[Freelance] The Last

Title : The Last
Author : May Lie
Genre : AU, Romance, Angst
Rating : PG-13
Cast : Kim Junsu (TVXQ)
Lee Haneul (OC)
Kim TaeYeon (SNSD)

“Ya! Junsu-ah..”
Aku menoleh kesumber suara yang meneriakan nama ku itu, seorang gadis dengan rambut pendek sebahu menghampiriku sambil berlarian. Saat ia sampai ditempatku berada ia menunduk sambil mengendalikan nafasnya yang tidak beraturan itu.
“wae haneul-ah?” tanyaku padanya, kuambil sebotol air mineral yang ada ditasku dan kuberikan padanya, haneul langsung mengambil air mineral yang kuberikan padanya dan meminumnya dengan buru-buru, setelah ia selesai minum ia mengembalikan botol air mineral itu padaku sambil tersenyum terima kasih.
“kenapa kau meninggalkanku junsu-ah, kita kan selalu pulang bersama” rengut Haneul
“ya! Kenapa kau tidak pernah memanggilku oppa, aku ini lebih tua dari kau tau” ku pukul kepalanya dengan batol air mineral.
“aaww… appaseo!” teriaknya, sambul mengelus kepalanya yang tadi kuhantam dengan botol air mineral “cih.. aku tidak akan pernah memanggilmu oppa, shireo!”
Aku hanya menggelengkan kepala , melihat tingkah gadis kecil yang ada dihadapan ku , haneul adalah tetangga ku, kami sudak berteman sejak kecil, dari dulu aku selalu menganggapnya sebagai seorang adik, tapi dia tidak pernah memanggilku dengan sebutan oppa.
“kajja, ayo kita pulang” ajakku, iya mengangguk dan berjalan disampingku ia mengaitkan tangannya ditanganku.
“Junsu-ah kudengar kau sedang berpacaran dengan taeyeon seonbaenim, benarkah?” Tanya Haneul tiba-tiba, ia menoleh dan menatapku, entah aku merasa ada yang aneh dengan tatapannya, tatapan itu seperti tatapan khawatir, penasaran, sedih dan .., entahlah ada yang aneh dengan tatapan itu.
“ya! Junsu kenapa kau menatapku seperti itu, jawab pertanyaan ku” teriaknya galak.
“kau ini galak sekali! ya, aku memang sedang dekat dengan Taeyeon-ssi tapi kami belum berpacaran” kataku.
“oh..” ia sedkit menghela nafas terlihat sedang berpikir wajah nya terlihat… mungkin bisa dibilang wajahnya sedikit murung.
“wae? Kau cemburu” gurau ku.
“ah.. an..anniya.. micheoso.. kenapa aku harus cemburu” ucapnya salah tingkah, lalu ia melayangkan tas kecil yang dibawanya dan tas itu tepat penghantam kepalaku.
“Ya! Neo…” teriakku.
Haneul langsung berlari menjauhiku sambil menjulurkan lidahnya dan tertawa, ia berjalan menuju zebra cross. Kulihat lampu lalu lintas pejalan kaki sudah berwarna kuning dan menjadi merah tetapi Haneul langsung berjalan ke jalan raya tanpa memerhatikan lampu lalu lintas.
Aku buru-buru berlari kearahnya dan sebuah mobil mendekati Haneul , dengan cepat kutarik tangan Haneul , kami pun jatuh bersama diatas trotoar. Badanku terasa sakit karena punggungku menghantam trotoar.
“Haneul-ah gwenchanayo?” tanyaku pada Haneul yang berada dipelukanku.
Haneul mengangkat wajahnya dan menatapku wajahnya begitu dekat dengan wajahku hanya berjarak beberapa centimeter
“DEG” ah.. kenapa jantungku berdebar-debar seperti ini.
“ah… ne gwenchanayo” ucapnya Hanel langsung berdiri dan melepaskan dirinya dari pelukanku, ia mengulurkan tangannya padaku dan membantuku bangun.
“gomawo junsu-ah” ucapnya tulus.
“kau ini kalau mau menyebrang harus hati-hati, bagaimana kalau tidak ada aku” omelku.
“mianhae, aku akan berhati-hati” Haneul menundukan kepalanya.
“ayo kita pulang” ajakku.
“keundae, kau tidak apa-apa junsu-ah? Kau tidak ada yang terluka punggungmu tidak sakit” tanyanya khawatir.
“anni, aku baik-baik saja” dustaku sebenarnya punggungku sakit sekali setelah menghantam trotoar tapi aku tidak ingin membuatnya khawatir.
“syukurlah, ayo kita pulang” ajak Haneul, ia menyusupkan jemarinya yang kecil kejemari ku yang lebih besar, kusadari jantungku berdegup kencang lagi.

