I’m Strong Enough Without You – (Chapter 5) END

Author: Vankyu (@bluavania)

Cast:

  • Choi Yura
  • Eunhyuk
  • Leeteuk
  • Choi Sulli
  • Choi Minho
  • Han Hyemi

Genre: Romance, Family

Annyeong yeorobeun!!! Akhirnya bisa post chapter ini juga. Chapter terakhir niiih!!!! 🙂 Gak kerasa ff ini udah selesai *nangisdipelukanKyu*

Buat yang bertanya-tanya kenapa leeteuk ada di cover atas, akan terjawab kalo udah baca chapter ini. Endingnya…. mau sad atau nggak?? Author lama ngepost karna bingung mau ending kayak gimana. Kalau sad ending nanti temen-temen author marah :p tapi kalau happy… Author gak mau buat mereka seneng huahaha *evil laugh* *dilempar reader*

Mudah-mudahan reader terima ending yang dibikin author dengan lapang dada :p

Part ini juga udah author tambahin 3 halaman, jadi jangan bilang kalo kependekan yaaaa..

Biar gak penasaran mendingan langsung baca aja, arasseo? :)

Once again, this story is belong to me, please don’t be a plagiator chingu :)

Previous chapter : Chapter 1 Chapter 2 Chapter 3 Chapter 4

***********

PREVIOUS STORY……

*Choi Yura POV*

            “Yura awas!!” Aku menjerit tertahan saat kurasakan bahwa tubuhku oleng dan hampir saja jatuh dari kapal jika tidak ada Yesung yang menahanku. “Yura-ya, neo gwenchana?” Tanyanya. Aku menganggukkan kepalaku lemas. “Nan gwenchana, hanya sedikit lelah,” ucapku berbohong. Sudah dari tdi pagi pikiranku tidak bisa fokus.

Perkataan dan perlakuan Eunhyuk tadi malam masih mengganjal di hatiku. Untung saja mereka berdua sudah tidak ada di sini. Eunhyuk kembali ke Seoul malam tadi, disusul oleh Sulli yang berangkat subuh tadi. “Eonnie, minumlah,” Hyemi menyerahkan sekaleng minuman dingin kepadaku. “Gomawo,” ucapku sambil tersenyum singkat. “Kau benar-benar tidak apa-apa? Daritadi kau terlihat kehilangan fokus eonnie. Istirahatlah, saat kita kembali lagi ke pantai,” terlihat wajah khawatir Hyemi.

“Kau ini. Aku tidak apa-apa, lagipula masih banyak yang harus kita kerjakan. Ayo kembali bekerja.” Aku meninggalkan Hyemi dan kembali bergelut dengan kamera dan para model. Bagaimana pun juga aku harus menyelesaikan sesi foto hari ini.

*Choi Minho POV*

Aku mengamati kelakuan Yura noona daritadi, sepertinya ada yang aneh. Aisssh apa aku keluar dan menghampirinya saja? Aku sudah lelah bermain kucing-kucingan seperti ini. Bisa-bisa nanti pengunjung di sini menganggapku sebagai penguntit lagi. Kulangkahkan kakiku keluar dari tempat persembunyianku. Tapi langkahku terhenti saat kulihat seorang namja berjalan mendekati Yura noona. Namja itu kan..??

**************

*Author POV*

Yura menghela nafasnya, gadis itu merasa kesal karena kehilangan fokusnya sepanjang pagi tadi. Kini waktu istirahat makan siang dan tidak mau tahu, dia harus bisa mengatasi dan mengumpulkan kembali fokusnya yang buyar. Dengan frustasi dia meletakkan kepalanya dia antara lututnya sambil memeluk erat kakinya. “Ottokhe? Apa yang harus aku lakukan?” bisik Yura pelan.

“Kau tinggal memanggilku jika membutuhkan bantuan. Bukankah aku ini malaikatmu?” sebuah suara mengejutkan gadis itu. Bagai tersengat listrik, Yura menegakkan kepalanya menatap namja di hadapannya ini dengan tidak percaya. “Oppa?” Namja di hadapannya tersenyum seakan-akan tidak ada ekspresi lain yang dimiliki namja itu. “Kau merindukanku?” tanya namja itu.

“TEUKIE OPPA!!!” Teriak Yura sambil berdiri dan berhambur ke pelukan namja itu. Leeteuk balas merangkul yeoja itu sambil tertawa pelan. “Sebesar itukah kau merindukanku, eoh?” Yura semakin mengeratkan pelukannya, “aniyo. Hanya saja kau datang di saat yang sangat tepat. Apa kita benar-benar mempunyai ikatan batin?” Leeteuk mengacak pelan rambut Yura dan tertawa karena ucapan polos yang baru saja keluar dari bibir yeoja itu.

“Mungkin saja. Ya! Kenapa kau menangis?” tanya namja itu heran saat melihat Yura mengeluarkan air matanya. “Mollayo. Terlalu banyak peristiwa seolah-olah menghantamku saat aku kembali ke Seoul. Aku membutuhkanmu oppa, sangat.”

“Arasseo. Ceritakan semuanya kepadaku. Tapi bagaimana kalau kita makan dulu? Aku sangat lapar Yura-ya. “ yeoja itu mengangukkan kepalanya dan mengikuti arah Leeteuk menariknya. Genggaman tangan namja itu seakan-akan mengaliri rasa hangat yang menentramkan bagi Yura. Entahlah, saat ini Yura berpikir bahwa Leeteuk benar-benar malaikat yang dikirim Tuhan untuknya.

*Leeteuk POV*

Aku menatap yeoja yang sedang berkonsentrasi dengan kameranya. Padahal baru 2 bulan ia meninggalkanku, tapi rasanya sudah lama sekali tidak mendengar teriakannya. “Oke! Kamsahamnida semuanya! Terima kasih untuk kerja sama kali ini!” kudengar dia berteriak dan disambut dengan teriakan gembira para staff lainnya. Dengan berlari kecil gadis itu menghampiriku. “Oppa! Mianhae, kau menunggu lama ya?”

Aku menggeleng, “aniyo. Aku senang melihatmu seperti tadi. Aku tidak menyangka ternyata kau serius ingin menjadi fotografer. Kukira fotografi cuma sekedar hobi untukmu.” Yeoja itu kembali tersenyum. “Oh iya, mumpung kita masih di sini. Kau mau kan menemaniku berkeliling?”

“Joha! Ayo kita jalan-jalan,” ucap gadis itu sambil menarik tanganku. Senang rasanya bisa melihat senyum itu kembali, tidak seperti 2 hari yang lalu, saat aku melihatnya kembali namun yang kudapat hanya wajah sendu seakan-akan semua beban hidupnya membuat dia sangat menderita.

