LOVE STORY AFTER LONG WEEKEND [SEQUEL OF A LONG WEEKEND WITH…HIM!!??]_PART 2

Title :

Love Story After Long Weekend [ Sequel of A Long Weekend with … HIM!? ]

 

Author :

Citra Pertiwi Putri / Park Ra Rin

 

Genre :

Romance, Friendship, and little bit Comedy

 

Rating :

PG17

 

Main Casts :

Son Naeun ( A Pink )

Kim Myungsoo / L ( Infinite )

Nam Woohyun ( Infinite )

and introducing ;

Kim Jongin / Kai ( EXO- K )

 

Other Casts :

Jung Eunji ( A Pink )

Lee Howon / Hoya ( Infinite )

Goo Woori ( Rainbow )

Son Dongwoon ( B2ST )

Park Chorong ( A Pink )

Do Kyung Soo / D.O ( EXO – K )

 

Type :

Sequel / Chaptered

 

Part :

2

 

Short Summary :

 

– ” Aku tidak peduli dengan pendapat dan tentangan orang tentang hubungan kita. Aku akan tetap bersamamu karena hanya aku yang tahu alasanku mencintaimu. Jadi sekarang, jangan pikirkan tentang orang lain. Tolong lindungi aku dan cinta kita.” — Naeun.

– ” Aku bad boy paling beruntung didunia karena memiliki yeoja sebaik dirimu. Akan kutunjukkan pada semua orang kalau aku memang pantas untukmu. Aku akan melindungimu dengan segenap jiwaku.” — Myungsoo / L.

– ” Aku akan hadir disetiap mimpimu sampai kau kembali padaku lagi.” — Woohyun.

– ” Noona, biarkanlah aku menjadi bagian dari hidupmu.” — Kai.

Before Story ( A Long Weekend with…HIM!? ) :

Part 1 Part 2 Part 3 Part 4 Part 5 Part 6 Part 7A Part 7B Part 8A Part 8B PROLOG Sekuel

NB : Part ini lumayan agak sangat panjang (??), dikarenakan author akan hiatus kurang lebih sepuluh hari. Jadi harap maklum yah^^

***

Author POV

 

” Kau..” Naeun masih tak percaya dengan sosok yeoja yang ada dihadapannya itu.

” Wae? Terkejut melihatku disini? Haha, ternyata aku tidak salah masuk sekolah.”ucap gadis itu sinis.

Gadis itu memang Woori, gadis desa yang sangat membenci Naeun itu. Ia nampak berbeda, meski tidak memakai seragam tetapi penampilannya sudah menyesuaikan style perkotaan, Naeun yakin gadis itu pasti sudah pindah kesini.

” Senang bertemu denganmu lagi.”kata Naeun meski nada suaranya terdengar sangat aneh, ia tetap menghargai Woori meski gadis itu pernah berbuat jahat padanya.

” Munafik. Kau terkejut kan dengan kedatanganku?!” balas Woori sinis, Naeun menggeleng pelan.

“…minggir, aku harus menyerahkan berkas ini ke ke kepala sekolah. Sampai bertemu di bangku kelas 3, bersiaplah karena kau akan menderita.” Woori mendorong Naeun dan berjalan menuju ruang kepala sekolah.

Naeun tersentak, tubuhnya melemas. Woori akan menjadi siswa disekolahnya. Tapi selama ada Myungsoo, Naeun masih bisa merasa aman..

**

” Kucari ke perpustakaan tidak ada, ternyata kau disini. Kenapa jauh sekali?”

Naeun berbalik, ia tersenyum lega karena Myungsoo akhirnya datang. Ia kira kekasihnya itu tak tahu ia duduk di taman belakang sekolah.

” Tadi perpusnya belum buka. Jadi aku cari tempat lain yang aman. “jawab Naeun, “…mana Hoya dan Eunji?”lanjutnya.

” Ke kantin sebentar, beli minum. Kau tidak apa-apa kan?”

” Aku? Wae? Tentu saja aku tidak apa-apa.” Naeun gugup karena nampaknya Myungsoo kembali membaca pikirannya.

” Woohyun sunbae mengejarmu lagi tadi, iya kan? Tapi kau bisa melepaskan diri.”

Naeun semakin takjub karena kemampuan Myungsoo dalam membaca pikiran semakin hebat saja.

“…syukurlah kalau memang begitu.”sambung Myungsoo lagi, Naeun tersenyum tipis, pertemuannya dengan Woori tadi lebih membuatnya galau.

” Bagaimana remedinya tadi?”tanya Naeun.

” Hah, susah. Kepalaku sakit.”

” Jinjja? Tapi kau bisa mengerjakannya kan?”

” Bisa, aku memaksakan diri sampai mabuk mengingat rumus-rumus. Aku tak mau membuatmu kecewa.”

” Nah, gitu dong. Sini, kupijat kepalamu biar gak penat lagi.”

Myungsoo tersenyum karena Naeun tahu saja apa yang ia inginkan, ia pun berbaring di bangku panjang yang ia duduki dan meletakkan kepalanya dipaha Naeun, lalu ia memejamkan matanya dan menikmati pijatan Naeun *bahasanya ehem-ehem banget yah -___- #plak!!”

“…L Kim, kau tampan sekali..” Naeun terpana menatapi wajah Myungsoo.

” Baru sadar kalau aku tampan?”jawab Myungsoo dengan mata masih terpejam. Ternyata meski sedang merem seperti itu Myungsoo tetap saja bisa mengetahui isi hati Naeun.

Naeun tersenyum malu, ” Aku sudah sadar kau tampan. Tapi sekarang aku baru sadar kalau kau sangat sangat tampan.”

” Kau ini sedang ada modus apa? Memujiku sampai seperti itu.”

” Ya!! Aku serius!!”

 

” Naeun!! Myungsoo!!”

Dari kejauhan Hoya dan Eunji nongol dengan membawa 4 kaleng minuman.

” Huaaaa mau kayak gituuuu~ 😥 ” Hoya makin iri melihat Naeun dan Myungsoo, selama pacaran ia tak pernah merasakan yang namanya bersandar dipaha Eunji apalagi sampai dipijat. *sini sini author yang pijit, author bersertifikat lho ^^ #plak!!!”

” Apaan sih -____-” Eunji tak peduli dengan keirian Hoya.

” Haha, mianhae.” Naeun dan Myungsoo segera kembali ke posisi semula, “…duduklah disini!”

