengar untuk mengerjai Star DJ yang sedang bertugas saat itu.

Tapi jangan terlalu percaya jika dalam sekejap ia berubah menjadi malaikat karena tiba-tiba Heechul memasuki ruangannya tergopoh-gopoh, mukanya merah padam. Semua tahu, itu pertanda namja itu sedang marah besar.

“Kyuhyun! Kenapa kau masukkan nyanyian pre recordingku ke dalam playlist siaran. Itu hanya lagu yang kuciptakan sambil main-main dan aku juga menyanyikannya tidak serius. Kualitasnya sangat jelek, kau ini sengaja membuatku malu?”

Kyuhyun menjawab dengan santai,“Aku suka dengan lagu itu dan siapa yang mengatakan lagu itu jelek? Tidak ada.”

“Untung Yesung melaporkan hal ini padaku tapi sayangnya terlambat dan kini seluruh Korea sudah mendengarkan lagu itu. Aish mau ditaruh ke mana mukaku ini?”

“Mukamu tidak akan pergi kemana-mana Hyung. Akan tetap ada di atas badanmu. Sudah santai saja, tidak ada yang mengatakan lagu itu jelek kecuali Hyung sendiri. Aku memasukkannya karena kupikir menghibur.”

Muka Heechul semakin merah,“Mwo? Lagu sedih kau anggap menghibur, kau sedang ada masalah denganku ya? Aish dasar maknae gila!”

Mendengar keributan itu, sontak Kibum yang ruangannya berdekatan dengan Kyuhyun masuk. Tanpa harus dijelaskan, ia sudah mengetahui masalahnya. Sebagai Program Director, ia tentu tahu lagu apa saja yang sudah diputar para Star DJ tadi.

“Tenanglah Hyung kau jangan marah seperti itu. Kita bicarakan baik-baik.”

“Bagaimana aku bisa tenang. Beberapa hari kemarin aku dihina para antis karena suaraku dianggap paling buruk di Super Junior dan sekarang maknae ini bukannya membantuku malah memutarkan lagu yang akan membuat para antis bertepuk tangan.”

“Tapi lagu Memory itu memang bagus Hyung, aku suka karena liriknya sangat kuat.”

Kibum menengahi, “Harusnya kau tidak melakukannya Kyuhyun, kita hanya boleh memutarkan lagu yang sudah lolos recording, jika ada live version, music indie atau sejenisnya, kau harus berkonsultasi dulu denganku dan Eunhyuk Hyung.”

“Tapi aku tidak bohong, aku tidak bermaksud menjatuhkan nama baik Heechul Hyung, lagu itu benar-benar bagus. Kau memang jenius Hyung.”

“Aish, aku tidak tahu apa kau sedang memuji atau mengejekku Kyuhyun?” desis Heechul kesal.

Kring Kring

Tiba-tiba suara HP milik Kibum berdering, secara tidak langsung menengahi perdebatan Heechul dan Kyuhyun untuk sementara.

“Yoboseo Siwon Hyung, iya aku sedang bersama Kyuhyun dan Heechul Kyung. Mwo? Jinja? Padahal di sini Heechul Hyung sudah sangat marah. Itu memang melanggar komitmen awal, ne, ne aku sudah mengingatkan Kyuhyun. Mengejutkan, kenapa responnya bisa seperti itu? Itu langkah bagus, aku tidak menyangka, jadi BSB Corp akan membelinya, baiklah kabar menarik, nanti aku akan sampaikan. ”

Kyuhyun dan Heechul menatap Kibum penasaran karena nama mereka tersangkut dengan pembicaraan namja itu dengan Siwon barusan.

“Baiklah, perlu aku akui, instingmu tajam Kyuhyun dan kau juga jenius Heechul Hyung,” ucap Kibum sambil tersenyum.

“Maksudmu?”

“BSB Corp menyukai lagumu Hyung dan berniat membelinya dengan harga yang tinggi untuk keperluan iklan mereka.”

“Mwo?” baik Kyuhyun dan Heechul tampak terkejut tidak percaya.

“Jadi tidak boleh ada keributan lagi seperti ini. Walau caramu salah Kyu, tapi kau cukup beruntung karena instingmu menyelamatkanmu. Heechul Hyung juga tidak boleh memarahi Kyuhyun lagi. Jadi masalah selesai bukankah begitu?”

Heechul ternganga dan Kyuhyun menyeringai senang. Suasana begitu canggung sampai akhirnya Heechul meminta maaf.

“Baiklah, aku bersalah karena marah-marah padamu, menuduhmu yang tidak-tidak. Tapi ternyata kau malah membantuku. Siapa sangka lagu yang kuciptakan dalam waktu 10 menit itu bisa dibeli BSB Corp. Semuanya tidak akan terjadi tanpa bantuanmu. Kuakui kau memang jenius, pantas Siwon selalu membelamu mati-matian. Jeongmal mianhamnida Kyuhyun-ah.”

Heechul mengulurkan tangannya dan disambut oleh Kyuhyun, mereka saling berpelukan.

“Jadi Hyung tidak marah lagi padaku?”

“Memang susah jika kami memarahimu, kau pasti selalu bisa lolos,” jawab Heechul sambil tertawa.

Satu fakta baru lagi yang kita dapat untuk mengenal sosok Kyuhyun lebih dekat. Betapa karakternya seperti ada dalam dua kutub yang bersebrangan. Di satu sisi dia bisa begitu mengganggu, di sisi lain ia bisa begitu membantu. Bukankah secara tidak langsung Kyuhyun telah membantu Heechul meredakan komentar negatif dari para antis yang selalu menuduh namja itu hanya jual tampang dalam karir bermusiknya?

Ruangan MD kini hening kembali, Kibum telah kembali ke ruangannya, Heechul pun sudah melanjutkan kembali aktivitas siarannya seperti biasa. Ia kembali melanjutkan pekerjaannya yang tadi tertunda.

‘Sekarang saatnya menyusun playlist untuk acara lusa,’ ujarnya dalam hati. Jika Kyuhyun sedang ingin bekerja, ia memang akan bekerja dengan sangat total seperti hari ini. Ia mengetik sesuatu di kamputernya, semua berjalan seperti biasa sampai tiba-tiba…

Deg, sesuatu yang berat kembali menghentak pikiran dan perasaan Kyuhyun, seperti layar bioskop yang terbuka perlahan. Ia kembali melihat visi itu, samar-samar bayangan dalam benaknya sudah mulai berwujud jelas. Ia melihat kembali yeoja itu, ia bisa mengenali harum tubuh dan lekuk tubuhnya. Tapi sampai saat ini, tidak sesentipun ia bisa melihat wajah yeoja itu. Kyuhyun merasa jiwanya terhisap masuk dalam layar bayangan dalam pikirannya. Ia berhadapan dengan yeoja yang tertunduk di depannya. Mereka tidak lagi berada di ruangan pesta seperti sebelumnya. Entah mereka ada di mana, ia tidak mengenali ruangan ini. Tapi kenapa hatinya tidak sebahagia saat mereka bertemu di pesta itu. Kenapa ia merasa sakit. Yeoja itu terus menundukan kepalanya. Kyuhyun ingin menyentuhnya tapi ada sesuatu tarikan yang menahannya, ia hanya bisa mendengar yeoja itu menangis terisak. Sesaat kemudian yeoja itu membalikan badannya, pergi dan berlari menjauhi dirinya. Kyuhyun ingin mengejarnya tapi lagi-lagi tarikan itu menahannya untuk tetap diam. Ia tidak menyukai perasaan ini, perasaan yang begitu dingin dan sakit. Mulutnya ingin memanggil nama yeoja itu tapi iapun tidak mampu mengucapkannya karena ia tidak tahu namanya. Semua indera ia kerahkan untuk membuat yeoja itu kembali tapi ia hanya bisa berdiri mematung, memandang punggung yeoja itu yang semakin lama semakin menjauh.