*Yura POV*

Aku benar-benar tidak menyangka kalau Teukie oppa kini berada di kursi penumpang di sampingku. Kini kami akan terbang kembali ke Seoul. “Oppa, berapa lama kau akan menetap di Seoul?” tanyaku. Leeteuk oppa mengalihkan wajahnya ke arahku dan berpikir sejenak. “Mungkin sekitar 2 minggu lagi, lalu aku akan kembali ke Paris, wae?” tanyanya.

“Aniyo. Hanya ingin tahu. Oh iya, bagaimana kabar calon istrimu? Ckckck. Tidak kusangka kau akan menikah sebentar lagi. Kau benar-benar sudah tua oppa,” ledekku. Dia mengacak pelan rambutku. “Dongsaengku ini sudah mulai bisa mengejekku, hah? Dasar kau ini. Aku akan mengenalkannya kepadamu, tapi tidak dalam waktu dekat ini.”

Aku menatap Leeteuk oppa yang kembali melanjutkan kegiatan membaca majalahnya. “Hmm, oppa, kenapa kau bisa ada di Pulau Jeju? Apa kau tahu aku ada di sana?” tanyaku penasaran. “Ani. Aku tidak tahu kau ada di sana. Apakah kau sudah lupa? Aku kan pernah bilang, kalau aku kembali ke Korea, tempat pertama yang akan kukunjungi adalah pulau Jeju.” Aku mengangguk-anggukkan kepalaku.

“Kau tahu, pemilihan waktumu sangat tepat oppa. Disaat aku membutuhkan seseorang, tiba-tiba saja kau muncul di hadapanku,” lanjutku. Teukie oppa kembali tersenyum. “Bukankah itu gunanya malaikat pelindung? Aku harus ada kan di saat kau membutuhkanku.”

************

            Aku menarik koperku dengan pelan. Rasa lelah hinggap di tubuhku, saat ini aku betul-betul membutuhkan kasur. “Leeteuk oppa, kau tidur di apartemenku saja. Masih ada dua kamar kosong di sana.” Leeteuk mengangguk setuju. Kami berdua berjalan ke arah pintu apartemenku.

Mataku terbelalak kaget saat melihat keadaan apartemenku yang hampir kosong melompong, hanya menyisakan sofa dan meja di tengah ruang tamu. Kulihat Minho sedang duduk, seperti menungguku. “Minho-ya, apa yang terjadi? Kenapa apartemenku kosong seperti ini?” tanyaku bingung. Minho berdiri menatapku dan sedikit terkesiap saat melihat Leeteuk oppa di sampingku. “Appa yang melakukan ini semua. Dia menyuruhku untuk menjemputmu kembali ke rumah. Appa tidak ingin kau tinggal sendiri di sini.”

“Pindah? Ya! Kenapa appa tidak memberitahuku sebelumnya?” protesku. Minho menatap mataku tajam, “kau kira aku tahu? Appa yang memikirkan dan memutuskan semuanya. Barang-barangmu juga sudah rapi berada di kamar lamamu. Ayolah noona, apa salahnya kau kembali ke rumah? Apa karena Sulli? Kukira kau sudah cukup dewasa untuk bertindak kekanakkan seperti itu.” Aku terhenyak mendengar ucapan Minho barusan. Sedikit kasar namun semuanya terasa benar.

“Baiklah aku akan kembali ke rumah. Leeteuk oppa kau bisa tinggal sendiri di apartemen ini kan?” tanyaku. “Joha! Kau tenang saja. Lagipula adikmu itu benar, kau tidak bisa terus-terusan bersembunyi di sini.” Aku menganggukkan kepalaku tanda menyetujui perkataan Leeteuk oppa. Namja itu tersenyum ke arahku dan mengelus pelan punggungku. “Kau tenang saja. Aku ada di sini. Kalau kau butuh seseorang aku akan ada di sana.” Kutatap wajah Leeteuk oppa yang tersenyum. “Kau ini benar-benar, baiklah ayo pergi Minho-ya.” Minho menarik tanganku dan membungkuk sedikit kearah Leeteuk lalu menarikku tanpa mengatakan apapun.

*******

*Author POV*

Sudah seminggu Yura kembali ke rumahnya, tentu saja disambut dengan rasa gembira oleh pelayan-pelayan di rumahnya. Sudah seminggu ini juga dia hanya bermalas-malasan di rumah, karena kontrak kerja dengan ‘Beauty Magazine’ sudah habis. Namun kali ini dia merasa harus mengerakkan badannya. “Minho-ya…” ucapnya saat memasuki kamar adiknya.

“Ada apa noona?” tanya Minho sambil terus menatap layar laptopnya. Yura mendekati adiknya. “Aku ingin lari pagi di sungai Han. Apa kau mau ikut? Nanti Leeteuk oppa akan menjemput kita.” Minho mengerutkan keningnya, “Leeteuk hyung? “ tanya Minho. Yura mengangguk kecil. “Mianhae noona tapi masih ada pekerjaan yang harus kulakukan. Kau lari pagi bersama Leeteuk hyung saja. Tidak apa-apa kan?”

“Arasseo. Aku mengerti.” Yura meninggalkan kamar adiknya tersebut. Aneh, Yura merasa akhir-akhir ini Minho menjauhinya. Sikapnya berubah menjadi uring-uringan saat kembali dari Paris. Apa terjadi sesuatu? Yura akhirnya hanya bisa menunggu, menunggu adiknya menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi.

Siangnya sesudah Yura dan Leeteuk selesai berolahraga mereka menyempatkan beristirahat sambil memakan ice cream di pinggir sungai Han. “Yura-ya, aku akan kembali minggu depan, untuk melanjutkan bisnis appaku di Paris. Maukah kau ikut bersamaku kembali ke Paris?” Yura terbatuk. “Maksudmu?” tanya Yura bingung. “Aku punya firasat buruk. Saat aku kembali aku tidak akan kuat bertahan sendirian. Kau tahu kan hanya kau yang bisa menjadi tempatku bersandar.”

“Oppa, kau kenapa? Apa ada yang kau sembunyikan dariku?” tanya Yura bingung. Leeteuk memejamkan matanya sejenak. Yura semakin yakin kalau namja di hadapannya sedang menyembunyikan sesuatu. Tidak pernah ia melihat ekspresi Leeteuk yang seperti ini. Ekspresi yang terkesan… rapuh?

“Mianhae, aku membuatmu takut. Nan gwenchana, tapi aku serius saat mengajakmu kembali ke Paris. Sudahlah, aku antar kau ke rumah. Aku masih ada urusan yang harus kuselesaikan.” Mereka berdua pun berjalan diliputi suasana hening yang canggung.