Hoya dan Eunji pun bergabung, mereka berempat duduk diatas rerumputan.

” Oh iya! Hampir lupa, tadi kami melihat seseorang di ruang kepala sekolah!” Hoya membuka pembicaraan.

” Jinjja? Siapa?”tanya Myungsoo, sementara Naeun sudah yakin pasti yang dimaksud Hoya dan Eunji adalah Woori.

” Woo to the Ri. Woori!”kata Eunji, “…sepertinya dia hendak daftar sekolah disini!”

” HAH?!” Myungsoo terkejut, “…jinjja?”

Hoya dan Eunji mengangguk kompak.

” Naeun, kau tidak terkejut?”tanya Eunji, Naeun mehe-mehe.

” Jangan-jangan kau sudah tahu duluan!”tebak Hoya, Naeun mengangguk pelan.

” Oh ya? Kapan kau tahu? Kau tabrakan dengannya?”tanya Myungsoo. Ck, namja ini benar-benar canggih kemampuan menebaknya.

” Ne.”jawab Naeun pelan.

” Mwo!? Ottokhae?! Dia memaki-makimu tidak?!” Eunji penasaran.

” Bagaimana reaksinya saat ia melihatmu?!” Hoya juga ikut penasaran.

Naeun memilih diam karena ia tak mau menjelekkan Woori.

” Ia pasti mengancammu kan?”tanya Myungsoo.

” Sudahlah.. jika ia memang akan bersekolah disini, itu justru bagus. Siapa tahu aku dan dia bisa berteman.”jawab Naeun polos.

” Hah, mana mungkin. Aku saja yakin alasannya pindah kesini pasti untuk balas dendam padamu!”kata Eunji, Hoya mengangguk setuju.

” Gak ada kapoknya juga tu orang, bener-bener pengen setor nyawa.” Myungsoo tertawa sinis, Naeun jadi merinding.

” Bunuh aja bunuh.” Hoya memprovokasi, sembari tangannya memukul-mukul ke udara saking kesalnya.

” Jangan langsung dibunuh, siksa aja dulu!” Eunji ikut-ikutan.

” Kalian ini -_____-” Naeun heran karena Hoya dan Eunji malah mendukung Myungsoo.

” Orang seperti Woori memang pantas diperlakukan seperti itu.”kata Hoya.

” Ne! Pasti ia akan membullymu nanti.”kata Eunji.

” Tak akan mungkin bisa selama ada aku.”kata Myungsoo.

Naeun tersenyum, lega karena ada Myungsoo, Eunji, dan Hoya yang akan melindunginya dari Woori.

Tapi jika diingat-ingat, Woori akan mulai bersekolah ditahun ajaran baru nanti tepatnya saat mereka kelas tiga. Dan Naeun teringat dengan perkataan Dongwoon tadi pagi,

“…kalau perlu kenaikan kelas nanti kau dan Myungsoo harus pisah kelas.”

Dan perlu otak Naeun camkan kalau kakaknya itu sedang mengusahakan hal itu dan akan menemui guru serta kepala sekolah.

Jika ia pisah kelas dengan Myungsoo, bagaimana jika nanti ia juga terpisah dari Hoya atau Eunji? Bagaimana juga jika nanti Woori menjadi murid dikelasnya?

Ini mimpi buruk.

 

******

” Apa ini?! Selama ini apa yang kau kerjakan hah?? Mengapa nilaimu begini!!?? Dasar babo!”

Seketika itu juga senyum yang terukir dibibir Naeun memudar karena sang kakak ternyata marah saat melihat rapotnya.

” What’s wrong?”tanya Naeun pelan, ia sangka kakaknya akan bangga melihat nilai-nilainya. Disekolah tadi ia dipuji-puji karena mendapat ranking 1 dengan rata-rata 95.

” Masih tanya? Lihat nilaimu! Mengapa tidak ada yang seratus atau 99?!”protes Dongwoon, Naeun bengong.

” Mungkin 98 sudah batas tertinggi.”jawab Naeun asal.

” Kalau kau pintar, gurumu tak akan berat hati memberimu nilai sempurna. Ini memang kaunya saja yang bodoh.”

Naeun mendecak kesal, mengapa segala pencapaiannya tidak pernah dihargai sedikitpun oleh Dongwoon. Kalau tahu begini lebih baik punya nilai anjlok sekalian.

“…lihat sekarang kan!? Rapotmu begini karena pacarmu yang berandalan itu! Lebih baik kau putuskan dia! Dia itu pengaruh buruk, penghancur masa depanmu!” kata Dongwoon lagi, Naeun cepat-cepat menggeleng.

” Shireo!! Ini bukan salah Myungsoo!”jawab Naeun keras.

” Bela saja dia terus! Kau sudah buta!! Memangnya apa yang dia berikan untukmu hah?”

” Banyak! Dia selalu melindungiku dan berjasa banyak padaku. Ia bertindak tak hanya sebagai kekasihku tetapi juga menyayangiku seperti seorang oppa pada dongsaengnya. Meski ia anak tunggal dikeluarganya ia lebih tahu bagaimana menjadi oppa yang baik, tidak seperti oppa yang selalu meremehkan saengnya terus!!”lawan Naeun, setelah itu ia tak mau mendengar komentar Dongwoon lagi, ia berlari menuju kamarnya dan menutup pintunya rapat-rapat.

” Oh!! Begitu ya!?? Kau benar-benar sudah berubah gara-gara namja itu!! Sekarang berani melawan oppa!??”teriak Dongwoon, Naeun tak menyahut, ia terduduk sambil menyandarkan badannya pintu kamarnya.

Hari ini seharusnya menjadi hari yang menyenangkan bagi Naeun. Hari pembagian rapot. Ia mendapat peringkat satu global disekolahnya. Disekolah ia dipuji dan dihujani ucapan selamat, tetapi saat rapot itu ditangan Dongwoon, ia malah dimaki-maki. Yang membuatnya semakin kesal, lagi-lagi Myungsoo dianggap pengaruh buruk baginya.

Naeun meraih ponselnya yang terletak dimeja kamar karena benda mungil itu tiba-tiba berdering. Telepon dari Eunji.

” Yoboseyo..”jawab Naeun.

” Ne. Naeun? Wae? Kau terdengar lesu sekali.”kata Eunji dari seberang sana.

” Ah, tidak.. ada apa?”

” Ituloh, apa kita jadi merayakan kenaikan kelas kita di cafe Myungsoo?”