Bruk, Kyuhyun terjatuh dan menimpa kursi kerjanya. Beberapa cd di meja terjatuh sehingga menimbulkan suara. Layar bioskop itu telah tertutup kembali. Seperti biasa energinya terserap habis. Badannya menggigil tapi tubuh dan wajahnya berkeringat hebat. Kepalanya pusing dan terasa berat karena ia seperti telah berputar ribuan kali. Visi atau fenomena psi itu datang kembali. Ini sudah yang ketiga kalinya. Jantung Kyuhyun berdetak dengan sangat cepat. Ia pun terlalu lemah untuk bisa bangkit kembali.

Yesung yang kebetulan sedang melewati ruangan Kyuhyun terkejut melihat kondisi namja itu. Dengan cepat namja itu berjongkok menghampiri Kyuhyun.

“Kyuhyun, kau tidak apa-apa? Apa yang terjadi? Kau terjatuh?”

Kyuhyun terdiam, mukanya pucat pasi, ia terpejam menahan rasa sakit di dadanya. Bukan sakit secara fisik tapi jiwa dan hatinya. Seseorang seperti telah merengut kebahagiaannya.

Yesung kebingungan melihat sikap Kyuhyun,”Aku akan mengantarkanmu ke rumah sakit terdekat. Mukamu sangat pucat. Berpeganglah padaku, aku akan membantumu berdiri.”

“Tidak usah Hyung, aku baik-baik saja.”

Kyuhyun membuka matanya, tapi ia diam ketika Yesung membantu memapahnya.

“Badanmu dingin sekali. Kau benar-benar sakit, aku akan siapkan mobilku, kita pergi ke rumah sakit sekarang.”

Kyuhyun melepaskan pegangannya,”Tidak usah Hyung, jika kau mau membantuku. Tolong ijinkan aku pulang cepat hari ini, bisakah?”

Yesung menatap Kyuhyun khawatir,”Itu tanggung jawab bagian HRD, aku akan membantu mengurusinya. Kalau kau ingin pulang, biar aku yang mengantarmu. Aku tidak yakin kau bisa membawa kendaraanmu dengan kondisi seperti ini.”

“Percayalah padaku, tadi aku hanya pusing sesaat. Aku akan pulang sekarang, kalau begitu tolong sampaikan soal ijinku ini ke bagian HRD.”

“Tapi Kyuhyun…”

“Sudah kukatakan, aku tidak apa- apa Hyung.”

Kyuhyun kemudian teringat janjinya pada Cho Ahra, baiklah ia harus memulihkan dirinya sebelum ia pergi menemui Seok Hyun. Dengan tertatih ia pergi dan Yesung menatap kepergian Kyuhyun dengan khawatir. Ia belum pernah melihat dongsaengnya itu hampir pingsan seperti tadi. Tapi ia juga tidak mau memaksa Kyuhyun. Yesung cukup tahu dengan sikap keras kepala namja itu, jadi ia lebih baik memilih menemui bagian HRD dan melaporkan kondisi Kyuhyun agar namja itu bisa mendapatkan ijin pulang cepat. Sedangkan Kyuhyun, dengan pelan dan masih tertatih ia pulang sambil mengendarai mobilnya. Walaupun kepalanya sangat berat tapi ia mencoba berkonsentrasi saat mengemudikan mobil. ‘Baiklah Kyu, tampaknya kau harus terbiasa mengalami hal ini. Visi itu akan selalu datang tanpa kau mampu mencegahnya. Lebih baik kau terima saja nasibmu ini,’ begitu suara hatinya berkata. Kyuhyun mendesah panjang.

Perpustakaan Universitas Korea

Pukul 11.00

Di tempat lain, di sebuah sudut sepi ruangan perpustakaan Universitas Korea yang terkenal sangat luas dan lengkap, terlihat dua yeoja sedang mengetik sesuatu di sebuah laptop. Tampak bergunung-gunung buku hampir menutupi badan mereka. Mereka tampak serius mengetik sesuatu. Yuri mengetik dan Rin Joo sibuk mencari referensi yang terkait dengan apa yang sedang ditulis yeoja itu. Sesekali Yuri membaca beberapa buku, dicernanya dengan cepat, kemudian ditulisnya kembali dalam bentuk laporan dalam layar monitor laptop milik sahabatnya itu.

“Kau tidak keberatan jika laptopmu ini kupinjam?” tanya Yuri merasa tidak enak.

“Tidak apa-apa, sudahlah kau jangan bertanya yang aneh-aneh. Kau harus menyelesaikan pekerjaan ini, jika tidak Dainn akan memaksa Appa-nya untuk memutus beasiswamu.”

Seperti yang sudah diduga ternyata ancaman Dainn bukan isapan jempol semata, ia memang sungguh-sungguh mengancam Yuri untuk menyelesaikan laporan tersebut. Keluarganya adalah penyumbang terbesar untuk pembangunan dan dana beasiswa kampus ini. Tidak heran jika Dainn bisa dengan mudah menggertak Yuri hanya dengan menggunakan kata pemutusan beasiswa. Yuri kalah telak, mau tidak mau ia harus mau mengikuti semua titah yeoja licik itu. Dibantu Rin Joo kini mereka terperangkap dalam ruang perpustakaan ini untuk mengerjakan laporan ekonomi tentang perhitungan laba industri musik Korea. Entah laporan untuk siapa karena Dainn bukan mahasiswi jurusan ekonomi dan sama sekali tidak tertarik dalam bidang ekonomi. Yeoja pongah itu hanya tertarik pada penampilan, popularitas, dan namja kaya nan tampan tentunya.

“Laporan ini sangat berat Yuri, kita ini mahasiswa Hubungan Internasional bukan mahasiswa Ekonomi apalagi ini untuk level S2, sedangkan kita hanya S1 yang lulus juga belum. Kenapa kau berani sekali mengambil tawaran ini,” Rin Joo bertanya sambil berbisik, takut terdengar oleh petugas perpustakaan yang terkenal disiplin.

“Karena aku membutuhkan uang Rin Joo,” jawab Yuri pendek, ia tidak punya alasan lain lagi selain itu.

“Sudah kubilang, kau bisa meminjam uang padaku jika perlu. Huh aku kesal sekali dengan nenek sihir itu. Bagaimana dia merendahkanmu, rasanya aku ingin mencincangnya. Kau juga Yuri-ah,  sudah kubilang hati-hati dengan yeoja itu tapi kau tetap tidak percaya padaku.”

“Sudah aku katakan aku sangat membutuhkan uang, keluargaku sedang krisis.”

“Tapi bukan berarti kau jadi merendahkan dirimu Yuri-ah.”

“Aku tidak merendahkan diriku. Mungkin tampak seperti itu tapi sebenarnya ini seperti mengalah untuk menang.”

“Maksudku tidak dengan cara kau diam saja ketika dihina seperti tadi.”

“Sudahlah Rin Joo kau tidak merasakan rasanya ketakutan tidak punya tempat tinggal. Aku akan mengalaminya jika aku tidak segera mengumpulkan uang untuk membayar sewa rumah. Appa dan Omma sudah tidak punya uang lagi padahal mereka sudah bekerja dengan sangat keras. Hanya aku yang masih kuat dan bertenaga untuk membantunya. Hanya aku, Rin Joo. Jadi tolong jangan bicara soal harga diri atau apalah padaku sekarang.”

“Mianhae Yuri, kenapa kau tidak bicara padaku, kau bisa meminjam padaku. Kupikir orangtuaku pun tidak akan sungkan untuk menolongmu.”

Rin Joo memang baik, ia adalah orang kaya yang tidak seperti Dainn yang suka mengejek kemiskinannya. Tapi kebaikan yang terlalu berlebihan membuatnya merasa malu.

“Aku tidak mau dikasihani.”

Rin Joo mencubit lengan Yuri dengan gemas, kebiasaan jika yeoja itu kesal kepada Yuri.

