Dirty Storey Room [Part~5]

Author : mumuturtle

Title     : Dirty Storey Room

Genre  : romance, life

Rating : PG-16

Length : Series

Cast     :

  • Byun Baek Hyun (EXO-K)
  • Oh Seo Yeon (OCs)
  • Oh Sehun (EXO-K)
  • Kim Jongin a.k.a Kai (EXO-K)
  • Ahn Jung Eum (OCs)
  • Kim Myungsoo a.k.a L (Infinite)

Other casts      : temukan sendiri…!

Disclaimer       : cerita ini hanya fiksi dan murni ide dari otak saya. Jadi, jika ada kesamaan apapun itu, entah peran, karakter atau bahkan plotnya saya benar-benar minta maaf, karena saya tidak tahu menahu. Dan semoga FF ini bisa menghibur kalian semua! Enjoy It!!

~Dirty Storey Room~

~æ~æ~æ~

Jalanan Seoul saat itu cukup ramai. Padahal baru beberapa saat lalu ia meniti jam di pergelangan tangannya dan waktu masih menunjukkan pukul 6.10. Belum lagi ini malam minggu. Sudah bisa dipastikan jalanan malam nanti akan berpuluh-puluh kali lipat lebih ramai dari pagi ini.

Gadis itu berdecak kesal. digigitnya bibir bawahnya sembari tangannya membenahi rambutnya yang sedari tadi beterbangan. Sementara tangannya yang lain tetap memegang kendali kemudi. Tetap memastikan mobil yang ia tumpangi itu berjalan lurus.

Tak peduli seberapa rasa sakit yang ia rasakan didalam hatinya saat ini, ia masih tetap akan berpikir ribuan kali demi menghancurkan mobilnya. Atau tampaknya seluruh retak-retak yang mulai semakin menganga lebar di hatinya itu tak akan cukup jika hanya digantikan dengan nyawanya sekalipun.

Rasa sakit yang berusaha ia abaikan selama bertahun-tahun. Rasa sakit yang berusaha ia anggap tak pernah ada dan hanya sebuah mimpi buruknya saja, kenapa kini, saat justru semuanya terlihat lurus dimatanya—meski memang ada beberapa kelokan—harus semakin dibelokkan lagi?

”Tidak! Aku tidak akan memberitahunya!”

”Tapi Seo Yeon sudah dewasa. Dia sudah tujuh belas tahun. Sudah sepantasnya dia tahu apa yang terjadi pada keluarga sebenarnya!”

”Lalu apa yang akan kita lakukan jika dia sudah mengetahuinya? Apa kau tidak memikirkan bagaimana perasaan Seo Yeon jika dia sudah mengetahuinya? Dan bagaimana jika dia justru meninggalkan kita setelah itu?”

”Tapi setidaknya itu lebih baik dari pada ia mengetahui kenyataan dengan sendirinya. Akan betapa terpukulnya anak itu jika ia tahu bahwa ayahnya masih hidup dari orang lain! Setidaknya jika kita yang memberitahunya, semua akan lebih ringan untuk Seo Yeon. Berpikirkan seolah kau ada di posisinyaa, Yeobo. Kau pasti ingin tahu siapa ayah kandungmu sebenarnya.”

Seo Yeon tampak cemas. Khawatir dan segala pikirannya buyar memecah konsentrasinya. Pandangan matanya bergerak-gerak tak karuan seolah rasa paranoid akan kematian tengah menghantuinya. Jemarinya yang bergetar itu berusaha tetap stabil memegang roda kemudi. Sesekali ia menggigiti kuku jemarinya yang memang tak terlalu panjang itu. Mencoba mengalihkan seluruh rasa yang ingin meledak di dalam dirinya.

Brakk…

Dipukulnya roda kemudi itu meski tak terlalu keras.

”Kau pasti ingin tahu siapa ayah kandungmu sebenarnya.”

”Kau pasti ingin tahu siapa ayah kandungmu sebenarnya.”

”Kau pasti ingin tahu siapa ayah kandungmu sebenarnya.”

”Kau pasti ingin tahu siapa ayah kandungmu sebenarnya.”

”Hiks…”  kening Seo Yeon berkerut. Jemarinya begetar hebat, tubuhnya bergetar hebat bahkan mulutnya sedari tadi sibuk menggigiti kukunya itu juga terlihat bergetar. Air mata yang bahkan berusaha ia tahan mati-matian itu akhirnya keluar. Walaupun belum membentuk sungai-sungai di pipinya dan hanya sekedar menggenang di pelupuk matanya.

”Wae irohkae? Ada apa dengan telingaku? Kenapa kalimat itu selalu berdengung? Apa aku mulai tuli?” Seo Yeon merancau tak jelas. Sembari salah satu tangannya memukul-mukul telinganya, seolah dengan itu ia bisa mengenyahkan berbagai kalimat yang jujur saja tak ingin ia dengar.

”ck…” Sekali lagi ia berdecak kesal saat menyadari aksinya tak berguna. Di putarnya sebuah tombol yang ada di mobil itu. Menyalakan radio dan mengeraskan suara sekeras-kerasnya. Setidaknya ia berpikir dengan ini pikirannya tak akan terlalu terfokus oleh kalimat-kalimat sialan itu.

”Ini mimpi bukan? Aku belum pasti belum bangun dari tidurku.” Gumamnya. Iapun memutuskan untuk berusaha mencubiti tangannya. Merintih sejenak karena merasakan sakit namun ia tak berhenti melakukannya. Ia bahkan mengeraskan cubitannya dan terus berkata, ”Cepat Oh Seo Yeon, bangun! Kau harus bangun! Kau bisa terlambat kesekolah!”

Berkali-kali bibir mungil gadis itu merancau tak jelas. Pikirannya yang sudah buyar sejak tadi itu terus berharap jika semua ini masih dalam dunia mimpinya. Ia terus berharap jika semua ini hanya ilusi dan berharap jika kenyataan bahwa ayahnya masih hidup itu SALAH.

Durhakakah dia sebagai seorang anak yang justru berharap ayah kandungnya sudah mati? Namun apa salahnya ia berharap seperti itu saat kedua orang tua kandungnya justru membuangnya ke panti asuhan?

”Aaaaaa!!” Seo Yeon terkesiap. Dihentikannya tangannya yang masih berusaha mencubit itu dan dialihkannya pandangannya secepat mungkin pada jalanan di depannya.

Matanya sukses membelalak kala ia melihat seorang wanita paruh baya yang tengah membawa beberapa kantong plastik belanjaan itu tengah menjerit dan berdiri mematung beberapa meter dari mobilnya. Degup jantungnya memacu. Dengan cepat kakinya berusaha untuk menginjak pedal rem, namun tampaknya posisi wanita itu yang terlalu dekat tak memungkinkan untuk tidak terjadi tabrakan.

”ARGH! SIAL!”

Dengan air mata yang pada akhirnya membasahi pipinya, gadis itu membanting stir mobilnya. Tak peduli akankan mobilnya itu menabrak pepohonan yang ada di pinggiran jalan atau bahkan tertabrak oleh mobil lainnya. Ia hanya memejamkan matanya, terlalu takut untuk menghadapi detik setelahnya.

”Arggh..” Lagi-lagi Seo Yeon merintih. Kepalanya berdenyut sakit ketika berhasil membentur roda kemudinya setelah akhirnya mobilnya berhasil berhenti di tepi jalan. Dengan selamat.

”hhh…” ia mendesah. Tangannya yang terkepal erat itu memukul-mukul kemudi seraya masih tertunduk dan menggigit bibir bawahnya. Air matanya semakin deras membasahi pipinya bahkan sesenggukan kecil mulai menghampirinya.

”Kejam! Kejam! KENAPA DUNIA INI BEGITU KEJAM BAGIKU? KENAPA INI BEGITU TAK ADIL?”

”Oh Seo Yeon!”

Seo Yeon bergeming saat telinganya mendengar seseorang memanggil namanya. Ia bahkan mengira itu hanya halusinasinya semata.

”Oh Seo Yeon, cepat keluar!”

Gadis itu menoleh. Keningnya yang terasa perih itu berkerut. ”Sun..bae?” Belum sempat gadis itu menyadari bahwa orang yang memanggilnya itu memang benar-benar Kai, pintu mobilnya sudah keburu dibuka dan ia ditarik keluar.

Kai menatap gadis di sampingnya itu mencelos. tangannya menggenggam erat tangan gadis itu yang terasa bergetar hebat, sembari menggiring gadis itu untuk memasuki jok penumpang.

”Jangan berharap aku akan membiarkanmu mengemudi lagi setelah kejadian ini.” Ujar Kai tegas setelah ia berhasil menempati jok kemudi. Seo Yeon hanya mendesah dan menyandarkan bahunya.

