STILL WAIT YOU SAY (Chapter 1)

Judul FF : STILL WAIT YOU SAY (Chapter 1)

 Main Cats :

Lee Jieun (IU), Lee Taemin (SHINEE), Yoo Seungho, Suzy (Bae Suji miss A)

 Genre : Romance, Family, Angs

 Rating : PG 13

 Length: Chaptered

 Author : rahmassaseol (@rahmassaseol)

 Disclaimer  : Cerita ini hanya fiksi dan murni hasil imajinasi saya. Jadi, jika ada kesamaan apapun itu, entah peran, karakter atau bahkan jalan ceritanya saya benar-benar minta maaf, karena saya sama sekali tidak tahu menahu. Dan semoga FF ini bisa menghibur kalian semua!. Gomawo! ^o^

************

 Mataku nanar melihat kenyataan di hadapanku.

“Oppa ayo pulang,” kata Suzy manja sambil merangkul lengan taemin.

“Suzy aaa, bisakah kau keluar? Aku ingin bicara dengan temanku, berdua saja,” tegas Taemin yang berhasil membuat Suzy keluar dengan bibir manyun sambil menghentak-hentakkan kakinya dengan jengkel.

Taemin menatapku serius, “Jieun aaa…,” belum sempat Taemin melanjutkan kata-katanya sudah berhasil kupotong dengan kata-kataku.

“Gemanhe Taemin aaa, aku yang bodoh mengira kau juga menyukaiku,” air mataku mulai turun menyusuri pipiku yang lembut.

“Jieun aaa.. dengarkan aku dulu,” pinta Taemin dengan tatapanya yang mulanya serius sekarang menjadi lembut dan berkaca-kaca.

“Aku tak perlu mendengar apapun darimu, semua sudah jelas dimataku. Ini membuatku sadar bahwa penantianku selama dua tahun ini hanyalah sia-sia,” aku tak kuasa lagi membendung air mata ini yang mulai deras mengalir membasahi pipiku. Aku yang terisak kemudian lari meninggalkan Taemin sendiri.

FLASH BACK 2 YEARS AGO

Aku berlari mengejar Taemin yang akan memasuki pintu masuk keberangkatan pesawat menuju ke Negeri Sakura. Dengan berlari sekuat tenaga aku berhasil menarik lengan Taemin menjauhi pintu masuk pesawat, dan membuat tubunya berhadapan denganku.

“Jieun aa! Apa yang kau lakukan!!” Taemin yang seketika kaget aku menarik lenganya dengan tiba-tiba, dan terlihat jelas di wajahnya yang mulai naik darah itu kemudian luluh dengan tatapan mataku yang seolah-olah mengatakan jangan pergi.

            Aku segera memeluk Taemin ketika amarahnya mulai mereda. Aku tak ingin melepaskanya pergi meninggalkanku tanpa kepastian. Aku menangis di dalam pelukanya sambil memukul-mukul dada Taemin.

“Mianhe Jieun aa aku harus pergi..,” Taemin memohon padaku agar aku mau melepaskan pelukanku.

“Apa sekarang kau tidak ingin mengatakanya? Beri aku kepastian Taemin aaa,” aku merengek padanya sambil terisak. Tapi Taemin hanya bisa membisu.

Pada akhirnya aku menyerah melihat Taemin tetap memilih tak berbicara sepatah katapun padaku. Dan perlahan aku melepaskan pelukanku yang mungkin membuatnya cukup sesak nafas.

“Baiklah Taemin aaa, jika dalam waktu dua tahun ini cukup memberimu keberanian untuk menyatakan perasaanmu padaku, aku akan menunggumu hingga tiba waktunya,” aku menatap mata Taemin tajam  mencoba mengingat tatapan mata Taemin dalam benakku.

Taemin yang masih saja membisu kemudian mendekatiku dan mengusap air mataku dengan jari-jari tanganya yang kuat. Perlahan Taemin mendekatkan wajahnya yang rupawan ke wajahku hingga hanya berjarak satu mili dan kemudian bibirnya meraih bibirku yang tipis. Dengan lembut Taemin mengecup bibirku yang membuat mataku terpejam dalam beberapa detik. ***

Taemin melepaskan ciumanya dan menatapku penuh arti, yang kemudian pergi meninggalkanku dan membiarkanku melihat punggungnya kian menjauh.

2 years Later                                                     

            Hari ini mungkin akan jadi hari yang terindah dalam hidupku, karena hari ini adalah hari dimana aku tak perlu menantinya lagi. Yap! Hari ini adalah hari kepulangan Taemin dari Jepang! Tak bisa kutahan kebahagianku akan bertemu kembali dengan Taemin. Aku tak henti-hentinya bersenandung kecil selama perjalananku ke tempat dua tahunku menimba ilmu Chungdam High School. Karena appa Taemin dipindah tugaskan  ke Jepang selama dua tahun, Taemin yang mau tidak mau harus ikut pergi ke Jepang, hanya bisa pasrah dengan keputusan perusahaan appanya. Appa Taemin adalah menejer director di sebuah perusahaan konstruksi terkemuka di Seoul yang ditugaskan selama dua tahun di Jepang untuk mengawasi jalanya proyek pembangunan apartemen mewah yang merupakan investasi terbesar perusahaan.

