[Freelance] Quasimodo

Title: Quasimodo
Author: #mrs. Sangtae aka Park Hyera
Rating: PG-13
Genre: Romance, Angst
Cast: Shinee
Ff ini terinspirasi dari lagunya shinee quasimodo. Ya, mungkin bisa dibilang songfic.nya…
Disarankan untuk membaca dengan mendengarkan lagu QUASIMODO, mungkin feel.nya lebih kerasa, soalnya author nulisnya sambil dengerin lagu itu.
Happy reading!!

KEY POV
Tepat pukul 16.00 KST, aku telah berdiri di depan sebuah toko music yang menghadap jalan dengan membawa sebuket mawar merah yang masih segar. Hari ini adalah hari jadi hubunganku dengan seorang yeoja yang mampu menembus dinding hatiku yang kata orang terlalu dingin dan sulit untuk diluluhkan. Tapi hebatnya, dia mampu membuatku untuk tidak berpaling darinya. Satu tahun adalah waktu yang tidak sebentar aku berhubungan dengannya. Sebenarnya waktu yang kami janjikan adalah pukul 16.30 KST. Tapi aku memutuskan untuk datang lebih awal, aku tidak mau dia yang menungguku diacara yang sangat special dan dengan cuaca yang sedikit mendung ini. Aku menunggunya dengan senyuman yang selalu menghiasi wajahku.
~16.50~
Dia belum datang, aku tetap berusaha berfikir positif padanya. Mungkin saja dia terlambat karna ingin tampil lebih cantik untukku hari ini, atau mungkin dia terjebak macet. Aku sudah merencanakan apa yang akan kami lakukan hari ini. Dimulai dari aku memberikannya bunga mawar ini, berkeliling bersama dengan sepeda, dan candle light dinner yang romantic.
~17.20~
Sosoknya belum juga kutemukan. Aku hampir terlambat seperti ini. Tapi dengan mengingat apa yang akan kami lakukan nanti, aku tersenyum kembali.
“Oppa, jangan marah, jebal, eoh?” aku mendengar suaranya. Suara yeoja yang memenuhi fikiranku. Aku membalikan tubuhku. Dia tersenyum dengan wajah manisnya, bergelayut manja di lengan.. namja lain. BUKAN AKU… Dia berdiri tepat 5 meter di hadapanku, dia mengecup kilat pipi namja itu dan namja itu tersenyum sampil mengacak pelan puncak kepala yeojaku. Waktu seakan berhenti berjalan. Semuanya terhenti, semua hilang, yang ada hanya aku, yeojaku, dan namja asing itu. aku menatap nanar pada pasangan berbahagia itu. Seharusnya saat ini yeoja itu berada disampingku. Aku membalikan badanku dan menghela nafas berat. Melangkahkan kakiku menuju sebuah gang di samping toko music ini. Tak lama berselang, aku melihat punggung mereka berdua yang semakin menjauh dari tempatku berdiri.
Tes… GYUUUUR
Setetes air mataku terjatuh ketanah bersamaan dengan turunnya beribu-ribu tetesan air hujan yang turun saat ini. Dunia seakan menangis bersamaku. Kugenggan erat bunga yang ada didekapanku yang sudah sepenuhnya basah. Aku bahkan menangis dengan keras. Tak kupedulikan berpuluh-puluh mata orang yang berlalu-lalang memperhatikanku. Ini terlalu sakit, disaat aku telah mencintainya dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati. Dia justru meninggalkanku sendiri. Aku melemparkan buket bunga yang kugenggam ketanah. Aku tidak bisa menerimanya. Ini terlalu menyakitkan. Kesalahan terbesarku adalah mencintainya…

