STILL WAIT YOU SAY (Chapter 2)

Judul FF : STILL WAIT YOU SAY (Chapter 2)

 Main Cats :

Lee Jieun (IU), Lee Taemin (SHINEE), Yoo Seungho, Suzy (Bae Suji miss A)

 Genre : Romance, Family

 Rating : PG 13

 Length: Chaptered

 Author : rahmassaseol (@rahmassaseol)

 Disclaimer  : Cerita ini hanya fiksi dan murni hasil imajinasi saya. Jadi, jika ada kesamaan apapun itu, entah peran, karakter atau bahkan jalan ceritanya saya benar-benar minta maaf, karena saya sama sekali tidak tahu menahu. Dan semoga FF ini bisa menghibur kalian semua! Gomawo! ^o^

[Chapter 1]

************

“Saranghae,” bisik Seungho lirih di telingaku.

            Seketika tubuhku mematung mendengar bisikan Seungho yang membuat jantungku seperti berhenti berdetak. Kenapa Seungho menyatakan perasaanya padaku disaat hatiku bimbang atas perasaanku yang masih menyisakan secercah harapan akan Taemin? Kini aku manatapnya dalam mencoba menemukan jawaban atas pertanyaan yang bergulat dalam benakku di balik sorot mata Seungho yang sangat berharap aku dapat membalas perasaanya. Seungho membalas tatapanku seakan memberi jawaban atas pertanyaan dalam benakku bahwa ia benar-benar tulus akan perasaanya.

Keheningan dengan cepat menjalar diantara kami, tidak ada yang berani membuka percakapan terlebih dahulu. Aku hanya duduk diam mematung dengan kepala tertunduk disamping Seungho yang sedari tadi terlihat berpikir keras untuk memecah keheningan diantara kami. Akhirnya kuberanikan diriku menatap Seungho, yang kini menampakkan seulas senyum diwajahnya. Jantungku kembali berdegup kencang, tersipu kemudian kembali menundukkan kepalaku. Terlihat di sudut mataku seulas senyum Seungho berubah menjadi sebuah senyuman lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Degup jantungku semakin tak bisa kukendalikan dan semburat merah membuat pipiku mulai terlihat merona ketika Seungho memanggil namaku.

“Jieun aaa..,” ucap Seungho lirih padaku.

“N….ne…?” jawabku gagap dengan kepala yang masih tertunduk tak berani menampakkan wajahku yang merah padam.

“Mianhe Jieun aaa, tidak seharusnya aku memiliki perasaan ini padamu.” Wajah Seungho terlihat sangat gelisah yang seketika membuat senyum hangatnya lenyap dari wajahnya. Kepalaku masih tertunduk tak berani membalas tatapan Seugho yang kini menajamkan tatapanya kearahku.

“Jieun aa aku serius dengan perasaanku, aku tak akan memaksamu menjawabnya sekarang. Aku akan menunggu sampai kau menemukan jawaban atas perasaanku ini. Semuanya terserah padamu Jieun aaa…,” Seungho menengadahkan wajahku yang tertunduk dengan jemarinya agar aku dapat melihat keseriusan dalam sorot matanya. Aku tetap terdiam dalam bisu dan hanya membalas tatapan Seungho penuh kebimbangan.

“Baiklah, hari sudah mulai gelap. Ayo kita segera pulang, aku akan mengantarmu sampai rumah…” Seungho beranjak dari tempat duduknya dan menjulurkan tanganya kearahku.

“N…ne.. Seung ho-shi,” dengan ragu kusambut tangan Seungho yang telah ia julurkan ke arahku.

Dengan erat Seungho menggandeng tanganku yang mulai terasa dingin, kamipun segera beranjak dari restoran sushi yang menjadi tempat berubahnya segala anganku tentang Seungho.

*******

            Kami terus bejalan dalam diam membiarkan suara bising kendaraan memenuhi telinga kami sampai langkah kami terhenti di depan pintu gerbang rumahku. Seungho melepaskan tanganku yang sedari tadi terus ia genggam dengan erat.

“Hari sudah larut malam, lekas mandi dan tidurlah, annyeong,” ucap Seungho yag terdengar berat ditelingaku.

“Ne Gomaweo Seung ho-shi sudah menagantarku. Annyeong,” jawabku sambil menebar senyum pahit dan melambaikan tanganku pada Seungho. Sambil lalu Seungho membalas senyumanku dan melambaikan tanganya padaku.

            Kubuka pintu gerbang rumahku dan segera masuk ke dalam rumah. Kusapa Eomma dan Appa yang sedang asyik menonton TV diruang tengah, kemudian beranjak menaiki tangga menuju kamarku dilantai dua. Kurebahkan tubuhku diatas kasurku yang empuk dan membenamkan wajahku diatas bantalku. Tiba-tiba aku terbangun teringat PR Matematika yang diberikan Kim songsaengnim tadi disekolah. Aku segera bangkit dari tempat tidurku menuju meja belajarku. Sekilas kulirik kalender diatas meja belajarku dan mengamatinya sejenak, dan ternyata tak terasa ujian akhir sekolah tinggal sebulan lagi. Bodohnya aku selama ini terlarut dalam perasaanku dan bukanya sibuk belajar mempersiapkan ujian.

“Hash…!” aku mendengus kesal .

            Gara-gara ada seorang namja brengsek di hidupku yang membuat pikiranku kacau dan tak bisa berkonsentrasi disetiap pelajaran. Dan sekarang bertambah lagi satu namja babo yang menyatakan perasaanya padaku, membuat pikiranku kalap dan tak bisa mengerjakan PR Matematika segampang ini! Aku sudah mencoba memfokuskan pikiranku untuk mengerjakanya tapi yang ada pikiranku malah lari memikirkan mimik wajah apa yang harus kutunjukkan pada Seungho ketika aku bertemu denganya besok disekolah.

“Arrggghhh! Molla!” gerutuku kesal dan cepat-cepat menggeleng-gelengkan kepalaku yang sedari tadi hanya memikirkan dua namja aneh yang seakan bersekongkol untuk membuat hidupku semakin runyam.

“Hash! Jinja!” gerutuku kembali. Kemudian cepat-cepat kututup buku pelajaranku dan kembali melemparkan tubuhku diatas kasurku yang nyaman dan hangat. Percuma saja belajar kalau otakku masih dipenuhi oleh dua namja sialan itu! Beberapa menit kemudian aku sudah terlelap kedalam alam mimpi yang mengajakku bermain malam ini. ****

            Samar-samar terdengar suara burung bersiul yang membangunkanku dari tidurku semalam. Kubuka mataku yang masih terasa amat lengket.

“Cklek,” terdengar suara pintu kamarku terbuka.

“Aigo Ya! Jieun aaa ireonna pali, mau tidur sampai kapan kau hah?” suara eomma terdengar begitu nyaring di telingaku.