            Aku sudah menyiapkan bekal makan siang yang akan kumakan bersama Taemin nanti, aku tidak bisa membayangkan kami berkumpul lagi, seperti dua tahun yang lalu dibawah pohon yang rindang tertawa bersama-sama.

Seperti yang kuduga Taemin sudah kembali kesekolah, aku bisa melihat punggungnya dari kejauhan melangkah masuk ke kelas kami. Kelas kami sangat ramai dan bising yang menyambut datangnya Taemin ke sekolah. Taemin langsung saja menjadi pusat perhatian seiisi kelas yang tak memberiku kesempatan untuk menyapanya. Sepanjang hari Taemin selalu dikerubuti  teman-teman sekelas yang ingin mendengarkan pengalaman hidup Taemin selama berada di Jepang yang memaksaku untuk memakan bekal makan siangku sendirian dan menyapa Taemin sepulang sekolah saja.

***************

            Sial! Kenapasih dengan Kim songsemnim yang tiba-tiba menyuruhku membuat laporan kegiatan osis selama bulan Juli. Tapi aku hanya bisa maklum karena aku adalah sekertaris utama osis yang sebentar lagi akan pensiun bersiap untuk ujian akhir sekolah. Jika begini jadinya aku tidak mau jadi sekertaris utama osis! Aku segera berlari sekencang mungkin menuju ke kelasku setelah selesai membuat laporan dan membuat wajah Kim songsemnim berseri-seri. Aku berharap Taemin masih ada di dalam kelas karena bel pulang sekolah telah berdering duapuluh menit yang lalu.

            Sesampainya dikelas aku langsung menyambar tasku yang kuletakkan di atas mejaku, aku memandang seiisi kelas dan mendapati Taemin tertidur pulas dibangkunya. Sepertinya Taemin belum mengubah kebiasaan buruknya yang selalu tertidur pada jam-jam pelajaran terakhir dan terbangun saat sekolah sudah gelap gulita. Karena kebiasaan buruknya itu aku sering direpotkan olehnya untuk membangunkanya yang bila sudah tertidur seperti orang mati, aku tertawa kecil mengingatnya dan kemudian aku melepaskan jas seragamku untuk menyelimutinya.

Belum sempat aku memalingkan tubuhku, Taemin tiba-tiba dengan kuatnya menarik tanganku dan membuatku berpaling lagi kearahnya. Taemin menatapku dengan mata sayu yang masih menyisakan kantuknya, “Jieun aa ada yang inginku bicarakan denganmu.” Jantungku berdetak cepat, pipiku memerah. Aku tak berani menatap mata sayunya yang selama ini selalu kurindukan.

            Tak menerima respon dariku, Taemin kemudian menengadahkan wajahku yang menunduk dengan jemarinya mencoba membuat mataku agar mau menatap matanya.
“Ne.. Taemin aaa, juga ada yang ingin kubicarakan denganmu,” aku ingin bertanya apakah Taemin sudah menemukan jawabanya atas hatiku? Tapi kuurungkan niatku ketika melihat seorang gadis cantik dengan rambut panjang nan indah menghampiri Taemin. Siapa gadis ini? Pikirku dalam hati.

“Chagiya… kenapa kau masih disini? Aku sudah lama menunggumu diluar gerbang,” ucap gadis itu dengan wajah yang memelas dan tingkanya yang membuatku mual. Taemin hanya diam dan berganti menatap gadis itu dengan ogah.

            Apa-apaan gadis ini?! Chagi? Memang siapa dia memanggil Taemin dengan sebutan Chagi?? Aku benar-benar di buat kesal oleh gadis ini yang bertingkah layaknya kekasih Taemin. Aku memandangya sinis, dan rupanya dia menyadari tatapanku yang ingin memakanya hidup-hidup. Dia menoleh cepat kearahku dengan senyuman yang amat manis. “Chagiya… siapa dia? temanmu?” gadis ini kembali memalingkan wajahnya pada Taemin dengan raut wajah penuh tanda tanya.

            Aku berharap Taemin akan memberikan jawaban yang kunanti, “Dia adalah orangyang kusukai.” tapi dalam kenyataanya Taemin hanya mengatakan bahwa aku hanyalah temanya.

“Dia temanku dekatku,” Taemin menjawab dengan lugas. Aku yang kecewa dengan jawaban Taemin tertunduk lesu menyadari bahwa memang tak ada ikatan yang mengikat kami kecuali hanya sebagai teman dekat.

“Omo! Jadi dia temanmu Chagi? Wah kebetulan sekali, karena kau adalah temanya Taemin oppa maka kau temanku juga, maukan kau menjadi temanku?” ucap gadis itu dengan wajah yang kegirangan dan lagaknya yang ingin membuatku muntah di atas kepalanya, gadis ini kemudian mengulurkan tanganya padaku. Aku hanya tersenyum pahit dan menerima uluran tanganya yang ingin mengajakku berjabat tangan.

