Love Button [Part 6]

Title: Love Button

Author: Joo aka indahberliana

Main Cast:

-Park Chanyeol (EXO-K)

-Byun Eunji (OC)

-Kris Wu (EXO-M)

And other cast you can find them in this Fanfict.

Genre: Comedy (maybe), Romance (maybe) pokoknya readers tentuin aja deh hehe.

Rating: PG-17

Disclaimer: semua cast (kecuali OC) punya tuhan semata. Dont Be Plagiator! Please RCL.

BIG THANKS TO missfishyjazz@myfishyworld.wordpress.com !! >< Nana eonni!! gomawo posternya yang DAEBAK!

A.N: Annyeong reader-deul! Aku cepet nggak ngepost part ini? (PLAKPLAK). Sekarang tema di ff ini ialah Natal yang artinya bakal banyak moment romantis dari 2 tiang listrik nan ganteng itu buat Eunji *IRI PARRRAAH* *digampar reader-deul*. By the way, perhatiin dong rating part ini dengan part sebelumnya wakaka. Mian kalo ceritanya belom seperti yang kalian inginkan. Ide dari readersku tercinta ga masuk ke part ini semua, tapi ada yang mau aku pake buat next partnya lagi J gomawo ya readers udah mau kasih saran sama author J Semoga pada suka ya. Tidak bosen-bosennya aku mengingatkan, jangan jadi plagiator, jangan jadi siders, dan please Read, Comment, and Like ya. Kasih juga kritik dan saran kalian (lagi) di komentar kalian. Karena aku sangat butuh butuh kritik saran kalian. SEKALI LAGI GOMAWO BUAT READERSKU CINTA!!! *capslock jebol banget saking bahagianya* Tanpa imajinasi kalian mungkin aku nggak bakalan bisa post part ini dengan cepat :’) mian kalo ada typo. maapin yaak. mau lebaran nih :3

INI HANYA FF, JADI JANGAN TERSINGGUNG DENGAN APA YANG DIKATAKAN PARA TOKOH. Sekian terima kasih.

[Part 1] [Part 2-A] [Part 2-B] [Part 3] [Part 4] [Part 5]

 

Preview:

 

Eunji mulai merasakan getaran hebat di dadanya saat Chanyeol memeluknya di ruangan tata boga. Tapi ia tak bisa mendengar jelas suara debaran jantungnya. Rasanya seperti menyatu, tapi menyatu dengan apa? Ya, menyatu dengan suara debaran jantung Chanyeol.

Lalu, Kris bermimpi sebuah mimpi yang sangat manis, tapi jika tak benar-benar terjadi, akan menjadi kenangan paling pahit dalam hidupnya.

Chanyeol sudah mendapat pernyataan dari Eunji, bahwa jikalau Chanyeol memilih tinggal di planet Mars, ia akan mati karena disana tidak ada oksigen. Chanyeol yang memberikan ‘perumpamaan’ itu pada Eunji menjadi sedih. Chanyeol tidak bisa tinggal di hati Eunji, karena rasa cinta Eunji pada Chanyeol tidak ada. Perumpamaan yang cukup konyol sebenarnya.

 

****

Chanyeol POV

Aigoo, bosan sekali berada di kamar ini terus. apartemen ini sangat sepi. SANGAT! Sekarang kan malam Natal! Di mana sebuah keluarga berkumpul untuk menanti tanggal 25 Desember. Sungguh, aku merindukan abeoji. Apakah aku merindukan eomma? Entahlah, aku juga tidak tahu. Abeoji, memilih meninggalkanku sendirian di Korea untuk bekerja sebagai Senior Manager di salah satu perusahaan besar di USA.

Kurebahkan tubuhku yang masih mengenakan handuk kimono putih ini—aku baru saja keluar dari kamar mandi. *omo* ah, aku lelah sekali. Membuat dua kue dengan susah payah dan butuh kesabaran penuh untuk membuatnya, ditambah pernyataan Eunji tadi.

Astaga kenapa suasana yang selalu kudapat dari kamar ini selalu kejenuhan?? Haruskah aku mengubah desain kamarku? Membosankan sekali.

Daripada berdiam diri di sini terus, aku keluar dari kamarku, mengambil ponselku dan melangkahkan kakiku ke ruang tv. Duduk di sofa empuk putihku dan menyalakan tv. Ya, begini lebih baik.

Begitu melihat ponselku, aku langsung teringat dengan Eunji. Jadi tadi dia berulang tahun? Aduh kenapa aku tidak tahu? Kalau kutahu, aku akan mengerjainya habis-habisan di kelas.

Aku langsung tersenyum, rencanaku. Hohoho. Jari-jariku asik bergerak di atas layar ponsel touchscreenku.

“sedang apa kau?”

2 menit kemudian…

“seperti biasa, diganggu dengan virus yang sedang berinteraksi padaku saat ini.”

Aish, jinjja. sekarang aku tanya, apakah aku seperti virus menakutkan? Aku hanya mau disebut Happy Virus, virus yang selalu menyebarkan kebahagiaan. Bukannya virus yang menebarkan penyakit._.

“oh. Kalau begitu aku bangga bisa membuatmu terganggu. Eh iya, aku belum memberimu kado ulang tahunmu kan?”

Kurang dari semenit, ponselku bergetar. Cepat sekali dia membalas pesanku.

“HADIAH?! Iya! kau belum memberiku kado ulangtahunku.” Oh, pantas dia membalas dengan cepat. Yang ditanya hanya hadiah lalu menagihku segala. Dasar bocah tengil.

“hm. Kau mau apa?”

Eung? Kenapa lama? Tapi kok perasaanku mendadak jadi tidak enak begini ya?

3 menit kemudian…

“Aku mau… aku mau ditraktir galbi denganmu! Lalu bubur korea yang ada di dekat apartemenmu itu! makanan-makanan di restoran Korea dekat Lotte World waktu itu juga boleh! Eung.. apa lagi yah… AH! kau harus mentraktirku membeli hiasan-hiasan natal! Kalau perlu malam ini kau temani aku! Karena halmeoniku yang menetap di Jepang, besok akan ke Seoul, merayakan natal di rumahku. Karena tak lama setelah kau pulang dari rumahku, kedua orangtuaku dihubungi kedua atasan mereka karena bekerja di satu perusahaan. Ternyata ada pekerjaan yang menuntut mereka untuk tidak merayakan natal bersamaku dan Baekhyun. Mereka pergi ke luar kota untuk beberapa hari ini. Ya? Eomma dan appaku sama sekali tidak meninggalkan uang untuk kami berdua. Ya? kau mau ya? ya?”

“kakak-adik yang malang.. ckckck.” gumamku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. Lalu aku melihat jam yang tergantung di dinding. Ah, jam 9. Apa kini masih ada toko yang buka?

“hei kau gila? Sudah jam 9. Kau yakin masih ada toko yang buka jam segini?” ketikku.

“tidak masalah! Kita bisa ke pasar Namdaemun!”

APA? Pasar Namdaemun? Dia gila? Apakah dia tidak tahu seberapa ramaikah pengunjung yang ada di sana? Bahkan di lihat dari atas, seperti sekumpulan semut yang berjalan tak tentu arah.

Aku sedikit tersentak saat melihat ponselku berdering, tandanya ada panggilan masuk.

“yoboseyo?”

“Chanyeol, aku tunggu kau di depan rumahku. Ppalli!! Kalau besok aku lupa, bisa mati aku!”

“haish memangnya ada apa sih dengan halmeonimu itu? merepotkan sekali.”

“ya!! begitu-begitu juga halmeoniku! halmeoniku itu baik tahu! Kau akan mengetahuinya besok.”

“aish jinjja.”

“YA! ppalli! Aku sudah bersiap-siap! Kututup ya! annyeong!”

Piip..

Byun Eunji, ckckck. Setelah telepon tertutup, aku langsung mengenakan mantelku dan menuju ke rumahnya. Tak lupa menyiapkan uang di dompetku. Aduh perasaanku kenapa jadi tidak enak begini ya?

****

Eunji POV

 

Aduh namja itu sudah ada di mana sih? Aissh kenapa eomma dan appa tidak bicara dulu padaku kalau halmeoniku akan ke Seoul dan menginap di rumahku? Kalian tahu, halmeoniku itu fanatik sekali dengan hiasan-hiasan natal. Jika masih ingin melihatnya ramah dan tertawa, di kampung halaman halmeoniku yang ada di pulau Jeju, WAJIB dan harus terlihat hiasan-hiasan natal di pohon natalnya. Ya itu khusus saat natal saja sih. Aku tidak bisa bayangkan kalau sepanjang tahun, hiasan-hiasan natal di rumahnya tetap terpajang.

