Wish Granter Song [1st Wish]

Title: Wish Granter Song [1st Wish]

Author: heeShinju

Genre/Length/Rate: Fantasy-Comedy/Series/PG

Cast: SM Town – f(x) Victoria, Luna, Sulli.

Disclaimer: Cerita ini hanya omong kosong yang kuharapkan dapat menghibur kalian.

HAPPY READING AND WELCOME TO MY WORLD

 

1st Wish: Victoria Song, Sang Pengabul Permohonan, dan Mikiam, Asistennya yang Kikuk

***

Saat langit berwarna merah, memohonlah… maka akan kukabulkan…

***

“Kau sudah dengar?” bisik seorang siswi yang duduk di pojok belakang ruang kelas dengan nada bersemangat.

“Sudah, sudah, tentang ‘itu’, kan?” timpal dua orang temannya, tidak kalah bersemangat.

“Eh? Apa? Apa ‘itu’ itu?” seorang siswi yang lain memasang tampang bingung.

“Haaaah??! Kau tidak tahu? Ya, ‘itu,’ dong!” sambut teman-temannya dengan nada ke-mana-saja-dirimu.

“Makanya, beritahu aku apa ‘itu’ itu?” desak siswi tersebut.

“Anak-anak klub peneliti ilmu hitam—”

“Ssst!! Suaramu terlalu keras!!” seorang dari mereka memperingatkan.

“Maaf, maaf…”

“Teruskan, jadi, kenapa dengan mereka?” tanya siswi yang penasaran.

“Mereka semua tidak masuk hari ini.”

“Ketiga-tiganya?” ia mengkonfirmasi.

“Benar, ketiga-tiganya,” siswi sumber gosip tersebut mengangguk.

“Dasar, kukira ada apa. Kalau cuma itu, kan biasa, mereka kan memang anak-anak nakal.”

“Kalau sekedar tidak masuk sekolah, sih, pasti tidak akan jadi gosip… kan?” bisik si narasumber dengan nada horor.

“Benar, benar.”

“Lalu?”

“Kudengar mereka menghilang…”

“Menghilang?”

“Benar… hilang, lenyap, tidak ada…”

“Apa mereka kabur dari rumah?”

“Bukan! Belakangan ini mereka selalu tinggal di sekolah hingga malam untuk menyelidiki salah satu legenda kota ini—”

“Ah, maksudmu tentang permohonan pada langit merah itu?”

“Ish, kau ini, dari tadi terus saja memotongku bercerita. Bukan itu yang akan kukatakan, dengarkan dulu, kenapa, sih?” ujar si narasumber sebal.

“Sori, sori. Jadi, legenda yang mana?”

“Tentang game setan yang meminta tumbal.”

“Setan? Gila, yang benar saja!”

“Aku juga mulanya tidak percaya, ya, kan?”

“Aku juga!”

“Aku juga tidak percaya!”

“Game ini hanya bisa dimainkan mulai pukul enam sore sampai enam pagi. Katanya siapa pun yang memainkan game itu pada tengah malam, dia akan dibawa ke dunia setan.”

“Ah, yang benar saja?”

“Ini benar! Dengar, salah satu anak klub itu adalah teman sekelasku. Selama dua hari belakangan ini wajahnya pucat. Saat kutanyakan, dia bilang dia harus menyelamatkan temannya dari cengkeraman setan.”

“Maksudmu?”

“Jadi, saat hari pertama mereka memainkan game itu di ruang komputer sekolah, salah satu teman mereka tersedot masuk. Saat itu, sesosok setan keluar dan berkata, kalau mereka memenangkan game itu, mereka bisa mendapatkan kembali teman mereka.”

“Lalu?”

“Jadi, besoknya mereka berdua bermain lagi, tapi kali itu pun mereka kalah dan satu lagi tersedot masuk, tinggallah anak yang sekelas denganku yang selamat.”

“Apa dia tidak hanya mengada-ada?”

“Tapi, hari ini dia juga tidak masuk sekolah…”

“Mungkin dia masuk angin?”

“Kau gila? Sekarang ini musim panas! Hanya orang tolol yang bisa masuk angin pada musim panas!”

“Lagi pula, tadi saat aku melewati ruang kepala sekolah, aku melihat orang tua mereka. Itu berarti mereka juga menghilang dari rumah, kan?”

“Benar, aku yakin ini bukan bohongan…”

“Berarti, kalau ingin mereka selamat, harus ada yang memainkan game itu dan menang, begitu?”

“Sepertinya—”

Tuk! Tuk! Tuk! Bugh!—tiga batang kapur tulis disertai satu buah penghapus papan tulis telak mengenai kepala keempat siswi yang sedang asyik bergosip di sudut kelas tersebut. Siapa lagi yang melempar kalau bukan guru matematika mereka yang galak?

“Hei, kalian berempat! Tidak dengar bel sudah berbunyi? Buka buku matematika kalian halaman 43 dan kerjakan! Oh, ya, kembalikan penghapus papan tulis itu kemari!”

“Baik, Saem,” gumam empat siswi bandel itu serentak.

Seorang siswi bernama Luna menatap kejadian itu sambil tersenyum diam-diam di balik buku matematikanya. Dasar penggosip, batinnya.

***

“Sonbae, ayo kita pulang, sudah hampir jam enam sore, sekolah juga sudah sepi,” keluh Sulli sambil berkali-kali melihat sekelilingnya, merinding.

“Sudah, diamlah, matahari juga masih tinggi di langit, ini kan sudah hampir pertengahan musim panas,” Luna mengacuhkan keluhan adik kelasnya itu dan terus melangkah menuju lab komputer.

“Memangnya Sonbae ketinggalan barang apa, sih, di lab komputer?” Sulli memainkan rambut panjangnya yang dikuncir dua untuk mengabaikan rasa takutnya.