” Ehm..” Naeun ingin sekali menyetujuinya, namun dalam keadaan seperti ini ia yakin Dongwoon tak mungkin mengizinkannya.

” Wae? Oppamu lagi?”tebak Eunji.

” Tapi kau jangan bilang pada Myungsoo yah. Ne, oppaku lagi. Ia tak mungkin mengizinkan aku..”

” Yah! Sebenarnya dia itu kenapa sih!” Eunji jadi emosi sendiri.

” Molla..”jawab Naeun lesu.

” Jadi, kau tidak ikut?”

” Aaaa andwae, aku mau ikut!”

” Lalu bagaimana?”

Naeun berpikir keras, kemudian meski dengan ragu ia meminta kepada Eunji.

 

” Bawa aku kabur dari sini.”

” Mwo!? Kau.. serius!?” Eunji terkejut karena selama ia bersahabat dengan Naeun ia tahu sahabatnya itu tidak suka pergi tanpa izin.

” Ne! Itu jalan satu-satunya. Kau mau kan?”

” Duh, aku nggak berani. Apa aku minta Myungsoo? Dia kan ahli soal selinap-menyelinap (?)”

” Tapi apa dia mau?”

” Apa sih yang tak mau ia lakukan untukmu? Sudahlah, ia pasti datang menjemputmu. Aku akan bilang padanya. Kau siap-siap saja ya.”

” Eh tapi….”

Eunji sudah memutuskan teleponnya sebelum Naeun selesai bicara..

 

**

Myungsoo mondar-mandir didepan rumah minimalis Naeun. Ia bingung hendak berbelok kemana. Jika kekiri, itu artinya ia akan membawa kekasihnya itu kabur karena disisi kirinya adalah arah menuju jendela kamar Naeun. Jika kekanan, itu artinya ia menjemput Naeun secara jujur dan harus berhadapan dengan Dongwoon, karena disisi kanannya itu adalah arah menuju pintu rumah.

Bukannya namja itu takut ketahuan jika ia membawa Naeun kabur, tetapi ia tak mau membuat Dongwoon kebingungan mencari Naeun karena ujung-ujungnya tetap ia yang disalahkan. Ia juga tak tahu harus bicara apa pada Dongwoon jika ia menjemput Naeun lewat pintu depan.

Setelah berpikir cukup lama, namja itupun memilih berjalan kearah kanan…

 

*

 

” Mau membawa Naeun pergi!? Kemana? Mau apa? Pulang jam berapa?  Naik kendaraan apa?  Kau yakin dia aman bersamamu?  Cuaca tidak terlalu baik malam ini, kau tidak lihat, hah!?”

 

” Myungsoo!!”

Naeun yang sejak tadi berdiri di dekat jendela untuk menunggu Myungsoo terkejut mendengar suara sang kakak yang terdengar sampai kekamarnya. Myungsoo ternyata benar-benar menjemputnya dan nekat berhadapan dengan Dongwoon. Gadis itu panik, ia segera keluar untuk menemui dua namja yang nampaknya sedang dalam situasi tegang itu.

 

” Tidak bisa, ia tak boleh keluar rumah hari ini!”ucap Dongwoon tegas.

” Kenapa tidak boleh?”tanya Myungsoo.

” Pokoknya tidak boleh!”

” Bagaimana sih hyung, kau melarangnya tentu ada alasannya kan?” Myungsoo masih saja kepo (?),  ia tak sadar kalau Dongwoon sudah kesal.

” Rapotnya jelek. Jadi ia kuhukum tak boleh keluar rumah kecuali dengan pacarnya. Sudah tahu kan? Sekarang pergilah!”

” Tapi.. aku pacarnya!”

” Pacarnya adalah Woohyun. Bukan kau! Sekarang pergi!”

” Shireo, kau bilang dia bisa keluar dengan pacarnya. Ya aku ini pacarnya!” Myungsoo mulai ngotot, Naeun yang sudah berdiri dibekakang Dongwoon bergidik ngeri karena takut Myungsoo semakin dibentak oleh Dongwoon, namun kekasihnya itu mengerlingkan matanya tanda yakin ia pasti bisa membawa Naeun pergi.

” Kubilang pergi!” perintah Dongwoon lagi, Myungsoo tetap mematung disana, sepertinya tengah memikirkan strategi baru.

“…Naeun, masuk kamar!” suruh Dongwoon, Naeun menggeleng, ia juga jadi ingin ikutan ngotot.

” Baiklah, aku tak akan memaksa.”kata Myungsoo kemudian, Naeun nampak kecewa, Dongwoon sudah tersenyum puas.

“…aku tak akan memaksa, tapi MAKSA BANGET!!!!” lanjut Myungsoo sembari secepat kilat menarik tangan Naeun dan membawa gadis itu berlari. Naeun terkejut dengan tindakan dadakan yang dilakukan kekasihnya itu, ia sampai terjatuh. Namun sebelum Dongwoon menangkapnya, Myungsoo segera menariknya lagi dan mendudukkannya diatas motor. Mereka kabur dengan motor berkecepatan tinggi, gadis itu nyaris jatuh dari motor besar Myungsoo.

 

 

” HAHAHAHAHA !!!”

Myungsoo tertawa keras sambil terus menancap gas, tertawa lega mungkin. Sementara Naeun nampak pucat pasi.

” K..kenapa tertawa?”tanya Naeun dengan nada lemas.

” Hahahaha!!! Ini daebak!!! Baru satu kali aku berbuat seperti itu dan langsung berhasil! Hahaha!!!!” Myungsoo terus saja tertawa. Apa ia tidak merasa tegang atau bersalah atas tindakan yang ia lakukan tadi? Walaupun Naeun cinta padanya, Naeun tak bisa mengelak kalau tindakan Myungsoo barusan termasuk tindakan kurang ajar. Baru kali itu Dongwoon kecele (?).

” Tapi aku takut.. itu mengerikan. Aku takut.” Naeun masih saja tegang, ia meletakkan jidatnya dipunggung Myungsoo dan menangis. Ia yakin pasti Dongwoon akan marah besar.

 

” Naeunnie.. waeyo?” Eunji terkejut ketika melihat Naeun tiba di cafe dengan pipi basah (?), ia segera mendudukkan Naeun dan memberi sahabatnya itu minum.

” He, kau apakan dia?”tanya Hoya pada Myungsoo, dan dodolnya dengan semangat 45 Myungsoo menceritakan kelakuan nekatnya tadi pada Hoya.