Natal tahun lalu, halmeoniku sempat mengunjungi rumahku. Dan rumah ini masih polos. Belum sama sekali terlihat momen-momen natal di rumah ini. Dan kalian tahu apa yang dikatakan halmeoniku malam itu? “rumah apa ini? Saking sibuknya kalian jadi tidak punya waktu untuk menghias rumah ini dengan hiasan natal? Bahkan pohon natal yang seharusnya berdiri di pojokan ruang keluarga ini tidak terlihat sama sekali. Ke mana saja kalian hah?”

Begitulah kira-kira ungkapan kemarahan halmeoniku pada kami sekeluarga. Huhu :3

Teng…tong…

AH! itu pasti Chanyeol! aku langsung membuka double lock lewat intercom rumahku dan membuka pintu dengan cepat.

“BAEKHYUN!!! KAU KUNCI RUMAH INI YA!!! Awas kau bermain game terus di kamarmu! Jaga rumah ini baik-baik!! Aku ingin pergi membeli hiasan natal dulu dengan Chanyeol di pasar Namdaemun! ANNYEONG!” teriakku pada Baekhyun—aku saja tidak yakin baekhyun mendengarnya atau tidak. Lalu aku langsung menarik pergelangan tangan Chanyeol dengan senang hati. Bagaimana aku tidak senang? Aku akan di traktir Chanyeol. ah makanan-makanan yang kusebutkan pada Chanyeol di sms itu membuatku… lapar. Aku lapar. Dasar perut menyebalkan. Baru saja tadi menghabiskan tiga perempat dari rainbow cake buatanku dan Chanyeol. eomma, appa, baekhyun dan Chanyeol hanya memakan kue lezat itu seadanya. Kasihan sekali mereka.

****

Kami mengelilingi pasar Namdaemun yang masih ramai. Ya kalian pasti tahu penyebabnya. Masih banyak orang yang membeli kue-kue khas natal dan beberapa hiasan pohon natal. Aku dan Chanyeol menelusuri serentetan toko dan akhirnya kami menemukan sebuah toko tempat dimana berbagai hiasan natal dijual. Aku segera menarik tangan Chanyeol menuju toko itu.

 

“wah, banyak sekali hiasan-hiasan natal di sini.” Gumamku sambil menyentuh pernak-pernik natal yang berjejeran di atas meja di luar toko itu.

“ada yang bisa saya bantu, anak muda?” lantas aku dan Chanyeol langsung menoleh ke arah sumber suara.

“ah, ahjussi. Saya ingin membeli pernak-pernik hiasan pohon natal. Di toko ini harganya berkisar berapa ya?”

“hmm, kalau memilih satu-satu, seperti hiasan ini, berkisar 500 won per buah.” Ahjussi itu menunjukkan hiasan bola kecil bergaris melingkar berwarna emas dan gantungan bintang kecil.

“Wah, 500 won? Murah sekali ya di sini. Kalau kami beli banyak?” Gumamku yang diamini Chanyeol. (A.N: 1 won itu kurang lebih 10 won. Jadi 500 won sekitar Rp 5.000)

“kami memang menjual semua ini dengan harga yang murah karena Natal akan tiba. Sehingga kami menghabiskan stock barang-barang kami  dan menjualnya dengan harga murah. Ah, ini ada yang sudah saya paketkan. Cukup untuk menghias pohon natal setinggi kurang lebih 2 meter.” Jelas ahjussi itu ramah.

“ah benarkah? Berapa harganya, ahjussi?”aku tertarik menanyakannya pada ahjussi mengingat pohon natal di rumahku kurang lebih tingginya 2 meter.

“10.000 won, anak muda.”

Lalu aku mendekatkan wajahku ke telinga Chanyeol, “Chanyeol-ah, kebetulan di toko ini menjual pernak-pernik yang sudah dipaket dengan harga fantastis. Kau yang bayar kan?”

Kulihat raut wajah Chanyeol terlihat suram lalu mengangguk. Aku tertawa setan melihatnya. “gomawo hihi.”

Aku meninggalkan Chanyeol yang masih di luar toko dengan memasuki toko pernak-pernik natal ini mengikuti ahjussi penjual pernak-pernik natal. Wuah, benar-benar membuatku nyaman berada di dalam toko ini. Walaupun toko ini tidak besar dan luas—sekitar 7 x 10 meter. Aku merasa nyaman karena hiasan-hiasan yang terpajang di dinding toko ini, yang menggantung manis di pohon natal sederhana di toko ini, dan yang lainnya.

“ini anak muda, hiasan natal yang sudah kami paketkan.” Ahjussi itu menyerahkan paket yang lumayan besar. Hiasan pernak-pernik pohon natal terlihat jelas karena pembungkusnya yang bewarna bening. Akupun segera memanggil Chanyeol untuk masuk ke dalam toko ini dan membayarnya.

Setelah Chanyeol membayarnya, kami masih berjalan-jalan di seputar pasar Namdaemun. Dan aku melihat sebuah hoodie couple berwarna biru muda yang sangat lucu. Di tengah-tengah hoodie itu terdapat gambar kartun yeoja dan namja sedang bergandengan tangan jika  hoodie couple itu digabungkan. Kenapa aku jadi tertarik dengan hoodie itu ya?

Aku menarik tangan Chanyeol yang sedaritadi kugenggam agar kami tak terpisah—mengingat ramainya pengunjung pasar Namdaemun saat ini. Kulihat dia terlihat kebingungan setelah sampai di toko yang menjual hoodie couple itu.

“eonni, hoodie couple yang berwarna biru muda itu berapa ya?” tanyaku pada penjual di toko itu.

“14.000 won.” Apa? Mahal sekali ._.

“ne? Bisakah harganya diturunkan sedikit lagi?” tanyaku sambil memasang muka memelas pada eonni itu.

“ah, johda. Bagaimana kalau 12.000 won?”

Aku menghela napasku kecewa. “eonni, sekalian saja 10.000 won. Jebalyo eonni. aku masih pelajar. Dan hari ini ialah hari ulang tahunku. 10.000 saja ya?”

“ah kalau segitu belum dapat. 12.000 sudah harga pas. Itu sudah cukup murah loh untuk sepasang hoodie couple seperti ini.”

“ah baiklah. Aku beli sepasang hoodie yang tadi ya, eon. Oh iya, bolehkah kami mencoba hoodie itu sebelum membelinya?”

“apa? Kami? Mencoba?” Chanyeol kebingungan ketika aku menariknya ke kamar ganti yang tersedia di toko hoodie tersebut.

“ini, kau coba pakai ini. Aku ingin melihatnya. Hehehe.” Titahku padanya sambil menyerahkan hoodie untuk namja.

“hoodie ini? Untuk apa?” tanyanya polos.

“tentu saja untuk dipakai, babo. Aku ingin melihatmu memakai hoodie keren pilihanku. Cocok juga kan denganku? Lihat ini.” Aku memperlihatkan hoodie untuk yeoja yang sudah melekat di badanku.

“aku keren kan? kalau kau pakai ini juga, kau juga akan terlihat keren!”

“kau sedang memujiku?” deliknya. Senyumanku terkubur seketika. Aku tadi memujinya ya?

“ah itu, ya itu.. itu karena aku sedang bahagia saat ini. Jadi kubelikan hoodie couple ini untuk kita berdua. Pilihanku bagus kan?”

Dia mengangguk-angguk sambil tersenyum. Aigoo, debaran macam apalagi ini?

Suasana hening. Aku baru menyadari kalau kamar ganti ini begitu sempit! Aku dan Chanyeol yang berhadapan hanya menyisakan kurang lebih 20 sentimeter jarak di antara kami. Aduh kenapa aku jadi gugup begini sih??

 

Hoodie couple yang sudah kubeli—dengan uang Chanyeol—langsung kami kenakan. Dia menggenggam tanganku saat berusaha keluar dari kerumunan pengunjung yang lain. Ah debaran jantungku kenapa jadi tambah kencang seperti ini. Aigoo.

Masih di kerumunan pengunjung yang lain, mataku bertemu dengan sesuatu yang membuat mataku terus menatap benda itu.

“ya~ kau kenapa berhenti? Kau mau terinjak oleh pengunjung-pengunjung di sini?” aku langsung mendelik pada Chanyeol dan menyuruhnya menatap benda yang kutunjukkan dengan telunjukku.

“apa? Kau tertarik dengan cincin itu? apa kedua mataku salah lihat? Hah?” aku tertawa renyah mendengar keterkejutan si happy virus ini.

“hehehe. Ayo kita lihat cincin itu!” aku menarik Chanyeol menuju stand yang menjejerkan berbagai aksesoris di atas meja stand itu.

“ahjumma, cincin ini berapa harganya?” tanyaku pada ahjumma penjual cincin yang kusukai itu sambil menunjukkan cincin berwarna silver dengan hiasan berbentuk bunga dengan manik mengkilat berwarna orange di tengah-tengah bunga itu.