“Ne…..,” berat suaraku menjawab ajakkanya yang ingin berteman denganku.

“Assa! kenalkan namaku Bae Suzy. Aku bersekolah di Daeyoung High School yang tak jauh dari sini,” celotehnya dengan senyumnya yang amat cantik.

 “Ohh arayo, nan Lee Jieun imnida, tapi apa sebenarnya hubungan kalian berdua?” akhirnya kutanyakan juga pertanyaan yang sedari tadi mengelilingi otakku.

“Taemin oppa tak memberitahumu Jieun aaa? kami sebenarnya adalah….” taemin dengan sigap berhasil membungkam mulut Suzy yang belum sempat melanjutkan kata-katanya dengan telapak tangan Taemin yang besar.

Suzy meronta-ronta berusaha memberontak dari perlakuan Taemin, Suzy yang jengkel akhirnya menggigit telapak tangan Taemin yang sontak membuat Taemin melepaskan telapak tanganya yang membungkam mulut Suzy dan meringis kesakitan.

“Aww!! Ya! Suzy aaa! Sakit tau!” Taemin membentak Suzy dengan amarahnya yang meluap-luap.

“Chagiya! Mau sampai kapan kau menyembunyikanya?” Suzy yang juga dibaluti amarah berganti membentak Taemin dengan suaranya yang cukup lantang.

            Sejenak aku bengong melihat mereka asik bertengkar beradu argumen-argumen yang pedas, aku hanya berfikir tidakkah bibir mereka lelah beradu argumen dalam waktu yang cukup lama.

“Sudahlah terserah apa maumu!” Taemin akhirnya mengalah dari perdebatan yang cukup sengit ini. Aku melihat, perdebatan ini cukup menguras energi Taemin yang sudah mulai berkeringat.

“Baiklah, apa salahnya sih jika aku dari awal memberi tahu Jieun? Temanmu kan temanku juga…” dengan senyum yang mengembang diwajahnya, Suzy berbicara penuh kemenangan. Taemin yang kalah dalam perdebatan menatap Suzy pasrah.

“Jieun aaa, sebenarnya aku dan Taemin oppa sudah berpacaran selama satu tahun.
Apa Taemin oppa tidak pernah memberitahumu? Padahal kelihatanya kau akrab sekali dengan Taemin oppa.” Dengan tampang polos, Suzy berusaha agar aku tahu bahwa Taemin sudah menjadi kekasihnya.

            Deg! Rasanya jantungku hampir berhenti berdetak dan spontan membuat mataku terbelalak tak percaya dengan semua yang dikatakan Suzy. Pacar? Satu tahun? Aku terus berpikir keras  bahwa apa yang dikatakan Suzy hanyalah kebohongan. Aku menatap Taemin tajam yang balas menatapku dengan ekspresi membenarkan semua yang dikatakan Suzy. Aku terdiam terpaku masih tidak bisa menerima kenyataan, Taemin sudah memilih Suzy sebagai kekasihnya.

 END FLASH BACK

Taemin hanya menatapku bingung melihat aku berlari meninggalkanya. Raut wajah Suzy pun bertanya-tanya kenapa aku keluar sambil berlari dan menangis. Sebenarnya aku aku kesal karna Taemin tidak menyusulku atau setidaknya menahanku pergi. Apa mungkin dia tidak pernah menyukaiku dan memilih Suzy untuk menjadi kekasihnya? Tapi apa arti ciumanya waktu itu? Aku bertanya-tanya pada diriku sendiri yang masih terus berlari.

            Lelah karena terus berlari akhirnya aku berhenti dan duduk di bawah pohon yang rindang. Di tempat inilah tersimpan banyak kenangan bersama Taemin, aku masih mengingat betul bagaimana kami tertawa bersama sambil menatap langit yang biru dengan awan-awan yang berbentuk semua imajinasi kami. Ingatan itu membuatku terbuai dalam kebahagiaan yang sesaat. Tak terasa air mataku mulai membasahi pipiku yang mulai kering karena mengingat kenanganku bersama Taemin.

“Gwenchanayo Jieun aaa?” terdengar suara seseorang yang lantas mengagetkanku dan membuatku cepat-cepat berpaling ke arahnya.

“Seung ho-shi apa yang sedang kau lakukan disini?” tanyaku pada Seungho sambil berusaha menghapus air mataku. Aku tidak ingin terlihat lemah di hadapan orang lain termasuk Seungho sahabat karibku sendiri. Tapi seberapa keras aku berusaha untuk menutupi kesedihanku semakinku jatuh dalam keterpurukan yang amat dalam.

Seungho mengangkat wajahku yang tertunduk dengan kedua tanganya hingga wajah Seungho sejajar dengan wajahku. Seungho yang terlarut dalam suasana haru membuatnya juga tak mampu membendung air matanya, dia menatapku intens dengan matanya yang buram karena di penuhi air mata.

