SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: WILD ORCHID FOR KYUHYUN’S HEART (PART 3)

Author: Kim Hye Ah, follow me @KimHyeAh22

Cast: Cho Kyuhyun (SUPER JUNIOR)

Kwon Yuri (SNSD)

Additional Cast: Member Super Junior & Lee Rin Joo (OC), Danielle Kim/ Dainn (OC)

Rating: PG-17

Genre: Romance, Friendship, Family

Disclaimer & Notes:

  1. Humans, things, and ideas here belong to God. Full crediting me, my blog, and this page if you wanna take it out.
  2. I only post my story at ffindo and hyeahkim.wordpress.com. If you find any other stories in other blogs from the author called ‘Kim Hye Ah’, this ‘Kim Hye Ah’ is not me (except some blogs which have reblogged my stories from ffindo or my personal WP, that’s truly me hehe). Kim Hye Ah is a common name so it is acceptable if many authors use this name. I hope you can distinguish which stories written by me or other Kim Hye Ah:)
  3. Last but not least, Happy Ied Mubarak 1433 H & Happy reading.

Poster: missfishyjazz@myfishyworld.wordpress.com

PS: I apologize for typo. Please feel free to correct me

Prolog | Part 1  | Part 2  |

Cerita Lalu

“Cih, apa orang kaya selalu tidak sensitif, kalian membicarakan kemiskinan seolah-olah seperti membicarakan acara pesta atau peresmian pembangunan rumah baru. Kemiskinan memang fakta tapi bukan untuk diucapkan tanpa perasaan.”

Kyuhyun menengok ke arah Yuri, “Aku tidak mengerti kenapa kau marah? Aku merasa tidak sedang menghina dirimu. Yang kulihat kau malah seperti mendramatisir kemiskinanmu. Apa semua orang miskin selalu mudah tersinggung jika ada pernyataan yang sedikit saja menyentuh kalian. Daerah Insadong kumuh, bahkan koran dan walikota pun menyebutkannya begitu. Jika begitu kau harusnya marah pada seluruh Korea ini.”

Wild Orchid for Kyuhyun’s Heart (Part 3)

Pagi itu, Yuri berjalan pelan menyusuri jalan setapak taman kampus dengan hati gundah. Ia mencoba bersenandung kecil mengikuti kicauan burung yang riuh bernyanyi tapi tidak mampu membuatnya merasa riang. Yuri mencoba tersenyum tapi batinnya tetap kalut. Sekali itu dalam hidupnya ia merasa tidak bahagia menjadi orang miskin. Padahal dalam rentang umurnya, Omma selalu mengajarkannya untuk bersyukur dengan apapun yang ia miliki. Ia dengan sekuat tenaga mematuhi ajaran Omma dan selalu menerima nasibnya dengan tersenyum walau itu buruk sekalipun. ‘Syukurilah dengan apa yang kau punya dan jangan mengeluh’, kalimat itu selalu terpatri dalam hati dan pikirannya. Tapi ada suatu saat dimana ia mempertanyakan banyak hal, kenapa kehidupan keluarganya begitu sangat menderita, kenapa mereka begitu miskin, dan kenapa Tuhan begitu tidak adil karena telah menempatkan mereka dalam kehidupan yang teramat sulit?

Malam tadi secara tidak sengaja, Yuri kembali mendengar percakapan kedua orang tuanya. Lagi-lagi masalah biaya sewa rumah susun yang belum lunas. Tapi yang membuat batinnya semakin sedih karena ia mendengar Omma, sosok yang dikenalnya sangat tabah dalam menjalani hidup ini, tiba-tiba menangis. Tentu saja mereka berbicara sangat pelan karena khawatir Yuri bisa mendengarnya. Tapi privasi apa yang bisa diharapkan dari sebuah rumah yang berdipan tembok tipis. Bahkan suara desahan nafaspun bisa terdengar dengan mudah.

“Tas Omma dicuri orang. Padahal itu adalah uang yang akan kita berikan untuk biaya sewa rumah kita. Omma sudah menghubungi polisi dekat pasar Insadong tapi belum ada kabar juga sampai sekarang. Kita harus bagaimana lagi Appa, waktu kita semakin sedikit.”

Deg, nafas Yuri tercekat mendengarnya. Uang yang sudah sangat susah payah dikumpulkan kedua orangtuanya ternyata raib begitu saja. Sungguh tega orang yang telah mencuri uang Omma dan Appa. Kenapa pencuri itu tidak merampok orang kaya saja, kenapa harus kepada keluarga miskin seperti mereka.

Desahan nafas Appa pun terdengar diiringi isak tangis Omma,”Sudahlah Omma, uang yang hilang akan sulit kembali lagi. Mungkin orang yang mencuri itu jauh lebih membutuhkan daripada kita.”

“Tapi itu hasil keringat kita Appa, banting tulang, bekerja keras sampai kita terpaksa tidur hanya dua jam dalam sehari. Omma merasa sangat bersalah karena di dalamnya ada uang Appa. Kemana lagi kita harus mencari uang itu dalam waktu yang sebentar ini?”

“Tidak ada jalan lain lagi. Kita harus bekerja lebih keras lagi Omma. Mungkin tawaran dari atasan Appa akan Appa ambil.”

“Paruh waktu menjadi pekerja bangunan? Appa sudah tua, pekerjaan Appa di percetakan saja sudah sangat berat apalagi dengan menjadi pekerja bangunan,” terdengar protes dari mulut Omma. Selama ini pekerjaan Appa di percetakan adalah sebagai supir yang mengangkut majalan dan koran untuk dikirimkan ke berbagai kota di Korea.

“Tapi tidak ada jalan lain Omma, setidaknya uang yang bisa Appa dapat dari pekerjaan itu bisa menambah uang sewa rumah kita.”

“Tapi Appa, itu terlalu berat.”

“Sudahlah, badan Appa masih kuat untuk bekerja. Jangan khawatirkan Appa. Ingat kita harus tetap tinggal di sini dan sebisa mungkin Yuri jangan sampai tahu. Appa tidak mau konsentrasi belajarnya menjadi terganggu”

Hanya itu yang bisa Yuri dengar karena selanjutnya tidak ada pembicaraan lagi diantara mereka. Dan seperti biasa Yuri hanya bisa menangis dengan pelan di atas ranjang tuanya, berusaha supaya tangisannya tidak terdengar Appa dan Omma. Ia sangat malu, bahkan Appa yang sudah berumur pun memaksakan diri mencari uang sambilan dengan menjadi pekerja bangunan. Lalu apa gunanya dia? Ia sudah sangat berusaha keras tapi rasanya tidak cukup.

Memang ia sudah bekerja menjadi guru privat Seok Hyun, bocah pintar yang hiperaktif itu. Tapi ia belum bisa mendapatkan bayarannya sekarang, setidaknya ia harus menunggu satu bulan lagi. Waktu yang terlalu lama karena ia membutuhkan uang itu sekarang. Satu-satunya yang ia andalkan adalah Dainn! Seburuk-buruknya yeoja itu memperlakukan dirinya tapi Yuri sangat membutuhkannya. Hanya dari Dainn, Yuri berharap mendapatkan uang cash untuk membantu membayar biaya sewa rumahnya. Walaupun ia merasa tidak punya harga diri karena harus mengerjakan tugas kuliah orang lain dan dengan sabar menerima segala penghinaan dan ancaman Dainn, tapi tak apalah, daripada kedua orangtuanya menjadi gelandangan karena tidak memiliki rumah.  Mungkin ini adalah pilihan yang terbaik dari sekian pilihan terburuk.

Yuri kini telah duduk di kursi taman kampus dengan tegang. Sebelah tangannya memegang map yang berisi tugas pesanan Dainn. Sekarang waktu sudah menunjukan pukul sembilan tepat. Mudah-mudahan yeoja itu menepati janjinya untuk mengambil tugas kuliah ini dan membayarnya sesuai perjanjian terdahulu. Ia mengabaikan permintaan Kyuhyun untuk menemuinya. Namja aneh itu tidak memberikan banyak alasan logis yang membuatnya harus membatalkan pertemuannya dengan Dainn. Pertemuan dengan yeoja itu lebih penting dari sekedar bertemu artis arogan sepertinya.

Tiba-tiba dari kejauhan sesosok yeoja dengan siluet tubuh yang sempurna berjalan menghampirinya. Danielle Kim, anak pengusaha kaya yang sangat cantik. Darah campurannya menjadikan wajah Dainn begitu eksotis, pencampuran western dan oriental yang begitu tepat. Siapapun akan menoleh jika melihat yeoja ini, termasuk Yuri. Sayangnya sifatnya tidak secantik penampilan luarnya. Mudah-mudahan dalam pertemuannya kali ini, yeoja itu tidak membuat masalah dengannya. Yuri berjanji untuk tidak mau lagi berurusan dengan yeoja itu, terlalu berbahaya dan menakutkan.

“Annyeong Dainn-ssi, apa kabar?” Yuri berdiri dan membungkukkan badannya. Tapi yang disapa tidak menjawab, tanpa basa basi ia langsung merebut kertas dalam map yang sedang dipegang Yuri.

“Aku harap isinya sesuai dengan apa yang kau minta Dainn-ssi. Aku yakin kau tidak akan kecewa, karena aku sudah membaca banyak referensi untuk mendukung tulisanku itu,” ucap Yuri lebih lanjut.

Dainn menatap Yuri sekilas kemudian membaca lagi laporan itu satu persatu. Mereka sengaja bertemu di taman kampus ini karena tempatnya cukup sepi. Bertransaksi seperti ini di ruang kelas hanya akan menimbulkan masalah baru jika sampai diketahui pihak kampus.

“Kau yakin tidak melakukan plagiarisme?”

Yuri menahan nafasnya, seenaknya saja Dainn bertanya seperti itu. Pertanyaan jenis ini seperti menuduh bahwa ia melakukan pencontekan karya orang lain. Tentu saja tidak, ia cukup terhormat untuk tidak melakukannya.

“Kau bisa mengeceknya sendiri di google scholar atau software pendeteksi plagiarisme. Jika kau menemukan satu kalimat saja yang isinya sama kau boleh tidak membayarku.”

“Baiklah aku percaya. Tapi walaupun kau tidak melakukan plagiarisme, aku masih harus membaca isinya apakah sesuai dengan yang kuinginkan atau tidak.”

Yeoja itu meraih dompet di dalam tas mewahnya, kemudian mengangsurkan beberapa lembar puluhan ribu won. Yuri menerimanya dan menghitungnya, ia mengerutkan keningnya.

“Mianhae Dainn-ssi tapi jika tidak salah sesuai dengan perjanjian kau akan memberikan 100.000 won kenapa hanya 60.000 won?”

Dainn hanya tersenyum pendek,”Seperti yang kukatakan, aku harus mengecek dahulu apakah isinya sesuai dengan yang kuinginkan atau tidak. Jika sesuai aku akan membayar sisanya.”

“Jika tidak?”

“Yah kau tahu sendiri jawabannya.”

“Tapi kau mengatakan bahwa kau akan memberikan uang itu lunas setelah laporan ini kuserahkan.”

“Memang, tapi kupikir-pikir, kau bisa saja membohongiku. Kau bisa saja asal-asalan membuat tugas ini yang penting kau dapat menerima uangku. Tentu saja aku tidak sebodoh itu, aku harus yakin bahwa paper ini memang layak mendapatkan 100.000 won. Jika tidak itu resikomu kenapa kau membuatnya asal-asalan. Setidaknya aku cukup berbaik hati memberimu 60.000 won. Kupikir jumlah itu malah sudah terlalu banyak untuk dirimu.”

Yuri tercengang dengan pernyataan Dainn yang seenaknya. Dalam hal ini apakah ia masih pantas untuk bersabar?