“Aku pulang,” teriak Yura sesaat setelah kakinya menginjak pintu utama. Dia merasa ada yang aneh karena tidak biasanya mobil ayahnya terparkir di garasi rumahnya di jam-jam seperti ini. Apa appa sudah pulang? Yura pun menghampiri ruang tamu. “Appa, kenalkan ini

namjachinguku.” Satu kalimat dan membuat pijakan kaki Yura melemah.

*Yura POV*

“Appa, kenalkan ini namjachinguku.” Pandanganku serasa berputar. Kalimat itu menghantam hatiku. “Yura? Kau sudah kembali?” tanya appa dengan mata berbinar saat memandangku. Kini appa berdiri dan menghampiriku, namun tubuhku masih membeku. Kulihat tatapan Sulli dan Eunhyuk ke arahku. “Kau pulang tepat pada waktunya. Kita kedatangan tamu penting,” ucap appa sambil menggiringku mengikutinya. Aku duduk di sebelah appa dan berseberangan dengan Eunhyuk dan Sulli.

“Kau pasti tidak menyangka Yura-ya. Betapa kagetnya appa saat dongsaengmu ini mengenalkan namjachingunya. Dan kau tahu? Mereka sudah berhubungan cukup lama,” appa dengan gembira menceritakan perasaannya tanpa menyadari kalau anak di sampingnya sedang berusaha sekuat tenaga untuk tidak pingsan. Aku menyadari tatapan mata Eunhyuk yang menatap tajam ke arahku.

“Oh iya, kenalkan Yura-ya. Namanya Lee Hyukjae.” Aku mendesah perlahan. “Aku sudah tahu apa. Dia adalah atasanku di ‘Beauty Magazine’. Dia anak sahabat yang appa ceritakan waktu itu.” Dapat kulihat tatapan mata appa yang berbinar. Begitu bahagiakah dia? “Jinjjayo? Ya! Kau memang pintar mencari pasangan Sulli-ya.” Ucap appa yang disertai dengan senyum manis di wajah Sulli.

“Gomawo appa. Maka dari itu aku memutuskan untuk mengenalkan Eunhyuk oppa kepadamu. Kami sudah memutuskan untuk melakukan pernikahan dalam waktu cepat. Appa setuju kan?” MWO?? Menikah? Kepalaku mulai terasa pusing. Apa aku tidak salah dengar? Kulihat Eunhyuk oppa yang juga sepertinya gelagapan dengan pernyataan Sulli barusan. “Menikah? Aigoo. Tidakkah ini terlalu cepat? Kau baru 22 tahun Sulli-ya. Sedangkan kakakmu saja belum memiliki pendamping,” ucap appa.

“Aku yakin eonnie juga setuju dengan keputusanku ini. Iya kan Yura eonnie?” Sial! Kini Sulli melayangkan tatapannya ke arahku begitu juga Eunhyuk dan appa. Aku tahu kepindahanku ke rumah ini juga pasti atas kemauan Sulli. Jadi ini maksudnya? Dia ingin menguji apakah perasaanku kepada Eunhyuk masih sama atau tidak. “Tentu saja appa, aku setuju. Kukira Eunhyuk-sshi bisa menjaga dongsaeng kesayanganku ini dengan baik dan tidak akan menyakitinya. Benar kan Eunhyuk-sshi?” Kulihat mata Eunhyuk membulat saat mendengar ucapanku tersebut.

Yura menyenggol lengan Eunhyuk, “Ne, ahjusshi,” ucapnya. Appa seperti menimbang-nimbang sesuatu. “Baiklah, appa menyetujui hubungan kalian. Kapan kalian ingin mengadakan pernikahan?” Aku berusaha membuka suara. “Bagaimana kalau 2 minggu lagi appa?” Kulihat Eunhyuk semakin terlihat kaget. “MWO? Bukannya itu terlalu cepat?” ucapnya gelagapan.

“Aniyo, johae! 2 minggu lagi waktu yang tepat. Bagaimana appa?” tanya Sulli. “Baiklah, tapi setidaknya pertemukan dulu keluarga Eunhyuk dengan keluarga kita, baru kita atur pernikahan ini bersama.”

*Choi Sulli POV*

Aku tidak habis pikir. Appa begitu mudah menyetujui hubunganku dan Eunhyuk oppa. Apalagi ekspresi Yura eonnie tadi sepertinya biasa-biasa saja, malah dia menganjurkan kami untuk menikah 2 minggu lagi. Apakah aku yang terlalu paranoid dan berpikiran terlalu jauh?

“Sulli-ya. Aku mohon kau jelaskan apa yang sebenarnya terjadi tadi?” tanya Eunhyuk oppa di hadapanku. “Aku mengenalkanmu kepada appa, dan pernikahan kita akan berlangsung dua minggu lagi,” jawabku santai. Eunhyuk oppa mengerang kesal dan mengacak rambutnya gusar. “Kau jangan bercanda Sulli-ya. Kita tidak mungkin menikah, apalagi 2 minggu lagi,” teriaknya.

“Aku tidak bercanda oppa. Dan kenapa kau terlihat panik seperti itu? Kau meragukanku?” tanyaku. “Bukan seperti itu. Tapi 2 minggu waktu yang cepat Sulli-ya.” Aku menatap mata Eunhyuk oppa. “Apa kau tidak ingin menikahiku? Apa kau sudah tidak mencintaiku lagi? Apa ini semua karena kepulangan Yura eonnie, hah?” teriakku kesal menahan butiran airmata yang sudah mengaburkan pandanganku.

Eunhyuk oppa semakin mengacak rambutnya. Aku merasa duniaku runtuh, benarkah namja di hadapanku kini sudah tidak melihatku sebagai wanita satu-satunya dalam hidupnya? Aku berlari masuhk ke arah rumah, namun Eunhyuk oppa mencekal pergelangan tanganku. “Lepaskan aku oppa. Biarkan aku pergi. Kau sudah tidak mencintaiku lagi kan? Menikah saja sana dengan Yura eonnie,” teriakku. “Dengarkan aku dulu Sulli-ya. Berhentilah bertingkah seperti anak kecil seperti ini. Aku tidak memungkiri bahwa perasaanku sedang kalut saat ini. Kau seenaknya saja menyatakan bahwa kita ingin menikah, tentu saja aku bingung.” Aku tetap menunduk tidak sanggup menatap matanya. Jemari Eunhyuk oppa mengangkat daguku, memaksaku untuk menatapnya. “Lihat aku. Aku tidak bisa membohongi perasaanku saat ini. Beri aku sedikit waktu, dan akan kupastikan hanya kau wanita di hidupku. Banyak hal yang harus aku korbankan demi mendapatkanmu, dan sudah banyak hati yang kita sakiti. Di saat aku tinggal selangkah mendapatimu seutuhnya, kau ingin pergi begitu saja? Tidak akan kubiarkan. Aku mohon percayalah padaku Choi Sulli.”