 “Jieun aa jangan kau tutupi lagi kesedihanmu, kau tahu itu akan membuatmu terlihat semakin buruk. Menangislah jika kau ingin menangis Jieun aa,” dengan suara yang bergetar Seungho kemudian membalikkan badanya.

“Jieun aa menangislah sepuasmu! hingga air matamu tidak bisa mengalir lagi!” Seungho meminjamkan punggunya padaku sebagai tempat untuk menumpahkan semua rasa sakit hatiku.

            Aku meraih punggung Seungho dengan kedua tanganku. “Taemin aaa dasar NAMJA BRENGSEK…!! Jika kau tegas kepadaku, aku tak akan menunggumu selama dua tahun yang sia-sia. Aku yang terlalu naif begitu mengharapkanmu menyukaiku!!” aku menangis sejadi-jadinya sambil memukul-mukul punggung Seungho dan tak hentinya aku memaki-maki Taemin yang membuat harapanku musnah di hari yang seharusnya menjadi hari terindah dalam hidupku.

*******

Aku merebahkan tubuhku di atas kasurku yang nyaman, berusaha memejamkan mataku yang lelah karena menangis. Kata-kata Suzy masih terngiang di telingaku yang membuatku tak bisa memejamkan mata ini. Menerima kenyataan Taemin sudah memilih Suzy menjadi kekasihnya dan mengabaikan perasaanku padanya masih terasa amat sulit bagiku. Aku mungkin telah salah mengartikan sikap Taemin yang selalu membuatku terbang ke awan

*********

Kulangkahkan kakiku yang malas menuju sekolah, bertemu dengan Taemin setelah kejadian kemarin sangat membuatku tidak nyaman. Akankah dia tersenyum padaku? Atau dia akan mengabaikanku kerena sudah memiliki Suzy? Berjuta pertanyaan terselip di benakku yang membuat pikiranku tak karuan. Tak terasaa kusudah tiba di depan gerbang sekolahku, langkahku ragu untuk memasukinya, aku terdiam cukup lama di depan gerbang sampai seseorang membuyarkan lamunanku.

“Jieun aa kenapa tidak masuk?” Seungho menepuk pundakku dan menunjukkan mimic penuh tanda tanya.

“Anio Seung ho-shi, kaja,” jawab kugugup yang kemudian menarik paksa lengan Seungho memasuki gerbang sekolah.

Sesampainya di depan pintu kelas langkahku terhenti melihat sepasang mata teduh menatapku intens yang membuatku ragu untuk masuk kekelas.

“Waey  Jieun aa?” tatapan Seungho heran dan spontan membuat langkahnya juga terhenti. Yang kemudian sadar melihatku sedang beradu mata dengan Taemin.

“Gwenchana Jieun aaa, cepat atau lambat pada akhirnya kau juga akan bertemu denganya. Tentukan sikapmu dari sekarang, jika kau tidak lagi menyukainya bersikaplah tegar dan menerima kenyataan yang ada. Namun jika kau masih menyimpan rasa sukamu pada Taemin, jangan pernah berhenti untuk menggapai hatinya, tunjukkan padanya bahwa dirimulah yang terbaik. Araso?”  jelas Seungho yang sedikit berbisik ditelingaku.

“Ne arayo Seung ho-shi, aku akan mencobanya” jawabku mantap.

“Hemm, aku akan selalu berada disampingmu Jieun aa.”

“Gomaweo Seung ho-shi.” Aku tersenyum manis pada Seungho yang sudah membuang semua keraguanku.

“Gwenchana.” Seungho membalas senyumanku dan kemudian berjalan meninggalkanku sambil melambaikan tanganya.

            Aku melangkahkan kakiku dengan mantap memasuki kelas, Taemin yang sedari tadi menatapku dengan mata teduhnya berhasil kuabaikan dengan sempurna. Aku berusaha bertingkah seolah tak terjadi apa-apa, tapi sikap apa yang harus aku pilih? Aku sangat membenci Taemin tapi aku juga menyukainya dan rasa ini tak mudah hilang dalam waktu singkat. Aku sama sekali tak bisa berkonsentrasi saat Kim songsemnim menjelaskan pelajaran, pikiranku masih dipenuhi dengan pilihan yang membuatku bimbang. Aku bernafas lega setelah bel berdering tanda pelajaran Kim songsemnim usai,  yang sedari tidak bisa kucerna dengan baik.

*********

PLOK!. Aku sangat terkejut seseorang tiba-tiba menepuk punggungku yang ternyata itu Seungho. “Seung ho-shi! Sakit tau!” bentakku dengan bibir manyun.

“Miane Jieun aaa, aku hanya ingin iseng sedikit padamu, heheheh.” Seungho meringis nakal.

“Waeyo? tumben sekali kau main kekelasku?” aku menatapnya penuh selidik.

“Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu. Ini coba lihatlah, aku mendapatkanya gratis dari pamanku,” Seungho memberikan secarik kertas berupa tiket nonton bioskop padaku. Aku membacanya dengan seksama dan menimbang-nimbang keputusanku.

