A Back To Sleep Tight [Chapter 5- END]

Title : A Back To Sleep Tight

Nama Author : Kinta-chan (@Sheeranoed)

Main Cast : Lee Jinki (25 yo), Jung Re Na (22 yo), Lee Taemin (23 yo)

Other Cast : Lee Hyuk Jae (27 yo), Han Chae Rim (22 yo),  Jung Yonghwa (25 yo), Choi Jinri (21 yo)

Length : Chapter

Genre : Romance, Marriage Life, Angst, Fantasy

Rating : PG -16

Disclaimer : This is the FINAL chapter. Hope you enjoy it. Your comment is my oxygen. Without your comment I’m still alive but I’m barely breathing. Haha #LOL. Okay, just read it and give your responses. –kintachan- (`95 liner).

[Chapter 1] [Chapter 2] [Chapter 3] [Chapter 4]

~A Back To Sleep Tight [Chapter 5-END]~

Goodbye, My Almost Lover!

 Taemin langsung mengambil jaket dan kunci mobilnya saat Re Na memintanya menjemput di kantor sore ini. Re Na bukannya tanpa alasan meminta bertemu dengan Taemin. Ia tahu sesungguhnya cepat atau lambat ia harus membicarakannya bersama Taemin. Ia tahu cepat atau lambat Taemin akan datang dan membuatnya ketar-ketir untuk menghadapi lelaki itu. Taemin dan Re Na, mereka berdua sama-sama berhutang penjelasan.

Mungkin kata orang yang hanya sekilas mengetahui cinta segitiga diantara mereka mengira bahwa Re Na tidak cukup tegas dan sesegera mungkin mengambil keputusan. Tapi mereka berkata seperti itu karena mereka tidak mengalaminya. Bagaimana sulitnya memutuskan hubungan tanpa menyakiti perasaan, bagaimana sulitnya menunggu seseorang tanpa kabar bertahun-tahun, bagaimana sulitnya ketika mereka bertiga dipertemukan kembali, bagaimana sulitnya menjaga sikap yang berlawanan dengan perasaan. Semua sulit bagi Re Na. Tetapi kesulitan tersebut harus diakhiri. Hari ini. Ya, hari ini semua harus berakhir. Bagaimanapun caranya.

Re Na menelpon Jinki, meminta ijin untuk pulang lebih larut daripada biasanya. Tak perlu waktu yang lama untuk Jinki mengetahui alasan Re Na, ia menghela napas lega saat Re Na memang menunjukkan alasan tanpa kebohongan. Re Na memang akan menemui Taemin. Dan sebelum ia melakukannya, dia meminta ijin dari Jinki. Ia mengerti dan membiarkan Re Na bertemu lagi dengan seseorang yang dulu mempunyai hak atas Re Na. Dan itu berarti Re Na mengetahui posisinya, bahwa Jinki adalah suaminya yang bertanggung jawab atas dirinya.

Tak sampai lima menit Re Na menunggu di lobby kantornya, sosok Taemin muncul di ambang pintu utama. Mendadak Re Na menjadi gugup, kakinya tak henti-hentinya gemetaran. Dengan terpaksa ia mengulas senyum kaku untuk Taemin. Dan hal itu membuat Taemin terpaku pada bibir Re Na, bibir yang kemarin diciumnya. Bibir tersebut terlihat lebih merah daripada kemarin. Dengan pahit, ia harus menelan kenyataan bahwa Re Na telah mencium Jinki kemarin. Sisanya, ia berharap bahwa mereka tidak melakukan hubungan yang lebih dari ciuman.

“Apakah kau lama menunggu?” Taemin menyapa Re Na dengan pertanyaan basa-basi.

Ani. Kau datang disaat yang tepat,” jawab Re Na sembari bangkit dari sofa yang terpasang di tengah-tengah lobby.

“Jadi, kau bukannya tanpa alasan kan meminta bertemu denganku?” Taemin dengan halusnya menembak Re Na agar menyudahi basa-basi mereka dan langsung ke pokok pertemuan mereka.

Re Na mengangkat kedua tangannya dan tersenyum simpul. “Ya. Aku harus meluruskan semuanya.”

“Jika itu merugikanku, aku tidak mau meneruskannya. Lebih baik aku pulang saja.” Re Na yang semula memandang kedua ujung sepatunya mengalihkan pandangannya pada sosok di hadapannya. Menatap mata Taemin lurus-lurus, mencari tahu apa yang dipikirkan Taemin saat ini. Re Na sudah tidak mampu lagi membaca perilaku Taemin seperti dua tahun lalu. Taemin menjadi sosok yang berbeda. Terlintas bayangan di pikiran Re Na bahwa Taemin kini mempunyai jiwa monster di dalam dirinya.

“Apa kau mau terus-menerus seperti ini? Lihat dirimu, Taemin~ah. Kemana wajah tampanmu? Kemana sebagian berat tubuhmu? Kemana hati nuranimu?” Taemin menghindari tatapan mata Re Na, ia menundukkan kepala seakan tersadar bahwa dirinya sangat kacau dalam beberapa bulan terakhir.

“Kau yang mengambilnya. Tak bersisa,” ucapnya lirih.

“Bisakah kita pergi sekarang?” Re Na mengambil tangan Taemin dan dengan halus menariknya untuk pergi dari kantor. Taemin menurutinya, ia memandang tangannya yang kini dilingkari oleh jemari Re Na. Sudah lama ia merindukan sentuhan gadis ini. Bahkan sentuhan Re Na yang sebatas tangan dapat membuat hatinya sebahagia ini.

“Aku akan mengarahkan kemana kita pergi, kau hanya perlu duduk dibalik kemudi,” kata Re Na seolah ia yang berkuasa hari ini. Taemin membukakan pintu mobil untuk Re Na dan mempersilahkannya masuk, lalu ia  berputar untuk duduk di kursi pengemudi.

“Bisakah kau seperti ini? Untuk kali ini saja,” pinta Taemin sebelum menstarter mobilnya. Ia memandang penuh harap kepada Re Na.

“Apa maksudmu?”

“Perlakukan aku seperti dulu, aku merindukanmu. Aku merindukan kita.”

“Ya, mungkin hari ini aku bisa melakukannya. Hanya hari ini.”

