[Freelance] GUARDIAN ANGEL

Author: Scholastic
Cast: Key, Taemin
Other cast: Onew
Genre: fantasy
Rating: PG-15
Length: one shot (2.762 words)

MAMORI NUKU TO KIMETA KIMI DAKE WO
OH LALALALALA LALALALA
aku memutuskan hanya kaulah yang akan kujaga (SHINee-Stranger)

“Ya! Key! Kau tidak dengar kalau dipanggil atasan huh?” ujar salah satu teman sejawatku yang tampaknya kesal.
“Nanti saja ah! Tidak lihat apa aku sedang asyik begini?” aku tak menoleh padanya, meneruskan hobiku: menulis diary sambil berkaca.
“Key! Cepat! Sepertinya atasan sudah marah tuh!” temanku yang lain masuk dengan terburu-buru.
“Cerewet sekali sih kalian? Iya, aku datang!” dengan malas aku bangun dari meja kerjaku dan mengepakan sayapku menuju tempat atasanku. Ah, paling aku dikasih tugas menjaga manusia lagi. Capek! Baru saja sepuluh tahun yang lalu aku pulang karena anak pecicilan yang kujaga itu meninggal, sudah disuruh turun lagi. Fiiuuu~!
“Lama sekali kau!” semprot kepala malaikat, Onew ketika aku menampakkan muka di depannya.
“Sudah bagus aku mau datang!” dengusku kesal. Ia menggelengkan kepala. Aku tahu dia bisa tahu apa yang kuucapkan barusan karena bagi kami para malaikat tak ada yang rahasia. Kami bisa membaca pikiran baik sesama malaikat, apalagi manusia.
“Key, kau kuutus untuk menjaga seorang anak berumur enam belas tahun bernama Lee Taemin. Kau harus menjaganya, seperti tugasmu yang sudah-sudah”
“yang lain saja, Bos Onew! Aku kan baru saja pulang”
“tidak bisa. Hanya kau yang paling perhatian pada manusia. Lagipula tugasmu tak seberat kemarin. Kau hanya perlu menjaganya pada malam hari”
“sama saja Bos! Lagipula untuk apa anak umur segitu minta dilindungi?” aku tetap bersikukuh dengan diriku yang sebenarnya belum siap pergi.
“Kita tak bisa bertanya begitu karena itu tugas kita. Siap atau tidak, itulah kau sekarang. Key, kuberitahukan rahasia padamu. Kemarilah” aku mendekat.
“Kau telah mendapat kepercayaan yang besar dari atasanku. Sebagai prajurit, kau seharusnya bangga karena kepercayaan itu langsung diberikan padamu, karena sebagai panglima aku bangga anak buahku bisa mendapatkan penghargaan istimewa. Jangan sia-siakan itu, Key!”
“aku tak pernah tahu itu”
“makanya sekarang kuberitahu. Nah, sekarang turunlah ke bumi. Kuharap kau cukup sabar dengan tugasmu yang sekarang” malaikat kepala tersenyum jahil. Ah, aku sudah biasa mengurus orang.