Aku bisa melihat kesungguhan dalam mata itu. Aku mengangguk dan Eunhyuk oppa kembali mengurungku dalam dekapan hangatnya.

**********

*Author POV*

Yura dan Leeteuk duduk bersama di bangku taman favorit mereka dulu. Banyak hal terjadi selama dua minggu ini. Yura kembali mengingat betapa kagetnya dia saat Sulli mengatakan akan menikah dengan Eunhyuk yang tertanggal minggu depan, bagaimana reaksi Minho saat mengetahui kabar itu. Minho marah besar dan sangat kecewa dengan keputusan Sulli namun Yura dapat mengatasi dan melerai mereka berdua.

“Aku mendengar kabar bahwa Sulli dan Eunhyuk akan menikah minggu depan. Benarkah itu?” tanya Leeteuk hati-hati. Yura mengangguk, “Ne. Kau benar oppa. Kabar pernikahan mereka berdua sudah tersebar kemana-mana ya?” Leeteuk menatap wajah gadis di hadapannya. Pernikahan Sulli dan Eunhyuk memang sedang menjadi sorotan utama media massa di Korea Selatan. Bayangkan saja, putra tunggal pemilik saham tertinggi sekaligus pemilik majalah ternama di Asia, menikah dengan putri bungsu seorang pebisnis utama dan desainer terkemuka Asia bahkan dunia. Dipastikan bahwa acaranya akan sangat megah. Ditambah bahwa Sulli dan Eunhyuk merupakan incaran banyak para orang tua di luar sana yang ingin menjodohkan anak mereka.

“Neo gwenchana?” tanya Leeteuk kembali. “Tentu saja aku baik-baik saja. Eunhyuk sudah menjadi masa laluku oppa,” jawab Yura santai. “Jinjja? Baguslah kalau begitu. Aku bisa tenang.” Seulas senyum terukir di wajah namja itu.

“Oppa, aku ingin minta tolong,” ucap Yura. Leeteuk mengerutkan keningnya, “ada apa?” Yura menatap wajah Leeteuk. “Bisakah oppa bertahan di Seoul seminggu lagi? Tunggu lah setidaknya sampai pernikahan Eunhyuk dan Sulli dilaksanakan. Otte?”

“Arasseo. Itu bisa diatur. Memangnya kau mau ikut denganku kembali ke Paris?” canda Leeteuk. Yura terdiam sejenak. Sebenarnya dia masih ragu dengan keputusan yang diambil. “Ne, aku sudah meminta appa untuk menjadikanku direktur utama di salah satu hotel kepunyaan keluargaku di Paris. Dan sepertinya aku akan menetap lama di sana.” Kekagetan jelas tercetak di wajah Leeteuk. “Kau serius Yura-ya? Kau mau kembali lagi ke Paris?” Yura mengangguk mantap, “aku serius oppa. Maka dari itu, bisakah kau menunda kepulanganmu ke Paris?”

“Tentu saja. Kau mendapatkan apa yang kau inginkan,” jawab Leeteuk sambil tersenyum lebar.

***********

*Yura POV*

“Annyeong semua!!!” sapaku kepada para staff. “Eonnie!!!” Hyemi berlari dan memelukku erat. “Yura eonnie! Kau tahu aku sangat merindukanmu,” ucap Hyemi berapi-api. Aku tersenyum, “Ya! Kalau kau tidak melepaskanku bagaimana aku bisa mulai berpamitan dengan kalian.” Hyemi melepaskan pelukannya. “Pamit? Memangnya kau mau kemana eonnie?” ucapnya diikuti oleh para staff yang lain.

“Aku akan kembali ke Paris dan melanjutkan bisnis orang tuaku di sana. Mungkin aku akan menetap dalam waktu lama di sana, maka dari itu aku ingin berpamitan sekaligus memberikan hadiah untuk kalian. Ahjusshi!!” panggilku. Tidak lama kemudian ruangan studio ini sudah dipenuhi oleh juru masak professional yang bekerja di bawah naungan restoran kepunyaan appa.

“Hari ini aku akan mentraktir kalian semua makan siang, ayo dimakan semua. Anggap saja hadiah perpisahan dariku. Sekali lagi, terima kasih semuanya karena sudah bekerja dengan baik selama ini denganku. Kamsahamnida!!” ucapku sambil membungkukkan badanku dan dibalas oleh para staff. “Kami pasti akan sangat merindukanmu, Yura-ya. Jangan lupakan kami,” ucap salah satu assisten fotograferku.

Mereka tidak tahu betapa aku bersyukur karena berada di tengah-tengah mereka. Para staff majalah ini sudah kuanggap sebagai keluargaku sendiri. Berat rasanya meninggalkan mereka. Aku memeluk mereka satu persatu. “Kajja, ayo semuanya dimakan. Aku akan marah kalau semua makanan ini tidak dihabiskan!” Teriakku. “Yooosh!” balas mereka sambil mulai mencicipi makanan-makanan yang dihidangkan.

“Hyemi-ah, kau mau tidak mengabulkan permintaanku?” Hyemi memandangku dengan raut bingung. “Temani aku makan ice cream. Otte?” tanyaku. “Joha eonnie!” Kami pun meluncur ke kedai ice cream favoritku.

Sedari tadi aku memperhatikan gerak-gerik Hyemi. Tidak biasanya dia sediam ini. “Hyemi-ah, kau kenapa? Tumben sekali mulutmu itu berhenti bicara,” ledekku. Dia menatapku dan tersenyum. “Tidak apa-apa. Aku hanya tidak ingin cap ‘yeoja cerewet yang menyebalkan’ terus-menerus menempel di dahiku,”

“Yeoja cerewet yang menyebalkan? Apa Minho yang mengucapkan itu?” tanyaku. “Ne! Si Kodok itu yang terus-menerus mengejekku.” Aku berusaha menahan senyum, “Si Kodok? Jadi sekarang kalian mulai memberi panggilan sayang satu sama lain?” Hyemi membelalakan matanya. “Aniyo!! Dia memang seperti kodok. Lihat saja matanya yang bulat dan besar.”

Aku tertawa mendengar perumpamaan. Kalau dipikir-pikir Minho memang terlihat seperti kodok *ditendang Minho*. “Eonnie…” tiba-tiba Hyemi bersuara. “Waeyo?” tanyaku. Dengan wajah ragu-ragu ia bertanya, “Mianhae eonnie kalau pertanyaanku ini menyinggung perasaanmu. Aku hanya ingin tahu bagaimana perasaanmu sekarang eonnie? Seminggu lagi Eunhyuk sajangnim dan adikmu akan menikah kan? Apakah kau tidak terluka? Apakah kepergianmu ke Paris karena hal ini?”