Akhirnya mata Taemin yang sayu serta kondisi tubuhnya yang memprihatinkan membuat Re Na mengiyakan permintaannya. Hanya untuk hari ini, Re Na meyakinkan diri sendiri.

Re Na membawa Taemin ke café terakhir mereka bertemu. Café yang dibenci Re Na sejak Taemin menghilang dari hidupnya. Tidak banyak yang berubah ketika mereka memasuki pintu masuk, hanya beberapa properti yang diperbaharui. Re Na sengaja duduk di sofa tempat terakhir mereka bertemu. Ia menghela napas lega ketika sofa itu kosong tanpa ada yang menempati.

Bagaimana Re Na masih mengingat semua detail itu dengan sempurna. Bahkan baru Taemin sadari jika pakaian yang dikenakan Re Na hari ini sama persis dengan pakaian yang dikenakannya saat itu.  Mereka duduk berhadapan. Re Na memesan latte untuknya dan hot chocolate untuk Taemin.

“Kenapa hot chocolate? Bukankah dulu aku memesan chocochinno?”

Re Na terkekeh saat Taemin mengajukan protes atas pesanan Re Na untuknya. Kemudian mata Re Na menyipit menatap tubuh Taemin yang terlihat lebih kurus dari sebelumnya yang memang sudah kurus.

“Terlalu banyak kafein dalam tubuhmu,” ucap Re Na menerawang.

“Dan jika kau tahu apa yang menyebabkan kafein ini berlebihan,” ucap Taemin datar. Re Na sudah tahu bahwa mereka akan mulai masuk ke dalam masalah inti.

“Jadi, apa kabarmu dua tahun terakhir?” tanya Re Na mengalihkan pembicaraan.

“Baik, sebelum aku kembali kemari beberapa bulan lalu.” Re Na mengangguk memepersilahkan ketika pelayan datang membawa dua cangkir pesanan mereka. Re Na kembali menatap mata Taemin.

“Syukurlah. Aku mengkawatirkanmu selama dua tahun terakhir dan kau ternyata baik-baik saja. Meskipun aku tak tahu keberadaanmu. Apa kau masih mau menganggapnya sebagai rahasia? Tidak merasa sedikit pun bahwa kau berhutang penjelasan dari tanda tanya besar di balik otak kecilku?”

Re Na memejamkan matanya sejenak, menahan air mata itu tumpah. Dengan emosi yang tidak stabil seperti ini mampu menjadikannya seperti bom waktu yang dapat meledak kapanpun.

“Ya. Aku tahu kau kecewa, kau marah. Dua tahun lalu aku pergi ke Jepang…” Taemin mulai menceritakan kronologi kejadian itu. Ketika ia mendapatkan beasiswa, rencana kejutan bodohnya, kelulusannya, hingga kedatangannya kembali ke Seoul.

Babo… Taemin babo. Kau sudah sinting dengan ide gilamu itu. Kemana kewarasnmu? Hanya bermodalkan keyakinan kau melepaskanku begitu saja. Lalu sekarang kau mau mengambilku kembali?” Re Na menyandarkan kepalanya pada sepasang tangannya yang berdiri tegak di atas meja. Ia tidak bisa menatap mata Taemin terlalu lama. Ia tidak mau mereka menonjol di kerumunan pengunjung café ini.

“Tidakkah kau bisa menghargai kerja kerasku untuk memberimu kejutan?”

Re Na menggeleng pelan seakan tidak percaya dan tidak puas akan penjelasan Taemin, matanya yang cerah berganti sayu. Sudut bibirnya mencoba terangkat memberikan senyum tetapi yang tampak adalah senyum sinisnya kepada Taemin.

“Kejutan? Kau sebut itu kejutan? Ya. Kejutan terpahit yang pernah kudapat. Kejutanmu datang disaat waktu yang tidak tepat, Taemin~ah.

“Kau berjanji akan memperlakukanku dengan manis hari ini. Bisakah kau menghargai saja keputusan terbodohku itu?” Taemin meraih tangan Re Na yang terkulai di atas meja. Re Na tak mampu menariknya, ia sudah berjanji untuk hari ini.

“Maaf. Aku hanya terkejut dengan kejutanmu itu.”

Taemin mengendikkan bahunya, ia merogoh-rogoh sakunya. Mengeluarkan sebungkus rokok dan pemantik apinya. Ia seakan butuh penenang untuk menghadapi masa lalunya, mengungkit semua itu baginya adalah mengungkap trauma berat di masa lalu. Jika itu tidak menyalahi prosedur, ia akan pergi ke psikiater dan menghapus ingatannya. Bagaimana mereka bertemu pertama kalinya. Kenangan manis tetapi harus dilenyapkan ketika keadaanmu sudah seperti ini.

Re Na menatap Taemin yang tengah menyulut rokoknya. Ia menepiskan tangannya di putung rokok yang belum sempat menyala itu. Taemin memandang rokoknya yang telah tergeletak di lantai. “Berhentilah,” Re Na mengingatkan.

“Hm?”

“Merokok, itu bukan dirimu yang sebenarnya.”

Rahang Taemin terkunci, ia mengendikkan bahu. “Tidak bisa, aku sudah jatuh terlalu dalam dan membutuhkan rangsangan untuk tetap hidup dan menjalani kehidupan.”

“Awalnya memang sulit. Bukankah memulai memang hal yang tersulit? Tetapi ketika kau mulai mengambil keputusan, kau akan terbiasa untuk menjalaninya.”

“Seperti itukah teorimu saat meninggalkanku?” Napas Taemin mulai memburu, ia mengepalkan tangannya kuat-kuat hingga buku jemarinya memutih.

“Kau yang meninggalkanku! Bisakah kau berpikir bahwa bukan hanya dirimu yang menjadi korban?”

Mianhae. Aku hanya tidak mampu menerima kenyataan. Aku tahu kau lebih memilih Jinki daripada aku. Aku hanya takut kau mengatakannya meskipun aku tahu kau akan. Saat kau berkata bahwa kau ingin meluruskan semuanya, aku sudah mengerti bawa aku lah yang menyimpang. Kau harus memotongku agar kau dapat tumbuh. Aku seperti benalu yang mengambil makananmu. Ya. Aku tahu aku salah, aku bodoh, aku sinting, aku gila.”