Aku turun ke bumi dengan pikiran penuh tanda tanya dengan anak yang akan kujaga nanti. Umurnya bukan anak kecil, bukan remaja labil, tapi belum juga menjadi orang tua. Aku memang bukan malaikat pencabut nyawa, dan aku tak pernah mau.
Bumi ini semakin panas, atau hanya perasaanku ya? Rasanya capek sekali terbang di bumi walau baru sebentar. Istirahat dulu mungkin lebih baik, pikirku. Aku hinggap (seperti burung saja) di sebuah jendela sebesar pintu dari sebuah rumah megah bergaya Belanda kuno.
“WAAAA~~!!!! SIAPA KAU?! NGAPAIN KAU DISITU??” tiba-tiba suara seorang namja mengejutkanku sampai aku nyaris jatuh. Untung aku bersayap, jadi setidaknya dari lantai dua ini aku tidak terjun bebas. Tunggu. Tadi dia bisa melihatku? Ilusi mungkin.
“Ada apa Tuan Muda?” seorang wanita setengah baya berpakaian rapi ala pelayan masuk ke kamar dengan tergopoh-gopoh.
“Ada orang di jendela!” ia menunjukku yang memang masih disini. Aku melihat ekspresi sang pelayan yang bingung. Jelas saja dia bingung. Aku kan bukan manusia!
“siapa, Tuan Muda? Tak ada apa-apa di sana. Mungkin Tuan Muda terlalu capek karena kegiatan sekolah. Sebaiknya Tuan Muda tidur ya” pelayan itu menggiring namja itu ke ranjang mewah berkelambu indah.
“Tidak! Aku benar-benar melihatnya! Dia bersayap, terang sekali!”
“sudahlah Tuan Muda” ia menyelimuti namja itu.
“Kau sudah melihat anaknya, Key?” tiba-tiba suara Bos Onew menggema di telingaku. Kami tak butuh alat komunikasi apapun, hanya telepati. Maklum, kami kan malaikat.
“Anak siapa?” aku tak mengerti.
“Anak yang berteriak saat melihatmu itulah yang akan kau jaga”
“dia bisa melihatku?”
“Ne. Anak itu punya kelebihan”
“aku tak bisa menunjukkan diriku hanya malam hari dong?”
“ya apa boleh buat” sambungan diputus.
“Ya! Bos Onew! Bos! Aiishhh!!!”

Suasana sudah tenang karena si anak yang pasti bernama Lee Taemin itu sudah tidur dan sang pelayang sudah keluar kamar. Aku masuk dengan cara menembus jendela.
“Siapa kau? Datang dari mana?” dia langsung duduk. Aigoo! Waspada sekali anak ini! Sampai kaget aku.
“Tenang saja, jangan takut. Aku tak akan menggigitmu. Lihat!” aku mengembangkan sayap putihku agar dia tahu kalau aku ini malaikat, bukan apapun.
“Kau malaikat?”
“ne, begitulah”
“mau apa kau disini? Mau apa kau di rumah keluarga Lee?” matanya masih menyelidik dan memandangiku dari atas ke bawah, dari bawah ke atas.
“menjagamu, Taemin!”
“kau tahu namaku?” ia tampak kaget. Ya tentu saja aku tahu namamu, nak! Halloo~!!
“ini surat tugasku” aku menyodorkan secarik surat resmi berkop surga padanya. Jangan salah, selain polisi, kami, para malaikat juga punya surat kalau mau tugas.
“Tanda tangani di sini” aku menunjukkan tempat yang sudah ditempelkan materai dan menyodorkan pulpen karena pulpen manusia tidak bisa dipakai di kertas ini. Ia membaca sebentar dan tanpa banyak komentar ia menandatanganinya.
“Nih” ia menyodorkan lagi surat yang sudah ditandatanganinya itu. Aku menerima dan menyimpannya dalam sakuku yang akan bisa langsung tersimpan di atas meja kerja Malaikat Kepala Onew.
“Jalankan tugasmu sesuai perjanjian ya” sial anak ini! Aku bukan pelayanmu tahu! batinku.
“Panggil saja aku Key. Aku akan menjagamu sampai kau cukup bisa ditinggal sendiri” aku mengenalkan diriku dengan ramah dan dengan bahasa biasa agar dia merasa dekat denganku, karena itulah tugas awalku sebagai malaikat penjaga.
“Aku tahu. Aku sudah baca di surat tadi”
“baguslah”
“ya sudah. Aku mau tidur. Kau jangan menggangguku” Taemin kembali ke posisi tidurnya dan menarik selimut. Tak lama kemudian dengkuran kecil terdengar. Kalau tidur ia tampak lucu.