“ah, cincin itu harganya 10.000 won.”

“apa? 10.000 won? Apa aku tidak salah dengar??” suara Chanyeol yang berada di sampingku membuatku tersentak. aish namja ini. Mendengar suara bassnya itu  membuatku tersentak beberapa kali akhir-akhir ini.

“ne. Tapi itu kan cincin yang kualitasnya bagus. Hmmm, atau kalian mau cincin couple juga? Saya akan memberi potongan harga untuk kalian.”

“apa? Cincin…couple?” aku mendelik pada Chanyeol yang juga sedang mendelik padaku.

“couple?”

“kalian sepasang kekasih bukan? Ah, karena besok hari Natal, saya akan memberikan harga yang murah untuk kalian jika membeli cincin itu dan cincin couple yang saya tawarkan.”

Aduh, lagi-lagi menyinggung hal ini. Aish.

“mianhaeyo ahjumma. Tapi kami bukan sepasang kekasih.” Aku mengatakannya sambil menatap malu si ahjumma.

“aaah, jadi kalian bukan sepasang kekasih? Lalu hoodie couple itu? Aish sayang sekali. Kalau kalian benar-benar sepasang kekasih, saya sempat berniat memberikan cincin itu pada kalian gratis, loh.”

Gr…gratis..??

“Mianhaeyo ahjumma. Tetapi kami tadinya sepasang kekasih kok! Eo??” aku menatap Chanyeol dengan tatapan penuh harap.

“ne?? Eo..” Chanyeol mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum pada ahjumma, tapi aku tahu dia pasti bingung. Aish namja ini. Ckckck.

“eo? Begitukah? Ah baiklah, terimalah cincin ini dengan cincin couple ini. Saya harap, kalian bersatu lagi. Itu termasuk harapan saya di hari natal esok.” Jelas ahjumma. Apa? Ber..bersatu?

Aku menggaruk-garukkan tengkukku yang tidak gatal lalu membungkuk pada ahjumma.

“gomawo ahjumma! Terimakasih cincin ini! Tuhan memberkatimu!” teriakku sembari menjauh dari stand  cincin itu. ah senangnya aku hari ini.

 

****

 

“Ya~ ada apa denganmu tadi? Kenapa kau bilang aku ini mantan pacarmu?” aku mengangkat kepalaku yang tadinya sedang meniup jajangmyeon yang sudah kusumpit.

“tentu saja untuk mendapatkan cincin itu secara gratis. Aigoo, aku jadi merasa bersalah pada ahjumma itu. padahal dia sudah memberikan cincin ini gratis. Aah aku jahat sekali.” Sesalku sambil memasukkan sesumpit jajangmyeon ke mulutku lalu mengunyahnya dengan lemas.

“wah kau sangat jahat, Eunji-ah. ckckck. Adakah orang yang lebih jahat daripada Byun Eunji?” aku langsung mengarahkan sumpitku ke kepala Chanyeol setelah dia berkata begitu.

“Ya! appo!”

“rasakan!”

Suasana hening kembali. Aku masih dengan menyantap jajangmyeonku. Sementara Chanyeol menyeruput teh hangatnya.

“katanya hanya membeli hiasan pernak-pernik natal. Nyatanya? Apa? Membeli hoodie couple yang entah gunanya untuk apa, dan sekarang? Mentraktir kau makan? Ckck.”

“aish, aku hanya ingin membelinya untuk kau pakai dan begitu juga untuk kupakai. Kau lupa? Aku sudah mengirimkan sms untukmu tadi sebelum kita bertemu. Permintaanku kan banyak di sms itu. makan ini makan itu, ini dan itu. Kan kau sendiri yang bertanya padaku, aku ingin apa. Ckckck.” Jelasku sambil menyuap jajangmyeonku ke dalam mulutku.

“oh iya, aku baru ingat kalau Byun Eunji memiliki perut yang daya penampungannya sangat menakjubkan.”

Seketika aku mengambil sendok yang tersedia di meja itu. Dan..

TOK

“YA!!”

Rasakan kau! Seenaknya saja bicara begitu keras-keras lagi. Aish jinjja.

“Byun Eunji! Sakit tahu!”

Aku segera menyumpit habis jajangmyeonku hingga mulutku penuh lalu mengambil gelas berisi air putih.

“eh iya, ngomong-ngomong, kenapa kita tidak jadi sepasang kekasih saja?”

Akhhh. Aduh aku tersedak! Astaga apa katanya? Aish jinjja!

“Mwo?” Tanyaku sambil terbatuk-batuk. Aku mengangkat kepalaku dan mendapati Chanyeol yang sedang tertawa habis-habisan sambil memegang perutnya dengan kedua tangannya.

“YA!” teriakku. Aku langsung meneguk minumanku hingga habis sehingga aku tidak tersedak lagi.

“aigoo, Byun Eunji. Sebegitu kagetnya kah kau mendengar kataku tadi?” tanyanya masih dengan tangan yang menempel di perut dan tertawa keras.

“aish jinjja! berhenti tertawa!!” titahku padanya. Dia menghentikan tawanya itu. tapi masih dengan bibir yang terangkat. Seolah-olah enggan untuk menghentikan tawanya.

Sekarang dia mendekatkan wajahnya padaku. Aish cobaan apa lagi ini.

Kenapa aku berdebar-debar seperti ini ya? kenapa saat dia mengucapkan tawaran sialan itu aku jadi gugup? Dan sekarang, wajahnya tepat di depanku dengan jarak yang dekat. Aduk kenapa mukaku rasanya memanas seperti ini sih??? Kenapa perasaan seperti ini aneh sekali??

“Ah.. Itu, rasanya sangat menyenangkan. Bila aku berada di dekatnya, dadaku berdebar tak menentu. Wajahku panas ketika berhadapan dengannya dengan jarak yang dekat. Sebelum mengetahui aku jatuh cinta padanya, aku merasa perasaan aneh menyelimuti hatiku. Itu yang kurasakan, noona.” 

Aigoo!! Apakah aku jatuh cinta??!! Dengan Chanyeol???? Byun Baekhyun, apakah kau tidak salah mendeskripsikan saat pertama kali kau menyadari bahwa kau menyukai yeoja chingumu itu hah? Mana mungkin aku menyukai Chanyeol?? namja virus ini?? Jinjja?

“heii, kenapa wajahmu mirip tomat? Memerah?….eung…”

“…dan memanas. Kau kenapa? Demam?” lanjutnya sambil memegang pipiku dengan kedua tangannya. Sementara aku masih mencoba meyakinkan diriku. Masa iya aku menyukainya? Berarti aku ‘menelan’ ludahku sendiri? Aniya, andwae.

Tuing~

Dia mendaratkan telunjuknya di dahiku. Kepalaku mendadak oleng. Aish namja ini. Aku kembali konsen menyeruput minumanku. Sementara dia menopang dagunya dengan tangan kananya, menyisakan tangan kirinya yang terlipat di atas meja ini.

“Jangan melamun terus. Nanti setan yang memasuki dirimu bertambah banyak loh.” Ujarnya dengan polos. Saking polosnya, ingin sekali aku mengacak-acak wajahnya itu. hhhh.. reaksinya? Tertawa keras. Hhh. Aku mencoba tersenyum dan tertawa. Alhasil? Ya, dia berhenti tertawa. Malah menatapku dengan pandangan “aneh sekai orang ini, jelas-jelas aku sedang mentertawakannya tapi dia juga malah ikut tertawa.”

20 menit berlalu semenjak kedatangan kami ke salah satu kedai yang terdapat di pasar Namdaemun ini. Ah, memakan jajangmyeon ini saja aku sudah kenyang. Aku tak sanggup lagi memakan berbagai jenis makanan yang kusebutkan di pesan singkatku untuk Chanyeol.

Kami pulang menaiki bis yang untungnya masih beroperasi hingga jam 10 malam. Sudah satu jam kami berada di pasar Namdaemun. Ck, sebenarnya banyak barang-barang yang murah. Tapi buat apa aku memborongnya? Tak ada gunanya juga untukku. Memboroskan uang itu tidak baik—sekalipun Chanyeol yang membayarnya aku tidak akan setuju.

 

****

Sesampai di depan pintu rumahku, aku memencet tombol bel yang ada di samping pintu.

Teng tong~

2 menit kemudian…

Teng tong~ teng tong~ teng tong~

6 menit kemudian…

“hei, jangan memencet bel dengan emosi seperti itu terus. Bisa rusak bel rumahmu ini.” Kurasakan ada yang mendarat di bahuku. Chanyeol yang berada tepat di belakangku meletakkan telapak tangannya di bahu kananku.

“berisik. Diam saja kau.” Tukasku datar tanpa menoleh dan menampik tangannya yang berada di bahuku.