”Ada ap…”

”Bagaimana kau bisa disini?” Seo Yeon memotong cepat. Ia hanya tak ingin menjawab pertanyaan Kai yang ia ketahui apa meski belum selesai diucapkannya itu.

Kai tersenyum lembut, masih tetap menatap jalanan di depannya. ”Kau lupa? Rumahku di daerah sini, dan aku bermaksud menumpang mobilmu—mobilku di bengkel. Tapi yang kulihat kau justru hampir celaka.”

Mendengar jawaban Kai, Seo Yeon hanya mengerjapkan matanya. Terasa mustahil tampaknya, jika alasan Seniornya itu ada disini hanya untuk menebeng mobilnya saja. Ia terkekeh pelan.

”Geotjinmal!”

”Apa aku begitu buruk dalam berbohong?”Kai melirik sekilas dan tertawa setelahnya.

”Oppa yang menyuruhmu, bukan? Kau benar-benar menyedihkan. Berhenti menuruti apa katanya. Dan aku bisa menjaga diriku sendiri!”

Kai menghela nafasnya. Di belokkannya roda kemudi setelah ia menemui persimpangan di depannya. Sejenak ia menatap Seo yeon dan tersenyum tipis.

”Setidaknya, jika aku memang terlihat menyedihkan aku masih bisa menyembunyikannya. Tidak sepertimu saat ini.” Kai terkekeh pelan, mencairkan suasana. ”Bagaimana bisa aku percaya jika kau bisa menjaga dirimu sendiri, sedangkan kau justru hampir celaka tadi? Kau belum memiliki SIM-mu, jadi jika kau tidak ingin ditilang atau bahkan terkena kasus, mengemudilah dengan baik. Kau benar-benar tidak cocok kebut-kebutan seperti tadi.”

Seo Yeon hanya memutar bola matanya dan mendesah. Menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya. Sementara Kai hanya tersenyum lembut dan tetap berkonsentrasi mengemudi. Dilihatnya spion yang ada di atas, senyumnya kini berubah menjadi senyum miring.

Jika kau khawatir seharusnya kau yang ada di posisiku saat ini, Oh Sehun. Bukan hanya mengikuti kami dari belakang.

~æ~æ~æ~

Lelaki itu memainkan jemarinya dengan terampil mengikat tali-tali sepatunya menjadi simpul sederhana. Setelah memastikan kedua sepatunya sudah tertali dengan baik, ia berdiri. Pandangan matanya mengendar pada ruang kecil tiga meter di depannya yang disebut sebagai dapur itu.

Langkah kakinya tegas menuntunnya kesana. Saat matanya menanngkan sebuah roti, tangannya dengan cepat mencomotnya. Menggigit sebagaian roti itu dan mengunyahnya perlahan. Perutnya benar-benar harus diisi karena sejak beberapa menit lalu bunyi-bunyi aneh kerap terdengar dari perutnya.

Dengan malas ia menyungging tasnya dan hendak keluar dari rumah itu ketika pintu rumahnya tiba-tiba terbuka lebar. Menampilkan sesosok wanita dengan baju mini ketat dan penuh kilap berdiri di ambang pintu. Bibirnya yang dipoles dengan lipstrik merah menyala itu sudah tak terlihat rapi. Bahkan entah bagaimana bisa lipstik itu sampai pada sudut-sudut pipinya. Rambutnya yang di tata bak gadis-gadis majalah sampul itu terlihat ada yang mencuat-cuat meski hanya beberapa.  Dan yang membuat Baekhyun mengernyit, putung rokok yang masih terlihat panjang itu tersangkut diantara dua bibirnya.

Benar-benar khas sesosok yang kerap di sebuat Baekhyun sebagai Jalang.

Baekhyun mulai melangkahkan kakinya setelah helaan nafas yang berat terdengar dari bibirnya. Ditundukkannya kepalanya cukup dalam, hanya untuk menghindari terjadinya kontak mata dengan wanita itu.

”Tidak ada sebuah salam?” Baekhyun menghentikan lanngkahnya, tepat saat wanita itu memegang erat pergelangan tangannya dan berkata dengan cukup angkuh. Bau alkohol yang sudah amat familiar bagi lelaki itu kini menyeruak di hidungnya. ”Kau benar-benar tidak sopan, huh?”

Baekhyun hanya memutar bola matanya. Dicobanya untuk menghentakkan tangannya, ingin cepat-cepat melepaskan cengkramaan dari tangan wanita itu yang amat menjijikkan—setidaknya baginya. Namun yang di dapatinya justru cengkraman kuat lainnya. dan ia harus terpaksa merintih ketika kuku panjang merah wanita itu menusuk kulitnya.

Baekhyun melirik tajam wanita itu, seolah memperingatinta untuk segera melepaskan tangannya meski sayang sama sekali tak diindahkan.

”Lepaskan.”

”Tidak sebelum kau berjanji padaku kau akan merubah sikapmu. Kau tidak mabukkan Byun Baekhyun? Kau sadarkan siapa yang ada dihadapanmu saat ini?”

Rahang Baekhyun mengeras. Seakan kesabarannya sudah mencapai tingkat batas, kali ini ia menghentakkan tangannya dengan keras. Membuat wanita itu sempat terhuyung kebelakang dan terkejut.

”BYUN BAEKHYUN!”

”Aku. Tidak. Mabuk! Dan aku, sepenuhnya sadar siapa yang ada dihadapanku. Kau, yang tidak lain dan tidak bukan hanya seorang wanita murahan yang dengan tanpa malu memakai pakaian yang benar-benar ketat dan dengan make up yang amat tebal.” Baekhyun menyeringai. ”Apa kau tidak sadar? Jika kau terus memakai pakaian seperti itu, sewaktu-waktu payudaramu bisa mencuat kapan saja. Kau tidak malu? Ahh… semua jalang pasti tidak akan mempunyai rasa itu, karena aku yakin kau akan dengan senang hati mengumbar tubuhmu di depan banyak lelaki.”

Baekhyun mengalihkan pandangannya sekilas, seketika setitik air mata mulai meluncur dari mata wanita itu. Wanita yang kini membuka mulutnya cukup lebar karena terkejut dengan segala kalimat yang dilontarkan Baekhyun.

Wanita itu menggelengkan kepalanya, tersenyum tipis saat Baekhyun kembali menatapnya dengan tatapan tajam.

”Beranikah kau… memperlihatkan semuanya di depan mataku?” Ujar Baekhyun sinis kemudian melangkahkan kakinya dengan cepat. Meninggalkan rumahnya. Tak dipedulikannya wanita itu, yang kini sudah menangis dalam diam. Tak dipedulikannya keterkejutan wanita itu saat baekhyun serta merta membanting pintu rumahnya. Oh, Baekhyun bahkan tak peduli akankah pintu itu remuk nantinya.

Yang Baekhyun pikirkan saat ini hanyalah pergi dari tepat itu secepat mungkin. Selama ini ia bisa menghindari wanita itu setiap harinya. Ia berangkat di waktu yang amat pagi dan pulang di waktu yang ia sempatkan cukup larut—hanya untuk menghindari berpapasan muka dnegan wanita itu. Namun kenapa sekarang waktu tak berpihak padanya? Kenapa ia harus menatap wajah wanita yang bahkan ia benar-benar tak mengenali wajah aslinya. Ia benar-benar tak tahu bagaimana wajah wanita itu tanpa make up tebalnya.

Dan buruknya, kenapa ia harus melihat wanita itu meneteskan air matanya?

~æ~æ~æ~

Seo Yeon melangkahkan kakinya dengan gontai di sekitar koridor sekolah itu. tangannya ia biarkan begitu saja berada lemas di samping tubuhnya. Sementara kepalanya tertunduk dalam menatap lantai yang entah sudah di pel atau belum.

Tak tahu mengapa, seperti ada beban berton-ton yang kini di timpakan di punggungnya. Benar-benar berat dan membuat kepalanya berdenyut sakit. Sampai saat ini, seluruh ucapan kedua orang tuanya masih terekam jelas di pikirannya. Yang bodohnya ia tak bisa mengenyahkannya begitu saja.

Dalam hatinya, ia ingin bersikap seolah ia tak pernah mendengarnya. Berkelakuan seperti biasa saat ia tak pernah tahu dan tak pernah memikirkan apakah kedua orang tua kandungnya masih hidup atau tidak. Namun betapapun ia sangat ingin kembali seperti dulu, rasanya amat susah. ketika hati kecilnya benar-benar penuh dengan pertanyaan.