“Aish Yuri, kau itu menyebalkan. Kau menempatkan harga diri di tempat yang salah. Pada Dainn dan Kyuhyun itu kau menurunkan harga dirimu, sedangkan padaku kau bertingkah congkak dengan menolak semua tawaranku. Aku kecewa padamu.”

Yuri terdiam, kata-kata Rin Joo menamparnya.

“Mianhae Rin Joo, mungkin karena hanya kaulah yang bisa menerimaku apa adanya. Hanya kepadamulah aku merasa bisa memperlihatkan harga diriku padamu. Mianhae.”

“Sudahlah, tapi sekarang sudah terlanjur. Aku akan membantumu dan hari ini kita harus bekerja keras. Besok laporan ini harus jadi dan kita harus pergi jauh dari kehidupan nenek sihir itu.”

Yuri memandang Rin Joo kagum. Ia beruntung memiliki sahabat seperti yeoja itu. Sekarang ia menyadari bahwa kekayaannya bertambah, bukan hanya harga diri tapi juga sahabat yang menyayanginya dengan tulus. Sesaat kemudian kedua yeoja itu tampak sibuk mengerjakan laporan ekonomi pesanan Dainn. Untung otak Yuri cukup cerdas untuk bisa mencerna istilah ekonomi yang sama sekali baru baginya. Ia dipaksa untuk menaikkan level otaknya untuk sejajar dengan mahasiswa S2 jurusan ekonomi. Memang benar juga kata Rin Joo, ia terlalu percaya diri ketika mengambil proyek ini. Hanya karena diiming-imingi bayaran tinggi, ia mengambil saja tawaran ini tanpa berpikir panjang.

Getaran HP tiba-tiba membuyarkan konsentrasi Rin Joo, ia mengangkatnya.

“Yoboseo, siapa ini? Ani, saya bukan Kwon Yuri. Baiklah sebentar.”

“Ini untukmu,” yeoja menyerahkan HP nya. Selain tetangganya yang tinggal di lantai 2 rumah susun, rupanya Yuri juga menitip pesan melalui nomor Rin Joo.

“Untukku? Siapa?”

Rin Joo menggelang,”Seorang yeoja, lebih baik kau terima telepon ini di luar.”

Yuri mengangguk lantas mengambil HP yang dipegang Rin Joo dengan pandangan bertanya-tanya. Ia pergi ke luar perpustakaan karena di tempat ini dilarang menerima telepon. Entah ada pembicaraan apa dan dengan siapa yang pasti beberapa menit kemudian Yuri sudah datang kembali dengan wajah berseri-seri.

“Rin Joo, kau tahu, aku diterima bekerja menjadi guru privat yang ada di iklan koran itu.”

“Jinja? Chukae Yuri-ah.”

Kedua yeoja itu meloncat-loncat dan saling berpelukan karena gembira tapi segera dihentikannya ketika mendengar deheman dari petugas perpustakaan. Yuri segera membereskan buku-buku dan peralatan alat tulisnya.

“Aku akan mengerjakan laporan ini sepulang aku mengajari anak kecil itu. Aku harus mengajarinya sore ini.”

“Kalau begitu bawalah laptopku, siapa tahu kau ingin mengerjakannya di perpustakaan.”

“Hmm kau tidak keberatan? Semua data pentingmu ada di sini loh.”

“Tenang saja aku punya backup dan aku masih punya satu notebook di rumah. Bawalah karena ini darurat, aku tidak mau berkontribusi jika beasiswamu diputus sepihak. Sekarang pergilah, aku berdoa yang terbaik untukmu Yuri-ah. Fighting!”

Yuri kemudian pergi menenteng tas ransel yang penuh dengan buku yang dipinjamnya dari perpustakaan serta laptop milik Rin Joo. Sahabatnya itu memandang Yuri yang sudah pergi dari kejauhan. Ia sangat terenyuh melihat kerja keras Yuri. Tidak semua yeoja seusianya memiliki tekad sebesar Yuri untuk membahagiakan orangtuanya. Jika ia menjadi Yuri, mungkin ia tidak akan sekuat itu. Dari Yuri, Rin Joo banyak belajar untuk lebih bersyukur dengan apa yang telah dimilikinya.

“Mudah-mudahan kau berhasil Yuri-ah dan mulai besok kau tidak usah berhubungan dengan Dainn si nenek sihir itu lagi.”

 

Rumah Mewah di Kawasan Gangnam

Pukul 15.00

Kini Yuri sedang berada di sebuah rumah mewah di kawasan Gangnam. Ia sedang duduk tegang di atas sofa putih lembut, di depannya terlihat yeoja cantik, mengingatkannya pada putri-putri bangsawan yang anggun. Semua yang dilakukannya begitu hati-hati, lembut, dan teratur. Umurnya kira-kira 30 tahun. Di sampingnya seorang anak laki-laki berumur 6 tahun yang terus menunduk sambil bermain PSP sehingga ia sulit mengenali wajahnya. Tapi sekilas Yuri dapat membayangkan jika anak ini besar pasti akan sangat tampan.

“Aku dan Appa Seok Hyun akan pergi ke Jepang selama 3 hari ini, Seok Hyun sementara akan di jaga oleh Samchon-nya, jadi jika ada yang perlu didiskusikan Yuri-ssi dapat berhubungan dengannya. Aku  berharap kau dapat mengajari Seok Hyun, akhir-akhir ini dia suka marah-marah jika disuruh belajar. Makanya nilainya turun”

Yeoja anggun dengan sanggul kecil itu menyerahkan rapor pendidikan anaknya.

Yuri menatap nilai-nilai itu tidak percaya, Math 95, Natural Science 95, English 95…..

Yang seperti ini disebut nilainya turun? Apalagi mengingat usia Seok Hyun yang masih berumur 6 tahun. Apa yang telah dicapainya ini adalah suatu prestasi bukan penurunan. Lantas kenapa umur 6 tahun harus sudah mempelajari pelajaran untuk usia 12 tahun? Yuri mengerutkan keningnya. Walaupun dia juga tidak bodoh tapi mendapatkan nilai 95 dalam rapor adalah prestasi tertinginya. Lalu Kenapa Omma Seok Hyuk ini malah menganggap sebaliknya? Apa ia sedang berhadapan dengan anak super jenius?

“Baiklah, aku pergi dulu Yuri-ssi.”

Yeoja anggun itu bernama Cho Ahra. Melihat strata sosial yeoja itu, Yuri tidak berani memanggilnya Ahjumma. Sekarang sedang tren untuk memanggil nama orang yang memiliki level tertentu dengan panggilan Tuan, Nyonya, Miss atau Mister.

Ahra kemudian berjingkat pergi, ia kemudian memeluk anaknya,” Seok Hyun, kamu belajar yang rajin bersama Yuri Songsaengnim ya? Jika Seok Hyun membutuhkan apa-apa telepon Samchon ya sayang.”

Seok Hyun tidak menjawab, ia sibuk bermain-main dengan PSPnya. Ahra mencium  kening bocah cilik itu kemudian mengacak-acak rambutnya, ia lantas menatap Yuri.

“Anakku sedang marah, ia protes karena kami akan pergi. Ia sedikit hiperaktif tapi sesungguhnya ia anak yang manis. Mudah-mudahan kau bisa mengajarinya. Sebetulnya kau tidak harus mengajarinya banyak hal tapi hanya membantu dia untuk mengingat kembali apa yang sudah dipelajarinya. Aku ingin Seok Hyun lebih berkonsentrasi pada pelajarannya daripada bermain PSP terus.”

Yuri mengangguk,”Saya akan coba Nyonya.”

“Aku harap kau bisa mengajari anakku dengan baik.”

Yuri membungkuk.

“Seok Hyun, Omma pergi dulu ya, nanti pulang Omma akan membawakanmu oleh-oleh yang sangat banyak.”