“Hehehe…” Luna tersenyum jahil, “Maaf, ya, aku berbohong!”

“Apa?!” Sulli terperanjat.

“Begini, Sulli, kau tahu, kan gosip yang beredar belakangan ini?”

Sulli langsung menyadari arah pembicaraan Luna dan dengan sekuat tenaga berusaha menarik sonbae-nya itu pulang. Luna hampir saja terjerembab dan terseret jika tidak segera menyambar ambang pintu. Sulli boleh saja adalah juniornya, tapi tubuh Luna jauh lebih kecil dari pada Sulli dan tentu saja juga kalah tenaga.

“Nggak mau! Pokoknya, nggak mau!! Gosip itu terlalu mengerikan!! Bagaimana kalau itu benar?” jerit Sulli.

“Makanya, kita harus membuktikan bahwa gosip itu tidak benar!”

“Tapi bukan dengan mencoba game itu sendiri, kan?”

“Tidak sendiri, kok. Kita, kan, berdua,” sengir Luna.

“Kyaaaa!!! Nggak maaaauu!! Kenapa aku juga diseret-seret?”

“Kau harus membantuku, kalau aku terhisap dalam game itu, kau yang harus mengeluarkanku.”

“Sonbae, ini benar-benar tidak masuk akal!”

“Jadi, kau lebih senang kalau aku benar-benar lenyap?”

“Eh?”

“Kalau itu terjadi… aku… aku…” Luna menunduk, berpura-pura sedih.

“Aduuuh, maksudku bukan…” Sulli mulai tersudutkan.

“Aku akan menghantuimu seumur hiduuuuupp!!” Luna membuat ekspresi wajah mengerikan dan memeluk Sulli.

“Kyaaa!!! Baiklah, baiklah!” Sulli akhirnya menyerah.

Luna tersenyum puas, menarik Sulli masuk dan menutup pintu lab tersebut, kemudian menyalakan salah satu dari komputer sekolah.

“Sonbae, aku hanya akan menemanimu, lho. Aku paling tidak bisa menghadapi hal-hal seram, pokoknya kalau kau tersedot ke dunia setan, aku tidak bisa memainkan game ini untuk menolongmu,” rengek Sulli.

“Hmm, kalau begitu, kau memohon saja pada langit merah seperti legenda, dengan begitu kita akan membuktikan dua legenda sekaligus. Wah, kita akan terkenal!” Luna menanggapi setengah hati, jari-jarinya sibuk mengetik alamat situs game yang digosipkan itu.

“Sonbae, yang se—kyaaaa!!! Apa itu??” Sulli langsung menutup matanya begitu layar di hadapan mereka menunjukkan grafik yang sangat real dari sebuah kastil berhantu.

“Wah, grafiknya hebat sekali, seperti sungguhan, pantas saja game ini digosipkan yang aneh-aneh,” kebalikan dari reaksi Sulli, Luna malah berdecak kagum tanpa berkedip.

WELCOME

Huruf-huruf merah dengan aksen tetesan darah bermunculan satu persatu di layar.

To STYX The Castle

Once you get in, you must find the way out… else, your soul will be mine…” baca Luna. “Kyaaa, menarik sekali! Baiklah… enter!” ujarnya sambil menekan tombol enter dengan semangat.

“Sonbae! Sudahlah, hentikan, perasaanku tidak enak!” rengek Sulli yang sama sekali tidak dipedulikan oleh Luna.

“Wow…” desah gadis itu saat grafik di layar komputer menunjukkan gerbang kastil yang terbuka dan seolah-olah ada kamera bergerak yang menuntun mereka masuk. Begitu layar komputer memampangkan bagian dalam kastil yang bernuansa gelap, terdengar suara dentang jam dari game tersebut.

“Kyaa! Apa itu? Suara apa itu?” Sulli yang sudah paranoid memeluk lengan Luna erat-erat.

“Selama jam berdentang, carilah petunjuk misimu, jika dentang berhenti, semua setan akan keluar dan memburumu… Sulli, lepaskan tanganku, aku jadi sulit menggerakkan mouse, nih! Aku harus segera mencari petunjukku!”

“Game ini sangat mengerikan, efek suaranya benar-benar seperti nyata!”

“Pembuatnya pasti seorang jenius! Bisa-bisa dia akan mengalahkan perusahaan-perusahaan game besar di negara ini—ah, sial! Dentang jamnya berhenti, kya!”

“KYAAA!!” jerit Sulli begitu sosok zombie muncul di layar komputer.

“Astaga! Suaramu keras sekali, bisa-bisa aku tuli gara-garamu!” seru Luna kaget.

“Habis, habis, zombie itu kelihatannya akan keluar dari layar!” Sulli mencoba membela diri.

“Tentu saja dibuat dengan efek 3D, biar game ini semakin seru, bukan? Huh… cepat, cepat, aku harus kabur, ke mana sebaiknya?” Luna menekan panah maju pada keyboardnya sambil menghindari berbagai sosok zombie yang mulai muncul.

“Sonbae, jangan ke bawah tanah! Pasti lebih menyeramkan!” Sulli meneriakkan saran-saran. “Aaah, aku tidak mau melihat!!” Sulli melebarkan telapak tangannya di hadapan wajah, menghalangi sebagian besar layar komputer namun masih tetap bisa melihat bagian atas dan bawah layar tersebut, bagaimana pun akhirnya dia juga penasaran.

Saat itu lah, Sulli melihat icon yang menarik perhatiannya di kedua sudut atas layar permainan tersebut.

“Sonbae, icon apa ini?” tunjuk Sulli.

“Nyawaku bukan? Nyawa yang kumiliki sebelum game over pada game ini, itu kan icon biasa,” jawab Luna tanpa benar-benar memperhatikan.