Aku menatapnya, “dari mana kau tahu itu semua? Minho yang menceritakannya kepadamu?” Hyemi mengangguk perlahan. “Maaf aku sudah lancang mengetahui masa lalumu.”

“Arasseo, kau tenang saja.” Ucapku menenangkannya. Aku menghempaskan punggungku ke sandaran kursi. “Kalau kau ingin tahu perasaanku sekarang, jujur aku sama sekali tidak merasa sedih atau marah. 6 tahun bukanlah waktu yang sebentar, dan karena itu mungkin perasaanku sudah perlahan-lahan sirna. Kalau dibilang terluka, dulu pastilah perasaanku terluka, namun mau bagaimana lagi? Tidak ada yang bisa ku lakukan. Aku tidak bisa dengan egois memisahkan mereka berdua dan membuat segalanya menjadi lebih rumit. Dan untuk kepergianku ke Paris sama sekali tidak ada hubungannya dengan pernikahan mereka, Hyemi-ah.”

Hyemi terlihat sedikit terkejut dengan ucapanku. “Eonnie, kau tahu tidak? Saat ini kau benar-benar terlihat mengagumkan. Kau adalah yeoja kedua yang menjadi panutanku setelah eomma kandungku. Aku tidak bisa berpikir, bagaimana jika aku berada di posisimu. Pasti aku sudah hancur berkeping-keping,” aku tersenyum mendengar ucapannya.

“Kau tidak akan hancur berkeping-keping kalau kau mempunyai adik seperti Minho dan sahabat seperti Teukie oppa yang selalu ada di sampingmu.” Kali ini gentian Hyemi yang tersenyum lebar. “Kalau itu aku tahu eonnie. Minho memang benar-benar menyayangimu. Terlihat jelas saat ia menyusulmu ke Jeju kemarin.”

Aku terkejut mendengar pengakuan Hyemi. “Minho menyusulku ke Jeju? Jinjjayo?” Hyemi mengangguk, “Ne! Dia mengikuti dan menjagamu dari jauh seperti seorang penguntit, hahaha. Dia juga meminta bantuanku untuk menjauhkanmu dari Eunhyuk sajangnim.”

“Jinjjayo? Aisshh anak itu benar-benar. Akan kuberi pelajaran dia nanti, hahaha.” Kami pun larut dalam obrolan yang tidak ada habis-habisnya, saat tiba-tiba ponsel Hyemi berbunyi. “Yeoboseyo?” tanyanya. “Makan siang? Aku tidak bisa. Ada hal yang lebih penting yang harus kulakukan daripada makan siang denganmu. Sudah ya, Annyeong Kodok!” Senyumku tercetak sempurna saat mendengar kata-kata terakhir dari bibir Hyemi. “Jadi selama ini kalian juga sering makan siang bersama? Apakah si Kodok benar-benar membuatmu jatuh cinta, hah?” ledekku. “EONNIE!!!!” sungut Hyemi.

*Minho POV*

Sejak kapan yeoja itu berani menolak ajakanku. Dan apa katanya tadi? Dia sedang melakukan hal yang lebih penting daripada makan siang denganku? Awas saja nanti kalau aku bertemu dengannya. Jadilah aku di sini, duduk sendirian di bangku taman dengan setangkup sandwich dan kopi panas. Sebenarnya aku tidak terlalu suka makan sendirian, tapi mau bagaimana lagi.

“Minho-sshi?” Aku mengangkat wajahku saat seorang namja memanggilku. “Leeteuk hyung?” Namja itu kini sedang berdiri di hadapanku sambil tersenyum. “Boleh aku duduk di sini?” Aku hanya menganggukkan kepalaku. Sebenarnya sudah sejak 2 minggu yang lalu aku menghindari namja ini. Tapi nasib mendekatkanku dengannya hari ini. Keheningan menyelimuti suasana di sekitar kami berdua. “Minho-ya,” ucapnya tiba-tiba. Aku menatap wajah namja itu. “Boleh kan aku memanggilmu Minho-ya? Seperti saat kau masih suka melempariku dengan kerikil bersama kakakmu itu,”

“Ne. Tentu saja hyung.” Pria itu melebarkan senyumnya, mungkin benar kata Yura noona kalau Leeteuk hyung adalah seorang malaikat. Senyuman khasnya tidak pernah beranjak sedetik pun dari wajahnya. “Aku tahu kau menjaga jarak denganku. Dan aku juga tahu alasan apa yang membuatmu bersikap seperti itu kepadaku.” Aku membulatkan mataku, kaget dengan apa yang diucapkan olehnya. “Hyung… Kau tahu?” tanyaku ragu.

“Tentu saja aku tahu.” Pembicaraan kami terus mengalir tanpa henti, dan aku menyadari keputusanku menjauhi namja ini salah besar. “Hyung, aku minta maaf untuk semuanya,” Leeteuk hyung tetap menatapku sambil tersenyum. “Semua itu bukan kesalahanmu. Malah seharusnya aku berterima kasih kepadamu karena sudah menyadarkan perasaanku yang sebenarnya,” ucap namja itu.

Kecanggungan kembali meliputi kami berdua. Sesaat sebelum Leeteuk hyung pergi, aku merasa harus melakukan sesuatu, “Hyung! Bisakah kau mengabulkan permintaanku?”

 *************

*Author POV*

Pernikahan Eunhyuk dan Sulli tinggal sehari lagi. Semua sudah disiapkan dengan sebaik mungkin, mulai dari baju pengantin, dekorasi, makanan, semuanya sudah beres. Begitu pun dengan Yura yang sudah beres merapikan barang-barangnya. Besok, tepat setelah pernikahan adiknya selesai, dia akan berangkat ke Paris bersama Leeteuk. Malam ini Yura pergi ke rumah Eunhyuk untuk menyerahkan cincin pernikahan yang dititipkan oleh appanya. “Annyeonghaseyo ahjumma. Apakah Eunhyuk ada?” tanya Yura kepada eomma Eunhyuk. “Tentu saja ada, dia sedang di pinggir kolam renang. Kau susul saja.” Yura pun memutuskan untuk menyusul Eunhyuk ke kolam renang.

Namja itu terlihat seperti memikirkan sesuatu. “Kau sedang tidak berpikir bagaimana caranya membatalkan pernikahan besok kan?” ucap Yura tiba-tiba. Eunhyuk menatap yeoja di hadapannya dengan mata sayu. “Hampir benar. Aku sedang memikirkan bagaimana caranya mengubah hatimu kembali dan membawamu kabur serta menikah denganmu.”