Anak itu masih tidak perduli, kemudian beranjak pergi menuju ruang belajar meninggalkan Ahra yang sudah berkemas untuk pergi. Yuri mengikuti Seok Hyun dari belakang. Rambut keriting anak kecil itu yang melambai-lambai saat sedang berjalan membuat hati Yuri gemas. Anak ini seperti malaikat.

“ Baiklan Seok Hyun, kita mulai belajar ya, untuk hari pertama kau bisa memilih sendiri mata pelajaran apa yang akan kita pelajari hari ini.”

Yuri tersenyum sangat manis untuk menarik perhatian Seok Hyun. Tapi yang dipanggil tidak bergeming dari kegiatannya bermain game. Yuri memanggilnya lagi, masih tidak ditanggapi.

“Seok Hyun? Halooo.”

Anak itu memandang Yuri dengan tatapan malas, “Jangan panggil aku Seok Hyun, cuma Omma, Appa, dan Samchon yang boleh memanggilku begitu”

“ Mianhae, lantas kau mau dipanggil apa oleh Yuri Saengnim?”

“Jangan memanggil saja.”

Seok Hyun menjawab ketus.

“Tentu tidak bisa karena pasti Saengnim akan sering memanggilmu. Jadi kau ingin aku memanggilmu apa? Seok? Hyun? Ya sudah aku panggil Sweet Hyun saja karena kau sangat manis, bagaimana? Oh ya selama belajar kita tidak akan menggunakan PSP ya.”

Seok Hyun tampak malas menanggapi Yuri. Yeoja itu berjongkok mendekati anak kecil itu. Kedua tangannya menutupi layar PSP yang sedang dipegang Seok Hyun.

Merasa terusik, Seok Hyun menatap Yuri dengan pandangan marah, “Hey jangan ganggu aku, aku sedang main tahu.”

“Hyun yang manis, hari ini kita akan belajar. Setelah selesai kau masih bisa main PSP lagi. ”

”Aku tidak mau!”

Ujian pertama datang untuk Yuri. Ia tidak menyangka akan berhadapan dengan anak kecil yang begitu sulit. Entah berapa lama yeoja itu membujuk Seok Hyun untuk mau belajar dan meninggalkan PSP-nya tapi selalu tidak berhasil. Yuri mencoba sabar,

“Apa yang harus Saengnim lakukan agar Hyun mau belajar dan tidak bermain PSP sekarang?”

Seok Hyun mendongak, merasa tertarik dengan tawaran guru barunya itu,”Jinja? Kau akan melakukan apapun yang kumau?”

“Tentu saja, tapi kau harus berjanji setelah aku melakukannya, kita akan belajar dengan benar dan tanpa PSP, bagaimana?”

“Baiklah, kalau begitu aku ingin menggambar dahulu,” Seok Hyun mengambil spidolnya.

“Tidak masalah, menggambar adalah kegiatan yang sangat bagus.”

“Tapi aku ingin menggambar di wajah Yuri-saengnim.”

“Mwo?”

Yuri terkejut, menggambar di atas wajahnya dengan spidol? Aish apa maksudnya.

“Ani, tidak bisa, wajah itu bukan untuk dicoreti oleh spidol Hyun yang manis. Kau bisa menggambar di buku gambar ini,” ia menunjuk salah satu buku gambar yang ada di dekatnya.

“Tidak mau, ya sudah kalau begitu aku tidak mau belajar denganmu lagi.”

Anak ini! Yuri menoleh ke kanan dan ke kiri ruangan, takut-takut ada yang memperhatikannya. Demi hari pertama bekerja,”Baiklah jika begitu, tapi warna spidolnya bisa hilang kan jika dibasuh?”

Seok Hyun tersenyum, sebetulnya ia sangat manis dan menggemaskan. Tapi entahlah dalam pandangannya ia seperti melihat seringai vampire kecil.

Beberapa menit kemudian Seok Hyun sudah bereksplorasi menggambar di atas muka Yuri. Ia tampak serius mencorat coret wajah Yuri dengan spidol itu. Yuri sudah mendesah resah, jika besok jerawatnya muncul ia sudah tahu penyebabnya. Yuri sudah membayangkan bagaimana buruk rupanya karena Seok Hyun sangat intens menggambar di atas kulit mukanya. Jika tidak demi sewa rumah susun, ia pantang mukanya menjadi bahan gambar seorang anak kecil seperti ini.

“Sweet Hyun, kenapa lama sekali menggambarnya. Kapan kita belajarnya?”

“Tunggu sebentar lagi. Nah selesai. Yuri-saengnim ingin melihatnya?” Seok Hyun tampak puas

Yeoja itu menggelangkan kepala,”Ani, wajahku pasti jelek sekali. Di mana kamar mandi, Saengnim ingin mencuci muka.”

Seok Hyun menarik tangannya,”Tunggu dulu, aku ingin memotretmu.”

“Mwo? Tidak perlu bukan?”

“Aku ingin memperlihatkannya pada Samchon. Ia adalah penggemar terberatku.”

Akhirnya, Seok Hyun berhasil memfoto muka Yuri yang penuh dengan coretan spidol. Yuri menangisi nasibnya, naas benar hari ini. Mudah-mudahan hasil foto itu tidak sampai tersebar ke luar.

“Hasilnya luar biasa.”

“Begitukah? Yuri saengnim terlihat cantik?”

“Cantik? Aku kan sedang menggambar peta dunia beserta dengan nama benuanya, waduh aku lupa membuat garis katulistiwa.”

Yuri memejamkan matanya. Tuhan, apa yang terjadi dengan mukaku?

Beberapa menit kemudian, ia sudah ada di kamar mandi untuk membersihkan mukanya. Tapi sesuatu menggelitik kakinya, Yuri melihat ke bawah. Ular? Aaaaaa, Yuri berteriak ketakutan, pontang panting lari ke luar untuk menyelamatkan diri. ‘Oh Tuhan, aku akan mati karena ada ular besar di toilet itu,’ jeritnya.

“Seok Hyun, keluar cepat, ada ular di kamar mandi!”

Spontan Yuri menggendong Seok Hyun yang sedang duduk manis di kursi belajarnya. Tapi ketika dilihatnya Seok Hyun yang hanya tertawa melihatnya, ia baru menyadari suatu hal.

“Kau sedang mengerjai gurumu ya Hyun?”

“Tidak, ular mainan itu memang selalu aku simpan di sana.”

Yuri terdiam, dia memandang Seok Hyun dengan tatapan mengamuk. “Saengnim sampai jantungan karena ulahmu. Sudah, jangan main-main lagi. Sekarang harus serius.”

“Aku ingin main PSP dulu.”

Dengan cepat Seok Hyun turun dari gendongan Yuri dan berlari menyambar PSP yang tergeletak di atas meja, tapi anak itu kalah cepat. Yuri sudah lebih dulu mengambilnya.

“Mianhae Hyun, tidak bisa. Ingat janjimu.”

“Tidak mau aku mau main lagi, kembalikan PSP-ku”.

Anak kecil itu meloncat-loncat meraih PSP yang dipegang Yuri. Tapi tiba-tiba Seok Hyun menarik lengan Yuri dan menggigitnya.

“Aaakkkkh, apa yang kau lakukan. Sakit!” Yuri menjerit kesakitan. Kulit tangannya merah. Amarah Yuri tertahan melihat wajah Seok Hyun yang sangat polos. Seok Hyun memang seperti vampire, gigitannya tajam.

Anak kecil itu tersenyum licik,” Makanya jangan rebut PSP ku. Tapi Saengnim, aku mau dibawa ke mana?”

Anak itu kini menjerit ketika Yuri menggendongnya. Ia mendudukan Seok Hyun di atas kursi belajarnya dan mengikat seluruh badannya dengan tali mainan.

“Nah seperti ini,” Yuri tersenyum puas, “Baiklah, Hyun yang manis kita akan mulai belajar. Sekarang kita belajar bahasa inggris dulu. Siap?”