Mata mereka saling menatap, seakan terdapat bara api di bola mata keduanya. Beberapa detik saling memandang membuat mereka jengah. Taemin menyembunyikan kepala dibalik lipatan tangannya, lebih tepatnya ia menyembunyikan ekspresinya.

“Hentikan Taemin!” bentak Re Na.

“Kau yang hentikan! Aku dibawah tekanan! Tiga tahun tanpa dirimu, merindukanmu sendirian. Mencari tahu tentangmu hanya dari jauh. Lalu apa pedulimu? Sekarang kau telah menikah dengan Jinki,” ucap Taemin pahit.

Setetes air mata itu akhirnya meluruh, buru-buru Taemin menghapusnya. Mereka saling menyalahkan dengan membawa argument masing-masing. Tidak mau mengalah dan menyerah. Tidak mau melepas dan dilepaskan. Sama-sama bingung atas perasaan sendiri. Tidak tahu jalan keluar. Tersesat di labirin yang mereka bangun sendiri dengan kerumitan yang tak mampu terpecahkan oleh siapapun.

“Sekarang bisakah aku menceritakan kehidupanku tanpa dirimu dengan versiku?” ucap Re Na melembut. Mereka meninggalkan café itu, menuju ke tempat berikutnya. Saksi bisu berikutnya yang mampu mengungkit segala kejadian yang telah mereka lalui di masa lampau.

“Jadi, mari kita selesaikan semuanya. Mari kita mengungkap kesalahpahaman ini agar kita dapat mengambil keputusan,” kata Taemin memecah keheningan di dalam mobil.

“Aku memang kedengaran gila. Sama sepertimu, tapi akulah orang yang mengajak Jinki menikah. Kau jangan pernah menyalahkan Jinki dan membuatnya terluka, karena aku yang patut menjadi sasaran balas dendammu. Setelah Chaerim menikah, aku mengidap insomnia akut. Aku sama sepertimu, hidup dengan perangsang. Hidup dengan obat tidur hingga aku tidak tahan tubuhku dikontrol oleh bahan kimia. Sejak aku kecil, aku memang terbiasa tidur dengan memeluk punggung orang lain. Aku pikir itu hanya kebiasaan, tidak akan serumit ini masalahnya.”

Re Na menghela napas sejenak. Ia melihat ke arah Taemin, meninjau ekspresi wajah Taemin. Lelaki itu menatap lurus ke depan, dengan satu tangan memegang kemudi dan tangan satunya menggenggam kopling. Rahangnya mengeras tetapi ia tidak terlihat ingin mendebat kata-kata Re Na. Memberikan kesempatan gadis itu hingga selesai berbicara.

“Tetapi itu menjadi masalah serius saat itu. Aku sudah ingin benar-benar tertidur dengan damai dengan setengah hati yang setia menunggumu. Tetapi aku sudah berada di ujung kegelisahanku dan akhirnya aku menyelesaikan semuanya. Membuat keputusan dengan pemikiran yang matang. Aku sadar saat mengajak Jinki menikah, aku tidak terpengaruh bisikan dan giuran siapapun. Aku murni melakukannya karena aku telah memutuskan. Dan aku tidak bisa menelan air liurku sendiri. Kau tahu apa itu artinya?”

Re Na mencoba menjelaskan dengan kata-kata yang sudah ia olah matang-matang. Memandang Taemin takut melalui ekor matnya. Terlihat Taemin yang menggelengkan kepala seolah pernyataanya tidak masuk akal. Salah satu tangan mengepal menutupi mulutnya.

“Jadi sepihak karena alasanmu? Aku tidak berhak untuk ikut memutuskannya juga?”

Akhirnya Taemin tidak betah untuk tidak memandang dan menelanjangi Re Na dengan tatapan menuduhnya. Benar-benar membuat Re Na tidak berkat-kata lagi. Mereka berdua memiliki watak yang sama, keras kepala. Tidak mudah untuk menyatukan kedua pendapat yang berbeda dengan masing-masing ego yang mereka miliki.

“Ayolah, Taemin! Kita sudahi saja. Aku bukan satu-satunya di hidupmu. Aku yakin, pada saat di Jepang banyak wanita yang melirikmu.”

“Ya. Akan ku akhiri dengan sangat indah dan sedikit dramatisasi.”

Taemin menghentikan mobilnya di tengah jembatan. Memandang sungai besar yang berada lima meter di bawahnya. Tangan kurus itu menggenggam pintu mobil seakan membuka kuncinya untuk keluar. Re Na menahan tangan itu dan mengalihkan wajah Taemin agar mampu memandangnya. Menatap wajahnya, menatap matanya.

“Taemin, apa yang akan kau lakukan?!”

(┌ ‘⌣’ )┌♥┐( ‘⌣’ ┐)

Re Na terbangun dari tidurnya, ia menegakkan tubuhnya yang terasa sangat ringan sepeti kapas. Ia menatap ruangan sempit yang mengurung dirinya, dengan dua orang berpakaian hijau muda yang mengelilinginya di dua sisi. Mereka tidak memandangnya sama sekali dan masih berkutat dengan selang yang ia masukkan ke dalam mulut seorang gadis sembari menekan-nekan dadanya. Ia merasa dapat bernapas dengan baik, tetapi mereka rupanya tidak berpendapat demikian.

Re Na terduduk di sebelah wanita yang sedang mengecek monitor kecil di sebelah tubuh wanita yang terbaring. Pakaian yang basah, wajah memucat hampir membiru, cincin perkawinan. Semua itu miliknya, bahkan tubuh itu miliknya. Ia menyentuh kulit tangannya kemudian mencubitnya. Ia merasakan kulitnya, tetapi siapa dirinya? Siapa wanita itu? Dan mobil ini sudah pasti ambulance. Re Na menepuk lengan perawat yang berada di sebelahnya. Re Na merasa menyentuh lengan wanita itu tetapi tidak ada reaksi darinya. Re Na berteriak tetapi tidak ada suara yang keluar dari kerongkongannya.