“Yang sebelah kiri iya, tapi coba lihat yang sebelah kanan ini…”

“Aduh, tidak bisa, aku sedang berkonsentrasi menghindari zombie-zombie ini!”

Sulli mengacuhkan seruan kesal Luna, perhatiannya terpusatkan sepenuhnya pada icon di sebelah kanan atas tersebut. Icon itu tampak seperti sebuah tangan tengkorak yang menggenggam sesuatu. Di bagian bawahnya tertulis empat huruf latin.

“So… soul?” ejanya pelan, tidak percaya diri dengan kemampuan berbahasa Inggrisnya. “Sonbae, apa artinya soul?”

“Jiwa,” jawab Luna singkat, dia masih fokus pada game-nya.

“Jiwa…? Eh, bagaimana tadi peringatan pada awal game ini? Else… else, your soul will be mine…? Jiwa… jiwamu akan menjadi milik… ku?” suara Sulli perlahan makin lirih.

“Begitulah kira-kira artinya,” Luna masih saja fokus pada game di depannya.

Sulli menatap icon itu dengan mata terbelalak. Diperhatikannya apa yang berada dalam genggaman tengkorak itu. Sesaat dikiranya itu ular berwarna merah, kemudian dia sadar itu adalah angka tiga yang meliuk-liuk.

“Tiga…? Tiga jiwa… anak-anak klub peneliti ilmu hitam…” tanyanya pada dirinya sendiri.

Seolah menjawab pertanyaan itu, wajah ketiga orang itu muncul pada layar. Sayangnya, mereka muncul dalam wujud menyeramkan dan membusuk—zombie.

“KYAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”

Kali ini Sulli tidak berteriak sendirian, Luna juga menjerit dan melompat mundur menjauhi layar komputer.

“Apa itu? Apa itu??” Sulli sudah hampir menangis.

“… long…”

“Sulli, tenanglah! Mereka mengatakan sesuatu!” Luna membekap mulut Sulli.

“Tolong kami… tolong kami…” rintih tiga zombie itu dari dalam layar.

“A… apa?” Sulli merasakan kakinya lemas bagai agar-agar.

Luna mendekati komputer lagi setelah mengumpulkan keberaniannya, “Kalian… anak-anak klub penelitian ilmu hitam?”

“… tolong kami… tolong kami…” ketiga zombie itu mengulurkan tangan mereka.

Luna mengulurkan tangannya perlahan.

“Sonbae!” tahan Sulli. “Apa yang kau lakukan? Jangan, ini sudah melebihi batas!”

“Tapi, mereka benar-benar terkurung… kita harus menarik mereka keluar, kan?”

“… tolong kami… tolong…”

Luna maju perlahan hingga ujung jemarinya menyentuh layar itu dan… sepasang tangan hitam, kurus, dan berkuku panjang keluar dari layar itu, menyambar pergelangan tangan Luna.

“KYAAAAAA!!” jerit kedua gadis itu.

“Tidaaaak!! Sulli, tolong aku, tolooooong…!”

Dan sebelum Sulli bisa menggerakkan satu pun sel tubuhnya yang membeku karena takut, kaki Luna terangkat dari lantai dan tubuhnya pun terisap masuk dalam layar, beserta jeritannya yang memanggil-manggil nama Sulli. Sulli merosot ke lantai, matanya terbelalak melihat layar komputer yang berubah hitam total, melatarbelakangi gambar tangan yang membesar, menggenggam angka tiga yang meliuk berubah menjadi angka empat. Terdengar suara tawa paling menyeramkan yang tidak pernah Sulli dengar selama ini, bahkan dalam bayangannya sekali pun. Tawa itu membuat bulu kuduknya meremang, sekaligus menyadarkannya kembali bagaimana cara menggerakkan kakinya. Sambil terseok dan berkali-kali terjatuh, Sulli akhirnya berhasil berlari keluar dari lab komputer, keluar dari gedung sekolahnya.

Sulli, tolong aku, tolooooong…!

Sulli merasakan wajahnya basah oleh air mata dan keringat ketika dia mendongak dan melihat langit senja berwarna merah terbentang di atas kepalanya.

Saat langit berwarna merah, memohonlah… maka akan kukabulkan…

“KUMOHON, TOLONGLAH LUNAAAA!!!” jerit Sulli pada langit sebelum akhirnya pandangannya menggelap dan tubuhnya jatuh mencium bumi.

***

Dimensi Netral.

Sebuah dimensi yang terdapat di antara berbagai dunia—Dunia Manusia dan Dunia Iblis, Dunia Atas dan Dunia Bawah, Dunia Kehidupan dan Dunia Kematian, Surga dan Neraka, dan berbagai dunia misterius lainnya yang dipeluk oleh Bunda Alam Semesta. Dimensi yang sejatinya tak memiliki bentuk pasti, tetapi terlihat berbeda-beda setiap hari oleh pemilik mata yang beruntung dapat memandangnya. Dimensi tempat pelangi bisa didaki dan awan bisa dipijak. Dimensi tempat kau tidak bisa berpegang pada hal-hal umum yang selama ini kau ketahui.

Dan di dimensi itulah, terdapat sebuah bangunan. Bagaimana aku dapat menjelaskannya padamu, ya? Karena, seperti halnya Dimensi Netral, bangunan itu akan terlihat berbeda bagi tiap orang. Hmm… bagiku, bangunan itu terlihat seperti puri benteng kuno yang seperti bidak catur—maka dari itu aku akan menyebutnya puri, tapi bagimu bisa saja terlihat seperti gedung bertingkat yang mentereng. Temboknya telihat kusam dan dipenuhi lumut dan tanaman merambat bagiku, tapi mungkin bagimu terlihat seperti dinding kaca yang berkilau. Yah, bagaimana pun bentuknya, bangunan itu hanya memiliki satu arti yang sudah dikenal luas—setidaknya bagi orang-orang yang berasal dari duniaku. Tapi, kurasa kau tidak tahu bangunan apa itu. jadi, apa boleh buat, biar kuberitahu padamu.