“Kau keterlaluan sekali Dainn. Kau selalu seenaknya mengubah perjanjian tanpa memberitahuku. Aku tidak bisa terus menerus diam karena sikapmu. Aku menuntut hakku. Berikan aku 40.000 won lagi!”

Dainn terbelalak. ‘Bisa-bisanya yeoja ini memarahiku,’ desisnya kesal.

”Ingat Yuri, aku adalah pihak yang memberimu pekerjaan ini. Jadi kewenangan ada di tanganku, apakah aku akan mengubah perjanjian atau malah membatalkannya. Sudah untung aku tidak membatalkannya, setidaknya kau sekarang mempunyai 60.000 won di tanganmu.”

“Aish, berhentilah untuk bertingkah seperti orang yang selalu bisa mengatur hidup orang. Tidak semua orang itu bisa dengan mudah kau atur dan kau permainkan Dainn-ssi. Aku berusaha sangat keras untuk mengerjakan laporan ini karena kau pernah berjanji untuk memberikan 100.000 won langsung. Kau tidak usah khawatir bahwa isinya main-main. Aku mengerjakan laporan ini dengan sungguh-sungguh. Aku membaca puluhan buku untuk bisa membuat laporan ini layak mendapat nilai A. Lalu apakah ini balasanmu? Apakah kau tidak bisa menghargai orang sedikit saja? Atau setidaknya menepati janji yang telah kau buat sendiri?”

Dainn langsung terpancing emosi dengan pernyataan Yuri,“Cih, jadi kau bilang aku ingkar janji dan tidak menghargai orang begitu? Hey sebelum bicara, berkacalah dahulu siapa dirimu. Kita berdiri berhadap-hadapan seperti ini saja sudah tidak pantas. Demi laporan ini aku rela menurunkan harga diriku untuk berbicara dengan orang seperti kamu. Dan sekarang kau seenaknya mengata-ngataiku, apakah orang tuamu tidak pernah belajar bagaimana caranya berterima kasih ya? Rasanya tidak, karena kelakukanmu menunjukkan sebaliknya.”

“Jangan kau bawa orangtuaku dalam pembicaraan ini. Orangtuaku mengajari lebih banyak sopan santun dari apa yang kau pikirkan. Tapi perlukah aku tetap sopan menghadapi orang yang terus menerus menghinaku?“

“Terimalah nasibmu. Lagian apa susahnya menunggu aku membaca laporan ini dengan benar. Uang itu akan kau terima jika memang isinya sesuai dengan yang kau inginkan. Aku kurang baik apa padamu? Setelah dengan seenaknya kau membuat keributan memalukan di dekat kantin kemarin?”

“Kau ini benar-benar, aish…,” Yuri sudah tidak sanggup berkata-kata lagi.

Dainn tersenyum sinis,”Sudahlah aku tidak mau berdebat denganmu. Ingat jika kau terus bertingkah menyebalkan seperti ini, aku tidak ragu-ragu membujuk Appa untuk membatalkan beasiswamu.”

Yuri terdiam, ia tidak bisa berdebat jika ancamannya adalah pemutusan beasiswa. Yeoja itu tahu sekali kartu As-nya. Beasiswa itu adalah hidup dan harapannya.

Dainn mendekatinya dan berbisik,”Kau harus sadar dengan siapa kau berhadapan, Yuri. Jangan sekali-kali membuat masalah denganku atau aku akan bertindak. Aku tahu kau tidak bisa berbuat apa-apa tanpa beasiswa dari Appaku. Jadi sekali lagi kuingatkan sadarilah dengan siapa kau bicara sekarang.”

Ia tersenyum manis, langsung berbalik meninggalkan Yuri sendirian di taman itu. Yuri mengepalkan tangannya kuat-kuat sehingga uang itu ikut terkepal dan terlipat kasar. Ia menahan amarahnya, belum juga tuntas kesedihannya akibat pembicaran Appa dan Omma yang didengar malam tadi. Ia kini harus menerima dihina dan diperlakukan tidak layak hanya karena ia miskin dan tidak punya kekuatan. Kesabaran itu ada batasnya tapi kenapa ia masih harus dituntut untuk bersabar sampai saat ini?

‘Yuri kau harus sabar, ingat sudah ada 60.000 won di tanganmu, walaupun kurang untuk membayar sewa rumah tapi jumlah ini sudah cukup lumayan’

Kata hatinya terus mengingatkannya agar ia tidak terjebak dalam kemarahan yang sia-sia. Yuri menghela nafas, tadi ia ingin sekali menampar Dainn, bahkan jika perlu membanting dan memukulnya. Ia bisa saja melakukannya. Tapi itu tindakan bodoh, melawan seorang Dainn sama dengan melawan singa betina ganas. Jika ia sampai melakukannya, ia bisa saja dipenjara, dan tidak bisa berkuliah lagi.

Dengan gontai, Yuri berjalan mendekati gedung kampusnya. Matanya kosong menatap ke depan. Ia tidak perduli bahwa semakin mendekati kelasnya, semakin banyak keriuhan dan kerumunan orang-orang yang terus berteriak-teriak tidak jelas. Mahasiswa-mahasiswa ini kenapa begitu ribut sekali, beberapa bahkan memaksa memasuki ruangan kelasnya yang sudah terlihat penuh dengan orang-orang. Yuripun berusaha masuk walaupun sulit.

“Permisi, saya mau masuk kelas, permisi.”

Tapi orang-orang itu tidak perduli. Aish ada apa ini? Adakah sesuatu yang aneh di dalam kelasnya hingga mahasiswa dari jurusan dan kelas lain berbondong-bondong memasuki ruangan belajarnya? Yuri akhirnya bisa masuk ke dalam kelas dengan perjuangan yang melelahkan karena harus saling adu kuat dengan mahasiswa yang lain. Akhirnya ia bisa masuk dan mendapati teman sekelasnya termasuk Rin Joo yang hari ini berambut merah menyala. Mereka sedang duduk dan terus menatap ke satu arah dengan pandangan memuja.

“Rin Joo, ada apa ini kenapa kelas kita begitu banyak orang?”

Yeoja itu tidak menanggapi pertanyaan Yuri dan terus menerus melihat ke satu titik begitupun dengan teman-temannya yang lain. Dengan cepat Yuri menoleh ke sebelah kirinya, mencari tahu apa yang membuat teman-temannya bersikap aneh seperti ini.

Yuri terbelalak saking terkejutnya,”Kyuhyun! Mau apa kau ke sini?”

Spontan namja yang sedang asyik bermain dengan PSP di tangannya mendongak, membuat teman-teman dan pengunjung kelasnya ikut-ikutan menatap Yuri.

Kenapa namja itu bisa berada di kelasnya?

Yuri menatap Rin Joo mencari alasan tapi yeoja itu jika sudah fokus pada suatu hal tidak akan bisa diganggu dengan cara apapun. Ia bahkan tidak berkedip saat melihat Kyuhyun.

Kyuhyun berdiri mendekatinya, tentu saja hal itu membuat semua yang ada di kelasnya penasaran. Apakah Kyuhyun marah karena Yuri bersikap tidak sopan karena memanggil dan bertanya dengan cara seperti itu?

“Kau kemana saja hah?” Namja itu bertanya dengan nada tinggi.

“Mwo? Aku?” Yuri menunjuk dirinya sendiri dengan bingung.

“Bukankah aku minta kau untuk menemuiku jam 9 di student roomku. Kenapa kau tidak datang?”

Yuri meringis merasa bersalah,“Aku ada pekerjaan, mian.”

Yeoja itu menatap teman-temannya yang melihatnya dengan tatapan terkejut, begitu juga Rin Joo. Andaikata ia bisa menjelaskan pada mereka bahwa tidak ada yang harus dicurigai dengan kedatangan Kyuhyun menemuinya.

“Aish, aku menunggumu di sana tapi kau tidak datang juga. Aku terpaksa datang ke sini.”

Namja itu masih mengomel, ia tampaknya tidak perduli dengan banyaknya orang yang melihat mereka dengan tatapan penuh tanda tanya.

“Aku tidak memintamu datang ke sini dan demi kebaikan bersama seharusnya kau tidak usah ke sini,” Yuri menjawab sambil berbisik.

“Wae?”

“Apa kau tidak lihat teman-temanku memperhatikan kita. Yuri bersama dengan seorang Kyuhyun, aneh sekali? Pasti itu yang mereka pikirkan. Aish kau itu berani-beraninya membuat masalah denganku. Mereka pasti akan membuat gosip yang buruk tentangku tahu!”

“Kau ini percaya diri sekali, yang ada justru namaku yang tercemar karena mau menungguimu di sini. Harusnya kau berterima kasih, bukankah imejmu jadi bagus karena aku menemuimu?”

“Mwo?”

Yuri ternganga mendengarkan ucapan Kyuhyun yang narsis dan sarkastis. Ia menahan dirinya untuk tidak membalas, nama baiknya dipertaruhkan jika percakapan mereka didengar oleh mahasiswa-mahasiswa ini.

Tiba-tiba namja itu menarik tangannya,“Ayo pergi!”

Yuri dengan otomatis mengibaskan pegangan Kyuhyun, mata teman-temannya semakin terbelalak melihat adegan ini.

“Tunggu, sebenarnya ada apa ini? Kau tiba-tiba datang ke kelasku, marah-marah kemudian mengajakku pergi. Kau tidak sedang mabuk?”

“Kau berisik sekali, kau tidak ada kuliah jam ini bukan? Nanti akan ku jelaskan. Sekarang ayo pergi!”

“Tapi Kyuhyun…”

Namja itu tidak mengindahkan protesnya, tidak juga perduli dengan tatapan tidak percaya dari kerumunan orang yang mengerubungi mereka. Ia terus menarik tangan Yuri keluar dari kerumunan orang-orang yang berada di kelasnya. Ia juga tidak perduli dengan Yuri yang sudah meronta-ronta meminta supaya tangannya dilepaskan.

“Kyuhyun, lepaskan aku, memang aku penjahat apa?”

Namja itu tidak mendengar omelan dari mulut Yuri. Setelah keluar dari koridor gedung, ia malah mempercepat langkahnya membuat Yuri harus berlari terengah-engah. Tentu saja pemandangan itu menjadi perhatian menarik orang-orang yang tengah berada di gedung Insa, tempat dimana kelas Yuri berada. Seorang Cho Khyuhyun, bintang idola Korea dan mahasiswa terpandai di universitas ini tengah menggeret yeoja yang selama ini selalu mereka cap sebagai orang aneh!

“Kita mau kemana. Jangan cepat-cepat, aku capek,” keluh Yuri kepayahan.

Kyuhyun masih tutup mulut sampai akhirnya mereka sampai ke tempat parkir dimana mobil putih Kyuhyun berada.

“Ayo masuk!”

Yuri menggelang,”Aku tidak mau sebelum kau menjelaskan ada apa? Kau telah membuat kekacauan dengan membawaku kemari. Apa kau terbiasa bersikap seenaknya ya? Datang-datang, membuat keributan, dan tiba-tiba memaksaku untuk naik ke mobilmu.”

“Kenapa yeoja itu begitu cerewet. Aish masuklah nanti kau akan tahu sendiri.”

Dengan malas, Yuri akhirnya masuk ke dalam mobil mewah itu. Entah kenapa setiap masuk mobil namja ini, auranya jadi lain, setidaknya Yuri merasa lebih tenang karena pikirannya jadi terfokus untuk mengagumi kecanggihan dan kemewahan mobil ini. Kenapa ada orang yang terlahir sangat kaya seperti namja di sebelahnya ini sehingga mampu membeli mobil yang begitu mewah, dan kenapa ada yang ditakdirkan begitu miskin seperti dirinya sampai membayar uang sewa rumah susunpun tidak mampu.

“Sudah puas melihat-lihat?”