“BYUN BAEKHYUN!!! TURUN KAU!! BUKAKAN PINTU UNTUKKU!! CEPAT!! AKU TAHU KAU BELUM TIDUR!!! YAA!!!” teriakku yang semoga saja Baekhyun mendengarnya.

“YA! kau ini apa-apan sih? Kau tidak kenal waktu? Sekarang sudah jam 10 malam dan kau berteriak seperti itu? kau pikir di sini hutan?”

Aku hanya diam karena aku sadar aku salah. Tapi aku sedikit kesal juga karena Baekhyun yang tak kunjung membukakan pintu rumah ini.

“aish, padahal besok ialah hari Natal. Kenapa Tuhan belum menyandera setan-setan yang berkeliaran di bumi ini ya?” gumamnya yang kekanak-kanakan itu membuatku berhenti memencet bel rumah ini dan yang dilakukan tanganku sekarang ialah mencubit hidungnya sekeras mungkin.

“ya! hentikan! Sakit!” aku melepaskan tanganku dari hidungnya.

Cklek… pintu terbuka dan aku mendapati Baekhyun dengan rambutnya yang acak-acakan dengan matanya yang tertutup.

“noona, bisakah kau tidak mengganggu tidurku? Aish jinjja. cepat masuk.” Ia kembali menuju tangga dengan tubuhnya yang oleng ke kanan dan ke kiri.

“kan, saking jahatnya kau membangunkan tidur adikmu. Ckckck.”

“kubilang diam, Park Chanyeol. Aigoo kenapa kau banyak omong sekali sih?” tukasku sambil membuka pintu kulkas dan mengambil dua botol air mineral. Lalu bergegas menuju meja makan dan memberikan satu botol air mineral itu pada Chanyeol yang sedang duduk di kursi ruang makan. Aku duduk di sampingnya dan meneguk air yang terdapat di botol itu.

Aku menoleh ke kiri. Memperhatikannya meneguk satu-dua teguk air yang kuberikan padanya. Aduh kenapa aku jadi gugup begini ya? melihatnya meneguk minuman itu rasanya aku… aish apa-apaan aku ini!?? Astaga bisa-bisanya aku… KYAA lupakan itu.

“ya~ ada apa? Kenapa kau menatapku terus seperti itu?” tanyanya yang membuatku tersentak. iya ya, kenapa aku menatapnya terus?

“aniya, siapa bilang aku menatapmu terus. kau ini percaya diri sekali. Setelah ini ayo kita hiasi pohon natal yang ada di ruang keluarga.”

Kami berdua beranjak dari meja makan dan mengambil kembali kantong plastik yang berisi sebuah paket hiasan pohon natal lalu melangkahkan kaki ke ruang keluarga.

Aku menyodorkan kantong plastik pada Chanyeol yang duduk di atas karpet hangat ruang keluarga di mana pohon natal ini berdiri tegak. “nah, kau pasang ini.”

Dia mendongak padaku yang masih berdiri. “lalu kau?”

“aku akan mengambil tali slinger dan kapas putih yang kuletakkan di kamarku.” Jawabku. Dengan segera aku menaiki tangga dan memasuki kamarku dan mengambil tali slinger penghias pohon natal ini dan kapas putih di atas meja belajarku. Yang sebelumnya sudah sempat kubeli dari jauh hari.

Saat aku turun dan bergegas menuju ke ruang keluarga.  Di sana aku mendapati Chanyeol yang terlihat semangat sekali menghias pohon natal ini dengan menggantungkan bola-bola natal, boneka kecil Santa, dan yang lainnya. Aku menyusulnya dan duduk di atas karpet hangat. Sementara Chanyeol yang sepertinya tidak menyadari kehadiranku. Dia masih berdiri sambil menggantungkan hiasan pohon natal.

Aku ikut menghiasi pohon natal yang sudah beberapa kali tidak kami keluarkan dari gudang. Mengambil gantungan boneka kecil santa dan menggantungnya di pohon natal. Lalu menempelkan kapas kapas putih di tiap-tiap selingan daun pohon natal ini. Kesannya seperti salju yang menempel di dedaunan pohon natal. Lalu mengelilingi pohon natal dengan tali slinger berwarna silver, emas, biru dan merah di rentetan ranting pohon natal dari bawah hingga ke puncak pohon natal.

Setelah itu, aku mengambil hiasan terakhir yang wajib dipasang di puncak pohon natal. Yaitu bintang yang berlampu. Aku berjinjit—mengingat tinggi badanku yang terbilang pendek ini—mencoba untuk meletakkan bintang ini di puncak pohon natal. Aish kenapa pohon ini tinggi sekali sih.

“Byun Eunji yang pendek, sini biar aku yang meletakkannya.” Tiba-tiba bintang yang sedaritadi kupegang kini berpindah tangan. Chanyeol dengan mudah meletakkannya ke puncak pohon natal ini. Benar-benar menyerupai tiang listrik namja ini. Ckck.

Setelah Chanyeol meletakkannya, dia masih berada tepat dibelakangku yang membelakanginya. Aku menoleh ke belakang tanpa mengubah posisi kakiku yang masih berjinjit. Entah kenapa rasanya kelu mengubah posisi kakiku saat ini.

Deg~deg~

Kedua mata kami bertemu. Astaga, wajahnya mendekat! Aduh, aku tak bisa menahan debaran jantungku yang sekeras ini. Aigoo. Aduh! Ada apa ini!!?? Aku kehilangan keseimbanganku! Aakhh!!

Kenapa aku tidak terjatuh? Jarak punggungku dengan lantai ini hanya sekitar 40 sentimeter. Lalu aku baru menyadari tangan Chanyeol yang sudah melingkar di pinggangku. Dia menahanku. Dan, kenapa pula kedua tanganku melingkar di leher Chanyeol?? kapan aku melakukannya.

Saat mata kami bertemu, jantungku berdegup kencang lagi dan lagi. Aku menatap matanya sembari menahan beban tubuhku dengan kakiku.

Aduh, kakiku tak sanggup menahan keseimbanganku. Dengan secara tak sengaja kakiku yang tadinya melekuk kini lurus sehingga aku tak lagi menahan bebanku.

Tapi…

Seketika kedua mataku melebar tak percaya.

Satu detik, dua detik, tiga detik…

HYAAAAA!!!

BRUK

Adduuh! Punggungku sakit. Astaga!! Apa-apaan tadi!!??? Ciuman pertamaku!!!

“gwaenchanha?? Byun Eunji?”

Chanyeol menepuk-nepuk pelan kedua pipiku. Aku masit tidak bisa bergeming. Aku membeku. Ciuman pertamaku hilang. Hilang!!

“YAA!!”

Aku langsung tersentak mendengar teriakan Chanyeol. aku bangkit dari posisiku yang sebelumnya terkapar di karpet.

“ciuman pertamaku…” kataku yang menggantung sambil menyentuh bibirku dengan jariku.

“mianhae, aku tidak sengaja. Jal mothaesseo (aku benar-benar telah bersalah). Mian.” aku menoleh padanya. Entah kenapa sama sekali tidak ada rasa amarah di hatiku ketika melihatnya menunduk dengan merasa bersalah padaku. Padahal ciuman pertamaku sudah dicuri olehnya.

Aku menarik napas sedalam-dalamnya, lalu kuhembuskan lagi perlahan. Kini aku menyesuaikan posisi dudukku berhadapan dengannya yang masih menundukkan kepalanya.

Kupegang kedua bahunya dengan lembut, seketika dia mendelik padaku dengan mata yang melebar. Aku menatapnya lagi. Entah kenapa rasanya aku suka menatap matanya. Aku merasakan debaran jantung ini sambil menatapnya.

aniya, kau tidak salah. Kau tidak perlu merasa bersalah seperti itu.” kedua ibu jariku mengelus pelan kedua bahunya dan tersenyum. Tapi tidak dengan Chanyeol.

Mianhae, maafkan aku. Aku tidak mau melakukan kesalahan yang sangat fatal seperti saat malam natal dulu.”

Aku menatap matanya lagi. “apa? Kesalahan apa itu? tiba-tiba aku tertarik dengan topik ini.

“dulu, saat aku masih kelas 3 SMP, malam natal itu, merupakan kejadian yang paling kubenci saat itu.”

“mengapa?” tanyaku pelan. Mengingat wajah Chanyeol yang sepertinya kalau mengingat masa lalunya itu membuat dirinya sedih.

Abeoji mentalak-tiga eommaku. Di hadapanku. Saat itu aku mencegah eomma yang memaki-maki abeoji. Tapi, aku malah memperkeruh suasana. Eomma menampik tanganku lalu  menampar wajahku dan wajah abeoji. Sakit, hatiku sakit saat mendapat tamparan keras itu dari eommaku sendiri. Dan eomma langsung meninggalkan kami berdua di rumah kami yang sudah kuhiasi sendirian dengan susah payah berbagai pernak-pernik natal sebelum kejadian itu terjadi. Dan setelah hari Natal, kedua orang tuaku resmi bercerai.”