Seok Hyun cemberut, posisinya seperti orang pesakitan kedua kakinya diikat kini terikat oleh tali dan scarft di kaki kursi. Sebenarnya ikatan itu tidak kuat, hanya untuk mengesankan Seok Hyun saja kalau Yuri tidak main-main untuk menyuruhnya belajar. Yuri mengajari nama-nama benda dalam bahasa Inggris.

“A untuk apple, B untuk ballon, C untuk cherry…”

Dan Seok Hyun tampak bosan.

“Nah Sweet Hyun sekarang ada yang ingin ditanyakan?”

“Saengnim, aku sudah tidak  belajar itu lagi?”

“Oh ya? Lantas kau sekarang belajar apa?”

“Yang seharusnya Saengnim ajarkan adalah bagaimana mengartikan puisi-puisi di novel Hamlet.”

Yuri tercengang, ia baru menyadari siapa anak kecil di depannya. Seok Hyun sangat luar biasa, ia begitu pintar bahkan bisa dikatakan jenius. Umur 6 tahun sudah membaca novel klasik berbahasa Inggris?

“Sejak kapan Hyun membaca novel berat seperti itu?”

”Aku sudah membaca karya Shakespeare dari umur 5 tahun. Tapi ada bahasa yang aku kurang paham dan Omma menyuruhku untuk menanyaimu.”

Yuri bergidik. Sampai sekarang saja ia masih kesulitan membaca novel-novel ringan berbahasa Inggris,” Hmm, kalau begitu bagaimana jika kita belajar matematika saja. Dari catatan ini, kau sudah belajar sampai bab 5, nah jika begitu Saengnim akan mengajarimu dari bab 5 saja ya.”

“Aku sudah membaca  semua bab dalam buku matematika itu. Aku tidak suka membosankan”

“Jadi kau sudah mengerti mengenai persamaan, logaritma, dan integral?”

Seok Hyun mengangguk.

Jika sepintar ini kenapa anak itu masih membutuhkan guru privat?

Rupanya Seok Hyun mengerti apa yang sedang dipikirkan Yuri.

“Aku tidak membutuhkan guru, kadang-kadang aku jauh lebih pintar dari mereka. Omma dan Appa sangat sibuk jadi tidak bisa terlalu mengawasiku saat belajar. Itulah mengapa Omma menyewa guru untukku. Padahal aku sudah bosan belajar, aku ingin bermain. Tapi mereka selalu tidak ada di rumah.”

Usia 6 tahun sudah bicara seperti ini? Anak ini memang luar biasa. Tapi dilihatnya mata Seok Hyun yang berkaca-kaca, pasti ia sedih karena banyak kehilangan waktu bermain bersama orangtuanya. Yuri jadi membandingkan dirinya dengan Seok Hyun. Anak kecil itu berlimpah harta benda tapi kekurangan kasih sayang sejak usia dini. Sedangkan dia? Ia tidak pernah kehilangan perhatian orangtuanya walaupun hidupnya sangat miskin dan tidak berpunya. Sungguh ironis, andaikata manusia bisa memilih takdirnya.

Spontan Yuri memeluk Seok Hyun yang kakinya masih dalam kondisi terikat,”Kalau kau ingin bermain, kau bisa bermain dengan Saengnim“

Seok Hyun menatap mata Yuri dengan gembira, matanya begitu bening,”Jinja?”

Yuri mengangguk,”Begini saja, kita belajar sebentar hanya untuk mengecek apakah kau masih mengingat pelajaran kemarin atau tidak. Setelah selesai kita akan bermain sambil belajar, bagaimana?”

Anak kecil tampan itu mengangguk,”Kalau begitu tali di kakiku tolong lepaskan.”

Beberapa menit kemudian, mereka sudah bermain. Seok Hyun mengajaknya memasuki kamar yang isinya penuh dengan mainan. Melihat mainan itu membuat Yuri ingin kembali ke masa kecilnya. Dulu ia selalu bermimpi memiliki taman bermain seperti ini. Akhirnya ia merasakannya juga walau dalam usia yang sudah bukan anak kecil lagi.

“Saengnim lelah ya, mau aku bawakan teh?”

Anak ini jika sedang sadar teramat manis sikapnya.

“Baiklah”

“Jika begitu saengnim duduklah dulu, nanti aku buatkan teh yang paling enak.”

Yuri duduk tapi krek, bruk!

Yuri terjatuh, seluruh pinggangnya sakit, ternyata itu kursi mainan yang akan membuat orang yang berada di atasnya jatuh. Seok Hyun tertawa cekikikan. Jadi lagi-lagi Seok Hyun mengerjainya, ternyata dia duduk di kursi yang 1 kakinya tidak seimbang.

“Aish Seok Hyuuuuuuun!”

Menangkap gelagat bahwa Yuri akan mengejarnya Seok Hyun langsung lari tunggang langgang ke luar ruang bermainnya. Yuri mencoba mengejarnya walau badannya sedikit sakit. Terdengar suara tawa Seok Hyun dari beranda rumah. Padahal beberapa menit yang lalu, ia berubah menjadi anak yang manis. Yuri jadi teringat film horror Amerika lama yang pernah ditontonnya. Jangan-jangan Seok Hyun penjelmaan anak di film The Omen. Beberapa kali dia berpapasan dengan pelayan rumah yang memberikan tatapan prihatin padanya.

“Seok Hyuuuuuun. Kau kutangkap, tidak bisa kabur!”

Seok Hyun terus berlari membuka pintu ruang tamu sambil tertawa-tawa. Mungkin anak itu sedang menganggap mereka sedang bermain kejar-kejaran. Yuri menyusulnya dan tiba-tiba untuk yang kesekian kalinya “Braaaakkkk”

Yuri terhuyung-huyung karena menabrak sebuah guci keramik yang tinggi menjulang dan dalam waktu sekejap keramik itu pecah terkena hantaman badannya. Tuhan, mudah-mudah ini mimpi. Matanya berkunang-kunang, kepalanya pening, benturannya tadi cukup keras.

Seseorang menghampirinya“Kau tidak apa-apa?”

Kenapa ada suara orang dewasa. Yuri terbangun dan membuka matanya. Ia melihat sosok yang ada di depannya.

Deg, ia mengenal namja ini. Oh Tuhan apa dunia sebegitu sempitnya.

“Kyuhyun-ssi?”

“Kau mengenalku?”

Tentu saja Yuri mengenal orang yang telah dengan tega membuat bajunya basah dan mengambil kartu mahasiswanya. Justru pertanyaan itu harus ia balikkan kepada Kyuhyun. Apakah namja itu masih mengenal yeoja yang telah melemparnya dengan kaleng minuman?

“Kenapa kau ada di sini?” Tanya Yuri ngeri. Kyuhyun dan Seokhyun? Apa hubungan mereka?

“Tentu saja aku di sini, Seok Hyun adalah keponakanku. Aku yang menjaga dia selama orangtuanya pergi.”

Tiba-tiba kepala Seok Hyun menyembul dari belakang badan Kyuhyun, ia menyeringai. Yuri menunjuk Kyuhyun dan Seok Hyun dengan lemah. Aish kenapa dunianya kembali begitu gelap. Ternyata mereka bersaudara. Yuri tidak menyangka ia memiliki takdir buruk untuk bisa mengenal dua orang ini. Yang dewasa sangat arogan dan senang mengancam, yang kecil, begitu jahil dan bertingkah seenaknya.

“Apa yang kau lakukan di sini?” tanya namja itu. Ia masih berjongkok memandangi Yuri yang masih terduduk karena seluruh badannya sakit.

“Aku guru privat Seok Hyun mulai hari ini.”

“Jinja? Apakah kau bisa mengajarnya?”

“Jangan meremehkan aku Kyuhyun-ssi. Seok Hyun memang jenius, tapi aku yakin aku bisa menjadi guru yang baik untuknya. Aduuuh!”

