Baby I need Love [Part 5]

Tittle : Baby I need Love [Part 5]

Main Cats :

Cho Kyuhyun (Super Junior), Song Kihyun (OC),  Park Nara (OC),  Choi Minho (SHINEE)

Support Cats : Temukan sendiri ^^

Genre : Romance, Family, Married life

Rating : PG 16

Length: Chaptered

Author : rahmassaseol (@rahmassaseol)

Disclaimer  : Cerita ini hanya fiksi dan murni hasil imajinasi saya. Jadi, jika ada kesamaan apapun itu, entah peran, karakter atau bahkan jalan ceritanya saya benar-benar minta maaf, karena saya sama sekali tidak tahu menahu. Dan semoga FF ini bisa menghibur kalian semua!. Gomawo! ^o^

Special Edition 27 pages ^^

[Prolog] [Part 1] [Part 2] [Part 3] [Part 4]

~Can I love you?~

Author POV

Sebuah meja makan berbentuk lingkaran itu kini telah berisi lima orang yang tengah menikmati sarapan mereka masing-masing. Di samping kanan Kyuhyun duduk seorang gadis jelita yang sedang meneguk susu coklatnya, sementara itu di samping kirinya duduk seorang pria berambut putih yang sedang mengoles rotinya dengan selai strawberry. Kemudian seorang wanita yang kira-kira berumur empat puluhan itu kini sedang menuangkan teh ke dalam cangkir milik suaminya yang duduk tepat di sampingnya. Suasana hening, semua masih larut dengan  kegiatannya masing-masing, sampai sebuah suara berat itu memecah keheningan ini dan membuat semua mata kini tertuju ke arahnya.

“Jadi Kyuhyun-ah Kihyunie, kapan tepatnya kalian bisa memberikan seorang cicit yang lucu untukku?” ucap Cho Jinhyuk yang membuat semua terperangrah menatapnya.

“Mwo! Cicit?” pekik Kyuhyun dan Kihyun bersamaan.

“Harabeoji, kami ini masih muda, kami masih belum siap untuk memiliki seorang anak…,” jawab Kyuhyun berusaha mengelak.

“Apa salahnya jika kalian masih muda? Bukankah lebih cepat itu lebih baik? Lagi pula aku juga sudah terlalu tua jika menunggu sampai kalian siap,” balas Cho Jinhyuk enteng. “Ah.. ya satu lagi, Kyuhyun-ah Kihyunie hari ini cepat bereskan pakaian kalian dan pindah ke rumahku. Aku sudah mempersiapkan kamar untuk  kalian berdua,” lanjut Cho Jinhyuk yang seketika membuat mata Kyuhyun dan Kihyun terbelalak lebar.

“Mwo?! Apa maksud kakek kami akan tinggal bersama dengan kakek?” sahut  Kyuhyun yang masih tidak percaya pada apa yang baru saja kakeknya katakan.

“Bingo! Kalian akan tinggal bersamaku. Bukankah halaman rumahku sangat luas sehingga cicitku nantinya akan dengan senang berlarian di sana,” jawab Cho Jinhyuk tenang sambil mengoleskan selai di atas rotinya.

“ANDWEE! Tidak kek, kami akan tinggal berdua di apartemenku,” ucap Kyuhyun tegas dengan mata yang menatap pria berambut putih itu tajam, sementara salah satu sikunya kini menyenggol lengan Kihyun seakan memberi isyarat untuk membantunya mengelak dari keinginan kakeknya.

“Ne Harabeoji, untuk saat ini kami lebih merasa nyaman jika kami hanya tinggal berdua di apartemen Kyuhyun,” sahut Kihyun berusaha meyakinkan Cho Jinhyuk.

“Mwo! Apartemen? Ya! Bukankah apartemenmu itu sangat kecil huh! Bagaimana bisa nantinya cicitku akan tumbuh di rumah yang terlalu sempit itu?” jawab Cho Jinhyuk dengan dahi mengernyit.

“Ya Harabeoji, jika apartemenku sekarang terlalu sempit aku akan segera membeli apartemen yang lebih besar dan luas. Lagi pula apa-apaan ini dari tadi harabeoji selalu membahas cicit cicit, kakek tahu telingaku sudah panas mendengarnya, lebih baik aku tegaskan sekarang juga bahwa aku dan Kihyun tidak akan memiliki seorang bayi dalam waktu dekat ini,” ucap Kyuhyun tegas.

“Ne benar kek, lagi pula kesibukan Kyuhyun di kantor sudah tidak memungkinkan kami untuk memiliki seorang bayi dalam waktu dekat ini. Aku harap kakek mengerti dengan keadaan kami,” tambah Kihyun yang membuat Cho Jinhyuk terpojok.

“Mwo! Ya! Kyuhyun-ah sejak kapan kau mulai mengajak isterimu berkonspirasi huh!” jawab Cho Jinhyuk kesal yang mulai merasa resah karena semakin terpojok.

“Kurasa ada benarnya juga dengan apa yang dikatakan Kihyun harabeoji, bukankah mereka adalah pengantin baru jadi wajar saja jika mereka hanya ingin tinggal berdua saja tanpa ada pihak ketiga yang akan mengusik mereka,” sahut Tn. Song penuh wibawa dan sekilas matanya melirik ke arah Kihyun dengan senyuman penuh maksud tersungging di bibirnya.

Sejenak pria tua berambut putih itu diam dan berpikir sebelum akhirnya ia memutuskan sesuatu, “Ne baiklah Kyuhyun-ah-Kihyunie aku tidak akan memaksa kalian untuk tinggal bersamaku, tinggalah di tempat yang menurut kalian nyaman.”

“Mwo? Uwah! Gamsahamnida harabeoji,” sahut Kyuhyun girang dengan mata berbinar.

“Cheongmal? Ne, Gamsahamnida harabeoji,” ucap Kihyun semangat walaupun di dalam hatinya ia ingin menolak mentah-mentah pendapat Appa-nya itu.

*********************

            Namja tampan berambut ikal itu kini terlihat santai, ia duduk di sebuah sofa di lobi hotel sambil menyesap nikmat secangkir kopi hangat. Ia tak berhenti tersenyum sejak acara sarapan bersama keluarga barunya tadi, kata-kata yang dikeluarkan oleh ayah mertuanya itu membuat ia ingin selalu tertawa karena berkat pendapat ayah mertuanya itu ia bisa habis-habisan meledek Kihyun isterinya. ‘Hah… lebih nyaman katanya.. hahahhah,’ batin Kyuhyun dalam hati. Kemudian kehadiran seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik di usianya yang tidak muda lagi itu mengejutkan Kyuhyun, wanita itu pun duduk di samping Kyuhyun sambil tersenyum hangat kepadanya.

“Oh… Ommoni,” ucap Kyuhyun seraya memberi hormat kepada ibu mertuanya itu.

“Ah Kyuhyun-ah kau tidak perlu sungkan padaku, anggap saja aku ini ibumu sendiri ne?” jawab wanita itu lembut.

“Oh.. ne ommoni,” ucap Kyuhyun sambil membalas senyuman wanita yang telah menjadi ibu mertuanya itu.

“Kyuhyun-ah, apa kau mencintai Kihyun?” tanya wanita itu tiba-tiba yang sanggup membuat jantung Kyuhyun berhenti saat ini juga. Matanya membeliak terkejut mendengar pertanyaan dari ibu mertuanya, ia sama sekali tidak tahu harus menjawab apa, seketika keringat dingin membasahi pelipisnya.

 “Sebenarnya…,” jawab Kyuhyun ragu, ia takut jawabanya akan membuat ibu mertuanya itu kecewa.

“Jawablah terus terang Kyuhyun-ah, aku tidak akan marah kepadamu ne?” kata eomma Kihyun halus seolah ia bisa membaca pikiran Kyuhyun.

“N..ne, sejujurnya aku sama sekali tidak mencintai Kihyun ommoni, chesohamnida..,” jawab Kyuhyun lirih, dan benar apa yang diperkirakannya tadi, senyum yang setia tersungging di bibir wanita paruh baya itu perlahan memudar, tampak rasa kecewa terlihat di wajahnya.

“Hemm ne, aku memang sudah mengira jawabanmu akan seperti itu Kyuhyun-ah. Kau tidak perlu meminta maaf padaku, itu merupakan hal yang wajar karena pada dasarnya kalian memang tidak saling mencintai, kalian pun terpaksa menikah karena dijodohkan dan bukan karena inisiatif  kalian sendiri, jadi jangan merasa bersalah kepadaku Kyuhyun-ah,” jelas eomma Kihyun panjang.

“Ne ommoni…,” ucap Kyuhyun pelan dan kini kepalanya tertunduk lemas.

Suasana mendadak menjadi hening, hanya terdengar suara hiruk pikuk para pekerja hotel yang memulai rutinitasnya. Kepala Kyuhyun pun masih tertunduk lemas menatap lantai marmer yang tersusun rapi, ia tidak punya keberanian untuk mengangkat wajahnya. Sementara wanita paruh baya itu kini sedang menyeduh teh hangatnya yang kemudian diminumnya perlahan.

“Kyuhyun-ah…,” ucap wanita itu memecah keheningan di antara mereka.

“Ne ommoni..,” jawab Kyuhyun lirih.

“Apa kau mau mengabulkan satu permintaanku?”

“Ne tentu saja ommoni, aku akan berusaha mengabulkan permintaanmu.” Kyuhyun pun menegakkan badanya dan memekakkan telinganya agar ia bisa mendengar dengan jelas apa yang diinginkan oleh ibu mertuanya tersebut.

“Pada awalnya kalian memang tidak saling mencintai, tapi aku percaya dengan berjalannya waktu cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. Ini memang sulit untukmu Kyuhyun-ah, tapi bisakah kau berusaha untuk mencintai Kihyun?” kata wanita paruh baya itu memohon. Tampak kesungguhan di dalam kedua bola mata wanita itu, ia sangat berharap Kyuhyun akan mengabulkan permintaannya.