” APA!!??” Eunji yang ikut mendengar cerita Myungsoo langsung memekik ala Soimah, “…pantas saja Naeun sampai nangis begini! Tega sekali kau!”

” Itu jalan satu-satunya!” Myungsoo membela diri.

” Tapi sumpah, itu benar-benar daebak!”puji Hoya, Myungsoo tersenyum bangga.

” Tapi lutut Naeun berdarah nih. Dia pasti jatuh tadi!”kata Eunji.

” Mwo? Berdarah?” Myungsoo merasa bersalah, ia langsung pergi ke belakang cafe sebentar mengambil obat merah dan plester, sekembalinya ia pun berlutut didepan Naeun dan mengobati luka gadis itu.

“…Naeunnie, mianhae.”lirihnya. Ia benar-benar menyesal telah membuat Naeun terluka.

” Gwenchana..”jawab Naeun pelan.

” Kenapa kau tak menjemputnya lewat jendela? Aku tak memintamu untuk menjemputnya secara terang-terangan kan?!”kata Eunji.

” Coba berhadapan dengan kakak Naeun sekali saja gak ada salahnya kan? Aku jadi tahu dia seperti apa.”jawab Myungsoo.

” Dan setelah kau tahu sekarang, apa kau akan menjemput Naeun secara terang-terangan lagi?”tanya Hoya.

” Nah, itu dia. Aku tidak ta….”

” Aku yang akan kabur sendiri.”jawab Naeun. Sontak Myungsoo, Eunji, dan Hoya menganga lebar karena Naeun mulai frontal (?).

” Are you sure? It’s not easy, Naeun.”kata Eunji.

” But it’s the one and only way.”jawab Naeun.

” Ngerti ngga bro? Aku sih ngga.”kata Hoya.

” Ngga juga bro.”jawab Myungsoo polos.

” Dasar dodol, bahasa inggris gampang aja ngga tau!”ledek Eunji, Naeun tertawa kecil.

Merekapun merayakan hari kenaikan kelas mereka di cafe Myungsoo, sejenak Naeun melupakan kejadian yang ia alami tadi. Kebersamaannya dengan Myungsoo, Eunji, dan Hoya memang merupakan kebahagiaan tersendiri baginya…

 

***

“ Ji, kau yakin??”

“ Neeee.. sudah puluhan kali aku bilang.”

“ Tapi aku takut merepotkanmu, lagipula apa keluargamu nanti tidak marah?”

“ Keluargaku siapa?” Eunji tertawa kecut, Naeun mehe-mehe.

“ Ya.. keluargamu. Mereka pasti mencarimu.”

“ Tidak mungkin. Aku kan tidak punya keluarga.”

“ Jangan begitu..”

 

Eunji ikut pulang ke rumah Naeun malam ini atas permintaan Myungsoo, agar Dongwoon sungkan dan tidak memarahi Naeun. Berhasil sih, ketika mereka pulang Dongwoon tak berkomentar apalagi sampai memarahi Naeun. Tapi Naeun merasa tidak enak dengan Eunji.

“ Sudahlah, tidak akan ada yang peduli padaku apalagi mencariku. Aku akan tetap disini sampai oppamu tidak marah lagi.”kata Eunji, “…sudah ya? Aku boleh pinjam baju tidurmu?”

Naeun mengangguk, “ Gomawo, Ji.”

“ Ne..~”

Eunji sepertinya memang lebih senang berkumpul dengan sahabatnya ketimbang berada dirumah, akhir-akhir ini saja ia sering tidur di toko bibitnya, ia masih kerja disana meski tak jadi bayar hutang pada Hoya. Naeun tahu sejak dulu Eunji memang tak pernah akur dengan keluarganya karena orangtuanya lebih sayang pada adik-adiknya. Meski begitu, Eunji tidak membatin atau marah, ia justru merasa bahagia karena bisa bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri.

Naeun berbagi tempat tidur dengan Eunji, ia masih memikirkan Dongwoon yang pasti sedang menahan amarah. Jika tak ada Eunji, mungkin Naeun sudah dimarahi habis-habisan sekarang.

“ Kalau aku tidur, kau harus tidur juga. Kalau aku tidur dan kau tidak tidur, oppamu pasti berkesempatan memarahimu. Sekarang tidurlah.” kata Eunji, Naeun mengangguk. Merekapun tidur meski perasaan Naeun masih belum tenang sepenuhnya..

**

 

Keesokan paginya …

“ Ya!!! Kenapa ini!!! Bukaaa!!! Bukaaaaaa!!!!!!”

Naeun terus-terusan mendobrak pintu-pintu dan jendela-jendela rumahnya, semuanya terkunci rapat, bahkan pintu kaca menuju balkon-balkon pun ditutup rapat oleh Dongwoon.

“…ck, oppamu itu pintar sekali.”dengus Eunji, tadinya ia ingin pulang, tetapi melihat rumah Naeun sudah disulap menjadi penjara, pupuslah niatnya itu.

“ Seandainya kita bangun lebih pagi tadi..” sesal Naeun. Berkali-kali ia menelpon Dongwoon, namun selalu di-reject.

Dongwoon sudah berangkat kuliah sejak tadi pagi, dan bisa dipastikan subuh tadi ia mengunci seluruh akses keluar dirumah ini. Tentu agar Naeun tak bisa pergi dengan Myungsoo lagi.

“ Hei, lihat!” Eunji menemukan selembar kertas diatas sofa, sepertinya pesan dari Dongwoon. Naeun segera membacanya.

 

I have an evening lecture about 3 days. so I don’t have time to go home. I’ll stay in my friend’s house.

just stay at home, and don’t hope you can go.

*emang dasar bang Dongwoon bule yah, surat aja pake bahasa inggeris -_- #plok!*

 

“ Grrrr!!!! Dasar babo!! Jahat!! Jahaaaattt!!!” amuk Naeun, Eunji menganga karena masih mengartikan surat Dongwoon, ketika ia sudah tahu artinya, ia jadi ikut marah.

“ Tega sekali oppamu ini! Jadi kita akan mendekam didalam sini tiga hari berturut-turut? Yah! Libur kita kan hanya tiga hari, jadi..” Eunji lemas.

“ Ji, maaf. Kau jadi ikut terkurung disini..” Naeun merasa bersalah.

“ Gwenchana, aku lebih tak tega jika kau berada disini sendirian. Sudahlah, tidak apa-apa. Kita terima saja.”

