In The Middle Of Autumn

Title: In the Middle of Autumn

Author: Vanana

Genre: Romance, Friendship

Length: Oneshot

Main Casts: Choi Junhong/Zelo (B.A.P), Park Hahyo (OC)

Other Casts: B.A.P, Secret

Note: aku jarang liat ada ff b.a.p disini ._. semoga ff b.a.p ini banyak yang baca ya ^^ jangan lupa comment~ oh iya, maaf ff ini gak ada posternya, aku gak sempet bikin ._.v

no plagiarizing please

Aku masih ingat pertama kali aku melihatnya. Hari pertama di SMA. Sore itu, aku sedang menunggu hujan reda di belakang sekolah. Tiba-tiba seorang anak laki-laki datang dan berdiri di sebelahku. Dia kehujanan. Dia memakai seragam yang sama denganku, dan itu berarti anak tersebut juga murid disekolahku.

Anak itu terlihat kedinginan, karena seragamnya basah kuyup. Aku tidak mungkin membiarkannya. Keberuntungan baginya, aku membawa handuk kecil hari itu. Handuk yang selalu kubawa kemana-mana. Handuk merah muda dengan namaku tertulis di salah satu sudutnya. Segera kuambil handuk tersebut dari tasku dan memberikannya pada anak itu. Pada awalnya, dia terlihat kebingungan. Namun, aku memberitahunya bahwa dia boleh memakai handukku.

“Pakai handukku saja,” kataku pada anak itu. Dia menerima handukku dan berterimakasih, lalu dia menggunakannya untuk mengeringkan rambutnya. Setelah itu, dia mengalungkan handukku pada lehernya.

“Akan kukembalikan besok,” katanya sambil tersenyum, “siapa namamu?”

“aku Park Hahyo dari kelas 10-1,” jawabku, lalu aku membalas senyumnya, “dan kau?”

Anak itu terlihat terkejut, lalu dia menjawab pertanyaanku dengan mata terbelalak, “aku juga dari kelas 10-1! Aku Choi Junhong. Maaf, aku tidak mengenalimu. Ini hari pertama kita disini.”

Saat itu aku yakin bahwa aku baru saja menemukan seseorang yang akan menjadi temanku selama 3 tahun kedepan. Dia adalah teman laki-laki pertamaku di SMA.

Itulah bagaimana aku bertemu dengan Junhong, sahabatku sekarang. Karena kejadian itu, aku bisa mendapatkan seorang sahabat yang benar-benar baik. Kami baru berteman selama kurang lebih 3 bulan, tetapi kami benar-benar akrab. Kami sering pulang bersama, karena kebetulan, rumah kami berdekatan.

Pada suatu Senin di bulan September…

“Hey!! Choi Junhong!!” kataku sambil berlari-lari mengejar Junhong. Kami dalam perjalanan pulang dari sekolah dan sudah hampir sampai di dekat rumah kami yang bersebrangan. Aku dan Junhong sepakat untuk berlomba. Siapa yang paling dulu sampai di rumahku berhak mendapatkan es krim. Tetapi saat itu aku yakin bahwa aku akan kalah karena Junhong berlari dengan cepat.

“AAAAAH!!!” aku terjatuh karena mengejar Junhong. Ia mendengarku dan menoleh ke belakang, lalu berlari kearahku.

“Kau baik-baik saja?” tanya Junhong sambil mengulurkan tangannya padaku. Lututku sedikit terluka, tetapi lukanya tidak terlalu parah. Aku meraih tangan Junhong dan dia membantuku untuk berdiri. Ia melihat luka di lututku dan dia mengeluarkan sebuah plester dari tasnya. Dia memberikan plester tersebut padaku dan menyuruhku untuk memakainya.

Aku mengambil plester tersebut dari Junhong. Sebelum menggunakan plester itu, aku membersihkan kakiku terlebih dahulu dengan tissue basah. Lalu aku memakai plesternya dan selesai. Aku memandang wajah Zelo dan tersenyum menyindir padanya lalu bertanya, “mau melanjutkan perlombaannya?”