“Ne ommoni aku akan berusaha,” jawab Kyuhyun bohong, ia tak mampu berkata yang sebenarnya bahwa ia belum sanggup mengabulkan permintaann ibu mertuanya itu karena ia masih menyimpan rasa cinta pada Park Nara, gadis yang sudah mencampakkannya. Ia tak mau membuat ibu metuanya itu kecewa untuk yang kedua kalinya.

“Ah… gomaweo Kyuhyun-ah aku percaya padamu. Tolong kau jaga Kihyun dengan baik ne? walaupun terkadang sikapnya sedikit tidak bersahabat tapi pada dasarnya dia adalah gadis yang baik. Anak itu sudah banyak merasakan penderitaan sejak ia masih kecil, aku berharap kau mau menyimpan air mata Kihyun dan menjaganya agar tidak menetes lagi,” ucap wanita itu sambil tersenyum hangat kepada menantunya.

******************

Kyuhyun POV

“Ah… gomaweo Kyuhyun-ah aku percaya padamu. Tolong kau jaga Kihyun dengan baik ne? walaupun terkadang sikapnya sedikit tidak bersahabat tapi pada dasarnya dia adalah gadis yang baik. Anak itu sudah banyak merasakan penderitaan sejak ia masih kecil, aku berharap kau mau menyimpan air mata Kihyun dan menjaganya agar tidak menetes lagi,” ucap eomma Kihyun sambil tersenyum hangat kepadaku.

“Ne ommoni,” jawabku lirih.

 Seketika rasa bersalahpun memenuhi hatiku, tega sekali diriku membohongi beliau yang sudah mau menganggapku seperti anaknya sendiri, rasa bersalah karena sudah berbohong kepadanya bahwa aku akan berusaha untuk mencintai Kihyun. Sebenarnya aku sungguh tak sanggup melakukannya karena hatiku sepenuhnya telah kuberikan kepada gadis itu, Park Nara. Ini memang tidak adil untuk Kihyun, gadis polos yang hanya kumanfaatkan untuk memenuhi kepentinganku, gadis yang juga tengah terluka karena dikhianati oleh cinta pertamanya. Apa yang harus kulakukan agar air matanya yang berharga itu tidak kembali menetes?

“Kyuhyun-ah! Ayo pergi,” pekik gadis bermata coklat yang telah sah menjadi isteriku seraya berjalan menghampiriku. Aku pun memalingkan wajahku ke arahnya, menatap wajah yang sanggup meluluhkan hati banyak pria itu.

“Oh Kihyunie apa kau sudah berpamitan pada kakek dan appa-mu?” jawabku seraya bangkit dari tempat dudukku, wanita paruh baya itu pun turut bangkit dari tempat duduknya sambil memamerkan senyum yang menawan kepada anak gadisnya itu tapi Kihyun justru mengacuhkannya, seakan wanita itu tak ada.

“Ne aku sudah berpamitan kepada mereka, kajja kita harus pergi sekarang,” ucap Kihyun terburu-buru dan dengan sigap ia meraih salah satu pergelangan tanganku yang memaksaku bergerak mengikutinya.

“Ya! Song Kihyun apa kau tidak mau memberi salam kepada ibumu hah?” sahutku.

“Oh ne, Annyeonghassimnika Ham Haera-shi,” ucap Kihyun singkat sambil membungkukkan badannya memberi hormat kemudian langsung menarikku paksa keluar dari hotel ini. Wanita itu hanya membalas salam hormat Kihyun dengan senyum memaksa, tampak kesedihan di raut wajahnya itu. Dan akupun juga hanya bisa tersenyum janggal kepada ibu mertuaku itu sambil mengikuti langkah kaki Kihyun.

**************************

“Ya, Kihyunie apa kita langsung mencari apartemen hari ini? Atau kau mau untuk sementara waktu tinggal di apartemenku dulu?” tanyaku pada Kihyun sambil tetap focus ke arah kemudiku.

“Yang jelas aku tidak mau tinggal di apatemenmu, itu terlalu beresiko. Kita akan mencari apartemen baru setelah aku pulang kerja,” jawab Kihyun acuh tak acuh.

“Mwo? Kerja? Memang ada perusahaan yang mau memperkejakan orang sepertimu huh?” tanyaku lagi dengan nada mengejek.

“Ya! Bisa tidak sehari saja kau tidak memancing emosiku? Kau tahu aku ini seorang Desaingner dan banyak perusahaan mode pakaian menginginkanku untuk bekerja di perusahaan mereka!” balas Kihyun dengan intonasi yang lebih tinggi, mata coklatnya itu kini menatapku tajam seolah ingin menerkamku.

“Desaingner? Lulusan sekolah mode apa kau?” tanyaku kembali merendahkan.

“Ya! Aku ini lulusan terbaik dari ESMOD! Kau tahu aku lulus dengan nilai sempurna, kau saja yang belum tahu desain baju rancanganku,” sahut Kihyun berapi-api.

“Sudah cukup jangan bicara lagi, dasar nona tukang pamer! Ne….ne aku percaya padamu,” ucapku mengalah sambil sesekali tersenyum jahil mendapati ekspresinya yang lucu itu, pipinya menggembung dengan bibir mencebik. ‘Aish! Nomuu kyeopta!’ batinku dalam hati.

“Ah, Kihyunie apa alamat kantormu? Aku akan mengantarmu kesana,” ucapku lagi yang disambut dengan lirikan mematikannya itu.

************************

Kihyun POV

            Kyuhyun masih focus dengan kemudinya, matanya yang bulat itu memandang jalanan yang berada di hadapan kami berusaha untuk berkonsentrasi dengan jalan raya yang mulai dipadati angkutan-angkutan umum, bis, maupun kendaraan pribadi. Tidak ada pembicaraan di antara kami sejak pertengkaran kecil tadi, ia hanya membisu dan sesekali melirik ke arahku, kurasa di dalam hatinya ia sedang tertawa terbahak-bahak sekarang karena berhasil membuatku kesal setengah mati.

“Kihyunie, sekarang aku tahu,” celetuk Kyuhyun tiba-tiba.

“Mwoya?” jawabku acuh.

“Sekarang aku tahu kecantikanmu itu berasal dari mana, kurasa kau mewarisi kecantikan itu dari eomma-mu. Kau tahu eomma-mu itu sangat cantik, aku saja sampai terpesona karenanya,” jelas Kyuhyun dengan senyuman yang kini tersungging di bibirnya, aku pun hanya tersenyum masam menanggapi pujiannya itu.

“Dia bukan eomma-ku, lebih tepatnya dia adalah wanita sial yang telah merenggut kebahagiaanku dan eomma-ku,” jelasku datar. Seketika Kyuhyun menatapku dengan rasa iba, sungguh aku sangat tidak menyukai seseorang yang menatapku seperti itu setelah mendengar fakta menyedihkan ini.

“Miane Kihyun-ah,” ucap Kyuhyun lirih.

“Gwenchana, kau tidak perlu meminta maaf. Lagipula aku sudah tidak mempermasalahkannya lagi,” jawabku masih dengan ekspresi datar.

************************

Author POV

            Mobil berwarna hitam metalic yang berisikan sepasang suami isteri tersebut kini berhenti di depan sebuah gedung perusahaan pakaian. Tidak beberapa lama kemudian keluarlah lelaki tampan dari dalam mobil itu dan dengan sigap ia membukakan pintu untuk isterinya.

“Gomaweo,” ucap Kihyun singkat yang kemudian mulai berjalan masuk ke dalam gedung perusahaan pakaian itu.

“Kihyunie!,” pekik Kyuhyun memanggil isterinya, Kihyun pun seketika menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk gedung itu dan memalingkan wajahnya ke arah suaminya tersebut. Ia terlihat sedikit terkejut ketika mendapati suaminya itu sedang berlari menghampirinya.

“Waeyo Kyuhyun-ah?” tanya Kihyun ketika Kyuhyun sudah berada di hadapannya.

“Aniyo, aku hanya ingin bertanya kepadamu. Jam berapa kau pulang kerja?” tanya Kyuhyun dengan nafas yang sedikit memburu.

“Emm karena hari ini adalah hari pertama aku kerja, kurasa aku akan pulang lebih awal. Mungkin kira-kira jam satu siang aku sudah boleh pulang,” jawab Kihyun menjelaskan.

“Ya sudah kalau begitu nanti tunggu aku di sini ne? aku akan menjemputmu dan setelah itu kita akan memilih apartemen bersama-sama, araseo?” ucap Kyuhyun terburu-buru.

“Aniyo Kyuhyun-ah kau tidak usah repot-repot menjemputku, nanti aku saja yang akan pergi ke kantormu ne?”

“Shiro! Pokoknya kau tunggu aku di sini aku yang akan menjemputmu titik!” sahut Kyuhyun dengan sorot mata yang menajam ke arah Kihyun, kemudian ia pun langsung melesat pergi meninggalkan Kihyun yang kini menatapnya bingung.

“Apa dia salah makan sesuatu? Sejak kapan ia mau peduli padaku?” batin Kihyun dalam hati yang masih memandangi punggung suaminya bingung.

*************************

            Gadis cantik bermata coklat itu kini berjalan mengikuti seorang karyawan yang mengantarnya untuk menemui Presiden Direktur sebuah perusahaan yang akan menjadi tempat bekerjanya.

“Song Kihyun-shi, silahkan masuk,” ucap seorang karyawan itu mempersilahkannya masuk setelah sebelumnya meminta izin masuk dengan mengetuk ruang kerja Presiden Direktur tersebut.

“Ne, gamsahamnida,” jawab Kihyun yang kemudian masuk ke dalam ruang Presiden Direktur tersebut dan kemudian diikuti oleh karyawan yang mengantarnya itu.