***
Ku buka mata ku pelan-pelan rasanya enggan sekali untuk bangun hari ini badanku terasa sakit semua terutama bagian punggungku sepertinya punggungku sedikit memar akibat kejadian kemarin, kupaksakan membangunkan tubuhku dari tempat tidur, saat aku mengangkat tubuhku rasa sakit menjalar ditubuh ku.
“junsu-ah kau tidak bangun? Kau harus segera sekolah jika tidak ingin terlambat” eomma membuka pintu kamarku “omo! Kau kenapa junsu-ah” eomma langsung kaget melihat nasib putranya yang mengenaskan.
“aku hanya tidak enak badan saja eomma” ucapku.
“ya sudah kau tidur saja, eomma akan telpon kesekolah kalau kau sedang sakit” eomma keluar dari kamarku. Aku membaringkan tubuhku ditempat tidur dan mulai terlelap lagi.

***
“junsu-ah” panggil seseorang, kubuka mata ku dan kutemukan eomma sedang duduk di pinggir tempat tidurku.
“wae eomma?” Tanya ku dengan suara parau.
“eomma akan ke supermarket sebentar, tolong jaga rumah ya, jika kau lapar kau ambil saja di meja makan eomma sudah memasakan makanan” ucap eomma
“ne arraseoyo eomma, hati-hati” ucapku, eomma mengelus kepalaku. Emma berjalan kepintu dan saat ia akan membuka pintu ia menoleh kearahku.
“ah iya eomma hampir lupa memberitahumu , tadi pagi Haneul datang kesini saat akan berangkat sekolah tadinya eomma suruh dia ke kamarmu tapi katanya nanti saat pulang sekolah dia akan kemari dia takut mengganggu tidurmu tadi” setelah mengatakan hal itu eomma langsung pergi.
Kuraih handphone ku ada 3 pesan disana , kubuka satu persatu hanya satu yang menarik perhatian ku yaitu sms dari Haneul.
From : Haneul Babo
Hei.. Junsu-ah, neo gwenchana? Kau sakit pasti karena aku ya?
Mianhae , aku akan menjengukmu saat pulang sekolah..
aku tersenyum membaca smsnya , ternyata dia merasa bersalah karena kejadian kemarin.
“ting tong” suara bell rumah berbunyi saat aku akan membalas sms Haneul.
Eomma kah ? secepat itukah eomma ke supermarket , atau Haneul? Yah mungkin Haneul yang datang mungkin dia sudah pulang sekolah. Aku buru-buru berjalan menuju pintu rumah, dan kubuka pintu kutemukan seorang perempuan mengenakan seragam sekolah dan itu bukan Haneul.
“hai” sapa Taeyeon.
“oh.. hai” balasku.
“kudengar kau sakit dari Park Seongsaengnim” Ucap Taeyeon.
“ne, aku tadi pagi tidak enak badan , silahkan masuk” aku mempersilahkan Taeyeon masuk. Kami pun duduk di ruang tamu.
“aku juga membawakan catatan pelajaran hari ini” Taeyeon mengeluarkan buku catatan dan menyodorkannya padaku.
“gomawo” aku menerima catatan itu.
“Junsu-ssi ada hal yang ingin ku katakana padamu juga”
“ne?”
“kita sudah lama dekat, dan aku merasa aku menyukaimu junsu-ssi” ungkap Taeyeon malu-malu.
Aku sedikit kaget dengan pernyataan cintanya, aku merasa bingung selama ini aku hanya menganggapnya sebagai teman.
“ah mian Junsu-ssi kau pasti sangat kaget dengan pernyataan ku tadi, kau tidak perlu menjawabnya cepat-cepat aku bisa menunggu” ucap Taeyeon lembut.
“ah ne… “ kulihat seorang perempuan yang sangat kukenali sedang berdiri dihadapanku saat aku akan mengatakan sesuatu pada Taeyeon.
“hai junsu-ah” sapa Haneul riang “kau bagaimana sih menutup pintu tidak rapat, bagaimana kalau ada perampok” omel Haneul “Taeyeon seonbaenim annyeong” sapa Haneul sambil menunduk Taeyeon menunduk juga.
“Junsu-ssi kurasa aku harus pulang sekarang, semoga cepat sembuh, sampai ketemu disekolah” pamit Taeyeon , aku mengantarkan Taeyeon keluar rumah. Setelah aku mengantar Taeyeon aku kembali ke ruang tamu dan aku tidak menemukan Haneul ada di sana.
“dimana sih anak itu” gumamku.