Pertanyaan akan kebenaran bahwa kedua orang tua kandungnya masih hidup. Benarkah semua itu? Lalu bagaimana rupa mereka? Akankah mereka sangat mirip dengannya? Apa pekerjaan mereka? Bagaimana kehidupan mereka selama ini? dan terlebih lagi, kenapa mereka mengirimnya ke panti asuhan itu? seakan mereka setega itu melimpahkan segala keburukan pada anaknya.

Seo Yeon tersentak dan menghentikan langkahnya tiba-tiba saat seseorang berada di hadapannya entah sejak kapan.

”Sejujurnya aku benar-benar senang kemarin.”

Seo Yeon mengerutkan keningnya. Di dongakkannya kepalanya berusaha menatap seseorang itu, meskipun suaranya sudah amat familiar di telinganya. Dan benar saja, gadis itu, dengan senyuman manisnya yang bahkan siapa tahu jika dia sebenarnya amat licik dan munafik?

”Melihat muka Baekhyun menjadi sangat muak denganmu benar-benar membuat perasaanku menjadi lebih baik.”

Seo yeon semakin mengerutkan keningnya. ”Kau…”

”Mwo? Apa aku terlihat jahat dimatamu? Setidaknya aku tidak membullymu. Seperti dua gadis itu. Tapi… aku bisa saja melakukannya jika kau melangkahkan kakimu di tempat yang seharusnya aku berada.”

”Ahn Jung Eum…”

”Jangan kau coba memperingatiku! Aku hanya mencoba mendapatkan apa yang sudah aku usahakan selama ini. Tidak salah kan?” Ia tersenyum.

Jujur sebenarnya Seo Yeon benar-benar tak ingin berkutat dengan segala hal ini. Seperti hubungannya dengan Baekhyun yang membuat Jung eum tak menyukainya, atau perihal Sehun yang membuatnya harus mendapatkan bully cukup parah di sekolah ini.

”Aku yang sudah memperhatikan Baekhyun selama ini pun, tidak pernah mendapat tatapan memuakkan atau di bentak seperti itu. Tapi kau? Jadi sudah jelaskan siapa yang akan…”

”BISAKAH KAU MEMBUNGKAM MULUTMU? AKU TAHU APA YANG AKU LAKUKAN JADI KAU TAK PERLU MEMBUANG WAKTUMU UNTUK MENGATAKANNYA!” Seo Yeon menghela nafasnya. Di tatapnya lekat-lekat Jung Eum yang tampak terkejut dengan bentakan Seo Yeon.

Selama ini Seo Yeon berusaha tenang dan tak menanggapi semua tingkah kekanakan Jung Eum. Namun tampaknya jika ia terus berlama-lama seperti ini hanya akan membuatnya jatuh pada jurang yang sama. Dengan kasus pembully-an lainnya yang entah mungkin bisa menjadi lebih buruk.

”Semua… Semua bukan kita yang menentukan. Pilihan ada di tangan Baekhyun. Jadi berhenti menyalahkanku!”

 

Seo Yeon mempercepat langkahnya. Kepalannya sedari tadi sudah terkepal erat seolah seluruh emosi yang meluap di tubuhnya itu di kumpulkannya dalam kepalan tangannya yang sudah memuculkan semburat kebiruan dari urat yang menyembul kepermukaan.

Air mata yang berusaha ia tahan sedari tadi akhirnya keluar membanjiri pipinya. Tenggorokannya benar-benar tercekat dan ia benar-benar ingin berteriak sekeras-kerasnya untuk setidaknya melegakan sedikit saja kegelisahan di hatinya.

Belum cukupkah semua tidak pembully-an yang ia rasakan selamam ini? Belum cukupkan hatinya terasa tertohok karena mengetahui orang tua kandungnya masih hidup? Haruskah ia terus di salahkan di dunia ini? Salahkah dirinya hanya karena berhubungan dengan Byun Baekhyun—meski memang lelaki itu sendiri tak menyukainya?

Sungguh, kesalahan besar apa yang dilakukannya di masa yang lalu?

”LALU KENAPA KAU MUNCUL DI HADAPANKU?”

”Menjauh dariku! Jangan perlihatkan dirimu secara terang-terangan atau sengaja di depan ku. Kecuali di kelas.”

Seo Yeon seketika menghentikan langkahnya. Semua kalimat yang pernah di tandaskan Baekhyun untuk tidak muncul di hadapannya itu entah mengapa terngiang di telinganya. Bahkan entah mengapa di depan matanya saat ini, tepat beberapa meter di depannya sosok Baekhyun seperti ada disana. Berjalan dengan santai seperti biasa, dengan kedua tangannya yang dimasukkan kedalam saku celana dan earphone yang menggantung di telinganya.

Seo Yeon mengerjapkan matanya dengan cepat. Itu bukan ilusi—seperti apa yang ia pikirkan. Itu nyata. Itu memang sosok Byun Baekhyun. Dan kini—entah bisa di sebut keberuntungan atau tidak—Baekhyun menatapnya dengan tatapan dingin seperti ingin membunuhnya hidup-hidup.

Buru-buru Seo Yeon mengalihkan pandangannya, dan secepat itu pula ia membelokkan langkah kakinya. Seperti yang Baekhyun katakan, ia tak akan muncul di hadapannya kecuali di kelas.

”Arghh…” Seo yeon memekik keras saat tangannya tiba-tiba di tarik dengan keras. Ia bahkan tak sempat melihat siapa orang yang menariknya sebelum akhirnya ia di tarik untuk masuk kedalam sebuah tempat gelap dan dengan suasana yang cukup lembab.

”urusan kita belum selesai, Oh Seo Yeon!”

~æ~æ~æ~

 ”Dia baik-baik saja?” Tanya Sehun dengan nafas yang tersengal. Kali ini ia membungkuk dengan bertumpu pada lututnya sementara jawaban yang ia inginkan tak kunjung di berikan oleh sahabat yang ada di hadapannya itu. Ia sudah berlari cukup kencang di pagi hari seperti ini hanya karena kepanikannya akan adiknya. Berlebihankah dirinya?

”Tidak. Dia hampir celaka.” Jawab Kai sedikit mendesah.

Sehun menegakkan tubuhnya, menatap Kai masih dengan tatapan yang penuh menyiratkan kekhawatirannya. Sementara sebaliknya, Kai justru terliihat setenang biasanya. Atau memang dia saja yang berlebihan?

Setidaknya Seo Yeon tidak celaka. Hanya HAMPIR celaka saja. Toh, saat Seo Yeon bisa sampai di sekolah dengan selamat. Tapi mau apa lagi? Seolah ia tengah kehilangan hampir seluruh nyawanya, kekhawatirannya benar-benar seperti sudah memuncak di ubun-ubunnya. Oh, meski ia sendiri menyadari perasaan aneh itu kembali muncul namun berkali-kali Sehun meyakinkan dirinya bahwa semua perasaannya itu hanya sebatas kakak dan adik saja.

”Tapi dia sampai di kelasnya dengan baik, bukan?”

”Oh, Ayolah Oh Sehun! Kau pikir aku bodyguardnya? Lagi pula dia tak sesenang itu aku mengikutinya. Sebenarnya ada masalah apa? Jika kau memang sangat khawatir padanya kau seharusnya berada disisinya! Bukannya terus menyuruhku!” Seru Kai. Ia meletakkan tas selempanggnya dengan asal ke atas meja. Tak mempedulikan suara debamannyay ang sedikit mengganggu siswa lain di kelas itu. ”Kau tahu? Karena ulahmu aku jadi terlihat seperti seorang maniak. Berkeliaran di sekitar Seo yeon dan selalu muncul saat dia ada masalah. Jika dalam buku-buku cerita aku pasti sudah menjadi super hero.” Kai terkekeh.

”Aku hanya mengkhawatirkannya.” Ujar Sehun lirih sembari memakukan pandangan matanya pada layar ponselnya itu. jemarinya terus menekan berbagai tombol membuat menelusuk lebih dalam ke file-file yang ada di ponselnya itu hingga akhirnya ia menghela nafas lega begitu nomor ponsel Seo Yeon tertangkap oleh kedua matanya.

”Tak sadarkah kau? Kau sudah mengatakannya berulang kali. Tapi semakin banyak kau mengatakan itu kau tak juga menunjukkan aksi nyata sebagai wujud kekhawatiranmu itu. Hey! Aku bukan alat yang bisa kau gunakan untuk menyalurkan perasaan…”

”Langsung saja! Kau tidak pintar untuk berbasa-basi, tahu?” Sehun menatap tajam Kai dengan ekor matanya. Membuat Kai justru terkekeh. Kai bahkan tak sadar sudah berapa lama ia berteman dengan lelaki itu. Dan sudah menjadi barang pasti Sehun mengerti seluk beluk tentangnya, meski tak seperti dirinya yang bisa dikatakan benar-benar buta tentang Sehun.