TAEMIN POV
Aku duduk disebuah kursi yang tempatnya tepat mengarah jalanan, bersebrangan dengan sebuah toko music didepanku. Kupandangi langit sore ini yang menghitam, menandakan akan turun hujan. Aku mengeluarkan secarik kertas yang berada di dalam saku jasku. Kertasnya berwarna putih terang dengan sedikit bercak merah disana sini. Sebuah surat terakhir dari kekasihku, kekasih yang telah pergi dan takkan pernah kembali lagi kesisiku. Dia telah pergi, pergi untuk selama-lamanya karna penyakit bodohnya yang mematikan itu. ya, aku baru saja menghadiri pemakamannya, aku bahkan tidak mengeluarkan setetes air mataku, aku tak ingin membuatnya sedih dengan aku menangis. Dan surat ini, ini adalah surat yang dia tulis di masa-masa kritisnya. Aku tidak mengerti, kenapa Tuhan mengambilnya? Kenapa mengambil orang yang sangat-sangat aku sayangi?
Mengingat wajah pucatnya saja masih mampu membuat dadaku sesak karna tidak bisa bernafas dengan normal. Mengingat senyumannya yang tulus dengan wajah pucatnya, masih mampu membuatku membalas senyumannya itu. aku mencintainya.
Perlahan kubuka surat yang dia tulis untukku, tanganku bergetar, hatiku seakan dihujami beribu-ribu jarum yang menusukku, mataku memanas. Sebuah kaliamat terakhir darinya itu membuatku tak bisa lagi membendung air mataku. Aku menangis. Hanya kaliamat umum yang sering diucapkan pasangan umum lainnya, tapi untukku ini berbeda, ini pertama kalinya dia tujukan kalimat itu untukku. Kalimat ‘SARANGHAE OPPA’ aku menatap tulisannya itu dengan sendu, huruf-hurufnya terlihat tidak stabil dan sedikit memaksa. Dia sangat bersikeras untuk menulis kalimat itu, kalimat yang sangat bermakna dan merupakan sebuah magic untukku. Air mataku tidak dapat berhenti saat mataku menangkap bercak-bercak merah yang kusadari adalah darahnya, darah kekasihku. Hujanpun turun dengan derasnya, membuat rasa perih dan sakitku terasa mencengkram dadaku. Rasanya ingin kulempar jauh pasa perih dan sakitku ini. Aku menutup mulutku, untuk meredam sedikit tangisku dan pada akhirnya aku berteriak sekencang-kencangnya, aku menangis tanpa henti, tak kuperdulikan tubuhku yang sepenuhnya basah karna air hujan yang turun. Kuletakkan kertas yang telah basah ini dihadapanku, aku larut dalam tangisku. Tangis kehilangan yang baru pertama kali keluar dari mataku. Tangisan yang sebelumnya kutahan untuk keluar, namun akhirnya tanpa aku paksa keluar juga dengan sendirinya.
NADO SARANGHAE…

JONGHYUN POV
Saat hujan seperti ini, aku masih terduduk lunglai dibelakang kemudi mobil merahku yang mencolok. Terputar kembali memori otakku tentang kejadian tadi sore, kejadian yang sangat-sangat tak ingin kualami, bahkan hal itu tidak pernah terlintas dalam fikiranku sama sekali sebelumnya. Bayangan-bayangan itu hadir seperti sebuah slide show yang tidak pernah berhenti diotakku. Terlihat gambaran disaat aku dan dia mengikat hubungan kami dengan status pertunangan. Dia tampak sangat bahagia, dengan senyum lebarnya dengan menunjukkan sederetan giginya yang membuatnya terlibat lebih cantik. Apalagi dengan suasana yang sangat mendukung. Saat itu aku menyanyikan sebuah lagu untuknya diiringi dengan instrument music yang membuat situasi dan kondisi lebih romantic. Ya, aku bertunangan dengannya di toko music yang sekarang berada disamping mobilku ini.
Lalu terlintas lagi gambaran beberapa jam yang lalu ditempat yang sama saat dia memutuskan untuk memutuskan pertunangannya denganku dengan alasan dia sudah tidak mencintaiku lagi dan sudah ada sesorang yang mengisi hatinya saat ini. Perasaanku sungguh hancur, apalagi disaat munculnya namja yang diakui tunanganku sebagai kekasihnya. Itu lebih menyakitkan lagi. Tapi, apa yang bisa aku lakukan, dia telah memilih yang terbaik menurutnya. Bahkan yang sangat menyesakkan, aku melihatnya membuang cincin pertunangan kami ke tempat sampah didepan toko music itu. Aku hanya bisa tersenyum kecut sesaat.
Aku melepaskan cincinku yang masih melekat dengan manisnya dijariku. Kupandangi cincin itu yang terdapat huruf inisial kami berdua. Aku menghembuskan nafas berat. Kuulurkan tanganku keluar jendela mobil, membiarkan lenganku terkena tetesan air hujan. Kujatuhkan cincin itu dengan berat hati, aku tidak rela. Aku mengangis, terpuruk, aku tak rela melepasntya, sungguh. Kupukul stir kemudiku beberapa kali. Meskipun terasa sakit, tapi luka dihatiku masih jauh lebih sakit dari ini. Kubiarkan air mataku membasahi pipiku, berharap perasaanku untuknya akan terbawa dengan air hujan yang deras diluar sama. Meski saat ini aku masih dapat merasakan betap terlukanya perasaan ini, tapi mungkin suatu saat nanti dia akan mengerti dan menyadari betapa besarnya cintaku untuknya. Dan aku takkan pernah menyesal telah mencintainya, meski pada akhirnya dia tidak bersamaku.