Aku menuju kamarku dan kutemukan gadis itu di dalam kamarku sedang berbaring di tempat tidurku sambil membaca komik, Haneul memang sudah biasa dengan rumah ku dan aku sudah biasa dengan kebiasaannya yang menjajah kamarku.
“ya! Kau sedang apa dikamarku” aku mendekatinya.
“baca komik” jawabnya singkat masih serius membaca komik.
“hah.. dasar kau” ucap ku pasrah, aku duduk dikursi meja belajarku, kulihat Haneul yang wajahnya tertutup komik tetapi masih ada celah sehingga aku bisa melihat wajahnya, kulitnya putih dan seperti bayi, tanpa kusadari dia tumbuh menjadi gadis yang cantik karena selama ini aku selalu menganggapnya gadis kecil yang selalu mengekoriku kemanapun aku pergi, tanpa sadar aku mengamati Haneul,
“aigoo… aku hampir saja lupa” ucap haneul tiba-tiba. Haneul menurunkan komik yang menutupi wajahnya.
“mwo?” aku sedikit kaget. Haneul mengambil tas sekolahnya dan merogoh tasnya mencari sesuatu.
“ini dia… tada!!!” Haneul mengeluarkan sesuatu berbentuk persegi.
“apa itu” tanyaku.
“koyo” ucapnya polos “aku tau kau sakit karena punggungmu terbentur trotoar kemarin dank au tidak memberi tahu eommamu kejadian kemarin”
“ah tidak usah… nan gwenchanayo” tolak ku.
“aku tidak mau tau , sini biar aku yang tempelkan” Haneul menarikku sehingga aku duduk di tempat tidur. Ia mengangkat baju kaos yang kukenakan.
“akh…” Haneul terkesiap melihat punggungku “lihat punggungmu memar begini”
Haneul menempelkan beberapa koyo di punggungku.
“sudah…” ucap Haneul.
“gomawo” ucap ku dan tersenyum padanya.
“Junsu-ah! Eomma pulang…” terdengar suara eomma. Haneul langsung melesat keluar kamar dan menyapa eommaku.
“selamat siang ajumma” sapa Haneul riang.
“wah.. kau sudah datang Haneul-ah, sudah makan siang?” Tanya eomma ramah, Haneul menggelengkan kepalanya “ayo makan disini, ajumma sudah masak beberapa makanan tadi, ayo Junsu-ah kau juga supaya cepat sembuh” aku menghampiri mereka berdua yang sudah seperti ibu dan anak.
Kamipun makan siang bersama, setelah selesai makan siang Haneul membantu eomma membereskan meja makan, mereka terlihat seperti ibu dan anak aku hanya tersenyum melihat mereka. Aku berjalan ke taman kecil dibelakang rumahku dan duduk di kursi taman itu, ah terpikirkan kembali pernyataan cinta yang dilontarkan Taeyeon tadi apa yang harus kujawab, aku bingung harus memberikan jawaban seperti apa kepada Taeyeon sebenarnya aku cukup tertarik dengan Taeyeon dia gadis yang cantik dan cukup populer diantara laki-laki sekolah , tapi entahlah hati ku seperti berkata lain ada seorang gadis polos yang mulai mengisi hatiku ini.
“junsu-ah” Haneul langsung duduk disebelahku “sedang apa kau disini?”
“hmmm… berpikir” ucapku.
Haneul mengangguk-anggukkan kepala seolah mengerti apa yang sedang kupikirkan, aku menatapnya yang sedang menunduk sambil mengayun-ngayunkan kakinya, entah kenapa akhir-akhir ini aku sering mengamati Haneul ada perasaan senang dan nyaman ketika aku melihat dan menatapnya.
“Junsu, besok hari minggu bukan? Bagaimana kalau kita jalan-jalan?” ajak Haneul.
“kau ingin mengajakku kencan ya?” candaku.
Haneul langsung salah tingkah ketika mendengar candaanku, ia menundukan kepala sambil memainkan kedua jempolnya.
“hei.. kenapa kau jadi salah tingkah gitu?” aku terkekeh geli melihat tingkahnya.
“ah.. nae.. naega .. yak au sedang menggodaku ya? Kalau kau tidak mau ya sudah” Haneul beranjak dari duduknya dan menuju ke dalam rumah.
“baiklah… besok kau akan ku jemput” ucapku sebelum Haneul masuk kedalam. Haneul membalikan badannya dan tersenyum senang.