Bangunan itu adalah Kantor Sihir Pengabul Permohonan.

Apa, katamu? Apa itu Kantor Sihir Pengabul Permohonan? Wah, susah juga kalau kau tidak tahu… Hmm, baiklah, mari kita masuk dan kau bisa lihat sendiri nanti tempat seperti apa itu.

“Mikiam! Mikiaaam!” seorang wanita bergaun hitam bertali-tali di bagian punggungnya sedang mondar mandir di dalam sambil berteriak-teriak. “MIIIIKIAAAAAM!!! Dasar, ke mana sih anak itu?”

“Mungkin dia sedang tidur siang lagi?” ujar boneka kayu yang duduk di bahu wanita itu.

“Mikiam! MIKIAM!!” wanita itu terus memasuki satu demi satu ruangan dalam purinya sambil menyerukan nama orang yang dicarinya. “MIKIA—”

“Iya, aku di si—gyaaa!!”

Bugh! Bruk! Bruaaaak!

Mendengar suara itu, wanita itu langsung berlari menuju salah satu ruangan, membuka pintunya dan langsung melihat orang yang dicarinya—atau lebih tepatnya hanya melihat kakinya yang menyembul keluar dari gunungan buku-buku yang menguburnya.

“Di sini kau rupanya,” celetuk si wanita, bibirnya tertarik ke bawah.

Karena kalian tidak bisa melihat apa yang tertulis dan cerita ini juga bukan buku bergambar, maka tugaskulah untuk menjelaskannya. Wanita bergaun hitam yang dari tadi mencari-cari Mikiam ini adalah Victoria Song, sang pengabul permohonan, yang dikenal juga sebagai Wish Granter Song, atau singkatnya, Granter Song. Sekarang dia sedang menunjukkan ekspresi judes, tetapi jika tersenyum, wajahnya cantik sekali. Matanya besar dan bola matanya hitam, hidungnya mancung, dan rambutnya yang panjang berwarna cokelat gelap dengan sedikit semburat merah pada poninya. Rambut itu biasanya diikat menjadi kuncir kuda tinggi di belakang kepalanya.

“Ketemu! Ketemu! Yeeeei!!”

Nah, yang bersorak itu adalah boneka kayu yang bertengger di bahu Victoria. Jika kau pernah melihat boneka kayu yang digunakan untuk pertunjukan boneka tali, maka tidak akan sulit membayangkan rupanya. Nama boneka kayu yang mengenakan kemeja putih, celana pendek biru, dasi kupu-kupu merah, topi, dan sepatu itu adalah Pinocchio. Dan tentu saja, hidungnya panjang.

“Ad—du, du, duh! Tolong akuuu!”

Dan yang mengaduh dengan suara hampir menangis itu adalah Mikiam yang dari tadi dicari-cari oleh Victoria. Sebentar, karena sekarang ia sedang tertimbun buku-buku dan debu, maka aku belum dapat menceritakan sosoknya pada kalian.

“Hhh, benar-benar, deh! Apa yang kau kerjakan, sih?” Victoria menjentikkan jarinya dan buku-buku itu kembali ke rak-raknya.

“Te, terima kasih, Missus Song,” ucap Mikiam dari tempatnya terbaring.

“Song memang hebat, tidak sama dengan bocah ceroboh itu… ya, kan, Song?” tentu saja itu adalah Pinocchio yang berbicara.

“Siapa yang kau bilang bocah, hah!!?” dan ini adalah amukan Mikiam yang akhirnya bisa membangunkan dirinya dari lantai sembari mengibas-ngibaskan debu yang menempel di bajunya.

Nah, sekarang setelah dia tidak lagi tertutup debu, jadi lebih mudah untuk melihatnya. Sosoknya adalah gadis kecil berumur 12 tahun. Rambutnya tipis, berwarna hitam, dan panjang, berpotongan shaggy dan terurai di bawah topi wol yang selalu dipakainya. Dia memakai hoodie pink lengan panjang yang longgar, bagian bawah kaus itu tergantung sekitar 5 cm di atas lututnya, bahkan nyaris menutupi celana pendek hitam yang dikenakannya. Di bahunya tersandang tas selempang berwarna abu-abu gelap dan tampak lusuh yang ditempeli berbagai macam pin berbagai ukuran dan rantai. Belum lagi stocking bergaris-garis melintang hitam dan putih, serta long boots hitam yang dikenakannya, membuat penampilannya cukup nyentrik sebagai tokoh utama.

Ya, setelah pembukaan yang panjang, walau pun muncul dari bawah timbunan buku-buku serta memberi kesan pertama yang ceroboh, tapi gadis ini lah tokoh utama cerita kita, Mikiam, yang sekarang sedang magang di Kantor Sihir Pengabul Permohonan sebagai asisten Victoria Song.

“Sudah, jangan bertengakar! Telingaku tidak sanggup mendengar kalian berdua saling menjerit-jerit begitu,” Victoria menghentikan pertengkaran boneka versus asistennya itu.

“Ah, maaf, Song, aku lupa kau sudah tua dan telingamu sudah tidak sekuat dulu, fufufufuuuu,” kekeh Pinocchio. “Akh! Maaf, maaf, aku hanya bercanda, turunkan akuuu!” Victoria mengikat Pinocchio dan menggantungnya di kasau perapian.