“Mana mungkin aku membiarkanmu berlari-lari setelah kau terjatuh,” kata Junhong yang tertawa kecil, “maka dari itu, ayo kita anggap bahwa aku pemenangnya.”

Junhong menarik tanganku dan menyeretku ke sebuah toko es krim di dekat sini. Aku mengalah saja pada Junhong karena kalaupun kami melanjutkan untuk berlomba lagi, aku pasti akan kalah.

Setelah kami berada di depan toko es krim tersebut, Junhong berhenti di depan pintunya dan melepaskan tanganku. Dia berpikir sejenak, es krim apa yang dia inginkan nanti.

“Es krim pistacchio sepertinya enak,” katanya, menatapku, “apalagi jika kau yang membayarnya.”

Aku membuat ekspresi muka masam dan Junhong tertawa melihatnya. Karena tertawaan Junhong, aku jadi ikut tertawa. Kami tidak ingin berlama-lama di depan toko es krim itu. Maka kami memasukinya dan segera memesan dua cone es krim.

“Satu es krim pistacchio dan satu es krim permen karet,” kataku pada pelayan toko es krim tersebut. Setelah pelayan itu memberikan es krimnya pada Junhong dan aku, aku membayarnya. Lalu aku dan dia mencari tempat duduk. Kami mendapatkan tempat duduk didekat jendela dan beberapa saat setelah itu, kami menyadari bahwa hujan mulai turun dengan perlahan.

“Aku belum menghabiskan es krimku,” kataku pada Junhong yang juga masih memakan es krimnya, “lebih baik kita menunggu disini sampai hujan reda.”

Aku dan Junhong menunggu di toko es krim tersebut sambil mengobrol tentang banyak hal, terutama tentang kejadian-kejadian di sekolah. Tentang Eunmi; teman sekelas kami yang menyebalkan, tentang Ibu Lee yang menyebalkan, tentang Kyurim yang sering menangis di sekolah, dan juga tentang hal lainnya.

“Kau mau mencoba es krimku?” Junhong menawarkan es krimnya padaku. Aku mengangguk dan mendekatkan mulutku pada es krim Junhong. Namun tiba-tiba dia mendorong es krimnya ke wajahku sehingga es krim itu mengotori sekitar mulut dan hidungku. Junhong tertawa lepas melihat wajahku yang kotor terkena es krim. Aku hanya diam saja dan tidak berkata apa-apa. Aku segera mengambil tissue dari tas-ku dan ketika aku telah mengeluarkan tissue itu, Junhong merebutnya dariku dan dia membersihkan es krim dari wajahku.

“Aku hanya bercanda,” kata Junhong dengan senyum yang lebar sambil membersihkan wajahku. Aku terdiam dan tidak berkata apa-apa. Tidak biasanya Junhong membantuku sehabis mengerjaiku.

“Kenapa kau tiba-tiba menjadi baik seperti ini?!” Aku bertanya pada Junhong, sedikit tertawa.

Junhong selesai membersihkan wajahku. Lalu ia kembali duduk dan bilang, “karena kau yang membayar es krimnya, aku pikir aku harus bersikap baik padamu… untuk hari ini saja.”

Aku hanya diam dengan muka masam, lalu melihat keluar. Hujan belum juga reda. Sebenarnya, itu tidak jadi masalah. Aku lebih baik berada di toko es krim ini bersama Junhong, daripada diam di rumahku dan tidak melakukan apapun.

“hei,” kata Junhong tiba-tiba sambil melihat keluar jendela, “aku jadi ingat hari pertama kita bertemu.”

Seketika aku teringat hari itu. Saat aku dan Junhong terjebak hujan, dan kami berkenalan. Suasana saat itu sangat berbeda dengan hari ini. Saat itu kami belum saling mengenal. Kami bahkan tidak mengobrol banyak. Namun hari ini, kami sedang makan es krim bersama sambil menunggu hujan reda. Aku tidak menyangka, orang yang waktu itu tidak sengaja bertemu denganku bisa menjadi sedekat ini. Mungkin, jika hari itu tidak pernah ada, Junhong hanya akan menjadi teman sekelasku saja dan tidak akan berbicara banyak denganku.