“Hash eomma, kenapa membangunkanku? Aku tidak mau kesekolah hari ini! Aku mau tidur seharian!” kataku kesal sambil berusaha memfokuskan pandanganku yang masih terlihat kabur.

“Ya kau ini! sebulan lagi kau akan menghadapi ujian mana mungkin bisa-bisanya kau bersantai seperti ini! Ayo cepat bangun habiskan sarapanmu, appa sudah menunggumu di meja makan!” eomma sedikit mengeraskan suaranya yang masih melihatku enggan beranjak dari tempat tidurku yang hangat.

“Ne…ne… eommonie, limabelas menit lagi aku akan turun.” dengan mata yang masih tertutup kulangkahkan kakiku malas menuju kamar mandi.

Limabelas menit kemudian aku sudah berada dimeja makan dengan seragam sekolah dan rambut yang sudah tersisir rapi. Appa menatapku penuh selidik sebelum akhirnya beliau mengatakan sesuatu padaku.

“Jieun aaa, belajarlah yang rajin sebulan lagi kau akan mengahadapi ujian akhir sekolah. Appa sudah mendaftarkanmu di beberapa bimbingan belajar, jadi belajarlah baik-baik dan jangan mengecewakan appa dan eommamu dengan hasil ujianmu nanti. Kau mengerti?” tegas appa padaku yang masih saja menatapku penuh selidik.

“Ne Araso appa.” Aku hanya bisa tertunduk patuh pada appa yang selama ini selalu menuntut lebih dariku, aku hanya bisa maklum karena aku adalah anak tunggal dan satu-satunya harapan kedua orang tuaku.

Aku melambatkan langkahku menuju sekolah yang memang berencana untuk masuk lebih siang dari biasanya agar tidak sempat bertukar pandang  dengan dua namja sialan itu. Tepat dengan perkiraanku, lima menit setelah aku memasuki kelas bel berdering tanda pelajaran pertama akan segera dimulai. Tidak lama kemudian Eunhyuk songsaengnim datang dengan membawa lima tumpuk buku tebal ditanganya. Hari ini Eunhyuk songsaengnim terlihat berbeda, wajahnya yang biasanya selalu tersenyum aneh sehingga membuat bulu kudukku berdiri, sekarang wajahnya terlihat muram dan mengerikan, mungkin sedang ada masalah dengan yeoja chinggunya pikirku menerawang.

“Yaa! Anak-anak sekarang buatlah kelompok berpasangan. Kita akan melakukan pembedahan untuk mengamati struktur tubuh katak. Ayo cepat! kalian saya tunggu sepuluh menit lagi di lab biologi,” jelas Eunhyuk songsaengnim dengan suara yang cukup lantang seraya berjalan keluar kelas.

“Ne…. songsem,” jawab semua murid dengan ogah sambil bergegas menuju lab biologi.

Sebenarnya Eunhyuk songsaengnim adalah guru yang sangat ramah dan menyenangkan walaupun terkadang suka membuat telingaku geli ketika beliau menerangkan tentang bab reproduksi yang diselingi hal-hal berbau yadong. Tapi hari ini raut wajah Eunhyuk songsaengnim menyeramkan sekali sehingga membuat murid-murid takut dan segera mematuhi perintahnya. Sialnya di saat seperti ini perutku tiba-tiba mules yang membuatku harus pergi ke kamar mandi sesegera mungkin. Hash jinja! Kenapa harus di saat seperti ini sih! Aku terus menggerutu sambil berlari menuju kamar mandi tedekat. Bagaimana jika aku terlambat masuk ke lab biologi? Pasti Eunhyuk songsaengnim akan marah besar padaku. Akhirnya aku bernafas lega setelah tiba dikamar mandi dan membuang semua sisa-sisa isi perutku.

Aku berlari sekencang mungkin menuju lab biologi dan berharap pelajaran belum dimulai. Raut wajahku dengan sekejap beubah menjadi pucat pasi melihat semua murid sudah duduk dengan rapi dan mendengarkan penjelasan Eunhyuk songsaengnim dengan seksama sebelum melakuakan percobaan. Bekas derap langkaku yang memecah keheningan  membuat perhatian seiisi ruang lab biologi serta Eunhyuk songsaengnim beralih padaku yang kini berada di ambang pintu lab biologi dengan nafas yang terengah-engah. Dengan murka Eunhyuk songsaengnim memandangku dan keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhku.

“Yaa Lee Jieun! kau tahu kesalahanmu?!” suaranya terdengar seperti petir dan membuatku terus berharap semoga tidak terjadi hal buruk yang akan menimpaku.

“Ne, songsaengnim. Chesohamnida saya terlambat masuk kelas, saja berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” Wajahku tertunduk takut menatap wajah Eunhyuk sonsaengnim yang sepertinya sangat menakutkan.

“Bagus kalau kau menyadari kesalahanmu dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Kali ini saya memaafkanmu, sekarang cepatlah duduk! Pelajaran akan segera dilanjutkan!” Eunhyuk songsaengnim tetap meninggikan suaranya tanda aku harus cepat duduk sebelum beliau menjadi semakin marah.

Mataku berkeliling mencari tempat duduk yang masih kosong tapi semuanya sudah dipenuhi murid-murid. Dan akhirnya mataku menemukan satu-satunya tempat duduk kosong, aku belum bisa benafas lega karena di sebelahnya duduk seorang namja brengsek yang membuat hidupku kacau. Yap! Namja itu adalah Taemin, aku sempat berpikir kembali untuk duduk di kursi yang masih tersisa itu, tapi melihat kaadaan yang sudah memanas ini aku terpaksa untuk menempati satu-satunya tempat duduk yang masih kosong itu.

Degup jantungku perlahan semakin cepat, kulihat dari sudut mataku Taemin yang tanpa eksperesi sedang asyik memperhatikan penjelasan Eunhyuk songsaengnim. Hahs! Kenapa aku harus salah tingkah begini? Aku terus menggerutu dalam hati. Eunhyuk songsaengnim menjelaskan secara lengkap tentang cara kerja dalam percobaan kali ini, aku sudah berusaha menyimak apa yang beliau jelaskan tapi jantungku masih terus saja berdegup kencang yang membuyarkan konsentrasiku. Kenapa reaksiku masih begini ketika berdekatan dengan Taemin?  sepertinya usahaku untuk melupakanya sia-sia sampai sekarangpun aku rasa aku masih menyukainya. Berbeda dengan Taemin, sepertinya dia sudah melupakanku sepenuhnya atau mungkin dari awal akunya saja yang kegeeran, tapi kenapa dia dua kali menciumku kalau bukan dia menyukaiku? Aku melirik Taemin lagi dari sudut mataku terlihat dia sepertinya tidak merasa resah berada didekatku, sikapnya sejauh ini biasa-biasa saja saat berada di dekatku.