****
Pagi ini aku datang kerumah Haneul untuk menjemputnya sesuai janji kami kemarin. Kuketuk pintu rumahnya tidak lama pintu rumahnya dibuka. Seoarang pria paruh baya berada dibalik pintu. Aku langsung membungkukkan badanku.
“ajeosshi annyeonghaseyo” aku memberikan salam.
“junsu-ssi, kau datang menjemput Haneul?” Tanya Ajeosshi.
“ne, ajeosshi” jawabku.
Tiba-tiba Haneul sudah muncul dibalik punggung appanya dan dia tersenyum manis kepadaku.
Haneul mengenakan dress pink polos 10 cm diatas lutut, ia mengenakan jepit berbentuk pita berwarna pink di rambutnya yang panjangnya hanya sedikit melebihi bahu dan ia membawa tas kecil berwarna putih senada dengan warna sepatu tanpa heels yang yang ia gunakan, ia terlihat cantik.
“appa kita berangkat dulu ya” pamit Haneul.
“hati-hati ya” ucap ajeosshi , ia menepuk pelan bahuku. Aku membungkukkan badanku. Kami menuju mobil yang kuparkirkan di depan rumah Haneul.
“kau bawa mobil” Tanya Haneul kaget melihat mobil merah gelap ku. aku mengangguk bangga.
“hadiah ulang tahunku dari appa” kataku.
“kau sudah mendapat lisensi mengemudikan? Aku tidak mau membuang nyawa ku dengan cara konyol” guraunya.
“tentu saja, aku juga tidak mau mati bersamamu bodoh” balasku sambil membuka pintu untuknya.
“gomawo” Haneul masuk kedalam mobil dan aku menutup pintu mobil dan aku masuk kedalam mobil.
“kita akan pergi kemana?” Tanya ku sambil menghidupkan mobil.
“keliling dunia!!!”

****

Hari ini kami mengunjungi banyak tempat mulai dari mall, taman bermain, kuil, caffe dan banyak tempat lainnya dan haripun sudah semakin sore.
“kita pulang sekarang?” tanyaku pada Haneul, saat kami kembali ke mobil sehabis dari caffe.
“chamkanman. Aku ingin ke pantai” ucap Haneul.
“tapi ssekarang sudah sore, lain kali saja kita ke pantainya” kataku.
“shirreo, aku mau sekarang, ayolah junsu-ah” mohon Haneul.
“hah.. kau ini sungguh merepotkan” akupun tidak bisa menentang keinginannya itu, kujalankan mobil menuju pantai, kami butuh waktu yang cukup lama menuju pantai. Saat kami tiba matahari sudah hampir terbenam dan langit sudah berwarna jingga.
“uwaaa…” Haneul berlari menuju pantai. “junsu-ah palliwayo” panggil Haneul.
“dasar anak ini” gumamku, aku menuju kearahnya yang sudah melepas kan sepatunya dan sekarang sedang bermain air.
“sudah puaskah sekarang kau anak kecil” kataku padanya.
“puas sekali, gomawo sebagai balasannya kuberikan kau ini” Haneul menyipratkan air pantai kearahku..
“ya!!!” teriakku.
Kami pun bermain air, menyipratkan air ketika ombak datang kami segera berlari kepinggir pantai. Setelah bermain kami merasa capek dan kami duduk di atas pasir sambil menikmati suara ombak dan desiran angin.
“haaaachi…” suara Haneul bersin.
Kulihat baju Haneul basah akibat tadi bermain air. Kulepas jaket tebalku, dan kuberikan padanya.
“makanya sudah tau sekarang sedang musim gugur dan hampir menuju musim dingin kenapa kau memakai dress tipis” omelku.
“uh… kau ini seperti eomma, cerewet sekali, kan aku ingin tampil cantik didepanmu” ucap Haneul. Aku sedikit kaget dengan ucapan haneul tadi. Jantungku tiba-tiba berdegup kencang.
“Junsu-ah aku mau ketoilet di minimarket disana dulu ya” Haneul menunjuk mini market yang berada diseberang pantai. Aku mengangguk kulihat Haneul mulai menjauh dan ia menyeberangi jalan raya dan masuk ke dalam minimarket yang ia tunjuk tadi.
Aku tersenyum kecil mengingat ucapan Haneul tadi, kurasa aku baru menyadari bahwa aku menyukai Haneul, Haneul lah yang berhasil mengisi hatiku ini. Kuambil handphone yang berada dikantogn celanaku.
To: Taeyeon
Taeyeon-ssi, mian aku tidak bisa menerima perasaanmu.
Jeongmal mianhae…
Setelah kuketik sms dan kukirim sms itu, kumasukan kembali handphone ku kedalam kantong celana.
“Haneul kenapa dia lama sekali” kataku pada diri sendiri.
Junsu oppa!!!!!!!” teriak Haneul.
Aku menoleh dan melihat dia didepan pintu minimarket membawa 2 botol minuman, Haneul tersenyum dan melambai-lambaikan tangannya kubalas lambaian tangannya. Kenapa hari ini anak itu selalu memberikanku kejutan sekarang tidak ada angin dan badai ia memanggilku oppa.
Haneul menyebrangi jalan tetapi ada sebuah mobil melaju dengan cepat kearahnya, aku segera berlari kearahnya.
“Haneul-ah” teriakku. aku berlari sekuat tenaga menuju jalan raya.
“tiiin tiiin…” mobil itu membunyikan klakson.
“BRAAAKK” kulihat tubuh Haneul menghantam mobil itu dengan keras dan tubuhnya terbanting keaspal tubuh Haneul mengeluarkan banyak darah.
“HANEUL!!!”