“Choi sajangnim, nona Song Kihyun sudah datang,” ucap seorang karyawan tersebut, dan kemudian pria bermata besar yang menjabat sebagai Presiden Direktur itu menghentikan sejenak aktivitasnya semula.

“Oh ne, annyeonghaseyo Song Kihyun-shi silahkan duduk,” ucap pria bermata besar itu seraya memberi isyarat kepada Kihyun untuk duduk di sofa putih yang terletak di dalam ruang kerjanya yang cukup luas tersebut. Namun Kihyun tetap pada posisinya semula, ia tertegun mematung menatap wajah calon atasannya, ia merasa sudah tak asing lagi dengan wajah rupawan calon atasannya itu. Dan seketika sekelebat ingatannya itu muncul di benak Kihyun, ingatan tentang kejadian saat ia mabuk di diskotik beberapa minggu yang lalu.

“OMO! Neon si wajah bayi!” sahut Kihyun terkejut ketika ia menyadari bahwa pria yang ada di hadapanya itu adalah seseorang yang dibuatnya kesal saat ia mabuk di diskotik beberapa minggu yang lalu. Ia pun menutup mulutnya tidak percaya dengan kenyataan yang ada di hadapanya sekarang.

“Ya Song Kihyun-shi apa yang kau katakan?” tegur seorang karyawan yang mengantarnya tadi lirih.

“Gwenchana sekertaris Kim, kau boleh keluar sekarang,” kata pria bermata besar itu kepada seorang karyawan tersebut.

“Ne sajangnim,” jawab sekertaris Kim yang kemudian segera keluar ruangan meninggalkan pria bermata besar itu dengan Kihyun.

**********************

Minho POV

“Ah Song Kihyun-shi ternyata ingatanmu bagus juga,” kataku sambil berjalan mendekat ke arahnya yang kini hanya diam mematung dengan kepala tertunduk.

“Chesohamnida sajangnim aku telah banyak menyusahkanmu waktu itu,” jawab Kihyun lirih dengan kepala tertunduk, ia sama sekali tidak berani menatapku.

“Ne bagus jika kau sadar, kau memang sangat menyusahkanku waktu itu,” ucapku enteng sambil terus berjalan mendekat ke arahnya sampai aku bisa melihat jelas raut wajah menyedihkan itu.

“Cheongmal chesohamnida sajangnim,” kata Kihyun dengan suara penuh penyesalan dan beberapa kali ia membukukkan tubuhnya sebagai permintaan maafnya.

“Ya Song Kihyun-shi kau tidak perlu berlebihan seperti itu, aku tidak akan mempermasalahkan masalah itu lagi. Jadi kapan kau bisa mulai bekerja?”

“Ne? bekerja di sini?” ucap Kihyun balik bertannya dengan mata yang semakin membulat dan seketika itu pun ia berani mengangkat wajahnya dan menatapku dengan sorot mata penuh ketidak percayaan.

            Sejenak aku termangu melihat wajahnya yang sangat menawan itu, mata indahnya yang berwarna coklat itu seakan menghipnotisku untuk terus memandangnya. Garis wajahnya yang sangat sempurna itu pasti telah meluluhkan hati banyak pria yang melihat kecantikkannya yang seperti bidadari itu. Seketika aku pun menyadari seseuatu, ‘Aish, pantas saja bocah nakal itu bersedia dinikahkan dengannya,’ batinku dalam hati.

“T…tentu saja, bukankah kau datang kemari untuk bekerja di perusahaan ini?” jawabku sedikit tergagap karena sejenak terhipnotis dengan kecantikkannya itu.

“Maksud anda aku tidak jadi di pecat?” tanyanya lagi yang masih tidak percaya dengan kata-kataku barusan.

“Bagaimana aku bisa memecatmu jika kau belum bekerja di sini, lagi pula aku tidak akan mau membuang orang yang memiliki bakat sepertimu,” jelasku lagi dengan nada yang sudah kembali normal.

“Uwah! Cheongmal gamsahamnida sajangnim,” jawabnya semangat dan beberapakali membungkukkan tubuhnya sebagai tanda terimakasihnya kepadaku. Raut wajahnya yang masam itu dengan cepat berubah menjadi senyuman yang amat cerah.

“Ne sama-sama Song Kihyun-shi, kau bisa mulai bekerja hari ini juga, sekertaris Kim yang nanti akan mengantarmu menuju ruang kerjamu.”

“Sekali lagi aku sangat meminta maaf atas kelakuan tidak sopanku waktu itu sajangnim, aku juga sangat berterimakasih karena kau bersedia memperkejakanku,” ucapnya panjang dan sekali lagi ia membukukkan badanya sebelum ia berjalan keluar dari ruanganku.

“Song Kihyun-shi,” sahutku memanggilnya sebelum ia keluar meninggalkan ruang kerjaku.

“Ne sajangnim?”

“Selamat atas pernikahanmu,” ucapku singkat sambil tersenyum kepadanya.

“Ne? Bagaimana anda tahu jika saya baru saja menikah?” tanya Kihyun dengan matanya yang kini menatapku bingung.

“Apa Kyuhyun sama sekali tidak menceritakan aku kepadamu Song Kihyun-shi?” ucapku balik bertanya. Aku sedikit terkejut mendengar kata-katanya barusan.

“Animida sajangnim Kyuhyun tidak pernah bercerita tentangmu,” jawab Kihyun.

“Dasar bocah tengik!” umpatku lirih.

“Ne sajangnim?” tanya Kihyun yang sekilas mendengar umpatanku tadi.

“Oh animida Song Kihyun-shi, kau boleh keluar sekarang,” jawabku sambil tersenyum ganjil.

**********************

Kyuhyun POV

“Hyung, apa setelah ini tidak ada pekerjaan lagi?” tanyaku kepada Donghae yang terlihat sibuk dengan laptop yang ada di hadapannya.

“Sebenarnya masih ada satu meeting lagi dengan klien, waeyo? Ah! Apa kau sudah merindukan isterimu Kyuhyun-ah? Apa kau ingin cepat-cepat pulang untuk bisa bertemu dengannya? Aish dasar si pengantin baru, khukhukhukhu,” ucap Donghae dengan nada manja menggodaku sambil tersenyum mesum ke arahku.

“Ya hyung! Jangan berpikiran macam-macam, aku hanya ingin cepat pulang dan langsung mencari apartemen yang akan kami tinggali. Jadi singkirkan pikiran jorokmu itu hyung!” jawabku dengan intonasi yang sedikit lebih tinggi tapi respon yang diberikan Donghae semakin menjadi, ia semakin melebarkan senyuman penuh artinya itu kepadaku.

“Aish! Kau ini terlalu pemalu Kyuhyun-ah, bilang saja kau ingin segera membuatkanku keponakan yang lucu, iya kan? Aihh aku jadi iri padamu Kyuhyun-ah,” balas Donghae hyung semakin menggoda yang membuat kepulan asap di atas kepalaku semakin menebal.

“Yak! Hyung! Sudah kubilang aku tidak akan membuatkanmu keponakan!” bentakku kasar dengan menggebrak meja yang berada di hadapanku, sungguh telingaku sangat panas mendengar kata-katanya yang sangat menggelikan itu.

“Ya…ya ne araseo Kyuhyun-ah, sudah cepat sana pergi, telingaku hampir tuli karenamu!” balas Donghae hyung dengan kedua tangan yang menutupi telinganya itu.

************************

            Aku melajukan mobilku dengan kecepatan sedang menuju ke kantor Kihyun untuk menjemputnya. Sekilas kata-kata Donghae hyung tadi melintas di benakku yang membuat otakku berpikir keras, ‘Kenapa tiba-tiba saja aku ingin menjemputnya? Bukankah aku juga bisa memintanya langsung ke tempat yang akan menjadi tempat tinggal kami?’pertanyaan-pertanyaan bodoh it uterus saja berputar-putar di dalam pikiranku yang membuatku mengacak-ngacak rambut frustasi karena tidak berhasil menemukan jawabanya.

            Lima belas menit kemudian aku tiba di depan gedung tempat Kihyun bekerja, tidak butuh waktu lama untuk menunggunya karena beberapa menit kemudian keluarlah sosok gadis cantik yang telah resmi menjadi isteriku dari gedung tempatnya bekerja. Matanya yang indah itu kini bergerak-gerak berusaha mencari seseorang yang kuyakini itu pasti aku. Aku pun memanggilnya dan melambaikan tangan padanya, dan gadis cantik itu sontak memalingkan wajahnya ke arahku sambil memamerkan senyum menawannya yang membuatku tertegun sesaat.

“Oh Kyuhyun-ah neon waseo…,” ucapnya dengan senyum yang masih setia tersungging di bibir ranum miliknya itu.

“Ah ne, bagaimana hari pertamamu bekerja?” tanyaku.

“Semuanya lancar walaupun ada sedikit masalah di awal,” jawabnya penuh semangat dengan mata berbinar.

“Syukurlah kalau begitu, kajja kita harus cepat mencari apartemen,” balasku seraya menggandeng tangannya berjalan menuju mobilku.

“Kyuhyun-ah, kenapa kau tidak pernah bercerita kepadaku sebelumnya?” tanyanya yang menahan kakiku untuk melangkah.

“Wae? Tentang apa?”

“Ya! Jangan berpura-pura bodoh di hadapanku! Kau memang sengaja ingin mempermalukanku di depannya kan?” sahutnya lantang dengan sorot mata menajam ke arahku, kini senyum yang setia tersungging di bibirnya itu sirna seketika.

“Mwo! Ya! Apa maksudmu hah? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang sedang kau bicarakan sekarang,” balasku tak kalah lantang. Dan seketika itu juga atmosfer yang berada di sekitar kami berubah menyeramkan.

“Ya! Kenapa kau tidak pernah cerita jika Choi Minho itu adalah sahabatmu dan juga pemilik perusahaan  tempatku bekerja hah? Kau tahu wajahku seperti ingin meleleh karena malu ketika bertemu dengannya,” jelasnya panjang yang seketika membuat tawaku pecah.