”Aku tahu semua sikapmu ini, yang jujur saja membuatku ingin membunuhmu secepat mungkin…” Kai menggantungkan kalimatnya. Bibirnya menyunggingkan senyum simpul saat ia menatap wajah Sehun—yang tengah berusaha menghubungi Seo yeon—memang benar-benar terlihat panik. ”Hanya karena kau takut kau akan menimbun lebih banyak kesalahan.”

Sehun menoleh cepat. Dengan kedua alis yang saling bertaut, ia menatap Kai dengan lekat. ”Kau akan berkilah sehebat apapun. Kau bisa berbohong dengan lebih hebat dariku pun, aku tahu ada perbedaan dari caramu memandang adikmu. Kau bisa memukulku jika aku salah! Kau… menyukainya?”

Sehun menghela nafasnya. Di tatapnya layar ponselnya yang baru saja di jauhkannya dari daun telinganya. Pandangan matanya masih sama, tampak gelisah bahkan terlihat meningkat seiring dengan tolehan kepalanya untuk menatap Kai disampingnya.

”Dia tidak mengangkat telponku.” Ucap Sehun datar yang justru di sambut oleh gelak tawa oleh Kai.

”Jangan mengalihkan pembicaraan, Sehun~ah! Mungkin dia…”

”AKU SERIUS! Berkali-kali aku mencoba menghubunginya tapi dia tidak mengangkatnya! Seburuk apapun sikapku padanya ia tak pernah seperti ini!”

”Jadi kau menyadari buruknya sikapmu?”

BRAK!!

Kai terperanjat. Ia bahkan berrjenggit di bangkunya saat Sehun tiba-tiba berdiri dan menggebrak meja dengan kasar. Biasanya hanya akan ada kilat kemarahan di mata Sehun jika sampai ia bersikap seperti ini. Namun sekarang yang ada di mata Kai justru berbeda. Kerut-kerut yang tercetak jelas di kening Sehun dan alisnya yang bertaut itu semakin memperkuat sarat kekhawatiran yang sudah memuncak. Pandangan mata sehun bahkan sudah tak fokus.

”Aku akan mengecek keadaannya.”

~æ~æ~æ~

Ia hanya memutar bola matanya. Sedari tadi ia berusaha mengabaikan setiap ocehan lelaki paruh baya yang ada di depannya itu, namun tampaknya suara bariton lelaki itu benar-benar tak bisa diabaikan. Selalu mengganggu pendengarannya terlebih saat kalimat-kalimat yang disebutnya sebagai nasehat itu terdengar di telinga Baekhyun. Sungguh, sudah selama lima belas menit ini ia bahkan masih meragukan lelaki paruh baya yang biasa dipanggil guru Kang itu.

Semua nasehat—setidaknya begitu kata guru Kang yang sekarang sudah menjabat sebagai kepala sekolah—justru terdengar seperti perintah untuk Baekhyun. Yang jujur sudah membuat telinga Baekhyun seakan memanas seiring dengan semakin banyaknya kata yang diucapkan guru itu. Baekhyun membuka mulutnya lebar, ia menguap.

”BYUN BAEKHYUN, KAU INI MENDENGARKANKU TIDAK?” bentak guru Kang keras. Tampaknya lelaki paruh baya itu benar-benar terlihat kewalahan dengan anak didiknya yang satu ini. Ia bahkan sudah menahan sedari tadi agar tangannya tidak terayun untuk menggampar Baekhyun karena sikapnya yang sudah tidak bisa di toleransi lagi.

”Sebenarnya apa yang ingin Bapak katakan? Anda terlalu berputar-putar.” Ucap Baekhyun pada akhirnya, setelah lima belas menit ini ia hanya diam.

”Kau pikir ucapanku ini hanya angin lalu?  Kau seharusnya sadar bahwa sikap burukmu itu bahkan sudah tidak bisa lagi dicatat di buku catatan perilakumu. Dan apa kau tahu bahwa kau sudah masuk persyaratan untuk dikeluarkan dari sekolah in…”

”Kalau begitu keluarkan saja aku. Mudah kan? Kau juga tidak perlu menghabiskan tenagamu lagi untuk terus menasehatiku!” Ujar Baekhyun dengan santai. Ia beranjak dari tempat duduknya, menatap sejenak sebelum akhirnya ia berbalik hendak pergi meninggalkan ruangan itu.

”Kau pikir aku ini guru yang tega? Aku tidak mungkin dengan mudah mengeluarkan anak didikku begitu saja.”

Baekhyun menghentikan langkahnya. Diputarnya kepala hingga ia bisa menatap wajah guru Kang dengan jelas. tengah merapihkan berkas-berkas yang berceceran di atas mejanya.

”Tapi bagiku kau bahkan lebih tega dari pada seorang guru yang mengeluarkan muridnya tanpa sebab.”

Guru Kang mendongak dengan cepat. Matanya terbuka lebar, terlihat sekali ia amat terkejut dengan ucapan yang bahkan entah serius atau tidak diucapkan oleh Baekhyun. ”Mwo?”

”Berapa? Berapa uang yang ibuku berikan untukmu sampai kau masih mau bersusah payah menahanku disekolah ini?”

”Byun Baek…”

”Berhenti menerima uang itu, dan keluarkan aku dari sekolah ini. asal Bapak tahu, aku masih memiliki harga diriku disini. Kau pikir aku tidak punya malu? Kau pikir aku bisa tenang bersekolah dengan cara seperti ini?” Baekhyun menyeringai.

~æ~æ~æ~

”ARRGGHH!! SAKIT! Sakit, lepaskan aku!” Gadis itu merintih. Pipinya sudah memerah dan basah oleh air mata yang bahkan entah sudah seberapa banyak dikeluarkan oleh matanya. Matanya kini sudah memerah dan bengkak seolah menandakan ia sudah lelah untuk menangis. Tubuhnya yang sedari tadi bergetar hebat karena ketakutan yang menderanya kini harus semakin bergetar saat tiba-tiba seember penuh air dingin di tumpahkan begitu saja ke tubuhnyanya. Membuatnya tak bisa menghindari rasa kedinginann yang bahkan tubuhnya sampai menggigil.

”Kalian…” Seo Yeon kembali membuka mulutnya. Meski dengan terbata-bata dan bibir yang membiru menggigil hebat. Ia menatap tajam kedua gadis di hadapannya yang tengah menyeringai itu dengan tatapan tajam yang penuh dengan linangan air matanya. ”Sebenarnya apa yang kalian inginkan? Apa kalian benar-benar ingin membunuhku?”

Semuanya. Semuanya terasa sudah tak tertahankan lagi bagi Seo Yeon. Air mata yang bercampur dengan tetes-tetes air yang membasahi rambutnya itu berlomba-lomba untuk semakin membasahi wajahnya. Bahkan sudah sebanyak inipun air mata yang ia keluarkan dihari ini tampak tak terlalu berarti untuk menggantikan seluruh rasa sakit hatinya yang seperti berusaha mengejutkannya secara bersamaan di hari ini.

Oh, sungguh, apa memang ia harus dibunuh agar semua rasa sakit itu hilang?

”Benar! Kami memang sungguh ingin membunuhmu! Wae? Kau mau sukarela untuk membunuh dirimu sendiri? Kami akan dengan senang hati menerimanya.”

”KALIAN BENAR-BENAR BRENGSEK!”

PLAK..

Mata Seo Yeon yang sudah terasa panas itu kini semakin terasa terbakar bersamaan dengan rasa perih yang menjalar di syaraf-syaraf pipinya seketika Min Ji menamparnya dengan amat kasar. Bisa dirasakan oleh Seo Yeon rahangnya mengeras, melampiaskan seluruh kekesalan yang ada di dalam dirinya.

Ia lelah! Ia lelah harus terus di bully seperti ini. Ia lelah harus terus seperti ini. Apa menjadi anak yang dibuang ke panti asuhan itu adalah pilihannya? Apa ia bisa memilih orang tua yang tak akan menelantarkannya ke panti asuhan? Apa ia bisa memiih kepada siapa ia akan di adopsi? Apa ia bahkan bisa tahu bahwa kelak yang akan menjadi kakak angkatnya adalah Oh Sehun yang banyak di puja kalangan gadis di sekolahnya? Apa ia bahkan bisa merencanakan jika ia akan menjadi anak dari seorang pemilik sekolah ini?

BRAK!!

Suara debaman yang amat keras terdengar seiring dengan langkah cepat kedepan yang diambil oleh Seo Yeon. Gadis itu menyeringai. Ia bahkan tak pernah membayangkan posisi ini akan bisa dialaminya. Saat tangannya dengan santai mencengkram leher Sin Ae—meski tak cukup erat sehingga Sin Ae bisa mati seketika.