“Bagaimana kau mau pergi ke bioskop denganku besok?” tanya Seungho padaku yang tidak sabar ingin mendapat jawaban dariku.

“OK! Aku mau, kebetulan besok aku tidak ada rencana apa-apa”  jawabku yang disambut dengan senyuman ceria Seungho.

“Assa! Baiklah! Besok kutunggu didepan bioskop jam empat sore, ok?”

“OK!”

******

Aku mengenakan baju cardingan setengah lengan berwarna crem kemasan dengan dipadu bawahan rok wiru warna senada dan sepatu bermotif  bunga di tambah dengan beberapa aksesoris yang menambah kesan girlyku. Aku menguncir rambutku seperti ekor kuda dan kurias wajahku dengan make-up natural yang membuatku semakin terlihat cantik.

********

Jam tanganku menunjukkan pukul 15.00 yang kurasa terlalu lama untuk menunggu di depan bioskop ini sendirian, aku memang sengaja datang lebih cepat untuk menghindari macet yang biasanya dimulai dari jam setengah empat sore karena dijam inilah karyawan disemua kantor pulang kerja dan kendaraan mereka membuat jalanan padat. Akhirnya aku memutuskan pergi ke toko buku di seberang jalan untuk menunggu sampai Seungho datang.

Aku sibuk memilih-milih novel yang kukira cukup bagus untukku, dan pilihanku jatuh pada novel berjudulkan Stand by Me yang covernya didesign cukup menarik dengan karikatur yang amat imut dan lucu. Belum sempat tanganku mengambilnya, novel itu sudah lebih dulu diambil oleh seorang namja yang sangat kukenal.

 “Taemin aaa?” Mataku membulat terkejut tak mengira akan bertemu dengan Taemin disini.

“Jieun aaa kenapa kau bisa ada disini?” Taemin yang juga tak mengira akan bertemu denganku, menanyakan pertanyaan yang sudah jelas jawabanya.

“Tentu saja untuk membeli buku,” aku menjawab pertanyaan Taemin ketus sambil beranjak pergi dari tempatku semula, dan kembali menatap Taemin tajam. “Untuk novel itu buatmu saja, aku sudah tak tertarik untuk membelinya. Annyeong aku pergi dulu!” ucapku dengan nada suara masih sama dengan penekanan yang lebih kuat.

GREP!! Taemin menggenggam tangaku erat.

“Tunggu Jieun aaa, ada yang ingin kubicarakan denganmu.” Taemin mencoba menahanku pergi.

“Bicara apa lagi? Semua sudah jelas dimataku!” tandasku.

“Tapi semua belum jelas dimataku.” Mata Taemin menatapku penuh harap.

Hello, hello

Hello, hello
Nareumdaero yonggil naesseoyo
Hello, hello
Jamshi yaegi hallaeyo
Hello, hello
Naega jom seodooljin mollado
Who knows? Eojjeom oorin

            Tardengar suara ringtone dari HP ku, memecah ketegangan diantara aku dan Taemin. Dengan cepat aku menghempaskan tangan Taemin yang menggenggam erat tangan kananku, buru-buru aku mengangakat telepon yang kumasukkan didalam kantong kecil tasku. Aku melihat nama Seungho tertera dilayar HP ku yang membuatku menatap Taemin dengan waspada. Taemin yang heran melihat tatapanku,  mengerutkan dahinya bingung.

“Yoboseo? oh Seung ho-shi,” aku sengaja sedikit mengeraskan suaraku supaya Taemin mendengarnya dengan jelas.

“Ne, Jieun aaa kau sekarang ada dimana? aku sudah berada di depan bioskop sekarang,” terdengar suara Seungho dari seberang meminta penjelasan.

“Seung ho-shi, sekarang aku berada di toko buku diseberang jalan,” jelasku pada Seungho.

“Oh… arayo, tunggu disana ne? aku akan menyusulmu,” Seungho segera memutus sambunganya setelah mengetahui keberadaanku.

            Aku memasukkan kembali Hp ku di kantong kecil tasku, aku kembali menatap Taemin tajam. Bisa kulihat ekspresi wajah Taemin berubah kusut.

“Mian aku harus segera pergi, aku buru-buru ada janji dengan seseorang,” aku bersuara dengan nada datar dan segera beranjak pergi dari hadapan Taemin. Belum sampai aku melangkahkan kakiku keluar dari toko buku, Taemin mengejarku dan kembali menggenggam erat tangan kananku yang sontak membuat langkahku terhenti.

“Apa Seungho begitu penting bagimu?! Hingga membuatmu mengabaikan penjelasanku?” Taemin membentakku dengan suara cukup lantang yang membuat para pengunjung toko buku tersebut mengalihkan perhatian mereka kepada kami berdua.

Aku yang tidak ingin kalah dari Taemin, membalasnya dengan bentakkan yang lebih lantang, “Iya! Seungho sangat penting bagiku! Jika aku disuruh memilih, aku akan memilih Seungho! daripada kau yang hanya memberikan harapan semu padaku!”