“Ya! Apanya yang lucu? Kenapa kau tertawa hah!” pekiknya keras dengan mata berapi-api seolah ingin menelanku hidup-hidup.

“Ani, jadi itu sebabnya kau tiba-tiba marah kepadaku?” tanyaku sambil berusaha menahan tawa yang ingin pecah ini.

“Ne! kau pasti sengaja ingin membuatku malu kan?” ucap Kihyun yang kini menatapku curiga.

************************

Kihyun POV

“Ani, jadi itu sebabnya kau tiba-tiba marah kepadaku?” tanya Kyuhyun sambil berusaha menahan tawa.

“Ne! kau pasti sengaja ingin membuatku malu kan?” ucapku  yang kini menatapnya curiga. ‘Dasar namja menyebalkan!’ umpatku dalam hati.

“Ya Kihyunie asal kau tahu saja aku dan Minho itu sudah lama tidak saling berhubungan karena baru saja ia kembali pulang ke Korea setelah tiga tahun sebelumnya ia tinggal menetap di New York. Dan selama seminggu ini bukankah aku sibuk bekerja sambil mengurus persiapan pernikahan kita jadi mana sempat aku bercerita kepadamu, seharusnya kau yang harus lebih aktif bertanya padaku, lagi pula aku juga baru tahu darimu jika ia bekerja di tempat yang sama denganmu. Kenapa mesti aku yang harus disalahkan? Dasar seenaknya sendiri,” jelasnya pajang. Kini raut wajahnya perlahan berubah masam tampak sekali ia sedang sangat kesal padaku sekarang ini. Aish aku jadi merasa bersalah karena sudah menuduhnya yang tidak-tidak.

“Miane Kyuhyun-ah,” ucapku singkat dengan suara lirih.

“Sudahlah lupakan, kau ini selalu saja membuatku kesal. Kajja! Kita harus segera pergi,” balasnya ketus yang kemudian berjalan menuju mobilnya meninggalkanku sendiri yang kini hanya berdiri diam menatap punggungnya semakin menjauh.

“Ya! Palli! Sampai kapan kau akan berdiri saja di situ hah? Cepat masuk ke mobil!” pekiknya kepadaku, dan seketika itu juga aku berlari menyusulnya. Entah kenapa ia sangat menyeramkan sekarang ini.

**************************

Dinding kamar apartemen yang berwarna hijau kalem ini sangat membuatku rileks, jendela kaca yang begitu besar itu berhasil menangkap sinar matahari dengan sempurna sehingga membuat kamar ini bermandikan cahayanya. Angin yang berhasil masuk dari ventilasi kamar ini pun membuat hawa ruangan ini menjadi sangat sejuk sehingga tidak memerlukan air conditioner lagi walaupun saat musim panas tiba. Ranjang berukuran King size terletak di tengah kamar ini dan sebuah Tv plasma keluaran terbaru itu terletak di depan sofa panjang berwarna hijau tozka dan masih banyak barang menawan lainnya yang berada dalam kamar ini. ‘Ah joha! Kamar ini begitu sempurna!’ batinku senang dalam hati.

“Bagaimana apa kau suka dengan kamar ini?” celetuk Kyuhyun yang bertanya kepadaku tiba-tiba yang membuatku tersadar dari lamunanku.

“Ne! Johae! Gomaweo Kyuhyun-ah kau sudah memilihkan kamar ini untukku,” jawabku dengan mata berbinar-binar.

“Ani, ini bukan kamar untukmu, ini adalah kamar untukku. Kamarmu berada tepat di depan pintu masuk kamar ini,” jelas Kyuhyun datar yang membuat sinar di mataku seketika meredup sambil menunjuk sebuah pintu yang berhadapan dengan pintu kamar ini.

“Aish! Sudah kukira akan seperti ini,” balasku yang menatapnya kesal seraya berjalan menuju calon kamarku itu.

Aku pun membuka pintu calon kamarku itu, tampak sebuah ranjang single bed berukuran sedang terletak di samping jendela kaca yang tidak cukup besar itu, dan sebuah rak buku berwarna kuning gading terletak di samping kanan meja computer dan beberapa barang lainnya yang membuat kamar ini tampak manis, yah walaupun tak sebesar dan tak seindah kamar Kyuhyun tadi.

“Apa kau suka apartemen ini?” tanya Kyuhyun yang entah kapan sudah berada di sampingku sekarang ini.

“Ne johae, apartemen ini sangat bagus dan bersih, tapi apa tidak terlalu besar jika hanya kita tinggali berdua saja?” jawabku.

“Aish sudahlah, kita pilih saja apartemen ini. Kakek akan memaksa kita pindah ke rumahnya jika beliau tahu kita tinggal di apartemen yang lebih kecil dari apartemen ini,” balasnya berapi-api.

“Ya Kyuhyun-ah aku sebenarnya sangat penasaran mengapa kau tidak mau kita tinggal bersama kakekmu? Kurasa beliau akan merasa kesepian ditinggal menikah oleh cucu satu-satunya.”

“Joha! Kita tinggal bersama saja dengan kakek! dan satu bulan kemudian bisa dipastikan kau akan mengandung anakku. Apa kau mau hah?” jawabnya lantang dengan mata melotot menatapku yang terkejut dengan kata-katanya tersebut.

“Mwo?! Shiro! Kakekmu itu menakutkan sekali,” ucapku dengan mata membeliak.

“Ya Kihyunie jangan pernah sekali-sekali kau mermehkan orang tua itu, kau tahu ia akan menghalalkan segala cara untuk bisa mendapatkan apa yang ia inginkan, camkan itu baik-baik,” kata Kyuhyun yang kini menatapku intens mencoba memperingatkanku.

“Yaa kakekmu itu seperti Bos Gangster saja,” jawabku menciut setelah berhasil membayangkan apa saja yang akan terjadi jika aku dan Kyuhyun tinggal bersama kakeknya yang menakutkan itu.

“Maka dari itu turuti saja apa kataku jika kau ingin selamat,” ucap Kyuhyun ambigu.

***************************

Author POV

            Setelah menyelesaikan administrasi pembayaran dengan menejer pemasaran apartemen tersebut Kyuhyun dan Kihyun terlihat sibuk menata barang barang bawaan mereka, tidak cukup banyak yang mereka bawa hanya beberapa koper yang berisi pakaian dan beberapa barang pribadi mereka karena Kyuhyun sudah membeli apartemen ini lengkap dengan furniturenya.

“Kihyun-ah aku lapar, cepat masakkan sesuatu untukku,” titah Kyuhyun yang kini terlihat sibuk dengan laptopnya.

“Kau mau makan apa? Biar aku telepon delivery order saja ne?” jawab Kihyun sambil menata pakaian-pakaiannya di dalam lemari.

“Shiro! Aku tidak suka makanan cepat saji. Sudah sana cepat buatkan aku nasi,” balas Kyuhyun ketus dengan mata yang masih saja focus ke arah laptopnya.

“Ya! Kalau begitu masaklah makananmu sendiri, kau tidak lihat aku sedang sibuk sekarang,” jawab Kihyun yang tengah memasukkan pakaiannya ke dalam lemari kamarnya.

“Shiro! Shiro! Shiro! Kau juga tak lihat aku sedang bekerja hah? Sudah sana cepat masakkan makanan untukku!” bentak Kyuhyun dengan suara tinggi yang hampir membuat telinga Kihyun tuli walaupun mereka sedang tidak berada dalam ruangan yang sama.

“Aish! Jinja! Kau ini selalu saja membuatku repot,” jawab Kihyun kesal seraya melangkah menuju dapur dengan menghentak-hentakkan kakinya.

**************************

Kihyun POV

‘Aish! Dasar namja menyebalkan! Seenaknya saja dia memerintahku,’ teriakku kesal dalam hati sambil menyiapkan beberapa hidangan di meja makan. Sekarang aku yang telah resmi menjadi isteri Kyuhyun sejak satu hari yang lalu sedang memasak beberapa makanan untuknya, tentu saja aku tidak dengan sukarela memasak untuknya.

“Kyuhyun-ah makanan sudah siap, cepat kesini,” ucapku memanggilnya yang sedari tadi masih setia duduk di hadapan laptopnya itu, aku tidak tahu apa yang dikerjakannya sehingga membuatnya betah berlama-lama di depan laptopnya itu. ‘Dasar sok sibuk!’       

Kyuhyun pun sejenak menghentikan aktivitasnya yang kemudian berjalan ke arah meja makan, tapi bukan ucapan terimakasih yang kudapat karena sudah capek-capek memasak untuknya melainkan cacian pedas yang kudapat.

“Ya! Ige mwoya? Apa kau sebut ini dengan makanan huh? Kenapa nasinya bisa jadi seperti bubur hah? Ya! Apa kau ini babo!” bentak Kyuhyun keras padaku dengan mata membeliak, dan wajahnya kini tampak memerah karena marah.

“Mwo! Babo? Ya! Apa seperti ini caramu untuk berterimakasih kepadaku yang telah memasak untukmu huh! Sudahlah aku tidak akan pernah mau memasak untukmu lagi!” balasku membentak, kemudian aku berjalan cepat menuju kamarku dan membanting pintunya meninggalkan Kyuhyun sendiri di dapur.

“Ya! Song Kihyun! Aku belum selesai bicara! Ya! Cepat keluar dari kamarmu!” pekik Kyuhyun berkali-kali. Aku berbaring di ranjangku sambil menutup telingaku dengan bantal agar suara teriakkannya yang nyaring itu tak begitu terdengar. Aish! Sebenarnya apa yang terjadi padanya? Kenapa hari ini ia temperamen sekali? Ah! Molla!