”Ya! APA YANG KAU LAKUKAN?” Min Ji berteriak, merangsek maju berusaha melepaskan tangan Seo Yeon dari leher Sin Ae yang hanya mendapati dirinya terhempas kebelakang oleh tangan bebas Seo Yeon yang lainnya.

Gadis berambut sebahu itu—Seo Yeon—menatap tajam Sin Ae sembari matanya yang sudah merah padam itu tetap mengeluarkan bulir-bulir air matanya.

”Tarik kembali. TARIK KEMBALI SEMUA KATA-KATA YANG SUDAH KAU UCAPKAN SELAMA INI!” Dada Seo Yeon naik turun, nafasnya memburu. Tampak sekali emosi tengah menguasainya. Oh, ia bahkan tak lagi mempedulikan apakah aksinya kali ini justru akan menyamakan dirinya dengan kedua gadis itu.

”TARIK KEMBALI, KAU DENGAR?!”

Sin Ae menyeringai kemudian berkata, ”Untuk apa? Apa dengan aku menarik kembali kata-kataku statusmu sebagai anak pungut akan hilang?”

”KAU! Apa hidupmu begitu sempurna sehingga kau bisa dengan mudah menghinaku? Apa keluargamu adalah keluarga yang benar-benar harmonis tanpa sedikitpun titik hitam di dalamnya? Aku tahu kau pasti ingin di posisiku, bukan? Menjadi adik dari Oh Sehun dan bisa dekat dengan Kim Jongin. Tapi tak sadarkah jika kau ada diposisiku kau akan mendapat bully seperti yang aku alami? DICAP SEBAGAI ANAK PUNGUT, DIKATAI JALANG! Tak sadarkah betapa busuknya mulut kalian sehingga kalian tak pantas berada diposisiku? Kakakku terlalu berharga untuk bersama gadis seperti kalian.”

Seo Yeon menghela nafasnya panjang-panjang. Retetan kalimat panjang lebar yang ia ucapkan dengan diselingi isak tangisnya itu seolah telah menguras habis tenaganya. Di lepaskannya cengkraman leher Sin Ae, tak peduli apakah selanjutnya mereka akan benar-benar membunuhnya, terlebih saat ia dengan lancang berkata seperti itu.

Seo Yeon menundukkan kepalanya. Menjerit sekeras-kerasnya yang hanya di tanggapi dengan kerutan dahi dan seringaian oleh kedua gadis itu.

”Apa kalian berpikir aku menginginkan berada di posisi ini? APA AKU MERUSAK TAS, SEPATU, BAJU ATAU BARANG-BARANG BERMERK KALIAN? KENAPA KALIAN MEMPERLAKUKANKU SEPERTI…”

PLAK!

Sekali lagi ia di tampar. Belum sempat rasa perih beberapa menit lalu itu menghilang kali ini justru di tambah dengan perih lainnya yang bahkan terasa menyobek sudut bibirnya. Atau mungkinkah pipinya itu sudah lebam.

”Kau benar-benar pemberani, Oh Seo Yeon.” Min Ji menggelengkan kepalanya pelan setelah sebelumnya ia mendorong Seo Yeon hingga jatuh terduduk.

Min Ji menatap Sin Ae dengan salah satu alis yang terangkat. ”Kita selesaikan saja!” Ujarnya seraya menengadahkan tangan kanannya. Seolah meminta sesuatu dari Sin Ae.

~æ~æ~æ~

Sehun menatap jam perak yang melingkar di pergelangan tangannya itu dengan gelisah. Ini memang bukan kali pertama ia merasakan kegelisahan saat adiknya tiba-tiba menghilang entah kemana. Namun entah mengapa untuk kali ini kegelisahannya seperti sudah mencapai batas klimaks.

Sepuluh menit yang lalu ia mengecek kelas dimana adiknya menuntut ilmunya dan hanya mendapati bangkunya kosong. Usaha yang ia lakukan untuk bertanya dengan siswa-siswa di sekitarpun tampak percuma karena tak ada satupun yang melihat keberadaan Seo Yeon. Adiknya bahkan belum sempat memasuki kelasnya. Jadi kemana gadis itu bisa pergi.

Ini bukanlah merupakan tiga puluh menit sisa waktu sebelum bel masuk berbunyi dan Seo Yeon biasanya sudah berada di kelasnya.

Sehun melangkahkan kakinya dengan amat cepat. Pandangan matanya mengedar ke seluruh penjuru sekolah ini, bahkan sudut-sudut yang jarang tertangkap mata pun tak luput dari penglihatannya. Tangannya masih sibuk berusaha mengirimi pesan atau mencoba menghubungi adiknya meskipun tak ada balasan sama sekali.

”Mungkinkan ia berada di gudang penyimpanan itu?” Sehun mengernyitkan dahinya.

Tanpa basa basi lagi ia meluncur cepat menuju tempat yang entah bagaimana bisa tiba-tiba menyembul di benaknya.

Nafasnya sudah menderu hebat namun ia tak sekalipun memperlambat lanngkah larinya. Ia bahkan semakin mempercepat langkahnya ketika pintu usang gudang penyimpanan itu sudah terlihat oleh matanya.

”SEO YEON, KAU DISINI?” Teriak Sehun sembari membuka pintu usang itu dengan kasar.

Matanya menyipit seraya berusaha menelusuk kedalam ruangan gelap itu. Namun ia hanya bisa menghela nafas dan berdecak kesal saat tak menemukan satupun kehidupan di dalam sana. Hanya ada benda-benda mati yang sudah usang dan berdebu. Sehun menggeram sekaligu membanting pintu itu dengan kesal. mengacak-acak rambutnya menyalurkan rasa frustasinya.

Di ambilnya lagi ponselnya dan dengan rasa putus asa yang sudah hampir menyinggahinya itu ia kembali mencoba menghubungi Seo Yeon. Berharap kali ini adiknya akan menjawabnya.

Yeo..bose…yo?” Seperti ada balon udara yang melambungkan berjuta-juta batuan yang mengendap di benaknya. Merasa lega akhirnya ia mendengar suara adiknya. Namun keningnya berkerut sesudahnya, suara Seo Yeon terdengar lemah dan letih.

”Gwenchana? Katakan kau dimana?” Tanya Sehun dengan usahanya untuk menutupi kegelisahan dan kekhawatirannya.

”Waeyo? Kenapa kau mau tahu aku dimana? Kau tak pernah peduli saat aku di bully.”

Sehun membelalakkan matanya. ”Kau… kau dibully lagi? Cepat katakan! Dimana?”

”Waeyo? Kau ingin menolongku?”

”Ck… NE, AKU INGIN MENOLONGMU! AKU SUDAH BERLARI DARI TADI UNTUK MENCARIMU! AKU MENGKHAWATIRKANMU, OH SEO YEON! JADI…katakan padaku dimana kau sekarang! Kau ingin membuatku mati karena mengkhawatirkanmu, huh?”

Hening. Tak ada jawaban apapun. Hanya derap langkah kaki Sehun yang ia ambil asal karena ia pun tak tahu kemana tujuannya. Dan hatinya terasa semakin remuk ketika yang terdengar dari ponselnya hanya sebuah isak tangis dari Seo Yeon.

”Seo..”

”Toilet, yang sudah tak pernah digunakan lagi.”

~æ~æ~æ~

Terdengar suara derak yang tak terlalu nyaring ketika tangannya yang diikat kebelakang itu menjatuhkan poselnya begitu saja. Ia menggigit bibir bawahnya. Sudah beberapa menit ini ia menahan sakit nyeri yang pergelangan tangan dan kakinya rasakan. Tali tambang itu terlalu erat mengikatnya. Sungguh. Ia bahkan bersusah payah saat ingin menjawab panggilan yang beruntungnya dari kakaknya. Meski ia sedikit heran bagaimana bisa kakaknya khawatir padanya setelah sekian lama ini bersikap dingin padanya? Tapi diluar itu ia bernafas lega. Setidaknya ia bisa cepat keluar dari tempat lembab ini. Mengganti pakaiannya yang basah dan menghangatkan dirinya.

”Hiks…” Sekali lagi Seo Yeon kembali terisak. Ia menenggelamkan kepalanya di atas lututnya.

Berkali-kali ia membodohi kedua orang tua kandungnya yang sudah dengan tega membuangnya ke panti asuhan. Apa sebegitu tak diinginkankah dirinya?

Seandainya… tak pernah terjadi dimana ia berada dipanti asuhan, semua pembullyan dan tekanan ini tak akan pernah di rasakannya. Meski itu berarti ia harus berada di keluarga miskin dan tak bisa bersekolah dengan nyaman seperti ini sekalipun. Oh, haruskah Seo Yeon ebrandai-andai seperti itu sedangkan ia sendiri tak mengetahui bagaimana kedua orang tuanya itu?