Naeun mengangguk meski masih tidak ikhlas.

 

*

“ Kurasa Dongwoon hyung sudah sangat keterlaluan!” kata Hoya kesal, tentu karena Eunji ikutan terkurung didalam rumah Naeun.

Apa kami harus kesana untuk mengeluarkan kalian?”tanya Myungsoo.

“ Andwae. Kalau ketahuan bisa gawat.”kata Eunji.

“ Lalu bagaimana?”

 

Eunji berbicara ditelepon dengan Myungsoo dan Hoya, sementara Naeun hanya bisa memeluk lututnya dan sesenggukan,

“ Pokoknya kami akan kesana!” kata Myungsoo lagi.

“ Andwae! Aku tak mau merepotkan kalian..” Naeun buka suara.

“ Tapi aku kasihan padamu..”

“ Tidak usah pikirkan aku, sampai ketemu tiga hari lagi.”

“ Tapi..”

Teeet.. telepon terputus tiba-tiba.

“ Ya! Kenapa ini?” Naeun terkejut, Eunji segera mengecek ponselnya.

“ Duh, pulsaku habis!” Eunji mehe-mehe, “…ottokhae?”

“ Ck, ponselku hilang. Pasti diambil Dongwoon oppa!”

“ Grrrr.. amit-amit dah aku punya oppa seperti dia!” Eunji ikut kesal, “…ya sudah aku ngutang pulsa deh.” Eunji mengirim sms pada salah satu temannya. Tak berapa lama, temannya itu malah menelpon Eunji.

 

” Mianhae, kalo lagi libur aku gak jualan.”kata teman Eunji itu.

” Yah..”

” Paksa! Paksa!” Naeun ngomporin, tentu karena ia tak mau putus sambungan dengan Myungsoo hanya gara-gara pulsa Eunji habis.

” Jebal.. aku bayar kok nanti!!”desak Eunji.

” Saldoku kosong. Apa mau beli dari sepupuku?”

” Ah iya boleh deh!”

” Oke isi berapa?”

” Seratus ribu!” Naeun yang menjawab.

” Ya!! Uangku tak cukup!” Eunji protes.

” Nanti aku yang bayar!”

” Yes! Haha. Ya sudah, seratus ribu.”

” Nanti kau bayar langsung yah ke orangnya.” kata teman Eunji itu.

” Yakk! Aku kan tidak tahu yang mana manusianya.”

” Dia ntar jadi siswa kelas X yang baru di Shimshin, kalau kau jadi panitia MOS pasti ketemu orangnya.”

” Hah…? Trus nama dia siapa?”

” Namanya Kyungsoo. Tapi sering dipanggil D.O.”

” Ooh. Trus ciri-cirinya gimana? Biar gampang aku temuin orangnya.”

” Duh.. gimana yah, dia cakep, tapi mirip Mor.. eh, ntar kau absen saja deh!”

” Yah! Mirip Mor-mor siapa tadi!?” *tau aja kan maksud author? #plak!!*

” Ah sudah deh! Pokoknya pulsa seratus ribu bayar ke D.O!” Teman Eunji itu langsung memutuskan teleponnya.

” Dih, gaje. Gimana mau bayar kalo orangnya aja aku ngga tau..” omel Eunji.

” Mirip Mor-mor siapa tadi katanya?”tanya Naeun penasaran.

” Jangan-jangan Morgan smash.. aaaaaaaa!!!!!” Eunji langsung cekikikan sendiri (?) *Eunji smashblast -____- #plak!!!ampuniauthorpliss–“*

 

***

” Sebenarnya kita mau kemana?”

” Sudah ikuti saja aku! Yang jelas tempat ini bisa membuat kita tidak gelisah lagi memikirkan yeojachingu kita.”

” Pasti tempat yang banyak yeoja-yeoja ‘tanda kutip’ kan!? Ampe masuk gang berapa kali nih! Aku tidak mau!!! Sampai kapanpun aku setia pada Naeun!” Myungsoo menghentikan langkahnya dan hendak balik kanan.

” YA!!! bukan!!! Kau kira aku ini namja apaan!?” Hoya menarik Myungsoo.

” Lalu tempat apa??!”

” Makanya ayo ikut dulu!”

Myungsoo pun mengikuti langkah Hoya yang membawanya ke suatu tempat.

Matanya membelo seketika saat mereka tiba ditempat yang dimaksud Hoya. Sebuah gedung kosong, terdapat tulisan abstrak yang dibuat dengan pilox pada dinding-dindingnya, didepan gedung tersebut terdapat banyak remaja bergerombol membentuk lingkaran, tentu karena ada tontonan ditengah-tengahnya, entah apa itu. Otak Myungsoo mulai menebak apa yang menjadi pusat perhatian tersebut.

” Arena judi baku hantam?”tebak Myungsoo sotoy, ia sudah siap-siap saja hendak ikutan.

” Duh, dodol. Ada musiknya gini masa judi baku hantam -____- Ini street dance!”

” Mwoo!??”

” Kajja!” Hoya mengajak Myungsoo untuk lebih mendekat dan menyaksikan para street dancer yang sedang beraksi dalam lingkaran penonton tersebut.

“…bah, sial. Dia lagi!” Hoya mendengus kesal ketika melihat siapa dancer yang tengah tampil, Myungsoo keheranan.

” Wae? Aku sama sekali tidak mengerti. Darimana kau tahu tempat ini?”tanya Myungsoo penasaran.

” Ini tempatku bekerja. Setiap hari jika tampil disini pasti dapat uang dari penonton atau mungkin fans, dan setiap malam minggu khusus dance battle untuk menentukan siapa street dancer of the week, sekalian judi dance juga, yang kalah harus bayar ke yang menang.”jelas Hoya.

Myungsoo cengo, ” Dan kau ikut?”

” Ne! Makanya aku sanggup membelikan Eunji ponsel mahal. Tadinya aku ingin mengajakmu tapi aku takut kau berbuat kekacauan, persaingan antar para dancer kadang-kadang memicu perselisihan, kalau aku mengajakmu kau pasti sudah menyulap tempat ini jadi arena perkelahian.”

Myungsoo mehe-mehe, ” Setiap tampil kau dapat berapa won?”

” Kenapa ini kesannya jadi wawancara -____-”

” Haha, aku kan ingin tahu!”

” Hmm.. paling sedikit lima ratus ribu won.”