“aku juga masih ingat,” kataku pada Junhong, “dan kau tau apa? Kau menghilangkan handukku.”

Ya, handuk kecil yang saat itu aku pinjamkan pada Junhong telah hilang. Junhong lupa dimana ia menyimpan handuk tersebut.

Junhong tertawa dengan canggung saat mendengar kata “handuk” karena ia memang menghilangkannya, “maafkan aku. Lagipula, kau masih punya handuk yang lain.”

Aku sebenarnya sudah tidak terlalu mengurusi tentang handuk tersebut. Aku hanya ingin menyinggung Junhong. Aku tidak benar-benar menanyakannya tentang handuk itu. Aku hanya bercanda.

“yah, lupakan saja. tidak apa-apa,” ujarku , “aku masih punya banyak handuk kecil dirumah.”

“bagus kalau begitu. Aku tidak ingin hidup karena rasa bersalah terhadap sahabatku sendiri,” kata Junhong.

Tidak lama setelah itu, hujan mereda. Aku dan Junhong meninggalkan toko es krim tersebut. Aku mengajak Junhong untuk bermain sebentar di rumahku, karena aku tidak ingin merasa bosan. Maka Junhong sepakat untuk pergi ke rumahku sebelum kembali ke rumahnya.

“Apakah ada makanan enak di rumahmu?” tanya Junhong padaku. Aku mengangguk. Aku ingat bahwa aku memiliki rainbow cake di rumah, dan Junhong pasti menyukainya.

“Tenang saja. Ada rainbow cake,” kataku sambil menepuk bahu Junhong.

Perjalanan dari toko es krim tersebut ke rumahku tidak terlalu jauh, maka kami tiba dengan cepat. Sesampainya di rumahku, aku langsung mengajak Junhong ke dapur dan mengambil rainbow cake dari kulkas. Ibuku ada disana, ia sedang memasak untuk makan malam nanti. Junhong bersalaman dengan ibuku. Ibuku dan Junhong sudah saling mengenal, karena Junhong sering bermain ke rumahku.

Setelah mengambil rainbow cake dan memotongnya, aku dan Junhong pergi ke ruang keluarga untuk menonton. Biasanya, tidak ada tontonan yang seru pada siang hari seperti ini, tetapi aku dan Junhong sudah akan merasa terhibur hanya dengan memindah-mindah saluran TV dan melihat wajah-wajah aneh di TV.

Tidak sengaja aku dan Junhong berhenti pada saluran TV yang sedang memutarkan sebuah sinetron. Sinetron itu menceritakan tentang dua orang sahabat. Tetapi, salah satu dari mereka memiliki banyak teman baru dan meninggalkan sahabat lamanya.

“Astaga,” kataku dan Junhong bersamaan.

Kami saling bertatapan lalu tertawa. Aku suka bagaimana aku dan Junhong memiliki pendapat yang sama tentang kehilangan sahabat.

“Tidak ada orang lain yang mau berteman denganmu,” kataku bercanda, “mana mungkin kau meninggalkanku demi mencari sahabat lain?”

“Hei, jika aku memiliki teman yang lain, aku tidak akan ingin bersahabat denganmu,” kata Junhong sambil menjauhkan badannya dariku.

Kami berdua tertawa lepas karena sebenarnya kami tidak ingin berpisah. Aku merasa bahwa aku dan Junhong sudah seperti anak kembar yang tidak dapat dipisahkan.

Tiba-tiba, ponsel Junhong berbunyi. Dia mengangkatnya dan kelihatannya, itu pasti telepon  dari ibunya yang menyuruhnya pulang.

“Aku harus pulang sekarang,” kata Junhong padaku, lalu ia bersiap-siap untuk pulang dan meninggalkan rumahku.

Beberapa saat kemudian, Junhong pulang dan aku sendirian di rumahku. Aku merasa bosan karena tidak ada hal yang bisa kulakukan di rumah. Maka aku hanya berbaring di kasur sambil menyibukkan diri dengan ponselku.