“Haha, rasakan itu, boneka jelek—eh, tidak, maafkan aku, Missus Song,” Mikiam buru-buru menghentikan tawanya ketika Victoria berbalik melotot padanya. “Ada apa tadi mencariku?”

“‘Ada apa?’ Sudah jelas untuk menyuruhmu, kan?!” Victoria mulai mengomel dengan nada jangan-berani-berani-menyela-apalagi-membantahku dan Mikiam otomatis mengambil posisi duduk bersimpuh di lantai di hadapan bosnya itu. “Kau ini asistenku, jadi sudah sewajarnya aku mencarimu untuk kusuruh-suruh, bukan? Kau harus melayaniku dan mematuhiku.”

Itu, sih, namanya bukan asisten, tapi budak, batin Mikiam manyun sambil sedikit memalingkan muka agar Victoria tidak melihat ekspresinya.

Victoria mulai mencak-mencak sambil mondar-mandir, “Kau harus mengerjakan yang kutugaskan dan tidak perlu mengerjakan yang tidak kutugaskan. Seperti pagi ini, aku tidak ingat menyuruhmu berada di perpustakaanku, apa yang kau lakukan di sini?”

“Anu… itu…”

“Apa kau bermaksud membaca? Memangnya kau bisa membaca buku-bukuku yang sulit?”

“Tidak juga, tapi…”

“Gyaaa! Panaaas, tolong akuu!” jerit Pinocchio dari perapian.

“Ah, kau bermaksud membereskannya? Tapi, saat menemukanmu tadi kau malah ada di bawah timbunan buku dan ruangan ini malah terlihat lebih berantakan, bukan?”

“I… itu… karena…” aku jatuh, kan, karena Missus Song memanggilku sehingga aku jadi buru-buru, jelas Mikiam dalam hati.

“Karena apa?”

“Ah, tidak… bukan apa-apa,” elak Mikiam.

NGUIIIIIIIIING! TETOOOT TETOOOOT! GROOOK!!

Bunyi aneh itu bergaung ke seluruh sudut puri, menghentikan omelan Victoria, walaupun tidak menghentikan rengekan Pinocchio dari tempatnya tergantung-gantung.

“Ck, di saat seperti ini, kenapa ada klien, sih?” gerutu Victoria.

“Huuuaaa, sebentar lagi talinya terbakar! Aku akan jadi Pinocchio gosong!”

“Turunkan Pinocchio, Mikiam, lalu susul aku ke ruang praktik, sekarang juga,” perintah Victoria sambil keluar.

Alarm memekakkan itu masih terus saja berbunyi.

NGUIIIIIIIIING! TETOOOT TETOOOOT! GROOOK GROOOOOK!!

“Anuuu, Missus Song, kupikir harusnya kau matikan dulu alarm sihirmu ini. Atau setidaknya ganti bunyinya dengan sesuatu yang lebih wajar. Di alarm ini bahkan ada bunyi yang terdengar seperti suara babi,” usul Mikiam.

NGUIIIIIIIIING! TETOOOT TETOOOOT! GROOOK!!

“Tapi percuma aku ngomong begini, ya. Missus Song sudah keluar dari tadi, aku hanya berbicara sendiri,” Mikiam menambahkan pada dirinya sendiri. Dasar, sudah tahu yang diajak ngomong sudah meninggalkan ruangan dari tadi, bukannya dikejar dulu baru ngomong, kek. Dasar Mikiam!

“Oooii, Miki, dari pada mengomentari itu, aku masih tergantung di sini, nih!” jerit Pinocchio.

“Pino-chin? Iya, iya, kuturunkan sekarang. Salah sendiri tadi mengolok-olok Missus Song,” ucap Mikiam sambil melepaskan ikatan Pinocchio.

Kemudian, setelah mendudukkan Pinocchio di bahunya dengan aman, Mikiam pun menyusul Victoria ke ruang praktik, tempat mereka akan mendengarkan permohonan klien dan mengabulkannya. Dan klien mereka kali ini adalah…

“Heeee… apa ini?” tanya Mikiam begitu melihat Sulli yang terbaring di karpet ruang praktik Victoria.

“Kenapa gadis manusia bisa datang ke kantorku?” Victoria bertanya heran pada diri sendiri.

“Waah, jadi ini makhluk yang namanya manusiaaa? Manisnyaaa, aku baru sekali ini melihat manusia langsung dari dekat begini,” komentar Mikiam, langsung heboh menandak-nandak mengitari Sulli. “Tapi, kenapa dia tidur?” herannya.

“Dia bukan tidur, bodoh, ini namanya pingsan,” cetus Pinocchio.

“Ooh, jadi ini, ya, yang namanya pingsan? Aku baru sekali ini melihatnya. Eh, tapi, kalau begitu bagaimana dia bisa memberitahu permohonannya pada kita, ya?” tanya Mikiam.

“Yah, pertama-tama dia harus disadarkan,” ujar Pinocchio.

“Disadarkan?” Mikiam berjongkok di sisi Sulli, lalu menowel-nowel lengannya. “Hei, hei, gadis manusia, ayo bangun.”

“Hhh, dasar Miki bodoh, mana bisa bangun hanya dengan begitu?” Pinocchio menggeleng-geleng.

“Ming-gir ka-li-an,” Victoria tidak sabar lagi melihat tingkah asisten dan bonekanya yang bodoh. Dia mendekat sambil menggertakkan kepalan tinjunya. “Biar kutinju dia sampai sadar. Beraninya membuat permohonan lalu pingsan seenaknya, membuang-buang waktuku saja. HIYAAAAHH!!!”

BUUM!—puri bergetar dan lantai tempat tubuh Sulli seharusnya berada berlubang. Untunglah Mikiam berhasil menyeret Sulli tepat pada waktunya.

“GYAAA!! Lantainya! Lantainya!” Pinocchio tertiup angin ledakan dan sekarang dia bertengger di kandelar.