            Perlahan aku mulai memejamkan mataku ketika suara teriakkan Kyuhyun yang memanggilku itu tidak terdengar lagi. Kepalaku mulai mendingin setelah beberapa saat yang lalu dibuat mengepul-ngepul oleh namja yang tadi membuatku kesal setengah mati. Ternyata menikah itu tidak mudah, baru satu hari menikah kami sudah beberapa kali bertengkar hebat karena masalah-masalah sepele yang sebenarnya bisa dipecahkan tanpa harus bertengkar. Tapi menghadapi seorang suami yang temperamen seperti Cho Kyuhyun itu sangat tidak mudah, aku jadi ingin membatalkan pernikahan ini sekarang, namun entah mengapa hatiku rasanya sangat sulit untuk melepaskannya pergi. Seberapa besar pun aku marah, kesal dan membencinya aku tetap tidak ingin ia pergi dariku.

Mungkin aku sudah gila karena aku sempat menginginkan Kyuhyun menjadi teman hidupku untuk selamanya di hari pernikahanku dengannya kemarin. Dan sebenarnya aku sangat senang dan tidak marah ketika Kyuhyun mencoba untuk menciumku beberapa kali walaupun toh ternyata dia hanya mempermainkanku. ‘Perasaan apa ini sebenarnya? Apakah aku mulai mencintainya?’ pertanyaan-pertanyaan konyol itu terus saja berputar-putar dalam benakku yang berhasil membuat mataku kembali terjaga. Oh… Tuhan tolong berikan aku kekuatan untuk tetap menjalani ini semua dengan baik. Aku sangat berharap kehidupan pernikahanku akan bahagia.

****************************

Dua bulan kemudian…

Author POV

‘Clik.’ Terdengar suara pintu sebuah apartemen terbuka, dan kemudian masuklah dua orang namja yang berhasil membobol pintu apartemen tersebut dengan sempurna. Seorang namja berambut putih dengan banyak kerutan di wajahnya itu kini tersenyum senang dan seorang namja yang satunya lagi saat ini sedang memeriksa keadaan apartemen itu.

“Hemm cukup luas juga apartemen mereka,” gumam namja berambut putih itu seraya berjalan-jalan melihat sekeliling ruangan.

Sementara namja yang terlihat jauh lebih muda itu kini berjalan menuju kamar utama apartemen ini, ia pun membuka perlahan pintu kamar utama itu dan mengamati secara seksama apa saja yang berada di dalamnya, ‘Tidak ada yang aneh’ pikirnya dalam hati. Ia pun segera keluar dari kamar utama tersebut, kemudian matanya yang sedari tadi bergerak-gerak liar itu mendadak berhenti. Matanya yang berwarna hitam itu pun kini focus menatap sebuah pintu yang berhadapan dengan kamar utama yang berhasil ia masuki tersebut, ia menatap pintu itu penuh kecurigaan dan berharap hal-hal buruk yang ia bayangkan tidak terjadi. Akhirnya perlahan ia membuka pintu itu dengan sangat hati-hati dan seketika matanya membeliak terkejut, mulutnya kinipun turut ternganga lebar melihat pemandangan di hadapannya. Memang itu hanyalah sebuah kamar biasa yang berisikan ranjang, lemari, meja rias dan beberapa barang lainnya yang biasa ditemukan di kamar tidur seorang gadis, tapi sayangnya nalurinya berkata lain.

“Omo!” pekik namja muda itu yang membuat seorang pria berambut putih tersebut dengan cepat memalingkan wajahnya ke arah sang pria muda.

“Waeyo Donghae-shi? Apa kau menemukan sesuatu?” tanya pria berambut putih itu kepada Donghae seraya berjalan mendekat ke arahnya.

“Sajangnim cepat kemarilah! Lihatlah ini!” pekik Donghae lagi sambil menunjuk-nunjuk sebuah kamar yang barusan ia masuki tadi. Pria berambut putih itupun segera mempercepat langkahnya, dan ia pun mengeluarkan ekspresi yang sama dengan Donghae begitu melihat pemandangan di hadapannya itu.

“Aigoo, sudah kukira akan jadi seperti ini jika mereka dibiarkan tinggal berdua,” ucap pria berambut putih itu sambil mengelus dadanya. “Bagaimana aku bisa mempunyai seorang cicit jika mereka pisah ranjang sepertini, aigo…aigo..,” lanjutnya dengan memegangi kepalanya yang terasa pening sekarang.

“Ah dasar Kyuhyun payah…,” keluh Donghae lirih.

“Ya Donghae-shi cepat laporkan hasil pengamatanmu tentang mereka kepadaku,” pinta Cho Jinhyuk yang terlihat putus asa dengan tingkah cucu dan cucu menantunya tersebut.

“Ne sajangnim,” jawab Donghae mantap yang kemudian mengambil sebuah notebook kecil dari dalam saku celananya. “Selama dua bulan ini mereka selalu bertengkar tanpa henti, itu juga dibenarkan oleh para tetangga sekitar yang sering melihat mereka beradu mulut. Mereka juga selalu membesar-besarkan masalah sepele, dan yang terparah….,” ucap Donghae menjelaskan dan perlahan-lahan suaranya semakin lirih pada kalimat terakhir yang belum selesai ia katakan.

“Mwoya? Cepat katakan padaku! Apa yang terparah Donghae-shi?” tanya Cho Jinhyuk berapi-api. Matanya itu kini menajam menatap Donghae yang tertunduk lemas.

“Kihyun belum juga menunjukkan tanda-tanda ia sudah hamil sajangnim,” jawab Donghae pada akhirnya dengan suara yang nyaris tidak terdengar.

“MWOYA!? Dasar anak berandal itu! Apa saja yang ia lakukan selama ini dengan Kihyun!” pekik Cho Jinhyuk dengan suara yang menggelegar, telinganya kini memerah karena mendengar laporan yang disampaikan Donghae barusan.

“Sajangnim, apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Heheh tenang saja Donghae-shi aku sudah merancang rencana rahasia, fufufuuffu,” jawab Cho Jinhyuk menyeringai.

********************************

            Gadis cantik bermata coklat itu terlihat sibuk dengan pensil dan buku sketsanya, tangannya yang lincah itu kini sedang menari-nari indah di atas buku sketsanya menuangkan semua yang ada di pikirannya untuk membuat desain baju yang akan membuat semua orang yang melihatnya berdecak kagum. Namun ia terlihat sedikit terusik ketika mendengar suara ponselnya berdering.

“Yobeseo, ne harabeoji waeyo?” kata Kihyun setelah ia menekan tombol hijau untuk menerimanya.

“Kihyunie apa kau sudah makan siang?” tanya seorang kakek tua di seberang sana.

“Belum kek, ada apa?” jawab Kihyun lembut.

“Oh joha! Kalau begitu ayo kita makan siang bersama, aku akan menunggumu di restoran depan kantormu ne,” pinta Cho Jinhyuk sedikit memaksa.

“Tapi kek, aku sedang sibuk sekarang.”

‘Tuuutttt…. Tuuuuuttttt.’

“Yoboseo? Kakek yoboseo? Yoboseo?” ucap Kihyun berkali-kali karena sambungan teleponnya telah di putus secara sepihak  oleh Cho Jinhyuk, kakek Kyuhyun.

“Aish jinja! Kakek ini ada ada saja,” kata Kihyun kesal yang kemudian beranjak keluar dari ruang kerjanya menuju ke sebuah restoran di depan kantornya.

*******************************

            Sepasang manusia yang terdiri dari pria tua dan cucu menantunya tersebut sedang menikmati jamuan makan siang di sebuah restoran. Keheningan begitu mencakam di antara mereka, hanya terdengar suara denting garpu dan sendok yang bersentuhan dengan piring.

“Kihyunie, apa kau tidak merasakan sesuatu yang aneh dalam perutmu?” tanya pria tua itu tiba-tiba yang membuat cucu menantunya tersebut menatapnya bingung.

“Tidak kek, aku tidak merasakan sesuatu yang aneh di dalam perutku. Sejauh ini aku tidak mengalami gangguan pencernaan,” jawab Kihyun polos sambil terus menyuapkan nasi ke mulutnya.

“Lalu apa kau rajin melakukannya?” tanya Cho Jinhyuk menuntut seraya menatap Kihyun intens.

“Ehm iya aku selalu buang air besar teratur kek, jangan terlalu mengkhawatirkannya,” ucap Kihyun yang terlihat masih tidak mengerti arah pembicaraan kakek dari suaminya tersebut.

“Aish! Bukan itu maksudku Kihyunie. Maksudku apa kau rajin membuat cicit untukku dengan Kyuhyun?” jelas Cho Jinhyuk lugas yang seketika membuat mata Kihyun membeliak.

****************************

Kihyun POV

“Aish! Bukan itu maksudku Kihyunie. Maksudku apa kau rajin membuat cicit untukku dengan Kyuhyun?” jelas kakek lugas yang seketika membuat mataku membeliak karena shock mendengar pertanyaan kotroversionalnya barusan.

“Uhukkk….uhuuukkk.” Suara batukku  karena tersedak itu semakin membuat kakek menatapku curiga.

“Apa bocah nakal itu sama sekali tidak pernah menyentuhmu Kihyunie?” tanya kakek lagi yang seakan-akan ingin membuatku pingsan di tempat.

“Animida harabeoji, kami hanya belum siap untuk memiliki seorang anak,” jelasku gugup dengan mata yang enggan menatapnya sekarang.

“Mwo! Ya! Apa kalian tidak kasihan padaku yang sudah tua ini? Bagaimana jika aku mati sebelum cicitku lahir? Aigoo… aigoo,” ucap kakek keras yang memekakkan telingaku. Terlihat sekali beliau sangat frustasi karena tingkah lakuku dan Kyuhyun.

“Chesohamnida harabeoji,” kataku takut-takut sambil menundukkan kelapaku sedalam-dalamnya.