*****

“Boleh aku memanggilmu Hyung, Key?” tanyanya padaku suatu malam.
“Kenapa tidak?” aku tersenyum lebar. Akhirnya dia mau dekat juga denganku. Syukurlah. Walaupun kau bukan wanita, sepertinya kau cantik sekali, saeng. Lho? Kenapa aku berpikir begini?
“Baiklah, Hyung. Ayo kita kenalan lagi! Halo, namaku Lee Taemin” ia berdiri dari kursi belajarnya dan membungkuk. Sebenarnya sudah hampir setahun aku bersamanya. Kupikir dia anak orang kaya yang blagu. Ternyata dia baik juga. Hanya saja…..
“Hyung” ia mencolekku yang sedang menelungkupkan wajah di meja belajarnya tengah malam. Memang aku tidak tidur, tapi tetap saja mengganggu.
“Wae?” aku belum merubah posisi. Enggan.
“Aku mau lapar”
“Lalu?”
“tolong buatkan susu!” ia menggoyang-goyang tubuhku. Kalau malam aku bisa mengerjakan pekerjaan manusia seperti biasa dan tetap memiliki kekuatan malaikat, kecuali menembus tembok dan membaca pikiran.
“Tidak bisa buat sendiri apa?” aku menatapnya.
“Ayolah Hyung. Kan sudah ada di surat perjanjian”
“Oke oke. Kubuatkan kau susu. Tapi setelah itu kau harus kembali tidur!”
“gomawo Hyung!” ia tersenyum kekanakan. Dasar! Masih ingat saja dia dengan isi surat itu! Padahal itu adalah detail keterangan yang ditulis dengan huruf paling kecil!

“Ini! Segera habiskan dan pergi tidur!” aku menyodorkan segelas susu coklat hangat padanya.
“Gomawo” ia meneguknya. Ia tampak bahagia dengan segelas susu itu. Entah apa yang ia pikirkan sekarang. Andai ini siang hari, pasti aku tahu.
“Ini” ia menyodorkan gelas kosong itu padaku.
“Nah, sekarang penuhi janjimu”
“tapi aku masih lapar Hyung” ia mulai merajuk lagi. Aigoo anak ini!
“kau sudah janji setelah susunya habis kau akan tidur!”
“bagaimana bisa tidur kalau masih lapar?”
“haaa~ baiklah, kau mau makan apa?”
“sup kepiting!”
“kau jangan aneh-aneh! Ini tengah malam! Lagipula mana ada kepiting di dapur?”
“ada, aku tahu mereka baru membelinya tadi siang. Ayolah Hyung…..” ia menarik-narik lengan baju putihku yang panjang.
“Baiklah, tapi jangan aneh-aneh lagi ya” aku keluar kamar beranjak ke dapur memasakkan kepiting untuk Taemin yang manja. Beruntung sekali dia mendapat malaikat sepertiku yang serba bisa ini.

“Sudah matang belum?” ia menyembulkan kepalanya di pintu dapur yang membuatku kaget setengah mati.
“Jangan bikin kaget dong! Hampir saja sup yang kuaduk ini tumpah! Kalau tumpah kau tidak jadi makan!” ucapku dengan sedikit jengkel. Malaikat juga bisa jengkel lho.
“Mian Hyung. Aku hanya khawatir, jangan-jangan kau tertidur di dapur”
“aku tidak mungkin tidur! Aku bukan manusia sepertimu” ia tak menanggapi dan menyeret kursi lalu duduk di dekatku.
“Jangan duduk di situ! Ada api! Bahaya!”
“aku mau dekat denganmu”
“tapi bukan begini caranya!” aku memindahkan kursi ke tempat semula.
“Sudah, duduk di situ saja! Nanti kalau sudah matang kuberi tahu” ujarku sambil menyiapkan mangkuk dan mengisinya dengan nasi. Aku juga menuang teh ke gelas keramik.