Yuri tersenyum malu, rupanya Kyuhyun memperhatikan tingkahnya yang seperti orang kampungan karena takjub melihat kemewahan mobil ini. Padahal kemarin ia juga naik mobil ini tapi rasanya tidak puas jika harus menikmatinya sekali saja. Dari kecil ia memang tergila-gila melihat mobil mewah sampai memasang posternya di setiap sudut kamar mungilnya.

Kyuhyun kemudian menancapkan gasnya dan mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Mereka tidak bercakap-cakap, Yuri pun juga malas untuk membuka suara. Walaupun ia penasaran setengah mati kenapa Kyuhyun memaksanya untuk mengantarnya. Tapi moodnya sedang kacau hari ini, pikirannya masih terfokus pada tunggakan uang sewa rumahnya.

Untunglah cuaca hari ini sangat bersahabat, tidak dingin dan juga tidak panas. Matahari juga tidak terlalu terik dan angin berhembus dengan lembut. Setidaknya itu mengurangi perasaan kesal Yuri. Ia kesal dengan apapun yang dialaminya hari ini, dengan perkecualian naik mobil Kyuhyun tentunya. Tapi mengingat bahwa pemilik mobil ini adalah Cho Kyuhyun, mendadak perasaan kesal muncul kembali. Ia tidak suka dengan orang yang suka memaksakan kehendak seperti namja itu.

Mobil kemudian berhenti di sebuah mall besar. Yuri tidak tahu nama mall ini karena ia baru sekali melihatnya.

“Ayo turun!”

Bos tukang perintah ini memang menyebalkan, tanpa bersuara Yuri turun dan berjalan mengikuti Kyuhyun dari belakang. Baiklah, ia tahu diri untuk tidak berjalan sejajar dengan namja itu. Ia tidak mau namanya nanti dikait-kaitkan dengan Kyuhyun. Ia kasihan pada namja itu jika tiba-tiba berita menyeruak,’Kyuhyun berjalan dengan yeoja miskin bernama Kwon Yuri’. Kasihan sekali imej namja itu nantinya.

Sepanjang mereka berjalan menyusuri toko-toko di mall ini, Yuri pun dapat melihat beberapa fans sudah membuntuti Kyuhyun dan memotretnya. Demi kebaikan bersama lebih baik ia menjaga jarak. Tapi Kyuhyun malah berbalik dan menyusulnya, lagi-lagi dengan marah-marah.

“Aish, kenapa jalanmu lambat seperti siput. Tidak bisakah kau berjalan cepat!”

“Fansmu sedang memperhatikanmu, jadi aku memberikan semacam jarak bagi kalian supaya mereka bisa memfotomu secara ekslusif.”

“Aish, hal bodoh apa yang sedang kau katakan. Jadi karena ada penggemar, orang-orang di sekitarku harus menjauh begitu?”

“Lalu aku harus bagaimana?”

“Berjalanlah di sampingku.” Kyuhyun menarik tangan Yuri sehingga mau tidak mau yeoja itu tertarik ke depan, berdiri sejajar dengan dirinya, “Nah seperti ini.”

Kemudian mereka berjalan, tangan Kyuhyun sudah terlepas. Yuri terus menunduk, sungguh ia tidak nyaman dengan penggemar dadakan yang terus mengikuti dan memotret mereka, tepatnya memotret Kyuhyun. Tapi tampaknya Kyuhyun biasa-biasa saja. Ia melangkah dengan percaya diri walaupun di sebelahnya adalah yeoja dengan penampilan kucel dan tak terurus. Yuri menatap pantulan dirinya dan Kyuhyun di sebuah kaca etalase. Ya ampun betapa mereka seperti langit dan bumi. Kyuhyun yang berkulit pucat dan busana casualnya menampilkan sosok maskulin dan elegan. Sedangkan dirinya, dengan rambut panjang kemerahan dan kulit agak gelap terkena sinar matahari. Yuri merasa dirinya lebih mirip orang-orangan sawah apalagi dengan memakai kemeja kotak-kotak longgar, celana jeans serta sepatu lusuh.

Kring

HP Kyuhyun berbunyi. Namja itu mengangkatnya, ternyata Dainn. Kyuhyun berjalan sedikit menjauh dari Yuri.

“Yoboseo, ada yang bisa kubantu Dainn-ssi?”

Dari seberang telepon sana yeoja itu menjawab dengan nada suaranya yang manja,“Ah senang sekali Oppa mengingat namaku. Oppa aku sudah berhasil menyelesaikan laporan itu. Aku yakin Oppa akan terkejut bagaimana aku bisa menulis sepanjang dan sebaik itu.”

“Jinja? Berapa halaman memangnya?”

“40 halaman dan 40 daftar pustaka, itu belum termasuk jurnal yang diambil melalui internet.”

“Menakjubkan, kau melakukannya dalam waktu seminggu? Aku tidak mengira kau mampu menyelesaikannya,” Kyuhyun cukup surprise ia tidak menyangka Dainn memiliki kadar intelektualitas yang patut diperhitungkan.

“Begitulah. Jadi bagaimana Oppa, kita akan bertemu hari ini? Aku baru menemukan restoran untuk dinner yang menyenangkan di daerah sekitar kampus. Bisakah kita bertemu di sana? Atau Oppa sedang sibuk hari ini?”

“Baiklah, no problem, aku punya waktu yang cukup. Seperti yang kau minta, kita akan bertemu, tapi jangan di waktu dinner. Bagaimana jika sore nanti, pukul 4?”

“Jam 4 tidak masalah. Aku tidak ada kuliah,” jawab Dainn antusias.

“Bagus kau begitu. Baiklah, dimana aku menjemputmu?”

Walaupun dari kejauhan tapi samar-samar Yuri bisa mendengar percakapan namja itu. Walaupun semakin lama-semakin tidak terdengar tetapi Yuri yakin namja itu sedang berbicara dengan seorang yeoja. Dari bagaimana sopannya bahasa yang digunakan dan mimik Kyuhyun yang terlihat gembira, pastilah yeoja itu istimewa. Ternyata Kyuhyun sudah punya yeoja chingu rupanya.

Setelah selesai bicara di HPnya, Kyuhyun mendekati Yuri yang sedang memandang jajaran toko-toko yang menarik mata di dalam mall itu.

“Sepertinya kau tampak bahagia,”entah kenapa mulut Yuri terasa gatal untuk berkomentar.

Namja itu tetap tersenyum, ia tidak menjawab. Ada perasaan senang dan tegang dalam dadanya. Ia tidak sabar ingin melihat laporan yang dibuat Dainn dan membandingkan dengan hasil penelitiannya. Jika laporan itu memang sebagus yang dikatakan Dainn, bukan tidak mungkin ia akan lebih cepat menyusun thesisnya. Ia tidak menjawab pertanyaan Yuri. Tapi Yuri juga tidak terlalu perduli apakah Kyuhyun mau menjawabnya atau tidak. Yang ia yakini hati namja itu gembira karena baru saja berbicara dengan yeoja chingunya. Mereka terus berjalan mengitari mall itu sampai akhirnya mereka berhenti di sebuah toko mainan anak-anak yang begitu luas.

“Aku ingin membelikan Seok Hyun mainan, tapi aku tidak tahu mainan yang bagus untuk seusianya. Kau bantu aku mencarinya ya?”

“Jadi kau menggeretku dari kampus kemari hanya untuk membeli mainan untuk keponakanmu?”

Kyuhyun mengangguk tanpa dosa.

Ya ampun, jadi hanya karena ingin membeli mainan untuk keponakannya, Kyuhyun sampai harus tega memaksanya untuk mengikutinya sampai ke sini. Jadi ini juga maksud permintaannya bertemu di student room jam 9? Aish, namja ini benar-benar menyebalkan! Tidak tahu apa bahwa dia memiliki urusan yang jauh lebih penting daripada sekedar mengantarnya membeli mainan.

Namja itu kemudian menyerahkan keranjang kepadanya. Maksudnya? Jadi ia hanya sebagai kuli pembawa mainan? Kyuhyun terlihat antusias melihat aneka robot dan miniatur mobil mewah yang terpampang dengan rapi di tiap etalase.

“Memang Seok Hyun ingin mainan seperti apa?” tanya Yuri kesal. Sesaat kekesalannya hilang ketika mengamati mainan anak-anak yang menarik mata.

“Entahlah, mainannya sendiri sudah terlalu banyak tapi aku ingin membelikannya karena bocah itu gampang sekali bosan. Bagaimana dengan ini?”

Kyuhyun menunjukan sebuah robot Voltus yang ukuran tingginya hampir mencapai 1 meter.

“Bagus, tapi sepertinya Seok Hyun terlalu banyak memiliki robot dan harga robot itu sangat mahal.”

“Tapi yang besar seperti ini, tampaknya dia belum punya. Soal harga bukan masalah buatku.”

Oh iya, Yuri lupa bahwa orang yang sedang ditemaninya berbelanja ini bukan dari keluarga seperti dia yang hampir tidak pernah terpikir untuk membelikan mainan yang total harganya saja setara dengan biaya sewa rumahnya,“Terserahmu jika begitu. Jika uang bukan masalah, kau bisa membeli apapun yang kau mau termasuk seisi toko ini.”

Sebenarnya itu adalah pernyataan menyindir tapi sayangnya Kyuhyun tidak menyadarinya. Ia malah merasa Yuri sedang mendukungnya.“Sini, mana keranjangnya?”

Seperti yang telah diduga, ternyata Yuri bukan difungsikan sebagai pemberi saran tapi lebih sebagai asisten atau tepatnya pembantu Kyuhyun. Sepanjang pencarian mainan, dirinyalah yang bertugas sebagai pembawa keranjang, yang membawakan semua mainan mahal yang dibeli Kyuhyun untuk Seok Hyun. Tentu saja keranjang itu begitu berat, sampai Yuri sesekali harus meregangkan badan dan tangannya karena lelah. Sedangkan Kyuhyun? Ia terlalu asyik hidup dalam fantasinya, seolah-olah ia membeli mainan itu untuk dirinya sendiri.

“Mainan di sini benar-benar fantastis. Aku seperti ingin kembali ke masa kecilku. Aish, Seok Hyun bisa kesenangan jika aku bawa di ke sini.”

Yuri mengangkat bahu.

“Sayangnya Omma-nya terlalu protektif terhadapnya. Ia tidak bisa dengan mudah kuajak keluar. Mainan ini mudah-mudahan bisa membuatnya senang.”

“Jadi ia jarang bermain di luar?” tanya Yuri penasaran.

“Begitulah, itu karena kedua orangtuanya sibuk dan mereka tidak terlalu mempercayai pengasuhnya untuk membawa Seok Hyun bermain ke luar. Ia bisa pergi jika Noona dan kakak iparku sedang tidak sibuk, tapi sayangnya kesibukan mereka memang luar biasa. Bisa kau bayangkan berapa kali Seok Hyun bisa bermain ke luar hanya bisa dihitung dengan jari jika harus menuruti aktivitas orang tuanya. Oleh karena itu jika aku tidak sibuk, aku menyempatkan diri untuk mengajaknya bermain di luar rumah, seringnya ke taman bermain dan dia sangat menyukainya.”

“Pantas saja dia begitu mengidolakanmu.”

“Tentu saja, aku adalah Samchon yang paling baik.”

Yuri mendengus mendengar Kyuhyun memuji dirinya sendiri. Satu fakta baru lagi tentang Seok Hyun, pantas saja ia begitu haus dengan bermain. Mungkin kesibukan orangtualah yang menjadi penyebabnya. Anak kecil itu walau menjengkelkan tapi menarik. Jujur saja saat menatapnya kita seperti melihat boneka bergerak. Wajar sekali jika Kyuhyun begitu menyayanginya. Ia juga tidak menyangka jika Kyuhyun yang menyebalkan itu bisa berubah menjadi sosok malaikat pelindung bagi Seok Hyun.

“Kau selalu membelikannya mainan?” tanya Yuri lagi.