Re Na menatap monitor yang tetap berjalan dengan grafik garis naik turun yang ia tak mengerti apa itu artinya. Tetapi satu yang ia tahu, ia masih hidup. Ia tidak mati karena monitor itu tidak menunjukkan garis lurus. Apakah kisah 49 hari itu benar-benar ada?  Kisah umat Budha yang ia sama sekali tak percayai. Re Na memeluk lututnya, menangis sejadi-jadinya. Bingung keadaan yang dialaminya, tidak mengerti mengapa tubuh dan ruhnya terpisah begitu saja.

“Detak jantungnya melemah, berapa menit lagi kita sampai di rumah sakit?” Tanya perawat wanita kepada rekan laki-laki yang ada di hadapannya.

“Kira-kira masih lima belas menit lagi,” kata laki-laki itu sembari melihat jam tangannya.

“Tambahkan kecepatan!” serunya seraya mengetuk kaca yang menghubungkannya dengan supir ambulance.

“Kumohon bertahanlah. Berjuanglah, kita akan sampai sebentar lagi,” kata wanita perawat itu. Ia meremas-remas telapak tangan wanita yang diyakini sebagai tubuh Re Na.

Re Na melihat keluar kaca jendela yang tiga perempatnya tertutupi dengan cat putih. Ia melihat dari kejauhan jembatan dengan pembatasnya yang rusak, tak jauh dari sana terdapat truk container besar yang muka depannya sedikit penyok. Ada dua mobil polisi dengan sirine diatasanya menutup jalur yang melintasi jembatan tersebut selagi mereka berusaha menepikan container besar yang hampir masuk sungai.

Beberapa orang petugas terlihat mengevakuasi tempat kejadian dengan mengurungi wilayah evakuasi mereka dengan police line.  Beberapa lagi berusaha menuruni jembatan. Kepala Re Na seakan berputar-putar, ia sampai harus memejamkan matanya agar mampu menahan keseimbangan tubuhnya yang ia rasa seberat kapas itu.

FLASHBACK

“Taemin, apa yang akan kau lakukan?!”

Taemin hendak membuka kunci otomatis pada mobilnya dan terhenti ketika Re Na berteriak kepadanya. Ia mengernyit tajam ke arah Re Na seakan berkata ‘Untuk apa kau berteriak sekencang itu?!’. Ia kembali mengunci otomatis pintu mobilnya sembari melihat kaca spionnya dua kali. Tidak percaya akan hal yang dilihatnya. Dengan sigap ia merengkuh Re Na dan melindungi kepala gadis itu dengan tubuhnya.

“Braaaakkk!!”

Sebuah container besar yang melaju dari kelokan dengan kecepatan tinggi menghantam bagian belakan mobil Taemin hingga mementalkan mobil itu jatuh ke dalam sungai yang berada di bawah jembatan itu. Container tersebut merusak pembatas jembatan tetapi masih beruntung karena benda besar itu tidak ikut terjatuh ke dalamnya, berbeda dengan mobil yang dikendarai dua orang di depannya.

FLASHBACK END

Dada Re Na merasakan sesak ketika ia mengingat kembali kejadian itu. Paru-parunya seakan dipenuhi air hingga tak mampu bernapas. Ia mengepalkan tangan seraya memukul-mukul dadanya agar air itu dapat keluar. Ia mulai mengatur napasnya, naik turun hingga stabil. Dilihatnya tubuhnya yang terbujur kaku dengan pakaian yang berganti menjadi kain hijau polos seperti yang digunakan perawat di sebelahnya.

Baru kali ini ia menatap tubuhnya dari ujung kaki hingga keala secara intens, tanpa luput satu bagian pun kecuali bagian tubuh yang telah tertutup oleh kain. Ia menatap kuku di jemari kakinya yang memutih hampir keunguan. Ada luka sobek sepuluh cm pada betisnya, menampakkan daging yang berwarna merah darah dengan bercak putih, yang ia yakini sebagai tulangnya.

Jung Re Na POV

Aku merasa mual melihatnya. Terlebih lagi darah juga tak henti-hentinya merembes dari perban di keningku. Bisakah aku masuk ke tubuhku dan melihat apa saja yang tidak utuh lagi dan membenarkannya sendiri tanpa tertusuk peralatan medis yang mengerikan ini?

Aku merasakan ambulance telah berhenti, dengan cekatan ada beberapa perawat yang membukakan pintu ambulance dan memindahkanku ke tempat tidur beroda. Mereka berlari mendorong tempat tidur –beserta tubuhku diatasnya- ke ruangan UGD. Aku mencari-cari Taemin. Tetapi tidak ada korban lain di UGD ini. Apakah Taemin…? teringat punggungnya yang melindungi kepalaku. Aku menggelengkan kepala kuat.

Aku berdiri di samping tubuhku, baru kali ini aku dapat menonton dengan jarak sedekat ini bagaimana paramedis membedah-bedah tubuh orang lain. Malangnya itu adalah tubuhku sendiri yang dengan seenaknya mereka bedah.

“Paru-parunya dipenuhi dengan air, ada pendarahan dalam tubuhnya, kepalanya terbentur hingga menyebabkan memar di otaknya,” kata seorang dokter setelah mengutak-atik bagian dari tubuhku. Aku memalingkan kepala, berharap bisa keluar dari ruangan ini. Menelan kenyataan pahit bahwa aku tidak bisa mendorong pintu dan terjebak di ruangan ini bersama beberapa orang pintar yang berusaha menyelamtkan nyawaku.

Jung Re Na POV end

(┌ ‘⌣’ )┌♥┐( ‘⌣’ ┐)

Jinki terduduk lemas ketika menerima telepon dari polisi bahwa Re Na dan Taemin mengalami kecelakaan. Ia tidak bisa membayangkan tubuh mungil istrinya terhantam oleh container hingga masuk ke dalam jurang. Tangan dan seluruh tubuhnya gemetaran, tak bisa merasakan apapun. Matanya memanas, lidahnya kelu.

Ia meraih-raih ponselnya yang tergeletak di karpet, menekan-tekan layarnya hingga tersambungkan dengan Yonghwa, kakak ipar sekaligus juga temannya. Tidak lama berselang, Yonghwa datang dan mengantarkan Jinki ke rumah sakit. Yonghwa terlihat terkejut tetapi ia masih bisa mengendalikan dirinya. Ia masih mampu mengendarai mobil di tengah pikiran kalut tentang adik sematawayangnya itu.