Yura tertawa kecil mendengar jawaban Eunhyuk, “kalau kau melakukan itu, kau benar-benar sudah gila. Bolehkah aku duduk di sini?” Eunhyuk mengendikkan bahunya. “Lakukan apa yang kau mau.” Yura duduk tepat di samping namja itu, dia ikut mencemplungkan kakinya ke dalam air. Sesaat tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir mereka.

“Kau ingat? Dulu saat kita masih bersama, kita sering sekali menghabiskan waktu di sini. Entah mengobrol, bercanda, sampai bermain air,” ucap Yura sambil memandang kolam tersebut. “Tentu saja aku ingat. Selama kepergianmu 6 tahun ini, tidak ada lagi yeoja yang cerewet memintaku terus-terusan memandang bintang dari sini. Sulli saja tidak pernah aku izinkan menginjakkan kaki di tempat ini.” Yura menatap Eunhyuk.

“Tapi sekarang, tentu saja kau akan mengizinkannya kan? Sebentar lagi kalian akan menjadi satu.” Eunhyuk kembali menarik nafas dan menghelanya dengan berat. “Apakah kau benar-benar tidak memberiku kesempatan sekali lagi Ra-ya? Kesempatan supaya aku bisa memperbaiki semuanya,” ucap Eunhyuk sambil tetap memandang kearah kolam renang.

“Tidak ada yang harus diperbaiki. Semuanya sudah berjalan dengan sangat indah. Takdirmu memang bukan bersamaku, melainkan bersama dengan Sulli.” Eunhyuk tertawa pelan, “Aku sudah tahu kalau kau akan berbicara seperti ini. Benar kata orang, kita tidak akan pernah tahu betapa berharganya sesuatu yang kita miliki sampai tiba saat dimana kita kehilangannya. Dan kehilangan dirimu adalah kesalahan terbodohku.”

Yura menggenggam tangan kanan Eunhyuk. Dia mengambil kotak cincin yang sedari tadi berada di kantongnya dan menyerahkannya ke dalam genggaman tangan Eunhyuk. “Berjanjilah padaku, kau akan menjaga Sulli dengan semua kekuatan yang kau punya. Kau akan mencintainya dan menjadikan dia satu-satunya wanita dalam hidupmu. Jangan kecewakan dia, jangan sekalipun membuatnya menangis. Jaga hati kalian, jangan sampai kalian berpisah. Karena kalau itu terjadi, aku adalah orang pertama yang akan membenci kalian, arasseo? Kumohon berjanjilah, saat cincin ini sudah melingkar di jari manis kalian, biarkan cinta kalian berdua menyatu untuk selamanya sampai maut sendiri yang memisahkan kalian berdua. Aku mohon, ini permintaanku yang terakhir kepadamu… oppa.” Eunhyuk membulatkan matanya saat mendengar kata terakhir dari bibir Yura.

“Jika itu maumu. Aku berjanji Choi Yura. Aku akan mencintainya dan menjadikan Sulli satu-satunya wanita di hidupku. Kau tenang saja, banyak pengorbanan yang aku lakukan untuk mendapatkannya, dan tidak akan semudah itu aku melepaskan dia.” Yura tersenyum lega. Kini semua beban di dalam hatinya menguap begitu saja. “Biarkan aku memelukmu, kakak ipar,” ucap Eunhyuk sambil menunjukkan gummy smilenya. Kini mereka berdua berpelukan, dengan rasa hangat dan saling melindungi layaknya saudara. “Aku pulang dulu oppa, lagipula misiku untuk menyadarkanmu sudah selesai. Kau juga harus beristirahat kalau tidak mau ada kantong di bawah matamu.” Eunhyuk tertawa dan mengusap puncak kepala Yura. “Arasseo. Kau pulanglah. Jaljayo.”

**********

            Perlahan Yura membuka pintu kamar adiknya. “Sulli-ya, kau sudah tidur?” tanyanya pelan. “Belum eonnie, ada apa?” jawab Sulli sambil bangun dari posisi tidurnya. Yura mendekat dan duduk di tepi ranjang adiknnya. “Aku hanya ingin melihat dongsaengku sebelum dia resmi menjadi wanita dewasa,” ucap Yura sambil mengelus rambut adiknya. “Maafkan aku, Sulli-ya. Mungkin selama 22 tahun ini aku tidak bisa menjadi kakak yang baik untukmu. Kau sendiri juga tahu kan bahwa kita tidak pernah dekat walaupun sama-sama perempuan. Maaf kalau aku tidak ada disaat kau membutuhkanku, aku tidak pernah ada di saat kau membutuhkan teman untuk bermain, aku tidak pernah ada disaat kau ingin bercerita tentang namja yang kau sukai. Aku tidak pernah memelukmu saat kau ketakutan setengah mati mendengar suara guntur.” Yura mengusap matanya yang mulai berair, sama dengan Sulli yang sudah daritadi mengeluarkan airmatanya.

“Aku memang bukan kakak yang baik, dan karena itu aku ingin memperbaiki semuanya. Bisakah kita mulai semuanya dari awal? Lupakan semua masa lalu yang membuat kita terpisah dan menjauh.” Ucapan Yura terhenti saat tiba-tiba Sulli memeluknya dengan erat.

“Berhentilah menyalahkan dirimu. Aku juga pihak yang bersalah di sini. Maafkan aku kalau selama ini aku hanya bisa membuatmu terluka dan membenciku. Maafkan aku yang dengan begitu jahatnya merebut orang yang kau cintai dengan tulus. Maafkan aku karena selama ini aku dengan egois merebut semua perhatian orang-orang. Maafkan aku eonnie, maafkan aku.” Mereka berdua berpelukan dengan berurai airmata. Tidak ada lagi kata-kata yang bisa menggambarkan perasaan mereka saat itu. Pelukan erat antara kakak dan adik yang sarat akan rasa rindu.

“Berhentilah menangis dan berpelukkan seperti itu. Paling tidak biarkan aku menjadi tangan yang menghapus semua airmata itu dari wajah kalian,” ucap Minho yang sedari tadi menyaksikan kejadian di depan matanya dalam diam. “Kau. Kemarilah,” ucap Yura. Minho berjalan dan mendekati kedua saudara perempuannya, membenamkan mereka berdua ke dalam pelukannya.

“Bisakah kalian tidur di sini malam ini? Aku ingin menghabiskan waktu bersama kalian,” ucap Sulli. “Tentu saja. Lagipula kita sudah lama sekali tidak berkumpul bersama seperti ini. Dan hapus airmatamu itu. Kau tidak ingin kan terlihat seperti badut di hari besarmu besok?” ujar Minho sambil menghapus sisa-sisa airmata di wajah Sulli. Malam itu, mereka bertiga tidur dengan saling memeluk, memberikan kehangatan yang rasanya sudah lama sekali tidak mereka rasakan. Kehangatan sebuah keluarga, yang tidak akan pernah bisa berubah sampai kapanpun. Karena itulah makna sebuah keluarga, saling memaafkan dan mendukung satu sama lain.