“Yak! Anak-anak sekarang mulailah melakukan pembedahan kerjakan bersama kelompokmu. Saya akan mengawasi kalian,” suara Eunhyuk songsaengnim yang menggelegar membuatku segera mengalihkan pandanganku kearahnya yang sedaritadi sedang asyik mengamati tindak tanduk Taemin.

“Ne… songsaengnim,” jawab semua murid serempak.

            Semua murid terlihat sibuk dengan kelompoknya masing-masing dan mulai melakukan pembedahan. Aku menyipitkan metaku jijik melihat seekor katak mati di depanku, bagaimana kalau katak ini tiba-tiba melompat kearahku? Hiiiii!! Pikirku yang terus berputar dalam benakku.

“Jieun aaa, kau tidak apa-apa? Wajahmu terlihat sangat pucat.” Deg! Jantungku sepertinya sudah melompat keluar mendengar suara Taemin memanggil namaku.

“Ne..ne.. gwenchanayo,” jawabku gagap dan sepertinya pipiku sekarang memerah. Aish! Jinja aku malu sekali!

“Baiklah ayo kita mulai, aku akan mengambil peralatan lainya di meja Eunhyuk songsaengnim. Kau mulai saja membedahnya aku akan melihatnya nanti,” ujar Taemin santai.

“Mwo?! Aku yang membedahnya?” Aku tak bisa menyembunyikan keterjutanku mendengar ucapan Taemin.

“Ne, waeyo?” tegas Taemin mengiyakan.

“Anio, ne aku akan melakukanya,” jawabku sambil menelan ludah.

“Baiklah aku akan mengambil peralatanya,” ucap Taemin sambil lalu.

Glek! Aku kembali menelan ludahku saat menatap seekor katak mati didepanku. Hash! Kenapa aku yang harus membedahnya? Apa dia tidak tahu umumnya yeoja itu sangat jijik untuk melakukan ini? Baiklah aku tidak ingin terlihat seperti yeoja lemah yang jijik melakukan hal seperti ini, aku bergumam mencoba memberi semangat pada diriku yang sebenarnya sangat jijik. Kuambil dan kupegang dengan erat dua buah pisau yang terletak dimeja tak jauh dengan katak mati itu. Sejenak kupejamkan mataku dan melihat sekeliling ruangan, terlihat Taemin sedang sibuk memilih-milih peralatan yang dibutuhkan. Aku bisa melihat punggung Taemin yang menawan sehingga membuatku ingin memeluknya dari belakang, cukup lama aku memandangi punggunya dan membuatku terbuai dalam lamunanku. Hash! Kenapa pikiranku jadi yadong seperti ini sih?! Dengan cepat aku menggeleng-gelengkan kepalaku. Kufokuskan kembali konsentrasiku kepada katak mati di hadapanku ini.

“Aww!!” jeritku menahan perih di jariku yang tak sengaja teriris pisau ketika akan membedah katak. Seiisi ruang lab biologi mengalihkan pandanganya kearahku termasuk Taemin. Darah mulai mengalir cukup banyak, dengan langkah cepat Taemin menghampiriku dan segera membalut luka dijariku dengan saputanganya.

“Jieun aaa, gwenchana?” tanya Taemin cemas.

“Ne…ne, gwenchana,” jawabku dengan wajah yang meringis menahan sakit.

“Ya! Ayo semua lanjutkan pekerjaan kalian. Dan kau Taemin temani Jieun keruang kesehatan.” Eunhyuk songsaengnim mencoba menenangkan murid-murid yang sempat histeris melihat darah yang keluar dari jariku cukup banyak.

“Ne, araso,” jawab Taemin sambil memopoh tubuhku menuju ruang kesehatan.

*******

“Kau ini ceroboh sekali, lihat jarimu ini teriris sangat dalam untung kau segera dibawa kesini sehingga kau tidak sampai kehilangan banyak darah,” celoteh Yoona songsaengnim selaku guru yang bertugas di ruang kesehatan ini.

“Ne, araso songsaengnim,” jawabku lemas.

“Dasar kau ini, ya sudah istirahatlah. Aku akan meminta Taemin untuk menemanimu,” ujar Yoona songaengnim yang masih terlihat kesal karena kecerobohanku.

“Mwo?! Tidak mau, aku ingin disini sendirian songsem.” aku membelalakkan mataku terkejut.

“Tidak kau harus ditemani seseorang disini, bagaimana jika terjadi sesuatu lagi padamu? Kau itu kan sangat ceroboh,” jelas Yoona songsaengnim yang terkesan mengintimidasiku.

“Tapi songsem…” kata-kataku terputus karena Yoona songsaengnim sudah keburu keluar ruangan.

Aku hanya bisa pasrah dan tiduran di kasur yang di sediakan di ruang kesehatan ini. Sekarang kurasa bisa sedikit membaca pikiran Taemin, aku bisa mengartikan sorot matanya tadi begitu mencemaskanku. Walaupun samar aku masih bisa merasakan kalau Taemin mempunyai perasaan yang sama denganku. Meskipun aku masih sangat ragu, aku mencoba meyakinkan hatiku untuk tetap berpikir positif. Tidak lama kemudian terdengar suara pintu terbuka dan Taemin muncul dari balik pintu tersebut. Degup jantungku kembali bedetak cepat seiiring langkah Taemin yang semakin mendekat kearahku.

“Kau tidak apa-apa Jieun aaa?” tanya Taemin dengan raut wajah cemas.

“Gwenchanayo,” jawabku singkat dengan membuang mukaku ke arah lain.

“Tadi kenapa kau bisa seceroboh itu? Apa karena kau sedari tadi sibuk mengamatiku ya? Sehingga kau bisa mengiris jarimu sendiri,” tanyanya santai dan sontak membuat mataku berpaling kearahnya. Apa dia bisa membaca pikiranku? Bisa kurasakan pipiku memanas karena malu.

“MOLLA!” jawabku kasar dan memalingkan kembali mataku ke arah lain.

“Dasar kau ini tukang marah, aku kan hanya bercanda,” kata Taemin dengan mimik wajah yang biasa saja.

Memang dasar namja brengsek, disaat berduaan saja seperti ini sikapnya biasa-biasa saja? Apa dia amnesia? Dia masih bisa bersikap seperti ini setelah banyak kejadian yang terjadi di antara kami? Semua pertanyaan yang tidak sempat terjawab ini terus berkutat dalam benakku.

“Jieun aaa, sebenarnya aku masih berhutang satu penjelasan padamu,” ucap Taemin dengan nada suara yang berubah serius.

“Katakan saja sekarang selagi aku mau mendengarkannya,” jawabku dingin dan masih membuang mukaku. Sebenarnya saat ini aku merasa denyut nadiku akan berhenti dan wajahku semakin memanas, sekarang aku sangat malu sekali.