“Dimana dia berada?” tanya Yonghwa ketika mobilnya berhenti di area parker rumah sakit. Jinki terbangun dari lamunanya dan menatap mata Yonghwa tidak bergairah.

“Kurasa ia ada di UGD. Bisakah kita masuk kesana? Aku ingin melihat wajahnya,” ucap Jinki menerawang seakan berbicara dengan diri sendiri.

“Kurasa tidak boleh tetapi kau suaminya. Kau berhak untuk mengetahui kondisi istrimu,” Yonghwa menenangkan.

Mereka turun dari mobil disambut dengan pasangan Eunhyuk dan Chaerim yang telah sampai terlebih dahulu di depan pintu UGD. Eunhyuk memeluk Jinki dan mengusap-usap punggung pria itu. Jinki pasrah dan menyandarkan kepalanya di pundak Eunhyuk, Hyung yang selalu ada untuknya.

“Kau harus menunggunya disini hingga dokter selesai melakukan tugasnya,” ucap Eunhyuk.

(┌ ‘⌣’ )┌♥┐( ‘⌣’ ┐)

Jung Re Na POV

Sudah lima hari aku berada di ruang ICU, menunggui tubuhku sendiri. Ruangan panjang dengan sepuluh tempat tidur berjejer dan terdapat monitor di setiap sisi tempat tidur. Aku sudah jengah mentapa tubuhku yang dipenuhi selang hingga aku sendiri bingung melihat kemana selang itu terpasang dan tersambung. Ada selang menuju hidung, nadi, kerongkongan, kantung kemih. Beberapa perawat dan dokter berkeliling secara berkala untuk mengecek monitor di masing-masing tempat tidur.

Selama lima hari ini aku terjebak di ruangan ini, tidak bisa menjauh dengan jarak sepuluh meter dari tubuhku. Aku lelah terduduk di ujung ruangan. Melihat satu per satu wajah manusia yang terbaring di tempat tidur dan aku tidak menemukan Taemin. Dimana dia berada? Bukankah dia ikut menjadi korban bersamaku? Mengapa ia tidak disini?

Aku juga tidak menemukan ruh lain disini. Pertama aku mempunyai teori bahwa semua manusia yang mengalami koma akan terpisah dari tubuhnya. Dan teori itu jelas salah karena aku tidak menemukan ruh lain di ruangana ini. Padahal ada sepuluh manusia yang mengalami masa-masa di ambang kematian dan kehidupan, sama sepertiku.

Lima hari pula aku kedatangan beberapa tamu yang mengunjungiku di jam besuk. Jinki yang setia menggenggam tanganku, Yonghwa Oppa yang datang dengan menceritakan masa lalu indah yang pernah kami alami, Chaerim yang mengobrol sendiri dengan tubuhku yang kaku, Eunhyuk Oppa yang berbagi leluconnya, Halmoeni yang menceritakan ayam-ayamnya, Appa dan Eomma yang menceritakan bagaimana masa kecilku yang memalukan, Eomonim dan Aboenim yang memberikan nasihat agar aku bertahan dan berada di sisi Jinki mengingat usia pernikahan kami yang masih seumur padi.

Aku senang mereka mengunjungiku dan berbicara terus menerus kepada tubuhku, setidaknya aku tidak kesepian di ruangan ini. Tidak menampilkan ekspresi takut ketika memandangi tubuhku yang terpasang banyak selang dan perban. Tidak menangisiku yang terlihat menyedihkan. Meski aku tahu Chaerim mati-matian menahan air matanya agar tidak keluar. Jika air mata itu akan meluruh, segera Eunhyuk Oppa menarik istrinya ke dalam dekapan hangatnya. Menyembunyika tangisan Chaerim di depan tubuhku.

Jinki. Aku tidak ingin melihat wajahnya ketika ia mengunjungiku hampir di setiap jam besuk. Aku tidak ingin ikut merasakan kesedihan dan keterpurukannya meskipun ia tak mennagis. Tapi mata itu tidak pernah berbohong. Mata sipit itu penuh ekspresi.

 Ia selalu menggenggam tanganku dan mengelus-elus punggung tanganku. Terkadang ia memilah-milah helaian rambutku yang mulai kaku dan kusut karena bekas darah dan sudah beberapa hari tidak kucuci. Ia selalu mengecup keningku yang terbalut perban ketika jam besuk berakhir. Aku suka perlakuannya kepadaku, memperlakukanku dengan begitu lembut hingga aku seakan tak sanggup membalas perlakuan itu. Aku merasa bersalah karena tak pernah memperlakukannya selembut itu dan aku membencinya, membenci diriku sendiri.

Ia lebih sering diam daripada berkata-kata, seakan satu kata yang meluncur dari mulutnya juga akan mengeluarkan buliran air matanya. Aku ingat saat ia mengeluh pada hari ketiga aku berada di ICU.

“Aku sekarang sudah terbiasa menaiki lift hingga lantai empat belas gedung ini. Karena kau, aku jadi melupakan klaustrofobiaku. Butuh waktu sedikitnya lima menit untuk sampai di lantai ini, sebuah perjuangan Re Na~ya. Kalau kau terbangun nanti, aku akan menerima tantanganmu untuk masuk ke rumah cermin. Tanpa obat penenang. Aku berani menjamin akan bisa keluar dari rumah itu sebelum aku pingsan di dalamnya,” ucapnya penuh semangat. Salah satu kata-kata tercerianya saat mengunjungiku. Kata-kata favoritku.

Di hari pertama ia melihat tubuhku dengan tangan dan kaki yang gemetaran. Baru saja ia melihat tubuhku dari jarak satu meter selama sepuluh detik, ia melangkahkan kakinya keluar. Pertama aku kira dia takut melihat tubuhku yang seperti mummy tetapi aku tahu untuk apa dia keluar. Dia menangis. Untuk pertama kali aku melihatnya menangis karenaku dan sejak saat itu jika Jinki datang menemuiku aku memilih tidak melihatnya daripada melihat mata sipit favoritku tercemar oleh air matanya.

Jung Re Na POV end

Jinki menghampiri tubuh Re Na setelah petugas mempersilahkannya untuk masuk menemui istrinya. Pakaian Jinki kusut tak terurus bahkan ia lupa kapan terkahir kali ia menyisir rambutnya dengan benar. Bagaimana ia memikirkan hal sepeleh itu jika orang yang paling dicintainya dalam kondisi yang buruk seperti ini. jinki mengecup kening Re Na dalam seraya menyedot aroma istrinya yang sudah lama tak ia temui.