Para pengunjung toko buku tersebut masih memperhatikan kami dengan berbagai komentar yang membuat telingaku panas. Taemin mengeram mendengar ucapanku dengan tatapan berapi-api. Seketika nyaliku ciut melihat ekspresi Taemin yang membuat bulu kudukku berdiri. Taemin menatapku lurus-lurus, terlihat sekali emosinya meluap-luap karena ucapanku yang membuat dia tak mampu menahan emosinya lagi.

“TIDAK! KAU HARUS MEMILIHKU! KAU HANYA BOLEH MENYUKAIKU!” ucap Taemin yang dipenuhi oleh amarah membuatku dan para pengunjung toko buku tersebut terperangah.

“Hah? Tinggi sekali percaya dirimu? Apa hakmu berbicara seperti itu kepadaku?” Aku meninggikan nada suaraku diakhir kalimat dan memberi penekanan yang lebih berat.

“Tapi pada kenyataanya kau hanya menyukaiku kan?” Taemin tetap tidak mengurangi rasa percaya dirinya.

“Sekarang aku sudah membuang jauh-jauh perasaan yang sia-sia itu! Aku sudah melupakanya!” bentakku yang malah membuat senyum simpul dipipi Taemin.

“Oh ya? jika kau sudah melupakanya, aku akan membuatmu ingat kembali!” Taemin menyeringai padaku membuatku merasa ada hal buruk yang akan terjadi.

Dengan cepat Taemin meraih wajahku dengan kedua tanganya agar aku tidak bisa berpaling lagi darinya. Para pengunjung tetap tidak bosan memandangi tingkah laku kami berdua yang semakin seru. Dengan terpaksa aku hanya bisa menatap Taemin, sekilas tersirat kecemburuan yang pekat mendadak berubah menjadi kelembutan yang hangat dimata teduhnya yang kini seolah tak mau melepaskan pandanganya dariku. Tatapan lembut ini sesaat membuatku terbuai dalam dalam ingatan masa lalu yang indah.

            Melihatku yang tidak melakukan perlawanan yang berarti, Taemin secara tiba-tiba mendaratkan bibirnya tepat diatas bibirku yang membuatku hanya bisa mengerjap-ngerjapkan mataku tidak percaya. Taemin menciumku?! Aku terkejut setengah mati dan masih mengerjap-ngerjapkan mataku. Tindakkan Taemin ini spontan membuat segunung pertanyaan tak terjawab dibenakku. Selang tigapuluh detik, Taemin kemudian melepaskan kecupanya yang langsung disambut oleh kepalan tangan Seungho yang memukul keras pipi kanan Taemin hingga membuatnya limbung. Aku hanya bisa diam tertegun melihat aksi Seungho yang kontroversional itu, membuat para pengunjung toko buku yang masih asyik menonton kami bak sinetron di TV dengan  mata terpanah melihatnya. Kemudian Seungho menarikku paksa ke sampingnya.

“Taemin aa! Aku tidak suka dengan caramu! Berhentilah mempermainkan Jieun! Aku sudah muak melihatmu!!” Seungho melontarkan kalimat pedas kepada Taemin dengan suara yang menggelegar.

            Mendengar perkataan Seungho yang cukup membuat telinga Taemin panas, dengan segera Taemin menyeimbangkan tubuhnya yang sempat limbung karena serangan mendadak dari Seungho dan membalas cepat pukulan keras Seungho, dengan tinjuan yang mengenai hidung Seungho, hingga membuat hidungnya berdarah. Jieun yang tidak terima dengan perlakuan Taemin terhadap Seungho segera menghardik Taemin dengan amarahnya yang tak tertahankan lagi.

 “Taemin aa!! Gemanhe!! Tidak cukupkah kau menyakitiku? Aku sungguh tidak bisa mengerti jalan pikiranmu!”

“Apa masih tak mengerti? Tidak cukupkah ciuman tadi yang menjelaskan semuanya?! Apa kau tidak bisa mengartikan tatapan mataku setiap kali aku memandangmu?” suara Taemin sedikit mengecil tapi dengan penekanan yang makin tajam.

“Mana bisa aku tau, jika kau tidak pernah mengatakanya padaku?” dengan suara sedikit bergetar, perlahan air mataku mulai deras mengalir dipipiku dan kemudian kulanjutkan kata-kataku yang sempat terputus karena manahan tangis, “Dan sekarang kau telah memilih Suzy sebagai kekasihmu. Itu yang cukup membuatku sadar bahwa harapan yang kau berikan padaku hanyalah harapan semu yang membuatku semula berada diatas awan tiba-tiba jatuh terpelanting keras kembali ke bumi.”

            Taemin seketika membisu tidak bisa menyangkal ucapan Jieun yang sangat mengena dihatinya. Taemin sadar bahwa perbuatanya barusan telah menyakiti Jieun, Seungho, dan Suzy, walaupun Suzy tak menyaksikanya secara langsung. Taemin sadar benar jika Suzy mengetahui perbutanya yang kalap itu akan membuat gadis yang kini menjadi kekasihnya sedih dan kecewa. Sejenak terlintas dibenak Taemin, andai saja Jieun  mengetahui alasanya menjalin hubungan dengan Suzy, pasti Jieun akan mencoba mengerti keadaan dirinya sekarang.