 “A…aku sebenarnya, aku dan Suzy,” belum sempat Taemin melanjutkan kata-katanya tiba-tiba terdengar seseorang membuka pintu dengan keras.

BRAKK!

“Jieun-ah gwenchana? Kudengar jarimu teriris pisau?” tanya Seungho yang tiba-tiba masuk dengan nafas memburu.

“Seungho-shi?” ucapku terheran melihat Seungho yang tiba-tiba masuk dan seketika membuat Taemin memandang tajam ke arahnya.

“N…ne gwenchanayo Seungho-shi”, jawabku dengan senyum yang sedikit memaksa karena menahan rasa sakit yang masih sangat terasa.

“Apa kedua matamu itu belum cukup hah? Kenapa kau bisa sampai seceroboh ini? Apa kau tahu betapa khawatirnya aku?” oceh Seungho dengan wajah cemas yang kemudian meraih tanganku.

“Kurasa kau terlalu berlebihan Seungho-shi, dia hanya teriris pisau dan lukanya tidak begitu parah,” kata Taemin yang membuat Seungho beralih menatapnya tajam.

“Ya sudah Jieun-ah aku akan kembali ke kelas, aku rasa sekarang kau tidak akan sendirian,” lanjut Taemin yang kemudian berjalan menuju pintu ke luar.

“Ya! Taemin-ah! Apa kau harus menunggu sampai Jieun terluka parah dan meneteskan air mata lebih banyak lagi untukmu hah? Apa dengan itu baru kau akan tersadar dengan segala sikap bodohmu yang selama ini membuat Jieun susah?” bentak Seungho dengan penuh emosi yang membuat Taemin menghentikan langkahnya dan melirik Seungho dengan tatapan penuh amarah.

“Seungho-shi apa yang kau katakan hah?” Jieun menatap Seungho dengan penuh kekecewaan.

“MWO! MWORAGU?!” Taemin kembali berbalik dan mendorong Seungho hingga tubuhnya membentur dinding dan melayangkan beberapa tinju ke wajah Seungho.

“Gemanhe! Jebbal geman kaja!!” Jieun berteriak histeris begitu melihat darah segar mulai mengalir dari hidung Seungho.

Taemin yang segera menahan tinjunya ke wajah Seungho sejenak memalingkan wajahnya ke arah Jieun dengan tatapan yang dipenuhi emosi karena ucapan Seungho yang sempat membuatnya kalap, dan kemudian kembali manatap Seungho.

“Neo! Seungho-shi sebaiknya kau jaga mulutmu baik-baik! Araseo?” bentak Taemin yang kemudian melenggang pergi meninggalkan Jieun dan Seungho.

Suasana menjadi hening sesaat setelah Taemin lenyap dari balik pintu. Jieun masih terus saja menatap keluar jendela di samping tempat tidurnya menyesali sikap Seungho yang terlalu terburu-buru.

“Mianata Jieun-ah.” Seungho tertunduk lemas menyesali perbuatanya.

“Kenapa kau bicara seperti itu pada Taemin? Kau tahu, aku belum sempat berterimakasih kepadanya,” ucap Jieun lirih dan masih menatap ke luar jendela.

“Maafkan aku yang tidak bisa menahan diri.”

“Sekarang aku ingin sendirian, kau boleh kembali ke kelas. Terimakasih sudah mengakhawatirkan aku Seungho-shi,” kata Jieun yang sama sekali tidak menatap Seungho hingga ia keluar dari pintu.

*******

Aku menundukkan kepalaku dan menyandarkanya di atas bangkuku, ku pejamkan mataku dan mulai bermain di alam mimpi. Sudah tiga minggu sejak kejadian waktu itu dan hari ini adalah hari terakhir ujian akhir sekolah. Dengan susah payah aku belajar tanpa memikirkan dua namja sialan yang suka membuat otakku menjadi bebal. Dan sudah tiga minggu ini aku sama sekali tidak bertukar sapa dengan dua namja sialan itu. Tiba-tiba terasa ada sedikit guncangan di pundakku.

“Jieun-ah ayo bangun.” Terdengar suara seseorang yang sedikit merengek memintaku untuk bangun.

Aku mencoba mengabaikan suaranya dan kembali ke alam mimpiku, tapi semakin lama guncangan di pundakku terasa semakin keras di tambah dengan cubitan-cubitan kecil di pipiku yang membuatku terpaksa membuka mataku yang masih terasa berat dan menatap orang yang sudah mengganggu tidurku.

“Suzy-ah kenapa kau bisa ada di sini?” Aku mengerutkan dahiku begitu tahu orang yang mengganggu tidurku adalah dia.

“Kau ini jahat sekali tentu saja aku dating untuk menemuimu,” jawabnya sambil mengerucutkan bibirnya.

“Oh… miane Suzy-ah.”

“Emm Jieun-ah! Ini aku hanya ingin menyerahkan ini padamu,” kata Suzy sambil menyodorkan sebuah amplop cantik bewarna merah jambu.

“Ulang tahun?” tanyaku bingung setelah membaca isi amplop yang diberikan Suzy padaku.

“Iya, besok adalah hari ulang tahunku, aku mohon kau datang ya?” Suzy menatapku penuh harap.

“Em…. Iya baiklah,” jawabku dengan senyum yang sedikit memaksa.

“Ok, kutunggu kau besok tepat jam Sembilan ya?” Suzy pun berlalu sambil melambaikan tanganya padaku dengan wajah yang berseri-seri.

Aku hanya bisa menghela nafas panjang, pasti Taemin juga akan datang. Apa yang harus kulakukan? Aku masih terlalu malu untuk bertemu denganya  sejak kejadian di ruang kesehatan tiga minggu yang lalu. Aish! Ottoke? Tapi apa ini? Aku kembali membaca surat undangan Suzy dengan seksama.

Hari     : 10 Oktober 2011

Pukul   : 09.30

Tempat : The Shilla Jeju Hotel (Jeju Island) ^o^

*Ps: Kutunggu kau besok di bandara Incheon ok? ^^

Apa Pulau Jeju? Senangnya aku akan ke pulau Jeju besok! Sudah lama aku tidak ke sana selama tiga tahun terakhir ini. Aku tidak bisa berhenti membayangkan apa saja yang akan terjadi di sana, ku harap semua akan baik-baik saja sampai pesta ulang tahun Suzy berakhir.

******

Ku ambil celana jeans hitam dari dalam lemariku. Aku memakai sweater cantik berwarna putih dengan kerut di bagian pergelangan tangan. Tidak lupa aku memakai jaket kulit bewarna coklat agar tubuhku tetap hangat, karena musim gugur tahun ini terasa panjang dan sangat dingin. Kemudian kurias wajahku dengan make up natural dan kusisir lurus rambutku. Setelah siap dengan semuanya kumasukkan koperku yang berisi beberapa pasang pakaian dan semua peralatan yang aku perlukan selama berada di pulau Jeju ke dalam mobil yang akan mengantarku ke bandara Incheon.