“Tidak selalu tapi cukup sering, dan aku sangat suka melihatnya berteriak-teriak kegirangan. Sayangnya mainan itu sering rusak entah dipreteli atau dibanting. Jadi setiap kali aku ke rumahnya, Seok Hyun pasti akan menagih mainan baru.”

“Kalau begitu belilah mainan yang benar-benar dibutuhkan untuk seusianya dan jika bisa mainan itu memiliki sifat mendidik untuk Seok Hyun. Tidak usah terlalu banyak tapi menantang supaya ia tidak bosan”

Kyuhyun menoleh ke arah Yuri,” Lalu mainan yang mendidik itu seperti apa?”

“Mainan yang bisa merangsang kemampuan motorik dan otaknya. Jadi saat bermain, Seok Hyun juga dapat melatih kemampuan tubuh dan pikirannya. Contohnya lego atau alat musik, tapi karena Seok Hyun sudah memilikinya mungkin kita bisa membeli yang lain, puzzle mungkin, atau permainan menyerupai seseorang, seperti menjadi dokter, polisi atau alat peraga. Yang kutahu permainan itu bagus untuk melatih imajinasinya. Tapi tetap saja sebagus apapun mainannya jika tidak ada yang mengarahkan akan menjadi sia-sia.”

Namja itu memandang Yuri dengan tatapan heran,”Kau tahu terlalu banyak soal anak-anak. Kau menyukai anak-anak?”

“Aku pernah menjadi nanny selama beberapa bulan untuk seorang keluarga kaya. Di situ aku belajar sedikit demi sedikit.”

Kyuhyun terkejut ternyata Yuri memiliki pengalaman kerja yang menarik.

“Baiklah, kalau begitu tunjukanlah mana permainan yang pantas kubeli untuk Seok Hyun”

Tanpa banyak bicara, Yuri masih dengan mengangkut keranjang belanjaannya yang sangat berat tampak antusias memilih mainan yang sekiranya pas untuk dibeli Kyuhyun. Ia mengambil magnetik board, tetris warna, serta beberapa set buku mewarnai dan mengenal bentuk, tapi ketika melihat label harganya, Yuri urung mengambilnya.

“Kau ambil saja, jangan terlalu perduli dengan biayanya,” tukas Kyuhyun ketika melihat Yuri tampak sibuk memperhatikan harga.

‘Begini ya rasanya menjadi orang kaya,’ ujar Yuri dalam hati. Membeli barang mahal semudah membeli sayur di pasar. Begitu menyenangkan bisa membeli apapun yang kita suka. Jika ia diberi kesempatan mendapatkan uang banyak, yang akan ia beli pertama adalah buku. Sampai saat ini, karena uang yang terbatas, ia hanya bisa memfotokopi buku kuliahnya itupun hanya mengambil beberapa bab yang sekiranya paling penting.

“Aduh!” Tiba-tiba, pinggang Yuri merasa sakit. Pasti karena ia menjinjing keranjang seberat ini. Padahal umurnya masih begitu muda, tapi ia merasa seperti nenek-nenek yang sakit encok. Yuri menurunkan keranjangnya.

Kyuhyun mendekatinya,”Kau kenapa?”

Yuri tidak menjawab. Ini semua karena ulah namja tengil itu yang seenaknya menyuruhnya menjinjing keranjang belanjaan yang berisi mainan anak-anak yang ternyata setelah dikumpulkan sangatlah berat. Mungkin lebih dari 30 kilogram. Yeoja itu meringis memegang pinggangnya yang sakit.

“Masih muda sudah sakit seperti orang tua. Kau jarang berolahraga ya.”

Yuri melotot ke arah Kyuhyun,”Enak saja mengataiku.”

“Oh aku tahu, kau lapar ya?”

Mwo, apalagi maksudnya. Darimana Kyuhyun bisa menyimpulkan dirinya lapar. Yang ada, pinggang dan perutnya terasa dipelintir gara-gara Bos Kyuhyun yang membuatnya menjadi pembantu seharian ini.

“Ini memang sudah melebihi waktu makan siang. Ya sudah kita makan.”

Setelah membayar mainan-mainan itu di kasir. Kyuhyun tetap memperlakukannya seperti pembantu. Yuri masih tetap menjinjing tas plastik berisi mainan-mainan itu. Untung badan Yuri cukup kuat, sakit pinggangnya yang tiba-tiba kambuh tidak terasa lagi. Tapi ia cukup sebal mendengar Kyuhyun yang menyuruhnya berjalan cepat.

“Kau ini jalannya lambat sekali. Bukankah kau sedang kelaparan, harusnya kau berjalan dengan tenaga.”

“Memang kau terbiasa berjalan seperti kura-kura atau siput. Restoran untuk makan siang kita sangat penuh jika jam-jam makan siang seperti ini. Kita harus cepat.”

Sudah cukup! Yuri sudah tidak tahan.

“Ya, Kyuhyun, kau lihat sendiri aku menjinjing puluhan mainan ini dan kau ongkang ongkang kaki seperti bos besar. Tentu saja kau berjalan lebih cepat daripadaku. Pertama karena kakimu lebih panjang daripadaku, kedua karena aku berkonsentrasi memegang belanjaan ini. Apa mungkin aku bisa secepatmu berjalan dengan tentengan sebanyak ini. Kau bawa saja mainan ini sendiri!”

Yuri melepaskan pegangannya pada kedua plastik besar itu, tentu saja isinya berhamburan keluar. Kyuhyun terbelalak dan yeoja itu tersenyum puas.

“Yuri, apa yang telah kau lakukan, aish..”

Dengan cepat Kyuhyun berjongkok dan mengumpulkan semua mainan yang tercerai berai di lantai mall. Melihat pemandangan itu Yuri tersenyum geli, harusnya ia memfoto bagaimana Kyuhyun tampak putus asa ketika mengumpulkan mainan itu. Hahaha, Kyuhyun seperti pelayan sungguhan!

Akhirnya mainan itu bisa terkumpul dengan baik. Kyuhyun menatap Yuri dengan garang.

“Seharusnya kau katakan padaku jika kau berat membawa barang-barang ini, tidak usah menjatuhkannya. Untunglah tidak ada mainan ini yang rusak.”

“Kyaa, harusnya kau mengerti. Kau ini namja, kau juga yang punya kepentingan membeli mainan ini tapi kenapa kau memperlakukanku seperti pembantu yang harus mengangkut barang-barang pembelianmu. Sebenarnya itu tidak masalah jika kau tidak mengejekku lambat, atau seperti kura-kura, siput, dan apalah. Oh ya satu lagi tadi aku sakit pinggang bukan kelaparan seperti yang kau bilang. Aku sakit pinggang karena harus membawa belanjaaanmu yang mungkin hampir setengah ton.”

Kyuhyun terdiam, melongo tidak percaya bahwa Yuri memang sangat berisik seperti Noona-nya. Ia menjinjing belanjaan itu, memang berat. Pantas saja Yuri sampai marah-marah seperti barusan.

“Setiap kali bertemu denganmu selalu marah dan marah, kasihan sekali orangtuamu karena memiliki anak yang kerjanya hanya marah, menggerutu, mengomel, yeoja sifatnya begitu jelek.”

“Apa kau bilang?!” nada Yuri sudah mulai meninggi sampai-sampai pengunjung mal melihatnya,”Kau katakan sifatku jelek?”

Tapi Kyuhyun tidak perduli, ia dengan santai melangkah mendekati sebuah restoran Italia. Mau tidak mau Yuri mengikutinya karena ia tidak tahu arah ke luar.

Namja itu memesan satu pan pizza extra large dengan cita rasa lokal, ditambah spaghetti, lasagna, dan beberapa sup dan salad. Melihat makanan yang terhidang di meja, air liur Yuri menetes. Alangkah lezatnya makanan ini. Seumur hidupnya, bisa dihitung dengan jari kapan ia memakan makanan Italia full set seperti ini.

“Makanan bukan untuk dipandang tapi untuk dimakan. Jadi makanlah, kau tidak akan kenyang jika hanya memandangi saja. Oh ya, terimakasih telah mengantarku dan maafkan jika aku tadi membuatmu kesal.”

Yuri tidak terlalu mendengarkan pernyataan Kyuhyun yang tumben sangat bijaksana. Ia sibuk menentukan makanan apa dulu yang akan ia makan. Baiklah ia akan memulainya dari satu slice pizza. Hmm pizza yang nikmat dengan cita rasa bulgogi dan jamur. Rasanya satu slice tidak cukup, ia mengambil lagi dan memakannya dengan rakus.

“Kau tidak mau mencoba yang lainnya Yuri?”

“Hmm baiklah,”jawab Yuri dengan mulut yang masih penuh dengan makanan. Ia memakan spaghetti dan lasagna itu dengan lahap tidak tersisa. Kyuhyun hanya bisa memandang takjub. Apalagi ketika yeoja itu masih mampu memakan sup dan salad yang berukuran besar.

“Katanya kau tidak lapar, tapi aku seperti melihat orang yang sudah tidak makan berbulan-bulan.”

“Mwo?” Yuri masih dengan mulutnya yang penuh dengan makanan hanya bisa membelalakan matanya. Memang ia tadi mengatakan tidak lapar begitu? Rasanya ia lupa dengan apa yang sudah dikatakannya. Tapi sudahlah tidak terlalu dipikirkannya. Lebih baik ia berkonsentrasi menghabiskan makanan ini mumpung perutnya masih bisa menampung. Tidak diperdulikannya juga semua ucapan Kyuhyun. Fokusnya hanya pada makan! Tapi melihat Kyuhyun yang tidak menyentuh makanannya sama sekali, membuat Yuri heran.

“Kau tidak makan? Kau tidak lapar?”

Namja itu menggelang,”Melihatmu makan membuat apetite-ku hilang seketika.”

“Apa kau bilang? Memang kenapa dengan cara makanku”

Kyuhyun kemudian menunjuk Yuri dan memberikan tanda seolah-olah ada sesuatu di sekitar mulut dan pipinya. Yuri menatap pantulan dirinya di cermin restoran itu. Omona, ternyata pipi dan sekitar bibirnya penuh dengan pasta tomat dan keju. Aih dirinya jelek sekali, ia seperti melihat badut. Kyuhyun tertawa terbahak-bahak melihatnya.

“Bagimana aku bisa makan, jika aku melihatmu seperti itu hahahaha.”

“Aish kenapa kau tidak memberitahuku sejak tadi?”

“Bagaimana bisa? Kau terlalu berkonsentrasi makan sehingga aku tidak tega mengganggumu.”

“Aku jadi merasa seperti badut sirkus.”

“Ne, aku malah seperti melihat Sinterklas karena mukamu penuh dengan kumis merah putih hahaha”

Kyuhyun terus saja tertawa, ia seperti melihat lelucon yang membuatnya terpingkal-pingkal. Baru kali ini dalam hidupnya, ia bertemu dengan yeoja secuek Yuri. Dalam kamus kehidupannya, yang ia tahu yeoja itu anggun, feminin, bersikap santun, kadang sedikit manja, dan sangat terjaga baik dalam sikap dan prilaku. Tapi melihat Yuri, Kyuhyun seperti melihat yeoja spesies lain. Yeoja itu bertingkah sangat apa adanya, cuek dan tidak jaim.  Ia pikir Yuri akan marah ketika  ia mengatakan dirinya seperti Sinterklas karena krim kejunya hampir menutupi semua area mulut yeoja itu. Tapi anehnya yeoja itu ikut tertawa dan tidak segan-segan menyebut dirinya seperti badut sirkus. Mana ada yeoja yang pernah ia kencani bersikap seperti itu jika Kyuhyun dengan terus terang menunjukan bahwa di pipi dan mulut mereka ada saus tomat dan krim keju. Umumnya mereka akan panik, malu, merengek, dan bertingkah seperti anak kecil yang dijahili teman-teman sepermainannya.