Aku menatapnya dengan perasaan yang sangat ingin membuat air mataku tumpah. Dia menatapku, lalu kembali menunduk.

“Hah, aku ini menyedihkan sekali ya. Sejujurnya aku iri denganmu, Eunji-ah. kau masih memiliki keluarga yang lengkap dan mempunyai keluarga yang hangat. Sementara aku? Eomma seperti menganggap rumah kami saat itu hanya sebagai sebuah hotel. Dimana hanya digunakan untuk tidur dan tidur. Bahkan eomma sangat jarang pulang ke rumah. Dan abeoji? Abeoji yang saat itu merelakan waktu jam kerjanya di Amerika hanya untuk merayakan Natal di Korea bersamaku, malah mentalak-tiga eomma. Karena eomma saat itu juga sudah sangat keterlaluan pada abeoji. Aku hanya bisa diam ketika eomma menamparku.”

“Dimana semua pelajar labil sepertiku saat itu ketika pulang dari sekolah mendapat sambutan hangat dari kedua orangtuaku, tetapi tidak untukku.”

Kulihat mata Chanyeol sudah tergenang oleh air matanya. Ketika air matanya turun dan mengalir di wajahnya, ia langsung menyeka dengan cepat air matanya.

“aish kenapa aku jadi cengeng seperti ini.” Gerutunya pelan yang terdengar olehku karena jarak kami yang dekat.

Aku menatapnya lagi. Membayangkan betapa pedihnya kehidupan Chanyeol saat itu. aku tak bisa membayangkan jika hal yang dialaminya itu terjadi padaku. Mungkin aku memilih untuk membunuh diriku sendiri. Kini airmataku tumpah. Aku tak bisa menahannya lagi. Aku menunduk sambil terisak. Sesekali aku menyeka kedua mataku.

“Eunji-ah, kenapa kau menangis?” aku semakin menundukkan kepakalaku. Aku tak bisa memperlihatkan wajahku ketika aku sedang menangis seperti ini. Kalian tahu kan bagaimana biasanya aku di hadapannya? Pemarah, ceria. Saat ini? Aku terlalu malu menunjukkannya pada Chanyeol.

Tiba-tiba kedua tangannya menyeka air mataku.

“kenapa kau ikut-ikutan menangis sepertiku? Seharusnya aku yang terisak seperti itu, bukan kau.” Kalimatnya barusan membuatku sadar, dia sedang mencoba untuk membuatku emosi lagi dan menjitaknya seperti biasa. Tapi kini, tanganku kelu hanya sekedar untuk digerakkan. Jadi aku hanya diam saja sebagai respon kata-katanya tadi.

“lihat aku.”

Aku langsung mendongak dan melihat wajahnya. Ketika mata kami bertemu, dia mendekatkan wajahnya padaku. Haruskah aku memberinya lagi? Kupejamkan kedua mataku sambil meremas ujung bajuku, dan menahan debaran jantung yang berdetak sangat cepat. Peredaran darahku mengalir sangat cepat hingga denyut nadi di tubuhku dapat kurasakan. Karena darahku yang mengalir sangat cepat, seluruh tubuhku memanas. Aku tidak mengerti, padahal sekarang sangat dingin. Kenapa aku bisa kepanasan seperti ini?

Kini hembusan napasnya dapat kurasakan. Hembusan napasnya yang membuat leherku bergidik. Aku semakin keras meremas ujung bajuku karena saking gugupnya. Cup…Dengan sangat-sangat terkejut, aku melebarkan kedua mataku. Kini bibirnya mendarat sempurna di bibirku. Astaga aku tak menyangka bisa segugup ini. Rasanya sulit sekali menutup kedua mataku ini karena aku benar-benar kaget. Tak lama kemudian aku mencoba menutup mataku. Aku hanya bisa diam. Jujur, aku nyaman dengan semua ini. Aku bahagia. Aku mengisi banyak kebahagiaan di hari ulangtahunku yang ke 19 ini.

Perasaan berdebar-debar yang tak bisa kuhentikan, bibirnya yang menyentuh bibirku sehingga aku kelu menggerakkan salah satu anggota gerak tubuhku,  membuatku sadar akan satu hal. Apa yang dialami Baekhyun benar-benar seperti aku saat ini. Aku jatuh cinta dengan seorang Park Chanyeol.

 

****

 

Aduh, kenapa badanku sakit-sakit begini ya? hoaam. Ternyata kami ketiduran di samping pohon natal ini. Apa?? Kami?? Aku mencoba membuka kedua mataku dan aku tercengang melihat apa yang ada dihadapanku sekarang.

Park Chanyeol. namja yang kemarin menciumku. Mengingat ciuman tadi malam membuat kedua ujung bibirku terangkat. Aku mengulum bibirku, mencoba merasakan ciuman Chanyeol. aish kupikir aku sudah gila sekarang. Aku menggerak-gerakkan kepalaku. Kok ada yang aneh di bawah kepalaku ini ya? ternyata bantal yang kupakai saat ini bukanlah sebuah bantal yang empuk. Tapi lengan kanannya yang menopang kepalaku. Aku menatap matanya yang masih tertutup. Hei, hei, tanganku kenapa bisa-bisanya menelusuri wajahnya ini? Tapi aku mengerti apa yang dilakukan oleh tanganku ini berdasarkan dari hatiku.

Aku mendekatkan wajahku dan mengecup bibirnya sekilas. Kenapa aku memilih untuk menciumnya? Karena ini permintaan dari hatiku dan aku harus mengiyakannya. Lagipula aku juga entah kenapa ingin mencium bibir penuhnya ini.

Setelah menciumnya, aku beranjak dari tidurku dan menuju ke dapur. Ah iya, aku lupa bahwa di rumah ini bukan hanya ada aku dan Chanyeol, yaitu Baekhyun. Kenapa aku dari tadi merasa seperti wanita yang baru menikah ya? Aduh kenapa jadi menyeramkan seperti ini. Hiiy.

Aku meminum seteguk air putih dan melihat jam yang ada di dinding dapur. Jam 7 pagi. Ah aku harus membangunkan Baekhyun dan Chanyeol sekarang. Kami harus bersiap-siap ke gereja.

 

****

Setelah pergi beribadah, kami bertiga pulang ke rumahku. Hhh tidak ada eomma dan appa sangat membosankan. Tiba-tiba aku teringat dengan cerita Chanyeol semalam. Beginikah rasanya ditinggal kedua orangtua? Baru saja sehari, aku sudah merindukan mereka. Chanyeol ialah orang yang kuat mengahadapi masalah rumit seperti itu.

Noona! Aku pergi dengan teman-temanku ya!! aku bosan di rumah! Oh iya, nanti jam 3 sore kau sudah harus berada di bandara Incheon menjemput halmeoni. Arasseo? Aku pergi dulu. Annyeong.”

Blam…

“apa-apaan bocah itu? ijjashigi (bocah sialan)! Seenaknya saja dia memerintahku seperti itu. Hhh, menjemput halmeoni? Aah benar-benar merepotkanku saja.”

“ya~ Byun Eunji, ayo kita keluar. Hmm, bagaimana kalau pergi ke N Seoul Tower? Kau harus mau!”

“apa? Kenapa aku harus mau? Bagaimana kalau aku tidak mau?” aku menutupi kegugupanku dengan menyeru padanya. Aish, apakah dia lupa kejadian kemarin? Kenapa sikapnya santai begitu?

Astaga, dia mendekatkan wajahnya padaku. Omo.

“di rumah ini kan hanya kita berdua, jadi…”

“HENTIKAAAAN!!!” teriakku sekeras mungkin. Hhh, hhh, napasku memburu seperti orang sehabis lari marathon. Aish jinjja!

“ya~ kau kenapa? Kenapa kau berteriak sekeras itu? ah jangan-jangan kau sudah membayangkan yang tidak-tidak? Aish Byun Eunji mesum.”

Seketika aku menjitak kepalanya dan dia meringis kesakitan. “ckck, justru kau yang mesum, Park Chanyeol!”

“APA? Aku mesum?? Kenapa bisa kau menyebutku seperti itu? apa?” dia mendekatkan wajahnya dengan ekspresi menggodaku.

Ah itu, ciuman kemarin…

“DWAESSEO!!! (sudahlah/lupakanlah)”

Dia melirikku dengan pandangan menggodaku. Cih. “ayo? Apa? Marhaebwa~” kini dia menyikut lenganku. Aish jinjja.

“ah lupakaanlah!!” seruku sambil menampik tangannya yang merangkul bahuku.