”Seo Yeon!”

Seo Yeon mendongakkan kepalanya. Seraya nafas lega terhembus dari hindungnya ia tersenyum, tak menyangka bahwasannya kakaknya memang benar-benar peduli padanya.

”Kau…” Sehun berlari cepat. Menghampiri Seo Yeon dan bersimpuh untuk menyakan posisi tubuh mereka. Keningnya benar berkerut saat ia mendapati keadaan adiknya yang sudah benar-benar kacau. ”Mereka setega ini padamu?”

Seo Yeon terkekeh dan memutar bola matanya. ”Kau bahkan tak pernah mengerti. Mereka bisa melakukan lebih dari ini.”

Sehun menatap lekat kedua bola mata adiknya yang sudah memerah itu. Ia hanya bisa membiarkan hatinya mencelos ketika adiknya justru masih bisa tersenyum dengan kondisi seperti ini. Tak pedulikan Seo Yeon dengan rasa sakit di sudut bibirnya yang sobek ketika ia tersenyum?

Dengan cepat namun lembut Sehun berusaha melepaskan semua tali yang mengikat tubuh mungil adiknya. Ia menyeringai mengingat ucapan Kai tadi. Dan betapa bdoohnya ia, ia baru sadar bahwa semua itu benar. Jika saja ia yang berada di sisi Seo yeon sejak tadi tak mungkin Seo Yeon akan seperti ini.

Diusapnya secara perlahan pipi Seo Yeon yang memerah itu. Bisa dipastikan itu bekas tamparan. Namun berapa kali gadis itu menampar adiknya sampai terlihat sebegitu merah? Sehun mengangkat kedua alisnya terkejut seketika Seo Yeon merintih.

”Mian.” Ujar Sehun lirih. Di bukanya blazer milik Seo Yeon yang bahkan sudah terdapat beberapa robekan itu lalu menggantikannya dengan blazer miliknya yang masih bersih dan yang lebih penting tidak basah.

”Kajja, kita ke Tata Usaha. Mengganti pakaianmu.” Ujar Sehun sembari mengulurkan tangannya untuk merengkuh kedua bahu Seo Yeon dan membantunya berdiri.

 

 

”Geojyo!”

Sehun menoleh cepat, menatap Seo Yeon dengan skeptis. Atau lebih tepatnya tatapannya itu seolah menanyakan kebenaran dari kata yang ia dengar keluar dari mulut Seo yeon. Ia bahkan benar-benar berharap jika ia hanya salah dengar.

”Aku ingin sendiri, Oppa.”

”Ani. Aku akan disini, menunggumu lalu kita akan ke ruang kesehatan untuk mengobati lukamu.” Balas Sehun. Lelaki itu bahkan terus melangkahkan kakinya hendak memasuki ruang tata usaha seolah megabaikan benar-benar ucapan Seo yeon itu. Seolah Seo Yeon tak pernah menyuruhnya pergi dan ia akan dengan senang hati menemani adiknya.

”Kalau begitu aku tak akan mengganti bajuku.”

Sehun menghentikan langkahnya. Memutar tubuhnya hingga kembali meghadap Seo Yeon yang berada dua meter di depannya itu dengan salah satu alis yang terangkat.

Sehun menghela nafasnya panjang-panjang kemudian berdecak. ”Pastikan semua lukamu terobati!” Lalu ia melangkah pergi meninggalkan Seo Yeon.

Atau mungkin ada sesuatu lain yang harus dilakukan Sehun?

~æ~æ~æ~

”Aish… leherku benar-benar sakit. Bagaimana bisa gadis itu punya keberanian seperti itu? ck… sekali lagi ia melakukan hal itu aku bisa pastikan ia tak akan bisa melangkahkan kakinya lagi di sekolah ini!” Salah satu dari dua gadis yang tengah melenggang santai di koridr yang cukup ramai oleh siswa yang berlalu-lalang itu berujar. Tangannya yang dihiasi oleh beberapa gelang manis itu memegangi lehernya yang terasa nyeri sembari meringis.

”Ya! Lihat! Ada Sehun Oppa, kurasa dia berjalan kearah kita.” Ujar seorang lainnya sembari menyikut lengan gadis di sampingnya.

Gadis yang tadi mengeluh sakit di lehernya itu mengangkat kedua alisnya cepat. Dan secepat itu pula kepalanya mengedar mencari sosok seperti yang di katakan rekannya.

”Oh… benar! Ya! Ya! Apa penampilanku sudah rapi? Rambutku?”

”SEHUN OPPA! ANNYEONG!” Gadis yang tengah di ajak bicara itu—atau yang kerap dikenal Minji—tak mengindahkan. Ia justru sibuk melambaikan tangannya dan mengeluarkan suara yang dibuatnya semanis mungkn terdengar saat menyapa Sehun.

”Ada apa Oppa? Kau membutuhkan sesuatu dari kami?” Gadis lainnya—Sin Ae—mengeluarkan suara manis lainnya seraya bergelayut maja di lengan Sehun yang hanya di tanggapi kerutan kening oleh Sehun.

Sehun menghela nafasnya, gadis-gadis ini benar-benar bermuka dua. Lalu disunggingkannya sebuah senyum simpul yang benar-benar diusahakannya terlihat menawan. Meskipun jujur itu sangat susah terlebih untuk kedua gadis yang telah menganiaya adiknya.

”Kau benar-benar menyukaiku?” Tanya Sehun dan langsung di jawab dengan anggukan kepala oleh kedua gadis itu. ”Kalau begitu, kau mau ikut denganku?”

Kedua gadis itu mengangguk cepat tanpa basa-basi lagi. Mata mereka bahkan terlihat berbinar saking senangnya seorang Oh Sehun mengajak mereka berdua untuk pergi.

Seluruh pasang mata yang ada di koridor itu menatap dengan penuh rasa terkejut. Bagaimana tidak? Seorang Oh Sehun yang terilhat jarang tertarik dengan gadis-gadis di sekolah itu kini justru menggandeng tidak hanya satu namun dua gadis sekaligus.

Dan Kai! Yang tiba-tiba muncul di hadapan Sehun memberikan tatapan seolah mempertanyakan kewarasan Sehun dalam menggamit kedua lengan gadis itu. Kai dan Sehun sepenuhnya tahu siapa kedua gadis itu.

”Oppa, untuk apa kita kesini?” Tanya Minji. Sedangkan Sin Ae mengerutkan keningnya menatap papan bertuliskan Ruang Kepala Sekolah yang menggantung rapi di atas pintu tertutup di hadapannya.

Sehun menyeringai sejenak, sebelum ia menghempaskan dengan keras kedua tangannya. Seolah ia mengenyahkan virus-virus yang menggerayangi kedua tangannya itu. membuat kedua gadis itu tersentak.

”Seharusnya kalian tahu untuk apa kalian berada disini! Tidak sadarkah siapa lelaki yang berhadapan dengan kalian? Aku Oh Sehun, Kakak dari Oh Seo Yeon. Jika lelaki lain pasti ingin berkencan dengan kalian tapi aku… justru ingin mengeyahkan kalian dari pandanganku. Bersyukurlah karena aku tidak menghajarmu sekarang juga meski aku ingin.” Ujar Sehun dengan dingin.

Tak bisa dipungkiri bulu kuduk kedua gadis itu terasa meremang saat bola mata Sehun menghujamkan tatapan dinginnya.

”Ikut. Aku!” Sehun kembali menggamit pergelangan kedua gadis itu. Membuka dengan cukup kasar pintu di depannya menggunakan salah satu kakinya seraya tangannya menyeret kedua gadis itu untuk masuk.

Di dalam, kepala sekolah—atau yang biasa dipanggil seluruh siswa sebagai guru Kang—itu ternyata tidak sendiri. Ada lelaki lain disana yang bahkan tak diharapkan Sehun untuk berada disana. Oh, betapapun ingin Sehun menguak soal kedekatan Baekhyun dengan Seo Yeon namun tampaknya ini bukan waktu yang tepat.

”Oh Sehun, ada apa?” tanya guru Kang seraya berdiri dari sofanya.

Dengan kasar Sehun mendorong kedua gadis di sampingnya itu untuk lebih berada dekat dengan guru Kang. ”Hukum mereka seberat-beratnya. Atau aku akan lebih berterima kasih padamu jika kau mengeluarkan mereka.”