Kedua orang itu terus tertawa sampai Yuri lupa untuk membersihkan wajahnya. Spontan Kyuhyun mengambil tisu meja dan menempelkannya ke area wajah Yuri yang terkena saus tadi. Secara perlahan ia membersihkan noda yang ada di mulut Yuri. Tentu saja Yuri jengah. Ia menghindar dan mengambil sendiri tisu meja dan membersihkannya sendiri.

“Aku bisa membersihkannya sendiri.” Yuri melepaskan tangan Kyuhyun yang ada di sekitar mulutnya.

“Wae? Aish, pasti kau berpikiran macam-macam ya. Tenang saja aku tidak sedang berusaha menggodamu.”

Kyuhyun menghentikan aksinya. Ia merasa tidak ada yang aneh dengan hal spontan  yang tadi dilakukannya.

“Aku tidak berpikir ke arah sana tapi tapi apa kata orang jika melihatmu membersihkan mukaku atau mungkin yeoja chingumu jika melihatnya. Ia pasti akan marah. Siapa tahu yoeja chingumu atau temannya sedang ada di mall ini sedang melihatmu, mengawasimu!”

Tiba-tiba Kyuhyun tersentak ketika Yuri mengucapkan yeoja chingu. Sesaat ia terdiam sampai-sampai Yuri harus mengibaskan tangannya supaya Kyuhyun tidak keterusan melamun. Yeoja chingu? Melihatmu? Mengawasimu? Ada sesuatu dalam masa lalunya yang tiba-tiba menyeruak begitu saja ketika yeoja itu mengatakannya. Seperti melewati mesin waktu, Kyuhyun seperti diingatkan pada memori yang pernah dengan paksa ia hapus dalam pikirannya. Sesungguhnya sekarang ini ia hidup tanpa masa lalu. Ada beberapa keping hidupnya yang ia simpan dalam kotak terkunci. Tapi Yuri telah mengingatkannya, membuatnya tergoda untuk membuka kotak Pandora itu.

“Kyuhyun, heloooo, kau melamun?”

Yuri sampai menggoyang-goyangkan badan meja supaya Kyuhyun sadar,”Kyuhyuuuuuuuuun!”

Mendengar teriakan yeoja itu yang persis seperti Ahra ketika memanggilnya membuatnya tersadar. Yuri melihatnya dengan tatapan panik.

“Kyuhyun pabo, kau melamun seperti orang mati suri. Kau berpikir apa?”

Kyuhyun terdiam, sesuatu hal sedang bermain-main dalam pikirannya. Ia lantas berdiri dan meletakkan beberapa lembar puluhan ribu won di atas meja itu.

“Kita pulang, kau masih ada kuliah bukan? Aku akan mengantarmu ke kampus. Tapi jangan lupa setelah selesai kuliah kau harus menemui Seok Hyun. Di sana, kau jangan dulu pulang sebelum aku pulang,” ia berkata dengan suara dalam dan tampak dingin.

“Tapi aku digaji hanya untuk 2 jam mengajari Seok Hyun. Kau tidak boleh pulang telat.”

“Jika telat, anggap saja lembur, nanti akan kuganti tambahan jam yang kupakai.”

“Jinja? Cash saat itu juga ya.”

“Terserahmu dan ingat janji adalah utang. Jika kau mengatakan akan menungguku, kau harus menungguku. Aku tidak mau mendengar alasan lain.”

Yuri mengangguk sebal. Kyuhyun suka sekali mengancamnya dan ia tidak suka. Sejam kemudian, Yuri sudah sampai di kampus. Kyuhyun tidak ikut turun dari mobilnya karena harus pergi ke Suju Radio. Tentu saja kedatangan Yuri ke kampus disambut dengan bisik-bisik mahasiswa yang mengetahui bagaimana Kyuhyun datang menemuinya dan bersikap seolah-olah mereka teman akrab. Seperti bom, gossip itu meledak dengan cepat, tampaknya semua mahasiswa tahu kejadian ini. Hampir semuanya tidak percaya jika yeoja cuek dan berasal dari keluarga tidak mampu ini bisa bergaul dengan seorang selebritis papan atas seperti Cho Kyuhyun.

Yuri bukannya tidak tahu dengan apa yang terjadi tapi ia malas menanggapi ocehan teman-temannya. Rin Joo datang menghampirinya.

“Am I missing something? Kemarin aku masih mendengar cerita bahwa Kyunie-ku hanya mengambil kartu mahasiswamu tapi aku tidak menyangka jika kalian mengenal satu sama lain.”

“Jangan berpikiran macam-macam, Rin Joo . Kyuhyun itu ternyata pamannya anak yang aku ajari privat itu. Bayangkan dunia ini semakin sempit saja.”

“Senangnya, jika tahu begitu, aku melamar juga menjadi guru privat anak itu hehehe,” Rin Joo tampak menyesal tapi kemudian tertawa, “Tapi kenapa ia tadi seperti marah-marah padamu sampai menggeretmu keluar. Kau melakukan kesalahan padanya ya?”

“Itulah yang menyebalkan, ia ternyata hanya memintaku menemaninya membeli mainan untuk Seok Hyun keponakannya tapi caranya memperlakukanku benar-benar kurang ajar. Dasar artis arogan!.”

“Jinja? Tapi aku menangkap ia sudah merasa dekat denganmu sampai-sampai untuk urusan itu, ia memintamu untuk menemaninya. Kemajuan hubungan yang sangat cepat.”

“Aish, kau terlalu berkhayal, tidak seperti itu Rin Joo. Ia terbiasa dilayani dan ia menemukan korban baru yaitu aku dan kebetulan aku adalah guru privat keponakannya. Kombinasiku sangat tepat bukan?”

“Hmm argumenmu masih dapat diperdebatkan. Tapi aku senang Kyuhyun dekat denganmu. Jika kau tidak keberatan maukah kau kenalkan aku padanya?”

“Tentu saja pasti ia senang bertemu penggemar terberatnya hehehe”

Rin Joo tersipu-sipu tapi kemudian wajahnya berubah serius.

“Tapi setelah hari ini mungkin hidupmu akan berubah Yuri.”

“Maksudmu?”

“Kau tahu gossip yang beredar tentang Kyuhyun?”

Yuri menggelang.

“Gosipnya Dainn adalah yeoja chingu Kyuhyun.”

“Kalau itu aku juga sudah tahu,” jawab Yuri pendek. Malas ia mendengar nama Dainn.

“Baguslah jika kau tahu dari awal, hmm tampaknya kau harus siap bertemu dia kembali. Tentu saja gosip ini cepat atau lambat akan didengarnya dan tidak bisa dibayangkan apa yang terjadi jika nenek sihir itu mengetahuinya.”

“Tapi, aku tidak ada hubungan apapun dengan Kyuhyun,” bantah Yuri tegas.

“Aku percaya tapi siapa yang bisa mengendalikan gosip. Tapi tenang saja selama ada aku, kau aman. Aku sengaja mengecat merah rambut ini untuk memberikanku kekuatan menghadapi pasukan nenek sihir nanti.”

Yuri meringis melihat warna rambut sahabatnya. Tapi ia maklum Rin Joo memiliki kepribadian unik, seunik warna rambut dan cara berpikirnya. Tapi lebih dari itu, Yuri tahu siapa yang bisa diandalkan saat kesulitan menghadangnya. Apalagi cepat atau lambat ia mungkin akan berhadap-hadapan kembali dengan Dainn dan ia tahu ancamannya akan jauh lebih besar dari sekedar memutus beasiswanya. Tapi Yuri masih berharap bahwa bayangannya itu hanya mimpi buruk belaka. Tidak perlu ada yang ditakutkan. Toh, memang ia tidak memiliki hubungan apa-apa dengan namja itu.

Suju Tower

Pukul 2.00 siang.

Zhoumi tampak sibuk mengetik di atas tabletnya, sebagai produser ia sedang memantau siaran tandem Henry dan Shindong. Dari studio siaran Suju radio, terdengar obrolah dua yeoja yang membahana di seantero lobi Suju Tower.

“Shindong-Hyung, polling kita menyebutkan bahwa ELF paling tidak menyukai musim panas daripada tiga musim lainnya. Menurutmu kenapa?” Henry membuka obrolan setelah jingle Suju Radio diputarkan.

“Jawabannya standar, karena panas dan terik membuat kita cepat lelah dan dehidrasi. Dan tahukah fakta terbaru Henry, akibat musim panas ini, setidaknya satu elderly meninggal setiap jamnya dan jumlah itu tidak seberapa dibanding musim panas ekstrim yang pernah menimpa Prancis.” Shindong menjawab dengan gaya bijaksana.

“Oh ya, aku ingat itu, jika tidak salah hampir puluhan orang tua meninggal karena dehidrasi. Betulkah itu?”

“Betul. Tapi kenapa kita harus membenci summer. Aku justru menyukainya,” tanya Shindong.

Mereka sedang mengudara siang itu dalam acara Rest and Relax, suatu program interaktif dengan mengangkat isu-isu ringan tapi cerdas.

“Wah aku sangat tertarik mengetahuinya. Karena aku sendiri tidak menyukai musim panas. Di awal musim panas ini aku kira aku mengalami tekanan darah rendah karena aku begitu lemas apalagi jika harus bangun pagi, tapi ternyata Dokter mengatakan itu adalah gejala biasa jika musim panas datang. Karena itu aku terkejut jika Hyung sangat menyukai Summer.”

“Tentu saja aku menyukainya, kau lihat di sepanjang jalan, yeoja-yeoja cantik dengan pakaian yang sangat minim bersileweran di dapan kita. Apa itu bukannya surga dunia. Dan tentu saja kita bisa memakai baju yang sangat santai, bahkan di kantor sekalipun kita tidak harus memakai dasi dan jas bukan?”

“Wow analisa yang hebat. Hmm aku tidak menyangka jika Shindong Hyung playboy juga ternyata hahahahah. Jadi kesimpulannya apapun musim yang kita alami, enjoy saja bukan? Asal tahu triknya, summerpun bisa sangat menyenangkan. Bukan begitu Hyung?”

“Betul dan jika merasa haus jangan lupa untuk sering minum air putih atau jika perlu ELF bisa membeli permen garam sebagai stock untuk mencegah dehidrasi.”

“Bicara summer, aku jadi ingin memutarkan lagu ini. Baiklah ELF, now lets shake your body. You are going to listen F(x) with hot summer. Please check this out. Oh don’t forget, Shindong and I will be right back with quizes and birthday surprises. ELF would like to join, please call our hotline 4444 now and we will call you back!” Henry adalah salah satu dari sekian Star DJ yang suka mencampur adukan bahasa Inggris dalam siarannya.

Kemudian terdengarlan intro riang dari lagu F(x). Kedua penyiar itu melepaskan headphonenya. Yesung yang menjadi operator kali ini mematikan volume suara mereka berdua sehingga tidak terdengar saat on air. Tiba-tiba Kyuhyun masuk ke ruang siaran.

“Ada apa Kyu?” tanya Zhoumi.

“Ada sedikit perubahan di playlist, tadi dari EMI meminta supaya single Juniel bisa langsung on air dan Big Bang aku pindahkan ke acara sore. Aku sudah langsung menggantinya di komputer siaran, jadi tidak usah khawatir. Aku hanya ingin memberitahu saja supaya kalian tidak terlalu terkejut.”

“Ada lagi?”

“Oh ya, aku dan Eunhyuk Hyung membuat jingle baru khusus untuk acara Rest and Relax ini, bisa dicoba, bagus atau tidak?”

Yesung memencet sebuah tombol di komputer, kemudian terdengarlah alunan jingle acara yang terdengar riang tapi menenangkan.

“Bagus, ” jawab namja itu. Ia menoleh pada Shindong dan Henry,”Bagaimana menurutmu?”

“Tidak masalah, kita bisa langsung memakainya hari ini juga,” jawab Shindong diamini oleh Henry. Mereka mengakui kemampuan Kyuhyun dalam memadukan musik.