Aku melirik Chanyeol yang sedang tertawa melihat tingkahku dan sesekali menggigit bibir bawahnya karena tak sanggup menahan tawanya itu. Di dalam hatiku, aku tersenyum, tersenyum bisa melihat dia tertawa seperti ini.

 

****

 

“YAAA!! Jangan tarik aku seperti ini!! Sakiiit!! Park Chanyeol!!!” aish jinjja! Chanyeol menarikku sambil berjalan ke cable car yang mengantar para pengunjung menuju menara tinggi itu, N Seoul Tower.

“kau ini habisnya kalau jalan lambat sekali seperti keong, kau tahu itu? Maka dari itu aku menarikmu seperti ini.”

Aku hanya bisa menghela napas seberat-beratnya. Sekarang aku kurang yakin dengan perasaanku padanya. Ckck.

Chanyeol menuju loket cable car dan membayar tiketnya untuk dua orang. Yaitu untukku dan untuk dirinya sendiri. Dan dia kembali menarikku masuk ke dalam cable car. Aduh, di cable car ini sempit sekali. Aish jinjja.

Setelah pintu otomatis ini tertutup, aku menyender di pintu itu. Aish sesak sekali. Tiba-tiba guncangan yang lumayan kencang membuat para pengunjung yang menaiki cable car ini tersentak dan ada pula yang berteriak.

Dheg~ dheg~

Astaga, aku ‘terkunci’ dengan kedua lengannya yang kini berada di kanan-kiri wajahku. Chanyeol kini berhadapan denganku. Jarak tubuh kami saja sangan dekat. Aku hanya bisa menunduk di dekapannya dan mencoba mengusir semua kegugupan yang meledak-ledak di dadaku ini.

Setelah kurang lebih 2 menit berada di suasana kikuk itu, cable car berhenti dan kami melangkah keluar. Aku tercengang melihat pemandangan pagar menara ini dengan…

Gembok?? Demi neptunus! Tempat apa ini? Penjarakah?? Kenapa banyak gembok warna-warni yang menempel di setiap penjuru tempat ini?

Tapi, suasana di luar menara ini kenapa romantis sekali ya? haduh, aku ini apa-apaan sih.

Tanganku yang sedaritadi digenggam Chanyeol, tiba-tiba terlepas begitu saja. Seketika aku menahannya.

“ya~ kau mau pergi ke mana??” tanyaku dengan suara lumayan keras, mengingat di tempat ini banyak orang yang mengobrol atau sekedar berfoto-foto.

“aku ingin membeli gembok yang seperti itu di toko souvenir itu. Aku akan kembali ke sini. Kau tunggui aku di sini saja. Jangan  ke mana-mana. Arasseo?” belum sempat aku jawab, dia sudah meninggalkanku.

Aku melihat ratusan gembok di sebuah tempat yang menyerupai pohon natal. ‘Pohon natal’ yang penuh dengan gembok itu kebetulan dekat dengan jarak di mana aku berdiri sekarang. Maksudnya gembok seperti apa sih yang ingin dibeli Chanyeol?

Kenapa bentuk gemboknya berbentuk hati semua, ya? aish jinjja. tempat ini aneh. Kuperhatikan gembok berbentuk hati berwarna putih itu. eh? Ada tulisan tangan? Aku tahu-tahu tertarik dengan tulisan yang ada di gembok itu. kupegang gembok itu dan kubaca kalimat yang tertulis di atas gembok itu.

백준오빠, 사랑해. 너무너무사랑해요,오빠.
여자친구의,  나은.

(Baekjoon oppa, aku mencintaimu. sangat-sangat mencintaimu, oppa.
dari yeojachingumu, Lee Naeun)

Aduh aku kenapa tahu-tahu mendadak berkeringat dingin begini setelah membaca tulisan yang ada di gembok ini? Aduh aku gugup. Ya Tuhan, eotteokhae dwaengoya (kenapa bisa jadi begini)???

Tiba-tiba aku merasakan sebuah tepukan lumayan keras di bahu kananku, aku langsung menoleh ke balakang dan mendapati Chanyeol yang sedang memegang kedua lututnya.

“Ya! Byun Eunji! Sudah kubilang jangan pergi ke mana-mana. Aku pusing tahu mencarimu tadi sampai keliling-keliling kawasan ini. Merepotkan sekali.”

Aku menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepalanya. Sepertinya dia tidak berbohong. Dia seperti sehabis berlari-lari hingga ngos-ngosan begitu. Ckckck. Memangnya aku ini anak kecil? Aku ini sudah 19 tahun. Chanyeol seenaknya saja mengkhwatirkanku seperti anak kecil yang masih berumur 6 tahun. Ckckck.

“ah iya, aku tadi membeli ini. Ayo kita pasang gembok ini. Kaja!”

Chanyeol menarik tanganku entah mau dibawa kemana. Dia seperti mencari-cari tempat menggantungkan gembok itu di tempat yang belum penuh. Ckck merepotkan.

“nah di sini saja. Biar kita mudah untuk mencarinya kembali suatu saat nanti. Hmmm, ini spidolnya. Kau tulis nama seseorang saja di situ. Tuliskan juga harapanmu pada orang yang kau tulis namanya di gembok itu kedepan nanti.” Jelasnya. Aku hanya mengangguk-angguk mengerti dan mengambil salah satu gembok yang ia beli tadi beserta spidol kecil yang ia serahkan padaku.

Aku duduk di kursi kayu yang tersedia di tempat kami berdua akan menggantungkan gembok ini. Di samping pagar  yang berada di sana. Sampai sebegitukah orang-orang ingin harapannya terkabul dengan menggantungkan gembok ini? Pagar ini begitu penuh dengan gembok-gembok. Ckck.

Aku pun mulai mengarahkan spidol di atas gembok berwarna pink muda ini. Hmmm aku ingin menulis apa ya? hmm.

Dan, kalau aku benar-benar mencintai Chanyeol, semoga percintaanku berakhir bahagia dengannya.

Eh? Apa-apaan aku? Kenapa bisa aku menulis seperti itu?? ani, ani, andwae. Bagaimana kalau dia melihat gembok ini? Ani, ani. Aku langsung menghapus kalimat terakhirku. Untungnya spidol ini bukan permanen dan bisa dihapus di atas gembok itu.

Park Chanyeol, semoga cepat mendapatkan yeojachingu! HWAITING!

“ya~ kau menulis apa? Coba kulihat.” Tiba-tiba Chanyeol duduk di sampingku dan mendekatkan wajahnya pada gembok yang sedang kupegang. Seketika aku langsung mengangkat kepalaku yang tadinya menunduk dan berniat mengusir kepalanya di dekatku dengan tanganku. Tapi…

“AAAKHH!”

“astaga! Park Chanyeol?? kau baik-baik saja? Aigoo. Mianhae. Aishhh jinjja.” aku meletakkan dengan kasar gembok itu ke kursi yang kududuki. Aku langsung berlutut padanya dan mencoba melihat dahinya yang tak sengaja terkena gembok yang kupegang tadi.

Aku mencoba mengangkat tanganku untuk melepaskan telapak tangan Chanyeol yang menutupi dahinya.  Dia meringis kesakitan. Aduh, eotteokhaji?? Aissh Eunji babo!

Aduh, dahinya memerah. Aishh ya Tuhaaan aku harus bagaimana inii???!! Ah iya, untung aku membawa tissue. Aku segera mengeluarkan selembar tissue basah dari sebungkus tissue basah yang kuletakkan di saku mantelku. Kuseka rambutnya yang menutupi dahinya, lalu aku menekan pelan dahinya, dia hanya meringis kesakitan. Aduh, aku benar-benar bodoh.

“gwaenchana? Aigoo jeongmal mianhae, Chanyeol-ah. aku benar-benar tidak sengaja.” Aku terus mengusap dahinya pelan dengan tissue basah ini. Dheg~dheg~ aigoo kenapa aku gugup lagi?? Aku mengerjapkan mataku dan melanjutkan menekan dahi Chanyeol pelan.

“Eunji-ah” mataku yang sedaritadi fokus pada dahinya, kini turun dan mata kami bertemu. Mengingat jarak kami yang dekat, aku tidak bisa menahan debaran ini. Kukerjap mataku sekali lagi, jarak wajahnya masih sama seperti yang tadi.

Cup

“ayo kita gantungkan gembok ini di pagar itu. kaja!” dia tiba-tiba bangkit dari duduknya dan menarikku yang sedari tadi membeku. Kupegang pipi kananku. Aigoo, kenapa dia menciumku lagi? Padahal kami belum memiliki hubungan apapun.

Aku menatap punggungnya, ia sedang memasang gemboknya di pagar itu. lalu ia menoleh ke belakang, yaitu ke arahku.