Keesokan harinya, aku dan Junhong pergi bersama ke sekolah. Kami pergi ke sekolah menggunakan subway (kereta bawah tanah seperi MRT). Selama di dalam subway, aku dan Junhong juga bertemu banyak teman sekolah yang lain. Seperti biasa, di pagi hari, subway memang dipenuhi oleh orang-orang yang bersekolah dan bekerja.

Sesampainya di sekolah, aku dan Junhong terkejut melihat papan pengumuman yang dikerumuni banyak orang. Mereka melihat papan pengumuman tersebut dan ternyata itu adalah pengumuman tentang anggota yang diterima di klub basket, klub paling terkenal di sekolah. Dan tentu saja, anggotanya adalah anak-anak yang populer di sekolah mereka. Siapapun yang diterima di klub basket pasti akan menjadi pujaan para wanita di sekolah dan akan seketika menjadi terkenal di seluruh sekolah. Dan Junhong diterima di klub tersebut.

“Hahyo!!! Aku diterima!!” Junhong sangat kegirangan karena dia tidak menyangka dia bisa diterima di klub basket, “aku sangat senang!”

Aku dan Junhong berpelukan. Kami berdua sangat senang mendengar kabar tersebut karena aku tahu bahwa Junhong sangat ingin masuk ke klub basket. Bukan karena ia ingin menjadi populer di sekolah, tetapi karena Junhong memiliki minat dalam basket.

“Selamat!” aku memberikan ucapan selamat pada Junhong. Dia masih terlihat senang dan dia hanya tersenyum lebar padaku.

Tiba-tiba bel masuk berbunyi. Aku dan Junhong masuk ke dalam kelas dan ia tidak bisa berhenti bilang padaku betapa bahagianya dia. Jujur, aku juga ikut senang. Walaupun menurutku, Junhong terlalu berlebihan.

Beberapa jam berlalu, tiba saatnya untuk kami pulang sekolah. Pada awalnya, aku berniat untuk pulang bersama Junhong. Tetapi Junhong bilang bahwa ia harus berkumpul bersama para anggota klub basket.

Sejak hari itulah aku merasa takut kehilangan sahabat pertamaku di SMA. Sejak Junhong diterima sebagai anggota klub basket, dia menjadi sangat sibuk dan tidak memiliki waktu untukku. Beberapa minggu pertama, Junhong dan aku masih sering mengobrol denganku dan pulang bersamaku. Namun, ketika Junhong yang awalnya duduk didepanku memutuskan untuk pindah tempat duduk, kami menjadi semakin jarang berbicara hingga akhirnya aku benar-benar kehilangan Junhong. Ia menjadi populer di sekolah dan banyak anak perempuan yang menyukainya. Untunglah, aku memiliki Hyosung, Hana, Jieun, dan Sunhwa. Mereka adalah sahabatku sejak Junhong meninggalkanku.

Pada suatu hari, aku, Hyosung, Hana, Jieun, dan Sunhwa sedang makan di salah satu restoran sushi.

“Ini adalah hari Sabtu. Apa yang akan kalian lakukan malam ini?” tanya Hyosung padaku dan yang lainnya.

“Aku akan pergi berjalan-jalan bersama saudaraku!” kata Hana semangat.

“Kalau aku akan makan malam bersama keluarga! Ibuku sudah menyiapkan spaghetti untuk keluargaku,” ujar Jieun.

“Aku sudah membeli banyak DVD terbaru dan aku akan menontonnya malam ini,” Sunhwa terlihat bersemangat.

“Bagaimana denganmu, Hahyo?” tanya Hyosung padaku.

“Sepertinya aku hanya akan berdiam diri di kamar dan menyibukkan diri bersama laptop-ku,” jawabku.

Hyosung mengangguk, “bagaimana dengan anak laki-laki tinggi itu? kenapa aku jarang melihat kalian bersama?”

Aku tidak tahu siapa yang Hyosung bicarakan, tetapi tiba-tiba saja aku teringat akan Junhong, “siapa yang kau bicarakan?”