“Sudah matang nih” aku menyajikkan sup lengkap dengan nasi dan lauk di hadapannya.
“Gomawo Hyung. Sejak ada kau aku merasa tertolong”
“cheon. Tapi kau jangan manja begini! Kau ini kan namja” Taemin hanya tersenyum tipis. Ia beranjak dan beberapa saat kemudian ia kembali dengan menenteng album foto usang.
“Hyung, selamat datang di keluarga Lee” ia membuka album foto itu. Ada tiga lembar foto di halaman pertama. Di salah satu lembar foto itu ada namja yang mirip aku!
“Ini aku digendong Eomma saat masih bayi, ini Appa, dan ini Hyung” jelasnya.
“Kau sudah tahu kan?” ia melontarkan pertanyaan aneh yang mengambang. Sekejap yang terlihat bukan lagi ekspresi kekanakan, melainkan ekspresi misterius yang sulit ditebak. Aku menatapnya bingung.
“Ah Hyung, sepuluh tahun lebih tak bertemu denganmu, ternyata wujudmu sudah lain”
“hah? Aku tidak mengerti, Taemin”
“sepuluh tahun lebih aku menunggumu pulang wajib militer, Hyung. Kau berjanji akan pulang setelah tugasmu selesai. Aku terus menunggunya, tapi kau tak kunjung pulang” Aigoo! Dia menganggapku Hyungnya! Oh, aku ingat! Dia ini orang yang baru saja masuk gerbang sesaat sebelum aku diturunkan! Aku lihat wajahnya, bahkan banyak yang mengira dia itu aku!
“Aku terus berdoa dan berharap, sampai setahun lalu akhirnya aku bisa bertemu denganmu lagi!”
“Taemin….” belum sempat aku bicara, ia sudah menyergah.
“Aku tahu kau bukan lagi Hyung yang ada dalam foto. Kau malaikat penjagaku. Aku tahu itu. Kau dikirim untuk menjagaku karena Mereka tahu aku sangat membutuhkan. Tapi untukku kau bukan malaikatku, Hyung. Kau Hyungku, lebih dari sekedar guardian angel. Sampai kapanpun kau tetap Hyungku. Aku tak peduli apapun wujudmu. Aku tak peduli bagaimanapun caranya kau datang dan menyapaku, aku tetap sayang padamu” anak ini benar-benar salah persepsi. Tapi kenapa aku malah menangis ya?
“Taemin…aku…aku…”
“maaf malaikat, mungkin kau akan berkata kau bukan Hyungku. Tak apa. Yang jelas aku melihat pantulannya dalam dirimu. Dan aku hanya ingin kau tahu kalau aku mendapatkan pengganti Hyung dalam dirimu. Karena itulah aku sudah merelakannya dan itu ternyata membuatnya mendapat tempat yang layak”
“kau…kau tahu?” aku bingung, mengerutkan alis, tak percaya.
“Ne. Aku ingat Hyung dikabarkan meninggal saat kapal yang ditumpanginya tenggelam, tapi aku tak bisa menerima kenyataan itu karena jasadnya tak pernah ditemukan. Aku tak pernah melihatnya untuk yang terakhir kali. Ditambah lagi aku tak punya siapa-siapa di rumah ini. Orang tuaku bekerja siang malam, jarang bertemu denganku sehingga aku kesepian. Tapi sejak kau datang aku mulai menerima keadaan. Kau lihat benda di pojok ruanganku, Hyung?” aku menangguk.
“Tumpukan kaleng, kertas gambar, dan mainan kayu itu, Hyung yang buatkan untukku. Makanya aku marah besar saat pelayan membuangnya”
“aku juga tahu kalau beberapa saat sebelum kau turun, Hyung masuk surga” lanjutnya.
“Tahu dari mana kau?” aku terbelalak. Jangan-jangan dia membaca buku harianku? Tapi masa manusia seperti dia bisa baca?
“Mian, Hyung. Aku tak sengaja membaca buku harianmu yang terbuka karena tertiup angin”
“kau…bagaimana caranya bisa membacanya?”
“aku tidak tahu, menurutku itu hanya sederetan hangul yang ditulis asal dan jelek” entah kenapa rasanya bukannya tersinggung, aku malah tambah penasaran. Buku harian itu kutulis dengan mengacak susunan huruf hangul yang biasa dipakai. Tapi kenapa dia bisa tahu?
“mungkin karena aku anak indigo, tapi tak satupun orang pecaya kecuali Hyung” ia menyesap sup dari sendok peraknya.
“Aku mau mengucapkan terima kasih karena kau sudah mau menjadi Hyungku. Aku sangat senang karena ternyata kau sangat baik walau agak cerewet. Gomawo Hyung!” ia memelukku erat.
“Tidak, itu memang sudah jadi tugasku”
“tidak. Untukku kau bukan lagi malaikat, itu bukan lagi tugasmu karena tugas sifatnya memaksa, kau Hyung untukku karena dengan begitu aku merasa ini adalah jalan hidupku”