Kyuhyun tersenyum puas, pekerjaannya ternyata tidak sia-sia,”Baiklah aku kembali ke ruanganku. Selamat siaran.”

Ia mengacungkan jempolnya yang kemudian dibalas oleh member Suju yang ada di studio siaran itu, kemudian berbalik pergi.

Ketika Kyuhyun pergi, Yesung membuka suara,”Akhir-akhir ini kulihat Kyu jadi lebih rajin dari biasanya. Ia sekarang rajin mengupdate playlist dan kreativitasnya kembali seperti dulu.”

“Setuju, mudah-mudahan perubahan ini bukan bersifat sementara. Aku merasa menemukan Kyuhyun, seorang pekerja keras yang kukenal beberapa tahun lalu,” jawab Shindong.

“Memang kenapa dengan Kyuhyun yang dulu?” tanya Zhoumi dan Henry. Mereka bergabung beberapa tahun setelah Super Junior Company ini terbentuk, jadi mereka tidak tahu terlalu banyak Kyuhyun di masa lalu. Yang mereka tahu justru Kyuhyun yang jenius tapi moody, bertemperamen keras, dan cenderung mengabaikan tugas.

“Kyuhyun adalah maknae tetapi etos kerjanya melebihi leaders dan hyung-nya sekalipun. Ia selalu bersemangat dalam bekerja dan tentunya tidak sejahil sekarang. Dulu ia begitu tenang, sopan dan patuh terhadap Hyung-nya.”

Zhoumi dan Henry terperangah,”Kyuhyun pernah memiliki sifat seperti itu?”

Shindong mengangguk.

“Kenapa ia berubah drastis?”

“Karena…, “ Shindong tampak berpikir keras. Ia menatap Yesung mencari dukungan,”Karena,… aish entahlah, aku ingin mengatakannya tapi mulutku terkunci. Aku pikir itu adalah masa lalu dan tidak baik kita mengoreknya kembali.”

“Kau membuat kami penasaran Hyung.”

Yesung mendekati,”Ada sesuatu yang besar yang terjadi dalam hidup Kyuhyun. Mungkin suatu saat aku akan menceritakannya tapi tidak sekarang. Mungkin setelah aku benar-benar yakin Kyuhyun telah benar-benar pulih.”

Zhoumi dan Henry mengangguk, mencoba mengerti maksud perkataan Yesung. Tiba-tiba terdengar slot iklan paling terakhir, diikuti jingle radio, dan lagu Juniel, Illa Illa.

“Aish, aku sampai lupa, sebentar lagi kita harus on air. Shindong Hyung,Henry cepatlah kembali ke tempat semula. Kita akan mengudara lagi dalam waktu beberapa detik lagi. Ingat ya jangan lupa menyebutkan tagline dan mengingatkan ELF bahwa kita mempunyai kuis di jam ini,” Zhoumi memberikan instruksi dengan terburu-buru. Tapi Shindong dan Henry, adalah Star DJ yang sudah sangat berpengalaman sehingga mereka tidak merasa gugup ketika mereka sedikit lambat untuk melakukan persiapan menjelang on air. Yesung di ruang operator memberikan tanda, saatnya mereka harus siaran.

Masih di area Suju Radio, tidak jauh dari ruang siaran dan sesaat setelah suara Shindong dan Henry terdengar di udara. Kejadian tak terduga terjadi menimpa Kyuhyun. Sungmin yang hendak memasuki rest room tiba-tiba terkejut melihat pemandangan di depannya.

“Kyuhyun, apa yang terjadi?”

Ia melihat namja itu tergeletak di bawah wastafel dengan keringat deras mengucur di seluruh tubuh dan wajahnya. Mata Kyuhyun terpejam seperti menahan sakit dan ia melihat sedikit air mata jatuh dari pipinya. Kyuhyun seperti habis menangis?

“Kyuhyun.”

Sungmin berjongkok dan menggoyang-goyangkan badan namja itu supaya lekas sadar. Ia baru menyadari jika badan Kyuhyun begitu dingin.

“Kyuhyun, sadarlah.”

Sungmin semakin khawatir karena Kyuhyun tidak bergerak. Dipegangnya nadi tangan namja itu, masih berdetak walaupun pelan. Sungmin bernafas lega, setidaknya Kyuhyun masih hidup. Ia menepuk-nepuk kedua pipi namja itu tapi Kyuhyun tidak juga terbangun. Oh Tuhan, Kyuhyun pingsan! Spontan Sungmin langsung mengangkat tubuh Kyuhyun keluar dari area wastafel. Cukup berat, untung saja Kangin datang menghampiri. Tanpa banyak tanya ia langsung membantu Sungmin.

“Kita bawa ke ruang kerja Siwon, di situ ada sofa yang cukup besar,” seru Kangin. Sungmin menurut.

Tentu saja melihat Kyuhyun yang terkulai lemah dalam pegangan Kangin dan Sungmin membuat Siwon yang saat itu tengah dikunjungi istrinya, Tiffany terkejut setengah mati.

“Apa yang terjadi pada Kyuhyun?”

“Ia pingsan dan kami ingin meminjam sofamu,” jawab Sungmin.

“Pakai saja, apapun yang diperlukan. Aku akan menelepon rumah sakit, mungkin kita butuh ambulans dan sebagainya,” seru Siwon setengah panik.

“Tidak perlu, mungkin aku bisa membantunya,” cegah Tiffany. Ia bergegas mendekati Kyuhyun tapi Siwon menarik tangannya. Tiffany memandang suaminya dengan tajam,”Kumohon untuk kasus emergensi seperti ini, hentikanlah dulu sifat cemburumu itu Oppa.”

Sungmin dan Kangin terdiam. Mengenai sifat posesif Siwon terhadap Tiffany yang kadang berlebihan tampaknya sudah menjadi rahasia umum diantara member Suju yang lain. Siwon melepaskan pegangannya.

Yeoja itu kemudian mendekati Kyuhyun. Ia menoleh kembali ke arah suaminya,”Oppa bisakah kau bawa handuk dingin, ammonia, atau kayu putih?”

“Hmm baiklah, aku akan menyiapkannya,” Siwon berjingkat pergi ke luar masih memandang Fany sampai yeoja itu harus melotot tajam pada suaminya. Baiklah, ia tidak mau membuat istrinya marah lagi seperti tadi.

“Sungmin-ssi dan Kangin-ssi, aku minta tolong untuk membaringkan dan meluruskan kepala Kyuhyun-ssi. Ya seperti itu, tolong kakinya dinaikkan sedikit. Bajunya bisa dilonggarkan, supaya ia bisa bernafas.”

Dengan cekatan Kangin membuka kancing kemeja dan melepaskan ikat pinggang namja itu. Beberapa menit kemudian Siwon telah datang dengan segala benda yang diminta Tiffany.

“Aku tidak menemukan ammonia tapi ada kayu putih di kotak obat.”

Yeoja itu kemudian membasuh wajah Kyuhyun dengan handuk yang tampaknya telah dibasahi air es.

“Oppa bisakah kau mengoleskan sedikit kayu putih ke bagian bawah dan atas hidung Kyuhyun-ssi supaya ia bisa menciumnya.”

Siwon melakukan apa yang diinstruksikan Tiffany dengan patuh. Beberapa menit kemudian, Kyuhyun tampaknya mulai tersadar. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya dan melihat bayangan manusia yang asalnya hanya pendaran warna kabur menjadi lebih jelas. Ia melihat Siwon, Tiffany, Sungmin dan Kangin yang menatapnya dengan khawatir.

“Syukurlah, kau sudah sadar Kyu,” seru Siwon gembira. Spontan ia memeluk Kyuhyun saking senangnya melihat dongsaengnya itu sudah sadar kembali. Begitu juga dengan Kangin dan Sungmin.

“Kau membuatku ketakutan ketika melihatmu terkapar di rest room Kyuhyun, apa yang terjadi?”

“Sungmin-ssi, mungkin Kyuhyun-ssi ingin minum teh hangat dulu, tampaknya tadi ia kehilangan banyak cairan,” potong Tiffany sambil menyerahkan secangkir teh hangat pada Kyuhyun,” Minumlah!”

Kyuhyun meminumnya dan berusaha mengingat-ingat kembali apa yang terjadi pada saat ia berada di wastafel tadi. Baiklah seperti sudah diduga visi atau fenomena psi itu datang kembali dalam kehidupannya. Masih dengan cara dan sensasi yang sama seperti psi sebelumnya. Bayangan yang ia lihatpun tidak berbeda jauh dari apa yang dirasakannya kemarin. Ia melihat yeoja itu menangis, tapi entah kenapa pada psi kali ini, Kyuhyun ikut menangis. Bayangan dirinya dalam pikirannya ikut bersedih dan secara tidak sadar dalam kehidupan nyatanya ia ikut menangis. Ia masih bisa merasakan rasa luka itu dalam hatinya. Ia bisa mengenali bahwa dirinya pada masa depan akan merasa sakit seperti itu. Mungkin sakit dan terluka karena melihat yeoja itu pergi atau justru karena dia yang pergi meninggalkan yeoja itu? Entahlah, semuanya masih samar-samar. Tapi yang pasti badannya menjadi begitu lemah, rasa sakit hatinya menyedot semua energi yang ia miliki hingga akhirnya ia terkulai pingsan karena kehilangan tenaga.

“Kau ingin menceritakan apa yang terjadi pada kami, Kyuhyun?” tanya Kangin setelah melihat Kyuhyun sudah selesai menyesap tehnya.

Namja itu menggelang. Ia tidak mungkin menceritakan apa yang dialaminya. Bisa-bisa member Suju menganggapnya gila.

“Tidak ada apa-apa Hyung, aku hanya kecapaian karena bergadang semalaman dan aku belum sarapan juga makan siang.”

“Jinja?”

“Percayalah padaku. Aku hanya membutuhkan sedikit karbohidrat saja supaya aku tidak merasa lemas.”

“Kebetulan, aku tadi ke sini ingin memberikan bekal untuk Siwon Oppa,” Tiffany melirik suaminya,”Oppa, bekalmu kuberikan untuk Kyuhyun ya? Ia lebih membutuhkannya sekarang.”

Siwon terbelalak, padahal perutnya juga lapar dan ia sudah berharap bisa menyantap hidangan istimewa yang sudah disiapkan istrinya. Tapi ketika melihat tatapan mata Kyuhyun yang tiba-tiba berselera dan tatapan mata Tiffany yang seolah-olah berkata,’kau harus memberikannya pada Kyuhyun jika tidak aku akan marah’, Siwon mengangguk lemah.

”Baiklah, Kyuhyun ini bekal yang sudah disiapkan istriku, makanlah, semoga energimu kembali seperti semula.”

“Terimakasih Hyung.” Kyuhyunpun akhirnya makan dengan lahap. Siapapun tahu masakan Tiffany terkenal enak dan ia sungguh beruntung bisa mencicipinya.

Siwon hanya bisa menatap dengan pandangan lapar. Tiffany mencubitnya,” Jaga matamu Oppa nanti Kyuhyun jadi tidak berselera.”

Namja itu melenguh pasrah tapi ia senang melihat Kyuhyun kembali bersemangat. Makanan itu sedikit demi sedikit membuat tenaga Kyuhyun kembali pulih. Memikirkan visi yang selalu didapatnya, ia bertekad untuk bisa lebih kuat menghadapinya. Kyuhyun tidak bisa menghindar dari kenyataan bahwa ia memang memiliki kemampuan lebih. Suatu fakta yang pernah ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sejak masih kecil. Saat itu belum popular istilah anak indigo tapi Kyuhyun telah menunjukan bakat itu sejak masih balita. Saat itu ia sudah memiliki kesadaran sendiri tentang eksistensi dan perannya di muka bumi ini. Appa menganggapnya, ia terlalu matang untuk seusianya.