Aku bisa melihat Suzy melambaikan tanganya ke arahku. “Annyeong Jieun-ah, kau cantik sekali hari ini,” ucap Suzy yang kini tersenyum senang melihatku.

Akupun membalas senyumnya dengan manis, “Gomaweo Suzy-ah.”

“Annyeong Jieun-ah,” sapa seorang namja yang sangat ku kenal.

Seketika tubuhku terasa menegang mendengar suaranya yang selalu membuatku meleleh, “Oh ne, annyeong Taemin-ah,” balasku dengan senyuman masam.

“Semua sudah lengkap, kaja Suzy-ah pesawatnya akan segera berangkat,” ucap Taemin yang sedang sibuk memandang jam di pergelangan tanganya.

“Chamkaman Taemin-ah masih ada satu orang lagi,” jawab Suzy dengan mata mencari seseorang yang sedang ditunggunya.

“Dugu? Bukankah kau hanya mengundang Jieun?” balas Taemin dengan raut penuh tanda tanya.

“Ah! Itu dia datang!” jawab Suzy bersemangat dengan menunjuk-nunjuk ke arah seseorang yang dari tadi dinantinya.

Seketika raut wajah Taemin berubah masam melihat seseorang yang sangat dia kenal berlahan mendekat ke arahnya. Aku pun memalingkan wajahku ke arah orang tersebut, dan betapa terkejutnya aku ketika melihat seorang namja yang sangat kukenal berlari ke arah kami.

 “Miane Suzy-ah aku sedikit terlambat.” Seungho membungkuk memegangi kedua lututnya dengan nafas terengah-engah.

 “Gwenchanayo Seungho-shi,” jawab Suzy ramah.

“Seunho-shi?” Aku terkejut melihat Seungho yang sekarang sudah berdiri dihadapanku.

“Annyeong Jieun-ah,” sapanya ramah.

“Oh….. n..ne annyeong Seungho-shi,” jawabku sedikit gagap.

“Ya! Suzy-ah kenapa kau mengundang namja ini?!” tanya Taemin marah dan menatap Suzy tajam.

“Waeyo? Bukankah dia temanmu juga? Kau ini jahat sekali Taemin-ah,” jawab Suzy membela diri sambil menatap Taemin dengan mata berkedip-kedip mengisyaratkan supaya Taemin cepat meredam amarahnya.

“Kau ini! Aku tidak suka denganya!” bentak Taemin dengan dahi mengerut.

“Ya… Taemin-ah berhentilah bersikap kekanakan lebih baik kita lupakan saja kejadian waktu itu, sekarang aku tidak ingin bertengkar denganmu.” Seungho memandang Taemin tajam.

“Baiklah kalau itu yang kau inginkan, kaja Suzy-ah pesawat sudah mau berangkat.” Taemin memalingkan wajahnya dan menggandeng tangan Suzy menuju pintu masuk kebarangkatan.

“Kaja Jieun-ah,” ucap Seungho sambil mengulurkan tanganya kepadaku, tapi aku hanya bisa menatapnya ragu.

“Sudahlah lupakan kejadian waktu itu, sekarang kau tidak punya pilihan lain selain bersamaku. Kaja pesawatnya kan segera berangkat,” lanjut Seungho dengan percaya diri, dan meraih tanganku cepat karena melihat reaksiku yang tak kunjung menyambut uluran tanganya.

Selama satu jam akhirnya kami tiba di Jeju Island tepatnya di Shilla Jeju Hotel. Aku menunggu Suzy yang sedang sibuk mengurus pemesanan kamar hotel di meja resepsionis, dan tidak lama kemudian Suzy berjalan ke arahku dengan membawa empat buah kunci kamar hotel.

“Nah ini, untuk Seungho kau kamar nomor 222, Taemin kau nomor 223, dan kau Jieun nomor 302,” jelas Suzy sambil membagikan kunci kamar hotel.

“Apa? Aku tidak mau bersebelahan dengan dia!” sahut Taemin dengan tangan menunjuk- nunjuk ke arah Seungho.

“Ya! Taemin-ah kau ini kenapasih? Kaja Jieun-ah,” jawab Suzy dengan wajah masam yang kemudian menarik tanganku pergi meninggalkan Taemin yang sekarang sedang beradu pandang dengan Seungho.

“Nah Jiun-ah, istirahalah dulu kalau sudah tiba waktunya aku akan memjemputmu.  Jika kau perlu bantuanku panggil saja aku, aku berada di kamar sebelahmu,” ucap Suzy ramah kepadaku.

“Ne… gomaweo Suzy-ah.”

************

“Ya…. Jieun-ah ayo bangun pali,” kata Suzy manja dengan mengguncang- guncangkan tubuhku yang tengah tertidur pulas.

“Ahh…. Ne..ne Suzy-ah ada apa?” jawabku dengan mata yang masih terpejam.

“Aku hanya mau memberimu ini…” jawab Suzy sambil menyodorkan sebuah kotak persegi panjang kepadaku.

“Apa ini?” tanyaku dengan wajah penasaran.

“Sudahlah buka saja kau akan tahu nanti,” balas Suzy.

Perlahan aku pun membuka sebuah kotak persegi panjang yang Suzy berikan padaku, dan betapa terkejutnya aku melihat isi dari kotak itu. “Wah yeppo……”

“Bagaimana cantik bukan? Pakailah saat acara pestaku nanti,” ucap Suzy tersenyum senang.

“Cheongmal Gomaweo Suzy-ah,” jawabku dengan mata berbinar-binar.

“Ne, kalau begitu segeralah bersiap-siap Jieun-ah acaranya akan dimulai satu jam lagi. Aku sangat senang kau menyukai gaun itu,” kata Suzy yang sudah mengenakan gaun cantik berwarna putih dengan dandanan yang semakin membuatnya terlihat mempesona.

“Ne…. araseo Suzy-ah.”

“Ok aku akan menunggumu, sampai jumpa di pesta ya? Annyeong.” Suzy pun melangkah pergi meninggalkanku.

 “Ya chamkaman Suzy-ah.” Aku menarik gaunya berusaha menahanya pergi sebelum ia sempat membuka pintu kamarku.

“Waeyo?” tanya Suzy bingung.

“Orang itu siapa?” tanyaku penasaran sambil menatap seorang namja berambut pirang yang sedari tadi berada di samping Suzy.

“Ah… iya hampir saja aku lupa, perkenalkan dia adalah Key oppa seorang make up artis terkenal. Aku memintanya untuk membantumu berdandan,” jawab Suzy bersemangat.