            Dengan tanggap Jieun mengambil sehelai saputangan didalam tasnya dan segera menyumbat hidung Seungho yang masih mengeluarkan cairan bewarna merah pekat.

“Ayo Seung ho-shi kita pergi dari sini.” Jieun memopoh tubuh Seungho yang terlihat sedikit oleng dan perlahan beranjak pergi dari hadapan Taemin yang masih diburu mata-mata para pengunjung yang menatapnya tajam dan sinis.

            Taemin hanya menatapku dan Seungho pasrah yang kian menjauh darinya. Sambil memopoh tubuh Seungho aku menanyakan pertanyaan yang tiba-tiba terlintas diotakku.

“Seung ho-shi, kenapa kau nekad sekali tadi? Aku sampai takut hidungmu patah karena tinjuan Taemin.”

“Sebenarnya pukulanku tadi hanya gerakan reflek, aku juga tidak menyangka akan memukulnya sekeras itu, hehehhe,” Seungho menjawab pertanyaanku santai dengan cengiran khasnya.

“Mwo?! Hanya gerakan refleks? Lain kali kau harus pintar dalam mengendalikan dirimu. Jika tidak ingin hal ini terjadi padamu lagi,” Aku terheran-heran dengan jawaban santai Seungho yang menganggap masa bodoh kejadian di toko buku tadi.

“Ne…ne.. arayo Jieun aa,” Seungho mengiyakan.

            Sesaat suasana menjadi hening tak ada lagi pembicaraan diantara kami, aku kembali teringat dengan kelakuan Taemin di toko buku tadi yang seketika membuatku dilalap amarah sekaligus bingung. Kecupanya tadi membuatku semakin tidak bisa melupakanya dengan segera. Masih terbayang dibenakku tatapan mata Taemin saat menatapku lembut dan hangat, yang membuat seluruh tubuhku terkunci tak bisa memberontak.

“Miane Seung ho-shi,” kataku pelan dengan kepala tertunduk.

“Waeyo Jieun aa?” Seungho menatapku penuh tanda tanya.

“Gara-gara aku kau jadi terluka seperti ini.” Aku masih tertunduk lesu merasa sangat bersalah pada Seungho.

“Gwenchanayo Jieun aaa, tapi sebagai ganti kita batal nonton,  kau harus menemaniku makan sekarang. Aku tau kedai shusi yang enak disekitar sini.”

“Mwo? Makan? Disaat seperti ini kau masih berselera makan?” Aku terkejut mendengar ucapan Seungho yang sepertinya sudah benar-benar melupakan kejadian di toko buku tadi dan rasa sakit dihidungnya.

 “Hhehehe….., aku belum makan dari pagi, dan seluruh tenagaku sudah kupakai untuk meninju Taemin tadi. Jadi sekarang perutku sudah melilit tidak karuan,” sambil tersemyum nyengir, Seungho mengelus-ngelus perutnya yang sepertinya sudah menyanyi riang.

“Hasshhh, kau ini…. ada-ada saja…. benar-benar tak bisa membaca suasana.” Aku menatap Seungho dengan raut muka sedikit kesal sambil menggeleng-nggelengkan kepalaku.

“Yeee…. marah sih marah, tapi soal urusan perut aku tak mau kompromi,” ucap Seungho yang masih saja mengelus-ngelus perutnya.

            Aku hanya berdecak dan mengikuti langkah Seungho menuju restoran sushi. Tak jauh dari tempat kami semula, akhirnya aku dan Seungho tiba di depan restoran sushi. Dipersilahkanya kami masuk dan duduk oleh salah satu pelayan restoran sushi ini. Kemudian pelayan tersebut menyodorkan sebuah pamflet berisikan menu makanan yang tersedia, sejenak pelanyan tersebut diam menunggu pesanan yang akan kami pesan. Selang duapuluh detik akhirnya kami memutuskan memesan paket sushi salmon dan dengan sigap pelayan tersebut langsung mencatat pesanan yang kami pilih. Sambil menunggu pesanan kami datang, aku dan Seungho asyik mengobrol ria membicarakan topik-topik apa saja enak untuk dibahas dan sesaat membuatku lupa dengan kejadian di toko buku tadi.

Tak berapa lama kemudian pelayan tersebut membawa nampan yang berisikan pesanan kami, Seungho langsung menyambar sushi yang sudah dihidangkan diatas mejanya dengan rakus dan tidak lupa menghabiskan porsiku yang masih lumayan banyak tersisa. Belum cukup dengan satu setengah porsi sushi salmon, Seungho segera melambaikan tangannya pada seorang pelayan yang memberinya instruksi untuk cepat datang menghampiri Seungho. Dipesanya lagi dua porsi sushi salmon berukuran jumbo sekaligus, dan melalapnya cepat segera setelah pelayan tersebut mengantarkan pesananya. Aku hanya bisa menggelengkan kepalaku dan menetapnya bak seorang yang tidak makan selama berminggu-minggu. Setelah puas menyantap tiga setengah porsi sushi salmon, Seungho kini berganti menyambar minumanya yang langsung habis dalam sekali tegukkan. Akumenatap Seungho terheran-heran melihat Seungho yang hidungnya masih meninggalkan warna merah pekat yang perlahan mulai mengering.