“Aku kembali menemuimu, kuharap kau tidak bosan,” ucapnya. Ia terkekeh pelan dengan tangannya mengelus pipi Re Na lembut.

“Aku dengar Taemin juga selamat dalam kecelakaan itu dan ia dirawat di rumah sakit yang berbeda karena kondisinya lebih parah dripada dirimu. Dan kabar baiknya ia sudah siuman, rupanya hanya fisik luarnya saja yang terluka.” Jinki menghela napas sebentar, mengamati mata Re Na yang tak kunjung terbuka.

“Chaerim mengatakan hari ini ia akan mengunjungimu. Apakah kau suka? Kau juga khawatir akan kondisinya bukan? Ia pasti juga mengkhawatirkanmu. Dan akupun juga begitu,” ucap Jinki terputus. Matanya terpejam sembari menggesek-gesekkan tangan Re Na ke pipinya. Berharap tangan itu akan mengelus pipinya jika tubuh itu telah memiliki tenaga.

“Bangunlah dari tidurmu, aku akan mengerti bagaimana persaanmu. Bertahanlah dari sakitmu dan berusahalah agar kau terbangun dari mimpi burukmu. Itu tugasmu Re Na~ya. Arachi?” jinki mengepalkan tangan Re Na membatnya seolah-olah Re Na semangat dan mematuhi perintahnya.

Seorang suster datang menghampirinya bersama seorang namja yang membawa tongkat untuk membantunya berjalan. Mata Jinki melebar ketika menatap tubuh namja itu. Tubuhnya seakan kaku, terbersit bayangan Re Na yang berciuman dengan laki-laki ini sehari sebelum kecelakaan itu terjadi. Terbersit kata-kata Re Na yang meminta ijin darinya untuk pulang telat agar dapat menyelesaikan masalah mereka berdua.

“Akhirnya Taemin datang menjengukmu. Dia terlihat lebih baik daripada kau, kau harus bisa bangun sepertinya. Aku akan memberikan privasi untuk kalian berdua.” Jinki bangit dari duduknya dan melangkah menyambut Taemin. Mendudukkannya hati-hati di kursi kayu tanpa sandaran, mengingat bahwa Taemin memiliki keterbatasan di kakinya. Patah tulang mungkin, batin Jinki.

“Apa kau bak-baik saja?” tanya Jinki. Taemin membalasnya dengan senyuman dan anggukan.

“Re Na… apakah dia belum juga siuman?” jinki menggeleng sembari mengendikkan kedua bahunya.

“Aku minta maaf soal kecelakaan itu-” ucap Taemin yang buru-buru disela oleh Jinki dengan menggelengkan kepalanya seakan berkata bahwa kejadian ini bukan sepenuhnya salah Taemin.

“Aku akan memberikan waktu untuk kalian. Kuharap kau mengerti bahwa ia masih menjadi istriku, perlakukan ia dengan hormat.”

Jinki melangkahkan kakinya keluar setelah Taemin menganggukkan kepalnya setuju. Ia yakin namja itu masih punya hati kepadanya. Entah mengapa, meskipun ia sedang marah dengan namja itu tetapi Jinki tidak mampu menyalahkan Taemin atas semua hal yang menimpanya dan Re Na. Hal tersebut seperti takdir bagi mereka untuk dipertemukan dan diletakkan dalam satu masalah kecil seperti tumor dan mereka tak menyadarinya hingga tumor tersebut membesar dan mengancam keberadaan mereka.

(┌ ‘⌣’ )┌♥┐( ‘⌣’ ┐)

Jung Re Na POV

Akhirnya dia datang. Aku menghela napas lega ketika Jinki berkata bahwa Taemin sudah siuman meskipun luka fisiknya lebih parah daripada aku. Bahkan dia sudah bisa mengunjungiku. Seorang perawat pernah berkata pada tubuhku. Ia mengatakan bahwa aku harus melupakan semua masalah dunia yang sedang kuhadapi hari-hari terakhir. Aku harus berjuang untuk hidup karena banyak orang yang membutuhkanku, merindukanku. Dia benar. Aku memang hampir tidak mau untuk kembali menatap dunia. Aku ingin seperti ini, terkurung dalam ruangan ini beberapa hari lagi. Mengeluarkan diri dari segitiga setan yang mematikan.

Taemin menatap tubuhku dari ujung rambut hinga ujung kaki. Menyentuh pelan perban dan selang yang melekat disana. Dia hanya diam dan menatap tubuhku yang terbujur kaku, tak bergerak sama sekali. Benar-benar seperti orang mati, hanya saja aku masih bernapas.

“Kalau tahu kondisimu akan seperti ini, untuk apa aku melindungi tubuhmu. Tidak ada gunanya. Kau tetap yang paling parah terluka,” ucap Taemin lirih.

Suaranya berubah menjadi parau, ia menangkupkan kedua tangan untuk menutupi wajahnya. Aku mendekat, ingin menatap matanya. Menebak-nebak apa yang ada di pikirannya. Ia menghirup napas dalam-dalam hingga aku pun mampu mendengarnya dengan jelas. Semenit berlalu, ia meletakkan kedua tangannya di pangkuan. Menatap wajahku dalam-dalam.

“Bangunlah.” Suara Taemin tercekat, aku bisa mendengarnya menenggak ludah untuk memudahkannya berbicara. Ia memutar bola matanya lalu kembali fokus menatapku.

“Ya, aku menyadarinya. Kita sama-sama bodoh dan melakukan kesalahan. Kesalahan yang fatal bagi hidup kita di masa ini. Hanya masa ini. Karena masih ada masa depan yang menunggumu, Re Na. Bagaimanapun itu, tetapi kedatanganku kemari untuk mempermudah semuanya. Mempermudah jalan kita. Aku sadar aku seperti pohon tua besar yang tumbang tepat dihadapan mobilmu dan Jinki. Aku menjadi masalah serius bagi kalian karena kalian tidak mudah menepikan batangku yang menutupi jalan kalian. Mari kita luruskan seperti apa yang kau mau.”