Tiba-tiba Yuri mengaduh ada sesuatu yang sakit di kedua lengannya. Spontan Kyuhyun menarik menarik kedua tangan Yuri, dan menemukan banyak luka memar dan darah di pergelangan tangannya. Rupanya pecahan keramik itu melukai kulit tangannya.

“Kau terluka. Seok Hyun apa yang kau lakukan pada gurumu ini?”

Yuri menarik tangannya, ia tidak terbiasa disentuh oleh lawan jenis seperti itu. Pelan-pelan muka anak kecil itu menyembul lagi dari tubuh Kyuhyun.

“Samchon, keramik kesayangan Omma pecah.” Seok Hyun menunjuk-nunjuk tumpukan pecahan keramik itu.

“Kenapa bisa sampai pecah?”

“Hmm itu karena Yuri Saengnim.”

Yuri membelalakkan matanya, karena dia? Aish, anak kecil itu tega sekali memutar balikkan fakta.

“Aku tidak sengaja memecahkannya, itu karena aku mengejar Seok Hyun dan aku tidak menyangka kenapa keramik itu tiba-tiba sudah ada tengah pintu masuk.”

Dengan wajah innocent, Seok Hyun memeluk namja itu, “Samchon, kakiku tadi diikat oleh Ahjumma ini supaya aku belajar. Aku kabur dan Ahjumma ini mengejar-ngejar aku.”

Mencoba mengubah mood supaya lebih baik akibat muka dicoret-coret oleh spidol, bertemu ular imitasi di toilet, digigit oleh vampire cilik, dan terjatuh dari kursi mainan, Yuri bertahan untuk tidak terpancing emosi oleh anak kecil ini. Sesaat ia tadi merasa jatuh hati ketika Seok Hyun menceritakan rasa kesepiannya, tapi sekarang berganti menjadi rasa kesal yang amat sangat. Anak kecil seperti apa yang dihadapinya ini? Ia begitu jenius tapi begitu menakutkan.

Kyuhyun memandangnya tajam,”Benarkan apa yang dikatakan keponakanku?”

Sambil memegang kedua tangannya yang berdarah akibat terkena pecahan keramik, yeoja itu menggelang,”Sebelumnya aku minta maaf atas keramik itu tapi kejadian sebenarnya tidak seperti itu Kyuhyun-ssi. Sudahlah aku tidak perlu membela diri. Apa kau ingin memecatku? Jika kau ingin memecatku, pecatlah. Aku sedang tidak dalam kondisi bagus untuk membela diri dan kau pasti akan membela keponakanmu. Aku mengerti.”

Yuri mencoba berdiri tapi badannya begitu limbung. Ia hampir terjatuh jika Kyuhyun tidak menangkap badannya. Jarak mereka begitu dekat. Dengan cepat Yuri melepaskan diri.

Namja itu menatapnya sambil bersender pada dinding, “Aku harap kau bisa melihatku lebih positif. Aku adalah orang yang bersikap adil. Jika keponakanku yang bersalah tentu aku tidak akan membelanya.”

Yuri melepaskan diri,”Maafkan aku tapi aku tidak tahu apakah aku bisa menjadi guru yang disukai Seok Hyun.”

“Kau  ingin mengundurkan diri? Kau menyerah?”

Yeoja itu terdiam.

“Bukannya kau memiliki banyak hutang yang harus kau bayar? Bagaimana kau bisa menghadapi dunia sebenarnya jika berhadapan dengan anak kecil berumur 6 tahun saja kau sudah kalah.”

“Kau tidak tahu apa yang kualami seharian ini. Jangan salah sangka aku menyukai anak kecil. Tapi jika Seok Hyun tidak menyukaiku untuk apa aku bertahan?”

“Sudahlah kita bisa mendiskusikan ini nanti, sekarang tanganmu itu harus diobati. Seok Hyun tolong ambilkan kotak obat dan tolong minta Ahjumma Wok untuk membersihkan ruangan ini.”

Anak kecil itu menurut, mungkin hanya Kyuhyun yang bisa menaklukannya. Setelah kotak obat itu sudah ditangannya, dengan cekatan Kyuhyun membersihkan luka Yuri dan membubuhinya dengan antiseptik serta menempelkan beberapa lapis perban.

“Kenapa tanganmu selalu bergerak? Aku jadi sulit menempelkan perban ini.”

Yuri meringis, ia merasa rikuh jika tangannya dipegang seperti itu. Tapi Kyuhyun juga bersikap biasa, jadi kenapa ia harus merasa canggung.

“Nah sekarang sudah beres. Lukamu sudah kau obati, Seok Hyun kemarilah!”

Anak kecil itu muncul dan mendekati Kyuhyun dengan takut-takut.

“Kau bermain apa saja dengan Saengnim tadi?”

“Aku menggambar, bermain lego, dan kejar-kejaran.”

“Begitu? Apakah besok kau masih ingin bermain dengannya?”

Seok Hyun mengangguk.”Aku ingin bermain monopoli dan robot Gundam yang Samchon berikan padaku.”

Kyuhyun memandang Yuri,”Kau lihat? Jadi apa yang perlu kau khawatirkan, dia menyukaimu. Permohonan pengunduran dirimu kutolak. Jadi datanglah besok untuk mengajari Seok Hyun lagi.”

“Tapi…”

“AKu tidak mau mendengar penolakan. Aku tahu apa yang sebenarnya terjadi karena kakakku memasang banyak kamera CCTV di rumah ini. Jadi jangan suka menuduhku tidak bisa berbuat adil tapi memang memperlakukan anak kecil tidak bisa sama seperti memperlakukan orang dewasa. Mereka tidak boleh didekati dengan kekerasan dan ancaman.”

Yuri tercengang, ia tidak percaya kalimat itu keluar dari mulut Kyuhyun yang dulu pernah mengancamnya membawanya ke polisi dan memasukannya ke penjara.

“Akan aku pikirkan, sekarang waktuku sudah berakhir. Aku harus pulang.”

Yuri tidak memberikan keputusan. Yeoja itu mengambil tas ranselnya yang terlihat sangat berat.

“Seok Hyun, Yuri Saengnim akan pulang. Kita tidak tahu apakah dia mau kembali ke sini. Sepertinya Yuri Saengnim harus kita bujuk untuk mau mengajarimu.”

Dari kejauhan terlihat bocah kecil itu berlari-lari mendekati mereka, “Saengnim tidak mau mengajariku lagi? Saengnim tidak mau bermain lagi denganku?”

Percakapan itu menghadang langkah Yuri yang hendak pulang. Ia mendengar isak tangis dari bocah itu. Apa kali ini Seok Hyun sedang berakting?

“Jika kau ingin Saengnim mengajarimu. Kau harus meminta maaf atas apa yang kau lakukan hari ini. Yuri saengnim merasa kau tidak menyukainya.”

Tiba-tiba kedua kakinya sudah dipeluk Seok Hyun dari belakang,”Saengnim kembali lagi mengajariku ya. Aku tidak punya teman bermain. Guru-guru sebelumnya selalu pergi meninggalkanku. Aku berjanji tidak nakal lagi”

Yuri menghentikan langkahnya. Ia tentu sangat trenyuh dengan sikap Seok Hyun. Yuri berbalik, langsung memeluk dan menggendong bocah 6 tahun itu. Mata anak itu berair, berarti Seok Hyun tidak sedang berakting.

“Cup cup, jangan menangis, besok Yuri Saengnim akan kembali mengajarimu.”

“Jinja?”

Yuri mengangguk, ia menghapus air mata Seok Hyun dengan punggung tangannya.

“Besok kita akan belajar dan bermain monopoli. Tapi Seok Hyun tidak boleh menangis lagi, Yuri Saengnim jadi sedih melihatnya.”

Kyuhyun melihat pemandangan itu dari kejauhan. Ia tersenyum, satu masalah berhasil dipecahkannya. Setidaknya Seok Hyun sudah sedikit takluk dengan guru ini. Pengajar-pengajar sebelumnya tidak pernah mau bertahan dan selalu menyerah di setiap pertemuan pertama.