“Dasar si bocah nakal itu, selalu saja membuatku pusing. Ya sudahlah Kihyunie, berikan saja ini kepada Kyuhyun dan datanglah bersama dengannya, araseo?” kata kakek frustasi seraya menyodorkan sebuah amlop ke arahku.

“Ne araseo harabeoji,” jawabku terakhir kalinya sebelum kakek pergi dari restoran ini.

*****************************

Kyuhyun POV

            Sekarang aku sedang berada di rumah, tepatya di ruang tengah sambil asyik memainkan jari-jariku di atas laptop kesayanganku, bukan urusan pekerjaan kali ini tapi pelepasan stress dengan bermain game karena pekerjaan yang sangat membuatku lelah. Sesekali aku melirik jam yang sudah menunjukkan pukul Sembilan malam, ‘Kenapa Kihyun belum pulang juga?’ batinku dalam hati.

‘Clik,’ terdengar suara pintu terbuka  dan membuatku seketika memalingkan wajahku ke arah gadis yang baru saja muncul dalam benakku itu. Ia pun berjalan masuk dengan langkah gontai setelah sebelumnya menutup pintu apartemen ini dengan membantingnya.

“Ya! Song Kihyun! Kenapa kau baru pulang sekarang hah? Kau tahu ini sudah jam berapa?” sentakku sambil melotot ke arahnya.

“Ya! Tidak bisakah kau berhenti meneriakiku! Kau tahu tadi siang kakekmu menemuiku,” balasnya tak kalah garang.

“Mwo! Ya! Kakek bicara apa saja denganmu?” tanyaku dengan mata membulat.

“Dia meminta atau lebih tepatnya menuntut kita untuk segera membuatkan cicit untuknya,” jawabnya dengan wajah sendu yang sontak membuat rahangku mengeras.

“Aish! Dasar kakek tua itu!” umpatku kesal. “Ya! Kihyunie  sudah jangan pikirkan kata-kata orang tua itu,” kataku lagi mencoba membuat Kihyun mengerti.

“Ne araseo, ah iya kakek menitipkan ini untukmu, beliau meminta kita untuk pergi bersama-sama,” ucap Kihyun sambil memberikan sebuah amplop padaku.

“Apa ini? Tiket menonton premire film di New York?,” kataku setelah membuka isi amplop tersebut.

“Uwah! Bukankah ini film yang dibintangi Robert Pattison itu? Kyaaaa!!! Ayo kita pergi!!” jerit Kihyun histeris setelah melihat isi amplop itu.

“Yak! Kau ini berisik sekali!”

“Kau tahu Park Nara Kyuhyun-ah? Dia juga ikut bermain di film ini, dan dia adalah aktris Korea pertama yang berhasil masuk Hollywood! Kya! Dia itu hebat sekali,” celoteh Kihyun bersemangat.

“Hah Park Nara? Dia tidak sehebat seperti yang kau pikirkan,” ucapku datar.

“Aish! Kau ini! Tapi Kyuhyun-ah ayooo kita pergi ne? aku sangat ingin menonton film ini dan karena ini penayangan perdana mungkin kita bisa bertemu dengan para pemainnya,” jelas Kihyun yang membuat mataku membulat.

“Apa benar kita bisa bertemu para pemaninnya?”

“Ne, tentu saja kita bisa bertemu dengan mereka,” jawan Kihyun mantap.

“Joha! Ayo kita berangkat!”

******************************

Author POV

            Derap langkah pria berwajah manis yang berlari terburu-buru menuju ruangan atasannya yang paling tinggi itu membahana di seluruh ruangan tempatnya bekerja. Keringat pun kini deras mengalir dan membasahi kening juga pelipisnya. Ia hendak memberikan informasi yang amat penting untuk bos besarnya itu.

“Sajangnim! Sajangnim!” pekik pria berwajah manis itu.

“Wae Donghae-shi? Apa yang membuatmu terburu-buru seperti ini?” tanya Cho Jinhyuk selaku Presiden Direktur di tempat Donghae bekerja. Ia sangat heran dengan tingkah laku sekertarisnya yang sangat setia itu.

“Sajangnim rencana kita sejauh ini berjalan dengan lancar, saat ini mereka sudah berada di dalam pesawat menuju New York. Kita harus segera naik pesawat selanjutnya untuk mengejar mereka,” jelas Donghae dengan nafas yang terengah-engah.

“Mwo! Ah syukurlah kalau begitu,” ucap Cho Jinhyuk lega dengan senyum yang mengembang di wajahnya. “Jam berapa pesawat selanjutnya berangkat?” katanya lagi bertannya kepada Donghae.

“Pukul dua belas siang ini sajangnim,” jawab Donghae dengan nafas yang kembali normal.

“Mwo!? Ya! Mengapa tidak kau katakana dari tadi huh? Jam berapa sekarang ini.”

“Chesohamnida sajangnim,” kata Donghae meminta maaf dengan membukukkan badannya.

“Aish! Sudahlah cepat! Kita harus segera berangkat!” kata Cho Jinhyuk lagi yang kemudian segera beranjak dari tempak duduknya.

“Ne sajangnim,” jawab Donghae mantap yang kemudian kembali berlari untuk menyiapkan mobil untuk bos besarnya itu.

*********************************

New York – USA

            Sesampainya mereka di New York setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang dengan pesawat, sepasang suami isteri tersebut segera menuju hotel tempat mereka menginap. Setelah tiba di hotel tersebut sang suami segera menuju meja resepsionis untuk mereservasi kamar.

“Ya Kihyunie letakkan saja dulu kopermu di pinggir ranjang, kita harus turun ke restoran untuk makan malam,” kata Kyuhyun sang suami yang melihat isterinya hendak membuka kopernya.

“Oh ne araseo,” jawab Kihyun yang mengurungkan niatnya untuk menata pakaiannya dalam lemari. Ia pun segera menyusul suaminya yang jalan terlebih dahulu itu.

“Ya! Song Kihyun palli!”

*****************************

Kyuhyun POV

            Saat ini kami sedang makan malam di sebuah restoran tang berada di dalam hotel tempat kami menginap. Malam ini kami harus beristirahat yang cukup agar tubuh kami kembali segar untuk menonton premiere film yang diagung-agungkan Kihyun itu.

“Kyuhyun-ah,” celetuk Kihyun memanggil namaku.

“Wae Kihyunie?” jawabku yang kini menatap kedua bola matanya yang berwarna coklat itu.

“Kurasa baru saja aku melihat kakekmu dan Donghae di meja resepsionis itu,” ucap Kihyun lirih sambil mengamati meja resepsionis berusaha untuk memastikan sesuatu. Aku pun mengikuti arah pandangnya, tapi tak satupun orang di sana yang menyerupai kakek dan Donghae.

“Aish! Kau mungkin salah melihat. Cepat segera tidur setelah makan malam ini, kurasa matamu itu mulai tidak beres karena kelelahan,” ucapku.

“Ah aku kira juga begitu Kyuhyun-ah, sekarang mataku terasa berat,” kata Kihyun membenarkan sambil mengucek-ngucek matanya itu.

            Kemudian tiba-tiba saja seorang pelayan wanita menghampiriku dan menuangkan segelas wine untukku dan Kihyun padahal aku tidak merasa memesannya tadi. Aku yang terheran dengan sikap pelayan ini segera menegurnya.

“Excuse me miss, I never order this wine,” ucapku kepada pelayan wanita tersebut dengan raut wajah bingung. ‘Apa pelayan ini tidak salah orang?’ batinku bertanya-tanya.

“It’s free Mr, because today it’s special day,” jawabnya sambil tersenyum kepadaku.

“Ok, thanks,” ucapku seraya membalas senyumnya. Ia pun berlalu setelah menuangkan segelas wine untuk kami. Tapi sedari tadi ada yang berputar-putar dalam benakku, ‘Sebenarnya hari ini adalah hari apa?’

“Kihyunie, apa kau tahu hari ini ada perayaan apa di New York?” tanyaku kepada Kihyun.

“Molla, aku juga tidak tahu. Sudahlah minum saja wine itu, sayang jika tidak diminum,” jawab Kihyun acuh yang kemudian meneguk habis wine itu.

“Ah kau benar, tapi rasanya ada yang aneh dengan pelayan wanita tadi,” kataku lirih yang kemudian meminum wine itu hingga gelasnya kosong.

*****************************

            Setelah makan malam, kami kembali ke kamar dan mandi untuk membersihkan badan kami sebelum pergi tidur. Saat ini aku sedang menunggu giliran mandi sambil memandang bintang-bintang di balkon kamar kami. Tapi tiba-tiba sebuah terikkan keras dari kamar mandi mengagetkanku, aku pun segera berlari menuju kamar mandi untuk mengecek apa yang terjadi.

KYYYAAAAAAA!!!!!!!!

“Ya! Song Kihyun! Apa yang terjadi?” tanyaku khawatir sambil menggedor-gedor pintu.

“Kyuhyun-ah sepertinya koperku tertukar dengan seseorang saat di bandara,” jawab Kihyun, sejenak aku bernafas lega mendengar suara Kihyun tidak apa-apa.

“Yasudah sementara pakai saja pakaian yang ada di dalam koper itu, besok saja kita pergi ke bandara untuk mencari kopermu.”

“Ya! Shiro! Tidak mungkin aku memakai pakaian menggelikan ini,” sahut Kihyun dari dalam kamar mandi.

“Aish! Kau ini! Terserahlah! Tidur saja di dalam sana sampai besok,” jawabku kesal yang kemudian berjalan ke ranjang dan membaringkan tubuhku di sana.

Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu kamar mandi terbuka, “Ya! Song Kinhyun kena….,” kata-kataku terputus ketika melihat Kihyun keluar dari kamar dengan memakai lingerie yang mengeskpos sempurna lekuk tubunya yang ramping itu. Aku terpaku menatapnya yang kini sedang menarik-narik lingerie-nya berharap akan memanjang walaupun hanya satu senti.