“Yang benar saja, Missus Song, kalau diberi pukulan seperti itu dia malah akan matiii!!!” seru Mikiam panik.

Victoria tidak mendengarkan, malah bersiap untuk pukulan kedua.

“Aku mengerti, aku mengerti! Biar aku saja yang membangunkannya, Missus Song santai saja, oke?” ujar Mikiam.

“Tiga detik!” Victoria memberi waktu. “Satu!”

“Hyaaa! Gadis manusia! Cepat banguuuun, nanti dipukul Missus Song lagiiii!!” Mikiam mengguncang-guncangkan tubuh Sulli.

“Dua!”

“Bagaimana iniii?? Maafkan aku, aku harus menamparmuuu!” plak—Mikiam menampar pipi Sulli.

“Ti…ga!”

“BANGUUUUUUUUN!!” Mikiam berteriak sekuat tenaga di telinga Sulli dan untunglah, usaha terakhirnya itu berhasil, Sulli membuka matanya.

“Uuukh,” keluhnya.

“Syu—syukurlaaah, kau tidak jadi matiii,” tangis Mikiam heboh sambil memeluk Sulli.

Kaget karena dipeluk, Sulli tampak langsung sadar sepenuhnya, “Ma—mati? Maksudnya? Memangnya aku di mana?”

“Tadi kau pingsan, Nak, untunglah asistenku berhasil menyelamatkanmu,” Victoria memasang senyum profesionalnya dengan tebal muka, padahal tadi dia yang hampir membuat Sulli ke alam baka dengan tinjunya.

“Aku… pingsan?”

“Benar. Nah, katakan padaku, apa permohonanmu?” tanya Victoria.

“Permohonan?” Sulli masih tampak bingung. “Akh! Jadi, legenda itu benar? Kalau aku memohon pada langit merah, permohonanku benar-benar akan terkabul?” Sulli menyambar lengan Victoria.

“Tergantung, asal ini benar-benar permohonan yang tulus dari hatimu serta tidak melanggar aturan-aturan sihir sialan YANG MENGIKATKU ITUUU!! GRRR!!” Victoria hanyut dalam emosinya, dalam sekejap tampak seperti medusa dengan helaian rambut yang menari-nari liar dan mata bersinar merah.

“Missus Song, Missus Song, ini di depan klien, lho,” Mikiam mengingatkan.

Victoria tersadar dan langsung kembali memasang wajah profesionalnya, berdeham, “Jadi, apa permohonanmu?”

“Tolong, kumohon selamatkan sonbae-ku,” pinta Sulli, memberanikan diri padahal sudah hampir pingsan lagi akibat wajah medusa Song.

“Sonbae?” ulang Mikiam.

“Maksudnya, kakak kelasnya,” Pinocchio menjelaskan dari tempatnya masih tersangkut.

“Kalau kau memintaku menyelamatkannya dari pacarnya yang membawanya kawin lari, aku menolak,” ucap Victoria sok tahu.

“Eh?” Sulli terlihat bingung menghadapi sikap Victoria yang meledak-ledak itu.

“Anu, Missus Song, dia bahkan belum mengucapkan permohonannya, kan?” Mikiam menengahi. “Anuu, nona manusia, jangan pedulikan sikap Missus Song, ya. Begini-begini juga, Missus Song itu penyihir hebat, dia pasti bisa menyelamatkan sonbae-mu itu dari… eh, dari apa?” tanya Mikiam pada Sulli.

“Dari dunia game,” jawab Sulli.

“Dunia… game?” tanya Mikiam bingung.

“Itu permainan yang dimainkan manusia di kotak ajaib yang mereka namakan komputer,” Pinocchio menjelaskan sambil melompat turun dari kandelar ke bahu Victoria.

Sulli menceritakan secara ringkas apa yang terjadi pada dirinya dan Luna di sekolahnya petang itu. Selama dia bercerita, Mikiam perlahan-lahan melangkah mundur menuju pintu dengan wajah pucat dan akhirnya, setelah Sulli selesai bercerita, Victoria menghela nafas.

“Hhh, kukira ada hal serius apa sampai-sampai kau pingsan segera setelah memohon, ternyata hanya begini saja,” Victoria melambaikan tangannya dengan malas.

“Ini serius! Kalau sonbae mati bagaimana?” ucap Sulli tersinggung.

“Aku tidak bilang aku tidak akan mengabulkannya. Nah, bagaimana dengan bayarannya?” Victoria menyilangkan lengan dan duduk seenaknya di kursinya.

“Bayar?” ulang Sulli.

“Tentu saja bayar! Memangnya kau kira aku ini Ibu Peri?!” Victoria menggebrak mejanya. “Yah, kau akan kuberi diskon karena bukan aku yang akan turun tangan langsung. Yang begini, sih, asistenku saja sudah cukup,” Victoria menjentikkan jarinya. “Mikiam, mau ke mana kau?”

“Hiiiih!” Mikiam, yang hanya tinggal selangkah lagi menuju pintu keluar, tertarik mendekat. Ia merepet secepat kilat dalam satu tarikan nafas, “Missus Song, aku masih harus mengepel, menyikat kamar mandi, menyiram bunga, membersihkan jendela, membersihkan langit-langit, membetulkan genteng, memberi makan laba-laba, menggosok kulit ular, memeriksa kunci-kunci, dan… dan…”

“Kau lupa menyebutkan ‘memperbaiki lantai yang berlubang’ ini,” Victoria menunjuk lubang di lantai yang disebabkan olehnya sendiri tadi.

“Ya! Ya! Aku masih punya baaaanyak tugas, Missus Song,” Mikiam mengangguk  bersemangat, apa saja boleh asalkan jangan disuruh pergi ke kastil berhantu.