” Mwo!? Ck! Pantas kau kaya!”

” Hahaha, itu dulu. Sekarang aku sudah jarang ke tempat ini lagi sejak ada bocah kampret itu.” Hoya menunjuk dancer yang sejak tadi ia kesalkan itu.

” Memangnya ada apa dengan dia?”

” Ia saingan terberatku. Namanya Kim Jongin, tapi punya stage name Kai. Usianya lebih muda dariku, ia baru lulus SMP, tapi kelakuannya songong abis. Tapi kuakui sih, skillnya bagus, wajahnya juga tampan, makanya ia menang terus.”

Sejenak Myungsoo mengalihkan pandangannya kepada dancer bernama Kai itu. Yah, dancer itu memang karismatik. Bisa ia lihat mata dancer tampan itu sesekali melirik sinis kearah Hoya. Sepertinya mereka benar-benar rival berat.

Musik pun tak lama terhenti, Kai mengakhiri penampilannya dengan sempurna hingga banyak penonton yang tanpa ragu mengeluarkan uang puluhan bahkan ratusan ribu won untuknya. Myungsoo geleng-geleng kepala, iri. Ia yang bekerja part time di cafe ahjussinya saja tak pernah dapat gaji sebanyak itu.

” Mohon perhatiannya. Ada yang ingin kusampaikan.”

Kai membunuh keributan di arena tersebut dengan suara beratnya, suasana hening seketika.

“…malam ini adalah penampilan terakhirku ditempat ini. Aku akan vakum satu sampai dua minggu karena… ya, kalian tahu sendiri kalau aku sudah menjadi siswa SMA sekarang, dan aku akan disibukkan dengan MOS serta tahun ajaran baru.” jelasnya, para penonton riuh kembali karena tak rela dancer terbaik mereka harus hiatus.

“…tapi aku janji akan kembali, meski dalam waktu yang agak lama. Kuharap kalian tetap rajin ke tempat ini.”kata Kai lagi, Hoya tersenyum bahagia karena dengan begitu artinya ia tak punya saingan berat lagi.

” Hei Kkamjong, kau masuk SMA mana?!”tanya salah satu penonton.

” Shimshin High School.”jawab Kai mantap.

” Mwo!!?? Hei! Dia masuk sekolah kita!”kata Myungsoo.

” Daebak. Saatnya balas dendam..” batin Hoya.

 

***

 

Monday, 18th of Jul 2012 …

 

” Hobaby!!!!!!!”

” Eunjeeeeeee!!!!!”

Hoya dan Eunji seperti memperagakan adegan film India pagi ini, keduanya berlari dan berpelukan dengan erat karena saling merindukan. Hari ini mereka mulai masuk sekolah, namun bukan untuk belajar melainkan untuk menjadi panitia MOS.

Naeun menatap iri kearah dua sejoli tersebut, ia juga sangat rindu pada Myungsoo sejak tiga hari dikurung dalam rumah. Namun ia tak menemukan sosok namja itu.

” Mana Myungie?”tanya Naeun tak sabaran.

” Ia masih dijalan, tadi sudah sampai sekolah tapi balik lagi, kameranya ketinggalan.”kata Hoya.

” Bagaimana sih, sudah tahu jadi seksi dokumentasi, malah ninggalin kamera -__-”

” Sabarlah.. sebentar lagi juga dia sampai.”

” Ya.. Ya Tuhan..” Eunji tiba-tiba nyebut (?)

” Ada apa chagi?”tanya Hoya, Naeun ikut bingung.

” Itu tadi.. itu tadi ada Morgan!!!” Eunji hampir teriak ketika melihat seseorang berjalan di koridor seberang, Hoya makin bingung.

” Morgan siapa?!”tanya Hoya.

” Iiih!!! Morgan semes ituloh!! Ndeso banget sih masa’ ngga tau!!”

” Loh tapi kan…”

” Aaaaaa Morgan!!!!!” dengan watadosnya Eunji meninggalkan Hoya dan berusaha mengejar orang yang ‘katanya’  mirip Morgan itu.

” Heeeeh!! Eunjiii!!” Hoya mengejar Eunji. Naeun tertawa melihat tingkah keduanya. Sekarang ia berdiri sendirian menunggu Myungsoo.

Benar saja, tak lama namja itu datang dengan kamera mengalung dilehernya, namun Naeun berbalik dan tak menyadari kehadirannya.

” Annyeong, sendirian saja?”

Seseorang memeluk Naeun dari belakang. Gadis itu terkejut.

” Siapa kau!!?”tanya Naeun ketakutan.

” Ck, kau masih tidak kenal siapa aku? Aku kekasihmu, Nam Woohyun.”

” HAH!?” Naeun sontak ketakutan dan berusaha melepaskan diri.

” HAHAHAHAHA!!!! Satu bidadari tertipu pagi ini!!” Myungsoo tertawa terbahak-bahak, wajah Naeun memerah seketika.

” Iiiih jahaaat!!! Mengapa kau masih suka mengerjaiku hah!!!” Naeun memukuli Myungsoo dengan manja, namun setelah itu memeluknya dengan erat karena rindu.

” Dongwoon hyung tidak memarahimu kan?” tanya Myungsoo, Naeun menggeleng.

” Ia tidak memarahiku, tapi ia menghukumku. Kurungan itu.. ah..” Naeun malas melanjutkan perkataannya.

” Mianhae.. ini salahku. Aku kapok deh, aku tak mau membuatmu menderita lagi.”

” Ya! Mengapa begitu? Aku saja tidak kapok.”

” Jinjja? Jadi mau kabur lagi?”

Naeun tertawa kecil, ” Kalau itu jalan satu-satunya untuk bertemu denganmu, mengapa tidak?”

**

Jam menunjukkan pukul setengah delapan pagi, kegiatan MOS sudah mulai memasuki tahap penyiksaan dasar (?), yakni menjemur para junior dibawah terik matahari musim panas. Para sunbaenim yang menjadi panitia MOS sengaja banyak cingcong untuk mengulur waktu agar para hoobae baru mereka semakin menderita.

 

Kai, namja itu seharusnya sudah berada didalam jajaran hoobaenim tersiksa itu, namun kini namja itu malah sedang grasak-grusuk (?) ingin menyelinap masuk kedalam sekolah lewat dinding pembatas sekolah yang terletak di taman belakang. Tentu saja karena ia telat, kalau masuk lewat pintu depan siap-siap aja digetek (?) oleh sunbaenim.