MINHO POV
Aku lelah berjalan tanpa henti dengan sebuah pagung hitam yang menutupi tubuhku. Aku lelah dengan tubuhku sendiri. Tubuh ini yang membuatku harus melepaskan orang yang sangat berharga untukku. Yeojachinguku. Tubuh ini yang memaksaku untuk meninggalkannya. Keputusan yang mungkin akan membuatku menyesalinya atau bahkan merasa tenang dikemudian hari. Kanker otak, penyakit itulah yang sampai saat ini dengan setia menggerogoti tubuhku. Aku meninggalkannya karna tubuh ini. Tubuh yang takkan selalu bisa melindunginya. Bahkan untuk menopang dan melindungi tubuhku sendiri saja ini sudah terlalu rapuh.
Kakiku berhenti menghadapkan tubuhku pada sebuah toko music di seberang jalan sana. Aku teringat saat dia memainkan alat-alat music untukku dengan skillnya yang sama sekali tak bisa disebut skill, sangat berantakan. Aku tersenyum pahit.. tapi senyumanku buyar seketika saat kembai teringat tangisannya saat aku bilang tak ingin bersamanya lagi. Dia menggenggam erat tanganku seakan tak ingin melepaskanku.
Payung yang dari tadi kugenggam, tiba-tiba saja terlepas. Aku membiarkannya terjatuh. Membiarkan air hujan membasahi seluruh tubuhku.
Saat dia menggenggam tanganku, aku menatap matanya dalam. Matanya berkaca-kaca dan akhirnya dia menangis terisak sambil memohon-mohon padaku untuk tidak meninggalkannya. Saat inipun aku menangis, menangis sedih. Saat itu, ingin rasanya aku mendekapnya erat dan membisikan beribu kata maaf untuknya. Tapi tentu saja aku tidak bisa melakukannya. Bukankah lebih baik sakit sekarang, daripada harus mengetahui bahwa orang yang kau cintai sebentar lagi akan pergi dari dunia ini? Itu pasti lebih menyedihkan.
Tubuhku berlutut menangisinya. Aku menekan-nekan kepalaku yang terasa berdenyut-denyut. Kenapa penyakit ini bersarang ditubuhku? Kenapa? Aku sungguh tidak ingin kehilangannya. Hatiku lebih sakit saat aku pergi meninggalkannya dan melihatnya yang berjongkok menangisi kepergianku. Itu membuatku terlihat seperti seorang namja yang jahat.
MIANHAE. SARANGHAEYO…

ONEW POV
Tepat disaat battery handphoneku mati, hujan turun dengan derasnya. Aku segera berlari kearah box telepon umum disamping sebuah toko music. Hari ini adalah hari dimana orang yang kucintai dilahirkan, hari ulang tahun yeojaku. Tadi pagi saat aku ingin merayakan bersama dengannya, dia menolak karna ada kepentingan keluarga. Dan sebagai pacar yang baik, tentu saja aku harus mengerti keadaannya.
Aku memasukan sebuah koin dan mengangkat gagang telepon, lalu kupijit beberapa angka-angka yang sudah sangat kuhafal diluar kepala.
Tuuut.. tuuut..
Panggilan pertamaku tidak diangkatnya. Aku menghela nafas perlahan dan melakukan yang sama seperti tadi.
Tuuuut… tuuuut…
Dia mengangkatnya.
“Yoboseyo chagi.. sae..” ucapku yang terpotong ucapannya.
“Oppa? Onew oppa?” katanya diseberang sana. Aku membalasnya dengan deheman.
“Hubungan kita sampai disini saja,” ucapnya to the point. Hening, tak ada satu suara pun yang kami hasilkan. Itu artinya dia serius dengan ucapannya.
“Mwo? Wae?” tanyaku yang terdengar tidak sabaran.
“aku dijodohkan dengan rekan bisnis appaku. Dan aku takkan bisa menolak permintaannya. Kuharap oppa mengerti, mian.” tegasnya.
“Ke…”
Tuuut.. tuuut.
Terputus. Aku menatap kosong kedepan dengan gagang telfon yang masih kupegang didepan dadaku. Aku menarik nafas berat. Dan menyanyikan sebuah lagu untuknya.
“saengil chukkahamnida, saengil chukkahamnida. Saranghaneun nae yeojachingu, saengil chukkahamnida,” aku terisak pelan. Pandanganku mengabur, terhalangi oleh air mataku yang sejak tadi mendesak untuk keluar. Aku melepaskan genggaman tanganku dari gagang telepon. Kusandarkan tubuhku pada dinding kaca box telpon ini, dan perlahan tubuhku mulai merosot dan terduduk lemas. Aku menangis, terisak. Memegang dengan erat dadaku yang terasa sangat sesak, sambil sesekali memukulkan kepalan tanganku pada dadaku. Aku menggigit bibir bawahku untuk meredam suara tangisku, meskipun pada akhirnya tangisku keluar dengan kencang. Aku menutup mataku. Membiarkan air mataku terus berjatuhan. Terlalu sakit, ini terlalu sakit. Kumohon jangan pergi… SARANGHAE..
~Fin~
Dimohon komentar readers!! XD
#mrs.sangtae

Advertisements

4 responses to “[Freelance] Quasimodo

  1. fiuhhh, paling nyesek kayanya bagian minho. gtw kenapa, mungkin krn diantara smuanya, cm dy yg ngelepas cintanya. sedangkan yg laennya kn mmg si cewe yg ninggalin cowonya.
    kebayang ceritanya ini, aplg dari mv vcr nya T-T

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s