Aku memejamkan mata, tak sanggup untuk menatap mata pahitnya yang kini berlinang air mata. Jadi seperti ini rasanya ketika aku meminta Taemin untuk menjauh. Kini gilirannya yang mempertegas untuk meneruskan atau memutus hubungan kami. Dan aku telah mengetahui jawabannya.

Ia menggenggam tanganku, aku hampir bisa merasakan tangan kekarnya membungkus seluruh telapak tanganku.

“Anggaplah aku menghilang dan tak pernah kembali lagi untuk mengganggu hidupmu. Tetaplah hidup, jangan kau pikirkan aku. Aku baik-baik saja. Kondisiku lebih baik daripada kau. Aku akan berhenti merokok. Berhenti minum obat tidur. Dan aku juga akan berhenti meminta pertanggung  jawaban atas hubungan ini. Aku akan menurutimu untuk pergi mencari gadis lain yang mencintaiku melebihi dirimu. Asal kau bangun dan kembali sehat aku akan melakukannya.” Napasnya kembali memburu. Butuh waktu sepuluh detik untuknya agar kembali menenangkan diri.

“Aku masih ingin melihatmu menjadi orangtua, memiliki anak, dan bahagia. Aku tidak memintamu untuk benar-benar menghapusku dari benakmu, tetapi jika itu yang terjadi aku tidak akan melakukan apa-apa agar kau mengingatku. Dan jika kita bertemu kelak di jalan atau di manapun, kumohon agar kita dapat saling menyapa. Saling mengobrol, berbicara basa-basi tanpa menyangkutpautkan masa lalu.”

Aku membayangkan kata-katanya. Bagaimana jika suatu hari kita bertemu dengan paangan masing-masing dan mengobrol tentang sesuatu yang tidak penting tetapi mengasyikkan. Tentu saja sangat sulit bagi kami untuk tidak menyangkutpautkan masa lalu. Kami mengenal satu sama lain kurang lebih lima tahun. Dan hampir seluruh waktu itu terisi oleh kenangan manis saat kami berpacaran.

“Tetaplah tinggal. Tetaplah hidup. Tetaplah bahagia. Izinkan aku mengucapkan kalimat terakhir kemudian hiraukan sebagai salam perpisahan.” Taemin memejamkan mata sejenak kemudian kembali membukanya. Tersenyum kepadaku, benar-benar tulus.

“Jung Re Na, aku mencintaimu.”

Taemin beranjak. Ia berdiri dengan bantuan tongkatnya.  Memandangaku sejenak, kemudian pergi dengan langkahnya yang tertatih-tatih. Aku seakan terbangun ketika memikirkan kembali kata-katanya. Aku ingin mengejar Taemin dan mengucapkan terima kasih. Aku merasakan tangan Jinki dengan halusnya mengelus punggung tanganku kemudian menggenggamnya. Pertama kali dalam beberapa hari sejak ruhku terpisah dari raga, aku merasakan semangat untuk kembali hidup. Aku ingin hidup. Aku ingin punya anak bersama Jinki.

Aku merasakan ruhku kini sudah tidak berada di sudut ruangan, aku merasakan ruhku kembali menempel dalam tubuhku. Aku merasa berat, tidak lagi seperti kapas. Sesaat aku melihat cahaya yang membutakan seperti kilat yang membawa beribu-ribu volt. Aku dapat merasakan sakitnya. Kepalaku, dadaku, kakiku, tanganku semua terasa sakit yang teramat dalam.

Tanganku seakan menggapai-gapai, aku butuh seseorang untuk menarikku kembali ke dunia. Dan dua telapak tangan itu menggenggamku seakan menarikku lebih. Aku bisa menebak siapa pemilik tangan tersebut. Aku kembali berkonsentrasi dan berusaha untuk menyatukan ruh ini dengan tubuhku. Aku kembali terjun ke dalam dekapan cinta dari orang-orang yang mencintaiku. Jinki Oppa, Taemin, Yonghwa Oppa, Chaerim, Eunhyuk Oppa, Eomma, Appa, Eomonim, Aboeji, Halmeoni.

Kurasakan tangan Jinki meremas tanganku, memeluk tubuhku, mengusap-usap punggungku. Aku merasakan hangat air matanya yang menetes ke keningku. Dan suara yang sangat bising menyerang gendang telingaku. Membuatku seakan tersentak untuk bangun.

Jung Re Na POV end

“Re Na~ya, gwenchana?!” ucap Jinki khawatir ketika Re Na mulai menggerak-gerakkan tangannya. Tak lama kemudian gerakannya semakin kencang dan kuat. Jinki panik hingga merengkuh gadis itu ke dalam pelukannya. Mengusap-usap punggungnya lembut seperti yang ia lakukan ketika Re Na bersedih. Ia sangat ketakutan hingga meneteskan air mata yang jatuh di kening Re Na. Dengan tergesa ia memencet tombol yang menghubungkannya dengan suster yang berjaga.

“Re Na~ya…. Bertahanlah…Kumohon…” Jinki semakin kuat menggenggam tangan Re Na. Wajahnya telihat panik dan kacau, tersedu-sedu melawan ketakutannya. Dilihatnya suster yang kini berlari menghampiri mereka.

Yoebo…” ucap Re Na lirih. Sangat lirih hingga Jinki seakan berhayal membayangkan suara Re Na. Bahkan Re Na tak pernah memanggilnya dengan panggilan seperti itu.

“Ne?” tanya Jinki seakan tak percaya. Segera ia menghapus air mata yang bercucuran di pipinya dan tersenyum ketika melihat Re Na mulai membuka mata indahnya.

(┌ ‘⌣’ )┌♥┐( ‘⌣’ ┐)

Taemin melambaikan tangannya kepada Eomma, Appa dan adik laki-lakinya. Ia melangkahkan kakinya menuju bandara yang mengantarkan dirinya menuju Jepang. Taemin memutuskan untuk menerima pekerjaan disana. Taemin terduduk di bangku untk menunggu giliran pesawatnya yang akan terbang setengah jam lagi. Ia memasang earphone dan mendengarkan musik yang terpasang di musicplayernya.