“Anak kecil itu hanya bertugas untuk bermain bukannya untuk memikirkan perang, bencana, atau perdamaian. Itu hanya karena Kyuhyun terlalu banyak menonton film. Film anak-anak sekarangpun sudah tidak bisa dipercaya.”

Ia masih ingat saat tanpa sengaja, ia mengungkapkan masalah dunia yang dilihatnya. Sejak itu ia tidak bisa berhenti menyetop apa yang muncul dalam pikirannya. Kadang-kadang ia melihat seseorang akan sakit, atau seseorang akan tertimpa musibah, bahkan banjir atau gunung meletus yang akan menimpa negaranya.

Biasanya, ia akan mengatakannya langsung kepada orang-orang yang dimaksudnya sehingga tak ayal membuat kedua orangtuanya resah.  Mereka seolah menutup mata bahwa apa yang diramalkannya akhirnya benar-benar terjadi. Appa dan Omma terus berusaha membuatnya normal dengan berkilah bahwa apa yang dilihatnya hanya pengaruh dari tontonan film kartun anak-anak. Saat itu tidak ada seorangpun yang mempercayainya. Siapa juga orang yang mau mempercayai celoteh bocah 6 tahun yang mengatakan bahwa kau akan meninggal minggu depan. Penerimaan yang negatif dari lingkungannya membuat ia berontak, bersikap cuek, dan tidak terlalu suka dengan keteraturan.

Akhirnya, orangtuanya melihat Kyuhyun adalah anak yang nakal yang harus diberi perhatian medis sampai-sampai ia dibawa ke psikolog untuk diterapi. Saat itu psikolog tidak mengatakan apapun mengenai indigo child hanya mengatakan bahwa ia mengalami kelainan Attention deficit hyperactivity disorder  dimana anak yang mengalami kelainan ini akan selalu mencari perhatian dan menjadi lebih hiperaktif. Berbagai terapi selama bertahun-tahun telah sukses membuatnya melupakan kelebihan yang dimilikinya. Appa dan Omma bahagia karena Kyuhyun kembali menjadi anak normal seperti layaknya anak-anak lainnya. Iapun bahkan lupa jika pernah mengalami psi saat masih kanak-kanak dulu. Tapi kedatangan bayangan serupa yang terus menerus seperti sekarang ini membuka kembali memorinya. Kemampuannya ternyata tidak pernah benar-benar bisa hilang. Kyuhyun mendesah resah. Ia baru menyadari terlalu banyak kenangan di masa lalunya yang dikuncinya rapat-rapat bahkan pada dirinya sendiri.

Beberapa jam kemudian ia sudah duduk berhadapan dengan yeoja yang akhir-akhir ini sering menghubunginya. Danielle Kim, yeoja yang ia tahu adalah pemenang kontes putri-putrian di kampusnya, anak seorang pengusaha kaya dan memiliki darah Prancis dalam tubuhnya. Sangat cantik, seksi tapi cukup agresif. Mereka duduk dalam suasana restoran tropis yang hangat. Dainn tampak menikmati hidangan desert yang tersaji di depannya, sedangkan Kyuhyun sama sekali tidak berselera. Ia sudah cukup kenyang memakan masakan Tiffany tadi. Tentu saja hal itu menjadi perhatian Dainn.

“Kenapa Oppa tidak makan, Oppa tidak lapar?”

“Mianhae, sebelum ke sini tadi Oppa sudah makan dahulu,” jawab Kyuhyun pendek

Mulut Dainn tertekuk,”Kalau begitu aku tidak mau makan, masa aku makan sendirian.”

“Kalau kau lapar, makanlah Dainn. Kau tidak usah menungguku.”

Mulut Dainn masih tertekuk, ceritanya dia mencoba merajuk,”Oppa makanlah bersamaku, apa perlu aku suapi?”

”Aish, aku bukan anak kecil Dainn. Mau ditaruh kemana mukaku jika kau menyuapiku,” Kyuhyun menggelang, “Sekarang kita langsung ke topik pembicaraan. Bisakah aku melihat laporanmu?”

“Tentu saja, aku pastikan kau akan terkejut dengan ide-ide progresif yang kutawarkan,” Dainn menyerahkan map berisi laporan buatan Yuri kepada Kyuhyun.

Namja itu membacanya dengan teliti. Ia seperti pernah membaca tulisan ini. Otaknya memberikan sinyal bahwa ia mengenal susunan kalimat dan ide dalam laporan ini. Tapi apakah mungkin? Kyuhyun mencoba mengingat-ingat lagi kata-kata kunci yang pernah ia baca pada hasil karya seseorang tempo lalu, ia kemudian membaca lagi laporan Dainn dengan sungguh-sungguh kemudian membandingkannya. Terlalu mirip walaupun ia belum yakin sama persis tapi kata kunci dan ide yang ada dalam paper itu hampir sama. Ia harus membuktikannya mungkin bukan sekarang.

“Bagaimana menurutmu Oppa?” tanya Dainn penuh harap. Hari itu ia berpakaian sangat mengundang. Musim panas ini seperti mengijinkannya untuk memakai hot pants dan kaos ketat. Tapi sayangnya Kyuhyun tidak terlalu memperhatikan ke arah itu. Harapan satu-satunya hanya laporan ini.

Rencananya berhasil ketika melihat senyum Kyuhyun yang mengembang

“Luar biasa, benar yang kau katakan kau memberi ide yang signifikan terhadap industri musik Korea supaya bisa lebih global. Perhatian terhadap unsur tradisional juga akan memberikan tambahan yang menarik perhatian industri musik kontemporer. Aku suka idemu dan bagaimana kau memaparkan idemu itu pada tulisan ini. Sangat sistematis, rapi dan bahasa yang lugas. Aku seperti membaca tulisan pakar ekonomi sekaligus pakar musik. You did a good job!”

Mata Dainn berbinar saking bahagianya. Jalan mendekati Kyuhyun semakin mulus. Tentu saja ia akan menagih apa yang selama ini dijanjikan Kyuhyun, “Gomawo Oppa. Tentu saja aku bersedia jika Oppa ingin mengajakku berdiskusi mengenai hal ini.”

“Jinja? Kau sanggup? Aku punya teman diskusi yang sangat canggih. Jika kau mau aku akan mengajakmu dan memperkenalkanmu dengan mereka. Kami punya waktu tetap untuk saling berdiskusi mengenai topik-topik yang menarik.”

“Oppa, tentu saja aku mau. Aku senang berdiskusi dan bertemu dengan komunitas ilmiah. Oppa tahu aku bosan dengan lingkungan pergaulanku yang hanya berbicara pesta, shopping, pesta, shopping.”

Apakah pembaca percaya dengan pernyataan yeoja ini? Jika percaya berarti nilai 100 untuk Dainn karena aktingnya mampu membuat kalian dengan mudah ditipu oleh mulut manisnya. Tentu saja hidupnya hanya dipenuhi pesta, shopping, pesta, dan shopping. Walaupun otaknya lumayan encer tapi ia terlalu malas untuk mau berpikir apalagi sampai harus berdiskusi dengan komunitas orang-orang pintar berkaca mata yang selalu dianggapnya orang-orang tolol. Ia terlalu terbiasa hidup dilayani sehingga otaknya hampir berkarat karena jarang diasah. Mungkin itu juga yang menyebabkan ia senang menggunkan cara praktis untuk mendapatkan tujuannya.

“Aku tidak menyangka, ternyata kau tertarik dengan dunia akademis. Aku pikir yeoja cantik hanya akan tertarik pada lifestyle dan kesenangan hidup.”

“Oppa terlalu meremehkan yeoja cantik. Kenapa orang sepertiku selalu dianggap bodoh? Dibanding yeoja yang memiliki rupa biasa-biasa saja, aku justru kesulitan untuk menonjolkan intelegensiku. Mereka selalu tidak percaya bahwa aku mampu. Dan sekarang aku buktikan bahwa aku mampu menulis untuk level S2 seperti Oppa.”

Namja itu mengangguk setuju. Ia melihat jam tangannya,“Baiklah, pembicaraan selesai. Kita sepakat untuk bertemu lagi tentu saja bersama teman-temanku. Oh ya mungkin aku akan mengundang seseorang yang memiliki minat yang sama denganmu.”

“Minat yang sama? Maksudnya?”

“Aku punya teman yang juga tertarik menulis mengenai perkembangan industri musik Korea. Siapa tahu ide yang berkembang bersama kalian, akan membuat diskusi kita menjadi seru.”

“Oh ya? Siapa dia?”

“Nanti juga kau akan tahu karena kalau kusebutkan namanya juga kau pasti tidak mengenalnya.”

Kyuhyun berdiri sambil terus melihat jamnya,”Sudah malam, aku janji untuk menemui keponakanku. Tidak keberatan jika kita pulang sekarang? Aku bawa laporan ini ya.”

Dainn mengangguk dengan malas, tadinya ia berharap Kyuhyun akan benar-benar mengajaknya berkencan. Harapannya, setelah makan, mereka akan nonton ke bioskop, mengunjungi pantai, berdansa, karaoke, atau minum-minum soju. Jika perlu ia bersedia saja jika namja itu mengajaknya menginap di hotel. Tapi sudahlah setidaknya langkah pertama sudah berhasil, yang akan ia lakukan adalah membuat kesan seolah-olah otaknya memang berisi jika ia jadi bertemu dengan teman-teman tololnya itu. Mungkin ia tidak pintar tapi ia cukup licik untuk membuat semua hal tunduk pada keinginannya.

Rumah Seokhyun.

Jam 8.00 malam

Yuri memandangi jamnya, ia sudah hampir 4 jam berada di kediaman Seokhyun, tapi namja itu belum pulang-pulang juga. Aish, kemanakah kau Kyuhyun?

“Saengnim, tangkaaaap!” tiba-tiba ada suara teriakan bocah kecil. Tanpa memberikan waktu bagi Yuri untuk berpikir, sebuah bola karet sudah mengenai dahinya.

“Aowwww, sakit. Seok Hyun kenapa kau melempar Saengnim dengan bola itu. Lihat kening Saengnim jadi merah seperti ini, rasanya sakit.”

Bocah berambut kriwil panjang sebahu itu hanya meringis, memperlihatkan deretan gigi susunya yang putih bersih. Ia menggaruk-garuk kepalanya.

“Mianhae Saengnim, tadi kan aku sudah memanggil Saengnim supaya Saengnim mau mengambil bola itu. Tapi Saengnim malah melamun, jadinya bola kena Saengnim deh.”
Ia langsung mengambil bola itu dan melempar-lemparkannya lagi ke sembarang arah.

“Seok Hyun hati-hati nanti keramik dan pajangan Omma pecah, kamu mainnya jangan di ruang tamu, di kamarmu saja sana.”

Seok Hyun tertawa-tawa tidak menanggapi ucapan gurunya itu. Beginilah wajah Seok Hyun yang menyebalkan tapi menggemaskan.

Beberapa pajangan di dinding mulai jatuh ke lantai terkena lemparan bola anak itu. Yuri semakin frustasi, Seok Hyun sedari tadi tidak berhenti berbuat ulah. Seperti biasa ia harus melakukan segala upaya agar bisa membuat anak itu mau berkonsentrasi dan belajar. Walaupun berhasil, ia hanya bisa bertahan selama setengah jam untuk kemudian berulah lagi. Kali ini ia menyimpan kecoa tiruan di dalam kotak pensil yang akan dipakai Yuri. Tentu saja yeoja itu ketakutan setengah mati. Satu jam sebelumnya, anak itu menguncinya di kamar mandi. Untung saja ada Ahjumma Wook, pelayan rumah tangga yang membukakan pintunya. Jika tidak ia bisa benar-benar pingsan karena ketakutan tidak bisa keluar.