“Oh…. Arayo,” ucapku sambil mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti.

“Ya sudah sampai jumpa di pesta, annyeong Jieun-ah,” ucap Suzy dengan melambaikan tanganya padaku yang kemudian lenyap di balik pintu.

“Ne Annyeong Suzy-ah.”

Aku segera mandi dan bersiap-siap untuk pesta, kukenakan gaun pemberian Suzy yang teramat cantik dan membuatku layaknya seorang putri. Dengan bantuan Key oppa seorang make up artis terkenal yang membantuku berdandan membuatku hampir tak mengenali diriku sendiri di depan cermin. Aku juga mengenakan sepatu yang membuatku tak sanggup untuk memandangnya karena kilau kerlipnya yang sangat menyilaukan mataku. Setelah semuanya siap Key oppa mengantarku ke Aula tempat Suzy menyelanggarakan pesta ulang tahunya.

Aku sangat malu ketika semua tamu beralih menatapku intens, semburat merah di pipiku pun mulai nampak jelas. Aku tak tahu bila tamu undangan akan sebanyak ini, mungkin mereka adalah teman-teman Suzy di SMA, dan yang paling membuatku tak tahan adalah ketika mereka mulai menggodaku dan menatapku dengan tatapan yang amat membuatku risih. Apa ada yang salah pada diriku? Hingga membuat mereka semua hanya menatapku. Aku sangat lega ketika Suzy berjalan menghampiriku.

“Seangil Chukhae,” kataku memberi selamat ulang tahun pada Suzy dengan senyuman manis.

“Ne Gomaweo Jieun-ah,” balas Suzy dengan senyum yang mengembang di wajahnya.

“Kau cantik sekali Jieun-ah! Gaun itu sangat cocok untukmu,” lanjut Suzy dengan mata berbinar yang kini sedang menatapku dari ujung kaki sampai kepala.

“Gomaweo Suzy-ah,” jawabku malu dengan pipi yang semakin memanas.

“Baiklah acara puncaknya akan dimulai sebentar lagi, bersenang-senanglah Jieun-ah disini banyak makanan yang pasti kau suka,” jalas Suzy padaku.

“Ne…. arayo.” Aku menganggukkan kepalaku tanda mengerti, dan Suzy pun berjalan pergi meninggalkanku.

Gemerlap lampu pesta menghiasi setiap sudut aula, banyak makanan lezat yang dihidangkan untuk menjamu para tamu undangan. Musik pun mulai mengalun keras dengan arahan seorang D.J membuat setiap orang tidak tahan untuk berdansa. Aku melihat banyak pasangan kekasih sedang berdansa bersama, dan sialnya aku hanya bisa duduk diam sambil menatap mereka yang tengah larut dalam suasana pesta. Aku duduk di sudut aula yang tidak banyak mendapat penerangan sambil memakan hidangan yang disajikan dengan lahap sampai aku menyadari seorang namja sudah duduk tepat di sampingku.

“Annyeong Jieun-ah, kau sendirian saja?” tanya seorang namja padaku. Aku tidak dapat mengenalinya karena wajahnya tak mendapatkan sentuhan cahaya sedikitpun.

“Duguseyo?” Aku berbalik bertanya dan berusaha untuk memfokuskan mataku.

“Ya, hanya dalam waktu tiga minggu tak bertemu kau sudah tidak bisa mengenaliku lagi? Ya! Kau sombong sekali, aku Seungho. Nappeun yeoja!” jawabnya kasar yang membuat telingaku panas.

“Ya! Itu karena aku tak dapat melihat jelas wajahmu dalam penerangan seburuk ini,” balasku berusaha membela diri.

Aku sangat terkejut dan gugup saat Seungho tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke wajahku, ini membuat jantungku berdetak semakin cepat. Rona merah mulai nampak di pipiku yang tidak bisa menyembunyikan rasa malu ini. Aku mencoba memalingkan wajahku darinya tapi dia menahan wajahku dengan kedua tanganya agar aku hanya bisa menatapnya. Dan jarak kami pun semakin mendekat.

“Apa dengan begini kau bisa melihat jelas wajahku?” tanya Seungho menggodaku dengan senyuman nakalnya.

“Ya! Dasar mesum!” teriakku keras yang kemudian mendorong tubuh Seungho sekuat tenaga menjauhiku.

“Hmmpp….Hmmmp,” terdengar suara Sungho menahan tawa.

“Ya! Apa ini lucu?!” bentakku jengkel melihat Seungho sekarang memenggangi perutnya menahan tawa.

“Miane Jiuen-ah aku hanya ingin menggodamu…..,, Hmmmp…Hmmp….” ucapnya tanpa rasa bersalah sambil terus menahan tawanya, tega sekali dia membuatku menjadi malu seperti ini.

“Ya! Berhenti menertawakanku!” bentakku kembali dengan tatapan sedingin es.

“Ne…ne miane….” ujarnya mencoba meredam amarahku.

Aku memalingakan wajahku darinya mencoba menyembunyikan rona merah di pipiku. Aku belum bisa mengontrol degup jantungku yang masih saja berdegup dengan cepat dan aku pun tidak berani untuk menatapnya langsung. Kenapa mendadak Seungho berubah menjadi mesum begitu?, ini pertamakalinya Seungho menggodaku dengan candaan yang benar-benar tak lucu. Tatapan mataku kosong, pikiranku mulai terbang kesana kemari berusaha mencari jawabanya. Kemudian Seungho menepuk pundakku membuat pikiranku kembali ke awal.

“Ya! Kenapa kau hanya duduk diam disini? bukankah pestanya sangat menyenangkan?” tanyanya dengan kepala dan tangan yang mulai bergerak mengikuti irama music yang diputar.

“Aku tidak begitu suka dengan suasana pesta yang seperti ini, suaranya terlalu berisik dan membuat telingku terus berdenging,” jawabku dengan mata yang kini tertuju pada pasangan yang tengah berdansa gembira.

“Jieun-ah ada yang ingin kutanyakan padamu,” ujar Seungho yang kini menatapku intens.

“Ne… tanyakan saja, aku akan menjawabnya,” jawabku yang masih terus saja menatap iri kepada sepasang kekasih yang tengah berdansa tersebut.

“Sebenarnya aku ingin menagih jawabanmu, apa kau sudah menemukan jawaban atas hatiku?” tanya Seungho yang membuatku seketika berbalik menatapnya tajam.

Jantungku seketika berdegup kencang, bibirku bergetar tak tau apa yang harus kukatakan pada Seungho. Keringat dingin mulai membasahi dahiku, aku sungguh tidak tahu jawaban apa yang harus kuberikan, dan dengan suara yang sedikit bergetar akhirnya kuberanikan diriku untuk memberi jawaban atas hatinya.