Seorang wanita cantik berambut panjang berwarna coklat keemasan datang menghampirinya. Matanya menyipit seakan ragu dengan lelaki yang dijumpainya di bandara ini. Taemin sadar jika ada yang mengamatinya, ia menolehkan kepalanya menuju seseorang yang ia curigai diam-diam mengamatinya. Matanya melebar ketika melihat wanita yang menaikkan sebelah alisnya dan menatapnya curiga.

“Ya! Sulli! Mengapa kau bisa ada disini?” pekik Taemin. Gadis itu beralari kecil menghampirinya.

Omo~ ini benar-banar kau Oppa,” ucapnya seraya menyentuh wajah Taemin. “Aku kira aku menemukan seseorang yang kembar denganmu. Ah, iya. Sebenarnya aku kemari untuk menjengukmu, aku mendapatkan kabar dari adikmu bahwa kau mengalami kecelakaan. Mobilmu masuk jurang, benarkah?” rentetan pertanyaan sekaligus pernyataan memberondong Taemin tanpa ampun. Membuat namja itu tertawa menepis angin.

“Ya, ada container yang menabrak mobil kami dari belakang.”

“Kami?” Tanya gadis itu dengan pupil mata melebar.

“Aku dan Re Na. Kudengar ia sudah siuman beberapa hari terakhir. Aku bisa meninggalkannya dengan tenang,” ucap Temin memandang ujung kakinya. Matanya tak bisa ia paksa agar tetap ceria.

“Kau akan pergi meninggalkannya?”

“Ya, aku akan melanjutkan karierku di Jepang. Aku akan melepaskannya agar ia bisa hidup damai bersama suaminya. Gomawo, sudah jauh-jauh kemari hanya untuk menjengukku. Tapi aku tidak bisa membatalkan kepergianku ke Jepang, batas persetujuan kontraknya berakhir lusa. Mianhae aku tidak bisa menemanimu di Seoul.”

Ani. Aka akan kembali ke Jepang bersamamu,” ucap gadis itu mantap. Taemin selalu menasehati gadis itu agar berpikir dahulu sebelum berucap. Tetapi sifat itu tidak Taemin sesalkan sekarang, ia senang ada seorang yang menemaninya dan menerimanya kembali di Jepang.

Jeongmalyo? Kurasa aku harus mempertimbangan kata-kata Re Na tempo hari lalu.” Taemin mengulas senyum misteriusnya yang sukses membuat gadis itu mengatupkan kedua bibir merah mudanya.

“Dia mengatakan apa Oppa?” ucapnya penuh rasa penasaran. Ekspresi wajahnya membuat Taemin tersenyum geli, ingin sekali memberantakkan rambut panjangnya itu.

“Dia berkata bahwa aku harus melirik wanita yang berada di dekatku dan merawatku selama aku di Jepang. Bagaimana jika aku mulai dari kau?” Ucapan Taemin mendadak membuat gadis itu tertegun. Kembali mengolah kata-kata Taemin agar tidak menjadi kesalahpahaman.

Mereka menatap satu sama lain dan tertawa bersama-sama. Jelas sekali bahwa gadis yang bernama Choi Jinri atau kerap dipanggil Sulli ini sangat mencintai Taemin. Terlihat bagaimana ia memandang kepada namja itu.

Goodbye, my almost lover
Goodbye, my hopeless dream
I’m trying not to think about you
Can’t you just let me be?
So long, my luckless romance
My back is turned on you
I should’ve known you’d bring me heartache
Almost lovers always do…
(A Fine Frenzy/Almost Lover)

– E  N  D-

Maaf maaf maaf, jeongmal mianhae updatenya bener-bener molor. Hampir sebulan gak update. Bukannya mau bikin penasaran atau apa, sama sekali NGGAK! Aku emang udah ga ada feeling buat lanjutin, bingung sama endingnya yang terkesan agak lebay dan gak masuk akal. Maaf yee~ Aku sudah melakukan yang terbaik, tapi gak tau kalau hasilnya aneh bin lebay kaya gini.

Sekuel? Ada yang mau sekuel? #ReadersPadaGelengKepala. Okelah kalau begitu saya gak bikin sekuel #Manggut-manggutSokBijak. Special thanks to Rahma Fitri Al-Hakiim yang udah mau berbaik hati untuk publishin FF.ku. Lanjut, special thanks and hug buat para readers yang udah mau mengobrak-abrik aku buat nerusin FF ini. Aku kira FF ini gak laku dan gak ada yang nungguin lanjutannya. Dan taa-daa! Kalian muncul dan membuatku semangat buat ngelanjutin FF ini. Makasih bayak yaaaah~ Aku merasa sangat dihargai.

Terakhir, silahkan kunjungi kintachannostory.wordpress.com untuk baca FF ku yang lain. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H, minal aidzin wal faidzin. Saya, kinta-chan undur diri dari para readers sekalian. Jangan lupa doain aku agar bisa lulus UN (dengan nilai sangat baik) dan masuk universitas yang nanti bakal aku pilih. Senang bertemu, berbagi, dan membaca komentar kalian. See you guys~ ❤

29 responses to “A Back To Sleep Tight [Chapter 5- END]

  1. Uwahhhh cin Bajuzz endingnya 😀 bukan gombal lohh emang bajusss banget, walaupun emang kurang nggereget (?) sih waktu endingnya si Onew sma Rena *plak hehhe 😛
    Tapi aku suka banget sma kata-katanya Taemin waktu njenguk Rena di RS, bener-bener nyesek T_T untung Taemin bisa move on dan nggak galau lama-lama *hug Taemin XD *Oppa FIGHTING! aku masih ada untukmu *Hoeks
    Dan akhirnya Onew udah bisa lega buat milikin Rena seutuhnya XDD

    Okeh Semangat untuk buat sequelnya yahhh ^o^ Muahh2 dehh :-*

    • hehew, gamsahamnida ^^
      uwooo~ aku yang nulis aja udah hampir nangis ==”, iya dong aku harus berbaik hati dengan para tokohku biar mereka dapet psangan semua ;P

  2. wahhhh pantesan aku tungg2 lanjutanya nggak ada ternyata udah end*kemana aja slama in?* tp aku mo ncucapin selamat deh ! buat author*soalnya nggak tau nm.X* yg udah nyelesaiin FFnya aku doain deh moga FF kedepannya makin bagus lg….aku ikiutin loh critanya dr awal sampe end.X n aku suka…pokoknya DAEBAK deh…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s