“Tuh lihat, pajangan Omma jatuh Seok Hyuuuuun! Main yang lain saja. Atau kita belajar matematika lagi bagaimana?” omel Yuri sambil membereskan kembali kekacauan yang dihasilkan anak itu.

“Aku bosan belajar matematika.”

“Loh bukannya kamu menyukai matematika.”

“Tapi yang Seangnim ajarkan, aku sudah tahu semua. Aku bosan, aku ingin pelajaran yang lebih sulit lagi.”

“Ya sudahlah, nanti Saengnim akan memberikan buku matematika untuk anak Junior High School. Kita lihat apakah kamu masih protes karena bosan?”

“Yayaya Saengnim, minggu depan bawa ya dan jangan lupa bukunya harus bergambar. Aku ingin yang ada gambar Avatarnya, ooh tidak-tidak Angry Bird saja.”

“Mana ada buku matematika bergambar Angry Bird, Seok Hyun.”

“Pokoknya tidak mau tahu, harus ada gambarnya. Dan jangan hanya di sampulnya tapi di dalamnya juga. Aku tidak mau belajar kalau tidak ada Angry Bird.”

Yuri mendengus pelan, lama-lama meladeni anak ini, otaknya jadi ikut-ikutan pusing.  Sebenarnya dia digaji di sini sebagai pengajar atau baby sitter bocah ini? Rasanya pekerjaan menjadi rangkap. Aish sudahlah mau jadi guru atau baby sitter tidak masalah yang penting ia mendapatkan bayaran yang sesuai. Tapi kemana juga namja arogan nan pemaksa Cho Kyuhyun. Waktu sudah menunjukan pukul 8.30 dan batang hidung namja itu tetap tidak terlihat.

Kring

Suara telepon rumah kediaman Cho Ahra berdering, sebagai orang luar Yuri segan mengangkatnya. Ia memberikan tanda memohon pada Seok Hyun.

“Tolong angkat ya siapa tau itu Omma dan Appa.”

Dengan riang, anak kecil itu mengangkat teleponnya sambil terlebih dahulu mengambil kursi dan menaikinya supaya ia bisa meraih gagang telepon itu dengan mudah.

“Yoboseo. Omma? Oh bukan?” terdengar desah kecewa dari mulut anak itu tapi ia kembali melanjutkan,” Lalu ini siapa? Jo Jon? Aku tidak kenal, namamu aneh sekali? Mwo? Aku Seok Hyun, Ommaku Cho Ahra, ia cantik sekali. Aku anak pertama dan aku berumur 6 tahun. Samchon mengatakan aku ini anak jenius, Appa mengatakan aku anak yang paling menggemaskan sedunia.”

Yuri mendengarkan pembicaraan itu dengan seksama tapi kenapa ia merasa Seok Hyun melantur. Perasaannya mengatakan, orang yang sedang menelepon Seok Hyun itu tidak sedang bertanya tentang identitas anak itu.

“…aku suka robot, PSP, dan matematika. Aku jago matematika loh dan aku juga suka dengan novel klasik berbahasa Inggris. Kapan-kapan aku akan ceritakan ceritanya. Ahjumma pernah mendengar Les Miserables atau Oliver Twist, itu novel yang paling aku suka. Aku juga suka Tom Sawyer.”

Rasanya memang anak ini sudah mulai melantur, Yuri langsung memberi tanda untuk memberikan telepon itu padanya, untungnya anak itu menurut, mungkin ia juga sudah mengantuk kerena beberapa kali menguap.

“Yoboseo, mian tadi anak didik saya, dengan siapa ini? Ada yang bisa saya bantu?”

“Yuri?”

Yuri hapal suara itu.

“Rin Joo? Darimana kau tahu nomor telepon ini?” Yuri setengah berbisik takut ketahuan. Ia tidak mau dianggap memakai fasilitas pemilik rumah ini,”Ada apa?”

“Aish sudah tidak usah bertanya itu, cepatlah pulang ini gawat”

Mendengar kata gawat, radar Yuri mulai bekerja, ia menjadi khawatir,”Kenapa? Ada apa?”

“Appa-mu…,” ucapan Rin Joo terpotong. Dugaan Yuri benar, ada yang tidak beres. Appa, ada apa denganmu?

“Kenapa Appa?” Yuri terdengar panik.

“Appamu sakit, ia tadi terjatuh saat bekerja di tempat bangunan. Tadi tetanggamu meneleponku memintamu untuk segera pulang. Aku sendiri tidak tahu rincian peristiwa itu sebenarnya. Tapi sebaiknya kau pulang sekarang.”

“Baiklah tapi Kyuhyun belum pulang, namja itu menyuruhku untuk tidak pulang sebelum ia pulang. Bagaimana?”

“Kenapa kau harus perduli padanya? Maksudku, ini masalah Appa-mu Yuri. Ini darurat. Kau harus segera pulang.”

“Hmm baiklah aku akan pulang. Gomawo Rin Joo.”

“Yang tabah ya Yuri, doaku menyertaimu.”

Yuri menahan ekspresi kekhawatirannya supaya tidak terlihat mencolok. Tapi sebenarnya ia sangat panik dan ketakutan. Lagi-lagi ia menyalahkan diri karena tidak bisa membantu orang tuanya, sehingga Appa menjadi terbaring sakit seperti ini. Ahjumma Wook menghampirinya.

“Yuri pulanglah, biarlah Seok Hyun Ahjumma yang temani. Nanti Ahjumma juga akan mengatakannya pada Kyuhyun-ssi. Maaf tadi tanpa sengaja Ahjumma mendengarkan pembicaraanmu. Sekarang pulanglah, mudah-mudahan Appa-mu bisa segera sembuh.”

Yuri tersenyum. Ia mengangguk dan berbungkuk sebagai ucapan terima kasih pada Ahjumma itu dan secepat kilat pergi meninggalkan rumah Seok Hyun. Tapi baru saja di teras rumah. Kyuhyun sudah menghadangnya.

“Kau mau kemana Yuri? Aku katakan, kau jangan pulang sebelum aku pulang. Apa susahnya menurut padaku dan patuh pada janjimu!” bentak namja itu yang membuat emosi Yuri naik 10 level. Emosinya sendiri sudah begitu tinggi akibat berita dari Rin Joo dan namja ini seperti memantik api dalam hatinya.

“Aish, kau ini tidak pernah berhenti marah-marah. Selalu membentak dan bertingkah sesukanya. Kau sungguh memuakkan.”

Yuri melewati Kyuhyun tapi namja itu menarik tangannya, mendorongnya ke dinding. Jarak kedua wajah mereka begitu dekat,”Aku tidak suka yeoja bermulut pedas sepertimu.”

Yuri mendorong badan Kyuhyun supaya menjauh,”Perduli amat mulutku pedas atau tidak, yang penting aku harus segera pulang. Dan satu lagi walaupun aku adalah pegawai Noona-mu tapi aku tidak mengijinkanmu menyentuhku apalagi berbuat kasar kepadaku.”

Yeoja itu berlari meninggalkan namja itu. Mungkin setelah hari ini Kyuhyun akan memecatnya karena ucapannya yang tidak sopan. Tapi tingkah namja itu sendiri seharian ini memang sungguh menyebalkan. Sudahlah, ia tidak mau berpikir terus mengenai Kyuhyun. Lebih baik ia berkonsentrasi pada Appa, mudah-mudahan sakit Appa tidak terlalu parah dan ia tidak harus dibawa ke rumah sakit. Lagi-lagi masalah biaya menghantui pikirannya. Appa, apa yang terjadi padamu? Yuri benar-benar khawatir, ia berlari-lari di sepanjang trotoar untuk mendekati halte bis.

Diit diit

Ia berlari sampai tiba-tiba sebuah klakson mobil menghentikan langkahnya. Yuri menoleh ke kanan.

“Kyuhyun?”

Ada apa lagi dengan namja tengil itu. Kyuhyun tersenyum sinis dari dalam mobilnya yang berkap terbuka,”Kau meninggalkan tas kucelmu.”

Ia mengerling ke arah tas di pinggirnya. Ketika Yuri hendak mengambilnya, namja itu membuka pintu mobilnya otomatis.

“Masuklah, Ahjumma Wook sudah bercerita padaku. Aku antarkan kau pulang.”

Antara gengsi dan butuh, Yuri harus memilih. Jika menuruti gengsinya, ia malas berurusan dengan namja yang selalu menghinanya. Tapi ia juga membutuhkan tumpangan yang bisa membuatnya sampai ke rumah. Baiklah, untuk kali ini harga diri dan gengsi bukan di atas segala-galanya. Kondisi Appa jauh lebih penting daripada sekedar mempertahankan egonya. Dengan terpaksa Yuri masuk ke dalam mobil itu, Kyuhyun tidak tersenyum tidak juga cemberut. Sambil memasang muka datar ia langsung menancapkan gasnya dan dengan kecepatan tinggi melaju ke arah rumah susun dimana Yuri tinggal.

“Kuharap Appa-mu baik-baik saja Yuri.”

TO BE CONTINUED

Author: Sebelumnya, author ingin mengucapkan Selamat Idul Fitri 1433 H, Minal Aidzin Wal Faidzin, mohon maaf lahir batin. Mungkin author banyak salah –salah kata (itu mah pasti, typo-nya kan banyak bertebaran di semua ff ku hehe), hmm maksudnya mungkin ada komen atau pernyataan author yang tidak berkenan, mohon dimaafkan yah.

Bagaimana pendapat readers soal part 3 ini, ternyata konflik sudah mulai muncul secara perlahan, seperti Appa Yuri yang tiba-tiba sakit. Yang pasti Kyuhyun menyimpan rahasia besar, ketika readers menganggap Seok Hyun-lah yang anak indigo, ternyata itu justru Kyuhyun. Satu lagi, kenapa ketika Yuri mengucap kata ‘yeoja chingu’, Kyuhyun seperti merasa di bawa ke masa lalu. Ada apa dengan masa lalunya? Wah Kyu sudah berani main rahasia sama kita. Konflik segitiga Dainn-Kyu-Yuri yang sudah dibayangin bakal terjadi di part ini ternyata belum terjadi hehehe. Nanti ada waktunya dimana akan ada pertumpahan darah yang lebih besar *ciee author lebay.

Jika readers penasaran ingin tahu bagaimana kelanjutan ff ini? Seperti biasa, Read, Comment, & Like sangat ditunggu. Kritikan, masukan, pujian, termasuk ketupat sama opor ditunggu yah. Boleh juga ditambah nastar sama kue keju. Kering kerontang di sini masalahnya *maklum anak perantauan yang ga mudik hiks. Author selalu welcome dengan apapun yang ditulis readers jadi katakanlah apa yang ingin kau katakan, tidak usah ragu dan malu *author lagi galau ya ngomongnya ngelantur kayak Seok Hyun.

Oh ya di nomor 2 disclaimer ada catatan author tentang nama Kim Hye Ah, maksudnya karena nama ini begitu pasaran jadi wajar banget jika ada author lain yang memakai nama sama. So, jika readers menemukan ff di blog lain dengan nama Kim Hye Ah, itu mungkin bukan author penulis SJRLS, tapi author yang lain karena akyuuu hanya posting di ffindo dan blog pribadi, kecuali kalo readers reblogged dari ff author ini, itu mah lain cerita ya. Kalo udah sering baca tulisan author, mudah-mudahan readers dah bisa ngebedain mana tulisan buatan Kim Hye Ah yang unyu2 ini atau Kim Hye Ah yang lain.

Ya udah deh segitu aja, daripada readers pusing baca curhatannya author, langsung RCL aja oke. I love u, saranghae, aishiteru, muah muah. Lagi2 mian soal typo ya. Ngetiknya dah ga pake edit-edit lagi. Udah dikejar-kejar readers masalahnya hehehehehe.

430 responses to “SUPER JUNIOR RADIO LOVE SERIES: WILD ORCHID FOR KYUHYUN’S HEART (PART 3)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s