“Mi…miane Seungho-shi, aku tidak dapat membalas perasaanmu,” jawabku dengan kepala tertunduk.

Begitu mendengar jawabanku Seungho pun juga tertunduk lemas, ia merasa sangat kecewa. Kuberanikan diriku untuk mengangkat kepalaku dan melihatnya, ia masih tertunduk lemas sambil memejamkan matanya. Tidak beberapa lama kemudian dia mendongakkan kepalanya dan melihatku dengan senyuman yang sudah tersungging di bibirnya, aku yang malu ditatapnya kembali menundukkan kepalaku.

“Sudah kuduga pada akhirnya jawabanmu akan seperti itu,” kata Seungho santai.

“Lalu kenapa kau menyatakan perasaanmu padaku jika kau sudah tahu jawabanya?” tanyaku dengan kepala yang masih tertunduk tak berani menatapnya.

“Pada awalnya aku berniat untuk memendam rasa ini karena kau menyukai Taemin dan memutuskan untuk menjadi temanmu saja. Tapi aku tidak pernah bisa berhenti mengharapkanmu Jieun-ah, dan akhirnya aku memberanikan diri untuk menyatakan perasaanku padamu. Maaf kalau waktu itu aku sangat egois,” jelas Seungho dengan mata yang kini menatapku mencoba agar aku bisa mengerti perasaanya.

“Ne…. Gwenchana,” kataku yang kini tersenyum padanya. Kami pun tertawa bersama dengan senang, rasanya sekarang aku bisa mengerti kenapa Seungho menyatakan perasaanya padaku saat aku bimbang akan perasaanku pada Taemin yang membuatku sangat frustasi. Ia tak mau kehilangan kesempatan untuk memiliki seseorang yang dicintainya.

KLAP!

Tiba-tiba lampu di seluruh aula padam dan menjadikan ruangan yang sedari tadi dipenuhi oleh suara musik berganti dengan suara riuh para tamu undangan yang sudah mulai gelisah. Tapi tak beberapa lama kemudian…..PYAR…..!!! Sorotan lampu mengarah ke tengah aula dan kini terlihat dua sosok orang berdiri di sana. Suara riuh para tamu undangan semakin menjadi ketika melihat Taemin dan Suzy berdiri di tengahnya dengan tangan yang bergandengan erat. Rasanya hatiku sudah terbakar cemburu melihat Taemin dan Suzy yang kini saling menatap dengan pandangan yang sangat membuatku iri, pantaskah aku masih mengharapkan Taemin?.

Acara puncaknya pun dimulai dengan pemotongan kue tart diiringi lagu selamat ulang tahun dan tepuk tangan dari seluruh tamu undangan. Semua lampu hanya menyorot Taemin dan Suzy yang kini berada di tengah-tengah kami, Suzy memberikan potongan kue pertamanya kepada Taemin yang kini tersenyum lebar, dan Taemin pun membalasnya dengan memberikan kecupan lembut di kening Suzy yang membuat para tamu undangan bersorak ramai. Kemudian ciuman Taemin terus turun ke hidung Suzy, dan kini jarak antara bibirnya dan Suzy semakin dekat. Para tamu undangan pun terus bersorak ramai.

“Cium…..Cium…..Cium….Cium….!!” suara sorak sorai para tamu undangan meneriaki mereka berdua.

Aku hanya bisa diam terpaku melihat Taemin dan Suzy, dan air mataku mulai mengalir perlahan di pipiku. ANDWE! ANDWE! ANDWE! Taemin-ah kau tidak bisa melakukan ini padaku! Kenapa kau jahat sekali padaku? NAPPEUN NAMJA! teriakku dalam hati yang kini terasa sangat sakit.

Air mataku semakin deras mengalir tatkala melihat Taemin mencium lembut bibir mungil Suzy, Seungho pun segera merengkuhku dalam pelukanya. Sesaat aku menangis di dalam pelukanya sebelum kemudian aku melepas paksa pelukanya dan lari ke luar aula dengan tangan yang sibuk menyeka air mata. Aku sudah tidak bisa lagi melihat itu semua yang membuat hatiku seperti dihujam beribu-ribu batu, inikah akhir dari penantianku?

 Aku duduk di sebuah bangku di tengah taman dengan air mata yang mengalir deras. Aku terisak dalam sunyi, melihat Taemin berciuman dengan Suzy cukup untuk membuatku menangis semalaman. Apa dengan begini masih pantaskah aku mengharapkan Taemin akan berpaling kepadaku? Heh… bodoh sekali aku sempat berpikir begitu, sudah jelas Taemin dan Suzy saling menyukai kenapa aku masih tidak pernah berhenti mengharapkanya? Apa arti ciuman yang ia berikan kepadaku? Apakah dia hanya mempermaikanku? Atau memang benar Taemin seorang maniak ciuman? Hah! semua pertanyaan itu sungguh membuat kepalaku pusing sampai aku mendengar suara langkah kaki seseorang berjalan mendekatiku. Buru-buru aku menyeka air mataku dengan kedua tanganku.

“Apakah itu kau Seungho-shi?” tanyaku penasaran yang kemudian memalingkan wajahku untuk melihat siapa yang datang.

“Sayang perkiraanmu salah Jieun-ah, apa kau sungguh mengharapkan aku adalah Seungho?” jawab Taemin yang tersenyum simpul kepadaku dan kemudian duduk di sampingku.

“Miane Raja maniak….” jawabku datar dengan memandangnya sinis.

“Ya! Mworagu? Kau bilang aku maniak?” kata Taemin tidak percaya sambil memasang ekspresi kesal padaku.

“Apa aku salah memanggilmu? Bukankah kau memang Raja Maniak Ciuman?” jawabku kembali dengan nada yang lebih dipertegas.

“Oh….. kau cemburu karena tadi aku mencium Suzy hah?” tanyanya yang membuat pipiku merona dengan senyuman khasnya.

“Aniya! Aniya! Kenapa aku harus cemburu padamu,” bentakku berusaha membantanya. Aku yang malu kemudian menundukkan kepalaku tak berani menatap matanya.

“Ne…ne araseo,” jawab Taemin sambil menahan tawa.

“Ah… iya hampir saja aku lupa mengatakan ini, malam ini kau terlihat sangat cantik Jieun-ah,” lanjut Taemin yang seketika membuat pipiku semakin memanas karena malu. Dan aku pun hanya bisa bisa terdiam sambil tersenyum kecil.

Tiba-tiba suasana menjadi hening hanya suara debaran jantungku yang terdengar. Sesekali aku mendongakkan kepalaku melihat Taemin yang terdiam menatap langit malam.

“Jieun-ah miane,” kata Taemin yang membuatku seketika mendongakkan kepalaku dan menatapnya heran.