***********

*Choi Yura POV*

Perlahan kubuka pintu ruang rias pengantin wanita. Terlihat adikku sedang mondar-mandir tidak karuan. “Sulli-ya, neo gwenchana?” tanyaku. Sulli berlari kecil ke arahku. “Eonnie bagaimana ini? Daritadi pikiran dan hatiku tidak tenang. Aku takut. Aku takut pada saat aku keluar dari ruangan ini, aku tidak bisa menemukan Eunhyuk oppa karena dia membatalkan pernikahan ini. Bagaimana kalau dia belum siap? Bagaimana kalau dia memutuskan untuk menunda pernikahan ini? Ottokhae eonnie?”

Aku menggenggam tangan adikku, berusaha menyalurkan rasa hangat kepadanya. “Tenanglah Choi Sulli, semuanya akan berjalan dengan lancar. Aku yakin Eunhyuk oppa tidak akan berbuat seperti yang kau bayangkan tadi. Dia mencintaimu, sangat mencintaimu. Maka tidak mungkin ia meninggalkanmu seperti ini. Lagipula tadi dia terlihat sangat gembira, senyum konyolnya itu tidak hilang dari wajahnya sedetik pun.” Sulli memandangku penuh harap. “Jinjjayo?” Aku mengangguk. “Sulli sayang, apa kau sudah siap?” Appa melongokkan kepalanya dari luar. “Choi Sulli, aku tidak menyangka. Sebentar lagi namamu itu akan berubah menjadi Nyonya Lee. Ingat kata-kataku tadi, jangan panic dan tetap tenang. Buat semua orang di luar terpesona dengan kecantikanmu. Dan yang paling penting, buat calon suamimu itu tidak bisa berkedip memandangmu. Arasseo?” Sulli tersenyum dan memelukku. “Gomawo eonnie. Jinjja gomawo.” Sebelum keluar aku melayangkan tepukan hangat di punggung Sulli.

Sekarang di sinilah aku, duduk di barisan paling depan bersama eomma, Minho dan Leeteuk oppa yang berada di sebelahku. “Darimana saja kau? Apa kau baru menemui Sulli?” bisik Leeteuk oppa. “Ne, hanya sekedar mengecek keadaannya. Kau harus melihatnya oppa, dia sangat cantik hari ini.”

Tidak lama pintu gereja mulai terbuka, kami yang berada di dalamnya berdiri menunggu sang pengantin wanita memasuki gereja. Terlihat di seberang sana Sulli dengan gaun putih panjang rancangan eomma yang membalut tubuhnya dengan sangat indah. Di tangan kirinya tergenggam buket bunga. Cantik sekali. Aku melirik sekilas ke arah Eunhyuk oppa yang sedang menatap Sulli tanpa berkedip.

Perlahan Sulli semakin mendekati altar, bersama dengan appa di sampingnya. Kini kedua pengantin berhadapan, appa menyerahkan tangan kanan Yura ke dalam genggaman tangan Eunhyuk. Kini mereka berdampingan menghadap altar, siap mengucapkan janji suci.

*************

*Author pov*

Suasana ballroom hotel malam ini dibalut dengan nuansa putih elegan. Terlihat banyak orang-orang penting di Korea bahkan di Asia, menyempatkan waktu mereka untuk memberikan ucapan selamat kepada Eunhyuk dan Sulli. Kini pasangan pengantin tersebut berkeliling menyapa para tamu yang hadir dengan jemari yang saling terpaut.

“Noona, kau benar-benar akan berangkat malam ini?” tanya Minho kepada Yura. “Tentu saja. Aku dan Teukie oppa akan meninggalkan pesta ini sebentar lagi.” Minho menatap yeoja tersebut dengan intens. “Hei, jangan menatapku seperti itu. Aku sudah memikirkan semuanya secara matang. Tidak ada yang harus dikhawatirkan. Arasseo?” ucap Yura.

“Kau ini benar-benar yeoja keras kepala noona. Tapi aku bisa sedikit tenang. Setidaknya ada Leeteuk hyung disampingmu,” kali ini giliran Yura yang menatap Minho bingung. “Aku percaya, Leeteuk hyung pasti bisa menjagamu. Dan kau tenang saja noona, aku adalah orang pertama yang akan merestui hubungan kalian nanti,” ucap Minho sambil tersenyum.

“Kau itu benar-benar menyebalkan. Sudahlah, sepertinya sudah waktuku untuk pergi kalau tidak ingin tertinggal pesawat. Jangan merindukanku Choi Minho.” Yura mengecup pipi adiknya sekilas seraya berjalan meninggalkannya. “Oh iya, sebelum aku lupa,” Yura berbalik menatap Minho, “sepertinya kau harus bergerak lebih cepat, sebelum yeoja itu direbut namja lain.” Minho mengikuti arah pandangan noonanya dan mendapati seorang yeoja mungil sedang berbincang bersama seorang namja. “Tidak usah menceramahiku. Gadis itu tidak akan kuserahkan kepada orang lain.” Yura tersenyum mendengar ucapan adiknya. Setidaknya dia bisa tenang, sepertinya Minho mencintai gadis yang benar.

“Kau sudah siap Yura-ya?” tanya Leeteuk. “Tunggu sebentar oppa, ada yang harus kuselesaikan.” Yura berjalan mendekati pasangan pengantin. “Eonnie! Haruskah kau secepat ini meninggalkan Seoul?” ucap Sulli. “Benar. Tidak bisakah kau menunda kepergianmu?” lanjut Eunhyuk. Yura pura-pura cemberut, “dan aku akan melihat kalian mengumbar masa-masa pengantin baru di depanku? Tidak akan, hahaha. Aku harus pergi sekarang. Namun sebelumnya ada yang ingin kuserahkan kepada kalian.” Yura merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah dream catcher.

“Sebenarnya ini adalah hadiah ulang tahun untukmu 6 tahun yang lalu, Sulli-ya. Maafkan aku baru bisa menyerahkannya sekarang. Ini adalah dream catcher. Orang bilang benda ini bisa membuatmu terbebas dari mimpi buruk, dan aku ingin kalian menyimpan benda ini. Setidaknya sekarang aku tidak memerlukan lagi benda ini. Aku sudah menemukan pengusir mimpi buruk pribadiku.”