            Setelah semua makanan dibabat habis oleh Seungho dan nyanyian diperutnya sudah tak terdengar lagi, mendadak Seungho menatapku penuh ekspresi keseriusan dan sorot mata yang tajam. Aku melihat ekspresi Seungho yang bertransformasi dengan cepat itu, langsung meundukkan kepala dan mendadak salting.

“Jieun aaa sebenarnya ada yang ingin kukatakan padamu, aku tak mau melewatkan kesempatan ini.” Seungho menatapku lurus-lurus dengan sorot mata yang masih sama.

 “Emm… i..iya katakan saja, jangan sungkan,” dengan gugup aku menjawab.

“Senarnya aku….” ucapan Seungho terputus yang membuatku semakin penasaran. Dan Seungho yang semula duduk berhadapan denganku, kemudian berdiri dan duduk di sampingku meminimalisir jarak diantara kami. Perlahan didekatkanya wajah Seungho ketelingaku yang seketika membuat warna pipiku merah padam, kemudian Seungho mulai berbisik lirih ditelingaku.

“Jieun aaa, aku hanya mengatakanya sekali jadi simak baik-baik ucapanku.”

            Pipiku masih bersemu merah dan mendadak aku merasa ada sebuah rahasia tersembunyi yang selama ini tersimpan di dalam hati Seungho. Kemudian aku menganggukmengerti dan segera menyiagakan telingaku supaya mendengar dengan baik ucapan Seungho.

Seungho mendekatkan wajahnya ketelingaku semakin dekat agar aku bisa mendengar dengan jelas apa yang akan dia katakan. Perlahan dibisikkanya sebuah kalimat singkat, sesingkat raut wajahku yang berubah menjadi keruh. Sebuah kalimat itu membuatku menatap Seungho tak percaya dan ingin mendengarkan lagi apa yang dia katakan. Seungho hanya tersenyum simpul melihat ekspresi wajahku yang terlihat bingung. Aku sama sekali tak mengira Seungho akan mengucapkan sebuah kalimat yang selama ini hanya menjadi rahasia hatinya.

“Saranghae.”

-To Be Continued-

Annyeong chingu2 ^^

Heheheh ff ini adalah ff yang pertamakali aku buat jadi mohon maklum kalau cerintanya sedikit berantakan 😛

Eh iya ff ini sudah pernah aku publish di pesan facebookku sama blogku yang dulu heheeh *gk nanya thor *plak 😀

oke saran dan pendapat kalian sangat d butuhkan buat ff ini and be a good reader yahh ^^
Jangan lupa like sma komen-nya ^^ *ngarep

 

 

 

Advertisements

19 responses to “STILL WAIT YOU SAY (Chapter 1)

  1. aku pernah searching ini sebelumnya, ternyata sekarang di pub disini.
    lumayan menarik ceritanya. tapi kurang paham sama sikap taemin. errr kalo aku jadi jieun juga udah kesel di gantungin gitu. ah bener ternyata seungho suka jieun. penasaran sama alasan taemin pacaran sama suzy.
    untuk penulisan aku agak bingung yang flashback, diawal ada kata flashback lalu 2 year later, terus flashback end. dan ada POV author yang kecampur sama POV jieun kekeke.
    next part update soon!

  2. duh, taemin plinplan banget sih. suka sama jieun tapi cuma tatap2an doank, ga pernah ngungkapin, ya mana jieun bisa ngerti. aishhh =,=”
    btw alesan taemin pacaran sama suzy apa ya? penasaran nih, belum lagi seungho yg ngungkapin cinta. aigoo~

    • hehheeh iya nih emang Taemn d sini plin plan banget >.< sma Suzy iya sama Jieun juga' iya ~aigoo

      Okeh deh chingu buat pertanyaannya aku jwab d next part nya aja yah ^^

  3. suka ceritanya^^ kesian Jieun tapi Jieun enak juga.. disukain 2 cowok kece badai skaligus XDD
    kkk… aku langsung baca part 2 nya deh…ppai ppai :3

    • hheeheh gomaweo chingu udh mau baca ff beginian ini… author jdi terharu T_T *plak alay lu thorr

      Ho’oh tuh enak banget jdi Jieun jdi rebuatn cowok keyren2 ~kkkkkkkkk tpi gk enak juga sih cz d sakitin mulu ma si Taemin ehhehh 😀

      okeh chingu langsung ajah baca yg part 2 yahh ^^^

  4. Pingback: STILL WAIT YOU SAY (Chapter 3 – END) | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s