” Ck, ayolah bukaaa!!”namja itu terus mendorong paksa dinding pembatas yang terbuat dari seng tersebut.

PRAKKKKK!!!! (?)

” Ya!! Sssstt!!!” Kai terkejut ketika ia berhasil menghancurkan seng tersebut, suaranya sangat bising, tapi untung tak ada yang dengar karena jarak taman belakang dengan halaman sekolah cukup jauh.

“…kalau kuhancurkan lagi nanti makin berisik. Ah yasudahlah.”namja itu buru-buru menerobos seng yang sudah patah itu, tapi karena terlalu sempit, lengannya tergores oleh seng tajam itu.

“…Aaaaaa!!!!!”pekiknya, rasanya ia ingin mati saja karena lengannya pedih luar biasa seperti teriris pisau, namun segera ia bungkam sendiri mulutnya, tak boleh ada yang tahu ia menyelinap disini. Meski darahnya dari lengannya terus menetes, namja itu segera berlari menuju lapangan dengan sembunyi-sembunyi dan setibanya disana ia segera berbaris di barisan gugusnya yang untung sudah ia ketahui sebelumnya.

 

” Hei! Dinding pembatas belakang rusak!”salah seorang sunbae tiba-tiba memberi pengumuman, semua terkejut.

” Siapa yang melakukannya!? Ayo ngaku!!! Sebelum kami cari tahu sendiri siapa pelakunya, kami punya bukti, ada darah di sengnya!”kata salah satu sunbae lagi.

Kai semakin meremas lengannya yang masih mengeluarkan darah, ia tak boleh ketahuan, ia harus segera membersihkan darahnya di seng tersebut sebelum terlambat.

*

Selesai pengarahan di lapangan, para hoobae diungsikan (?) ke kelas-kelas karena hari semakin panas. Kai hanya masuk sebentar untuk menaruh tasnya, kemudian setelah itu berlari lagi menuju portalnya (?) masuk kedalam sekolah tadi, taman belakang sekolah. Tentu saja untuk menghapus noda darahnya yang tertinggal disana.

BRAK!!

Karena tak hati-hati ia menabrak seseorang, dan parahnya tabrakan itu mengakibatkan kamera yang dibawa orang yang ditabraknya itu terjatuh dan hancur.

” HEH!!! jalan hati-hati!!!” marah orang itu yang tak lain dan tak bukan adalah Myungsoo.

Kai tak peduli, ia melanjutkan larinya bahkan lebih kencang dari sebelumnya karena ia tahu Myungsoo mengejarnya.

 

” Ck!! Ngerecokin aja tu orang! Untuk aku berhasil kabur! Hh..hh..” akhirnya Kai berhasil melarikan diri dari Myungsoo dan tiba di’portal’nya, ia segera menghapus noda darahnya yang untung saja belum mengering itu.

” Hei.. kau..”

” Ha?” Kai menoleh ketika merasa ada seorang gadis memanggilnya.

” Sedang apa kau disini? Kau.. aaa!! Jangan-jangan kau yang menghancurkan dind…..”

” Sssttt!!! Ne! Ne! Memang aku yang menghancurkannya! Tolong jangan keras-keras!” Kai meminta gadis itu untuk tutup mulut.

” Aku ini panitia. Mengapa kau larang-larang?” Gadis itu agak kesal, Kai mehe-mehe.

” Mianhae, aku tak mau ketahuan. Tolong jangan beritahu ya. Jebal.. aku terpaksa lewat sini karena aku datang terlambat. Tadi pagi aku dipukuli ayahku..” Kai malah curcol, wajahnya memelas.

Sunbae yang ternyata adalah Naeun itu langsung kasihan mendengarnya, ia pun akhirnya bersedia untuk merahasiakan semuanya.

” Lenganmu, kenapa?” Naeun melihat lengan Kai yang sudah sangat memprihatinkan karena terus mengeluarkan darah, bahkan tangan Kai saja sudah berlumuran darah.

” Tadi tergores.”jawab Kai sembari meringis.

” Ayo ke UKS!”

” A…”

 

” HAAAA!!! disini kau rupanya!!!” Myungsoo tiba-tiba datang dengan wajah penuh dendam, ia langsung hendak menghajar Kai, namun batal ketika ia melihat Naeun ada disana.

” Kau kenapa?? Datang-datang langsung pengen ngehantem aja!” Naeun menahan kepalan tangan Myungsoo.

” Dia menabrakku tadi!! Lihat nih kameraku hancur!”adu Myungsoo kesal.

” Mwo? Yah.. ya sudah nanti sajalah! Lihat, kasihan dia. Lengannya terluka, harus segera diobati!”

” Apa dia yang menghancurkan dind….”

” Sssttt!! Jangan keras-keras!”

Naeun segera menuntun Kai menuju UKS, Myungsoo mengikuti mereka dibelakang dengan wajah dongkol.

 

” Heh! Pokoknya urusan kita belum selesai yah! Awas kau!” Myungsoo duduk dihadapan Kai dan masih saja mengancam, Kai hanya tersenyum remeh.

Naeun heran melihat keduanya, Kai seperti Myungsoo versi kedua, yang ketika diancam atau dimarahi malah tersenyum remeh. Sepertinya ia akan menjadi generasi Myungsoo di Shimshin nanti.

” Sudahlah.. ia harus diobati dulu.” Naeun mempersiapkan peralatan medisnya dan mulai mengobati Kai, mata elang Myungsoo terus mengawasi mereka karena takutnya Kai berani pegang-pegang (?)

“…namamu siapa?”tanya Naeun pada Kai.

” Kim Jongin, tapi biasa dipanggil Kai.”malah Myungsoo yang menjawab.

” Darimana kau tahu? Kau fansku?!” Kai tertawa mengejek, Myungsoo makin esmosi.

” Darimana kau tahu?”tanya Naeun.

” Dua hari yang lalu aku diajak ke street dance oleh Hoya, dan ada manusia ini disana.”jawab Myungsoo.

” Apa Hoya sekolah disini?!”tanya Kai.

” Yaiyalah. Malah jadi panitia, siap-siap aja dicincang sama dia.” Myungsoo menakut-nakuti, Kai mendengus kesal.

“ Ssst.. jangan begitu ah.”tegur Naeun.

“ Nama sunbae siapa?” tanya Kai pada Naeun yang masih mengobati lengannya. Myungsoo semakin awas karena Kai udah mulai ngajak kenalan.