Yura menyerahkan benda itu ke tangan Eunhyuk dan Sulli. “Ingat pesanku. Kalian tidak boleh berpisah. Hiduplah bersama sampai tua nanti. Eunhyuk oppa, kuharap kau benar-benar menepati janjimu. Sulli-ya kau harus percaya kepada Eunhyuk oppa, bahwa tidak ada lagi wanita yang bisa mengganti posisimu di hatinya. Oh iya! Cepatlah berikan aku keponakan yang lucu, arasseo?” Eunhyuk tertawa lebar sedangkan Sulli menunduk malu mendengar ucapan kakaknya.

Yura berpamitan kepada semua keluarganya dan pergi bersama dengan Leeteuk menuju bandara. “Aku tidak menyangka berhasil membawamu kembali ke Paris,” ucap Leeteuk saat mereka berdua menunggu panggilan di ruang keberangkatan. “Kukira tindakanku mengejarmu sampai ke Seoul akan menjadi perjalanan yang sia-sia,” lanjutnya masih dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.

“Apa maksudmu oppa? Lagipula apa kau tidak punya pekerjaan lain? Pernikahanmu itu kurang dari 2 bulan lagi, tapi kau malah dengan tenangnya menghabiskan waktu di Seoul dengan sahabat terbaikmu yang berusaha mengobati luka hatinya.” Leeteuk tersenyum dan menatap Yura dengan tatapan yang meneduhkan.

“Setidaknya kepulanganku ke Seoul bisa menemani sahabatku tersebut mengobati luka hatinya dan kalau aku beruntung, aku bisa mengisi kekosongan hatinya serta membuat sahabat terbaikku itu kembali percaya adanya cinta.” Yura berusaha mencerna isi kalimat Leeteuk.

“Maksudmu?” tanya Yura bingung. Pembicaraan mereka dicela oleh suara yang mengumumkan bahwa pesawat tujuan Paris akan lepas landas. “Kau tahu? Kau itu sangat keras kepala. Setidaknya bukalah sedikit celah di hatimu. Kau tidak akan tahu, ada seseorang yang siap mengisi kehampaan itu dan berusaha membuatmu tersenyum. Yura-ya, mulailah percaya dengan cinta.” Ucap Leeteuk sambil berdiri. “Dan satu lagi. Kau tidak perlu cemas dengan pernikahanku 2 bulan lagi, karena semuanya dibatalkan dan tidak akan terjadi. Tidak akan ada pernikahan dalam waktu dekat ini, kecuali kau mau menyandang nama Park di depan namamu.” Leeteuk berjalan meninggalkan Yura yang masih terkejut.

“Tidak ada pernikahan? Ya! Apa maksudmu oppa?” teriak Yura sambil mengejar Leeteuk. “Pernikahanku dengan yeoja itu tidak akan terjadi. Aku tidak ingin mengekangnya terus hidup di dalam dekapanku. Aku membebaskannya, sama sepertimu membebaskan Eunhyuk. Tapi aku tidak pernah menyesal, karena selama ini kau, Choi Yura, adalah satu-satunya yeoja yang mampu mengikat hatiku. Dan takdir berpihak padaku. Sepeti katamu, aku memang diciptakan untuk menjadi malaikat pelindungmu.” Yura menatap namja dihadapannya. Merasa bodoh karena takdir mempermainkan mereka.

“Kau benar-benar sukses membuatku terkejut oppa. Dan aku rasa kau punya pekerjaan tambahan selain menjadi malaikat pelindungku,” Yura melingkarkan tangannya di lengan Leeteuk, “mulai sekarang kau juga bertugas menjadi pengusir mimpi buruk pribadiku.” Leeteuk menatap yeoja di hadapannya sembari mengelus pipi yeoja itu yang merona. “Arasseo. Perkataanmu adalah perintah untukku, my lady.”

Yura tersenyum lebar. Sama seperti Leeteuk, dia tidak pernah menyesal untuk pulang ke Seoul. Semua ini menempanya menjadi yeoja yang kuat, hubungannya dengan Sulli pun membaik, dan yang paling penting dia bisa kembali mempercayai cinta. Cinta yang tulus dari seorang namja. Benar kata Minho dulu, cinta akan selalu mengikuti kita kemanapun kita pergi. Kita tidak tahu kapan dia datang, tetapi saat cinta menyapa, dia mampu mengobati semua luka yang ada.

THE END

***************

 OTTE??? *dugeundugeun* puas gak sama endingnya?? hehehe. Selesai juga perjalanan 5 chapter ini *ngelapkeringet*.

Apa masih ada yang bingung ada apa sebenarnya diantara leeteuk dan minho? hehehe ditunggu ya after story nya 🙂

Gomawo untuk semua reader yang setia nungguin dan baca fanfic ini dari chapter 1 – chapter 5 “deep bow* neomu neomu neomu gomawo 😀

Jangan lupa kunjungin dan baca fanfic ku yang lain 🙂

(Kyuso Moment) My Dandelion (part 1) (part 2) (part 3) (part 4 – End)

Your heart is my favorite

First Snow in December

Sekali lagi, gomawo reader!!!! sampai ketemu di fanfic berikutnya

ANNYEONG!!! 🙂 ❤

Advertisements

19 responses to “I’m Strong Enough Without You – (Chapter 5) END

  1. aaaaa, suka sama endingnyaaaa~
    beneran ga nyangka klo yura bakal berakhir sama teuki oppa. belum lagi eunhyuk yg akhirnya beneran nikah sama sulli, minho sama hyemi. kekeke =D
    untung kegalauan eunhyuk ga smpe tahap pembatalan pernikahan. waa, bakal ad afstornya nih? asekkk, dtunggu ya ^^

  2. dikira yura bakal sama eunhyuk taunya leeteuk :O
    tapi tetep bagus deh 😀
    ada sequel nya ga? adain dong biar tambah seru penasaran nih hubungan yura sama leeteuk gimana nantinya

  3. Wah rame bgt!feelny dpt!hmpir aj nangis-___-wah, key ngilang?sedih amat!bikin sequel dong thooooor!jebaaaalllllllllll

    Oh y, it emg siapa awalny yg am teukie oppa thor?kok gk di critain sihhh

    Mian thor, ak baru nemu ff in, jadi baru bisa comment skrg dehhh(~O.o)~

    POkOKNYA PLEASE ADAIN SEQUELNYAAAA!!! *Demo bakar ban

    • ada yang demo?? kabuuuuuuur!!!!!

      pokoknya kisah teukie oppa bakal dijelasin bareng kisahnya Minho di after story nanti 🙂
      It’s okay, malah makasih banget masih ada yang mau baca fanfic abal ini hehehe
      Pokoknya ditunggu aja afstor-nya

      gomawo 🙂

  4. wah..yura hebat bgt bisa ngerelain eunhyuk dlm beberapa hari..salut dh..teuki jg keren sabar nunggu hati yura..ffnya keren,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s