“Itu, anak laki-laki yang dulu selalu bersamamu,” kata Sunhwa, “apakah kalian berdua putus?”

Putus? Aku tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Aku tidak pernah memiliki seorang pacar. Tetapi, ketika Hana menyebutkan ciri-cirinya, aku yakin mereka membicarakan tentang Junhong.

“apa kalian bicara tentang Junhong?” tanyaku pada mereka.

Jieun menepuk jidatnya, “ah, iya. Aku lupa namanya. Iya, kami membicarakan tentang Junhong.”

“tapi Junhong bukan pacarku.”

Hyosung, Hana, Jieun, dan Sunhwa saling berpandangan. Mereka terlihat kaget.

“bagaimana mungkin ia bukan pacarmu? Kalian benar-benar dekat,” kata Hana.

“dia adalah sahabatku,” kataku, “kami berdua sangat dekat, mungkin itulah mengapa kalian menyangka ia adalah pacarku.”

“lalu, apa yang terjadi antara kalian berdua?” tanya Hyosung.

“dia terlalu sibuk bersama teman-teman barunya,” jawabku, “aku tidak tahu apakah aku masih bisa menyebutnya ‘sahabat’ “

Hyosung mendekatkan bangkunya ke bangkuku dan memegang bahuku, “hei, jangan bersedih. Kau masih memiliki aku, dan yang lainnya.”

Aku hanya mengangguk dan tersenyum, tetapi aku tidak menjawabnya. Mereka ber-4 masih terlihat penasaran, dan sepertinya banyak sekali yang ingin mereka tanyakan.

“Apakah kau menyukainya?” tanya Jieun.

Aku tidak tahu apa yang harus kujawab. Aku tidak merasa aku menyukai Junhong, tetapi aku benar-benar rindu padanya.

“Tidak,” jawabku, “tetapi aku sangat merindukannya.”

“Yah, itu wajar,” kata Jieun, “tetapi aku rasa kalian saling menyukai. Maksudku… aku bisa melihatnya dari cara kalian memperlakukan satu sama lain.”

Aku hanya bisa tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh mereka.

Keesokan harinya, aku berjalan-jalan sendirian ke sebuah mall dan tidak sengaja bertemu dengan temanku disana, yaitu Jung Daehyun. Dia adalah teman les-ku dan dia sangat dekat dengan Junhong karena mereka sama-sama anggota dari klub basket.

“Hahyo!” Daehyun memanggilku. Aku berjalan ke arahnya dan bertanya ada apa.

“Daehyun!” kataku, “ada apa?”

“Ada sesuatu yang ingin kubicarakan,” kata Daehyun.

Daehyun menyeretku ke foodcourt di mall tersebut dan kami memesan jus, lalu mengobrol disana. Sepertinya Daehyun memiliki sebuah cerita yang benar-benar penting.

“baru saja kemarin aku dan Junhong membicarakanmu,” kata Daehyun, “akhir-akhir ini, aku jarang melihat kalian bersamaan.”

“yah, memang. Dia terlalu sibuk,” ujarku, “ngomong-ngomong, apa yang kalian bicarakan?”

Daehyun meminum satu teguk dari jus-nya, lalu ia menceritakan tentang apa yang kemarin mereka bicarakan.

“aku, Youngjae, Jongup, dan Junhong membicarakanmu kemarin. Sebenarnya, pada awalnya aku hanya bertanya tentangmu pada Junhong, tetapi ia bilang bahwa kau menghindarinya…” kata Daehyun.

Aku tidak merasa menghindari Junhong sama sekali. Kami menjauh begitu saja.

“aku tidak menghindarinya,” kataku.

“kau tahu apa? Kalian berdua terlihat sangat dekat dan… aku kaget saja. dua orang yang dulu aku lihat selalu bersama, sekarang terpisah dan… yah. Aku kaget.”

“yah, akupun kaget akan hal itu.”

“kalian berdua sepertinya saling menyukai.”

Dua hari berturut-turut, ada orang yang bilang padaku bahwa aku dan Junhong saling menyukai. Aku tidak terlalu yakin akan perasaanku terhadap Junhong.