*****

“Ya! Taemin! Bangun! Kau kuliah tidak?” aku menepuk-nepuk pipinya sementara dia masih asyik memeluk guling dengan mata tertutup. Tirai sudah dibuka oleh pelayan dari tadi, teh earl grey juga sudah ada di meja belajarnya, lengkap dengan roti selainya.
“Aku tidak mau bangun” ujarnya sambil menarik selimut.
“Ya! Nanti kau terlambat! Cepat bangun!” aku menarik selimutnya. Ia meringkuk seperti anak kucing kedinginan, bersikukuh.
“Taemin! Itu sudah pukul delapan! Kelas dimulai satu jam lagi kan?” Susah sekali dia untuk bangun! Makanya jangan suka bangun malam!
“aku tidak suka pagi datang”
“waeyo?”
“aku tidak mau Hyung kembali. Lihat kalenderku!” ia menunjuk kalender yang tergantung di dinding. Kalender itu penuh dengan tanda silang dari spidol di setiap tanggalnya. Dan hari ini adalah tanggal yang diberi lingkaran warna merah. Tak terasa lebih dari empat tahun kulalui bersama bocah berambut jamur ini. Sudah saatnya aku pulang dan membuat laporan pertanggungjawaban.
“Aku mau melihatmu untuk yang terakhir. Izinkan aku tidak masuk hari ini”
“tidak ada alasan untuk itu! Cepat lakukan tugasmu!”
“shireo!”
“Taemin, dengar! Aku tidak akan pulang sebelum kau pulang hari ini. Sekarang cepat kau siap-siap dan berangkat!”
“yang benar?”
“iya. Cepat sana!”
“janji?”
“janji” kami mengaitkan kelingking.
“Jangan kecewakan aku, Hyung” ia menyambar handuk, ke kamar mandi. Setelah rapi ia menyambar tas dan buru-buru berangkat. Lagi-lagi ia lupa sarapannya. Apa kuantar saja seperti biasa ya?
“Key, tugasmu selesai. Segaralah pulang” lagi-lag suara Bos Onew menggema di telingaku. Mungkin dia bisa kutawar.
“Bos, boleh tidak aku pulangnya nanti malam saja?” aku merajuk padanya seperti Taemin merajuk padaku.
“Kau dulu bilang padaku kalau kau tidak betah?” Bos Onew malah melempar pertanyaan yang sebenarnya tidak penting untuk diungkapkan.
“Itu kan dulu, Bos! Ayolah, ini permintaanku. Aku belum pernah kan meminta sesuatu seperti ini? Aku tak mau mengecewakan manusiaku” rayuku.
“Maaf, Key. Sebenarnya aku mau saja mengabulkannya, tapi ini perintah atasan, kau tak bisa menawarnya”
“bilang saja ini permintaan manusia yang sedang kujaga, beres kan?”
“Key, tidak semua permintaan dapat dikabulkan. Kau mengenal jawaban ya, nanti, dan tidak kan?”
“ne”
“nah, sekarang jawabannya adalah tidak. Kau tidak bisa menawar, aku tak bisa mengabulkan permintaanmu, otomatis anak itu tak bisa melihatmu seperti sekarang ini”
“tapi….”
“aku tahu kau tidak mau membuatnya kecewa. Aku benar-benar minta maaf Key. Kontrakmu sudah habis dan pintu akan ditutup pukul satu siang nanti. Kau harus segera pulang dan membuat laporan. Kalau tidak nilaimu akan dikurangi oleh tim pengawas yang berarti akan mengurangi kepercayaan atasan”
“kalau begitu setidaknya biarkan aku mengucapkan salam perpisahan padanya” tawarku setelah semua yang kupikirkan dimentahkan.
“Baiklah. Waktunya tinggal dua jam sebelum pukul satu. Cepatlah” suara hilang. Segera aku bergegas menemui Taemin. Bagaimanapun aku sudah janji padanya. Janji yang harus ditepati, terlebih masa aku mengingkari kontrakku sendiri? Sebenarnya aku melakukan ini bukan karena terikat kontrak. Kalau aku mau bisa saja aku langsung pulang karena surat itu sudah kadaluwarsa. Tapi, aku tahu karena akulah orang, oh bukan – entah dia menyebutku apa – yang paling dekat dengannya. Aku ingin dia juga percaya padaku dan sayang padaku seperti yang selama ini kurasakan padanya.