***
Sudah 2 hari berlalu sejak kecelakan mengenaskan itu. Ruangan putih disinilah tempatku sekarang, setiap hari aku bolak-balik datang kemari hanya untuk seseorang. Haneul terbaring diranjang kamar rumah sakit tubuhnya dipasangi berbagai peralatan medis. Aku menatap tubuh kaku Haneul, matanya masih terpejam kupegang tangannya yang dingin.
“Haneul-ah cepat bangun ada hal yang ingin kukatakan padamu” bisikku padanya.
Aku beranjak dari tempat duduk, aku menuju jendela yang menghadap taman belakang rumah sakit banyak pasien yang sedang berjalan-jalan disana. Haneul jika kau sadar nanti aku akan mengajakmu jalan-jalan ditaman itu, taman itu cukup rindang dan sejuk bagus untuk kesehatan para pasien.
“Junsu-ah”
Aku menoleh kaget, kulihat Haneul sudah membuka matanya wajahnya sangt pucat dan seperti … sangat menahan rasa sakit. Aku buru-buru menghampirinya.
“aku akan memanggil ajeossi dan ajumma” ucapku.
“junsu-ah” panggil Haneul lemah.
“wae?” tanyaku.
“tasku” ucapnya. Aku melihat tas putihnya yang ternodai darahnya saat kecelakaan “buka” perintahnya. Kuambil tas itu dan kulihat amplop merah muda. Haneul tersenyum lemah. Kubuka amplop itu dan kubaca surat itu.
“Junsu-ah..
Aku tidak tau harus berkata apa jika berbicara langsung, maka dari itu aku menulis surat ini untukmu.
kau tau aku sudah lama menyukaimu sudah dari kecil aku selalu mengikutimu karena aku menyukaimu… hehehe…
Sudah lama aku ingin menyatakan perasaanku padamu, tapi aku takut…
Aku takut kau tolak karena kau selalu menganggapku anak kecil , dan aku juga takut kalau kau akan menjauh jika aku mengutarakan semua perasaanku padamu.
Tapi, aku tidak mau kau dimiliki oleh perempuan lain karena kau milikku, dari kecil kau selalu bersamaku aku takut berpisah dari mu.
Dan sekarang aku memberanikan diriku untuk menulis surat ini untukmu, apapun yang terjadi aku akan menerimanya.
Junsu-ah saranghae…”
Aku meneteskan air mataku , kutatap Haneul yang sudah terlihat lelah aku tau dia lelah menahan rasa sakit ditubuhnya.
“Junsu-ah” ucapnya lemah.
Kugenggam tangannya, ia menatapku dan tersenyum. Aku tau dia sedang menunggu jawabanku, aku tidak ingin dia pergi tapi aku tidak ingin juga melihatnya menderita seperti ini. Tapi aku harus melakukannya karena aku mencintainya. Kucondongkan tubuhku kukecup keningnya kudekatkan bibirku ditelinganya.
“nado saranghae, Lee Haneul” bisikku.
Haneul mengangguk dan tersenyum, air matanya mengalir dari kedua sudut matanya dan ia memejamkan matanya. Suara deteksi jantungpun berdenging nyaring dan menampilkan garis lurus. Dan sekarang Haneul sudah tidak berada disisiku lagi.

END

Advertisements

2 responses to “[Freelance] The Last

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s