“Waeyo? Kenapa kau tiba-tiba minta maaf padaku?” tanyaku dengan raut wajah penuh tanda tanya.

“Maaf telah membuatmu banyak meneteskan air mata untukku, sebenarnya aku tak ada maksud untuk menyakitimu. Hanya saja aku sedang berusaha mengucapkan terimakasih kepada seseorang yang telah membuatku tetap bisa melihatmu sampai sekarang ini,” jelas Taemin kepadaku yang masih saja asyik memandangi langit malam yang terlukis dengan indah.

Jantungku semakin berdegup kencang mendengar ucapan Taemin yang pasti sudah membuat pipiku merah seperti tomat saat ini. Ucapan Taemin seakan memberiku secercah harapan untuk terus bertahan dan menunggu. Sejenak kupandangi wajahnya yang diterangi sinar bulan, dia terlihat sangat rupawan dengan stelan jas berwarna merah maroon dan tak mampu membuatku berpaling darinya.

Kemudian terlintas di benakku untuk menanyakan siapakah gerangan orang itu, “Siapa orang itu?” tanyaku penasaran dengan pipi yang masih bersemu merah.

Dan Taemin menoleh kearahku dengan senyuman yang selalu membuatku hampir meleleh, “Hmm…… suatu saat jika waktunya sudah tiba kau pasti akan mengetahuinya,” jawabnya sambil terus menatapku lembut dan aku hanya bisa membalas menatapnya lagi.

Sorot mata kami terkunci.
Setelah itu, alam mendadak seperti berkonspirasi dan memutuskan untuk menisbikan suara dan menunggu, karena setelah itu hanya terdengar debaran jantung dan desah nafas masing-masing. Taemin semakin mendekatkan wajahnya ke wajahku dan sejenak hanya ada damai ketika bibir kami bertemu.

Tanpa mereka sadari sepasang mata mengamati mereka dari balik kegelapan malam yang jauh dari hingar bingar pesta.

************

Aku merebahkan tubuhku di atas kasur yang nyaman sambil kembali mengingat kejadian di taman beberapa saat yang lalu. Malam ini menjadi malam yang menyakitkan sekaligus malam terindah di hidupku, aku tak bisa berhenti tersenyum memikirkanya. Saat mataku mulai terpejam terdengar suara ketukan pintu yang membuat mataku tetap terjaga. Kulangkahkan kakiku malas menuju pintu kamarku untuk membukanya, dan betapa terkejutnya kau ketika mendapati Suzy berdiri di depan pintu kamarku dengan wajah yang basah dipenuhi air mata.

“Suzy-ah gwenchana?” tanyaku bingung melihat Suzy menangis sambil mempersilahkanya masuk ke kamarku dan mendudukkanya di atas kasurku.

“Suzy-ah sebenarnya apa yang terjadi padamu hingga membuatmu menangis seperti ini?” tanyaku kembali kepada Suzy yang tengah terisak.

“Jieun-ah…… a…aku mohon padamu,” ucap Suzy yang masih terisak.

“Waeyo? Ada apa denganmu?” tanyaku bingung mendengar ucapan Suzy.

“Jieun-ah…. Jebbal……jebbal….. jangan rebut Taemin dariku….” jawab Suzy dengan mata berkaca-kaca.

 “Mwo?” Aku membulatkan mataku terkejut mendengar ucapan Suzy.

“Miane…. Jieun-ah selama ini aku selalu menutup mata dan telingaku,” ucap Suzy dengan suara yang bergetar dan isakanya semakin keras.

“Ya…. Suzy-ah apa maksudmu? Aku tidak mengerti,” kataku dengan wajah bingung dan bertanya-tanya. Apakah mungkin Suzy melihat aku dan Taemin berciuman? Sejenak pertanyaan itu muncul dalam pikiranku dan rasa bersalahpun muncul. Tidak seharusnya aku tetap menyimpan perasaanku pada Taemin yang pada akhirnya hanya akan menyakiti Suzy. Sekarang aku sadar betapa jahatnya aku selama ini.

“Sebenarnya dari awal aku sudah tahu jika kau dan Taemin saling menyukai, Ya.. Jieun-ah maafkan aku….” Kali ini isakan Suzy semakin menjadi air matanya mengalir deras membasahi wajahnya yang cantik

“Aniya Suzy-ah aku yang seharusnya minta maaf kepadamu, aku selama ini sudah jahat padamu,” jawabku dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Ani. Sebenarnya aku yang selama ini jahat kepadamu, aku menggunakan cara curang dan memaksakan perasaanku agar Taemin menyukaiku walaupun aku tahu Taemin sangat mencintaimu dan tak mungkin akan berpaling padaku,” jelas Suzy dengan mata sembab dan kedua tanganya sibuk menyeka air matanya.

Sontak wajahku menjadi merah padam, rasa marah dan benci seketika menyelimutiku. Menggunakan cara curang? Tega sekali dia melakukan ini padaku dan Taemin.

“Cheongmal miane Jieun-ah…… Sebenarnya…..” Suzy mendekat ke arahku dan mencoba menstabilkan suaranya sebelum ia memulai berbicara padaku.

-To Be Continued-

Annyeong chingu2 ^^

Heheheh ff ini adalah ff yang pertamakali aku buat jadi mohon maklum kalau cerintanya sedikit berantakan :-P

Eh iya ff ini sudah pernah aku publish di pesan facebookku sama blogku yang dulu heheeh *gk nanya thor *plak :-D

oke saran dan pendapat kalian sangat d butuhkan buat ff ini and be a good reader yahh ^^
Jangan lupa like sma komen-nya ^^ *ngarep

 

 

 

Advertisements

13 responses to “STILL WAIT YOU SAY (Chapter 2)

  1. wah cara curang pa yg d pake suzy? bikin pesaran
    trus dia mau ngomong apa tuh sma jieun?
    huaaaaaa lanjut thor …..
    penasarn sma kelanjutan’a
    ff’a bgus, feel’a dpet .. kasian sma jieun yg d ksh harapan palsu

    #mian klu komen’a aneh+kepanjangan..

    • ehehehe Author jawab d next part-nya aja yahh 😛

      gomaweo ya chingu udh mau baca ff beginian ini…. autho terharu T_T *plak alay lu thorr 😀

      okeh chingu d tunggu next part-nya yahh ^^

  2. ceritanya bagus banget… aduh penasaran nih kira” jieun sama siapa
    taemin atau Seungho ? >.< aku berharap bisa sama Seungho hehehe .. 😀

    • hheheeh gomaweo chingu 😀
      Taemin atau Seungho yaa?? ~kkkkk langsung aja baca yang Part 3 yah chingu ^^

      okeh gomaweo chingu udah mau baca ff beginian ni ehheeheh 😛

  3. Pingback: STILL WAIT YOU SAY (Chapter 3 – END) | FFindo·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s