“tidak,” kataku pelan, sambil sedikit tertawa.

“reaksimu sama persis dengan reaksi Junhong saat aku bilang pada Junhong bahwa mungkin kalian saling menyukai,” kata Daehyun yang juga diiringi tawa kecilnya.

Malam harinya, aku tidak bisa tidur, merenungkan apa yang dikatakan oleh Hyosung, Hana, Jieun, Sunhwa, dan Daehyun. Apakah benar Junhong menyukaiku dan aku menyukai Junhong? Jika iya, hubunganku dengannya pasti akan menjadi semakin canggung.

Hari itu sangatlah dingin di sekolah. Ya, musim gugur. Aku lupa membawa sweater-ku dan itu membuatku semakin kedinginan.

Aku sedang berjalan di koridor menuju ruang musik sepulang sekolah dan tidak sengaja menabrak seseorang. Saat aku menyadari bahwa orang yang kutabrak itu adalah Junhong, aku hanya tersenyum dan pergi meninggalkannya. Junhong juga tersenyum balik padaku, namun senyumnya terlihat canggung, tidak seperti dulu.

Sebenarnya, aku tidak ada acara apa-apa di ruang musik. Tapi, ruang musik adalah tempat yang sangat menyenangkan. Aku sering bermain piano disana dan kadang-kadang Jieun mengiringiku dengan permainan biolanya. Namun kali ini aku hanya sendiri. Aku sudah biasa berlama-lama tinggal di ruang musik karena aku mengikuti klub musik klasik. Walaupun aku sudah memiliki piano sendiri di rumah, sepertinya lebih asik memainkannya di ruang musik sekolah.

Tiba-tiba, saat aku sedang memainkan sebuah lagu, ada orang yang masuk ke ruang musik. Aku segera menghentikan permainan pianoku dan melihat orang tersebut. Orang itu adalah Junhong.

“hai, teman,” kata Junhong dengan penekanan di kata ‘teman’.

“yah, hai,” kataku, “apa yang kaulakukan disini?”

“aku ingin mengembalikan gitar ini,” Junhong menaruh gitar yang dibawanya dan meletakkannya di sudut ruang musik, “dan kau?”

“aku hanya ingin bermain disini,” jawabku, lalu aku berdiri karena aku merasa sudah waktunya aku pulang, “aku harus pulang sekarang.”

“ingin pulang bersamaku?”

Saat Junhong bertanya seperti itu, rasanya aku ingin menangis. Dulu kami selalu pulang bersama dan rasanya aneh ketika Junhong mengajakku pulang bersama sekarang. Aku yakin, jika hari ini kami pulang bersama, kami tidak akan melakukannya lagi keesokan harinya dan itu akan membuat keadaan semakin canggung. Walaupun jujur saja, aku benar-benar merindukannya.

“tidak bisa,” kataku lalu berjalan meninggalkannya.

Ketika aku berada di gerbang sekolah, aku baru menyadari bahwa Junhong mengikutiku. Aku menarik nafas panjang lalu bicara pada Junhong, “aku sudah bilang, aku tidak ingin pulang bersamamu.”

Aku terus berjalan. Namun tiba-tiba Junhong menarik tanganku dan membuatku berhenti berjalan. “Kau mau pergi kemana?” tanya Junhong.

“sudah kubilang, aku harus pulang.” Kataku.

“tapi, ini bukan jalan menuju rumahmu…”

Aku melepaskan tangan Junhong, “aku sudah pindah.”

“bagaimana bisa kau tidak memberitahuku?” Junhong terlihat kebingungan, namun dia tertawa sedikit. Mungkin dia masih menganggapku sebagai sahabat dekatnya.

“bagaimana bisa aku memberitahumu?” tanyaku dengan nada membentak, namun pelan, “kita tidak saling berbicara selama berbulan-bulan.”

Aku meninggalkan Junhong dan kembali berjalan. Junhong sudah tidak mengikutiku lagi tetapi ketika aku berjalan, Junhong berteriak.