”Mwo? Apa yang sebenarnya ter…” Guru Kang menghantikan kalimatnya tiba-tiba saat dirinya dan orang-orang lain yang ada di ruangan itu di buat terkejut saat Sehun membantingkan sesuatu yang sedari tadi tersungging di bahunya. Sebuah kain hitam yang bahkan sudah tak layak untuk disebut blazer.

Guru kang mengernyit. Mengambil blazer itu dan terkejut melihat robekan-robekan dimana-mana. ”ini…”

”Selama ini mereka membully adikku, Seo Yeon. Selama ini aku membiarkan mereka karena kupikir mereka tak akan bertindak kelewatan. Tapi kali ini… huh, mereka bahkan seolah tengah berusaha untuk membunuhnya.”

Sehun membungkukkan tubuhnya 90 derajat pada guru kang dan kembali berkata, ”Aku minta maaf karena masuk dengan tidak sopan.”

Melangkahkan kakinya dengan cukup cepat, Sehun akhirnya meninggalkan ruangan itu. Dan entah ia yakin atau tidak dengan apa yang ia rasakan saat ini. setiap langkah yang ia ambil meninggalkan ruang kepala sekolah itu, membuat rasa khawatir di benaknya itu menghilang. Rasa cemas berlebih yang ia ajukan untuk Seo Yeon seperti tak terlalu membebaninya lagi setelah ia dengan nyata menolong Seo yeon secara langsung. Dan tak bisa di pungkiri lagi, ia tak bisa menahan senyum terulang di wajahnya meski tipis.

”Seharunya kau seperti ini sejak dulu!”

Sehun terperanjat. Matanya membelalak lebar mendapati Kai sudah berdiri di samping pintu dengan bersandar pada dinding. ”Aku mengikutimu!” Ujar Kai seraya menyunggingkan senyumnya lebar-lebar. Seolah tahu bahwa Sehun mempertanyakan keberadaannya yang tiba-tiba.

~æ~æ~æ~

Baekhyun mengeratkan pegangannya pada tali tasnya seraya melangkah dengan cukup santai. Bahkan terbilang terlalu santai dimana siswa lain di sekitarnya justru memburu langkah mereka karena takut terlambat berada di dalam kelas. Waktu memang sudah cukup mepet. Bel bahkan sudah terdengar beberapa detik lalu, namun Baekhyun sama sekali tak mengambil pusing. Ia bahkan tak yakin kakinya itu akan melangkah membawanya ke dalam kelasnya atau justru keluar dari gedung sekolah ini.

Keningnya berkerut saat pandangan matanya menangkap sosok gadis yang berjalan cukup gontai di korindor yang sama dengan yang ia lalui. Kontras dengan siswa lainnya yang berlarian. Gadis itu—yang tampak seolah ingin ikut berlari—justru merintih dan memperlambat kembali langkahnya saat ia berusaha mempercepat langkahnya beberapa detik lalu.

Baekhyun melepaskan earphone di telinganya. Menyimpannya dengan cepat ke dalam tasnya dan melangkahkan kakinya cepat. Oh, ia bahkan tak mengerti kenapa kakinya itu bahkan mau-maunya setengah berlari hanya untuk memperpendek jarak antara dirinya dan gadis itu, Oh Seo Yeon yang sudah membuatnya merasa muak dengan sikap sok ikut campurnya.

Gadis itu menghentikan langkahnya seketika, bersamaan ketika Baekhyun sudah tepat berada di dekatnya dan sedikit menundukkan kepalanya untuk menatap gadis itu. Meskipun pada akhirnya hanya puncak kepalanya saja yang bisa dilihat sebelum akhirnya gadis itu mendongakkan kepalanya dan menyuguhinya ekspresi terkejut.

Seingat Baekhyun, pagi tadi ia juga bertemu gadis ini namun gadis ini menghindarinya. Tampaknya gadis ini sudah mengerti kata-katanya untuk tidak muncul lagi di hadapannya. Dan seperti dugaannya, kali ini Seo Yeon memang berusaha menghindarinya lagi dengan hendak berbelok di persimpangan yang tak jauh dari mereka.

Namun entah apa yang tengah merasuki Baekhyun kali ini. terasa seolah Baekhyun menjilat air liurnya sendiri saat ia justru menggamit pergelangan tangan Seo Yeon demi menghentikan langkah gadis itu.

”Argghh…”

Baekhyun mengernyitkan dahinya saat mendengar gadis itu justru mengerang kesakitak dan memejamkan matanya erat-erat. Di alihkannya pandangannya pada pergelangan gadis itu. Ia mengangkat tangan Seo Yeon dengan cepat—agar ia bisa melihat dengan jelas—dan membuat gadis itu semakin mengerang kesakitan. Di pindahkannya genggaman tangannya pada telapak tangan Seo yeon membuat semburat kebiruan yang tercetak di pergelengan Seo Yeon terlihat oleh mata Baekhyun.

Baekhyun mengalihkan pandangannya pada wajah gadis yang masih menghindari kontak mata dengannya itu.

”Jadi kau benar-benar di bully?”

Seo yeon terkesiap. Sedetik kemudian ia menyeringai dan melepaskan tangannya dari genggaman Baekhyun—yang jujur saja membuat seo yeon seperti merasa ada setruman listrik berkapasitas kecil menjalar di setiap pembuluh darahnya. Di tatapnya Baekhyun dengan lekat.

”Kau pikir aku berbohong? Lalu ini apa? Kau pikir aku menyakiti diriku sendiri hanya untuk membuat agar kebohonganku tampak nyata? Kau pikir aku sebodoh itu?” Seo Yeon berseru.

Baekhyun hanya memutar bola matanya.

”Apa tanganmu yang satunya juga membiru?”

”NE!” Jawab Seo Yeon setengah berteriak. Ia bahkan menunjukkan kedua pergelangan tangannya yang membiru itu di hadapan wajah Baekhyun berharap mata lelaki itu tidak buta untuk menyadari bahwa Seo yeon memang tidak berbohong perihal pembullyan itu. ”Kedua tanganku membiru! Bahkan kedua pergelangan kakiku juga karena mereka menggunakan tali tambang untuk mengingatku erat-erat! Wae? Kau mau mengejekku?”

Baekhyun berdecak. Ia memegangi telinganya seolah merasa terganggu dengan ocehan nyaring Seo yeon yang panjang lebar itu. ”Perlukah aku menggendongmu?”

Seo Yeon yang hendak mengeluarkan ocehannya itu kini bungkam dan lebih memilih membelalakkan matanya lebar-lebar. ”M..mwo?”

Baekhyun kembali memutar bola matanya. Selain merasa gadis di depannya itu benar-benar bodoh, ia juga merasa risih dengan beberapa tatapan para siswa yang ditunjukan padanya. Seingatnya tadi mereka berlarian untuk mengejar waktu agar tidak terlambat. Lalu kenapa kini mereka seolah melambat dan memperhatikannya dan Seo Yeon?

Setelah menghela nafas cukup panjang, Baekhyun melingkarkan salah satu tangannya di sekitar bahu seo Yeon. Membuat gadis itu berjenggit saking terkejutnya, ia bahkan sampai menganga dibuatnya.

Seo yeon seperti membeku. Tubuhnya seakan menegang mendapati perlakuan sedemikian rupa dari Baekhyun. Selama ini dimatanya Baekhyun adalah orang yang dingin—seperti kakaknya—yang tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya dan kasar. Tapi sekarang? Apa lelaki ini baru saja mendapatkan benturan keras di kepalanya dan membuatnya gegar otak?

”Byun… byun baek… Byun Baekhyun…” Seo Yeon menghentikan langkah kakinya yang tanpa sadar sudah melangkah cepat. Rasa sakit di kakinya yang tadi ia rasakan seperti lenyap begitu saja.

”Wae?”

”U…un… untuk apa kau merangkulku? Aku bisa berjalan sendiri! Dan… mereka memperhatikan kita.”

Baekhyun menaikkan salah satu alisnya dan mengangguk pelan sembari menjauhkan lengannya. ”Aku hanya tak yakin kau bisa mengikuti langkahku.”

Seo Yeon mengerutkan keningnya. Ia menatap punggung Baekhyun yang sudah semakin menjauh itu dengan heran.

Apa dia berkepribadian ganda?

”Ya! Tunggu!”

~æ~æ~æ~

”Duduk!” Baekhyun berseru seraya menunjuk sebuah ranjang yang ada.

Sementara Seo Yeon justru bertanya-tanya untuk apa ia berada disini? Bau obat-obatan yang menyeruak di hidungnya benar-benar membuatnya cukup pusing. Seo Yeon mendudukkan dirinya seyaman mungkin, menunggu Baekhyun yang memasuki ruang kesehatan ini lebih dalam hingga akhirnya lelaki itu kembali dengan sebuah kotak di tangannya.

”Untuk apa kita disini?” Tanya Seo Yeon setengah berteriak.