“kau mau apa lagi? Cepat pasang gembokmu itu.” dengan segera aku memasang gembokku di samping gemboknya.

Setelah gembokku terpasang sempurna, Chanyeol menarik lenganku. “setelah itu kunci gembok ini kita buang. Ayo kita lempar bersamaan.”

Aku mengangkat tanganku tinggi-tinggi. Di hitungan ketiga, aku dan Chanyeol secara bersamaan melempar kunci itu jauh-jauh.

Aku mendelik bingung pada Chanyeol. “Tapi aku masih bingung, kenapa kunci ini dibuang? Bagaimana kalau kita ingin membuka gembok itu?”

“justru itu keistimewaan gembok cinta ini.” Jelasnya.

“APA? Gembok… gembok cinta??”

“ck, kau ini. Banyak orang yang berkunjung ke tempat ini, mereka menulis nama pasangan mereka dan harapan mereka kedepan bersama pasangan mereka itu, menggantungkan gemboknya, lalu membuang kuncinya jauh-jauh agar mereka tidak bisa membuka gembok yang sudah mereka kunci sebelumnya.”

Aku tambah bingung. “lalu?”

“dan katanya, kalau kita menulis nama seseorang di gembok itu dan sudah kita buang kuncinya, hubungan mereka akan abadi. Tak perna putus sekalipun.”

Aku tercengang. Sungguh, aku tidak pernah tahu ada pernyataan yang menyatakan kalau membuang kunci ini maka…

Gembokku!!? Apakah tadi aku menulis nama Chanyeol di gembokku??

Tanganku langsung mencari-cari di mana gembokku tadi dipasang di pagar ini. Setelah ketemukan dan melihat tulisanku sendiri. Aku tercengang. mungkinkah? Mungkinkah hubunganku akan abadi bersamanya? Tapi kan aku belum memiliki hubungan khusus apapun dengan Chanyeol.

“waegeurae? Apakah kau menulis namaku di gembokmu? Boyeobwa (tunjukkan padaku.”

“woaah, kau menulis namaku di gembokmu? Kau ingin menjadi yeojachinguku ya?” sergahnya dengan cengiran lebarnya setelah melihat gembokku.

Aku pun hanya bisa menunduk malu. Ck, payah! “Aku kan sebelumnya tidak tahu maksud gembok ini untuk apa. Lagian kau menyuruhku untuk menulis nama seseorang di situ. Ya, jadi aku menulis namamu.”

“Kalau begitu, kau lihat tulisanku di gembok milikku.” Kedua tangannya kini memegang kedua bahuku dan menuntunku melihat gemboknya.

“lihatlah.”

Aku menoleh kebelakang—ke arahnya—sejenak dengan tatapan cemas, lalu melihat tulisan Chanyeol di gemboknya.

  좋아해!!!!

Aku menutup mulutku yang kuyakini terbuka lebar saat ini dengan kedua telapak tanganku, lalu mengerjapkan kedua mataku—saking tak percayanya.

Tiba-tiba aku merasakan ada yang memelukku dari belakang.

“kau, menyukaiku?” tanyaku gugup sambil memejamkan mataku dengan erat. Sungguh, deruan napasnya yang menyerang leherku membuatku bergidik. Bukan bergidik ketakutan, justru karena kegugupan yang mendominasi otak dan hatiku.

Ia dengan serta-merta membalikkan badanku menghadapnya.  Aku hanya bisa menundukkan kepalaku. “Nareulbwa…(lihat aku).”

Aku mendongak menatapnya. Kedua tangannya kini melekat di pinggangku. Aku memberi tatapan tak percaya padanya. Dia hanya merespon tatapanku dengan senyumannya. Tanpa cengiran seperti biasanya. Senyumannya tulus…

Seketika Chanyeol menarikku ke dalam pelukannya. Kini aku kesusahan untuk bernapas sekalipun. Bukan karena eratnya pelukan Chanyeol, tapi karena aku terlalu terkejut, dan, yah, juga bahagia.

“apakah dengan ini kurang jelas? Atau perlukah aku mengatakannya kepada semua orang yang ada di sini?”

Aku tersenyum jahil di dekapannya—yang tak mungkin terlihat oleh Chanyeol. “hmmm, boleh juga.”

Aku terkejut. Sungguh terkejut. Kupikir dia hanya bercanda—seperti biasanya. Tapi, kali ini dia benar-benar berteriak di menara N Seoul Tower ini.

“Byun Eunji!!! JOHAHAE!!!!!!”

 

****

Author POV

 

“hhh, melelahkan…” umpat wanita berpakaian modis berkacamata Gucci dengan rambut coklatnya yang menjuntai sedadanya.

Wanita itu merapihkan mantel Dolce&Gabbananya lalu beranjak dari business seat  pesawat Korean Air. Setelah 4 jam berada di pesawat membuat badannya kelu digerakkan.

Wanita itu pun keluar melewati jalur yang telah disiapkan oleh pihak bandara, sambil menjinjing tas Louis&Vuitton keluaran terbaru yang berwarna hitam namun terdapat manik-manik dan permata berwarna bright maroon yang membuat tas itu tampak berkilauan. Wanita dewasa nan cantik  itu dengan angkuhnya dia mengangkat kepalanya sambil berjalan, bak seorang pragawati yang sedang melintasi catwalk dengan hak tinggi hitam yang menutup habis kaki putihnya hingga mata kakinya sehingga memberi kesan mewah tersendiri pada kakinya jenjangnya itu.

 

****

Setelah saling mengungkapkan perasaan masing-masing, kedua pasangan itu melanjutkan perjalanan mereka ke restoran yang berada di bawah menara Namsan siang itu. Mereka sedang menyantap hidangan kesukaan mereka, yaitu galbi. Eunji dan Chanyeol yang duduk berhadapan sedang asik membolak-balik daging sapi yang asapnya sudah mengepul sehingga membuat nafsu selera makan kedua sejoli itu semakin meningkat.

Tiba-tiba ponsel Eunji berdering. Ia meletakkan penjepit daging di atas meja lalu merogoh saku mantel merah kesukaannya, dan menekan tombol hijau ponselnya.

“yoboseyo? Appa! Appa kapan pulang? Jangan lama-lama meninggalkanku di rumah terlalu lama bersama Baekhyun.” Gerutunya sambil mengulum bibir bawahnya karena bumbu-bumbu daging panggang yang baru saja dilahapnya masih tersisa.

“appa dan eommamu akan pulang secepatnya. Ah iya, bagaimana keadaan di rumah? Sudah kau hiasi pohon natal dengan pernak-perniknya? Ah iya sudahkah kau membeli pernak-perniknya? Sewaktu itu appa simpan di mana ya hiasan-hiasan itu? aish. Ah, yang terpenting, apakah kau sudah menuju Incheon Airport?”

Kalimat tanya terakhir yang dilontarkan appanya membuat Eunji berhenti mengulum sumpitnya. Lalu meletakkannya dengan kasar dan menarik pergelangantangan kanan Chanyeol yang sedang menyumpitkan sepotong galbi ke dalam mulutnya. Karena mendadak ditarik Eunji, akhirnya galbi yang Chanyeol sumpitkan tadi jatuh ke lantai restoran itu.

“ya~ y~ Chanyeol-ah. jam… sekarang jam… MWOYAA!!???”

“Ya! kau ini kenapa sih tergesa-gesa begitu?”

Eunji kembali menempelkan ponselnya di telinga kirinya. “Appa! Aku akan segera kesana!! Annyeong appa!”

“ayo kita pergi dari sini!!” katanya dengan tergesa-gesa sambil menyumpitkan beberapa potong galbi hingga mulutnya penuh. Sementara Chanyeol hanya diam, tak mengerti maksud yeojachingunya ini.

“ppalli mokgo!! Cepat bantu aku untuk menghabiskan daging ini! Sehabis itu kita langsung pergi ke Incheon Airport.” Ucapnya dengan suara yang kurang jelas.

“apa? Kau ini telanlah makanan yang ada di mulutmu itu. ckck kau ini tak berubah. Bagaimana kalau kau tersedak seperti waktu itu?” Chanyeol mengulurkan tangannya yang sedang memegang gelas berisi air putih kepada Eunji. Lantas Eunji menerimanya dan langsung meneguknya dengan cepat.

Alhasil, dia malah tersedak.

Chanyeol bangkit dari duduknya dan menghampiri Eunji yang masih terbatuk-batuk. Chanyeol menepuk-nepuk pelan punggung Eunji hingga Eunji tidak terbatuk lagi.

“ckckck, Byun Eunji, kau ini seorang yeoja. Kau tak boleh makan serakus itu. aishh cepatlah. Nanti halmeonimu menunggu kita terlalu lama di bandara.” Sergah Chanyeol sambil merangkulkan bahunya ke pundak Eunji. Lalu menuntunnya menuju loket cable car dan menaikinya, membawa mereka turun dari bukit Namsan. Setelah keluar dari kawasan N Seoul Tower, Chanyeol memberhentikan taksi dan taksi itu menuju bandara Incheon.