Lingerie-nya yang teramat pendek dan sedikit terawang itu memperlihatkan pahanya yang membuatku terus ingin menatapnya, bohong jika aku tidak tergoda sama sekali. Dan entah kenapa malam ini Kihyun terlihat sangat cantik di mataku.

“Ya! Dasar mesum! Kenapa kau menatapku seperti itu?” sahutnya dengan kedua tangan yang kini membentuk tanda silang di depan dadanya itu.

“Mwo! Siapa yang menatapmu hah? Lagi pula aku sama sekali tidak tertarik dengan tubuhmu. Lihat saja tubuhmu itu sungguh mengenaskan, dada rata, perut sedikit buncit. Dasar bocah SD!” balasku berusaha mengelak dengan mengejeknya tanpa ampun.

“Ya! Dasar kau ini MENYEBALKAN!!!” pekiknya keras dengan melempar handuk ke arahku.

“Aish! Kau ini berisik sekali! Sudah cepat sana tidur!” ucapku yang kemudian bangkit dari ranjang dan melangkah cepat menuju kamar mandi meninggalkan Kihyun yang saat ini memayunkan bibirnya padaku sebagai tanda ia marah.

***************************

            Aku mendapati Kihyun yang tengah terlelap di alam mimpinya begitu aku selesai mandi, mataku yang terasa berat ini menuntun langkahku menuju ranjang dan tidak beberapa lama kemudian aku pun ikut terlelap di samping Kihyun.

            Tapi tiba-tiba aku terbangun karena merasakan sesuatu yang aneh dari dalam tubuhku, aku pun mencoba memejamkan mataku kembali tapi itu sia-sia karena mataku tetap ingin terjaga. Mendadak udara di sekitarku semakin memanas padahal aku sedang berada di dalam kamar ber-AC saat ini, aku pun merasakan  sesuatu dari dalam tubuhku bergejolak dan ingin meledak sekarang juga. Entah mengapa malam ini aku sangat ingin menumpahkan segala hasrat yang terpendam dari dalam tubuhku.

‘Sebenarnya apa yang terjadi padaku sekarang? Kenapa aku mendadak ingin melakukan ‘itu’ dengan Kihyun?’ batinku menjerit. Dan seketika aku menyadari sesuatu, aku teringat apa yang dikatakan Kihyun saat kami sedang makan malam di restoran tadi, “Kurasa baru saja aku melihat kakekmu dan Donghae di meja resepsionis itu.” Kata-kata Kihyun itu terus teriang di telingaku.

            Hah! dasar pria tua itu! pasti dia adalah dalang di balik semua ini, dia pasti juga yang telah menukar koper Kihyun, dan pelayan wanita itu pasti telah berkomplot dengan kakek dengan memasukkan sesuatu yang ‘aneh’ ke dalam gelas wine-ku tadi, pantas saja tadi aku merasa aneh ketika pelayan itu memberi kami wine gratis, dan sekarang aku menyadari sepenuhnya makna hari ‘spesial’ itu apa.

            Aish! Kenapa kakek sangat ingin menyiksaku sekarang ini? Sungguh aku tidak kuat lagi untuk menahannya. Bagaimana ini? Sepertinya aku telah kehilangan kewarasanku sekarang, tapi mana mungkin Kihyun mau melakukannya denganku. Ah! Masa bodohlah dengan Kihyun, yang jelas sekarang ini aku sudah tidak kuat lagi.

*******************************

Kihyun POV

“Kihyun-ah cepat bangun! Bangun!” kata Kyuhyun sambil menggoyang-goyangkan tubuhku yang mengusikku dari tidur lelapku. Aku pun terbangun dan melirik tajam ke arahnya yang sekarang sedang terduduk di sampingku.

“Aish! Jinja! Wae?” jawabku garang.

“Kihyun-ah sepertinya ada yang aneh dalam tubuhku,” ucap Kyuhyun yang terlihat sedang menahan sesuatu.

“Wae? Apa kau sakit?” kataku yang seketika terduduk berhadapan dengan Kyuhyun, aku pun memegang keningnya untuk mengecek suhu badannya.

“Aniyo! Bukan itu! Kihyun-ah ayo kita lakukan saja sekarang,” jawab Kyuhyun tak jelas yang membuat dahiku mengerut.

“Melakukan apa?” tanyaku dengan wajah polos.

“Kita lakukan saja apa yang diinginkan oleh kakek ne?” jawab Kyuhyun menggebu-gebu yang sontak membuat mataku membulat mendengarnya. Dan dengan cepat tangan Kyuhyun yang besar itu mencengkram bahuku sehingga membuatku tidak bisa bergerak, ia pun kini menatapku sayu dan perlahan didekatkannya wajahnya yang teramat rupawan itu ke wajahku.

Mata jernih itu seakan menghipnotisku dan membuatku kehilangan akal sekarang, aku sama sekali tidak memberontak ketika ia semakin dan semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku, hingga tak ada jarak yang berarti di antara kami. Desiran nafasnya yang hangat membuatku mulai terbuai dalam permainannya, aku pun menutup mataku ketika bibirnya yang lembut itu bertemu dengan bibirku. Perlahan Kyuhyun mencium bibirku penuh kelembutan kemudian ia mulai melumat-lumat bibirku atas dan bawah bergantian, tapi semakin lama ciumannya itu semakin menuntut.

Dan entah sejak kapan ia mulai mencium bibirku dengang kasar yang dipenuhi hasrat nafsu yang menggebu-gebu. Kemudian tiba-tiba aku tersadar bahwa dia bukanlah Kyuhyun yang sebenarnya, aku merasa dia sedang dipengaruhi sesuatu sehingga membuatnya begitu agresif, aku pun segera melepaskan ciuman ini secara sepihak dengan mendorong tubuh Kyuhyun menjauh dariku.

“Ya! Kyuhyun-ah! Apa yang terjadi padamu hah? Kenapa kau mendadak menjadi agresif seperti ini?” tanyaku dengan nafas yang sedikit tersengal.

“Molla! Aku juga tidak tahu Kihyunie, tiba-tiba saja aku ingin melakukan ‘itu’ denganmu. Sepertinya wine yang kuminum tadi telah dicampuri sesuatu,” jawab Kyuhyun

“Mwo! Ya! Bagaimana kau bisa tahu hal itu?”

“Bukankah tadi kau mengatakan melihat kakekku dan Donghae hyung berada di meja resepsionis, kemungkinan besar pelayan wanita tadi telah berkomplot dengan kakek dan Donghae hyung dan mencampurkan obat penambah gairah ke dalam wine-ku,” jelas Kyuhyun panjang yang membuatku mengerti. Yah mungkin seratus persen apa yang dikatakan Kyuhyun benar mengingat sifat kakek yang akan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang beliau inginkan yaitu ‘mempunyai seorang cicit.’

“Ya! Kihyunie kita turuti saja kemauan kakek, ne?” kata Kyuhyun frustasi, ia terlihat sedang menahan sesuatu yang ingin meledak dari dalam tubuhnya.

“Mwo?! Shiro! Kau tahu wanita itu tidak bisa melakukannya tanpa dasar cinta!” jawabku lantang dengan mata membeliak dan kedua tanganku membentuk tanda silang di depan dadaku.

“Tapi laki-laki bisa saja melakukannya walaupun tanpa dasar cinta, jebbal Kihyunie ayolah…..,” rengek Kyuhyun sambil memberiku puppy eyes-nya itu yang sama sekali tak mempan terhadapku. ‘Hah! Sungguh menggelikan.’

“Shiro! Shiro! Shiroooo! Yak! Cho Kyuhyun jangan berpikir yang macam-macam! cepat sana tidur!” pekikku yang kemudian kembali membaringkan tubuhku.

“Ya Kihyunie tapi aku sudah terlanjur berpikir yang macam-macam, ottoke….?” jawab Kyuhyun dengan suara memelas.

“Mwo! Yak! SHIROOOOO!!!!”

“Ya Kihyunie jika kau memang tidak ingin melakukannya denganku setidaknya bantulah aku agar terbebas dari pengaruh obat ini…” jawab Kyuhyun lagi. Raut wajahnya itu sungguh terlihat mengenaskan sekarang.

“Araseo! Ayo kita mulai. Kyuhyun-ah, LET’S PLAY!!!

********************************

Author POV

            Seorang pria muda mencurigakan itu kini terlihat mempersiapkan sesuatu di depan pintu kamar hotel bernomor 534 tersebut, dua kursi ia letakkan tepat di depan pintu kamar hotel itu dan beberapa peralatan mendukung juga telah ia siapkan dengan sempurna.

“Donghae-shi, apa sudah mulai?” tanya pria tua yang baru saja datang, ia segera berjalan cepat menghampiri Donghae sambil memegang dua popcorn di tangan kiri dan kanannya.

“Sepertinya mereka baru saja mulai sajangnim,” jawab Donghae setelah sebelumnya mencuri dengar suara-suara mencurigakan yang berasal dali dalam kamar tersebut dengan menempelkan telinganya di pintu kamar bernomor 534.

“Benarkah? Ya cepat berikan stestoskop itu, aku ingin mendengarnya,” pinta pria tua itu yang sudah duduk manis di kursi yang telah disiapkan Donghae tadi, raut wajahnya kini terlihat sangat serius mendengarkan suara yang ditangkap stestoskopnya sambil sesekali mengunyah popcorn yang ia bawa tadi.

“Sajangnim apa tidak apa-apa kita melakukan ini? Aku kasihan pada Kihyun karena sepertinya kita mencampurkan obatnya terlalu  banyak,” ucap Donghae yang merasa bersalah kepada Kihyun.

“Aish! Diamlah!” sentak pria tua itu yang terlihat terusik dengan kata-kata Dongahe barusan.

“KYYAAAAAAAAAA!!!!!” terdengar suara teriakan seorang yeoja yang berasal dari kamar bernomor 534 itu.