Yoeja itu menurunkan Seok Hyun dari gendongannya,”Tapi sekarang Saengnim akan pulang dulu. Sekarang Seok Hyun bisa menyiapkan permainan untuk kita mainkan besok.”

Seok Hyun berteriak gembira dan berlari masuk ke kamar mainannya.

“Orangtuanya sangat sibuk dan Seok Hyun membutuhkan perhatian. Ia sangat jenius tapi tidak mampu mengontrol kepintarannya. Sulit sekali mencari orang yang sanggup menemaninya. Ia berulah karena mencari perhatian. Kuharap kau dapat bertahan Yuri.”

Yuri menatap Kyuhyun,”Mudah-mudahan, anak itu memang luar biasa begitu juga kejahilannya. Nanti kau akan lihat di CCTV apa yang telah dilakukan keponakanmu padaku.”

“Aku harap itu tidak membuatmu menyerah.”

“Demi membayar hutang orang tuaku, kupikir aku bisa bertahan. Baiklah, aku pulang dulu Kyuhyun-ssi. Terima kasih atas semuanya,” yeoja itu membungkuk kemudian menunjukan perban yang menutupi tangannya. Setidaknya ia telah melihat sisi lain yang cukup baik dari artis arogan itu.

Kyuhyun mengikutinya, “Aku antarkan kau pulang.”

“Mwo?” Yuri berbalik karena terkejut dengan tawaran tiba-tiba ini, seorang artis terkenal Korea mau mengantarnya pulang? Apa ia tidak salah dengar.

“Tapi nanti penggemarmu? Bagaimana jika ketahuan pers?”

“Jangan berpikir macam-macam, aku ingin menjamin bahwa kau akan datang lagi ke sini besok. Jika kau tidak datang, setidaknya aku sudah tahu dimana aku bisa menjemputmu. Ini semua demi Seok Hyun.”

“Tapi …”

Bagaimana ya? Ia belum pernah diantar namja sebelumnya.

“Sudahlah jangan membantah.”

Beberapa menit kemudian, kini Yuri sudah berada dalam kenyamanan mobil Maybach milik Kyuhyun. Impiannya untuk bisa mencoba mobil mewah terwujud. Di mobil, Yuri tidak henti-hentinya duduk sambil meloncat-loncat kecil, merasakan betapa empuk jok mobil ini dan betapa nikmatnya melihat pemandangan kota Seoul sambil mengendarai mobil mahal ini. Ia juga tidak henti-henti memuji interior mobil Kyuhyun yang begitu mewah. Namja itu melihat kelakuan Yuri dengan tersenyum sinis.

“Apa kau memang selalu bertingkah kekanakkan jika sedang naik mobil. Tidak bisakah kau duduk tenang seperti seharusnya?”

“Mianhae, tapi ini adalah mobil mewah pertama yang aku tumpangi. Rasanya lain. Auranya sangat maskulin dan glamor.”

Tentu saja lain, namanya juga mobil mewah. Kyuhyun masih tersenyum sinis, tapi di sisi lain hatinya ingin tertawa melihat perubahan sikap Yuri. Setahunya, yeoja itu tampak seperti berusaha mengontrol dirinya untuk bersikap dewasa tapi sekarang ia membuka jati dirinya yang lain, seperti anak-anak yang kesenangan karena bermain di taman bermain.

“Baiklah, sekarang aku harus mengambil arah kemana?” Kyuhyun bertanya ketika menghadap perempatan jalan.

“Ke kanan saja karena aku akan pergi ke perpustakaan nasional”

“Bukannya ke rumah?”

Yuri menggelang,”Aku sedang membuat laporan dan membutuhkan beberapa referensi.”

“Kalau begitu aku jadi tidak tahu rumahmu.”

“Aish kau membuatnya menjadi sulit, bukankan kartu mahasiswaku ada di tanganmu. Di situ tertera alamatku.”

“Oh di daerah kumuh Insadong ya, perkumpulan ruman susun yang sudah tidak terurus?”

Emosi Yuri kembali naik,”Ya, berhentilah untuk terus mengejek kemiskinanku. Memang kenapa jika aku miskin? Apa aku seperti virus yang mengganggu pemandangan orang kaya. Harusnya orang kaya sepertimu itu bersyukur dengan keberadaan orang miskin seperti kami. Jika tidak ada kami, tidak ada yang mau menyebut kalian orang kaya. Jika tidak ada kami, tidak ada orang yang mau menyikat sepatu atau membersihkan toilet kalian.”

“Kau ini sangat sensitif, aku tidak sedang menghinamu. Daerah Insadong itu memang kumuh dan rumah susun yang ada di sana juga tidak terurus, itu adalah fakta, kenapa kau harus marah,” jawab Kyuhyun santai sambil mengemudikan mobilnya.

“Karena aku adalah pengisi  daerah yang kau katakan kumuh dan tidak terurus itu.”

“Lalu apa masalahmu jika iya?”

“Cih, apa orang kaya selalu tidak sensitif, kalian membicarakan kemiskinan seolah-olah seperti membicarakan acara pesta atau peresmian pembangunan rumah baru. Kemiskinan memang fakta tapi bukan untuk diucapkan tanpa perasaan.”

Kyuhyun menengok ke arah yeoja itu, “Aku tidak mengerti kenapa kau marah? Aku merasa tidak sedang menghina dirimu. Yang kulihat kau malah seperti mendramatisir kemiskinanmu. Apa semua orang miskin selalu mudah tersinggung jika ada pernyataan yang sedikit saja menyentuh kalian. Daerah Insadong kumuh, bahkan koran dan walikota pun menyebutkannya begitu. Jika begitu kau harusnya marah pada seluruh Korea ini.”

“Selama kau jadi orang kaya, kau tidak akan mengerti. Sudah aku turun di sini saja. Aku malas berbicara denganmu!”

“Diamlah! Perpustakaan nasional tinggal beberapa menit, bukankah aku berjanji mengantarmu sampai ke rumah.”

“Aku malas berbicara denganmu. Aku ingin diturunkan di sini. Sekarang!

Kyuhyun menghentikan laju mobilnya ketika yeoja itu sudah mulai berteriak. Yeoja yang tidak tahu berterima kasih.

“Silahkan jika kau ingin keluar. Ini sudah malam, apa kau tidak takut berjalan beberapa kilometer dalam kegelapan?”

Yuri mengangkat bahunya tidak perduli. Ia mencoba membuka pintu mobil, tapi tidak bisa. Pasti Kyuhyun menguncinya. Namja itu tersenyum licik. Tapi ia tidak kehilangan akal, Yuri langsung berdiri dan meloncati pintu mobil itu dengan mudah karena kap mobil telah diset terbuka.

“Hey apa yang kau lakukan dengan jok mobilku. Kau mengotorinya!”

Kyuhyun berteriak kalap, tapi Yuri keburu berlari dan hilang di tengah kegelapan malam. Kyuhyun masih mendengar Yuri tertawa tapi suara itu lenyap perlahan. Yeoja yang aneh, tidak mau dihina karena kemiskinan tapi tingkahnya sendiri sangat kampungan. Kyuhyun menatap jejak sepatu yang tertinggal di atas jok mobilnya. Awas kau Yuri!

Ternyata sekarang  Yuri sudah ada di ruang membaca Korea National Library, ia memilih tempat itu untuk mengerjakan laporan yang dipesan Dainn. Hari ini begitu berat, bertengkar dengan Dainn, mengajar anak jenius yang jahil seperti Seok Hyun, dan bertemu artis arogan Cho Kyuhyun. Sudahlah, yang penting ia memiliki beberapa jam untuk menyelesaikan laporan itu. Yuri sebetulnya sudah sangat mengantuk, apalagi sekarang waktu sudah menunjukan pukul 9 malam. Tapi demi beasiswanya, ia harus bertahan. Yuri terus mengetik dan mengetik sambil sesekali membaca buku yang ditemuinya di perpustakaan ini. Untunglah perpustakaan nasional ini buka 24 jam sehingga Yuri bisa bebas mengetik di sana sampai kapanpun. Tapi niat dan motivasipun tidak cukup jika badan sudah teramat lelah, tanpa sadar Yuri tertidur. Ia baru tersadar ketika seseorang seperti sedang berada di sampingnya. Yuri mengejap-ngejapkan matanya yang lelah, ia melihat bayangan samar, seseorang sedang bermain-main dengan laptopnya. Ketika matanya sudah membuka sempurna, ia sadar dan terkejut bukan main.