”Aku akan menidurimu!”

”M-MWO?”

”YA! Bisa kecilkan suaramu? Apa lagi yang bisa kita lakukan di ruang kesehatan? Tentu saja untuk mengobati luka-lukamu!” Seru Baekhyun.

Baekhyun meletakkan kotak yang baru disadari Seo Yeon sebagai kotak P3K dengan kasar ke atas ranjang. Menarik sebuah kursi yang ada dan duduk di hadapan Seo Yeon.

Gadis itu hanya menatap Baekhyun dengan tatapan penuh curiga. Entah saat ia tengah membuka kotak P3K itu, saat ia mengambil sebuah kapas atau saat ia tengah menuangan sebuah cairan pada kapas. Seolah segala gerak-gerik yang di lakukan Baekhyun bisa saja membahayakannya. Dan entah mengapa, kegugupan tiba-tiba menyelimutinya. Apa mungkin ia memang merasa berada dalam bahaya jika berada di sekitar lelaki ini?

Tapi ini beda. Gugup yang ia rasakan justru terasa menyenangkan untuknya.

Seo Yeon membelalakkan matanya saat Baekhyun tiba-tiba merangsek maju. Secara spontas ia bahkan memundurkan tubuhnya.

”Hey, jika seperti itu bagaimana aku bisa mengobati sudut bibirmu yang sobek?”

Seo Yeon mengerjapkan matanya berkali-kali sebelum akhirnya sadar betapa bodohnya dirinya. Bagaimana bisa ia mengira Baekhyun akan menciumnya? Ugh…

Berkali-kali Seo yeon merintih kesakitan saat kapas dingin itu menyentuh lukanya. Namun semua itu tampak terbalaskan saat ia bisa memandang wajah Baekhyun sedekat ini. Oh demi Tuhan, ia bahkan tak berkedip sama sekali.

Meskipun sedari tadi Baekhyun memang tak menunjukkan senyumannya, berbicara masih dengan nada dan ekspresi yang datar namun entah mengapa bisa membuat perutnya bergolak-golak tak karuan.

”Kau gadis bodoh!”

”ne?”

”Kau memberiku obat penghilang memar tapi kau sendiri tak merawat lukamu. Apa tidak terlihat munafik?”

Seo yeon berdecak. Betapapun Baekhyun terlihat baik di matanya saat ini, dengan lembut mengobati luka-lukanya namun tetap saja terdapat celaan menusuk di setiap ucapannya. Semakin menguatkan pendapat Seo yeon jika Baekhyun itu memang berkepribadian ganda. Bisa berbuat baik seperti ini seolah melupakan celaan apa saja yang sudah ia lontarkan padanya kemarin.

Kali ini Baekhyun melepaskan flat shoes yang dikenakan Seo Yeon, serta kaos kaki yang membalut kakinya hingga sebatas lutut. Jujur, setiap kali jemari Baekhyun menyentuh kulitnya dirinya seperti akan berjenggit dan menjerit.

”Byun Baekhyun…” Panggil Seo Yeon. Akan tetapi lelaki itu hanya diam. ”Kau menolongku saat ini, apa itu berarti kau sudah bisa menolong dirimu sendiri?”

Tanpa gadis itu sadari Baekhyun terkesiap. Ia bahkan menghentikan aktivitas tangannya yang tengah mengolesi krim pada memar di pergelangan kaki Seo Yeon. Sejurus kemudian ia menyeringai dan kembali melanjutkan apa yang tengah ia lakukan.

Baekhyun masih diam, tak secepat itu menjawab pertanyaan Seo Yeon seperti yang diharapkan gadis itu. Baekhyun justru tengah berputar otak. Mengecek akal sehatnya sekaligus. Benar-benar bodoh seorang Byun Baekhyun jika sampai ia mengatakan ’iya’ sebagai jawaban. Untuk keluar dari rumahnya pun ia belum bisa mengatasinya.

”Asal kau tahu saja, aku tengah mengingkari prinsipku saat ini.”

Deg… jantung gadis itu kini berdetak tak karuan. Entah, tapi kalimat Baekhyun barusan seperti membawa musim semi untuknya. Tanpa ia sadari bibirnya tersungging membentuk sebuah senyum simpul.

Hening. Tak ada satupun yang berbicara. Hanya deru nafas mereka yang terdengar. Dan bagi Seo Yeon, detak jantungnya yang bergemuruh itu menjadi backsound yang tak buruk.

”Kau tahu, dari yang aku lihat… tampaknya kau perlu belajar.”

Baekhyun mendongak sekilas dengan salah satu alis yang terangkat sebelum kembali menunduk dan menyibukkan diri dengan lebam di kakinya.

”Jika aku tidak belajar maka aku tak perlu ada disini.”

”Bukan itu! Tapi belajar untuk menghargai dan peka terhadap lingkunganmu.”

Baekhyun diam. Seperti ada sebuah remote yang mengontrolnya untuk berhenti melakukan aktivitasnya. Ia hanya diam seolah membeku di tempatnya sebelum akhirnya ia buru-buru memberesi obat-obatan itu dan mengembalikan kotak P3K ke tempatnya.

Seo yeon hanya menatap Baekhyun dengan alis bertaut saat lelaki itu buru-buru menyungging tasnya. Apa ia sudah salah berbicara?

”Aku tak suka digurui! Dan berhentilah ikut campur dalam kehidupanku!” Ujar Baekhyun sinis kemudian melangkahkan kakinya mendekati pintu. Membukanya dan hendak melangkah keluar.

Sementara Seo yeon hanya menundukkan kepalanya. Tengah merutuki dirinya karena merusak suasanya yang sudah nyaman terbangun antara dirinya dan Baekhyun. Yang sempat ia kira Baekhyun hendak meluruhkan dinding ketertutupannya namun ia justru membuat semua lebih buruk. Melihat Baekhyun kembali bersikap ketus padanya terasa menohok.

”Hey!” Seo Yeon mendongak cepat saat mendengar seruan dari Baekhyun yang ternyata masih berdiri di ambang pintu. ”Kau bisa ikut ke gudang penyimpanan. Jika kau mau!”

”Untuk apa?”

Baekhyun memutar bola matanya dan menyeringai. ”Atau jika kau ingin ikut pelajaran dengan keadaan seperti itu. Terserah!”

~æ~æ~æ~

~Dirty Storey Room~

To Be Continue…

AUTHOR’S NOTE:

Annyeeeoooonggg!!! Mumuturtle is back with one fanfiction which is waited for so loong time… isn’t it?

Seingetku kayaknya di updetan kemarin aku gak ngasih author note ya? Hehe…  tapi kali ini author hadir untuk memberikan cuap-cuap yang meskipun gak penting.

Maaf ya sebelumnya karena author lagi-lagi ngaret postnya. Jujur… tugas sekolah itu bener-bener kayak mau bunuh aku. Aku bahkan sempat berpikir mau bakar tu tugas *oke abaikan..

Jadi ya, maklum ya kalo author ngaret postnya.. semoga kalian bisa mengerti.

Dan special buat chapter ini aku tambahin halamannya. Maaf buat yang gak suka chapter yang panjang-panjang, tapi ini udah author pertimbangkan dengan segala kommen dan permintaan kalian lohhh… Author baikkan? /PLAK xp

Dan di chapter ini juga ada scene romantisnya Baekhyun dan Seo Yeon kan? Hayooo pada suka gak? Jangan pada jealous ya!! Kwkw… Meskipun gak romatis-romantis amat si… dan satu lagi, author gak sempet edit ni FF karena author juga buru-buru mau ke sekolah ini habis ini.. –a harusnya si libur, tapi tugas ekskul mengharuskan… T.T

DON’T FORGET TO…

KEEP RCL

READ+COMMENT+LIKE! (I Love You all readers who isn’t a siders!”

Well, sekedar peringatan, kalo aku tahu siders masih bertebaran di FF ini, aku gak segan-segan nunda lebih lama lagi postan FF ini!

GOMAPTAAAAA ^^!

207 responses to “Dirty Storey Room [Part~5]

  1. Huwaaaaaaa nangis pas seoyeon di Bully, trus terharu sama Sehun yg bantuin adiknya trus ngefly pas baek udah mau peduli T.T

  2. maaf baru sempet komen. keren banget ceritanya thor. entah kenapa air mata terus aja netes 😥

  3. AAARRRGGGHHH AKHIRNYA SEHUN NYELAMATIN JUGA :V
    Haduuuuu terus tetiba Baekhyun juga peduli sama Seoyeon padahal kemaren baru marah2 :3
    Makin gereget aja thor :3
    Btw di awal part suka banget sama moment Seo-Kai XD hahaha *disiram

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s