“Ya! Donghae-shi sepertinya mereka sudah memulai peperangan sengit, ya! Kau cepat dengarkan juga,” ucap pria tua itu girang yang kemudian tangannya memberi isyarat kepada Donghae untuk menempelkan telinganya ke pintu kamar tersebut. Donghae pun segera menuruti apa yang dikatakan bos besarnya itu, ia mengigit-gigit ujung ibu jarinya ketika mendengar suara-suara aneh saling bersahut-sahutan.

“YA! CHO KYUHYUN PELAN-PELAN!!!” pekik seorang yeoja dari kamar itu lagi yang membuat Cho Jinhyuk dan Donghae semakin gemas sambil tak hentinya menyuapkan popcorn ke mulut mereka masing-masing.

“OMO! Ternyata obat yang kita berikan sangat menjur Donghae-shi,” kata Cho Jinhyuk yang gembira setengah mati dan disambut dengan anggukan mantap dari Donghae.

“Ternyata Kyuhyun hebat juga,” celetuk Donghae lirih sambil terus memasang telinganya baik-baik.

“YA! KIHYUNIE! TAHAN SEDIKIT LAGI!!!” kali ini terdengar suara memekik dari seorang namja yang juga berasal dari kamar tersebut  dan membuat para pendengar setia itu menggigit-gigit bibir mereka.

“YAK! GGOOOOOOOOOOLLLLLLLLLL!!!!!” pekik seorang namja itu lagi yang membuat kedua pendengar setia itu semakin histeris.

“KYAAAAAAAAAAAAA!!!” suara teriakkan seorang yeoja menyusul.

“YESSSSS!!! IYEYEESSSSSS!!!” sahut seorang namja yang membuat kedua pendengar setia itu saling berpandangan satu sama lain.

“Chukahamnida sajangnim sebentara lagi pasti anda akan segera mendapatkan cicit yang lucu,” kata Donghae memberi selamat kepada Cho Jinhyuk dengan senyum sumringah.

“Gomaweo Donghae-shi, malam ini kita harus berpesta untuk merayakan keberhasilan rencana kita. HAHAHAHHAAH! Aih senangnya hatiku….,” jawab Cho Jinhyuk kegirangan.

“Sudahlah kita harus pergi sekarang, biarkan mereka melanjutkannya dengan tenang, fufufuufufu,” kata Cho Jinhyuk lagi seraya bangkit dari tempat duduknya disusul Donghae yang mengikutinya.

*********************************

            Sepasang suami isteri kini masih terlelap dalam tidur mereka walaupun matahari sudah mulai meninggi, sinarnya yang berhasil menembus tirai pun tak mampu mengusik mereka. Kyuhyun sang suami masih damai dalam mimpinya dengan tangan yang memeluk isterinya yang tidur berhadapan dengannya, sementara sang isteri terlihat nyaman berada dalam pelukan suaminya tersebut yang membuatnya merasa hangat.

‘KRIINGGGGG!!’ terdengar suara alarm yang berasal dari ponsel Kyuhyun yang seketika membuat mata yang tengah terpejam itu terbuka. Kyuhyun dan Kihyun hanya mengedip-ngedipkan mata mereka dan saling berpandangan satu sama lain, dan beberapa detik kemudian mata mereka membeliak terkejut menyadari posisi tidur mereka yang teramat dekat itu.

“Ya! Song Kihyun apa yang kau lakukan padaku?” kata Kyuhyun yang seketika itu juga terduduk di ranjangnya sambil menatap Kihyun tajam.

“Mwo? Ya! Seharusnya aku yang mengatakan itu kepadamu!” balas Kihyun dengan mata membeliak tidak terima dengan apa yang dituduhkan Kyuhyun.

“Aish! Jinja! Bisa juga kau mengelak untuk bebuat macam-macam denganku yang tampan ini,” ucap Kyuhyun dengan nada mengejek yang membuat Kihyun menatapnya dengan tatapan pembunuh. “Tapi gomaweo Kihyunie kau sudah mau menemaniku semalam suntuk bermain game sepak bola untuk meredam hawa nafsuku tadi malam,” kata Kyuhyun lagi.

“Sama-sama, untung saja kakekmu tidak merampok laptopmu juga,” jawab Kihyun sambil mengelus-ngelus dada.

“Ya! Jam berapa kita akan menonton premiere film yang sangat kau gilai itu?” tanya Kyuhyun yang membuat Kihyun terlonjak kaget.

“OMO! Premiere film-nya akan dimulai jam sebelas siang,” jawab Kihyun dengan mata yang membulat.

“MWO!? Ya! Sekarang sudah jam sepuluh!”

********************************

Sepasang suami isteri tersebut terlihat keluar dari sebuah gedung bioskop yang berada di jantung kota New York, mereka berhasil mengejar waktu sehingga mereka tidak sampai terlambat untuk menonton premiere film yang dikabarkan akan sangat popular tersebut.

********************************

Kyuhyun POV

“Kihyunie, kajja kita harus segera pulang karena besok aku ada rapat penting dengan klien,” kataku yang segera menyeret Kihyun pergi menuju mobilku.

“Ya! Chamkaman Kyuhyun-ah,” sahut Kihyun yang menahan tanganku. “Ya! Percuma saja kita jauh-jauh datang ke New York jika tidak maksimal memanfaatkan tiket VVIP yang diberikan kakekmu, setidaknya kita harus bertemu dengan para pemain film ini,” kata Kihyun lagi.

“Aish! Jinja! Kau ini, yasudahlah ayo kita bertemu mereka sebentar setelah itu kita langsung pulang ne?” jawabku pada akhirnya yang tidak tega melihat mata Kihyun yang menatapku memelas.

“Assa!! Kajja! Kajja!” sahutnya semangat seraya menarik lenganku yang membuatku melangkah masuk kembali ke dalam gedung bioskop itu.

            Senarnya aku berbohong kepada Kihyun, bukan alasan pekerjaan yang membuatku igin pulang cepat melainkan kekhawatiranku bertemu dengan gadis itu, gadis yang masih memenuhi sebagian hatiku, gadis yang sudah mecampakkanku. Aku tidak mampu mengatakan alasanku yang sebenarnya kepada Kihyun, aku takut isteriku itu akan menjauh dan menghindar dariku di saat aku mulai berusaha mencintainya. Sekarang aku sadar betapa pengecutnya diriku ini.

*******************************

            Kihyun saat ini sedang bergerak-gerak lincah menghampiri satu persatu pemain film tersebut, dimulai dari pemeran utama sampai pemain figuran pun ia ajak foto bersama. ‘Apa kakinya tidak capai menghampiri dan mengajak foto satu persatu pemain film ini?’ batinku dalam hati. Aku hanya melihat Kihyun dari kejauhan sampai aku merasa lelah karena menunggunya yang belum juga puas bertemu dengan para idolanya itu, tapi sejauh ini kekhawatiranku itu belum terbukti yang membuat hatiku merasa tenang.

“Yak! Song Kihyun! Kajja kita harus segera pulang, kita sudah cukup lama di sini,” kataku tidak sabaran yang menghampiri Kihyun berusaha menariknya pergi dari gedung bioskop ini.

“Aish! Ya! Aku belum sempat bertemu Park Nara! Aku akan menyesal jika aku melewatkan kesempatan emas ini. Kau tahu aku sangat mengidolakannya,” elak Kihyun.

DEG! Park Nara? Aish! Kenapa nama gadis itu disebutkan lagi? Sudah cukup ia membuatku menderita karena tidak bisa melupakanya.

“Yak! Kau ini! Sudah tidak usah bertemu dengannya!! Ayo pergi!” ucapku sedikit keras sambil menyambar tangan Kihyun dan menggenggamnya erat yang kemudian memaksanya melangkah keluar mengikutiku.

“Kyuhyun-ah!” terdengar suara lembut seorang yeoja memanggilku yang membuat langkahku berhenti seketika.

Suara itu, suara yang amat kukenal itu membuat tubuhku sesaat membeku. Perlahan kuberanikan diriku untuk memalingkan wajahku ke arah asal suara tersebut, dan benar kekhawatiranku terbukti sekarang, ketika melihat wajah gadis cantik yang sangat kukagumi itu.

“Park Nara?”

-To Be Continued-

 Annyeong Chingu-chingu ^^

Pertama cheongmal miane sama readers yang udah nunggu lammmmaaaaaaa untuk ff   ini T_T *siapa juga yang nunggu thorr

Tapi gimana nih ceritnya? Nara udah menampakkan batang hidungnya lohhhh fufufuufuf XDD. Ah… iya part ini sengaja aku buat paaannnjangg sebagai permintaan maaf author karena membuat para readers nungguuu lamamaaaa banget hampir dua bulan bok *plak

Eh iya juga’ nih karena minggu depan udah Hari Raya Idhul Fitri author sekalian mau minta maaf sama readers semua, mungkin ada salah-salah kata saat author membalas komentar para readers sekalian atau mungkin ada yang sebel banget sama author karena terlalu lama publish ff ini *GR 😛 #Lempar bias atu-atu XDD

Ok segini dulu yah dari author, jangan lupa like and komenya yakk… XDD

Eh iya follow author yookkk di twitter ^^ @rahmassaseol

Advertisements

71 responses to “Baby I need Love [Part 5]

  1. ​‎​(¬_¬) Jiiªªªªªªªªннн:OX_X®. … Ternyata mereka main game sepak boia ….. ( gubrak ) …. Kasihan tuh dong hae n kakek nya … ..pasangan yg aneh …

  2. Pingback: Baby I need Love [Part 9 A] | FFindo·

  3. Apa-apaansi kyuhyunnnn gasuka gasukaaaaaa.. T..T jangan labil gitu:”” gantian dong buat si kyu cemburu sama si kihyunnn kkkk

  4. haha sumpah ngekek bacanya pas yang kakeknya nguping dari balik pintu. kurang kerjaan emang kakeknya hahaha
    keep writing thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s