Harap maklum, walaupun puri mereka tergolong puri kecil, namun yang menetap di sana hanyalah Victoria, Pinocchio, dan Mikiam, serta kadang-kadang ada beberapa tamu yang menginap. Maka dari itu, semua pekerjaan rumah dikerjakan oleh Mikiam.

“Itu bisa kau kerjakan nanti, sekarang pergilah ke dunia game itu dan kalahkan setan di sana, lalu selamatkan si Luna ini,” perintah Victoria.

“Mustahiiiil, aku takut pada zombie, hantu, dan semacam ituuu,” Mikiam meronta-ronta, tetapi percuma saja karena sihir Victoria membuatnya tidak bisa kabur.

“Wahahaha, Miki penakut,” olok Pinocchio.

“Ck, Mikiam, ini misi pertama yang kuberikan padamu, lho, bukankah kau sudah menunggu-nunggu tibanya hari ini? Lagi pula, kau tidak sendiran, kok. Pinocchio akan menemanimu.”

“EEEHH??!” Pinocchio berhenti tertawa.

“Iya, tapi, kan, tapi, kan, bukan misi semacam ini! Aku membayangkan misi seperti membantu nenek-nenek menyeberang, membersihkan taman, atau semacam itu!”

“Kau pikir aku pembina pramuka, hah????” tanya Victoria dengan sarkastis.

“Nggak mau, nggak mau, nggak mau, nggak mau, nggak mau, nggak mau, nggak mau, nggak mau, nggak mau,” Mikiam terus menjerit-jerit.

Victoria menghela nafas, lalu berkata dengan nada yang lebih lembut, “Kalau kau nggak mau, permohonanmu pun akan semakin sulit untuk kukabulkan, lho…”

Mikiam sontak menghentikan jeritan nggak-mau-nggak-mau-nya, “Permohonan… ku…?” ulangnya dalam gumamaman.

“Benar, permohonanmu,” Victoria menunduk sedikit untuk menyamakan level pandangannya dengan Mikiam yang pendek.

Victoria menadahkan tangannya seperti meminta sesuatu, kemudian sebuah buku yang cukup tebal, seperti sebuah album, melayang keluar dari tas Mikiam dan mendarat di tangan Victoria. Victoria membuka halaman pertama buku itu dan membalikkannya sehingga siapa pun bisa melihat kertas putih kosong melompong itu.

“Lihat?” tanya Victoria. “Tapi, kalau memang ingin permohonanmu itu baru terkabul lima ratus tahun lagi, sih, nggak masa—”

Mikiam merebut kembali bukunya dan berseru kencang, “BAIKLAAAH!!” mendadak tampak sangat bersemangat. “Mau hantu atau zombie, ayo majuuu!” jelas dia telah termakan umpan Victoria.

“Baiklah, sudah diputuskan. Pertama-tama, kita membutuhkan komputer,” dengan sedikit suara letupan dan asap ungu, Victoria memunculkan komputer di atas mejanya, tampak janggal di antara pena bulu gagak, mata kodok, dan jimat-jimatnya.

“Lalu… ngg…” Victoria terdiam.

“Ada apa, Missus Song?” tanya Mikiam.

“Aku tidak tahu cara menggunakan benda ini,” ucap Victoria yang membuat semuanya bertumbangan.

“Wahahaha, wahahaha, Song tidak bisa menggunakan komputer!” tawa Pinocchio ngakak.

Victoria menyambar hidung panjang Pinocchio, “Kalau kau begitu pintar, coba tunjukkan padaku, Tu-an Pi-no-cchi-o,” geramnya.

“Baik, lihat, ya… ini, pasti… layarnya harus dipecahkan supaya kita bisa masuk,” Pinocchio mengeluarkan palu kayu entah dari mana dan bersiap memukul layar komputer itu.

“Oh, begitu rupanya? Kau pintar, Pinocchio,” puji Victoria.

“Pino-chin, ayo cepat lakukan,” Mikiam memberi semangat.

Sementara Sulli langsung merasa bahwa dirinya telah meminta tolong pada orang yang salah, “Kalian semua bo-doh, hah? Ini tinggal dibeginikan saja, tahu!” Sulli menekan tombol power komputer tersebut dan benda itu pun menyala.

“Woooow,” Victoria, Pinocchio, dan Mikiam serentak bertepuk tangan, Sulli makin merasa putus asa.

“Lalu, bagaimana?” tanya Victoria.

“Ini, di kotak ini, kita harus mengetik nama game-nya,” Sulli mengajarkan.

“Ah, aku mengerti sekarang. Baiklah, apa nama game-nya?” tanya Victoria.

“Eh… aku tidak terlalu yakin, kalau tidak salah, apa apa Castle, begitu…” Sulli berusaha mengingat-ingat.

“Castle? Castle apa?” kejar Victoria.

“Ngg… anu… apa, ya, apa the Castle… rasanya ada empat huruf, dimulai dengan ‘S’… ngg… ‘SU’? Bukan, kayaknya ‘SY’…?”

Ekspresi Victoria berubah mengerikan, “STYX The Castle?” desisnya menyeramkan.

“Iya, itu!” Sulli terlambat menyadari perubahan nada Victoria.

Sekonyong-konyong, langit menjadi gelap, angin bertiup kencang, dan petir menyambar saat Victoria mulai tertawa melengking, “Ooohohohoohooo, ooohohohoho!! Akhirnya! Akhirnya tiba juga kesempatanku untuk membuat si Pangeran Iblis sombong itu mendapat masalah! OOOOHOHOHOHOOOO!!”

“Bahayaaa!!” Mikiam menyambar Pinocchio yang nyaris tertiup keluar jendela, serta menyeret Sulli untuk berlindung di balik sofa hingga Victoria berhenti tertawa dan cuaca kembali tenang.