“Kyuhyuuuun-ssi, apa yang kau lakukan di sini?”

Namja itu berdiri dan tersenyum menyeringai seperti biasa, “Seperti yang kukatakan aku harus mengantarmu sampai ke rumah. Aku harus menjamin bahwa kau tidak bohong dan akan mengajari keponakanku besok. Kau katakan akan membuat laporan ternyata kau malah asyik tidur-tiduran di sini.”

“Aku tertidur dan aku memang sedang mengerjakan tugas.”

“ Tugas apa? Kenapa buku ekonomi yang kau bawa, bukannya kau jurusan politik?

“ Hubungan internasional,” Yuri mengoreksi.

“Ya semacam itulah.”

Tiba-tiba Yuri menyadari sesuatu, ia sedang mengerjakan proyek Dainn dan tidak boleh ada yang mengetahuinya, bahaya. Dengan sigap ia mengambil laptop dan hampir menutupnya. Tapi Yuri kalah cepat, karena Kyuhyun sudah menarik laptop itu dan membaca sekilas hasil ketikannya. Yuri bertindak cepat, ia langsung menutup laptop itu sehingga Kyuhyun tidak bisa membaca apa yang ditulisnya.

“Kau tidak boleh seenaknya membaca tulisan orang. Sebagai artis kau pasti tahu arti PRIVASI!”

Namja itu menatap Yuri tajam sehingga yeoja itu jengah,“Kau sedang melakukan penelitian tentang industri musik Korea?”

Yuri mengangkat bahu.

“Apa hubungannya penelitianmu dengan jurusanmu.”

“Itu urusanku, memangnya jika jurusanmu berbeda kau tidak bisa mempelajari ilmu yang lain?”

“Aish, kau ini kenapa sinis sekali. Aku bertanya baik-baik dan kau harus menjawab baik-baik pula.”

Yuri malas berdebat dengan namja itu. Moodnya untuk menulis langsung hilang seketika. Lebih baik ia pulang saja toh laporan itu hampir selesai, ia hanya tinggal mengeditnya saja. Yuri merapikan laptop dan barang bawaannya kemudian beranjak pergi. Kyuhyun menyusulnya dan memegang tangannya,”Aku antar ya?”

Spontan Yuri mengibaskan tangannya,”Tidak usah, daripada terus mendengar kau menghinaku lebih baik aku naik bis saja.”

“Baiklah aku berjanji tidak akan menghinamu.”

“Aku tidak percaya. Dan aku heran, apa kau tidak sibuk? Jadi semalaman ini kau menungguku di perpustakaan ini? Sungguh tidak produktif untuk selevel artis, pemilik Suju Company, dan mahasiswa S2.”

“Sekarang kau yang menghinaku. Tapi lihat aku tidak marah, karena memang faktanya seperti itu.”

Yuri mendengus, tapi tanpa sadar ia mengikuti arah langkah kaki Kyuhyun yang sedang mendekati mobilnya.

“Kupikir kau akan naik bis? Ternyata kau membuntutiku hehehe.”

Seperti tertampar, Yuri memutar balik tubuhnya, tapi Kyuhyun menarik tangannya lagi.

“Aku heran dengan yeoja yang mudah marah sepertimu? Apa kau tidak bisa diajak bercanda. Hidup selalu serius itu tidak menyenangkan, kau akan cepat tua dan tidak menikmati hidup.”

Kyuhyun membukakan pintu mobilnya,”Sekarang masuklah dan jangan gampang marah jika mendengar pembicaraanku. Jika kau tidak suka tutuplah telingamu dan berpura-pura tidak mendengar. Itu mungkin solusi yang bagus untukmu dan untukku.”

Tanpa banyak bicara Yuri masuk ke dalam mobil itu. Baiklah, ini bukan masalah harga diri kenapa ia tidak menolak diantar Kyuhyun. Yuri hanya ingin sampai cepat ke rumah, membersihkan diri dan langsung mengedit laporan itu. Ia ingin secepatnya bebas dari ancaman Dainn. Ia sudah tidak perduli apakah laporannya bagus atau tidak. Itu bukan urusannya untuk membuat laporan yang berkualitas. Pikirannya masih dipenuhi ketakutan akan diputus beasiswanya. Demi masa depannya, demi orangtuanya, ia memang harus mengalah. Contohnya seperti ini, dengan terpaksa mengikuti Kyuhyun supaya ia bisa segera sampai ke rumah.

“Ini rumah susunmu?” tanya Kyuhyun akhirnya mereka sudah sampai ke tempat yang dituju.

Yuri mengangguk.

“Seperti rumah hantu.”

Yeoja itu melotot tapi Kyuhyn pura-pura tidak perduli. Yuri keluar dari mobil, tidak mau banyak bicara karena takut meletus perang dunia ketiga.

“Kau tidak mau berterimakasih padaku?” seru Kyuhyun dari dalam mobilnya

“Baiklah, aku berterimakasih karena Kyuhyun-ssi telah berbaik hati mengantarku.”

Yuri membungkuk. Kyuhyun tertawa,”Rasanya aku mendengar ucapan terima kasih terpaksa.”

Yeoja itu tidak menanggapi, ia berbalik menjauhi mobil Kyuhyun sampai akhirnya namja itu berteriak.

“Besok kutunggu kau jam 9 pagi di student room-ku.”

Yuri berbalik,”Untuk apa?”

“Apa kau tidak kangen dengan kartu mahasiswamu?”

“Aish, kalau kau ingin mengembalikan kenapa tidak sekarang saja?”

“Pokoknya besok pagi kutunggu di student roomku. Kau harus datang, jam 9, jangan terlambat!”

Kyuhyun segera melajukan mobilnya, meninggalkan Yuri yang kebingungan. Aish jam 9 pagi besok adalah waktunya ia menyerahkan laporan itu kepada Dainn di taman kampus. Kenapa orang kaya selalu memiliki kecenderungan arogan dan suka memaksa? Dainn dan Kyuhyun, kedua orang itu tidak jauh berbeda. Sama-sama senang menggunakan kekuatannya untuk memaksa orang menuruti kehendak mereka. Pantas saja kedua orang itu pernah terlihat bersama, mungkin mereka merasakan kecocokan satu sama lain. Aish, sama sekali bukan pasangan yang membuat hatinya iri.

TO BE CONTINUED

Author: Mianhae telat satu hari dari yang dijanjikan tapi mudah-mudahan terbayar dengan betapa panjangnya ff ini. Gomawo atas dukungan readers karena akhirnya author sudah menyelesaikan presentasi final dengan lancar. Baiklah langsung saja, jika readers ingin tahu bagaimana kisah selanjutnya, silahkan RCL (Read, Comment, & Like). Sebisa mungkin setiap komen readers akan author jawab sebaik mungkin. Mudah-mudahan edisi ff ke depan tidak selama ini. Amin. Author terbuka untuk kritikan dan pujian dan juga masukan. Mau curhat boleh heheh. Anyway, jika readers menemukan banyak typo hehehe itu mah bawaan orok ya, mohon dimaafkan. Oh ya ini twitterku @KimHyeAh22 follow me yah.

Last but not least, I love you, saranghae, aishiteru, muah muah.

Advertisements

440 responses to “SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: WILD ORCHID FOR KYUHYUN’S HEART (PART 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s