 

Sesampainya di bandara terminal kedatangan domestik, Eunji dengan tergesa-gesa berlari menemui untuk menemui neneknya. Sesekali Chanyeol mencoba untuk menahan Eunji dengan menggengagam tangannya.

“Halmeoni!!!” teriaknya ketika melihat seorang wanita berumur 65 tahun yang sedang menarik sebuah koper mini dengan mendominasiwarna abu-abu.

Sebuah senyuman hangat terukir di wajah nenek itu dan langsung menghampiri Eunji. Dan serta-merta mereka berpelukan layaknya orang yang sudah lama tak bertemu.

aigoo, cucuku yang cantik ini. Ah, di mana baekhyun? Lalu, siapa namja ini?” Neneknya melirik ke arah Chanyeol dengan tatapan kagum atas ketampanan Chanyeol.

“annyeonghaseyo. Park Chanyeol imnida. Bangapseumnida.” Chanyeol dengan senyuman semangatnya membungkuk hormat pada nenek Eunji.

“ah, jadi ini namjachingumu yang eommamu beritahu padaku?” neneknya mendelik bermaksud menggoda Eunji yang kini hanya menunduk, menyembunyikan wajahnya yang merona akibat pertanyaan yang dilontarkan nenek kesayangannya ini.

“ah, itu. halmeoni..” gerutu Eunji malu-malu dengan senyumannya yang membuat neneknya tertawa melihat cucunya itu.

“ah, ayo mari kita pulang, halmeoni! Di rumahku sudah terhias berbagai pernak pernik natal kesukaan halmeoni! Tentu saja aku tidak sendiri melakukannya. Chanyeol juga membantuku kemarin malam mencari semua pernak-pernik itu di pasar Namdaemun. Halmeoni tahu kan seramai apakah pasar itu? aku saat itu sudah sangat panik karena rumahku masih polos, belum ada kesan datangnya Natal. Aku takut halmeoni marah-marah seperti Natal tahun lalu. Untung saja Chanyeol mau menemaniku ke sana.” Jelas Eunji panjang lebar pada neneknya sambil memeluknya. Chanyeol yang menarik koper nenek Eunji hanya tersenyum malu, Eunji memujinya di depan neneknya.

“aah, benarkah begitu? Wah, anak muda, kau sudah tampan, tinggi, baik hati lagi. Aigoo, pasti kedua orangtuamu sangat bangga padamu.” Nenek Eunji menepuk bahu Chanyeol dengan kekagumannya. Chanyeol yang tadi tersenyum hangat mendadak kaku, namun tersenyum kembali.

“waegeurae?” tanya nenek Eunji.

“aniyo, halmeoni.” Jawab Chanyeol dengan senyumannya. Eunji yang memperhatikan keduanya hanya tersenyum-senyum sendiri. Ia tak menyangka neneknya menyukai Chanyeol secepat ini.

Mereka bertiga berjalan menuju dimana sekelompok mobil taksi terparkir di tempat tersebut. Chanyeol mempersilahkan Eunji dan neneknya masuk terlebih dahulu di jok belakang. Namun ketika ingin memasuki mobil dan duduk di jok di samping pengemudi, ia melihat sosok wanita dewasa yang sangat ia kenal. Tapi wajah wanita itu tidak terlihat jelas olehnya karena wanita itu memakai kacamata yang menutupi matanya hingga tulang pipinya.

Mungkin hanya perasaannya saja mengenal wanita itu. kemudian ia duduk manis di jok taksi ini yang mengantarkan mereka ke rumah Eunji.

 

****

Eunji POV

 

Drrrt, ponselku berdering. Aku langsung mengangkat ponsel yang kuletakkan di nakas.

“yeoboseyo?” tanyaku sambil merebahkan tubuhku di ranjangku. Yang meneleponku kini ialah guru Wu.

“hmmm, Eunji? Apakah kau ada acara malam ini?” eh? Kenapa guru Wu bertanya seperti ini? Setelah kupikir-pikir lagi, aku tidak memiliki acar apapun hari ini. Chanyeol sudah pulang, dan halmeoni dengan baekhyun sedang asik-asiknya berada di ruang keluarga, menikmati suasana natal di ruangan itu.

Aku bergumam sejenak. “hmm, eobseoyo (tidak ada). Waeyo, hmm, oppa?” tanyaku memberanikan diriku memanggilnya oppa,

“ne? Hmm, bisakah kau temui aku di jembatan sungai Cheonggyecheon?”

Aku mengerutkan alisku sejenak. Ke jembatan sungan Cheonggyecheon? “memangnya ada apa, oppa?”

“aku ingin memberimu kejutan. Aku dengar kemarin ialah hari ulang tahunmu. Dan karena sekarang bertepatan dengan hari Natal, maka aku menggabungkan hadiahnya menjadi satu. Kau bisa tidak?”

Ah, tawaran yang menarik. Gumamku. “ah baiklah, oppa. aku berangkat ke sana sekarang.” Jawabku. Setelah telepon terputus, aku beranjak dari ranjangku dan memakai mantelku beserta scarf dan sarung tanganku. Lalu pamit pada Baekhyun dan halmeoni.

 

****

Aku kini sudah berada di jembatan sungai cheonggyecheon. ah, mana Kris oppa? aku menggembungkan pipiku sambil mencari-carinya. Tiba-tiba pandanganku jadi hitam, aku tidak bisa melihat. Aku merasakan tangan seseorang menutupi kedua mataku dari belakang. Kupegang tangan yang menutupi kedua mataku itu, lalu membalikkan badanku ke arah…

Kris oppa?

“saengil chukkhahaeyo, Eunji-ah. maaf aku telat mengucapkannya padamu.” Kutatap kedua matanya yang menatapku. Aku tertawa malu menatapnya.

“ah ini dia hadiah ulang tahunmu ditambah hadiah natal untukmu.” Kris oppa menyerahkan sebuah kotak persegi panjang kecil berwarna biru elegan. Apa isinya?

Aku menerima kotak itu dengan tersenyum. “woah, oppa? ini apa?”

Dia mengambilnya lagi dari tanganku, membukanya dan aku tercengang melihat hadiah yang diperuntukkan untukku itu.

Kalung?

Kris oppa memasang kalung itu dari belakangku. “cantik bukan?”

Aku terkagum-kagum melihat kalung ini. Cantik sekali. “kenakan ini setiap hari ya. kalau tidak aku akan sedih.” Kata Kris oppa.

Aku mendadak jadi tertawa geli melihat wajah Kris oppa yang tiba-tiba berubah jadi sedih.

“kenapa kau tertawa? Ada yang lucu?” sergahnya.

Aku hanya bisa menutup mataku karena saking tak bisa menghentikan tertawaanku. “aniyo, oppa. aku.. hahaha..”

“aish baiklah. Oh iya, aku tak punya banyak waktu. Aku hanya ingin memberikan ini padamu. Oh iya! besok, aku tunggu kau di jembatan ini lagi. Besok pagi. kau sudah harus ada di sini jam setengah 9 pagi. karena aku ingin mengunjungi istana Gyeongbokgung. Temani aku ke sana. Aku ingin lebih banyak mengetahui sejarah Korea.” Tuturnya sambil tersenyum diselingi gumamannya.

“ahaha baiklah. Arayo. Ja. Aku pulang dulu, oppa. sampai bertemu besok!” seruku sambil melambai-lambaikan tanganku pada Kris oppa.

 

****

Kris POV

 

Akhirnya aku bisa juga mengajaknya ke tempat yang kuinginkan pergi bersama yeoja yang kucintai. Ah senangnyaaaa. Dan kurasa ia menyenangi sikap ramahku tadi padanya. Aah aku sangat senang di hari Natal ini. Aku harus bersiap-siap untuk besok. Kris, Fighting!

 

To Be Continued

 

Cepatkah aku mem-post part 6? Bagaimana? Mian kalau belum memuaskan yaa. Ini aku buru-buru bgt bikin ending part ini karena keburu mau mudiiik >< bye readers cintaah!! Babaaai! Ppuing-ppuing. Doain aku selamat-selamat aja ya di jalan J babaaai!!! Annyyeong!! :*

Kutunggu RCLnya yaa. Like and Comment!! Wajib!! jangan lupa saran dan kritik kalian!! Mueheheh *masang wajah cengengesan Baekhyun* *plak*

Advertisements

133 responses to “Love Button [Part 6]

  1. Wa… akhirnya chanyeol sama eunji pacaran.. wah2 kris pantang menyerah. Nanti eunji milih siapa yah ??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s