“ Namanya Son Naeun, dan dia pacarku.” lagi-lagi Myungsoo yang menjawab dengan menekankan kata ‘pacar’, Kai cengo, tak percaya kalau sunbae baik dan sunbae menyebalkan didepannya ini adalah sepasang kekasih.

“ Bagaimana kalau kupanggil Naeun noona?” tanya Kai, Myungsoo makin jengkel, sementara Naeun tersenyum malu.

“ Naeun sunbae saja.”jawab Naeun.

“ Aku lebih suka jika memanggilmu noona.”

“ Baiklah, kalau kau lebih suka itu^^..”

“ Ah, gomawo. Sshh.. sakit noona, pelan-pelan.” Kai meringis.

“ Ah, nde. mianhae. ehm.. kalau kesakitan, sebaiknya kau cari sesuatu yang bisa kau peg…..” Naeun memutus kalimatnya ketika ia tahu Myungsoo menatap tajam kearahnya, tentu karena namja itu tak mau kalau Kai sampai memegang tangannya.

“ Yang bisa kuapakan?” tanya Kai penasaran.

“ Yang bisa kau pegang.” Naeun tetap melanjutkan kalimatnya.

“ Apa yah? hmm.. tangan noona boleh?” tanya Kai terang-terangan.

“ Haaaahh~” Myungsoo mulai menunjukkan kekesalannya, Kai tertawa dalam hati, sementara Naeun tak tahu harus berbuat apa.

“ Ini, pegang.” karena tak mau Myungsoo marah, Naeun segera menggulung saputangannya dan meletakkannya ditangan Kai. Kai tak bisa menolak, ia pun memegang erat saputangan itu untuk meminimalisir rasa sakitnya.

 

“ Nah, sudah. sekarang kembalilah ke kelas.” Naeun pun selesai mengobati dan membalut luka dilengan Kai.

“ Gamsahamnida noona.” Kai membungkukkan badannya, Naeun tersenyum, sementara Myungsoo tetap saja memperhatikan mereka dengan tatapan dongkol.

“ Sudah sana ke kelas, sudah banyak pengarahan yang kau lewatkan.”

“ Noona pembina di gugus mana?”

“ Gugus.. Mars.”

“ Aku di gugus itu! ayo ke kelas sama-sama!”

“ Aku ada urusan dengannya, sana ke kelas duluan!” Myungsoo menarik Naeun sedikit, ia sudah kesal karena hoobae satu ini sama sekali tidak menghargainya.

“ Ya sudah, aku duluan. permisi.” Kai pun berjalan keluar UKS.

 

“ Ck, kau ini kenapa? berlebihan sekali.”kata Naeun.

“ Kau yang kenapa! tidak tahu kalo dia tadi sedang berusaha mencuri hatimu hah?” balas Myungsoo.

“ Tidak mungkin ia bisa mencuri hatiku, hatiku kan sudah ada padamu.”

Wajah Myungsoo memerah, “ Huh, bisa aja gombal. pokoknya aku kesal!”

“ Yaaa..~ kau cemburu kan??” Naeun tertawa meledek, wajah Myungsoo semakin merah padam.

“ Tentu saja aku cemburu!” jawab Myungsoo pura-pura marah.

“ Jangan kekanakan begitu. kau tahu kan sekarang kita banyak masalah, kalau sikapmu seperti ini hubungan kita tidak bisa bertahan lama!”

“ M.. maksudmu apa?”

“ Jangan kekanakan lagi, dikit-dikit cemburu. percaya saja aku hanya sayang padamu, L Kim. ara??”

Myungsoo tersenyum malu, “ Ne, arasseo. mianhae Naeunnie.”

Naeun mengangguk, dan lagi-lagi ia memberi Myungsoo senyuman itu, senyuman yang membuat Myungsoo kehilangan akal sehatnya beberapa saat.

Perlahan namja itu memegang pipi Naeun dan dengan gerakan tidak begitu lambat ia mengecup bibir gadis itu dengan lembut. Dan kali ini Naeun tak menolak, karena merasa keadaan sudah aman, ia mengalungkan kedua tangannya dileher Myungsoo dan membalas ciuman namja itu dengan lebih lembut.

 

Kai yang ternyata masih berada dibalik tembok dekat pintu UKS menyaksikan semuanya. Entah mengapa hatinya tiba-tiba terasa begitu sakit melihat pemandangan itu, padahal ia saja baru kenal dengan Naeun.

 

Apa ini yang namanya, love at first sight?

 

-TO BE CONTINUED-

 

Author minta maaf sebesar-besarnya karena part ini mungkin gaje atau mengecewakan. author bener-bener gak pede dengan part ini. Semoga kalian bisa memaklumi yah :) . Mianhae juga karena di part ini Woohyun dan Woori belum nongol-nongol amat (?), mereka bakalan nongol pas ceritanya udah masuk tahun ajaran baru. untuk sementara ini author fokus ke Kai dulu 🙂

 

Dan seperti kata author diatas, author akan hiatus kurang lebih sepuluh hari karena author bakal pergi mudik, author gak janji bisa apdet ff ini cepet-cepet karena author mudik ke desa yang gak ada sinyalnya *berasa mudik ke Desa Jangho nih -__-*

Jadi author bikin part ini panjang, semoga kalian puas dan tetap setia menunggu part 3nya yah ^^

 

Oh ya, walaupun belum lebaran, author mohon maaf lahir dan batin ya, maafkan author jika ada kata-kata author yang menyungging (?) perasaan kalian. Happy Idul Fitri sadayanaaa 🙂 ~

108 responses to “LOVE STORY AFTER LONG WEEKEND [SEQUEL OF A LONG WEEKEND WITH…HIM!!??]_PART 2

  1. percakapan bhs inggris’a somplak L ama Hoya parah bener bhs inggris’a lol wkwkwkwkwkwkwwkwkwkwkwwkkk karakter Kai sumpah asli ge sukaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

  2. Pingback: [Recommended FF] A Long Weekend with… HIM!??? ㅡ Citra Pertiwi Putri | Hani Jung ♡·

  3. duhh….
    So sweet…. ^_^
    Tapi ada yang cemburu tuh…. Hehe
    Dongwoon mah belum tau keburukan Woohyun. -_-
    Pas udah tau dia pasti mukulin Woohyun deh. #Sotoy -_-
    Makin kepo sama kelanjutannya 😀
    Daebakk 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s