“Mikiam!” panggil Victoria menggelegar.

“I-iya, Missus Song,” jawab Mikiam, dengan takut-takut menyembulkan kepalanya dari balik sofa.

“Perubahan rencana! Kau tidak perlu masuk ke dunia game atau apa pun benda kotak ini! Tidak perlu menghadapai hantu atau pun zombie! Pergilah ke STYX The Castle, lalu habisi Pangeran Iblis Marcus!” perintah Victoria bersemangat.

“Ba-baik! Tapi…”

“Tapi apa?” Victoria melotot.

“Hiih, ampun! Tapi, bagaimana cara ke sana, Missus Song? Lalu bagaimana caraku menghabisi Pangeran Marcus?” tanya Mikiam. “Dia, kan, kuat sekali.”

Bagi yang sudah mengenal Marcus dari STYX The Castle, maafkan aku karena aku akan memakai paragraf ini untuk menjelaskan siapa itu Marcus secara ringkas pada pembaca yang baru bergabung di dunia ini. Silakan kalian langsung membaca paragraf berikutnya saja. Nah, pembaca baru, Marcus adalah salah satu dari Pangeran Iblis yang tinggal di STYX The Castle milik Raja Iblis Casey. Elemennya adalah es. Dia sangat pintar dan ahli berstrategi, juga memiliki pekerjaan di dunia manusia yang dilakukannya lewat jaringan internet dan komputer super canggih di kamarnya. Pekerjaannya itu hingga saat ini masih tidak diketahui, walaupun hasilnya nyata sekali dari uangnya yang banyak, yang dipakai untuk mendukung kehidupan para penghuni STYX The Castle. Apakah game internet juga salah satu usahanya? Atau hanya iseng belaka? Terus ikuti cerita ini, sepertinya kali ini kita akan melihat apa yang dilakukan Marcus dengan komputernya.

Victoria bersuit dan sebatang sapu ajaibnya terbang mendekat. “Naik ini. Aku tidak peduli bagaimana dan cara apa pun yang kau gunakan, yang jelas kau harus bisa membuat Marcus menghentikan kegiatannya. Lebih bagus lagi kalau kau bisa menendang pantatnya kembali ke Dunia Bawah! Ooohohohohooo!”

“Tapi, tapi…” Mikiam makin merasa tidak yakin dirinya bisa melakukan tugas ini.

Tapi Victoria tidak mau mendengarkan, “CEPAT LAKSANAKAN!!” jeritnya dan sapu ajaibnya langsung terbang dengan membawa Mikiam yang berpegangan erat di atasnya.

“Hyaaaaa, aku pergi duluuuu, semoga aku tidak matiiiiiii!!” jerit Mikiam.

“Ingat, pulanglah sebelum pagi! Nanti laba-labaku tidak ada yang memberi makan,” lambai Victoria riang.

Nah, bagaimana perjalanan Mikiam untuk ‘mengalahkan’ Pangeran Iblis Marcus di STYX The Castle? Akan kuceritakan di episode berikutnya.

Sementara itu, Sulli… memandangi sosok Mikiam yang makin menjauh, berpikir bahwa sepertinya dirinya memang telah memohon bantuan pada orang yang salah.

***

1st Wish: Victoria Song, Sang Pengabul Permohonan, dan Mikiam, Asistennya yang Kikuk – Tamat

P.S.: Ah, aku hampir lupa. Bagi kalian yang bertanya-tanya, siapa ‘aku’ yang dari tadi bercerita, perkenalkan… aku adalah heeShinju, narator kalian untuk cerita kali ini. Salam kenal, semuanya.

***

Author’s Note:

Oke, ini masih bersambung, ya…

Ehm, tes, 1,2,3, tes dulu mic-nya (?). Halo, semuanya, heeShinju mencoba comeback lagi dengan fantasy series. Reader baru, salam kenal, ya. Reader lama, apakah kalian merindukanku? *hening* Maaf lama gak nongol di FFIndo, sibuk bikin cerita non-ff di blog pribadi, sih, jadi gak boleh di-post di FFIndo *sungkem*

Kali ini saya mencoba menulis kisah fantasy yang tidak serius seperti STYX, dengan mencoba gaya penulisan narasi dongeng yang belum pernah saya coba. Buat yang suka STYX, cerita ini masih bersinggungan dengan dunia Casey, dkk, juga bersinggungan dengan dunia Darklite. Jadi, siap-siap aja kalau nanti tau-tau Nathan atau Priscilla muncul. Buat yang belum pernah baca, jangan khawatir, nanti kalau tokoh-tokoh random itu muncul, saya sertakan penjelasan juga, kok. Yah, yang penting, kali ini saya menulis untuk mengobati ketidakpuasan saya bermain dengan tokoh-tokoh di ff sebelumnya yang sudah tamat tapi masih saya sayangi seperti anak sendiri (?).

Terima kasih untuk membaca ini. Saya sangat menghargai kalau kalian menyampaikan kesan tentang ff ini melalui komentar, tapi saya juga mengerti kalau kalian tidak bisa meninggalkan komentar dengan alasan masing-masing. Saya sendiri juga tidak online 24 jam, jadi kalaupun kalian meninggalkan komentar, saya tidak bisa langsung membalas detik itu juga, tapi mungkin baru besoknya atau lusa. Sampai jumpa di Wish 2, semuanya. Daaaagh…

51 responses to “Wish Granter Song [1st Wish]

  1. ehh sejauh ini aku suka ceritanyaaa. cara penulisan bahasanya beda dan menarik. sebelumnya aku juga uda baxa styx dan OHMYGOD itu fiction keren banget hehehehe.
    karyakarya heeshinju emang bagus banget deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s