“KAU SAHABATKU,” teriak Junhong.

Aku menghentikan langkahku. Aku terdiam disana dan mataku mulai menitikkan air mata. Aku tidak percaya dengan apa yang baru saja Junhong katakan.

Seketika aku berlari menuju Junhong dan kupeluknya erat-erat. Aku menangis di pelukannya lalu aku merasakan dia juga balik memelukku.

“maaf aku menghindarimu,” kataku pada Junhong.

Saat itu aku memiliki jawaban untuk semua pertanyaanku. Saat itu aku baru menyadari bahwa sebenarnya aku menyukai Junhong. Jika aku tidak menyukainya, aku tidak mungkin mengindar darinya. Aku bahkan baru menyadari bahwa aku sebenarnya memang menghindarinya.

“teman-temanku bilang bahwa kita saling menyukai dan setelah mendengar itu, aku merasa canggung bila berada didekatmu,” kataku.

“teman-temanku juga bilang begitu,” ujar Junhong, “hmm… bolehkah aku bermain ke rumah barumu sekarang?”

“kau percaya bahwa aku pindah rumah?” aku tertawa melihat kepolosan Junhong, “aku tidak benar-benar pindah rumah. Tadi aku tidak berkonsentrasi karena ada kamu, jadi aku mengambil jalan yang salah.”

Junhong menggaruk rambutnya. Aku yakin, dia merasa benar-benar bodoh karena bisa percaya padaku tentang hal itu.

“berarti, ayo kita pulang bersama sekarang!” Junhong berjalan di sebelahku sambil memegang tanganku. Tidak biasanya Junhong memegang tanganku seperti ini.

“aku hanya ingin memastikan…” kataku, sedikit terbata-bata, “apakah mungkin semua yang dikatakan oleh teman-teman kita benar?”

Junhong tersenyum, lalu ia menatap mataku, “tergantung kepadamu. Karena apa yang dikatakan mereka ada benarnya juga.”

“bagaimana kalau menurutku mereka benar?” aku memeluk Junhong dan walaupun saat itu aku tidak memakai sweater, pelukannya benar-benar hangat.

Kami berdua tertawa lalu Junhong bertanya padaku, “apakah itu berarti… kau pacarku sekarang?”

Aku hanya tersenyum dan mengangguk. Junhong terlihat senang, lebih senang daripada hari saat ia diterima menjadi anggota klub basket. Aku tidak menyangka hari ini akan menjadi seperti ini. Terlalu cepat. Kami bahkan belum bercerita tentang apa-apa, dan Junhong sudah memastikan bahwa aku adalah pacarnya sekarang.

Di perjalanan pulang, kami bercerita tentang banyak hal. Ada banyak sekali cerita yang ingin kusampaikan pada Junhong. Dan tentu saja, Junhong juga memiliki banyak cerita.

“sebenarnya aku masih menyimpan handukmu di lokerku,” kata Junhong sambil tertawa, “saat hari pertama aku bertemu denganmu, aku yakin bahwa kita akan menjadi sangat dekat. Dan aku menyimpannya supaya aku bisa mengembalikannya padamu dan memberikannya sebagai kenang-kenangan kalau aku meninggalkanmu.”

“jangan pernah berani meninggalkanku,” aku mencubit pelan lengan Junhong, “kembalikan padaku sekarang. Kau sempat meninggalkanku.”

“Baiklah, aku akan memberikannya padamu besok!”

Sejak saat itu, aku dan Junhong kembali dekat seperti dulu. Walaupun Junhong masih tetap sibuk, ia selalu memiliki waktu untukku. Ketika ia sedang ada acara bersama klub basket, Hyosung, Hana, Jieun, dan Sunhwa selalu menemaniku. Aku tidak pernah menyangka bahwa orang yang tidak sengaja aku temui di belakang sekolah akan menjadi sangat dekat denganku.  Aku sangat beruntung memiliki Junhong, karena sampai saat ini, ia memang tidak meninggalkanku lagi dan selalu menemaniku.

Advertisements

23 responses to “In The Middle Of Autumn

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s