Itu dia! Gumamku saat Taemin sedang duduk di bawah pohon sambil meluruskan kakinya.
“Taemin” panggilku sambil duduk di sebelahnya.
“Hyung? Kau menyusulku? Ada apa?”
“mianhae, aku harus pulang sekarang” ucapku tanpa banyak basa-basi.
“kau tak menungguku pulang? Aku mau mengadakan pesta perpisahan denganmu!”
“jeongmal mianhae. Aku sudah harus kembali sekarang”
“sekarang? Waeyo?”
“aku sudah dipanggil. Pintu akan ditutup pukul satu nanti”
“sekarang pukul 12.30” Taemin melihat jam tangannya.
“Kau tak menawarnya, Hyung?”
“sudah kulakukan, tapi nihil”
“lalu aku bagaimana? Tega sekali kau!” ia langsung bangkit dari posisi rebahannya. Air mukanya berubah masam dan wajahnya mengeras.
“Taemin, kau ingat kan di surat itu tertulis saat umurmu dua puluh tahun aku harus pulang karena kau sudah dianggap dewasa”
“aku benci surat itu! Perjanjian yang kaku, hanya bisa mengatur, mengikat, dan mengekang! Aku tidak pernah suka surat perjanjian!”
“tapi karena surat itu kita bisa bertemu, Taemin”
“kau pasti selalu mengucapkan itu pada setiap manusia yang kau jaga! Kau sama saja seperti yeoja yang hanya numpang lewat di kehidupanku!” ia mencibir. Aku terdiam. Memang iya, tapi rasanya aku tak pernah sedekat ini dengan manusia. Aku sadar kalau aku menyayangimu melebihi malaikat yang terikat kontrak, aku sangat sayang dan aku ingin melindungimu seperti Hyung dalam banyanganmu itu. Entah kenapa kau punya daya tarik itu, Taemin. Aku tak tahu pasti, mungkin karena kemanjaanmu atau kedewasaanmu yang bisa tiba-tiba datang itu, aku tak tahu. Yang kutahu aku sayang padamu melebihi guardian angel pada humannya. Dan kalau aku boleh memilih, aku ingin tinggal bersamamu.
“Kita bisa bertemu lagi kapan-kapan” aku sadar kalau diriku sudah mulai menghilang. Aku yakin Taemin perlahan tak dapat melihatku lagi.
“Tolong simpan ini baik-baik” aku memberikan sebuah cermin milikku yang sering kugunakan.
“Gomawoyo. Annyeong Hyung” ia melambaikan tangan padaku dengan tatapan kosong. Kau tak pernah tahu Taemin kalau aku menangis sekarang. Kau tak bisa melihatku, tapi aku bisa melihatmu dengan jelas, bahkan sekarang aku sedang memeluk dan mengusap rambutmu.
“Aku tahu kau memelukku, Hyung. Aku akan merindukanmu” ia tak membalas pelukanku, hanya kurasakan air mata yang menetes di pipinya.
“Annyeong Taemin” aku naik bersama tiupan angin semilir yang menerpa wajah dan dedaunan pohon yang menaungi kami.

Advertisements

6 responses to “[Freelance] GUARDIAN ANGEL

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s